Anda di halaman 1dari 13

IBNU SINA

“FATHER OF DOCTOR”

(www.stieibnusina.ac.id)
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin
Ali bin Sina. Masyarakat barat mengenal dengan sebutan “Avicienna”. Ibnu Sina
memiliki keahlian diberbagai bidang, seperti kedokteran, filosof, psikolog,
punjangga, pendidik, dan sarjana Muslim yang hebat. Ibnu Sina lahir pada bulan
shafar 370 H atau di bulan Agustus 985 M di Afsyahnah daerah dekat Bukhara,
sekarang wilayah Uzbekistan (Persia) dan meninggal bulan Juni 1037 di Hamdzan
Persia (Iran). Ia berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah. Orang tuanya
adalah seorang pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti saman. Ia dibesarkan di
Bukharaja serta belajar falsafah dan ilmu-ilmu agama Islam.

(https://kisahmuslim.com)
Ibnu Sina dilahirkan dalam masa kekacauan, dimana khalifah Abbasiyah
mengalami kemunduran dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah

1
kekuasaan khilafat tersebut mulai melepaskan diri satu persatu untuk berdiri
sendiri. Di antara daerah-daerah yang berdiri sendiri ialah Daulah Samani di
Bukhara, dan diantara khalifahnya ialah Nuh bin Mansur. Pada masa ke
khalifahannya itulah Ibnu Sina dilahirkan.
Ibnu Sina beruntung lahir di keluarga yang memiliki latar belakang
pendidikan tinggi. Sejak kecil sang Ayah mengajarinya untuk cinta ilmu.
Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah
seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan
apapun selain belajar dan menimba ilmu. Ibnu Sina diajari Quran dan sastra. Di
usia 10 tahun Ibnu Sina telah berhasil menghafal isi Al-Quran dan mendalami
berbagai karya sastra. Ia belajar filsafat dari Abu Abdillah An-Natili, seorang
filosof kenamaan dan dalam waktu singkat Ibnu Sina berhasil menguasai filsafat.
Sebelumnya ia telah mempelajari ilmu Fiqih. Kecerdasan Ibnu Sina semakin
terlihat saat beliau berusia 16 tahun, dimana ia telah sanggup menerangkan
kembali isi dari buku Isagoge (ilmu logika), buku Al-Mages (ilmu astronomi
kuno), dan buku Ecludis (ilmu arsitektur). Bukan hanya pandai dalam menguasai
isi dari buku yang dipelajarinya, tetapi Ibnu Sina sanggup menciptakan sebuah
alat astronomi yang belum pernah dibuat para ahli sebelumnya. Setelah
mempelajari serta mendalami ilmu-ilmu alam dan ketuhanan, iapun merasa
tertarik untuk mempelajari ilmu kedokteran serta kesehatan pada Isa bin Yahya,
karena ketekunan yang ia miliki hanya dalam waktu singkat, ia berhasil
menguasai ilmu tersebut dengan baik sehingga Ibnu Sina sanggup mengobati
orang-orang yang sakit pada masa itu. Ibnu Sina dapat menyembuhkan penyakit
yang diderita Sultan Samaniyah, Nuh bin Mashur (976-997), sehingga dia diberi
hak istimewa untuk menggunakan perpustakaan besar milik raja. Sehingga Ibnu
Sina membaca seluruh buku yang ada diperpustakaan itu dan berhasil menguasai
semua ilmu yang ada pada masanya, sekalipun ia lebih menonjol dalam bidang
filsafat dan kedokteran. Pada usia 21 tahun, Ibnu Sina mulai menulis karya-karya
monumental di berbagai bidang keilmuwan, dengan karya pertamanya berjudul
Al-Majmu’u (ikhtisar) yang memuat berbagai ilmu pengetahuan umum. Ibnu Sina
tidak pernah berhenti membaca serta tidak pernah bosan menulis buku, ia dikenal

2
kuat memikul tanggung jawab ilmu dan sering tidak tidur malam hanya karena
membaca dan menulis. Ibnu Sina ketika mengobati pasiennya, ia tidak pernah
mengambil upah, bahkan ia banyak bersedekah kepada fakir miskin sampai akhir
hayatnya. Ibnu Sina meninggal di Hamdzan, Persia pada tahun 428 H (1037 M)
dalam usia 58 tahun. Ia meninggal karena penyakit usus besar.

