Anda di halaman 1dari 10

AKUNTABILITAS MANUNTUNGI: MEMAKNAI NILAI KALAMBUSANG

PADA LEMBAGA AMIL ZAKAT KAWASAN ADAT AMMATOA

Ilham Z. Salle

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Makassar, Jl. Borong Raya No. 4 Makassar
Surel: ilhamsalle@yahoo.com

http://dx.doi.org/DOI: 10.18202/jamal.2015.04.6004

Abstrak: Akuntabilitas Manuntungi: Memaknai Nilai Kalambusang


pada Lembaga Amil Zakat Kawasan Adat Ammatoa. Penelitian ini ber-
tujuan memberi pemaknaan terhadap akuntabilitas manuntungi yang
dipahami oleh masyarakat Adat Ammatoa sebagai cerminan perilaku
kehidupan sehari-hari. Melalui pengertian adanya keterkaitan antara
akuntansi dan akuntabilitas akan mampu membawa menuju pemak-
naan akuntabilitas manuntungi. Penelitian ini memakai metode etnografi
yang mengambil Kawasan Adat Ammatoa sebagai situs penelitian. Hasil
penelitian memberi pemaknaan akuntabilitas manuntungi yang menju-
jung tinggi nilai kalambusang (kejujuran) pada Lembaga Amil Zakat di
Kawasan Adat Ammatoa. Selain kalambusang, untuk menuju manun-
Jurnal Akuntansi Multiparadigma tungi harus memenuhi tiga unsur lainnya, yaitu: gattang (ketegasan),
JAMAL sa’bara’ (kesabaran), dan nappiso’na (tawakkal).
Volume 6
Nomor 1
Halaman 1-174 Abstract: Manuntungi Accoutability: Understanding Kalambusang
Malang, April 2015 Value in Zakat Management Organization at Ammatoa Ethnic Re-
ISSN 2086-7603
e-ISSN 2089-5879
gion. This study is aimed to explore the meaning of manuntungi account-
ability that is understood by Ammatoa ethnic community as a reflection in
everday life. An understanding that there is relation between accounting
Tanggal Masuk:
27 Maret 2015 and accountability will lead to the understanding of manuntungi accoun­
Tanggal Revisi: tability. Ethnography was employed in this study that took place in Am-
10 April 2015 matoa Ethnic Region. The result indicate that manuntungi accountability
Tanggal Diterima: consist of kalambusang value (honesty) in zakat management organization
16 April 2015 Ammatoa Ethnic Region. Apart from kalambusang, three other elements
must be fulfilled: gattang (assertive), sa’bara’ (patience), and nappiso’na
(resignation).

Kata Kunci: Akuntansi, Akuntabilitas, Manuntungi, Kalambusang,


Ammatoa.

Tuntutan keterbukaan dalam proses manajemen, karena setiap organisasi memi-


manajemen membutuhkan pola akuntabili- liki keterkaitan dengan pihak internal dan
tas yang dibangun melalui sistem akun- eksternal organisasi.
tansi agar dapat memberikan peluang ter- Pada dekade terakhir ini, perhatian dan
hadap peningkatan penyediaan informasi usaha untuk mengungkap keterkaitan anta-
yang handal, akurat, dan terpercaya. Pola ra akuntansi dan akuntabilitas de­ngan aga-
akuntabilitas yang terbangun berfungsi un- ma mengalami banyak peningkatan, se­perti
tuk meningkatkan tolok ukur kinerja dalam penelitian oleh Lehman (2004), Triyuwono
memberikan pelayanan publik, meningkat- (2004), Quattrone (2004), Kholmi (2010),
kan proses pertanggungjawaban manajerial, dan Randa et al. (2011). Penelitian terse-
dan merupakan unsur pengendalian mana- but fokus pada keterkaitan antara akun-
jemen pada organisasi (Sadjarto 2000, Fikri tansi dan akuntabilitas dengan agama pada
et al. 2010, dan Fikri dan Isnaini 2013). Hal tatanan moral dan etika. Studi-studi terse-
ini menjadi suatu kebutuhan dalam proses but dimotivasi oleh adanya kekhawa­ tiran

