Anda di halaman 1dari 45

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN

KEAKTIFAN PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN


MIND MAP DAN STAD PADA SUB MATERI KONSEP MOL

Proposal Penelitian untuk Skripsi S-1

diajukan oleh

Yesi Yuliani

13670002

kepada

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KLAIJAGA

YOGYAKARTA

Juni 2016

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan teknologi yang terus maju dan ditemukannya teori-teori baru

serta alat-alat canggih untuk mengatasi tantangan zaman, tidak lepas dari

perkembangan ilmu pengetahuan. Dan wadah berkembangnya pengetahuan adalah

dunia pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan menjadi suatu hal yang penting untuk

dikembangkan. Pendidikan pada hakikatnya harus mampu menyediakan lingkungan

yang memungkinkan setiap peserta didik untuk mengembangkan bakat, minat, dan

kemampuan secara optimal dan utuh (mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik).

Islam telah mewajibkan bagi setiap pengikutnya untuk menuntut ilmu seperti

yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW:

ٍ‫س ِل َمة‬ َ ٍ‫ب ا ْل ِع ْل ٍِم فَ ِر ْيضَة‬


ْ ‫علَى ُك ٍِل ُم‬
ْ ‫س ِلمٍ َو ُم‬ ٍُ َ‫َطل‬

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap orang muslim laki-laki

maupun muslim perempuan.” (HR. Abdul Barr)

Adapun tujuan dari pendidikan nasional adalah untuk membangun bangsa

dan negara Indonesia menjadi lebih baik sebagaimana yang tertulis dalam UU

pendidikan no.20 tahun 2003 Bab II pasal 3 yang berbunyi:

2
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuki watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta

didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha

Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan warga Negara yang

demokratis serta bertanggung jawab (SISDIKNAS, 2006).

Pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis yang dilakukan orang-

orang yang diserahi tanggungjawab untuk mempengaruhi peserta didik agar

mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan (Daryanto, 2013). Jalur

pendidikan pun dapat diperoleh melalui jalur pendidikan formal maupun jalur

pendidikan non formal. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dituntut untuk

melaksanakan proses pembelajaran yang baik dan seoptimal mungkin sehingga dapat

mencetak generasi muda bangsa yang cerdas, terampil, dan bermoral tinggi. Proses

pembelajaran membantu siswa / pelajar untuk mengembangkan potensi intelektual

yang dimilikinya, sehingga tujuan utama pembelajaran adalah usaha yang dilakukan

agar intelek setiap pelajar dapat berkembang. Dalam kata lain, pendidikan merupakan

proses pendewasaan peserta didik agar dapat mengembangkan bakat, potensi dan

keterampilan yang dimiliki dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu seharusnya

pendidikan didesain guna memberikan pemahaman serta meningkatkan prestasi

belajar peserta didik.

Pelaksanaan pembelajaran saat ini mengalami perubahan, di mana peserta

didik tidak boleh lagi dianggap sebagai obyek pembelajaran semata, tetapi harus

3
diberikan peran aktif serta dijadikan mitra dalam proses pembelajaran sehingga

peserta didik bertindak sebagai agen pembelajar yang aktif sedangkan guru bertindak

sebagai fasilitator dan mediator yang kreatif. Namun, kenyataan yang ada

menunjukkan bahwa proses pembelajaran di kelas cenderung didominasi oleh guru

sehingga peserta didik hanya bertindak sebagai agen pembelajar yang pasif. Selain itu

keberhasilan dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh dari guru, melainkan

bisa juga dari pihak lain yang terlibat dalam pembelajaran itu, yaitu teman sebaya

(Sukarta, 2010). Namun guru cenderung melupakan hakikat pendidikan yaitu

belajarnya murid bukan mengajarnya guru (Wibowo, 2008).

Metode pembelajaran yang selama ini digunakan guru adalah metode

ceramah-resitasi seringkali menyebabkan kejenuhan bagi siswa dalam mengikut

pembelajaran. Selain itu kurang optimalnya guru dalam memanfaatkan media

pembelajaran dan permainan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Ada

beberapa faktor yang menyebabkan siswa kurang mampu dalam menyelesaikan

masalah kimia diantaranya (1) Pembelajaran masih berfokus pada guru, sehingga

peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran. (2) Peserta didik kurang

dilibatkan dalam proses pembelajaran, sehingga komunikasi yang terjadi cenderung

satu arah. (3) Pembelajaran oleh guru selama ini menggunakan metode ceramah

sehingga peserta didik kurang memahami materi karena konsepnya belum jelas, yang

berdampak pada hasil belajar cenderung rendah.

Demikian halnya dengan pembelajaran kimia. Kimia merupakan pelajaran

yang dianggap sulit oleh siswa, salah satunya karena kimia memiliki karakteristik

4
yang bersifat abstrak, dan membuat peserta didik seringkali merasa kesulitan dalam

memahami konsep pelajaran kimia. Sifat konsep kimia yang abstrak terkadang

membuat sebagian dari peserta didik sulit mencerna dan mencari jawaban atas

pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan

komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika (Suyanti, 2010).

Dalam ilmu kimia terdapat banyak sekali materi yang susah dan harus

dipelajari. Bahkan banyak materi yang konsepnya belum di mengerti oleh peserta

didik. Dalam hal ini khususnya dalam materi kelas X yaitu materi stoikiometri.

Stoikiometri merupakan materi dasar dalam kimia yang harus dipahami oleh peserta

didik. Peserta didik harus mempunyai kemampuan analisis dan matematika yang baik

agar dapat menyelesaikan soal-soal perhitungan dengan benar. Dalam stoikiometri

terdapat konsep mol yang merupakan materi atau konsep dasar dalam perhitungan

kimia itu sendiri sehingga menjadi salah satu materi kimia yang esensial secara

umum. Isi materi yang terkandung didalamnya merupakan aspek kimia yang sifatnya

abstrak yang juga membutuhkan pemahaman konsep dan juga hafalan yaitu hukum-

hukum dasar kimia, menghitung volume reaksi dan hasil reaksi, menentukan rumus

empiris dan rumus molekul, serta menetukan reaksi pembatas. Materi-materi tersebut

harus bisa dijelaskan dengan baik agar peserta didik mengerti dan menguasai konsep

dasar yang akan terus dipergunakan hingga tingkat selanjutnya. Peserta didik akan

mengalami kesulitan dalam mengikuti materi selanjutnya jika materi dasarnya belum

berhasil mereka kuasai.

