Anda di halaman 1dari 24

BAGIAN PSIKIATRI ​ ​ ​ LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN ​ ​ ​ ​
AGUSTUS 2017
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ​ ​ ​ ​

Laporan Kasus
Skizofrenia Paranoid (F20.0)

DISUSUN OLEH:
Erza Alifianda
111 2016 2167

RESIDEN PEMBIMBING:
dr. Ahyani Muslimin

SUPERVISOR PEMBIMBING:
dr. Nurindah Kadir, M.Kes, Sp.KJ

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS


KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS
KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017

I. IDENTITAS PASIEN
Nama ​ ​ ​: Ny. S
Umur ​ ​ ​: 26 tahun
Alamat ​ ​ ​: BTN Bulurokeng Permai
Agama ​ ​ ​: Islam
Status Perkawinan ​: Menikah
Pendidikan ​ ​: SMA
Pekerjaan ​ ​ ​: -
Pasien datang ke UGD Jiwa RSKD pada tanggal 21
Agustus 2017 untuk yang kedua kalinya diantar
oleh ayah pasien.

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Diperoleh dari catatan medis, autoanamnesis dan
alloanamnesis dari :
Nama ​: Tn. W
Jenis kelamin ​: Laki-laki
Agama ​: Islam
Pendidikan terakhir ​: SMA
Alamat ​: BTN Bulurokeng Permai
Hubungan dengan pasien ​: Suami

A. Keluhan Utama
Gelisah
B. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang
1. Keluhan dan gejala
Diantar untuk ke2 kalinya oleh suaminya dan
tetangganya karena memecahkan barang dan
selalu berjalan keluar rumah, jika dilarang pasien
malah balik marah kepada suaminya. Pasien telah
meninggalkan rumah dengan menggunakan
sepeda motor sejak 1 hari yang lalu. Pasien
ditemukan oleh suaminya kembali karena
mendapatkan informasi dari polsek bahwa pasien
terjatuh diselokan dan memanggil nama
suaminya. Selain itu pasien juga sering berbicara
sendiri dan mondar-mandir didalam rumah.
Hendaya Fungsi
• Hendaya sosial ​ ​: terganggu
• Hendaya pendidikan ​: terganggu
• Hendaya pekerjaan ​: terganggu
2. Faktor stressor psikososisal : kematian ayah
3. Hubungan gangguan sekarang dengan
gangguan riwayat penyakit fisik dan psikis
sebelumnya
• Riwayat infeksi ​ ​ :-
• Riwayat trauma ​ ​ :-
• Riwayat kejang ​ ​ :-
• Riwayat rokok ​ ​ ​ :-
• Riwayat alkohol ​ ​ :-
• Riwayat obat-obatan terlarang : -

