Anda di halaman 1dari 5

Nama : Kurniawan Bayu Wicaksono

NIM : 142150077

BAB 5
MENGGUNAKAN PERSPEKTIF AKUNTANSI

Pengertian perspektif dalam akuntansi, perspektif merupakan cara pandang tertentu dalam
memahami, mempelajari, dan mempraktikkan akuntansi.Tujuan utama akuntansi adalah mengukur
dan melaporkan kegiatan ekonomi suatu entitas. Namun, akhir-akhir ini tujuan tersebut diperluas pada
kegiatan-kegiatan entitas yang mempengaruhi masyarakat dan lingkungan. Pelaporan suatu organisasi
dibuat lebih dari sekedar melaporkan transaksi-transaksi ekonomi serta nilai aset dan kewajiban. Hal
ini menghasilkan perubahan yang signifikan dalam pelaporan suatu entitas, baik sektor publik maupun
swasta. Perubahan atas fungsi pembuatan laporan menyebabkan munculnya beberapa sudut pandang
akuntansi. Hal tersebut disebabkan banyaknya pengguna laporan keuangan, sehingga menghasilkan
pertanyaan : Sudut pandang mana yang harus digunakan dalam proses akuntansi?
SAC 2 menyebutkan tiga ketegori pengguna, antara lain:
1. Penyedia sumber daya (pemegang saham dan pemberi pinjaman)
2. Penerima barang dan jasa (konsumen)
3. Pihak pengawas entitas (auditor independen, manajemen, pemerintah)

Banyaknya pengguna laporan keuangan telah menyebabkan banyaknya perspektif dalam


pembuatan laporan keuangan.Perspektif akuntansi yang diadopsi oleh entitas mengharuskan adanya
asumsi-asumsi dan prinsip-prinsip mengenai batasan mengenai konsep entitas. Batasan ini dimaknai
sebagai aktifitas diukur dan dilaporkan oleh suatu entitas. Untuk mengukur dan melaporkan sebuah
informasi, aktifitas sebuah entitas harus didefinisikan.
Perumusan mengenai batasan sebuah entitas pelaporan telah berkembang luas untuk menyampaikan
informasi kepada para stakeholders dalam jangkauan yang luas. Informasi ini tidak hanya sekedar
informasi keuangan tetapi juga informasi kualitatif mengenai dampak aktifitas suatu entitas terhadap
masyarakat dan lingkungan. Konsep triple bottom-line dikembangkan oleh John Elkington, yang
berpendapat bahwa seharusnya sebuah bisnis juga mempertimbangkan kemakmuran ekonomi,
kualitas lingkungan, dan keadilan sosial. Konsep ini juga disebut dengan konsep 3P (people, planet,
profit). Orang berfokus pada pentingnya praktik bisnis suatu perusahaan yang mendukung
kepentingan tenaga kerja. Planet (planet) berfokus pada pengelolaan yang baik atas penggunaan
energi yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Profit (keuntungan)
menekankan bahwa keuntungan tidak sekedar perusahaan mendapatkan keuntungan setinggi-
tingginya dengan biaya serendah-rendahnya, tetapi lebih pada penciptaan fair trade dan ethical trade.
Berikut adalah teori-teori yang mendukung berkembangnya persepektif akuntansi:

I. Propietary Theory (Teori Pemilik)


Teori pemilik ini muncul sejak abad kedelapan belas saat beberapa penulis memperkenalkan
logika akuntansi berdasar tujuan sebuah perusahaan, sifat modal, dan pengertian akun dari sudut
pandang pemilik usaha. Seluruh konsep-konsep, prosedur-prosedur, dan pedoman-pedoman dalam
akuntansi disusun berdasar kepentingan pemilik. Sama halnya dengan sebuah perusahaan sebagai
sebuah alat yang digunakan pemilik, para pemegang saham, untuk mencapai tujuan mereka yaitu
meningkatkan kekayaan
Neraca (Balance Sheet)
Akun-akun dalam neraca memberikan penegasan terhadap teori pemilik melalui sebuah persamaan:
A–L=P
A = Asset (aset)
L = Liability (kewajiban)
P = proprietorship (kepemilikan) yang mencerminkan kekayaan bersih pemilik bisnis
Charles Sprague menyimpulkan seluruh tujuan dari kegiatan bisnis adalah untuk meningkatkan
kekayaan, yaitu meningkatkan kepemilikan. Aset merupakan hak pemilik dan kewajiban menjadi
beban pemilik. Tujuan akuntansi adalah menentukan kekayaan bersih pemilik bisnis. Kesimpulan
tersebut menyebabkan beberapa akuntan meyakini bahwa nilai saat ini lebih relevan daripada biaya
historis.

