Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

Juni 2018

NEURITIS OPTIK

OLEH:
Putri Iffah Musyahrofah
G1A216097

Pembimbing:
dr. Vonna Riasari, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA RSUD H. ABDUL MANAF
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2018

i
LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT

NEURITIS OPTIK

Oleh:

Putri Iffah Musyahrofah G1A216097

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA RSUD H. ABDUL MANAF
/FKIK UNJA
TAHUN 2018

Jambi, Juni 2018


Pembimbing

dr. Vonna Riasari, Sp.M

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan referat yang berjudul “NEURITIS
OPTIK” untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata, Fakultas
Kedokteran Universitas Jambi di Rumah Sakit H. Abdul Manaf.

Dalam kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih kepada dr.


Vonna Riasari, Sp.M selaku konsulen ilmu mata yang telah membimbing dalam
mengerjakan referat ini sehingga dapat diselesaikan tepat waktu.

Dengan referat ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi penulis


dan orang banyak yang membacanya terutama mengenai masalah Neuritis Optik.
Saya menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saya
harapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan yang akan datang.

Jambi, Juni 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN.............………………………………………….....ii
KATA PENGANTAR..................………………………………………….......iii
DAFTAR ISI.................................………………………………………….......iv
BAB I PENDAHULUAN.............…………………………………………........1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..…………………………………………...... 2
2.1 Anatomi dan Fisiologi...............................................................................2
2.2 Definisi dan Klasifikasi............................................................................8
2.3 Epidemiologi............................................................................................8
2.4 Etiologi.....................................................................................................9
2.5 Patogenesis...............................................................................................10
2.6 Gejala dan Tanda.....................................................................................11
2.7 Diagnosis..................................................................................................13
2.8 Diagnosis Banding...................................................................................15
2.9 Penatalaksanaan.......................................................................................17
2.10 Komplikasi.............................................................................................19
2.11 Prognosis................................................................................................19
BAB III KESIMPULAN………………………………………..........................21
DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Mata merupakan organ yang mengandung reseptor penglihatan pada

salah satu bagiannnya yang disebut retina. Retina merupakan reseptor permukaan

untuk informasi visual. Sebagaimana ditunjukan oleh asal embriologis umum,

retina dan jaras-jaras penglihatan anterior (nervus optikus, kiasma optikus dan

traktus optikus) merupakan bagian dari kesatuan otak yang utuh, yang

menyediakan sebagian besar input sensoris total.

Retina dan jaras-jaras penglihatan anterior sering memberi petunjuk

diagnostik penting untuk berbagai gangguan sistem saraf pusat. Penyakit

intrakranial sering menyebabkan gangguan penglihatan karena adanya kerusakan

atau tekanan pada salah satu bagian dari jaras-jaras optikus. Pada pembahasan ini

akan dijelaskan kerusakan yang mengenai nervus optikus karena peradangan.