C. Riwayat Gangguan Psikiatri sebelumnya


Awal perubahan perilaku sejak 8 tahun yang
lalu karena kematian ayahnya. Pasien dikenal
sangat dekat dengan ayahnya karena pasien
hanya seorang anak perempuan dari 4 bersaudara.
Hubungan pasien dengan saudara kurang baik.
Pasien sangat dimanja oleh ayahnya, setelah
ayahnya meninggal pasien mulai menjadi
pendiam dan terkadang menangis sendiri tanpa
sebab dan susah tidur dimalam hari. Pasien
pernah tidak tidur selama 4 malam ketika
ayahnya meninggal. Pada saat mengalami
perubahan perilaku tersebut, pasien sempat di
bawa ke RSKD namun hanya rawat jalan.
Riwayat pengobatan yang diberi pada saat itu
adalah Clozapin, dan satu obat lainnya namun
suami pasien lupa nama obatnya, obat diminum
teratur, tetapi suami pasien lupa keadaan istri
membaik kapan.
Beberapa hari yang lalu sebelum masuk ke
RSKD, pasien sempat berkelahi dengan suami.
Sejak saat itu, pasien mengalami perubahan
perilaku lagi. Awalnya setelah berkelahi pasien
sulit untuk tidur, terbangun dan bicara sendiri.
Pasien juga mengamuk dengan memecahkan
kaca, dan kabur dari rumah menggunakan motor
sekitar 4 hari sebelum masuk RSKD, hanya
berkeliaran disekitar rumah, namun tidak ingin
pulang kembali ke rumah, jika dilarang pasien
marah. Pasien ditemukan oleh suaminya kembali
karena mendapatkan informasi dari polsek bahwa
pasien terjatuh diselokan dan memanggil nama
suaminya sekitar 1 jam sebelum datang ke
RSKD.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Lahir di Rumah Sakit dalam keadaan normal
dan cukup bulan. Kelahiran pasien dibantu
oleh dokter.
2. Riwayat Masa Kanak Awal ( 1 – 3 tahun )
Pertumbuhan dan perkembangan pasien sama
dengan anak pada umumnya. Pasien aktif
bermain dengan saudara dan teman-teman
sebayanya.
3. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (4 – 11
tahun )
Menurut pasien, prestasi selama sekolah biasa
saja seperti pada anak sekolah umumnya.
4. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (usia
12 – 18 tahun)
Pasien melanjutkan pendidikan sampai SMA,
pada saat inilah pasien mengalami gangguan
status mental. Sebelum mengalami perubahan
perilaku, pasien dikenal sebagai sosok yang
ceria, memiliki banyak teman.
5. Riwayat Masa Dewasa
a. Riwayat pendidikan
Pendidikan terakhir pasien SMA.
b. Riwayat Pekerjaan
Tidak ada

c. Riwayat Kehidupan pribadi


Pasien dikenal sebagai anak yang ceria,
mudah bergaul, dan punya banyak teman,
dimata tetangganya pasien dikenal ramah.
d. Riwayat kehidupan keluarga
Anak ke-2 dari 4 ( ♂ , ♀ , ♂ , ♂ ) bersaudara.
Hubungan dengan orang tua baik, hubungan
dengan saudara kurang baik, hubungan
dengan suami kurang baik.

Ket: Pasien
​ ​ ​ ​ ​ ​ ​ ​
Perempuan
​ ​ ​ ​ ​ ​ ​ ​ Laki-
laki
e. Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga
: (-)
f. Situasi Kehidupan sekarang
Pasien adalah anak ke-2 dari 4 ( ♂, ♀, ♂,
♂ ) bersaudara. Hubungan dengan ayah
dan ibu pasien baik, namun hubungan
dengan saudara kurang baik. Pasien
memiliki suami dan dua orang anak ( ♀ ,
♂). Hubungan pasien dengan suami tidak
begitu baik setelah sering berkelahi.
Pasien tinggal di BTN Bulurokeng Permai
bersama suami dan kedua anaknya.
Hubungan pasien dengan suami
memburuk akibat prasangka pasien bahwa
suami ingin mengambil seluruh harta
pasien. Sehari-hari sebelum mengalami
perubahan perilaku pasien merupakan
sosok yang ceria, dan akrab dengan
tetangga. Pasien merupakan ibu rumah
tangga.

g. Persepsi pasien tentang diri dan


kehidupannya
Pasien merasa bahwa suaminya ingin
membunuhnya dan mengmbil semua harta
miliknya. Pasien mengetahui bahwa sekarang
dia berada di RSKD untuk melakukan
pengobatan. Pasien sebenarnya tidak betah
dan sering meminta untuk dikeluarkan karena
tidak merasa memiliki gangguan status
mental. Sehari-hari pasien lebih sering tidur
untuk menenangkan kegelisahannya.
III. PEMERIKSAAN FISIK DAN
NEUROLOGI
a. Status Internus
Tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit,
Frekuensi pernapasan 21x/menit, Suhu 36,5 C.
Konjungtiva tidak pucat dan Sklera tidak Ikterus.
Pada Ekstremitas Atas adanya luka pada bagian
punggung tangan dan Ekstremitas Bawah tidak
ditemukan kelainan.
b. Status Neurologi
Gejala rangsang selaput otak ; Kaku Kuduk (-),
Kernig sign (-)/(-), Pupil bulat dan isokor 2,5
mm/2,5 m, refleks cahaya (-)/(-). Fungsi motorik
dan sensorik keempat ekstremitas dalam batas
normal, dan tidak ditemukan refleks patologis.

