Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS KEMANTAPAN LERENG MENGGUNAKAN

METODE LIMIT EQUILIBRIUM DIDASARKAN PADA


KRITERIA GENERALIZED HOEK BROWN

PROPOSAL TUGAS AKHIR

OLEH
ARAFAH P
D621 12 256

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN

GOWA
2016
ANALISIS KEMANTAPAN LERENG MENGGUNAKAN METODE LIMIT
EQUILIBRIUM DISASARKAN KRITERIA
GENERALIZED HOEK BROWN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Nama : Arafah P

NIM : D621 12 256

Usulan Judul : Analisis Kemantapan Lereng Menggunakan Metode Limit


Equilibrium Didasarkan Pada Kriteria Generalized Hoek
Brown

Usulan Waktu : Juni 2016 – agustus 2016

Makassar, 28 April 2016

Mahasiswa Bersangkutan

Arafah P
D621 12 256

Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Program Studi Koordinator LBE Geomekanik
Teknik Pertambangan

Dr. Sufriadin, ST.,MT. Ir. H. DJAMLUDDIN., MT.


NIP. 19660817 200012 1 001 NIP. 19560412 198703 1 001
I. JUDUL

ANALISIS KEMANTAPAN LERENG MENGGUNAKAN METODE LIMIT


EQUILIBRIUM DISASARKAN PADA KRITERIA GENERALIZED HOEK BROWN .

II. LATAR BELAKANG

Salah satu aspek penting dalam tambang terbuka yang harus


diperhatikan adalah geometri lereng atau kemantapan lereng dalam memenuhi
target produksi, baik lereng tunggal maupun lereng secara keseluruhan
dan menjaga keamanan aktivitas penambangan. Stabilitas lereng menjadi hal yang
sangat penting untuk diperhatikan kaitannya dengan operasional dan keekonomian
tambang karena jika terjadi longsoran maka akan berdampak pada kehilangan
j a m k e r j a dan penambahan biaya operasional. Aspek keselamatan alat dan
manusia yang berada di bawah lereng juga menjadi hal yang paling utama.
sehingga perlu dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng
yaitu antara lain jenis batuan, morfologi daerah, keberadaan struktur geologi
sebagai penciri adanya bidang-bidang lemah, tinggi muka air tanah, dan sifat fisik
serta sifat mekanik material batuan pembentuk lereng.
Kelongsoran terjadi disebabkan karena gaya penahan pada batuan lebih
kecil dibandingkan gaya penggeraknya sehingga lereng menjadi tidak stabil. Gaya
penahan dapat dipengaruhi oleh jenis batuan, morfologi daerah, keberadaan
struktur geologi sebagai penciri adanya bidang-bidang lemah, tinggi muka air tanah,
dan sifat fisik serta sifat mekanik material batuan pembentuk lereng.
Kriteria generalized hoek-brown menganalisis kekuatan batuan yang
didasarkan pada parameter kekuatan batuan utuh, nilai konstannya dan parameter
struktur serta kondisi batuan yang dicocokkan dengan Indeks Kekuatan Geologi
(GSI). Analisis faktor keamanan menggunakan metode limit equilibrium dengan
bantuan dari analisis software rocscience SLIDE7. nilai dari factor keaman
digunakan untuk mendeskripikan lereng stabil atau kritis.

III. RUMUSAN MASALAH

Usaha mencapai tingkat kestabilan Lereng, nilai kekuatan dari batuan dan
lereng penting diketahui. Nilai kekuatan batuan dianalisis berdasarkan kriteria
generalized hoek brown yang mengamati kondisi serta struktur yang mengurangi
kekuatan dari batuan utuhnya. Pentingnya metode yang dipakai untuk menghitung
nilai keamana dari lereng jiga menjadi acuan. Rumusan masalah yang diangkat :

1. Karakteristik massa batuan pada lereng dilihat dari nilai indeks kekuatan
geologi (GSI).
2. Kekuatan geser batuan lereng berdasarkan analisa kritera Generalized Hoek-
Brown.
3. Nilai faktor keamanan berdasarkan metode Limit Equilibrium.

