Anda di halaman 1dari 51

MAKALAH SEDIMENTOLOGI

OLEH :

Faja.K.Rohmala
Nim. 2014-69-004

Mariska Katiop
Nim. 2014-69-009

Simon Rumbewas
Nim. 2014-69-050

Frits Morin
Nim. 2015-69-036

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI PENDIDIKAN TINGGI


PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN

UNIVERSITAS PAPUA

MANOKWARI

2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat, dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Paleontologi ini. Makalah ini disusun untuk menambah wawasan pembaca mengenai
Lingkungan Pengendapan dan Sistem Sedimentasi.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan, sehingga kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun
dari semua pihak demi perbaikan makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin.

Manokwari, 8 September 2015

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Lingkungan Pengendapan dan Sistem Sedimentasi merupakan bagian penting
dalam proses sedimentasi yang dimana tempat untuk membentuk suatu batuan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Lingkungan Pengendapan dan Sistem
Pengendapan?
2. Apa saja macam-macam Lingkungan Pengendapan dan Sistem Pengendapan ?

C. Maksud dan Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui pengertian dari Lingkungan Pengendapan dan Sistem
Pengendapan.
2. Untuk mengetahui macam-macam Lingkungan Pengendapan dan Sistem
Pengendapan?.
D. Manfaat
1. Untuk membantu mahasiswa memahami materi tentang Lingkungan
Pengendapan dan Sistem Pengendapan?.
2. Sebagai salah satu syarat dalam memperoleh nilai mata kuliah Sedimentologi.
E. Metode Penulisan
Pada makalah ini kami menggunakan metode perpustakaan yang berasal
dari buku-buku pengetahuan alam dan melalui media internet.

BAB II

PEMBAHASAN

LINGKUNGAN PENGENDAPAN

Lingkungan pengendapan adalah bagian dari permukaan bumi dimana proses


fisik, kimia dan biologi berbeda dengan daerah yang berbatasan dengannya (Selley,
1988). Sedangkan menurut Boggs (1995) lingkungan pengendapan adalah
karakteristik dari suatu tatanan geomorfik dimana proses fisik, kimia dan biologi
berlangsung yang menghasilkan suatu jenis endapan sedimen tertentu. Nichols (1999)
menambahkan yang dimaksud dengan proses tersebut adalah proses yang
berlangsung selama proses pembentukan, transportasi dan pengendapan sedimen.
Perbedaan fisik dapat berupa elemen statis ataupun dinamis. Elemen statis antara lain
geometri cekungan, material endapan, kedalaman air dan suhu, sedangkan elemen
dinamis adalah energi, kecepatan dan arah pengendapan serta variasi angin, ombak
dan air. Termasuk dalam perbedaan kimia adalah komposisi dari cairan pembawa
sedimen, geokimia dari batuan asal di daerah tangkapan air (oksidasi dan reduksi
(Eh), keasaman (Ph), salinitas, kandungan karbon dioksida dan oksigen dari air,
presipitasi dan solusi mineral). Sedangkan perbedaan biologi tentu saja perbedaan
pada fauna dan flora di tempat sedimen diendapkan maupun daerah sepanjang
perjalanannya sebelum diendapkan.
Permukaan bumi mempunyai morfologi yang sangat beragam, mulai dari
pegunungan, lembah sungai, pedataran, padang pasir (desert), delta sampai ke laut.
Dengan analogi pembagian ini, lingkungan pengendapan secara garis besar dapat
dibagi menjadi tiga kelompok, yakni darat (misalnya sungai, danau dan gurun),
peralihan (atau daerah transisi antara darat dan laut; seperti delta, lagun dan daerah
pasang surut) dan laut. Banyak penulis membagi lingkungan pengendapan
berdasarkan versi masing-masing. Selley (1988) misalnya, membagi lingkungan
pengendapan menjadi 3 bagian besar: darat, peralihan dan laut . Namun beberapa
penulis lain membagi lingkungan pengendapan ini langsung menjadi lebih rinci lagi.
Lingkungan pengendapan tidak akan dapat ditafsirkan secara akurat hanya
berdasarkan suatu aspek fisik dari batuan saja. Maka dari itu untuk menganalisis
lingkungan pengendapan harus ditinjau mengenai struktur sedimen, ukuran butir
(grain size), kandungan fosil (bentuk dan jejaknya), kandungan mineral, runtunan
tegak dan hubungan lateralnya, geometri serta distribusi batuannya.
Fasies merupakan bagian yang sangat penting dalam mempelajari ilmu
sedimentologi. Boggs (1995) mengatakan bahwa dalam mempelajari lingkungan
pengendapan sangat penting untuk memahami dan membedakan dengan jelas antara
lingkungan sedimentasi (sedimentary environment) dengan lingkungan facies (facies
environment). Lingkungan sedimentasi dicirikan oleh sifat fisik, kimia dan biologi
yang khusus yang beroperasi menghasilkan tubuh batuan yang dicirikan oleh tekstur,
struktur dan komposisi yang spesifik. Sedangkan facies menunjuk kepada unit
stratigrafi yang dibedakan oleh litologi, struktur dan karakteristik organik yang
terdeteksi di lapangan. Kata fasies didefinisikan yang berbeda-beda oleh banyak
penulis. Namun demikian umumnya mereka sepakat bahwa fasies merupakan ciri dari
suatu satuan batuan sedimen. Ciri-ciri ini dapat berupa ciri fisik, kimia dan biologi,
seperti ukuran tubuh sedimen, struktur sedimen, besar dan bentuk butir, warna serta
kandungan biologi dari batuan sedimen tersebut. Sebagai contoh, fasies batupasir
sedang bersilangsiur (cross-bed medium sandstone facies). Beberapa contoh istilah
fasies yang dititikberatkan pada kepentingannya:
Litofasies: didasarkan pada ciri fisik dan kimia pada suatu batuan Biofasies:
didasarkan pada kandungan fauna dan flora pada batuan Iknofasies: difokuskan pada
fosil jejak dalam batuan.
Berbekal pada ciri-ciri fisik, kimia dan biologi dapat dikonstruksi lingkungan
dimana suatu runtunan batuan sedimen diendapkan. Proses rekonstruksi tersebut
disebut analisa fasies.
Klasifikasi lingkungan pengendapan (Selley, 1988)
1. Terestrial Padang pasir (desert)
2. Glasial
3. Daratan
4. Sungai
5. Encer (aqueous) Rawa (paludal)
6. Lakustrin
7. Delta
8. Peralihan
9. Estuarin
10. Lagun
11. Litoral (intertidal)
12. Reef
13. Laut
14. Neritik ( kedalaman 0-200 m)
15. Batial ( kedalaman 200-2000 m)
16. Abisal ( kedalaman > 2000 m)

LINGKUNGAN SUNGAI
Berdasarkan morfologinya sistem sungai dikelompokan menjadi 4 tipe sungai, sungai
lurus (straight), sungai teranyam (braided), sungai anastomasing, dan sungai kekelok
(meandering).

1. Sungai Lurus (Straight)


Sungai lurus umumnya berada pada daerah bertopografi terjal mempunyai
energi aliran kuat atau deras. Energi yang kuat ini berdampak pada intensitas erosi
vertikal yang tinggi, jauh lebih besar dibandingkan erosi mendatarnya. Kondisi
seperti itu membuat sungai jenis ini mempunyai pengendapan sedimen yang lemah,
sehingga alirannya lurus tidak berbelok-belok (low sinuosity). Karena kemampuan
sedimentasi yang kecil inilah maka sungai tipe ini jarang yang meninggalakan
endapan tebal. Sungai tipe ini biasanya dijumpai pada daerah pegunungan, yang
mempunyai topografi tajam. Sungai lurus ini sangat jarang dijumpai dan biasanya
dijumpai pada jarak yang sangat pendek.

2. Sungai Kekelok (Meandering)


Sungai kekelok adalah sungai yang alirannya berkelok-kelok atau berbelok-
belok . Leopold dan Wolman (1957) dalam Reineck dan Singh (1980) menyebut
sungai meandering jika sinuosity-nya lebih dari 1.5. Pada sungai tipe ini erosi secara
umum lemah sehingga pengendapan sedimen kuat. Erosi horisontalnya lebih besar
dibandingkan erosi vertikal, perbedaan ini semakin besar pada waktu banjir. Hal ini
menyebabkan aliran sungai sering berpindah tempat secara mendatar. Ini terjadi
karena adanya pengikisan tepi sungai oleh aliran air utama yang pada daerah kelokan
sungai pinggir luar dan pengendapan pada kelokan tepi dalam. Kalau proses ini
berlangsung lama akan mengakibatkan aliran sungai semakin bengkok. Pada kondisi
tertentu bengkokan ini terputus, sehingga terjadinya danau bekas aliran sungai yang
berbentuk tapal kuda atau oxbow lake.

3. Sungai Teranyam (Braided)


Sungai teranyam umumnya terdapat pada daerah datar dengan energi arus
alirannya lemah dan batuan di sekitarnya lunak. Sungai tipe ini bercirikan debit air
dan pengendapan sedimen tinggi. Daerah yang rata menyebabkan aliran dengan
mudah belok karena adanya benda yang merintangi aliran sungai utama.
Tipe sungai teranyam dapat dibedakan dari sungai kekelok dengan sedikitnya jumlah
lengkungan sungai, dan banyaknya pulau-pulau kecil di tengah sungai yang disebut
gosong. Sungai teranyam akan terbentuk dalam kondisi dimana sungai mempunyai
fluktuasi dischard besar dan cepat, kecepatan pasokan sedimen yang tinggi yang
umumnya berbutir kasar, tebing mudah tererosi dan tidak kohesif (Cant, 1982).
Biasanya tipe sungai teranyam ini diapit oleh bukit di kiri dan kanannya. Endapannya
selain berasal dari material sungai juga berasal dari hasil erosi pada bukit-bukit yang
mengapitnya yang kemudian terbawa masuk ke dalam sungai. Runtunan endapan
sungai teranyam ini biasanya dengan pemilahan dan kelulusan yang baik, sehingga
bagus sekali untuk batuan waduk (reservoir).

Umumnya tipe sungai teranyam didominasi oleh pulau-pulau kecil (gosong)


berbagai ukuran yang dibentuk oleh pasir dan krikil. Pola aliran sungai teranyam
terkonsentrasi pada zona aliran utama. Jika sedang banjir sungai ini banyak material
yang terbawa terhambat pada tengah sungai baik berupa batang pepohonan ataupun
ranting-ranting pepohonan. Akibat sering terjadinya banjir maka di sepanjang
bantaran sungai terdapat lumpur yang mendominasi hampir di sepanjang bantaran
sungai.

4. Sungai Anastomasing
Sungai anastomasing terjadi karena adanya dua aliran sungai yang bercabang-
cabang, dimana cabang yang satu dengan cabang yang lain bertemu kembali pada
titik dan kemudian bersatu kembali pada titik yang lain membentuk satu aliran.
Energi alir sungai tipe ini rendah. Ada perbedaan yang jelas antara sungai teranyam
dan sungai anastomosing. Pada sungai teranyam (braided), aliran sungai menyebar
dan kemudian bersatu kembali menyatu masih dalam lembah sungai tersebut yang
lebar. Sedangkan untuk sungai anastomasing adalah beberapa sungai yang terbagi
menjadi beberapa cabang sungai kecil dan bertemu kembali pada induk sungai pada
jarak tertentu . Pada daerah onggokan sungai sering diendapkan material halus dan
biasanya ditutupi oleh vegetasi.

LACUSTRIN
Lacustrin atau danau adalah suatu lingkungan tempat berkumpulnya air yang
tidak berhubungan dengan laut. Lingkungan ini bervariasi dalam kedalaman, lebar
dan salinitas yang berkisar dari air tawar hingga hipersaline. Pada lingkungan ini juga
dijumpai adanya delta, barried island hingga kipas bawah air yang diendapkan
dengan arus turbidit. Danau juga mengendapkan klastika dan endapan karbonat
termasuk oolit dan terumbu dari alga. Pada daerah beriklim kering dapat terbentuk
endapan evaporit. Endapan danau ini dibedakan dari endapan laut dari kandungan
fosil dan aspek geokimianya.

Danau dapat terbentuk melalui beberapa mekanisme, yaitu berupa pergerakan


tektonik sebagai pensesaran dan pemekaran; proses glasiasi seperti ice scouring, ice
damming dan moraine damming (penyumbatan oleh batu); pergerakan tanah atau
hasil dari aktifitas volkanik sebagai penyumbatan lava atau danau kawah hasil
peledakan.

Visher (1965) dan Kukal (1971) dalam selley (1988) membagi lingkungan
lacustrin menjadi dua yaitu danau permanen dan danau ephemeral . Danau permanen
mempunyai 4 model dan danau ephemeral mempunyai 2 model seperti yang terlihat
pada gambar.
DANAU PERMANEN
Danau permanen model pertama adalah danau yang terisi oleh endapan
klastika yang terletak di daerah pegunungan. Danau ini mempunyai hubungan dengan
lingkungan delta sungai yang berkembang ke arah danau dengan mengendapkan pasir
dan sedimen suspensi berukuran halus. Ciri dari endapan danau ini dan juga endapan
model lainnya adalah berupa varve yaitu laminasi lempung yang reguler. Pada
endapan danau periglasial, varves berbentuk perselingan antara lempung dan lanau.
Lanau diendapkan pada saat mencairnya es, sedangkan lempung diendapkan pada
musim dingin dimana tidak ada air sungai yang mengallir ke danau. Contoh danau ini
adalah Danau Costance dan Danau Zug di Pegunungan Alpen.

Danau permanen model kedua adalah danau yang terletak di dataran rendah
dengan iklim yang hangat. Material yang dibawa oleh sungai dalam jumlah yang
sedikit. Endapan karbonat terbentuk pada daerah yang jauh dari mulut sungai
disekitar pantai. Cangkang-cangkang molluska dijumpai pada endapan pantai, yang
dapat membentuk kalkarenit jika energi gelombang cukup besar. Kearah dalam
dijumpai adanya ganggang merah berkomposisi gampingan. Contoh danau ini adalah
Danau Schonau di Jerman dan Danau Great Ploner di Kanada Selatan.