IV. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


a. Deskripsi umum
1. Penampilan :
Seorang perempuan, wajah sesuai umur (27
tahun), berkulit sawo matang, mengenakan
kaos biru, menggunakan sarung, perawakan
kurus dan tinggi, dan perawatan diri cukup.
2. Kesadaran :
Kualitas berubah.
3. Perilaku dan aktifitas psikomotor
Tenang dan bisa bicara sendiri, kadang
mengusap wajahnya dan, tampak emosi dan
gelisah.
4. Pembicaraan
Spontan, lancar, intonasi biasa tetapi kadang
meningkat.
5. Sikap terhadap pemeriksa
Kooperatif

b. Keadaan afektif
1. Mood ​: sulit dinilai
2. Afek ​: terbatas
3. Empati ​: tidak dapat dirabarasakan

c. Fungsi Intelektual (Kognitif)


1. Taraf pendidikan
Pengetahuan umum dan kecerdasan pasien
sesuai dengan tingkat pendidikannya.
2. Orientasi
a. Waktu ​: cukup
b. Tempat ​: cukup
c. Orang ​: baik
3. Daya ingat ​
a. Jangka panjang ​: baik
b. Jangka pendek ​: baik
c. Jangka segera ​: baik
4. Konsentrasi dan Perhatian ​: cukup
5. Pikiran abstrak ​: baik
6. Bakat Kreatif ​: tidak ada
7. Kemampuan menolong diri sendiri : cukup
d. Gangguan Persepsi
• Halusinasi ​: halusinasi auditorik berupa
mendengar suara dukun yang mengatakan
bahwa suaminya mau mengambil barang dan
harta miliknya.
• Ilusi ​ ​: tidak ada
• Depersonalisasi ​: tidak ada
• Derealisasi ​: tidak ada
e. Proses berfikir :
1. Produktivitas ​: cukup
Kontuinitas ​: relevan dan koheren
Hendaya berbahasa ​: tidak ada

2. Isi pikiran
Preokupasi : tidak ada
Gangguan isi pikir ​: waham kejaran yaitu
pasien merasa suami
membunuh nya dan ingin
mengambil harta milik pasien.
f. Pengendalian Impuls ​: tidak terganggu
g. Daya Nilai dan Tilikan
1. Norma Sosial ​: terganggu
2. Uji Daya Nilai ​: terganggu
3. Penilaian Realitas ​: terganggu
h. Tilikan ​ ​ ​: pasien menyangkal / tidak
merasa sakit (tilikan 1)
i. Taraf Dapat Dipercaya : dapat dipercaya.

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Seorang pasien perempuan 26 tahun masuk
IGD RSKD untuk ke-2 kalinya diantar oleh
suaminya dan tetangganya karena memecahkan
barang dan kaca serta selalu berjalan keluar rumah,
jika dilarang pasien malah balik marah kepada
suaminya. Pasien telah meninggalkan rumah dengan
menggunakan sepeda motor sejak 1 hari yang lalu.
Pasien ditemukan oleh suaminya kembali karena
mendapatkan informasi dari polsek bahwa pasien
terjatuh diselokan dan memanggil nama suaminya.
Selain itu pasien juga sering berbicara sendiri dan
mondar-mandir didalam rumah. Awal perubahan
perilaku sejak 8 tahun yang lalu karena kematian
ayahnya. Pasien dikenal sangat dekat dengan
ayahnya karena pasien hanya seorang anak
perempuan dari 4 bersaudara. Pasien sangat dimanja
oleh ayahnya, setelah ayahnya meninggal pasien
mulai menjadi pendiam dan terkadang menangis
sendiri tanpa sebab dan susah tidur dimalam hari.