IV. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dilaksanakanya penelitian tugas akhir ini adalah :


1. Menentukan karakteristik massa batuan pada Lereng berdasarkan Indeks
Kekuatan Geologi (GSI).
2. Menghitung kekuatan geser dari lereng berdasarkan kriteria Generalized
Hoek-Brown.
3. Mengevaluasi lereng untuk medapatkan nilai stabilitas yang memadai
berdasarkan metode limit equilibrium.

V. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah membandingkan


analisis kestabilan lereng dari kajian awal perusahaan dengan menggunakan kriteria
Generalized Hoek-Brown yang mempertimbangkan aspek struktur serta kondisi
batuan dari massa batuan lereng. Hasil dari penelitian ini bisa menjadi kajian untuk
kstabilan lereng selanjutnya.

VI. TINJAUAN PUSTAKA

6.1 Kestabilan Lereng

Kemantapan suatu lereng dapat dinyatakan dengan suatu nilai faktor


keamanan (FK). Faktor keamanan merupakan perbandingan antara gaya penahan
dengan gaya penggerak yang terdapat pada suatu bidang gelincir. Gaya penahan
(resisting force) merupakan gaya yang menahan terjadinya suatu longsoran,
sedangkan gaya penggerak (driving force) merupakan gaya yang
menyebabkan terjadinya suatu longsoran. Lereng akan mengalami longsoran
apabila besarnya gaya pengerak lebih besar daripada gaya penahan, sebaliknya
bila besarnya gaya penahan lebih besar daripada gaya penggeraknya maka lereng
tersebut akan stabil atau tidak mengalami longsoran.

Kestabilan suatu lereng dapat dinyatakan (Hoek and Bray, 1981)


sebagai berikut:

FK = (6.1)

Nilai faktor keamanan secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut:

a. Nilai FK < 1, lereng dalam keadaan tidak stabil atau tidak


mantap.
b. Nilai FK = 1, lereng dalam keadaan seimbang.
c. Nilai FK > 1, lereng dalam keadaan stabil atau mantap.

Pembuatan geometri lereng dengan dimensi tertentu yang dilakukan


dalam aktivitas penggalian tambang terbuka adalah merupakan gangguan terhadap
keseimbangan yang bisa menyebabkan terjadinya kelongsoran. Bentuk dari
gangguan tersebut merupakan proses dari gerakan tanah atau batuan mulai dari
rayapan (creep) sampai longsoran (failure).

Lereng pada dasarnya memilik dua macam gaya, yaitu gaya penahan dan
gaya penggerak. Gaya penahan yaitu gaya yang menahan massa dari pergerakan
berupa gaya gesekan atau geseran, kohesi, dan kekuatan geser tanah. Gaya
penahan atau tegangan geser secara umum dapat dihitung gengan persamaan
mohr-coulomb:

(6.2)

Dimana

merupakan tegangan geser,

adalah kohesi atau gaya gesek antara dua bidang

adalah gaya normal yang berja pada bidang

adalah sudut geser dalam

Konsep dari faktor keamanan yaitu perbandingan antara gaya penahan


dan gaya penggerak yang diperhitungkan pada bidang gelincirnya. Lereng tersebut
dalam keadaan stabil (mantap) jika gaya penahannya lebih besar dari gaya
penggeraknya, tetapi bila gaya penahannya lebih kecil dari gaya penggeraknya,
maka akan menyebabkan terjadinya kelongsoran. Kestabilan suatu lereng biasanya
dinyatakan dalam bentuk faktor keamanan (FK). Lereng pada umumnya dapat
dikatakan stabil apabila faktor keamanannya lebih besar dari pada satu. Kestabilan
lereng tergantung dari kekuatan geser batuannya. Pergeseran batuannya terjadi
karena adanya gerakan relatif antara butir-butir batuan. Hal ini menyebabkan kuat
geser batuan tergantung pada gaya yang bekerja antara butir-butirnya (Das,
1993).

