Anda di halaman 1dari 17

Nilai:

PAPER PRAKTIKUM
LINGKUNGAN PERTANIAN DAN BIOSISTEM
Identifikasi Elemen Lingkungan Terkendali dan Tak Terkendali

Disusun Oleh:
Kelompok/Shift : 1/Shift 1
Anggota Kelompok : Adinda Alifah (240110150046)
Amorita Iqradiella E. (240110150082)
Petrus Hendro B. (240110150088)
M. Rifky Putra P. (240110150091)
Hari, Tanggal Praktikum : Rabu, 21 Maret 2018
Jam : 09.30 – 11.30 WIB
Asisten Praktikum : 1. Fauziah Aliyah
2. Istiqomah Haq
3. M. Akbar Anugrah
4. Novan Hermawan
5. Risti Kartikasari
6. Sulpa Yudha
7. Yuza Ramadhan

LABORATORIUM KONSERVASI TANAH DAN AIR


DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
TUGAS 1. Syarat Tumbuh Tanaman Untuk Jenis Tanaman Padi, Jagung,
Kedelai dan Tomat

1.1 Padi
Setiap tanaman mempunyai syarat tumbuh yang berbeda untuk dapat
tumbuh dengan baik dan mempunyai produktivitas yang tinggi. Begitu pula
tanaman padi sawah. Seperti kita ketahui, jenis tanaman padi sangat banyak, tetapi
tanaman padi sawah mempunyai syarat tumbuh yang berbeda dengan jenis padi
yag tumbuh di ladang atau di sawah pasang surut (Handoko, 2013).
Secara umum waktu tanam padi yang baik untuk musim tanam pertama
(MT-I) yaitu bulan Januari - Pebruari atau paling lambat bulan Maret, sedangkan
waktu tanam terbaik untuk musim tanam kedua (MT-II) yaitu bulan Juni - Juli dan
paling lambat pada bulan Agustus. Ketepatan waktu tanam berkaitan dengan
kondisi iklim terbaik untuk pertumbuhan tanaman. Kondisi iklim yang sesuai
akan menyebabkan tanaman bisa terhindar dari cekaman abiotik seperti terjadinya
banjir atau kekeringan atau pun cekaman biotik seperti serangan hama/penyakit
(Asaad, 2015).
Cara tanam padi yang baik adalah menggunakan jarak tanam beraturan baik
berupa tanam pindah (tapin) ataupun tanam benih langsung (tabela). Dengan
penanaman menggunakan jarak tanam teratur akan memberikan ruang tumbuh
optimal sehingga tanaman bisa memanfaatkan sumberdaya secara maksimal dan
mendorong terbentuknya anakan produktif secara optimal. Kondisi tersebut juga
dapat mendorong pembentukan malai dan kualitas gabah yang optimal. Sistem
tanam beraturan akan menciptakan aerasi yang baik sehingga mengurangi
kelembaban udara dan juga dapat menghambat perkembangan penyakit tanaman.
Sistem tanam beraturan juga akan memudahkan pemeliharaan tanaman, seperti
pengendalian gulma, hama dan penyakit, serta dalam aplikasi pemupukan.
Kondisi sebaliknya akan terjadi apabila dilakukan penanaman langsung dengan
cara hambur yang berdampak alur tanaman menjadi tidak beraturan (Asaad,
2015).
Syarat utama yang harus di penuhi untuk menanam padi sawah adalah
kebutuhan air yang harus tercukupi. Jika tidak maka pertumbuhan padi sawah
