Anda di halaman 1dari 12

TEORI PERKEMBANGAN MORAL KOHLBERG

MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik

Dosen Pengampu:
Dr. Awalya, M.Pd, Kons
Dr. Amin Yusuf, M.Si

Oleh :
Aulia Kuntum Arfani
Fitri Retnowati (0103517134)

PROGRAM PASCASARJANA
PROGAM STUDI PENDIDIKAN DASAR
KONSENTRASI PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan
1.2.1 Bagaimana Biografi Lawrence Kohlberg?
1.2.2 Bagaimana Kosep Dasar Teori Kohlberg?
1.2.3 Bagaiaman Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg?
1.2.4 Apa saja tahapan-tahapan perkembangan moral menurut Kohlberg?
1.2.5 Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral?
1.2.6 Apa saja kritik terhadap teori Kohlberg?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan biografi Lawrence
Kohlberg.
1.3.2 Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan konsep dasar teori
Kohlberg.
1.3.3 Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan teori perkembangan moral
menurut Lawrence Kohlberg.
1.3.4 Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tahapan-tahapan
perkembangan moral menurut Kohlberg.
1.3.5 Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan moral.
1.3.6 Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan kritik terhadap teori
Kohlberg.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Biografi Lawrence Kohlberg


Lawrence Kohlberg lahir pada 25 oktober 1927 dan meninggal pada
19 Januari 1987 pada usia 59 tahun. Dia dibesarkan di Bronxville, New
York, dan memasuki Akademi Andover di Massachussets, sekolah
menengah atas swasta yang mahal dan menuntut kemampuan akademis
tinggi. Setelah menamatkan Akademi, Kohlberg tidak langsung memasuki
Perguruan Tinggi, namun bekerja menjadi tenaga ahli mesin pada sebuah
kapal yang membawa pemulangan pengungsi-pengungsi Israel dari Eropa
ke Israel. Kemudian pada tahun 1948 barulah dia memasuki perguruan
tinggi di Universitas Chicago. Kholberg di terima sebagai mahasiswa
dengan hasil tes tertinggi sehingga dia hanya mengambil sedikit saja mata
kuliah untuk memperoleh sarjana muda.
Setelah mendapatkan gelar sarjana mudanya, kholberg kembal
melanjutkan studinya ke tingkat sarjana dan mengambil di bidang psikologi.
Ketertarikkannya terhadap teori Piaget menyebabkan dia melakukan studi
secara longitudinal mengenai masalah penalaran moral pada anak pra-
remaja masa itu dengan metode wawancara. Disertasi dokotoralnya selesai
pada tahun 1958 dengan judul ”The Development of Modes Of Thinking
and Choice in Th e Years 10 to 16”, gelar profesornya adalah dalam bidang
ilmu pendidikan dan psikologi social.
Dunia karir Kholberg, dia menjadi pengajar di Universitas
Chicago(1962-1968). Kemudian mengajar di Universitas Harvard(1968- ajal
menjemputnya yaitu pada tahun 1987). Kholberg juga menjadi Direktur The
Center for Moral Education and Development pada Harvard University..
2.2 Konsep Dasar Teori Kohlberg
Kholberg mengemukakan teori perkembangan moral dengan dasar
teori Piaget. Dalam teori perkembangan kognitif, Piaget ingin mengetahui
latar belakang yang mendasari timbulnya tingkah laku apabila seseorang
dihadapkan dengan suatu perbuatan yang berhubungan dengan nilai moral
tertentu, bukan dilihat dari perbuatannya yang nyata, melainkan faktor-
faktor yang mendasari timbulnya perbuatan tersebut. Sedangkan Kholberg
ingin menyelidiki struktur proses berfikir yang mendasari jawaban atau
perbuatan-perbuatan moral.
2.3 Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg
Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral berdasar teori
Piaget, yaitu dengan pendekatan organismik (melalui tahap-tahap
perkembangan yang memiliki urutan pasti dan berlaku secara universal).
Selain itu Kohlberg juga menyelidiki struktur proses berpikir yang
mendasari perilaku moral (moral behavior).Tahapan perkembangan moral
adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan
perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh
Lawrence Kohlberg. Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang
merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan
perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari
keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget,yang
menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-
tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan
menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya
berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama
kehidupan,walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis
dari penelitiannya. Kohlberg menggunakan cerita-cerita tentang dilema
moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang
akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam
persoalan moral yang sama.
2.4 Tahapan-tahapan Perkembangan Moral Menurut Kohlberg
Kohlberg mengemukakan ada tiga tingkat perkembangan moral, yaitu
tingkat Pra Konvensional, Konvensional dan Post-Konvensional. Masing-
masing tingkat terdiri dari dua tahap, sehingga keseluruhan ada enam
tahapan (stadium) yang berkembang secara bertingkat dengan urutan yang
tetap.
1. Tingkat Pra Konvensional (Moralitas Pra-Konvensional)
Pada tingkat Pra Konvensional (Moralitas Pra-Konvensional)
perilaku anak tunduk pada kendali eksternal. Tingkat pra
konvensional banyak ditemukan pada anak-anak prasekolah,
sebagian besar anak-anak SD, sejumlah siswa SMP, dan segelintir
siswa SMU.
(1) Tahap 1: Orientasi pada kepatuhan dan hukuman
Individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi
langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai
contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang
yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman
diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai
tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain
berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat
sebagai sejenis otoriterisme.
(2) Tahap 2: Relativistik Hedonism
Menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang
benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya.
Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada
kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu
juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti
“kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga
punggungmu.”Dalam tahap dua perhatian kepada oranglain
tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik.
Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-
konvensional, berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima),
sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan
diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua, perpektif dunia
dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.
2. Tingkat Konvensional (Moralitas Konvensional)
Tingkat Konvensional (Moralitas Konvensional) fokusnya
terletrak pada kebutuhan social(konformitas). Ditemukan pada
segelintir siswa SD tingkat akhir, sejumlah siswa SMP, dan
banyak siswa SMU (Tahap 4 biasanya tidak muncul sebelum masa
SMU)
(3) Tahap 3: Orientasi Mengenai Anak Baik
Seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial.
Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari
orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan
masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba
menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut,
karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut.
Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan
dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan
interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat,
rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi
aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial
yang stereotip ini. Maksud dari suatu tindakan memainkan
peran yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini;
'mereka bermaksud baik
(4) Tahap 4: Mempertahankan Norma Sosial dan Otoritas
Adalah penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan
konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari
masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari
sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam
tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan
pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar
dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila
seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga
akan begitu - sehingga ada kewajiban atau tugas untuk
mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar
hukum, maka ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi
faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan
yang buruk dari yang baik.
3. Tingkat Post-Konvensional (Moralitas Post-konvensional)
Tingkat Post-Konvensional (Moralitas Post-konvensional)
individu mendasarkan penilaian moral pada prinsip benar secara
inheren.Tingkat ini jarang muncul sebelum masa kuliah.
(5) Tahap 5: Orientasi Terhadap perjanjian antara dirinya dengan
lingkungan sosial
Individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-
pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting
bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak.
Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti
kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat.
Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut -
'memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain
tidak'? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak
sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak
mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu
demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-
banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan
mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang
demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.
(6) Tahap 6: Prinsip Universal
Penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak
menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila
berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga
menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang
tidak adil.
2.5 Faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan moral
a. Perkembangan Kognitif Umum
Penalaran moral yang tinggi yaitu penalaran yang dalam mengenai
hukum moral dan nilai-nilai luhur seperti kesetaraan, keadilan, hak-hak
asasi manusia dan memerlukan refleksi yang mendalam mengenai ide-
ide abstrak. Dengan demikian dalam batas-batas tertentu,
perkembangan moral tergantung pada perkembangan kognitif.
(Kohlberg dalam Ormord, 2000:139).
Contoh: anak-anak secara intelektual berbakat umumnya lebih
sering berpikir entang isu moral dan bekerja keras mengatasi
ketidakadilan di masyarakat lokan ataupun dunia secara umum
ketimbang teman-teman sebayanya (Silverman dalam Ormord,
200:139). Meski demikian, perkembangan kognitif tidak menjamin
perkembangan moral.
b. Penggunaan Rasio dan Rationale
