Anda di halaman 1dari 26

Suku Toraja

AGAMA LOKAL ORANG TORAJA

Makalah ini disusun sebagai Tugas Mata Kuliah Agama-Agama Lokal Semester 4

Disusun Oleh:

Renaldo Caniago 11140321000028


Elva Nuzuliah 11140321000044
Endik Sudikna 11140321000029

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA

FAKULTAS USHULUDDIN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2016
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Masalah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Peta Geografis
B. Asal-Usul
C. Pokok - pokok ajaran Aluk To Dolo
D. Upacara Keagamaan pada Kepercayaan Aluk To Dolo (Toraja)
E. Interaksi Kepercayaan orang Toraja dengan Agama-agama lain
F. Lampiran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Paham keagamaan agama Aluk To Dolo di Tana Toraja terbilang tidak begitu berkembang.
Namun tradisi niliai Aluk To Dolo tetap dilestarikan oleh masyarakat Tana Toraja sebagai identitas
dan ciri khas mereka. Tradisi budaya dirasa lekat dengan kehidupan keagamaan sehingga dapat
dikatakan pada setiap upacara adatnya berbalut dengan ritual kegamaan, seperti upacara Rambu
Solo dan Rambu Tuka. Upacara adat dan keagamaan ini menarik minat wisatawan domestik dan
mancanegara untuk berkunjung ke Tana Toraja.

Agama pada dirinya sendiri hanyalah sebuah ajakan. Sebagai ajakan, ia hanya menawarkan
pilihan antara mempercayai atau mengingkari. Ia sama sekali tidak memuat paksaan, kecuali
sebuah konsekuensi logis bagi pemeluknya. Sebaliknya, terhadap mereka yang tidak
mempercayainya, agama idak memiliki hak tuntutan kepatuhan apapun, apalagi pemaksaan.
Namun, begitu agama diformalkan, baik dalam bentuk pelembagaan doktrin maupun lainnya, ia
mudah terjebak sebagai instrumentalisasi kepentingan, baik kepentingan yang mengatasnamakan
nama tuhan sebagai suara kekuasaaan, maupun berbagai kepentingan lain yang memanfaatkan
agama sebagai legitimasi.

Dalam perspektif Islam yang mendasarkan definisi agama atas pengertian agama semitis yang
memuat unsur adanya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki sistem hukum yang
jelas bagi para penganutnya, memiliki kitab suci, dan seorang nabi.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana asal-usul dan perkembangan paham/agama Aluk To Dolo?


2. Apa pokok-pokok ajaran Aluk To Dolo?

3. Bagaimana upacara keagamaan masyarakat Toraja?

4. Bagaimana interaksi kepercayaan orang Toraja dengan agama-agama lain?

C. Tujuan Masalah

Mempelajari agama lokal orang Toraja mempunyai beberapa tujuan diantaranya :

1. Untuk mengetahui asal-usul dan perkembangan paham/agama Aluk To Dolo.

2. Bisa menyebutkan pokok-pokok ajaran Aluk To Dolo.

3. Untuk mengetahui upacara keagamaan masyarakat orang Toraja dan interaksi kepercayaan
orang Toraja dengan agama-agama lain.

4. Untuk memperdalam ilmu tentang kehidupan beragama di Suku Toraja.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Peta Geografis

Letak permukiman suku Toraja berada di antara 1190-1200 Bujur Timur dan 20-30 Lintang
Selatan. 1 Pusat permukiman suku Toraja terletak di Tana Toraja. Sementara secara administratif,
suku Toraja bermukim disebagian daerah Enrekang, sebagian daerah Pinrang, dalam daerah
Polmas, Mamuju dan Luwu. 2 Letak permukiman Tana Toraja di kelilingi oleh daerah-daerah yang
di sebutkan diatas tadi. Di daerah utara Provinsi Sulawesi Tengah, di sebelah selatan daerah
Enrekang, di sebelah timur daerah Luwu, dan di sebelah barat daerah Polmas, Mameje, serta
Mamuju.

Wilayah etnis Toraja pada umumnya terletak di sekitar pegunungan Latimojong dan
pegunungan Quarles. Wilayahnya memilki tinggi rata-rata 150 hingga 2000 meter dari permukaan
air laut dengan beberapa sungai yang mengalirinya seperti, Sungai Saddang, Sungai Karama,
Sungai Rongkong, Sungai Massuppu dan Sungai Mamasa. 3 Di wilayah Tana Toraja terdapat dua
pusat berupa kota kembar, yang pertama Makele berfungsi untuk pusat Adminstrasi berada di
selatan, kedua Rantapeo yang lebih berfungsi sebagai pelayanan dan jasa berada di utara.[1]

B. Asal-Usul

Suku Toraja adalah suku yang menetap dipegunungan bagian utara Sulawesi Selatan.
Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 diantaranya masih tinggal di
Kabupaten Tana Toraja, dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen,
sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To
Dolo. Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri
atas”. Pemerintahan kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja
terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya.[2] Toraja pasca
kemerdekaan Republik Indonesia, didirikan pada tahun 1960, adalah salah satu kabupaten yang
berada di Sulawesi Selatan, dengan ibu kota Makale dan merupakan salah satu daerah tujuan
wisata yang sangat menarik dengan alamnya yang indah, budayanya yang khas dan mempesona
serta wilayahnya yang berliku-liku dengan dikelilingi pegunungan. Ada 7 gunung di Tana Toraja,
seperti gunung Bebo’, Sado’ko’, Kandora, Buntu Batu, Messila, dan Sangbu, sehingga Tanah
Toraja terasa dingin dan sejuk. Kondisi yang menarik wisata mancanegara, khusunya dari Prancis,
Jerman, Belanda, Inggris, Negara Eropa lainnya serta wisatawan nusantara.[3]

