Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP

KASUS PASIEN SYOK HIPOGLIKEMI

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 1 :


Kata Pengantar

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat & hidayah-
Nya kepada hambanya telah mampu menyelesaikan makalah yang berjudul “Laporan
Pendahuluan Dan Askep Kasus Pasien Syok Hipoglikemi”.

Dalam menulis makalah ini, alhamdulillah tim kelompok kami tidak mendapat kendala,
sehingga dapat menyelesaikannya dengan baik. Selain itu tim kelompok juga mengucapkan
terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah bekerjasama dengan baik sehingga makalah
ini dapat terselesaikan.

Di sini saya juga sampaikan, jika dalam penulisan makalah ini terdapat hal-hal yang tidak
sesuai dengan harapan, untuk itu penulis dengan senang hati menerima masukan, kritikan, &
saran dari pembaca yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga apa yang
di harapkan penulis dapat di capai dengan sempurna, Amin.

Pekalongan, 13 Agustus 2018

Tim Kelompok

II
Daftar Isi
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I Pendahuluan
1. Latar Belakang ....................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
3. Tujuan ..................................................................................................... 1
4. Manfaat Penulisan .................................................................................. 1
5. Metode Penulisan .................................................................................. 1
6. Sumber Data ........................................................................................... 1

BAB II Isi .......................................................................................................... 2


1. Definisi Syok Hipoglikemi
2. Etiologi Syok Hipoglikemi
3. Faktor Resiko Syok Hipoglikemi
4. Manifestasi Syok Hipoglikemi
5. Patofisiologi Syok Hipoglikemi
6. Gambaran pathways Syok Hipoglikemi
7. Klasifikasi dari Syok Hipoglikemi
8. Bagaimana Penatalaksanaan dari Syok Hipoglikemi
9. Bagaimana Pengobatan dari Syok Hipoglikemi
10. Konsep Asuhan keperawatan pasien Syok Hipoglikemi
11. Kasus Asuhan keperawatan pasien Syok Hipoglikemi

BAB III Pembahasan


BAB IV Penutup .............................................................................................. 16
1. Simpulan ................................................................................................. 16

Daftar Pustaka .................................................................................................. IV

III
BAB I
Pendahuluan

1. Latar Belakang
Hipoglikemia adalah keadaan kadar gula darah di bawah nilai normal ( < 45 – 50 mg /
dL). Hipoglikemia perlu dicegah pada pasien diabetes yang mendapatkan terapi
pengendalian kadar glukosa darah karena dapat menyebabkan kematian apabila kadar gula
darah tidak segera ditingkatkan.
Hipoglikemia adalah salah satu komplikasi yang dihadapi oleh penderita
diabetes melitus. Tidak seperti nefropati diabetik ataupun retinopati diabetik yang
berlangsung secara kronis, hipoglikemia dapat terjadi secara akut dan tiba – tiba dan
dapat mengancam nyawa. Hal tersebut disebabkan karena glukosa adalah satu –
satunya sumber energi otak dan hanya dapat diperoleh dari sirkulasi darah karena
jaringan otak tidak memiliki cadangan glukosa. Kadar gula darah yang rendah pada
kondisi hipoglikemia dapat menyebabkan kerusakan sel – sel otak. Kondisi inilah yang
menyebabkan hipoglikemia memiliki efek yang fatal bagi penyandang diabetes melitus, di
mana 2% – 4% kematian penderita diabetes melitus disebabkan oleh hipoglikemia.
Gejala yang muncul saat terjadi hipoglikemia dapat dikategorikan sebagai gejala
neuroglikopenik dan neurogenik (otonom). Gejala neuroglikopenik merupakan dampak
langsung dari defisit glukosa pada sel –sel neuron sistem saraf pusat, meliputi perubahan
kejang, kehilangan kesadaran, dan apabila hipoglikemia berlangsung lebih lama dapat
mengakibatkan terjadinya kematian. Gejala neurogenik (otonom) meliputi berdebar –debar,
tremor, dan anxietas (gejala adrenergik) dan berkeringat, rasa lapar, dan paresthesia (gejala
kolinergik).
Gejala – gejala yang dialami pada kejadian hipoglikemia pada penderita
diabetes bukan hanya mengganggu kesehatan pasien, namun juga mengganggu kehidupan
psikososial dari pasien tersebut

Hipoglikemia dapat dialami oleh semua penderita diabetes melitus (DM) dalam
terapi pengendalian kadar gula darah, di mana pasien DM tipe dapat lebih sering
mengalami hipoglikemia dibandingkan dengan pasien DM tipe 2. Pasien DM Tipe 1 dapat
mengalami 2 episode hipoglikemia asimptomatis dalam 1 minggu dan mengalami 1 kali
serangan hipoglikemia berat setiap tahun. Pada DM tipe 2 didapatkan kejadian hipoglikemia
berat terjadi 3 – 72 episode per 100 pasien per tahun

Hipoglikemia merupakan faktor penyulit dalam pengendalian kadar gula darah


penderita diabetes melitus. Jumlah penderita hipoglikemia pada diabetes di Indonesia
senada dengan prevalensi diabetes di Indonesia yaitu 1,1% secara nasional dan 5,7%
pada penduduk perkotaan di Indonesia. Prevalensi diabetes tersebut berbeda – beda di
berbagai provinsi dan prevalensi diabetes di daerah perkotaan di Jawa Tengah sebesar 7,8%.5

Sumber :
eprints.undip.ac.id/43835/2/Eko_Budidharmaja_G2A009042_Bab1KTI.pdf Diakses pada
tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 21.00 WIB
2. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud Syok Hipoglikemi?
b. Bagaimana etiologi Syok Hipoglikemi?
c. Apa faktor resiko Syok Hipoglikemi?
d. Bagaimana manifestasi Syok Hipoglikemi?
e. Bagaimana patofisiologi Syok Hipoglikemi?
f. Bagaimana gambaran pathways Syok Hipoglikemi?
g. Apa saja klasifikasi dari Syok Hipoglikemi?
h. Bagaimana Penatalaksanaan dari Syok Hipoglikemi?
i. Bagaimana Pengobatan dari Syok Hipoglikemi?
j. Konsep Asuhan keperawatan pasien Syok Hipoglikemi?
k. Kasus Asuhan keperawatan pasien Syok Hipoglikemi?

3. Tujuan
Makalah ini dimasukkan sebagai pedoman, agar mahasiswa mengetahui :
a. Apa yang dimaksud Syok Hipoglikemi
b. Bagaimana etiologi Syok Hipoglikemi
c. Apa faktor resiko Syok Hipoglikemi
d. Bagaimana manifestasi Syok Hipoglikemi
e. Bagaimana patofisiologi Syok Hipoglikemi
f. Bagaimana gambaran pathways Syok Hipoglikemi
g. Apa saja klasifikasi dari Syok Hipoglikemi
h. Bagaimana Penatalaksanaan dari Syok Hipoglikemi
i. Bagaimana Pengobatan dari Syok Hipoglikemi
j. Konsep Asuhan keperawatan pasien Syok Hipoglikemi
k. Kasus Asuhan keperawatan pasien Syok Hipoglikemi

4. Manfaat Penulisan
a. Bagi penyusun : Untuk menambah pengetahuan tentang kasus Syok Hipoglikemi
b. Bagi kampus : Sebagai bahan pelajaran tambahan bagi mahasiswa dan sebagai
tolak ukur kemampuan mahasiswa membuat sebuah makalah.
c. Bagi masyarakat: Memberikan informasi tentang kasus Syok Hipoglikemi

5. Metode Penulisan
Adapun metode yang kami gunakan dalam makalah ini adalah metode studi
pustaka dan internet, yaitu cara pengumpulan data dengan membaca buku-buku dan
berbagai literatur lain yang berkaitan dengan permasalahan.

6. Sumber Data
Dalam karya tulis ini, kami memperoleh data dengan cara membaca buku –
buku dan dan mencari bahan dari sumber lain yang berkaitan dengan permasalahan
yang akan dibahas.
BAB II

Isi

Hipoglikemia secara harfiah berarti kadar glukosa darah di bawah harga normal.
Hipoglikemia dianggap telah terjadi bila kadar glukosa darah < 50 mg/ dL. Kadar
glukosa plasma kira-kira 10% lebih tinggi dibandingkan dengan kadar glukosa darah
keseluruhan (whole blood) karena eritrosit mengandung kadar glukosa yang relatif
lebih rendah. Kadar glukosa arteri lebih tinggi dibandingkan kadar glukosa vena,
sedang kadar glukosa darah kapiler diantara kadar arteri dan vena.

Cornblath dan Reisner (1965) pertama kali yang mempublikasikan kadar darah
pada bayi normal, mereka mendapatkan bayi cukup bulan >30 mg / dl dan 98.4%
bayi premature >20%. Mereka mendefinisikan hipoglikemia untuk bayi cukup bulan,
bila kadar gula darahnya kurang dari 30 mg / dl dalam 48 jam pertama dan 40-50
mg/ dlsetelah usia 48 jam setelah bayi lahir. Untuk bayi berat badan lahir rendah
didefinisikan hipoglikemia bila kadar gula darah <20mg/ dl. Nilai inilah yang
mendominasi pendapat untuk pengelolaan hipoglikemia neonatal. Penelitian lain
menunjukkan bahwa kecuali padda jam pertama kehidupan. Baik pada bayi
premature maupun bayi cukup bulan yang diberikann minum susu seawal mungkin
sangat jarang kadar gula darahnya kurang dari 40mg/ dl.