Danau permanen model ketiga adalah danau dengan endapan sapropelite


(lempung kaya akan organik) pada bagian dalam yang dikelilingi oleh karbonat di
daerah dangkal. Endapan pantai berupa ganggang dan molluska.

Danau permanen model ke empat dicirikan oleh adanya marsh pada daerah
dangkal yang kearah dalam menjadi sapropelite. Contoh dari danau ini adalah Danau
Gytta di Utara Kanada.

DANAU EPHERMAL
Danau ephemeral adalah danau yang terbentuk dalam jangka waktu yang
pendek di daerah gurun dengan iklim yang panas. Hujan hanya terjadi sesekali dalam
setahun.
Danau playa antar-gunung pada bagian dekat pegunungan berupa fan alluvial
piedmont yang kearah luar berubah menjadi pasir dan lempung. Ciri dari danau playa
ini adalah lempung berwarna merah-coklat yang setempat disisipi oleh lanau dan
gamping. Contoh danau ini adalah Danau Qa Saleb dan Qa Disi di Jordania.
Karena adanya pengaruh evaporasi, danau ephemeral ini dapat membentuk endapan
evaporite pada lingkungan sabkha. Contoh dari danau ini adalah Danau Soda di
Amerika Utara dan di Gurun Sahara dan Arab.

LAGUN ( LAGOON )
Lagun adalah suatu kawasan berair dangkal yang masih berhubungan dengan
laut lepas, dibatasi oleh suatu punggungan memanjang (barrier) dan relatif sejajar
dengan pantai. Maka dari itu lagun umumnya tidak luas dan dangkal dengan energi
rendah. Beberapa lagun yang dianggap besar, misalnya Leeward Lagoon di Bahama
luasnya hanya 10.000 km dengan kedalaman + 10 m (Jordan, 1978, dalam Bruce W.
Sellwood, 1990).

Akibat terhalang oleh tanggul, maka pergerakan air di lagun dipengaruhi oleh
arus pasang surut yang keluar/masuk lewat celah tanggul (inlet). Kawasan tersebut
secara klasik dikelompokkan sebagi daerah peralihan darat - laut (Pettijohn, 1957),
dengan salinitas air dari tawar (fresh water) sampai sangat asin (hypersalin).
Keragaman salinitas tersebut akibat adanya pengaruh kondisi hidrologi, iklim dan
jenis material batuan yang diendapkan di lagun. Lagun di daerah kering memiliki
salinitas yang lebih tinggi dibanding dengan lagun di daerah basah (humid), hal ini
dikarenakan kurangnya air tawar yang masuk ke daerah itu.
Berdasarkan batasan-batasan tersebut diatas maka batuan sedimen lagun
sepintas kurang berarti dalam aspek geologi. Akan tetapi bila diamati lebih rinci
mengenai aspek lingkungan pengendapannya, lagun akan dapat bertindak sebagai
penyekat perangkap stratigrafi minyak.

Transportasi material sedimen di lagun dilakukan oleh, air pasang energi


ombak, angin yang dengan sendirinya dikendalikan iklim sehingga akan
mempengaruhi kondisi biologi dan kimia lagun. Endapan delta (tidal delta) dapat
terbentuk dibagian ujung alur pemisah tanggul, yaitu didalam lagun atau dibagian laut
terbuka (Boggs, 1995). Material delta tersebut agak kasar sebagai sisipan pada fraksi
halus, yaitu bila terjadi aktifitas gelombang besar yang mengerosi tanggul dan
terendapkan di lagun melalui celah tersebut.

Bentuk dan Genesa Lagun


Bentuk dan genesa lagun berkaitan erat dengan genesa tanggul (barrier),
sehingga dalam hal ini mencirikan pula kondisi geologi dan fisiografi daerah lagun.
Bentuk lagun umunnya memanjang relatif sejajar dengan garis panti sedangkan yang
dibatasi oleh atol reef bentuk lagunnya relatif melingkar.

Bentuk lagun yang memanjang sejajar garis pantai terjadi apabila tanggul
relatif sejajar dengan garis pantai yang disusun oleh reef ataupun berupa sedimen
klasik yang lain misalnya satuan batu pasir. Lagun yang dibatasi atol reef terbentuk
relatip bersamaan dengan pembentukan atol, akibat proses penurunan dasar cekungan
(tempat reef tumbuh) kecepatnya seimbang dengan pembentukan reef.
Kondisi muka-laut juga berpengaruh terhadap lagun. Pada laut yang konstan maka
dibagian bawah lagun akan terendapkan sedimen klastik halus yang kemudian
ditutupi oleh rawa - rawa dengan ketebalan mencapai setengah tinggi air pasang.
Kontak antara batuan sedimen dan batuan di bawahnya adalah horizontal. Satuan
batuan fraksi halus dengan sisipan batubara muda (peat) di daerah rawa akan
berhubungan saling menjari dengan batupasir di daerah tanggul. Selain itu batuan
sedimen lagun yang menebal ke atas dan menumpang di bagian atas shoreface
biasanya terjadi menyertai proses transgresi. Lagun juga dapat terbentuk pada daerah
tektonik estuarine (Fairbridge RW, 1980 dalam Boggs, 1995) yang disebabkan oleh
aktivitas tektonik sehingga terjadi pengangkatan di bagian tepi pantai dan
membelakangi bagian rendahan yang membentuk lagun.

Lingkungan Pengendapan
Lingkungan lagun karena ada tanggul maka berenergi rendah sehingga
material yang diendapkan berupa fraksi halus, kadang juga dijumpai batupasir dan
batulumpur. Beberapa lagun yang tidak bertindak sebagai muara sungai, maka
material yang diendapkan didominasi oleh material marin. Material pengisi lagun
dapat berasal dari erosi barrier (wash over) yang berukuran pasir dan lebih kasar.
Apabila ada penghalang berupa reef, dapat juga dijumpai pecahan-pecahan cangkang
di bagian backbarier atau di tidal delta. Akibat angin partikel halus dari tanggul dapat
terangkut dan diendapkan di lagun. Angin tersebut dapat juga menyebabkan
terjadinya gelombang pasang yang menerpa garis pantai dan menimbulkan energi
tinggi sehingga terjadi pengikisan dan pengendapan fraksi kasar. Struktur sedimen
yang berkembang umumnya pejal (pada batulempung abu-abu gelap) dengan sisipan
tipis batupasir halus (batulempung Formasi Lidah di Kendang Timur), gelembur -
gelombang dengan beberapa internal small scale cross lamination yang melibatkan
batulempung pasiran. Struktur bioturbasi sering dijumpai pada batulempung pasiran
(siltstone) yang bersisipan batupasir dibagian dasar lagun (Boggs, 1995). Batupasir
tersebut ditafsirkan sebagai hasil endapan angin, umumnya berstruktur perarian
sejajar dan kadang juga berstruktur ripple cross-lamination.

DELTA

Kata Delta digunakan pertama kali oleh Filosof Yunani yang bernama
Herodotus pada tahun 490 SM, dalam penelitiannya pada suatu bidang segitiga yang
dibentuk oleh oleh alluvial pada muara Sungai Nil.
Sebagian besar Delta modern saat ini berbentuk segitiga dan sebagian besar
bentuknya tidak beraturan. Bila dibandingkan dengan Delta yang pertama kali
dinyatakan oleh Herodotus pada sungai nil. Ada istilah lain dari Delta adalah seperti
yang dikemukakan oleh Elliot dan Bhatacharya (Allen, 1994) adalah “Discrette
shoreline proturberance formed when a river enters an ocean or other large body of
water”.
Proses pembentukan delta adalah akibat akumulasi dari sedimen fluvial
(sungai) pada “lacustrine” atau “marine coastline”. Delta merupakan sebuah
lingkungan yang sangat komplek dimana beberapa faktor utama mengontrol proses
distribusi sedimen dan morfologi delta, faktor-faktor tersebut adalah regime sungai,
pasang surut (tide), gelombang, iklim, kedalaman air dan subsiden (Tucker, 1981).
Untuk membentuk sebuah delta, sungai harus mensuplai sedimen secara cukup untuk
membentuk akumulasi aktif, dalam hal ini prograding system. Secara sederhana ini
berarti bahwa jumlah sedimen yang diendapkan harus lebih banyak dibandingkan
dengan sedimen yang terkena dampak gelombang dan pasang surut. Dalam beberapa
kasus, pengendapan sedimen fluvial ini banyak berubah karena faktor diatas,
sehingga banyak ditemukan variasi karakteristik pengendapan sedimennya, meliputi
distributary channels, river-mouth bars, interdistributary bays, tidal flat, tidal ridges,
beaches, eolian dunes, swamps, marshes dan evavorites flats (Coleman, 1982).
Ketika sebuah sungai memasuki laut dan terjadi penurunan kecepatan secara drastis,
yang diakibatkan bertemunya arus sungai dengan gelombang, maka endapan-endapan
yang dibawanya akan terendapkan secara cepat dan terbentuklah sebuah delta.

Deposit (endapan) pada delta purba telah diteliti dalam urutan umur
stratigrafi, dan sedimen yang ada di delta sangat penting dalam pencarian minyak,
gas, batubara dan uranium. Delta - delta modern saat ini berada pada semua kontinen
kecuali Antartica. Bentuk delta yang besar diakibatkan oleh sistem drainase yang
aktif dengan kandungan sedimen yang tinggi.

Klasifikasi dan pengendapan delta


Berdasarkan sumber endapannya, secara mendasar delta dapat dibedakan
menjadi dua jenis (Nemec, 1990 dalam Boggs, 1995), yaitu:
1. Non Alluvial Delta
a. Pyroklastik delta
b. Lava delta
2. Alluvial Delta
a. River Delta
Pembentukannya dari deposit sungai tunggal.
b. Braidplain Delta
Pembentukannya dari sistem deposit aliran “teranyam”
c. Alluvial fan Delta
Pembentukannya pada lereng yang curam dikaki gunung yang luas yang dibawa air.
d. Scree-apron deltas
Terbentuk ketika endapan scree memasuki air.

Pada tahun 1975, M.O Hayes (Allen & Coadou, 1982) mengemukakan sebuah
konsep tentang klasifikasi coastal yang didasarkan pada hubungan antara kisaran
pasang surut (mikrotidal, mesotidal dan makrotidal) dan proses sedimentologi. Pada
tahun 1975, Galloway (Allen & Coadou, 1982) menggunakan konsep in dalam
penerapannya terhadap aluvial delta, sehingga disimpulkan klasifikasi delta
berdasarkan pada delta front regime dibagi menjadi tiga , yaitu :
1. Fluvial-dominated Delta
2. Tide-dominated Delta
3. Wave-dominated Delta
Fisiografi Delta
Berdasarkan fisiografinya, delta dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian utama ,
yaitu :
1. Delta plain
2. Front Delta
3. Prodelta
Delta plain
Delta plain merupakan bagian kearah darat dari suatu delta. Umumnya terdiri
dari endapan marsh dan rawa yang berbutir halus seperti serpih dan bahan-bahan
organik (batubara). Delta plain merupakan bagian dari delta yang karakteristik
lingkungannya didominasi oleh proses fluvial dan tidal. Pada delta plain sangat jarang
ditemukan adanya aktivitas dari gelombang yang sangat besar. Daerah delta plain ini
ditoreh (incised) oleh fluvial distributaries dengan kedalaman berkisar dari 5 – 30 m.
Pada distributaries channel ini sering terendapkan endapan batupasir channel-fill yang
sangat baik untuk reservoir (Allen & Coadou, 1982).

Delta front
Delta front merupakan daerah dimana endapan sedimen dari sungai bergerak
memasuki cekungan dan berasosiasi/berinteraksi dengan proses cekungan (basinal).
Akibat adanya perubahan pada kondisi hidrolik, maka sedimen dari sungai akan
memasuki cekungan dan terjadi penurunan kecepatan secara tiba-tiba yang
menyebabkan diendapkannya material-material dari sungai tersebut. Kemudian
material-material tersebut akan didistribusikan dan dipengaruhi oleh proses basinal.
Umumnya pasir yang diendapkan pada daerah ini terendapkan pada distributary inlet
sebagai bar. Konfigurasi dan karakteristik dari bar ini umumnya sangat cocok sebagai
reservoir, didukung dengan aktivitas laut yang mempengaruhinya (Allen & Coadou,
1982).

Prodelta
Prodelta adalah bagian delta yang paling menjauh kearah laut atau sering
disebut pula sebagai delta front slope. Endapan prodelta biasanya dicirikan dengan
endapan berbutir halus seperti lempung dan lanau. Pada daerah ini sering ditemukan
zona lumpur (mud zone) tanpa kehadiran pasir. Batupasir umumnya terendapkan
pada delta front khususnya pada daerah distributary inlet, sehingga pada daerah
prodelta hanya diendapkan suspensi halus. Endapan-endapan prodelta merupakan
transisi kepada shelf-mud deposite. Endapan prodelta umumnya sulit dibedakan
dengan shelf-mud deposite. Keduanya hanya dapat dibedakan ketika adanya suatu
data runtutan vertikal dan horisontal yang baik (Reineck & Singh, 1980).

