Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

“SEORANG LAKI-LAKI DENGAN HYDRONEFROSIS DAN


NEFROLITIASIS DEKSTRA”

Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu
Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Radiologi
di RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO KOTA SEMARANG
HALAMAN JUDUL

Disusun oleh :
Laode Muhammad Sukarno Kamaluddin (3010130693)

Pembimbing :
dr. Lia Sasdesi Mangiri, Sp. Rad (K)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO KOTA SEMARANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
PERIODE 04 Juni 2018 – 30 Juni 2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Laode Muhammad Sukarno Kamaluddin


NIM : 30101306973
Fakultas : Kedokteran Umum
Universitas : Universitas Islam Sultan Agung
Bagian : Ilmu Radiologi
Judul Laporan Kasus : Seorang laki-laki dengan hydronefrosis dan
nefrolitiasis dektra
Diajukan : 22 juni 2018
Pembimbing : dr. Lia Sasdesi Mangiri, Sp. Rad (K)

Telah diperiksa dan disahkan tanggal: ...........................................

Mengetahui,

Pembimbing Ketua SMF

dr. Lia Sasdesi Mangiri, Sp. Rad (K) dr. Luh Putu Endyah Santi M., Sp. Rad

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah
diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul
“Seorang laki-laki dengan perdarahan intraserebral, perdarahan intraventrikuler
dan infark serebral” guna memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh
kepaniteraan klinik bagian Ilmu Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam
Sultan Agung Semarang di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Kota Semarang
periode 04 Juni 2018 – 30 Juni 2018
Penulis sangat bersyukur atas keberhasilan penyusunan laporan kasus ini.
Hal ini tidak terlepas dari dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Lia Sasdesi Mangiri, Sp.Rad (K)
2. dr. Oktina Rachmi Dachlia, Sp.Rad
3. dr. Luh Putu Endyah Santi Maryani, Sp. Rad
4. Seluruh staf instalasi radiologi RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Kota
Semarang
5. Rekan-rekan anggota kepaniteraan klinik ilmu Radiologi.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran bersifat membangun dari berbagai pihak sangat penulis
harapkan. Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala
kebaikan segala pihak yang telah membantu. Semoga laporan kasus ini dapat
bermanfaat bagi penulis sendiri maupun pembaca.

Semarang, 22 Juni 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
BAB II TINAJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 3
2.1. Anatomi Ginjal ..................................................................................... 3
2.2. Fisiologi ................................................................................................ 7
2.3. Hydronefrosis...................................................................................... 10
2.4. Nefrolithiasis ....................................................................................... 16
BAB III LAPORAN KASUS................................................................................ 27
3.1. Identitas Penderita ....................................................................... 27
3.2. Anamnesis ................................................................................... 27
3.3. Pemeriksaan Fisik........................................................................ 28
3.4. Pemeriksaan Penunjang ............................................................... 31
3.5. Diagnosis ..................................................................................... 34
3.6. Rencana Monitoring .................................................................... 34
3.7. Edukasi ........................................................................................ 34
3.8. Prognosis ..................................................................................... 34
BAB IV PEMBAHASAN ..................................................................................... 35

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Ginjal adalah organ vital yang mempunyai peran penting dalam

mempertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur

keseimbangan cairan tubuh, elektrolit, dan asam-asam dengan cara filtrasi darah,

reabsorbsi selektif air, elektrolit, dan non elektrolit, serta mengekskresi

kelebihannya sebagai urin. Fungsi ekskresi ginjal seringkali terganggu diantaranya

oleh batu saluran kemih yang berdasarkan tempat terbentuknya terdiri dari

nefrolitiasis, ureterolitiasis, vesicolitiasis, batu prostat, dan batu uretra. Batu saluran

kemih terutama dapat merugikan karena obstruksi saluran kemih dan infeksi yang

ditimbulkannya (de jong, 2004).

Obstruksi dapat menyebabkan dilatasi pelvis renalis maupun kaliks yang

dikenal sebagai hidronefrosis. Batu dapat menyebabkan kerusakan atau gangguan

fungsi ginjal karena menyumbat aliran urine. Jika penyumbatan ini berlangsung

lama, urin akan mengalir balik kesaluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan

yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi

kerusakan ginjal (Depkes, 2007).

Pada umumnya obstruksi saluran kemih sebelah bawah yang

berkepanjangan akan menyebabkan obstruksi sebelah atas. Jika tidak diterapi

dengan tepat, obstruksi ini dapat menyebabkan kegagalan fungsi dan kerusakan

struktur ginjal yang permanen, seperti nefropati obstruktif, dan jika mengalami

infeksi saluran kemih dapat menimbulkan urosepsis (Purnomo, 2011).

1
Proses ini umumnya berlangsung lama sekali. Tapi juga bias mendadak

(akut) bila sumbatan secara total. Kasus hidronefrosis semakin sering didapati. Di

Amerika Serikat, insidensinya mencapai 3,1 %, 2,9 % pada wanita dan 3,3 % pada

pria. Penyebabnya dapat bermacam – macam dimana obstruksi merupakan

penyebab yang tersering (Rahmani, 2010).

