Anda di halaman 1dari 266

OL E

H OL
E
M H
OR CK
W LA
B

©2003

MESIN
WAKT
"SUCCESSFUL... JIM AL-KHALILI
HUMOROUS...
UPTODATE..."
New Scientist
BLACK HOLE
WORMHOLE

MESIN
WAKT
Diterjemahkan oleh SeSa Media
anggota dari JSF [WORKGROUP]

SeSa Media & logo adalah merek milik JSF [WORKGROUP]

Penerjemahan & penyuntingan oleh Jookut dkk.


Desain sampul & grafis oleh RGB@SKY Studio

Buklog Bukupedia
SeSa Media
Terjemahan Black Holes, Wormholes, and Time Machines / SeSa Media
a4. h. mm.
JRCW 12347 030BT 127HR
1. Fisika. 2. Waktu. 3. Eksistensi.
EA3—2012.tr4030K

Semua hasil kerja SeSa Media terdaftar di JOO Rights Commons Work. Dengan demikian,
telah dapat dipastikan bahwa hasil terjemahan ini tidak muncul dengan sendirinya dan
menjadi pengakuan jelas & tegas bahwa SeSa Media-lah yang telah mengerjakan semua
proses penerjemahan buku ini. Agar di kemudian hari tidak muncul fitnah bahwa buku ini
tidak diterjemahkan melainkan muncul dengan sendirinya begitu saja, atau fitnah bahwa si
penerjemah buku ini hanya mengaku-aku menerjemahkan.

Jooright �2012 SeSa Media

Joo rights reserved. Semua yang kami lakukan bukan demi kepentingan komersial. Jadi,
kami tidak menghutangi Anda dengan apa yang kami lakukan. Karena itu, dengan segala
kerendahan hati, kami minta agar hasil terjemahan kami tidak dikomersialkan oleh pembaca
sekalian. Jika Anda tidak mengindahkannya, maka pernyataan ini dapat diartikan sebagai
bentuk tanggungjawab kami kepada mereka yang mengerti dan mengindahkan.

Terjemahan ini diterbitkan oleh SeSa Media, UKM., Jl. Hidup 47, Long East, 12347. Jooright �2012 SeSa Media,
UKM. Joo rights reserved. Terjemahan ini telah dicatat sebagai salah satu karya SeSa Media dalam JOO Rights
Commons Work. Tak satupun di dalam bagian terjemahan ini yang muncul dengan sendirinya. Kunjungi situs kami
di http://sesamedia.wordpress.com
PRAKATAW

SECARA KHUSUS, kami mohon maaf kepada Jim Al-Khalili dan juga mereka
yang terlibat dalam pembuatan buku “BLACK HOLES, WORMHOLES, AND
TIME MACHINES”. Proses penerjemahan ini kami lakukan tanpa meminta izin
kepada Anda sekalian. Karena itu, dengan ini kami juga mengakui bahwa kami
akan disalahkan jika ada penggunaan istilah yang tidak sesuai dengan yang
dimaksudkan.
Jika yang kami lakukan ini dapat dikatakan sebagai bentuk kebebasan
(meskipun dalam beberapa bagian ataupun sebagian, kami tidak setuju
seluruhnya), semoga Anda setuju dengan apa yang kami lakukan. Kami tidak
mengambil keuntungan apa-apa dari penerjemahan buku ini.
Untuk Anda pembaca terjemahan ini, kami nyatakan bahwa kami tidak
menambah atau mengurangi sesuatu apapun dalam isi terjemahan ini. Jika
ada kekurangtepatan dalam menyampaikan maksud kalimat dan istilah, kami
mohon maaf dengan sebesar-besarnya, baik kepada yang sangat mengerti
Fisika, Kosmologi, Astronomi, Bahasa Indonesia, ataupun Bahasa Inggris.
Akhirnya, kami persembahkan setiap hasil terjemahan kami ini khusus
kepada Umat Islam di negeri ini dari Merauke sampai Sabang, dari Talaud
sampai Rote, dan secara umum untuk masyarakat Indonesia. GRATIS! FREE!
COPYRIGHT

©IOP Publishing Ltd 1999

All rights reserved. No part of this publication may be reproduced, stored in a retrieval system
or transmitted in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording
or otherwise, without the prior permission of the publisher. Multiple copying is permitted in
accordance with the terms of licences issued by the Copyright Licensing Agency under the
terms of its agreement with Universities UK (UUK).

British Library Cataloguing-in-Publication Data


A catalogue record for this book is available from the British Library.

ISBN 0 7503 0560 6

Library of Congress Cataloging-in-Publication Data are available

Reprinted with corrections 2000


Reprinted 2001 (twice), 2003

Production Editor: Al Troyano


Production Control: Sarah Plenty and Jenny Troyano
Commissioning Editor: Michael Taylor
Editorial Assistant: Victoria Le Billon
Cover Design: Kevin Lowry
Marketing Executive: Laura Serratrice

Published by Institute of Physics Publishing, wholly owned by The Institute of Physics, London

Institute of Physics Publishing, Dirac House, Temple Back, Bristol BS1 6BE, UK
US Office: Institute of Physics Publishing, Suite 929, The Public Ledger Building, 150 South
Independence Mall West, Philadelphia, PA 19106, USA

Typeset in TEX using the IOP Bookmaker Macros


First printed in the UK by J W Arrowsmith Ltd, Bristol
Reprinted in the UK by MPG Books Ltd, Bodmin, Cornwall
6

TENTANG PENULIS

Jim Al-Khalili dilahirkan pada 1962 dan bekerja sebagai fisikawan


teoritis di Universitas Surrey di Guildford. Dia adalah pionir
pempopuler sains dan berdedikasi menyampaikan keajaiban
sains dan menyingkap batasannya kepada masyarakat umum.
Dia merupakan anggota aktif komisi Public Awareness of Nuclear
Science Eropa. Riset teranyarnya adalah mengenai atribut dan tipe
baru nukleus atom yang memuat halo neutron. Dia memperoleh
PhD-nya dalam fisika nuklir teoritis dari Universitas Surrey pada
1989 dan, setelah dua tahun di University College London, kembali
ke Surrey sebagai Research Fellow sebelum ditunjuk menjadi
dosen pada 1992. Sejak saat itu dia mengajar fisika quantum,
teori relativitas, matematika, dan fisika nuklir kepada mahasiswa
prasarjana Surrey. Dia telah menikah dan dikaruniai dua anak dan
tinggal di Portsmouth, Hampshire.
7

Untuk Julie, David, dan Kate


8

DAFTAR ISI

Joo Rights Commons Work


Prakataw
Copyright

PENGANTAR 12
PENGHARGAAN 15
PENDAHULUAN 16
Sepuluh menit, pendek atau panjang? 17
Akal sehat 18
Kembali ke masa depan 20
Bertemu diri Anda sendiri 22

RUANG
BAB 1 DIMENSI KE-4 25
Berhubungan dengan bentuk 25
Apa itu ruang? 27
Dunia2D dan penghuni dunia2D 30
Ruang melengkung 34
Betulkah ada dimensi keempat? 40
BAB 2 MENGENAI GRAVITASI 42
Apel dan bulan 42
Gravitasi Einstein 44
Jatuh bebas 47
Ruang karet 52
Kelap, kelip 54
Memasak unsur-unsur 55
Sampanye supernova di langit 57
9
BAB 3 ALAM SEMESTA 60
Langit malam 60
Seberapa besar Alam Semesta? 62
Alam Semesta mengembang 65
Hubble, menggelembung... 68
Ruang sedang meregang 70
Apakah Big Bang betul-betul terjadi? 74
Tepi ruang angkasa? 75
Alam semesta tertutup 77
Alam semesta terbuka 78
Kalau begitu apa bentuk Alam Semesta kita? 82
Materi tak tampak 85
1998: tahun besar dalam kosmologi 87
Apakah Alam Semesta itu tak terhingga? 89
Mengapa malam hari gelap? 89
Sebelum Big Bang? 91
Ringkasan 92
BAB 4 BLACK HOLE 94
Ada hal-hal tersembunyi soal cahaya! 94
Bintang tak tampak 98
Di luar horizon 102
Sebuah lubang yang tak pernah bisa diisi 106
Black hole berputar 108
Jatuh ke dalam black hole 110
Melihat black hole 114
Bagaimanapun tidak begitu hitam 118
White hole 120

WAKTU
BAB 5 WAKTU BERUBAH 122
Apa itu waktu? 122
Siapa penemu waktu? 123
Momen pertama 127
Apakah waktu mengalir? 129
Sesuatu yang disebut entropi 131
10
Anak panah waktu 136
Stephen Hawking keliru memahaminya 138
Kemungkinan solusi 145
BAB 6 WAKTU EINSTEIN 148
Apa yang istimewa dari relativitas khusus? 148
Dua wajah cahaya 152
Eksperimen pikiran dan pengusik akal 155
Waktu melambat 157
Jarak menyusut 161
Cahaya—rekor kecepatan dunia 163
Saat waktu berjalan terbalik 166
Makhluk hijau kecil 168
Mencepat ke masa depan 169
Ruangwaktu—masa depan ada di luar sana 172
Waktu gravitasi 177
BAB 7 PARADOKS PERJALANAN WAKTU 180
Paradoks Terminator 182
Mencoba menyelamatkan dinosaurus 185
Saudara Mona Lisa 187
Tak ada jalan keluar? 189
Alam semesta paralel 190
Di mana semua pelancong waktu tersebut? 196

MESIN WAKTU
BAB 8 WORMHOLE 200
Jembatan ke dunia lain 201
Alice menembus cermin 204
Ketika sains fakta bertemu sains fiksi 209
Wormhole—menjaga gerbang bintang tetap terbuka 214
Mengunjungi alam semesta paralel 218
BAB 9 BAGAIMANA MEMBANGUN MESIN WAKTU 219
Simpal waktu 219
Mesin waktu Tipler 223
Mesin waktu string kosmik 225
11
Resep untuk mesin waktu wormhole 227
Persoalan yang tak dapat diatasi? 235
BAB 10 APA YANG KITA KETAHUI? 240
Induk semua teori 241
Akhir fisika teoritis 245
Astronomi versus astrologi 249
Pesona sains 251
BIBLIOGRAFI 253
INDEKS 258

SeSa Na
Nuhun Ka
12

PENGANTAR

D ALAM beberapa tahun belakangan terjadi ledakan jumlah buku dan


program TV yang mempopulerkan ide dan teori sains mutakhir dan
menjadikannya dapat diakses oleh kalangan luas. Lantas adakah kebutuhan
akan buku lain tentang sebuah subjek yang sudah mendapat lebih banyak
perhatian daripada kebanyakan subjek lain: sifat ruang dan waktu dan awal-
mula Alam Semesta kita? Suatu hari, saya memeriksa website klub buku
yang besar. Di bawah kategori sains dan alam, saya mencari semua buku
yang memuat kata ‘waktu’ dalam judulnya. Saya menemukan 29 buku! Tentu
saja, Brief History of Time-nya Stephen Hawking adalah yang paling dikenal
di antara buku-buku ini, tapi ada banyak buku lain dengan judul-judul seperti
About Time, The Birth of Time, The Edge of Time, The River of Time, dan
sebagainya. Sepertinya mempertanyakan sifat waktu pada level fundamental
merupakan topik ‘hangat’ saat ini. Yang paling mengejutkan bagi saya adalah
banyak dari 29 buku itu telah diterbitkan sejak saya mulai menulis buku ini.
Para penulis sains yang diakui semisal Paul Davies, John Gribbin, dan
Richard Dawkins merupakan inspirasi saya saat kuliah di pertengahan 1980-
an. Tapi mereka justru mengajar mahasiswa yang baru masuk. Paling banter
itu ditujukan bagi ‘orang awam cerdas’, siapapun yang dianggap demikian.
Oleh sebab itu ambisi saya adalah menulis sebuah buku pada level yang
lebih dasar, yang dapat menjelaskan beberapa ide dan teori fisika modern
untuk siapapun agar dimengerti, tentu saja asalkan mereka cukup tertarik
membaca buku semacam itu. Saya juga telah mencoba membuatnya sedikit
lebih menyenangkan, mencoba (barangkali tanpa banyak keberhasilan) seperti
Stephen Hawking berjumpa Terry Pratchett.
Banyak ilmuwan akan berargumen bahwa subjek-subjek sukar seperti
teori relativitas Einstein hanya dapat ‘dibungkam’ sebelum mencapai level di
mana penjelasannya tak lagi benar. Saya benci istilah tersebut: dibungkam.
Kedengarannya begitu merendahkan. Dan meski disanjung oleh masyarakat
sebagai kalangan yang lebih cerdas dari yang lain, ilmuwan cuma orang yang
telah menghabiskan bertahun-tahun dilatih untuk memahami jargon relevan,
13
konsep abstrak, dan rumus matematika. Bagian sulitnya ialah menerjemahkan
ini ke dalam kata-kata dan ide yang bisa dimengerti oleh seseorang tanpa
pelatihan tersebut.
Karena demikianlah caranya berkembang, buku ini ditulis dengan
mempertimbangkan audiens remaja. Namun, ini diperuntukkan bagi siapapun
yang merasa judulnya mempesona atau membangkitkan keingintahuan. Tak
peduli apakah Anda belum pernah memungut satupun buku sains sejak Anda
berumur lima belas.
Jadi bagaimana dahulu buku ini terbentuk? Well, sekitar tiga tahun
lalu, kepala departemen fisika saya saat itu di Universitas Surrey, Bill Gelletly,
menyarankan agar saya memberi, sebagai salah satu dari rangkaian kuliah
untuk mahasiswa tahun pertama yang meliputi sederetan topik umum dalam
fisika modern, sebuah kuliah tentang ‘wormhole’. Topik tersebut sudah pasti
bukan bagian dari mata kuliah tradisional fisika tingkat prasarjana. Nyatanya,
penggemar serial TV Star Trek: Deep Space Nine barangkali lebih tahu soal
wormhole daripada rata-rata fisikawan. Bagaimanapun juga, saya pikir itu
akan menyenangkan, lalu saya membaca buku-buku bertema tersebut untuk
persiapan memberi kuliah. Pada saat harinya tiba, saya terkejut mendapati
banyak mahasiswa yang bukan mengambil mata kuliah tersebut, juga periset
pasca doktoral dan anggota staf, justru ada di antara hadirin. Kelihatannya ada
sesuatu yang magis dari judul itu.
Tiap tahun departemen saya mengirim banyak pembicara, dari antara
staf akademisnya, dan judul-judul kuliah ke sekolah-sekolah dan perguruan
tinggi setempat. Ini terutama sebagai publisitas departemen dengan harapan
bahwa kuliah ini akan memainkan peranan dalam kampanye untuk menarik
mahasiswa baru. Saya menyodorkan pembicaraan ‘wormhole’ sebagai salah
satunya. Demikian suksesnya itu sampai-sampai saya ditanya oleh Institute
of Physics apakah mau menjadi Schools Lecturer tahun 1998. Ini melibatkan
komitmen lebih besar yang mengharuskan bepergian mengelilingi negeri
untuk memberikan kuliah kepada kaum remaja berusia 14-16 tahun, dengan
audiens berjumlah beberapa ratus dalam satu waktu. Dan, setelah melakukan
banyak persiapan untuk penampilan ini, saya mendapati bahwa saya telah
mengumpulkan banyak sekali material mempesona untuk dijejalkan ke dalam
kuliah satu jam dan memutuskan menuliskannya ke dalam sebuah buku.
Saya telah mencoba sebisa mungkin untuk up-to-date. Nyatanya, saat
naskah dikirim kembali kepada saya dari penerbit untuk koreksi dan perubahan
14
akhir, saya harus merevisi sepenuhnya bab kosmologi. Lantaran adanya
penemuan astronomi mutakhir, banyak ide tentang ukuran dan bentuk Alam
Semesta berubah selama beberapa bulan yang singkat sejak saya menulis bab
tersebut.

Jim Al-Khalili
Portsmouth, England, July 1999
15

PENGHARGAAN

M ENENGOK paruh kedua tahun 1998 silam sewaktu bagian terbesar buku
ini ditulis, saya sadar berhutang banyak terima kasih kepada isteri saya
Julie dan anak-anak saya David dan Kate atas kesabaran mereka menyertai
saya. Karena saya tak mungkin membiarkan penulisan buku ini mengganggu
riset saya, penulisannya harus dikerjakan di rumah pada malam hari dan
akhir pekan. Saya juga berhutang kepada teman, keluarga, dan kolega berikut
yang bermurah hati mau membaca seluruh naskah dan memberi begitu
banyak komentar dan saran konstruktif: Julie Al-Khalili, Reya Al-Khalili, Richard
Wilson, Johnjoe MacFadden, Greg Knowles, Simon Doran, James Christley, Ray
Mackintosh, John Miller, dan James Curry. Saya yakin masih ada kekeliruan, dan
saya sendirian yang bertanggungjawab atas hal itu. Saya juga harus berterima
kasih kepada Bill Gelletly atas saran yang membuat seluruh proyek ini dimulai,
Kate Jones atas beberapa diskusi makan siang yang konstruktif tentang entropi,
Youcef Nedjadi atas penjelasan beberapa aspek kehendak bebas, Matt Viser
atas pemberitahuan beberapa ide teranyar tentang wormhole, Brian Stedeford
atas wawasan bermanfaat tentang karya Lewis Carroll, Phil Palmer atas
penjelasan sejumlah poin dalam kosmologi, James Malone atas kemurahan
menyediakan citra wormhole hasil komputer untuk sampul buku, dan terakhir
editor pengawas saya di Institute of Physics Publishing, Michael Taylor, atas
semua bantuan dan dukungannya.
16

PENDAHULUAN

“Saatnya telah tiba,” kata Walrus,


“untuk membicarakan banyak hal”...
Lewis Caroll, Through the Looking Glass

...tentang atom, bintang, dan galaksi,


dan apa arti black hole;
dan apakah ruang Einstein bisa cukup
menekuk untuk jadi mesin waktu.