Hoseth E,dkk (2000) dalam penelitiannya pada 223 bayi sehat, aterm dan
mendapatkan ASI, kadar nilai tengah gula darah saat lahir 3,1 mmol/L.

Sumber :

Waspadji S. Kegawatan pada diabetes melitus. Dalam: Prosiding simposium:


penatalaksanaan kedaruratan di bidang ilmu penyakit dalam. Jakarta: Pusat
Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2000. hal.83-4
BAB III
Pembahasan
1. Definisi Syok Hipoglikemi
Hipoglikemia merupakan salah satu komplikasi akut yang dialami oleh
penderita diabetes mellitus. Hipoglikemia disebut juga sebagai penurunan kadar
gula darah yang merupakan keadaan dimana kadar glukosa darah berada di bawah
normal, yang dapat terjadi karena ketidak seimbangan antara makanan yang
dimakan, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan. Sindrom hipoglikemia
ditandai dengan gejala klinis antara lain penderita merasa pusing, lemas, gemetar,
pandangan menjadi kabur dan gelap, berkeringat dingin, detak jantung meningkat
dan terkadang sampai hilang kesadaran (syok hipoglikemia) (Nabyl,2009).

Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) dalam tubuh
secara abnormal rendah. Walaupun kadar glukosa plasma puasa pada orang normal
jarang melampaui 99 mg/dL, tetapi kadar <108 mg/dL masih dianggap normal.
Kadar glukosa plasma kira ± kira 10 % lebih tinggi dibandingkan dengan kadar
glukosa darah keseluruhan (whole blood) karena eritrosit mengandung kadar glukosa
yang relatif lebih rendah. Kadar glukosa arteri lebih tinggi dibandingkan dengan
vena, sedangkan kadar glukosa darah kapiler di antara kadar arteri dan vena.

Hipoglikemia dapat menyebabkan penderita mendadak pingsan dan harus


segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan serta infus glukosa. Jika
dibiarkan terlalu lama, penderita akan kejang –kejang dan kesadaran menurun.
Apabila terlambat mendapatkan pertolongan dapat mengakibatkan kematian.

Hipoglikemia lebih berbahaya dibandingkan kelebihan kadar gula darah


(hiperglikemia) karena kadar gula darah yang terlalu rendah selama lebih dari enam
jam dapat menyebabkan kerusakan tak terpulihkan (irreversible) pada jaringan otak
dan saraf. Tidak jarang hal ini menyebabkan kemunduran kemampuan otak.

Sumber :
https://www.scribd.com/doc/269867652/syok-hipoglikemi. Diakses pada tanggal 14
Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB
2. Etiologi Syok Hipoglikemi
Hipoglikemia spontan yang patologis mungkin terjadi pada tumor yang
mensekresi insulin atau insulin- like growth factor (IGF). Dalam hal ini diagnosis
hipoglikemia terjadi bila kadar glukosa <50mg/dL atau bahkan <40 mg/dL.
Walaupun demikian berbagai studi fisiologis menunjukkan bahwa gangguan fungsi
otak sudah dapat terjadi pada kadar glukosa darah 55 mg/Dl. Lebih lanjut
diketahui bahwa kadar glukosa darah 55 mg/dL yang terjadi berulang kali dapat
merusak mekanisme proteksi endogen terhadap hipoglikemia yang lebih berat.
Keadaan ini terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan,
konsimsi makanan yang terlalu sedikit, atau karena aktivitas fisik berat.

Gula darah kadarnya dipertahankan dalam rentang yaitu setelah makan 6,5 ±
7,2 mmol/L. Hipoglikemia didefinisikan seperti berikut :

 ringan, jika kadar gula darahnya (40 – 60 mg/dL)


 sedang, jika kadar gula darahnya (20 – 40 mg/dL)
 berat, jika kadar gula darahnya (<20 mg/dL)

Faktor-faktor penyebab hipoglikemia adalah:


1. Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pankreas sehingga menurunkan kadar gula
darah secara cepat
2. Dosis insulin terlalu tinggi yang diberikan kepada penderita diabetes untuk
menurunkan kadar gula darahnya.
3. Kelainanpada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal.
4. Kelainanpada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa
di hati. Hipoglikemia yang tidak berhubungan
dengan obat dapat dibagi menjadi:
a. Hipoglikemia karena puasa, dimana hipoglikemia terjadi setelah berpuasa.
b. Hipoglikemia reaktif, dimana hipoglikemia terjadi sebagai reaksi terhadap
makan, biasanya karbohidrat.
5. Puasa yang lama bisa menyebabkan hipoglikemia hanya jika terdapat
penyakit lain (terutama penyakit kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal).
Cadangan karbohidrat di hati bisa menurun secara perlahan sehingga tubuh tidak
dapat mempertahankan kadar gula darah.

Sumber :
https://www.scribd.com/doc/269867652/syok-hipoglikemi. Diakses pada tanggal 14
Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB
3. Faktor Resiko Syok Hipoglikemi
Secara garis besar, etiologi hipoglikemia dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu:
kelainan yang menyebabkan pemakaian glukosa berlebihan dan produksi
glukosa kurang. Kelainan yang menyebabkan pemakaian glukosa berlebihan :
a. Hiperinsulinisme (bayi dari ibu penderita diabetes, hipoglikemia hiperinsulinisme
menetap pada bayi, tumor yang memproduksi insulin dan ”child
abuse”).
Hiperinsulinisme menyebabkan pemakaian glukosa yang berlebihan
terutama akibat rangsang ambilan glukosa oleh otot. Pada bayi, hiperinsulinemia
dapat terjadi karena defek genetik yang menyebabkan aktivasi reseptor
sulfonilurea akibat sekresi insulin yang menetap. Kelainan ini diketahui sebagai
hipoglikemia hiperinsulin endogen menetap pada bayi yang sebelumnya disebut
sebagai nesidioblastosis. Bayi dari ibu penderita diabetes, juga mempunyai kadar
insulin yang tinggi setelah lahir karena tingginya paparan glukosa in utero akibat
jeleknya kontrol glukosa selama kehamilan, hal ini yang menyebabkan
hiperinsulinemia pada bayi. Pada anak, hiperinsulinemia jarang, penyebabnya
tumor yang memproduksi insulin. Penggunaan insulin eksogen atau pemberian
obat yang menyebabkan hipoglikemia kadang dapat terjadi karena kecelakaan
atau salah penggunaan, sehingga hal ini pada anak harus dipertimbangkan.
b. Defek pada pelepasan glukosa (defek siklus Krebs, defek ”respiratory
chain”). Kelainan ini sangat jarang, mengganggu pembentukan ATP dari oksidasi
glukosa, disini kadar laktat sangat tinggi.
c. Defek pada produksi energi alternatif (defisiensi Carnitine acyl transferase,
defisiensi HMG CoA, defisiensi rantai panjang dan sedang acyl-coenzym A
dehydrogenase, defisiensi rantai pendek acyl-coenzyme A dehydrogenase).
Kelainan ini mengganggu penggunaan lemak sebagai energi, sehingga tubuh
sangat tergantung hanya pada glukosa. Ini akan menyebabkan masalah bila puasa
dalam jangka lama yang seringkali berhubungan dengan penyakit
gastrointestinal.
d. Sepsis atau penyakit dengan hipermetabolik, termasuk hipertiroidisme. Kelainan
yang menyebabkan kurangnya produksi glukosa:
1) Simpanan glukosa tidak adekuat (prematur, bayi SGA, malnutrisi,
hipoglikemia ketotik). Kelainan ini sering sebagai penyebab
hipoglikemia, disamping hipoglikemia akibat pemberian insulin pada
diabetes. Hal ini dapat dibedakan dengan melihat keadaan klinis dan adanya
hipoglikemia ketotik, biasanya terjadi pada anak yang kurus, usia antara 18
bulan sampai 6 tahun, biasanya terjadi akibat masukan makanan yang
terganggu karena bermacam sebab. Penelitian terakhir mekanisme yang
mendasari hipoglikemia ketotik adalah gagalnya glukoneogenesis.
2) Kelainan pada produksi glukosa hepar, antara lain: defisiensi Glukose-6-
phosphatase (glycogen storage disease tipe 1), defisiensi debrancher
(glycogen storage disease tipe 3), defisiensi phosphatase hepar (glycogen
storage disease tipe 6, defisiensi glycogen synthase, defisiensi fructose
1,6 diphosphatase, defisiensi phospho-enol pyruvate, defisiensi pyruvate
carboxylase, gaslactosemia, intoleransi friktose herediter, penyakit maple
urine syrup).
Kelainan ini menurunkan produksi glukosa melalui berbagai defek,
termasuk blokade pada pelepasan dan sintesis glukosa, atau blokade atau
menghambat gluikoneogenesis. Anak yang menderita penyakit ini akan
dapat beradaptasi terhadap hipoglikemia, karena penyakitnya bersifat kronik
3) Kelainan hormonal (panhypopituitarisme, defisiensi hormon
pertumbuhan, defisiensi kortisol dapat primer atau sekunder).
Hal ini karena hormon pertumbuhan dan kortisol berperan penting
pada pembentukan energi alternatif dan merangsang produksi glukosa.
Kelainan ini mudah diobati namun yang sangat penting adalah diagnosis
dini.
e. Toksin dan penyakit lain. (etanol, salisilat, propanolol, malaria). Etanol
menghambat glukoneogenesis melalui hepar sehingga dapat menyebabkan
hipoglikemia. Hal ini khususnya pada pasien dengan diabetes yang diobati insulin
yang tidak dapat mengurangi sekresi insulin sebagai respon bila terjadi
hipoglikemia. Intoksikasi salisilat dapat menyebabkan hipo ataupun
hiperglikemia. Hipoglikemia karena bertambahnya sekresi insulin dan
hambatan pada glukoneogenesis
Berikut adalah kondisi-kondisi dengan peninggian risiko hipoglikemia
 Kondisi maternal
 DM atau test toleransi glukosa abnormal
 Preeklampsia dan hipertensi esensial
 Pengobatan ibu dengan penyekat beta
 Riwayat bayi makrosomia
 Penyalahgunaan obat
 Terapi dengan tokolitik beta-agonis
 Terapi dengan obat hipoglikemi oral
 Pemberian glukosa IV pada periode antepartum lanjut dan intrapartum
 Kondisi Neonatus
 Bayi prematus
 Keterbatasan pertumbuhan intrauterin
 Hipoksemia-iskemia perinatal
 Infeksi bakteri
 Hipotermia
 Polisitemia-hiperviskositas
 Pemberian insulin iatrogenik
 Malformasi jantung bawaan
 Hiperinsulinemia persisten
 Kelainan endokrin
 Cacat metabolisme bawaan
 Poor feeding, terutama jika sebelumnya tidak ada masalah