ESTUARIN
Beberapa ahli geologi mengemukakan beberapa pengertian yang bermacam-
macam tentang estuarin. Pritchard, 1967 (Reineck & Singh, 1980) mengemukakan
bahwa estuarin adalah “a semi-enclosed coastal body of water which has a free
connection with the open sea and within which sea water is measurably diluted with
fresh water derived from land drainage”. Ada dua faktor penting yang mengontrol
aktivitas di estuarin, yaitu volume air pada saat pasang surut dan volume air tawar
(fresh water) serta bentuk estuarin. Endapan sedimen pada lingkungan estuarin
dibawa dua aktivitas, yaitu oleh arus sungai dan dari laut terbuka. Transpor sedimen
dari laut lepas akan sangat tergantung dari rasio besaran tidal dan disharge sungai.
Estuarin diklasifikasikan menjadi tiga daerah yaitu :
1. Marine atau lower estuarin, yaitu estuarine yang secara bebas berhubungan dengan
laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada daerah ini.
2. Middle estuarin, yaitu daerah dimana terjadi percampuran antara fresh water dan
air asin secara seimbang.
3. Fluvial atau upper estuarin, yaitu daerah estuarin dimana fresh water lebih
mendominasi, tetapi tidal masih masih berpengaruh (harian)

Marine atau lower estuarin adalah estuarine yang secara bebas berhubungan
dengan laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada daerah ini.
Daerah dimana terjadi percampuran antara fresh water dan air asin secara seimbang
disebut middle estuarin. Sedangkan fluvial atau upper estuarin, yaitu daerah estuarin
dimana fresh water lebih mendominasi, tetapi tidal masih masih berpengaruh
(harian). Friendman & Sanders (1978) dalam Reineck & Singh mengungkapkan
bahwa pada fluvial estuarin konsentrasi suspensi yang terendapkan lebih kecil
(<160mg/l) dibanding pada sungai yang membentuk delta. System lingkungan
pengendapan estuarin yang sangat dipengaruhi gelombang (Dalrymple, 1992)
Berdasarkan aktivitas dari tidal yang mempengaruhinya, estuarin dapat
diklasifikasikan menjadi tiga (Hayes, 1976 dalam Reading, 1978), yaitu :
1. Mikrotidal estuarin
2. Mesotidal estuarin
3. Makrotidal estuarin

Pada mikrotidal estuarin, perkembangan daerahnya sering ditandai dengan


kemampuan disharge dari sungai untuk menahan arus tidal yang masuk ke dalam
sungai, meskipun kadang-kadang pada saat disharge sungai sangat kecil, arus tidal
dapat masuk sampai ke sungai. Pada mesotidal estuarin, efektivitas dari tidal lebih
efektif dibanding pada mikrotidal, khususnya ini terjadi pada sungai bagian bawah.
Pada makrotidal estuarin sering ditemukan funnel shaped dan linier tidal sand ridges.
Arus tidal sangat efektif dalam sirkulasi daerah ini, serta endapan suspensi umumnya
diendapkan pada dataran (flats) intertidal pada daerah batas estuarin (Reading, 1978).
Endapan pada daerah estuarin umumnya aggradational dengan alas biasanya berupa
lapisan erosional hasil scour pada mulut sungai. Hal ini berbeda dengan endapan delta
yang umumnya progadational yang sering menunjukan urutan mengkasar keatas.
Pada daerah estuarin yang sangat dipengaruhi oleh tidal, endapannya akan sangat
sulit dibedakan dengan daerah lingkungan pengendapan tidal, untuk membedakannya
harus didapat informasi dan runtunan endapan secara lengkap (Nichols, 1999).

TIDAL FLAT
Tidal flat merupakan lingkungan yang terbentuk pada energi gelombang laut
yang rendah dan umumnya terjadi pada daerah dengan daerah pantai mesotidal dan
makrotidal. Pasang surut dengan amplitudo yang besar umumnya terjadi pada pantai
dengan permukaan air yang sangat besar/luas. Danau dan cekungan laut kecil yang
terpisah dari laut terbuka biasanya hanya mengalami efek yang kecil dari pasang
surut ini, seperti pada laut mediterania yang ketinggian pasang surutnya hanya
berkisar dari 10 – 20 cm. Luas dari daerah tidal flat ini berkisar antara beberapa
kilometer sampai 25 km (Boggs, 1995). Berdasarkan pada elevasinya terhadap tinggi
rendahnya pasang surut, lingkungan tidal flat dapat dibagi menjadi tiga zona, yaitu
subtidal, intertidal dan supratidal . Pembagian serta hubungan antara zona-zona pada
lingkungan tidal flat (Boggs, 1995) Zona subtidal meliputi daerah dibawah rata-rata
level pasang surut yang rendah dan biasanya selalu digenangi air secara terus
menerus. Zona ini sangat dipengaruhi oleh tidal channel dan pengaruh gelombang
laut, sehingga pada daerah ini sering diendapkan bedload dengan ukuran pasir (sand
flat). Pada zona ini sering terbentuk subtidal bar dan shoal. Pengendapan pada daerah
subtidal utamanya terjadi oleh akresi lateral dari sedimen pasiran pada tidal channel
dan bar. Migrasi pada tidal channel ini sama dengan yang terjadi pada lingkungan
sungai meandering. Zona intertidal meliputi daerah dengan level pasang surut rendah
sampai tinggi. Endapannya dapat tersingkap antara satu atau dua kali dalam sehari,
tergantung dari kondisi pasang surut dan angin lokal. Pada daerah ini biasanya tidak
tumbuh vegetasi yang baik, karena adanya aktifitas air laut yang cukup sering
(Boggs, 1995). Karena intertidal merupakan daerah perbatasan antara pasang surut
yang tinggi dan rendah, sehinnga merupakan daerah pencampuran antara akresi
lateral dan pengendapan suspensi, maka daerah ini umumnya tersusun oleh endapan
yang berkisar dari lumpur pada daerah batas pasang surut tinggi sampai pasir pada
batas pasang surut rendah (mix flat). Pada daerah dengan pasang surut lemah disertai
adanya aktivitas ombak pada endapan pasir intertidal dapat menyebabkan
terbentuknya asimetri dan simetri ripples. Facies intertidal didominasi oleh
perselingan lempung, lanau dan pasir yang memperlihatkan struktur flaser, wavy dan
lapisan lentikular. Facies seperti ini menunjukan adanya fluktuasi yang konstan
dengan kondisi energi yang rendah (Reading, 1978) Zona supratidal berada diatas
rata-rata level pasang surut yang tinggi. Karena letaknya yang lebih dominan ke arah
darat, zona ini sangat dipengaruhi oleh iklim. Pada daerah sedang, daerah ini kadang-
kadang ditutupi oleh endapan marsh garam , dengan perselingan antara lempung dan
lanau (mud flat) serta sering terkena bioturbasi (skolithtos). Pada daerah beriklim
kering sering terbentuk endapan evaporit flat. Daerah ini umumnya ditoreh oleh tidal
channel (incised tidal channel) yang membawa endapan bedload di sepanjang alur
sungainya. Pengendapan pada tidal channel umumnya sangat dipengaruhi oleh arus
tidal sendiri, sedangkan pada daerah datar di sekitarnya (tidal flat), pengendapannya
akan dipengaruhi pula oleh aktivitas dari gelombang yang diakibatkan oleh air
ataupun angin. Suksesi endapan pada lingkungan tidal flat umumnya memperlihatkan
sistem progadasi dengan penghalusan ke atas sebagai refleksi dari batupasir pada
pasang surut rendah (subtidal) ke lumpur pada pasang surut tinggi (supratidal dan
intertidal bagian atas). Blok diagram silisiklastik pada lingkungan tidal flat
(Dalrymple, 1992 dalam Walker & James, 1992)
NERITIK (Shelf Environment)
Daerah shelf merupakan daerah lingkungan pengendapan yang berada
diantara daerah laut dangkal sampai batas shelf break . Heckel (1967) dalam Boggs
(1995) membagi lingkungan shelf ini menjadi dua jenis, perikontinental (marginal)
dan epikontinental (epeiric).
Perikontinental shelf adalah lingkungan laut dangkal yang terutama
menempati daerah di sekitar batas kontinen (transitional crust) shelf dengan laut
dalam. Perikontinental seringkali kehilangan sebagian besar dari endapan sedimennya
(pasir dan material berbutir halus lainnya), karena endapan-endapan tersebut bergerak
memasuki laut dalam dengan proses arus traksi dan pergerakan graviti (gravity mass
movement). Karena keberadaannya di daerah kerak transisi (transitional crust),
perikontinental juga sering menunjukan penurunan (subsidence) yang besar,
khususnya pada tahap awal pembentukan cekungan, yang dapat mengakibatkan
terbentuknya endapan yan tebal pada daerah ini (Einsele, 1992). Sedangkan
epikontinental adalah lingkungan laut yang berada pada daerah kontinen (daratan)
dengan sisi-sisinya dibatasi oleh beberapa daratan. Daerah ini biasanya dibentuk jauh
dari pusat badai (storm) dan arus laut, sehingga seringkali terproteksi dengan baik
dari kedua pengaruh tersebut. Jika sebagian dari daerah epeiric ini tertutup, maka ini
akan semakin tidak dipengaruhi oleh gelombang dan arus tidal.

Skema penampang lingkungan pengendapan laut (Boggs, 1995) Ada enam


faktor yang mempengaruhi proses sedimentasi pada lingkungan shelf (Reading,
1978), yaitu :
1. kecepatan dan tipe suplai sedimen
2. tipe dan intensitas dari hidrolika regime shelf
3. fluktuasi muka air laut
4. iklim
5. interaksi binatang – sedimen
6. faktor kimia

Pasir shelf modern sebagian besar (70%) adalah berupa relict sedimen,
meskipun kadang-kadang daerah shelf ini menerima secara langsung suplai pasir dari
luar daerah, seperti dari mulut sungai pada saat banjir dan dari pantai pada saat badai
(Drake et al, 1972 dalam Reading, 1978). Endapan sedimen pada lingkungan shelf
modern umumnya sangat didominasi oleh lumpur dan pasir, meskipun kadang-
kadang dijumpai bongkah-bongkah relict pada beberapa daerah. Ada empat tipe arus
(current) yang mempengaruhi proses sedimentasi pada daerah shelf (Swift et al, 1971
dalam Boggs, 1995), yaitu :
1. Arus tidal
2. Arus karena badai (storm)
3. Pengaruh gangguan arus lautan
4. Arus density

Sehingga berdasarkan pada proses yang mendominasinya, lingkungan shelf


ini secara dibagi menjadi dua tipe (Nichols, 1999), yaitu shelf didominasi tidal (tide
dominated shelves) dan shelf didominasi badai (storm dominated shelves). Pada
lingkungan shelf modern pada umumnya tidak ada yang didominasi oleh pengaruh
arus density.
Shelf yang didominasi oleh arus tidal ditandai dengan kehadiran tidal dengan
kecepatan berkisar dari 50 sampai 150 cm/det (Boggs, 1995). Sedangkan Reading
(1978) mengungkapkan bahwa beberapa shelf modern mempunyai ketinggian tidal
antara 3 – 4m dengan maksimum kecepatan permukaan arusnya antara 60 sampai
>100 cm/det. Endapan yang khas yang dihasilkan pada daerah dominasi pasang surut
ini adalah endapan-endapan reworking in situ berupa linear ridge batupasir (sand
ribbons), sand waves (dunes), sand patches dan mud zones. Orientasi dari sand ridges
tersebut umumnya paralel dengan arah arus tidal dengan kemiringan pada daerah
muka sekitar 50. Umumnya batupasir pada shelf tide ini ditandai dengan kehadiran
cross bedding baik berupa small-scale cross bedding ataupun ripple cross bedding.

Shelf yang didominasi storm dicirikan dengan kecepatan tidal yang rendah
(<25 m/det). Pada daerah ini biasanya sangat sedikit terjadi pengendapan sedimen
berbutir kasar, kecuali pada saat terjadi badai yang intensif. Kondisi storm dapat
mempengaruhi sedimentasi pada kedalaman 20 – 50 m. pada saat terjadi badai,
daerah shelf ini menjadi area pengendapan lumpur dari suspensi. Material klastik
berbutir halus dibawa menuju daerah ini dari mulut sungai dalam kondisi suspensi
oleh geostrphik dan arus yang disebabkan angin (Nichols, 1999). Storm juga dapat
mengakibatkan perubahan (rework) pada dasar endapan sedimen yang telah
diendapkan terlebih dahulu. Pada suksesi daerah laut dangkal dengan pengaruh storm
akan dicirikan dengan simetrikal (wave) laminasi bergelombang (ripple), hummocky
dan stratifikasi horisontal yang kadang-kadang tidak jelas terlihat karena prose
bioturbasi.

8 Oceanic (Deep-water Environment)


Sekitar 70% daerah bumi ini merupakan daerah cekungan laut dengan alas
kerak samudra tipe basaltis. Daerah cekungan laut dalam merupakan daerah yang
pada bagian atanya dibatasi oleh lingkungan shelf pada zona break, secara topografi
ditandai dengan kemiringan yang curam (lebih besar) dibandingkan dengan shelf.
Berdasarkan dari fisiografinya, lingkungan laut dalam ini dibagi menjadi tiga
daerah yaitu,
1. continental slope,
2. continental rise dan
3. cekungan laut dalam .
Prinsip elemen dari Kontinental margin (Drake, C.L dan Burk, 1974 dalam
Boggs, 1995) Lereng benua (continental slope) dan continental rise merupakan
perpanjangan dari shelf break. Kedalaman lereng benua bermula dari shelf break
dengan kedalaman rata-rata 130 m sampai dengan 1500-4000 m. Kemiringan pada
lereng benua ini sekitar 40, walaupun ada variasi pada lingkungan delta (20) dan pada
lingkungan koral (450) (Boggs, 1995). Sedangkan kemiringan pada continental rise
biasanya lebih kecil dibandingkan kemiringan pada lereng benua. Karena lerengnya
yang cukup curam dibandingkan paparan, pada lereng benua ini sering merupakan
daerah dari pergerakan arus turbidit. Continental rise biasanya tidak akan ada pada
daerah convergen atau aktif margin dimana subduksi berlangsung. Morfologi pada
lereng benua ini sering menunjukan bentuk cembung, kecuali pada daerah-daerah
yang yang mempunyai stuktur sangat aktif. Volume endapan sedimen yang dapat
mencapai lereng benua dan continental rise ini akan sangat bergantung pada lebarnya
shelf dan jumlah sedimen yang ada. Continental rise dan cekungan laut dalam
membentuk sekitar 80% dari total dasar laut. Bagian lebih dalam dari continental
slope dibagi menjadi dua fisiografi, yaitu :
1. Lantai Samudra (ocean floor), yang dikarakteristikan dengan kehadiran dataran
abisal, perbukitan abisal (< 1 km) dan gunungapi laut (> 1 km)
2. Oceanic Ridges

Dataran abisal merupakan daerah yang relatif sangat datar, kadang-kadang


menjadi sedikit bergelombang karena adanya seamount. Beberapa dataran abisal juga
kadang-kadang terpotong oleh channel-channel laut dalam. Pada pusat cekungan laut
dalam biasanya terendapkan sedimen dari material pelagik. Mid-oceanic ridges
memanjang sejauh 60.000 km dan menutupi sekitar 30 – 35% dari luas lautan.

