Anda di halaman 1dari 20

BAB II

DISKRIPSI PROYEK PERUBAHAN

A. OUTPUT KUNCI PROYEK PERUBAHAN


Perubahan mempunyai manfaat bagi keberlangsungan suatu organisasi
secara dinamis, tanpa adanya perubahan yang membawa perbaikan atau
keberhasilan maka dapat dipastikan bahwa organisasi tersebut akan statis
dan tidak akan berkembang. Dalam rangka proses perubahan tersebut
agar arah dan hasil perubahan dapat dipantau secara konkrit maka dapat
diuraikan beberapa output kunci atau keuaran penting yang dihasilkan
dalam proyek perubahan ini, yaitu :

Nama Deskripsi

1. Jangka Pendek ;
a. Terbitnya Surat a. Terbentuknya Tim
Keputusan Kepala Pengendali Penyakit
Dinas Kesehatan Demam Berdarah
Kabupaten Magetan sebagai tim yang
tentang pembentukan bekerjasama dengan
Tim Pengendali project leader untuk
Penyakit Demam melaksanakan upaya
Berdarah pencegahan penyakit
demam berdarah
b. Tersusunnya petunjuk b. Adanya pedoman kerja
teknispemantauan jentik dalam melaksanakan
dan kartu pemantauan pemantauan jentik bagi
jentik JUMANTIKA
c. Terbitnya Surat c. Terbentuknya Desa
Keputusan Camat Tamanarum sebagai
Parang tentang desa modelpencegahan
penunjukan Desa penyakit demam

14
Tamanarumsebagai berdarah berbasis
Desa model masyarakat
pencegahan penyakit
demam berdarah
berbasis masyarakat
d. Terbentuknya d. Terbentuknya
JUMANTIKA di Desa JUMANTIKA sebagai
Tamanarum wujud dari upaya
pencegahan penyakit
demam berdarah
berbasis masyarakat
e. Launching JUMANTIKA e. Meningkatnya sinergitas
di Desa Tamanarum lintas program dan lintas
Kecamatan Parang sektor
Kabupaten Magetan.

2. Jangka Menengah ;
a. Sosialisasi tentang a. Tersebarnya informasi
JUMANTIKA tentang JUMANTIKA
kepada seluruh desa di
Kabupaten Magetan
b. Terbentuknya b. Seluruh Desa di
JUMANTIKA di seluruh Kabupaten Magetan
Desa di Kabupaten telah melaksanakan
Magetan. pencegahan penyakit
demam berdarah
berbasis masyarakat
dengan membentuk
JUMANTIKA.
3. Jangka Panjang ;
Eliminasi penyakit Dengan implementasi
demam berdarah di JUMANTIKA maka

15
Kabupaten Magetan diharapkan terputuslah
siklus hidup nyamuk
sehingga akan terwujud
eliminasi penyakit demam
berdarah di Kabupaten
Magetan

B. PENTAHAPAN PROYEK PERUBAHAN


Untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam proyek perubahan ini
maka telah disusun tahapan pelaksanaan proyek perubahan yang terbagi
dalam jangka pendek jangka menengah dan jangka panjang sebagai
berikut :

Tabel
Pentahapan (Milestone) Proyek Perubahan
No TAHAP UTAMA Waktu
1 Jangka Pendek
a. Melaksanakan bimbingan, arahan dan 7 Mei 2018
persetujuan Mentor
b. Melakukan rapat koordinasi lintas 8 Mei 2018
program
c. Membentuk Tim Pengendali penyakit 9 Mei 2018
demam berdarah
d. Menyusun petunjuk teknis pemantaun 11 Mei2018
jentik dan pembuatan kartu
pemantauan jentik
e. Melaksanakan rapat koordinasi lintas 11 Mei2018
sektor tekait
f. Menunjuk Desa Tamanarum sebagai 14 Mei 2018
desa model pencegahan penyakit
demam berdarah berbasis
masyarakat