5
Selain itu, penyelesian soal-soal stoikiomteri juga membutuhkan

pemahaman konsep yang tepat, apa saja yang disajikan dan ditanyakan terkadang

cukup membingungkan. Hal ini menyebabkan pelajaran kimia khususnya stokiometri

dianggap sulit oleh peserta didik sehingga menjadi masalah bagi mereka. Sehingga

peserta didik kurang aktif dalam kegiatan belajar di kelas. Alternatif pemecahan

untuk mengatasi berbagai masalah dalam pembelajaran kimia khususnya sub materi

konsep mol salah satunya dengan penelitian tindakan kelas, sebagai upaya yang

ditunjukkan untuk memperbaiki proses pembelajaran atau memecahkan permasalahan

yang terjadi. Berdasarkan uraian diatas, peneliti memilih judul “Upaya Meningkatkan

Kemampuan Pemahaman Konsep dan Keaktifan Peserta Didik melalui Model

Pembelajaran Mind Map dan STAD pada sub materi Konsep Mol”. Salah satu model

pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman

konsep dan keaktifan ini adalah model pembelajaran mind map dan STAD.

Konsep mind mapping asal mulanya diperkenalkan oleh Tony Buzan tahun

1970-an. Teknik ini dikenal juga dengan nama Radiant Thinking. Sebuah mind map

memiliki sebuah ide atau kata sentral, dan ada 5 sampai 10 ide lain yang keluar dari

ide sentral tersebut. Mind Mapping sangat efektif bila digunakan untuk memunculkan

ide terpendam yang di miliki peserta didik. Mind Mapping merupakan teknik

penyusunan catatan demi membantu siswa menggunakan seluruh potensi otak agar

optimum. Caranya menggabungkan kerja otak kiri dan otak kanan (Sugiarto, 2004).

Sehingga pemahaman konsep terhadap materi lebih mudah dipahami dan dapat

6
meningkatkan daya ingat hingga 78%. Dimana hal ini mampu meningkatkan hasil

belajar peserta didik.

Model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) ini

merupakan salah satu metode dalam pembelajaran kooperatif yang untuk pertama

kalinya diperkenalkan oleh Robert-Slavin. Metode ini merupakan salah satu metode

yang paling sederhana dalam pembelajaran kooperatif dan merupakan sebuah

pendekatan yang baik untuk guru yang baru mulai menerapkan model pembelajaran

kooperatif (Slavin, 2005). Penggunaan metode ini dalam proses pembelajaran

sebenarnya sudah banyak digunakan dan dilakukan penelitian. Selain itu

pembelajaran juga berjalan lebih efektif karena siswa bertindak aktif selama kegiatan

pembelajaran. Siswa ditempakan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang

merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Dimana

pembelajaran ini menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling

membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

Sehingga seluruh peserta didik mau tidak mau harus aktif dalam pembelajaran.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang diuraikan di atas, maka dapat

diidentifikasi permasalahan yang terjadi di kelas X, antara lain:

1. Proses pembelajaran yang masih terpusat pada metode ceramah dan

kurangnya variasi dalam penyampaian materi.

7
2. Kurang aktifnya peserta didik dalam proses pembelajaran karena metode

yang terpusat pada guru.

3. Kurangnya pemahaman konsep terhadap sub materi konsep mol.

4. Kurang diterapkannya model pembelajaran mind map dalam sistem

mencatat.

5. Kurang diterapkannya model pembelajaran STAD dalam sistem

pembelajaran.

C. Batasan Masalah

Supaya penelitian lebih terfokus dan pembahasannya bisa mendalam pada

pokok permasalahan yang diteliti, maka permasalahan dibatasi pada upaya

meningkatkan kemmapuan pemahaman konsep dan keaktifan peserta didik melalui

moel pembelajaran mind map dan STAD pada sub materi konsep mol.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang diuraikan di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan yaitu:

1. Bagaimana model pembelajaran mind map dan model pembelajaran

kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dalam

meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan keaktifan peserta didik

kelas X pada sub materi konsep mol?

8
2. Baggaimana kemampuan pemahaman konsep peserta didik kelas X pada sub

materi konsep mol melalui model pembelajaran mind map dan model

pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions

(STAD)?

3. Bagaimana keaktifan peserta didik kelas X pada sub materi konsep mol

melalui model pembelajaran mind map dan model pembelajaran kooperatif

tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)?

4. Bagaimana hubungan antara kemampuan pemahaman konsep dan keaktifan

pada peserta didik kelas X melalui model pembelajaran mind map dan

model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions

(STAD)?

E. Tujuan Penelitian

Mengacu pada perumusan masalah diatas, maka diperoleh tujuan yang ingin

dicapai dalam penelitian ini, yaitu:

1. Untuk mengetahui model pembelajaran mind map dan model pembelajaran

kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dalam

meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan keaktifan peserta didik

kelas X pada sub materi konsep mol.

2. Untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep peserta didik kelas X

pada sub materi konsep mol melalui model pembelajaran mind map dan

9
model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions

(STAD).

3. Untuk mengetahui keaktifan peserta didik kelas X pada sub materi konsep

mol melalui model pembelajaran mind map dan model pembelajaran

kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD).

4. Untuk mengetahui hubungan antara kemampuan pemahaman konsep dan

keaktifan pada peserta didik kelas X melalui model pembelajaran mind map

dan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement

Divisions (STAD).

