Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH DAN ROLEPLAY PADA PASIEN DAN

KELUARGA PALIATIF DENGAN KASUS Ca MAMAE

Dosen Pembimbing:
Putri Widita Muharyani, S.Kep., Ns., M.Kep

KELOMPOK 5
DISUSUN OLEH REGULER B 2016:

1. Serli Nanda Siwi Didik (04021381621050)

2. Dian Fransiska (04021381621054)

3. Akhmad Rizko Juniansyah (04021381621066)

4. Heidiyati Saleha (04021381621075)

5. Younanda Mirah Fransisca (04021381621081)

5. Jessica Nuryanda Putri (04021381621084)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TA 2017/2018
Kata Pengantar

Allhamdulillah dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT kami mengucapkan atas
terselesaikannya makalah dan roleplay mengenai “Terkait Komunikasi dalam Melakukan
Pengkajian Paliatif pada Pasien Kanker Payudara” dalam memenuhi tugas mata kuliah
paliatif. Tanpa ridho dan kasih sayang serta petunjuk dari nya mustahil makalah ini dapat
terselesaikan.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua
itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan
kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karna itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
khususnya dari teman-teman dan bapak/ibu dosen karena sesungguhnya kebenaran dan
kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

Inderalaya, 15 April 2018

Kelompok 5
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………. …… i


KATA PENGANTAR …………………………………………….. …… ii
DAFTAR ISI .................................................................................... …… iii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………........ …….. 1

I.1 Latar Belakang ............................................................................. 1

I.2 Tujuan ........................................................................................ 2

I.3. Manfaat ................…………………………………………….. 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................. ……… 3

II.1 Pengertian ................................................................................... 3

II.2 Etiologi ....................................................................................... 3

II.3 Patofisiologi ................................................................... ………. 5

II.4 Anatomi Payudara ....................................................................... 5

II.5 Gejala Kanker Payudara ............................................................. 7

II.6 Stadium Kanker Payudara ............................................. ………. 7

II.7 Pemeriksaan Penunjang ............................................... ……….. 8

II.8 Pencegahan Kanker Payudara ..................................... ………... 8

II.9 Penatalaksanaan Medis ............................................................. 10

BAB III PENUTUP .................................................................................. 12

III.1 Kesimpulan ............................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA ................................................................. ………... 13


BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Kanker payudara merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal


mammae dimana sel abnormal timbul dari sel-sel normal berkembang biak dan
mengilfiltrasi jaringan sel limfe dan pertumbuhan darah (Anoname I, 2012)
Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling ditakuti oleh seluruh
wanita di dunia, yang cukup mematikan,menjadi penyakit nomor satu penyebab kasus
kematian wanita di indonesia.. banyak yang belum dan tidak menyadari gejala awal
pada kanker payudara ini sehingga pengobatannya pun tidak segera dilakukan.
Akibatnya stadium pada kanker akan semakin tinggi, dan penyebaran kanker telah
meluas kejaringan organ tubuhyang lain sehngga akan semakin sulit untuk
disembuhkan. Adapaun efek langsung yang disebabkan oleh kanker payudara dapat
melemahkan fisik dan terjadinya perubahan fisik pada tubuh penderita (Alfini, 2011).
Jumlah penderita kanker diseluruh dunia terus mengalami peningkatan, baik
pada daerah insiden tinggi di negara-negara barat, maupun pada insiden rendah seperti
dibanyak daerah asia. Satu laporan penelitian pada tahun 1993 memperkirakan bahwa
jumlah kasus baru di seluruh dunia pada tahun 1985 mencapai 720.000 orang. Angka
insiden tertinggi dapat ditemukan di beberapa daerah di amerika serikat (mecncapai di
atas 100/100.000 orang. Berarti ditemukan lebih 100 penderita dari 100.000 orang)
(purwoastuti, 2008).
Di indonesia kanker payudara menduduki tempat kedua (15,8%) dari sepuluh
kanker terdanyak setelah kanker mulut rahim ditempat pertama. Kanker payudara
umumnya menyerang wanita yang telah berusia lebih dari 40 tahun. Diperkirakan
semakin meningkat di masa yang akan datang (Reksoprodjo dkk, 2010). Hal ini
mungkin disebabkan antara lain oleh gaya hidup yang jauh berbeda, pola makan,
polusi lingkungan, penggunaaan insektisida, zat pengawet, penyedap rasa, pewarna,
serta stress yang berkepanjangan.
Adapun upaya deteksi dini ataupun pencegahan kanker yaitu dengan
melakukan SADARI (periksa payudara sendiri). Sadari adalah tindakan deteksi dini
terhadap adanya gejala-gejal kanker payudara, model ini sangat sedehana, namun
diharapkan dapat menekan tingginya angka penderita kanker payudara, karena
semakin awal terdeteksi maka semakin cepat proses pengobatan yang diperlukan.