28
Salle, Akuntabilitas Manuntungi: Memaknai Nilai Kalambusang pada Lembaga... 29

atas kecenderungan semakin menjauhnya sendiri sebagai realitas absolut dan tertinggi
ilmu akuntansi dari pembahasan agama dan (Bakar 1994).
theism. Modernisasi yang ditandai de­ ngan Dalam konteks metafora amanah
pengabaian terhadap theism oleh Lehman (Triyuwono 2006 dan 2012) secara filoso-
(2004) dianggap sebagai penyebab utama fis, akuntabilitas adalah amanah. Amanah
menjauhnya tautan antara moral dan etika merupakan sesuatu yang dipercayakan
yang bersumber dari ajaran agama dengan kepada orang lain untuk digunakan seba­
praktek akuntansi sebagai alat penjelas uta- gaimana mestinya sesuai dengan keinginan
ma akuntabilitas. yang mengamanahkan. Artinya bahwa pi-
Penelitian tentang akuntabilitas pada hak yang mendapat amanah tidak memiliki
organisasi non bisnis keagamaan telah di- hak penguasaan (pemilikan) mutlak atas apa
lakukan oleh Randa et al. (2011); Siman- yang diamanahkan. Namun, memiliki kewa-
juntak dan Januarsi (2011); dan Hadi dan jiban untuk memelihara amanah tersebut
Yana (2011). Randa et al. (2011) misalnya, dengan baik dan memanfaatkannya sesuai
yang meneliti tentang akuntabilitas NGO ke- dengan yang dikehendaki oleh pemberi ama-
agamaan dalam sebuah gereja menemukan nah. Triyuwono (2012) mengatakan bahwa
bahwa akuntabilitas gereja berbeda dengan terdapat tiga bagian penting yang harus di-
akuntabilitas NGO non keagamaan. Peneli- perhatikan dalam metafora amanah, yaitu
tian tentang pengelolaan zakat juga meru- pemberi amanah, penerima amanah, dan
pakan salah satu NGO (Wahid et al. 2009, amanah itu sendiri. Pemberi amanah, dalam
Wahid dan Kader 2010, Hadi dan Yana 2011, hal ini, adalah Allah SWT, Tuhan Sang Pen-
dan Huda dan Sawarjuwono 2014) yang ter- cipta Alam Semesta, Tuhan yang mencip-
masuk dalam kriteria isu akuntabilitas. takan manusia sebagai Khalifatullah fil-Ar-
Beberapa penelitian tentang akuntabi­ dh (wakilNya di bumi), seperti difirmankan
litas pada organisasi non bisnis keagamaan dalam Al-Qur’an yang artinya:
di atas mencoba memahami praktik akun-
Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman
tansi dan akuntabilitas. Pada dasarnya
kepada Malaikat: “Sesungguhnya
manajemen sebatas menggunakan instru-
Aku hendak menjadikan seorang
men akuntabilitas horizontal (stakeholders
khalifah di muka bumi”. (QS. Al-
dan alam), sedangkan akuntabilitas vertikal
Baqarah [2]: 30). Dan pada surat
(Tuhan) yang menjadi premis utama (Triyu-
lain Allah berfirman bahwa:
wono 2006 dan 2012) dalam akuntabilitas
Dia-lah yang menjadikan kamu
masih belum sepenuhnya digunakan. Dalam
khalifah-khalifah di muka bumi
kajian penelitian ini, laporan keuangan ha­
(QS. Al-Fathir [35]: 39).
nya terbatas sebagai media akuntabilitas.
Laporan keuangan sebenarnya merupakan Kata khalifah di atas memberikan
suatu media dalam bentuk fisik yang meng­ pemahaman bahwa seseorang yang telah di-
hubungkan manusia (agent, organisasi) angkat sebagai khalifah, dituntut menjalan­
dengan principal (Triyuwono dan Roekhudin kan tugas yang diamanahkan kepadanya dan
2000). Artinya hubungan agent dan prin- menjalankannya sesuai dengan apa yang di-
cipal tidak terbatas pada hubungan fisik inginkan oleh Pengutusnya. Penelitian ini
saja, tetapi juga hubungan secara moral dan bertujuan menemukan makna akuntabilitas
spiritual. manuntungi pada Lembaga Amil Zakat yang
Perlu dipahami bahwa manusia makh- berbasis nilai-nilai kearifan lokal masyara-
luk yang aktif dan bertanggung jawab (Tri- kat Ammatoa.
yuwono 2012). Artinya, bahwa di satu sisi
manusia itu bebas untuk berkreasi, namun METODE
pada sisi yang lain dibatasi oleh tanggung Salah satu metode yang digunakan
jawabnya, yaitu tanggung jawab untuk sela- dalam paradigma interpretif adalah metode
lu tunduk pada nilai-nilai etika syariah. Nilai etnografi. Menurut Spradley (1997), metode
etika syariah ini terrefleksi dalam metodolo- etnografi merupakan metode yang tepat un-
gi penelitian menurut tradisi Islam. Dalam tuk memahami suatu pandangan hidup dari
tradisi Islam, dipahami bahwa realitas ke- sudut pandang penduduk asli, hubung­annya
hidupan menusia sebetulnya tidak terbatas dengan kehidupan, dan untuk mendapatkan
pada realitas materi, tetapi juga mencakup padangan mengenai dunia­nya. Etnografi
realitas yang lebih tinggi, yaitu realitas psi- merupakan embrio dari antropologi yang
kis, spiritual, sifat Tuhan, dan Tuhan itu pada tahap pertama perkem­bangannya pada
30 Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 6, Nomor 1, April 2015, Hlm. 28-37