yang di tanam akan terhambat dan produktivitasnya menurun (Handoko, 2013).
Berikut ini syarat tumbuh tanaman padi sawah yang harus di perhatikan:
1) Lokasi tanam.
Sesuai dengan namanya, padi sawah, maka tanaman padi jenis ini harus di
tanam di sawah dengan ketinggian optimal 0 – 1500 meter diatas
permukaan laut.
2) Kondisi tanah.
Padi sawah ditanam di tanah berlumpur yag subur dengan ketebalan 18 – 22
cm. Tanah yang coco k untuk areal persawahan adalah tanag berlempung
yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm dibawah
permukaan tanah sehingga air dapat tertampung diatasnya dan menciptakan
lumpur.
3) Iklim.
Padi sawah dapat tumbuh dalam iklim yang beragam, terutama di daerah
dengan cuaca panas, kelembaban tinggi dengan curah hujan 200 mm/bulan
atau 1500-2000 mm/tahun. Tanaman padi dapat tumbuh baik pada suhu
23oC.
4) Intensitas cahaya matahari
Intensitas pada cahaya matahari harus penuh sepanjang hari tanpa ada
naungan.
5) pH tanah
pH tanah pada tanaman padi harus berkisar antara 4,0 – 7,0. pH tanah yang
tinggi atau diatas 7,0 akan mengurangi hasil produksi.
6) Angin
Angin akan berpengaruh terhadap proses penyerbukan bunga padi. Karena
itu lokasi sawah harus terbuka dan tidak terhalang sehingga angin dapat
bertiup dengan bebas.
7) Air
Pada tanaman padi, air harus tersedia setiap saat mencukupi untuk
mengenangi tanah persawahan. Kekurangan dan kelebihan air akan dapat
mengurangi hasil produksi. karena itu di perlukan saluran irigasi yang baik
untuk mengatur keluar masuknya air kedalam lahan persawahan yang akan
di tanami padi sawah.
Tanaman padi secara umum membutuhkan suhu minimum 11°-25°C untuk
perkecambahan, 22°-23 C untuk pembungaan, 20°-25°C untuk pembentukan biji,
dan suhu yang lebih panas dibutuhkan untuk semua pertumbuhan karena
merupakan suhu yang sesuai bagi tanaman padi khususnya di daerah tropika.
Suhu udara dan intensitas cahaya di lingkungan sekitar tanaman berkorelasi
positif dalam proses fotosintesis, yang merupakan proses pemasakan oleh
tanaman untuk pertumbuhan tanaman dan produksi buah atau biji (Asaad, 2015).
Interaksi antara tanaman dengan lingkungannya merupakan salah satu syarat
bagi peningkatan produksi padi. Iklim dan cuaca merupakan lingkungan fisik
esensial bagi produktivitas tanaman yang sulit dimodifikasi sehingga secara
langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut.
Di Indonesia faktor curah hujan dan kelembaban udara merupakan parameter
iklim yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman
pangan khususnya. Hal ini disebabkan faktor iklim tersebut memiliki peranan
paling besar dalam menentukan kondisi musim di wilayah Indonesia (Asaad,
2015).