Di kalangan masyarakat Toraja pada waktu dahulu belum mengenal agama seperti
sekarang ini. Mereka mempercayai suatu kepercayaan yang dikenal dengan nama Aluk To Dolo
yang juga disebut Alukta. Alukta merupakan singkatan dari Aluk To Dolo. Kepercayaan ini oleh
pemerintah Belanda pada waktu itu dikategorikan sebagai kepercayaan animisme. Istilah Aluk To
Dolo baru popular setelah masuknya agama lain di Tana Toraja untuk membedakan keyakinan
semula dengan keyakinan yang datang kemudian. Secara harfiah Aluk berarti kepercayaam atau
agama. To Dolo artinya orang semula. Aluk To Dolo artinya orang semula. Aluk To Dolo berarti
agama atau kepercayaan orang semula atau dahulu dengan kata lain agama atau kepercayaan
peninggalan nenek moyang. Ajaran agama To Dolo diturunkan oleh Puang Matua kepada nenek
moyang manusia yang pertama bernama Datu La Ukku’ dengan ajaran yang dikenal dengan
sebutan Sukaran aluk, yaitu aturan-aturan agama. Datu La Ukku’ di beri tugas oleh Puang Matua
untuk mengkoordinir dan berperan memelihara, membina dan mengembangkan seluruh peranan
alam semesta ini, antara lain untuk memelihara hubungan mereka dengan Puang Matua sebagai
penciptanya serta mengembangkan hubungan masing-masing isi alam ini.

Ajaran yang diturunkan Puang Matua kepada Datu La Ukku’, pada kisah yang lain
bernama Puang Burang Langin, dan isterinya Kembang Bura, ialah yang membawa Aluk dan Adat
berjumlah 7.777 buah, dengan sebutan Aluk Sanda Pitunna, yaitu Aluk pitung Sa’ba Pitung Ratu
Pitung Pulo Pitu. Aluk ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Aluk To Dolo yang artinya
agama leluhur, yaitu agama yang memuja leluhur dan berbakti kepada Tuhan yang Maha Esa, yang
mereka sebut dengan nama Puang Matua. Aluk Sunda Pituna inilah yang dimanifestasikan dalam
kehidupan sehari-harinya orang Toraja dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, budaya, politik,
ekonomi dan pertahanan, yang dikenal dengan pesan “To Dolo”.

Menurut beberapa keterangan, penyebaran pertama bernama Pahane, kelahiran Puan. Ia


kawin di Kesu dengan seorang wanita yang bernama Ambun. Namun tidak diketahui secara pasti
kapan ajaran ini dikembangkan, tetapi yang jelas, daerah Kesu[4] dianggap sebagai daerah pertama
pengembangan ajaran Aluk To Dolo ini dan diberi nama Panta’-anakan lolona sukaran aluk, yang
berarti kira-kira Dewa Muda Syariat Agama. Karena ajaran itu hanya bersifat turun menurun, dan
tidak banyak berupa ajaran tertulis, ,maka praktek peribadatannya banyak terdapat perbedaan
antara satu suku daerah dengan daerah lainnya. Pada tiap-tiap desa praktek peribadatan dipimpin
oleh seorang yang bernama To Parenggo Sokkong Baju. Terlepas dari berbagai informasi tentang
asal muasal kata Aluk To Dolo tersebut, yang jelas dapat dipastikan bahwa ajaran paham
keagamaan Aluk To Dolo diyakini sebagai agama atau kepercayaam orang-orang dahulu yang ada
di Tana Toraja, bahkan sampai saat ini masih banyak penganutnya, walaupun tidak diketahui pasti
berapa jumlah pengikutnya.[5]

Sebelumnya kita sudah mengetahui dan telah dijelaskan sebelumnya, bahwa tidak
diketahui secara pasti berapa jumlah penganut agama Aluk To Dolo. Hanya diceritakan bahwa
semua masyarakat Tana Toraja sudah sejak dahulu mempercayai Alukta atau Aluk To Dolo
sebagai agama yang mereka yakni sebelumnya adanya agama lain di Tana Toraja. Menurut Dr. I.
Y. Panggalo, M. T.h, sekretaris Badan Pekerja Sinode Gereja Panggolo, bahwa pada tahun 1950-
an pemeluk agama Aluk To Dolo masih banyak, dan pada akhir tahun 1950 hingga tahun 1970
mereka banyak yang pindah ke agama lain, yaitu Kristen, Islam, Katolik dan pada masa orde baru
mereka dimasukkan ke dalam agama Hindu. Pada tahun 1980-an di duga penganutnya berjumlah
20-30 ribu jiwa. Namun pada saat ini jumlah tersebut sudah tidak sebanyak itu lagi. Penganut
agama Aluk To Dolo saat ini banyak tinggal di daerah-daerah pegunungan, menurut Tato Dena’
yang biasa di panggil Nek Sando, seorang Rohaniawaan (Tomina). Sekaligus kepala adat di Tana
Toraja, bahwa penganut agama Aluk To Dolo masih menjalankan tradisi-tradisinya sampai
sekarang. Pada tahun 1955, pada pemilu pertama pengikut Aluk To Dolo masih mayoritas. Namun
akhir tahun 50-an banyak penganut agama Aluk To Dolo yang dipaksa pindah agama ke agama
lain, karena tidak ada yang melindungi agama Aluk To Dolo. Dari peristiwa tersebut, banyak
pengikut Alukta ini yang ketakutan dan pindah agama karena di ancam dan di takut-takuti oleh
PKI bahkan ditangkap.