Neuritis optik adalah peradangan atau demielinisasi saraf optikus akibat

berbagai macam penyakit. Neuritis optik diklasifikasikan menjadi dua yaitu

papilitis dan neuritis retrobulbar. Papilitis adalah pembengkakan diskus yang

disebabkan oleh peradangan lokal di nervus saraf optik intraokular dan dapat

terlihat dengan pemeriksaan funduskopi. Sedangkan tipe neuritis retrobulbar

merupakan suatu peradangan di nervus saraf optik ekstraokular/intraorbital yang

terletak pada bagian belakang bola mata, sehingga tidak tampak kelainan diskus

optik dengan oftalmoskop, tetapi terjadi penurunan tajam penglihatan.1,2

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI

2.1.1 Lapisan Retina

Gambar 1. Lapisan retina

Komponen yang paling utama dari retina adalah sel-sel reseptor

sensoris atau fotoreseptor dan beberapa jenis neuron dari jaras

penglihatan. Lapisan terdalam (neuron pertama) retina mengandung

fotoreseptor (sel batang dan sel kerucut) dan dua lapisan yang lebih

superfisial mengandung neuron bipolar (lapisan neuron kedua) serta sel-

sel ganglion (lapisan neuron ketiga).1,2,3

Sel batang berfungsi dalam proses penglihatan redup dan gerakan

sementara sel kerucut berperan dalam fungsi penglihatan terang,

2
penglihatan warna, dan ketajaman penglihatan. Sel batang memiliki

sensitivitas cahaya yang lebih tinggi daripada sel kerucut dan berfungsi

pada penglihatan perifer. Sel kerucut mampu membedakan warna dan

memiliki fungsi penglihatan sentral. Badan sel dari reseptor-reseptor

inimengeluarkan tonjolan (prosesus) yang bersinaps dengan sel-sel

ganglion retina. Akson sel-sel ganglion membentuk lapisan serat saraf

pada retina dan menyatu membentuk saraf optikus.1,3

2.1.2 Nervus Optikus

Gambar 2. Jaras nervus optikus

Nervus optikus bermula dari optik disk dan berlanjut sampai ke

kiasmaoptikum, dimana ke dua nervus tersebut menyatu. Lebih awal lagi

merupakan kelanjutan dari lapisan neuron retina, yang terdiri dari axon-

axon dari sel ganglion. Serat ini juga mengandung serat aferen untuk

reflex pupil. Secara morfologi dan embriologi, neuritis optikus merupakan

3
saraf sensorik. Tidak seperti saraf perifer nervus optikus tidak dilapisi oleh

neurilema sehingga tidak dapat beregenerasi jika terpotong. Serat nervus

optikus mengandung 1,0-1,2 juta seratsaraf.4

Bagian nervus optikus

Nervus optikus memiliki panjang sekitar 47-50 mm, dan dapat di

bagi mejadi 4bagian :

 Intraocular (1 mm) : menembus sklera (lamina kribrosa), koroid

dan masuk ke mata sebagai papil disk.

 Intraorbital (30 mm) : memanjang dari belakang mata sampai ke

foramenoptik. Lebih ke posterior, dekat dengan foramen optik,

dikelilingi oleh annuluszinn dan origo dari ke empat otot rektus.

Sebagian serat otot rektus superior berhubungan dengan selubung

saraf nervus optikus dan berhubungan dengan sensasi nyeri saat

menggerakkan mata pada neuritis retrobulbar. Secara anterior,

nervus ini dipidahkan dari otot mata oleh lemak orbital.

 Intrakanalikular (6-9 mm) : sangat dekat dengan arteri oftalmika

yang berjalaninferolateral dan melintasi secara oblik, dan ketika

memasuki mata dari sebelah medial. Ini juga menjelaskan kaitan

sinusitis dengan neuritis retrobulbar.

 Intrakranial (10 mm) : melintas di atas sinus kavernosus kemudian

menyatu membentuk kiasma optikum.1, 4

4
Selubung meningeal

Piamater, arachnoid, dan duramater melapisi otak dan berlanjut

ke nervus optikus. Di kanalis optik dura mater menempel langsung ke

tulang sekitarnya. Ruang subarachnoid dan ruang subdural merupakan

kelanjutan dari bagian otak juga.1, 4

Vaskularisasi nervus optikus

Permukaan optic disk didarahi oleh kapiler-kapiler dari arteri

retina.Daerah prelaminar terutama di suplai dari sentripetal cabang cabang

dari peripapilari koroid dan sebagian kontribusi dari pembuluh darah dari

laminacribrosa.1, 4

Lamina kribrosa disuplai dari cabang arteri siliaris posterior dan

arteri circle of zinn. Bagian retrolaminar nervus optikus di suplai dari

sentrifugal cabang-cabang arteri retina sentral dan sentripetal cabang-

cabang pleksus yang dibentuk dariarteri koroidal, circle of zinn, arteri

retina sentral, dan arteri oftalmika. 1, 4

Gambar 3. Vaskularisasi Nervus Optikus

5
2.1.3 Lesi Saraf Optik

Ditandai dengan hilangnya penglihatan atau kebutaan lengkap

pada sisi yang terkena dengan hilang nya refleks cahaya langsung pada

sisi ipsilateral dan reflek tidak langsung pada sisi kontralateral.3, 4

Penyebab umum dari lesi saraf optik adalah: optik atrofi, trauma

padasaraf optik, neuropati optik, dan neuritis optikus akut.

