Anda di halaman 1dari 13

A.

KONSEP DASAR

1. PENGERTIAN
Termo= panas , Regulasi = pengaturan
Termoregulasi adalah suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia mengenai
keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat
dipertahankan secara konstan. Panas adalah energy kinetic pada gerakan molekul.

2. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO


 Etiologi
1. Pengeluaran Panas
Struktur kulit dan paparan terhadap lingkungan secara konstan berpengaruh
terhadap hilangnya panas tubuh. Pengeluaran panas secara normal bisa melalui 4
cara yaitu :
a. Radiasi
Perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke objek lain tanpa keduanya
bersentuhan.contohnya : melepaskan pakaian dan selimut.
b. Konduksi
Perpindahan panas dari suatu objek ke objek lain dengan kontak
langsung.Contohnya memberikan kompres es atau memandikan klien dengan air
dingin.
c. Konveksi
Perpindahan panas karena gerakan udara.Contohnya Kipas angin,AC,dan
pendingin udara.
d. Evaporasi
Perpindahan energi panas ketika cairan berubah menjadi gas.contohnya :
berkeringat.
2. Peningkatan Suhu Tubuh
Hipertermi dapat disebabkan karena gangguan otak atau akibatbahan toksik
yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yangdapat menyebabkan efek
perangsangan terhadap pusat pengaturansuhu sehinggak menyebabkan demam
disebut pirogen. Zat pirogen inidapat berupa protein, pecahan protein, dan zat lain
terutama toksinpolisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik / pirogen
yangdihasilkasn dari degenerasi jaringan tubuh yang dapat menyebabkandemam
selama sakit.
 Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh:.
a. Usia
Pada saat lahir, bayi meninggalkan lingkungan yang hangat,yang relative
konstan, masuk dalam lingkungan yang suhunyaberfluktuasi dengan cepat. Suhu
tubuh bayi dapat berespons secaradrastis terhadap perubahan suhu lingkungan.
Produksi panas akanmeningkat seirinh dengan pertumbuhan bayi memasuki anak -
anak. Regulasi suhu tidak stabil sampai anak – anak mencapaipubertas. Rentang
suhu normal turun secara berangsur sampaiseseorang mendekati masa lansia.

b. Olahraga

Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dalam pemecahan


karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan metabolisme dan
produksi panas.

c. Kadar hormon

Secara umum, wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar
dibandingkan pria. Variasi hormonal selama siklus menstruasi menyebabkan
fluktuasi suhu tubuh. Kadarprogesteron meningkat dan menurun secara bertahap
selama siklus menstruasi. Bila kadar progesteron rendah, suhu tubuh beberapa
derajat dibawah kadar batas. Suhu tubuh yang rendah berlangsung sampai terjadi
ovulasi. Perubahan suhu juga terjadi pada wanita menopause.

d.Irama sirkadian

Suhu tubuh berubah secara normal 0,5 ºC sampai 1 ºC selama periode 24 jam.

e. Stress
Stres fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan
persarafan. Perubahan fisiologi tersebut meningkatkan panas. Klien yang cemas
saat masuk rumah sakit atau tempat praktik dokter, suhu tubuhnya dapat lebih
tinggi dari normal
f. Lingkungan
Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Jika suhu dikaji dalam ruangan yang
sangat hangat, klien mungkin tidak mampu meregulasi suhu tubuh melalui
mekanisme pengluaran-panas dan suhu tubuh akan naik. Saat berada di
lingkungan tanpa baju hangat, suhu tubuh mungkin rendah karena penyebaran
yang efektif dan pengeluaran panas yang konduktif. Bayi dan lansia paling sering
dipengaruhi oleh suhu lingkungan karena mekaisme suhu mereka kurang efisien.

3. FISIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI TERMOREGULASI

 Fisiologi
Tubuh manusia merupakan organ yang mampu menghasilkan panas secara mandiri
dan tidak tergantung pada suhu lingkungan. Suhu tubuh dihasilkan dari :
1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR)
2. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk kontraksi
otot akibat menggigil).
3. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian kecil
hormon lain, misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron).
4. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan rangsanga
n simpatis pada sel.
5. Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu
sendiri terutama bila temperatur menurun.
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan fluktuasi suhu tubuh dari fungsi yang terganggu hingga lingkungan
yang ekstrim. Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada
37°C. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu
panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini
terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk
mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point).
Tubuh manusia memiliki seperangkat sistem yang memungkinkan tubuh
menghasilkan, mendistribusikan, dan mempertahankan suhu tubuh dalam keadaan
konstan. Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core
temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial, toraks,
rongga abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan
(sekitar 37°C). Selain itu, ada suhu permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang
terdapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya dapat
berfluktuasi sebesar 30°C sampai 40°C

 Patofisiologi
Mekanisme pengaturan suhu juga dapat terpengaruh bila ada pirogen yang
mempengaruhi hipotalamus, sehingga mempengaruhi set point temperature. Set point
temperature tubuh manusia akan meningkat, maka tubuh akan melakukan mekanisme
peningkatan suhu. Adanya pyrogen seperti infeksi, toxin atau mediator inflamasi
merangsang keluarnya monosit, makropag atau sel endothelial yang akan melepaskan
pyrogen cytokines-IL –1, TNF, IL-6 dan IFN. Komponen tersebut merangsang
hipotalamus anterior yang akan mengakibatkan peningkatan termoregulator dari set
point.
Gejala yang ditimbulkan berupa produksi panas atau mempertahankan panas yang
menyebabkan demam. Berikut dibawah ini merupakan mekanisme terjadinya demam

4.Manifestasi Klinis

 Perubahan Suhu
Perubahan suhu tubuh di luar rentang normal mempengaruhi setpoint hipotalamus.
Perubahan ini dapat berhubungan dengan produksipanas yang berlebihan,
pengeluaran panas yang berlebihan, produksipanas minimal, pengeluaran panas
minimal atau setiap gabungan dariperubahan tersebut. Sifat perubahan tersebut
mempengaruhi masalahklinis yang dialami klien, seperti:
a.Demam
Demam dapat terjadi karena mekanisme pengeluaranpanas tidak mampu untuk
mempertahankan kecepatanpengeluaran kelebihan produksi panas, yang
mengakibatkanpeningkatan suhu tubuh abnormal.Selama demam, metabolisme
meningkat dan konsumsioksigen bertambah. Metabolisme tubuh meningkat 7% untuk
setiap derajat kenaikan suhu. Fekuensi jantung dan pernapasanmeningkat untuk
memenuhi kebutuhan metabolic tubuhterhadap nutrient. Metabolisme yang meningkat
menggunakanenergi yang memproduksi panas tambahan.Beberapa gejala yang
menyertai demam seperti :
1)Nyeri punggung
2)Mialgia yang menyeluruh
3)Atralgia
4)Anoreksia
5)Somnolen
6)Kedinginan (chills)
7)Menggigil (rigors)

b.Kelelahan Akibat Panas

Kelelahan akibat panas terjadi bila diaforesis yang banyak mengakibatkan


kehilangan cairan dan elektrolit secaraberlebihan. Disebabkan oleh lingkungan yang
terpajan panas.Tanda dan gejala kurang volume cairan adalah hal yang umumselama
kelelahan akibat panas. Tindakan pertama yaitumemindahkan klien ke lingkungan
yang lebih dingin sertamemperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit.

c.Hipertermi

Hipertermi adalah meningkatnya suhu inti tubuh hingga40°C pada suhu rektal atau
lebih tinggi lagi. Hal ini dapat terjadi jika: 1) Seseorang terpapar suhu eksternal yang
tinggi,2) Dalam keadaan cidera yang serius seperti luka bakar, 3)Terdapat kerusakan
pusat pengendalian suhu dalam otak, 4)Terjadi infeksi. Gejala biasanya muncul
seperti:
1)kulit yang panas, kemerah-merahan
2)jatuh pingsan
3)sakit kepala
4)mual
5)konvulsid.

