Anda di halaman 1dari 8

KATA PENGANTAR

Al-Hamdulillah Rabbil’alamin, segala puji bagi-Mu ya Rabb, pemberi cinta paling

hakiki, yang senantiasa menyiapkan rencana sempurna untuk hamba Mu ini, tak ada yang

bisaa hamba ucapkan selain kalimat Syukur atas segala pemberian terbaik kepada hamba

yang lemah ini. Puji syukurku atas-Mu yang telah memudahkan segala kesulitan,

melapangkan segala kesempitan, menenangkan segala kegundahan, serta memberi petunjuk

atas segala kebuntuan. Tak ada habisnya jika diri ini mengingat seluruh cinta dan kebaikan

yang Engkau berikan.

Salam kemuliaan bagi kekasih-Nya, yang hanya baginya semua orang yang

diwujudkan dari tiada, sang cermin dari Maharaja Cahaya, sang senyum dari Yang Maha

Penyayang, kekasih dari semua pecinta, Rasulullah Muhammad S.A.W, pembimbing bagi

siapa yang mencari-Nya, pemegang kunci gerbang menuju kebahagiaan. Dengan ini taufik

dan hidayah Allah SWT penyusunan skripsi ini ditulis untuk memenuhi syarat memperoleh

Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Syari’ah Dan Hukum, Universitas Islam Negeri

Sumatra Utara dengan judul : KONSEP MERAIH KEKUASAAN MENURUT

MACHIAVELLI (Studi Kasus Pilkada Aceh Tenggara 2017) ini dapat terselesaikan.

Tanpa menafikan kekurangannya, tulisan ini adalah bagian dari upaya pengambilan

kepada orang-orang yang menorehkan dan jejak-jejak dan kekaguman dalam perjalanan

penyusun, mengenang mereka yang membimbing penyusun penuh ikhlas dan tanpa pamrih,

mengabdikan yang diam namun menggugah kesadaran sekaligus memberi arti bagi

kehidupan penyusun. Dengan segala kerendahan hati, ucapan terima kasih yang tak sehingga,

wajib saya berikan


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam upaya memahami fenomena kekuasaaan, dalam studi ilmu politik pun

secara khusus menepatkan pada Kekuasaan Menurut Machiavelli adalah kekuasaan

memang perlu dipertahankan dan dikokohkan dengan kuat, sedangkan konsep meraih

itu sendiri tidak perlu dikedepankan dalam politik karena hal itu hanya akan

memperlemah negara ( menghalalkan segala cara demi kestabilan Negara ) seorang

tokoh filsafat dan politikus, yang hidup diera abad ke -18 tokoh ini sangat terkenal

dengan sebutan bapak politik moderen yang berhasil membuka keran berlenggu

politik itu. Machiavelli banyak menuturkan tentang etika kekuasaan dalam berpolitik

dalam karyanya tetapi di sisi lain Machiavelli pun dikenal sebagai politikus

menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan, padahal bila didalami secara

objektif,ada faktor-faktor penyebab tokoh ini harus menuangkan idenya seperti

itu.Dalam membatasi ruang kajian karya-karya1Machiavelli,difokuskan yang ditulis

adalah konsep pemikirannya terhadap kekuasaan yang dimana ada beberapa alasan

yang melatarbelakangi pertama proses transisi di negara yang terjadi di masa

Machiavelli, melahirkan beberapa gagagsannya yang merupakan hasil kajian selama

menjabat sebagai aparatus di Florence.

Kedua dalam situasi dan kondisi Negara Florence Machiavelli mengalami

beberapa prilaku kekuasaan politik dari pemerintahan yang acap kali terjadi di

perpindahan kekuasaan antara penguasa pertama dengan keluarga Medici yang

1
Jan Hendrik Rapar, Filsafat Politik Machiavelli, (Jakarta Rajawali Pers 199), h. 9.
memenangkan peperangan. Sehingga posisi Machiavelli selalu berubah-ubah kadang

menjadi aparatus Negara yang begitu penting, dan kadangkala mengalami perlakuan

buruk sampai dia sendiri harus diasingkan kesuatu desa yang jauh dari kehidupan

kerajaan atau lebih parah lagi dia mengalami masa tahanan selama beberapa tahun.