16
No TAHAP UTAMA Waktu
g. Membentuk JUMANTIKA dengan 15 Mei 2018
surat keputusan Kepala Desa
h. Melakukan launching JUMANTIKA DI 16 Mei 2018
Desa Tamanarum
i. Melakukan bimbingan teknis kepada 17 s/d 24 Mei
JUMANTIKA 2018
j. Melaksanakan pemantaun jentik di 25 Mei s/d 9 Juni
seluruh rumah di desa Tamanarum 2018
k. Melakukan monitoring dan evaluasi 12 s/d 24 Juni
2018
2 Jangka Menengah
a. Sosialisasi tentang JUMANTIKA.ke
Tahun 2018
seluruh Desa di Kabupaten Magetan
b. Pembentukan JUMANTIKA ke seluruh
Desa di Kab.Magetan Tahun 2018

3 Jangka Panjang
Tercapainya eliminasi Penyakit Demam Tahun 2019 dan
seterusnya
Berdarah di Kabupaten Magetan

C. TATA KELOLA PROYEK PERUBAHAN

Untuk melaksanakan kegiatan Proyek Perubahan, diperlukan Tim


yang efektif dan efisien dalam upaya pencegahan dan pengendalian
penyakit demam berdarah melalui pembentukan JUMANTIKA sebagai
model pencegahan penyakit demam berdarah berbasis masyarakat

17
Adapun tata kelola proyek perubahan adalah sebagai berikut

SPONSOR
Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Magetan

COACH PROJECT LEADER


Dr. Ir. Bambang Basuki Didik Setyo Margono, S. SOS,
Hanugrah, MM M. MKES

KASI P2M

TIM PENGENDALI DB PENGELOLA


PROGRAM DB
ANGGOTA

Gambar
Struktur Tata Kelola Proyek Perubahan

Adapun tugas dan tanggung jawab dari bagan organisasi tersebut


adalah :
1. Mentor : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan
Secara umum peran dan tugas Mentor adalah :
a. Bertindak sebagai pembimbing dan pengawas peserta berdasar
sikap profesionalisme
b. Memberikan dukungan penuh kepada peserta diklat dalam
mengimplementasikan proyek perubahan
c. Memberikan dukungan kepada peserta dalam mendayagunakan
seluruh potensi sumberdaya yang diperlukan dalam melakukan
implementasi proyek perubahan
d. Memberikan bimbingan kepada peserta dalam mengatasi
kendala yang muncul selama proses implementasi berlangsung
e. Berperan sebagai inspirator bagi peserta diklat

18
2. Coach, Widyaiswara Badan Diklat Provinsi Jawa Timur,
Dalam tahap laboratorium kepemimpinan, Coach memiliki tugas :
a. Melakukan monitoring secara reguler terhadap kegiatan peserta
selama tahap Laboratorium Kepemimpinan melalui media
Teknologi Informasi (IT)
b. Memberikan feedback terhadap laporan progress implementasi
proyek perubahan yang disampaikan peserta bimbingan minimal
seminggu sekali
c. Melakukan intervensi bila peserta mengalami permasalahan
selama tahapan Laboratorium Kepemimpinan
d. Melakukan komunikasi dengan Mentor terkait kegiatan peserta
selama tahap Laboratorium Kepemimpinan
e. Mengembangkan instrumen monitoring dan perekaman terhadap
progress yang dilaporkan oleh peserta bimbingan
f. Mengkomunikasikan proses, kemajuan dan hasil coaching
kepada penyelenggara Diklat Kepemimpinan Tingkat III

3. Project Leader, Didik Setyo Margono S. Sos.,M.MKessebagai


peserta Diklat, beberapa hal yang harus dilakukan adalah :
a. Melakukan eksekusi keseluruhan tahapan yang telah dirancang
dalam project charter dengan mendayagunakan sumber daya
yang dimiliki
b. Mengambil inisiatif dalam dialog dengan mentor dan coach
c. Secara aktif melakukan diskusi dengan bertanya atau
melaporkan progress implementasi proyek perubahan kepada
coach minimal satu minggu sekali
d. Mengacu rumusan milestone dalam project charter sebagai
dasar pencapaian target perubahan
e. Menggerakkan seluruh elemen stakeholders terkait (internal dan
eksternal) dalam mendukung keseluruhan tahapan implementasi
perubahan
f. Mengembangkan instrumen monitoring dan melakukan
perekaman terhadap setiap progress yang dihasilkan dalam
proses implementasi proyek perubahan

19
g. Menyusun laporan proyek perubahan ke dalam sebuah diskripsi
utuh mulai dari proses penyusunan project charter sampai
dengan hasil/capaian dari implementasi proyek perubahan.
Deskripsi dan analisis terhadap critical success factor dan
strategi mengatasi kendala yang muncul selama tahapan ini juga
merupakan bagian penting yang harus tercakup dalam laporan
ini.
h. Menyerahkan laporan implementasi proyek perubahan kepada
penyelenggara Diklat Kepemimpinan Tingkat III pada tahap
evaluasi.