tahun 1800-an. Dalam perspektif keilmuan, di Indonesia. Triyuwono (2006) dalam pene-
etnografi merupakan suatu pendekatan litiannya menggunakan metode penelitian
dalam metode penelitian yang bertujuan un- extended symbolic interaction dengan mema-
tuk meneliti suatu objek yang berhubungan sukkan unsur-unsur kearifan lokal. Sedang-
dengan kebudayaan suatu komunitas atau kan Ludigdo dan Kamayanti (2012) melaku-
masyarakat sosial dengan cara mendeskrip- kan kajian etika akuntan berbasis Pancasila
sikan cara mereka berpikir, hidup, ber- dengan menempatkan Pancasila yang sarat
perilaku, dan semacamnya se­ bagaimana dengan pokok-pokok etika kehidupan ber-
adanya (Muhajir 2007). Senada dengan negara dan bermasyarakat sebagai pembe-
pendapat Muhajir, Spradley (1997) me- bas etika akuntan Indonesia dari hegemoni
nyatakan bahwa etnografi merupakan akti- nilai-nilai barat yang diwujudkan dalam
fitas mendeskripsikan suatu kebuda­yaan di standar-standar Internasional.
mana tujuan utamanya adalah memahami Menurut perkembangannya, ada tiga
suatu pandangan hidup dari sudut pandang tahap penelitian etnografi (Spradley 1997)
penduduk asli. yaitu etnografi awal, etnografi modern, dan
Penelitian etnografi digunakan dalam etnografi baru/antropologi kognitif/ethnosci-
mengeksplorasi dan mendeskripsikan ke- ence. Etnografi awal, dimulai pada masa awal
hidupan akuntansi di tengah-tengah inter- perkembangannya yaitu sebelum abad ke-
aksi sosial kemasyarakatan. Penelitian etno- 19 di mana teknik etnografi yang dilakukan
grafi bukan sekedar mengamati tingkah laku bertujuan untuk mendapat gambaran masa
manusia, tetapi juga memaknai tingkah laku lalu suatu masyarakat. Etnografi mo­dern,
tersebut yang dapat dibingkai dalam ke- muncul pada tahun 1915-1925 yang dipelo-
hidupan keilmuan akuntansi (Sukoharsono pori oleh dua ahli antropologi sosial Ing­gris,
2009). yaitu A.R. Radcliffe-Brown dan Broni­ slaw
Pemaknaan konsep akuntabilitas dalam Malinowski. Ciri penting yang membedakan-
penelitian ini menekankan pada kea­rifan lo- nya dengan etnografi awal adalah pada et-
kal, yaitu pemaknaan atas dasar nilai-nilai nografi modern tidak hanya melihat sejarah
spiritual/budaya yang terdapat pada Ka- kebudayaan suatu kelompok masyarakat
wasan Adat Ammatoa Kajang. Metode pene- sja, akan tetapi juga tentang way of life ma-
litian dengan menggunakan keafiran lokal syarakat tersebut. Sedangkan etnografi baru
juga didukung oleh pendapat beberapa ahli. memusatkan usahanya untuk menemukan
Budiman (1984) mengatakan bahwa perlu- bagaimana masyarakat mengorganisasi-
nya menggali unsur-unsur pemikiran filsafat kan budaya mereka dalam pikiran mereka
ilmu sosial dan metode penelitian yang di- dan menggunakan budaya tersebut dalam
lahirkan dari ideologi/kearifan lokal bangsa kehidupan.
Indonesia karena paham filsafat ilmu sosial Berdasarkan eksplanasi di atas, maka
yang mayoritas berasal dari Barat belum penelitian ini menggunakan metode etno-
tentu sesuai dengan keadaan masyarakat grafi baru Spradley. Lokasi penelitian yang
Salle, Akuntabilitas Manuntungi: Memaknai Nilai Kalambusang pada Lembaga... 31

dijadikan tempat meneliti adalah Lembaga 4. Wawancara terpimpin, peneliti me­


Amil Zakat yang berada di Kawasan Adat nyiapkan materi wawancara dengan
Ammatoa Kecamatan Kajang Kabupaten Bu- baik untuk mengetahui pemahaman
lukumba.Daerah ini dijadikan sebagai situs konsep akuntabilitas, baik pada masa
penelitian, karena masyarakatnya masih lalu maupun masa kini.
memegang teguh nilai-nilai luhurnya yang 5. Mencatat pembicaraan-pembicaraan
terdapat dalam Pasang. para informan secara tepat (text record-
Teknik pengumpulan data dalam pene- ing). Peneliti mencatat (untuk informan
litian ini, menggunakan teknik pengumpul­ yang berada di dalam kawasan adat)
an data etnografi menurut Koentjoroningrat pembicaraan dan merekam dengan alat
(1961:123-125), yaitu: perekam suara (untuk informan yang
1. Pengamatan, yaitu teknik pengumpul­ berada di luar kawasan) dan kamera
an data di mana peneliti melakukan
untuk mendukung kredibilitas data,
pengamatan pada masyarakat yang
sehingga data dapat dianalisis dengan
menjadi objeknya, terdiri atas penga-
baik.
matan (observasi) dan observasi partisi-
patif. Dalam hal ini peneliti melakukan
survey pendahuluan untuk mengeta- HASIL DAN PEMBAHASAN
hui waktu dan tempat pelaksanaan Kajang merupakan salah satu keca-
pembayaran zakat. matan yang terdapat di Kabupaten Bulu-
2. Pengamatan dengan membaur dengan kumba Provinsi Sulawesi Selatan. Letaknya
masyarakat Ammatoa, baik yang be- kurang lebih 30 km sebelah timur Kota Bu-
rada di dalam kawasan adat maupun lukumba. Kecamatan Kajang, di dalamnya
yang berada di luar kawasan adat. De­ terdapat sebuah komunitas suku, mereka
ngan berbaur dengan masyarakat se- hidup berkelompok dan bernaung dalam
tempat, peneliti dapat memahami pola sebuah kawasan adat. Komunitas suku ini
pikir mereka dalam memaknai konsep sekarang lebih dikenal dengan Masyarakat
akuntabilitas yang beradasarkan Pa­ Ammatoa. Sejak berabad-abad yang lampau
sang. hingga sekarang ini, mereka menjauhkan
3. Wawancara merdeka-bebas. Pada ta- diri dari segala sesuatu yang berhubungan
hap ini, peneliti melakukan wawan- de­ngan hal-hal modernisasi. Secara turun-
cara yang belum terstruktur dan masih temurun adat tradisi yang diwarisi dari le-
bersifat acak pada masyarakat Amma- luhur mereka, tetap dipertahankan dan
toa. tetap eksis di tengah arus modernisasi seka-
32 Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 6, Nomor 1, April 2015, Hlm. 28-37