(http://www.mapnall.com)
Selama hidupnya Ibnu Sina memberikan sumbangan untuk kemajuan
keilmuan didunia, sehingga banyak ilmuan dunia yang mengadopsi pemikiran
Ibnu Sina melalui karya-karyanya. Pada tahun 1955, Ibnu Sina dinobatkan sebagai
“Father of Doctor” untuk selama-lamanya. Selain itu, Ibnu Sina juga pernah
diberi gelar sebagai “Medicorum Principal” atau “Kepala Ahli Kedokteran” oleh
Kaum Latin Skolastik. Gelar lainnya “Raja Obat” dan dalam dunia Islam, ia
dianggap sebagai “Zenith” yakni puncak tertinggi dalam ilmu kedoktoran.
Adapun penemuan serta karya yang diciptakan Ibnu Sina dibidang
Kesehatan dan Kedokteran, yaitu :

(www. penemuislam.wordpress.com)

3
Karya yang ditulis oleh Ibnu Sina diperkirakan antara 100 sampai 250 buah
judul. Karya-karya Ibnu Sina yang terkenal dalam bidang kedokteran adalah Al-
Qanun atau The Canon of Medicine dan The Book of Healing, yang digunakan
sebagai referensi dibidang kedokteran selama berabad-abad. Selain itu, ia banyak
menulis karangan-karangan pendek yang dinamakan Maqallah.
- Al-Qanun fi Thib (aturan pengobatan). Buku ini merupakan buku pedoman
kedokteran dan buku yang terluas dipergunakan oleh kalangan kedokteran
baik didaerah Islam maupun bangsa Eropa. Terdiri
dari lima pokok bagian, yaitu (1) Prinsip umum
kedokteran yang meliputi filsafat kedokteran,
anatomi, fisiologi, pemeliharaan kesehatan, dan
penanganan penyakit-penyakit, (2) Obat-obatan
yang sederhana, (3) Gangguan organ dalam dan
luar tubuh, (4) Beragam penyakit yang
mempengaruhi tubuh secara umum, tidak terbatas
pada satu organ tubuh, dan (5) Obat-obat
persenyawaan kompleks. Dalam pengobatan
(https://www.slideshare.net)
dengan obat-obatan dijelaskan bahwa ada tiga
aturan dalam memilih obat, yakni (1) Seleksi sesuai kualitas, baik panas,
dingin, lembab, kering, (2) Pemilihan jumlah yang akan diberikan (dosis),
berat badan dan derajat panas dan dingin, dan (3) Aturan relative terhadap
pemberian.
- Buku As-Syifa (The Book of Recovery or The Book of Remedy) buku tentang
penemuan atau buku tentang penyembuhan.
- Buku Sadidiya, buku ilmu kedokteran.
- Kitab Arjuzah Ibnu Sina Ath-Thibbiyah. Kitab yang berupa sajak terdiri dari
1329 baik ini, merupakan ringkasan dari kitab Al-Qanun sehingga dapat
dijadikan buku harian dokter yang mudah dihafal, dan dapat digunakan
secara praktis.
Pada abad ke-12 M, Gerard Cremona yang berpindah ke Toledo, Spanyol
telah menterjemahkan buku Ibnu Sina ke bahasa Latin. Buku ini menjadi buku

4
rujukan utama di universitas-universitas Eropa hingga 1500 M. Bukunya telah
disalin (dicetak) sebanyak 16 kali, 15 edisi dalam bahasa Latin dan sebuah edisi
dalam bahasa Yahudi (Hebrew). Disamping itu buku tersebut turut di terjemahkan
ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, dan Itali. Pada abad ke 16 M, buku
ini dicetak 21 kali. Al-Qanun Fit-Tibb juga digunakan sebagai buku teks
kedokteran di berbagai universitas di Perancis. Misalnya, di Sekolah
Tinggi Kedokteran Montpellier dan Louvin telah menggunakannya sebagai bahan
rujukan pada abad ke-17 M. Sementara itu Prof.Phillip K.Hitpi telah menganggap
buku tersebut sebagai “Ensiklopedia Kedokteran”. Penulis-penulis Barat telah
menganggap Ibnu Sina sebagai “Bapak Kedokteran”, karena Ibnu Sina telah
menyatukan teori pengobatan Yunani Hippocrates dan Galen serta pengalaman
dari ahli-ahli perobatan dari India dan Parsia maupun pengalaman beliau sendiri.