2.2 Jagung
Tanaman Jagung adalaha salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian yang
masih keluarga dengan rumput-rumputan. Nama latin dari tanaman jagung
adalah Zea mays L yang berasal dari Amerika yang menyebar luas di Asia dan
Afrika, hingga ke Indonesia pada Abad ke-16. Tanaman jagung berasal dari
daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah
tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat. Pada
umumnya jagung dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan pada kondisi
tanah yang agak kering (Kurniawan, 2015). Untuk Pertumbuhan optimalnya,
jagung memiliki syarat tumbuh tanaman yaitu :
1) Suhu
Suhu yang sesuai untuk tanaman jagung antara 21°C – 30°C dengan suhu
optimum antara 23°C – 27°C. Pada waktu perkecambahan biji, suhu optimal
berkisar 30°C – 32°C; suhu di bawah 12,8°C akan mengganggu
perkecambahan sehingga dapat menurunkan hasil. Pada suhu 40°C – 44°C
lembaga (embrio) jagung dapat rusak. Keadaan suhu di Indonesia tidak
menjadi masalah karena suhunya sudah cukup optimal bagi pertumbuhan
jagung. Namun, masa panen yang jatuh pada musim kemarau akan lebih
baik daripada pada musim penghujan. Hal ini terutama berpengaruh pada
lamanya masak biji dan mudahnya proses pengeringan biji dengan
menggunakan sinar matahari (Kurniawan, 2015).
2) Ketinggian Tempat
Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di
daerah pegunungan yang memiliki ketinggian tempat 1000 – 1800 m di atas
permukaan laut (dpl). Di Kenya, jagung dapat tumbuh baik pada ketinggian
1200 – 1800 m dpl. Jagung yang ditanam di dataran rendah di bawah 800 m
dpl juga masih memberikan hasil yang baik pula (Kurniawan, 2015).
3) Kemiringan Lahan
Kemiringan lahan mempunyai hubungan dengan gerakan air pada
permukaan tanah. Lahan dengan kemiringan kurang dari 8% dapat ditanami
jagung, karena pada tingkat kemiringan tersebut sangat kecil kemungkinan
terjadinya erosi tanah. Namun air hujan yang berlebihan akan terbagi-bagi
yaitu sebagian meresap ke dalam tanah dan sebagian lain mengalir ke
bagian yang lebih rendah (Kurniawan, 2015).
4) Intensitas Penyinaran
Tanaman jagung memerlukan sinar matahari secara langsung, oleh karena
itu jika ternaungi maka akan memberikan hasil yang kurang baik. Pada
tamanan jagung yang tidak terkena sinar matahari secara langsung maka
batangnya akan kurus dan lemah, tongkolnya ringan, dan hasilnya akan
rendah. Pada proses fotosintesis, sinar matahari berperan langsung pada
pemasakan makanan yang kemudian ditranslokasikan ke seluruh bagian
tanaman (Kurniawan, 2015).
5) Curah Hujan
Tanaman jagung membutuhkan curah hujan relatif sedikit. Tanaman jagung
akan tumbuh normal pada curah hujan sekitar 250 – 5000 mm. Kandungan
air optimal untuk perkecambahan biji sekitar 25% – 60% dari kapasitas
lapangan. Setelah perkecambahan, kebutuhan airnya relatif sedikit,
sedangkan kebutuhan air terbanyak terjadi setelah tanaman jagung
berbunga. Tanaman jagung juga mempunyai kemampuan yang tinggi untuk
mengambil air dari dalam tanah sehingga air yang diuapkan dapat
diimbangi. Oleh karena itu, penanaman jagung perlu tepat waktu, terutama
pada daerah-daerah yang bercurah hujan rendah (Kurniawan, 2015).
6) Media Tanam
Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus untuk dapat
tumbuh optimal tanah harus gembur, subur dan kaya humus.Jenis tanah
yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal dari gunung
berapi), latosol, grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur
berat (grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik
dengan pengolahan tanah secara baik. Sedangkan untuk tanah dengan
tekstur lempung/liat (latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk
pertumbuhannya (Kurniawan, 2015).
Secara umum waktu tanam pada jagung ditentukan oleh jarak tanam. Selain
itu populasinya ditentukan oleh kualitas benih yang ditanam (daya tumbuh benih).
Jarak tanam yang dianjurkan adalah 70 – 75 cm x 20 cm (1 biji/lubang) atau 70 –
75 cm x 40 cm (2 biji/lubang). Jika daya tumbuh benih >95%, maka populasi
tanaman dapat mencapai 66.000 – 75.000 tanaman/ha. Pada budidaya jagung
tidak dianjurkan melakukan penyulaman karena jagung termasuk tanaman yang
menyerbuk silang sehingga pengisian biji pada tanaman sulaman tidak akan
optimal (Asaad, 2015).

