Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Problematika umat mengenai kiblat masih mengakar di masyarakat. Hal ini terbukti
dengan banyak ditemukan dan diberitakannya masjid-masjid dan mushala-mushala
yang kiblatnya berbeda. Ini tidak hanya terjadi di beberapa daerah bahkan di daerah
yang sama pun perbedaan arah kiblat tidak dapat dihindari.
Perbedaan-perbedaan dalam penentuan arah kiblat tersebut dapat terjadi karena pada
zaman dahulu orang menandai arah kiblat hanya dengan arah mata angin yaitu
menggunakan penentuan kiblat secara kira-kira. Pemahaman kiblat barat adalah
pemahaman yang masih mengakar dalam benak mereka. Suatu anggapan yang perlu
diluruskan kembali. Karena secara geografis dengan memperhatikan bentuk bumi
seperti bola, maka Indonesia tidak berada di timur Mekah namun berada di tenggara,
sehingga arah kiblat Indonesia seharusnya mengarah ke arah barat agak serong ke utara.
Karena pada hakikatnya kiblat adalah suatu arah yang menyatukan arah segenap
Umat Islam dalam melaksanakan shalat, tetapi titik arah itu sendiri bukanlah obyek yang
disembah oleh umat Islam dalam melaksanakan shalat. Yang menjadi objek yang dituju
oleh umat Islam dalam melaksanakan shalat itu tidak lain hanyalah Allah SWT, dengan
demikian umat Islam bukan menyembah Ka’bah, tetapi menyembah Allah SWT.
Secara historis, cara penentuan kiblat khususnya di Indonesia, selalu mengalami
perkembangan dari masa ke masa sesuai dengan keilmuan dan kualitas serta kapasitas
intelektual yang dimiliki oleh masyarakat Islam saat itu. Perkembangan penentuan arah
kiblat ini dapat dilihat dari perubahan besar yang dilakukan Muhammad Arsyad Al
Banjari dan K.H. Ahmad Dahlan serta dapat dilihat dari alat-alat yang digunakan untuk
mengukurnya seperti bencet atau miqyas, tongkat istiwa, rubu’ mujayyab, kompas,
theodolite, dan lain-lain. Selain itu sistem perhitungan yang dipergunakan juga
mengalami perkembangan, baik mengenai data koordinat maupun mengenai sistem
ilmu ukurnya. Bahkan kini terdapat software khusus yang dengan mudah dapat
digunakan untuk mengetahui arah kiblat suatu tempat. Selain itu juga terdapat beberapa
website yang dapat di akses kapan saja dan dimana saja untuk menetukan arah kiblat.
Oleh karena sangat penting arah kiblat bagi kesempurnaan ibadah dan bahkan kiblat

1|Laporan Praktikum Arah Kiblat


menjadi rukun ibadah sholat, maka arah kiblat dikaji dengan beberapa alat dan metode
supaya titik fokus letak ka’bah dapat diketahui.

B. Tujuan
1. Menentukan azimuth arah kiblat berdasarkan perhitungan dengan menggunakan
software LunaSolCal.
2. Menentukan waktu azimuth matahari sama dengan azimuth arah kiblat dengan
menggunakan Accurate Time.
3. Menentukan sudut pergeseran arah kiblat dan mundur shaff Masjid Al-Hidayah.

2|Laporan Praktikum Arah Kiblat


BAB II
DASAR TEORI

a. Arah Kiblat
Arah kiblat adalah arah dari suatu tempat (lokasi) ke Ka’bah di Masjidil Haram,
Mekkah dengan jarak yang terdekat. Maksud “jarak yang terdekat” disini karena bumi
ini bulat, sehingga arah kiblat suatu tempat itu sebenarnya lebih dari satu. Misalnya,
arah kiblat kota Yogyakarta ada dua, yaitu menghadap ke barat laut dan timur tenggara.
Tetapi yang digunakan adalah arah barat laut karena arah itu yang paling dekat
dibandingkan dengan arah ke timur tenggara.
Pada hakikatnya kiblat adalah suatu arah yang menyatukan arah segenap Umat Islam
dalam melaksanakan shalat, tetapi titik arah itu sendiri bukanlah obyek yang disembah
oleh umat Islam dalam melaksanakan shalat. Yang menjadi objek yang dituju oleh umat
Islam dalam melaksanakan shalat itu tidak lain hanyalah Allah SWT, dengan demikian
umat Islam bukan menyembah Ka’bah, tetapi menyembah Allah SWT.
Pengetahuan tentang arah kiblat yang benar sangat penting bagi ummat Islam.
Ketika ummat Islam malaksanakan ibadah shalat, terdapat sebuah kewajiban untuk
menghadap kiblat yaitu Ka’bah di Masjidil Haram. Allah SWT berfirman,

“Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan shalat) hadapkanlah mukamu
ke arah Masjidil Haram (Ka'bah). Sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka'bah itu
benar dari Allah (Tuhanmu) dan ingatlah bahwa Allah tidak sekali–kali lalai akan
segala apa yang kamu lakukan.” (Al Baqarah 149).

Para ulama sepakat bahwa menghadap arah kiblat itu menjadi syarat sahnya shalat,
kecuali shalat khauf (dalam keadaan takut, siaga, perang), shalat diatas kendaraan,
orang yang tidak mengetahui arah kiblat, orang yang terikat (marbuth), dan orang sakit
yang tidak bisa menggeser tubuhnya ke arah kiblat, mungkin karena tidak ada orang
yang membantunya. Dalam keadaan seperti itu maka diperbolehkan menghadap ke
arah mana saja yang bisa dan atau diyakini sebagai arah kiblat. Artinya menghadap
kiblat harus dilakukan dalam keadaan mampu dan aman dari serangan musuh atau
hewan buas, sebagaimana penegasan ulama Malikiyyah dan Hanafiyyah.

3|Laporan Praktikum Arah Kiblat


b. Menentukan Arah Kiblat
Untuk menentukan arah kiblat, terlebih dahulu disajikan rumus trigonometri bola.

Gambar 1. Segitiga bola ABC yang menghubungkan titik A (Ka’bah), titik B (lokasi)
dan titik C (kutub Utara).

Dari Gambar 1, segitiga bola ABC menghubungkan antara tiga titik A (Ka’bah),
titik B (lokasi) dan titik C (Kutub Utara). Titik A (Ka’bah) memiliki koordinat bujur
Ba dan lintang La. Titik B memiliki koordinat bujur Bb dan lintang Lb. Titik C
memiliki lintang 90 derajat. Busur a adalah panjang busur yang menghubungkan titik
B dan C. Busur b adalah panjang busur yang menghubungkan titik A dan C. Busur
c adalah panjang busur yang menghubungkan titik A dan B. Sudut C tidak lain adalah
selisih antara bujur Ba dan bujur Bb. Jadi sudut C = Ba – Bb. Sementara sudut B adalah
arah menuju titik A (Ka’bah). Jadi arah kiblat dari titik B dapat diketahui dengan
menentukan besar sudut B.

Selanjutnya, jari–jari bumi dianggap sama dengan 1. Sudut yang menghubungkan


titik di khatulistiwa, pusat bumi dan kutub utara adalah 90 derajat. Karena lintang titik
A adalah La, maka busur b sama dengan 90 – La. Karena lintang titik B adalah Lb,
maka busur a sama dengan 90 – Lb. Dalam trigonometri bola, terdapat rumus–rumus
standar sebagai berikut :
cos(𝑏) = cos(𝑎) cos(𝑐) + sin(𝑎) sin(𝑐) cos(𝐵)
cos(𝑐) = cos(𝑎) cos(𝑏) + sin(𝑎) sin(𝑏) cos(𝑐)
sin⁡(𝐴) sin(𝐵) sin(𝐶)
− −
sin(𝑎) sin(𝑏) sin⁡(𝑐)
4|Laporan Praktikum Arah Kiblat
Dengan menggabungkan ketiga rumus di atas, pada akhirnya akan diperoleh
rumus:
sin(𝐶)
tan(𝐵) =
sin(𝑎) cot(𝑏) − cos(𝑎) cos(𝑐)

sin(𝐵𝑘 − 𝐵𝑡)
tan(𝐵) =
cos(𝐿𝑡) tan(𝐿𝑘) − sin(𝐿𝑡) cos(𝐵𝑘 − 𝐵𝑡)

B = arc (tan B)
dimana,
B = Azimuth
Bk = Bujur Ka’bah = 39,82616111
Bt = Bujur Tempat
Lt = Lintang Ka’bah = 21.42250833