rang ini, tercermin dari kebiasaan-kebiasaan hingga menjadi tradisi di kawasan adat Am-
mereka. matoa hingga saat ini.
Dalam kawasan adat, pakaian men- Masyarakat luar yang mengenal ma-
jadi ciri khas tersendiri. Masyarakatnya syarakat Ammatoa, cenderung mengang-
memakai pakaian serba hitam dan tidak gap mereka sebagai sebuah fenomena sosial
memakai pengalas kaki serta bagi laki-laki yang misterius, konservatif, dan mistis (Hij-
yang sudah berkeluarga atau sudah me- jang 2005).Hal ini didasarkan pada kenyata-
miliki ciri seorang pemimpin, maka sudah an dalam perilaku yang eksklusif dan sikap
pantas memakai passapu’ (pengikat kepala, menutup diri terhadap hal-hal yang berbau
mahkota) seperti yang terlihat pada Gam- modern.
bar 1. Inilah salah satu tradisi yang tetap Mata pencaharian masyarakat Ka-
terpelihara secara turun temurun. Hitam wasan Adat Ammatoa Suku Kajang adalah
merupakan sebuah warna adat yang kental mayoritas petani, berladang, beternak dan
akan kesakralan dan bila kita memasuki ka- berdagang. Hasil-hasil panennya dibawa ke-
wasan tersebut, pakaian kita harus berwar- luar, diperdagangkan di pasar-pasar tradi­
na hitam. Warna hitam mempunyai makna sional. Seiring dengan berjalannya waktu
bagi mayarakat adat yaitu sebagai simbol dan berkembangnya  zaman, sudah ada ma-
syarakatnya yang jadi pegawai dan bahkan
kesederhanaan dan kesamaan dalam ben-
ada yang terjun di pemerintahan. Namun
tuk wujud lahir serta peringatan akan ada­
mereka masih tetap menjunjung tinggi adat
nya kematian atau sisi gelap. Warna hitam
tradisi nenek moyangnya.
menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat
Mata pencaharian tambahan ma-
bagi setiap orang di depan sang Pencipta.
syarakat Ammatoa, terutama setelah sele-
Sejak dahulu hingga sekarang, mereka tetap
sai bekerja di sawah adalah membuat gula
hidup dan bertahan dengan cara hidup yang merah (gula aren) yang terbuat dari air nira.
tradisional dan kamase-masea (bersahaja) Pekerjaan menjadi buruh bangunan (biasa­
(Usop 1978; Salle 1999; dan Hijjang 2005). nya dilakukan di luar kawasan adat karena
Mereka meyakini bahwa, hidup dengan cara tidak ada rumah batu, semuanya terbuat
seperti ini yang pernah dilakukan dan dipe- dari kayu/bambu). Sedangkan yang berda-
sankan oleh boheta (leluhur) mereka untuk gang di pasar-pasar tradisional (pasar kecil)
dilaksanakan oleh generasi penerusnya, se- kebanyakan dilakukan oleh kaum wanita.
Salle, Akuntabilitas Manuntungi: Memaknai Nilai Kalambusang pada Lembaga... 33

Pasang Ri Kajang. Secara harfiah, Pa- pengetahuan kepada masyarakat mengenai


sang mengandung arti sebagai pesan. Akan hakekat dari hidup dan kehidupan, baik
tetapi, pemahaman masyarakat Ammatoa, di dunia maupun di akhirat kelak (Hijjang
pasang bermakna lebih sekedar sebuah 2005). Oleh karena itu, pasang mencakup
pesan. Ia lebih merupakan sebuah amanah hal-hal mengenai cara hidup dalam ber-
yang sifatnya sakral. Secara tidak langsung,  masyarakat dan berbudaya. Pasang, selain
pasang  dapat dikatakan sebagai kalimat- mengandung makna amanah juga sebagai
kalimat atau ungkapan-ungkapan suci yang fatwa, nasihat, tuntunan, peringatan, dan
berisi pesan-pesan lisan dan disampaikan pengingat bagi masyarakat Ammatoa.
dari mulut ke mulut (bukan secara tertu- Hijjang (2005) menjelaskan lebih lanjut
lis). Pasang merupakan pencerahan atau bahwa Pasang ri Kajang merupakan keselu-
penuntun hidup bagi masyarakat  Ammatoa. ruhan pengetahuan mengenai aspek-aspek
Pasang menyimpan pesan-pesan luhur kehidupan, baik yang bersifat kepentingan
yang bermakna bahwa penduduk Tana Toa duniawi, maupun yang bersifat ukhrawi, ter-
harus senantiasa ingat kepada Tuhan.Bagi masuk juga di dalamnya mengenai mitos, le­
masyarakat Ammatoa, memupuk rasa keke- genda, dan silsilah. Bagi masyarakat Amma-
luargaan dan saling memuliakan, menjadi toa, pasang merupakan sistem pengetahuan
suatu keharusan bagi mereka untuk ber- yang tidak hanya mendapat pengakuan dari
tindak tegas, sabar, dan tawakal. Pasang masyarakatnya, tetapi juga pengakuan dari
juga mengajak untuk taat pada aturan, masyarakat luar. Dalam beberapa pasang,
dan melaksanakan semua aturan sebaik- terutama yang menyangkut sejarah, terlihat
baiknya. Isi pasang  ada kaitannya de­ ngan adanya penyesuaian dengan informasi yang
hubungan manusia dengan Tuhannya, berkembang di luar kawasan seperti yang
hubungan manusia dengan manusia, dan terdapat dalam Lontara’ (catatan sejarah) di
hubungan manusia dengan makhluk lain- Gowa dan kitta’ (kitab) di Luwu pada zaman
nya (alam). Selain itu,  isi pasang bercerita kerajaan. Kerajaan yang dimaksud adalah
tentang masa lampau, masa sekarang dan beberapa kerajaan besar yang pernah ada
masa yang akan datang. Pasang juga meru- di daerah Sulawesi Selatan, seperti kerajaan
pakan sebuah pesan-pesan moral atau Gowa, Luwu, dan Bone.
keba­ jikan dan hakikat-hakikat kebenaran. Peristiwa sejarah yang terjadi di Kajang
Terkait dengan pembahasan dalam pene- menjadi bagian dari perbandaharaan catatan
litian ini, manusia sebagai khalifah harus sejarah (Lontara’) di kerajaan-kerajaan terse-
mempertanggungjawabkan amanah yang di- but, sehingga lahir suatu ungkapan:
berikan oleh pemberi amanah. Pemahaman
Lontara’ ri Gowa, kitta’ ri Luhu, na
ini diperkuat oleh pendapat Triyuwono (2006
Pasang ri kajang, arennaji nattu-
dan 2012) yang memetaforakan akuntabili-
anna hata’bage, naiya ri tujuanna
tas sebagai suatu amanah.
se’re tujuang. (Catatan sejarah di
Usop (1978) menjelaskan bahwa, ke-
Gowa, Kitab di Luwu, dan pasang
beradaan pasang yang bersifat wajib untuk
di Kajang, namanya saja yang ber-
dituruti menjadikan nilainya sama dengan
beda, tetapi pada dasarnya sama
wahyu dan atau sunnah dalam agama-aga-
dan satu tujuannya) (Hijjang
ma samawi. Setiap pelanggaran terhadap
2005: 257).
pasang akan berakibat buruk bagi yang ber-
sangkutan tidak hanya di dunia berupa pe­ Ungkapan tersebut dapat dimaknai
ngucilan dan atau terkena penyakit tertentu, bahwa pasang merupakan suatu sistem
tetapi juga akan menerima sanksi di akhi- pengetahuan yang walaupun bersifat statis,
rat nantinya berupa hilangnya kesempatan juga mengandung hal-hal yang bersifat di­
untuk berkumpul bersama boheta (leluhur) namis. Isi pasang yang bersifat statis seperti
dalam suasana yang damai dan sejahtera. yang dinukil oleh Usop (1978):
Dalam hal tertentu, roh yang bersangkutan
Pasanga ri Kajang anre’ na’kulle
tidak diterima oleh Tuhan dan harus menjel-
nitambai, anre’ to na’kulle ni-
ma menjadi makhluk/hewan tertentu yang
kurangi (Pasang di Kajang tidak
perilakunya sama dengan perilaku yang ber-
boleh ditambah dan juga tidak
sangkutan di masa hidupnya.
boleh dikurangi).
Pasang sebagai informasi dari boheta
(leluhur), yang diturunkan secara lisan dari Sedangkan kesan dinamis dalam pa­sang
generasi ke generasi (oral tradition), memberi adalah:
34 Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 6, Nomor 1, April 2015, Hlm. 28-37