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Ginjal

Gambar 1. Ginjal3
Manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak di belakang

perut atau abdomen.Ginjal ini terletak di kanan dan kiri tulang

belakang, di bawah hati dan limpa.Di bagian atas (superior) ginjal

terdapat kelenjar adrenal (juga disebut kelenjar suprarenal).3

Ginjal bersifat retroperitoneal, yang berarti terletak di

belakang peritoneum yang melapisi rongga abdomen.Kedua ginjal

terletak di sekitar vertebra T12 hingga L3.Ginjal kanan biasanya

terletak sedikit di bawah ginjal kiri untuk memberi tempat untuk

hati. Sebagian dari bagian atas ginjal terlindungi oleh iga ke sebelas

dan duabelas.Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak (lemak

3
perirenal dan lemak pararenal) yang membantu meredam

goncangan.2

Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang

berbentuk mirip kacang.Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal

berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan

membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin.2

Setiap ginjal terbungkus selaput tipis (kapsula renalis)

berupa jaringan fibrosa berwarna ungu tua. Lapisan ginjal terbagi

atas :3

 lapisan luar (yaitu lapisan korteks / substantia


kortekalis)
 lapisan dalam (yaitu medulla (substantia medullaris)
a. Unit Fungsional Ginjal

Gambar 2. Nefron Ginjal4


Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron yang dapat

berjumlah lebih dari satu juta buah dalam satu ginjal normal manusia
4
dewasa. Nefron berfungsi sebagai regulator air dan zat terlarut

(terutama elektrolit) dalam tubuh dengan cara menyaring darah,

kemudian mereabsorpsi cairan dan molekul yang masih diperlukan

tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan dibuang. Hasil akhir

yang kemudian diekskresikan disebut urin. Sebuah nefron terdiri

dari sebuah komponen penyaring yang disebut korpuskula (atau

badan Malphigi) yang dilanjutkan oleh saluran-saluran (tubulus).4

Setiap korpuskula mengandung gulungan kapiler darah yang

disebut glomerulus yang berada dalam kapsula Bowman. Setiap

glomerulus mendapat aliran darah dari arteri aferen. Dinding kapiler

dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau penyaringan.

Darah dapat disaring melalui dinding epitelium tipis yang berpori

dari glomerulus dan kapsula Bowman karena adanya tekanan dari

darah yang mendorong plasma darah. Filtrat yang dihasilkan akan

masuk ke dalan tubulus ginjal. Darah yang telah tersaring akan

meninggalkan ginjal lewat arteri eferen.4

Tubulus ginjal merupakan lanjutan dari kapsula

Bowman.Bagian yang mengalirkan filtrat glomerular dari kapsula

Bowman disebut tubulus konvulasi proksimal.Bagian selanjutnya

adalah lengkung Henle yang bermuara pada tubulus konvulasi

distal.5

Lengkung Henle diberi nama berdasar penemunya yaitu

Friedrich Gustav Jakob Henle di awal tahun 1860-an. Lengkung

5
Henle menjaga gradien osmotik dalam pertukaran lawan arus yang

digunakan untuk filtrasi. Sel yang melapisi tubulus memiliki banyak

mitokondria yang menghasilkan ATP dan memungkinkan terjadinya

transpor aktif untuk menyerap kembali glukosa, asam amino, dan

berbagai ion mineral.Sebagian besar air (97.7%) dalam filtrat masuk

ke dalam tubulus konvulasi dan tubulus kolektivus melalui

osmosis.5

Cairan mengalir dari tubulus konvulasi distal ke dalam


sistem pengumpul yang terdiri dari:3
 tubulus penghubung
 tubulus kolektivus kortikal
 tubulus kolektivus medularis
Tempat lengkung Henle bersinggungan dengan arteri aferen

disebut aparatus juxtaglomerular, mengandung macula densa dan sel

juxtaglomerular. Sel juxtaglomerular adalah tempat terjadinya

sintesis dan sekresi renin.Cairan menjadi makin kental di sepanjang

tubulus dan saluran untuk membentuk urin, yang kemudian dibawa

ke kandung kemih melewati ureter.5

Persyarafan pada ginjal


Ginjal mendapat persarafan dari nervus renalis (vasomotor),

saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke

dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah

yang masuk ke ginjal.4

6
2.2. Fisiologi

Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan

komposisi cairan ekstrasel dalam batas – batas normal. Komposisi

dan volume cairan ekstra sel ini dikontrol oleh filtrasi glomerolus,

reabsorpsi dan sekresi tubulus. Untuk lebih jelasnya fungsi dasar

ginjal dapat dibagi menjadi dua fungsi, yaitu :4

7
1. Fungsi Eksresi

a. Mempertahankan osmolalitas plasma sekitar 285 mOsm


dengan mengubah – ubah eksresi air.
b. Mempertahankan kadar masing – masing elektrolit plasma
dalam rentang normal.
c. Mempertahankan Ph plasma sekitar 7.4 dengan
mengeluarkan H+ dan membentuk kembali HCO3- .
d. Mengeksresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme
protein, terutama urea, asam urat dan kreatinin.
2. Fungsi Non – Eksresi

a. Menghasilkan renin, penting untuk pengaturan tekanan


darah.
b. Menghasilkan eritripoetin, faktor penting dalam stimulasi
produksi sel darah merah oleh sum – sum tulang.
c. Metabolisme vitamin D menjadi bentuk aktif.
d. Degradasi insulin, sekitar 20 % dari insulin dibentuk oleh
pankreas dan didegradasi oleh sel – sel tubulus ginjal,
akibatnya penderita diabetes yang menderita payah ginjal
mungkin membutuhkan insulin yang jumlahnya sedikit.