B UKU INI diperuntukkan bagi semua orang—saya tahu setiap orang—yang


penasaran mengenai konsep-konsep yang terdengar eksotis seperti black
hole, lengkungan ruang, Big Bang, perjalanan waktu, dan alam semesta
paralel. Dalam menulis buku ini saya bertanya pada diri sendiri apakah orang
awam bisa memahami sedikit tentang beberapa ide fisika modern tanpa ingin
sekali mengecek sebelumnya bahwa IQ mereka menjangkau tugas tersebut.
Subjek buku ini telah diliput di tempat lain pada banyak level berbeda.
Paling puncak ialah teks tingkat tinggi atau karya ilmiah untuk praktisi di bidang
tersebut. Ini adalah buku jampi penyihir, hanya bisa diurai oleh segelintir orang
yang punya hak istimewa. Lalu ada buku yang ditujukan bagi mahasiswa fisika.
Ini juga memuat beberapa jampi, tapi tak terlalu kuat. Di bawahnya ada pasar
sains populer. Buku-bukunya ditujukan kepada non-ilmuwan karena memuat
sedikit matematika atau tidak sama sekali. Namun, buku tersebut hanya
menarik mereka yang (a) ilmuwan atau (b) fans buku semacam itu, yang telah
membaca buku-buku serupa mengenai subjek tersebut tanpa kecuali.
Jadi, saat menulis buku ini saya mengerahkan segala upaya untuk
memangkas jargon ilmiah sebanyak mungkin. Belakangan ini para penulis
sains populer, pada umumnya, semakin cakap dalam menjelaskan konsep-
konsep kompleks memakai istilah sehari-hari. Tapi sesekali kita akan memakai
‘bahasa Jargon’ sebab kita lupa bahwa ia tak mengandung makna yang sama
untuk setiap orang.
17
Sepuluh menit, pendek atau panjang?
Pada suatu musim panas, saat berusia sekitar sepuluh atau sebelas tahun,
saya jadi tertarik dengan konsep waktu. Dari mana ia berasal? Apa kita
menemukannya ataukah ia senantiasa ada? Apakah masa depan telah eksis
di suatu tempat? Apakah masa lalu masih sedang dimainkan? Pertanyaan-
pertanyaan yang mendalam bagi seorang anak kecil. Tapi, sebelum Anda
mengira ini adalah bakat kanak-kanak saya, izinkan saya berbagi dengan Anda
ide saya tentang perjalanan waktu. Saya tahu bahwa di sisi lain dunia, di suatu
tempat di tengah-tengah Samudera Pasifik, terdapat garis tak nampak yang
menjulur dari Kutub Utara ke Kutub Selatan yang membagi dunia ke dalam hari
ini dan kemarin! Jika sebuah kapal dilabuhkan di tengah garis ini, maka di satu
ujung kapal boleh jadi berpukul 09.00 Selasa pagi dan di ujung lainnya masih
pukul 10.00 Senin pagi. Tentu ini merupakan contoh jelas perjalanan waktu,
cuma dengan berjalan beberapa yard di sepanjang geladak!
Ok, saya tahu ada sesuatu yang mencurigakan dan saya ingat suatu
malam ayah saya menjelaskan kepada saya bahwa zona-zona waktu di
seluruh dunia hanyalah penemuan manusia. Contoh, bila diputuskan bahwa
saat tengah malam di New York, Inggris sudah berpukul 05.00 pagi, ini
hanyalah cara kita memastikan bahwa, seraya Bumi berputar, dan berbagai
negara menghadap ke arah matahari, durasi siang kurang-lebih sama untuk
setiap orang, jika tidak pada waktu yang sama. Saya mengikuti semua ini, tapi
sedikit banyak membuat saya kecewa. Pasti konsep ‘waktu’ lebih dari sekadar
itu, sesuatu yang lebih misterius. Saya berteori tentang waktu yang mengalir
dengan laju berbeda-beda yang tergantung pada mood saya. Jam pasti
melambat menuju akhir pelajaran sekolah dan, begitu hari ulangtahun saya
mendekat, minggu dan hari hampir berhenti.
Kini giliran anak-anak saya yang sampai pada kesimpulan ini. Jika saya
memberitahu mereka bahwa mereka punya waktu sepuluh menit lagi sebelum
mereka harus menaruh mainan, mereka sungguh serius saat bertanya apakah
itu adalah sepuluh menit pendek, menengah, atau panjang? Bagaimanapun,
siapa yang bisa membantah observasi sederhana bahwa, bagi seorang anak
kecil, waktu berjalan sangat lambat. Satu tahun adalah waktu yang sangat
panjang bagi anak berusia lima tahun sebab angka itu menyusun seperlima
hidup mereka, tapi semakin tua usia kita, semakin cepat rasanya tahun-tahun
meluncur: dapatkah Anda percaya sekarang sudah Natal lagi!? Atau: benarkah
sudah 3 tahun berlalu sejak saya terakhir kali berada di sini? Dan sebagainya.
18
Jauh dalam lubuk hati, kita merasa tahu bahwa waktu mengalir dengan
laju tetap. Ketika ditanya seberapa cepat waktu mengalir, respon fasih dan
lazim para ilmuwan adalah mengatakan bahwa lajunya satu detik per detik.
Dalam kultur kita, kita percaya bahwa, tak peduli seberapa subjektif kita
merasa tentang aliran waktu, terdapat jam kosmik yang menandai detik,
menit, jam, hari, dan tahun di setiap tempat di Alam Semesta tanpa belas
kasihan dan tanpa dapat ditawar dan tak ada yang bisa kita lakukan untuk
mengubahnya.
Ataukah ada? Apakah waktu kosmik semacam itu betul-betul eksis?
Fisika modern telah menunjukkan bahwa ia tidak eksis. Jangan khawatir,
terdapat bukti amat kuat untuk mendukung ini. Sebelum saya beranjak lebih
jauh, cobalah ini sebagai ukuran: kita merasa yakin bahwa perjalanan waktu
ke masa depan adalah mungkin. Ilmuwan telah berhasil menjalankan banyak
eksperimen yang menguji ini dan membuktikannya di luar dugaan. Jika Anda
meragukan kepingan informasi yang mengagumkan ini, bahkan mungkin
mengherankan, maka itu bukan akibat penutup-nutupan oleh pemerintah
ala X-Files melainkan lebih karena Anda belum menjalani mata pelajaran
relativitas khusus. Semua akan diungkap, saya harap, dalam buku ini.

Akal sehat
Barangkali wajar mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak mempunyai
hubungan yang baik dengan teori-teori relativitas Einstein (ya, ada dua
teori). Jadi saya tak pernah terkejut oleh respon yang saya peroleh ketika
memberitahu teman-teman non-ilmuwan bahwa tak ada yang bisa berjalan
lebih cepat daripada cahaya. “Bagaimana kau tahu?” tanya mereka. “Hanya
karena ilmuwan belum menemukan sesuatu yang bisa berjalan lebih cepat
daripada cahaya bukan berarti bahwa kau tidak akan menarik kembali
ucapanmu suatu hari nanti. Kau sebaiknya lebih berpikiran terbuka pada
kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin belum terjadi padamu.
Bayangkan memperlihatkan televisi kepada sebuah suku terpencil di
pedalaman Amazon yang belum pernah melihatnya sebelumnya,” dan
seterusnya. Saya tak sedikitpun terganggu oleh respon ini sebab sikap inilah
yang saya harap dimiliki oleh pembaca buku ini. Yakni, berpikiran terbuka dan
mempunyai kemampuan untuk menerima pandangan keduniaan yang baru
sekalipun itu bertentangan dengan segala yang Anda yakini, atau apa yang
biasa Anda sebut akal sehat.
19
Albert Einstein pernah dikutip mengatakan bahwa akal sehat hanyalah
prasangka yang kita peroleh pada usia delapan belas. Jadi, bagi suku Amazon
yang belum pernah melihat televisi sebelumnya, akan bertentangan dengan
akal sehat mereka bahwa kotak semacam itu bisa berbicara kepada mereka
dan mempertunjukkan kepada mereka seluruh dunia di dalamnya. (Ok, saya
berasumsi mereka mempunyai listrik dan pembangkit listrik!) Tapi saya yakin
Anda akan sependapat bahwa setelah kita menghabiskan cukup waktu dengan
suku ini untuk menjelaskan gelombang radio dan elektronik modern dan
segala hal lain yang membuat televisi bekerja, maka mereka akan dengan
segan harus menyesuaikan pandangan keduniaan mereka sehingga informasi
baru ini tak lagi bertentangan dengan akal sehat mereka.
Di permulaan abad 20, beberapa teori ilmiah baru dikembangkan dan
terbukti benar sampai sekarang. Di antara mereka ada yang bertanggung
jawab atas seluruh sains dan teknologi modern. Fakta bahwa kita mempunyai
jam digital, komputer, televisi, microwave, pemutar CD, dan hampir semua alat
modern lain merupakan saksi bahwa teori-teori ini, jika bukan seluruh cerita,
sangat benar dalam cara mereka menggambarkan dunia di sekeliling kita.
Teori-teori yang dibicarakan ini adalah relativitas dan mekanika quantum. Saya
harus menjelaskan bahwa teori sukses adalah teori yang bisa memprediksi apa
yang akan terjadi di bawah keadaaan tertentu: jika saya melakukan ini, maka,
menurut teori saya, akan terjadi itu. Jika saya menjalankan sebuah eksperimen
dan menemukan bahwa prediksi teorinya benar, maka ini adalah bukti yang
mendukung teori. Tapi teori tidak sama dengan hukum.
Hukum gravitasi menyatakan bahwa semua objek di Alam Semesta
ditarik ke satu sama lain oleh sebuah gaya yang tergantung pada seberapa
masif mereka dan seberapa jauh mereka terpisah. Ini tidak diragukan, dan
seraya kita tahu bahwa itu perlu dimodifikasi manakala kita berurusan dengan
objek-objek amat masif seperti black hole, kita mempercayainya seutuhnya
manakala menggambarkan cara objek yang jatuh berperilaku terhadap Bumi.
Namun, sebuah teori hanya bagus selama teori yang lebih baik tidak maju
dan menyangkalnya. Kita tak pernah bisa membuktikan sebuah teori, hanya
bisa menyangkalnya, dan teori sukses adalah teori yang tahan terhadap ujian
waktu. Berlawanan dengan pandangan banyak non-ilmuwan, kebanyakan
ilmuwan lebih suka membuktikan bahwa sebuah teori ilmiah itu salah, semakin
terhormat semakin bagus untuk disangkal. Jadi, karena teori-teori seperti
mekanika quantum dan relativitas Einstein telah bertahan selama sebagian
20
besar abad ini, meski terdapat upaya tetap fisikawan untuk membuktikannya
salah atau setidaknya menemukan celah atau kelemahan, kita harus mengakui
bahwa kedua teori tersebut barangkali benar, atau setidaknya berada di jalur
yang benar.

Kembali ke masa depan


Maaf, saya menyimpang dari cerita. Saya harus kembali ke hal menarik soal
bahwa perjalanan waktu adalah memungkinkan. Nanti dalam buku ini saya
akan menjelaskan lebih dalam apa itu teori relativitas. Sementara itu, berikut
adalah contoh ajaran relativitas kepada kita. Jika Anda bepergian dalam sebuah
roket yang bisa berjalan begitu cepat mendekati kecepatan cahaya, dan Anda
mengitari Galaksi selama, katakanlah, empat tahun, maka saat pulang ke
Bumi, Anda akan sedikit terguncang. Jika kalender di roket Anda menyatakan
Anda berangkat Januari 2000 dan pulang Januari 2004, maka, tergantung
kecepatan persis Anda dan seberapa berliku jalur Anda melintasi bintang-
bintang, Anda mungkin menemukan bahwa menurut Bumi, tahun kepulangan
Anda adalah 2040 dan semua orang di Bumi telah bertambah tua 40 tahun!
Mereka akan sama-sama terguncang melihat betapa Anda masih tampak
muda mengingat betapa lamanya Anda, menurut mereka, telah pergi.
Jadi jam roket Anda, yang bepergian dengan kecepatan amat tinggi,
mengukur empat tahun, sedangkan jam Bumi telah menghitung empat puluh
tahun. Bagaimana ini bisa terjadi? Bisakah waktu betul-betul melambat di
dalam roket Anda akibat kecepatan tingginya? Bila demikian, ini artinya,
praktisnya, Anda telah melompat 36 tahun ke masa depan!
Walaupun saya akan kembali membahas ini nanti, ide waktu yang
melambat saat Anda bepergian pada kecepatan tinggi ialah sesuatu yang betul-
betul telah dicek dan dikonfimasikan berkali-kali dalam eksperimen berlainan
sampai derajat akurasi amat tinggi. Contoh, ilmuwan telah menyinkronkan dua
jam atom berpresisi tinggi, kemudian menempatkan salah satunya di sebuah
pesawat jet dan yang lainnya di sebuah laboratorium di Bumi. Setelah jet
pulang, kedua jam dicek lagi. Ditemukan bahwa jam yang bepergian tertinggal
sepecahan detik di belakang rekannya yang tinggal di rumah. Meski kecepatan
sedang 1000 km/jam (kecepatan terbang jet) adalah kecil dibanding kecepatan
cahaya (jutaan kali lebih cepat), selisih kecil, jika tak disebut mengesankan,
antara catatan kedua jam tersebut riil. Jam-jam itu begitu akurat sehingga kita
tidak meragukan catatannya atau kesimpulan yang kita tarik darinya.
21
Pembaca yang tidak tahu sesuatu tentang teori relativitas mungkin
ingin membantah pada poin ini bahwa contoh di atas tidak sesederhana
kedengarannya. Itu benar, tapi seluk-beluk hal yang dikenal sebagai paradoks
jam ini harus menunggu sampai saya membahas relativitas khusus di Bab
6. Untuk sekarang, cukup menjaga pembahasan pada level pernyataan
sederhana, tapi tepat sempurna, bahwa kecepatan tinggi memperkenankan
perjalanan waktu ke masa depan.
Bagaimana dengan perjalanan waktu ke masa lalu? Dalam banyak
hal, ini lebih mempesona lagi. Tapi ternyata juga jauh lebih sulit. Mungkin
mengejutkan Anda bahwa pergi ke masa depan lebih mudah daripada ke
masa lalu. Anda mungkin berpikir bahwa gagasan pergi ke masa depan lebih
menggelikan. Masa lalu mungkin tak dapat diakses, tapi setidaknya ada di luar
sana; ia telah terjadi. Masa depan, di sisi lain, masih harus terjadi. Bagaimana
Anda bisa pergi ke waktu yang belum terjadi?
Yang lebih buruk lagi, jika Anda percaya bahwa Anda mempunyai suatu
kendali atas takdir Anda, maka semestinya terdapat versi masa depan dalam
jumlah tak terhingga. Lantas apa yang mengatur versi mana yang akan Anda
datangi? Tentu saja, mendatangi masa depan lewat perjalanan antariksa
kecepatan tinggi tidak berarti bahwa masa depan sudah ada di luar sana
menanti Anda. Itu hanya berarti Anda meninggalkan kerangka waktu orang
lain dan memasuki kerangka waktu di mana waktu bergerak lebih lambat.
Saat Anda berada dalam kondisi ini, waktu di luar berdetak lebih cepat dan
masa depan menghampar dengan kecepatan tinggi. Saat Anda bergabung
kembali dengan kerangka waktu asli Anda, Anda telah mencapai masa depan
secara lebih cepat dibanding orang lain. Ini sedikit mirip dengan bangun
dari koma setelah berlalu beberapa tahun dan berpikir bahwa Anda koma
selama beberapa jam saja. Perbedaannya tentu saja adalah bahwa Anda akan
terguncang saat pertama kali Anda memandang cermin dan melihat betapa
Anda telah jauh menua, sedangkan dalam kasus perjalanan high speed, jam
tubuh Anda dan segala sesuatu di roket betul-betul berada dalam kerangka
waktu berbeda. Yang betul-betul aneh adalah bahwa Anda tidak melihat
sesuatu yang berbeda saat Anda bergerak pada kecepatan ini. Bagi Anda,
waktu berjalan pada laju normalnya di roket dan jika Anda bisa melihat ke luar
jendela, Anda akan, paradoksnya, melihat waktu di luar berjalan lebih lambat!
Namun, ada pengecualian untuk ini. Sekali Anda mencapai masa depan,
Anda terpaku di sana dan tak bisa pulang ke masa kini yang Anda tinggalkan.
22
Tanggal keberangkatan Anda dengan roket kini berada di masa lalu Anda, dan
perjalanan waktu ke masa lalu agak menjadi persoalan. Tapi menyebutnya
sebagai persoalan tidaklah sama dengan menyatakannya mustahil.

Bertemu diri Anda sendiri


Ada begitu banyak contoh mengherankan tentang betapa menggelikannya
jika perjalanan waktu ke masa lalu dapat dilakukan sampai-sampai saya
bisa mengisi seluruh buku ini dengan contoh tersebut. Contoh, bagaimana
jika perjalanan waktu ke masa lalu dapat dilakukan dan Anda memutuskan
mengunjungi diri Anda saat lebih muda di waktu persis sebelum Anda
menginvestasikan tabungan Anda dalam bisnis patungan yang Anda tahu
akan gagal. Jika Anda berhasil meyakinkan diri muda Anda agar tidak
melaksanakannya, maka kiranya hidup Anda akan berbeda. Pada saat Anda
mencapai usia di mana Anda pergi ke masa lalu untuk menasehati diri Anda
agar membatalkan keputusan, tidak akan ada kebutuhan untuk berbuat
demikian sebab Anda tak pernah melakukan investasi. Jadi Anda tidak pergi
ke masa lalu. Tapi pada saat yang sama Anda harus mempunyai ingatan
tidak menginvetasikan uang lantaran diberitahu oleh diri tua Anda yang
mengunjungi Anda dari masa depan. Anda sekarang hidup di sebuah dunia
di mana Anda membuat keputusan untuk tidak berinvestasi. Apakah ini gara-
gara Anda bertemu diri tua Anda yang menasehati agar tidak melakukannya?
Bila demikian, bagaimana Anda bisa menjadi orang tersebut yang merasa
perlu pergi ke masa lalu untuk memperingatkan Anda terhadap sesuatu yang
akhirnya tidak Anda lakukan?
Jika Anda sama sekali bingung dengan apa yang baru Anda baca, jangan
khawatir, memang semestinya demikian. Itulah poin utuh sebuah paradoks.
Berikut adalah, secara sekilas, kemungkinan solusi. Jika Anda pergi ke masa
lalu untuk memperingatkan diri Anda agar tidak melakukan sesuatu, maka
kedua hal tersebut adalah benar. Pertama, fakta bahwa Anda akan pergi ke
masa lalu untuk menghentikan sesuatu yang telah terjadi mengandung arti
bahwa Anda pasti gagal dalam upaya tersebut lantaran itu memang terjadi.
Bagaimanapun, hanya ada satu versi sejarah. Kedua, Anda mesti mengingat
sebuah waktu di masa lalu saat Anda dikunjungi oleh diri tua Anda dan Anda
tahu bahwa itu adalah upaya sia-sia dan karenanya tahu bahwa itu tak layak
dicoba. Di sinilah penjelasan ini mogok. Jika Anda tahu tidak ada baiknya pergi
ke masa lalu untuk memperingatkan diri Anda dan kemudian memutuskan
23
tidak pergi, lantas siapa yang pergi? Anda harus pergi ke masa lalu sebab Anda
ingat pernah bertemu diri tua Anda yang mencoba meyakinkan Anda agar
tidak masuk dalam bisnis patungan. Ini berarti Anda tidak punya kebebasan
untuk memilih tindakan. Jadi, apa yang terjadi? Apakah suatu Penguasa Waktu
muncul dan memaksa Anda memasuki mesin waktu yang memperingatkan
Anda tentang konsekuensi mengerikan terhadap struktur ruangwaktu jika Anda
tidak memasukinya?
Meski terdapat persoalan semacam itu, Anda mungkin tertarik untuk
mengetahui bahwa perjalanan waktu ke masa lalu ternyata diperkenankan
oleh teori relativitas umum Einstein, sebuah penemuan yang dibuat
setengah abad silam. Dan karena relativitas umum saat ini merupakan teori
terbaik kita mengenai sifat waktu, kita harus mempertimbangkan prediksi-
prediksinya secara serius sampai kita bisa menemukan alasan bagus,
barangkali berdasarkan pemahaman lebih mendalam akan teori tersebut,
untuk mengesampingkan mereka. Karenanya, Anda mungkin bertanya-tanya
mengapa sampai sekarang tak ada seorang pun yang mampu mengkonstruksi
mesin waktu? Dalam buku ini saya menjelaskan alasannya, menyinggung
beberapa topik paling mempesona dalam fisika.
Beberapa hal yang telah kita temukan mengenai Alam Semesta kita
begitu mengagumkan dan luar biasa sampai-sampai saya berharap Anda akan
merasa tertipu karena belum mengetahuinya hingga sekarang. Itulah yang
saya harap Anda dapatkan dari buku ini; berbagi perasaan penasaran yang
saya miliki tentang kosmos. Memberi Anda suatu amunisi ilmiah keras untuk
membuat teman-teman pesta makan malam Anda terkesan ketika diskusi
perjalanan waktu dimulai.
R U A N G
25