Manna kodi pasang tonji, punna TRA yang menentukan diterima


baji’ la’bi-la’bi baji’na, mingka nu- tidaknya do’a kita. Kita akan
kodia nipa’pasangngi jako gau- “bertemu” bila melaksanakan
kangi (Meskipun buruk ia tetap perintahNya.
pasang, dan bila baik lebih-le­ Pasang yang berisi tentang dunia ha­
bihkanlah, tetapi bila buruk, di- nya sebagai suatu persinggahan dan tidak
pesankan jangan dikerjakan) (Am- kekal.Ammatoa (Puto Palasa) lebih lanjut
matoa: Puto Cacong. Puto Cacong menjelaskan bahwa:
adalah Ammatoa terdahulu se-
belum Ammatoa yang sekarang Anne linoa pammari-marianji,
menjabat, Puto Cacong adalah allo riboko pammantangngang
Amma (bapak) dari Puto Palasa ka­ra’kang.
(pejabat Ammatoa sekarang).
Artinya: Hidup di dunia ini hanya
Pasang tersebut di”amin”kan oleh Puto bersifat sementara, hidup yang
Palasa (Ammatoa: 64 tahun) dan menjelas- kekal adalah di hari kemudian
kan lebih lanjut bahwa bila seseorang per- (akhirat).
buatannya “baik” (sesuai dengan format Setiap orang berusaha untuk ber-
adat istiadat Ammatoa) dari boheta, maka serah diri kepada kehendak TRA (Kajang:
perbuat­ an itu dapat menjadi pasang dan ammanyu’-manyuki mange ri TRA) guna
termasuk ke dalam pasang yang harus mempersiapkan hidupnya yang lebih kekal
diteruskan. di akhirat nanti. Selanjutnya dalam pasang
Pasang ri Kajang, dapat kita lihat dikatakan pula oleh Puto Masaninga bahwa:
dalam wujud yang bersifat ideal dari kebu-
dayaan Ammatoa, antara lain yang dinukil Appa’ battu ri amma: rara, assi,
oleh Usop (1978): Pasang yang berisi tentang gaha-gaha na ota’. Appa’ battu ri
kewajiban untuk percaya dan berserah diri, anrong: bulu-bulu, bukkule, kanu-
semata-mata hanya kepada Tau Rie’ A’ra’na. ku, buku. Lima battu ri Panjarita:
Menurut kepercayaan masyarakat Ammatoa mata, toli, ka’muru, baba’, nyaha.
adalah husung (kualat, durhaka) dan kasi- Artinya: Ada empat dari ayah: da-
palli (pemali, tabu, pantang) untuk menyebut rah, daging, urat, dan otak. Em-
“Tuhan” dan nabi-nabi secara langsung. Se- pat dari ibu: bulu, kulit, kuku,
hingga Tuhan mereka sebut dengan Tau Rie’ dan tulang. Dan ada lima dari
A’ra’na yang disingkat TRA (yang berkehen- Sang Pencipta: mata, telinga, hi­
dak atau yang menentukan). Nabi Adam AS dung, mulut, dan nyawa.
disebut Mula Taua (manusia pertama) dan
Nabi Muhammad SAW disebut Sampe Sinon- Untuk dapat melaksanakan yang baik itu,
to’ (saling bersentuhan keras, karena pada manusia diberi (hati) kalbu, karena asal
saat piring-piring saling bersentuhan keras, yang manis dan pahit adalah kebaikan yang
orang terkejut dan mengucapkan namanya) juga berasal dari hati.
atau Tau Kamaseang (orang yang dikasihi, Beberapa pasang yang sudah diurai-
diberkati oleh Tuhan) (Usop 1978:122). Am- kan memberikan pemahaman bahwa me­
matoa (Puto Palasa) menuturkan bahwa: reka (masyarakat Ammatoa) mengenal kon-
sep ketuhanan yang bersifat monoteis, dan
TRA, ammantangi ri pa’ngara­ manusia akan merasa lebih dekat dengan
kanna, anre’ nisei rie’ne anre’na TRA apabila yang bersangkutan berakhlak
TRA nakiappala’ doang. Padato’ji mulia yakni dengan melaksanakan segala
pole nitarimana pangnganrota perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-
iya toje’na, gitte maki’anjo punna Nya. Salah satu perintah-Nya yang menjadi
nigaukangi passuroanna nanili­ tujuan hidup masyarakat Ammatoa adalah
liang pappisangkana. menjadi manusia yang Patuntung dan
Manuntungi.
Artinya: Tuhan akan berbuat Akuntabilitas Manuntungi: men­
dan melakukan sesuatu atas junjung tinggi nilai kalambusang. Setiap
kehendak­Nya. Tidak diketahui di anggota masyarakat Ammatoa berlomba-
mana adaNya dan tidak adaNya, lomba untuk mencapai derajat Manuntungi
kita hanya dapat berdo’a, tetapi (keshalehan). Manuntungi dipahami se­bagai
kualitas hidup dari masyarakat Amma-
Salle, Akuntabilitas Manuntungi: Memaknai Nilai Kalambusang pada Lembaga... 35