F. Manfaat Hasil Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi dunia pendidikan,

yaitu:

1. Bagi guru, diharapkan model pembelajaran mind map dan model

pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)

dapat digunakan sebagai alternatif cara pembelajaran kimia di kelas sehingga

peserta didik tidak merasa bosan.

2. Bagi peserta didik, diharapkan model pembelajaran mind map dan model

pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)

dapat membantu meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan

keaktifannya.

10
3. Bagi peneliti, diharapkan mampu menerapkan model pembelajaran mind

map dan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement

Divisions (STAD) sebagai upaya meningkatkan kemampuan pemahaman

konsep dan keaktifan peserta didik.

4. Bagi peneliti lain, diharapkan dapat menjadi motivasi dan referensi untuk

melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions

(STAD).

11
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Belajar

Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata

mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk

informasi/materi pelajaran. Di samping itu, ada pula sebagian orang yang

memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan

membaca dan menulis. Untuk menghindari ketidaklengkapan persepsi

tersebut, berikut ini akan disajikan definisi dari beberapa ahli.

Gagne menyatakan belajar adalah suatu perubahan watak atau

kemampuan (kapabilitas) manusia yang berlangsung selama suatu jangka

waktu dan bukan sekedar proses pertumbuhan (Sukarja, 2006).

Winkel menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau

psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang

menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan,

dan nilai sikap (Darsono, 2004).

Dari pengertian belajar yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan

bahwa belajar merupakan sebuah proses yang menghasilkan perubahan

tingkah laku. Beelajar pada mulanya adalah akibat dorongan rasa ingin tahu.

12
Belajar sebagai proses adalah kegiatan yang dilakukan secara sengaja

melalui penyesuaian tingkah laku dirinya guna meningkatkan kualitas

kehidupan. Sedangkan belajar sebagai hasil adalah akibat dari belajar

sebagai proses. Sehingga seseorang yang telah mengalami proses belajar

akan memperoleh hasil berupa kemampuan terhadap sesuatu yang menjadi

hasil belajar.

2. Hasil Belajar

Belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur

yang dapat dibedakan, yakni tujuan pengajaran (instruksional), pengalaman

(proses) belajar mengajar, dan hasil belajar. Hasil belajar adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaan

belajarnya. Kemmapuan-kemampuan tersebut sesuai dengan aspek-aspek

tujuan belajar yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Howard Kingsley dalam Sudjana membagi hasil belajar menjadi tiga

macam, yaitu (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan

pengertian, (c) sikap dan cita-cita (Sudjana, 2001).

Hasil belajar biasanya diketahui melalui kegiatan evaluasi yang

bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan

sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam mencapai

tujuan pembelajaran.

3. Pengertian Konsep

13
Konsep-konsep merupakan batu-batu pembangun (building blocks)

berpikir (Dahar, 1996). Konsep-konsep adalah kategori-kategori yang kita

berikan pada stimulus-stimulus yang ada di lingkungan kita. Konsep-konsep

menyediakan skema-skema terorganisasi untuk mengasimilasikan stimulus-

stimulus baru dan untuk menetukan hubungan di dalam dan di antara

kategori-kategori. Menurut Good dala Resna dalam Rustaman, konsep

adalah gambaran dari ciri-ciri sesuatu objek sehingga dapat membedakannya

dengan objek lainnya (Rustaman, 2005), sedangkan menurut Mulyati Arifin,

konsep adalah “sekelompok stimuli yang memiliki karakteristik yang

umum” (Arifin, 1995). Konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah

objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama (Djamarah, 2002).

Konsep dibedakan atas konsep konkrit dan konsep abstrak (yang harus

didefinisikan). Konsep konkrit adalah pengertian yang menunjuk pada

objek-objek dalam lingkungan fisik, sedangkan konsep abstrak (yang harus

didefinisikan) adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak

langsung menunjuk pada realitas dalam lingkungan hidup fisik, untuk

memberikan pengertian konsep secara abstrak diperlukan definisi dengan

menggunakan lambing bahasa.

4. Pemahaman Konsep

Konsep penting bagi manusia, karena digunakan untuk berkomunikasi,

berpikir ilmiah, belajar atau mengaplikasikan pada masalah yang sedang

dihadapi. Sebagian besar apa yang dipelajari di sekoallh terdiri dari konsep-

14
konsep (Arifin, 1995). Pemahaman konsep sangatlah diperlukan, agar siswa

dapat menyelesaikan masalah, seorang siswa harus mengetahui aturan-aturan

yang relevan, dan aturan-aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang

diperolehnya. Untuk mempelajari suatu konsep dengan baik perlu

memahami ciri-ciri suatu konsep, sehingga dengan konsep itu siswa dapat

berpikir secara abstrak.

Adapun ciri-ciri suattu konsep adalah sebagai berikut:

a. Konsep merupakan buah pikiran yang dimiliki seseorang atau

kelompok orang-orang. Dalam hal ini konsep semacam simbol.

b. Konsep itu timbul sebagai hasil dari pengalaman manusia dengan

lebih dari satu benda, peristiwa atau fakta. Dalam hal ini konsep

adalah generalisasi.

c. Konsep adalah hasil berpikir abstrak manusia yang menuangkan

banyak pengalaman.

d. Konsep menyangkut fakta-fakta atau pemberian pola pada fakta-

fakta.

e. Konsep berguna membuat ramalan dan tafsiran.

Taksonomi tujuan pengajaran dalam kawasan kognitif menurut Bloom

terdiri atas enam tingkatan yang susunannya sebagai berikut:

a. Pengetahuan

Mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari

dan tersimpan dalam ingatan.

15
b. Pemahaman

Mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal

yang dipelajari.

c. Penerapan/Aplikasi

Mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk

menghadapi masalah yang nyata dan baru.

d. Analisis

Mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-

bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.

e. Sintesis

Mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.

f. Evaluasi

Mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal

berdasarkan kriteria tertentu.