Gambar 6.1. Gaya-gaya yang bekerja pada suatu lereng (Muljadihardja, dkk, 2003)

6.2 Jenis-Jenis Longsoran

Jenis longsoran yang umum dijumpai pada massa batuan di tambang


terbuka (Hoek and Bray, 1981) yaitu longsoran bidang (plane failure ), longsoran
baji (wedge failure ), longsoran guling (toppling failure ), dan longsoran busur
(circular failure ).

1. Longsoran bidang

Longsoran bidang merupakan suatu longsoran batuan yang terjadi di


sepanjang bidang luncur yang dianggap rata. Bidang luncur tersebut dapat
berupa rekahan, sesar maupun bidang perlapisan batuan. Longsoran jenis ini
(Gambar 7.2) akan terjadi jika kondisi di bawah ini terpenuhi:

1. Jurus (strike) bidang luncur mendekati paralel terhadap jurus b


permukaan lereng (perbedaan maksimum 200). i
d
2. Kemiringan bidang luncur harus lebih kecil daripada kemiringan b
a
permukaan lereng. i
n
d
g
a
n
g
3. Kemiringan bidang luncur lebih besar daripada sudut geser dalam.
4. Bidang bebas terdapat pada massa batuan atau tanah yang longsor.

gambar 6.2. Longsoran bidang (Hoek and Bray, 1981).

2. Longsoran baji

Longsoran baji terjadi bila terdapat dua bidang lemah atau lebih berpotongan
sedemikian rupa sehingga membentuk baji terhadap lereng (Gambar 7.3).
Longsoran baji ini dapat dibedakan menjadi dua tipe longsoran yaitu
longsoran tunggal (single sliding ) dan longsoran ganda (double sliding ).
Luncuran pada longsoran tunggal terjadi pada salah satu bidang,
sedangkan untuk longsoran ganda luncuran terjadi pada perpotongan
kedua bidang. Longsoran baji tersebut akan terjadi bila memenuhi syarat
sebagai berikut :

a. Kemiringan lereng lebih besar daripada kemiringan garis potong


kedua bidang lemah
b. Sudut garis potong kedua bidang lemah lebih besar daripada
sudut geser dalamnya

Gambar 6.3. Longsoran baji (Hoek and Bray, 1981)


3. Longsoran Guling

Longsoran guling umumnya terjadi pada lereng yang terjal dan pada batuan
yang keras dimana struktur bidang lemahnya berbentuk kolom
(Gambar 7.4). Longsoran jenis ini terjadi apabila bidang-bidang lemah yang
ada berlawanan dengan kemiringan lereng. Longsoran ini pada blok
fleksibel, terjadi jika:

a. > 900 +  - , dimana  = kemiringan bidang lemah,  = sudut


geser dalam dan  = kemiringan lereng.
b. Perbedaan maksimal jurus (strike) dan kekar (joint) dengan jurus
lereng (slope) adalah 300

Gambar 6.4. Longsoran guling (Hoek and Bray, 1981)

4. Longsoran Busur

Longsoran busur umumnya terjadi pada material yang bersifat lepas (loose
material ) seperti material tanah. Sesuai dengan namanya, bidang
longsorannya berbentuk busur (Gambar 7.5). Batuan hancur yang
terdapat pada suatu daerah penimbunan dengan dimensi besar akan
cenderung longsor dalam bentuk busur lingkaran (Hoek and Bray, 1981).
Longsoran busur yang terjadi pada daerah timbunan biasanya faktor
struktur geologi tidak terlalu berpengaruh pada kestabilan lereng
timbunan. Kestabilan lereng timbunan pada umumnya bergantung pada
karateristik material, dimensi lereng, kondisi air tanah yang ada, dan faktor
luar yang mempengaruhi kestabilan lereng pada lereng timbunan.
Gambar 6.5. Longsoran busur (Hoek and Bray, 1981)