2.3 Kedelai
Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri
dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar, sejumlah akar
sekunder, dan cabang akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil.
Panjang akar tunggang ditentukan oleh berbagai faktor seperti kekerasan tanah,
populasi tanaman, dan varietas. Tanaman kedelai mempunyai kemampuan untuk
membentuk bintil akar yang mampu menambat nitrogen. Bintil akar yang telah
matang akan berwarna merah muda yang disebabkan oleh adanya leghemoglobin
yang diduga aktif menambat nitrogen, sebaliknya bintil akar yang sudah tidak
aktif akan berwarna hijau (Setiani, 2016).
Tanaman kedelai mempunyai 4 tipe daun, yaitu 1) kotiledon, 2) daun primer
sederhana yaitu daun pertama keluar dari buku sebelah atas kotiledon, 3) daun
bertiga yang terdiri dari tiga helai anak daun dengan bentuk oval atau segitiga
tergantung dari varietas, dan 4) profila yang terletak pada tiap pangkal cabang dan
tidak bertangkai (Setiani, 2016). Untuk Pertumbuhan optimalnya, kedelai
memiliki syarat tumbuh tanaman yaitu :
1) Iklim
Kedelai sebagian besar tumbuh didaerah yang beriklim tropis dan subtropis.
Kedelai dapat tumbuh baik ditempat yang berhawa panas, ditempat– tempat
yang terbuka dan bercurah hujan 100 – 400 mm per bulan. Sedangkan untuk
mendapatkan hasil yang optimal, tanaman kedelai membutuhkan curah
hujan antara 100-200 mm/bulan (Setiani, 2016).
2) Ketinggian Tempat
Kedelai cocok ditanam didaerah dengan ketinggian 100 – 500 meter di atas
permukaan laut. Kedelai memerlukan pengairan yang cukup, tetapi volume
air yang terlalu banyak tidak menguntungkan bagi kedelai, karena akarnya
bisa membusuk. Tanaman kedelai biasanya akan tumbuh baik pada
ketinggian 0,5-300 m dpl. Sedangkan varietas kedelai berbiji besar cocok
ditanam dilahan dengan ketinggian 300-500 m (Setiani, 2016).
3) Curah Hujan
Selama pertumbuhan tanaman, kebutuhan air untuk tanaman kedelai sekitar
350 – 550 mm. Kekurangan atau kelebihan air akan berpengaruh terhadap
produksi kedelai. Oleh karena itu, untuk mengurangi pengaruh negatif dari
kelebihan air, dianjurkan untuk membuat saluran drainase sehingga jumlah
air lebih dapat diatur dan dapat terbagi secara merata. Ketersediaan air
tersebut bisa berasal dari saluran irigasi atau dari curah hujan yang turun.
Tumbuhan kedelai yang memerlukan curahan air yang banyak atau
kelembapan tanah yang cukup tinggi (Setiani, 2016).
4) Temperatur
Temperatur yang dibutuhkan tanaman kedelai sangat sesuai untuk
pertumbuhan tanaman kedelai berkisar antara 25°C - 28°C. Akan tetapi,
tanaman kedelai masih bisa tumbuh baik dan produksinya masih tinggi pada
suhu udara diatas, dan tanaman masih toleran pada suhu 35°C hingga 38°C
(Setiani, 2016).
5) Intensitas Matahari
Kekurangan cahaya saat perkembangan berlangsung akan menimbulkan
gejala etiolasi, dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun
lemah dan daunnya berukuran kecil, tipis dan berwarna pucat (tidak hijau).
Gejala etiolasi tersebut disebabkan oleh kurangnya cahaya atau tanaman
berada di tempat yang gelap. Bibit kedelai dapat tumbuh dengan baik, cepat
dan sehat, pada cuaca yang hangat dimana cahaya matahari terang dan
penuh (Setiani, 2016).
6) Tanah
Untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan produktivitas yang optimal
kedelai harus di tanam pada jenis tanah yang bersetruktur lempung berpasir
atau liat berpasir Hal ini tidak hanya terkait dengan ketersediaan air untuk
mendukung pertumbuhan, tetapi juga terkait dengan faktor lingkungan
tumbuh yang lain (Setiani, 2016).
Populasi optimal kedelai adalah 350.000 – 500.000 tanaman/ha. Penanaman
dengan cara ditugal dengan jarak tanam 40 cm (antar barisan) x 10 – 15 cm
(dalam barisan), dimana tiap lubang tanam berisi 2-3 biji. Pada musim hujan dan
daerah aliran sungai (DAS), digunakan jarak tanam 40 cm x 20 cm, sebaliknya
pada musim kemarau digunakan jarak tanam 40 cm x 10 cm.
Pupuk organik bisa diaplikasikan diberikan sebagai penutup benih pada lubang
tanam. Untuk meningkatkan pH tanah, maka bisa digunakan kapur seperti
dolomit. Pemupukan dilakukan pada umur 0 – 10 HST dengan memberikan
seluruh dosis pupuk NPK dan Urea secara larikan atau tugal (Asaad, 2015).