Setelah ada Sekber Golkar dan Departemen Agama, Agama Aluk To Dolo berdasarkan
SK dirjen Bimas Hindu dan Buddha No. Dd/M/200-VII/’69. Tanggal 15 Nopember 1969,
dimasukkan menjadi penganut agama Hindu di bawah naungan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha,
dan menunjuk petugas khusus yang dapat melaksanakan tugas-tugas pemerintah yang mengatur
hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan umum beragama umat Hindu asal Aluk To Dolo,
yaitu Bato’ Rita Palimbong. Ia bertugas atas nama Dirjen Bimas Hindu dan Buddha. Namun pada
saat itu penganut Aluk To Dolo sudah banyak yang pindah agama. Pada tahun 1983, tato Dena
bertemu dengan Drs. I Gusti Made Ngurah dan menyuruh untuk membentuk badan kecil Parasidha
Hindu, belum ada Indonesianya, seperti PHDI[6] saat ini. Demi keberlangsungan kehidupan
masyarakat Aluk To Dolo, maka tidak ada pilihan bagi kami kecuali untuk bergabung dengan
Parasidha Hindu pada waktu itu, hingga saat ini. Mulaidari saat itu Agama Aluk To Dolo di Tana
Toraja disebut sebagai Agama Hindu dan ditambahkan di ujungnya dengan Alukta, sehingga
disebut Hindu/Alukta.[7]

a. Profil orang Aluk To dolo

Pada umumnya masyarakat Aluk To Dolo adalah bercocok tanam, memelihara binatang
ternak, seperti ayam, itik, babi, kerbau, ikan mas dan kerajinan tanganm seperti mengukir,
menganyam, membuat sepatu, membuat kursi rotan, menenun kain, dan banyak juga yang menjadi
pegawai pemerintah , guru/dosen, dan lain-lain. Orang Toraja dalam sehariannya mempergunakan
bahasa mereka sendiri, yaitu bahasa Toraja, selain bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Ciri
bahasa Toraja banyak memakai “koma a’in = (‘), seperti ta’de=haling, ma’rang=haus dan lain-
lain.

Dalam strata sosial, orang Toraja pernah ada dan tingkatan sosial (kasta). Dalam
masyarakatnya, baik dalam kegiatan pemeliharan adat, upacara keagamaan, sikap maupun tutur
bahsa masing-masing mempunyai disiplin sendiri atau berbeda-beda. Ada empat tingkatan sosial
(kasta), yaitu: tingkatan pertama adalah dari kaum bangsawan, tingkatan ke dua adalah golongan
menengah yaitu dari bangsawan yang dari golongan menengah, tingkatan ke tiga adalah rakyat
merdeka atau rakyat kebanyakan, dan yang terakhir ke empat adalah Kaunan atau budak
dahulunya, mereka yang menjadi tulang punggung masyarakat Toraja.[8]

b. Mitologi Tana Toraja

Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap
melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan
bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan “tangga dari langit” untuk
turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua
(Tuhan Yang Maha Kuasa). Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam
penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi
antara penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang
notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina). Proses akulturasi antara kedua
masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo Cina dengan jumlah yang cukup
banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para
imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.[9]

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari Luwu. Orang
Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti
“Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To
Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa
kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang-orang besar,
bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri,
sehingga tempat pemukiman suku Toraja. Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali
dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi
sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai
religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi
kepada Puang Matua.

Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni:
Tipamulanna Aluk ditampa dao langi’ yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit,
Mendemme’ di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi’ dirura.
Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan
budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo Cina pada sekitar 3000 tahun
sampai 500 tahun sebelum masehi. Beberapa Tokoh penting daiam penyebaran aluk, antara lain:
Tomanurun Tambora Langi’ adalah pembawa aluk Sabda Saratu’ yang mengikat penganutnya
dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Selain daripada itu terdapat Aluk Sanda Pitunna disebarluaskan oleh tiga tokoh, yaitu :
Pongkapadang bersama Burake Tattiu’ menuju bagian barat Tana Toraja yakni ke
Bonggakaradeng1[10], sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua
Ba’bana Minanga, dengan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja “To
Unnirui’ suke pa’pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata.
Kemudian Pasontik bersama Burake Tambolang menuju ke daerah-daerah sebelah timur Tana
Toraja, yaitu daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta’bi, Tabang, Maindo
sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa
Toraja : “To Unnirui’ suku dibonga, To unkandei kandean pindan”, yaitu pranata sosial yang
menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.
Tangdilino bersama Burake Tangngana ke daerah bagian tengah Tana Toraja dengan membawa
pranata sosial “To unniru’i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan”, Tangdilino diketahui
menikah dua kali, yaitu dengan Buen Manik, perkawinan ini membuahkan delapan anak.
Perkawinan Tangdilino dengan Salle Bi’ti dari Makale membuahkan seorang anak. Kesembilan
anak Tangdilino tersebar keberbagai daerah, yaitu Pabane menuju Kesu, Parange menuju Buntao’,
Pasontik ke Pantilang, Pote’Malla ke Rongkong (Luwu), Bobolangi menuju Pitu Ulunna Salu
Karua Ba’bana Minanga, Bue ke daerah Duri, Bangkudu Ma’dandan ke Bala (Mangkendek),
Sirrang ke Dangle.2[11]