Sumber :
https://www.scribd.com/doc/269867652/syok-hipoglikemi. Diakses pada tanggal 14
Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB
4. Manifestasi Syok Hipoglikemi
Hipoglikemi terjadi karena adanya kelebihan insulin dalam darah sehingga
menyebabkan rendahnya kadar gula dalam darah. Kadar gula darah yang dapat
menimbulkan gejala-gejala hipoglikemi, bervariasi antara satu dengan yang lain.
Pada awalnya tubuh memberikan respon terhadap rendahnya kadar gula darah
dengan melepasakan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung
saraf. Epinefrin merangsang pelepasan gula dari cadangan tubuh tetapi
jugamenyebabkan gejala yang menyerupai serangan kecemasan (berkeringat,
kegelisahan, gemetaran, pingsan, jantung berdebar-debar dan kadang rasa lapar).
Hipoglikemia yang lebih berat menyebabkan berkurangnya glukosa ke otak dan
menyebabkan pusing, bingung, lelah, lemah, sakit kepala, perilaku yang tidak biasa,
tidak mampu berkonsentrasi, gangguan penglihatan, kejang dan koma. Hipoglikemia
yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen. Gejala
yang menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bisa terjadi secara
perlahan maupun secara tiba-tiba. Hal ini paling sering terjadi pada orang yang
memakai insulin atau obat hipoglikemik per-oral. Pada penderita tumor pankreas
penghasil insulin, gejalanya terjadi pada pagi hari setelah puasa semalaman,
terutama jika cadangan gula darah habis karena melakukan olah raga sebelum
sarapan pagi. Pada mulanya hanya terjadi serangan hipoglikemia sewaktu-waktu,
tetapi lama-lama serangan lebih sering terjadi dan lebih berat.

Tanda dan gejala dari hipoglikemi terdiri dari dua fase antara lain:
a. Fase pertama yaitu gejala- gejala yang timbul akibat aktivasi pusat autonom di
hipotalamus sehingga dilepaskannya hormone epinefrin. Gejalanya berupa
palpitasi, keluar banyak keringat, tremor, ketakutan, rasa lapar dan mual (glukosa
turun 50 mg%.
b. Fase kedua yaitu gejala- gejala yang terjadi akibat mulai terjadinya gangguan
fungsi otak, gejalanya berupa pusing, pandangan kabur, ketajaman mental
menurun, hilangnya ketrampilan motorik yang halus, penurunan kesadaran,
kejang- kejang dan koma (glukosa darah 20 mg%).(3)

Adapun gejala- gejala hipoglikemi yang tidak khas adalah sebagai berikut:
Perubahan tingkah laku
Serangan sinkop yang mendadak
Pusing pagi hari yang hilang dengan makan pagi
Keringat berlebihan waktu tidur malam
Bangun malam untuk makan
Hemiplegi/ afasia sepintas
Angina pectoris tanpa kelainan arteri koronaria

Di kutip dari Karen Bruke 2005 ada beberapa tanda gejala ataupun manifestasi klinis
yang meliputi:
Lapar
Mual-muntah
Pucat,kulit dingin
Sakit kepala
Nadi cepat
Hipotensi
Irritabilitas
Manifestasi sebab perubahan fungsi serebral
Sakit kepala
Koma
Kesulitan dalam berfikir
Ketidakmampuan dalam berkonsentrasi
Perubahan dalam sikap emosi

Sumber:
http://www.academia.edu/31514164/LAPORAN_PENDAHULUAN_HIPOGLIKE
MIA. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB

5. Patofisiologi Syok Hipoglikemi


Seperti sebagian besar jaringan lainnya, matabolisme otak terutama bergantung
pada glukosa untuk digunakan sebagai bahan bakar. Saat jumlah glukosa terbatas,
otak dapat memperoleh glukosa dari penyimpanan glikogen di astrosit, namun itu
dipakai dalam beberapa menit saja. Untuk melakukan kerja yang begitu banyak, otak
sangat tergantung pada suplai glukosa secara terus menerus dari darah ke dalam
jaringan interstitial dalam system saraf pusat dan saraf-saraf di dalam system saraf
tersebut.
Oleh karena itu, jika jumlah glukosa yang di suplai oleh darah menurun, maka
akan mempengaruhi juga kerja otak. Pada kebanyakan kasus, penurunan mental
seseorang telah dapat dilihat ketika gula darahnya menurun hingga di bawah 65
mg/dl (3.6 mM). Saat kadar glukosa darah menurun hingga di bawah 10 mg/dl (0.55
mM), sebagian besar neuron menjadi tidak berfungsi sehingga dapat menghasilkan
koma.
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya
jumlah insulin yang nyata, keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme
karbohidrat, protein, lemak, ada tiga gambaran klinis yang penting pada diabetes
ketoasidosis.
dehidrasi
kehilangan elektrolit
asidosis
Apabila jumlah insulin berkurang jumlah glukosa yang memasuki sel akan
berkurang pula, di samping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali,
kedua factor ini akan menimbulkan hipoglikemia. Dalam upaya untuk
menghilangkan glukosa yang berlebihan dalam tubuh, ginjal akan mengekskresikan
glukosa bersama-sama air dan elektrolit (seperti natrium dan kalium). Diuresis
osmotic yang di tandai oleh urinaria berlebihan (poliuria) ini akan menyebabkan
dehidrasi dan kehilangan elektrolit. penderita ketoasidosis diabetic yang berat dapat
kehilangan kira-kira 6,5 liter air dan sampai 400 hingga mEq natrium, kalium serta
klorida selama periode waktu 24 jam.
Akibat defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (liposis) menjadi
asam-asam lemak bebas dan gliseral.asam lemak bebas akan di ubah menjadi badan
keton oleh hati, pada keton asidosis diabetic terjadi produksi badan keton yang
berlebihan sebagai akibat dari kekurangan insulin yang secara normal akan
mencegah timbulnya keadaan tersebut, badan keton bersifat asam, dan bila
bertumpuk dalam sirkulasi darah, badan keton akan menimbulkan asidosis
metabolic.
Pada hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf
simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan
gejala seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.
Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel
otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda
gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidak mampuan
berkonsentrasi, sakit kepala,vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, pati rasa di
daerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan
emosional, perilaku yang tidak rasional, penglihatan ganda dan perasaan ingin
pingsan. Kombinasi dari gejala ini (di samping gejala adrenergik) dapat terjadi pada
hipoglikemia sedang.
Pada hipoglikemia berat fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang
sangat berat, sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi
hipoglikemia yang di deritanya. Gejalanya dapat mencakup perilaku yang
mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit di bangunkan dari tidur atau bahkan
kehilangan kesadaran (Smeltzer. 2001).