I. 2 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana konsep penyakit Ca mamae
2. Untuk mengetahui tanda dan gejala Ca mamae
3. Untuk mengetahui penyebab terjadinya Ca mamae
4. Mengetahui bagaimana penatalaksanaan Ca mamae
I.3 Manfaat

Untuk menambah pengetahuan serta wawasan terkait penyakit Ca mamae


BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Pengertian

Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak terkendali yang dapat


menyusup ke jaringan sekitar kemudian menyebar ke area lain yang
lebih jauh di dalam tubuh. Sebagian besar tipe dari sel kanker
dinamakan sesuai dengan bagian tubuh pertama kali sel kanker berasal
(Riskesdas, 2013; American Cancer Society, 2013).

Kanker payudara merupakan tumor ganas yang berasal dari selsel payudara. Kanker
payudara dapat berasal dari sel kelenjar penghasil susu (lobular), saluran kelenjar dari
lobular ke putting payudara (duktus), dan jaringan penunjang payudara yang
mengelilingi lobular, duktus, pembuluh darah dan pembuluh limfe,
tetapi tidak termasuk kulit payudara (American Cancer Society, 2014).
Sebagian besar kanker payudara berasal dari sel-sel duktus (86%),
kemudian lobular (12%), dan sisanya berasal dari jaringan lain (Keitel
dan Kopala, 2000).

II.2 Etiologi

Kanker merupakan penyakit multifaktorial dimana belum ditemukan penyebab tunggal


yang menjadi etiologi dari kanker. Terdapat beberapa faktor risiko yang memengaruhi
kemungkinan seseorang untuk menderita kanker:

1) Jenis kelamin

Kanker payudara lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria dengan perbandingan
sekitar 100 kali lebih banyak pada wanita. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pria
mempunyai lebih sedikit hormon estrogen dan progesteron yang mendukung
pertumbuhan dari sel kanker (American Cancer Society, 2014).
2) Usia

Di negara maju,sekitar 2 dari 3 kasus kanker payudara yang invasif ditemukan pada
wanita yang berusia 55 tahun keatas (American Cancer Society, 2014). Sedangkan pada
negara berkembang, kanker payudara lebih banyak ditemukan pada usia muda yaitu usia
15-49 tahun (Coughlin dan Cypel, 2013). Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian
Yarso et al. (2012) yang menyatakan bahwa usia rata-rata penderita kanker payudara di
Denpasar, Bali adalah 48 tahun.

3) Riwayat keluarga atau genetik

Adanya riwayat keluarga kanker payudara meningkatkan risiko terjadinya kanker karena
5-10 % dari kasus kanker payudara merupakan faktor herediter akibat mutasi genetik
yang diturunkan langsung dari orang tua (Coughlin dan Cypel, 2013). Mutasi genetik
yang paling umum adalah mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2. Selain kedua gen
tersebut, terdapat juga gen lain seperti ATM, TP53, dan CHEK2 tetapi lebih jarang
meningkatkan risiko kanker (American Cancer Society, 2014). Risiko menderita kanker
juga meningkat 2 kali lipat jika terdapat anggota keluarga generasi pertama seperti ibu
atau saudara perempuan yang positif kanker payudara (MOH Malaysia, 2010).

4) Faktor reproduksi dan hormon

Kehamilan pertama pada usia diatas 30 tahun, nulipara, menstruasi pada usia dini (<12
tahun), dan menopause yang terlambat berhubungan dengan peningkatan risiko dari
kanker payudara (MOH Malaysia, 2010). Paparan hormon seks yang lebih lama juga
berpengaruh terhadap peningkatan faktor risiko, terutama pada wanita dengan kadar
ekstradiol tinggi. Selain hormon endogen, penggunaan hormon eksogen seperti pada
kontrasepsi oral dan terapi pengganti hormon juga meningkatkan faktor risiko (American
Cancer Society, 2014).

5) Faktor gaya hidup

Kebiasaan minum alkohol 2-5 gelas setiap hari meningkatkan risiko sebesar 1,5 kali,
peningkatan berat badan berlebih atau obesitas setelah menopause dengan BMI (Body
Mass Index) lebih dari 25 juga meningkatkan risiko karena setelah menopause, ovarium
berhenti memproduksi estrogen dan produksi estrogen sebagian besar berasal dari
jaringan lemak. Aktivitas fisik seperti berjalan kaki selama 1,25 hingga 2,5 jam setiap
minggu dapat mengurangi risiko sebesar 18% (Coughlin dan Cypel, 2013; MOH
Malaysia, 2010).