Itulah yang membuat seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo diikat oleh salah
satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo arti harfiahnya
adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari”. Nama ini mempunyai latar belakang yang
bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini
dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah
daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada
sekitar 32 pemangku adat di Toraja. Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut,
maka diberilah nama perserikatan bundar atau bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan
keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat tersebut.3[12]

C. Pokok - pokok ajaran Aluk To Dolo


Menurut Tato Dena’ (Tomina), Sila Siapa’ (Ketua adat Aluk To Dolo Sekecamatan
Salapputi), Mani’ (Penganut Aluk To Dolo), bahwa ada beberapa pokok ajaran dalam paham
keagamaan Aluk To Dolo, yaitu:

Konsep Ketuhanan

Tuhan yang tertinggi adalah Puang Matua, pencipta manusia pertama dan alam segala
isinya. Puang Matua atau Totumampata ( yang menciptakan manusia ). Tato Dena’ ( Nek Sando
), sangat keberatan jika agama Aluk To Dolo dianggap kepercayaan terhadap animisme, politisme
bahkan sinkretisme. Menurut beliau, agama Aluk To Dolo tidak menyembah batu-batu, pohon-
pohon besar, hewan dan tumbuh-tumbuhan, seperti yang dituduhkan kebanyakan orang selama ini.
Agama Aluk To Dolo menyembah Tuhan yang disebut Puang Matua ( Totumampata ). Adapun
pohon, batu, hewan dan tumbuhan hanya media saja sebagai alat komunikasi untuk menuju kepada
Puang Matua.

Puang Matua atau Tuhan-nya orang alukta sebagai pencipta segalanya, dimana sinarnya
yang menghidupkan Deata uta ( masing-masing punya jiwa ), apabila ia terpisah dari kita, maka
biasanya manusia bisa melihat, tapi bila telah melihat kearah mati atau jiwa yang sudah pergi (
bombo mediatana ), dan bila telah menghembuskan nafas terakhirnya ( bombo mengka puangana
). Puang Matua memberikan kuasa dan tugas pengawasan dan pengaturan tertibnya kehidupan
masyarakat kepada Dewata, yang disebut nama Deata Titanan Tallu yang artinya Dewa berada di
tiga tempat, yaitu:

1. Dewa dilangit dunia atas ( Tanggana Langi ), yaitu dewa sang pemelihara di langit. Dewa yang
menguasai isi langit dan cakrawala.

2. Dewa menopang bumi ( Deata Patulakanannan Puang Karande Karua ), artinya yang menopang
di enam bahkan delapan penjuru mata angina.

3. Dewa di atas muka bumi ( Deata pannopadang puangla’abidaenan ), berarti ada dimana-mana,
dia mengusai gunung, lembah, langit, bumi, hutan, padang ilalang, dan semuanya.4[13]
Ketiga, Dewa tersebut disebut Deata Titanan Tallu Puang Tirindu Batu Lalikan, artinya
Dewa itu terbagi dalam tiga tempat. Dari konsep Deata tersebut yang melahirkan dua upacara
keagamaan pada masyarakat Aluk To Dolo, yaitu Aluk Rambu Tuka, dan Aluk Rambu Solo’.

Agama Aluk To Dolo mengajarkan umatnya untuk sembahyang setiap saat, dimana kalau
dia ingin sembahyang atau menghadap kepada leluhur dia harus menghadap keselatan atau
kebarat. Bila ingin menghadap ke Dewa, maka dia harus menghadap ke timur atau utara. Agama
Aluk To Dolo juga mengenal adanya nabi. Dalam ajaran alukta, nabinya adalah nenek moyang
mereka sendiri di Tana Toraja, yaitu nabitangdilino’dan Puang Tomboro’Langi’. Dikatakan nabi
karena mereka inilah yang membagi atau menyebarkan ajaran Aluk. Namun dalam ajaran Alukta
tidak ada kitab suci, dikarenakan tidak ada orang yang mencatat ajaran-ajarannya kedalam sebuah
buku atau kitab. Kami pengikut Alukta hanya mengandalkan ingatan - ingatan di kepala kami saja
secara turun temurun, demikian diungkapkan Nek Sando.5[14]

Agama Aluk To Dolo atau Alukta berupa aturan-aturan keagamaan yang bernilai religius
yang bersumber dari Puang Matua sebagai pandangan hidup dan sekaligus menjadi budaya
masyarakat Tana Toraja. Hukum Aluk To Dolo ini disebut Pemali. Pemali ini harus di patuhi oleh
penganutnya. Pemali antara lain:

1. Pemali urusak potedi bolong, artinya tidak boleh mengganggu upacara penguburan orang mati.

2. Pemali ma’panganbuni’, artinya tidak boleh berzina.

3. Pemali unromok tatanan pasak, artinya tidak boleh mengacau pasar.

4. Pemali unteka’ palanduan, artinya golongan budak dilarang kawin dengan golongan Tomakaka
dan Tokapua6[15].
5. Pemali massape-ae’, artinya tidak boleh meninggalkan rumah pada hari yang sama dengan arah
yang berdeda.