Pembentukan urin adalah fungsi ginjal yang paling esensial

dalam mempertahankan homeostasis tubuh. Pembentukan urin

berlangsung dalam tiga tahap yaitu :4

a. Filtrasi glomerulus

Tahap filtrasi terjadi di badan Malpighi yang di dalamnya

terdapat glomerulus yang dikelilingi sangat dekat oleh kapsula

Bowman . Proses filtrasi: Ketika darah yang mengandung air,

garam, gula, urea dan zat-zat lain serta sel-sel darah dan molekul

protein masuk ke glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi


8
sehingga mendorong air dan komponen-komponen yang tidak dapat

larut, melewati pori-pori endotelium kapiler glomerulus, kecuali sel-

sel darah dan molekul protein. Kemudian menuju membran dasar

dan melewati lempeng filtrasi, masuk ke dalam ruang kapsula

Bowman. Hasil filtrasi dari glomerulus dan kapsula Bowman

disebut filtrat glomerulus atau urine primer. Urine primer ini

mengandung: air, protein, glukosa, asam amino, urea dan ion

anorganik. Glukosa, ion anorganik dan asam amino masih

diperlukan tubuh.

b. Reabsorpsi

Reabsorpsi yaitu proses penyerapan kembali zat-zat hasil

filtrasi yang masih diperlukan tubuh misalnya vitamin, glukosa &

asam amino. Dimulai dari tubulus kontortus proksimal, reabsorpsi

dilakukan oleh dinding usus secara difusi & transfor aktif.

Dinamakan reabsorpsi obligat, dimana 80% air diserap kembali di

tubulus ini. Filtrat yang keluar dinamakan urine sekunder/filtrat

tubulus. Lalu masuk melewati lengkung henle desenden(turun)

terjadi reabsorpsi 6% air dan lengkung henle asenden(naik) terjadi

reabsorosi Na+ & Cl-. Akhirnya masuk ke tubulus kontortus distal,

terjadi penambahan dan pengurangan filtrat. Reabsorpsi Na+, Ca2+

& air dikontrol oleh hormon antideuretik(ADH), reabsorbsi ini

dinamakan reabsorpsi fakultatif karena reabsorpsinya disesuikan

dengan kebutuhan.

9
c. Sekresi

Sekresi beberapa zat dari darah dikapiler ke filtrat berupa ion

K+, PO3-, keratin, obat-obatan dan senyawa toksik terjadi di tubulus

kontortus distal, lalu mengalir ke duktus kolektifus akan terjadi

reabsorpsi air dan ion Na+ dipengaruhi oleh ADH & aldesteron dan

augmentasi ion K+ dan ion bikarbonat. Kemudian urine diampung

di katung kemih, daya tampungnya 300 cc, tekanan ke dinding

katung menyababkan ingin buang air kencing.

2.3. Hydronefrosis
2.3.1. Pengertian

Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan perifer ginjal pada

satu atau kedua ginjal akibat adanya obstruksi pada aliran normal

urin menyebabkan urin mengalir balik sehingga tekanan di ginjal

meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih

tekanan balik akan mempengaruhi kedua ginjal, tetapi kalau

obtruksi terjadi di salah satu ureter akibat adanya batu atau

kekakuan, maka hanya satu ginjal saja yang rusak (Brunner &

Suddarth, 2002).

Hidronefrosis adalah obstruksi aliran kemih proksimal

terhadap kandung kemih dapat mengakibatkan penimbunan cairan

bertekanan dalam pelviks ginjal dan ureter yang dapat

mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim ginjal (Price Sylvia A,

2005).

10
Dari kedua pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa

hidronefrosis adalah bendungan dalam ginjal yang di sebabkan oleh

obtruksi yang terdapat pada ureter yang di sebabkan karena adanya

batu ureter, sehingga terjadi tekanan balik ke ginjal.

2.3.2. Etiologi

 Jaringan parut ginjal/ureter.

 Batu

 Neoplasma/tomur

 Hipertrofi prostat

 Kelainan konginetal pada leher kandung kemih dan uretra

 Penyempitan uretra

 Pembesaran uterus pada kehamilan (Smeltzer dan Bare, 2002).

2.3.3. Patofisiologi

Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin

mengalir balik, sehingga tekanan di ginjal meningkat. Jika obstruksi

terjadi di uretra atau kandung kemih, tekanan balik akan

mempengaruhi kedua ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi di salah satu

ureter akibat adanya batu atau kekakuan maka hanya satu ginjal saja

yang rusak.

Obstruksi parsial atau intermiten dapat disebabkan oleh batu

renal yang terbentuk di piala ginjal tetapi masuk ke ureter dan

menghambatnya. Obstruksi dapat diakibatkan oleh tumor yang

menekan ureter atau berkas jaringan parut akibat abses atau

11
inflamasi dekat ureter dan menjepit saluran tersebut. Gangguan

dapat sebagai akibat dari bentuk abnormal di pangkal ureter atau

posisi ginjal yang salah, yang menyebabkan ureter berpilin atau

kaku. Pada pria lansia , penyebab tersering adalah obstruksi uretra

pada pintu kandung kemih akibat pembesaran prostat. Hidronefrosis

juga dapat terjadi pada kehamilan akibat pembesaran uterus.

Apapun penyebabnya adanya akumulasi urin di piala ginjal

akan menyebabkan distensi piala dan kaliks ginjal. Pada saat ini

atrofi ginjal terjadi. Ketika salah satu ginjal sedang mengalami

kerusakan bertahap, maka ginjal yang lain akan membesar secara

bertahap (hipertropi kompensatori), akhirnya fungsi renal

terganggu.