Gambar 4. Defek Visual

Lesi melalui bagian proksimal saraf optik

Gambaran penting dari lesi tersebut yaitu hemianopsia ipsilateral

dan kontralateral, hilangnya refleks cahaya langsung pada sisi yang

terkenadan reflek cahaya tidak langsung pada sisi kontralateral.1, 3, 4

Lesi kiasma sentral

Dicirikan oleh hemianopsia bitemporal dan kelumpuhan refleks

pupil. Biasanya didahului oleh atrofi optik pada sebagian akhir nervus

optikus. Penyebab umum lesi kiasma pusat adalah suprasellar aneurisma,

tumor kelenjar hipofise, kraniofaringioma, meningioma suprasellar,

6
gliomaventrikel ketiga, hidrosefalus akibat obstruktif ventrikel tiga, dan

kiasma arachnoiditis kronis.1, 3, 4

Lesi kiasma lateral

Gambaran menonjol pada lesi ini yaitu hemianopia binasal

dengan kelumpuhan refleks pupil. Penyebab umum dari lesi tersebut

diantaranya penggelembungan dari ventrikel ketiga yang menyebabkan

tekanan pada setiap sisi kiasma dan ateroma dari carotisatau arteri

communican posterior.1, 3, 4

Lesi saluran optik

Ditandai dengan hemianopia homonim terkait dengan reaksi

pupil kontralateral (Reaksi Wernicke). Lesi ini biasanya diahului oleh

atrofi optik pada sebagian akhir nervus optikus dan mungkin berhubungan

dengan kelumpuhan saraf ketiga kontralateral serta hemiplegik ipsilateral.

Penyebab umum lesi ini diantaranya lesi sifilis, tuberkulosis,

dananeurisma dari serebeli atas atau arteri serebral posterior.1, 3, 4

Lesi badan genikulatam lateral

Lesi ini mengakibatkan hemianopia homonim dengan refleks

pupil minimal, dan mungkin berakhir dengan atrofi optik parsial.1, 3, 4

Lesi radiasi optik

Gambaran berbeda-beda tergantung pada lokasi lesi. Keterlibatan

radiasi optik total mengakibatkan hemianopsia homonim total.

Hemianopia kuadrantik inferior (pie onthe floor) terjadi pada lesilobus

parietal (mengandung serat unggul radiasi optik). Hemianopia kuadrantik

superior (pie onthe sky) dapat terjadi setelah lesi dari lobustemporal

(mengandung serat radiasi optik inferior). Biasanya lesi dari radiasi optik

7
terjadi akibat oklusi pembuluh darah, tumor primer dan sekunder, serta

trauma.1, 3, 4

Lesi korteks visual

Kerusakan makula homonim pada lesi ujung korteks oksipital

yangdapat terjadi sebagai akibat cedera kepala atau cedera ditembak

senapan. Refleks cahaya pupil normal dan atrofi optik tidak diikuti

lesikorteks visual.1, 3, 4

Lesi jalur visual

Kerusakan makula homonim pada lesi ujung korteks oksipital

yang dapat terjadi sebagai akibat cedera kepala atau cedera

ditembak senapan.Refleks cahaya pupil normal dan atrofi optik tidak

diikuti lesikorteks visual.1, 3, 4

2.2 Definisi dan Klasifikasi

Neuritis optik adalah radang nervus optikus; penyakit ini dapat

diklasifikasikan ke dalam bentuk :

- intraokular, yang mengenai bagian saraf bola mata (papillitis)

- retrobulbar, yang mengenai bagian saraf di belakang bola mata1,2,5

2.3 Epidemiologi

Studi epidemiologi menunjukan kejadian neuritis optikus berkisar 4-

5 per 100.000 populasi, dengan insidensi tertinggi pada populasi yang tinggal di

dataran tinggi, seperti Amerika Utara dan Eropa bagian barat, dan terendah pada

daerah ekuator. Sedangkan dari segi ras, ras kaukasian lebih banyak terkena

dibanding ras lain. Pada predileksi umur dewasa muda 20-45 tahun, neuritis

optikus biasanya bersifat unilateral dan lebih banyak pada wanita (3:1).