II.3 Patofisiologi

Kanker payudara yang invasif disebabkan oleh pertumbuhan selsel epitel payudara yang
berlebih dan tidak terkendali (Stopeck et al, 2015). Proliferasi sel yang berlebih ini dapat
disebabkan oleh mutasi gen, tidak aktifnya gen supresor tumor, gangguan apoptosis, dan
gangguan perbaikan DNA sehingga terjadi aktivasi onkogen yang pada akhirnya menjadi
sel kanker yang invasif. Selain itu, reseptor estrogen dan progesteron yang berada di inti
sel yang terdapat pada beberapa kanker payudara dapat mendorong replikasi DNA,
pembelahan sel dan pertumbuhan sel kanker ketika hormon yang sesuai berikatan pada
reseptor tersebut (Kosir, 2013). Pertumbuhan sel ini dapat muncul pertama kali di duktus
maupun lobulus payudara yang kemudian menyebar ke jaringan sekitar melalui infiltrasi,
invasi, dan penetrasi progresif. Sel kanker dapat menyebar melalui aliran limfe dan
sirkulasi darah yang mengakibatkan metastasis ke organ tubuh lain. Metastasis sel
kanker bisa ke viseral seperti paru, hati, otak dan non viseral seperti tulang dan jaringan
lunak (de Jong, 2010). Metastasis kanker payudara seringkali muncul beberapa tahun
setelah diagnosis dan terapi awal (Kosir, 2013).
II. 4 Anatomi Payudara

Payudara pada pria dan wanita adalah sama sampai masa pubertas (11-13
tahun) karena hormon estrogen dan hormon lainnya mempengaruhi perkembangan
payudara pada wanita. Pada wanita perkembangan payudara aktif, sedangkan pada
pria kelenjar dan duktus mammae kurang berkembang dan sinus berkembang tidak
sempurna. Payudara yang sensitif terhadap pengaruh hormonal mengakibatkan
payudara cenderung mengalami pertumbuhan neoplastik baik yang bersifat jinak
maupun ganas.
Payudara merupakan bagian dari organ reproduksi yang fungsi utamanya
menyekresi susu untuk nutrisi bayi. Payudara terdiri dari jaringan duktural, fibrosa
yang mengikat lobus-lobus, dan jaringan lemak didalam dan diantara lobus-lobus.
85% jaringan payudara terdiri dari lemak. Sedikit di bawah pusat payudara dewasa
terdapat puting (papila mamaria), tonjolan yang berpigmen dikelilingi oleh areola.

Puting dan areola biasanya mempunyai warna dan tekstur yang berbeda dari
kulit di sekelilingnya. Warnanya bermacam-macam dari yang merah muda pucat,
sampai hitam dan gelap selama masa kehamilan dan menyusui. Puting susu biasanya
menonjol keluar dari permukaan payudara. Kanker payudara dapat terjadi dibagian
mana saja dalam payudara, tetapi mayoritas terjadi pada kuadran atas terluar di mana
sebagian besar jaringan payudara terdapat. Dalam menentukan lokasi kanker
payudara, payudara dibagi menjadi empat kuadran, yaitu kuadran lateral (pinggir
atas), lateral bawah, medial (tengah atas), dan median bawah.
Anatomi payudara dan kuadran letak kanker payudara dapat dilihat pada
gambar dibawah ini:

Gambar 2.1. Anatomi Payudara dan Kuadran Letak Kanker Payudara

Keterangan:

1. Korpus (badan) I Lateral atas(pinggir atas)


2. Areola II Lateral bawah

3. papilla atau puting, III Medial atas (tengah atas)

IV Median bawah

II. 5 Gejala kanker payudara

Gejala kanker payudara terdiri dari 3 fase menurut Gale (2000)


diantaranya yaitu:

1) Fase awal kanker payudara asimtomatik (tanpa tanda dan gejala).


Tanda dan gejala yang paling umum adalah benjolan dan penebalan pada payudara.
Kebanyakan kira-kira 90% ditemukan oleh penderita sendiri. Kanker payudara pada
stadium dini biasanya tidak menimbulkan keluhan.

2) Fase lanjut

a) Bentuk dan ukuran payudara berubah, berbeda dari sebelumnya.


b) Luka pada payudara sudah lama dan tidak sembuh walau sudah diobati.
c) Eksim pada putting susu dan sekitarnya sudah lama tidak sembuh walau diobati.
d) Puting sakit, keluar darah, nanah atau cairan encer dari putting atau keluar air
susu pada wanita yang sedang hamil atau tidak menyusui.
e) Putting susu tertarik kedalam.
f) Kulit payudara mengeriut seperti kulit jeruk (peud d’orange).
3) Metastase luas, berupa :

a) Pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula dan servikal.


b) Hasil rontgen toraks abnormal dengan atau tanpa eflusi pleura.
c) Peningkatan alkali fosfatase atau nyeri tulang berkaitan dengan penyebaran ke
tulang.
d) Fungsi hati abnormal.
II.6 Stadium kanker payudara