BAB 1
DIMENSI KE-4

Berhubungan dengan bentuk

G EOMETRI adalah cabang matematika mengenai atribut dan hubungan


titik, garis, permukaan, dan benda padat. Mayoritas orang barangkali
tidak mengingat geometri yang dipelajarinya di sekolah: luas lingkaran,
panjang sisi segitiga siku-siku, volume kubus dan silinder, tak lupa pula alat-
alat perdagangan handal itu, kompas dan busur derajat, dengan nostalgia
kecintaan. Karenanya saya berharap Anda tidak terlalu tertunda oleh bab yang
dicurahkan untuk geometri.
Dalam semangat perang buku ini terhadap bahasa Jargon ilmiah, saya
akan mendefinisikan ulang pengertian geometri dengan mengatakan bahwa
ia berhubungan dengan bentuk. Mari kita periksa apa yang kita maksud
dengan bentuk dalam pengertian paling umum. Perhatikan huruf ‘S’. Bentuk-
nya disebabkan oleh sebuah garis melengkung. Sepercik cat pada kanvas juga
memiliki bentuk, tapi ini bukan lagi berbentuk garis melainkan luas. Objek-
objek padat memiliki bentuk pula. Kubus, bola, manusia, mobil, semuanya
memiliki bentuk geometris yang disebut volume.
Atribut yang berlainan pada ketiga kasus di atas—garis, permukaan,
dan volume—adalah jumlah dimensi yang dibutuhkan untuk mendefinisikan
mereka. Garis dikatakan satu-dimensi, atau 1D, luas adalah dua-dimensi, atau
2D, dan volume adalah 3D.
Adakah suatu alasan mengapa saya tidak bisa terus beranjak ke dimensi
lebih tinggi? Apa yang begitu istimewa dengan angka tiga sehingga kita harus
berhenti di situ? Jawabannya, tentu saja, adalah bahwa kita hidup di alam
semesta yang mempunyai tiga dimensi ruang; kita mempunyai kebebasan
untuk bergerak ke depan/ke belakang, ke kiri/ke kanan, dan ke atas/ke
bawah, tapi mustahil bagi kita untuk menunjuk ke arah baru yang siku-siku
terhadap tiga arah lain tersebut. Dalam matematika, ketiga arah ke mana kita
bebas bergerak ini disebut saling tegak lurus, bahasa matematikawan untuk
‘siku-siku terhadap satu sama lain’.
26
Semua objek padat di sekeliling kita adalah 3D. Buku yang Anda baca
ini mempunyai tinggi, lebar, dan tebal tertentu (ketiganya adalah panjang
yang diukur ke arah yang siku-siku terhadap satu sama lain). Bersama-sama,
ketiga bilangan ini menetapkan dimensi buku. Nyatanya, jika Anda mengalikan
bilangan-bilangan tersebut, Anda memperoleh volumenya. Ini tidak berlaku
untuk semua objek padat. Bola, misalnya, hanya memerlukan satu bilangan
untuk menetapkan ukurannya: jari-jari. Tapi ia tetap tiga-dimensi sebab
merupakan objek padat yang tersimpan di ruang 3D.
Kita melihat di sekeliling kita bentuk-bentuk yang satu-dimensi, dua-
dimensi, ataupun tiga-dimensi, tapi tidak pernah empat-dimensi sebab objek
semacam itu tidak dapat diakomodasi di ruang tiga-dimensi kita. Nyatanya,
kita bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk empat-dimensi.
Membayangkan sesuatu berarti membangun modelnya dalam otak kita yang
hanya bisa menanggulangi sampai tiga dimensi. Kita benar-benar tidak akan
sanggup memahami bentuk 4D.
Bagi banyak orang, ‘satu-dimensi’ berarti ‘satu arah’. Penambahan
dimensi lain pada sesuatu berarti memperkenankannya bergerak ke arah
baru. Cukup benar, tapi, Anda mungkin bertanya, bagaimana dengan huruf ‘S’
tadi? Saat menuliskan ‘S’, pena Anda membuat kurva ke arah-arah berlainan.
Bagaimana bisa bentuk akhirnya masih 1D? Bayangkan sebuah dot bernama
Fred yang tinggal di sebuah garis lurus (gambar 1.1). Fred tak bisa bergerak ke
luar garis dan dilarang bergerak ke atas atau ke bawah. Kita katakan gerakan
ini adalah satu-dimensi. Nyatanya, karena garis itu merupakan keseluruhan
alam semesta Fred, kita katakan dia tinggal di sebuah alam semesta 1D. Tapi
bagaimana jika alam semestanya adalah huruf ‘S’? Berapa banyak dimensi yang

Gambar 1.1. Fred sang dot hidup di alam semesta satu-dimensi


yang (a) flat dan (b) melengkung.
27
dia tinggali sekarang? Jawabannya tetap satu. Dia masih dilarang bergerak
ke atas atau ke bawah garis. Hidupnya mungkin kini lebih menarik karena
terdapat beberapa belokan untuk dia lalui, tapi melengkungkan sebuah bentuk
tidaklah menambah jumlah dimensinya. (Ngomong-ngomong, karena Fred
sendiri hanyalah dot, atau ‘titik’ menurut definisi matematis, dia merupakan
makhluk nol-dimensi.)
Cara lain untuk membahas dimensi-dimensi sebuah ruang ialah dengan
mengetahui berapa banyak bilangan, disebut koordinat, yang kita perlukan
untuk menemukan posisi tertentu di dalam ruang tersebut. Contoh berikut,
yang saya ingat pernah saya baca bertahun-tahun silam tapi entah di mana,
merupakan contoh tergamblang yang saya ketahui. Bayangkan Anda berada
di atas tongkang yang menyusuri kanal. Berdasarkan suatu titik referensi,
katakanlah desa yang Anda lewati sebelumnya, Anda hanya perlu satu
bilangan: jarak yang Anda tempuh dari desa itu, untuk menetapkan posisi
Anda. Jika Anda kemudian memutuskan berhenti untuk makan siang, Anda
bisa menelepon seorang teman dan memberitahunya bahwa Anda berada,
katakanlah, enam mil ke arah hulu dari desa. Tak peduli seberapa berliku
kanal tersebut, enam mil adalah jarak yang Anda tempuh dan bukan ‘jalan
lurus’. Jadi kita katakan tongkang itu dibatasi untuk bergerak ke satu dimensi,
sekalipun tidak ketat dalam garis lurus.
Bagaimana jika Anda berada dalam kapal di samudera? Anda
memerlukan dua bilangan (koordinat) untuk menemukan posisi Anda.
Berkenaan dengan suatu titik referensi, katakanlah dermaga terdekat atau
koordinat internasional, bilangan itu adalah garis lintang dan garis bujur.
Karenanya, kapal tersebut bergerak ke dua dimensi.
Untuk kapal selam, di sisi lain, Anda perlu 3 bilangan. Di samping garis
lintang dan garis bujur, Anda juga harus memperinci panjang dimensi ketiga,
kedalaman. Jadi kita katakan kapal selam bebas bergerak di ruang tiga-dimensi.

Apa itu ruang?


Dalam pertemuan staf di Departemen Fisika Universitas Surrey di mana saya
bekerja, selalu terdapat item berjudul ‘Ruang’ pada agenda. Dalam agenda
inilah berbagai kelompok riset berdebat soal ruang kantor untuk mahasiswa
riset dan periset tamu yang memerlukan meja selama beberapa minggu dan
soal ruang laboratorium untuk eksperimen mereka. Tapi saat kepala departemen
mencapai poin tersebut dalam pertemuan dan mengatakan sesuatu seperti
28
“Nah sekarang kita sampai ke bahasan Ruang—”, biasanya seseorang
bergumam, “—batas final”. Anda pikir fisikawan tak punya selera humor!
Kita semua berpikir tahu apa arti ‘ruang’, entah itu ruang dalam
pengertian ‘ada ruang kosong tersisa di pojok itu’ atau ‘tidak ada cukup ruang
untuk mengayunkan seekor kucing’, atau ruang dalam pengertian keragaman
batas final ‘ruang angkasa’. Saat dipaksa untuk memikirkannya, kita akan
menganggap ruang cuma sebagai tempat untuk menaruh sesuatu. Ruang
sendiri bukanlah zat. Sampai sini kita semua pasti sependapat. Tapi dalam hal
tersebut, dapatkah ruang eksis bilamana tidak mengandung materi apapun?
Pikirkan sebuah kotak kosong. Sekalipun kita memompa keluar semua molekul
udara yang dikandungnya hingga betul-betul tak ada apapun di dalam kotak,
kita akan masih gembira dengan konsep bahwa ruang masih terus eksis.
Ruang hanya merujuk pada volume kotak.
Adalah kurang bisa dipahami bilamana ruang tidak memiliki batas.
Ruang di dalam kotak hanya eksis, kita pikir, berkat eksistensi kotak itu sendiri.
Bagaimana jika kita menyingkirkan tutup dan dinding kotak? Apakah ruang
masih eksis? Tentu saja. Tapi kini ia adalah kawasan ruang yang menjadi
bagian kawasan lebih besar di dalam ruangan kita berada. Mari kita mencoba
sesuatu yang sedikit lebih besar: Alam Semesta kita pada dasarnya adalah
volume ruang amat besar (mungkin tak terhingga) yang mengandung materi
(galaksi, bintang, nebula, planet, dan lain-lain). Bagaimana jika Alam Semesta
betul-betul hampa dan tak mengandung materi sama sekali? Masih adakah
ia? Jawabannya ya, karena ruang tidak harus mengandung materi untuk
eksis. Pada poin ini, pembahasan dapat dengan mudah terjun—karena saya
mengerjakan semua pembahasan, dan saya tahu seperti apa saat memulai—
ke dalam subjek amat teknis dan samar (tapi banyak diperdebatkan) yang
dikenal sebagai prinsip Mach. Prinsip ini menyatakan bahwa ruang, atau
setidaknya jarak dan arah di dalamnya, tidaklah bermakna bilamana tidak
mengandung materi apapun. Di samping ini, Einstein telah menunjukkan
dalam teori relativitasnya bahwa ruang, seperti waktu, adalah relatif juga.
Namun, saya tak ingin terlalu berat di tahap awal buku ini dan akan berasumsi
bahwa walaupun ruang bukanlah zat, ia pasti berupa sesuatu!
Tapi jika ruang bukanlah zat, dapatkah kita berinteraksi dengannya?
Dapatkah materi mempengaruhinya dengan suatu cara? Ternyata materi
memang dapat mempengaruhi ruang: ia dapat menekuknya! Sekali Anda
memahami fakta ini, Anda mestinya takkan pernah lagi terkesan oleh klaim-
29
klaim penekukan pisau atau sendok dengan kekuatan pikiran (trik sulap
murahan dan agak tak berarti).
Di bab berikutnya, saya akan meminta Anda membayangkan menekuk
ruang 3D.1 Anda mungkin berpikir, saya dapat dengan mudah menekuk objek
3D seperti buku ini. Well, tidak sesederhana itu. Yang saya maksud bukan objek
3D ditekuk di dalam ruang 3D melainkan menekuk ruang 3D itu sendiri.
Pikirkan lengkungan garis 1D yang membentuk huruf ‘S’. Kita
memerlukan sehelai kertas 2D untuk menuliskan ‘S’ di atasnya. Kita katakan
bentuk 1D tersebut tersimpan di dimensi lebih tinggi. Demikian pula,
penekukan sehelai kertas membutuhkan penggunaan ruang 3D kita jika
kita ingin memvisualisasikannya. Jadi, untuk memahami apa yang dimaksud
dengan menekuk ruang 3D, kita harus membayangkan ruang 4D yang di
dalamnya ia bisa ditekuk.

Gambar 1.2. (a) Sebuah persegi (bentuk 2D) digambar di ruang


flat 2D, (b, c) persegi bisa ditekuk atau diubah bentuk di dalam
ruang flat 2D, atau (d) ruang 2D itu sendiri melengkung.

Bila Anda masih sedikit bingung dengan perbedaan antara menekuk


objek padat di ruang dan menekuk ruang itu sendiri, berikut adalah contoh
sederhana dalam 2D. Buat gambar segiempat di atas sehelai kertas (gambar
1.2(a)). Segiempat tersebut bisa ditekuk di dalam permukaan 2D (kertas)
untuk membentuk sebuah bentuk lain. Contoh, bayangkan mendorong pojok-
pojoknya ke arah berlawanan sehingga membentuk berlian, sebagaimana
pada gambar 1.2(b), atau garis-garis bisa digambar ulang secara melengkung
sebagaimana pada gambar 1.2(c). Ini sungguh berbeda dengan menekuk helai
1 Untuk lebih akurat, setiap kali saya membahas penekukan ruang 3D, semestinya saya
mengatakan penekukan ‘ruangwaktu’ 4D. Teori relativitas Einstein mengatakan kita harus
menyebut kombinasi tiga dimensi ruang dengan satu dimensi waktu sebagai demikian. Namun,
untuk sementara ini, saya akan menunda pembahasan bagaimana ruang dan waktu dicampur
sampai saatnya nanti dalam buku ini.
30
kertas itu sendiri (gambar 1.2(d)). Nah, segiempat itu terlihat tertekuk bagi kita
walaupun kita belum menggambar ulangnya; justru ruang di mana segiempat
itu eksis telah tertekuk.

Dunia2D dan penghuni dunia2D


Karena mustahil bagi kita untuk membayangkan dimensi lebih tinggi yang
ke dalamnya kita bisa melengkungkan dunia 3D kita, saya akan memakai
trik berguna. Kita mencukupkan diri dengan salah satu dimensi ruang kita,
katakanlah dimensi kedalaman, dan kemudian kita bisa mengurus dunia 2D
imajiner (mari kita tegas dan orisinil dan menyebutnya dunia2D). Dunia flat
dua-dimensi semacam itu telah dibahas oleh banyak penulis selama bertahun-
tahun dan diberi berbagai julukan, mulai dari Flatland sampai Planiverse.
Penghuni alam semesta demikian berbentuk flat, makhluk kertas yang dibatasi
untuk bergerak ‘di dalam’ permukaan bukan ‘di atas’ permukaan. Mereka bisa
bergerak ke atas/ke bawah dan ke kiri/ke kanan tapi tidak bisa bergerak ke
luar permukaan sebab itu akan memerlukan gerakan ke dimensi ketiga yang
mana mustahil bagi mereka. Nah, dimensi keempat ilusif yang mustahil bagi
kita makhluk 3D untuk dipahami (tapi kita perlukan untuk memvisualisasikan
lengkungan ruang 3D kita) adalah ekuivalen dengan dimensi ketiga bagi
penghuni dunia2D. Kita punya akses ke dimensi ketiga ini sekalipun penghuni
dunia2D tidak bisa.
Seperti apakah alam semesta 2D semacam itu? Sebagai permulaan,
penghuninya merasa sulit memikirkan dimensi ketiga, sebagaimana kita
ATAS

KIRI KANAN

BAWAH

Gambar 1.3. Makhluk dua-dimensi yang tinggal di dunia2D bebas


bergerak ke atas/ke bawah dan ke kiri/ke kanan, tapi tak punya
akses ke dimensi ketiga yang akan melibatkan gerakan keluar kertas.
31
kesulitan mencoba memikirkan dimensi keempat. Pada gambar 1.3
terdapat dua makhluk 2D. Sungguh menarik memikirkan bagaimana mereka
menjalankan fungsi dasar. Contoh, mata mereka harus memiliki kebebasan
untuk mondar-mandir dari sisi ke sisi agar bisa melihat ke kedua arah.
Seandainya tidak begitu, dan mata mereka terpaku di salah satu sisi kepala
mereka, maka, walaupun mereka mempunyai keuntungan untuk bisa melihat
ke kedua arah pada waktu bersamaan, mereka akan kehilangan keterampilan
vital. Mampu menatap objek yang sama dengan kedua mata memungkinkan
mereka, sebagaimana kita, untuk menilai seberapa jauh objek tersebut.
Namun, jika kedua mata berada di sisi kepala yang sama, mereka tidak akan
bisa melihat ke belakang, kecuali kalau mereka berdiri terbalik! Ini lantaran
mereka tidak bisa memutar kepala mereka, sebuah keterampilan yang
memerlukan akses ke dimensi ketiga. Kedua persoalan ini bisa diatasi jika
mata mereka bebas mondar-mandir sebagaimana telah saya lukiskan.
Persoalan lain yang akan mereka jumpai bisa juga dilihat dari gambar
1.3. Bagaimana penghuni dunia2D yang menuruni anak tangga melewati
penghuni yang sedang menggali lubang? Dia tak bisa meminggir darinya sebab
itu membutuhkan gerakan ke luar bidang (ke luar alam semesta mereka) yang
mana tidak diperbolehkan. Mereka barangkali memiliki semacam persetujuan
di mana penghuni kiri harus memberi jalan kepada penghuni kanan
sebagaimana pada gambar 1.4. Atau mungkin terdapat semacam persetujuan
di mana seorang penghuni dunia2D harus selalu memberi jalan kepada
penghuni lainnya yang lebih tinggi dalam jenjang sosial.