8
Sedangkan neuritis optik pada anak lebih jarang terjadi, yaitu hanya kurang lebih

5% kasus, biasanya bersifat bilateral, timbul palpitis, dan mempunyai

kecenderungan menjadi sklerosis multipel lebih rendah.3,6

2.4 Etiologi

a. Demielinatif1

o Idiopatik

o Sklerosis multiple

o Neuromielitis optika (penyakit Delvic)

b. Diperantarai imun1

- Neuritis optik pasca infeksi virus (morbili, mumps, cacar air, influenza,

mononukleosis infeksiosa)

- Neuritis optik pasca imunisasi

- Ensefalomielitis diseminata akut

- Polineuropati idiopatik akut (sindrom Guillain-Barre)

- Lupus eritematosus sistemik

- Penyakit leber

c. Infeksi langsung1

- Herpes zoster, sifilis, tuberkulosis, crytococcosis, cytomegalovirus

d. Neuropati optik granulomatosa1

- Sarkoidosis

- Idiopatik

e. Penyakit peradangan sekitar1

- Peradangan intraocular

- Penyakit orbita

- Penyakit sinus, termasuk mukormikosis

9
- Penyakit intracranial: meningitis, ensefalitis

f. Intoksikasi racun eksogen3

 tobacco, etil alkohol, metil alkohol

g. Penyakit metabolik7

 diabetes, anemia, kehamilan, avitaminosis

2.5 Patogenesis

Dasar patologi penyebab neuritis optikus paling sering adalah inflamasi

demielinisasi dari saraf optik. Patologi yang terjadi sama dengan yang terjadi

padamultipel sklerosis (MS) akut, yaitu adanya plak di otak

dengan perivascular cuffing, edema pada selubung saraf yang bermielin, dan

pemecahan mielin.7, 8

Inflamasi pada endotel pembuluh darah retina dapat mendahului

demielinisasi dan terkadang terlihat sebagai retinal vein sheathing. Kehilangan

mielin dapat melebihi hilangnya akson.7, 8

Dipercaya bahwa demielinisasi yang terjadi pada neuritis optikus

diperantarai oleh imun, tetapi mekanisme spesifik dan antigen targetnya belum

diketahui. Aktivasi sistemik sel T diidentifikasi pada awal gejala dan mendahului

perubahan yang terjadi didalam cairan serebrospinal. Perubahan sistemik kembali

menjadi normal mendahului perubahan sentral (dalam 2-4 minggu). Aktivasi sel

T menyebabkan pelepasan sitokin dan agen-agen inflamasi yang lain. Aktivasi sel

B melawan protein dasar mielin tidak terlihat di darah perifer namun dapat

terlihat di cairan serebrospinal pasien dengan neuritis optikus. Neuritis optikus

juga berkaitan dengan kerentanan genetik, sama seperti MS. Terdapat ekspresi

tipe HLA tertentu diantara pasien neuritis optikus.7, 8

10
2.6 Gejala dan Tanda

Keluhan utama pada neutiris optikus adalah sama, baik pada papilitis,

dimana saraf yang terkena terletak intraokular, maupun pada neuritis retrobulbar

yang mengenai saraf ekstra okular.3

Gambaran akut

- Gejala neuritis optik biasanya monokular, namun dapat mengenai kedua mata

terutama pada anak-anak.2, 6

- Hilangnya penglihatan tiba-tiba selama beberapa jam sampai beberapa hari 2, 6

- Nyeri pada mata

Nyeri ringan di dalam atau sekitar mata terdapat pada lebih dari 90% pasien.

Nyeri tersebut dapat terjadi sebelum atau bersama-sama dengan hilangnya

penglihatan dan berlangsung selama beberapa hari. Rasa sakit akan bertambah

bila bola mata ditekan dan disertai sakit kepala.2 Pergerakan okular terutama

gerakan ke atas dan ke bawah juga dapat memperberat nyeri ini karena

perlekatan sejumlah serat otot rektus superior dengan duramater.2, 6

- Defek pupil aferen (afferent pupillary defect)

Gambar 5. Defek pupil aferen

Selalu terjadi pada neuritis optik bila mata yang lain tidak ikut terlibat.