toa yang tercermin dari sikap dan perilaku tas berikutnya adalah jujur dalam proses
hidupnya yang jujur, tegas, sabar, dan akuntabilitas. Seperti apa yang disam­paikan
tawakkal dalam menjalani hidup yang ka- oleh Puang Masong:
mase-masea (bersahaja/sederhana), seperti
Dalam penerimaan zakat dan pe-
yang disampaikan oleh Puto Palasa dalam nyalurannya, saya menulisnya
pasang, bahwa: dikertas pak... (sambil memper-
Patuntung manuntungi, manun- lihatkan beberapa lembar ker-
tungi kalambusanna na kamase- tas yang berisikan nama-nama
maseanna, lambusu’, gattang, pembayar zakat). Tapi yang pal-
sa’bara’ nappiso’na. ing penting itu pak...bagaimana
caranya zakat itu bisa diterima
Artinya: Manusia yang telah sama orang yang berhak meneri-
menghayati dan melaksanakan manya. Tidak sambarang (asal) di-
apa yang dituntutnya di kawasan berikan sama orang miskin, yang
adat, yakni yang menuntut keju- penting itu pak... adaki namanya
jurannya dan kebersahajaannya, di daftar. Yang penting lagi untuk
jujur, tegas, sabar, dan tawakkal. masyarakat itu pak...zakatnya
diterima dengan baik (dido’akan).
Kalambusang (kejujuran) merupakan
Senada dengan penyampaian Puang
nilai yang utama dalam mencapai derajat
Masong, pak Sannongi menjelaskan bahwa:
manuntungi, (Hijjang 2005:258) sifat ju-
jur (lambusu’) sangat dituntut pada setiap Kita itu pak...yang penting,
pimpinan pemerintahan, ketegasan (gattang) itu zakatka yang kita bayar-
pada setiap pemangku adat, kesabaran (sab- kan dido’akan sama pung imang
bara’) pada setiap penghulu agama, dan ke­ (pak Imam Dusun) dan sampaiji,
tawakkalan (nappiso’na) pada seorang tabib. diterimaji sama Pung Allataala (Al-
Keempat nilai tersebut kemudian melemba- lah SWT).
ga dan disebut appa’ pa’gentunna tanaya na Apa yang disampaikan oleh Puang Ma-
pattungkulu’na langi’ (empat penggantung song dan pak Sannongi, memberikan pema-
bumi dan empat penopang langit). Jumarlin haman, bahwa ada hal penting dalam proses
seorang tokoh agama di Desa Tana Toa Ka- akuntabilitas, yaitu menyampaikan zakat
jang menjelaskan bahwa: yang diamanahkan oleh muzakki (pembayar
zakat) kepada mustahiq (penerima zakat)
Seorang imam dusun ato (atau)
yang terdapat dalam 8 golongan penerima
imam desa, dia itu harus betul-
zakat.
betul siap memikul tanggung
Al-Mishri (2008) dan Alimuddin (2011)
jawab yang diberikan sama dia,
menjelaskan bahwa ada tiga nilai keju-
kasara’na mesti na lambusi nia’na
juran yang dapat diterapkan agar bisa ber-
ilalang atinna.
hasil dalam menjalankan amanah, yaitu
kejujuran berniat, kejujuran lahiriah, serta
Artinya: Secara garis besarnya dia
kejujuran batiniah. Makna kejujuran la­­hir­
harus jujur berniat dalam hati).

