Anda di halaman 1dari 7

Epidemiologi Karies

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari keadaan kesehatan dan penyakit suatu
kelompokmasyarakat (populasi), bukan pada individu. Ahli epidemiologi menyatakan frekuensi
dan keparahanmasalah kesehatan dengan menghubungkannya pada faktor umum, jenis kelamin,
geografi, sukubangsa, keadaan ekonomi, nutrisi dan dietnya. Masalahnya dilihat secara
menyeluruh yang akanmenjabarkan besarnya persoalan tersebut, mempelajari penyebabnya, dan
memperhitungkanketepatan strategi pencegahan dan penatalaksanaannya.

A.Pengukuran keaktivan karies


Dalam mempelajari setiap penyakit, ahli epidemiologi akan melihat baik prevalensi
maupuninsidennya. Prevalensi adalah bagian dari suatu keadaan pada kurun waktu tertentu.
Sedangkaninsidens adalah pengukuran tingkat kemajuan suatu penyakit. Oleh karena itu untuk
mengukurinsidens dibutuhkan dua pemeriksaan: satu pada permulaan dan satu pada akhir kurun
waktutertentu. Dengan demikian insidens adalah peningkatan atau penurunan jumlah kasus baru
yangterjadi pada suatu kelompok masyarakat pada suatu kurun waktu tertentu.Sebelum insidens
dan prevalensi dapat diukur, diperlukan pengukuran kuantitatif lebih dahuluyang akan
mencerminkan besarnya penyebaran penyakit pada suatu populasi.Pada suatu karies, pengukuran
penyakit akan meliputi:
 Jumlah gigi karies yang tidak diobati (D)2.
 Jumlah gigi yang telah dicabut dan tidak ada (M)3.

Jumlah gigi yang ditambalPengukuran ini dikenal sebagai indeks DMF dan merupakan
indeks aritmetika penyebaran kariesyang kumulatif pada suatu kelompok masyarakat. DMF (T)
digunakan untuk mengemukakan gigikaries, hilang, dan ditambal ; sementara DMF (S)
menyatakan gigi karies hilang dan permukaangigi yang ditambal pada gigi permanen, sehingga
jumlah permukaan gigi yang terserang kariesharus diperhitungkan. Indeks yang sama bagi gigi
sulung adalah def (t) dan def (s) dimana emenunjukkan jumlah gigi yang dicabut ( bukan hilang
karena tanggal secara alamiah) dan f menunjukkan gigi atau permukaan gigi yang ditambal.B.
Masalah praktis dalam indeks DMF dan def Ada masalah cukup serius dalam
penggunaan indeks ini. Pada anak-anak muda, hilangnya gigi-gigi sulung bisa jadi disebabkan
oleh karena tanggal secara alamiah yang harus dibedakandengan yang hilang karena karies.
Selain karena karies, gigi bisa tetap hilang karena trauma,pencabutan untuk perawatan ortodonti
atau demi kepentingan pembuatan gigi palsu, dankarena penyakit periodontium. Sementara
molar tiga sering dicabut karena tidak cukupnyaruangan pada lengkung rahang. Dalam hal
seperti di atas, gigi hilang bisa diabaikan dariperhitungan indeks dan hanya gigi karies serta yang
ditambal saja yang diperhitungkan.

Ahli epidemiologi mengalami hambatan cukup banyak dalam menetapkan


standarisasipmeriksaan dan teknik pencatatannya. Selama percobaan klinik diagnosis akan
dicobaditegakkan dan diperiksa ulang sehingga diperoleh keyakinan bahwa standarisasi
pemeriksaandan pencatatannya sudaah cukup baik.

