Anda di halaman 1dari 6

Psikoterapi Histirionik

• Pasien dengan gangguan histirionik seringkali tidak menyadari perasaan mereka


yang sesungguhnya, dengan demikian penjelasan dalam (inner feeling) mereka adalah
suatu proses yang penting

• Psikoterapi berorientasi psikoanalisis, baik dalam kelompok atau individual, adalah


terapi yang terpilih untuk gangguan kepribadian histirionik.

 Seperti melatih cara pandang atau pemikiran terhadap permasalahan-permasalahan


yang muncul, termasuk pengontrolan emosi dan perilaku.

Psikoterapi Dependen

• Terapi gangguan dependen sering berhasil

• Yaitu dengan proses kognitif-behavior, dengan menciptakan kemandirian pada


pasien, melatih ketegasan dan menumbuhkan rasa percaya diri

• Terapi perilaku, terapi keluarga dan terapi kelompok semuanya digunakan dengan
keberhasilan pada banyak kasus.

• Contohnya mengajari pasien untuk dapat melakukan pekerjaannya sendiri dan


meyakinkan pasien bahwa dia mampu untuk melakukan pekerjaan tersebut tanpa
bantuan orang lain.

 Psikoterapi Emosi Tak Stabil

• Pendekatan berorientasi realitas lebih efektif dibandingkan interpretasi bawah sadar


secara mendalam

• Terapi perilaku digunakan pada pasien gangguan kepribadian emosi tak stabil untuk
mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan dan untuk menurunkan kepekaan
terhadap kritik dan penolakan

• Seperti latihan keterampilan social, khususnya dengan video, membantu pasien


untuk melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain dan dengan
demikian untuk meningkatkan perilaku interpersonal mereka
COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY (CBT)

DEFINISI

Terapi kognitif perilaku berusaha untuk mengurangi tekanan psikologis


dengan mengoreksi kesalahan konsepsi dan sinyal diri. Dengan mengoreksi
keyakinan yang salah kita dapat menurunkan reaksi berlebihan.

Terapi kognitif perilaku adalah proses mengajar, melatih, dan memperkuat


perilaku positif. Terapi kognitif membantu orang untuk mengidentifikasi pola kognitif
atau pikiran dan emosi itu terkait dengan perilaku.

TUJUAN
Untuk membantu orang mengembangkan flexible, non-extreme, dan self-
helping beliefs yang membantu mereka beradaptasi dengan realitas dan mengejar
tujuan mereka. Serta menekankan pada terapi perilaku. Cognitive behaviour therapy
ini melibatkan identifikasi pikiran, kepercayaan, dan makna yang diaktifkan ketika
seseorang merasa terganggu emosinya.

PRINSIP-PRINSIP
Pemahaman terhadap prinsip-prinsip ini diharapkan dapat mempermudah
pemeriksa dalam memahami konsep, strategi dalam merencanakan proses konseling
dari setiap sesi yang mempengaruhi kebiasaan dan perilaku, serta penerapan teknik-
teknik cognitive behaviour therapy.

Salah satu prinsip-prinsip utama dari cognitive behaviour therapy, yaitu :

1. Terbatas dan waktunya singkat


2. Butuh hubungan terapeutik (hubungan dokter-pasien saat komunikasi harus
menunjukkan gerakan atau pernyataan empatik yang benar, meminta feedback
saat komunikasi dalam membantu mengatasi masalah pasien) dan bersifat
kolaboratif untuk mencapai terapi perilaku kognitif yang berkualitas dan
menentukan pengobatan
3. Memberikan pertanyaan-pertanyaan spesifik untuk mengubah pola pikir
pasien
4. Terapi perilaku kognitif terstruktur, terarah, berorientasi pada masalah
Formulasi kognitif adalah keyakinan dan strategi perilaku yang menjadi ciri
gangguan tertentu.

Konseptualisme adalah pemahaman pasien individu dan keyakinan khusus


pasien atau pola pikir.

Model kognitif adalah cara seorang pasien merasakan suatu situasi lebih erat
huubungannya dengan reaksi mereka daripada reaksi itu sendiri.

Pikiran otomatis adalah sebuah ide yang tampaknya muncu di pikiran dokter.

INDIKASI DENGAN TERAPI PERILAKU KOGNITIF


Gangguan Psikiatri : Gangguan depresi berat, gangguan cemas menyeluruh,
gangguan panik, fobia sosial, obsesif – gangguan kompulsif, penyalahgunaan zat,
gangguan dismorfik tubuh, gangguan kepribadian.

Masalah Psikologi : Masalah pasangan, masalah keluarga, perjudian patologis,


kesedihan yang rumit, kemarahan dan permusuhan.

Masalah Kesehatan dengan Gangguan Psikologi : Nyeri punggung kronis, sakit


kepala migrain, nyeri kanker, sindrom usus yang teriritasi, hipertensi, gangguan
somatoform.

PEMILIHAN PASIEN

Untuk menentukan kesesuaian pasien untuk psikoterapi kelompok, terapis


membutuhkan sejumlah informasi yang dikumpulkan dalam wawancara penapisan.

PERSIAPAN

Persiapan ini terdiri atas penjelasan terapis mengenai prosedur serinci


mungkin dan menjawab pertanyaan pasien, sebelum sesi pertama.