6.3 Kriteria Generelized Hoek-Brown (Hoek-Brown Failure Criterion)

Kriteria ini menentukan nlai kekuatan massa batuan yang ditinjau dari
kondisi serta struktur yang bekerja pada batuan. Perhtungan gaya yang bekerja
mengikuti persamaan sebagai berikut :

( ) (6.3)

Dimana mb penurunan nilai dari material konstan mi dengan persamaan:

( ) (6.4)

s dan adalah konstanta untuk massa batuan mengikuti persamaan :

( ) (6.5)

( ⁄ ⁄
) (6.6)

Penurunan kekuatan batuan yang disebakan karena struktur dan kondisi


batuan. Nilai kekuatan massa batuan ( ) didapat dengan mengatur = 0
sehingga persamaan menjadi :

( ) (6.7)

Nilai tegangan normal dan tegangangeser mengikuti persamaan yang


dipublikasikan oleh Balmer (1952):



(6.8)
√ ⁄
( )

(6.9)

Dimana :

⁄ ( ) (6.10)

6.4 Geological Strength Index (GSI)

Kekuatan massa batuan yang terkekarkan tergantung kepada sifat/kekuatan


batuan utuh dan juga kepada bebas tidaknya blok-blok batuan yang menyusun
massa batuan untuk meluncur dan berotasi di bawah kondisi tegangan yang
berbeda. Hal tersebut dikontrol oleh bentuk geometri dari blok-blok batuan
penyusun massa batuan maupun kondisi permukaan bidang pemisah antar blok-
blok batuan tersebut. Suatu blok batuan yang menyudut dengan bidang
permukaan kasar akan mempunyai kekuatan massa batuan yang lebih besar
dibandingkan dengan dengan blok batuan yang membundar dan bidang
permukaanya terlapukan. Indeks Kekuatan Geologi (GSI) diperkenalkan oleh Hoek
(2002) untuk memperkirakan berkurangnya kekuatan suatu massa batuan
yang disebabkan oleh kondisi geologi yang berbeda.

indeks kekuatan geologi (GSI) ditentukan dengan menyesuaikan deskripsi


batuan terkekarkan secara nominal. Parameter yang menjadi pertimbangan nilai
GSI adalah kondisi kekar ataui struktur yang bekerja pada massa batuan, kekasaran
permukaan bidang diskontinutas, kondisi dinding batuan, isian, jarak antar kekar
dan kondisi air.
Gambar 6.6 indeks GSI

6.5 Hubungan GSI dan RMR (Rock Mass Rating)

Rock mass rating yang juga dikenal sebagai klasifikasi geomekanik


(Geomechanic Classification) dikembangkan oleh Bieniawski (1973) dan telah
mengalami pengembangan selama bertahun tahun hingga mengalami
pengembangan dan revisi dari beberapa parameter pada 1974, 1975, 1976 dan
1989. Nilai dari RMR ini merupakan penjumlahan rating dari semua parameter,
persamaan sebagai berikut :

RMR = A1 + A2 + A3 + A4 + A5 + B (6.11)

Rentang nilai dari RMR berkisar dari 0 sampai 100. Pengembangan telah
diaplikasikan pada banyak kasus di dunia perambangan dengan parameter sebagai
berikut :
1. Uniaxial compressive strength pada batuan (A1)

Uniaxial compressive strength (UCS) adalah nilai kekuatan dari sampel


batuan utuh untuh mempresentasikan kemampuan massa batuan untuk
menahan beban. Nilai UCS didapat dari sampel batuan yang tidak
mengalami perunahan atau pengaruh struktur dan diberikan gaya satu arah.
Satuan dari UCS adalah Mpa (Mega Pascal)

Tabel 6.2 rating nilai UCS dan Point load


Point Load (MPa) UCS Value (MPa) rating Description
>10 >250 15 Exceptionally strong
4-10 100-250 12 Very strong
2-4 50-100 7 Strong
1-2 25-50 4 Average / fair
<1 (penganjuran UCS) 5-25 2 Weak
1-5 1 Very weak
<1 0 Extremely weak