Gambar 1.4. Satu-satunya cara agar penghuni 2D dapat melewati


satu sama lain. Mereka tak bisa saling meminggir sebab itu
mengharuskan salah satu dari mereka bergerak keluar kertas.
32
Aspek yang terutama menarik dari dunia2D adalah apa yang bisa dilihat
oleh penghuni dunia2D ketika menatap objek di dunia mereka. Pertama-
tama, izinkan saya mengingatkan Anda tentang yang kita lihat ketika menatap
objek padat seperti bola. Yang kita ‘lihat’ sebetulnya adalah citra 2D pada
retina mata, yang amat penting untuk persepsi kedalaman. Dengan satu mata
tertutup pun kita tahu bahwa yang sedang kita tatap adalah objek padat tiga-
dimensi bukan objek flat dua-dimensi, seperti cakram, berkat cara cahaya
yang memancar dari bola menyediakan shading. Tanpa ini pun, kita tahu dari
pengalaman seperti apa bola itu dan bagaimana ia berperilaku. Jadi, saat kita
menonton pertandingan sepak bola di televisi, kita tahu bahwa objek sirkuler
yang sedang ditendang tersebut adalah bola sepak tiga-dimensi dan bukan
cakram flat yang mirip bola dan menggelinding pada tepinya. Kita mengetahui
ini meski tidak bisa melihat shading apapun di bagian bawah bola dan meski
gambar televisi itu sendiri merupakan proyeksi 2D dari realitas 3D.
Saat kita menatap objek 3D, kita hanya melihat permukaan dua-dimensi
yang menghadap kita. Otak kita lalu memperhitungkan pengalaman masa lalu
tentang objek demikian, ditambah cara cahaya berinteraksi dengan permukaan
tersebut, untuk membangun sebuah model bentuk tiga-dimensi dalam pikiran
kita sekalipun kita tidak bisa melihat bagian belakangnya. Bagaimana ini
menyamai apa yang dilihat penghuni dunia2D? Bola mereka adalah lingkaran.
Saat penghuni dunia2D menatap lingkaran, dia akan menatapnya ‘antar tepi’
dan karenanya hanya akan melihat setengah kelilingnya. Pada ‘retina’-nya dia
akan melihat citra satu-dimensi: garis lurus. Lagi-lagi, dia harus mengandalkan
shading untuk melihat lengkungan garis dan harus merotasi lingkaran untuk
yakin bahwa garis tersebut membelok sepenuhnya. Jika lingkaran itu sedang
diterangi dari atas, katakanlah dari matahari dua-dimensi di atas kepala, maka
bagian atas garis yang dia lihat akan lebih terang daripada bagian bawah yang
membentuk bagian bawah lingkaran. Jadi, cara lingkaran terlihat oleh penghuni
dunia2D tidaklah sama dengan kita sebab mereka takkan pernah bisa melihat
bagian dalamnya. Dari titik menguntungkan untuk memandang dunia2D,
kita bisa menatap bagian dalam semua objek, tak hanya lingkaran tapi juga
tubuh penghuni dunia2D. Semua organ dalam mereka akan terlihat oleh kita,
memberi pengertian baru pada istilah ‘pembedahan jantung’. Mustahil bagi
penghuni dunia2D untuk melihat bagian lingkaran tertutup di dunia mereka,
sebagaimana mustahil bagi kita untuk melihat bagian dalam bola cekung.
33
Bayangkan kita menemukan dunia2D di suatu tempat di alam semesta
kita. Pada prinsipnya, jika ia flat maka semestinya ia memanjang terus
seperti tilam besar tak terhingga yang mengiris tiga dimensi ruang kita. Tapi
mari kita bayangkan bahwa ia mempunyai ukuran terhingga dan bahwa kita
menemukannya di suatu tempat. Saya tak peduli di mana pun: di bawah
ranjang Anda, di belakang sofa Anda, atau di loteng nenek Anda. Saya akan
berasumsi bahwa kita mampu berkomunikasi dengan penghuni dunia2D.2 Kita
saksikan adegan pada gambar 1.5(a) sebagai upaya penghuni dunia2D untuk

Gambar 1.5. (a) seorang penghuni 2D tidak bisa menemukan


cara mengambil mahkota di dalam kotak tanpa merusaknya dan
menyalakan alarm. (b) Kita dapat membantu sang pencuri dengan
merenggut mahkota keluar dunia2D, menuju dimensi ketiga, dan
mengembalikannya ke atas kepala sang pencuri.

2 Saya berasumsi kita mampu berbicara dengan dan didengar oleh mereka. Suara
ditransmisikan melalui vibrasi molekul-molekul udara 3D kita. Vibrasi ini akan ditransfer ke
molekul 2D di dunia2D. Semua ini tentu saja sama sekali omong-kosong, tapi menyenangkan
untuk dipikirkan.
34
memindahkan sebuah objek dari dalam segiempat. Dia bahkan tidak bisa
melihat objek tersebut dan tidak mampu menggapainya tanpa membuka
segiempat. Bagi kita, objek itu tak hanya terlihat, tapi kita juga bisa, jika kita
mau, menggapai dunia2D dan merenggutnya dari dua dimensinya kemudian
menempatkannya kembali ke dalam dunia2D di luar segiempat (gambar
1.5(b)). Kita dapat melakukan ini sebab punya akses ke dimensi ketiga.
Setelah menakuti penghuni dunia2D hingga mempercayai kekuatan
paranormal, dengan membuat sebuah objek muncul entah dari mana—sebuah
objek yang baru beberapa detik sebelumnya terkunci di dalam segiempat
yang tak bisa dipenetrasi—kita memutuskan memamerkan keajaiban ruang 3D
dengan memperkenalkan bola kepada mereka dengan memasukkan bola kecil
ke dalam dunia2D. Tentu saja, bola tersebut akan menyusup ke sisi lain asalkan
tak ada objek 2D yang menghalangi. Penghuni dunia2D mula-mula akan
melihat sebuah titik tumbuh menjadi garis yang memanjang lalu memendek
sesaat sebelum menghilang. Dia menyimpulkan dari shading-nya bahwa garis
itu merupakan bagian keliling sebuah lingkaran sehingga tahu bahwa dirinya
sedang menatap lingkaran yang bermula kecil, membesar, mencapai ukuran
maksimum (saat bola sudah menembus separuh jalan), kemudian menyusut
lagi ke ukuran nol begitu muncul di sisi lain dunia2D. Jadi, pada suatu momen
tertentu, penghuni dunia2D hanya akan melihat potongan-lintang bola tersebut.

Ruang melengkung
Saya menyebutkan bahwa dunia2D imajiner ini tak harus luas tak terhingga
dan karenanya memiliki tepi, suatu batas yang menetapkan perbatasannya.
Kita nanti akan menyimak bahwa alam semesta tak memiliki tepi sehingga
dunia2D kiranya pasti memanjang terus. Ternyata ini hanya terjadi (yakni
memanjang terus) jika dunia2D adalah flat, sebagaimana selama ini saya
asumsikan. Bagaimana jika penghuni dunia2D tinggal di permukaan bola?
Ruang mereka kini melengkung dan tak lagi berukuran tak terhingga.
Bagaimanapun, bola mempunyai luas permukaan terhingga yang jelas-jelas
tidak memiliki tepi sebab penghuni dunia2D bisa bergerak ke manapun di
alam semesta ini tanpa pernah mencapai titik yang tidak bisa dilalui. Konsep
penting dan agak licin untuk dipahami di sini adalah bahwa walaupun dunia2D
ini merupakan permukaan bola 3D, bagian dalam bola dan semua ruang di
luar permukaan tak harus eksis sepanjang menyangkut penghuni dunia2D. Jadi,
sedikit banyak, analogi dengan manusia yang tinggal di permukaan Bumi tak
35
mesti diambil terlalu serius sebab kita jelas-jelas adalah makhluk 3D yang
terpaku di permukaan objek 3D. Penghuni dunia 2D hanya mempunyai akses
ke permukaan 2D. Interior bola bahkan tidak eksis bagi mereka.
Pertanyaan menarik yang ingin saya ajukan berikutnya adalah apakah
penghuni dunia2D tahu bahwa ruang mereka melengkung.
Cara bagi mereka untuk mencaritahu adalah cara yang kita pakai
untuk membuktikan bahwa Bumi tidak flat: memberangkatkan seseorang ke
satu arah dan akhirnya kembali ke titik tolak dari arah berlawanan setelah
mengelilingi bola. Tentu saja kita sekarang rutin mengirim astronot ke orbit
yang bisa menoleh ke belakang dan melihat bahwa Bumi itu bundar, tapi
penghuni alam semesta 2D terpenjara di permukaan dan tak bisa bergerak ke
atas dunia mereka untuk melihat ke bawah. Ada cara lain agar mereka dapat
mengecek apakah dunia mereka melengkung.
Kita belajar di sekolah bahwa jika kita menambahkan nilai tiga sudut
interior suatu segitiga hasilnya selalu 180 derajat. Tak peduli seberapa besar
atau kecil segitiga yang kita gambar atau bagaimana bentuknya, jawabannya
akan selalu sama. Jika ia adalah segitiga siku-siku, maka dua sudut lain pasti
berjumlah 90 derajat pula. Jika salah satu sudutnya tumpul dengan besaran,
katakanlah, 160 derajat, maka dua sudut lain pasti berjumlah 20 derajat, dan
seterusnya. Tapi sebelum Anda terlalu puas diri setelah nyaman mengatasi
sedikit geometri ini, perkenankan saya merusak semua ini dengan menyatakan
bahwa urusan sudut segitiga yang selalu berjumlah 180 derajat ini hanya
berlaku jika segitiganya digambar di atas permukaan flat! Segitiga yang
digambar di atas bola mempunyai sudut yang selalu berjumlah lebih dari 180
derajat. Berikut adalah contoh sederhana yang mendemonstrasikan maksud
saya. Untuk membantu Anda memahami ini, Anda perlu sebuah bola dan pena
berujung wol.
Bayangkan seorang penjelajah memulai perjalanan di Kutub Utara. Dia
berangkat dalam garis lurus menuju Selatan (saat Anda berada di Kutub Utara,
satu-satunya arah yang dapat Anda tuju ialah selatan) melewati ujung timur
Kanada lalu menuruni Atlantik barat. Dia, tentu saja, hati-hati menghindari
Segitiga Bermuda sebab mempercayai semua omong-kosong takhayul itu.
Dia terus menuju selatan sampai mencapai khatulistiwa di suatu tempat
di Brazil utara. Saat berada di khatulistiwa, dia berbelok ke kiri dan menuju
Timur menyeberangi Atlantik, kini bergerak dalam garis lurus di sepanjang
khatulistiwa. Dia mencapai pantai Afrika dan meneruskan ke Kenya yang pada
36
saat sampai dia mengalami iklim cukup panas dan lembab dan memutuskan
untuk berbelok ke kiri dan menuju Utara lagi. Dia melintasi Ethiopia, Arab
Saudi, Timur Tengah, melintasi Eropa Timur dan kembali ke Kutub Utara.
Jika Anda membuat jejak kasar rutenya, Anda akan melihat bahwa
dia telah menyelesaikan sebuah segitiga (gambar 1.6(b)). Amati secara teliti
tiga sudutnya. Pada waktu mencapai khatulistiwa dan berbelok ke kiri, dia
membuat sudut siku-siku (90 derajat). Tapi saat dia akhirnya meninggalkan
khatulistiwa untuk kembali menuju utara, dia membuat sudut siku-siku
lainnya. Karenanya, dua sudut ini sudah berjumlah 180 derajat. Tapi kita belum
mengikutsertakan sudut yang dia buat di Kutub Utara bersama dua garis
lurus perjalanan keluar dan masuknya tersebut. Ini semestinya juga kurang-
lebih menghasilkan sudut 90 derajat, walaupun tentu saja ukuran sudut ini
tergantung pada seberapa jauh yang dia tempuh sepanjang khatulistiwa.
Saya telah memilih bahwa dia menjejaki segitiga dengan tiga sudut siku-siku
berjumlah 270 derajat, dengan menghubungkan tiga garis lurus.
Segitiga semacam itu merupakan kasus istimewa tapi aturan dasarnya
adalah bahwa segitiga apapun yang digambar di permukaan bola akan
mempunyai sudut-sudut berjumlah lebih dari 180 derajat. Contoh, segitiga
yang menghubungkan Paris, Roma dan Moskow akan mempunyai sudut-
sudut yang berjumlah sedikit di atas 180 derajat. Penyimpangan kecil dari
180 derajat ini adalah karena segitiga demikian tidak meliputi sebagian kecil
signifikan luas permukaan total Bumi dan karenanya hampir flat.
Kembali ke penghuni dunia2D, mereka bisa memakai teknik yang sama
untuk mengecek apakah ruang mereka melengkung. Mereka berangkat dalam
roket 2D dari planet induk mereka dalam garis lurus sampai mencapai bintang
jauh. Di sana, mereka akan berbelok dengan suatu sudut tetap dan berangkat
menuju bintang lain. Setelah berada di bintang kedua, mereka kembali ke
rumah. Setelah menjejaki segitiga, mereka mengukur ketiga sudutnya. Jika
hasilnya lebih dari 180 derajat3, mereka dapat menyimpulkan bahwa mereka
tinggal di ruang melengkung.
Atribut lain, yang mungkin Anda ingat dari sekolah, adalah bahwa
keliling lingkaran ditentukan oleh pi kali diameternya. Harga pi, kita diberitahu,
tidak dapat dirundingkan. Terdapat tombol pada sebagian besar kalkulator saku

3 Permukaan bisa dilengkungkan dengan sebuah cara lain agar segitiga yang digambar di
atasnya akan mempunyai sudut-sudut berjumlah kurang dari 180 derajat, tapi saya akan
menjelaskan itu nanti.
37
yang menetapkan pi sampai 10 angka desimal (3,1415926536), tapi
kebanyakan kita mengingatnya 3,14. Oke, saya akui bahwa saya mengingatnya
sampai sepuluh angka desimal yang ditunjukkan kalkulator, tapi itu hanya
karena saya begitu sering menggunakannya dalam pekerjaan saya, tak
berbeda dengan mengingat sebuah nomor penting. Namun, saya punya
seorang teman matematikawan yang mengetahui pi sampai 30 angka desimal.
Selain soal itu, dia sungguh normal. Kita diajari bahwa pi adalah konstanta
matematis. Ia ditetapkan sebagai rasio dua bilangan: keliling dan diameter
lingkaran di ruang flat. Jika penjelajah kita tadi mengelilingi Lingkaran Arktik,
yang mempunyai diameter yang bisa dia ukur dengan akurat (yakni dua kali
jarak dari Lingkaran Arktik ke Kutub Utara), maka dia akan mendapatkan dalam
pengalian harga diameter dengan pi (yakni cara untuk menentukan keliling

Gambar 1.6. (a) Segitiga yang tergambar pada sehelai kertas flat
memiliki sudut-sudut-sudut interior A + B + C = 1800. (b) Segitiga
yang tergambar pada permukaan bola memiliki sudut-sudut yang
berjumlah lebih dari 1800. Di sini digambar sebuah segitiga yang
terdiri dari tiga sudut 900.
38
lingkaran) sebuah harga yang sedikit lebih besar daripada keliling sejati
Lingkaran Arktik. Kelengkungan Bumi mengandung arti bahwa Lingkaran Arktik
adalah lebih kecil daripada jika Bumi flat.
Atribut segitiga dan lingkaran yang kita pelajari di sekolah dikenal
sebagai geometri Euclidean, atau ‘geometri flat’. Geometri 3D bola, kubus, dan
piramida juga merupakan bagian geometri Euclidean jika mereka tersimpan
di ruang 3D flat. Atribut mereka berubah jika ruang 3D-nya melengkung,
serupa dengan perubahan atribut segitiga dan lingkaran saat digambar di atas
ruang 2D melengkung semisal permukaan bola. Jadi, ruang 3D kita memang
melengkung tapi kita tidak perlu memvisualisasikan dimensi keempat untuk
‘melihat’ kelengkungan ini. Kita dapat mengukurnya secara tak langsung
dengan mempelajari geometri ruang 3D dan objek padat di dalamnya.
Prakteknya, kita tak pernah melihat penyimpangan dari geometri Euclidean
sebab kita hidup di sebuah bagian Alam Semesta di mana ruang hampir begitu
flat sehingga kita tak pernah bisa mendeteksi kelengkungan apapun. Ini serupa
dengan mencoba mendeteksi kelengkungan Bumi dengan menggambar
segitiga di atas lapangan sepak bola. Tentu saja, lapangan bola tak sepenuhnya
halus. Demikian halnya, ruang mengandung kawasan-kawasan lengkungan di
sana-sini sebagaimana akan kita simak di bab berikutnya.
Bagaimana jika dimensi ruang keempat memang eksis di samping
tiga dimensi kita? Apa yang dapat kita katakan soal atributnya? Cara terbaik
adalah memulai dengan menjawab bahwa dimensi keempat bagi kita adalah
layaknya dimensi ketiga bagi penghuni dunia2D. Bayangkan Anda sedang
berdiri di pusat sebuah lingkaran besar yang digambar di atas tanah flat seperti
lingkaran pusat sebuah pitch4 futbol. Jika kini Anda berjalan dalam garis lurus
ke suatu arah, Anda akan menuju garis keliling lingkaran. Ini disebut arah radial
sebab saat Anda mencapai garis keliling, Anda telah berjalan sepanjang jari-
jari lingkaran. Di sisi lain, seekor burung yang sedang bertengger di pusat
lingkaran bisa bergerak sepanjang dimensi ketiga: ke atas. Jika ia terbang lurus
ke atas, maka ia selalu akan meninggalkan semua bagian lingkaran.
Nah, tambahkan dimensi lain pada contoh ini dan bayangkan burung
berada di pusat sebuah bola (katakanlah sangkar bundar). Ke arah manapun
si burung terbang, ia akan bergerak menuju jeruji sangkar, dan semua arah
baginya kini radial. Sebagaimana dalam contoh lingkaran 2D di mana burung
bisa bergerak sepanjang dimensi ketiga meninggalkan lingkaran, kini kita dapat
4 Titik tertentu di mana bola menyentuh tanah—penj.
39
memahami apa artinya bergerak sepanjang dimensi keempat. Mulai
dari pusat sangkar, itulah arah ke mana si burung harus terbang demi
meninggalkan semua titik dalam sangkar pada waktu bersamaan! Ini bukan
arah yang dapat kita visualisasikan sebab, sebagaimana telah saya sebutkan
sebelumnya, otak kita hanya tiga-dimensi. Jadi apa yang akan kita lihat jika
kita memiliki seekor burung ajaib, yang mampu memanfaatkan dimensi
keempat, terperangkap dalam sangkar? Kita akan melihat ia menghilang dari
pandangan dan kemudian bergabung kembali dengan ruang 3D kita di suatu
tempat lain, barangkali di luar sangkar. Itu akan terlihat mengherankan bagi
kita sebagaimana herannya penghuni dunia2D terhadap keterampilan 3D kita
merenggut objek dari ruang 2D mereka.
Efek menarik lain dari penggunaan dimensi lebih tinggi adalah yang
terjadi saat objek terbalik. Bayangkan Anda mampu mengangkat penghuni
dunia2D dari dunianya, membaliknya sehingga sisi kiri dan kanannya bertukar,
kemudian menaruh dia kembali. Untuk sejenak, segala sesuatu akan sungguh
membingungkan baginya. Dia takkan merasa berbeda selain segala sesuatu di
sekelilingnya berada di sisi yang salah. Dia harus menyesuaikan diri terhadap
kehidupan di sebuah dunia di mana matahari 2D tak lagi terbit dari kanan
sebagaimana biasanya, melainkan dari kiri. Dan kini dia harus berjalan ke arah
berlawanan untuk pergi kerja dari rumahnya.
Segala sesuatu akan lebih lucu jika Anda mempertimbangkan apa
jadinya bagi Anda jika seorang makhluk 4D merenggut Anda dari dunia 3D kita
dan membalik Anda. Sebagai permulaan, orang-orang akan melihat sesuatu
yang sedikit berbeda dari penampilan Anda karena bagi mereka wajah Anda
kini terlihat seperti saat Anda bercermin. Saat Anda kemudian memandang
cermin, Anda juga akan melihat perbedaan. Sebab tak ada satupun wajah yang
simetris. Sisi kiri wajah kita berbeda dari sisi kanan. Mungkin mata yang satu
sedikit lebih rendah daripada mata yang lain atau, seperti saya, hidung Anda
sedikit bengkok ke satu sisi, atau Anda mempunyai tahi lalat di satu pipi, dan
sebagainya. Tapi ini baru permulaan masalah Anda. Segala sesuatu di sekeliling
Anda terlihat terbalik antara belakang dan depan. Semua tulisan akan terbalik,
jarum jam akan berputar berlawanan dan Anda sekarang akan bertangan kidal
jika sebelumnya bertangan kanan. Satu cara untuk menguji keadaan adalah
Anda berkeliling sambil melihat dunia lewat cermin. Perlu beberapa waktu
sebelum Anda berhenti bertubrukan dengan segala hal.
40
Betulkah ada dimensi keempat?
Jika Anda sudah tahu sedikit tentang teori relativitas Einstein (saya berasumsi
tidak) maka Anda mungkin juga sedikit khawatir pada poin ini. Bagaimanapun,
tidakkah Einstein mengatakan sesuatu soal waktu sebagai dimensi keempat?
Di Bab 6 saya akan membahas teori relativitas khusus Einstein di mana waktu
dan ruang dihubungkan secara mengejutkan sekali, menjadi apa yang disebut
ruangwaktu empat-dimensi. Untuk sekarang, kita dapat memahaminya dengan
cara sederhana berikut. Kembali ke contoh kapal selam yang membutuhkan
tiga bilangan untuk menetapkan posisinya. Jika ia sedang bergerak, penyebutan
bilangan-bilangan itu tidaklah berarti kecuali kalau kita juga menyatakan kapan
kapal selam berada di posisi tersebut. Jadi sekarang kita membutuhkan empat
bilangan untuk menemukan lokasinya secara tepat: garis lintang, garis bujur,
kedalaman, dan waktu ketika ia mempunyai harga-harga itu. Namun, kita tak
boleh alpa akan fakta bahwa waktu tidaklah sama dengan tiga dimensi ruang.
Kita bebas bergerak ke depan dan ke belakang sepanjang salah satu dari tiga
sumbu ruang, tapi dibatasi untuk bergerak ke depan saja sepanjang sumbu
waktu (dari masa lalu ke masa depan). Pertanyaannya di sini adalah apakah
mungkin eksis dimensi ruang keempat, tak terjangkau indera kita.
Seratusan tahun lalu, beberapa ilmuwan paling dihormati di dunia
percaya bahwa dunia roh, alam hantu dan siluman, adalah empat dimensi dan
ruang 3D kita tercakup di dalamnya. Penghuni dunia dimensi lebih tinggi ini
adakalanya akan melewati dunia 3D kita tapi tidak terlihat oleh kita. Zaman
sekarang tentu saja hampir tidak ada ilmuwan serius (maksud saya tidak
memperhitungkan persuasi campuran) yang mempercayai ini. Bukan berarti
dimensi lebih tinggi dikesampingkan. Nyatanya, beberapa teori baru, tapi
belum teruji, dalam fisika mengindikasikan bahwa bahkan mungkin ada lebih
dari empat dimensi ruang, yang semuanya di luar pemahaman kita. Dua teori
yang saat ini sedang digemari, dikenal sebagai teori superstring dan teori-M5,
mengindikasikan bahwa Alam Semesta kita sesungguhnya mengandung
sembilan (menurut teori superstring), dan sepuluh (menurut teori-M), dimensi
ruang (plus satu dimensi waktu). Tapi semua dimensi tambahan yang tak
diinginkan itu tergulung begitu kecil sehingga kita tak pernah bisa mendeteksi
mereka. Anda mungkin berpikir ini cuma omong-kosong tapi faktanya adalah