ah menurut al-Mishri adalah setiap orang
Nasaba’ punna sala-salangi ba­
harus menjaga perkataannya kecuali de­
tena anjama, ia tonji anggappai ngan jujur dan benar. Alimuddin (2011) juga
sarenna... (sambil menunjuk ke mengemukakan bahwa kejujuran lahiriah
atas) (karena kalau tidak melak- merupakan jenis kejujuran yang paling po­
sanakan dengan baik, maka dia puler dan paling jelas. Menurut pandangan
sendiri yang akan menanggung Fuller (1994), kejujuran bathiniah adalah
akibatnya). kejujuran antara perbuatan dengan bathin
Penjelasan Jumarlin dapat dipahami sehingga terjalinnya kesatuan antara kem-
bahwa, seseorang yang diberi amanah harus auan hati (perencanaan) dengan perbuatan.
jujur dalam berniat, bukan memaksakan ke- Sumber kejujuran yang paling pertama di-
hendak untuk menerima suatu amanah yang rasakan oleh lawan bicara adalah kejujuran
sebenarnya tidak disanggupi. Kejujuran (ka- dalam bertutur kata dan ini pulalah yang
lambusang) dalam berniat ini merupakan dapat dibuktikan secara lahiriah dengan
tahap awal dalam akuntabilitas. Kejujuran tingkah laku atau pemenuhan atas janji
yang dibutuhkan dalam tahap akuntabili- yang terungkap.Dijelaskan pula, bahwa Ses-
36 Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 6, Nomor 1, April 2015, Hlm. 28-37

ungguhnya manusia diciptakan di muka Dan orang-orang yang beriman


bumi ini hanyalah untuk mengabdi kepa- berkata: “Mengapa tiada ditu-
da Allah SWT, sesuai yang tertuang dalam runkan suatu surat?” Maka apa-
Qur’an Surat Adz-Dzaariyaat [51]: 56, yang bila diturunkan suatu surat yang
artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan jelas maksudnya dan disebutkan
manusia melainkan supaya mereka mengab- di dalamnya (perintah) perang,
di kepada-Ku.”Pengabdian ini bukan kepada kamu lihat orang-orang yang ada
atasan yang kemudian diperbudak dengan penyakit di dalamnya hatinya me-
keinginan untuk mendapatkan harta yang mandang kepadamu seperti pan-
banyak.Oleh karena itu segala yang diren- dangan orang yang pingsan kare-
canakan atau diniatkan hanyalah tertuju na takut mati, dan celakalah bagi
kepada-Nya. Niat merupakan komitmen mereka.
seorang hamba kepada Allah SWT untuk
melaksanakan sesuatu sesuai dengan apa
DAFTAR RUJUKAN
yang telah dicita-citakan.
Al Qur’anul Karim
Kejujuran merupakan motivator dan
Abdul-Baqi, M.F. 2010. Kumpulan Hadits
dambaan (Alimuddin 2011) yang abadi
Shahih Bukhari Muslim. Penerbit Insan
dalam budi pekerti dan perilaku seorang Kamil. Solo.
muslim; sebagai salah satu sarana untuk Alimuddin. 2011. Konsep Harga Jual Mash-
memperbaiki amalnya, menghapus dosa- lahah Berbasis Nilai-Nilai Islam. Diser-
dosanya, dan sarana untuk dapat masuk tasi tidak dipublikasi.Program Doktor
ke surga (Dawwabah 2008:58). Kejujuran Ilmu Akuntansi Pascasarjana Fakultas
dalam Islam bukan hanya kebutuhan pelaku Ekonomi dan Bisnis. Universitas Brawi-
kejujuran, akan tetapi lebih dari itu. Keju- jaya. Malang.
juran dilandasi keinginan agar orang lain Al-Mishri, M. 2008.Hiduplah Bersama Orang-
mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan Orang Jujur, Langkah Mudah Menikma-
(Qardhawi 2004:178). Seorang khalifah (pe- ti Hidup Penuh Berkah. Pustaka Arafah.
mimpin muslim) tidak hanya memikirkan Solo.
dirinya sendiri dengan meraih keuntungan Bakar, O. 1994. Tauhid dan Sains: Esai-esai
setinggi-tingginya tetapi mengorbankan tentang Sejarah dan Filsafat Sains Is-
orang lain, tidak kalah pentingnya jika beru- lam (Tauhid and Science: Essays on the
saha berbuat baik pada orang lain. Dengan History and Philosophy of Islamic Sci-
demikian akan mendapatkan balasan yang ence). Pustaka Hidayah. Jakarta.
lebih baik di masa yang akan datang. Seb- Budiman, A. 1984. Ilmu Sosial di Indone-
agaimana Rasulullah bersabda “Agama itu sia; Perlunya Pendekatan Struktural.
kesetiaan (kejujuran) terhadap Allah, Ra- PLP2M. Yogyakarta.
sul, kitab, pemimpin-pemimpin muslim, dan Dawwabah, A.M. 2008. Meneladani Keung-
rakyat (HR Muslim). gulan Bisnis Rasulullah; Membumikan
Dalam pandangan Islam, kedudukan Kembali Semangat Etika Bisnis Rasu-
orang yang jujur adalah dekat dengan Allah lullah. Diterjemahkan oleh Imam GM.
dan berada pada tingkatan kedua setelah PT Pustaka Rizki Putra. Semarang.
derajat para nabi. Sebagaimana dalam Fikri, A., M. Sudarma, E.G. Sukoharso-
al-Qur’an Surat an-Nisaa’ ayat 69 Allah no, dan B. Purnomosidi. 2010. Studi
berfirman: Fenomenologi Akuntabilitas Non Gov-
ernment Organization. Jurnal Akuntansi
Dan barangsiapa yang mentaa-
Multiparadigma. Vol. 1, No. 3, Desem-
ti Allah dan RasulNya, mereka
ber 2010. hlm. 409-420.
itu akan bersama-sama dengan
Fikri, A., dan Z. Isnaini. 2013. Akuntabilitas
orang-orang yang dianugerahi Non Government Organization. Jurnal Il-
nikmat oleh Allah, yaitu: para miah Akuntansi dan Humanika. Vol. 2,
Nabi, shiddiiqiin orang-orang yang No. 2. Juni 2013, hlm. 705-714.
mati syahid, dan orang-orang Hadi, D. A. dan Y.A. Anna. 2011. Hubungan
shaleh. Dan mereka itulah teman Orientasi Pengurus LAZ terhadap Nilai
yang sebaik-baiknya. Sosial Ekonomi: Pemanfaatan Zakat
dan dalam al-Qur’an Surat Muhammad ayat Dengan Kebijakan Pimpinan, Jurnal
20 Allah berfirman: Ekonomi dan Keuangan Islam. Volume
I No.1, Januari 2011: 39 – 60
Salle, Akuntabilitas Manuntungi: Memaknai Nilai Kalambusang pada Lembaga... 37