2.4 Tomat
Tanaman tomat (Lycopersicum esculentum L.) adalah tumbuhan setahun,
berbentuk perdu atau semak dan termasuk ke dalam golongan tanaman berbunga
(Angiospermae). Buahnya berwarna merah merekah, rasanya manis agak
kemasam-masaman. Tomat banyak mengandung vitamin dan mineral. Sebenarnya
tanaman tomat memang bersifat racun karena mengandung Lycopersicin. Akan
tetapi, kadar racunnya rendah dan akan hilang dengan sendirinya apabila buah
telah tua atau matang. Barangkali karena racun ini pulalah tomat yang masih
muda terasa getir dan berbau tidak enak (Handayani, 2013).
Tanaman tomat (Lycopersicum esculentum L.) sudah dikenal sebagai
tanaman sayuran yang paling tinggi tingkat penggunaannya. Tomat layak
menyandang julukan sebagai komoditi multi manfaat yang komersial. Sebagian
masyarakat menggunakan buah tomat untuk terapi pengobatan karena
mengandung karotin yang berfungsi sebagai pembentuk provitamin A dan
lycoppen yang mampu mencegah kanker (Handayani, 2013). Untuk Pertumbuhan
optimalnya, tomat memiliki syarat tumbuh tanaman yaitu :
1) Iklim
Tanaman tomat dapat tumbuh di daerah tropis maupun sub-tropis. Curah
hujan yang tinggi juga dapat menghambat persarian. Kekurangan sinar
matahari dapat menyebabkan tanaman tomat mudah terserang penyakit,
baik parasit maupun non-parasit. Sinar matahari berintensitas tinggi akan
menghasilkan vitamin C dan karoten (provitamin A) yang lebih tinggi.
Penyerapan unsur hara yang maksimal oleh tanaman tomat akan dicapai
apabila pencahayaan selama 12-14 jam/hari, sedangkan intensitas cahaya
yang dikehendaki adalah 0,25 mj/m2 per jam (Handayani, 2013).
2) Suhu
Temperatur yang baik untuk pertumbuhan tomat ialah antara 20-27ºC. Jika
temperatur berada lebih dari 30ºC atau kurang dari 10ºC, maka akan
mengakibatkan terhambatnya pembentukan buah tomat. Di negara-negara
yang mempunyai empat musim, biasanya digunakan pemanas (heater)
untuk mengatur udara ketika musim dingin, udara panas dari heater
disalurkan ke dalam green house melalui saluran fleksibel warna putih
(Handayani, 2013).
3) Kelembaban
Kelembaban relatif yang baik untuk pertumbuhan tanaman tomat ialah
25%. Keadaan ini akan merangsang pertumbuhan untuk tanaman tomat
yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui
stomata yang membuka lebih banyak. Akan tetapi, kelembaban relatif
yang tinggi juga dapat merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman
(Handayani, 2013).
4) Media Tanam
Secara umum, tanaman tomat dapat ditanam di segala jenis tanah, mulai dari
tanah pasir sampai tanah lempung berpasir yang subur, gembur, berporus,
banyak mengandung bahan organik dan unsur hara, serta mudah
merembeskan air. Tingkat kemasaman tanah (pH) yang sesuai untuk
budidaya tomat ialah berkisar 5,0-7,0. Akar tanaman tomat rentan terhadap
kekurangan oksigen, maka tanaman tomat tidak boleh tergenangi oleh air.
Dalam pembudidayaan tanaman tomat, sebaiknya dipilih lokasi yang
topografi tanahnya datar sehingga tidak perlu dibuat teras-teras dan tanggul
(Handayani, 2013).
5) Ketinggian Tempat
Tanaman tomat dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, baik di dataran
tinggi maupun di dataran rendah, tergantung varietasnya. Tanaman tomat
yang sesuai untuk ditanam di dataran tinggi, misalnya varietas Kada,
sedangkan varietas yang sesuai ditanam di dataran rendah, misalnya varietas
Intan, varietas Ratna, varietas LV, dan varietas CLN. Selain itu, ada varietas
tanaman tomat yang cocok ditanam di dataran rendah maupun di dataran
tinggi, antara lain varietas tomat GH 2, varietas tomat GH 4, varietas
Berlian, dan varietas Mutiara (Handayani, 2013).
Tomat merupakan salah satu komoditi sayuran penting dan sangat potensial
untuk dikembangkan. Untuk mencapai hasil yang tinggi, selain dengan
menggunakan varietas tahan terhadap hama dan penyakit juga perlu diperhatikan
teknik budidaya yang tepat dan benar. Tanaman tomat memerlukan unsur hara
makro N, P, K, Ca, dan Mg serta unsur hara mikro Mn, Zn, dan B (Koswara, E.,
2006). Dalam upaya untuk mencapai teknik budidaya yang tepat dapat dilakukan
melalui pemupukan yang baik dan benar, yakni pemberian pupuk disesuaikan
dengan kebutuhan tanaman tersebut (Handayani, 2013).
TUGAS 2. Identifikasi Elemen Lingkungan Tak Terkendali
Sistem lingkungan pertanian tak terkendali memiliki elemen lingkungan
yaitu
1. Kebutuhan air
Kebutuhan air pada lingkungan tak terkendali sangat bergantung
dengan air hujam yang disalurkan melalui irigasi.
2. Unsur hara dan jenis tanah
Jenis tanah dan unsur hara di lingkungan tak terkendali berbeda-beda
di setiap tempatnya salah satu indicator nya adalah ketinggian lahan.
3. Suhu, kelembaban dan rh
Pada lingkungan tak terkendali sangat bergantung pada iklim dan
cuaca suatu daerah.
4. Ph
PH tanah pada lingkungan tak terkendali berbeda-beda di setiap
tempatnya.
5. Intensitas cahaya matahari
Intensitas cahaya matahari pada lingkungan tak terkendali dipengaruhi
oleh iklim, cuaca, dan awan.
6. Kemiringan lahan
(Alahudin. 2013)