4. Kasi Pemberantasan Penyakit Menukar


a. Menyelenggarakan administasi kegiatan
b. Mengkoordinasikan kegiatan dengan Tim Pengendali
c. Melaporkan hasil kegiatan kepada Project Leader

5. Tim Pengendali Penyakit DB :


a) Menyusun dan mempersiapkan Petunjuk Teknis dan Pembuatan
Kartu Pemantau jentik
b) Membantu pelaksanaan kegiatan di lapangan
c) Mengkoordinasikan kegiatan monitoring dan evaluasi
pengendalian penyakit demam berdarah

6. Pengelola Program DB
a) Mempersiapkan semua administrasi kegiatan proyek perubahan
b) Membuat pertanggungjawaban keuangan

D. STAKEHOLDER PROYEK PERUBAHAN


Stakeholder yang terlibat dalam pelaksanaan proyek perubahan ini
terbagi menjadi stakeholder internal dan eksternal.Adapun peranan,
pengaruh dan kedudukan masing – masing stakeholder dimaksud sebagai
berikut :
1. Peran Masing-masing Stakeholder
Stakeholder proyek perubahan masing-masing mempunyai peran
sebagai berikut :
20
A STAKEHOLDER DESKRIPSI
INTERNAL
1 Kepala Dinas a. Sebagai Mentor
Kesehatan b. Bimbingan, arahan dan
persetujuan proyek perubahan
2 Kepala Bidang a. Ketua Tim Pengendali
Pelayanan b. Mengkoordinasikan
Kesehatan penyusunan petunjuk teknis
pemantauan jentik
c. Mengkoordinasikan
penyusunan kartu
pemantauan jentik
d. Mengkoordinasikan penilaian
hasil monev pengendalian DB
di Desa Tamanarum
3 Kepala Seksi a. Melakukan koordinasi kegiatan
Pemberantasan dengan Tim Pengendali
Penyakit Menular b. Menyelenggarakan
administrasi kegiatan
c. Menyusun laporan
pelaksanaan kegiatan dan
melaporkan kepada project
leader
4 Kepala Seksi a. Anggota Tim Pengendali
Pencegahan Penyakit b. Melaksanakan kegiatan
pengendalian DB
c. Mengkoordinir kegiatan
surveilans DB
5 Kepala Seksi a. Anggota Tim Pengendali
Pelayanan b. Melaksanakan kegiatan
Kesehatan Primer PengendalianDB
c. Mengkoordinir kegiatan
pelayanan kesehatan

21
perseorangan dan masyarakat
6 Kepala Seksi a. Anggota Tim Pengendali
Promkes dan b. Melaksanakan kegiatan
Pemberdayaan Pengendalian DB
Masyarakat c. Mengkoordinir kegiatan
promosi kesehatan dan
pemberdayaan masyarakat
7 Kepala Puskesmas a. Anggota Tim Pengendali
b. Melaksanakan kegiatan
Pengendalian DB
c. Mengkoordinir upaya
pelayanan kesehatan
perseorangan dan masyarakat
di wilayah kerjanya
8 Pemegang Program a. Membantu pelaksanaan
demam berdarah kegiatan Tim Pengendali
b. Membuat pertanggungjawaban
pelaksanaan kegiatan

B STAKEHOLDER DESKRIPSI
EKSTERNAL

1 Sekretaris Daerah Memberi dukungan dan menyetujui


implementasi JUMANTIKA di
seluruh desa di Kabupaten
Magetan
2 Kepala Bappeda Memberikan dukungan anggaran
untuk kegiatan JUMANTIKA
3 Camat Memberi dukungan dan
berkoordinasi dalam kegiatan
pengumpulan informasi
penyakitdemam berdarah di tingkat
kecamatan