Ketiga, tokoh Machiavelli sendiri sudah terlanjur dikenali oleh dunia politik

sebagai bapak kelicikan politik. Bahkan pada titik eksrimnya ia kenal sebagai par

excellence penipuan dan penghianatan politik, sebagai kekuatan licik dan brutal dalam

dunia politik, Padahal bila dibaca secara objektif dan tidak setengah-setengah antara

The Prince dan The Discaurses, akan didapat bahwa konsep kekuasaan bermartabat

dalam politik yang di degungkannya adalah politik yang penuh dengan nilai-nilai

kekuasaan, dengan tidak digerakan semata-mata oleh nafsu untuk meraih kekuasaan,

konsep menurut Machiavelli memancarkan dari tindakan otentik yang penuh dengan

kedaulatan dari seorang pemimpin yang berkarakter. Itulah sesungguhnya ide yang

diberikan oleh Machiavelli untuk demi kelangsungan dan kesetabilan negaranya.

Namun justru konsep meraih kekuasaan yang bermartabat inilah seringkali kurang

dicermati oleh para pembaca karya-karya Machiavelli.

Pemikiran Machiavelli mengenai kekuasaan pada nyatanya memang dijadikan

landasan dalam tiga aspek kekuasaan, yaitu berkuasa, menguasai baik politik maupun

kekuasaan. Hubungan Pusat-Daerah Aceh terjalin lahirnya kesepakatan antara

Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 15

Agustus 2005. Konflik yang berkepanjangan teratasi dengan hasil kesepakatan damai

tersebut, Namun kekerasan di Aceh belum benar-benar sirna, Terlepas dari asumsi

yang berkembang bahwa meningkatkannya lagi kekerasan di Aceh adalah produk

situasi sesaat menjelang pilkada 2012, Oleh karena itu didalam pilkada aceh tenggara
2017 yang lalu, Banyak yang terjadi politik yang diwarnai dengan ragam peristiwa

pro dan kontra, dengan lahirnya kelompok-kelompok dominan sebagai pemicu

ketidak kondusif situasi Aceh Tenggara pra pemilihan, Konflik regulasi menjadi

sebuah perdebatan sengit antara elit-elit politik dalam mencari ruang politik untuk

serta dalam setiap kandidat calon saling nenpengaruhi satu sama lain untuk

melakukan lobi politik dengan kepentingan-kepentingan tertentu sehingga

memperoleh peluang yang tinggi,Sehingga terdapat percecokan antara pasangan

nomor urut 1 yaitu tim rabu dan pasangan nomor urut 2 yaitu tim abdi dalam meraih

kekuasaan, Begitu pula terjadi pada seorang mantan bupati Aceh Tenggara yaitu yang

bernama H Armen Desky ditikam ditempat Warkop Gemstone orang yang tak

dikenal, Informasi kejadian ini terjadi saat H Armen Desky akan beranjak pergi usai

ngopi untuk melaksanakan sholat Ashar di Mesjid Agung At-Taqwa kutacane

tersebut.

Sedangkan menurut para sejarawan politik Inovasi Machiavelli dalam buku

The Discaurses dan The Prince adalah memisahkan teori politik dari kekuasaan. Hal

itu bertolak belakang dengan tradisi barat mempelajari teori politik dan kebijakan

sangat erat kaitanya dengan kekuasaan seperti pemikiran Aristoteles yang

mendefinisikan politik sebagai perluasan dari kekuasaan. Dalam pandangan barat,

politik kemudian dipahami dalam rangka benar dan salah, adil dan tidak adil. Ukuran-

ukuran moral yang digunakan untuk mengevaluasi tindakan manusia dilapangan

politik saat itu, Machiavelli telah menggunakan istilah ia stato, yang berasal dari

istilah latin status, yang menunjukan pada ada dan berjalannya kekuasaan dalam arti