2.2 Lingkungan Pertanian Tidak Terkendali


Lingkungan tak terkendali merupakan kesatuan ruang dengan semua
benda atau kesatuan mahluk hidup berupa lahan terbuka bebas yang berada di
sekitar. Perencanaan pengelolaan lahan, informasi yang dibutuhkan salah satunya
mengenai potensi lahan dan kesesuaian lahan untuk jenis tanaman tertentu. Salah
satu contoh lingkungan pertanian tak terkendali yaitu Sawah, dan perkebunan
A. Elemen Lingkungan Tak Terkendali
Lingkungan yang tidak terkendali memiliki beberapa elemen yaitu
1. Kemiringan lereng
2. Permukaan lahan
3. Iklim dan cuaca
4. Tingkat erosi
5. Jenis tanah

TUGAS 3. Identifikasi Elemen Lingkungan Terkendali


2.1. Lingkungan Terkendali
Lingkungan terkendali merupakan kesatuan ruang dengan sistem
terkontrol atau terkendali yang disesuaikan dengan kebutuhan. Sistem lingkungan
pertanian terkendali memiliki elemen lingkungan yaitu
1. Kebutuhan air
Kebutuhan air pada lingkungan terkendali sangat bergantung dengan
irigasi yang dibuat dan intensitas air nya dapat diatur sesuai dengan
kebutuhan tanaman.
2. Unsur hara dan jenis tanah
Jenis tanah dan unsur hara di lingkungan terkendali dapat ditentukan
sebelumnya sesuai dengan jenis tanaman yang akan di tanam.
3. Suhu, kelembaban dan rh
Pada lingkungan terkendali suhu dan kelembaban serta rh sangat di
control dan diperhatikan demi kelangsungan pertumbuhan tanaman
4. Intensitas cahaya matahari
Intensitas cahaya matahari pada lingkungan terkendali dapat dikurangi
dengan membuat naungan.