2. Rock Quality Designation (RQD) (A2)

RQD merupakan pengukuran persentase dari potongan core utuh dengan


panjang yang lebih dari 10 cm dari total panjang keseluruhan dari core
(Deere et al, 1967). RQD menyajikan nilai kuantitatif dari kualitas massa
batuan. Berdasarkan hubungan antara indeks RQD dan kualitas batuan
antaralain (Deere, 1967) :
Tabel 6.3 deskripsi nilai RQD
RQD (%) Rock Quality Rating
< 25 Very poor 5

25- 50 Poor 8

50-75 Fair 13

75-90 Good 17

90-100 excellent 20
Gambar 6.7 cara perhitungan RQD (Deere et al, 1967)

Persamaan untuk mendapat nilai RQD adalah :


RQD = (6.12)

Palmstrong (2005) menyampaikan hubungan antara RQD dengan jumlah


joint, dimana kondisi untuk melakukan coring tidak memungkinkan tapi jejak
diskontinuitas tampak dipermukaan atau di adit. Nilai RQD bias dihitung dari
jumlah diskontinuitas per unit volume. Persaamaan antaralain (bebas
lemung pada diskontinuitas) :
RQD = 110 – 2,5 Jv Palmstrong,2005 (6.13)

Dimana Jv adalah jumlah dari kekar per satuan panjang untuk seluruh set
kekar .

3. Spacing of discontinuity (A3)


Jarak antara dua bidang diskontinuitas menjadi parameter massa batuan
dengan arah bidang lemah batuan tegak lurus antara bidang diskontinuitas.
Strike dari diskontnuitas umumnya dicatatdengan membandingkan dari utara
magnetic. Sudut dip adalah sudut antara horizontal dan bidang kekar
terhadap arah dari dip bidang.
Tabel 6.4 rating dari spasi kekar (Bieniawski, 1989)
Spacing of discontinuitas (length) Rating
>2m 20
0,6 – 2m 15
200 – 600 mm 10
60- 200mm 8
<60 mm 5

4. Condition of discontinuity (A4)

Parameter ini meliputi kekasaran permukaan (roughness, A4c), lebar bukaan


kekar (separation,A4b), panjang atau kesinambungan (length, A4a),
pelapukan dinding batuan (alteration/weathering, A4e), dan isian dari bidang
rekahan (gouge/infilling, A4d). nilai dari kondisi kekar merupakan jumlah
dari keseluruhan parameter kekar tersebut yang disajikan dalam tabel
dibawah ini.

Tabel 6.5 Rating panjang kekar (Bieniawski, 1989)


Joint length (A4a) rating
Crack (irregular break) < 0,3 m 8
Parting (very short, thin joint) 0,3-1m 6
Short joint 1-3m 4
Medium joint 3 – 10m 2
Long joint 10 -30 m 1
Seam or filled joint > 10m 0

Tabel 6.6 rating dari lebar bukaan kekar (Bieniawski, 1989)


Separation (A4b) Rating
Very tight None 6
A < 0,1 mm 5
Tight 0.1< 0.5 mm 4
Moderately open 0,5-1 mm
1 – 2,5 mm 1
Open 2,5 – 5mm
5- 10 mm 0
Very open 10-25 mm
Tabel 6.7 nilai kekasaran permukaan
(Bieniawski, 1989)
Roughness (A4c) Rating
Very rough 6
Rough or irregular 5
Slightly rough 3
Smooth 1
Polished 0

Tabel 6.8 rating dari isian kekar (Bieniawski, 1989)


Gouge/infilling A4d Rating
t< 5mm t>5mm
No filling 6 -
Friction material (silt, sand, etc) 5 2
Hard, cohesive material (clay, talc, chlorite) 4 2
Soft, cohesive material (soft clay 2 0
Swelling clay material 0 0

Tabel 6.9 rating dari pelapukan (Bieniawski, 1989)


Weathering/ alteration (A4e) Rating
Unweathered, fresh joint 6
Slightly weathered joint walls (coloured or stained) 3
Altered joint wall (no loose material) 0
Coating of friction material 1
Coating of cohesive material 0