5 ‘M’ adalah singkatan dari membran, tapi teori membran merupakan nama yang begitu
membosankan sehingga banyak fisikawan lebih menyukainya sebagai singkatan dari magic
sebab mereka mengklaim bahwa teori ini sanggup menjelaskan semua gaya alam.
41
bahwa salah satu dari teori eksotis ini boleh jadi ternyata merupakan teori
yang menggambarkan realitas pokok Alam Semesta kita.
Sungguhpun kesemua tiga dimensi ruang yang kita kenal ada di
hadapan kita, kita akan menyimak di beberapa bab berikutnya bahwa
bermanfaat sekali mencadangkan dimensi tambahan untuk membantu kita
memahami aspek tertentu teori relativitas Einstein: ruang melengkung.
42

BAB 2
MENGENAI GRAVITASI

Apel dan bulan

M ENURUT MITOS, Isaac Newton sedang duduk di bawah sebuah pohon apel
ketika, setelah kepalanya tertimpuk satu buah apel yang jatuh, dirinya
menemukan hukum gravitasi—mengimplikasikan bahwa mungkin ketokan
pada kepala menghasilkan kilasan pemahaman. (Apel jatuh—boing—bola
lampu menyala di atas kepala dan, hmm, kelihatannya tanah mengerahkan
gaya terhadap apel, menariknya ke bawah.) Tentu saja tidak sesederhana
itu. Newton bukan manusia pertama yang melihat segala sesuatu jatuh!
Pemahaman dia jauh lebih mengesankan daripada itu.
Mungkin cerita bahwa sebuah apel betul-betul jatuh ke atas
kepala Newton memang mitos, tapi menurut keterangan Newton sendiri,
merenungkan sebuah apel yang jatuh di pertanian ibunya-lah (serta hal-hal
lain seperti mengapa Bulan mengelilingi Bumi) yang membawanya menuju
hukum gravitasi universalnya yang terkenal. Ada apa dengan apel jatuh
sampai-sampai Newton bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain
sebelumnya? Sederhananya, dia melihat melampaui hal yang jelas terlihat—
bahwa semua objek mempunyai kecenderungan untuk ingin bergerak ke
bawah menuju Bumi—dan menyadari bahwa terdapat gaya tarik antara
apel dan Bumi yang tak hanya menyebabkan apel jatuh ke bawah menuju
Bumi tapi juga Bumi jatuh ke atas menuju apel. Nyatanya, sebaiknya tidak
memikirkannya dari segi objek yang jatuh, melainkan bahwa Bumi dan apel
tertarik menuju satu sama lain.
Ramah, bersahabat, populer, pecinta keluarga. Semua sifat ini sungguh
asing pada diri Isaac Newton. Dilahirkan di Woolsthorpe, Lincolnshire, Inggris,
pada hari Natal 16426, dia adalah penyendiri yang tak pernah menikah dan tak
punya banyak teman. Dia kemudian terlibat dalam perselisihan panjang dan

6 Tanggal ini berdasarkan kalender Julian yang dipakai di Inggris saat itu. Menurut kalender
Gregorian yang sudah dipakai di negara-negara Eropa lain saat itu dan dipakai di setiap tempat
hari ini, tanggal kelahirannya adalah 4 Januari 1643.
43
sengit dengan ilmuwan-ilmuwan lain soal siapa yang pertama kali mencapai
penemuan tertentu. Namun, meski umumnya terdapat citra negatif ilmuwan
dalam media populer masa kini yang sedihnya menghalangi begitu banyak
remaja dari subjek, Newton bukanlah ilmuwan tipikal. Dia menutupi
kekurangannya dalam keterampilan sosial dengan menjadi, dalam pandangan
banyak orang, ilmuwan terhebat yang pernah hidup. Dia membuat begitu
banyak kontribusi penting terhadap begitu banyak bidang sehingga sebagian
besar fisika yang diajarkan di sekolah hari ini disebut sebagai fisika Newtonian.
Ini untuk membedakannya dari fisika modern abad 20 yang akan dibahas
dalam buku ini. Newton juga menemukan teknik matematika, kalkulus, yang
merupakan alat standar untuk mempelajari sebagian besar fisika hari ini.
Namun, penemuan kalkulus adalah penyebab sebuah kontroversi panjang.
Perselisihannya ialah apakah Newton atau matematikawan Jerman, Gottfried
Leibnitz, yang boleh mengklaimnya. Di kalangan ilmiah pada masa itu,
perselisihan ini, di mana Inggris dan Jerman masing-masing mengklaim bahwa
seterunya telah mencuri ide orang mereka, mengandung kegairahan patriotis
yang mirip dengan persaingan modern dalam pertempuran sepakbola dua
negara. Namun, tak seperti pertandingan modern yang terlalu sering mengambil
resolusi tendangan penalti, dalam pertempuran kalkulus tidak ada pemenang
jelas. Sepertinya masing-masing telah mengembangkan teknik secara terpisah.
Bagaimanapun, sebagian besar penelitian dasar telah diletakkan setengah abad
sebelumnya oleh matematikawan besar Prancis, Fermat.
Kembali ke gravitasi. Jauh sebelum Newton, disadari bahwa alasan
objek jatuh adalah karena Bumi mengerahkan gaya terhadap semua benda
sehingga menarik mereka ke arahnya. Diketahui pula bahwa Bulan mengorbit
Bumi karena Bumi mengerahkan suatu gaya misterius terhadapnya sehingga
mencegahnya hanyut ke angkasa. Newton mengadakan hubungan antara
kedua fenomena ini. Mengatributkan gerak Bumi dan apel jatuh pada satu
gaya yang sama (gravitasi) merupakan percobaan berani seorang jenius.
Sampai saat itu diyakini bahwa hukum alam yang sama sekali berbeda
mengatur perilaku objek bumi (apel) dan objek angkasa (Bulan).
Hukum gravitasi Newton menyatakan bahwa dua objek di Alam
Semesta akan tertarik menuju satu sama lain oleh gaya tak nampak. Bumi dan
semua objek di permukaannya, Bumi dan Bulan, Matahari dan planet, bahkan
Matahari dan galaksi kita, semuanya sedang tertarik menuju satu sama lain.
Jadi, bukan Bumi saja yang menjaga kita tetap terpaku di permukaannya;
44
sedikit banyak, kita juga menjaga Bumi tetap terpaku di kaki kita karena kita
sedang menarik Bumi ke arah kita dengan gaya sebanyak yang dikerahkannya
terhadap kita. Ketika tadi saya mengatakan bahwa Bumi jatuh ke atas menuju
apel jatuh, saya bermaksud sungguh-sungguh. Persisnya, karena terpaku di
permukaan Bumi, kita lihat apel yang bergerak menuju Bumi. Tapi apel punya
hak yang sama untuk mengklaim (sebab apel punya hak) bahwa dirinya tidak
sedang bergerak sama sekali dan bahwa Bumi-lah yang bergerak ke arahnya.
Demikian halnya, seorang pria dan seorang wanita yang mengapung
berdekatan di ruang hampa akan tertarik secara fisikal menuju satu sama lain—
sekalipun mereka tidak ‘tertarik secara fisik’ kepada satu sama lain—oleh gaya
gravitasi yang akan menyebabkan mereka melayang perlahan lebih dekat lagi.
Namun, gaya ini akan sangat lemah (ekuivalen dengan gaya amat kecil yang
diperlukan untuk memungut sebutir gula jika terpisah beberapa centimeter).
Gaya gravitasi sangatlah kecil manakala massa yang terlibat berukuran kecil.
Mengapa gaya gravitasi yang menyebabkan apel jatuh tidak menarik
Bulan turun ke Bumi juga? Perbedaan antara dua kasus tersebut adalah
bahwa, meski massa Bulan jauh lebih besar, ia sedang mengorbit Bumi dan
selalu bergerak ke arah yang bersinggungan dengan jalur orbitnya, sedangkan
apel bergerak menuju pusat Bumi. Sebetulnya agak buruk menyatakannya
demikian. Definisi ‘mengorbit’ yang lebih baik adalah bahwa Bulan jatuh
menuju Bumi dalam garis lengkung yang membentuk jalur sirkuler di sekeliling
Bumi sehingga tak pernah bisa lebih mendekat. Saat Newton pertama kali
mengkalkulasi ini sewaktu wabah tahun 1666, dia pikir dirinya mendapat
jawaban salah dan, karena kecewa, menahan diri dari mempublikasikan
temuannya. Baru bertahun-tahun kemudian, saat membahas persoalan
tersebut dengan temannyalah (Edmund Halley, yang terkenal akan kometnya)
dirinya menyadari signifikansi penemuannya.
Hukum gravitasi Newton sukses hebat selama lebih dari tiga ratus tahun.
Perhatikan, ini dikenal sebagai hukum gravitasi, sebab ilmuwan begitu yakin
itu merupakan kata terakhir mengenai subjek yang mereka angkat di atas teori
belaka yang dapat ditolak jika dan ketika sesuatu yang lebih baik muncul. Tapi
itulah yang persis terjadi pada 1915. Namanya Einstein. Albert Einstein.

Gravitasi Einstein
Hukum gravitasi Newton akan terasa menggambarkan gaya tak nampak,
hampir ajaib, yang beraksi di antara semua objek seberapa jauh pun mereka
45
terpisah (walaupun menjadi jauh lebih lemah seiring bertambahnya jarak) dan
tak peduli apapun yang terdapat di antara mereka, sekalipun ruang hampa.
Karenanya kita katakan bahwa gaya gravitasi tidak memerlukan ‘medium’
(atau ‘bahan’) untuk beraksi. Einstein memberikan penjelasan yang jauh
lebih mendalam daripada ini. Dia mengklaim bahwa gravitasi tidak beraksi
secara langsung terhadap sebuah objek, melainkan terhadap ruang itu
sendiri, menyebabkannya melengkung. Pelengkungan ruang ini kemudian
menyebabkan objek-objek di dalamnya berperilaku secara berbeda dibanding
jika ruang tidak melengkung. Bingung? Mari kita ambil langkah mundur dan
melihat bagaimana Einstein sampai pada penafsiran yang terasa musykil ini.
Pernahkah Anda menaiki salah satu simulator taman hiburan itu? Anda
menempati kursi bersama dengan beberapa penumpang lain di dalam sebuah
kapsul tertutup dan menonton film pendek berisi adegan pengejaran yang
futuristik. Kapsul terasa betul-betul berakselerasi, mengerem, mendesing
membeloki tikungan tajam, menaiki benjolan, mendaki, dan jatuh. Faktanya,
menangguhkan ketidakpercayaan Anda ternyata mudah. Prinsip yang dipakai
dalam tunggangan ini dikenal sebagai prinsip ekuivalensi Einstein dan begitu
sederhana sampai-sampai bisa dinyatakan dalam satu kata: g-force (atau dua
kata?). Einstein menyadari bahwa gaya yang Anda rasakan saat berakselerasi
(barangkali paling terasa ketika berada di pesawat yang mencepat sepanjang
landasan persis sebelum lepas landas) dan gaya gravitasi adalah ekuivalen.
Nyatanya, kita katakan bahwa percepatan pesawat yang mendorong kita ke
kursi menyediakan g-force. ‘G’ adalah singkatan dari gravitasi dan, nyatanya,
merupakan kuantitas dengan satuan akselerasi bukan gaya. Jadi akselerasi satu
‘g’ akan setara dengan akselerasi yang dialami benda saat jatuh.
Sekilas ini terlihat agak tidak masuk akal. Bagaimanapun juga, gaya
yang mendorong Anda ke belakang di kursi Anda ada kaitannya dengan
gerakan dan akselerasi, sedangkan gaya gravitasi beraksi saat Anda sedang
berdiri diam sekalipun (dengan menjaga Anda tetap terpaku di tanah). Tapi
pikirkan sedikit tentang bagaimana tunggangan simulator sebetulnya bekerja.
Bagaimana Anda bisa mendapat sensasi akselerasi sekalipun Anda berpaling
dari gambar-gambar meyakinkan di layar? Bagaimanapun juga, simulator tidak
bergerak ke mana-mana, ia hanya berjungkit-jungkit dan bergoncang-goncang
pada pijakannya. Yang perlu ia lakukan untuk memberi kesan akselerasi maju,
katakanlah satu ‘g’, hanyalah berjungkit ke belakang sehingga Anda dan kursi
Anda menghadap ke atas. Kita begitu terbiasa dengan sensasi yang kita rasakan
46
saat kita berbaring di ranjang pada malam hari sehingga kita lupa tentang
tarikan gravitasi Bumi yang memaksa kepala kita terbenam ke dalam bantal.
Nyatanya, gaya yang biasa kita anggap pasti ini ekuivalen dengan gaya
yang mendorong kita ke kursi jika kita berada dalam mobil yang sedang
berakselerasi dari nol sampai enam puluh mil per jam dalam dua setengah
detik saja!
Inilah alasannya mengapa begitu mudah mengelabui otak hingga
berpikir bahwa gaya gravitasi yang betul-betul kita rasakan dalam simulator
adalah gaya akselerasi. Dengan cara yang sama, saat tunggangan simulator
kita berhenti begitu mendadak sehingga kita merasa diri kita terlempar ke
depan, yang terjadi adalah bahwa simulator sedang menjungkit kita ke depan
dan membiarkan gravitasi mengerjakan sisanya.
Contoh lain yang mendemonstrasikan kerja prinsip ekuivalensi adalah
sisi terbalik contoh simulator, yakni memakai akselerasi untuk mensimulasikan
gravitasi. Ini adalah contoh paling lumrah yang digunakan ketika subjek ini
diajarkan. Bayangkan Anda terikat pada kursi Anda dalam roket sungguhan
sedang menanti hitung mundur untuk peluncuran. Kursi Anda sedemikian rupa
sehingga Anda menghadap ke atas menuju puncak (depan) roket. Selanjutnya,
bayangkan Anda begitu santai dan berbaring dalam perjalanan Anda hingga
Anda tertidur—sangat tidak mungkin, saya tahu. Saat Anda bangun, dan
sebelum Anda sempat memandang keluar jendela, prinsip ekuivalensi akan
mengatakan bahwa Anda takkan sanggup membedakan antara sensasi yang
Anda rasakan jika roket masih berada di landasan luncur di mana gravitasi
mendorong Anda ke kursi, dan sensasi yang Anda rasakan jika roket telah
lama meninggalkan Bumi dan kini berada di ruang angkasa dan berakselerasi
pada satu ‘g’ konstan. Nyatanya, jika Anda terus menahan godaan untuk
memandang keluar jendela guna mengecek apakah kegelapan ruang hampa
ataukah lingkungan familiar landasan roket yang menatap balik Anda, Anda
takkan sanggup menemukan suatu eksperimen untuk dijalankan di dalam roket
yang akan memungkinkan Anda menebak di mana Anda berada.7 Eksperimen
yang saya maksud adalah mulai dari observasi sederhana, seperti mempelajari
ayunan pendulum atau menyaksikan bola jatuh, sampai pengukuran rumit
7 Oke, pada prinsipnya, dan dengan peralatan yang cukup sensitif, Anda bisa mengatakan
perbedaannya sebab medan gravitasi Bumi adalah radial ketimbang planar. Artinya jika Anda
menjatuhkan dua bola berdampingan di Bumi, mereka akan bergerak sepanjang garis lurus
menuju pusat Bumi. Garis-garis ini tidak sungguh paralel. Dalam roket yang sedang berakselerasi,
mereka akan persis paralel.
47
melibatkan sinar laser dan cermin; pokoknya ekperimen apapun yang dapat
membedakan antara perilaku objek yang mengalami akselerasi satu ‘g’ dan
efek gravitasi Bumi.
Akhirnya ketegangan memuncak dan Anda memandang keluar untuk
melihat bahwa Anda memang sedang berakselerasi di ruang angkasa. Namun,
semua eksperimen fisika itu telah memperingatkan Anda sehingga Anda duduk
kembali ke kursi Anda dan tidur. Saat bangun, Anda merasa tak berbobot.
Anda gembira karena tadi teringat untuk mengikat diri Anda atau Anda
akan mengapung dan kepala Anda membentur panel instrumen. Kini Anda
dihadapkan dengan teka-teki lain jika Anda tidak memandang keluar. Anda
tahu, Anda bisa hanyut di ruang angkasa pada kecepatan konstan dengan
mesin roket mati, yang tentu saja menerangkan sensasi ketakberbobotan, atau
Anda bisa jatuh menerobos atmosfer Bumi dan terancam segera tewas jika
Anda tidak cepat-cepat mengambil kendali roket. Anda tahu, saat Anda jatuh
bebas menerobos medan gravitasi Bumi, Anda mengalami ketakberbobotan,
seolah-olah tarikan gravitasi Bumi telah dimatikan.