Sumber:
http://www.academia.edu/31514164/LAPORAN_PENDAHULUAN_HIPOGLIKE
MIA. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB
6. Gambaran Pathways Syok Hipoglikemi

Sumber: https://www.scribd.com/doc/201000470/Pathway-Hipoglikemia. Diakses


pada tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 22.00 WIB
7. Klasifikasi Dari Syok Hipoglikemi
Type hipoglikemi digolongkan menjadi beberapa jenis yakni:
a. Transisi dini neonatus ( early transitional neonatal ) : ukuran bayi yang besar
ataupun normal yang mengalami kerusakan sistem produksi pankreas sehingga
terjadi hiperinsulin.
b. Hipoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal) : tarjadi jika bayi
mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan lemak dan
glikogen.
c. Sekunder (Scondary) : sebagai suatu respon stress dari neonatus sehingga terjadi
peningkatan metabolisme yang memerlukan banyak cadangan glikogen.
d. Berulang ( Recurrent) : disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis, atau
metabolisme
Selain itu Hipoglikemia juga dapat diklasifikasikan sebagai :
a. Hipoglikemi Ringan (glukosa darah 50-60 mg/dL)
Terjadi jika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik akan terangsang.
Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala seperti tremor,
takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.
b. Hipoglikemi Sedang (glukosa darah <50 mg/dL)
Penurunan kadar glukosa dapat menyebabkan sel- sel otak tidak memperoleh
bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda- tanda gangguan fungsi pada
sistem saraf pusat mencakup keetidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala,
vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi,
penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan.
c. Hipoglikemi Berat (glukosa darah <35 mg /dL)
Terjadi gangguan pada sistem saraf pusat sehingga pasien memerlukan
pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikeminya. Gejalanya
mencakup disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan bahkan
kehilangan kesadaran.
Definisi hipogikemia pada anak.belum bisa ditetapkan dengan pasti,
namun berdasarkan . pendapat dari beberapa sarjana dapat dikemukakan angka-
angka seperti terlihat pada table. Nilai kadar glukose darah/ plasma atau serum
untuk diagnosis Hipoglikemia pada berbagai kelompok umur anak :
KELOMPOK DARAH
GLOKUSE <mg/dl
UMUR PLASMA/SERUM
Bayi/anak <40 mg/100 ml <45 mg/100 ml
Neonatus
* BBLR/KMK <20 mg/100 ml <25 mg/100 ml
* BCB
0 - 3 hr <30 mg/100 ml <35 mg/100 ml
3 hr <40 mg/100 ml <45 mg/100 ml

Sumber:
http://www.academia.edu/31514164/LAPORAN_PENDAHULUAN_HIPOGLIKE
MIA. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB
8. Penatalaksanaan Dari Syok Hipoglikemi
1. Glukosa Oral
Sesudah diagnosis hipoglikemi ditegakkan dengan pemeriksaan glukosa
darah kapiler, 10- 20 gram glukosa oral harus segera diberikan. Idealnya dalam
bentuk tablet, jelly atau 150- 200 ml minuman yang mengandung glukosa seperti
jus buah segar dan nondiet cola. Sebaiknya coklat manis tidak diberikan karena
lemak dalam coklat dapat mengabsorbsi glukosa. Bila belum ada jadwal makan
dalam 1- 2 jam perlu diberikan tambahan 10- 20 gram karbohidrat kompleks.Bila
pasien mengalami kesulitan menelan dan keadaan tidak terlalu gawat, pemberian
gawat, pemberian madu atau gel glukosa lewat mukosa rongga hidung dapat
dicoba.
2. Glukosa Intramuskular
Glukagon 1 mg intramuskuler dapat diberikan dan hasilnya akan
tampak dalam 10 menit. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel
pulau pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari
cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk
suntikan dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit.
Kecepatan kerja glucagon tersebut sama dengan pemberian glukosa
intravena. Bila pasien sudah sadar pemberian glukagon harus diikuti dengan
pemberian glukosa oral 20 gram (4 sendok makan) dan dilanjutkan dengan
pemberian 40 gram karbohidrat dalam bentuk tepung seperti crakers dan
biscuit untuk mempertahankan pemulihan, mengingat kerja 1 mg
glucagon yang singkat (awitannya 8 hingga 10 menit dengan kerja yang
berlangsung selama 12 hingga 27 menit). Reaksi insulin dapt pulih dalam
waktu5 sampai 15 menit. Pada keadaan puasa yang panjang atau
hipoglikemi yang diinduksi alcohol, pemberian glucagon mungkin tidak
efektif. Efektifitas glucagon tergantung dari stimulasi glikogenolisis yang
terjadi.
3. Glukosa Intravena
Glukosa intravena harus dberikan dengan berhati- hati. Pemberian
glukosa dengan konsentrasi 40 % IV sebanyak 10- 25 cc setiap 10- 20 menit
sampai pasien sadar disertai infuse dekstrosa 10 % 6 kolf/jam.

Sumber:
http://www.academia.edu/31514164/LAPORAN_PENDAHULUAN_HIPOGLIKE
MIA. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB
9. Pengobatan Dari Syok Hipoglikemi
Penanganan Kegawatdaruratan Hipoglikemia
Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah penderita
mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus
buah, air gula atau segelas susu. Seseorang yang sering mengalami hipoglikemia
(terutama penderita diabetes), hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena
efeknya cepat timbul dan memberikan sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita
diabetes maupun bukan, sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan
yang mengandung karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit). Jika
hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta tidak mungkin untuk
memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan glukosa intravena untuk
mencegah kerusakan otak yang serius. Seseorang yang memiliki resiko mengalami
episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa glukagon. Glukagon adalah
hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang merangsang pembentukan
sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia
dalam bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15
menit. Tumor penghasil insulin harus diangkat melalui pembedahan. Sebelum
pembedahan, diberikan obat untuk menghambat pelepasan insulin oleh tumor
(misalnya diazoksid). Bukan penderita diabetes yang sering mengalami hipoglikemia
dapat menghindari serangan hipoglikemia dengan sering makan dalam porsi kecil.

Sumber:
http://www.academia.edu/31514164/LAPORAN_PENDAHULUAN_HIPOGLIKE
MIA. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB
10. Konsep Asuhan Keperawatan Pasien Syok Hipoglikemi

Pengkajian Primer Hipoglikemia


1. Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bernafas dengan bebas,ataukah
ada secret yang menghalangi jalan nafas. Jika ada obstruksi, lakukan :
 Chin lift/ Jaw thrust
 Suction
 Guedel Airway
 Instubasi Trakea
2. Breathing
Bila jalan nafas tidak memadai, lakukan :
 Beri oksigen
 Posisikan semi Flower
3. Circulation
Menilai sirkulasi / peredaran darah
 Cek capillary refill
 Auskultasi adanya suara nafas tambahan
 Segera Berikan Bronkodilator, mukolitik.
 Cek Frekuensi Pernafasan
 Cek adanya tanda-tanda Sianosis, kegelisahan
 Cek tekanan darah
Penilaian ulang ABC diperlukan bila kondisi pasien tidak stabil
4. Disability
Menilai kesadaran pasien dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya
respon terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. Kaji pula tingkat mobilisasi
pasien. Posisikan pasien posisi semi fowler, esktensikan kepala, untuk
memaksimalkan ventilasi. Segera berikan Oksigen sesuai dengan kebutuhan,
atau instruksi dokter.

Pengkajian Sekunder Hipoglikemia


Data dasar yang perlu dikaji adalah :
a. Keluhan utama :
sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering hipoglikemi
merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain sebelumnya seperti
asfiksia, kejang, sepsis.
b. Riwayat :
 ANC
 Perinatal
 Post natal
 Imunisasi
 Diabetes melitus pada orang tua/ keluarga
 Pemakaian parenteral nutrition
 Sepsis
 Enteral feeding
 Pemakaian Corticosteroid therapi
 Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika
 Kanker
c. Data fokus
Data Subyektif:
 Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas
 Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin
 Rasa lapar (bayi sering nangis)
 Nyeri kepala
 Sering menguap
 Irritabel
Data obyektif:
 Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor, kejang, kaku,
 Hight—pitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea, nafas cepat
irreguler, keringat dingin, mata berputar-putar, menolak makan dan
koma
 Plasma glukosa < 50 gr/

Pengkajian head to toe


a. Data subyektif :
 Riwayat penyakit dahulu
 Riwayat penyakit sekarang
 Status metabolik : intake makanan yang melebihi kebutuhan
kalori,infeksi atau penyakit-penyakit akut lain, stress yang
berhubungandengan faktor-faktor psikologis dan social, obat-obatan
atau terapi lainyang mempengaruhi glikosa darah, penghentian insulin
atau obat antihiperglikemik oral.
b. Data Obyektif
a. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus ototmenurun,
gangguan istrahat/tidur Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat
atau aktifitasLetargi/disorientasi, koma
b. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, IM akut, klaudikasi, kebas dankesemutan
pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yanglama, takikardia.Tanda :
Perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yangmenurun/tidak ada,
disritmia, krekels, distensi vena jugularis, kulit panas, kering, dan kemerahan,
bola mata cekung
c. Integritas/ Ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang
berhubungan dengan kondisi
Tanda : Ansietas, peka rangsang
d. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasanyeri/terbakar,
kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang, nyeritekan abdomen,
diare.Tanda : Urine encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembangmenjadi
oliguria/anuria, jika terjadi hipovolemia berat), urin berkabut, bau busuk
(infeksi), abdomen keras, adanya asites, bising usus lemahdan menurun,
hiperaktif (diare)
e. Nutrisi/Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet, peningkatan
masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat badanlebih dari beberapa
hari/minggu, haus, penggunaan diuretik (Thiazid)Tanda : Kulit
kering/bersisik, turgor jelek, kekakuan/distensiabdomen, muntah, pembesaran
tiroid (peningkatan kebutuhanmetabolik dengan peningkatan gula darah), bau
halisitosis/manis, bau buah (napas aseton)
f. Neurosensori
Gejala : Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot,
parestesi, gangguan penglihatanTanda : Disorientasi, mengantuk, alergi,
stupor/koma (tahap lanjut),gangguan memori (baru, masa lalu), kacau mental,
refleks tendondalam menurun (koma), aktifitas kejang (tahap lanjut dari
DKA).
g. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)Tanda : Wajah
meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati
h. Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum
purulen (tergantung adanya infeksi/tidak)Tanda : Lapar udara, batuk
dengan/tanpa sputum purulen, frekuensi pernapasan meningkat
i. Keamana
Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulitTanda : Demam, diaphoresis,
kulit rusak, lesi/ulserasi, menurunnyakekuatan umum/rentang gerak,
parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar
kalium menurun dengan cukup tajam)
j. Seksualitas
Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi)Masalah impoten pada pria,
kesulitan orgasme pada wanita
k. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga DM, jantung, stroke, hipertensi.Penyembuhan
yang lambat, penggunaan obat sepertii steroid, diuretik (thiazid), dilantin dan
fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak
memerlukan obat diabetik sesuai pesanan. Rencana pemulangan : Mungkin
memerlukan bantuan dalam pengaturan diit, pengobatan, perawatan diri,
pemantauan terhadapglukosa darah.
Data-Data Laboratorium Hipoglikemia
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya peningkatan gula darah, urea
darah, serum creatinin (BUN), mikoro albumunurea, dan glikohemoglobin (Hb) Ph
dan bagian tekanan dari karbon dioksida (PCO2). tabel 51-1 menjelaskan bahwa
rasional peningkatan dari studi ini. Periksa bagian urinary menunjukkan adanya
pemeriksaan.tabel 51-2 menunjukkan gula darah normal, penjelasan mengenai
interprestasi yang tidak normal pada keadaan koma, perawat memberi perawatan
sampai pemeriksaan gula darah selanjutnya. (Donna 1991).