Bab : Mata dalam kitab Qanun fi Thib atau The Canon of Medicine karya Ibnu
Sina (980 M -1037 M)
(www.tholabulilmiy.wordpress.com)
Adapun penemuannya yang masih digunakan serta dikembangkan :
- Teori anatomi dan fisiologi. Teori-teori anatomi dan fisiologi dalam buku-
buku. Beliau menggambarkan analogi manusia terhadap negara dan
mikrokosmos (dunia kecil) terhadap alam semesta sebagai makrokosmos
(dunia besar). Misalnya di gambarkan bahwa syurga itu bulat dan bumi
persegi. Dengan demikian, kepala itu bulat dan kaki itu persegi empat.
Terdapat empat musim dan 12 bulan dalam setahun. Dengan begitu, manusia

5
memiliki empat tangkai dan lengan (anggota badan) mempunyai 12 tulang
sendi. Hati (heart) adalah “pangeran”-nya tubuh manusia, sementera paru-
paru adalah “menteri”-nya. Leher merupakan
“jendela”-nya sang badan, sedangkan kandung
empedu sebagai “markas pusat”- nya. Limpa dan
perut sebagai “bumbung”, sedangkan usus
merupakan sistem komunikasi dan sistem
pembuangan. Sementara itu “Canon of Medicine”
menguraikan pernyataan yang tegas bahwa “darah
mengalir secara terus-menerus dalam suatu
lingkaran dan tak pernah berhenti”. Namun hal ini
belum dapat dianggap sebagai suatu penemuan
(https://id.pinterest.com) tentang sirkulasi darah, karena bangsa Cina tidak
membedakan antara urat-urat darah halus (Veins) dengan pembuluh nadi
(Arferies). Analogi tersebut hanyalah analogi yang digambarkan antara
gerakan darah dan siklus alam semesta, pergantian musim dan gerakan-
gerakan tubuh tanpa peragaan secara empiris pada keadaan yang sebenarnya.

(https://www.aliexpress.com)
- Ilmu Urologi, dikaji oleh empat dokter Islam, yaitu Al-Razi, Ibnul Al-
Jazzar, Al-Zahrawi, dan Ibnu Sina. Mereka membahas dan menganalisis

6
penyakit ginjal dan yang lainnya. Mereka berhasil mengembangkan warisan
ilmu medis Yunani dan menciptakan penemuan baru.

(https://infopenyakitkelamin.wordpress.com/urologi/)
- Ilmu Anesthesia, merupakan suatu tindakan menghilangkan rasa sakit
ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang dapat
menimbulkan rasa sakit ditubuh. Ibnu Sina yang memulai ide untuk
menggunakan anesthesia oral. Ia menggunakan Opium sebagai peredam rasa
sakit yang sangat manjur.
- Krometrapi, merupakan terapi suportif yang dapat mendukung terapi
utama. Krometrapi menggunakan warna-warna tertentu untuk menentukan
jenis penyakit. Terapi ini dikembangkan oleh Ibnu Sina. Ia mampu
menggunakan warna sebagai salah satu bagian paling penting dalam
mendiagnosa dan perawatan.
- Teori penularan TBC dan efek penyakit Placebo. Ibnu Sina merupakan
ilmuan yang pertama kali mengemukakan teori penularan TBC dan efek
placebo. Namun, karena pada masa itu belum ditemukan mikroskop
penemuannya ini tidak diterima, baru pada tahun 1960 penemuan Ibnu Sina
ini diterima kebenarannya tentunya setelah kemajuan teknologi dan
penemuan mikroskop. Ia juga menyatakan tentang manfaat olahraga untuk
menjaga kesehatan.