B.Perkembangan terakhir prevalensi karies


1. Distribusi Frekuensi
Masalah karies gigi masih mendapat perhatian karena sampai sekarang penyakit tersebut
masihmenduduki urutan tertinggi dalam masalah penyakit gigi dan mulut, yaitu penyakit
tertinggi keenamyang dikeluhkan masyarakat Indonesia dan menempati urutan keempat penyakit
termahal dalampengobatan. Berdasarkan survey kesehatan gigi yang dilakukan oleh Direktorat
Kesehatan GigiDepartemen Kesehatan RI pada tahun 1994, ternyata jumlah masyarakat yang
berkunjung maupunpasien yang dirujuk ke rumah sakit karena menderita penyakit gigi dan mulut
akibat karies gigimenduduki jumlah terbesar yaitu 53,05%. Karies merupakan penyakit yang
paling sering dijumpai dirongga mulut, di Indonesia lebih dari 90% penduduknya menderita
karies. Karies gigi merupakanpenyakit kronis, mengalami proses kerusakan jaringan yang bila
dibiarkan berlanjut akan menyebabkankehilangan gigi yang terkena karies tersebut.Status karies
gigi menurut karakteristik penduduk Indonesia (Profil Kesehatan Gigi dan Mulut Tahun1999):

a. Prevalensi karies berdasarkan jenis kelamin : Laki-laki (90,05%) dan Perempuan


(91,67%)
b. Prevalensi karies berdasarkan daerah : Urban (91,06%) dan Rural (90,84%)
c. Prevalensi karies berdasarkan pulau : Jawa dan Bali (86,59%), Sumatera (94,41%),
Kalimantan(94,85%), Sulawesi (99,28%)
d. Prevalensi karies berdasarkan umur : 12 tahun (76,62%), 15 tahun (89,38%), 18
tahun(83,50%), 35-44 tahun (94,56%), dan 65 tahun ke atas (98,57%).

Karies gigi menyerang semuatingkatan usia dan semua ras dari seluruh tempat di dunia.
Sehingga karies gigi telah menjadimasalah umum masyarakat, universal dan perlu mendapat
perhatian yang serius karenaprevalensinya yang cepat meningkat di banyak negara. Penelitian
Greene dan Suomi (1997)menunjukkan bahwa di kebanyakan negara berkembang, lebih dari
95% penduduknya terkenakaries. Menurut penelitian Natamiharja tahun 1998 yang dikutip oleh
Rusiawati (2002) padaanak usia 6-13 tahun di 2 SD di Medan terdapat anak dengan karies pada
molar pertama 49,69%dan molar kedua 42,92% sedangkan murid bebas karies 7,39%.Hasil
penelitian Nurmala Situmorang (2004) di 2 Kecamatan Kota Medan menyatakan bahwa
statuskesehatan gigi dan mulut penduduk masih buruk. Hal ini dapat dilihat dari tingginya
prevalensi karies gigi dengan DMF-T; 80,83% responden mempunyai gigi dengan lesi karies;
50,83% responden gigidicabut dan hanya 21,11% gigi ditambal. Berdasarkan penelitian Al-
Malik (2006) di Saudi Arabia, dari300 sampel anak-anak dengan usia 6-7 tahun terdapat 288
anak (96%) terkena karies gigi, dan hanya 12orang (4%) yang tidak terkena karies gigi. Dari 288
sampel yang terkena karies tersebut terdapat 146(50,7%) laki-laki dan 142 (49,3%)
perempuan.Penyakit gigi dan mulut di mana karies gigi termasuk didalamnya menempati
peringkat ke empat penyakit termahal dalam hal pengobatan.