Keuntungan (Profit)
Prinsip kepemilikan (proprietorship) mencakup pendapatan (income) dan biaya (expense).
Pendapatan merupakan kenaikan kepemilikan dan biaya merupakan penurunan kepemilikan.
Keuntungan merupakan peningkatan kekayaan pemilik yang berasal dari operasi bisnis selama
periode tertentu. Saat Teori Pemilik diterapkan, maka peningkatan tersebut harus dicatat.
Efek terhadap Praktik (Effect on Practice)
Praktik akuntansi saat ini didasarkan pada Teori Pemilik. Dividen dipertimbangkan sebagai distribusi
keuntungan dari biaya karena merupakan pembayaran kepada pemilik. Sebaliknya, bunga utang dan
pajak penghasilan dipertimbangkan sebagai biaya karena keduanya mengurangi kekayaan pemilik.
Dalam laporan keuangan konsolidasi, metode perusahaan induk didasarkan pada teori pemilik.
Perusahaan induk dilihat sebagai pemilik anak perusahaan, sehingga dengan pendekatan kepemilikan,
tindakan logis apabila mempertimbangkan penurunan nilai utang anak perusahaan sebagai
keuntungan perusahaan induk.
Konsep Modal Keuangan (Financial Capital Concept)
Teori pemilik melihat tidak ada perbedaan antara aset pemilik dengan aset entitas. Seluruh
keuntungan entitas bisa didistribusikan kepada pemilik perusahaan. Jika entitas membutuhkan
tambahan sumber daya, dana yang diperlukan disediakan oleh pemilik. Sudut pandang teori pemilik
memelihara nilai keuangan dari modal entitas dengan memperhatikan perubahan akun-akun modal.
Dari sudut pandang ini, modal merepresentasikan kas yang diinvestasikan oleh pemilik ditambah
keuntungan yang diinvestasikan kembali pada bisnis. Kebanyakan orang mengadopsi sudut pandang
modal keuangan dan ini merupakan posisi yang diambil dalam praktik akuntansi tradisional.
Modal berhubungan dengan kemampuan untuk menginvestasikan sejumlah uang pada akhir periode
pelaporan dalam jumlah yang sama dengan yang diinvestasikan pada awal periode pelaporan.
Keuntungan merupakan kas yang diterima perusahaan melebihi kas yang diinvestasikan oleh pemilik
perusahaan.
Secara ringkas, sudut pandang kepemilikan memelihara nilai keuangan modal entitas dengan
memperhatikan perubahan akun.

Pembatasan-pembatasan
Sudut pandang teori pemilik dikembangkan saat bisnis masih sederhana, kebanyakan masih berbentuk
perusahaan perorangan dan persekutuan komanditer (partnership). Tetapi, dalam perkembangan lebih
lanjut terbukti bahwa teori ini tidak memadai sebagai basis untuk menjelaskan akuntansi perusahaan.
Secara hukum, perusahaan merupakan entitas yang berbeda dari pemilik, baik hak maupun
kewajibannya. Perusahaanlah yang menguasai aset dan terbebani utang-utang, bukannya
pemilik/pemegang saham.

II. Entity Theory


Teori Entitas dirumuskan sebagai respon dari Teori Pemilik yang berkonsentrasi pada status
yang terpisah dari suatu perusahaan. Teori ini dimulai dengan fakta bahwa perusahaan merupakan
entitas terpisah dan perusahaan memiliki identitas sendiri.

Martin menguraikan dua asumsi yang berhubungan mewujudkan ide dari entitas akuntansi:

Pemisahan, untuk kepentingan akuntansi, perusahaan dipisahkan dari pemiliknya.

Sudut pandang, prosedur akuntansi dilakukan dari sudut pandang entitas.


Meski teori entitas sesuai untuk akuntansi dari korporasi, pendukungnya percaya bahwa teori
ini dapat digunakan untuk proprietorship, partnership, dan bahkan organisasi non-profit, asalkan:
Akun dan transaksinya diklasifikasikan dan dianalisa dari sudut pandang entitas sebagai unit operasi.
Prinsip akuntansi dan prosedurnya diformulasikan sebagai single interest seperti pada proprietorship.
Pandangan Teori Entitas
Pandangan lama mengatakan bahwa bisnis perusahaan beroperasi untuk keuntungan dari pemegang
saham, menyediakan dana untuk entitas. Oleh karena itu entitas harus melaporkan kepada pemegang
saham tentang status dan konsekuensi dari investasi mereka.
Sedangkan pandangan yang baru tentang teori entitas ini menginterpretasikan entitas sebagai bisnis
itu sendiri dan tertarik pada kelangsungan hidupnya. Karena ini lebih konsen pada kelangsungan
hidup, entitas bisnis melaporkan kepada pemegang saham dalam rangka memenuhi ketentuan hukum
dan untuk menjaga hubungan baik dengan hal mereka dalam memerlukan dana di masa depan.