6. Pemali Boko, artinya tidak boleh mencuri.

7. Pemali umboko sunga’na pedanta telino, artinya jangan membunuh sesama manusia.

8. Pemali ma’kada penduan, artinya tidak boleh berdusta.

9. Pemali unkasirisan deata misanta, artinya jangan mengkhianati orang tua.

10. Pemali ungkattai bubun, artinya jangan buang hajat besar di sumur.

11. Pemali umbala’bala tomanglaa, artinya jangan menyiksa anak gembala.

12. Pemali maloko, artinya dilarang mengambil barang dikuburan.

13. Pemali umbala’-bala’ patuoan, artinya jangan menyiksa binatang ternak.7[16]

Adapun pelanggaran terhadap pemali diberi sanksi berbeda-beda menurut berat ringannya
pelanggaran tersebut. Sanksi yang berat seperti membunuh. Bila seorang membunuh, maka semua
keluarga dari yang dibunuh bersumpah turun temurun tidak boleh berhubungan dalam bentuk
apapun dengan keluarga pembunuh. Sanksi yang ringan seoarang hamba yang kawin dengan
golongan bangsawan diusir seumur hidup dari masyarakat Tana Toraja.

Dalam Ajaran Agama Aluk To Dolo juga mengenal do’a - do’a dalam kehidupan sehari-
hari mereka seperti juga dalam agama lainnya. Ada beberapa bacaan do’a - do’a pendek dalam
Ajaran Alukta atau Aluk To Dolo, seperti:

1. Do’a akan makan atau minum, ini harus menghadap ke utara atau timur, bacaannya adalah:
Kurre sumanga’na teburanna padang ladi popa muntu ti’i pe’.

Artinya: Syukurilah hasil bumi ini, kita akan mencicipinya semoga kekuatannya bagaikan besi
yang tidak patah.

2. Do’a pergi keluar rumah, bacaannya adalah:

Kurre suma’na te kaling kangku de na’ upa’ utang titodo sangka’ lako tutunna lalan.

Artinya: Syukurilah saya akan melangkahkan kaki dari tempat ini, semoga diperjalanan tidak ada
halangan apa-apa.

3. Do’a pulang kerumah, bacaannya adalah:

Kurre sumonga’ sulemana’ pa siamo’.

Artinya: Syukurilah, aku sudah kembali dengan selamat.

4. Do’a anak-anak baru lahir dido’akan oleh Tominna8[17]. Dalam acara itu terkadang do’a-do’a itu
intinya adalah sebagai berikut;

a. Kamu deata untarana kialo’kebongi.

Atinya: Disandarkan kepada dewa yang mengasuh dia siang dan malam.

b. Tadoairi panotoba’ tang benni papa tuwinawa.

Artinya: Berikanlah dia kesabaran bahkan kepintaran.

c. Anna pannotoba’teng unda’ka’ eanan sanda makamban sola barengapa sandarupanna.


Artinya: Berilah dia kesadaran dan kepintaran, semoga dapat mencari harta untuk hidupnya di
muka bumi ini.

5. Do’a orang sakit agar cepat sembuh, bacaannya adalah:

Denupa’ naeate sakiunangga’ lanbatang dikalena lati losong tengko anna mesonda, palesusampe
tama pale suan annan ana susi manuku dira’ pannah annante bande patia’

Arrtinya: Semoga penyakitnya keluar melalui bantuannya dan kembali sehat bagaikan ayam yang
lepas dan burung yang terbang.9[18]

D. Upacara Keagamaan pada Kepercayaan Aluk To Dolo (Toraja)

Aluk Todolo atau Alukta adalah aturan tata hidup yang telah dimiliki sejak dahulu oleh
masyarakat Suku Toraja, Sulawesi Selatan. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan sistem
pemerintahan, sistem kemasyarakatan, dan sistem kepercayaan.10[19]

Sesuai dengan sistem kepercayaan dan konsep ketuhanan yang dianut oleh para penganut
Alukta, maka praktek penyembahan kepada para dewa disesuaikan dengan tindakan dan
permohonan penyembahannya. Penyembahan itu dilakukan untuk memohon ampun atau tanda
syukur terhadap nikmat yang diterimanya, misalnya karena turunnya hujan, menguningnya padi
dan berkembangnya ternak pemeliharaan.

 Penyembahan, Tingkatan-tingkatan, dan Struktur Aluk Todolo


Penyembahan kepada para dewa dilakukan pula karena menerima musibah, seperti sakit
dan rusaknya tanam-tanaman atau karena memulai sesuatu pekerjaan, seperti mulai bertanam padi,
menebang pohon, mulai mendirikan rumah dan sebagainya.11[20]

Penyembahan pun ada tingkatan-tingkatannya:

 Ma’Babo bo’bo yaitu upacara penyembahan yang dilakukan seseorang yang dianggap tidak mampu.
Dengan menyajikan sedikit nasi yang diambil dari tempat nasi dan ditempatkan didaun pisang
kemudian diletakkan di sudut rumah.

 Ma’Piong sanglampa yaitu setingkat dibawah ma’babo bo’bo. Satu Piong Lembang ditambah anak
ayam yang paling kecil.

 Ma’Likarang biag yaitu tiga piong lemang dan seekor ayam jantan kecil.

 Ma’tadoran yaitu selamatan yang dilengkapi dengan memotong babi dan ayam.

 Ma’tete’auo yaitu pada tingkat ini upacara dilakukan dengan memotong babi lebih dari satu.

 Ma’palang yaitu sajian dan cara upacara lebih meningkat lagi.

 Manganta’ yaitu upacara dilakukan jika suatu kampong terkena penyakit menular, seperti penyakit
cacar.

 Merek yaitu pemotongan babi dilakukan tanpa terbatas.

