Anda di halaman 1dari 4

STRATEGIC COST MANAGEMENT

AND THE VALUE CHAIN


Seperti yang diketahui perihal fungsi dari Manajemen Biaya adalah memberikan
informasi yang berguna bagi manajer dalam mengambil keputusan strategis dan
meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan. Informasi yang digunakan manajemen ini
dapat berupa informasi keuangan baik laporan keuangan perusahaan maupun yang tidak
berkaitan dengan keuangan perusahaan seperti lingkungan kerja perusahaan. Kemudian
informasi tersebut dapat dijadikan oleh manajemen dalam pengambilan keputusan untuk
memberikan pandangan kegiatan operasional perusahaan pada masa yang akan datang.
Untuk menganalisis manajemen biaya Analisis Value Chain dapat digunakan
sebagai salah satu alat analisis untuk pengambilan keputusan strategis bagi m anaj er
dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat. Adapun k eputusan yang
di gunakan untuk menentukan strategi kompetitif adalah Low Cost atau Diferensiasi. Dua
strategi tersebut memiki karekteristik yang berbeda.
1. Low cost, menekankan pada harga jual yang lebih rendah dibandingkan kompetitor
untuk menarik konsumen. Akibatnya perusahaan harus melakukan kontrol cost, cost
ditekan serendah mungkin sehingga produk dapat dijual dengan harga yang lebih
murah dibandingkan pesaing. Cost yang rendah merupakan keunggulan kompetitif
bagi perusahaan. Menurut pendapat kami, strategi ini memang cukup baik
diimplementasikan namun untuk meminimalisir suatu biaya sebaiknya dilihat dulu
dari aspek kebutuhan produk yang dipasarkan saat itu agar jika melakukan tindakan
dari low cost ini tidak berdampak buruk bagi perusahaan untuk masa yang akan
datang. Apalagi jika konsumen yang berpikir dari pada membeli barang dengan harga
murah namun kualitas rendah tentu juga akan berdampak pada perusahaan. Tetapi
bisa kami beri contoh produk yang berhasil dalam bersaing salah satu contoh
produknya seperti air mineral SMS dibandingkan dengan AQUA. Memang aqua tetap
jadi produk yang unggul namun karena air mineral SMS memiliki harga yang cukup
murah dibanding AQUA dan memiliki kualitas yang baik, konsumen juga banyak
membeli air mineral SMS ini.
2. Diferensiasi, menekankan pada keunikan produk. Produk tersebut berbeda
dibandingkan dengan produk pesaing, sehingga konsumen mau berpaling kepada
produk perusahaan. Produk yang dihasilkan mempunyai nilai yang lebih dimata
konsumen. Perusahaan dapat mengenakan harga jual yang lebih tinggi, karena
konsumen mau membayar lebih untuk hal yang unik tersebut. Strategi
diferensiasi biasanya menekankan pada kualitas yang unggul. Berbeda dengan strategi
low cost strategi diferensiasi ini membutuhkan pengendalian biaya namun perlu
penekanan pada diferensiasi produk dengan melakukan peningkatan line produk.
Menurut kami melakukan diferensiasi produk memang perlu dilakukan agar image /
karakteristik dari produk yang kita punya, memiliki ruang dihati konsumen apalagi
dengan membuat sesuatu yang baru kepada pelanggan yang dapat dilihat keunikannya
oleh pelanggan.
Dari dua strategi tersebut di atas apapun yang dipilih, strategi Analisis Value Chain dapat
membantu perusahaan untuk terfokus pada rencana strategi yang dipilih dan berusaha untuk
meraih keunggulan kompetitif.
Konsep Value Chain
Porter (1985) menjelaskan, Analisis value-chain merupakan alat analisis stratejik yang
digunakan untuk memahami secara lebih baik terhadap keunggulan kompetitif, untuk
mengidentifikasi dimana value pelanggan dapat ditingkatkan atau penurunan biaya, dan
untuk memahami secara lebih baik hubungan perusahaan dengan pemasok/supplier,
pelanggan, dan perusahaan lain dalam industri. Tujuan dari analisis value-chain adalah
untuk mengidentifikasi tahap-tahap value chain di mana perusahaan dapat meningkatkan
value untuk pelanggan atau untuk menurunkan biaya.
Analisis rantai nilai dapat dilakukan dengan membagi aktivitas menjadi : aktivitas yang
dilakukan di luar perusahaan untuk menciptakan nilai dan aktivitas yang dilakukan di dalam
perusahaan untuk menciptakan nilai. Aktivitas yang dilakukan di luar perusahaan dapat
dibedakan lagi menjadi aktivitas yang berasal dari hubungan dengan supplier (Supplier
Linkages) dan aktivitas yang berasal dari hubungan dengan konsumen (Consumer Linkages)
baik distribusi maupun penanganan purna jual.
1. Supplier Linkages, hubungan dengan pemasok merupakan hal yang penting bagi
perusahaan karena menawarkan banyak kesempatan untuk meningkatkan
keunggulan kompetitif perusahaan, baik dalam hal pengurangan cost atau
peningkatan kualitas. Menurut pendapat kami, hal ini dapat dilakukan oleh
perusahaan besar yang mempunyai banyak varian produk sehingga membutuhkan
supplier yang lebih cepat. Bisa saja dengan menciptakan jaringan dimana ketika
bahan baku yang dimiliki perusahaan sudah habis supplier secara otomatis akan