5|Laporan Praktikum Arah Kiblat


BAB III
METODOLOGI

A. Alat dan Bahan


1. Software LunaSolCal di instal pada Android
2. Software Accurate Time di instal pada Laptop
3. Laptop 1 buah
4. Kompas 1 buah
5. Kalkulator Sains 1 buah
6. Penggaris 1 buah
7. Pena 1 buah
8. Kertas secukupnya
9. Busur 1 buah
10. Benang 1 buah
11. Pemberat (Batu) 1 buah
12. Lakban 1 buah

B. Prosedur Kerja
1. Percobaan diawali dengan Basmallah.
2. Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan.
3. Percobaan penentuan arah kiblat kali ini yaitu dengan menentukan azimuth arah
kiblat dan waktu azimuth matahari sama dengan azimuth arah kiblat.
4. Azimuth arah kiblat didapat dari hasil perhitungan menggunakan software
LunaSolCal. Sedangkan waktu azimuth matahari dengan menggunakan software
Accurate Time.
5. Untuk yang pertama yaitu menentukan azimuth arah kiblat dengan metode
perhitungan. GPS pada Android dihidupkan.
6. Software LunaSolCal dibuka. Lokasi saat percobaan dilakukan ditentukan dengan
menggunakan Aplikasi LunaSolCal Mobile, kemudian update place, secara
otomatis aplikasi tersebuat akan meng-update tempat dan memunculkan derajat
Lintang Timur dan Bujur Timur.

6|Laporan Praktikum Arah Kiblat


7. Setelah ketemu LT dan BT kemudian dihitung dengan rumus yang ada.
8. Untuk percobaan yang kedua yaitu menggunakan Software Accurate Times untuk
mendapatkan waktu azimuth matahari sama dengan azimuth arah kiblat yang telah
diperoleh.
9. Software Accurate Times dibuka.
10. Klik <Location> <INDONESIA Yogyakarta> (dengan Longitude 110°23’46”E dan
Latitude 7°46’53”S) <OK>. Kemudian Klik <Sun Moon Ephermeris>. (Object :
<Sun>) Start LOCAL Time dan End LOCAL Time diatur dengan (Increment : <1
Minute>). <CALCULATE>.
11. Tunggu beberapa saat dan Data Azimuth pada saat Time & Date tertentu sudah
terbaca.
12. Kemudian, Azimut dan Time & Data nya di cari sesuai perhitungan. Yaitu Azimut
sebesar 294° akan terlihat pada kisaran pukul 15.58-16.00.
13. Kertas, Benang, Pemberat, dan bolpoin digunakan untuk membuat sebuah alat agar
bayangan dapat terlihat jelas secara lurus.
14. Pada saat waktu sudah menunjukkan pukul 15.58, itu artinya sudah waktunya untuk
mengamati bayangan yang terbentuk dari benang dan pemberat tadi.
15. Setelah itu tarik benang berdasarkan bayangan yang dihasilkan. Kemudian hitung
besar sudut pergeseran arah kiblat.
16. Percobaan selesai, alat dan bahan dirapikan kembali.
17. Percobaan diakhiri dengan Hamdallah.

7|Laporan Praktikum Arah Kiblat


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Hasil Praktikum
1. Nilai azimuth arah kiblat 294.7010.

2. Waktu
Dimana, azimuth matahari = azimuth arah kiblat terjadi pada pukul 15:58 – 16:00
WIB.
3. Sudut pergeseran arah kiblat Masjid Al-Hidayah sebesar 21.200.