 Ma’bua yaitu suasana upacara lebih meriah lagi karena dilaksanakan oleh orang yang paling kaya
dan dihadiri oleh orang sekampung.

 La’pa Kassalle yaitu sama nilainya dengan Ma’bua.12[21]


Dalam struktur keagamaan nenek moyang dalam ajaran Aluk To Dolo di Tana Toraja
mempunyai cirri dan penerapannya berbeda-beda sesuai dengan adat daerah masing-masing.
Walaupun maksud dan tujuannya sama. Struktur keagamaan di Talolembang, Tana Toraja, adalah:

1. Puang (Raja).

2. Toparenge’ adalah penanggung jawab adat dan agama.

3. Tobara’ adalah pembantu Toparenge’ dalam membina adat. Dalam tiap desa biasanya ada atau
empat Tobara’.

4. Tomenani dan Tominna (Rohaniawan/pendeta/ustad), mereka ini mempunyai tugas memberikan


petunjuk kepada pengikutnya. Tomina ini mengetahui ajaran Aluk To Dolo dan mereka kuat
ingatnnya karena peraturan agama tidak ada yang ditulis. Tomina mempunyai bahasa yang sulit
dipahami oleh orang biasa. Penghidupan Tomina sangat sederhana.

5. Toburake merupakan banci yang mendapatkan ilham, yang dapat menyembuhkan penyakit dan
bertindak sebagai dukun serta memelihara gadis-gadis yang dipingit dalam Ma’bua’ka sale
(upacara tertinggi dalam rumpun tertinggi).

6. Pe toeatu’: yaitu orang yang berhak melaksanakan ritual keagamaan Rambu Solo’ dan Rambu
Tuka’. Petugasnya Rambu Solo’disebut toma’ kayo atau toma’ balun, orang ini yang bertugas
membungkus dan memandikan mayat. Namun pada saat ini mayat dimandikan oleh keluarganya.
Sedangkan petugas Rambu Tuka’ disebut Tominna/Tominani atau Toburake.

Upacara keagamaan di Tana Toraja di bagi dua. Yaitu: Upacara Kematian atau Rambu Solo’
(aluk rampe matampu) dan upacara syukuran atau rambu tuka (aluk rampe matallo). Upacara
Rambu Solo’ , merupakan upacara keagamaan yang mempersembahkan kerbau dan babi untuk
menghantarkan arwah leluhur atau untuk orang yang meninggal dunia agar jiwa seseorang tersebut
damai dan selamat meninggalkan dunia yang fana menuju dunia jiwa yang tentram di Puya.
Sedangkan upacara Rambu Tukak merupakan upacara syukuran yang menggembirakan atas segala
yang baik-baik. Upacara ini dilaksanakan pada pagi hari dibagian timur dan selalu menghadap ke
timur. Upacara ini untuk menyembah deata dan Puang Matua dengan memotong ayam, babi atau
kerbau.

a) Upacara Kematian

Upacara kematian (Rambu Solo’) merupakan salah satu bentuk ritual yang digelar keluarga
Aluk To Dolo untuk menghormati arwah orang sudah meninggal. Ritual Rambu Solo’ digelar
semeriah mungkin agar arwah orang meninggal tersebut ke Puya (surge/akherat) tidak terhambat.
Mereka mempercayai bahwa jiwa orang yang meninggal bisa mengendarai jiwa kerbau dan babi
yang dikorbankan. Makanya hewan yang terbaik sebagai kendaraan menuju ke Puya adalah
Kerbau Tedong Bonga yang dianggap kuat untuk melintasi gunung dan lembah Puya.13[22]

Selain itu, Rambo Solo menjadi kewajiban bagi keluarga yang ditinggalkan. Karena hanya
dengan cara Rambu Solo, arwah orang yang meninggal bisa mencapai kesempurnaan di Puya.
Maka keluarga yang ditinggalkan akan berusaha semaksimal mungkin menyelenggarakan Upacara
Rambu Solo. Akan tetapi, biaya yang diperlukan bagi sebuah keluarga untuk menyelenggarakan
Rambu Solo tidaklah sedikit. Oleh karena itu, upacara pemakaman khas Toraja ini seringkali
dilaksanakan beberapa bulan bahkan sampai bertahun-tahun setelah meninggalnya
seseorang.14[23]

Ada beberapa tingkatan dalam upacara Rambu Solo’, yaitu:

 Disisli adalah upacara kematian/pemakaman paling sederhana. Orang miskin dari tingkatan budak
sering dikuburkan dengan hanya membekali mayat dengan telur ayam tanpa upacara keagamaan.
 Dipasang Bongi adalah upacara kematian yang dilakukan hanya satu malam di rumah dan hanya
seekor kerbau dipotong dan beberapa ekor babi. Upacara ini bagi orang tua dari golongan terendah
atau golongan menengah yang tidak mampu ekonominya.

 Dipatallung Bongi adalah upacara penguburan yang berlangsung selama tiga malam di rumah.
Empat ekor kerbau dan babi sepuluh ekor.

 Dipalimang Bongi, upacara pemakaman selama lima hari lima malam.

 Dipapitung Bongi, upacara tujuh hari tujuh malam. Setiap hari dan setiap malam ada acara
pemotongan kerbau dan babi, keluarga terdekat pantang makan nasi selama acara berlangsung.
Banyak babi dipotong, kerbau sebanyak 9 sampai 20 ekor.