A. Greenhouse
Greenhouse dibuat untuk mempermudah terhadap pengendalian sejumlah
faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, faktor
lingkungan tersebut antara lain adalah suhu udara, cahaya matahari, kelembaban
udara, kecepatan angin, dan unsur hara. Greenhouse yang dibangun tidak dengan
rancangan yang sesuai untuk iklim tropika basah kurang optimum
pemanfaatannya karena tingginya suhu udara didalam rumah tanaman. Suhu
udara di dalam Greenhouse pada siang hari terlalu tinggi bagi pertumbuhan
tanaman. Penggunaan Greenhouse dalam budidaya tanaman merupakan salah
satu cara untuk memberikan lingkungan yang lebih mendekati kondisi optimum
bagi pertumbuhan tanaman atau biasa disebut dengan metode budidaya tanaman
dalam lingkungan yang terkendali (Controlled Environment Agriculture).
Permukaan yang paling besar menerima panas adalah atap. Sedang bahan
atap pada umumnya mempunyai tahanan dan kapasitas panas yang lebih kecil
dari pada dinding. Untuk memperbesar kapasitas panas dari bahan atap agak
sulit karena akan memperberat atap. Tahanan panas dari bagian atas bangunan
dapat diperbesar dengan beberapa cara. Misalnya dengan adanya rongga langit-
langit, dan langitlangit serta aliran udara di dalam rongga langit-langit. Kondisi
lingkungan disekitar Greenhouse sangat mempengaruhi radiasi matahari dan
pergerakan angin yang masuk ke dalam Greenhouse. Sehingga perlu diteliti
faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan termal di dalam Greenhouse.
Struktur Greenhouse berinteraksi dengan parameter iklim di sekitar
Greenhouse dan menciptakan iklim mikro di dalamnya yang berbeda dengan
parameter iklim di sekitar Greenhouse. Hal ini disebut sebagai peristiwa effect
atau efek rumah kaca.

Gambar 1. Greenhouse Effect


(Alahudin. 2013)
Adaptasi Rancangan Greenhouse untuk Iklim Tropika Basah :
1. Konsep Rumah Tanaman untuk Iklim Tropika Basah
Rumah tanaman lebih ditujukan untuk melindungi tanaman dari hujan,
angin, dan tentunya hama.
2. Rancangan Atap dan Orientasi rumah tanaman.
3. Bahan Atap Rumah Tanaman
Variabel iklim yang dapat mempengaruhi kondisi thermal :
1. Temperatur Udara (Air Temperature)
2. Kelembaban Udara (Humidity)
3. Pergerakan Udara (Air Movement)
(Alahudin. 2013)
DAFTAR PUSTAKA

Asaad, Muh. Dkk. 2015. Rekomendasi Varietas, Waktu Tanam dan Cara Tanam,
Serta Pemupukan pada Tanaman Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale). BPTP
Sulawesi Tenggara. Kementrian Pertanian (Diakses pada tanggal 25 Maret
2013, pada pukul 12.20 WIB)]

Handayani, Yohanna Lilis. 2013. Syarat Tumbuh Tanaman Tomat dan Metode
Pemupukannya. Pekanbaru. Universitas Riau. Terdapat pada :
https://ulyadays.com/tanaman-tomat/ (Diakses pada tanggal 25 Maret 2013,
pada pukul 16.49 WIB)

Handoko, Sugeng. 2013. Syarat Tumbuh Tanaman Padi Sawah. Terdapat pada:
http://www.kebunq.com/2013/09/syarat-tumbuh-tanaman-padi-sawah.html
(Diakses pada tanggal 25 Maret 2013, pada pukul 13.15 WIB)

Kurniawan, Fredi. 2015. Syarat Tumbuh pada Tanaman Jagung. Bandar


Lampung. Universitas Lampung. Terdapat pada:
http://bpadipala1.co.id/2015/11/syarat-tumbuh-tanaman-jagung.html
(Diakses pada tanggal 25 Maret 2013, pada pukul 15.57 WIB)

Setiani, Rika. 2016. Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Malang. Program Studi
Agribisnis Universitas Brawijaya. Terdapat pada :
http://tempekedelai.co.id/2016/03/syarat-tumbuh-tanaman-kedelai.html
(Diakses pada tanggal 25 Maret 2013, pada pukul 16.12 WIB)

Alahudin, M. 2013. Kondisi Termal Bangunan Greenhouse Dan Screenhouse


Pada Fakultas Pertanian Universitas Musamus Merauke. Jurnal Ilmiah
Mustek Anim Ha 02 : 01
.