5. Groundwater condition (A5)

Nilai air tanah dari terowongan harus ditentukan dalam bentuk jumlah aliran
dalam liter per menit per 10m (Bieniawski, 1989, 1993). Kondisi umum
dapat digunakan untuk deskripsi kondisi air tanah seperti sangat kering
(completely dry), lembap (damp), basah (wet), dripping
(merembes/menetes), mengalir (flowing). Data dari tekanan air
memungkinkan, bisa digunakan untuk ratio tegangan air dan tegangan
normal maksimal.
Tabel 6.10 deskripsi kondisi air tanah (Bieniawski, 1989)
Groundwater condition A5
Water inflow per 10 m
Joint water pressure / major Rating
description tunnels
principal stress
(litres/min)
Completely
0 None 15
dry
damp 0-0,1 < 10 10
wet 0,1- 0,2 10-25 7
dripping 0,2 – 0,5 25- 125 4
flowing > 0,5 >125 0

6. Orientation of discontinuity (A6 atau B)

Pengaruh dari orientasi bidang diskontinu selanjutnya diperhitungkan


berdasarkan bagian B tabel. Adjusment terhadap orientasi bidang diskontinu
ini dipisahkan dalam perhitungan nilai RMR karena pengaruh dari bidang
diskontinu tersebut tergantung pada aplikasi engineering-nya, seperti
terowongan, chamber, lereng atau fondasi (Edelbro, 2003). Arah umum dari
bidang diskontinu berupa strike dan dip, akan mempengaruhi kestabilan
lubang bukaan tersebut, apakah tegak lurus strike atau sejajar strike,
penggalian lubang bukaan tersebut, apakah searah dip atau berlawanan
dengan dip dari bidang diskontinu.

Tabel 6.11 Orientasi dari kekar


Strike perpendicular to tunnel axis Strike parallel to tunnel axis
Drive with dip - Dip 45 -
90 Drive with dip - Dip 20 - 45 Dip 45 - 90 Dip 20 – 45
Very favourable Favourable Very favourable Fair
0 -2 0 -6
Drive against dip - Dip 45- Drive against dip - Dip 20 – Dip 0 - 20 - Irrespective of
90 45 strike
Fair Unfavourable Fair
-6 -10 -6
Rentang nilai RMR adalah 10 – 100. Hoek menilai parameter RMR sesuai
dengan pertimbangan GSI dengan persamaan

RMR76 = GSI, dengan RMR>30 (6.14)

Jika analisis yang digunakan merupakan RMR 1989 maka hubungan


antaralain :

RMR89 = GSI - 5, dengan RMR>30 (6.15)

6.6 Hubungan Kriteria Generelized Hoek-Brown Dengan Kriteria Mohr-


Coulomb

Hoek memperhitungkan harga dari sudut geser dalam ( ) dan kohesi (c)
sebagai parameter kestabilan lereng. Hal ini disebabkan standar kestabilan yang
digunakan beberapa software masih mengikuti kriteria mohr-coulomb. Sehingga
nilai dari sudut geser dalam ( ) dan kohesi (c) mengikuti persamaan :
( )
* ( )( ) ( )
+ (6.16)

⌊( ) ( ) ⌋( )
(6.17)
( )( )√ ( ( ) )⁄( )( )

Dimana (6.18)

Gambar 6.8. Hubungan kriteria generalized hoek brown dan


Mohr-coulomb
6.7 Metode Limit Equilibrium

Metode kesetimbangan batas atau metode limit equilibrium merupakan


metode yang sangat populer dalam analisis kestabilan lereng. Metode ini juga
dikenal sebagai metode irisan karena bidang longsoran dari lereng tersebut dibagi
menjadi beberapa irisan. Metode ini terbukti sangat berguna dan dapat
diandalkan dalam praktek rekayasa serta membutuhkan data yang relatif sedikit
dibandingkan metode lainnya, seperti metode elemen hingga, metode beda
hingga atau metode elemen diskrit (Krahn, 2004).