Transport Laut Dalam


Aliran turbidit merupakan salah satu jenis aliran yang sangat banyak
dilakukan kajian oleh para peneliti. Aliran turbidit pada prinsipnya dapat terjadi pada
berbagai macam lingkungan pengendapan, tetapi aliran turbidit lebih sering
ditemukan pada lingkungan laut dalam. Pada lingkungan laut dalam sebenarnya
terdapat beberapa proses transpor yang dapat terjadi (Boggs, 1995), yaitu :
1. Transport suspensi dekat permukaan oleh air dan angin
2. Transport nepheloid-layer
3. Transport arus tidal pada submarine canyon
4. Aliran sedimen gravitasi
5. Transpor oleh arus geostrophic contour
6. Transport oleh floating ice
Transport oleh aliran gravitasi adalah transpor yang mendominasi dan banyak
dijadikan kajian sejak beberapa tahun kebelakang. Sedimen dengan aliran gravitasi
merupakan material-material yang bergerak di bawah pengaruh gravitasi. Aliran
gravitasi ini secara prinsip terbagi menjadi empat tipe dengan karakteristik
endapannya masing-masing.Keempat tipe tersebut adalah :
1. Aliran arus turbidit
2. Aliran sedimen liquefied
3. Aliran butiran (Grain Flow)
4. Aliran Debris (Debris Flow)

Kuenen dan Migliori (1950) dalam Allen (1978) memvisualisasikan aliran


turbidit sebagai aliran suspensi pasir dan lumpur dengan densitas yang tinggi serta
gravitasi mencapai 1,5 – 2,0. Ketika aliran melambat dan cairan turbulence
berkurang, maka aliran turbidit akan kelebihan beban, dan diendapkanlah butiran-
butiran kasar. Beberapa percobaan menunjukan bahwa aliran turbidit secara umum
terbagi menjadi empat bagian, yaitu kepala, leher, tubuh dan ekor. Pengendapan
dengan aliran turbidit merupakan suatu proses yang sangat cepat, sehingga tidak
terjadi pemilahan dari butiran secara baik, kecuali pada grading yang normal pada
sekuen Bouma (Nichols, 1999). Pasir yang terendapkan oleh aliran turbidit umumnya
lebih banyak berukuran lempung, mereka sering diklasifikasikan sebagai wackes
dalam klasifikasi Pettijohn.

Kipas Laut Dalam


Ngarai (canyons) pada shelf merupakan tempat masuknya aliran air dan
sedimen ke dalam laut dalam (Gambar VII. 37). Hal ini dapat dianalogikan dengan
pembentukan alluvial fan. Pada setting laut dalam, morfologi kipas juga dapat
terbentuk, menyebar dari ngarai-ngarai dan membentuk menyerupai kerucut (cone)
pada lantai samudera. Morfologi tersebut terkenal dengan sebutan kipas bawah laut
(submarine fans). Ukuran dari kipas bawah laut ini sangat bervariasi, terbentang
mulai dari beberapa kilometer sampai 2000 km (Stow, 1985).

Proses sedimentasi yang terjadi pada kipas bawah laut ini umumnya
didominasi oleh sistem aliran turbidit yang membawa material-material dari shelf
melalui ngarai-ngarai. Proses sedimentasi ini membentuk trend yang sangat umum,
dimana material yang kasar akan terendapkan dekat dengan sumber dan material yang
halus akan terendapkan pada bagian distal dari kipas. Kipas bawah laut modern dan
turbidit purba terbagi ke dalam tiga bagian, proximal (upper fan), medial (mid fan)
dan distal (lower fan).

Upper fan berada pada kedalaman beberapa meter sampai puluhan meter
dengan lebar bisa mencapai ratusan meter. Kecepatan aliran yang sangat cepat pada
daerah ini menyebabkan endapan yang terbentuk berupa endapan tipis, tanpa struktur
sedimen atau perlapisan batuan yang kasar (Nichols, 1999). Jika didasarkan pada
sekuen endapan turbidit dari Bouma, maka pada daerah ini banyak ditemukan
endapan dengan tipe sekuen “a”, sedangkan pada overbank upper fan dan channel
sering ditemukan sekuen Bouma bagian atas (Tcde atau Tde). Pada daerah mid fan,
aliran turbidit menyebar dari bgian atas kipas (upper fan). Pada daerah ini endapan
turbidit membentuk lobe (cuping) yang menutupi hampir seluruh daerah ini. Unit
stratigrafi yang terbentuk pada mid fan lobe ini, idealnya berupa sekuen mengkasar
ke atas (coarsening-up) serta adanya unit-unit channel. Pada mid fan lobe ini sering
ditemukan sekuen boma secara lengkap “ Ta-e dan Tb-e”. Kadang-kadang aliran
turbidit yang mengalir dari upper fan dan melintasi mid fan dapat pula mencapai
daerah lower fan. Daerah lower fan merupakan daerah terluar dari kipas bawah laut,
dimana material yang diendapkan pada daerah ini umumnya berupa pasir halus, lanau
dan lempung. Lapisan tipis dari aliran turbidit ini akan membentuk divisi Tcde dan
Tde. Hemipelagic sedimen akan bertambah pada daerah ini seiring dengan
menurunnya proporsi endapan turbidit (Nichols, 1999).

SEDIMENTASI ANGIN
Di samping air, angin merupakan salah satu energi yang dapat mengikis dan
mengangkut bahan-bahan untuk diendapkan, khususnya pada daerah yang
mempunyai iklim kering dan semi kering. Angin terjadi karena perbedaan temperatur
antara dua daerah yang berbeda di muka bumi akibat ketidakseragaman pemanasan
kedua tempat oleh sinar matahari yang menimbulkan beda tekanan. Kekuatan angin
ditentukan oleh besarnya beda tekanan pada kedua tempat dan jarak antara kedua
tempat tersebut (Sukendar Asikin, 1978). Kekuatan angin akan bertambah dengan
bertambahnya jarak. Gerakannya akan laminer jika perlahan dan turbulen bila cepat.
Endapan sedimen yang berasal dari proses pengendapan oleh angin disebut endapan
eolian.

PENGENDAPAN ANGIN
Menurut Allen (1970), endapan oleh angin (eolian) dapat terjadi pada :
a. Daerah gurun, dimana iklimnya tropis, subtropis dan lintang tengah.
b. Daerah disekitar, outwash plain pada endapan glasial dan tudung es pada daerah
lintang tinggi.
c. Di daerah pantai, di puncak pulau penghalang (barrier island) atau di muka pantai
terbuka dalam berbagai iklim.

Gurun terjadi pada lintang tengah dan rendah yang berhubungan dengan
daerah yang tertutup dengan curah hujan dari 30 cm. Daerahnya kira-kira 20 % - 25%
dari total daratan sekarang (Boggs, 1995). Gurun modern yang terbesar dengan
panjang 12.000 km dan lebar 3.000 km terletak antara Afrika Utara dan Asia Tengah.
Dengan gurun lain yang luas adalah Australia Tengah, berukuran 1500 - 3000 km.
Gurun yang berukuran kecil berada di Afrika baratdaya, Chili - Peru dan Patagonia,
dan di baratnya Afrika Utara.
Pelapukan di gurun terjadi secara mekanis dan kimiawi. Pelapukan mekanis
tergantung pada perubahan gradien temperatur oleh pemanasan pada siang hari dan
pendinginan pada malam hari. Perbedaan temperatur permukaan batuan pada waktu
siang dan malam dapat mencapai 50° C. Pada kondisi seperti ini batuan secara
perlahan akan rekah dan pecah. Butiran tersebut akan terbawa oleh angin dan
diendapkan sebagai bukit pasir.

Bukit pasir dapat pula terbentuk di muka pantai. Meskipun demikian hanya
terjadi pada pantai pada daerah kering dimana vegetasi (tumbuhan) tidak ada. Angin
kering yang kuat dengan arah tegak lurus pantai secara aktif memindahkan pasir
menjadi gundukan pasir. Hanya sedikit gugusan bukit pasir di muka pantai yang
terjadi pada daerah curah hujan rendah. Selain itu, endapan angin dapat pula terjadi
pada outwash plain dari arus air es glasial yang ditemukan pada daerah lintang tinggi.
Allen (1970) menggambarkan bahwa angin mengangkut sedimen secara suspensi dan
saltasi atau merayap dipermukaan (surface creep).

Butiran yang halus (0 - 0,2 mm ) akan diangkat secara suspensi, yaitu sedimen
dibawa oleh angin tanpa terjadi kontak dengan lapisan. Angin bertiup melalui
alluvium yang mengering dan membawa butiran terbang di udara Lanau lempung
adalah contoh batuan yang dapat diangkut dengan cara suspensi. Bahan ini umumnya
akan diangkut melalui jarak yang lebih jauh.
Cara kedua adalah saltasi dimana butiran dengan ukuran yang lebih besar (0,2
- 2 mm) akan diangkut dengan cara menggelinding, bergeser dan bertumbukan. Bila
angin bertiup di atas permukaan pasri, maka kalau cukup kuat butiran pasir akan
melaju melalui seretan lompatan yang panjang. Jika mendarat mereka akan terpantul
dan meloncat kembali ke udara dan akan melontarkan butiran pasir lainnya. Batupasir
sangat halus adalah yang pertama dapat dipindahkan dengan saltasi.

Pengangkutan bahan yang berukuran pasir ini disebut sand storm. Pasir
umumnya terdiri dari mineral kwarsa yang membulat. Butiran demikian akan mampu
melompat dengan mudah bila terbentur dengan bahan yang keras seperti butiran pasir
lainnya atau kerakal. Trajektori saltasi dari butiran batupasir, dimana butiran yang
lebih kecil akan mempunyai trajektori yang lebih panjang dari pada butiran yang
benar.

Studi tentang kecepatan ambang yang dibutuhkan untuk memulai pergerakan


butir menunjukkan bahwa kecepatan ambang bertambah dengan bertambahnya
ukuran butir. Butiran yang lebih kecil akan mempunyai kecepatan awal yang lebih
kecil dari pada butiran yang besar.
Proses pemindahan bahan-bahan oleh angin dapat terjadi dengan 2 cara, yaitu deflasi
dan abrasi (Sukendar Asikin, 1978).

 Deflasi adalah proses pemindahan bahan dengan cara menyapu bahan- bahan Yang
ringan. Proses ini menghasilkan relief di gurun-gurun pasir. Deflasi dapat pula
menyebabkan lekukan yang dalam hingga beberapa ratus meter di bawah permukaan
laut. Kalau mencapai batas permukaan air tanah, maka akan membentuk oase (mata
air di gurun)
 Abrasi adalah pengikisan oleh angin yang menggunakan bahan yang diangkutnya
sebagai senjata. Daerahnya tidak luas. Contohnya adalah batuan bentuk jamur yang
terjadi karena bahan yang diangkut tidak merata. Dibagian bawah lebih banyak dan
lebih kasar dibandingkan dengan diatasnya.

3. Macam Endapan Oleh Angin


Bahan yang diangkut oleh angin akan menimbulkan tiga macam endapan
yang sangat berbeda (Boggs, 1995) yaitu :
• Endapan lanau (silt), kadang-kadang disebut loess yang berasal dari sumber yang
cukup jauh.
• Endapan pasir yang terpilah sangat baik.
• Endapan lag (lag deposit), terdiri dari partikel berukuran gravel yang diangkut oleh
angin dengan kecepatan yang cukup besar.
Endapan gurun dapat dikelompokkan ke dalam 3 sublingkungan pengendapan
utama yaitu bukti pasir (sand dune), interdune dan sand sheet.

3.1 Bukit pasir (sand dune)


Lingkungan bukit pasir pada umumnya yang diangkut dan diendapkan adalah
pasir yang diakumulasi dalam berbagai bentuk dune . Sand dune (bukit pasir) dapat
dibagi menjadi 4 tipe morfologi utama (Selley, 1988), yaitu :

a. Barchan atau lunate dune, adalah bukit pasir yang paling indah. Bentuknya
cembung terhadap arah angin umum (utama dengan kedua titik ujungnya seperti
tanduk, dimana pada kedua arah tersebut kekuatan angin berkurang. Barchan
mempunyai muka gelincir yang curam pada sisi cekung. Barchan terjadi pada daerah
yang terisola (tertutup) atau disekitar sudut pantai. Pada permukaan yang turun
biasanya ditutupi oleh lumpur (mud) atau granula. Hal ini menunjukkan bahwa
barchan/lunate dunate terbentuk terbentuk dimana pengangkutan pasir lebih sedikit.

b. Tipe stellate, piramida atau Matterhorn. Terdiri dari rangkaian sinus, tajam,
punggung pasir yang tinggi, yang bergabung bersama-sama dalam satu puncak yang
tinggi. Angin selalu meniup bulu-bulu pasir di puncak peramida, membuat dune
tampak seperti berasap. Stellate dune kadang-kadang ratusan meter tingginya,
terbentuk pada batas pasir laut dan jebel, menandakan titik interferensi dari arus angin
dengan topografi yang resistan.
c. Longitudinal atau Seif dune. Bentuknya panjang, tipis dengan batas punggung yang
jelas. Dune secara individu dapat mencapai 200 km panjangnya, kadang-kadang
dapat konvergen pada perbatasan seif dimana arah angin berkurang. Tingginya dapat
mencapai 100 km dan batas dune lebarnya sampai 1 atau 2 km, dengan daerah
interdune yang datar, terdiri dari pasir atau gravel.

d. Tranversal dune, bentuknya kursus atau sinusoidal ramping dengan puncak tegak
lurus arah angin rata - rata. Muka gelincir yang curam terdapat pada arah angin yang
berkurang. Transversal dune jarang terjadi pada permukaan deflasi. Tranversal dune
adalah tipe berkelompok, naik pada bagian belakang dari dune berikutnya.

3.2 Interdune
Interdune adalah antara dua dune, dibatasi oleh bukit pasir atau sand sheet.
Interdune dapat terdeflasi (erosi) atau pengendapan. Sedikit sekali sedimen yang
terakulasi pada interdune yang terdeflasi. Daerah interdune dapat meliputi dua arah
endapan angin dan sedimen diangkut dan diendapkan oleh arus di daerah paparan.