7
- Pertama kali berpendapat bahwa pikiran manusia mempengaruhi
kondisi fisiknya. Ibnu Sina melakukan penelitian bahwa pikiran manusia itu
berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Sehingga Ibnu Sina berpesan
“Jangan pernah katakan kepada pasien bahwa penyakitnya tidak dapat
diobati, sesungguhnya sugesti yang diberikan merupakan obat bagi pasien”.
- Manfaat etanol dapat membunuh mikroorganisme. Etanol sekarang
banyak digunakan dalam bidang kedokteran dan kesehatan untuk membunuh
mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi pada pasien. Yang
menemukan pertama kali ialah Ibnu Sina, karena setiap hendak menangani
pasien ia selalu mencuci tangannya dengan khamr atau alkohol.
- Ibnu Sina mengetahui bahwa tulang tempurung kepala apabila pecah tidak
dapat melekat kembali seperti tulang lainnya pada badan, melainkan akan
tetap terpisah dan hanya terikat dengan selaput yang kuat. Sehingga ia
membagi pecahnya tulang menjadi dua, berdasarkan ada atau tidak adanya
luka :
 Pecah/luka tertutup : pecah pada tempurung kepala seperti ini
biasanya tidak disertai luka, akan tetapi sangat berbahaya karena bisa
berubah menjadi tumor, dan menyebabkan tertahannya darah dan
nanah.
 Pecah/luka terbuka : pecah pada tempurung kepala seperti ini
biasanya disertai luka. Parah atau tidaknya tergantung kepada
besarnya luka dan kerasnya benturan. Sehingga perlu diperhatikan
apakah luka sebatas di kulit atau sampai pada tulang.
- Mengobati penyakit dalam. Ibnu Sina dapat membedakan antara mulas
pada ginjal dan mulas pada lambung. Ia juga mampu membedakan
peradangan paru-paru dengan peradangan selaput otak. Orang yang pertama
berhasil mengobati kram perut karena faktor psikologis.

8
(https://www.republika.co.id)
- Penemuan penyakit Parasitic. Ibnu sina ialah orang yang pertama kali
menemukan cacing Ancylostoma. Ia juga dapat mendeteksi adanya penyakit
gajah yang disebabkan oleh cacing filarial dan dapat menjelaskan
penyebarannya di tubuh.
- Pengobatan penyakit khusus wanita. Ibnu Sina dapat menjelaskan
mengenai masalah kemandulan, demam yang diakibatkan karena nifas,
kanker, aborsi, dan tertutupnya saluran pada alat kelamin wanita, jauh
sebelum manusia mengenal mikroskop.
- Penyakit neuropsikiatri serta pengukuran denyut nadi/jantung dan
analisa kedokteran. Ibnu Sina dapat membedakan antara kelumpuhan saraf
wajah yang disebabkan oleh pengaruh otak dan disebabkan oleh pengaruh
badan, menjelaskan fungsi otak, dan melakukan pengobatan dengan cara
psikologis.
Ibnu Sina telah mengembangkan ilmu psikologi dalam pengobatan dan
membuat beberapa pengenalan dalam ilmu tersebut, yang dikenal hari ini
sebagai ilmu pengobatan psikosomatik “Psychosomatic Medicine”. Beliau
mengembangkan ilmu diagnosis melalui denyutan jantung (pulse diagnosis)
untuk mengetahui dengan pasti dalam waktu beberapa detik saja
ketidakseimbangan denyut tersebut. Diagnosis melalui denyutan jantung ini

9
masih dipraktekkan oleh para hakim (dokter-dokter muslim) di Pakistan,
Afghanistan dan Persia yang menggunakan ilmu pengobatan Yunani.
Seorang doktor tabii dari Amerika (1981) melaporkan bahwa para hakim di
Afghanistan, China, India dan Parsia sangat pintar dalam diagnosa denyutan
jantung pada tempat yang dirasa efektif dengan
hasil yang berbeda-beda, melalui pengukuran-
pengukuran seperti : (1) Kuat lemahnya
denyutan, (2) Waktu antara denyutan, (3)
Kelembapan di permukaan kulit dekat denyutan
dan lain-lain. Dari ukuran-ukuran denyutan
jantung itu, dapat diketahui dengan tepat
penyakit yang di derita si pasien.
Ibnu Sina menyadari pentingnya emosi dalam
pemulihan. Bila pasien mempunyai sakit
(https://fr.wikipedia.org) kejiwaan yang disebabkan oleh terpisahnya si
pasien dengan kekasihnya beliau bisa mendapatkan nama dan alamat
kekasihnya itu melalui cara berikut : Caranya adalah dengan menyebutkan
beberapa nama dan mengulanginya sembari jarinya diletakkan di atas
denyutan (pulse). Bila denyutan itu menjadi tidak teratur atau hampir-hampir
berhenti, hendaklah ia mengulangi proses tersebut. Dengan cara demikan,
nama jalan, rumah dan keluarga bisa diketahui. Setelah itu, kata Ibnu Sina
“Jika anda tidak dapat mengobati penyakitnya, maka temukanlah si pasien
dengan kekasihnya, dengan petunjuk yang telah di dapatkan”.
- Kedokteran mata. Dalam bukunya Ibnu Sina menjelaskan tentang anatomi
susunan saraf yang menggerakkan mata dan kelenjar air mata. Ibnu Sina
merupakan orang pertama yang memasukkan alat yang telah diberikan
antiseptic pada pasien dengan gangguan saluran air mata.