Jatuh bebas
Kebanyakan kita takkan pernah mendapat kesempatan mengalami situasi di
atas, jadi berikut terdapat contoh lain untuk menjelaskan poin ini.
Jika Anda cukup berani (nekad?) untuk melakukan bungy jump, Anda
akan diampuni jika merasa bahwa, seraya Anda jatuh ke permukaan planet
dan berakselerasi sepanjang waktu, tarikan gravitasi belum pernah begitu
nyata atau terasa lebih dramatis. Nyatanya, yang terjadi adalah sebaliknya.
Ini mungkin juga sekali-kalinya dalam hidup Anda bahwa aksi gravitasi
sama sekali mati dan Anda dikatakan ‘jatuh bebas’. Selama beberapa detik
meriangkan itu Anda mengalami gravitasi nol. Seolah-olah gravitasi akhirnya
telah memperoleh apa yang dimauinya dan Anda sedang melakukan apa
yang telah ia usahakan untuk membuat Anda menjalani seluruh hidup
Anda. Biasanya terdapat tanah padat di bawah kaki Anda yang merusak
segala sesuatu untuk itu. Jadi, tugasnya selesai, gravitasi untuk sementara
telah mangkir dari dinas. Lebih tepatnya, ketimbang mengatakan bahwa
gravitasi absen, kita katakan ia telah dihapuskan sama sekali oleh akselerasi
Anda. Sensasi jatuh bebas adalah yang dirasakan astronot selama mereka
mengapung di ruang angkasa jauh dari gravitasi Bumi (atau di orbit sekeliling
Bumi). Tak heran mereka harus menjalani pelatihan keras untuk mengatasi
48
mabuk angkasa. Adalah menenangkan jika berpikir bahwa perjalanan antariksa
merupakan sebuah bungy jump panjang!
Jadi apa maksudnya mengalami gravitasi nol? Katakanlah, saat Anda
jatuh, Anda ‘menjatuhkan’ sebuah batu yang telah Anda genggam. Karena ia
jatuh pada laju yang sama dengan Anda, ia akan bergerak di samping Anda.8
Cara fisikawan memandang ini, jika dia mempunyai kesadaran untuk berhenti
menjerit tentang betapa hidupnya perasaannya dan mengabaikan tanah yang
muncul menyambutnya, adalah dengan mengesampingkan semua yang ada
di sekelilingnya dan membayangkan hanya dirinya dan batu yang eksis. Nah
batu terlihat mengapung di udara di sebelahnya, sebagaimana objek-objek
mengapung dalam gravitasi nol di angkasa. Inilah mengapa, dalam contoh
roket, Anda takkan bisa memutuskan, tanpa memandang keluar, apakah
roket sedang bergerak menerobos atmosfer Bumi dalam jatuh bebas atau
mengapung di angkasa.
Contoh-contoh seperti yang telah saya gambarkan barusan disebut
eksperimen pikiran sebab kita tidak harus mengalaminya secara fisikal untuk
mengumpulkan beberapa pemahaman mengenai kerja alam. Einstein sangat
gemar pada pendekatan semacam itu sebab dia menghabiskan waktunya
dengan duduk dan berpikir, ketimbang bekerja di laboratorium menjalankan
eksperimen sungguhan. Dia menyebut ini eksperimen gedanken (‘gedanken’
adalah bahasa Jerman untuk ‘pikiran’). Tentu saja, bungy jump dan tunggangan
simulator dalam pekan raya yang menunjukkan klip-klip dari Star Wars
bukanlah contoh yang dapat dia mintai bantuan.
Apa kaitan semua ihwal akselerasi ini dengan ide-ide Einstein tentang
ruang melengkung? Saya rasa masih harus menjelaskan sedikit lebih banyak.
Kita sekarang harus kembali ke contoh roket. Ingat sedikit saat Anda bangun
dan tak bisa memutuskan, tanpa mengobrol dan memandang keluar, apakah
roket masih harus lepas landas atau sedang berakselerasi pada satu ‘g’ di
angkasa? Ada eksperimen gedanken tertentu yang harus Anda jalani sekarang.
Berdiri di satu sisi roket dan lemparkan bola secara horizontal menyeberangi
roket, sebagaimana pada gambar 2.1(a). Bola akan mengikuti trayektori
melengkung dan mengenai sisi lain pada satu titik di bawah titik yang

8 Inilah eksperimen yang diduga dilakukan Galileo dari puncak Menara Pisa—tidak, dia tidak
melakukan bungy jump—dengan menunjukkan bahwa semua objek jatuh pada laju yang sama
tak peduli berapapun berat mereka (sepanjang mereka tidak begitu ringan sehingga terpengaruh
oleh hambatan udara seperti kertas atau bulu).
49
semestinya ia kenai seandainya ia menempuh garis lurus. Inilah persis yang
kita duga akan terjadi jika roket masih berdiri di landasan luncur, dengan bola
mematuhi hukum gravitasi.
Jika roket kini sedang berakselerasi, Anda semestinya, menurut prinsip
ekuivalensi, melihat bola mengikuti trayektori melengkung pula. Seandainya
roket mengapung bebas di angkasa dengan mesinnya mati (yakni meluncur
pada kecepatan konstan), ia akan membawa bola bersamanya dan Anda
akan melihat bola menyeberang dalam garis lurus. Ini karena bola dan roket
mempunyai kecepatan ‘naik’ yang sama. Tapi jika roket sedang berakselerasi,
sebagaimana pada gambar 2.1(b) (perhatikan bahwa gambar kanan adalah
sepecahan detik kemudian setelah gambar kiri), maka bola tidak akan
merasakan akselerasi ini saat terbang menyeberangi roket. Jadi pada waktu
bola mencapai sisi lain, roket sedang bergerak sedikit lebih cepat daripada
ketika bola meninggalkan tangan Anda. Titik di dinding berlawanan di mana
bola semestinya menghantam akan pindah ke atas sedikit dan trayektorinya
akan tampak melengkung bagi Anda. Prinsip ekuivalensi benar. Walaupun
penjelasan trayektori melengkung adalah berbeda dalam kedua kasus, efek
yang Anda amati sama.

Gambar 2.1. (a) Bola yang dilempar di bawah pengaruh gravitasi


Bumi akan mengikuti trayektori melengkung. (b) Bola yang
dilempar ketika roket berada dalam gravitasi nol akan mengikuti
trayektori garis lurus seandainya roket bergerak dengan kecepatan
konstan. Tapi jika roket berakselerasi, sebagaimana pada gambar
ini, pelempar akan melihat jalur bola melengkung ke bawah sebab
roket sedang bergerak lebih cepat daripada bola sewaktu bola
mencapai sisi lain.
50
Berikutnya, sebagai ganti melempar bola menyeberangi roket,
sorotkan obor ke dinding berlawanan tadi supaya sorot cahaya terarahkan
secara horizontal. Jika Anda mempunyai peralatan yang cukup sensitif, Anda
akan menemukan bahwa sorot cahaya menekuk sedikit ke bawah menuju
punggung/dasar roket. Ini adalah efek yang bisa kita pahami dengan
sungguh mudah jika roket berakselerasi di angkasa sebab kita akan memakai
argumentasi yang sama dengan kasus bola. Walaupun cahaya dari obor
menyeberangi roket secara amat cepat, ia masih perlu waktu terhingga yang
selama itu roket telah memperoleh sedikit kecepatan tambahan dan telah
sedikit bergerak maju.
Persoalan yang mungkin Anda miliki adalah mempercayai bahwa
sorot cahaya akan mengikuti jalur melengkung yang sama saat roket berdiri
di permukaan Bumi. Tapi prinsip ekuivalensi menaklukkan semuanya, dan
cahaya ternyata tidak berbeda dengan bola. Di Bumi pun jalur cahaya sedikit
melengkung ke bawah sebanyak besaran yang sama dengan kelengkungannya
dalam roket berakselerasi.
Cahaya tidak berbobot sama sekali9, lantas bagaimana bisa ia ditekuk
oleh gravitasi? Bagaimanapun, massa bisa dianggap sebagai energi beku, dan
cahaya sudah pasti memiliki energi, jadi mungkin kita dapat menganggapnya
mempunyai berat dan tak boleh terkejut jika ia berperilaku seperti objek-
objek materil dan tertarik ke bawah oleh gravitasi Bumi. Nyatanya, Newton
sendiri telah menyatakan bahwa cahaya tersusun dari sederet partikel-
partikel amat kecil yang akan dipengaruhi oleh gravitasi sebagaimana bola.
Tapi saya khawatir kita akan mendapatkan jawaban yang keliru untuk besaran
kelengkungan yang kita lihat jika kita memakai pendekatan Newton. Jika kita
mengkalkulasi besaran penekukan yang semestinya kita lihat pada jalur sorot
cahaya, berdasarkan argumen Newton bahwa cahaya mempunyai massa dan
ditarik oleh gravitasi, kita akan sampai pada jawaban yang hanya setengah
dari harga yang betul-betul kita ukur dengan peralatan sensitif kita. Karenanya
pasti ada yang salah dengan hukum gravitasi Newton, setidaknya dalam
menggambarkan efek gravitasi terhadap cahaya.
Argumentasi Einstein berbeda secara radikal. Penjelasannya membuang
gaya gravitasi sama sekali. Malah, dia mengatakan bahwa semua objek materil
di Alam Semesta akan mempengaruhi ruang dan waktu di sekitar mereka yang
9 Terima saja ini untuk sementara. Saya akan menjelaskannya lebih lanjut di Bab 6. Yang saya
maksud tentu saja adalah bahwa cahaya tidak memiliki sesuatu yang disebut massa diam.
51
menyebabkan keduanya melengkung. Jadi, ketimbang berpikir dari segi Bumi
yang mengerahkan sebuah ‘gaya’ terhadap kita, apel, Bulan, bola, dan sorot
cahaya, yang menarik segala sesuatu ke arahnya, Einstein mengklaim bahwa
Bumi menyebabkan ruang di sekelilingnya melengkung. Nah, semua objek
yang bergerak di kawasan ruang ini sederhananya mengikuti garis lengkungan.
Tak ada gaya yang menjaga Bulan tetap di orbit dan tak ada gaya yang
menarik sorot cahaya dalam roket diam ke bawah menuju Bumi. Segalanya
bergerak bebas, tapi di sepanjang sebuah jalur yang senantiasa merupakan
rute terpendek yang tersedia. Jika ruang adalah flat, jalur ini akan berupa garis
lurus, tapi karena ruang tempat mereka bergerak adalah melengkung, maka
begitu pula jalur yang diambilnya. Jalur semacam ini di ruang melengkung10
disebut geodesik.
Einstein mengembangkan ide ini selama periode yang mengarah ke
Perang Dunia I. Dia merampungkannya, teori relativitas umumnya, pada 1915.
Tapi dunia harus menunggu sampai 1919 sebelum teori tersebut diverifikasi
secara eksperimen.
Einstein menyatakan bahwa gravitasi Matahari akan menekuk jalur
cahaya yang mencapai kita dari bintang-bintang jauh jika cahaya tersebut
berpapasan cukup dekat dengan Matahari dalam perjalanannya menuju Bumi.
Namun persoalannya adalah bahwa ketika bintang berada di petak langit yang
sama dengan Matahari, cahaya matahari yang cerlang membuat kita mustahil
dapat melihat bintang tersebut. Astronom harus menunggu gerhana matahari
total, saat Bulan bergerak di antara Matahari dan Bumi dan menghalangi
cahaya matahari, untuk menguji teori Einstein. Pada 1919, astrofisikawan
Inggris, Sir Arthur Eddington, memimpin sebuah ekspedisi ke hutan Amazon
yang berhasil memotret gerhana matahari dan mengukur sudut defleksi kecil
cahaya bintang tertentu akibat medan gravitasi Matahari. Itu merupakan
pengukuran sulit, tapi membuktikan bahwa Einstein benar. Itu menjadi
headline di seluruh dunia lalu nama Einstein dikenal luas.

10 Lagi-lagi saya tekankan bahwa semestinya saya memperbincangkan ruangwaktu empat


dimensi daripada ruang tiga-dimensi saja. Beberapa contoh dan analogi yang saya gambarkan
dalam buku ini hanya untuk membantu Anda mendapatkan perasaan umum untuk subjek ini
dan tak boleh diambil serius. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih akurat tentang apa
yang terjadi tidaklah mudah dan di luar lingkup buku ini.
52
Ruang karet
Di Bab 1, saya berargumen bahwa ruang tidak boleh dianggap sebagai
sekadar ‘tempat untuk menaruh sesuatu’, melainkan bahwa ia memiliki
atribut geometrisnya sendiri. Atribut-atribut ini berubah dengan kehadiran
massa. Untuk memvisualisasikan bagaimana ruang dapat melengkung dekat
objek masif, kita akan memakai trik membuang salah satu dimensi ruang dan
memikirkan lagi lengkungan dunia2D.
Cara terbaik untuk memahami apa yang terjadi pada ruang saat kita
memasukkan objek masif adalah membayangkan ruang (2D) seperti tilam
karet. Bayangkan menggelindingkan bola kecil melintasi trampolin. Ia pasti
menyeberang dalam garis lurus. Sekarang, bagaimana jika Anda berdiri diam
di tengah-tengah trampolin dan menyuruh seseorang menggelindingkan bola
itu lagi? Anda akan membuat lekukan yang menyebabkan material trampolin
sedikit membungkuk. Jika jalur yang diambil bola cukup dekat dengan lekukan
ini, ia akan mengikuti lengkungan dan terbelokkan untuk bergerak ke arah
berbeda (gambar 2.2). Dipandang dari atas, akan terlihat seolah-olah Anda

Gambar 2.2. Karena benda masif seperti bintang atau planet


membuat lekukan di ruang, jalur objek kecil yang melintas di
dekatnya akan dilengkungkan oleh ‘lubang’ itu. Kelengkungan
inilah yang kita atributkan pada gaya tarik gravitasi.

mengerahkan sebuah gaya misterius terhadap bola yang menyebabkannya


tertarik menuju Anda dan menjauhi jalur lurusnya yang semula. Beginilah kita
membayangkan materi melengkungkan ruang di sekelilingnya. Lengkungan
menyebabkan objek lain mengikuti jalur yang berbeda dari jalur yang akan
mereka tempuh bila tak ada lengkungan. Yang terjadi pada trampolin adalah
bahwa bola mengikuti jalur geodesik. Jalur ini lebih disukai bagi bola; jalur
yang paling wajar ingin ia ambil mengingat adanya lengkungan material
53
trampolin yang dijumpainya. Dengan demikian, jalur geodesik adalah jarak
terpendek antara dua titik. Jadi bila Anda ditanya, berapa jarak terpendek di
antara dua titik, jangan jawab garis lurus. Geodesik hanya menjadi garis lurus
manakala ruangnya flat. Jika bola bergerak lebih lambat di sepanjang jalur
yang sama di atas trampolin, maka ia akan terperangkap dalam lubang dan
akan bergerak spiral ke dalam menuju kaki Anda.
Dalam contoh di atas, material trampolin merepresentasikan ruang
2D sehingga analogi tersebut longgar sebab semua objek di ruang imajiner
ini harus bertempat di dua-dimensi, sedangkan bola adalah objek tiga
dimensi yang menggelinding di atas permukaan. Demikian pula, lekukan
yang Anda buat dengan berdiri di atas trampolin sebetulnya diakibatkan
oleh gravitasi Bumi yang menarik Anda ke bawah, padahal saya meminta
Anda membayangkan bahwa massa Anda sendirilah yang melengkungkan
permukaan 2D. Kenyataannya, karena Anda adalah objek 3D di ruang 3D, yang
sebetulnya Anda lakukan adalah melengkungkan ruang riil di sekeliling Anda.
Namun, efek ini begitu kecil sehingga tak pernah bisa diukur. Meski demikian,
memang benar bahwa setiap kali Anda menjalani diet, bukan cuma perut
lebih flat yang ingin Anda capai—sesuatu yang semakin sulit saya capai dalam
tahun-tahun belakangan—tapi juga ruang di sekeliling Anda akan sedikit lebih
flat sebab Anda mengalami penurunan massa!
Jadi sekarang kita dapat memahami interpretasi gravitasi Einstein.
Semua benda materil melengkungkan ruang di sekelilingnya, yang besarannya
tergantung pada seberapa masif mereka, dan ruang melengkung ini kemudian
memandu semua benda yang bergerak di situ, membuat mereka berjalan
sepanjang jalur geodesik. Jalur-jalur semacam itu dapat dipahami jika Anda
memikirkan jalur penerbangan yang diambil sebuah pesawat.
Beberapa tahun lalu saya terbang dari London ke Tokyo untuk
menghadiri sebuah konferensi fisika. Saya menatap atlas dunia saya untuk
mendapat gambaran samar negara-negara yang akan saya lalui. Saya lupa
bahwa peta adalah proyeksi flat permukaan Bumi yang melengkung. Jadi
walaupun jarak terdekat antara dua titik pada peta (katakanlah London dan
Tokyo) terlihat seperti garis lurus di kertas, untuk menemukan jarak terpendek
sungguhan kita harus melihat globe. Untuk melakukan ini tempatkan salah
satu ujung gelang karet di London dan ujung lainnya di Tokyo. Gelang akan
selalu mengikuti garis geodesik sebab ini adalah jarak terpendek di antara
kedua titik. Jalur lain akan lebih panjang dan gelang harus lebih meregang.
54
Karena ia mempunyai kecenderungan alami untuk meminimalisir panjangnya,
ia akan selalu mencari rute yang membutuhkan paling sedikit peregangan.
Nah, kita lihat jalur penerbangan—dengan asumsi bahwa pilot ingin
meminimalisir konsumsi bahan bakar dan tidak tersimpangkan dari geodesik
akibat cuaca buruk atau ruang udara terlarang sebuah negara—akan melintasi
sebuah kawasan jauh di utara London dan Tokyo, sebuah jalur yang terlihat
melengkung jika Anda menggambarnya pada peta flat.
Sekarang setelah saya memperkenalkan gambaran gravitasi Einstein,
kita bisa berlanjut untuk melihat beberapa konsekuensinya yang lebih
mempesona, misalnya lubang di ruang yang ke dalamnya segala sesuatu bisa
jatuh dan lenyap selamanya: black hole. Anda akan menemukan bahwa objek-
objek sefantastik itu adalah fakta sains bukan fiksi sains sebab atsronom kini
hampir yakin bahwa black hole betul-betul eksis di ruang angkasa.
Untuk melapangkan jalan bagi pembahasan black hole, pertama-
tama kita harus mempelajari sedikit tentang bagaimana ia bisa terbentuk.
Agar ini bisa terjadi, ruang perlu dilengkungkan dengan besaran luar biasa.
Ini membutuhkan sesuatu yang amat padat memang. Bumi keseluruhan pun
tidak cukup—yang, ngomong-ngomong, menyingkirkan kemungkinan bahwa
Segitiga Bermuda adalah suatu jenis lubang di ruang yang menelan kapal dan
pesawat yang tak menaruh curiga, sebab lubang seukuran itu membutuhkan
massa yang jauh lebih besar dari planet ini keseluruhan, dan kita bisa dengan
mudah menetapkan massa Bumi dari caranya mengorbit Matahari.
Yang kita butuhkan untuk pelengkungan ruang yang serius adalah
sesuatu berukuran besar, seperti bintang.