Anak-anak lebih cenderung memperoleh manfaat dalam
perkembangan moral ketika mereka memikirkan kerugian fisik dan
emosional yang ditimbulkan perilaku-perilaku tertentu terhadap orang
lain. Menjelaskan kepada anak-anak alasan perilaku-perilaku tertentu
tidak dapat diterima, dengan fokus pada perspektif orang lain, dikenal
sebagai induksi (Hoffman dalam Ormord, 2000:140).
Contoh: induksi berpusat pada korban induksi membantu siswa
berfokus pada kesusahan orang lain dan membantu siswa memahami
bahwa mereka sendirilah penyebab kesesahan-kesusahan tersebut.
Penggunaan konduksi secara konsisten dalam mendisiplinkan anak-
anak, terutama ketika disertai hukuman ringan bagi perilaku yang
menyimpang misalnya menegaskan bahwa mereka harus meminta
maaf atas perilaku yang keliru
c. Isu dan Dilema Moral
Kolhberg dalam teorinya mengenai teori perkembangan moral
menyatakan bahwa disekuilibrium adalah anak-anak berkembang
secara moral ketika mereka menghadapi suatu dilemma moral yang
tidak dapat ditangani secara memadai dengan menggunakan tingkat
penalaran moralnya saat itu.Dalam upaya membantu anak-anak yang
mengahadapi dilema semacam itu Kulhborg menyarankan agar guru
menawarkan penalaran moral satu tahap di atas tahap yang dimilik
anak pada saat itu.
Contoh: bayangkanlah seorang remaja laki-laki yang sangat
mementingkan penerimaan oleh teman-teman sebayanya, dia rela
membiarkan temannya menyalin pekerjaan rumahnya. Gurunya
mungkin menekankan logika hukum dan keteraturann dengan
menyarankan agar semua siswa seharusnya menyelesaikan pekerjaan
rumahnya tanpa bantuan orang lain karena tugas-tugas pekerjaan
rumah dirancang untuk membantu siswa belajar lebih efektif.
d. Perasaan Diri
Anak-anak lebih cenderung terlibat dalam perilaku moral ketika
mereka berfikir bahwa mereka sesungguhnya mampu menolong orang
lain dengan kata lain ketika mereka memiliki efikasi diri yang tinggi
mengenai kemampuan mereka membuat suatu perbedaan (Narvaez
dalam Ormrod, 200:140).
Contoh: pada masa remaja beberapa anak muda mulai
mengintegrasikan komitmen terhadap nilai-nilai moral kedalam
identitas mereka secara keseluruhan. Mereka menganggap diri mereka
sebagai pribadi bermoral dan penuh perhatian, yang peduli pada hak-
hak dan kebaikan orang lain. Tindakan belarasa yang mereka lakukan
tidak terbatas hanya pada teman-teman dan orang yang mereka kenal
saja, melainkan juga meluas ke masyarakat.
2.6 Kritik terhadap Teori Kohlberg
Teori perkembangan moral Kohlberg yang provokatif tidak berlalu
tanpa tantangan. Kritik mencakup hubungan antara penalaran moral dan
perilaku moral, kualitas penelitian, pertimbangan yang memadai tentang
peran kebudayaan dalam perkembangan moral, dan pengabaian perspektif
pengasuhan.
a. Pemikiran Moral dan Perilaku Moral
Teori Kohlber dikritik karena memberi terlalu banyak penekanan
pada penalaran moral dan kurang memberI penekanan perilaku moral.
Penalaran moral kadang-kadang dapat menjadi tempat perlindungan bagi
perilaku immoral. Para penipu, koruptor, dan pencuri mungkin mengetahui
apa yang benar tetapi maih melakuka apa yang salah.
b. Kebudayaan dan Perkembanagan Moral
Kritik terhadap pandangan Kohlber adalah bahwa pandangan ini
secara pandangan bias. Suatu tinjauan penelitian terhadap perkembangan
moral di 27 negara menyimpulkan bahwa penalaran moral lebih bersifat
spesifik kebudayaan daripada yang dibayangkan oleh Kohlber dan bahwa
sistem skor Kohlber tidak memperhitungkan penalaran moral tingkat
tinggi pada kelompok kebudayaan tertentu. Ringkasnya, penalaran moral
lebih dibentuk oleh nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan suatu kebudayaan
dari pada yang dinyatakan oleh Kohlber.
c. Gender dan Perspektif Kepedulian
Carol Gilligan percaya bahwa teori perkembangan moral Kohlber
tidak mencerminkan secara memadai relasi dan kepedulian terhadap
manusia lain. Perspektif keadilan ialah suatu perspektif moral yang
berfokus pada hak-hak individu, individu berdiri sendiri dan bebas
mengambil keputusan moral (Teori Kohlber). Perspektif kepedulian ialah
suatu perspektif moral yang memandang manusia dari sudut keterkaitanya
dnegan manusia lain dan menekankan komunikasi interpersonal, relasi
dengan manusia lain, dan kepedulian terhadap orang lain. (Teori Gilligan).
Menurut Gilligan, Kohlber kurang memperhatikan perspektif kepedulian
dalam perkembangan moral. Ia percaya bahwa hal ini mungkin terjadi
karena Kohlberg seorang laki-laki, karena kebanyakan penelitiannya
dengan laki-laki dari pada perempuan dank arena ia menggunakan respons
laki-laki sebagai suatu model bagi teorinya.
BAB III

PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan


Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Joko, Tri . 2019. Fase-fase perkembangan peserta didik. Semarang: PERSS


UNNES

Ormrod,Jeanne Ellis.2008.Psikologi Pendidikan. Jakarta:Erlangga.

Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Jakarta: PT.
Indeks.

https://riparoza.blogspot.co.id/2016/08/makalah-teori-dasar-dan-tahapan.html.
Diakses Rabu, 9 Mei 2018 Pukul 20.00

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/dr-rita-eka-izzaty-spsi-msi/f-
perkembangan-moral-kuliah-pp1-0509.pdf . Diakses Rabu, 9 Mei 2018
Pukul 20.05

http://atrofardians.blogspot.co.id/2015/03/teori-perkembangan-moral
lawrence.html. Diakses Rabu, 9 Mei 2018 Pukul 20.08

https://docs.google.com/document/d/1wgIafjSRBeFkwfn9lPmSQFg9COL6hhTaC
0u_1oIWVSM/edit. Diakses Rabu, 9 Mei 2018 Pukul 20.10