2.3.4. Manifestasi klinis

 Pasien mungkin asimtomatik jika awitan terjadi secara bertahap.

Obstruksi akut dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul dan

pinggang. Jika terjadi infeksi maja disuria, menggigil, demam

dan nyeri tekan serta piuria akan terjadi. Hematuri dan piuria

mungkin juga ada. Jika kedua ginjal kena maka tanda dan gejala

gagal ginjal kronik akan muncul, seperti:

 Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium).

 Gagal jantung kongestif.

 Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi).

 Pruritis (gatal kulit).

12
 Butiran uremik (kristal urea pada kulit).

 Anoreksia, mual, muntah, cegukan.

 Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang.

 Amenore, atrofi testikuler.

(Smeltzer dan Bare, 2002)

2.3.5. Diagnosis

Diagnosa Penyakit Hidronefrosis bisa merasakan adanya

massa di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggul, terutama

jika ginjal sangat membesar. Pemeriksaan darah bisa menunjukkan

adanya kadar urea yang tinggi karena ginjal tidak mampu

membuang limbah metabolik ini.

Beberapa prosedur digunakan utnuk mendiagnosis

hidronefrosis:

 USG, memberikan gambaran ginjal, ureter dan

kandung kemih

 Urografi intravena, bisa menunjukkan aliran air

kemih melalui ginjal

 Sistoskopi, bisa melihat kandung kemih secara

langsung.

Gambaran radiologi

Gambaran radiologis dari hidronefrosia terbagi berdasarkan

gradenya. Ada 4 grade hidronefrosis, antara lain :

13
a. Hidronefrosis derajat 1. Dilatasi pelvis renalis tanpa dilatasi

kaliks. Kaliks berbentuk blunting, alias tumpul.

b. Hidronefrosis derajat 2. Dilatasi pelvis renalis dan kaliks mayor.

Kaliks berbentuk flattening, alias mendatar.

c. Hidronefrosis derajat 3. Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan

kaliks minor. Tanpa adanya penipisan korteks.

Kaliks berbentuk clubbing, alias menonjol.

d. Hidronefrosis derajat 4. Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor

dan kaliks minor. Serta adanya penipisan korteks Calices

berbentuk ballooning alias menggembung.

2.3.6. Penatalaksanaan

Tujuannya adalah untuk mengaktivasi dan memperbaiki

penyebab dari hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan untuk

mempertahankan dan melindungi fungsi ginjal.

Untuk mengurangi obstruksi urin akan dialihkan melalui

tindakan nefrostomi atau tipe disertasi lainnya. Infeksi ditangani

dengan agen anti mikrobial karena sisa urin dalam kaliks akan

menyebabkan infeksi dan pielonefritis. Pasien disiapkan untuk

pembedahan mengangkat lesi obstrukstif (batu, tumor, obstruksi

ureter). Jika salah satu fungsi ginjal rusak parah dan hancur maka

nefrektomi (pengangkatan ginjal) dapat dilakukan (Smeltzer dan

Bare, 2002).

Pada hidronefrosis akut:

14
 Jika fungsi ginjal telah menurun, infeksi menetap atau nyeri

yang hebat, maka air kemih yang terkumpul diatas

penyumbatan segera dikeluarkan (biasanya melalui sebuah

jarum yang dimasukkan melalui kulit).

 Jika terjadi penyumbatan total, infeksi yang serius atau

terdapat batu, maka bisa dipasang kateter pada pelvis renalis

untuk sementara waktu.

Pada Hidronefrosis kronis :

Diatasi dengan mengobati penyebab dan mengurangi

penyumbatan air kemih. Ureter yang menyempit atau abnormal

bisa diangkat melalui pembedahan dan ujung-ujungnya

disambungkan kembali. Kadang perlu dilakukan pembedahan

untuk membebaskan ureter dari jaringan fibrosa. Jika sambungan

ureter dan kandung kemih tersumbat, maka dilakukan

pembedahan untuk melepaskan ureter dan menyambungkannya

kembali di sisi kandung kemih yang berbeda.

Jika uretra tersumbat, maka pengobatannya meliputi: – terapi

hormonal untuk kanker prostat :

 Pembedahan

 melebarkan uretra dengan dilator.

15
2.4. Nefrolithiasis
2.4.1. Pengertian

Batu perkemihan dapat timbul dari berbagai tingkat dari

system perkemihan ( ginjal, ureter, kandung kemih ). tetapi yang

paling sering ditemukan adalah di dalam ginjal (Barbara, 1996).

Batu ginjala adalah istilah umum batu ginjal disembarang

tempat. Batu ini terdiri atas garam kalsium, asam urat, oksalat, sistin,

xantin, dan struvit (Patofisiologi Keperawatan, 2000).

Nefrolitiasis adalah adanya timbunan zat padat yang

membatu pada ginjal, mengandung komponen kristal, dan matriks

organik (Soeparman, 2001).