Stadium kanker payudara didasarkan pada letaknya, penyebarannya dan sejauh


mana pengaruhnya terhadap organ tubuh lain. Ini merupakan salah satu cara dokter
untuk menentukan pengobatan apa yang cocok untuk para pasien. Para penderita kanker
payudara ada stadium dini dan stadium lanjut. Stadium dini adalah stadium dari mana
sebelum adanya kanker hingga stadium dua. Sedangkan stadium lanjut sudah berada
dalam stadium tiga dan empat. Berikut ini penjelasan mengenai tingkatan stadium
menurut Suryaningsih (2009) :

Stadium 1 : Tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan


sekitarnya, tidak ada klasifikasi/infiltrasi berkulit dan jaringan
dibawahnya. Besar tumor 1-2 cm. KGB (Kelenjar Getah Bening)
regional belum teraba.

Stadium II : Sama dengan stadium 1, besar tumor 2-5 cm, sudah ada KGB aksila
(+), tetapi masih bebas dengan diameter kurang 2 cm.

Stadium 3 dibagi dalam:

Stadium III A : Tumor berukuran 5-10 cm,tetapi masih bebas dari jaringan sekitarnya,
KGB aksila masih bebas satu sama lain.

Stadium III B : Tumor meluas dalam jaringan payudara ukuran 5-10 cm, fiksasi pada
kulit/dinding dada, kulit merah dan ada edema (lebih dari 1/3
permukaan kulit payudara), ulserasi,nodul satelit, KGB aksila melekat
satu sama lain atau ke jaringan sekitarnya dengan diameter 2-5 cm dan
belum ada metastasis jauh.

Stadium IV : Tumor seperti pada yang lain (stadium I, II dan III) tetapi sudah disertai
dengan kelenjar getah bening aksila supra-lelavikula dan metastasis
jauh lainnya.
II. 7 Pemeriksaan Penunjang

Ada beberapa pemeriksaan penunjang untuk menuju diagnosis pasti suatu


kanker payudara, yaitu:

a) Termografi yaitu suatu cara yang menggunakan sinar infra red.


b) Mammografi yaitu pemeriksaan dengan metode radiologis sinar x yang diradiasikan
pada payudara. Kelebihan mammografi adalah kemampuannya mendeteksi tumor
yang belum teraba (radius 0,5 cm) sekalipun masih dalam
stadium dini. Waktu yang tepat untuk melakukan mammografi pada wanita
usia produktif adalah hari ke 1-14 dari siklus haid. Pada perempuan usia
nonproduktif dianjurkan untuk kapan saja. Ketepatan pemeriksaan ini
berbeda-beda berkisar antara 83%-95%.
c) Ultrasonografi, metode ini dapat membedakan lesi/tumor yang solid dan
kistik, dan hanya dapat membuat diagnosis dugaan berdasarkan pemantulan
gelombang suara.
d) Scintimammografi adalah teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan
radioisotop.
Dalam protokol penanganan kanker payudara, pemeriksaan yang dianjurkan
adalah mammografi dan ultrasonografi. Pemeriksaan gabungan ultrasonografi dan
mammografi memberikan angka ketepatan diagnostik yang lebih tinggi.

II. 8 Pencegahan kanker payudara

Pencegahan kanker payudara adalah pencegahan yang bertujuan menurunkan


insiden kanker payudara dan secara tidak langsung akan menurunkan angka kematian
akibat kanker payudara (Suryaningsih, 2009).

1) Pencegahan Primordial

Pencegahan primordial yaitu upaya pencegahan yang ditunjukan kepada orang sehat
yang belum memiliki faktor resiko. Upaya ini dimaksudkan dengan menciptakan
kondisi pada masyarakat yang memungkinkan kanker payudara tidak mendapat
dukungan dasar dari kebiasaan, gaya hidup dan faktor resiko
lainnya. Pencegahan primordial dilakukan melalui promosi kesehatan yang
ditujukan kepada orang sehat melalui upaya pola hidup sehat.
2) Pencegahan Primer