Semua metode irisan menyatakan kondisi kestabilan suatu lereng,


dinyatakan dalam suatu indeks yang disebut faktor keamanan (F), yang
didefinisikan sebagai berikut:

F== (6.19)

Dimana gaya penahan dari lereng memenuhi persamaan mohr-coulomb.


Nilai dari kekuatan geser lereng mengikuti persamaan sebagai berikut :

( ) (6.20)
Parameter tegangan pori (u) mempengaruhi kekuatan geser lereng.
Tegangan porimemberikan daya angkat sehingga mengurangi kekuatan dari
lereng.besarnya kekuatan geser yang diperlukanagar lereng dalam kondisi
setimbang sebagai berikut :
( ( ) )
Sm= = (6.21)

Gambar 6.9. Model lereng dengan bidang runtuh yang berbentuk sebuah busur
lingkaran (Krahn, 2004)
Gambar 6.10. Model lereng dengan bidang runtuh yang berupa gabungan dari sebuah
busur lingkaran dengan segmen garis lurus (Krahn, 2004)

gambar 7.11. Model lereng dengan bidang runtuh yang berupa gabungan dari
beberapa segmen garis lurus atau multilinier (Krahn, 2004)

Definisi dari variabel-variabel


pada gambar:

W = Berat total irisan


N = Gaya normal total pada dasar irisan
Sm = Gaya geser pada dasar irisan yang diperlukan agar irisan
berada dalam kondisi tepat seimbang
E = Gaya antar-irisan horizontal; titik bawah L dan R
menunjukkan masing- masing untuk sebelah kiri dan kanan dari irisan
X = Gaya antar-irisan vertikal; titik bawah L dan R menunjukkan
masing-masing untuk sebelah kiri dan kanan dari irisan
kW = Gaya seismik horizontal yang bekerja pada pusat massa irisan,
dimana k adalah koefisien seismik
R = Radius lingkaran untuk bidang runtuh busur lingkaran; lengan
momen dari gaya geser Sm terdapat pusat momen untuk bidang
runtuh yang bukan busur lingkaran
f = Jarak tegak lurus dari gaya normal N terhadap pusat momen
x = Jarak horizontal dari pusat massa irisan terhadap pusat momen
e = Jarak vertikal dari pusat massa irisan terhadap pusat momen
h = Tinggi rata-rata irisan
b = Lebar irisan
β = Panjang dasar irisan [β = b sec ]
a = Jarak vertikal dari gaya hidrostatik terhadap pusat momen
A = Gaya hidrostatik pada retakan tarik
 = Sudut kemiringan dari garis singgung pada titik di tengah
dasar irisan terhadap bidang horizontal. Sudut kemiringan bernilai positif
apabila searah dengan kemiringan lereng, dan bernilai negatif apabila
berlawanan arah dengan kemiringan lereng.

VII. METODE PENELITIAN

metodologi dalam penelitian ini terdiri atas beberapa tahap yang dilakukan
berkaitan dengan penyelesaian masalah. Tahap tersebut terdiri atas pengambilan
data, deskripsi kondisi batuan, deskripsi karakteristik massa batuan , menghitung
nilai stabilisasi, analisis stabilisasi lereng menggunakan SLIDE7

7.1 Pengambilan Data

Data-data yang dibutuhkan diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan


serta data historis dari perusahaan. Data-data yang dimaksud meliputi:

1) Data geologi dan stratigrafi dalam bentuk data titik bor (coring).
2) Data petrologi, berupa jenis batuan, dan densitas.
3) Data uji laboratorium berupa Uniaxial Compressive strength (UCS) pada
sampel batuan
4) Data Rock Quality Designation (RQD).
5) Data geoteknik, utamanya geometri Lereng, kemiringan lereng
6) Data karakteristik kekar dengan metode scanline.
7) Data tekanan piezometrik. Atau tinggi airtanah

7.2 Pengolahan Data

Setelah data-data tersebut dikumpulkan, kemudian dilakukan pengolahan


dan analisis data. Tahapan pengolahan dan analisis data yang dilakukan dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1) Menentukan nilai GSI dari batuan berdasarkan parameter struktur.