Masalah Atau Diagnosa Keperawatan Hipoglikemia Yang Mungkin Muncul


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan Asma adalah
sebagai berikut:
1 Kebersihan jalan nafas tidak efektif b.d inflamasi dan obstruksi jalan nafas,
peningkatan sekresi trakheobronkheal
2 Pola nafas tidak efektif b.d hiperventilasi, kelelahan otot pernafasan
3 PK: Hipoglikemia
4 Resiko aspirasi b.d secret produktif, sesak nafas
5 Resiko kebutuhan cairan kurang b.d intake tidak adekuat, pening-katan
metabolisme, diaporesis
6 Kurang pengetahuan tentang asma b.d kurang informasi, keterbatas-an kognisi,
tidak familier dengan sumber informasi
7 Cemas orang tua b.d perkembangan penyakit anaknya
8 Takut b.d hospitalisasi, tindakan invasive, terapi inhalasi
9 Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan O2, kelemahan
10 Defisit self care b.d kelemahan, kelelahan, sesak nafas

No Diagnosa Kep NOC / Tujuan NIC / Intervensi


1. Bersihan jalan Setelah dilakukan  Airway Suctioning
napas tiidak tindak-an keperawatan (3160)
efektif b.d obs- selama … x 24 jam jalan o Pastikan kebutuhan
truksi jalan nafas / napas klien efektif, suctioning
pe-ningkatan dengan kriteria :
o Auskultasi suara
sekresi trakhe-
obronkheal. Status Respirasi : napas sebelum dan
Patensi Jalan Nafas sesudah suctioning
Batasan (0410) : o Informasikan pada
karakteristik : - Suara napas bersih klien dan ke-luarga
- Dispneu - Tidak ada sianosis tentang suctioning
- Orthopneu - Tidak sesak napas / o Meminta klien napas
- Sianosis dispneu dalam sebe-lum
- - Irama napas dan suctioning
Ronkhi/krep frekuensi napas dalam  5 Berikan oksigen
itasi rentang normal
dengan kanul nasal
- Kesulitan - Klien tidak merasa
berbicara ter-cekik untuk memfasilitasi
- Batuk tidak
- Tidak ada sianosis suctioning
efektif atau tidak
- Tidak gelisah nasotrakheal
ada - Sputum berkurang  6 Gunakan alat
- Mata melebar yang steril setiap
- Produksi Status Respirasi : melakukan tindakan
sputum me- Ventilasi (0403)  7 Anjurkan klien
ningkat - napas dalam dan
- Gelisah Mendemonstrasik istirahat setelah
- Perubahan an ba-tuk efektif
kateter dikeluarkan
frekuensi dan
- Suara nafas yang
irama napas bersih dari nasotrakheal
- Tidak ada sianosis  8 Monitor status
- Tidak ada dispneu oksigen klien
(mam-pu bernafas  9 Hentikan
dengan mudah) suction apabila klien
- Tidak ada pursed lips menunjukkan
bradikardi

 Airway
manajemen ( 3140)
o Buka jalan napas,
gunakan teknik chin
lift atau jaw thrust
bila perlu
o Posisikan klien
untuk memaksi-
malkan ventilasi
o Identifikasi klien
perlunya pema-
sangan jalan napas
buatan
o Pasang mayo bila
perlu
o Lakukan fisioterapi
dada bila perlu
o Keluarkan sekret
dengan batuk atau
suction
o Auskultasi suara
napas , catat adanya
suara tambahan
o Kolaborasi
pemberian
bronkodilator bila
perlu
o Monitor respirasi
dan status oksigen
 Cough
Enhancement
(3250)
 Monitor fungsi paru-
paru, kapasitas vital,
dan inspirasi
maksimal
 Dorong pasien
melakukan nafas
dalam, ditahan 2
detik lalu batuk 2-3
kali
 Anjurkan klien nafas
dalam be-berapa
kali, dikeluarkan
dengan pelan-pelan
dan batukkan di
akhir ekspirasi

 Terapi Oksigen
(3320)
 Bersihkan secret di
mulut, hidung dan
trachea /
tenggorokan
 Pertahankan patensi
jalan nafas
 Jelaskan pada klien /
keluarga tentang
pentingnya
pemberian oksigen
 Berikan oksigen
sesuai kebutuhan
 Pilih peralatan yang
sesuai ke-butuhan
: kanul nasal 1-3
l/mnt, head box 5-10
l/mnt, dll
 Monitor aliran O2
 Monitor selang O2
 Cek secara periodik
selang O2,
humidifier, aliran
O2
 Observasi tanda
kekurangan O2 :
gelisah, sianosis dll
 Monitor tanda
keracunan O2
 Pertahankan O2
selama dalam
transportasi
 Anjurkan klien /
keluarga untuk
mengamati
persediaan O2, air
humidifier, jika
habis laporkan
petugas jaga.

 Mengatur posisi
(0840)
 Atur posisi pasien
semi fowler,
ekstensi kepala
 Miringkan kepala
bila muntah

 Fisioterapi dada
(3230)
o Tentukan adanya
kontraindikasi
fisioterapi dada
o Tentukan segmen
paru-paru yang
memerlukan
fisioterapi dada
o Posisikan klien
dengan segmen paru
yang memerlukan
drainase dile-takkan
lebih tinggi
o Gunakan bantal
kepala untuk
membantu mengatur
posisi
o Kombinasikan
teknik perkusi dan
posturnal drainase
o Kombinasikan
teknik fibrasi dan
posturnal drainase
o Kelola terapi
inhalasi
o Kelola pemberian
bronchodilator,
mukolitik
o Monitor dan tipe
sputum
o Dorong batuk
sebelum dan
sesudah posturnal
drainase

2. Pola nafas tidak Setelah dilakukan  Airway


efektif tindak-an perawatan manajemen ( 3140)
b.d hiperventilasi, selama … X 24 jam  Buka jalan napas,
kele-lahan otot pola nafas efektif, gunakan teknik chin
pernafasan dengan criteria :
lift atau jaw thrust
Batasan Respiratory status : bila perlu
karakteristik : Airway patency (0410)  Posisikan klien
- Penurunan : untuk memaksi-
tekanan inspirasi- / Suara napas bersih malkan ventilasi
ekspirasi - Tidak ada sianosis  Identifikasi klien
- Penurunan - Tidak sesak napas perlunya pema-
ventilasi per menit
- Irama napas dan sangan jalan napas
- Penggunaan frekuensi napas da-lam buatan
otot na-fas rentang normal  Pasang mayo bila
tambahan - Pasien tidak merasa perlu
- Pernafasan tercekik
 Lakukan fisioterapi
nasal flaring - Tidak ada sianosis
- Dispneu - Tidak gelisah dada bila perlu
- Ortopneu - Sputum berkurang  Keluarkan sekret
- Penyimpangan dengan batuk atau
dada Respiratory status : suction
- Nafas pendek ventilation (0403)  Auskultasi suara
- Posisi tubuh
- Respirasi dalam napas , catat adanya
menun-jukkan rentang normal suara napas
posisi 3 poin - Ritme dalam batas tambahan
- Nafas pursed- normal  Kolaborasi
lip (de-ngan bibir)- Ekspansi dada pemberian
- Ekspirasi simetris
bronkodilator bila
meman-jang - Tidak ada sputum di
- Peningkatan jalan napas perlu
diame-ter - Tidak ada  Monitor respirasi
anterior-posterior penggunaan otot-otot dan status oksigen
- Frekuensi tambahan
nafas - Tidak ada retraksi  Respirasi
Bayi : < 25 atau > dada Monitoring (3350)
60 - Tidak ditemukan  Monitor rata-rata,
1-4 th : < 20 atau dispneu ritme, kedalaman,
> 30 - Dispneu saat aktivitas dan usaha napas
5-14 th : < 14 atau ti-dak ditemukan
 Catat gerakan dada
> 25 - Napas pendek-
> 14 th : < 11 pendek ti-dak ditemukan apakah simetris, ada
atau > 24 - Tidak ditemukan tak- penggunaan otot
- Kedalaman til fremitus tambahan, dan
nafas - Tidak suara napas retraksi
Volume tidal de- tambahan  Monitor crowing,
wasa saat istira- suara ngorok
hat 500 ml  Monitor pola napas :
Volume tidal ba-yi bradipneu, takipneu,
6-8 ml/kg BB kusmaul, apnoe
- Penurunan
kapasitas vital  Dengarkan suara
- Timing rasio napas : catat area
yang ventilasinya
menurun / tidak ada
dan catat adanya
suara tam-bahan
 K/p suction dengan
mendengarkan suara
ronkhi atau krakles
 Monitor
peningkatan gelisah,
ce-mas, air hunger
 Monitor
kemampuan klien
untuk batuk efektif
 Catat karakteristik
dan durasi batuk
 Monitor sekret di
saluran napas
 Monitor adanya
krepitasi
 Monitor hasil
rontgen thorak
 Bebaskan jalan
napas dengan chin
lift atau jaw thrust
bila perlu
 Resusitasi bila perlu
 Berikan terapi
pengobatan sesuai
advis (oral, injeksi,
atau terapi inhalasi)