d. Hipotermi
Hipotermi adalah penurunan suhu inti tubuh di bawah35°C pada suhu rektal. Hal ini
dapat terjadi jika seseorangterpapar suhu dingin tanpa perlindungan yang memadai,
padausia lanjut jika seseorang terpapar suhu eksternal yang hanya15,6°C, dengan
sengaja dilakukan sebelum pembedahan untuk memperlambat metabolisme
tubuh.Gejala yang muncul seperti:
1)penurunan suhu tubuh
2)koordinasi yang lemah dan kekacauan mental
3) cara bicara yang bersambungan (tidak jelas)
4) Penurunan laju pernafasan dan denyut jantung

5. PERBEDAAN SUHU TUBUH BERDASARKAN USIA

Usia Suhu (oC)

3 bulan 37,5

6 bulan 37,7

1 tahun 37,7

3 tahun 37,2

5 tahun 37,0

7 tahun 36,8

9 tahun 36,7

11 tahun 36,7

13 tahun 36,6

Dewasa 36,4

> 70 tahun 36,0

Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36°C


Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 - 37,5°C
Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 - 40°C
Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40°C
(Tamsuri Anas, 2007)
6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1). Kultur (luka, sputum, urune, darah)
- Mengidentifikasi organisme penyebab demam/radang.
- Untuk menentukan obat yang efektif.

2). Sel darah putih :


- Leucopenia (penurunan SDP) sebelumnya
- Leucositosis ( 15.000 – 30.000)

3). Elektrolit serum :


- Ketidakseimbangan elektrolit à asidosis, perpindahan
cairan, perubahan fungsi ginjal.

4). Glukose serum :


- Sebagai respon dari puasa à perubahan seluler dalam
metabolisme.

5). Urinalisis : bakteri penyebab infeksi.

7.PENATALAKSANAAN MEDIS
 Penatalaksanaan hipotermia :
1.Mandikan anak dengan ir hangat. Ketika warna kulitnya sudah kembali normal,
bantulah ia keluar dan keringkan tubuhnya, bungkus dengan handuk atau selimut
hangat.
2.Kenakan pakaian yang hangat dan baringkan di tempat tidur, ditutupi dengan
selimut tebal. Tutupi kepalanya dengan topi dan apstikan ruangannya hangat.
3.Berikan minuman hangat dan maakann berenergi tinggi, misalnya cokelat. Jangan
meninggalkan anak seorang diri sampai anda yakin warna dan suhu tubuhnya sudah
kembali normal
 Penatalaksanaan hipertermi
• BHSP .
• Kenakan pakaian yang tipis .
• Beri banyak minum .
• Beri banyak istirahat .
• Beri kompres .
• Beri obat penurun panas.

B. KONSEP ASKEP

I PENGKAJIAN

Data Subjektif

pasien mengemukakan derajat temperatur tubuhnya meningkat atau menurun

pasien mengekspresikan perasaan panas atau hangat atau dingin & menggigil

pasien mengatakan alat bantu apa yang dia gunakan bila kedinginan (misal :
sweater atau selimut)

pasien dapat mengemukakan faktor resiko terjadinya hipertermi atau hipotermi.


Misal : masalah metabolisme karena kanker atau ketidakseimbangan hormon; integritas
kulit; riwayat penyakit kronis seperti penyakit paru dan jantung; obat obat yang
dikonsumsi faktor resiko lain yang dapat diidentifikasi adalah lingkungan dimana
pasien berada atau tinggal.