Pemahaman merupakan urutan yang kedua dari taksonomi Bloom

yang merupakan suatu kemampuan menangkap makna atau arti sesuatu hal

yang dipelajari. Pada tingkatan ini, proses pembelajaran diarahkan untuk

melatih dan membentuk proses berpikir siswa tentang pengertian atau

konsep (Harsanto, 2007).

Pemahaman pada suatu konsep akan menambah daya abstrak yang

diperlukan dalam komunikasi. Pemahaman pada suatu konsep sering

digunakan untuk menjelasakan karakteristik konsep lain. Sehingga semakin

16
banyak konsep yang dimiliki seseorang akan memberikan kesempatan

kepadanya untuk memahami konsep lain yang lebih luas yang akan menjadi

modal untuk memecahkan masalah di sekitarnya. Semakin banyak konsep

yang dimiliki seseorang semakin banyak alternatif yang dapat dipilihnya

dalam menghadapi masalah yang dihadapinya (Arifin, 1995).

5. Keaktifan Siswa

a. Pengertian Keaktifan

Menurut Anton M. Mulyono, aktivitas artinya “kegiatan/keaktifan”. Jadi

segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik

fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas.

b. Pengertian Siswa

Siswa merupakan salah satu komponen pembelajaran yang sangat

penting. Dalam proses pembelajaran siswa adalah peserta didik yang

akan mendapatkan pembelajaran yang direncanakan oleh guru.

c. Pengertian Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran

Mengajar adala proses membelajarakan siswa dalam kegiatan belajar

siswa sehingga ada keinginan belajarnya, dengan demikian aktivitas

siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga

siswalah yang seharusnya banyak aktif, sebab siswa sebagai subjek

didik adalah merencanakan dan siswa sendiri yang melaksanakan

belajar.

d. Indikator Keaktifan Siswa

17
Menurut Nana Sudjana (1991) keaktifan para siswa dala kegiatan belajar

dapat dilihat dalam hal:

1) Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.

2) Terlibat dalam pemecahan permasalahan.

3) Bertanya keppada siswa lain atau kepada guru apabila tidak

memahami persoalan yang dihadapinya.

4) Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk

memecahkan masalah.

5) Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.

6) Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.

7) Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa saja yang telah

diperolehnya dalam menyelesaikan tugas.

8) Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah sejenis.

e. Hal-Hal yang Mempengaruhi Keaktifan Siswa

Faktor yang mempengaruhi keaktifan siswa, sebagaimana diketahui

bahwa tingkah laku sebagai hasil belajar dipengaruhi banyak faktor,

naik bagi diri individu (internal) maupun faktor dari luar individu

(eksternal).

6. Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara

berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil

yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi

18
oleh guru (Slavin, 2005). Pembelajaran kooperatif merupakan strategi

belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat

kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap

siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu

untuk memahami materi pelajaran. Pada pembelajaran kooperatif, belajar

dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum

menguasai bahan pelajaran.

Pada dasarnya, proses pembelajaran yang terjadi melibatkan siswa dari

latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari warna kulit, agama bahkan dari

tingkat kemampuan berpikir dan gaya belajar mereka. Untuk itu seorang

guru harus pandai melihat perbedaan-perbedaan karakteristik di setiap

melakukan proses belajar-mengajar. (Iskandar, 2009) mengemukakan bahwa

“pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi

yang saling asuh antar siswa untuk menghindari ketersinggungan dan

kesalahpahaman” Model pembelajaran kooperatif sangat membantu tugas

dari seorang guru dalam menyapaikan materi yang akan dibawakan karena

pembelajaran kooperatif mengharuskan interaksi antar teman sejawatnya

untuk melakukan atau menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Secara

historis pembelajaran kooperatif bermula dari paham konstruktivisme,

dimana siswa saling membantu dari awal untuk menemukan hingga

memahami setiap materi-materi.

19
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran

kooperatif merupakan metode pembelajaran yang memadukan tingkat

kemampuan siswa dalam kelompok belajar untuk menghubungkan dunia

nyata kedalam pembelajaran sehingga siswa dapat membuat hubungan

antara pengetahuan yang mereka miliki dengan penerapannya dalam

kehidupan sehari-hari. Dengan pembelajaran ini diharapkan dapat

meningkatkan proses dan hasil pembelajaran kimia.

7. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Metode Student Teams Achivement Division (STAD) ini merupakan

salah satu metode dalam pembelajaran kooperatif yang untuk pertama

kalinya diperkenalkan oleh Robert-Slavin. Metode ini merupakan salah satu

metode yang paling sederhana dalam pembelajaran kooperatif dan

merupakan sebuah pendekatan yang baik untuk guru yang baru mulai

menerapkan model pembelajaran kooperatif (Slavin, 2005).

Metode pembelajaran ini lebih menekankan berbagai cirri

pembelajaran langsung, dan merupakan metode yang mudah untuk

diterapkan dalam pembelajaran sains. Seperti dalam kebanyakan metode

pembelajaran kooperatif, metode STAD didasarkan prinsip bahwa siswa

bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggungjawab terhadap belajar

teman dan dirinya sendiri. Penjabara STAD terdiri dari lima komponen

utama yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individu, rekognisi

tim:

20
a. Presentasi Kelas

Bedanya presentasi kelas dengan pengajaran biasa adalah bahwa

presentasi di kelas haruslah benar-benar berfokus pada unit STAD.

Dengan cara ini, para siswa akan menyadari bbahwa mereka harus

benar-benar memperhatikan penuh saat presentasi kelas karena

dengan demikian akan membantu mereka dalam mengerjakan kuis-

kuis dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.

b. Tim

Tim adalah fitur yang paling penting dalam STAD. Pada tiap

poinnya, yang ditekankan adalah membuat anggota tim melakukan

yang tyerbaik untuk tim dan tim pun harus melakukan yang terbaik

untuk membantu tiap anggotanya.

c. Kuis

Setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan

presentasi keals dan sekitar satu atau dua periode praktik tim, para

siswa akan mengerjakan kuis individual untuk mengukur seberapa

besar peningkatan yang terjadi setelah melakukan praktik tim.

d. Skor Kemajuan Individu

Gagasan dibalik skor kemajuan individu adalah untuk memberikan

kepada tiap siswa tujuan kinerja yang akan dicapai apabila mereka

bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih daripada

sebelumnya.