 Cough
Enhancement
(3250)
 Monitor fungsi paru-
paru, kapasitas vital,
dan inspirasi
maksimal
 Dorong klien
melakukan nafas
dalam, ditahan 2
detik lalu batuk 2-3
kali
 Anjurkan klien nafas
dalam be-berapa
kali, dikeluarkan
dengan pelan-pelan
dan batukkan di
akhir ekspirasi

 Terapi Oksigen
(3320)
o Bersihkan sekret di
mulut, hidung dan
trakhea /
tenggorokan
o Pertahankan patensi
jalan nafas
 3. Jelaskan pada
klien / keluarga
tentang
pentingnya pember
ian O2
o Berikan oksigen
sesuai kebutuhan
o Pilih peralatan yang
sesuai ke-butuhan
: kanul na-sal 1-3
l/mnt, head box 5-10
l/mnt, dll
o Monitor aliran O2
o Monitor selang O2
o Cek secara periodik
selang O2, air
humidifier, aliran
O2
o Observasi tanda
kekurangan O2 :
gelisah, sianosis dll
o Monitor tanda
keracunan O2
o Pertahankan O2
selama dalam
transportasi
 12. Anjurkan klien /
keluarga untuk
mengamati
persediaan O2, air
humidifier, jika
habis laporkan
petugas
3 PK: Hipoglikemia Setelah dilakukan  Pantau kadar gula
tindak-an sebelum pemberian
Populasi resiko keperawatan selama … obat hipoglikemia
tinggi : x 24 jam, perawat akan  Pantau tanda gejala
- DM menangani dan hipoglikemia
- Nutrisi meminimalkan episode
 Jika klien dapat
Parenteral hipoglikemia dngan
- Sepsis gejala : menelan berikan jus
- Terapi - Kadar gula <70 mg/dl jeruk, cola, atau jahe
Kortikosteroid - Kulit lembab dingin, setiap 15 menit
- Hiperglikemia pucat sampai kadar gula
- Hiupoglikemia - Takikardi meningkat diatas 69
hiperfungsi - Gelisah mg/dl
kelenjar adrenal - Tidak sadr  Jika klien tidak
- Mudah mengantuk dapat menelan
- Tidak terkoordinasi berikan glucagon SC
atau 50 ml glukosa
50% IV
 Periksa kadar gula
darah setelah 1 jam
pemberian terapi
glukosa
 Konsul dengan ahli
gizi untuk
pemberian kudapan
atau kabohidrat yang
lebih kompleks
4. Resiko aspirasi Setelah dilakukan  Airway Suctioning
b.d aku-mulasi tindak-an (3160)
secret, sesak nafas keperawatan selama … o Pastikan kebutuhan
x 24 jam pasien tidak suctioning
Faktor Resiko : me-ngalami aspirasi,
o Auskultasi suara
- Penurunan dengan kriteria :
reflek ba-tuk dan napas sebelum dan
gag reflek Respiratory status : sesudah suctioning
- Ngt ventilation (0403) o Informasikan pada
- Penurunan - Respirasi dalam ren- klien dan keluarga
kesadaran tang normal tentang suctioning
- Gangguan - Ritme dalam batas o Meminta klien napas
menelan normal dalam se-belum
- Produksi secret- Ekspansi dada si- suctioning
me-ningkat metris o Berikan O2 dengan
- Dispneu - Tidak ada sputum di kanul nasal untuk
jalan napas
memfasilitasi
- Tidak ada pengguna-
an otot-otot tambahan suctioning
- Tidak ada retraksi da- nasotrakhea
da o Gunakan alat yang
- Tidak ditemukan se- steril setiap
sak nafas / dispneu melakukan tindakan
- Dispneu saat aktivitas o Anjurkan klien
tidak ditemukan napas dalam dan
- Napas pendek-pen- istirahat setelah
dek tidak ditemukan kateter dikeluarkan
- Tidak ditemukan tak- dari nasotrakheal
til fremitus
o Monitor status O2
- Tidak ditemukan su-
ara napas tambahan klien
o Hentikan suction
Respiratory status : apabila klien me-
gas ekchange (0402) nunjukkan
- Status mental dalam bradikardi
batas normal
- Bernapas dengan mu-  Airway
dah manajemen ( 3140)
- Gelisah tidak ditemu-  Buka jalan napas,
kan
gunakan teknik chin
- Tida ada sianosis
- Somnolen tidak dite-
lift atau jaw thrust
mukan bila perlu
 Posisikan klien
untuk memak-
simalkan ventilasi
 Identifikasi klien
perlunya pema-
sangan jalan napas
buatan
 Pasang mayo bila
perlu
 Lakukan fisioterapi
dada bila perlu
 Keluarkan secret
dengan batuk atau
suction
 Auskultasi suara
napas, catat adanya
suara
nafas tambahan
 Kolaborasi
pemberian
bronkodilator bila
perlu
 Monitor respirasi
dan status oksigen

 Aspiration
Precaution (3200)
 Monitor tingkat
kesadaran, reflek
batu, gag reflek dan
kemampuan
menelan.
 Monitor status paru-
paru
 Pertahankan airway
 Alat suction siap
pakai, tempatkan
disamping bed, dan
suction sebelum
makan
 Beri makanan dalam
jumlah kecil
 Pasang NGT bila
perlu
 Cek posisi NGT
sebelum mem-
berikan makan
 Cek residu sebelum
memberikan makan
 Hindari pemberian
makanan jika residu
banyak
 Libatkan keluarga
selama pembe-rian
makan
 Potong makanan
menjadi kecil-kecil
 Mintakan obat
dalam bentuk sirup
 Puyer pil sebelum
diberikan
 Jaga posisi kepala
pasien elevasi 30-
40˚ selama dan
setelah pem-berian
makan
 Anjurkan pasien /
atur posisi klien
semi fowler atau
fowler ketika makan
 K/p per sonde atau
drip feeding
 Cek apakah
makanan mudah di
telan

 Posisitioning/Meng
atur posisi (0840)
o Atur posisi pasien
semi fowler,
ekstensi kepala
o Miringkan kepala
bila muntah