Pasien mengemukakan lamanya hipertermi atau hipotermi dialami yaitu


andermitten , remitten atau relapsing

Data Objektif :

perubahan yang terjadi pada permukaan kulit baik warna, kelembaban, secara lokal
atau sistemik.

tingkat kesadaran

berat badan

status hidrasi dan nutrisi

II DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. resiko perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan :


Pakaian tidak sesuai
Cidera sistem saraf pusat
Paparan terhadap lingkungan ( panas dingin)
Kerusakan sistem termoregulasi

2. Termoregulasi tidak efektif yang berhubungan dengan :


Imaturitas
Perubahan fisiologis
Penuaan
Cedera sistem saraf pusat
Suhu lingkungan
3. hipotermia yang berhubungan dengan :
Penurunan kecepatan metabolik
Pakaian tidak adekuat
Paparan terhadap lingkungan dingin
Ketidakmampuan untuk menggigil
Konsumsi obat atau alkohol
Inaktifitas
Penuaan

4. hipertermia yang berhubungan dengan :


Peningkatan laju metabolik
Pakaian tidak sesuai
Paparan terhadap lingkungan panas atau dingin
Tidak dapat berkeringat
Medikasi
Aktifitas berat dan banyak
Proses infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri

III INTERVENSI KEPERAWATAN


Diagnosa keperawatan : 1. Hipertermia yang berhubungan dengan proses infeksi
2.Hipotermi yang berhubungan dengan penuaan
No Tujuan/KH Intervensi Rasional TTD
.
D
X
1 Tujuan : setelah 1) Pantau hidrasi (  Mempertahankan
dilakukan tindakan turgor kulit, status hidrasi
keperawatan selama 3 kelembapan membran  Dasar monitor
x 24 jam suhu tubuh mukosa ) kondisi
dalam rentang normal. 2) Pantau TTV dan  Untuk menurunkan
Kriteria hasil : warna kulit panas
1) Suhu tubuh 3) Ajarkan pasien
dalam rentang normal atau keluarga dala
36,5 – 37,5 0C mebgukur suhu untuk
2) Kulit tidak mencegah dan
teraba hangat mengenali secara dini
3) Nadi dan hipertermia.
pernafasan dalam 4) Kolaborasi
rentang normal dengan dokter dalam
pemberian antipiretik
sesuai dengan
kebutuhan.
5) Kompres dengan
air dingin atau hangat
6) Anjurkan asupan
cairan oral
7) Lepaskan pakaian
yang berlebihan

Setelah
2 setelah dilakukan 1) Kaji gejala  Untuk mengetahui
tindakan keperawatan hipotermia ( perubahan kondisi pasien
selama 3 x 24 jam warna kulit, menggigil,
suhu tubuh kembali kelelahan, kelemahan,
dalam rentang normal, apatis, dan bicara yang
dengan KH : bergumam ).
1) Suhu tubuh dalam 2) Kaji suhu tubuh
rentang normal 36,5 – paling sedikit setiap 2
37,5 0C jam sesuai kebutuhan.
2) Kulit tidak teraba 3) Ajarkan pada
dingin pasien, khusunya
3) Pasien tidak tampak pasien lansia tentang
menggigil, pucat dan tindakan untuk mence
merinding 4) gah hipotermia
4) TTV dalam rentang dari pajanan dingin.
normal 5) Kolaborasi
dalam teknik
menghangatkan suhu
basal ( hemodialisa,
dialisis peritonial,
irigasi kolon ).
6) Berikan pakaian
yang hangat, kering,
selimut penghangat,
alat – alat pemanas
mekanik, suhu
ruangan yang
disesuaikan, botol
dengan air hangat,
minum air hangat
sesuai dengan
toleransi.
PATHWAY

Usia olahraga kadar hormon irama sirkadian stress lingkungan

TERMOREGULASI

Laju metabolik meningkat

Peningkatan Pengeluaran Toksin, bakteri

Kerja otot intake yg kurang suhu suhu plepasan pirogen dlm drah

Kelemahan Resiko kekurangan menstimulasi pusat termoregulasi


nutrisi
(hipotalamus)
Intoleransi
Mengirim impuls ke pusat vasomotor
aktivitas

Daya tahan tubuh


Hipertermi

(febris)
Resiko
Infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis. Jakarta :
EGC
Hegner, Barbara R. 2003. Asisten Keperawatan : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.
Jakarta : EGC
Journal of Endocrinology. 2005. Functional Anatomy Of Hypothalamic Homeostatic
Systems.(Online), (http://www.endotxt.org/neuroendo/neuroendo3b.html),diakses pada
13 februari 2006.