22
4 Kepala Desa / Lurah Memberi dukungan dan
berkoordinasi dalam kegiatan
pengumpulan informasi penyakit
demam berdarah di tingkat Desa
5 PKK Memberikan dukungan penuh
terhadap upaya pencegahan dan
penanggulangan penyakit demam
berdarah serta mendorong
anggota PKK untuk menjadi kader
JUMANTIKA

2. Pengaruh Masing-masing Stakeholder

STAKEHOLDER PENGARUH
A
INTERNAL
1 Kepala Dinas Sangat Tinggi (berpengaruh
Kesehatan atasdukungan/ persetujuan
Proyek Perubahan).
2 Kepala Bidang Sangat Tinggi (berpengaruh
Yankes terhadap berhasil tidaknya
Proyek Perubahan dalam
Pengendalian DB).
3 Kepala Seksi Tinggi (berpengaruh atas
Pemberantasan Pengkoordinasian Tim dan
administarsi kegiatan).
4 Kepala Seksi Tinggi (berpengaruh terhadap
pencegahan kegiatan surveilans di
puskesmas)
5 Kepala Seksi Tinggi (berpengaruh pada
Pelayanan kesehatan kegiatan mutu pelayanan
primer kesehatandi puskesmas baik
upaya kesehatan
perseorangan maupun
masyarakat)

23
6 Kepala Seksi promkes Tinggi (berpengaruh terhadap
dan pemberdayaan penyebaran informasi kegiatan
masyarakat kepada masyarakat luas)
7 Kepala Puskesmas Tinggi (berpengaruh terhadap
pengkoordinasian dan
pengumpulan data di
Puskesmas).
8 Pemegang Program Tinggi (berpengaruh terhadap
demam berdarah pelaksanaan pencegahan dan
pengendalian penyakit demam
berdarah).
STAKEHOLDER
A PENGARUH
EKSTERNAL
1 Sekretaris Daerah Tinggi (berpengaruh atas
dukungan implementasi
Jumantika di seluruh Desa di
Kabupaten Magetan)
2 Kepala Bappeda
Tinggi (berpengaruh atas
dukungan anggaran)

3 Camat Tinggi (berpengaruh untuk


mengkoordinasikan kegiatan di
wilayah Kecamatan)
4 Kepala Desa / Lurah Tinggi (berpengaruh terhadap
pengumpulan data di tingkat
Desa).
5 PKK Rendah (berperan aktif dalam
memberikan informasi terkait
kasus DBD dan mendorong
anggota PKK untuk menjadi
Kader JUMANTIKA).

24
3. Kedudukan Masing-masing Stakeholder
a. Analisa Pemetaan Stakeholder
Kekuatan
(+)

Promoters (+ +)
Latents (+ -) • Kepala Dinas
• Sekda Kesehatan Kab.
• Kepala Bappeda Magetan
• Camat
• Kepala Desa

Kepentingan
(+)

Defenders (- +)
• Kabid Yankes
• Kepala Seksi P2M
• Kepala Seksi
Apathetic (- -) Pencegahan Penyakit
• PKK • Kepala Seksi
YankesPrimer
• Kepala Seksi Promkes
• Kepala Puskesmas
• Pengelola Program D B

Hasil Analisis Stakeholders tersebut diperolehKelompok


Stakeholders :
1) Promoters : Kepentingan Besar, Kekuatan Besar.
2) Defenders : Kepentingan Besar, Kekuatan Kecil.
3) Latents : Kepentingan Kecil, Kekuatan Besar.
4) Apathetics : Kepentingan Kecil, Kekuatan Kecil

b. Strategi Pendekatan Stakeholder


STAKEHOLDER STRATEGI
Promotors + + a. Kordinasi dan Konsultasi ;
b. Melibatkan promotor tentang

25
pengambilan keputusan dalam
perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi;
c. Meningkatkan motivasi dan
kompetensi.
Defenders - + a. Melaksanakan koordinasi;
b. Sebagai unsur kolaborasi untuk
proyek perubahan.
Latens + - a. Menjaga koordinasi dan komunikasi;
b. Menunjukan upaya yang dilakukan
memiliki efek positif terhadap isu yang
menjadi perhatiannya.
Apatetics - + a. Pemberitahuan adanya proyek
perubahan;
b. Menunjukkan adanya peran serta
masyarakat.