3.3 Sand Sheet


Sand sheet adalah badan pasir yang berundulasi dari datar sampai tegas yang
terdapat di sekitar lapangan bukit pasir. Dicirikan oleh kemiringan yang rendah (00-
200). Lingkungan sand sheet berada di pinggiran bukit pasir.

4. Bentuk Perlapisan
Wilson (1991, 1992) dalam Walker (1992) menyatakan ada tiga skala utama
bentuk perlapisan pada endapan eolin yaitu ripple, dune dan draa. Ripple yang
disebabkan oleh angin lebih datar dari pada yang disebabkan oleh air dan biasanya
mempunyai garis puncak yang lebih regular. Bentuk perlapisan dune lebih besar dari
pada ripple dan ketinggiannya bervariasi dari 0,1 sampai 100 meter. Bentuk
perlapisan draa adalah perlapisan pasir yang besar antara 20 sampai 450 meter
tingginya dan dicirikan oleh melampiskan keatas (superimpose) dari dune yang lebih
kecil. Tabel- 1 adalah klasifikasi perlapisan endapan eolian.
5. Tekstur
Tekstur meliputi bentuk, ukuran dan susunan butir. Batupasir eolian
mempunyai 3 sublingkungan pengendapan (Walker, 1992) yang membedakan 3
macam tekstur pada endapan eolian, yaitu :

• terpilah baik sampai dengan sangat baik pada batupasr halus yang terjadi pada
sublingkungan pantai.
• terpilah sedang sampai baik pada batupasir dune di darat yang berbutir baik.
• terpilah jelek pada batupasir interdune dan serir.

Bukit pasir bervariasi dalam ukuran butir dari 1,6 - 0,1 mm. Endapan bukit
pasir umumnya terdiri dari tekstur pasir yang terpilah baik dan kebundaran baik juga
;kaya akan kwarsa. Endapan bukit pasir di pantai mungkin kaya akan mineral berat
dan fragmen batuan yang tidak stabil. Bukit pasir di pantai yang terjadi didaerah
tropis banyak mengandung ooid, fragmen cangkang, atau butiran karbonat lainnya.
Bukit pasir yang terdapat di daerah gurun dapat mengandung gypsum seperti White
Sand, New Mexico

6. Struktur Sedimen
Pengangkutan dan pengendapan oleh angin membentuk tipe struktur sedimen
ripple, dune dan silang siur (cross-bed) seperti yang dihasilkan pada pengangkutan
oleh air (Boggs, 1995). Struktur sedimen yang terdapat pada bukit pasir adalah :

 kumpulan perlapisan silang (cross-strata) berukuran sedang sampai besar, yang


cirinya terdapat pada muka kemiringan arah sari angin bertiup pada sudut 300 - 340 .
 kumpulan perlapisan silang tabular-planar dalam arah vertikal yang terdapat pada
bagian bawah.
 bidang batas antara kumpulan individu dan perlapisan silang yang umumnya
horinsontal atau miring dengan sudut rendah.

Tipe geometri struktur bagian dalam barchan dapat dilihat pada gambar-4.
Selain itu beberapa jenis struktur sedimen internal pada skala kecil dapat pula
berbentuk perarian lapisan datar (plane -bed lamination), perarian bergelombang
(rippleform lamination),ripple-foreset cross lamination, climbing ripple, grainfall
lamination dan sandflow cross -strata.
Pada bukit pasir yang kecil terdapat perarian silang siur tunggal (single cross
lamination) dan perlapisan silang siur yang tebal terdapat pada lapisan pasir yang
cukup tebal. Struktur sedimen yang besar tidak tampak pada inti pemboran, sehingga
struktur sedimen seolah-olah massive. Pengeboran melalui tranversal dan lunate dune
mengungkapkan bahwa beberapa kumpulan dari puncak bukit pasir dipisahkan oleh
permukaan erosi dan lapisan datar. Heterogenenitas perlapisan ini menggambarkan
variasi yang tidak menentu dari morfologi bukit pasir secara kasar. Perlapisan silang
siur diendapkan saat migrasi angin rendah pada muka gelincir dan unit perlapisan
datar dan subhorisontal diendapkan pada sisi belakang dari bukit pasir.

Endapan interdune dicirikan oleh perlapisan dengan sudut kemiringan yang


rendah (< 100 ) karena interdune terbentuk oleh proses migrasi dari bukit pasir,
banyak terdapat bioturbasi yang merusak struktur perlapisan. Sedimen yang
diendapkan pada interdune dapat mencakup dua macam endapan yaitu subaquaeous
dan subaerial, tergantung pada iklim dimana mereka diendapkan, basah, kering atau
daerah yang banyak terjadi penguapan.

Endapan pada interdune kering dibentuk oleh ripple karena proses


pengangkutan oleh angin. Endapannya relatif kasar, bimodal dan terpilah jelek
dengan kemiringan yang tegas, lapisannya membentuk perarian yang jelek.
Endapannya banyak mengandung bioturbasi yang merupakan hasil acak binatang
maupun bekas tumbuhan.

Pada interdune yang terjadi di daerah basah dekat dengan danau, silt dan clay
terperangkap oleh badan yang semipermanen. Endapan ini dapat mengandung spesies
organisme air tawar seperti gastrododa, pelesipoda, diatome dan ostracoda (Boggs,
1995). Dapat pula terbentuk bioturbasi seperti jejak kaki binatang.

Endapan sheet sand juga mengandung kemiringan yang tegas atau permukaan
iregular dari erosi beberapa meter panjangnya, terdapat jejak bioturbasi yang
disebabkan oleh serangga atau tumbuhan, struktur cut-and-fill pada skala kecil,
kemiringan yang tegas, lapisan perarian yang jelek sebagai hasil dari perbatasan
pengendapan grainfall, diskontinu, lapisan tipis pasir kasar yang interkalasi dengan
pasir halus, dan kadang-kadang interkalasi dengan endapan eolian yang mempunyai
sudut besar menunjukkan distribusi dan hubungan stratigrafi dari sheet sand dan
endapan bukit pasir eolian.
7. Model Perlapisan dan Batas Permukaan
Hasil perlapisan dari migrasi bentuk lapisan sebagai pendakian/undakan pasir
mempunyai sudut dan arah yang berbeda-beda. Model perlapisan yang sederhana
meliputi sistem bentuk lapisan termigrasi dengan sederhana dan bentuk kumpulan
arsitektur yang sederhana. Sebagai contoh bukit pasir tranversal migrasi melewati
gurun dari lapisan silang siur tabular (tabular cross-bed) dipisahkan oleh permukaan
bidang planar. Transversal dune migrasi melalui transversal draa dari bentuk yang
sederhana ke bentuk yang lebih kompleks, termasuk permukaan orde kedua pada
kemiringan arah angin berkurang. Meskipun demikian, bentuk lapisan dibangun oleh
perpindahan pasir dan juga disebabkan oleh keberadaan struktur perbahan angin
meyebabkan perubahan bentuk perlapisan yang ada dan perubahan bentuk lapisan
juga berinteraksi dengan angin untuk menghasilkan bermacam-macam bentuk
keseimbangan.

GLASIAL
Pengertian tentang sistem pengendapan glasial dan macam - macam
bentuknya penting dalam aplikasi. Pertama, data kandungan endapan glasial dapat
digunakan menyelesaikan masalah tentang proses - proses geologi yang terjadi.
Kedua, endapan glasial merupakan dasar untuk mempelajari lingkungan geologi.
Dengan adanya investigasi karakteristik teknik geologi, pedoman hydrogeological,
dan arus transportasi dalam sistem pengendapan glasial. Sistem pengendapan glasial
merupakan suatu pendorong dalam penyelidikan tentang sistem pengendapan glasial
ini juga merupakan pendorong untuk mempelajari / mengetahui tentang letak dari
pengendapan klastik dan karbonat dari suatu reservoar hidrokarbon pada tahun 1950
– an.
Setelah mempelajari aspek - aspek dari glasial dan hubungannya satu sama
lain, kemudian diaplikasikan kedalam ilmu geologi ekonomi atau hasil penyelidikan
geologi yang bernilai ekonomi. Selain itu diketahui pula bahwa dalam sistem
pengendapan glasial juga membawa serta endapan -endapan mineral dan bermacam -
macam batuan yang dibungkus oleh es. (Placer ; Eyles, 1990), dan sistem
pengendapan glasial digunakan juga dalam penyelidikan untuk endapan mineral yang
terdapat pada pelindung / pembungkusnya sendiri. (drift prospecting ; Dilabio and
Coker, 1989). Dimana diketahui pula bahwa lapisan batu dari glasial mempunyai
kebiasaan digunakan dalam geologi minyak, tetapi kandungan dari Paleozoic glasial
lebih penting / berarti digunakan dalam penyelidikan minyak dan gas, seperti :
Australia, Argentina, Brasil, Bolivia, Saudi Arabia, Yordan dan Oman. (Levll et al,
1988; Franca and Potter, 1991). Banyak orang berpikiran bahwa fasies dari
pengendapan glasial masih karakteristik yang unik. Ini disebabkan oleh campuran
yang tidak tersotir dengan baik, semua ukuran ada, mulai dari bongkah - bongkah /
batu - batu besar sampai kelempung, Kadang - kadang endapannya tepat pada glasier
dan lapisan - lapisan esnya. Bagaimana sedimen yang mempunyai penampilan
singkapan sama dapat memberikan sebuah endapan luas baik itu lingkungan glasial
dan nonglasial “Term diamitct” akan digunakan untuk sebuah deskripsi, masa
nongenetic betul - betul dari fasies yang sortirannya kurang baik tanpa
memperhatikan asal mulanya. Hanya dengan diamict dapat diketahui endapan yang
langsung pada “ice glasier” dapat diidentifikasi dengan baik. Suatu permasalahan
pokok dalam mempelajari stratigrafinya adalah untuk menentukan apakah fasies
diamict spesifik sumbernya dari glasial atau nonglasial. Banyak contoh dalam
literatur dimana sedimen itu mula - mula terjadi dan dapat ditunjukkan berasal dari
sumber nonglasial. Diamict hanya tipe fasies dalam keadaan biasa dan produksinya
dari lingkungan pengendapan dalam sebuah luas daerah tertentu dan juga pengaruh
iklim. Dalam keadaan biasa tidak mungkin kita berkesimpulan bahwa sumber sebuah
diamict berasal dari sebuah singkapan tunggal dan kecil. Yang penting selalu
diperhatikan adalah hubungan antara facies dalam stratigrafi.

Agar dapat memperkirakan tanda - tanda untuk lingkungan pengendapan


digunakan refensi asosiasi fasies. Dengan pendekatan yang dasar dapat ditarik
kesimpulan bahwa itu adalah produksi facies diamict, sebagai contoh, aliran sedimen
oleh gaya berat, yang cenderung faciesnya dipengaruhi oleh arus turbidit. Dimana
asosiasi fasies ini berubah - rubah pada lingkungan pengendapan yang berbeda,
dalam model 3 dimensi dapat memperlihatkan endapan dengan jelas. Untuk
interprestasi yang baik memerlukan profil defosit vertikal secara terinci, bersama -
sama dengan informasi variasi lateral dan geometri deposit diluar singkapan lokal.
Umumnya. Asosiasi glasial fasies beserta lingkungan pengendapannya terjadi
khususnya pada sungai, danau, darat yang berbatu dan pada kemiringan. Dalam
kebanyakan kasus glasier yang mempunyai volume besar diberikan oleh lingkungan
pengendapan dilaut atau lacustrine basin, dimana sedimen glasial primer lebih banyak
bekerja dibandingkan proses sedimen nonglasial yang berbeda dan pengaruh
lingkungan glasial dapat diidentifikasi dan juga asosiasi - asosiasi fasiesnya. Sistem
pengendapan glasial dapat terlihat dengan jelas pada geometri 3 dimensi, dimana
proses hubungan fasiesnya mencatat bahwa elemen paleogemorphic basin yang
terbesar. Berdasarkan pemisahan dan krnologis lingkage, sistem pengendapan ini
diidentifikasi menjadi dua bagian yaitu glacioterrestrial dan glaciomarine
Sistem Glacioterestrial Tract.
Lingkungan pengendapan glacioterestrial dapat dibedakan atas 4 jenis yaitu :
1. Subglacial
2. Supraglacial
3. Glaciolacustrine
4. Glaciofluvial

Substrate relief dan lingkungan tektonik adalah berperan sebagai dasar dalam
pengendapan glacialteretrial ini. Menurut hasil penyelidikan bahwa pertumbuhan
lembar - lembar es dibumi ini dalam jumlah yang besar, tetapi kurang yang
mengandung endapan - endapan. Glacial itu aktif pada basin akibat tektonik. Dalam
jumlah yang besar ternyata glacial besar dari sedimen ocean basin. Iklim juga
mempengaruhi endapan glacial terrestrial ditepi es.

Posisi Glacioteretrial Pada Low - Relief.


Glasil low - relief ini ditunjukkan dengan baik dengan adanya distribusi
glasial deposit pleistocene seperti yang terjadi di Amerika bagian utara. Beberapa
sistem pengendapan pada low - relief.