Pasien pernah tidak tidur selama 4 malam ketika


ayahnya meninggal. Pasien merasa mendengar suara
bisikan dari dukun yang mengatakan bahwa
suaminya mau mengambil barang serta harta
miliknya. Pasien merasa bahwa suaminya ingin
membunuhnya karena ingin mengambil harta
miliknya.
Pada pemeriksaan status mental diperoleh
compos mentis dan kualitas berubah, mood sulit
dinilai, afek terbatas, empati tidak dapat diraba
rasakan. Pikiran abstrak baik dan kemampuan
menolong diri cukup. Gangguan persepsi berupa
halusinasi auditorik. Proses berpikir produktivitas
cukup, kontinuitas relevan dan koheren serta
terdapat waham dimana pasien meyakini bahwa
suaminya ingin membunuhnya dan mengambil harta
miliknya Pengendalian impuls tidak terganggu,
penilaiaan daya nilai baik. Tilikan 1 pasien
menyangkal / tidak merasa sakit. Taraf dapat
dipercaya pasien yaitu dapat dipercaya.

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL


Aksis I
Dari alloanamnesis dan autoanamnesis didapatkan gejala klinis berupa
pola perilaku mengamuk, kadang gelisah mondar-mandir, dan sulit tidur.
Keadaan ini mengakibatkan keluarga dan pasien terganggu dan tidak nyaman
(distress), sulit melakukan pekerjaan dengan benar, dan sulit mengisi waktu
luangnya dengan hal yang bermanfaat (disability), sehingga dapat digolongkan
Gangguan Jiwa.
Pada pemeriksaan juga ditemukan adanya hendaya berat dalam menilai
realita yaitu halusinasi dan waham menetap sehingga dapat digolongkan
Gangguan Jiwa Psikotik.
Pada riwayat penyakit sebelumnya dan pemeriksaan status internus dan
neurologis tidak ditemukan adanya kelainan bermakna yang mengindikasikan
gangguan medis umum yang menimbulkan disfungsi otak maupun gangguan
yang secara patologis langsung mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita
pasien saat ini, sehingga menurut PPDGJ-III didiagnosis Gangguan Jiwa
Psikotik Non Organik.
Pada pemeriksaan status mental ditemukan adanya beberapa gejala yaitu
halusinasi auditorik dan waham menetap. Hal ini sudah berlangsung lebih dari
1 bulan sehingga berdasarkan PPDGJ III pasien didiagnosis sebagai gangguan
skizofrenia sekaligus menyingkirkan diagnosis psikotik akut (F.20). Dari
anamnesis yang dilakukan didapatkan juga adanya halusinasi dan waham
menetap yang menonjol sehingga berdasarkan pedoman penggolongan
diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ III) diagnosis diarahkan pada skizofrenia
paranoid (F20.0).

Aksis II
Belum cukup data yang mengarahkan ke salah satu
ciri kepribadian.
Aksis III
Tidak ada diagnosis
Aksis IV
Stressor kematian Ayah pasien
Aksis V
GAF Scale (Global Assesment Functioning) Scale
sekarang 50-41 (gejala berat, disabilitas berat).

VII. DAFTAR MASALAH


Organobiologik ​: Tidak ditemukan kelainan fisik
bermakna, namun karena terdapat
ketidakseimbangan neurotransmitter
maka memerlukan psikofarmaka.
Psikologik ​: Ditemukan adanya masalah psikologi
sehingga memerlukan psikoterapi.
Sosiologi ​: Didapatkan adanya hendaya dalam
bidang sosial, pekerjaan dan penggunaan
waktu senggang, sehingga memerlukan
sosioterapi.

VIII. PROGNOSIS
Prognosis ​: Dubia et malam
a. Faktor yang mendukung kearah prognosis
baik:
– Gejala positif yang menonjol
– Faktor pencetus yang jelas
– Riwayat sosial yang baik
– Menikah
– Tidak ada kelainan organik
– Riwayat yang sama dalam keluarga tidak
ada
b. Faktor yang mendukung kearah prognosis
buruk
- Pasien merasa dirinya tidak sakit
- Onset pertama usia muda
- Dukungan keluarga yang tidak kooperatif
- Adanya masalah dalam keluarga dan
ekonomi, sikap pemarah pasien.