 Respirasi
Monitoring (3350)
o Monitor rata-rata,
ritme, kedalaman,
dan usaha napas
o Catat gerakan dada
apakah simetris, ada
penggunaan otot
tambahan, dan
retraksi
o Monitor crowing,
suara ngorok
o Monitor pola napas :
bradipneu, takipneu,
kusmaul, apnoe
o Dengarkan suara
napas : catat area
yang ventilasinya
menurun / tidak ada
dan catat adanya
suara tam-bahan
o K/p suction dengan
mendengarkan suara
ronkhi atau krakles
o Monitor
peningkatan gelisah,
ce-mas, air hunger
o Monitor
kemampuan klien
untuk batuk efektif
o Catat karakteristik
dan durasi batuk
o Monitor sekret di
saluran napas
o Monitor adanya
krepitasi
o Monitor hasil
rontgen thorak
o Bebaskan jalan
napas dengan chin
lift atau jaw thrust
bila perlu
o Resusitasi bila perlu
 15. Berikan terapi
pengobatan sesuai
advis (oral, injeksi,
atau terapi inhalasi)
5. Intoleransi Setelah dilakukan  Terapi Aktivitas
aktivitas b.d tindak-an keperawatan (4310)
ketidakseimbanga selama … x 24 jam, o Catat frekuensi
n suplai dan klien mampu mencapai jantung irama, pe-
kebutuhan O2, ke- : activity to-leransi ,
rubahan tekanan
lemahan dengan kriteria :
darah sebelum,
Batasan Activity tolerance selama, setelah
Karakteristik : (0005) aktivitas sesuai indi-
- Laporan kerja- : Saturasi oksigen da- kasi
kele-lahan dan lam batas normal ke-tika o Tingkatkan istirahat,
kelemahan beraktivitas batasi aktivitas dan
- Respon - HR dalam batas nor- berikan aktivitas
terhadap ak-tivitas mal ketika aktivitas senggang yang tidak
menunjukkan nadi - Respirasi dalam batas berat
dan tekanan darah normal saat aktivitas o Batasi pengunjung
abnormal - Tekanan darah sisto-
o Monitor / pantau
- Perubahan lik dalam batas nor-mal
EKG me- saat beraktivitas respon emosi, fisik,
nunjukkan aritmia- Tekanan darah dias- sosial dan spiritual
/ disritmia tolik dalam batas nor- o Jelaskan pola
- Dispneu dan mal saat beraktivitas peningkatan
ketidak-nyamanan - EKG dalam batas aktivitas secara
yang sa-ngat normal bertahap
- Gelisah - Warna kulit o Bantu klien
- Usaha bernafas saat mengenal aktivitas
beraktivitas dengan penuh arti
- Berjalan di ruangan o Bantu klien
- Berjalan jauh mengenal pilihan
- Naik tangga
untuk beraktivitas
- Kekuatan ADL
- Kemampuan ber-  8 Tentukan klien
bicara saat latihan komitmen untuk
meningkatkan
frekuensi untuk
aktivitas
o Kolaborasi yang
berhubungan de-
ngan fisik, terapi
rekreasi, pe-
ngawasan program
aktivitas yang tepat
o Bantu
klien membuat
rencana yang khusus
untuk pengalihan
aktivitas rutin tiap
hari
 11 Bantu klien /
keluarga mengenal
ke-kurangan
mutu aktivitas
 Latih klien /
keluarga mengenai
peran fisik, sosial,
spiritual , pe-
ngertian aktivitas
didalam peme-
liharaan kesehatan
 Bantu klien /
keluarga menye-
suaikan lingkungan
dengan ke-inginan
aktivitas
 Berikan aktivitas
yang mening-katkan
perhatian dalam
jangka wak-tu
tertentu
 Fasilitasi
penggantian
aktivitas ketika klien
sudah melewati
batas waktu, energi
dan pergerakan
 Berikan lingkungan
yang
tidak berbahaya
untuk berjalan
sesuai indikasi
 Berikan bantuan
yang positif untuk
partisipasi didalam
aktivitas
 Bantu klien
menghasilkan
motivasi sendiri
 Monitor emosi,
fisik, sosial, dan
spiritual dalam
aktivitas
 Bantu klien /
keluarga monitor
men-dapatkan
kemajuan untuk
men-capai tujuan

 Manajemen
Energi (0180)
 Observasi adanya
pembatasan klien
dalam melakukan
aktivitas
 Dorong
mengungkapkan
perasaan terhadap
keterbatasan
 Kaji adanya factor
yang menyebabkan
adanya kelelahan
 Monitor nutrisi dan
sumber energi yang
adekuat
 Monitor klien
adanya kelelahan
fisik dan emosi
secara berlebihan
 Monitor respon
kardiovaskuler
terhadap aktivitas
 Monitor pola tidur
dan lamanya tidur /
istirahat klien

 Manajemen
Disritmia (4090)
 Mengetahui dengan
pasti klien dan
keluarga yang
mempunyai riwayat
jantung.
 Monitor dan periksa
kekurangan O2,
keseimbangan asam
basa, elektrolit.
 Rekam EKG
 Anjurkan istirahat
setiap terjadi
serangan.
 Catat frekuensi dan
lamanya serangan .
 6. Monitor status
hemodinamik.
6. Defisit self care Kebutuhan ADL klien  NIC: Membantu
b.d kele-mahan, terpenuhi selama pera- perawatan diri
dengan watan klien Mandi dan
kelelahan, sesak Indikator: toiletting
nafas - Klien tampak bersih
dan rapi  Aktifitas:
Batasan - Mengerti secara  1. Tempatkan alat-
karakteristik : seder-hana cara mandi, alat mandi ditempat
- Klien tidak ma-kan, toileting, dan yang mudah
mampu ber-pakaian serta mau dikenali dan mudah
mengambil mencoba secara aman dijangkau klien
makanan tanpa cemas o Libatkan klien dan
- Klien tidak
- Klien mau dampingi
mampu ke toilet berpartisipasi dengan o Berikan bantuan
- Klien tidak senang hati tanpa
selama klien masih
mampu ke kamar keluhan dalam
mandi memenuhi ADL
mampu
- Klien tiodak- Kebutuhan makan mengerjakan sendiri
mampu memakai mi-num, mandi, o Libatkan keluarga
baju sendiri toileting, dll terpenuhi dalam memenuhi
kebutuhan mandi
dan toileting

 NIC: ADL
Berpakaian
 Aktifitas:
 Informasikan pada
klien dalam memilih
pakaian selama
perawatan
 Sediakan pakaian di
tempat yang mudah
dijangkau
 Bantu berpakaian yg
sesuai
 Jaga privcy klien
 Berikan pakaian
pribadi yg digemari
dan sesuai
 Libatkan keluarga
dalam memenuhi
kebutuhan
berpakaian

 NIC: ADL Makan


 Anjurkan duduk dan
berdo’a bersama
teman
 Dampingi saat
makan
 Bantu jika klien
belum mampu dan
beri contoh
 Libatkan keluarga
dalam memenuhi
kebutuhan makan
dan minum
 5. Beri rasa nyaman
saat makan
7. Takut b.d Setelah dilakukan  Coping
hospitalisasi, tindak-an keperawatan enhancement (523
tindakan invasife, selama … X 24 jam rasa 0)
terapi inhalasi, takut klien hilang /  Kaji respon takut
pengalaman / berkurang, de-ngan
pasien : data objektif
lingkungan yang kriteria :
kurang dan subyektif
bersahabat.(00148 Fear control (1404) :  Jelaskan klien /
) - Klien tidak menye- keluarga tentang
rang atau menghin-dari proses penyakit
Batasan sumber yang  Terangkan klien
karakteristik : menakutkan / keluarga tentang
- Panik - Klien menggunakan semua pemeriksaan
- Teror teknik relaksasi un-tuk dan pengobatan
- Perilaku mengurangi takut  4. Sampaikan
menghindar atau - Klien mampu me-
sikap empati (diam,
menyerang ngontrol respon takut
- Impulsif - Klien tidak melarikan memberikan
- diri. sentuhan, mengijin
Nadi, respir
- Durasi takut menurun kan menangis,
asi, TD sistolik - Klien kooperatif saat berbicara dll)
meningkat dilakukan perawatan  Dorong orang tua
- Anoreksia dan pengobatan (tera-pi untuk selalu
- Mual, muntah inhalasi) menemani anak
- Pucat
 Berikan pilihan yang
- Stimulus Anxiety control (1402)
sebagai an-caman- Tidur pasien adekuat realistik tentang
- Lelah - Tidak ada manifestasi aspek perawatan
- Otot tegang fisik  Dorong klien untuk
- Keringat - Tidak ada manifestasi melakukan aktifitas
meningkat perilaku sosial dan komunitas
- Gempar - Klien mau berinter-  Dorong penggunaan
- Ketegangan aksi sosial sumber spi-ritual
mening-kat
- Menyatakan  Anxiety Reduction
takut (5820)
- Menangis
 Jelaskan semua
- Protes
- Melarikan diri prosedur termasuk
perasaan yang
mungkin dialami
selama menjalani
prosedur
 Berikan objek yang
dapat mem-berikan
rasa aman
 Berbicara dengan
pelan dan tenang
 Membina hubungan
saling percaya
 Jaga peralatan
pengobatan di luar
penglihatan klien
 Dengarkan klien
dengan penuh
perhatian
 Ciptakan suasana
saling percaya
 Dorong klien
mengungkapkan
perasaan, persepsi
dan takut secara
verbal
 Berikan peralatan /
aktivitas
yang menghibur
untuk mengurangi
ke-tegangan
 Anjurkan klien
menggunakan tek-
nik relaksasi
 Anjurkan orang tua
untuk mem-
bawakan mainan
kesukaan dari rumah
 Libatkan orang tua
dalam pe-rawatan
dan pengobatan
 Berikan lingkungan
yang tenang, batasi
pengunjung