E. TARGET CAPAIAN KINERJA

BOBOT TARGET
No URAIAN KINERJA
% %

A JANGKA PENDEK (<2 BLN)

1. Melaksanakan bimbingan, arahan 10 100


dan persetujuan Mentor
2. Melaksanakan rapat koordinasi 10 100
lintas program
3. Membentuk Tim Pengendali
5 100
penyakit demam berdarah
4. Menyusun petunjuk teknis dan
10 100
pembuatan kartu pemantau jentik
5. Melaksanakan rapat koordinasi
10 100
lintas sektor terkait
6. Menunjuk Desa Tamanarum sebagai
10 100
desa model pencegahan penyakit

26
BOBOT TARGET
No URAIAN KINERJA
% %

A JANGKA PENDEK (<2 BLN)

demam berdarah berbasis


masyarakat dengan Surat keputusan
Camat
7. Membentuk JUMANTIKA dengan
15 100
Surat Keputusan Kepala Desa
8. Melakukan Launching JUMANTIKA 10 100
9. Melakukan bimbingan teknis kepada
5 100
JUMANTIKA
10 Melaksanakan pemantauan jentik di
10 100
seluruh rumah di Desa Tamanarum
11 Monitoring dan evaluasi 5 100
JUMLAH 100

B JANGKA MENENGAH (>2BLN)

1. Sosialisasi JUMANTIKA 100


50

2. Pembentukan JUMANTIKA di 50 100


seluruh Desa di Kabupaten Magetan

JUMLAH 100

C JANGKA PANJANG (>2TAHUN)

1. Tercapainya Eliminasi Penyakit


Demam Berdarah di Kabupaten 100 100
Magetan

JUMLAH 100

27
F. DAFTAR RENCANA PROYEK PERUBAHAN

NO KEGIATAN WAKTU OUTPUT


A JANGKA PENDEK
(2BLN)

Melaksanakan bimbingan,
1. 7 Mei 2018 Diperolehnya
arahan dan persetujuan
bimbingan, arahan
Mentor
dan persetujuan dari
Mentor

2. Rapat koordinasi lintas 8 Mei 2018 Terlaksananya


program koordinasi lintas
program

3. Membentuk Tim 9 Mei 2018 Tindak lanjut rapat


Pengendali Penyakit koordinasi lintas
Demam berdarah program untuk
membentuk Tim
Pengendali dengan
Surat Keputusan
Kepala Dinas
Kesehatan
4 Menyusun petunjuk teknis 11 Mei 2018 Tersusunnya
pemantau jentik dan petunjuk teknis
pembuatan kartu pemantauan jentik
pemantauan jentik dan pembuatan
kartu pemantauan
jentik oleh Tim
Pengendali DB
5 Melaksanakan rapat 11 Mei 2018 Terlaksananya
koordinasi lintas sektor koordinasi lintas
terkait sektor terkait
6 Menunjuk Desa 14 Mei 2018 Tindak lanjut rakor
Tamanarum sebagi desa lintas sektor dengan

28
model pencegahan adanya kesepakatan
penyakit demam berdarah menunjuk Desa
berbasis masyarakat Tamanarum sebagai
desa model
pencegahan
penyakit demam
berdarah berbasis
masyarakat
7 Membentuk JUMANTIKA 15 Mei 2018 Terbentuknya
JUMANTIKA di desa
Tamanarum dengan
Surat Keputusan
Kepala Desa
8 Launching JUMANTIKA 16 Mei 2018 Pendeklarasian
JUMANTIKA Desa
Tamanarum kepada
seluruh stakeholder
dan masyarakat
umum
9 Melakukan bimbingan 17 s/d 24 Terlaksananya
Mei 2018
teknis kepada bimbingan teknis
JUMANTIKA kepada JUMANTIKA
oleh Tim Pengendali
10 Melaksanakan pemantaun 25 Mei s/d 9 Terlaksananya
Juni 2018
jentik di seluruh rumah di pemantau jentik oleh
Desa Tamanarum JUMANTIKA ke
seluruh rumah di
Desa Tamanarum
11 Melakukan monitoring dan 12 s/d 24 Terlaksananya
Juni 2018
evaluasi monitoring dan
evaluasi hasil
pemantauan jentik
yang telah dilakukan