Pencegahan primer pada kanker payudara dilakukan pada


orang sehat yang sudah memiliki faktor resiko untuk terkena
kanker payudara. Pencegahan primer dilakukan melalui upaya
menghindarkan diri dari keterpaparan berbagai faktor resiko dan
melaksanakan pola hidup sehat. Konsep dasar dari pencegahan
primer adalah menurunkan insiden kanker payudara yang dapat
dilakukan dengan (Lucia, 2009):
a) Kurangi makanan yang berlemak tinggi seperti mentega,
margarine dan santan. Lebih baik dapatkan asupan lemak dari
kacang-kacangan dan biji-bijian. Hindari jeroan, otak, makanan
berkuah santan kental, kulit ayam dan kuning telur. Pilihlah
daging tanpa lemak, makanan berkuah bening, susu rendah
lemak, susu kedelai, yogurt, putih telur dan ikan sebagai
sumber protein yang baik.
b) Sedapat mungkin hindari bahan pangan atau pengawet yang
dalam jangka panjang dapat menjadi pemicu kanker.
c) Pilih makanan atau minuman yang berwarna putih alami (tidak
menggunakan bahan pewarna). Gunakan pewarna dari bahan
makanan misalnya warna coklatnya dari bubuk coklat,
merahnya strobery, kuningnya kunyit dan hijaunya daun suji.
Jangan menambahkan saus, kecap, garam, dan bumbu-bumbu
secara berlebihan. Perbanyak makan buah dan sayur.
d) Teknik pengolahan makanaan juga mempengaruhi mutu
makanaan. Pilih makanaan dengan metode makanan dikukus,
direbus, ditumis dengan sedikit minyak.
e) Perbanyak minum air putih, mineral 8 gelas sehari, hindari
minuman beralkohol, bersoda dan minuman dengan kandungan
gula dan kafein tinggi. Jus buah dan sayuran baik dan menjaga
dan memelihara kesehatan tubuh.
Hampir setiap kanker payudara ditemukan pertama kali
oleh penderita sendiri dari pada oleh dokter. Karena itu, wanita
harus mewaspadai setiap perubahan yang terjadi pada payudara.
Untuk mengetahui perubahan-perubahan tersebut dilakukan
pemeriksaan sederhana yang disebut pemeriksaan payudara sendiri
(SADARI) (Suryaningsih, 2009).

3) Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder ditujukan untuk mengobati para penderita dan mengurangi


akibat-akibat yang lebih serius dari penyakit kanker payudara melalui diagnose dan
deteksi dini dan pemberian pengobatan (Otto, 2005).

4) Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier bertujuan untuk mengurangi terjadinya


komplikasi yang lebih berat dan memberikan penanganan yang
tepat pada penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya
untuk mengurangi kecacatan dan memperpanjang hidup penderita.
Pencegahan tersier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup
penderita, meneruskan pengobatan serta memberikan dukungan
psikologis bagi penderita. Upaya rehabilitasi terhadap penderita
kanker payudara dilakukan dalam bentuk rehabilitasi medik serta
rehabilitasi jiwa dan sosial. Rehabilitasi medik dilakukan untuk
mempertahankan keadaan penderita pasca operasi atau pasca terapi lainnya.
Rehabilitasi jiwa dan sosial diberikan melalui dukungan
moral dari orang-orang terdekat dan konseling dari petugas
kesehatan maupun tokoh agama (Gale, 2000).
II.9 Penatalaksanaan Medis

Ada beberapa cara pengobatan kanker payudara yang penerapannya


tergantung pada stadium klinik kanker payudara. Pengobatan kanker payudara
biasanya meliputi pembedahan/operasi, radioterapi/penyinaran, kemoterapi, dan
terapi hormonal. Penatalaksanaan medis biasanya tidak dalam bentuk tunggal, tetapi
beberapa kombinasi.
 Pembedahan/Operasi
Pembedahan dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh payudara
yang terserang kanker payudara. Pembedahan paling utama dilakukan pada kanker
payudara stadium I dan II. Pembedahan dapat bersifat kuratif (menyembuhkan)
maupun paliatif (menghilangkan gejala-gejala penyakit).
Tindakan pembedahan atau operasi kanker payudara dapat dilakukan dengan
3 cara yaitu:
a) Mastektomi radikal (lumpektomi), yaitu operasi pengangkatan sebagian dari
payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya
lumpektomi direkomendasikan pada penderita yang besar tumornya kurang
dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.
b) Mastektomi total (mastektomi), yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara
saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.
c) Modified Mastektomi radikal, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara,
jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta
benjolan di sekitar ketiak.
 Radioterapi
Radioterapi yaitu proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan
menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang
masih tersisa di payudara setelah operasi. Tindakan ini mempunyai efek kurang baik
seperti tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara
menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.
Pengobatan ini biasanya diberikan bersamaan dengan lumpektomi atau masektomi.
 Kemoterapi
Kemoterapi merupakan proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam
bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker.
Sistem ini diharapkan mencapai target pada pengobatan kanker yang kemungkinan
telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Dampak dari kemoterapi adalah pasien
mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang
diberikan pada saat kemoterapi.
 Terapi Hormonal
Pertumbuhan kanker payudara bergantung pada suplai hormon estrogen, oleh
karena itu tindakan mengurangi pembentukan hormon dapat menghambat laju
perkembangan sel kanker. Terapi hormonal disebut juga dengan therapy antiestrogen
karena sistem kerjanya menghambat atau menghentikan kemampuan
hormon estrogen yang ada dalam menstimulus perkembangan kanker pada
payudara.
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Kanker payudara merupakan tumor ganas yang berasal dari selsel payudara. Kanker
payudara dapat berasal dari sel kelenjar penghasil susu (lobular), saluran kelenjar dari
lobular ke putting payudara (duktus), dan jaringan penunjang payudara yang
mengelilingi lobular, duktus, pembuluh darah dan pembuluh limfe,
tetapi tidak termasuk kulit payudara (American Cancer Society, 2014). Kanker
merupakan penyakit multifaktorial dimana belum ditemukan penyebab tunggal yang
menjadi etiologi dari kanker.
Sedangkan penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan adalah:
 Pembedahan/Operasi
 Radioterapi
 Kemoterapi
 Terapi Hormonal
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius.