1. Sistem Pengendapan Subglacial


Kondisi / keadaan didasar lembaran - lembaran es yang besar akanberubah
luasnya yang diakibatkan oleh perbedaan temperatur es dan kecepatannya. Untuk es
yang dasarnya basah dimana kondisi tertutup oleh tekanan titik lebur es, es tersebut
meluncur serta berakhir pada substrate. Sedangkan dalam kondisi dasar yang kering
es tetap pada lapisan Frozen dan kebanyakan berpindah / bergeraknya juga
menyebabkan perubahan bentuk pada bagian dalamnya. Sedangkan deposit fasies
subglasial diamict pada prinsipnya terjadi/terdapat dibawah bagian dasar es yang
basah. Runtuhan Englacial didalam transportasi sebuah lapisan basal tipis (1m) itu
terdiri dari lapisan - lapisan es yang tidak rata. Abrasi yang kuat itu terjadi diantara
kedua partikel dalam lapisan dasar, dan diantara partikel dengan substrate. Runtuhan
itu saling bertubrukan dengan lapisan, dapat membentuk subtratelagi sebagai akibat
dari tekanan cairan dan yang dikeluarkan dari es. Sedangkan ciri dari “Glacially -
shaped Clasts”. Kelanjutan dari produksi lodgement membuat lapisan lentircular
menjadi tebal. Pada yang poros yang panjang “Clast” mempunyai penjajaran pararel
yang lebih kuatyang ditimbulkan oleh aliran es. Pengukuran poros yang panjang
berorientasi dengan sedikit clasts memberikan sebuah indikasi aliran es lansung yang
cepat. Letak dari “lodgement till” ditentukan oleh lokal dan regional unconformity
dan cenderung mempunyai geometri regional “ sheet - like”. Dimana ketebalan
totalnya tidak melebihi dari 50 meter Unit “lentircular till” yang kuat terjadi didalam
bentuk “sheet - like”. Hubunganya merupakan potongan menyilang dan tumpang
tindih sebagi akibat dari erosi pada substrate dalam merespon perubahan kecepatan
gerak dari es. Perubahan aliran lengsung dari es dan runtuhan dari litologi yang
berbeda hasilnya dapat dilihat sebagai suatu tumpukan dari beberapa “lodgement till”
yang berlapis keatas selama sebuah glaciation tunggal. Setiap unit till mengandung
clasts dan matrix dari perbedaan sumber lapisan batuan (bedrock). Penekanan ini
dibutuhkan untuk ketelitian dalam interprestasi maju/ mundurnya siklus dari
“multiple - till” stratigrafi. Adanya tanah bercampur batu kerikil pada chanel sebagai
hasil dari sungai - sungai kecil yang kering, juga kumpulan dari komponen-
komponen dari stratigrafi subglasial Chanel mempunyai sebuah planah pada
permukaan bagian atas yang memotong diamict, dimana berorientasi pada aliran es
langsung yang subparalel dan hubungan genetik dengan “ekers ridges”. Oleh karena
itu kehadiran fasies glaciofluvial didalam lingkungan “lodgement - till” tidak terlalu
penting sebagai petunjuk mundurnya glacier.

2. Sistem Pengendapan Supraglasial


Bagian luar dari tepi lembaran - lembaran es biasanya merupakan batas
dimana sisa daerah yang luas dari tofografi bukit-bukit kecil terdiri dari sedimen-
sedimen yang bervariasi dengan geometri komplek. Selama proses glaciation yang
terakhir, perluasan dari es berhenti sekitar seperempat kilometer seperti yang terjadi
di Amerika bagian utara. Perbedaan tekanan yang kuat antara “upglacier” yang aktif
dengan penghalang - penghalang oleh bagian tepi es menghasilkan perlipatan yang
kompleks dan perlapisan runtuhan basal yang tebal. Dimana “melt-out till” bersama
dengan perkembangan fasies “diamict” pada permukaan es adalah asosiasi dengan
topografi bukit-bukit kecil yang khusus dimana itu merupakan data kompleks dari
pemisahan tepi-tepi es. Jika bagian luar dari tepi es yang tipis menjadi “frozen” pada
substrate maka lempengan dari “bedrock” yang besar juga glaciotectonized boleh
tidak ikut dengan proses tersebut. Ini adalah pergerakan dari es tidak melakukan
luncuran pada basal, tetapi terjadi deformasi dibawah substrate sedimen. Apabila
proses ini tidak berjalan lagi, maka bentuk ini menjadi menutup oleh runtuhan-
runtuhan englasial pada permukaan es. Penutupan ini tidak stabil dan pergerakan
sedimen akibat aliran gravitasi untuk kedalam basin yang berbentuk ketel, merupakan
generasi penutupan oleh pencairan es pada suatu tempat tertentu. Dimana pencairan
kearah bawah lebih cepat oleh produksi tofografi daerah rendah “diamict”
supraglacial pada prosese sedimentasi ulang secara umum diakibatkan oleh aliran dari
reruntuhan - reruntuhan yang ada, serta mempunyai lapisan berupa “clast” yang
pararel dengan arah alirannya, dimana “clast” itu merupakan rancangan dari lapisan-
lapisan paling atas, bagian-bagian berbentuk rakit dan fragmen-fragmen dari sedimen
yang sudah lebih dulu, juga channelnya berbentuk bagian yang menyilang, terdapat
geometri lenticular yang mengalami penebalan pada “down-slope” serta ketidak
hadirin relief pada perlapisan atas dari permukaan dan adanya suatu kecendrungan
untuk mengisi tofografi yang rendah. Massive dan lapisan kasar dari fasies “diamict”
berpengaruh, dimana fasies lapisan - lapisan kasar sebagai hasil dari aliran massive
yang tipis pada lapisan diatasnya. Dimana fasies “ diamict” adalah merupakan
“interbedded” dengan “glaciofluvial” dan fasies “lacustrine”. Ini merupakan basal
yang ada pada bagian atas sebagai hasil dari “melt-out till”, yang boleh menutup
lapisan batuan berbentuk rakit pada bagian atas yang sekarang merupakan pembentuk
dari dasar es. Kondisinya berada dibawah sehingga struktur englasial berupa
perlipatan dari rangkaian runtuhan basal yang merupakan kelanjutan dari “melt-out”
dalam bentuk perlapisan berhubungan serta berorientasi melintang sebagai
pembentuk aliran es langsung (Shaw, 1979).

3. Sistem Pengendapan Glaciolacustrine.


Kolam glaciolacustrine sebagai hasil dari erosi glacial, disrupsi glacial bekas
sistem drainase dan mengeluarkan / menghasilkan air akibat proses pencairan dalam
jumlah yang besar. Berubahnya basin dari daerah yang sempit/terbatas, menyerupai
tipe pegunungan dalam daerah high - relief, daratan yang luas dalam skala danau
berada dibagian dalam dari seaways. Danau yang luas dalam statical yang sama
menekan evaluasi bagian dalam dari daratan oleh lembaran es. Danau Agassiz adalah
contoh yang terkenal, yang luasnya kira - kira 1.000.000 km2 terdapat di Amerika
bagian utara (Teller and Clayton, 1983). Sebuah perbedaan yang sederhana antara
kontak es dengan badan danau dapat dilihat pada gambar dilihat pada. Satu dari
banyak karakteristik dari fasies glaciolcustrine, yang setiap tahun produksinya
berantai dimana ukuran butirnya sangat kontras sebagai hasil dari kondisi sedimen
yang berbeda dalam musim dingin dan musim panas. Dimana diketahui jika musim
panas lapisannya kebanyakan terdiri dari sand dan silt, sedangkan pada musim dingin
lapisannya terdiri dari cly (lempung). Untuk model klasik formasi varve dalam non
ice - contact danau-danau glacial menegaskan pengaruh musim kuat sangat kuat,
misalnya pada musim panas tepi - tepi es pada supraglacial mencair sehingga
endapan - endapannya dapat berpindah. Mencairnya supraglacial sangat berarti dalam
menahan musim dingin. Dibawah pengaruh ini sedimentasinya didominasi oleh
perkembangan delta yang berbentuk kipas, bulat dan menonjol. Dalam musim panas,
sedimen dibebani kerapatan dibawah aliran. Tanda - tanda dari fasies lithologi suatu
endapan itu menjadi jelas dalam setiap musim panas yang merupakan musim
mencairnya es, dan pencatatan mulai berawal dari penambahan dan menurunnya
kerapatan aliran bawah yang aktif (Ashley, 1975). Pada musim panas tanda dari
lapisan tipis dikategorikan ke dalam jenis silt dengan bungkus oleh ripple dan ripple -
drift yang tipis dan mengalami laminasi yang menyilang. Bagian dasar umumnya
kasar, tajam dan perlapisannya boleh meratakan tanah. Kandungan / endapannya
boleh dari multiple lamination yang mewakili endapan sebuah getaran tunggal. Boleh
juga kontribusi kecil itu merupakan material pelagic dari interflow atau overflow
yang menyerupai bulu atau sedimen yang melayang-layang. Unit lempung (clay)
hitam boleh juga memperlihatkan indikasi tingkatan deposit normal yang merupakan
sedimen melayang-layang dibawah pembungkus es yang menutupi danau. Ketebalan
dari perlapisan umumnya seragam bersilangan dengan basin tetapi kandungan
endapannya boleh “massive atau”cross-stratified sand” dan laminasi silt yang pada
musim dingin menarik turun tingkatkan danau dan delta foreslope merosot turun.
Liang dan jejak fosil umumnya dijumpai pada perlapisan saat musim panas. Tetapi
bukan pada musim dingin. Pada kenyataannya sistem pengendapan yang ada.
Banyaknya perlapisan menggambarkan suatu perbangingan tunggal atau ganda dari
unit kelas atau kualitas dari silt dan clay dengan divisi-visi yang tertentu. Ini boleh
mempunyai deposit dengan bagian-bagian yang berlainan dan mempunyai ciri - ciri
khusus berdasarkan arus turbiditnya dengan kontrol musiman yang kurang jelas.
Penarikan kesimpulan ini boleh boleh dikatakan kurang tepat jika bagian perlapisan
yang diakibatkan oleh turbidit pada daerah pusat itu berlainan. Bagaimana “thin-
bedded” yang turbidit boleh juga “interbedded” dengan perlapisan yang dikontrol
secara musiman dan memerlukan studi lapangan yang detail (Ashely, 1975). Ciri-ciri
untuk danau yang bukan “ice-contact” dalam basin “low - relief” dimana
sedimentasinya semata - mata ditentukan oleh musim dimana mencairnya permukaan
lembaran-lembaran es. Sedangkan didalam “high-relief” basin dari danau itu berada
pada “zona” pegunungan. Model sedimentasi dari danau glacial “ice-contact” sangat
mengecewakan karena mempersulit pekerjaan dari bagian logistik pada danau
“proglacial” yang modern dan basin danau modrn yang uikurannya kecil
dibandingkan dengan pleistocene contoh-contoh yang lebih tua. Perluasan dari
deposit glaciolacustrine pleistocene itu dapat dilihat disekitar danau-danau besar yang
modern di Amerika utara adalah sangat penting untuk studi sedimentasi dalam skala
besar, khusus danau “ice-contact” didalam posisi “low-relief”. “Diamict” adalah
butiran yang halus dan mempunyai geometri sebuah “blanket-like”, dimana
mengalami penebalan pada tofografi rendah dan penipisan pada daerah yang sangat
tinggi. Dimana pada bagian dalam, “diamict” mempunyai susunan komplek berupa
massive dan fasies yang berlapis-lapis. Fasies “diamict” massive sebagai hasil dari
lapisan deras, sehingga sedimennya melayang-layang dan rakit-rakit es runtuh diatas
dasar basin. Stratifikasi yang berikutnya boleh berkembang oleh proses pekerjaan
ulang dari sedimen ini akibat arus yang menarik atau perulangan sedimentasi pada
“down-slope”. “diamict” biasanya adalah “overlain” pada unit-unit chanel yang
berupa laminasi lumpur-lumpur lempung, kemungkinan asalmula turbidit, kandungan
dari “dropstone”. Ini adalah perubahan :ovelain” oleh pengkasaran bagian atas yang
berjalan dengan baik pada “ripple-laminated”, planar dan tembus dan tembus ke pasir
“cross-bedded” yang menurut catatan letaknya pada pada progadasi delta yang
merupakan akumulasi “diamict”

4. Sistem Pengendapan Glaciofluvial.


Sistem pengendapannya membuat kandungan yang diatas mempunyai berarti
bagi deposit dari sedimen-sedimen glacial sungai-sungai “melt-water”. Ditepi es
proses agradasi biasanya cukup deras sehingga menutupi bagian-bagian dari tepi es.
Ini mengantarkan struktur deformasi dalam ukuran butir-butir kasar, lapisan kasar
atau lapisan massive pada saat menutupi cairan es yang berikutnya. Lubang dari
permukaan “out - wash” ditutupi oleh es yang mencair, dimana perluasannya dapat
mencapai seperempat kilometer. Ini merupakan sisi “eskers” atau kontak es yang
kompleks dari jajar “diamict” Dimana sungai-sungai dari glacial “out -wash” ini
kebanyakan bertipe “multiple-channel” atau “Teranyam”. Depositnya umunya
didominasi bentuk dasar yang luas, dimana perluasannya itu merupakan sebuah aliran
tunggal serta dapat berfungsi sebagai transportasi sedimen sepanjang tahun. Pengaruh
angin dalam menghadirkan vegetasi, sebagai hasilnya adanya deposit akibat gerakan
angin yaitu silt dan pasir. Dimana akumulasi dari “peat” yang tebal dapat
menghasilkan batu bara. Proses glaciofluvial adalah penting karena boleh melengkapi
pekerjaan ulang/kembali dari deposit sedimen pada glacier. Data-data dari bentuk
endapan menunjukkan kehadiran dari es dapat menghancurkan/merusakkan. Ini
adalah sebuah masalah dalam interprestasi deposit-deposit pada jaman dahulu/kuno,
karena deposit-deposit sungai teranyam terjadi dalam posisi/kedudukan dari banyak
deposit. Sebuah hubungan glasial boleh menjadi sangat sulit, jika tidak mungkin
diidentifikasi bukti/tanda harus mencari dari kehadiran atau ketidak hadirin iklim
dingin struktur periglacial, atau dari kejadian glasial dari clast yang tajam-tajam, dan
kerut-kerut. Ini adalah masalah terutama dalam kedudukan high-relief.

Sistem Glaciomarine Tract.


Sebuah bagian sederhana sistem pengendapan “glacial marine” yang
membedakan posisi continental self dari continental slope dan teluk yang sepit dan
panjang diantara karang yang tinggi. Dapat juga dipakai untuk menentukan tepi dari
es apakah lingkungannya didominasi oleh proses glasial atau proses marine. Iklim
regional adalah kontrol yang lain dan penting karena berhubungan dengan volume es
yang mencair dilingkungan marine. Lingkungan laut yang sederhana dicontohkan
dengan terdapatnya volume dalam jumlah yang besar dari cairan es dan lumpur yang
langsung mengisi paparan. Lingkungan sediment-nourished dapat bertentangan
dengan sediment-starved dalam hal hal posisi, itu adalah tipe frozen yang besar
didaerah kutub masukan “melt-water” adalah sama sekali terbatas sehingga
“deposition” kimia dan biogenic” relatife menjadi penting, ini terdapat di Antarctica,
(Domack, 1988). Dengan jelas, bahwa penebalan deposit “glaciomarine”
sederhana/sedang pada daerah laut adalah mungkin karena terlindungi oleh batu-
batuan.