29
oleh JUMANTIKA

JANGKA MENENGAH
B
(>2BLN)
1 Melaksanakan Tahun 2018 Terlaksananya
sosialisasiJUMANTIKA sosialisasi
JUMANTIKA di
seluruh desa di
Kabupaten Magetan
2 Pembentukan Tahun 2018 Terbentuknya
JUMANTIKA di seluruh JUMANTIKA serta
desa di Kabupaten terlaksananya
Magetan pencegahan
penyakit DB oleh
JUMANTIKA di
seluruh desa di
Kabupaten Magetan
JANGKA PANJANG
C
(>2TAHUN)
1 Eliminasi penyakit demam Tahun 2019 Dengan
dan
berdarah di Kabupaten implementasi
seterusnya
Magetan JUMANTIKA maka
diharapkan
terputuslah siklus
hidup nyamuk
sehingga akan
terwujud eliminasi
penyakit demam
berdarah di
Kabupaten Magetan

G. ADOPSI HASIL BENCHMARKING KE BEST PRACTICE.


Implementasi Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara
Nomor 19 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan

30
Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III, pada Bab II mengenai Struktur
Kurikulum menyebutkan bahwa salah satu mata diklat dari Agenda Tahap
III adalah Merancang Perubahan dan Membangun Tim, yang didalamnya
melaksanakan kegiatan Benchmarking ke Best Practice. Deskripsi mata
diklat tersebut bermaksud membekali peserta dengan kemampuan
mengadopsi dan mengadaptasi keunggulan organisasi yang memiliki best
practice dalam pengelolaan kegiatan, melalui pembelajaran benchmarking,
knowledge replication, dan knowledge customization. Keberhasilan peserta
dinilai dari kemampuannya dalam mengadopsi atau mengadaptasi best
practice.
Secara umum benchmarking adalah proses membandingkan dan
mengukur suatu kegiatan organisasi sebagai inspirasi dalam meningkatkan
kinerja organisasi (Marpaung dalam Benchmarking,GEMI,1994). Jadi
prinsip dari kegiatan benchmarking adalah membuka wawasan bagi
organisasi untuk dapat membandingkan dengan organisasi kompetitor dan
menciptakan gagasan yang strategis aplikatif, selanjutnya menjadi alat
strategi bagi manajemen untuk meningkatkan kinerjanya.
Guna memahami pengertian benchmarking, perlu diketahui terlebih
dahulu konsep dasar yang melandasi kerangka berfikir benchmarking
yaituaspek values yaitu piranti yang efektif dalam melakukan perubahan
dalam membangun suatu nilai dalam organisasi. Aspek yangkedua adalah
exelences, yaitu perbaikan keterampilan untuk pengembangan keunggulan.
Kunjungan ke mitra benchmarking bertujuan untuk melakukan
pengamatan dan mempelajari best practice mitra danmelakukan identifikasi
praktik terbaik mitra, melakukan pertukaran informasi, mengoreksi dan
memanfaatkan hasil analisis untuk keunggulan organisasi dalam
pengelolaan kegiatan di masa datang.
Kegiatan benchmarking dilaksanakan pada lokus di Lingkungan
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, yakni Rumah Sakit Umum Daerah
Cikalongwetan. Lokasi tersebut dipilih dengan pertimbangan bahwa
organisasi pemerintah daerah tersebut telah memberikan pelayanan publik
yang berkualitas di bidang kesehatan.
Rumah Sakit Umum Daerah Cikalong Wetan saat ini statusnya
masih Kelas D dan tidak memaksakan untuk menaikkan statusnya menjadi
31
Rumah Sakit Umum Daerah kelas C karena RSUD tersebut memiliki
keterbatasan sarana prasarana dan sumber daya manusia yang belum
memadai, RSUD Cikalong Wetan lebih mementingkan peningkatan
pelayanan terhadap masyarakat guna mensukseskan program Jaminan
Kesehatan Masyarakat (JKN) yang saat ini sudah dicanangkan oleh
Pemerintah Pusat.
Dari hasil benchmarking pada locus Organisasi Perangkat Daerah
(OPD) Rumah Sakit Umum Daerah Cikalongwaten Pemerintah Kabupaten
Bandung Barat Provinsi Jawa Barat diatas, dapat dilakukan beberapa
analisa hasil inovasi yang dilakukan. Hasil analisis sebagai berikut:
1. Aspek Perencanaan :
1. Perencanaan kebutuhan SDM RSUD Cikalong Wetan disesuaikan
dengan standard kebutuhan SDM untuk Rumah Sakit Kelas D.
Pada awalnya ketika RSUD Cikalongwetan diresmikan hanya
memiliki 11 PNS yang terdiri atas medis, paramedis dan non medis.
Untuk memenuhi kebutuhan SDM telah dilakukan rekruitmen
tenaga non PNS yang dilakukan secara bertahap sehingga
berjumlah 216 orang;
2. Perencanaan pembangunan fisik atau gedung RSUD dilakukan
secara bertahap sesuai dengan master plan;
3. Perencanaan pengadaan alat kesehatan RSUD Cikalong Wetan
disesuaikan dengan standard kebutuhan alat kesehatan untuk
Rumah Sakit Kelas D;
4. Meningkatkan Tipe RS menjadi RS tipe C dengan meningkatan
kualitas pelayanan, sarana dan prasarana sesuai UU yang berlaku.
(CT Scan, Hemodialisis, Rehabilitasi Medis, Sub Spesialis, dll).
2. Aspek Pengorganisasian :
Penyusunan struktur organisasi rumah sakit ini mengacu pada
Keputusan Direktur RSUD Cikalong Wetan Nomor: 441/A.2/RSUD-
CW/333/IX/2017, 26 September 2017.
3. Aspek Pelaksanaan :
Dalam pelaksanaan visi dan misi RSUD Cikalong Wetan kunjungan ke
IGD, rawat jalan dan rawat inap mengalami peningkatan yang cukup
signifikan walaupun baru dilakukan soft opening.
32
4. Aspek Monitoring dan Evaluasi
Sebagai bentuk evaluasi dan monitoring dengan melalui :
 Laporan kegiatan pelayanan
 Laporan kunjungan pasien