21
e. Rekognisi Tim

Tim akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan yang lain

apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tetentu (Slavin,

2005).

8. Metode Pembelajaran Mind Mapping

a. Sejarah Mind Mapping

Tony Buzan penemu metode ini mengemukakan bahwa Mind

Map adalah sebuah “peta pikiran” yang menggunakan unsur-unsur

utama dari memori, asosiasi, lokasi, keistimewaan, dan yang

mengarahkan semua keterampilan otak kiri dan otak kanan. Mind Map

juga membuat dan mendorong percepatan aliran berbagai pikiran

kreatif dan inovatif berdasarkan sifat multi-ordinasi yang dimiliki oleh

kenyataan sehingga membiarkan otak anak dibiarkan untuk

menyatakan eksppresi dan ekspansi individualnya sendiri yang tak

terbatas dengan cara sederhana naun penuh rahasia untuknya.

Mind Map berperan pada otak anak untuk melihat gambaran-

gambaran yang telah mereka kenal (sebuah gambar bernilai ribuan

kata) serta asosiasi dan berbagai hubungan yang mereka buat tanpa

dibatasi oleh aturan tata bahasa dan sematik. Mind Map seketika

memberikan gambaran menyeluruh kepada anak, sekaligus

memberikan kesempatan baginya untuk menghimpun hal-hal yang

terkait lebih erat satu sama lain (Buzan, 2007).

22
Wycoff (2003) menambahkan bahwa teknik pemetaan pikiran

(Mind Mapping), salah satu keterampilan yang paling efektif dalam

proses belajar berpikir kreatif. Pemetaan pikiran mirip dengan

outlining, tetapi lebih menarik secara visual dan melibatkan kedua

belahan otak. Dalam pemetaan berpikir, tidak ada aturan seperti pada

outlining yang harus mengikuti format yang kaku dengan huruf besar,

angka, penomoran Romawi, dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh

pemetaan pikiran yang tidak bersifat membatasi, dan membiarkan

informasi mengalir lebih leluasa di dalam pikiran. Informasi juga

mengatur dirinya sendiri dalam kelompok-kelompok sendiri saat

mengalir dari pikiran ke lembaran kertas. Dalam pemetaan pikiran,

gagasan dan pemikiran dapat mengalir bebas.

Sewaktu mengembangkan dan meneliti teknik ini, Buzan

menyadari bahwa ada beberapa keuntungan tertentu yang diperoleh

dari tiap unsur pemetaan pikiran. Unsur-unsur itu adalah:

1) Fokus pusat yang berisi citra atau lambing gambar masalah

atau informasi yang dipetakan, diletakkan ditengah

halaman.

2) Gagasan dibiarkan mengalir bebas tanpa penilaian.

3) Kata-kata kunci diigunakan untuk menyatakan gagasan.

4) Hanya suku kata kunci ditulis perbaris.

23
5) Gagasan kata kunci dihubungkan ke fokus pusat dengan

garis.

6) Warna digunakan untuk menerangi dan menekankan

pentingnya sebuah gagasan.

7) Gambar dan lambing digunakan untuk menyoroti gagasan

dan merangsang pikiran agar membentuk kaitan yang lain.

Salah satu contoh Mind Map

Sumber: www.google.com

24
b. Mind Mapping dalam Pembelajaran

Cara meringkas materi pelajaran yang kemudian dituangkan

dalam Mind Mapping mempunyai beberapa langkah-langkah, antara

lain:

1) Membaca terlebih dahulu seluruh isi materi dan memehami

secara utuh.

2) Memilih kata-kata kunci/ istilah penting/ kalimat utama.

3) Setelah seluruh kata kunci selesai ditemukan, kemudian

atur kata kunci tersebut sehingga struktur yang paling

mudah dipahami dan dimengerti.

Sedangkan secara garis besar, langkah yang digunakan dalam

membuat Mind Mapping menurut Buzan (2007) adalah:

1) Sediakan kertas putih pada posisi landscape, letakkan

pokok masalah ditengah kertas. Hal ini memberi kebebasan

otak untuk mengungkapkan pikiran dengan lebih bebas ke

segala arah.

2) Gunakan gambar, simbol atau foto untuki menggambarkan

permasalahn pokok.

3) Gunakan warna, agar lebih menarik sekaligus dapat

mengembangkan kreativitas. Warna membuat mind

25
mapping lebih hidup serta mengembangkan pemikiran

yang kreatif.

4) Hubungkan cabang-cabang utama dengan sub pokok

masalah. Cabang-cabang tersebut dihubungkan sesuai

tingkatannya agar lebih mudah dimengerti dan diingat.

5) Buat garis lengkung seperti cabang pohon. Garis lengkung

yang teratur lebih menarik daripada garis lurus yang

mudah membuat otak bosan.

6) Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis sub pokok

bahasan.

7) Gunakan gambar atau simbol untuk memberi deskripsi

pada sub pokok bahasan. Gambar digunakan untuk

mewakili kata-kata.

9. Deskripsi Teori tentang Stoikiometri dan Konsep Mol

Istilah stoikiometri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kaat

“stoicheion” yang berarti unsur dan “metron” yang berarti mengukur. Dasar

dari semua hitungan stoikiometri adalah pengetahuantentang massa atom

dan massa molekul. Pengetahuan stoikiometri sangat penting dalam

merencanakan suatu eksperimen maupun dalam industry, dimana kita dapat

mencampurkan zat perekasi dalam jumlah yang sesuai serta dapat

memperkirakan jumlah produknya. Pembahasan stoikiomteri meliputi;

26
penentuan rumus kimia, penetapan massa atom dan massa molekul relatif,

konsep mol, dan hubungan kuantitatif antar zat dalam reaksi.