Ramli, R. 2015. Update Breast Cancer Management Diagnostic And Treatment. Majalah

Kedokteran Andalas, Vol. 38, No. Supl. 1.

Shirley, IM. 2000. Epidemiologi kanker payudara dan pengendaliannya. Jakarta: Salemba

Medika.

Protokol Kanker Payudara PERABOI 2002: Kumpulan Protokol PERABOI 2002-2003.

Muktamar Nasional VI PERABOI di Jakarta 2003, Jakarta : PERABOI 2003: 25-40.


TUGAS PALIATIF
ROLE PLAY CA MAMMAE

Dosen Pembimbing:

Putri Widita Muharyani, S.Kep., Ns., M.Kep

Disusun Oleh kelompok 5 B 2016:

 Serli nanda siwi didik (Perawat 1) 04021381621050


 Dian fransiska (Anak) 04021381621054
 Akhmad rizkho juniansyah (Suami) 04021381621066
 Heidiyati saleha (Perawat 2) 04021381621075
 Younanda mirah fransisca (Pasien) 04021381621081
 Jessica nuryanda putrid (Dokter) 04021381621084

Kelas : B Reguler 2016

Program Studi Ilmu Keperawatan


Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya
Role Play Pasien Paliatif Ca Mammae

Disebuah ruangan rumah sakit, tepatnya di ruangan mawar nomor 105 ada seorang
pasien yang bernama ibu A yang berumur 47 tahun , ibu A sudah lama mengalami ca
mammae. Dalam dua hari ini ibu A melakukan perawatan di rumah sakit.

Seorang dokter memanggil perawat untuk datang ke ruangannya menggunakan


telepon.

Dialog 1

Dokter : Halo saya dokter Jessica bisa bicara dengan suster Serli ?

Perawat 1 : Iya dengan saya sendiri Dok.

Dokter : Tolong keruangan saya sekarang yah Sus

Perawat1 : Baik Dok.

Bebera menit kemudian

Perawat1 : (mengetuk pintu) permisi dok, boleh saya masuk ?

Dokter : iya sus silahkan masuk

Perawat1 : (menghampiri dokter)

Dokter : Silahkan duduk Sus.

Perawat1 : terimakasih Dok

Dokter : Begini sus, saya sudah membaca hasil pengkaian sebelumnya pada pasien
kita ibu A. saya melihat keadaan kanker yang dialami ibu A ini sudah sangat
para, saya minta untuk pengkajian lanjutan pada ibu A ini, agar kita dapat
mengetahui dan melakukan tindakan apa yang baik untuk ibu A ini, dan terus
dipantau yah sus untuk tanda-tanda vital ibu A ini.

Perawat1 : Baik dok, apakah masih ada yang bisa saya lakukan dok ?

Dokter : tidak sus

Perawat1 : baik dok, kalau seperti itu saya permisi, terimakasih dok. Saya permisi dulu

Perawat meninggalkan ruangan.

Dialog 2

Diruang perawatan didapati pasien sedang bercakap dengan suaminya.


Suami : ibu, bagaimana perasaan Ibu sekarang, ibu masih merasakan sakit ?

Pasien : iya pak ibu masih merasakan sakit, ibu sangat takut pak, apakah ibu bisa
sembuh atau tidak.

Suami : bapak yakin ibu pasti sembuh.

Dialog 3

Sesaat perawat1 datang, sambil mengetuk pintu dan mendekati pasien dan suamiya.

Perawat1 : selamat pagi ibu, apa benar dengan Ibu A ? perkenalkan saya suster serli saya
yang bertugas merawat ibu pagi ini. bagaimana perasaanya hari ini ? masih
terasa sakit Bu ?

Pasien : masih sus, saya maih merasakan sakit.

Suami : iya sus, istri saya selalu meringis kesakitan, terkadang ia menangis.

Suster : ya sudah kalau begitu suster mau tanya, missal ni suster buat skala sakitnya
1-10, kira-kira ibu sakitnya nomor berapa ?