Adanya defek pupil aferen ini ditunjukkan dengan pemeriksaan swinging light

test (Marcus-Gunn pupil). Marcus-Gunn positif ialah apabila pada mata yang

sehat diberi cahaya, maka terjadi miosis pada kedua mata. Namun bila cahaya
11
dipindahkan pada mata yang sakit, maka kedua pupil akan melebar.2, 6, 9

- Defek lapang pandang

Pada neuritis optik, lapang penglihatan perifer menyempit secara konsentris,

terdapat skotoma sentral dengan bermacam tebal dan besarnya. Dapat pula

berbentuk sekosentral atau para sentral.2, 6

- Buta warna pada mata yang terkena, terjadi pada 88% pasien.2, 6, 9

Gambaran Kronik

Walaupun telah terjadi penyembuhan secara klinis, tanda neuritis optik

masih dapat tersisa. Tanda kronik dari neuritis optik yaitu:

- Kehilangan penglihatan secara persisten. Kebanyakan pasien neuritis

optik mengalami perbaikan penglihatan dalam 1 tahun.2, 6

- Defek pupil aferen relatif tetap bertahan pada 25% pasien dua tahun setelah

gejala awal.2, 6

- Desaturasi warna, terutama warna merah. Pasien dengan desaturasi warna

merah akan melihat warna merah sebagai pink, atau orange bila melihat

dengan mata yang terkena.2, 6

- Fenomena Uhthoff yaitu terjadinya eksaserbasi temporer dari gangguan

penglihatan yang timbul dengan peningkatan suhu tubuh. Olahraga dan mandi

dengan air panas merupakan pencetus klasik.2, 6

- Diskus optik terlihat mengecil dan pucat, terutama didaerah temporal.

Pucatnya diskus meluas sampai batas diskus ke serat retina peripapil.2, 6

12
2.7 Diagnosis

Anamnesis1, 7, 8

1. Penglihatan yang kabur (visus turun) mendadak

2. Adanya bintik buta

3. Perbedaan subjektif pada terangnya cahaya

4. Persepsi warna yang terganggu

5. Kekaburan penglihatan ketika beraktivitas dan meningkatnya suhu dan

berkurang jika beristirahat.

6. Rasa sakit pada mata yang mengganggu dan lebih sering pada tipe neuritis

retrobulbar daripada tipe papilitis.

7. Gejala berlangsung sementara pada salah satu mata (pada pasien dewasa).

Sedangkan pada pasien anak, biasanya mengenai kedua mata. Terdapat

riwayat demam atau imunisasi sebelumnya pada anak akan mendukung

diagnosis.

Pemeriksaan Fisik 1, 7, 8

1. Pemeriksaan visus. Hilangnya visus dapat ringan (20/30), sedang (20/60),

maupun berat (20/70).

2. Pemeriksaan lapang pandang, biasanya berupa skotoma sentral atau

sentrosekal. Namun setelah 7 bulan, 51 % kasus memiliki lapangan pandang

yang normal.

3. Refleks pupil. Defek aferen pupil terlihat dengan refleks cahaya langsung yang

menurun atau hilang.

4. Penglihatan warna berkurang.

5. Adaptasi gelap mungkin menurun.

13
Pemeriksaan penunjang 1, 6, 7, 8

1. Funduskopi

- Pemeriksaan funduskopi pada papilitis terlihat gambaran hiperemia dan

edema diskus optik sehingga membuat batas diskus tidak jelas. Pada papil

terlihat perdarahan, eksudat star figure yang menyebar dari papil ke makula,

dengan perubahan pada pembuluh darah retina dan arteri menciut dengan

vena yang melebar. Kadang-kadang terlihat edema papil yang besar yang

menyebar ke retina. Edema papil tidak melebihi 2-3 dioptri.