2.4.2. Etiologi

Batu ginjal merupakan konsisi terdapatnya kristal kalsium

dalam ginjal, kristal tersebut dapat berupa kalsium oksalat, kalsium

fosfat maupun kalsium sitrat. Tidak ada penyebab yang bisa

dibuktikan yang sering menjadi predisposisi adalah infeksi saluran

kemih hiperkasiuria, hiperpospaturia, hipervitaminosis D dan

hipertiroidism dan kebanyakan intake kalsium serta alkali

cenderung timbul presipitasi garam kalsium dalam urine ( wong de

jong. 1996 )

2.4.3. Patofisiologi

Nefrolitiasis merupakan kristalisasi dari mineral dan matriks

seperti pus darah, jaringan yang tidak vital dan tumor. Komposisi
16
dari batu ginjal bervariasi, kira-kira tiga perempat dari batu adalah

kalsium, fosfat, asam urin dan cistien.peningkatan konsentrasi

larutan akibat dari intake yang rendah dan juga peningkatan bahan-

bahan organic akibat infeksi saluran kemih atau urin ststis sehingga

membuat tempat untuk pembentukan batu. Ditambah dengan adanya

infeksi meningkatkan kebasaan urin oleh produksi ammonium yang

berakibat presipitasi kalsium dan magnesium pospat (long. 1996 :

323)

Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa

faktor yang kemudian dijadikan dalam beberapa teori ;

a. Teori supersaturasi

Tingkat kejenuhan kompone-komponen pembentuk batu ginjal

mendukung terjadinya kristalisasi. Kristal yang banyak menetap

menyebabkan terjadinya agresi kristal kemudian timbul menjadi

batu.

b. Teori matriks

Matriks merupakan mukoprotein yang terdiri dari 65% protein,

10% heksose, 3-5 heksosamin dan 10% air. Adapun matriks

menyebabkan penempelan kristal-kristal sehingga menjadi

batu.

c. Teori kurang inhibitor

Pada kondisi normal kalsium dan fosfat hadir dalam jumlah

yang melampui daya kelarutan, sehingga diperlukan zat

17
penghambat pengendapat. Phospat mukopolisakarida dan

dipospat merupakan penghambatan pembentukan kristal. Bila

terjadi kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi

pengendapan.

d. Teori epistaxi

Merupakan pembentukan baru oleh beberapa zat secra-

bersama-sama, salah satu batu merupakan inti dari batu yang

merupakan pembentuk pada lapisan luarnya. Contohnya

ekskresi asam urayt yanga berlebihan dalam urin akan

mendukung pembentukan batu kalsium dengan bahan urat

sebagai inti pengendapan kalsium.

e. Teori kombinasi

Batu terbentuk karena kombinasi dari berbagai macam teori di

atas.

2.4.4. Manifestasi Klinis

 Nyeri dan pegal di daerah pinggang

Lokasi nyeri tergantung dari dimana batu itu berada. Bila

pada piala ginjal rasa nyeri adalah akibat dari hidronefrosis

yang rasanya lebih tumpul dan sifatnya konstan. Terutama

timbul pada costoverteral. (barbara. 1996:324)

 Hematuria

18
Darah dari ginjal berwarna coklat tua, dapat terjadi karena

adanya trauma yang disebabkan oleh adanya batu atau terjadi

kolik (ilmu kesehatan anak, 2002:840)

 Infeksi

Batu dapat mengakibatkan gejala infeksi traktus urinarius

maupun infeksi asistemik yang dapat menyebabkan

disfungsi ginjal yang progresif.

 Kencing panas dan nyeri

Adanya nyeri tekan pada daerah ginjal.

2.4.5. Diagnosis

Selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk

menegakkan diagnosis, penyakit batu ginjal perlu didukung dengan

pemeriksaan radiologik, laboratorium, dan penunjang lain untuk

menentukan kemungkinan adanya obstruksi saluran kemih, infeksi

dan gangguan faal ginjal.

 Anamnesis

Anamnesa harus dilakukan secara menyeluruh.

Keluhan nyeri harus dikejar mengenai onset kejadian,

karakteristik nyeri, penyebaran nyeri, aktivitas yang dapat

membuat bertambahnya nyeri ataupun berkurangnya nyeri,

riwayat muntah, gross hematuria, dan riwayat nyeri yang

sama sebelumnya. Penderita dengan riwayat batu

sebelumnya sering mempunyai tipe nyeri yang sama.

19
 Pemeriksaan Fisik

 Penderita dengan keluhan nyeri kolik hebat, dapat disertai

takikardi, berkeringat, dan nausea.

 Masa pada abdomen dapat dipalpasi pada penderita

dengan obstruksi berat atau dengan hidronefrosis.

 Bisa didapatkan nyeri ketok pada daerah kostovertebra,

tanda gagal ginjal dan retensi urin.

 Demam, hipertensi, dan vasodilatasi kutaneus dapat

ditemukan pada pasien dengan urosepsis.

 Pemeriksaan Penunjang

 Radiologi

Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan pada

kasus batu ginjal adalah adalah foto polos abdomen, USG

abdomen, CT-scan. Dari pemeriksaan radiologi dapat

menentukan jenis batu, letak batu, ukuran, dan keadaan

anatomi traktus urinarius. Secara radiologi, batu dapat

berupa radio-opak dan radio-lusen.

a. Foto Polos Abdomen


Foto polos abdomen ini bertujuan untuk melihat

kemungkinan adanya batu radio-opak di saluran kemih.

Batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat radio-

opak dan paling sering dijumpai di antara batu jenis lain.