1 Hukum-hukum Dasar Kimia

a. Hukum Kekekalan Massa (Lavoisier)

“Massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap”

Contoh: 2H2 + O2 → 2H2O

4g 32 g 36 g

b. Hukum Perbandingan Tetap (Joseph Louis Proust)

“Perbandingan massa unsur-unsur dalam senyawa adalah tetap”

Contoh:

Pada senyawa NH3

Perbandingan massa N : H = 1 x Ar N : 3 x Ar H

= 14 : 3

c. Hukum Perbandingan Berganda (Dalton)

“Jika dua unsur membentuk lebih dari satu senyawa dan massa

dari salah satu unsur dalam setiap senyawa jumlahnya tetap

maka perbandingan massa unsur lainnya dalam senyawa tersebut

merupakan perbandingan bilangan bulat dan sederhana”.

d. Hukum Perbandingan Volume (Gay-Lussac)

27
“Volume gas-gas yang bereaksi dan volume gas-gas hasil reaksi

jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama, merupakan

perbandingan bilangan bulat dan sederhana”.

Atau bisa diartikan:

“Perbandingan volume gas-gas dala reaksi sama dengan

perbandingan koefisiennya”.

e. Hipotesis Avogadro

“Pada volume yang sama, gas-gas yang sama berbeda (pada suhu

dan tekanan sama) mengandung partikel yang jumlahnya sama”.

Dapat dinyatakan dengan rumus:


𝑉1 𝑉2
= 𝑛2
𝑛1

Dengan: V = volume

N = mol

2 Mol (n)

Gambar konsep mol:

Jumlah partikel = mol x 6,02.1023

28
Volume = mol x 22,4L

Massa = mol x Mr

Mol = jumlah partikel : 6,02.1023

= volume : 22,4L

= massa : Mr

3 Massa Molekul Relatif dan Massa Molar

a. Massa Molekul Relatif (Mr)

Massa molekul relatif adalah massa 1 molekul suatu zat

dibandingkan dengan massa 1 atom C-12

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1 𝑚𝑜𝑙𝑒𝑘𝑢𝑙
Mr X = 1
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑡𝑜𝑚 𝐶−12
2

Mr suatu molekul dapat dicari jika Ar masing-masing atom

penyusun suatu molekul diketahui.

Contoh:

Jika diketahui Ar C = 12, N = 14, O = 16, H = 1 maka Mr dari urea

adalah:

CO(NH2)2 = (1 x Ar C) + (1 x Ar O) + (2 x Ar N) + (4 x Ar H)

= (1 x 12) + (4 x 16) + (2 x 14) + ( 4 x 1)

= 12 + 16 + 28 + 4

= 60

b. Massa molar

29
Massa molar adalah massa atom per mol atau massa molekul per

mol. Jadi, massa molar dapat dinyatakan dengan Ar atau Mr dengan

satuan gram/mol.

Contoh:

Jika Ar O = 16 maka massa molar O2 = 16 gram/mol

Jika Mr urea = 60 maka massa molar urea = 60 gram/mol

5 Hubungan Jumlah Mol Zat dengan Volume Gas

Hubungan jumlah mol zat dengan volume gas pada suhu tertentu

Hubungan volume gas dengan mol pada suhu dan tekanan tertentu

dapat dinyatakan dengan rumus:

PV = nRT

Dengan:

P : Tekanan (atm)

V : Volume (L)

R : Tetapan gas universal (0,082 L atm/mol K)

T : Suhu (Kelvin)

n : Jumlah mol gas

6 Massa Unsur dalam Senyawa

Massa unsur dalam suatu senyawa dapat diketahui dari perbandingan

jumlah massa atom relatif dengan massa molekul relatif.

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐴𝑟 𝑢𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑋
Massa unsur X = x Massa senyawa
𝑀𝑟

30
7 Kadar Unsur dalam Senyawa

Kadar unsur dalam suatu senyawa dinyatakan dalam persen (%) dan

dapat diketahui dari perbandingan jumlah massa atom relatif dengan

massa molekul relatif.

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐴𝑟 𝑢𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑋
Kadar unsur X = x 100%
𝑀𝑟

8 Penentuan Rumus Kimia

a. Rumus Empiris (RE): perbandingan paling sederhana dari atom-

atom penyusun suatu senyawa. Perhitungan RE selalu

menggunakan konsep perbandingan mol unsur.

b. Rumus Molekul (RM)

RM = (RE) n

Dengan :

n adalah jumlah kelipatan dari RE

9 Kadar Senyawa

Rumus % kadar suatu unsur adalah:


𝑋 𝑥 𝐴𝑟
% Kadar unsur = x % senyawa atau % kadar unsur
𝑀𝑟

𝑋 𝑥 𝐴𝑟
= x % senyawa (dari Hukum Proust)
𝑀𝑟

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑢𝑟𝑛𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎


% Kadar senyawa = x 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑢𝑟𝑛𝑖

Dengan: massa tidak murni bisa berupa massa cuplikan atau batuan

atau sampel.

10 Penentuan air Kristal

31
Persamaan reaksi pemanasannya merupakan pemecahan dari senyawa

dan anhidratnya. Contoh:

CaCO3.XH2O → CaCO3 + xH2O

Adapun langkah perhitungan untuk mencari nilai x (jumlah anhidrat

atau koefisien anhidrat) sebagai berikut.

Mencari massa CaCO3 dan H2O dengan menggunakan Hukum

Lavoisier.

Menghitung perbandingan mol antara CaCO3 dan H2O.

Gunakan perbandingan mol tersebut sebagai nilai koefisien CaCO3 dan

H2O sehingga x = nilai perbandingan untuk mol H2O.

11 Pereaksi Pembatas

Pada setiap reaksi, tidak selalu massa zat-zat yang bereaksi (zat

reaktan) habis bereaksi seluruhnya membentuk hasil/produk reaksi.