2) Menganalisis parameter kohesi dan sudut geser dalam menggunakan Kriteria
Generalized Hoek-Brown.
3) Menganalisis kekuatran geser berdasarkan kriteria mohr-coulomb.
4) Menentukan stabilitas lereng dengan metode Limit Equilibrium.

Gambar 7.1 Chart Penelitian


VIII. JADWAL KEGIATAN

Waktu pelaksanaan penelitian ini dapat diatur berdasarkan jadwal


perusahaan. Namun jika diperkenankan, kami mengajukan penelitia ini dilaksanakan
pada:
a. Waktu : Juni – Agustus 2016
b. Tempat : PT. KASONGAN BUMI KENCANA (PT.KBK)

Bulan
Kegiatan Juni Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
Studi Literatur
Pengumpulan Data
1. Geometri Lereng
2. Karakteristik Kekar
3. Uji UCS
Pengolahan dan Analisis Data
Penyusunan Laporan
Seminar

IX. PENUTUP

Demikian proposal permohonan Penelitian ini saya ajukan sebagai syarat


untuk melaksanakan Penelitian. Besar harapan saya agar proposal ini mendapatkan
tanggapan positf dan dapat diterimanya permohonan ini. Atas perhatian dan
bantuan segala pihak yang ikut menyukseskan pelaksanaan Penelitian ini saya
ucapkan banyak terima kasih.

X. DAFTAR PUSTAKA

Singh,B and Goel,R.K., “Engginering Rock Mass Classification” Elseiver Inc.,


UK., 2011

Ming,C. and Kaiser,P., “Visualization Of Rock Mass Classification Systems”,


Springer, Sudbury, 2006

Goodman , R,E. “introduction to rock mechanic second edition” Wiley,


Canada., 1989

Harrison ,J.P, Hudson, J,A “Engginering Rock Mechanics Part 2” Pergamon,


UK, 2006.
Hoek, E ,et al,”Support Excavation In Hard Rock Mining” , Mining research
Directorate and Universities Research Incentive Fund, Canada, 1993

Bieniawski, Z.T., ” Engineering Rock Mass Classification”, John Wiley and


Sons., Canada, 1989

J,C, Jaeger., Cook N,G,W., R,W, Zimmerman ,”Fundamental of Rock


Mechanics Fourth Edition”. , Blackwell, USA, 2007,

Baskari, T.L., 2008, Kajian Klasifikasi Massa Batuan Terhadap Stabilitas


Lereng dan Penentuan Kekuatan Jangka Panjangnya pada Operasi
Penambangan Binungan PT. Berau Coal Kalimantan Timur, Fakultas
Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB.

Das, B.M., 1993, Mekanika Tanah “Prinsip-prinsip Rekayasa


Geoteknis” Jilid 2, Erlangga, Jakarta.
Hoek, E., and Bray.J.W., 1981, Rock Slope Engginering 3rd edition,
London: Institution of Mining and Metallurgy.

Hoek, E. and Brown, E.T., 1998, Practical Estimates of Rock Mass


Strength, International Journal of Rock Mechanic and Mining Science,
Vol.34, pp. 1165–1186.

Hoek, E., Torres C.C., and Corkum, B., 2002, Hoek-Brown Failure
Criterion, Mining innovation and Technology, pp. 267–273.

Hoek, E., Marinos, P., and Benissi, M. 1998. Applicability of the Geological
Strength Index (GSI) Classification for Very Weak and Sheared Rock
Masses, The Case of the Athens Schist Formation, Geology
Environtmental, Vol.57, pp.151-160.

Morgenstern, N.R., and Price, V.E., 1965, The Analysis of The Stability of
General Slip Surfaces, International Journal of the Geotechnical
Engineering, Vol. 15, pp. 79- 93.