 Dirapai, upacara pemakaman orang meninggal yang paling mahal karena dua kali diupacarakan
sebelum dikubur. Upacara pertama diadakan di rumah Tongkonandan kemudian diistirahatkan
satu tahun kemudian upacara ke dua diadakan. Upacara ke dua, orang meninggal dipikul ratusan
orang dari tongkonan atau rante tempat upacara ke dua. Upacara ini disebut ma’palo/
ma’pasonglo’. Orang meninggal dibungkus kain merah dilapis emas, diikuti oleh tau-tau dan janda
almarhum dalam usungan yang dihiasi emas serta diiringi oleh puluhan ekor kerbau jantan yang
siap diadu satu lawan satu. Dirapai terbagi tiga (3) rapasan dilayu-layu, dengan target terendah dua
belas ekor kerbau. Kemudian rapasan sundun, dengan target minimum 24 ekor kerbau yang
dipotong, rapasan sapurandanan dengan jumlah terendah 30 ekor kerbau yang dipotong.15[24]

b) Tempat Pemakaman

Di Tana Toraja banyak terdapat gunung batu dengan gua-gua yang jauh menjorok
ke dalam gunung. Bagi suku Toraja yang tingkat ekonominya rendah, kerangka-kerangka jenaza
mereka diletakkan begitu saja di dalam gua. Tapi bagi kalangan bangsawan orang-orang kaya,
pemakaman mereka disimpan dalam liang buatan pada ketinggian ± 10 meter di tepi tebing batu
yang hamper tegak lurus. Lubang itu digali dengan alat sederhana, seperti botol, palu, kampak,
dan lain-lain. Pembuatan lubang itupun menghabiskan waktu tidak kurang dari 4 tahun, bahkan
sebuah lubang yang disediakan untuk keluarga akan menghabiskan waktu puluhan tahun,
mengingat lubang itu harus mampu ditempati peti kerangka yang kedalamannya tidak kurang dari
dua meter, sementara panjang dan lebarnya sesuai dengan kebutuhan.

Menurut Lewis A. Coser:

adanya praktik upacara yang berbeda-beda bentuk pelaksanaannya, baik dari hal
waktu dilaksanakan, bentuk upacara, dan tingkat upacaranya. Ada upacara yang berlangsung
hanya satu hari dan tidak boleh bermalam, tetapi ada juga upacara yang dapat berlangsung selama
satu-dua malam, atau pun lebih dari tiga malam. Bentuk upacara yang dilakukan berbeda-beda
untuk upacara yang berlangsung selama satu hari, satu-dua malam, atau yang lebih dari tiga
malam. Hal itu dapat dilihat dari persiapan tempat untuk upacara pemakaman yang mana sangat
bervariasi. Ada yang hanya memasang tenda, ada juga yang menyiapkan tempat berupa
pondok/rumah (biasa disebut Lantang) dengan posisi melingkar di sebuah halaman yang luas
(yang disebut Rante).

Ada yang menggunakan kain merah dan ukiran, ada yang memakai patung, ada
yang memiliki tempat khusus untuk menerima tamu yang datang, ada yang memiliki Lakkian
(tempat menaruh jenasah selama upacara berlangsung), tetapi ada juga yang tidak boleh memakai
kain merah dan Lakkian. Fakta lain yang juga peneliti temukan di lapangan ialah adanya perbedaan
dalam bentuk dan banyaknya binatang yang dikorbankan (contohnya: babi dan kerbau). 16[25]

c) Kelahiran dan Kematian Anak

Sebenernya tidak ada suatu upacara khusus dalam menyambut kelahiran anak. Persyaratan
minimal adalah bantuan sang dukun dalam melahirkan, yang kemudian dihadiahi 20 ikat padi dan
uang sekedarnya. Jika si bayi meninggal dalam keadaan belum tumbuh gigi, maka upacara adalah
disilli, yakni jenazanya tidak boleh disemayamkan dirumah, tetapi bpleh dipotongkan ayam.17[26]
Jika si anak menjelang dewasa, suatu keharusan bagi mereka untuk sunat. Proses upacara
sunat itu dilakukan secara sembunyi. Aib bagi orang dewasa kalau diketahui bahwa ia belum
disunat.18[27]

d) Pinangan/Perkawinan

Beberapa hari menjelang pernikahan, keluarga mengadakan mappaci, yaitu malam


berbedak, bersolek, dan memerahi kuku atau berinai. Pada hari ini yang telah ditetapkan, kedua
mempelai melakukan akad nikah menurut agama Islam yang dilakukan oleh penghulu, kemudian
kedua mempelai melakukan upacara adat, yaitu mempelai pria menyentuh salah satu anggota
badan mempelai wanita, seperti ibu jari atau tengkuk. Itu berarti bahwa mempelai wanita telah sah
menjadi mempelai pria. Setelah itu, keluarga mempersandingn kedua pengantin di pelaminan,
disaksikan oleh para tamu. Seluruh upacara perkawinan yang diramaikan dengan pesta ini
berlangsung di rumah mempelai wanita dan upacara ini dinamakan marola.19[28]

BDisetiap daerah tradisi alukta ini berbeda-beda dalam tahapan upacara keagamaannya,
namun demikian intinya sama yaitu sama-sama menjalankan ajaran nenek moyang dulu menuju
ke Puang Matua. Di Kecamatan Makale, Mekende’ dan Sangala’ yang nama lainnya Talu
Lembang, tahapan-tahapan perkawinannya adalah sebagai berikut:

 Di bo’ bo’ b’d’ngi, yaitu dimana pria diantar saja di rumah wanita selama 3 malam, setelah itu
baru di jamu semua keperluannya, perkawinan dianggap sudah sah (dipasanda bongi).