IX. RENCANA TERAPI


Risperidon 2 mg 1 tablet / 12jam/ oral
Clozapine 25 mg 1 tablet / 24jam / oral / malam

X. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan
perkembangan penyakitnya serta menilai efektivitas
terapi dan kemungkinan efek samping yang terjadi.
Tanggal 22 Agustus 2017
S : Pasein cukup tenang, rasa tidak nyaman sudah
menurun, tidur cukup
O : - Kontak mata (+), verbal (+)
- Psikomotor ​: cukup tenang
- Verbalisasi ​: spontan, lancar
- Afek ​: terbatas
- Gangguan Persepsi ​: Halusinasi auditorik
(+) Pasien masih merasa kadang mendengar
suara.
- Arus Pikir ​: relevan
- Gangguan isi pikir ​: waham kejaran yaitu
pasien meyakini bahwa suaminya ingin
membunuhnya dan mengambil harta
miliknya.
A : Skizofrenia paranoid F20.0
P : Risperidon 2 mg 2x1
​ Clozapin 25 mg 0-0-1

XI. DISKUSI
​Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang
ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran,
emosi, dan perilaku, pikiran yang terganggu, dimana
berbagai pemikiran tidak salaing berhubungan secara
logis, persepsi dan perhatian yang keliru afek yang
datar atau tidak sesuai, dan berbagai gangguan
aktifitas motorik yang bizzare (perilaku aneh), pasien
skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan,
sering kali masuk ke dalam kehidupan fantasi yang
penuh delusi dan halusinasi. Orang-orang yang
menderita skozofrenia umunya mengalami beberapa
episode akut simtom–simtom, diantara setiap episode
mereka sering mengalami simtom–simtom yang tidak
terlalu parah namun tetap sangat menggagu
keberfungsian mereka. Komorbiditas dengan
penyalahguanaan zat merupakan masalah utama bagi
para pasien skizofrenia, terjadi pada sekitar 50
persennya.1

​Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis


bervariasi, namun sangat mengganggu, psikopatologi
yang mencakup kognisi, emosi, persepsi, dan aspek
lain dari perilaku. dari manifestasi ini bervariasi pada
semua pasien dan dari waktu ke waktu, tetapi efek dari
penyakit ini selalu berat dan biasanya berlangsung
lama.Untuk diagnosis Skizofrenia menurut Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa
(PPDGJ)-III harus terdapat sedikitnya satu gejala ini
yang amat jelas (1) thought echo / insertion atau
withdrawal / broadcasting (2) delusion of control /
influence / passivity / perception (3) halusinasi
auditorik (4) waham-waham menetap lainnya. Atau
paling sedikit dua gejala dari (1) halusinasi yang
menetap dari panca-indera apa saja (2) arus pikiran
yang terputus atau mengalami sisipan (3) perilaku
katatonik (4) gejala-gejala “negatif". Dimana gejala-
gejala khas tersebut telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih, dan harus ada perubahan
yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
dari beberapa aspek perilaku pribadi.
​Sementara untuk mendiagnosis skizofrenia
paranoid menurut PPDGJ-III harus memenuhi kriteria
diagnosis skizofrenia dan sebagai tambahan terdapat :
1) Halusinasi dan/ waham arus menonjol seperti (a)
Suara- suara halusinasi yang mengancam pasien atau
memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa
bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),
mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing).
(b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau
bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh,
halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
(c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi
waham dikendalikan (delusion of control),
dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity
(delussion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar
yang beraneka ragam, adalah yang paling khas. 2)
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan
pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak
nyata / tidak menonjol.2

​Berdasarkan PPDGJ III, harus ada sedikitnya satu


gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam
atau kurang jelas):3

a. – Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang


berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak
keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya
sama, namun kualitasnya berbeda, atau
– Thought insertion or withdrawal = isi pikiran
yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya
(insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal) dan
– Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar
keluar sehingga orang lain atau
umumnya mengetahuinya.
b. ​– Delusion of control = waham tentang
dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu
dari luar atau
– Delusion of influence = waham tentang dirinya
dipengaruhi oleh suatu kekuatantertentu dari luar
atau
– Delusion of passivity = waham tentang dirinya
tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan
dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk
ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau kepikiran,
tindakan atau penginderaan khusus).
– Delusion perception = pengalaman inderawi
yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi
dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.
c. Halusional Auditorik ;
– Suara halusinasi yang berkomentar secara terus
menerus terhadap prilaku pasien .
– Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka
sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara
atau
– Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari
salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang
menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan
sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu atau kekuatan dan
kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu
mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan
mahluk asing atau dunia lain) Atau paling
sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu
ada secara jelas:
e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja
, apabila disertai baik oleh waham yang
mengambang maupun yang setengah berbentuk
tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai
oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang
menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus
menerus.
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang
mengalami sisipan (interpolation) yang berakibat
inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan
atau neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah
(excitement), posisi tubuh tertentu (posturing) atay
fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan
stupor.
h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang
jarang dan respons emosional yang menumpul tidak
wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri
dari pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial,
tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.

* adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah


berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau
lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
prodromal);
* Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan
bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality)
dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat,
hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap
larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan
penarikan diri secara sosial.

Perjalanan Gangguan Skizofrenik dapat


diklasifikasi dengan menggunakan kode lima
karakter berikut: F20.X0 Berkelanjutan, F20.X1
Episodik dengan kemunduran progresif, F20 X2
episodik dengan kemunduran stabil, F20.X3
Episode berulang , F20. X4 remisi tak sempurna,
F20.X5 remisi sempurna, F20.X8. lainnya, F20.X9.
Periode pengamatan kurang dari satu tahun.

Pembagian menurut PPDGJ III :


F.20 Skizofrenia Paranoid 3
Pedoman diagnostik
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Sebagai tambahan:
– Sebagai tambahan :
* Halusinasi dan/ waham arus menonjol;
(a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien
atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik
tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit
(whistling), mendengung (humming), atau bunyi
tawa (laughing).
(b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau
bersifat seksual , atau lain-lain perasaan tubuh,
halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang
menonjol.
(c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi
waham dikendalikan (delusion of control),
dipengaruhi (delusion of influence) atau
passivity (delussion of passivity), dan keyakinan
dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang
paling khas;
· Gangguan afektif, dorongan kehendak dan
pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif
tidak nyata / tidak menonjol.

Berdasarkan data-data yang didapat melalui


anamnesis baik alloanamnesis maupun autoanamnesis
dari Ny. S, pemeriksaan psikiatri dan rekam medik,
tidak terdapat riwayat trauma kepala, kejang ataupun
kelainan organik lain. Hal ini dapat menjadi dasar
untuk menyingkirkan diagnosis gangguan mental
organik (F.0).
Untuk diagnosis Skizofrenia menurut Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa
(PPDGJ)-III dan berdasarkan anamnesis dengan
pasien dan keuarga, pasien memiliki satu gejala yang
amat jelas yaitu memiliki halusinasi audiotorik yaitu
bisikan dari dukun dikampung bahwa suami ingin
mengambil seluruh harta pasien, serta waham yang
jelas yaitu suami ingin membunuh pasien. Dari data
ini menjadi dasar diagnosis bahwa pasien menderita
skizofrenia sekaligus menyingkirkan diagnosis
psikotik akut (F.20). Dari anamnesis yang dilakukan
didapatkan juga adanya halusinasi dan waham yang
menonjol sehingga dapat disimpulkan pasien
menderita skizofrenia paranoid (F20.0).