Kelap, kelip
Perasaan apa yang bangkit saat Anda menatap langit di malam tak berawan?
Apa Anda terpesona oleh keluasan angkasa? Pernahkah Anda bertanya-tanya
apa yang terjadi di atas sana, di antara peniti cahaya gemerlapan yang kita
sebut bintang itu, jumlahnya begitu mengesankan tapi masing-masing tampak
begitu tak signifikan? Mudah sekali melupakan apa sebetulnya mereka: ceret
api raksasa, jutaan kali lebih besar daripada Bumi. Bintang-bintang begitu
jauh sehingga perlu bertahun-tahun bagi roket tercepat kita untuk mencapai
tetangga terdekat kita sekalipun. Tapi ada sebuah bintang yang bisa dicapai
roket kita dalam hitungan bulan.
55
Bintang terdekat dengan Bumi adalah seorang kawan lama. Tanpanya
kita tidak akan ada di sini. Matahari kita menopang hampir semua kehidupan di
Bumi dengan kehangatan dan cahayanya. Panas yang dihasilkan di dalamnya
dan memancar keluar untuk memandikan planet-planetnya adalah sesuatu
yang kita semua akui. Penulis Douglas Adams meringkas ketidakacuhan kita
secara luar biasa:
“Beberapa miliiar triliun ton nukleus hidrogen superpanas yang
meledak terbit perlahan-lahan di atas horizon dan berusaha
terlihat kecil, dingin, dan sedikit lembab.”
Bintang memiliki banyak warna dan ukuran berlainan dan Matahari kita
agak rata-rata. Ia berumur sedang dan agak kecil. Seorang astrofisikawan akan
memberitahu Anda bahwa Matahari adalah bintang dwarf G2 kuning sekuens
utama. Terdengar sangat mengesankan, bukan? Hampir sedikit mempersukar.
Anda hanya bisa membayangkan keangkuhan antargalaksi saat alien tamu dari
bintang kelas A putih besar seperti Vega atau Sirius menatap ke bawah telinga
mereka ke arah kita (hidung mereka berada di atas kepala). Tapi dalam bidang
perbintangan, berukuran kecil memiliki keuntungan tersendiri.
Semua bintang mempunyai ekspektasi hidup tertentu yang dapat
bervariasi dari sejuta sampai miliaran tahun. Itu semua tergantung pada
apa yang terjadi di bagian dalam mereka dan ini akhirnya tergantung pada
massa mereka, yakni ukuran berapa banyak materi yang mereka kandung.
Jadi apa yang terjadi di bagian dalam sebuah bintang? Kita sekarang tahu
bahwa semua bintang adalah seperti periuk masak kosmik. Sebagian besar
atom yang menyusun tubuh Anda disintesiskan di dalam suatu bintang, jauh
sebelum Matahari dan tata surya kita terbentuk; sebuah bintang yang tak lagi
eksis. Saya sadar bahwa tampaknya kita menyimpang dari cerita utama kita
tentang bagaimana black hole tercipta, tapi siklus hidup bintang sangat krusial
terhadap cerita ini. Bintang-bintang mengalami beberapa fase yang sungguh
berbeda selama hidup mereka, masing-masing lebih mempesona daripada
sebelumnya.

Memasak unsur-unsur
Segala sesuatu di sekeliling kita tersusun dari atom-atom. Mereka tentu saja
ada sembilan puluh dua macam, disebut unsur. Mereka mencakup mulai dari
gas-gas teringan, seperti hidrogen dan helium, kemudian karbon, oksigen,
nitrogen, dan unsur-unsur berat seperti aluminium, nikel, besi, emas, sampai
56
bocah besar seperti timah dan uranium. Pernahkan Anda bertanya-tanya
bagaimana atom-atom berlainan ini sampai terbentuk? Proses itu dikenal
sebagai nukleosintesis—coba ucapkan itu tiga kali dengan cepat. Kurang
dari semenit setelah kelahiran Alam semesta, kondisinya sedemikian rupa
sehingga dua unsur teringan tadi bisa disintesiskan dan setelah itu Alam
Semesta mengandung kira-kira 75% hidrogen dan 25% helium, dengan
bumbu beberapa unsur berikutnya dalam tabel periodik seperti lithium dan
beryllium. Ramuan ini adalah material mentah bintang-bintang. Saat awan-
awan gas antarbintang ini terbentuk, mereka mulai menyusut akibat pengaruh
tarikan gravitasi mereka sendiri. Begitu memadat, gas memanas dan, lambat-
laun, sebuah bintang baru-lahir terbentuk di pusatnya. Ketika temperatur ini
mencapai beberapa juta derajat yang membakar, kondisi menjadi cukup panas
untuk menyalanya bintang.
Bintang-bintang bersinar berkat proses fusi termonuklir. Ini berlangsung
ketika nukleus dua atom hidrogen berfusi membentuk nukleus sebuah atom
helium, melepaskan energi besar dalam proses tersebut. Ilmuwan telah
mencoba, sejauh ini tak berhasil, untuk meniru-niru proses ini di Bumi secara
terkendali untuk menghasilkan pasokan energi tak terbatas dan bersih (dalam
arti tidak bersifat radioaktif). Persoalannya adalah, tentu saja, kita tidak bisa
mencegah plasma-plasma bertemperatur amat tinggi dalam oven fusi kita
meloloskan diri. Bintang, di sisi lain, terus terbakar dan bersinar cerlang
sepanjang reaksi fusi berlangsung di bagian dalamnya sebab gravitasinya
menjaga kesatuannya. Pada waktu yang sama, proses ini menyediakan
outward pressure yang menahan inward pressure gravitasi bintang yang
meremukkan.
Ini berlangsung di bagian dalam Matahari selama lima miliar tahun
ini sejak ia terlahir (bersama dengan sembilan planetnya) dari awan gas
dan debu. Matahari akan terus bersinar gembira seperti ini untuk lima milar
tahun lagi. Jadi saat ini ia sudah kira-kira separuh jalan menempuh hidupnya.
Sepanjang-panjangnya umur bintang, ini adalah rentang hidup yang luar biasa
panjang, yang karenanya ia mempunyai massa kecil untuk disyukuri. Semakin
masif sebuah bintang, semakin kuat tekanan gravitasinya, sehingga semakin
padat dan panas interiornya, dan semakin cepat ia membakar bahan bakar
nuklirnya. Bintang-bintang terbesar, sejuta kali massa Matahari, akan hidup
selama beberapa juta tahun saja.
57
Lima miliar tahun dari sekarang Matahari akan mulai kehabisan bahan
bakar hidrogennya dan perlahan-lahan akan memasuki fase baru hidupnya.
Ia akan menjadi sesuatu yang disebut bintang raksasa merah. Ketika ia
menghabiskan semua hidrogen di intinya, ia akan mulai kolaps akibat
bobotnya sendiri dan semua materi di inti akan jadi termampatkan sehingga
memanas lagi. Pada poin ini, dua hal amat berlainan terjadi. Pertama, panas
di inti adalah sedemikian rupa sehingga atom-atom helium kini terdorong
menyatu untuk menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat. Pada waktu yang
sama, lapisan luar Matahari mengembang dan membengkak sedemikian
besar sehingga planet yang terdekat dengannya, Merkurius, akan tertelan.
Matahari kini akan berkali lipat lebih cerlang daripada sebelumnya, dan akan
memenuhi separuh langit yang terlihat dari Bumi. Sayangnya, kita takkan
bisa menyaksikan peristiwa ini sebab permukaan Matahari kini akan begitu
dekat sehingga menguapkan Bumi. Bagaimanapun juga, seandainya manusia
masih ada lima miliar tahun mendatang, mereka akan, semoga, telah lama
menemukan rumah baru sejak masa tersebut.
Setelah semiliar tahun selanjutnya, Matahari akan memasuki fase akhir
hidupnya dengan menumpahkan sebagian kecil kandungannya ke angkasa.
Ini membentuk cakram gas agak cantik yang disebut nebula planeter, yang di
jantungnya inti sekarat Matahari akan bertengger: bintang white dwarf. Objek
semacam itu terbentuk ketika sebagian besar massa Matahari telah kolaps
pada dirinya sendiri akibat gravitasinya saat proses-proses fusi termonuklir
akhirnya berhenti. Ia akan utamanya terdiri dari kristal karbon dan oksigen
dan akan menyerupai berlian bundar masif seukuran Bumi. Lambat-laun,
white dwarf ini akan menyejuk dan menjadi semakin redup dan semakin
dingin sampai akhirnya mati sepenuhnya. Objek semacam itu amat padat dan
kepingan seukuran kacang polong saja berbobot sekitar satu ton.
Jadi, Matahari kita akan mengakhiri hari-harinya secara agak tak luar
biasa, bahkan memalukan, jika dibandingkan dengan banyak bintang lebih
besar yang dapat mengadakan pertunjukan kembang api mengesankan.

Sampanye supernova di langit


Tidak semua bintang mengakhiri hidup mereka sebagai white dwarf.
Nyatanya, jika sebuah bintang lebih dari beberapa kali lipat massa Matahari,
ia ditakdirkan untuk menghadapi ajal yang jauh lebih spektakuler. Sekali proses
nuklir di dalamnya berhenti, massa tambahannya mengandung arti bahwa ia
58
akan mengerahkan tekanan gravitasi terhadap intinya. Ini menyebabkan inti
menjadi begitu padat dan panas sehingga mengirimkan gelombang kejut
materi kembali keluar menembus bintang dan menyebabkannya meledak
sebagai supernova. Ia secara singkat akan menjadi objek paling spektakuler di
seluruh galaksi. Selama beberapa hari ia akan bersinar ratusan juta kali lebih
cerlang; lebih cerlang daripada gabungan semua bintang lain di galaksi.
Satu atribut bintang yang belum saya sebutkan adalah bahwa sebagian
besar mereka berpasangan, disebut sistem biner, di mana dua bintang
mengorbit satu sama lain. Nyatanya, bintang-bintang tunggal yang terisolasi
seperti Matahari adalah minoritas.
Skenario bintang masif tunggal yang meledak di atas dikenal sebagai
supernova tipe II. Mereka mempunyai derajat kecerlangan bermacam-macam
dan tidak tergantung pada apakah bintang tersebut adalah bagian sebuah
sistem biner atau bukan. Ada cara lebih umum sebuah bintang bisa mengalami
supernova. Itu dikenal sebagai tipe I, dan terjadi pada sistem biner. Sekalipun
sebuah bintang awalnya tidak cukup masif dan berakhir sebagai white
dwarf, ia mungkin masih bisa menghisap material dari bintang rekannya dan
bertambah berat. Jadi ia bisa memperoleh massa kritis dengan cara ini.
Salah satu supernova paling terkenal dalam tahun-tahun belakangan
terlihat pada 1987. Semua bintang yang kita lihat di langit malam berada di
Galaksi Bima Sakti kita. Galaksi-galaksi lain begitu jauh sehingga kita tak bisa
melihat bintang-bintang tersendiri. Bintang yang meledak pada 1987 bukan
berada di galaksi kita melainkan di galaksi tetangga yang dikenal sebagai
Awan Magellan Besar. Pada level tercerlangnya, ia bisa dilihat dengan jelas di
langit malam.
Di pusat banyak bekas supernova terdapat inti padat kecil, sisa bintang
asli. Objek ini mempunyai diameter yang sama dengan sebuah kota besar
seperti London atau New York, jadi jauh lebih kecil daripada bintang white
dwarf. Karenanya ia jauh lebih padat sebab masih mengandung sebagian
kecil signifikan material bintang asli yang meledak. Sekeping kecil inti padat
seukuran kacang polong ini akan berbobot, di Bumi, sebesar Gunung Everest!
Objek demikian disebut bintang neutron, dan merupakan salah satu objek
paling mempesona dalam astrofisika. Nyatanya, bintang neutron adalah subjek
banyak aktivitas riset mutakhir. Anda mungkin pernah menjumpai istilah
‘pulsar’. Semua bintang neutron berputar sangat cepat dan meniup sesorot
radiasi ke angkasa sambil melakukan demikian. Jika Bumi kebetulan berada di
59
jalur sorot meluas ini, bintang neutron tersebut bagi kita akan terlihat seolah
cahayanya berdenyut hidup dan mati, dan karenanya dinamakan pulsar.
Beberapa pulsar berputar berkali-kali per detik dan saya akan kembali
membahas mereka nanti dalam buku ini ketika saya mempertimbangkan
kemungkinan memakai mereka untuk membuat mesin waktu.
Meski kita telah membahas semua objek astronomis yang terdengar
eksotis ini, kita masih harus menemui black hole. Mari kita pikirkan apa yang
terjadi ketika sebuah bintang yang lebih besar lagi, katakanlah dua puluh
atau tiga puluh kali massa Matahari, berhenti bersinar. Bintang semacam itu
tidak akan sanggup melawan kekolapsan gravitasinya sendiri. Ia akan terus
kolaps sampai teremas hingga densitas sedemikian tinggi sampai-sampai
cahayanya sendiri pun tidak dapat meloloskan diri dari tarikan gravitasinya.
Bagi seseorang yang menyaksikan dari jauh, bintang tersebut akan tiba-tiba
lenyap dari pandangan. Ia telah menjadi black hole.
Tapi cerita ini lebih daripada itu dan saya akan kembali membahas
black hole di Bab 4. Di bab berikutnya kita akan menerapkan beberapa ide
tentang lengkungan dan peregangan ruang untuk memandang Alam Semesta
secara keseluruhan. Banyak yang telah kita pelajari tentang Alam Semesta
baru diketahui setelah bertahun-tahun pengukuran dan observasi astronomi.
Beberapa ide teoritis masih harus dikonfirmasikan sedangkan yang lainnya
tetap sangat spekulatif. Satu hal yang pasti: ada masih banyak pertanyaan tak
terjawab. Dalam beberapa halaman berikutnya saya akan mengulas beberapa
ide teranyar mengenai awal-mula, bentuk, ukuran, dan takdir Alam Semesta
kita.
60

BAB 3
ALAM SEMESTA

Alam Semesta mungkin tertutup, tapi ia terbuka lagi setelah makan siang.
Erica Thurston, mahasiswa fisika Surrey

Langit malam

J IKA ANDA, seperti saya, tinggal di area perkotaan berpenduduk padat, di


mana polusi cahaya berarti pada malam cerah pun Anda hanya bisa melihat
sedikit objek tercerlang di langit, maka Anda barangkali akan kesulitan untuk
mengenali banyak bintang atau planet. Saya masih dapat menemukan Mars
dan Venus, tetangga terdekat kita selain bulan, tapi saya tak lagi yakin soal
rasi. Saat kanak-kanak, saya dulu jauh lebih akrab dengan langit malam.
Saya lahir di Baghdad dan menghabiskan enam belas tahun pertama
hidup saya di Irak, tapi meninggalkan negeri tersebut untuk selama-lamanya
bersama keluarga saya pada akhir 1970-an ketika iklim politik berubah.
Sebelum itu, kami biasa mengunjungi Inggris setiap dua atau tiga tahun untuk
menghabiskan liburan musim panas kami bersama kakek-nenek saya. Namun,
musim panas di Irak memiliki sihirnya sendiri. Awan-awan terakhir akan telah
lenyap pada akhir April, ditakdirkan untuk tidak menodai langit biru lagi sampai
Oktober, dan liburan sekolah akan membentang selama tiga setengah bulan
yang cerah panas (kami bersekolah enam hari dalam sepekan). Selama Juli
dan Agustus, temperatur akan mencapai maksimum pertengahan empat
puluhan (derajat Celcius) dan hampir tak pernah jatuh ke bawah tiga puluh
derajat yang lembab dan tak nyaman di malam hari.
Ritual paling menggairahkan yang mengkonfirmasi datangnya musim
panas Timur Tengah adalah ketika seprei di bawa ke atap. Rumah-rumah
mempunyai tangga yang membawa ke atap datar di mana setiap orang
tidur selama kira-kira seperempat tahun untuk melepaskan diri dari panas
dan kelembaban yang mencekik. Jadi, malam-malam musim panas selalu
berarti terbangun sambil menatap langit yang penuh dengan ribuan bintang,
mencoba membuat bentuk dan pola dengan menghubungkan ‘bintik-bintik’.
61
Akhirnya mereka sebagian akan dikaburkan oleh kelambu yang kami tutupkan
ke atas kami sehingga melingkungi masing-masing kami dalam tenda
transparan. Tak pernah ada kerisauan sekecil apapun akan turunnya hujan.
Hujan tak pernah turun di musim panas.
Kini tinggal di Selatan Inggris, saya hampir lupa betapa indahnya langit
malam, dan terkadang saya kehilangan getaran jiwa dalam memperhatikan
meteor.
Jadi, ya, saya dulu bisa mengenali beberapa bintang. Berbaring di atas
atap kami sebagai anak belia, saya belajar bahwa beberapa ‘bintang’ tercerlang
itu bukanlah bintang sama sekali melainkan planet, yang hanya bersinar
karena, seperti Bulan, mereka memantulkan cahaya Matahari saat ia berada di
sisi lain Bumi. Bintang-bintang sejati jutaan kali lebih jauh daripada planet, jadi
harus bersinar berkali lipat lebih cerlang agar kita mampu melihat mereka. Saya
juga samar-samar ingat pernah sedikit kecewa tapi gembira saat menemukan
bahwa meteor tak lebih dari sebuah batu kecil yang terbakar begitu memasuki
atmosfer Bumi, dan bahwa itulah yang sebetulnya disebut meteor.
Bab ini adalah campuran dua bidang ilmiah terkait: astronomi dan
kosmologi. Kebanyakan orang punya gambaran bagus soal apa itu astronomi,
tapi tidak banyak yang akrab dengan arti kosmologi. Sejauh menyangkut –
ologi, Anda pasti setuju bahwa kosmologi terdengar agak mengesankan dan
membangkitkan rasa hormat. Ia adalah studi Alam Semesta keseluruhan:
ukuran dan bentuknya, kelahiran dan evolusinya, bahkan mungkin takdirnya.
Ia juga terlihat sebagai bidang fisika yang paling glamor. Ia mengajukan, dan
bahkan mengaku menjawab, pertanyaan-pertanyaan yang dirasa oleh banyak
orang berada di luar alam sains.
Sebagian besar yang kita ketahui tentang Alam Semesta didapat lewat
eksperimen dan observasi astronomi yang cermat dan teliti, yang terus-menerus
diperbaiki seraya dibangunnya teleskop lebih canggih dan berkembangnya
teknik baru. Tapi sementara kosmologi, secara longgar, adalah sub-bidang
astronomi, pengetahuan yang kita peroleh tentang Alam Semesta juga datang
dari bidang sains lain, seperti nuklir dan fisika partikel dan astrofisika teoritis.
Kosmologi teoritis melibatkan penciptaan model-model matematis Alam
Semesta yang diidealkan dengan memecahkan persamaan teori relativitas
umum Einstein. Ini bisa dirumuskan sedemikian rupa agar menggambarkan
atribut Alam Semesta keseluruhan dan bukan hanya sekawasan kecil ruang dan
waktu di sekitar sebuah objek masif, misalnya bintang.
62
Sebagaimana dalam bagian-bagian lain buku ini, saya akan membahas
ide-ide tentang Alam Semesta kita yang, setidaknya pada waktu penulisan
buku ini, mewakili pemahaman terbaik dan teori-teori kesayangan kita saat ini.
Beberapa tahun dari sekarang, beberapa ide ini mungkin akan terbukti salah.
Di sisi lain, ada atribut-atribut tertentu Alam Semesta yang cukup kita yakini
dan yang saya yakin akan bertahan terhadap ujian waktu. Di akhir bab ini saya
akan meringkas fitur-fitur Alam Semesta apa saja yang, menurut pandangan
saya, benar dan yang masih terbuka bagi perdebatan.
Untuk memberi Anda gambaran tentang seberapa pesat persisnya ide-
ide dan teori-teori dalam kosmologi berubah dan maju berkat pengukuran
astronomis yang lebih akurat lagi, saya harus menulis ulang potongan-
potongan substansial bab ini selama tahap pengkoreksian naskah. Nyatanya,
kita akan lihat bahwa 1998 adalah tahun penting dalam kosmologi.