Batu Magnesium Ammoniak Phospat (MAP) memberikan

20
gambaran semi-opak. Sedangkan batu asam urat, batu

matriks dan indinivar bersifat radio-lusen.1,2,3

Gambar 3.3 : Foto polos Abdomen menunjukkan gambaran


bayangan radio-opaque pada renalis dextra dan cavum pelvis

b. Pielografi Intra Vena (IVP)


Pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan antomi

dan fungsi ginjal, selain itu IVP juga dapat mendeteksi

adanya batu semi-opak ataupun batu non-opak yang tidak

dapat terlihat oleh foto polos abdomen. 1 Pada yang radiopak

pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga

adanya batu ginjal bila diambil foto dua arah. Pada keadaan

tertentu terkadang batu terletak di depan bayangan tulang,

sehingga dapat luput dari penglihatan. Oleh karena itu foto

polos sering perlu ditambah foto pielografi intravena

(PIV/IVP). Pada batu radiolusen, foto dengan bantuan

kontras akan menyebabkan defek pengisian (filling defect)

di tempat batu berada.2 Yang menyulitkan adalah bila ginjal


21
yang mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras

ini tidak muncul. Dalam hal ini perlu dilakukan pielografi

retrograd.1,2

Gambar 3.4. IVP, terdapat batu radio-opak ginjal kanan,


hidronefrosis derajat I dengan dilatasi pelvis renalis tanpa
dilatasi kaliks, kaliks tampak blunting, alias tumpul
c. USG
USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani

pemeriksaan IVP, yaitu pada keadaan-keadaan : alergi

22
terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun, dan pada

wanita yang sedang hamil. Pemeriksaan USG dapat menilai

adanya batu di ginjal atau di buli-buli yang ditunjukkan

dengan echoic shadow, hidronefrosis dengan gambaran

dilatasi pelvis dan kaliks ginjal7, pionefrosis, atau

pengerutan ginjal.1 USG dapat mendeteksi adanya batu dan

dilatasi sistem kollektivus.2,8

Keterbatasan pemeriksaan ini adalah kesulitan

menunjukkan batu ureter dan tidak dapat membedakan batu

kalsifikasi dan batu radiolusen. 2

Gambar 3.4 Hidronefrosis Ginjal Kanan Dan Pelebaran Sistem Kolektivus

23
Gambar 3.5 USG Abdomen, tampak adanya calculus dengan hiperechoic
shadow pada renal sinistra dan hidronefrosis dengan pelebaran pelvis renalis
d. CT-Scan
Gambaran CT-Scan pada hisronefrosis adalah

hidronefrosis yang dini memberikan gambaran flattening,

yaitu kaliks-kaliks yang mendatar. Perubahan ini reversibel.

Pada stadium lanjut akan memeperlihatkan kaliks-kaliks

yang berbentuk tongkat atau menonjol (clubbing)1,9 pada

tingkat yang lebih parah lagi akan terjadi destruksi parenkim

ginjal dan pembesaran sistem saluran kemih.9

24
Gambar 3. 8 CT –Scan ginjal dengan hidronefrosis
 Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari

kelainan kemih yang dapat menunjang adanya batu di

saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan menentukan

penyebab batu.

2.4.6. Penatalaksanaan

 Terapi medis dan simtomatik

Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau

melarutkan batu. Terapi simtomatik berusaha untuk

menghilangkan nyeri. Selain itu dapat diberikan minum yang

berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik.

 Litotripsi

Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan

nefroskopi perkutan untuk membawa tranduser melalui

sonde kebatu yang ada di ginjal. Cara ini disebut

nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang paling

sering dilakukan adalah ESWL. ESWL (Extracorporeal

25
Shock Wave Lithotripsy) yang adalah tindakan memecahkan

batu ginjal dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang

kejut.

 Tindakan Bedah

Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat

litotripsor, alat gelombang kejut, atau bila cara non-bedah

tidak berhasil.

26
BAB III
LAPORAN KASUS
3.1. Identitas Penderita
Nama : Tn. Sarwi
Usia : 57 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Alamat : Delik
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Status pernikahan : Menikah
No. CM : 396xxx
Dirawat di ruang : Arjuna 2
3.2. Anamnesis
Autoanamnesis dengan pasien dan alloanamnesis dengan anak pasien
dilakukan, pada ruang Arjuna 2 RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Kota
Semarang dan didukung dengan catatan medis.
 Keluhan Utama :
Nyeri pada punggung kanan
 Riwayat penyakit sekarang:

Pasien datang ke UGD RSUD KRMT Wongsonegoro dengan


keluhan nyeri pada punggung kanan.
Keluhan nyeri pada punggung kanan telah berlangsung selama
3 bulan terakhir. Keluhan semakin berat terutama saat pasien
kelelahan dan tidak diperingan dengan istirahat. Nyeri bersifat
hilang timbul dan masih dalam batas dapat ditoleransi oleh pasien
sehingga tidak sampai mengganggu aktifitasnya sehari-hari.
Sebelum mengalami keluhan rasa nyeri ini, pasien sempat
mengeluh terdapat pasir pada kencingnya dan berlangsung selama
1 minggu lalu. Pasien sempat memeriksakan diri pada dokter di

27
puskesmas dan telah diberi obat namun tidak menghilangkan
keluhannya.
Selama mengalami keluhan ini, tidak ada keluhan demam,
kelelahan dan keadaan umum masih dalam keadaan baik.
Gangguan berkemih seperti kesusahan saat buang air kecil, urin
keruh dan hematuria maupun urin seperti teh juga disangkal.
Pasien belum pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya dan
riwayat keluarga dengan keluhan serupa juga disangkal.