Gambar 6. Edema nervus optikus pada neuritis optikus

- 60% pasien dengan neuritis retrobulbar memiliki gambaran funduskopi

yang normal. Hal ini menyebabkan adanya suatu istilah “The patient sees

nothing and the doctor sees nothing”. Namun apabila prosesnya sangat

destruktif, dapat berakhir sebagai optik atrofi dan papil menjadi pucat, tak

berbatas tegas, dan matanya buta.

- Perdarahan peripapil, jarang pada neuritis optik tetapi sering menyertai

papilitis karena neuropati optik iskemik anterior.

- Tanda lain adanya inflamasi pada mata yang terdeteksi pada pemeriksaan

funduskopi yaitu: perivenous sheathing.

2. MRI (magnetic resonance imaging)

MRI diperlukan untuk melihat nervus optikus dan korteks serebri. Hal ini
14
dilakukan terutama pada kasus-kasus yang diduga terdapat sklerosis multipel.

3. Pungsi lumbal dan pemeriksaan darah

Dilakukan untuk melihat adanya proses infeksi atau inflamasi.

4. Slit lamp

Adanya sel radang pada vitreous

5. Visually evoked response (VER) terganggu dan menunjukan penurunan

amplitude dan perlambatan waktu transmisi.

2.8 Diagnosis Banding2,3

Neuritis Optik Papiledema Neuropati Optik

Iskemik

Gejala Visus Visus sentral hilang Visus tidak hilang; Defek akut lapang

cepat, progresif, kegelapan yang pandang;

jarang ketajaman transien ketajaman

dipelihara bervariasi – turun

akut

Lain Bola mata pegal; Sakit kepala, mual, Biasanya nihil;

sakit bila muntah, tanda fokal

digerakkan; sakit neurologis lain

alis atau orbita

Sakit bergerak Ada Tidak ada Tidak ada

Bilateral Jarang pada orang Selalu bilateral Khas unilateral

dewasa; sering pada stadium akut

pada anak-anak

Gejala Tidak ada isokoria; Tidak ada isokoria; Tidak ada isokoria;

15
Pupil Reaksi sinar Reaksi normal Reaksi sinar

menurun pada sisi menurun pada sisi

neuritis infark disk

Penglihatan warna Turun Normal

Ketajaman visus Biasanya menurun Normal Bervariasi

Lapang pandang Skotoma sentral Membesar; ada Skotoma sentral

blind spot

Sel badan kaca Ada Tidak ada Tidak ada

Funduskopi Retrobulbar :

nomal.

Papilitis :

- Media Keruh pada Bening Bening

posterior vitreous

- Warna diskus Hiperemia Merah Pucat

- Pinggir diskus Kabur Kabur Kabur

- Edema diskus Biasanya tidak 2 – 6 diopter Bengkak

melebihi 3 diopter

- Edema Ada Ada Ada

peripapillary

- Perdarahan Biasanya tidak ada Jelas Jelas

retina

- Retinal Kurang jelas Sangat jelas Jelas

exudate

- Makula Macular fan bisa Macular star bisa Tidak ada

ada ada

16
Prognosis visus Visus biasanya Baik dengan Prognosis buruk

kembali normal menghilangkan untuk kembali,

atau tingkat kausa tekanan mata kedua lama-

fungsional intra-kranial lama terlibat dalam

1/3 kasus idiopatik

Fluorescein Kebocoran zat Vertical oval pool Ada kebocoran zat

angiography kontras sedikit zat kontras akibat kontras di

kebocoran peripapillary

2.9 Penatalaksanaan

Pasien tanpa riwayat Multiple Sclerosis atau Neuritis optikus :

1. Dari hasil MRI bila terdapat minimum 1 lesi demielinasi tipikal :

Regimen selama 2 minggu :

a. 3 hari pertama diberikan Methylprednisolone 1mg/kg/hari i.v

b. 11 hari setelahnya dilanjutkan dengan Prednisolone 1mg/kg/harioral

c. Tapering off dengan cara 20 mg prednisone oral untuk hari pertama (hari

ke 15 sejak pemberian obat) dan 10 mg prednisone oral pada hari ke-2

sampai ke-4

d. Dapat diberikan Ranitidine 150 mg oral untuk profilaksis gastritis6,10,11

Menurut Neuritis optikus Treatment Trial (ONTT) pengobatan dengan

steroid dapat menurunkan progresivitas Multiple sclerosis selama 3 tahun.