Kadang-kadang salah satu dari zat reaktan memiliki massa yang

bersisa karena tidak habis bereaksi. Hal ini disebabkan untuk

terjadinya reaksi secara sempurna, perbandingan massa zat-zat reaktan

tersebut harus tepat sesuai dengan perbandingan koefisien dalam

persamaan reaksinya. Zat reaktan yang sudah habis sebelum zat

reaktan lainnya habis bereaksi disebut zat reaktan pembatas atau

pereaksi pembatas, karena membatasi keberlangsungan reaksi.

Contoh:

32
Dalam wadah tertutup, 20 gram metana (Mr = 16) dibakar dengan 64

gram oksigen berdasarkan reaksi berikut:

CH4(g) + 2 O2(g) → CO2(g) + 2H2O(g)

Tentukan pereaksi pembatas dalam reaksi tersebut!

Jawab:
20 𝑔𝑟𝑎𝑚
Mol metana = 16 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑜𝑙 = 1,25 mol

64 𝑔𝑟𝑎𝑚
Mol oksigen = 32 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑜𝑙= 2 mol

Perbandingan metana : oksigen yang bereaksi adalah 1:2 atau 1mol:

2mol (perhatikan perbandingan angka koefisien dalam persamaan

reaksinya). Jadi metana pada reaksi ini akan lebih. Oksigen akan habis

dalam reaksi ini, sehingga oksigen disebut sebagai pereaksi pembatas

(Sutresna, 2007).

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Ada beberapa penelitian relevan yang dijadikan acuan dalam penelitian ini.

Pertama, Penelitian yang dilakukan oleh Setyaningsih (2010) dengan judul:

“Penerapan Mind Mapping untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada

Pembelajjaran IPS Kelas IV SDN Binangun’03” Kabupaten Malang. Subyek

penelitian Endang adalah 21 siswa kelas IV SDN Biangun’03. Instrument yang

digunakan meliputi observasi kegiatan siswa, penilaian Mind Map kualitatif dan

kuantitaif, tes hasil belajar, dan observasi kemmapuan mengajar guru. Teknik analisis

33
datra yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Penelitian dilaksanakan dengan

dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

Kedua, Oktova (2010) dengan judul: “Penerapan Pembelajaran Kooperatif

STAD dalam upaya meningkatkan hasil belajar fisika pada konsep geometris kelas X

SMA”. Hasil yang diperoleh bahwa Pembelajaran Kooperatif STAD dapat

meningkatkan hasil belajar fisika.

C. Kerangka Berpikir

Dalam suatu pembelajaran, pemahaman akan konsep materi dan keaktifan

sangatlah diperlukan karena sebagai acuan bahwa tujuan pembelajaran dikatakan

tercapai. Pada umunya siswa mengalami kesulitan belajar kimia disebabkan oleh

adanya pengaruh kurangnya kemampuan pemahamna konsep. Keaktifan juga menjadi

salah satu kesulitan siswa, karena saat siswa tersebut tidak paham akan konsep maka

akan timbbul rasa minder dari dalam diri siswa yang menyebabkan siswa tersebut

bersikap pasif.

Permasalahan-permasalahan tersebut harus segera diatasi keran akan

berpengaruh pada hasil belajar siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan

model pembelajaran mind mapping diduga dapat meningkatkan kemampuan

pemahaan konsep dan keaktifan peserta didik pada sub materi konsep mol.

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat diambil hipotesis, yaitu:

34
1. Model pembelajaran mind map dan model pembelajaran kooperatif tipe

Student Teams Achievement Divisions (STAD) dalam meningkatkan

kemampuan pemahaman konsep dan keaktifan peserta didik kelas X pada

sub materi konsep mol.

2. Kemampuan pemahaman konsep peserta didik kelas X pada sub materi

konsep mol melalui model pembelajaran mind map dan model

pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions

(STAD) meningkat.

3. Kekatifan peserta didik kelas X pada sub materi konsep mol melalui

model pembelajaran mind map dan model pembelajaran kooperatif tipe

Student Teams Achievement Divisions (STAD) meningkat.

4. Hubungan antara kemampuan pemahaman konsep dan keaktifan pada

peserta didik kelas X melalui model pembelajaran mind map dan model

pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions

(STAD) sangat berpengaruh.

E. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan yang didapatkan dari penelitain adalah, apabila:

1. Kemampuan pemahaman konsep peserta didik kelas X meningkat

melalui model pembelajaran mind map dan model pembelajaran

kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD).

35
2. Keaktifan peserta didik kelas X meningkat melalui model

pembelajaran mind map dan model pembelajaran kooperatif tipe

Student Teams Achievement Divisions (STAD).

36
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan jensi penelitian tindakan kelas (Action Research

Classroom) model Kurt Lewin (Afandi, 2011) yang terdiri dari empat komponen

yaitu Perencanaan (planning), Tindakan (acting), Pengamatan (observing) dan

Refleksi (reflecting) dari keempat komponen di atas dapat digambar dibawah ini:

37
Gambar: Model PTK Kurt Lewin (Affandi, 2011)

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada:

Tanggal: awal bulan Januari sampai awal Februari 2017

Tempat: MAN 2 Yogyakarta

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X yang berjumlah 30 peserta

didik.

38
D. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini dilakukan denga tiga tahapan:

1. Penelitian Pendahuluan

Penelitian pendahuluan dalam penelitian ini yang dimaksud adalah berupa

informasi awal yang di dapatkan untuk menguatkan asumsi-asumsi seperti

kurangnya kemampuan pemahaman konsep dan keaktifan peserta didik kelas X

dalam mengikuti kegiatan pembelajaran terutama pada mata pelajaran kimia

khususnya sub materi konsep mol. Hal ini dikarenakan pembelajaran bersifat

monoton seperti pendidik masih mendominasi pembelajaran dan siswa bersifat

pasif. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan guna meningkatkan kemapuan

pemahaman konsep dan keaktifan terhadap sub materi konsep mol.