 Riwayat penyakit Dahulu:


- Riwayat keluhan serupa sebelumnya : Diakui
- Riwayat hipertensi : Diakui
- Riwayat kencing manis : Disangkal
- Riwayat sakit jantung : Disangkal
- Riwayat sakit ginjal : Disangkal
- Riwayat stroke : Disangkal
- Riwayat trauma : Disangkal
 Riwayat penyakit keluarga:
- Riwayat stroke : Disangkal
- Riwayat hipertensi : Diakui
- Riwayat kencing manis : Disangkal
 Riwayat kebiasaan:
- Konsumsi alkohol : Disangkal
- Merokok : Diakui
 Riwayat ekonomi :
Pasien berobat menggunakan BPJS PBI.

3.3. Pemeriksaan Fisik


STATUS GENERALIS
- Keadaan umum : Tampak lemah
- Kesadaran : Composmentis
- Status Gizi : Baik

28
STATUS ANTROPOMETRIK
- TB : 165 cm
- BB : 60 kg
- IMT = BB(kg)/TB²(m²)
= 60 kg/(1,65 m)²
= 22,05 (Normoweight)
TANDA VITAL
- Tekanan Darah : 170/110 mmHg
- HR (Nadi) : 96 x/ Menit , reguler,isi dan tegangan cukup
- RR (Laju Napas) : 20 x/ Menit , reguler
- Suhu : 36,7 0C
STATUS INTERNUS
- Kepala : Bentuk normocephale, tidak teraba benjolan.
- Rambut : Warna putih, mudah dicabut, distribusi merata
- Mata :
- Bola mata : tidak terdapat eksoftalmus
- Konjungtiva : anemis -/-, perdarahan -/-,
- Sklera : ikterus -/-
- Palpebra : oedema -/-
- Pupil : bulat, isokor 3 mm/ 3mm, reflek cahaya +/+
- Hidung :
- Deformitas (-)
- Nafas cuping hidung (-/-),
- Tidak tampak adanya sekret atau perdarahan
- Telinga :
- Bentuk : normal
- Lubang : normal, discharge (-/-)
- Pendengaran : normal
- Perdarahan : tidak ada
- Mulut :

29
- Bibir : tidak ada kelainan kongenital, sianosis (-), oedem (-)
- Lidah : ukuran normal, tidak kotor, tidak tremor
- Gigi : perawatan gigi kurang
- Mukosa : hiperemi (-), stomatitis (-)
- Leher :
- Deviasi trakea : - (posisi trakea simetris)
- Kaku kuduk : - (negatif)
- Tiroid : tidak ada pembesaran
- JVP : tidak ada peningkatan JVP
- KGB : tidak ada pembesaran

- PF Thoraks :
a. Paru :
1. Inspeksi : laju nafas 20x/menit, pola nafas regular, simetris,
ketertinggalan gerak (-/-), retraksi (-/-), pergerakan otot bantu
pernafasan (-/-)
2. Palpasi : fremitus vokal normal, nyeri tekan (-), gerakan dada
simetris, tidak ada ketertinggalan gerak.
3. Perkusi : sonor pada kedua lapang paru.
4. Auskultasi : suara pernafasan vesikuler, ronkhi (-), wheezing(-)
b. Jantung :
1. Inspeksi : pulsasi ictus cordis tampak kuat angkat
2. Palpasi : pulsasi ictus cordis teraba di ICS V linea
mid clavicularis sinistra
3. Perkusi : kardiomegali (-)
4. Auskultasi : bunyi jantung I dan II reguler, murmur(-),
gallop (-)
- PF Abdomen :
1. Inspeksi : permukaan perut datar, pelebaran pembuluh
darah(-), sikatrik (-), massa (-), tanda peradangan (-).

30
2. Auskultasi : bunyi peristaltik usus normal, tidak ada bising usus,
tidak ada bising pembuluh darah.
3. Palpasi : nyeri ketok (+) kostovertebra
4. Perkusi : timpani pada seluruh kuadran abdomen
- Ekstremitas :
- Superior : Akral hangat, Oedema +/+, capillary refill <2 detik
- Inferior : Akral hangat, Oedema +/+, capillary refill <2 detik

STATUS NEUROLOGIS
- GCS : E4 M5 V3

3.4. Pemeriksaan Penunjang


a. USG

Hepar : ukuran dan bentuk normal, parenkim homogen, ekogenosistas normal,


tepi rata, sudut tajam, tak tampak nodul, v. porta dan v. hepatica tak melebar, ductus
biliaris intra ektrahepataltak melebar

31
VESICA FELEA : tak membesar, dinding, tak menebal, tak tampak batu

LIEN : ukuran normal, parenkim homogen, v lienalis tak melebar, tak tampak nodul

PANCREAS : ukuran normal, parenkim homogen, ductus pankreatikus tak melebar

GINJAL KANAN : ukuran dan bentuk normal, batas kortikomeduler jelas, PCS
melebar, tampak batu, tak tampak batu

GINJAL KIRI : ukuran dan bentuk normal, batas kortikomeduler jelas, PCS tak
melebar, tak tampak batu, tak tampak masa

AORTA : tak tampak melebar. Tak tampak pembesaran noduli limfatici paraaorta

VESICA URINARIA : dinding tak mnebal, regular, tak tampak batu/massa

tak tampak efusi pleura. Tak tampak cairan bebas intraabdomen

Kesan :

 moderate to servere hidronefrosis dan nephrolithiasis kanan ukuran batu sekitar


0,5 cm
 Tak tampak kelainan lainnya pada organ intra abdomen pada sonografi abdomen
diatas

32
2. IVU

• Foto polos abdomen tampak batu opak

• GINJAL KANAN ukuran, letak dan bentuk normal. Kontras sudah tampak
pada menit ke 5. Pelvis renalis melebar, kaliks minor Clubbing.