LINGKUNGAN TERUMBU (REEF)


Terumbu atau reef merupakan lingkungan yang unik yang sangat berbeda dari
bagian lingkungan pengendapan lainnya di lingkungan paparan (shelf). Terumbu ini
umumnya dijumpai pada bagian pinggir platform paparan luar (outer-shelf) yang
hampir menerus sepanjang arah pantai, sehingga merupakan penghalang yang efektif
terhadap gerakan gelombang yang melintasi paparan tersebut. Disamping terumbu
berkembang seperti massa yang menyusur sepanjang garis pantai diatas, juga dapat
berkembang sebagai “patch” yang terisolir dalam paparan bagian dalam atau inner-
shelf .

Istilah lain untuk terumbu ini, ada yang menyebutnya dengan “carbonate
buildup” atau “bioherm”. Tetapi para pekerja karbonat tidak menyetujui penggunaan
istilah terumbu hanya dibatasi untuk carbonat-buildup atau inti yang kaku,
pertumbuhan koloni organisme, atau carbonat - buildup lainnya yang tidak memiliki
inti kerangka yang kaku. Wilson (1975) menggunakan istilah carbonat-buildup untuk
tubuh yang secara lokal, terbatas secara lateral, merupakan hasil proses relief
tofografi, dan tanpa mengaitkan dengan hiasan pembentuk internalnya. Sebelumnya
Dunham (1970) mencoba memberikan solusi dilema peristilahan ini dengan
mengusulkan dua tipe terumbu, yaitu :

(a) Terumbu Ecologik : adalah terumbu yang dicirikan oleh bentuk kaku, struktur
tofografi yang tahan terhadap gelombang, dihasilkan oleh pembentukan aktif dan
pengikatan sedimen organisme.
(b) Terumbu Stratigrafi : dicirikan oleh batuan yang tebal, terbatas secara lateral, dan
merupakan batuan karbonat yang buruk sampai sangat buruk.

Selanjutnya Longman (1981) memodifikasi definisi Heckel (1974), yang


mengatakan bahwa terumbu sebagai karbonat yang tumbuh dipengaruhi secara
biologi dan juga mempengaruhi secara biologi dan juga mempengaruhi daerah
sekitarnya.

TERUMBU MODEREN DAN LINGKUNGAN TERUMBU

Letak Pengendapan
Kebanyakan terumbu terbentuk dalam lingkungan air dangkal,berupa terumbu
linier yang hampir kontinyu disepanjang tepi platform dan disebut juga sebagai
“barrier-reef” “Fringing - reef”, letaknya berlawanan dengan garis pantai yang
terbentuk akibat paparan yang sangat sempit. Sedangkan terumbu berbentuk seperti
donat disebut “Atolls”, dimana bagian luarnya merupakan penghalang gelombang
lagoon yang dilingkarinya dan terumbu yang lebih kecil lagi dan terisolisasi
dinamakan “patch-reef” “pinnacle-reef, atau “table - reef” yang terbentuk sepanjang
beberapa tepi paparan, tersebar pada paparan tengah (midle-shelf)

Disamping dalam air dangkal, terumbu juga dapat dijumpai dalam air yang
lebih dalam, seperti “mound” yang terbentuk secara organik dengan panjang 100 m
dan tinggi 50 m (Neuman, Kofoed), dan Keller, 1977) “Mound” ini mengandung
lumpur yang mengikat atau menyemen berbagai organisme air dalam, seperti :
crinoid, ahermatypic hexacoral dan sponga.

2 Organisme Terumbu
Hampir semua terumbu tersusun oleh koral, meskipun banyak organisme lain
yang turut menyumbang, seperti alga biru - hijau (cyanobacteria, alga merah
coralline, alga hijau, kerangka foramnifera, brozoa, sponga, dan moluska (Heckel,
1974; James dan Macintyre, 1985). Dalam sejarah waktu geologi, beberapa kelompok
organisme yang membentuk terumbu meliputi : archaeocyathids, stromatoporoids,
fenestethid bryozoans, dan rudistid clams. Meskipun demikian, koral merupakan
dominan terumbu modern, dan ada dua jenis koral, yaitu :

(a) Hermatypic (zoanthellae) hexacoral : merupakan koral utama air dangkal yang
melakukan hubungan simbiotik dengan beberapa macam organisme unicelluler
terutama alga, yang kemudian dinakan secara kolektif sebagai zooxanthellae. Alga ini
hidup dalam atau antara kehidupan sel koral dan mendapatkan energi dari proses
photosistesis (Cowen, 1988). Selama proses photosintesis alga ini melepaskan CO2,
sehingga membutuhkan sinar matahari, oleh karenanya coral hermatypic ini terbatas
hidupnya hanya dalam air sangat dangkal.

(b) Ahermatypic (azooxanthellae coral : coral ini hidupnya tidak terbatas pada air
dangkal saja, tetapi dapat tersebar hingga pada kedalaman melebihi 2000m (stanley
dan Cairs, 1988) dan jarang mempunyai hubungan simbotis, sehingga merupakan
organisme utama sekarang yang membentuk “carbonat-buildup” dalam air yang lebih
dalam.

Bentuk pertumbuhan terumbu yang terbentuk oleh organisme sangat


dipengaruhi oleh energi air yang bekerja terhadap terumbu tersebut. Organisme yang
hidup dalam energi air yang rendah akan cenderung menghasilkan terumbu terbentuk
delicate, branching, dan plate-like. Sedangkan yang hidup dalam zona energi air yang
lebih tinggi, terumbu cenderung berkembang membentuk hemisperical, encruting,
dan tabular dan biasanya lebih baik untuk untuk bertahan terhadap aksi gelombang
yang kuat.

3 Lingkungan Terumbu Energi Tinggi


Pembagian sub-fasies terumbu platform (platform margin reef), terdiri dari
bagian inti tengah “Reef-framework”, yang berangsur kearah terumbu. Pada bagian
lebih atas mendekati datar dan dangkal terdiri dari “reef-slope”, dan “fore-reef talus”
berupa akumulasi jatuhan terumbu. Pada bagian lebih atas mendekati datar dan
dangkal terdiri dari “reef-flat” dan lebih kearah darat berupa “back-reef coral algal
sands “ dan “endapan lagoon sub-tidal” (Longman, M.W., 1981).

Secara fisiografis, James (1983) membagi terumbu kedalam zona “fore-reef”,


“reef-front”, “reef-crest’ “reef-flat” dan “back-ref” . Masing-masing zona dicirikan
oleh jenis material karbonat berbeda, sebagai berikut :

• Kata “rudstone”, “floatstone”, “bafflestone” “bindstone” dan “frameston” mula-


mula digunakan oleh Emery dan Klovan (1971) sebagai modifikasi klasifikasi batu
gamping yang diusulkan oleh Dunham (1962)
• “Floatstone” dan “rudstone” adalah butiran karbonat yang tidak terikat san
mengandung lebih dari 10 % butiran berukuran lebih dari 2 mm, beda keduanya
adalah “floatsone” merupakan mud-suported, sedangkan “rudstone’” adalah grain-
suported.
• “Bufflestone” adalah komponen karbonat yang terbentuk pada waktu pengendapan
berupa tangkai atau batang organisme yang terperangkap kedalan sedimen oleh
aktifitas buffle. “Binstone” terbentuk selama pengendapan oleh pengerasan dan
terikat organisme, seperti pengererasan foraminifera dan bryozoas, sedangkan
“framestone” tersusun oleh organisme seperti lokal yang membentuk struktur
kerangka yang kaku.

Energi air, proses sedimentasi utama, jenis organisme, persentase komponen


kerangka, ukuran butiran serta pemilahan sedimen berubah-ubah dalam setiap zona
(fasies) terumbu. Pada zona “reef-crest” dimana energi air paling tinggi, maka
persentase kandungan kerangka paling tinggi. Kemudian pada kedua arah “fore-reef”
dan “back-reef” energi air akan menurun, yang diikuti oleh penurunnan kandungan
kerangka. Perlu diperhatikan bahwa seluruh komponen kerangka terumbu biasanya
sangat lebih kecil volumenya dari pada volume kandungan non-kerangka.

Longman (1981) membandingkan struktur terumbu dengan mudah, yang


memiliki inti tengah atau kerangka dikelilingi oleh “edible fruit”. Fraksi non-
kerangka terumbu terdiri dari organisme seperti echinodermata, alga hijau, dan
moluska tidak membentuk struktur kerangka, bersamaan dengan pecahan bioklas dari
terumbu yang terkena aktivitas gelombang dan dalam zona terumbu dengan energi
lebih rendah, beberapa lumpur gamping (lime mud). Zona fore-reef, talus-slope, dan
back-reef coral algal sands seluruhnya tersusun oleh kandungan non-kerangka yang
terdiri dari terutama bioklas dan beberapa organisme yang relatif hidup pada zona ini.
4. Lingkungan atau Fasies terumbu Energi Rendah
Pada lingkungan energi tinggi, fasies moderen terumbu type tepi platform
umumnya terdiri dari inti kerangka tengah yang mengandung sebagianbesar coral dan
coralline alga. Inti berangsur ke arah laut melalui zona fore-reef talus sampai lumpur
gamping pada air yang lebih dalam atau shales. Dan ke arah darat melalui back-reef
coral algal sand sampai endapan lagoon dengan butiran yang lebih halus. Model ini
menyajikan alasan yang baik untuk perkembangan terumbu energi tinggi dalam
banyak posisi; meskipun beberapa bentuk terumbu energi yang lebih randah juga
dijumpai.

Pembagian zona karakteristik terumbu energi rendah tidak begitu baik


berkembang seperti terumbu energi tinggi dan terumbu cenderung membentuk bidang
datar melingkar sampai elip. Pertumbuhan organisme pada terumbu energi rendah
umumnya didominasi oleh bentuk-bentuk delicate, branching (gambar II-I), dan
tersusun oleh pasir dan lumpur karbonat yang sederhana dengan organisme yang
sangat mirip bagi komposisi organisme tipe terumbu (James, 1984). Bentuk
pertumbuhan (buildups) energi rendah lainnya tersusun sebagian besar oleh
organisme non-terumbu yang terdiri dari tiang-tiang fragmen skeletal berbentuk
gundukan atau “mound” dan / atau lumpur gamping bioklastik yang kaya organisme
skeletal dengan sedikit organisme boundstone. Bentuk struktur semacam ini
dinamakan “reef-mound” atau “simply-mound”.

James dan Bourque (1992) mengelompokkan “mound” seperti diatas


kedalaman tiga tipe utama, yaitu :
(a) Microbial-mounds, yang mengandung calcimicrobes, stromatolities, dan
thrombolities.
(b) Skeletal-mounds, mengandung sisa-sisa organisme yang terperangkap atau buffed
dalam lumpur.
(c) Mud-mounds, terbentuk oleh akumulasi lumpur plus berbagai sejumlah fosil.

TERUMBU PURBA
Terumbu purba biasanya dapat dibagi hanya menjadi fasies utama yaitu :
(a) Inti - terumbu (“reef-core”), terdiri dari kerangka terumbu masif, tak berlapis,
organisme pembentuk terumbu yang terkandung tersemen dalam matriks lumpur
gamping atau lime mud.
(b) Sayap-terumbu (“reef-flank”), biasanya terdiri dari gamping konglomeratan atau
breksi taluis, berlapis, pemilahan buruk, dan atau gamping pasiran yang menipis dan
miring menjauhi inti-terumbu.
(c) “Inter-reef”, mengandung butiran halus, gamping lumpuran sub-tidal, atau
kemungkinan lumpur silisiklastik.

Salah satu contoh yang baik yang menggambarkan karakteristik umum


kompleks terumbu purba adalah “carbonat-buildup di bagaian utara Meksixo disebut
dengan Golden Lane ‘ Atol”, yang memperlihatkan perubahan biofasies dan
lithofasies (Wilson, 1975). Pada bagian inti terumbu yang berada beberapa puluh
meter diatas fasies karbonat yang lebih dalam, terdiri dari “rudistid clams”, “colonial
corals”, “stromatoporoids”, dan “encrusting algae”. Beransur kearah pantai, terumbu
berupa “oolitic-biogenic grainstone” sampai mikrit “back-reef” “foraminiferal
grainstone”, dan “bioturbated wackstone” dengan fauna menunjukkan sirkulasi
terbatas, dan lebih kearah pantai berubah kedalam fasies yang lebih terbatas, dan
lebih kearah pantai perubah kedalam fasies yang lebih terbatas berupa endapan
evaporit. Selanjutnya kearah laut (basinward), fasies terumbu berubah ke fasies
sayap-terumbu (“reef-flank”) yang terdiri dari interklastik kasar sampai boulder
biogenik yang tertanam dalam mikrit, dan lebih kedalam lagi fasies terdiri dari
batugamping mikrit dengan fauna organisme pelagik.
Kandungan organisme pembentuk terumbu juga tergantung pada umur
terumbu tersebut. Organisme utama pembentuk terumbu purba sangat berbeda
dengan organisme terumbu moderen. Koral hermtypic yang mendominasi
pembentukan terumbu koral moderen, pertama-tama muncul pada umur Mesozoik
dan bukan komponen terumbu yang lebih tua. Terumbu yang lebih tua dari Mesozoik
umumnya didominasi oleh organisme pembentuk terumbu lainnya seperti : koral
tabular, “stromatoporoids”, “hydrozoans”, “sponga”, “encrusting bryzoa”, “coralline
algae”, dan “blue-green algae” (Stanley dan Fagerstrom, 1988).

MEKANISME TRANSPORTASI SEDIMEN

Ada dua kelompok cara mengangkut sedimen dari batuan induknya ke tempat
pengendapannya, yakni supensi (suspendedload) dan bedload tranport. Di bawah ini
diterangkan secara garis besar ke duanya.
Suspensi
Dalam teori segala ukuran butir sedimen dapat dibawa dalam suspensi, jika
arus cukup kuat. Akan tetapi di alam, kenyataannya hanya material halus saja yang
dapat diangkut suspensi. Sifat sedimen hasil pengendapan suspensi ini adalah
mengandung prosentase masa dasar yang tinggi sehingga butiran tampak
mengambang dalam masa dasar dan umumnya disertai memilahan butir yang buruk.
Cirilain dari jenis ini adalah butir sedimen yang diangkut tidak pernah menyentuh
dasar aliran.