Pasien : berkisaran nomor 8 suster.

Perawat1 : ibu sakitnya di payudara sebelah kiri kan, emm sekarang apa ibu merasakan
sakit di daerah yang lain ?

Pasien : tidak suster, saya hanya sakit di daerah payudara sebelah kiri saja.

Perawat : selain masih merasakan sakit, apa ibu punya keluhan yang lain ?

Pasien : saya sulit untuk tidur suster.

Perawat1 : oh ibu mengalami susah tidur yah, sekarang suster periksa kondisi ibu dulu
yah

Pasien : iya suster

Beberapa menit kemudian, setelah perawat melakukan pemeriksaan.

Perawat1 : pemeriksaannnya selesai ibu, terimakasih yah ibu sudah bekerja sama dengan
suster.

Suami : bagaimana sus, keadaan istri saya baik-baik saja kan sus ?

Perawat1 : seperti ini pak keadaan ibu masih seperti saat ibu masuk ke rumah sakit, ibu
mengalami tingkat kecemasan yang tinggi, yang membuat ibu susah tidur.
Nanti suster akan memberikan perawatan untuk ibu yah pak.

Suami : lakukan yang terbaik sus untuk kesembuhan istri saya.


Perawat1 : iya pak kami akan berusaha melakukan yang terbaik, ibu harus semangat yah
untuk sembuhnya.

Pasien : tapi saya takut sus, saya sangat takut saya merasa saya tidak akan sembuh
lagi.

Perawat1 : ibu harus optimis untuk sembuh, ibu beruntung loh punya suami yang sangat
mendukung dan selalu ada di dekat ibu.

Suami : iya suster benar Bu, ibu harus kuat.

Perawat1 : ya sudah kalau seperti itu suter permisi dulu yah bu, pak

Suami : iya sus terimakasih banyak.

Dialog 4

Suster menemui dokter ke ruangannya

Perawat1 : permisi dok

Dokter : silahkan masuk sus

Perawat1 : terimakasih dok, dok tadi saya sudah melakukan pengkajian pada pasien ibu
A, skala nyeri pasien tidak berkurang dok dan keadaan status mentalnya sudah
terganggu, karena pasien merasakan takut dengan keadaannya dok, bukan
hanya itu dok, pola tidur pasien juga terganggu dok karena tingkat kecemasan
yang dialaminya, saya akan memberika perawatan terhadap pasien A dok.

Dokter : saya setuju dengan suster, nanti tolong intruksikan dengan perawat 2 untuk
melanjutkan perawatan yang akan suster lakukan.

Perawat1 ; baik dok nanti akan saya sampaikan, kalau seperti itu saya permisi dok.

Perawat meninggalakan ruangan dokter.

Dialog 5

Perawat menuju ke nurse station untuk memberitahu perawat 2 dalam melakukan


pergantina sip

Perawat1 : sus bisa berbicara sebentar

Perawat2 : iya sus, mau berbicara apa ?

Perawat 1 : tadi saya sudah melakukan pengkajian terhadap pasien ibu A, dan hasil
pengkajian tidak menunjukkan perubahan, suster bisa memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien kita yang dapat membuatnya tenang dan bisa
menerima keadaannya sus. Saya harap suster dapat membantu dan berkerja
sama.

Perawat2 : baiklah sus nanti saya akan memberikan perawatan sesuai dengan keadaan
pasien.

Dialog 6

Perawat 2 melakukan pemeriksaan kembali pada pasien Ibu A. di ruangan tersebut


ada suami dan juga anak pasien

Perawat2 : permisi semuanya, perkenalkan ibu saya perawat Diya yang menggantikan
perawat1, bagaimana ibu keadaannya ? masih sakit Bu ?

Pasien : masih sus saya masih merasakan sakit.

Perawat2 : tidurnya bagaimana bu, sudah nyenyak ?

Suami : istri saya masih mengalami susah tidur sus

Anak : malah ibu saya semakin tidak tenang sus

Perawat2 : iya dik suster mengerti dengan keadaan ibu adik, adik harus memberi
semangat kepada ibu yah biar ibu bisa kuat dan sabar dalam menghadapi
keadaannya.

Anak : iya sus, saya dan ayah saya memohon bantuannya sus untuk kebaikan ibu
saya.

Perawat : pasti dik, pasti akan memberikan yang terbaik buat ibu adik. Sekarang suster
mintak waktunya yah buat bicara dengan ibu adik.

Anak : iya sus silahkan

Suami : silahkan sus

Perawat2 : ibu gimana perasaan ibu selama dirawat di sini ?

Pasien : saya merasa semakin takut sus, saya tidak bisa membayangkan akan berpisah
dengan anak dan suami saya sus.