 Sinna suan, artinya ritual keagamaan berdasarkan 2 ekor babi dan pengantinnya diantar pada
malam hari.
 Rannufanang kappa disurangkana, dimana babi yang dipotong sekurang-kurangnya 2 ekor.

 Kaberian allo, dimana perkawinan tertinggi seperti matahari, sehingga kawin harus pake potong
kerbau.20[29]

Dalam konsep perkawinan mereka, perceraian dapat dilakukan, namun denda yang harus dibayar
untuk perceraian pun tidaklah sedikit. Bagi Kasta Tona Bulan akan dikenakan denda sebanyak 29
kerbau. Bagi Kasta Tona Basi akan dikenakan denda 12, 8, 4 dan dua ekor kerbau.21[30]

E. Interaksi Kepercayaan orang Toraja dengan Agama-agama lain

Sistem kepercayaan yang dikenal pertama dan ada sampai sekarang di Tana Toraja adalah
Aluk To Dolo. Sistem kepercayaan ini muncul pada abad ke 9M, yang apabila kita bandingkan
dengan kemunculan Banua Tamben sebagai bentuk rumah Toraja ketiga pada abad 8 M dapat
disimpulkan bahwa Aluk To Dolo tercipta setelah mendapatkan pengaruh dari budaya luar yang
dikatakan oleh masyarakat Toraja sebagai puang-puang lembang.

Pengaruh yang ada semenjak abad ke 4 M di Indonesia adalah pengaruh Hindu-Buddha,


karena semenjak abad ke 4 M mulai berdiri kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia.

Masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha sangat mempengaruhi kehidapan


masyarakat di Indonesia baik dalam kehidupan politik, sosial, budaya, maupun keagamaan.
Dengan masuknya agama dan kebudayaan Hindu-budhha menjadikan bangsa Indonesia mulai
mengenal tulisan Pallawa dan baha Sansekerta. Dengan demikian, nbangsa Indonesia mulai
memasuki zaman sejarah.
Unsur-unsur kebudayaan Hindu-Buddha dari India yang masuk ke wilayah lokal
Indonesia, tidak langsung ditiru, tetapi sudah dipadukan dengan unsur kebudayaan asli Indonesia
sehingga terbentuklah unsur kebudayaan baru yang dapat dikatakan lebih sempurna. Proses
pencampuran antara Hindu dengan religi dan sosial budaya dari masyarakat Toraja seperti
penyembahan kepada tiga unsur seperti penyembahan Trimurti agama Hindu serta sistem kasta
yang terbagi empat pada masyarakat Toraja, sama halnya dengan sistem kasta berdasarkan agama
Hindu. Aluk To Dolo dapat dikatakan sebagai pencampuran dari unsur lokal dengan agama Hindu,
karena Aluk To Dolo juga menyembah kepada 3 unsur, yaitu:

1. Puang Matua22[31]

2. Deata-deata

3. To Mambali Puang

Pembagian kasta pada masyarakat Toraja sebagaimana struktur masyarakat Hindu di India, juga
dikenal menjadi 4 kasta, yaitu:

1. Tana’ bulaan terdiri dari bangsawan tinggi

2. Tana’ bassi terdiri dari bangsawan menengah

3. Tana’ karurung terdiri dari rakyat merdeka

4. Tana’ kua-kua terdiri dari hamba sahaya.

Seiring berjalan waktu sistem kepercayaan Aluk To Dolo ini dihadapkan dengan agama-agama
yang dibawa oleh bangsa pendatang, Agama Islam dibawa oleh para pedagang Bugis pada abad
15 M (1675). Akan tetapi akibat dari masuknya Islam ke Toraja dan tidak adanya toleransi dari
religi lokal Aluk To Dolo dari Islam maka akhirnya timbullah perang pada 1683. Sedangkan agama
Kristen dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1900. Setelah melalui proses lama,
akhirnya agama Kristen dapat diterima karena ajaran Kristen dapat mentolerir ajaran Aluk To
Dolo.23[32] Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan
bantuan pemerintah kolonial Belanda. Selain menyebarkan agama, belanda juga menghapuskan
perbudakan dan menerapkan pajak daerah.

Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena
penghapusan jalur perdagangan yang menguntungkan Toraja. Beberapa orang Toraja telah
dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak
ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit
masyarakat. Meskipun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan
hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada tahun 1950, hanya sekitar 10%
orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen. Pada tahun 1930-an penduduk muslim
didaratan rendah menyerang Toraja. Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin bekerja sama
dengan Belanda untuk berpindah ke agama Kristen agar mendapatkan perlindungan politik, dan
dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama
Islam.24[33]

Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami
kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam25[34], yang bertujuan untuk
mendirikan sebuah Negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun
tersebut turur menyebabkan semakin banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.26[35]
F. Lampiran

Upacara Keagamaan upacara penyembahan

Culculture.blogspot.com art-andarias.blogspot.com

Tingkatan Orang Miskin suku Toraja tingkatan Orang Kaya Suku Toraja

Beritaastrabudaya.blogspot.com octaviani951022.wordpress.com

Struktur Suku Orang Toraja (Puang) Upacara Kematian

Manukallodanga.wordpress.com derosaryebed.blogspot.com

Upacara Pemakaman Upacara Kematian Anak

Balitour.net www.torajaparadise.com

Upacara Perkawinan Suku Toraja

www.seputarpernikahan.com