Penatalaksanaan 4

​ kizofrenia merupakan penyakit menahun/


S
khronis, seperti juga dengan penyakit darah tinggi atau
gula darah, yang memerlukan pengobatan jangka
panjang meskipun gejala sudah menghilang atau
berkurang. Pengobatan dengan minum obat dan
psikoterapi akan dapat membuat penderita
schizophrenia mengendalikan penyakitnya. Pada saat
krisis atau kambuh parah, perawatan di rumah sakit
sering diperlukan sehingga penderita bisa tetap
mendapat nutrisi, tidur dan penanganan kebersihan
diri yang baik.
​Pengobatan skizofrenia memerlukan penanganan
dari psikiater. Penanganan pasien schizophrenia sering
memerlukan berbagai keahlian, seperti psikiater,
perawat jiwa, psikolog, pekerja sosial.
​Obat obatan merupakan kunci utama pengobatan
skizofrenia. Hanya saja, pemberian obat tersebut
kadang memberikan efek samping yang tidak enak
sehingga membuat penderita malas minum obat. Obat
obat anti psikotik biasanya yang diberikan dokter
kepada pasien schizophrenia. Obat obat tersebut
mengendalikan gejala dengan melalui pengaruhnya
terhadap neurotransmitter serotonin dan dopamin.
Kesediaan penderita untuk bekerja sama dalam
pengobatan akan memudahkannya untuk pulih.
Penderita yang tidak mau minum obat perlu diobati
dengan suntikan. Penderita yang gelisah (agitated)
mungkin memerlukan pemberian benzodiazepine,
seperti lorazepam (Ativan) agar bisa tenang selain
diberikan obat anti psikotik juga.
Obat antipsikotik atypical adalah obat obat anti
psikotik baru biasanya lebih disukai karena kurang
dalam membuat pasien menjadi lemah atau tidak
bertenaga. beberapa obat anti psikotik atypical adalah:
• Aripiprazole (Abilify)

• Clozapine (Clozaril, Fazaclo ODT)

• Olanzapine (Zyprexa)

• Paliperidone (Invega)
• Quetiapine (Seroquel)

• Risperidone (Risperdal)

• Ziprasidone (Geodon)

Obat obat anti psikotik lama, sering mempunyai


efek samping yang menganggu gerak tubuh. Obat obat
anti psikotik lama antara lain :
5

• Chlorpromazine

• Fluphenazine

• Haloperidol (Haldol)

• Perphenazine

Efek samping yang seringkali timbul pada pemberian


obat antipsikotik tipikal :
5

• Disotinia akut

• Parkinsonisme

• Akathisia

• Tardive dyskinesia

• Sedasi, hipotensi orthostatis, pemanjangan QT,

antikolinergik, penurunan ambang kejang,


peningkatan prolaktin
Efek samping dari obat antipsikotik atipikal:
• Sedasi

• Hiperglikemia
• Efek antikolinergik
• Pemanjangan kurva QT

• Kadang EPS

• Peningkatan kadar lipid

Adapun psikoterapi yang dapat diberikan pada


pasien skizofrenia diantaranya :
5

• - Edukasi pasien dan keluarga

• - Penurunan ekspresi emosional yang berlebihan

• - Terapi kognitif dan perilaku

• - Rehabilitasi

• - Terapi kerja
Pasien diberi obat golongan antipsikotik atipikal
yaitu Risperidone yang diduga efektif untuk gejala
positif (seperti bicara kacau, halusinasi, delusi)
maupun gejala negatif (miskin kata kata, afek yang
datar, menarik diri dari lingkungan, inisiatif menurun)
pasien skizofrenia. Golongan antipsikotik tipikal
umumnya hanya berespon untuk gejala positif.
Pasien juga diberikan antipsikotik atipikal yaitu
clozapin. Clozapin merupakan antipsikotik atipikal
potensi lemah. Klozapin efektif untuk mengontrol
gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik positif
maupun negatif. Efek dapat terlihat dalam waktu 2
minggu, diikuti perbaikan secara bertahap pada
minggu-minggu berikutnya.
Efek obat anti-psikosis secara relatif berlangsung
lama sampai beberapa hari setelah dosis terakhir
masih mempunyai efek klinis. Sehingga tidak
langsung menimbulkan kekambuhan setelah oat
dihentikan, biasanya satu bulan kemudian baru gejala
Sindrom Psikosis kambuh kembali. 6

​Prognosis dijaga. Pemulihan penuh biasanya


jarang. Prognosis yang lebih baik bagi orang-orang
yang tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah
dan menengah. Gejala biasanya dapat berubah dari
waktu ke waktu. Gejala positif merespon cukup baik
untuk obat antipsikotik, tetapi gejala lainnya yang
cukup gigih.

XII. LAMPIRAN WAWANCARA

AUTOANAMNESIS
DM ​: Dokter Muda
P ​: Pasien

DM ​: Halo. Apa kabar?