Berdasarkan hasil best practice yang ditemukan di Rumah Sakit


Umum Daerah Cikalongwaten Pemerintah Kabupaten Bandung Barat
Provinsi Jawa Barat, maka dapat diadopsi yang sesuai dengan judul proyek
perubahan Instansional Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan adalah
keterbatasan sumberdaya bukanlah halangan untuk menghasilkan kinerja
terbaik apabila dikelola dengan tata kelola yang baik mulai proses
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.
Bagaimana sebuah Rumah Sakit bisa berdiri dan berkembang dengan
ketenagaan awal diresmikan hanya memiliki 11 PNS yang terdiri atas
medis, paramedis dan non medis. Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan
SDM telah dilakukan rekruitmen tenaga non PNS yang dilakukan secara
bertahap sehingga sekarang berjumlah 216.
Sesuai dengan best practice tersebut, maka Dinas Kesehatan
Kabupaten Magetan, khususnya Bidang Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit dalam penyusunan proyek perubahan ini, akan mengoptimalkan
kinerja Jumantik yang selama ini “mati suri” dengan JUMANTIKA didukung
tata kelola yang baik dengan kejelasan KA (ber-SK, beKerjA dan Berhasil
Karya) dan dukungan penuh dari masyarakat, lintas program, lintas sektor
serta dukungan regulasi terkait, sebagai model pencegahan penyakit
demam berdarah berbasis masyarakat.
Upaya meningkatkan kinerja JUMANTIKA dilaksanakan
melaluipemberian SK, penyusunan pedoman teknis dan kartu pemantauan,
bimbingan teknis serta monitoring dan evaluasi. Dengan kejelasan tata
kelola JUMANTIKA besar harapan kami masyarakat benar-benar tahu,
mau dan mampu melaksanakan upaya pencegahan penyakit secara
mandiri sehingga menjadi budaya kerja yang berkembang di masyarakat.
JUMANTIKA bekarya, JENTIK tidak ada, ELIMINASI DB terwujud nyata.

33