2. Siklus I

Dalam pelaksanaan tiap siklus terdapat empat tahapan yaitu:

a. Perencanaan (planning)

b. Tindakan (acting)

c. Pengamatan (observing)

d. Refleksi (reflecting)

3. Siklus II

Dalam pelaksanaan tiap siklus terdapat empat tahapan yaitu:

a. Perencanaan (planning)

b. Tindakan (acting)

39
c. Pengamatan (observing)

d. Refleksi (reflecting)

E. Jenis Data

Jenis data pada penelitian ini tergambar pada tabel:

No Jenis Data Teknik Instrumen

1 Hasil belajar Tes tertulis Lembar evaluasi peserta didik

2 Aktivitas pendidik Observasi Lembar observasi pembelajaran

F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan empat teknik serta

instrumennya, yaitu:

1. Teknik survei

Dalam penelitian ini teknik survei yang dimaksudkan adalah meliputi

pencarian informasi dari sekolah dan para pendidik yang ada di MAN 2

Yogyakarta. Khususnya peserta didik yang akan menjadi objek penelitian

sehingga harus terlebih harus mengerti tentang permasalahan apa yang ada dan

hasil belajar yang telah dilakukan sebelumnya serta meninjau lokasi dan subjek

yang digunakan dalam penelitian.

2. Teknik observasi

40
Teknik observasi yaitu digunakan untuk mengamati berbagai masalah

yang yang ada dalam kegiatan pembelajaran yaitu mengidentifikasi masalah dari

berbagai sumber dari pendidik kelas maupun dari data yang telah ada

berdasarkan nilai ulangan harian. Hal tersebut dijadikan sebagai bahan acuan

dalam identifikasi masalah penelitian ini sehingga penelitian bisa sesuai dengan

target yang akan dikaji. Dalam kegiatan pembelajaran juga dilakukan observasi

yang dilakukan oleh observer dengan menggunakan instrumen lembar observasi

pembelajaran.

3. Teknik dokumentasi

Maksud dari teknik dokumentasi dalam penelitian ini berupa dokumen

yang terdiri dari data-data yang relevan dari pihak sekolah sebagai objek, seperti

profil sekolah, visi misi sekolah dan data-data lain yang dibutuhkan dalam

penelitian ini guna memperkuat argumentasi penelitian, serta dokumentasi yang

bersifat bukti nyata secara fisik seperti foto kegiatan belajar yang telah dilakukan

sebagai bukti otentik penelitian.

4. Teknik tes

Teknik penelitian ini digunakan untuk mendapatkan hasil belajar peserta

didik kelas X pada sub materi konsep mol dengan melakukan latihan soal guna

mendapatkan data yang diperlukan untuk memperkuat argumentasi penelitian

yaitu berupa nilai sebagai hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai

tolak ukur keberhasilan penelitian. Instrumen teknik ini menggunakan lembar

41
evaluasi hasil belajar peserta didik dengan indikator soal sebanyak 15 dengan

rincian soal 10 pilihan ganda dan 5 isian.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan langkah dalam penelitian ini untuk

mengorganisasikan dan melakukan analisis data untuk mencapai tujuan peneliti yang

telah ditetapkan (Asmani, 2011).

1. Teknik analisis data

Penggunaan teknik analisis data pada penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui tingkat kemampuan pemahaman konsep yang diketahui dari hasil

belajar dan kekatifan dari suatu model pembelajaran yang digunakan dalam

kegiatan pembelajaran perlu dilakukan analisis data yaitu dengan cara

menganalisis hasil evaluasi belajar peserta didik yang berupa latihan soal untuk

didapatkan nilai rata-rata kelas.

Analisis data merupakan proses untuk mengambil sebuah keputusan

sesudah pembelajaran berlangsung. Keputusan yang diambil berdasarkan

pertimbangan yang berasal dari berbagai sumber. Sumber pertimbangan tersebut

adalah data yang dikumpulkan melalui observasi dan lembar evaluasi hasil belajar

peserta didik. Agar data data tersebut bermakna sebagai dasar untuk mengambil

keputusan, data tersebut harus dianalisis terlebih dahulu untuk didapatkan hasil

yang sebenar-benarnya (Wardhani dan Wihardit, 2012: 2.30).

42
2. Penilaian untuk ketuntasan belajar

Adapun kategori ketuntasan belajar, yaitu secara perorangan dan secara

kolektif. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar, peneliti

menganggap bahwa penerapan pembelajaran sub materi konsep mol dengan

pertanyaan terstruktur bisa dikatakan berhasil dalam meningkatkan kemampuan

pemahaman konsep dan kekatifan yang dibuktikan dengan prestasi hasil belajar

peserta didik jika peserta didik mampu mengerjakan soal dalam kegiatan evaluasi

belajar dan dapat memenuhi KKM 65 yaitu minimal 85% dari jumlah keseluruhan

peserta didik.

Analisis ini dilakukan pada saat tahapan refleksi, dimana hasil analisis ini

digunakan sebagai bahan refleksi untuk melakukan perencanaan lanjutan dalam

siklus selanjutnya. Hasil analisis ini juga dijadikan sebagai bahan refleksi dalam

memperbaiki rancangan pembelajaran atau bahkan mungkin sebagai bahan

pertimbangan dalam penentuan model pembelajaran dan media pembelajaran yang

tepat. Berikut ini adalah tabel tingkat kriteria keberhasilan belajar peserta didik

dalam % sesuai dengan tabel.

Tabel: Tingkat kriteria keberhasilan belajar peserta didik dalam %

43
Tingkat Keberhasilan (%) Keterangan

>80% sangat tinggi

60-79% tinggi

40-59% sedang

20-39% rendah

<20% sangat rendah

44
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M. dkk. 2000. Strategi Belajar Mengajar Kimia. Bandung: Jurusan

Pendidikan Kiia FPMIPA UPI.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:

PT. Rineka Cipta.

Bahri, S. 2003. Penerapan Pembelajaran Kooperatif. Bandung: UPI Press.

Dahar, R. W. 2989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus

dan Penilaian. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Mulyasa, E.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan

Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.

Remaja Rosda Karya.

Sugiyono. 2001. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

45