• GINJAL KIRI ukuran, letak dan bentuk normal. Kontras sudah tampak pada menit
ke 5. Pelvis tampak melebar, kaliks minor cupping, tak tampak filling defect
maupun distorsi kaliks.

• URETER tak tampak hingga akhir pemeriksaan

• VESIKA URINARIA dinding regular, tak tampak filling defect, additional shadow,
maupun indentasi.

• POST MIKSI tampak sisa urin pada kedua PCS dan vesika urinaria.

Kesan :

 Fungsi ekskresi kedua ginjal normal


 Clubbing hidronefrosis kanan

33
3.5. Diagnosis
- DIAGNOSIS KERJA : Nefrolitiasis dengan Hydronefrosis grade III
Dekstra
3.6. Rencana Monitoring
KU, kesadaran, TTV, diuresis.
3.7. Edukasi
- Jelaskan pada pasien tentang diagnosis, dasar diagnosis, komplikasi serta
prognosis.
- Jelaskan pada pasien tentang pentingnya kontrol rutin.
- Motivasi pemgobatan
- Motivasi untuk berhenti merokok

3.8. Prognosis
- Quo ad vitam : dubia ad bonam
- Quo ad functionam : dubia ad bonam
- Quo ad sanactionam : dubia ad bonam

34
BAB IV
PEMBAHASAN

Nefrolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem kaliko-pelvis

renal. Batu ginjal merupakan keadaan tidak normal dalam ginjal dan mengandung

komponen kristal serta matriks organik. Lokasi batu ginjal dijumpai khas pada

kaliks atau pelvis dan bila akan keluar dapat terhenti di ureter atau di kandung

kemih. Batu kalsium urat, kalsium oksalat, dan kalsium fosfat secara bersama dapat

djumpai pada 65-85% dari jumlah keseluruhan batu ginjal. Umumnya nefrolitiasis

akan bergejala nyeri perut kolik pada bagian pinggang atau punggung belakang dan

jarang mengenai 2 sisi yang disebabkan oleh gesekan batu saat peristaltik. Selain

itu beberapa orang akan mengeluhkan kesusahan dalam berkemih maupun

gangguan pada urin seperti hematuria, pyuria secara makroskopik dan kelainan

mikroskopik lainnya. Akibat paling sering dari nefrolitiasis adalah hidronefrosis

yang disebabkan karena adanya bendungan urin oleh batu sehingga menekan

struktur sistem kaliko-pelvis renal sehingga ukuran renal membesar.

Pada pasien ini, Keluhan nyeri pada punggung kiri telah berlangsung selama

3 bulan terakhir dan menjalar hingga panggul kiri. Keluhan semakin berat terutama

saat pasien kelelahan dan tidak diperingan dengan istirahat. Nyeri bersifat hilang

timbul dan masih dalam batas dapat ditoleransi oleh pasien sehingga tidak sampai

mengganggu aktifitasnya sehari-hari. Sebelum mengalami keluhan rasa nyeri ini,

pasien sempat mengeluh terdapat pasir pada kencingnya dan berlangsung selama 1

minggu lalu namun keluhan kencing darah dan gangguan berkemih disangkal.

Berdasarkan pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan pada flank kiri dan tidak

35
didapatkan kelainan lainnya. Pada pemeriksaan radiologi BNO-IVP ditemukan

batu ginjal opak pada PCS kiri sehingga menyebabkan hidronefrosis grade 3.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Ziemba JB, Matlaga BR. Epidemiology and economics of nephrolithiasis.


Investig Clin Urol. 2017 Sep. 58 (5):299-306.
2. Turk C, Knoll T, Petrik A, Sarica K, Skolarikos A, Straub M, et al. Guidelines
on urolithiasis. European Association of Urology. [Online] [2015 Feb 15] [cited
2017 Dec 20] Available from : http://uroweb.org/wp-content/uploads/EAU-
Guidelines-Urolithiasis-2015-v2.pdf.
3. Borghi L, Schianchi T, Meschi T, Guerra A, Allegri F, Maggiore U, et al.
Comparison of two diets for the prevention of recurrent stones in idiopathic
hypercalciuria. N Engl J Med. 2002 Jan 10. 346(2):77-84.
4. Gerst SR, Hricak H. Radiology of the urinary tract. In: Tanagho EA, McAninch
JW, ed. Smith’s General Urology. 17th ed. California, Ca: McGraw Hill;
2008:chap 6.
5. Purnomo, B.B., 2003. Dasar dasar Urologi. Edisi Kedua. Jakarta. Perpustakaan
nasional Republik Indonesia, 62-65
6. Rasad, Sjahriar. 2005. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta: Balai
Penerbit FK UI, 453- 455.
7. Sjamsuhidajat, R.I, 2004. Buku ajar Ilmu Bedah. Edisi Kedua, Jakarta. Penerbit
Buku Kedokteran, EGC, 756-763.
8. Fulgham PF, Bishoff JT. Urinary tract imaging: Basic principles. In: Wein AJ,
ed. Campbell-Walsh Urology. 10th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier;
2011:chap 4.
9. Baumgarten DA, Francis IR, Casalino DD, et al; American College of
Radiology. ACR Appropriateness Criteria® acute onset flank pain — suspicion
of stone disease. National Guideline Clearinghouse. [Online] [2009 Apr 27]
[Cited 2017 Dec 20] Available from
http://www.guidelines.gov/content.aspx?id=15759.

37
38