yang memaksa, tidak menggunakan istilah dominium yang menunjukan pada

kekuasaan privat.
Hal ini senada dengan situasi dan kondisi di Florence, waktu itu mengalami

perebutan kekuasaan yang mengakibatkan keadaan negara tidak stabil sehingga

akhirnya, efek jera dari perebutan kekuasaan itu menjadikan rakyat tertindas dan

Negara pun mengalami krisis multimensional. Sehingga Florence menjadi negara

yang lemah dan diserang oleh negara-negara yang ada disekitarnya. Maka pantaslah

bila Machiavelli menganugrahkan gagasannya lagi penguasa di negerinya yang kala

itu di pegang oleh keluarga Medici, dengan tujuan agar Florence tidak hancur dan

jatuh.

Namun ide Machiavelli ini terlanjur oleh para intelektual, dan poltik dianggap

sebagai ide yang digunakan oleh para penguasa dunia yang otoriter dan bersifat

menindas rakyatnya. Ini terindikasi dari berbagai pengakuan mereka, bahwa mereka

mengakui memegang dan mempelajari karya The Prince Machiavelli. Seperti Hitler

pemimpin NAZI di Jerman menyimpan The Prince disamping tempat tidur-nya

Napoleon Bonaparto mengemukakan2 bahwa hanya karya politik The Prince yang

layak dibaca, bahkan Musolini berani secara terang terangan didepan rakyatnya

mengatakan bahwa Machiavelli sebagai godfather spritual dan intelektual, dan masih

ada lagi para penguasa selain mereka. Dan inilah yang menjadi alasan orang-orang

yang menganggap Machiavelli sebagai politikus yang jahat.

Dari uraian diatas yang menjelaskan tentang bagaimana konsep meraih

kekuasaan maka hal inilah yang melatar belakangi saya untuk melakukan penelitian

“KONSEP MERAIH KEKUASAAN MENURUT MACHIAVELLI (STUDI

KASUS PILKADA ACEH TENGGARA 2017)”

2
Henry J. Filsafat Politik Barat, kajian historis dari jaman yunani kuno sampai moderen, h.248.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas,maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai

berikut :

1. Bagaimana pemikiran Machiavelli konsep meraih kekuasaan.

2. Bagaimana konsep kekuasaan Menurut Machiavelli Pada Pilkada Aceh Tenggara

2017.

3. Bagaimana kaitannya dengan Fiqih Siyasah.

C. Batasan Masalah

Dalam rangka maksimalisasikan fokus penelitian ini demi hasil yang akurat, maka

peneliti ini mengacu kepada pemikiran Machiavelli tentang konsep meraih kekuasaan

dalam pemikiran Machiavellii.

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui tentang Machiavelli dan peranya dalam menuangkan pemikiran

kekuasaan pada masanya.

2. Untuk menggambarkan dan menganalisa konsep kekuasaan Machiavelli pada

Pilkada Aceh Tenggara 2017.

3. Untuk mengetahui alasan serta kekuatan politik yang digunakan oleh Machiavelli.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki nilai manfaat baik secara teoritas maupun secara praktis, yaitu

sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritas

Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap nilai efektif konsep meraih

kekuasaan, hal ini selanjutnya dimaksudkan untuk memberi kontrubusi dalam

upaya pengembangan masyarakat tentang konsep kekuasaan yang berlaku dan

secara umum. Lebih lanjut, penelitian ini juga dapat dijadikan bahan evaluasi

terhadap presentasi kerja para penegak hukum.

2. Manfaat Praktis : Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi

kontribusi dan pertimbangan sebagai referensi akademis peneliti berikutnya dalam

hal sebagai bahan untuk membantu para pelaku politik, serta bagi masyarakat

umum melakukan konsep meraih kekuasaan dalam pilkada aceh tenggara 2017

tersebut.
DATFAR ISI

ABSTRAK .................................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .................................................................................... 1

B. Pembatas dan Perumusan Masalah .................................................................... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .......................................................................... 6

D. Metodologi Penelitian ........................................................................................ 7

E. Sistematika Penulisan ......................................................................................... 9