Neraca
Kekayaan bersih tidak begitu berarti dalam konsep ini, karena entitas merupakan pusat
perhatian. Pemilik dan kreditor pemilik dan kreditur dipandang sebagai pemegang ekuitas, yaitu
penyedia dana. Persamaan akuntansinya adalah :
Aset = Ekuitas

Laba
Penekanan ada pada penentuan keuntungan dan laporan laba rugi adalah lebih relevan
daripada neraca.
Laba ditekankan untuk dua alasan:
Pemegang saham tertarik pada laba, karena jumlah ini menunjukan hasil dari investasi pada suatu
periode.
Alasan kenapa perusahaan tetap ada adalah untuk menciptakan laba.
Laba adalah sesuatu yang dihasilkan oleh perusahaan. Sebenarnya laba pada teori entitas harus di
definisikan dari perubahan asset bersih perusahaan dari pada "modal". Ditekankan pada pendapatan
dan biaya: keuntungan hanyalah perbedaan.

Konsep Modal Fisik (Physical Capital Concept)


Konsep modal fisik berkaitan dengan teori entitas, entitas harus mempertahankan kapasitas
operasi fisik perusahaan dalam menghasilkan barang dan/atau jasa. Entitas perlu memiliki
kemampuan untuk mencapai level fisik yang sama dari produksi pada akhir periode seperti pada
awalnya.
Pada konsep ini, pemeliharaan modal meliputi memelihara kapasitas operasi perusahaan untuk
menggantikan asset yang dimiliki perusahaan pada awal periode.

III. Fund Theory

Konsep teori ini menganggap bahwa entitas merupakan sebuah unit dana, di mana kewajiban
tertentu ditetapkan sebagai batasan-batasan terhadap pengguna aset. Menurut konsep teori ini,
persamaan akuntansi adalah sebagai berikut:
Aktiva = Pembatasan

Konsep teori ini berorientasi pada laporan sumber dana dan penggunaan dana, yaitu laporan yang
menggambarkan dari mana saja sumber dana diperoleh dan untuk apa saja dana dikeluarkan.
Dalam Teori Dana, neraca dianggap sebagai 'inventory statement' dari aset dan batasan-batasan yang
berlaku untuk aset. Penyusunan informasi dan metode penilaian akan bervariasi tergantung pada
tujuan digunakannya neraca. Sebagai contoh, sebuah neraca untuk tujuan kredit akan berbeda dari
yang disajikan kepada pemegang saham.
Pendapatan merupakan kenaikan aset pada dana yang benar-benar bebas dari pembatasan ekuitas
selain pembatasan akhir yang dikenakan oleh ekuitas residual.
Beban adalah pemberian layanan untuk tujuan tertentu yang ditentukan dalam tujuan dana. Definisi
ini mencakup konsep 'biaya yang menghasilkan pendapatan', dalam pengertian yang lebih luas juga
berlaku bagi organisasi nirlaba juga.

Arus Kas
Beberapa studi empiris menunjukkan bahwa arus kas kurang berkaitan dengan laba yang
dilaporkan daripada dana dari operasi. Arus kas lebih baik dalam memprediksikan arus kas yang
sebenarnya daripada yang melaporkan laba atau dana dari operasi

Prinsip utama yang ditetapkan untuk penyusunan laporan arus kas adalah sebagai berikut:
a. Aktifitas Operasi (Operating Activities
b. Aktifitas Investasi (Investing Activities)
c. Aktifitas Pendanaan (Financing Activities)

IV. Commander Theory


Dalam konsep teori ini, yang menjadi pusat perhatian dari penyajian informasi akuntansi
bukan pada pemilik maupun entitas, melainkan pada pihak-pihak yang memiliki kekuasaan atau
wewenang untuk melakukan pengendalian ekonomi secara efektif atas sumber daya perusahaan.
Penekanan informasi menurut konsep teori ini adalah pada pertanggungjawaban atau stewardship.
Pada dasarnya pemilik tunggal perusahaan adalah commander, sedangkan dalam sebuah
perusahaan besar, pemegang saham adalah bagian pemilik perusahaan, tapi dia tidak menguasai
sumber daya perusahaan. Komando atas sumber daya perusahaan hirarkinya ada di tangan komandan,
yang disebut 'commander' oleh Goldberg.