P :​ baik Dokter
DM ​: saya Erza, Dokter muda yang jaga hari ini.
Boleh saya minta waktunya sebentar ?
P ​: iya Dokter
DM ​: namanya siapa?
P ​: Surisna, Dok.
DM ​: Ibu Surisna tinggal dimana?
P ​: di BTN Bulurokeng Permai dokter
DM ​: Ibu Surisna masih ingat kapan masuk ke sini
?
P ​: Kemarin, dokter.
DM ​: Ibu Surisna, kenapa di bawa kesini ?
P ​: Itu suami saya alasan sekali bawa saya kesini,
karena tidak bisa bunuh saya jadi dia bilang saya
gila supaya bisa ambil semua hartaku dokter,
padahal saya hanya jatuh dari motor kenapa di
bawa ke rumah sakit orang gila. Lihat saja, nama
saya pasti sengaja dia ubah menjadi Surisno agar
saya tidak dikenali.
DM ​: Kenapa ibu bisa jatuh dari motor ?
P ​: Karena saya kabur dari rumah, lalu saya jatuh
dari motor, lalu suami saya temukan saya.
DM ​: Kenapa ibu mau kabur dari rumah ?
P ​: Karena saya habis bertengkar sama suami
saya, masa karena saya terbangun gelisah tengah
malam lalu dia marah-marah, tidak jelas sekali.
DM ​: Kenapa ibu gelisah ?
P ​: tidak tau juga
DM ​: Saat ibu gelisah tidak bisa tidur, apa yang
ibu Surisna lakukan?
P ​: tidak tau juga saya lupa
DM ​: Kenapa ibu bilang kalau suami ibu mau
bunuh ibu ?
P ​: Ada suara dukun bisik kasih tau saya kalau
suami saya ingin ambil semua harta saya, jadi
saya ingin dibunuh dulu.
DM ​: kapan Ibu Surisna dengar suara-suara itu ?
saat apa ?
P ​: Sudah lama sekali dokter, tidak ada dokter
langsung saja saya dengar itu suara-suara.
DM ​: Sebelumnya ibu Surisna sudah pernah
dibawa ke RSKD?
P ​: pernah
DM ​: waktu itu ibu kenapa?
P ​: biasa saja dokter.
DM ​: kalau bapak sama ibu dimana ?
P ​: bapak sudah tidak ada, telponkan dulu orang
rumah saya dikampung dokter, tapi kasih bicara saya
sama nenek saya saja, jangan sama yang lainnya.
DM ​: kenapa memangnya kalau bicara selain
dengan nenek?
P ​: mereka semua sudah mau buang saya ke suami
saya, kalau nenek saya pasti mau menolong saya
disini.
DM ​: sewaktu dulu, bagaimana hubungan Surisna
dengan keluarga dan teman-teman ?
P :​ baik dokter, cuma saya tidak suka sama orang
rumah selain nenek saya, dulu saya punya
banyak teman-teman
DM ​: kalau sekarang, bagaimana keadaan yang
dirasakan ?
P ​: saya cuma mau pulang, saya tidak gila dokter,
kenapa saya di kasih masuk kesini.
DM ​: terima kasih Surisna atas waktunya
P ​: iya dokter

DAFTAR PUSTAKA

1. MM, Nurcholis. Skizofrenia. Digilib UINS;


2013. URL:
http://digilib.uinsby.ac.id/11051/5/bab2.pdf.
Diakses pada tanggal 31 Mei 2017.
2. Hendarsyah, Faddly. Diagnosis dan Tatalaksana
Skizofrenia Paranoid dengan Gejala-Gejala
Positif dan Negatif. Fakultas Kedokteran,
Universitas Lampung; 2016.
3. Maslim, Rusdi. Buku Saku: Diagnosis Gangguan
Jiwa (Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan
DSM-5). PT Nuh Jaya Jakarta; 2013.
4. Jiwo, Tirto. Mengenal schizophrenia Tirto Jiwo;
2012.
5. Tanra, Jayalangkara. Skizofrenia. FK Unhas;
2013. URL:
http://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-
content/uploads/2016/10/Skizofrenia-Bahan-
Kuliah-psikiatri neuropsikiatri.pdf. Diakses pada
tanggal 31 Mei 2017.
6. Kaplan, H.,Sadock. 2010. Buku Ajar Psikiatri
Klinis. Edisi 2. EGC.