4. Mundur shaff di Masjid Al-Hidayah 4.9325 m dari shaff sebenarnya.

8|Laporan Praktikum Arah Kiblat


b. Pembahasan
Praktikum penentuan arah kiblat yang telah dilakukan di Masjid Al-Hidayah
Papringan, Depok, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 21 Mei 2017 bertujuan untuk
menentukan azimuth arah kiblat berdasarkan perhitungan dengan menggunakan
software LunaSolCal, menentukan waktu pada saat azimuth matahari sama dengan
azimuth arah kiblat dengan menggunakan Accurate Time serta menentukan sudut
pergeseran arah kiblat dan mundur shaff Masjid Al-Hidayah.
Percobaan ini dilakukan dengan 2 langkah yaitu langkah yang pertama menentukan
azimuth arah kiblat dengan perhitungan menggunakan aplikasi LunaSolCal dan langkah
kedua menentukan waktu azimuth matahari sama dengan azimuth arah kiblat yang telah
diperoleh dengan aplikasi Accurate Time. Azimuth arah kiblat diperoleh dengan cara
perhitungan menggunakan rumus yang telah ditetapkan. Untuk mendapatkan koordinat
lokasi tempat melakukan pengamatan arah kiblat menggunakan aplikasi LunaSolCal
pada android. Waktu azimuth matahari yaitu waktu ketika matahari berada di atas
ka’bah, jadi harus sama dengan azimuth arah kiblat yang telah diperoleh sebelumnya.
Letak dari masjid Al-Hidayah berada pada Longitude 110°23’46”E dan Latitude
7°46’53”S. Dari nilai Longitude dan Latitudenya dapat dihitung waktu azimuth
matahari tepat diatas ka’bah yaitu sebesar 294.7010. Waktu yang diperoleh pada aplikasi
LunaSolCal pada azimuth 294.7010 terjadi pada jam 3:58 - 4:00. Kemudian tepat pada
jam tersebut dilakukan pengamatan dengan menggunakan bantuan sinar matahari.
Dimana sinar yang masuk melalui jendela diberikan benda agar membentuk bayangan
yangmana banyang tersebut disejajrkan dengan benang dari sudut ruangan yang diukur
hingga kesudut ujung yang bersebrangan. Bayangan tersebutlah yang menunjukkan arah
kiblat yang sebenarnya. Kemudian dari jatuhnya bayangan dengan shaff di dalam masjid
diukur nilai perbesaran sudutnya, dan kemudian dapat dihitung berapa besar
kemunduran shaff di masjid Al-Hidayah. Sudut yang terukur yaitu sebesar 21.200 dan
mundur shaff di Masjid Al-Hidayah 4.9325 m dari shaff sebenarnya.
Dapat disimpulkan bahwa arah kiblat di Masjid Al-Hidayah tidak sesuai dengan
hasil penghitungan yang telah dilakukan. Hal ini didapat disebabkan oleh terjadinya
pergeseran lempeng bumi yangmana kita ketahui Indonesia sering terjadi gempa bumi
karena letaknya diantara dua lempeng.

9|Laporan Praktikum Arah Kiblat


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dengan menggunakan software LunaSolCal diperoleh koordinat dari masjid Al-
Hidayah yaitu 110°23’46”E dan 7°46’53”S. Kemudian setelah melakukan
perhitungan diperoleh azimuth arah kiblat nya yaitu 294,701° berada di sekitar arah
Barat Laut.

2. Waktu azimuth matahari sama dengan azimuth arah kiblat yang diperoleh dengan
menggunakan Accurate Time yaitu terjadi pada sekitaran pukul 15.58-16.00.

3. Sudut pergeseran arah kiblat pada Masjid Al-Hidayah sebesar 21,20° dan mundur
shaff sejauh 4,9325 m.

10 | L a p o r a n P r a k t i k u m A r a h K i b l a t
DAFTAR PUSTAKA

Anugraha, Rinto. 2012. Mekanika Benda Langit. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.
https://id.wikipedia.org/wiki/Arah_kiblat (Diakses pada tanggal 23 Mei 2017, pukul 17:33
WIB).
http://id.noblequran.org/quran/surah-al-baqarah/ayat-149/ (Diakses pada tanggal 23 Mei
2017, pukul 18:45 WIB)
http://sains.kompas.com/read/2009/10/28/08505867/Cara.Mencari.Arah.Kiblat (Diakses
pada tanggal 24 Mei 2017, pukul 09:45)

11 | L a p o r a n P r a k t i k u m A r a h K i b l a t
LAMPIRAN

A. Gambar proses pada Accurate Time


1. Halaman Depan 2. Input Lokasi

3. Input objek dan waktu

4. Hasil pada Accurate Time

12 | L a p o r a n P r a k t i k u m A r a h K i b l a t
B. Menarik benang lurus dengan bayangan benda yang terkena sinar matahari.

ARAH DATANGNYA
SINAR MATAHARI

13 | L a p o r a n P r a k t i k u m A r a h K i b l a t
14 | L a p o r a n P r a k t i k u m A r a h K i b l a t