2. Determinan (Faktor-faktor yang Mempengaruhi)


Selain faktor langsung (etiologi), juga terdapat faktor-faktor tidak langsung yang disebut
sebagai faktorresiko luar, yang merupakan faktor predisposisis dan faktor penghambat terjadinya
karies yaitu umur, jenis kelamin, sosial ekonomi, penggunaan fluor, jumlah bakteri, dan perilaku
yang berhubungan dengankesehatan gigi. Perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan mulut
khususnya karies tidak terlepas darikebiasaan merokok/penggunaan tembakau, konsumsi
alkohol, kebersihan rongga mulut yang tidak baikdan diet makanan.
a. Umur
Hasil studi menunjukkan bahwa lesi karies dimulai lebih sering pada umur yang spesifik.
Hal ini berlakuterutama sekali pada umur anak-anak namun juga pada orang dewasa. Kelompok
umur berisikotersebut adalah:
1. Umur 1-2 tahunStudi oleh Kohleret all (1978,1982), bahwa pada ibu-ibu dengan saliva
yangmengandung banyak Streptococcus mutans sering menularkannya kepada
bayi merekasegera setelah gigi susunya tumbuh, hal ini menyebabkan tingginya
kerentananterhadap karies.
2. Umur 5-7 tahunStudi oleh Carvalhoet all (1989) menunjukkan bahwa pada masa ini
permukaan oklusal (kunyah) gigi molar pertama sedang berkembang, pada masa ini gigi
rentan kariessampai maturasi kedua (pematangan jaringan gigi) selesai selama 2 tahun.
3. Umur 11-14 tahunMerupakan usia pertama kali dengan gigi permanen keseluruhan. Pada
masa ini gigimolar kedua rentan terhadap karies sampai maturasi kedua selesai.
4. Umur 19-22 tahunAdalah kelompok umur berisiko pada usia remaja. Pada masa ini gigi
molar ke tigarentan karies sampai maturasi keduanya selesai. Di usia ini pula biasanya
orang-orangmeninggalkan rumah untuk belajar atau bekerja di tempat lain, yang
selanjutnya dapatmenyebabkan perubahan tidak hanya gaya hidup tapi juga pada
kebiasaan makan danmenjaga kebersihan mulut.

b. Jenis Kelamin

Dari pengamatan yang dilakukan Milhann-Turkeheim pada gigi M1, didapat hasil bahwa
persentasekaries gigi pada wanita adalah lebih tinggi dibanding pria. Selama masa kanak-kanak
dan remaja, wanitamenunjukkan nilai DMF yang lebih tinggi daripada pria. Walaupun demikian,
umumnya oral higienewanita lebih baik sehingga komponen gigi yang hilang (M=Missing) lebih
sedikit.

c. Sosial Ekonomi
Karies dijumpai lebih rendah pada kelompok sosial ekonomi rendah dan sebaliknya. Hal
ini dikaitkandengan lebih besarnya minat hidup sehat pada kelompok sosial ekonomi tinggi
Menurut Tirthankar(2002), ada dua faktor sosial ekonomi yaitu pekerjaan dan pendidikan.
Pendidikan adalah faktor keduaterbesar yang mempengaruhi status kesehatan. Seseorang yang
mempunyai tingkat pendidikan tinggiakan memiliki pengetahuan dan sikap yang baik tentang
kesehatan sehingga akan mempengaruhiperilakunya untuk hidup sehat. Dalam penelitiannya,
Paulander, Axelsson dan Lindhe (2003) melaporkan jumlah gigi yang tinggal di rongga mulut
pada usia 35 tahun sebesar 26,6% pada pendidikan tinggisedangkan pada pendidikan rendah
sebesar 25,8%. Hasil penelitian Sondang Pintauli dkk, dijumpai DMF-T rata-rata sebesar
7,63 dengan DMF-T rata-rata lebih rendah pada ibu-ibu rumah tangga dengantingkat pendidikan
tinggi bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan menengah dan tingkatpendidikan rendah

d. Penggunaan Fluor
Menurut Rugg-Gunn (2000) di Inggris menyatakan bahwa penggunaan fluor sangat
efektif untukmenurunkan prevalensi karies, walaupun penggunaan fluor tidaklah merupakan
satusatunya caramencegah gigi berlubang. Demikian halnya penelitian yang dilakukan Dr.
Trendly Dean dilaporkanbahwa ada hubungan timbal balik antara konsentrasi fluor dalam air
minum dengan prevalensi karies.Penelitian epidemiologi Dean ditandai dengan perlindungan
terhadap karies secara optimum danterjadinya mottled enamel (keadaan email yang berbintik-bintik
putih, kuning, atau coklat akibatkelebihan fluor/fluorosis) yang minimal apabila konsentrasi fluor
kurang dari 1 ppm. Dari pengamatan yang dilakukan Milhann-Turkeheim pada gigi M1, didapat
hasil bahwa persentasekaries gigi pada wanita adalah lebih tinggi dibanding pria. Selama masa
kanak-kanak dan remaja, wanitamenunjukkan nilai DMF yang lebih tinggi daripada pria.
Walaupun demikian, umumnya oral higienewanita lebih baik sehingga komponen gigi yang
hilang (M=Missing) lebih sedikit.