Bedload transport
Berdasarkan tipe gerakan media pembawanya, sedimen dapat dibagi menjadi:

 endapan arus traksi


 endapan arus pekat (density current) dan
 endapan suspensi.
Arus traksi adalah arus suatu media yang membawa sedimen didasarnya. Pada
umumnya gravitasi lebih berpengaruh dari pada yang lainya seperti angin atau
pasang-surut air laut.
Sedimen yang dihasilkan oleh arus traksi ini umumnya berupa pasir yang
berstruktur silang siur, dengan sifat-sifat:

 pemilahan baik
 tidak mengandung masa dasar
 ada perubahan besar butir mengecil ke atas (fining upward) atau ke bawah
(coarsening upward) tetapi bukan perlapisan bersusun (graded bedding).
Di lain pihak, sistem arus pekat dihasilkan dari kombinasi antara arus traksi
dan suspensi. Sistem arus ini biasanya menghasilkan suatu endapan campuran antara
pasir, lanau, dan lempung dengan jarang-jarang berstruktur silang-siur dan perlapisan
bersusun.
Arus pekat (density) disebabkan karena perbedaan kepekatan (density) media.
Ini bisa disebabkan karena perlapisan panas, turbiditi dan perbedaan kadar garam.
Karena gravitasi, media yang lebih pekat akan bergerak mengalir di bawah media
yang lebih encer. Dalam geologi, aliran arus pekat di dalam cairan dikenal dengan
nama turbiditi. Sedangkan arus yang sama di dalam udara dikenal dengan nuees
ardentes atau wedus gembel, suatu endapan gas yang keluar dari gunungapi. Endapan
dari suspensi pada umumnya berbutir halus seperti lanau dan lempung yang
dihembuskan angin atau endapan lempung pelagik pada laut dalam.
Kenyataan di alam, transport dan pengendapan sedimen tidak hanya dikuasai
oleh mekanisme tertentu saja, misalnya arus traksi saja atau arus pekat saja, tetapi
lebih sering merupakan gabungan berbagai mekanisme. Malahan dalam berbagai hal,
merupakan gabungan antara mekanik dan kimiawi. Beberapa sistem seperti itu dalah:

 sistem arus traksi dan suspensi


 sistem arus turbit dan pekat
 sistem suspensi dan kimiawi.

Pada dasarnya butir-butir sedimen bergerak di dalam media pembawa, baik berupa
cairan maupun udara, dalam 3 cara yang berbeda: menggelundung (rolling),
menggeser (bouncing) dan larutan (suspension)
1. Kasifikasi Transpor Sedimen

Transpor sedimen diklasifikasikan berdasarkan sumber asalnya dan mekanisme


transpornya. Transpor material dasar adalah transor (pergerakan) material yang
ditemukan di dasar sungai.

 Wash load: sedimen yang tidak ditemukan di dasar sungai karena secara
permanen tersuspensi.
 Bed load: sedimen yang secara kontinu berada di dasar sungai,
terangkut secara menggelinding, menggeser, melompat.
 Suspended load: Sedimen yang tersuspensi oleh turbulensi aliran dan
tidak berada di dasar sungai

Berdasarkan mekanisme transpornya sedimen suspense terbagi menjadi dua yaitu


wash load dan bed material transport. Wash load adalah material yang lebih
halus dibandingkan material dasar saluran. Biasanya ukuran butirannya rata-rata
D 50 = 60 mikrometer untuk mudah membedakan antara wash load dan bed
material load. Transport sedimen secara umum dinyatakan sebagai berat /
volume kering per waktu atau bulk volume yang memasukkan angka pori kedalam
volume tetap per unit waktu.Untuk pengukuran ketiga jenis transport sedimen (wash
load, bed load, suspended load) dibutuhkan alat dan metode khusus. Sebelum
mendiskripsikan metode pengambilan dan elaborasi data perlu dipahami perbedaan
ketiga jenis transport sedimen tersebut

a. Bed load
Sedimen dasar adalah transpor dari butiran sedimen secara menggelinding,
menggeser dan melompat yang terjadi di dasar saluran. Secara umum konfigurasi
dari pergerakan sedimen membentuk konfigurasi dasar seperti dunes, ripple,etc.
Banyak formulasi yang telah dikembangkan untuk mendiskripsikan mekanisme
dari sedimen dasar yang dilakukan dengan eksperimen di laboratorium atau pun
dengan memodelkan fenomena tersebut.

b. Suspended load

Sedimen layang (suspensi) adalah transpor butiran dasar yang tersuspensi


oleh gaya gravitasi yang diimbangi gaya angkat yang terjadi pada turbulensi
aliran. Itu berarti butiran dasar terangkat ke atas lebih besar atau kecil tapi
pada akhirnya akan mengendap dan kembali ke dasar sungai. Banyak
persamaan sedimen suspensi yangtelah dikembangkan seperti persamaan
Engelund dan Hansen namun persamaan ini tidak memberikan informasi yang
cukup terkait distribusi konsentrasi dari butiran pada arah vertical, besarnya
konsentrasi (C) ditentukan secara teoritik Dalam banyak kasus pengukuran sedimen
supensi dilakukan di lapangan agar diketahui distribusi konsentrasi arah vertikal
untuk berbagai jenis transport sedimen

c. Wash load

Wash load adalah transpor butiran sedimen yang berukuran kecil dan halus
dibanding dengan sedimen dasar juga sangat jarang ditemukan didasar sungai.
Besarnya wash load banyak ditentukan oleh karakteristik klimatologi dan erosi
dari daerah tangkapan (catchment area). Dalam perhitungan gerusan lokal (local
scouring) wash load tidak begitu penting sehingga diabaikan namun untuk
perhitungan sedimentasi di daerah dengan kecepatan aliran yang rendah seperti:
waduk, pelabuhan, cabangan sungai wash load diperhitungkan.

2. Pegukuran transport sedimen

Banyak alat dan metode untuk pengukuran berbagai jenis sedimen seperti:
sedimen dasar, sedimen suspensi, dan wash load telah dikembangkan, namun tidak
semua alat akan dijelaskan pada bab ini hanya beberapa alat yang secara umum sering
di gunakan untuk pengukuran. Beberapa organisasi dengan pengalaman yang luas di
bidang survey hidrometri secara kontinu mengembangkan alat-alat yang sudah
ada dan mengembangkan penemuan-penemuan alat dan metode baru. Beberapa alat
dan metode untuk pengukuran transpor sedimen.
a. Bed load Transport Meter Arnhem (BTMA)

BTMA adalah alat untuk mengukur sedimen dasar yan berupa pasir dan
kerikil yang berada pada dasar sungai/ saluran. Keuntungan dari alat adalah
mempunyai konstruksi yang kuat, simple juga mudah diperbaiki dan dipelihara.
Kelemahannya adalah karena dimensinya besar dan berat sehingga membutuhkann
penanganan yang lebih. Adapun ilustrasi gambarnya tersaji pada gambar 5.4.
Kecepatan aliran harus lebih kecil atau sama dengan 2,5 m/s. Pengukuran
sedimen dasar dengan BTMA atau HS mempunyai

beberapa asumsi sebagai berikut ;


 Tidak ada sedimen layang yang masuk
 Tinggi dari mulut sampler bersesuaian dengan ketebalan dari lapis dasar
(bedlayer)
 Ukuran butiran antara 60-300 mikrometer diabaikan

Prinsip kerjanya adalah rangka (frame) dimasukkan ke dalam sungai


setelah sampai didasar lalu ditekan pada bagian leaf spring. Bentuk dari
wire mesh sampler menyebabkan tekanan yang rendah di belakang alat
sehingga air dan material dasar terangkut masuk ke dalam mulut penangkap
sedimen (sampler mouth). Butiran sedimen dasar yang kasar dapat ditangkap oleh
wire mesh sampler, BTMA menangkap material yang lebih kasar dari 300
mikrometer (secara teoritik) sedangkan material diantara 60-300 mikrometer
akan lolos. Hal perlu diperhatikan dalam pengukuran di lapangan dengan
BTMA ini adalah pengambilan sampel dilakukan pada sungai yang lurus
(stabil)agar kondisi dasar saluran stabil sehingga memudahkan pengukuran,
kecermatan dalam pengukuran terkait kondisi hidraulik juga perlu perhatikan
(kedalaman, kecepatan aliran, ukuran butiran, kemiringan).

b. Delft Bottle

Botol Delft (Delftsen Fles, D.F) adalah alat untuk mengukur sedimen layang/
suspensi pada sungai. Pengukuran dilakukan mulai dari permukaan sampai 0,5
m diatas dasar sungai, untuk pengukuran dibawah permukaan digunakan alat
bantu kabel sedangkan yang mendekati dasar digunakan rangka (frame).
Interval pengukuran tergantung kebutuhan data semakin banyak semakin baik.
Prinsip kerjanya adalah sedimen layang yang terkandung pada air akan melewati
mulut botol delft, bentuk mulut tersebut menginduksi tekanan rendah di belakang
alat (outlet) sehingga kecepatan air tinggi dan pada akhirnya air dapat masuk
kedalam mulut botol delft. Di bagian dalam botol, kecepatan aliran akan
berkurang dan menyebabkan sedimen mengendap di dalam botol tersebut.
Material yang mengendap diambil kemudian diukur volumenya setelah air
dalam botol delft keluar. Biasanya ukuran butiran sedimen lebih besar dari
50 mikrometer. Botol delft meloloskan sebagian sampel jika 100 % dari butiran
D < 50 mikrometer, sebagian ukuran butirannya 50 < D < 100 mikrometer. Oleh
karena efisiensi dari botol delft adaah fungsi distribusi ukuran butiran material
suspensi. Keuntungannya memepunyai konstruksi yang kuat dan simple juga
mudah untuk dipelihara dan mudah digunakan untuk berbagai kedalaman.

c. Water Sampler

Water sampler digunakan untuk mengukur konsentrasi wash load terdiri


dari botol, rubber stopper, suspension-line, heavy weight meta body. Pengukuran
dilakukan dengan menurunkan water sampler ke dalam sungai dengan kedalaman
yang fix dalam waktu tertentu hingga botol terisi wash load yang cukup, setelah
terisi diangkat lalu ditandai sesuai lokasi pengambilan sampel. Keuntungannya
adalah mempunyai berat yang ringan sehingga memungkinkan untuk dibawa
dengan tangan dan dapat juga digunakan untuk survey pendahuluan.
Kelemahannya adalah posisi water sampler saat pengambilan sampel
mengganggu pola aliran sehingga tidak dapat digunakan untuk mengukur total
sedimen yang terangkut oleh sungai. Wash load terdiri atas butiran yang sangat
halus dan tidak terpengaruh oleh distorsi aliran, hasil pengukuran lalu
dielabaorasi sehingga didapatkan estimasi besarnya transpor wash load. Ada
banyak jenis alat water sampler dua diantara yaitu metal water sampler dan
Perspex water sampler
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
 Lingkungan pengendapan adalah bagian dari permukaan bumi dimana proses
fisik, kimia dan biologi berbeda dengan daerah yang berbatasan dengannya
(Selley, 1988).
 Lingkungan pengendapan dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: Lingkungan
Pengendapan Darat, Lingkungan Pengendapan Transisi, Lingkungan
Pengendapan Laut
 Lingkungan Datar meliputi Desert, glasial, Fluvial, Danau, Rawa, Gua
 Lingkungan Transisi meliputi Delta, Lagun, Litoral
 Lingkungan Laut meliputi Reef, Laut
 Glasial, dalam lingkungan pengendapan glasial akan dibawa serta endapan -
endapan mineral dan bermacam - macam batuan yang dibungkus oleh es.
 Fluvial meliputi Straight, Braided, Anastomosing, Meandering
 Lacustrin atau danau adalah suatu lingkungan tempat berkumpulnya air yang
tidak berhubungan dengan laut.
 Rawa adalah daerah di sekitar sungai atau muara sungai yang cukup besar yang
merupakan tanah lumpur dengan kadar air relative tinggi.
 Lagun adalah suatu kawasan berair dangkal yang masih berhubungan dengan
laut lepas, dibatasi oleh suatu punggungan memanjang (barrier) dan relatif
sejajar dengan pantai. Maka dari itu lagun umumnya tidak luas dan dangkal
dengan energi rendah.
 Kata Delta digunakan pertama kali oleh Filosof Yunani yang bernama
Herodotus pada tahun 490 SM, dalam penelitiannya pada suatu bidang segitiga
yang dibentuk oleh oleh alluvial pada muara Sungai Nil.
 intertidal meliputi daerah dengan level pasang surut rendah sampai tinggi.
Endapannya dapat tersingkap antara satu atau dua kali dalam sehari, tergantung
dari kondisi pasang surut dan angin lokal. Pada daerah ini biasanya tidak
tumbuh vegetasi yang baik, karena adanya aktifitas air laut yang cukup sering
(Boggs, 1995).
 Terumbu atau reef merupakan lingkungan yang unik yang sangat berbeda dari
bagian lingkungan pengendapan lainnya di lingkungan paparan (shelf).
 Sistem pengendapan batuan sedimen mencerminkan arus atau mekanisasi
terbentuknya batuan tersebut, model yang dibentuk oleh beberapa jenis aliran
pada suatu tempat tertentu disebut sebagai model fasies.
DAFTAR PUSTAKA
Selley, R.C. 1988. Applied Sedimentology. Academic Press. San Diego
Komar, P.D. 1976. Beach Processes and Sedimentation. Printice Hall. New Jersey
Kennet, J.P. 1982. Marine Geology. Printice-Hall, Inc. Englewood Cliffs. New Jersey
Boggs, Sam, J. R., 1995, Principles of Sedimentology and Stratigraphy, University of
Oregon, Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey
Nichols, Gary, 1999, Sedimentology and Stratigraphy, Blackwell Publishing,
Kanada.
Leopold, L.B, Wolman, 1960, River Meanders. America.