10
(http://reportasenews.com)
- Ibnu Sina menemukan benang khusus untuk menjahit luka pembedahan,
dan menciptakan alat suntik.

(https://www.alatkesehatan.id, https://www.medicalogy.com)
- Ibnu Sina menemukan peredaran darah dan anatominya 600 tahun
sebelum William Harvey. Ia juga yang pertama kali mengatakan bahwa bayi
selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali
pusarnya.
- Ibnu Sina menemukan dan menulis sebanyak 760 jenis obat-obatan, dan
menganjurkan agar obat-obatan tersebut dikemas dalam bungkusan terlebih
dahulu sebelum diberikan kepada pasien. Ibnu Sina juga melakukan uji
klinis, experimental medicine, uji efektivitas obat, risk factor analysis dalam
bidang farmakologi. Sebelum uji klinis dan kaidahnya ditemukan,

11
sebenarnya pada masa Islam obat-obatan dicobakan pada hewan seperti
kera, singa, tikus, dan kuda, untuk melalui uji kelayakan beredar.
- Mengobati orang yang tercekik kerongkongannya. Ibnu Sina membuat
penemuan dari pipa udara yang terbuat dari emas dan perak, kemudian
dimasukkan ke dalam mulut dan diteruskan ke kerongkongan untuk
mengobati orang yang tercekik dan sulit bernapas. Cara ini masih terus
digunakan sampai sekarang, bahan yang digunakan untuk alatnya semakin
canggih sesuai dengan perkembangan teknologi.
- Pelopor aromaterapi. Ibnu Sina juga merupakan penemu teknik destilasi
uap yang mengekstrak minyak astri dari herbal dan rempah. Ia juga
menemukan suatu zat untuk mengkondensasikan uap aromatic. Digunakan
untuk terapi dalam pengobatan.
- Penemu thermometer. Ibnu Sina selalu menggunakan thermometer untuk
mengukur suhu baik kepada pasien, maupun pada setiap penelitiannya.

(https://www.cgtrader.com)

"Saya memilih umur pendek yang penuh makna dan karya daripada umur
panjang yang hampa” (Ibnu Sina)

12
Referensi
1. Biografi Ibnu Sina-Ilmuan Muslim Pakar Kedokteran Dunia.
(http://www.stieibnusina.ac.id/biografi-ibnu-sina-ilmuwan-muslim-pakar-
kedokteran-dunia/).
2. Biografi Ibnu Sina. (http://bio.or.id/biografi-ibnu-sina/).
3. Biografi Ibnu Sina. (https://tholabulilmiy.wordpress.com/2012/02/02/ibnu-
sina/).
4. Biografi Ibnu Sina Ilmuwan Islam.
(http://www.biografipedia.com/2015/07/biografi-ibnu-sina-ilmuwan-
islam.html).
5. Dalimunthe, Farhan A. Penemuan Besar Ibnu Sina dalam Kesehatan.
(http://ittihadulmuslimeen.blogspot.com/2016/04/penemuan-besar-ibnu-
sina.html).
6. Fathoni, Rifai S. 2016. Biografi Ibnu Sina:Father of Doctor.
(http://wawasansejarah.com/biografi-ibnu-sina/).
7. Ibnu Sina dan Sejarahnya. (http://digilib.uinsby.ac.id/1574/6/Bab%202.pdf)
8. Ibnu Sina. (https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina).
9. Maryam.2011.Perkembangan Kedokteran dalam Islam. Jurusan Pendidikan
Islam. Dosen DPK Universitas Muhammadiyah
Makassar:Sulesana.Vol.6.No.2.
(http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/sls/article/view/1404)
10. Sudewi, Sri dan Nugraha, Sri M. 2017.Sejarah Farmasi Islam dan Hasil
Karya Tokoh-Tokohnya. Universitas Samratulangi Manado:Junal
Aqlam.Journal of Islam and Plurality.Vol.2.No.1.Juni 2017.
(http://journal.iain-manado.ac.id/index.php/AJIP/article/download/511/423)
11. Tokoh Muslim : Ibnu Sina (Avicenna) dan Penemuan-Penemuan Serta
Kontribusinya. (https://sainsforhuman.blogspot.com/2013/05/tokoh-muslim-
ibnu-sina-avicenna-dan.html).

13