c. Sosial Ekonomi
Karies dijumpai lebih rendah pada kelompok sosial ekonomi rendah dan sebaliknya. Hal
ini dikaitkandengan lebih besarnya minat hidup sehat pada kelompok sosial ekonomi tinggi
Menurut Tirthankar(2002), ada dua faktor sosial ekonomi yaitu pekerjaan dan pendidikan.
Pendidikan adalah faktor keduaterbesar yang mempengaruhi status kesehatan. Seseorang yang
mempunyai tingkat pendidikan tinggiakan memiliki pengetahuan dan sikap yang baik tentang
kesehatan sehingga akan mempengaruhiperilakunya untuk hidup sehat. Dalam penelitiannya,
Paulander, Axelsson dan Lindhe (2003) melaporkan jumlah gigi yang tinggal di rongga mulut
pada usia 35 tahun sebesar 26,6% pada pendidikan tinggisedangkan pada pendidikan rendah
sebesar 25,8%. Hasil penelitian Sondang Pintauli dkk, dijumpai DMF-T rata-rata sebesar
7,63 dengan DMF-T rata-rata lebih rendah pada ibu-ibu rumah tangga dengantingkat pendidikan
tinggi bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan menengah dan tingkatpendidikan rendah.

d. Penggunaan Fluor
Menurut Rugg-Gunn (2000) di Inggris menyatakan bahwa penggunaan fluor sangat
efektif untukmenurunkan prevalensi karies, walaupun penggunaan fluor tidaklah merupakan
satusatunya caramencegah gigi berlubang. Demikian halnya penelitian yang dilakukan Dr.
Trendly Dean dilaporkanbahwa ada hubungan timbal balik antara konsentrasi fluor dalam air
minum dengan prevalensi karies.Penelitian epidemiologi Dean ditandai dengan perlindungan
terhadap karies secara optimum danterjadinya mottled enamel (keadaan email yang berbintik-bintik
putih, kuning, atau coklat akibatkelebihan fluor/fluorosis) yang minimal apabila konsentrasi fluor
kurang dari 1 ppm.

e. Pola Makan
Setiap kali seseorang mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung
karbohidrat, makabeberapa bakteri penyebab karies di rongga mulut akan mulai memproduksi
asam sehingga pH salivamenurun dan terjadi demineralisasi yang berlangsung selama 20-30
menit setelah makan. Di antaraperiode makan, saliva akan bekerja menetralisir asam dan
membantu proses remineralisasi. Namun,apabila makanan berkarbonat terlalu sering dikonsumsi,
maka email gigi tidak akan mempunyaikesempatan untuk melakukan remineralisasi dengan
sempurna sehingga terjadi karies. Misalnya, derajatpenderita karies gigi di Palembang relatif
tinggi. Salah satu penyebabnya adalah makanan yangberpotensi menimbulkan kerusakan gigi,
yaitu empek- empek. Empek-empek terbuat dari sagu, sehingga mengandung karbohidrat dan zat
gula. Karbohidrat yangtinggi akan membuat karang gigi menjadi tebal. Kandungan cuka dalam
cairan yang ditambahkan padaempek-empek juga tidak bagus untuk gigi, khususnya juga untuk
anak di bawah usia delapan tahun.Kandungan fluor dalam gigi anak usia di bawah delapan tahun
belum kuat menahan cuka.35

f. Kebersihan Mulut (Oral Higiene)


Sebagaimana diketahui bahwa salah satu komponen dalam pembentukan karies adalah
plak. Telahdicoba membandingkan insidens karies gigi selama 2 tahun pada 429 orang
mahasiswa yang menyikatgiginya dengan teratur setiap habis makan dengan mahasiswa yng
menyikat giginya pada waktu banguntidur dan malam pada waktu sebelum tidur, ternyata
bahwa golongan mahasiswa yang menyikat giginyasecara teratur rata-rata 41% lebih sedikit
kariesnya dibandingkan dengan golongan lainnya.

g. Merokok
Nicotine yang dihasilkan oleh tembakau dalam rokok dapat menekan aliran saliva, yang
menyebabkanaktivitas karies meningkat. Dalam hal ini karies ditemukan lebih tinggi pada
perokok dibandingkandengan bukan perokok.