Terapi steroid hanya mempercepatkan pemulihan visual tapi tidak

meningkatkan hasil pemulihan pandangan visual.11

2. Dari hasil MRI bila 2 atau lebih lesi demielinasi :

17
a. Menggunakan regimen yang sama dengan yang di atas.

b. Merujukan pasien ke spesialis neurologi untuk terapi interferon -

1intramuskular seminggu sekali selama 28 hari.

c. Metilprednisolon IV (1 g per hari, dosis tunggal atau dosis terbagi

selama 3 hari) diikuti dengan prednison oral (1 mg/kg BB/hari selama 11

hari kemudian 4 hari tappering off ). Tidak menggunakan oral

prednisolone sebagai terapi primer karena dapat meningkatkan resiko

rekuren atau kekambuhan.6,10,11

3. Dengan tidak ada lesi demielinasi dari hasil MRI :

a. Risiko terjadi MS rendah, kemungkinan terjadi sekitar 22% setelah 10

tahun kemudian

b. Intravena steroid dapat digunakan untuk mempercepatkan pemulihan

visual

c. Biasanya tidak dianjurkan untuk terapi kecuali muncul gangguan

visualpada mata kontralateral

d. MRI lagi dalam 1 tahun kemudian6,10,11

Evaluasi terapi steroid pada pasien neuritis optik harus dinilai

perbaikan ketajaman penglihatan, perbaikan gejala klinis, dan perbaikan pada

pemeriksaan funduskopi, serta efek samping terapi. Tanpa terapi, penglihatan

secara khas mulai membaik dalam 2-3 minggu setelah awitan, namun hasil

akhir visus yang buruk berhubungan dengan lesi nervus opticus yang lebih

lama, terutama bila kanalis optikus ikut terkena.1

Pada pasien yang mengalami neuritis optik episode pertama dengan

kelainan MRI otak, interferon β-1 dapat menurunkan resiko perkembangan

18
sklerosis multipel yang nyata secara klinis hingga sekitar 25% dan resiko

perburukan lesi substansia alba serebral. Perlu tidaknya pasien diterapi dengan

interferon saat serangan pertama harus ditentukan per individu, berdasarkan

kecenderungan setiap pasien beresiko mengalami episode demielinasi

berikutnya dan potensi efek samping terapi. Keuntungan terapi interferon

cenderung meningkat bila pasien sering kambuh.1

Mitoxantrone, suatu agen kemoterapi dan terapi antibiotik di

monoklonal telah memberikan hasil yang menjanjikan bagi penyakit

kambuhan-remisi (relapsing-remitting disease) yang progresif dan sulit

diatasi.10

2.10 Komplikasi

Kehilangan penglihatan pada neuritis optik dapat terjadi permanen.

Neuritis retrobulbar mungkin terjadi walaupun merupakan suatu neuritis optik

yang terjadi cukup jauh di belakang diskus optikus.6, 7

Neuritis optik yang disebabkan oleh sklerosis multipel memiliki ciri

khas kekambuhan dan remisi. Disabilitas yang menetap cenderung meningkat

pada setiap kekambuhan. Peningkatan suhu tubuh dapat memperparah

disabilitas (fenomena Uhthoff) khususnya gangguan penglihatan.6, 7

2.11 Prognosis

Penyembuhan pada neuritis optik berjalan secara bertahap. Pada

banyak pasien neuritis optik, fungsi visual mulai membaik 1 minggu sampai 3

minggu setelah onset penyakit walau tanpa pengobatan. Namun sisa defisit

dalam penglihatan warna, kontras, serta sensitivitas adalah hal yang umum.