terdeteksi dalam jaringan tersebut. Dan supplier bisa langsung mengirimkan bahan
baku sesuai kebutuhan perusahaan. Ini juga merupakan langkah yang baik untuk
hubungan dengan pemasok agar perusahaan juga dapat melakukan pengurangan
cost dan juga bisa melakukan peningkatan terhadap kualitas ketersediaan barang
kepada konsumen secara cepat.
2. Consumer Linkages, Perusahaan harus mampu membangun hubungan yang baik
dengan distributor dalam hal memasarkan produk mereka dan terus menjaga
kepuasan konsumen. Perusahaan harus mampu mengidentifikasi distributor yang
dapat memberikan nilai bagi produk mereka. Melakukan hubungan yang baik
dengan distributor produk dapat meningkatkan nilai produk dalam hal kinerja
distributor menawarkan produk kita kepada konsumen. Dan bagi konsumen
bagaimana cara perusahaan dalam meningkatkan kepuasaan konsumen sehingga
konsumen tidak akan berpaling dari produk yang dijualkan. Baik itu
meningkatkan kualitas produk, memberikan bonus jika membeli lebih dari 2
produk dan sebagainya.
Adapun analisis dari value chain memiliki 3 tahapan, diantaranya:
1. Mengidentifikasi Aktivitas Value Chain
Perusahaan mengidentifikasi aktivitas value chain yang harus dilakukan oleh
perusahaan dalam proses desain, pemanufakturan, dan pelayanan kepada pelanggan.
2. Mengidentifikasi Cost driver pada setiap aktivitas nilai
Cost Driver merupakan factor yang mengubah Jumlah biaya total, oleh karena itu
tujuan pada tahap ini adalah mengidentifikasikan aktivitas dimana perusahaan
mempunyai keunggulan biaya baik saat ini maupun keunggulan biaya potensial.
3. Mengembangkan keunggulan kompetitif dengan mengurangi biaya atau
menambah nilai.
Berikut caranya dengan Mengidentifikasi keunggulan kompetitif (Cost
Leadership atau diferensiasi), Mengidentifikasi peluang akan nilai tambah,dan
Mengidentifikasi peluang untuk mengurangi biaya.
COST DRIVER
Cost Driver merupakan fakor yang memberi dampak pada perubahan tingkat biaya
total. Biaya terjadi jika sumber daya yang digunakan untuk tujuan tertentu. Contohnya biaya
tenaga kerja langsung dan biaya – biaya lainnya. Kadang – kadang biaya dikumpulkan
kedalam kelompok tertentu yang disebut Cost Pool. Sedangkan Cost Obyek biaya adalah
produk, jasa atau unit organisasi dimana biaya di bebankan untuk beberapa tujuan
manajemen.
Jadi Ada 5 pilihan strategi cost driver yaitu skala, ruang lingkup, pengalaman,
teknologi, dan kompleksitas. Jadi dari strategi tersebut perusahaan dapat menggunakannya
untuk menilai keunggiulan kompetitif perusahaan pada masa yang akan datang.
Langkah selanjutnya dalam menggunakan rantai nilai adalah dengan mengembangkan
strategi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Kegiatan yang perlu ada pada strategi
keuggulan kompetitif yaitu bisa mengurangi biaya dan menjaga laba dari perusahaan tetap
stabil dan peningkatan laba serta menjaga biaya tetap konstan.
Keunggulan kompetitif adalah pencapaian posisi kompetitif yang diiharapkan dalam
industri, tempat dimana industri berada. Tujuan strategi kompetitif adalah menciptakan
keuntungan dan posisi yang mendukung dalam melawan kekuatan yang menentukan
persaingan industri.
Konsep value added
Konsep value added merupakan analisis nilai tambah yang dimulai dari saat
pembelian bahan baku sampai dengan produk jadi. Konsep value added menekankan pada
penambahan nilai produk selama proses didalam perusahaan. Semua biaya yang non-value
added akan dihilangkan dan perusahaan fokus pada hal-hal yang mempunyai nilai pada
produk. Konsep ini mengakibatkan kerugian bagi perusahaan karena analisisnya terlalu
lambat dimulai, analisis dimulai saat bahan baku dibeli dan tidak memperhatikan saat
pembentukan nilai yang terjadi pada aktivitas yang dilakukan pemasok bahan baku tersebut;
dan terlalu cepat selesai, analisis berakhir saat produk selesai diproses dan mengabaikan
proses distribusi produk ke tangan produk dan penanganan setelah itu (Shank dan
Govindarajan, 1992).
Kemudian untuk menjawab pertanyaan apa perbedaan antara value chain dan value
added, menurut kami value chain lebih terfokus bagaimana perusahaan menghadapi
persaingan pasar dengan mempertimbangkan penilaian pihak luar (eksternal) baik pelanggan
maupun pemasok. Membuat pelanggan tetap setia atas produk yang dipasarkan sangat sulit
jadi perlu di tingkatkan dan menjaga hubungan baik dengan pemasok sehingga ketika
menghadapi persaingan pasar perusahaan tidak canggung lagi dan dapat menganalisis
bagaimana keunggulan kompetitif.
Sementara value added berfokus pada kegiatan internal perusahaan bagaimana
perusahaan dapat menilai aktivitas yang bernilai tambah dan tidak bernilai tambah.
Perusahaan dalam hal ini dapat menganalisis aktivitas bernilai tambah dari kegiatan yang
dilakukan perusahaan mulai dari pembelian bahan baku menjadi barang jadi. Dari analisis
tersebut perusahaan dapat melakukan pengurangan biaya.