8. Kurang Setelah diberikan penje-  Teaching : Disease
pengetahuan kli- lasan selama … X per-  Process (5602)
en / orang tua temuan klien / orang tua  Berikan penilaian
tentang asma b.d mengetahui dan mema-
tentang tingkat
kurang infor-masi, hami tentang penyakit-
keterbatasan nya, dengan criteria :
pengetahuan klien /
kogni-si, tak orang tua tentang
familier dengan Knowledge : Disease proses penyakitnya
sumber informasi Process (1803) :  Jelaskan
. - Mengetahui jenis / patofisiologi asma
nama penyakitnya dan bagaimana hal
Batasan - Mampu menjelaskan ini berhubungan
Karakteristik : proses penyakit dengan anatomi dan
- - Mampu menjelaskan fisiologi dengan cara
Mengungka factor resiko yang sesuai.
pkan ma-salah - Mampu menjelaskan
 Gambarkan tanda
- Tidak tepat efek penyakit
mengi-kuti - Mampu menjelaskan dan gejala yang
perintah tanda dan gejala biasa muncul pada
- Tingkah laku penyakit asma dengan cara
yang berlebihan - Mampu menjelaskan yang sesuai
(histeris, komplikasi  Gambarkan proses
bermusuhan, - Mampu menjelaskan penyakit asma
agitasi, apatis) bagaimana mencegah dengan cara yang
komplikasi sesuai
 Identifikasi
Knowledge : Health kemungkinan
behavors(1805)
penyebab dengan
- Mampu menjelaskan
pola nutisi yang sehat cara yang tepat
- Mampu menjelaskan  Bantu klien / orang
aktifitas yang ber- tua mengenali factor
manfaat pencetus serangan
- Mampu menjelaskan asma
efek tembakau /  Berikan informasi
merokok pada klien / orang
- Mampu menjelaskan tua tentang kondisi
teknik manajemen stress klien dengan tepat
- Mampu menjelaskan  Informasikan
efek zat kimia kepada orang tua
- Mampu menjelaskan tentang kemajuan /
bagaimana mengura-ngi perkembangan
resiko sakit penyakit klien
- Mampu menjelaskan
dengan cara yang
bagaimana menghin-dari
lingkungan sesuai
yang berbahaya (factor  Sediakan informasi
pencetus) tentang peng-ukuran
- Mampu menjelaskan diagnostik yang ada
pemakaian obat se-suai  Diskusikan
resp perubahan gaya
hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang
dan atau proses pe-
ngontrolan penyakit
 Diskusikan pilihan
terapi atau
penanganan
 Gambarkan pilihan
rasional reko-
mendasi manajemen
terapi / pe-nanganan
 Dukung klien /
orang tua untuk
mengeksplorasikan
atau men-dapatkan
second opinion
dengan cara yang
tepat
 Eksplorasi
kemungkinan
sumber atau
dukungan dengan
cara yang tepat
 15. Instruksikan
klien / orang
tua mengenai tanda
dan gejala asma
untuk melaporkan
pada pemberi
perawatan
 Kuatkan informasi
yang disediakan tim
kesehatan yang lain
dengan cara yang
tepat

 Teaching Procedur
/ Treatment (5618)
 Informasikan
kepada klien dan
orang tua kapan
prosedur pengobatan
akan di-laksanakan
 Informasikan
seberapa lama
prosedur pengobatan
akan dilakukan
 Informasikan
tentang peralatan
yang akan
digunakan dalam
pengobatan
 Informasikan
kepada orang tua
siapa yang akan
melakukan prosedur
pe-ngobatan
 Jelaskan tujuan dan
alasan dilakukan
prosedur pengobatan
 Anjurkan kepada
klien untuk
kooperatif saat
dilakukan prosedur
pengobatan
 Jelaskan tentang
perasaan yang
mungkin akan
dialami selama di-
lakukan prosedur
pengobatan

9. Resiko Setelah dilakukan  M Monitor Cairan


kekurangan volu- tindak- (4130)
me cairan an keperawatan sela  Tentukan riwayat
ma jenis dan banyaknya
Faktor resiko : … X 24 jam klien tidak
intake cairan dan
- Kehilangan mengalami kekurangan
melalui rute cairan. kebiasaan eleminasi
normal : muntah  Tentukan faktor
- Sesak napas Hidrasi (0602) resiko yang me-
sehingga sehingga Kriteria hasil : nyebabkan
mempenga-ruhi - Hidrasi kulit adekuat ketidakseimbangan
intake menjadi
- Tekanan darah cairan (hipertermi
kurang dalam batas normal diuretik, kelainan
- Peningkatan - Nadi teraba ginjal, muntah,
metabo-lisme - Membran mukosa poliuri, diare,
- Diaporesis lembab
diaporesis, terpapar
- Turgor kulit normal
- Berat badan stabil panas, infeksi)
dan dalam batas normal  Menimbang BB
- Kelopak mata tidak  Monitor vital sign
cekung  Monitor intake dan
- Urin out put normal output
- Tidak demam  Periksa serum,
- Tidak ada rasa haus elektrolit dan mem-
yang sangat batasi cairan bila
- Tidak ada napas pen- diperlukan
dek / kusmaul  Jaga keakuratan
catatan intake dan
out-put
 Monitor membrane
Balance Cairan (0601) mukosa, turgor kulit
Kriteria hasil : dan rasa haus
- Tekanan darah nor-  Monitor warna dan
mal jumlah urin
- Nadi perifer teraba  Monitor distensi
- Tidak terjadi orto- vena leher, krakles,
statik hypotension odem perifer dan
- Intake-output seim- peningkatan berat
bang dalam 24 jam
badan.
- Serum, elektrolit da-
lam batas normal.  Monitor akses
- Hmt dalam batas intravena
normal  Monitor tanda dan
- Tidak ada suara gejala asites
napas tambahan  Catat adanya vertigo
- BB stabil  Berikan cairan
- Tidak ada asites, ede-  Pertahankan aliran
ma perifer infus sesuai advis
- Tidak ada distensi
vena leher  Manajemen Cairan
- Mata tidak cekung
(4120)
- Tidak bingung
- Rasa haus tidak ber-  Timbang berat
lebihan / rakus badan sesuai
- Membrane mukosa kebutuhan dan
lembab monitor
- Hidrasi kulit adekuat kecenderungannya.
 Timbang popok
 Pertahankan
keakuratan catatan
intake dan output
 Pasang kateter kalau
perlu
 Monitor status
hidrasi (kelembaban
mem-bran mukosa,
denyut nadi, tekanan
darah)
 Monitor vital sign
 Monitor tanda-tanda
overhidrasi /
kelebihan cairan
(krakles, edema
perifer, distensi vena
leher, asites, edema
pulmo)
 Berikan cairan
intravena
 Monitor status
nutrisi
 Berikan intake oral
selama 24 jam
 Berikan cairan
dengan selang
(NGT) bila perlu
 Monitor respon
klien terhadap terapi
elektrolit
 Kolaborasi dokter
jika ada tanda dan
gejala kelebihan
cairan

 Manajemen
Hipovolemia (4180)
 Monitor status
cairan intake dan
output
 Pertahankan patensi
akses intravena
 Monitor Hb dan Hct
 Monitor kehilangan
cairan (perda-rahan,
muntah, diare)
 Monitor tanda vital
 Monitor respon
pasien terhadap
perubahan cairan
 Berikan cairan
isotonic / kristaloid
(NaCl, RL)
 Monitor tempat
tusukan intravena
dari tanda infiltrasi
atau infeksi
 Monitor IWL
(missal : diaporesis)
 10 Anjurkan klien
untuk menghindari
mengu-bah posisi
dengan cepat, dari
tidur ke duduk atau
berdiri
 Monitor berat badan
 Monitor tanda
dehirasi ( turgor
kulit
menurun, pengisian
kapiler lambat,
membrane mukosa
kering, urin output
menurun, hipotensi,
rasa haus me-
ningkat, nadi lemah)
 Dorong intake oral
(distribusikan cairan
selama 24 jam dan
beri cairan diantara
waktu makan)
 Pertahankan aliran
infuse
 Posisi pasien
Trendelenburg / kaki
ele-vasi lebih tinggi
dari kepala ketika
hipotensi jika perlu

 Monitoring
Elektrolit (2020)
 Monitor elektrolit
serum
 Laporkan jika ada
ketidakseimbangan
elektrolit
 3 Monitor tanda
dan gejala
ketidakseim-bangan
elektrolit (kejang,
kram perut, tremor,
mual dan muntah,
letargi, ce-mas,
bingung,
disorientasi, kram
otot, nyeri tulang,
depresi pernapasan,
gangguan irama
jantung, penurunan
kesadaran : (apatis,
coma)

 Manajemen
Elektrolit (2000)
 Pertahankan cairan
infus yang me-
ngandung elektrolit
 Monitor kehilangan
elektrolit lewat
suction nasogastrik,
diare, diaporesis
 Bilas NGT dengan
normal salin
 Berikan diet
makanan yang kaya
kalium
 Berikan lingkungan
yang aman bagi
klien yang
mengalami
gangguan neurologis
atau neuromuskuler
 Ajari klien dan
keluarga tentang
tipe, penyebab, dan
pengobatan ketidak-
seimbangan
elektrolit
 Kolaborasi dokter
bila tanda dan gejala
ketidakseimbangan
elektrolit menetap.
 Monitor respon
klien terhadap terapi
elektrolit
 Monitor efek
samping pemberian
suplemen elektrolit.
 Kolaborasi dokter
pemberian obat
yang mengandung
elektrolit (aldakton,
Kcl, Kalsium
Glukonas).
 Berikan suplemen
elektrolit baik lewat
oral, NGT, atau
infus sesuai advis
dokter

http://www.academia.edu/31514164/LAPORAN_PENDAHULUAN_HIPOGLIKE
MIA. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB

11. Kasus Asuhan Keperawatan Pasien Syok Hipoglikemi


BAB IV
Penutup
Kesimpulan
Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan
dimana kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi karena
ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan obat-obatan
yang digunakan. Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis antara lain
penderita merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur dan gelap,
berkeringat dingin, detak jantung meningkat dan terkadang sampai hilang
kesadaran (syok hipoglikemia)
Daftar Pustaka

Waspadji S. Kegawatan pada diabetes melitus. Dalam: Prosiding simposium:


penatalaksanaan kedaruratan di bidang ilmu penyakit dalam. Jakarta: Pusat
Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2000. hal.83-4

https://www.scribd.com/doc/269867652/syok-hipoglikemi. Diakses pada tanggal 14


Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB

http://www.academia.edu/31514164/LAPORAN_PENDAHULUAN_HIPOGLIKEMI
A. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 21.15 WIB

https://www.scribd.com/doc/201000470/Pathway-Hipoglikemia. Diakses pada


tanggal 14 Agustus 2018. Pukul 22.00 WIB