Hijjang, P. 2005. Pasang dan Kepemimpinan Simanjuntak, A. D. dan Y. Januarsi. 2011.


Ammatoa: Memahami Kembali Sistem Akuntabilitas dan Pengelolaan Keuan-
Kepemimpinan Tradisional Masyarakat gan di Masjid, Simposium Nasional
Adat dalam Pengelolaan Sumberdaya Akuntansi XIV. Aceh
Hutan di Kajang Sulawesi Selatan. Jur- Sukoharsono, E.G. 2006. Alternatif Riset
nal Antropologi Indonesia. Kualitatif Sains Akuntansi: Biografi,
Huda, N. dan T. Sawarjuwono. 2014. Akun­ Phenomenologi, Grounded Theory, Crit-
tabilitas Pengelolaan Zakat melalui ical Ethnografi, dan Case study. Materi
Pendekatan Modifikasi Action Re- Pelatihan Metodologi Penelitian Program
search, Jurnal Akuntansi Multiparadig- A.3. Jurusan Akuntansi Fakultas Eko-
ma. Vol. 4, No. 3, Desember 2014, hlm. nomi Universitas Brawijaya.
376-388. Spradley, J.P. 1997. Metode Etnografi, (Alih
Koentjoroningrat. 1989. Manusia dan Kebu- bahasa M.Z. Elizabeth). Tiara Wacana.
dayaan Indonesia. PT. Gramedia, Ja- Yogyakarta.
karta. Triyuwono, I. dan Roekhudin. 2000. Kon-
Lehman, G., 2004. Accounting, Account- sistensi Praktik Sistem Pengendalian
ability And religion: Charles Taylor’s Intern dan Akuntabilitas Pada Lazis
Catholic Modernity And The Malaise (Studi kasus di Lazis X Jakarta). Jur-
of A Dsenchanted World, Accepted for nal Penelitian Akuntansi Indonesia,Vol.
Presentation at the Fourth Asia pasific 3 No. 2.
Interdisciplinary Research in Accounting Triyuwono, I. 2006. Akuntansi Syariah,
Conference 4 to 6 July 2004 Singapore. Persfektif, Methodologi dan Teori. Raja
Ludigdo, U. dan A. Kamayanti. 2012. Pan- Grafindo Persada, Jakarta.
casila as Accountant Ethics Imperial- Triyuwono, I. 2012. Perspektif, Metodologi
ism Liberator, World Journal of Social dan teori Akuntansi Syari’ah. Edisi Ke­
Sciences, Vol. 2, No. 6, hlm 159-168. dua. PT. Raja Grafindo Persada. Jakar-
Muhadjir, N. 2007. Metodologi Keilmuan ta.
Paradigma Kualitatif, Kuantitatif dan Usop, KMA, M. 1985. Pasang Ri Kajang. Ka-
Mixed. Edisi V Revisi. Rake Sarasin, jian Sistem Nilai Masyarakat Ammatoa,
Yog­yakarta. dalam Agama dan Realitas Sosial, Lem-
Qardhawi, Y. 2004. Ikhlas; Sumber Kekuatan baga Penerbit Universitas Hasanuddin.
Islam. Gema Insani. Jakarta. Ujung Pandang.
Randa, F, I. Triyuwono, U. Ludigdo, dan E.G. Uzaifah. 2007. Studi Deskriptif Prilaku
Sukoharsono. 2011. Studi Etnografi Dosen Perguruan Tinggi Islam DIY
Akuntansi Spiritual pada Organisasi dalam Membayar Zakat. La Riba Jurnal
Gereja Katolik yang Terinkulturasi Bu- Ekonomi Islam. Vol. 1, No. 1, hlm. 127-
daya Lokal. Jurnal Akuntansi Multipa- 143.
radigma. Vol. 2.No.1, April 2011, hlm Wahid, H., S. Ahmad, dan R.A. Kader. 2009.
35-51. Penagihan Zakat oleh Institusi Zakat
Sadjarto, A. 2000. Akuntabilitas dan Pen- kepada Lapan Asnaf: Kajian Malaysia.
gukuran Kinerja Pemerintahan, Jurnal Seminar Ekonomi Islam Peringkat Ke-
Akuntansi dan Keuangan, Vol.2, No.2, bangsaan. Malaysia.
hlm 138-150. Wahid, H. dan R.A. Kader. 2010. Localiza-
Salle, K. 1999. Kebijakan Lingkungan Menu- tion of Malaysian Zakat Distribution:
rut Pasang. Disertasi tidak dipublikasi. Perceptions of AMIL and Zakat Recipi-
Program Pascasarjana Fakultas Hu- ents, Seventh International Conference
kum. Universitas Hasanuddin. Makas- – The Tawhidi Epistemology: Zakat and
sar. Waqaf Economy, Bangi.