Kelainan tajam penglihatan (15-30%), sensitivitas kontras (63-100%),

19
penglihatan warna (33-100%), lapang pandang (62-100%), stereopsis (89%),

terang gelap (89–100%), reaksi pupil aferen (55–92%), diskus optikus (60–

80%), dan visual-evoked potential (63–100%). Rekurensi dapat terjadi pada

mata yang lain, kira-kira 30% dalam 5 tahun.1, 6

Penglihatan akhir pada pasien yang mengalami neuritis optik dengan

sklerosis multiple lebih buruk dibanding dengan pasien neuritis optik

idiopatik.3,7

Biasanya visus yang buruk pada episode akut penyakit berhubungan

dengan hasil akhir visus yang lebih buruk juga, namun kadang kehilangan

persepsi cahaya pun dapat diikuti dengan kembalinya visus ke 20/20. Hasil

akhir visus yang buruk juga dihubungkan dengan panjangnya lesi yang

terkena, khususnya jika terlibatnya nervus dalam kanalis optikus.3,7

Tiap kekambuhan akan menyebabkan pemulihan yang tidak

sempurna dan memperburuk penglihatan.3,7

20
BAB III

KESIMPULAN

Neuritis optikus merupakan keadaan inflamasi saraf optik , demielinisasi

yang menyebabkan kehilangan penglihatan secara akut dan biasanya melibatkan satu

mata (monokular). Terdapat subtipe dari neuritis optikus, yaitu neuritis retrobulbar

dan papilitis. Neuritis optikus tidak berdiri sendiri, namun disebabkan oleh berbagai

macam penyakit/keadaan. Salah satunya adalah multipel sklerosis (MS), suatu

penyakit demielinasasi sistem saraf pusat.

Pasien mengeluh adanya pandangan berkabut atau visus yang kabur, adanya

bintik buta, perbedaan subjektif pada terangnya cahaya, persepsi warna yang

terganggu. Pada anak, biasanya gejala bersifat mendadak mengenai kedua mata.

Sedangkan pada orang dewasa, neuritis optikus seringkali unilateral. Adanya defek

pupil aferen relatif merupakan gambaran umum dari neuritis optikus. Diskus optik

terlihat hiperemis dan membengkak.

Pengobatan neuritis optikus dapat dilakukan dengan pemberian kombinasi

steroid oral, intravena, serta interferon-1 intramuscular disesuaikan dengan tingkat

keparahan penyakit. Selain itu, mitoxantrone juga dapat diberikan untuk mengobati

penyakit kekambuhan-remisi yang progresif dan sulit diobati.

Proses penyembuhan dan pemulihan ketajaman penglihatan terjadi pada 92%

pasien. Jarang yang mengalami kehilangan penglihatan yang progresif. Meskipun

demikian, penglihatan tidak dapat sepenuhnya kembali normal.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Jakarta: Widya

Medika,2000.Hal268, 274-287.

2. Ilyas Sidharta, Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,

Edisi keempat, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2013. Hal 179-188.

3. A.K. Khurana. Comprehenship Opthalmology 4th Edition dalam Chapter 12-New

Age International 2007. P 288-96.

4. American Academy of Opthalmology. Section 5 Neuro-Opthalmology. San

Fransisco : LEO. 2008-2009. Page 25-26.

5. Dorland, W.A Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta :

EGC

6. Erhan Ergene, MD. Adult Optic Neuritis. Diunduh dari

http://emedicine.medscape.com/article/1217083 tanggal 30 April 2018

7. Perhimpunan Dokter Ahli Mata Indonesia : “Neuritis Optik” dalam Ilmu


Penyakit Mata, Airlangga Universitas Press, 1984, hal : 108-110
8. Osborne B, Balcer LJ. Optic neuritis : Pathophysiology, Clinical Features, and

Diagnosis. Disitasi pada tanggal tanggal 30 April 2018. Disitasi dari

http://www.uptodate.com/opticneuritis

9. Wijana Nana S,D, Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke 6, Abdi Tegal.Jakarta


1993.Hall 332-342.
10. American Academy of Ophtalmology Staff. Neuro-Ophtalmology : American

Academy of Ophtalmology staff, editor. Neuro-Ophtalmology. Basic and Clinical

Science Course sec. 5. San fransisco The Foundation of American Academy

of Ophtalmology, 2009-2010. P 28-31, 128-146.

11. The Wilis Eye Manual : Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment

of Eye Disease. 2008. P250-52.

22