 Jumlah Peserta : Terdiri dari 3 anggota dan paling


banyak 15 orang, dengan jumlah optimal 8-10 orang.
 Frekuensi dan Lama Sesi : Dilaksanakan sekali seminggu tiap sesi.
Dalam tiap sesi berlangsung selama 1 hingga 2 jam tetapi batasan waktu harus
tetap.
 Kelompok Homogen – Heterogen : Pada beberapa terapis anggota dengan
kategori diagnostik yang berbeda serta pola pikir yang beragam, dari semua
ras, tingkat sosial, dan latar pendidikan serta dengan berbagai usia dan jenis
kelamain dikumpulkan bersama untuk memastikan interaksi maksimun. Pada
usia anak dan remaja paling baik diterapi didalam kelompok yang seusia
mereka agar tidak kekurangan pengalaman sebaya yang konstruktif yang
tidak bisa mereka dapatkan.
 Kelompok Terbuka – Tertutup : Kelompok tertutup memiliki angka dan
komposisi pasien yang telah disusun, bila ada anggota yang meninggalkan
kelompok maka tidak akan ada anggota baru. Pada kelompok terbuka
keanggotaan pada kelompok bersifat fleksibel dan anggota baru diambil
kapanpun anggota lama keluar dari kelompok.

Dalam melakukan wawancara, hendaknya kita juga melakukan


observasi secara menyeluruh dengan teliti. Sambil mengajukan
pertanyaan, kita juga mengamati dan turut serta (sebagai participant
observer) dalam proses yang sedang berlangsung pada saat dan situasi
tersebut (“the here and now”). Yang kita amati yaitu :

(1) Apa yang terjadi pada pasien,


(2) Apa yang terjadi pada pewawancara atau terapis sendiri, serta
(3) Apa yang terjadi di antara terapis dan pasiennya.

Dalam berhadapan dengan pasien, dokter atau terapis mempengaruhi


pasien dengan sikap dan perkataannya, dari menit ke menit, saat ke saat.
Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan sebetulnya bukan hanya apa yang
kita bicarakan, tetapi juga bagaimana cara kita melakukannya, kapan (saat
atau waktu yang tepat) kita mengungkapkan hal tertentu yang ingin kita
sampaikan, serta bagaimana hubungan antara si penolong (dokter atau
terapis) dan yang ditolong (pasien) tersebut. Hal-hal tersebut dapat
membuat pasien menjadi lebih tenang atau sebaliknya menjadi tegang,
lebih terbuka atau tertutup, lebih percaya atau pun curiga, sehingga dapat
disimpulkan bahwa selalu ada pengaruh terapeutik maupun
kontraterapeutik, dan tidak pernah netral sama sekali, karena setiap orang
mempunyai latar belakang kepribadian dan pengalaman hidup yang
berbeda-beda, yang mempengaruhi cara pandang, cara berpikir dan
menghayati segala sesuatu. 1,2

Hal yang sebaliknya juga perlu diingat, bahwa wawancara bukan


hanya menghasilkan pengaruh dokter atau terapis atas pasien, namun juga
pengaruh pasien terhadap dokternya. Sang dokter, sadar atau tidak, akan
terpengaruh oleh sikap dan perkataan pasien, yang akan tercermin dalam
sikap, perasaan dan perilakunya sendiri. Dipacu oleh sikap dan perilaku
pasien terhadapnya (ditambah lagi dengan kehidupan fantasinya sendiri),
dokter atau terapis dapat menjadi tenang, tegang, santai, kuatir,
terbuka, tertutup, bosan, sedih, kesal, malu, terangsang, dll.; perasaan-
perasaan tersebut turut menentukan apa yang dikatakannya kepada
pasien (atau tidak dikatakannya) dan bagaimana ia mengatakannya.
Untuk dapat mengatasi hal ini seorang dokter atau terapis perlu belajar
untuk memantau perasaan-perasaan reaktifnya tersebut, agar ucapan-
ucapan dan sikapnya terhadap pasien sedapat-dapatnya beralasan
profesional dan sedikit mungkin tercampur dengan unsur-unsur yang
berasal dari respons emosional subyektifnya sendiri.2

Agar tujuan terapeutik tercapai, hendaknya senantiasa diusahakan agar


dokter dapat menciptakan dan memelihara hubungan yang optimal antara
dokter dan pasien. Dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada
pasien, senantiasa harus dipertimbangkan bilamana dan bagaimana kita
akan menanyakan hal tersebut. Bila konteksnya kurang tepat, misalnya,
pasien justru dapat merasa tersinggung atau dipermalukan oleh pertanyaan
kita (nyata atau tidak nyata), pasien mungkin akan menolak atau
menyangkal, atau akan membuat-buat jawabannya.2

Pasien dibantu agar merasa dirinya diterima, aman dilindungi,


diperhatikan, dibesarkan hatinya dan dikurangi kecemasannya.
Psikoterapi psikoasialitik adalah terapi yang didasarkan pada
rumusan psikoanalitik yang telah dimodifikasi secara konseptual dan
teknik. Tidak seperti psikoanalisis, yang sebagian permasalahan akhirnya
mengungkapkan dan bekerja selanjutnya melalui konflik infantil saat
timbul dalam neurosis transferensi, psikoterapi psikonalitik memusatkan
perhatian pada konflik pasien sekarang dan pola dinamika sekarang yaitu,
analisis masalah pasien dengan orang lain dan dengan dirinya sendiri. Juga
tidak seperti psikoanalisis, yang sebagai tekniknya menggunakan asosiasi
bebas dan analisis neurosis transferensi, psikoterapi psikoanalitik ditandai
dengan teknik wawancara dan diskusi yang jarang menggunakan asosiasi
bebas, Dan sekali lagi tidak seperti psikoanalisis, psikoterapi psikoanalitik
biasanya membatasi kerjanya pada transferensi dengan suatu diskusi reaksi
pasien terhadap dokter pskiatrik dan orang lain.