Perawat2 : ibu harus tenang, ibu jangan cemas ibu jangan selalu memikirkan hal seperti
ini, suster yakin ibu bisa menerima keadaan ini.

Pasien : saya merasa sangat sulit sus untuk bisa menerima keadaan ini saya sangat
takut sus.

Perawat2 : ibu jangan takut, ibu punya Tuhan kan yang selalu bersama ibu dan selalu
melindungi ibu, jika ibu selalu seperti ini, ibu akan membuat anak dan suami
ibu khawatir, mereka akan tenang jika ibu bisa tenang dan tidak merasakan
khawatir lagi.

Pasien : saya harus bagaimana sus ?

Perawat2 : ibu harus tenang dan optimis dengan keadaan ibu. Ibu harus yakin ibu bisa
melakukan hal itu demi anak dan suami ibu kan ?

Pasien : tapi saying sangat takut sus.

Perawat2 : sebentar yah ibu, (keluar memanggil anak dan suami pasien), ibu lihat anak
dan suami ibu ? mereka sangat menyayangi ibu dan selalu berada disamping
ibu untuk bersama dengan ibu, selalu mendukung ibu.

Anak : iya ibu harus kuat dan ibu harus tenang, ibu tidak boleh ketakutan terus bu,
Dian Sayang dengan ibu.

Suami : bapak dan anak kita selalu bersama ibu

Perawat2 : ibu lihat kan suami dan anak ibu sangat menyayangi ibu, ibu tidak boleh
khawatir lagi, coba ibu lakukan hal ini demi anak dan ssuami ibu yah bu.

Pasien : iya sus saying akan mencoba menerima keadaan saya dan mencoba untuk
tidak menghukum diri saya sendiri

Perawat2 : suster bangga dengan ibu, ibu mau berusaha dan yakin bahwa rencana Tuhan
lebih baik. Bagaimana perasaan ibu setelah bercerita dengan suster ?

Pasien : saya merasa lebih tenang sus

Perawat2 : baiklah ibu kalau seperti itu suster permisi dulu yah buk

Pasien : baik sus terimakasih.

Dialog 6

Keesokan harinya, perawat 1 datang ke ruangan pasien ibu A

Perawat1 : selamat pagi ibu, bagaimana perasaannya pagi ini ?

Pasien : saya merasa lebih baik sus

Perawat1 : bagaimana dengan tidurnya bu ?

Pasie : rasa takut dan gelisah saya sudah berkurang sus, saya merasa lebih tenang,
karena kemarin saya sudah bercerita dengan perawat Diya sus tentang keadaan
saya yang selalu merasa takut.

Perawat1 : wah bagus sekali ibu, ibu harus lebih tenang yah bu, ibu jangn selalu merasa
takut, ibu harus membuat hidup ibu merasa berarti sudah mempunya keluarga
yang selalu ada di dekat ibu dan selalu mendukung ibu.
Anak : terimakasih yah sus, suster sudah membuat ibu saya lebih tenang dan tidak
merasa gelisah lagi

Suami : istri saya sudah tidak mengalami susah tidur sus walaupun memang rasa sakit
yang dirasakannya itu tidak hilang, tapi dia sudah bisa mengalihkannya sus
sehingga dia merasakan sakit itu seperti tidak ada.

Perawat1 : syukurlah pak, hal seperti itulah yang kita harapkan, keadaan dimana pasien
kita merasa jauh lebih tenang dan dapat menerima keadaannya. Adik dan
bapak bisa ikut suster sebentar. Ibu suster permisi sebentar yah.

Mengajak suami dan anak pasien sedikit menjauh dari pasien.

Perawat1 : seperti ini pak kondisi ibu belum ada perubah, akan tetapi kita harus berusaha
membuat ibu selalu tenang dan dapat menerima keadaannya, kita harus
membuat hidup ibu berkesan dan jangan membuat ibu merasa tidak enak
ataupun membuat ibu merasa bersalah.

Anak : iya suster, terimakasih suster sudah membuat ibu sayya lebih tenang dalam
menerima keadaannya.

Suami : suter saya selalu meminta bantuan dari semuanya agar istri saya dapat
menjadi lebih baik, setidaknya keadaan mentalnya sus.

Perawat1 : pasti pak kami akan berusaha. Baiklah sekarang ayo kita ketempat ibu lagi.

Berjalan menuju pasien lagi

Perawat1 : ibu, sekarang suster pamit yah, ibu harus selalu tenang dan jangan takut ibu
harus membuang rasa takut itu yah.

Pasien : baik suster, terimakasih banyak suster telah memberikan perawatan yang baik
kepada saya dan memberikan pengertian yang luar biasa kepada saya.

Perawat1 : iya ibu, kalau begitu suster permisi dulu yah bu, mari bu.

TAMAT