V. Investor Theory
Berdasarkan tujuan akuntansi yaitu memberikan informasi kepada pemasok modal, Staubus
berpendapat bahwa fungsi akuntansi dan laporan keuangan harus mengambil sudut pandang investor.
Investor adalah pemegang saham dan kreditur. Persamaan akuntansi dalam teori ini adalah:
Aset = Ekuitas spesifik + Ekuitas residual
Ekuitas spesifik adalah kewajiban dan saham preferen. Hanya dalam hal ekuitas saham biasa
dihapuskan ekuitas saham preferen akan menjadi ekuitas residual. Persamaan akuntansi ini
mengungkapkan ketergantungan ekuitas residual pada nilai-nilai aset dan ekuitas spesifik.
Investor menginginkan informasi untuk memprediksi penerimaan kas masa depan sebagai hasil dari
hubungan mereka dengan perusahaan tertentu.

VI. Enterprise Theory (Teori perusahaan)


Teori ini memandang perusahaan sebagai lembaga sosial dimana keputusan yang dibuat
mempengaruhi beberapa pihak yang berkepentingan. Pihak tersebut adalah pemegang saham,
karyawan, kreditor, pelanggan, berbagai lembaga pemerintah, dan masyarakat. Konsep perusahaan
lebih luas daripada entitas, karena melihat perusahaan memiliki peran dalam masyarakat, sedangkan
teori entitas memandang perusahaan sebagai sebuah badan yang berusaha untuk memperoleh
keuntungan. Suojanen berpendapat bahwa manajemen saat ini tidak menganggap dirinya hanya
sebagai wakil dari pemegang saham, tetapi sebagai pelindung perusahaan, bertanggung jawab untuk
kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan. Dengan demikian, manajer melakukan fungsi
meditatif diantara berbagai pihak yang berkepentingan.
Keuntungan Nilai Tambah
Sebagai lembaga sosial, perusahaan besar harus dievaluasi dari segi tanggung jawabnya, seperti yang
disebutkan sebelumnya, yang berhubungan dengan output, karena ini adalah kontribusinya kepada
masyarakat. Suojanen percaya bahwa pendekatan nilai-tambah terhadap penghasilan adalah yang
terbaik mengungkapkan kontribusi ini. Idenya adalah menentukan nilai yang diciptakan oleh
perusahaan dalam suatu periode tertentu. Suojanen mengusulkan pernyataan tambahan untuk
mengungkapkan nilai-tambah penghasilan dan sumber atau distribusi antara para peserta dari
perusahaan yaitu berupa laporan nilai tambah.
Pernyataan nilai-tambah menunjukkan aliran barang yang dijual, kontribusi perusahaan kepada
masyarakat, diimbangi dengan aliran pendapatan dalam arah yang berlawanan ke berbagai penerima.
Nilai penjualan perusahaan adalah pendapatan ke sejumlah pihak di masyarakat.
Implikasi
Teori Perusahaan adalah pelopor dari konsep akuntansi sosial, dimana laporan laba rugi sosial
adalah turunannya. Sudut pandangnya adalah dari kelompok peserta yang memperoleh pendapatan
melalui usaha gabungan mereka di perusahaan. Sudut pandang ini berfokus pada kebutuhan bagi
mereka peserta untuk bekerja sama jika perusahaan ingin bertahan dan terus menciptakan penghasilan
bagi mereka. Meskipun Teori Perusahaan bertentangan dengan pandangan tradisional bahwa
pendapatan bisnis untuk pemilik, ini mungkin teori dimana waktu yang akan menjawabnya.
Konsep Nilai Deprival
Dalam konsep nilai deprival, aset dinilai dari jumlah yang mewakili kerugian yang mungkin terjadi
yang harus dikeluarkan oleh suatu entitas jika entitas kehilangan potensi jasa atau manfaat ekonomi
masa depan dari aset tersebut pada tanggal pelaporan.
Sehingga nilai entitas dalam banyak kasus akan diukur oleh biaya penggantian jasa atau manfaat saat
ini yang diwujudkan dalam bentuk aset, mengingat bahwa nilai deprival biasanya akan mewakili
biaya dihindari sebagai akibat dari pengendalian aset dan biaya penggantian merupakan jumlah kas
yang dibutuhkan untuk memperoleh aset setara atau identik.
Dalam kasus di mana dinyatakan bahwa aset tidak dapat diganti, aset harus dinilai pada nilai bersih
sekarang (net present value) dari arus kas yang diharapkan dari penggunaan terus menerus dan
pembuangan selanjutnya dari aset.