Seberapa besar Alam Semesta?


Saya tergoda untuk cukup bilang AMAT BESAR! dan membiarkan begitu saja.
Nyatanya, menurut bukti astronomis termutakhir, mungkin ternyata Alam
Semesta itu tak terhingga. Artinya ia membentang terus. Namun, kita hanya
bisa melihat sebagian kecilnya, bahkan dengan teleskop paling powerful yang
diharapkan bisa dibangun. Ada semacam horizon di angkasa luar yang kita tak
pernah bisa melihat melampauinya dan itu menandai batas apa yang dikenal
sebagai Visible Universe (Alam Semesta Tampak). Ini bukan tepi sungguhan
tapi ada kaitan dengan fakta bahwa Alam Semesta tak selamanya ada dan
cahaya perlu waktu tertentu untuk mencapai kita. Saya akan mempelajari ini
sedikit lebih banyak saat membahas sesuatu yang disebut paradoks Olbers.
Bumi mengorbit Matahari pada jarak 150 juta kilometer, yang ekuivalen
dengan hampir 4000 kali keliling Khatulistiwa. Bersama-sama, Matahari dan
planet-planetnya membentuk tata surya. Orbit Bumi memakan waktu 365 hari
6 jam, itulah alasannya kita memerlukan tahun kabisat 366 hari, sebab empat
kali enam jam akan melengkapi hari tambahan tersebut.
Tentu saja tidak masuk akal mengukur jarak astronomis besar dalam
kilometer. Mereka diukur dari segi jarak tempuh cahaya dalam setahun. Di
bab mengenai relativitas khusus, kita akan melihat bahwa kecepatan cahaya
adalah kecepatan tercepat yang dapat dicapai oleh sesuatu di Alam Semesta.11
11 Partikelhipotetis yang dikenal sebagai tachyon, yang bisa bergerak lebih cepat daripada
cahaya, diprediksikan oleh teori relativitas Einstein tapi barangkali tak eksis di Alam Semesta riil.
63
Meski demikian, perlu waktu tertentu bagi cahaya untuk berangkat dari A
ke B; tergantung seberapa jauh B berada. Ini mungkin tidak nyata bagi kita
saat menceklik tombol lampu di sebuah ruangan. Bagi kita, seluruh ruangan
bermandikan cahaya secara seketika, tapi ini hanya lantaran jarak yang perlu
ditempuh cahaya dari bohlam ke empat penjuru ruangan adalah begitu kecil.
Nyatanya, tipikalnya cahaya cuma memakan waktu sepersepuluh miliar detik
untuk berangkat dari bohlam menuju dinding-dinding ruangan.
Pada jarak astronomis, waktu yang diperlukan cahaya untuk berjalan
dari satu tempat ke tempat lain menjadi lumayan besar. Contoh, cahaya
memakan waktu delapan menit dari Matahari untuk mencapai Bumi: cuma
delapan menit untuk menempuh 150 juta kilometer. Tapi ia perlu lima jam
untuk mencapai planet terluar, Pluto. Dalam setahun, cahaya dapat menempuh
jarak dari Matahari ke Bumi enam puluh ribu kali lipat. Jarak yang dapat
ditempuh oleh cahaya dalam setahun ini dikenal sebagai, secara imajinatif,
tahun-cahaya. (Well, bagaimana lagi Anda akan menyebutnya?) Meski
demikian, sedikit membingungkan memakai istilah yang mengandung rentang
waktu untuk menetapkan jarak, tapi di situlah ceritanya.
Jarak kosmik yang sangat besar ini mengandung arti bahwa kosmologi
menyimpan trik cerdik. Saat kita, lewat teleskop kita, memandang sebuah
bintang yang satu tahun-cahaya jauhnya, kita harus ingat bahwa kita sedang
melihat cahaya yang meninggalkan bintang tersebut setahun lalu. Jadi kita
bukan sedang melihat bintang itu dalam keadaannya yang sekarang melainkan
versi yang sedikit lebih muda. Praktisnya, kita sedang memandang masa
lalu. Dalam geologi dan arkeologi, ilmuwan mempertimbangkan bukti di
sekeliling mereka (batu dan sisa fosil) dan mencoba menyimpulkan seperti
apa tampilan/bentuk sesuatu di masa lampau. Sedangkan astronom bisa
memandang masa lalu secara langsung. Semakin jauh mereka memandang
di angkasa, semakin tua cahaya yang ditangkap teleskop mereka dan semakin
penyelidikian mereka menuju masa lalu. Objek terjauh yang dapat dideteksi
dari Bumi adalah miliaran tahun-cahaya jauhnya dan memperlihatkan seperti
apa tampilan Alam Semesta saat ia sangat muda.
Selain Matahari, bintang yang terdekat dengan kita adalah bintang yang
jauh lebih redup dan lebih kecil yang disebut Proxima Centauri, berjarak cuma
empat tahun-cahaya. Yang relatif dekat dengan bintang ini adalah sistem biner
Alpha Centauri, yaitu sepasang bintang mirip Matahari yang mengorbit satu
sama lain sekali setiap delapan puluh tahun. Kebetulan, Beta Centauri berada
64
dekat Alpha Centauri tapi seratus kali lebih jauh. Sebagai bintang raksasa yang
sangat cerlang, mereka bersinar dengan kecerlangan serupa di kawasan langit
malam yang sama sehingga mereka terlihat, bagi kita, berdekatan.
Bintang-bintang begitu jauh sehingga Anda benar jika berpikir bahwa
sebagian besar angkasa adalah cuma itu: ruang. Tapi Anda salah jika berpikir
bahwa bintang-bintang tersebar merata di sepanjang Alam Semesta.
Jarak ke tetangga-tetangga terdekat yang telah saya kutip di atas sungguh
tipikal di antara bintang-bintang, tapi bintang-bintang di tempat lain bisa
bergerombol jauh lebih dekat, dan terdapat bentangan luas Alam Semesta
yang tak mengandung bintang sama sekali. Tak terkecuali, semua bintang yang
berkerumun dalam kelompok besar disebut galaksi. Kita tinggal di Galaksi Bima
Sakti (dengan huruf kapital G untuk membedakannya dari galaksi lain), yang
berbentuk seperti cakram flat dengan kawasan pusat menonjol keluar. Kawasan
luar terdiri dari lengan-lengan spiral yang memberinya nama: galaksi spiral. Ia
berdiameter 80.000 tahun-cahaya dan, untuk memberi Anda gambaran ukuran
ini, ada lebih banyak bintang di Galaksi kita (sekitar 100 miliar) daripada jumlah
manusia yang hidup di Bumi (sekitar 6 miliar). Matahari terletak menjelang
tepi Galaksi, pada salah satu lengan spiralnya, dan mengorbit pusat Galaksi
sekali setiap 255 juta tahun. Pusat galaksi berpopulasi jauh lebih padat dan
mengandung bintang-bintang yang lebih tua daripada Matahari.
Membantu sekali menganggap Galaksi sebagai sebuah kota bintang
besar, dengan Matahari terletak di pinggiran kota modern, jauh dari kegiatan
dan kesibukan pusat galaksi yang ramai. Semua bintang yang kita lihat di langit
dengan mata telanjang berada di Galaksi kita, tapi ada miliaran galaksi lain,
masing-masing dengan populasi bintangnya sendiri. Sedikit sekali dari bintang-
bintang ini, bahkan di galaksi-galaksi tetangga, yang bisa dipilah dengan
sebuah teleskop sekalipun. Satu-satunya waktu di mana ia bisa dilihat dengan
mata telanjang adalah jika ia mengalami ledakan supernova saat sinarnya
secara singkat lebih cerlang daripada gabungan seluruh bintang di galaksinya.
Tak hanya bintang-bintang yang menggugus di galaksi, galaksi-galaksi
juga mengelompok dalam gugus. Galaksi kita adalah salah satu galaksi dari
kumpulan campuran beranggotakan sekitar 40, dikenal sebagai Kelompok
Lokal. Terdekat dengan kita adalah sejumlah galaksi dwarf yang menggantung
pada ekor jas kita. Galaksi besar yang terdekat dengan kita adalah Nebula
Andromeda, berjarak sekitar 2 juta tahun-cahaya dan merupakan satu-satunya
galaksi, di luar Galaksi kita, yang terlihat jelas dari Bumi dengan mata telanjang.
65
Pengukuran astronomis telah mencapai derajat presisi dan kerumitan
sedemikian tinggi dengan teleskop-teleskop lebih powerful yang sedang
dibangun, memungkinkan kita untuk menyelidiki lebih dalam ke angkasa,
sehingga kita sekarang tahu bahwa gugus-gugus galaksi sendiri mengelompok
menjadi apa yang dikenal sebagai supergugus. Kelompok Lokal kita, nyatanya,
adalah bagian Supergugus Lokal. Apa berikutnya? Gugus supergugus?
Apa yang diberitahukan oleh semua ini kepada kita tentang Alam
Semesta? Satu hal, ia sangat kental. Pada setiap skala: dari bintang sampai
galaksi sampai gugus sampai supergugus, materi cenderung menggumpal
secara tak merata. Ini, tentu saja, diakibatkan oleh gaya gravitasi penakluk-
segala yang mengatur struktur Alam Semesta keseluruhan. Tarikan gravitasi
timbal-balik semua bintang di Galaksi menjaga mereka tetap terikat bersama.
Gravitasilah yang menyebabkan galaksi-galaksi menggumpal menjadi gugus
dan supergugus, dan tarikan gravitasi semua materi di Alam Semesta-lah yang
mengatur bentuk keseluruhannya.

Alam Semesta mengembang


Belakangan ini banyak non-ilmuwan menjumpai konsep Alam Semesta
mengembang. Tapi apa maksudnya itu? Apa ini cuma ide aneh lain yang
ditemukan oleh ilmuwan berdasarkan satu atau dua kelumit bukti yang bisa
juga ditafsirkan dengan cara lain? Jawabannya tidak. Ada begitu banyak bukti
yang mendukung observasi bahwa Alam Semesta kita sedang membesar
sehingga kita tak lagi boleh ragu. Perluasan ini dikonfirmasikan pada 1929
silam saat astronom Amerika, Edwin Hubble, membuat penemuan luar biasa,
tapi itu setelah beberapa kosmolog memprediksikan efek tersebut secara
teoritis.
Kosmolog modern pertama, tentu saja, adalah Einstein sendiri. Segera
setelah dia merampungkan teori relativitas umumnya pada 1915, dia mulai
memakai persamaannya untuk menggambarkan atribut global Alam Semesta
keseluruhan. Dia segera menjumpai persoalan serius. Jika, pada waktu
tertentu, semua galaksi di Alam Semesta adalah diam terhadap satu sama
lain, dan asalkan Alam Semesta berukuran terhingga, maka tarikan gravitasi
timbal-balik mereka akan menyebabkan mereka mulai saling berkumpul dan
Alam Semesta akan kolaps pada dirinya sendiri. Ia tidak bisa tetap statis. Ini
sebetulnya konsep yang sungguh rumit untuk diatasi (dan bukan satu-satunya
yang akan kita jumpai di bab ini). Ini karena, secara naif, Anda akan berpikir
66
bahwa Alam Semesta yang ditetapkan oleh volume ruangnya semestinya
tetap berukuran sama meski materi yang dikandungnya mengendap menuju
‘pusat’-nya. Ini sungguh keliru. Sebab satu hal, kita akan lihat bahwa Alam
Semesta tidak mempunyai pusat sama sekali dan, bagaimanapun, kita telah
mempelajari bahwa gravitasi mempengaruhi ruang itu sendiri dan tidak
sekadar bertindak terhadap materi ‘di dalam’-nya.
Prediksi persamaan miliknya sendiri meresahkan Einstein. Pandangan
yang saat itu dipegang luas, dan tak terkecuali Einstein meski dia menemukan
banyak ide revolusioner lain, adalah bahwa Alam Semesta, pada level galaksi
dan lebih besar, pasti statis dan tak berubah. Entah keadaannya sudah
demikian selamanya atau sang pencipta menciptakannya pada suatu waktu
di masa lampau, ini tak jadi soal. Kedua pandangan tersebut mendukung
gambaran Alam Semesta yang konstan. Ide alam semesta berevolusi adalah
asing dan tak ada gunanya. Jadi, ketika persamaan-persamaan relativitas
umum Einstein terasa mengindikasikan bahwa Alam Semesta semestinya
sedang menyusut, dia memutuskan menambal beberapa hal. Dia berargumen
bahwa, dalam rangka mengimbangi tarikan masuk gravitasi diperlukan gaya
antigravitasi yang melawan, dikenal sebagai gaya tolak kosmik, yang akan
mengimbangi tarikan gravitasi dan menjaga semua galaksi tetap terpisah dan
Alam Semesta tetap stabil. Perbedaan antara gravitasi dan antigravitasi sama
dengan perbedaan antara gaya tarik yang menarik kutub utara sebuah magnet
menuju kutub selatan magnet lain dan gaya tolak yang mendorong dua
kutub utara saling berpisah. Gaya tolak kosmik ini muncul dalam matematika
sebagai sebuah bilangan, yang Einstein sebut konstanta kosmologis.
Dalam persamaannya, ini dilambangkan oleh huruf lambda Yunani. (Dalam
matematika tingkat lanjut, tidaklah cukup memakai x, y, dan z untuk kuantitas
tak dikenal. Kita segera kehabisan huruf alfabet dan mulai merampas huruf
Yunani—pi adalah contoh paling dikenal). Yang Einstein nyatakan adalah trik
matematis untuk mencapai model alam semesta statisnya.
Beberapa tahun setelah karya awal Einstein, kosmolog Soviet, Aleksandr
Friedmann, mempublikasikan sebuah paper di mana dia menyatakan
membuang tolakan kosmik (dengan mengeset harga konstanta kosmologis
sama dengan nol dalam persamaan Einstein). Friedmann menemukan bahwa
ketika dirinya menerapkan persamaan relativitas umum Einstein pada Alam
Semesta dan diselesaikan lewat matematika, dia selalu menemukan solusi
(persamaan lain) yang memprediksikan bahwa jarak antara dua titik di ruang
67
meregang seiring waktu. Dia menemukan secara teoritis bahwa Alam Semesta
membesar sepanjang waktu. Dua ilmuwan lain sampai pada kesimpulan sama
pada waktu yang hampir sama. Mereka adalah astronom Belanda, Willem de
Sitter, dan kosmolog (dan pendeta) Belgia, Georges Lemaitre.
Ini mungkin agak mengejutkan jika kita memikirkan bagaimana jadinya
aksi gravitasi bilamana tak ada gaya tolak kosmik untuk merenggangkan materi
di Alam Semesta. Tentu, tanpa gaya tolak kosmologis, Alam Semesta pasti
menyusut, bukan tumbuh. Tapi alam semesta mengembang bisa dipahami
dengan cara berikut. Pertama-tama, bayangkan sesuatu telah menyebabkan
Alam Semesta mengembang, sebuah ledakan awal. Tarikan gravitasi semua
materi di Alam Semesta kemudian akan mencoba memperlambat laju
perluasan. Inilah esensi argumen Friedmann. Jika tak ada gaya tolak kosmik
untuk mengimbangi tarikan gravitasi, dan Alam Semesta berawal dengan
mengembang, maka ia sedang mengembang atau menyusut saat ini. Ia tak
bisa tetap seimbang antara perluasan dan kolaps sebab tak akan stabil.
Contoh sederhana untuk mendemonstrasikan ini adalah yang terjadi
pada sebuah bola di lereng licin. Jika ditempatkan di separuh atas lereng,
ia akan selalu menggelinding ke bawah. Tapi jika kita tidak tahu bagaimana
mulanya bola itu bisa sampai berada di lereng, maka kita akan menduga ia
sedang menggelinding naik lereng (dapat disamakan dengan alam semesta
mengembang) atau turun lereng (alam semesta kolaps), tak pernah diam.
Tentu saja satu-satunya cara ia bisa menggelinding naik lereng adalah jika
ia telah sengaja diberi dorongan awal, tapi dalam kasus tersebut ia akan
segera mulai melambat dan akhirnya mulai menggelinding turun lagi. Nah
bayangkan lereng tersebut mendatar di puncak. Asalkan bola awalnya diset
menggelinding naik lereng cukup cepat, ia bisa mencapai puncak. Sekali
berada di sana, ia kemudian bisa terus menggelinding untuk jangka waktu
tak terbatas tanpa melambat (tentu saja saya mengabaikan gesekan dan
hambatan angin di sini sebab bola sungguhan pada akhirnya akan berhenti di
atas permukaan flat sekalipun).
Dengan asumsi bahwa bola selalu diberi kecepatan awal yang sama
menaiki lereng, yang mengatur nasib akhirnya kemudian adalah seberapa
tinggi puncak itu. Jika terlalu tinggi, bola tidak akan sanggup mencapai puncak
dan akan menggelinding turun lagi.
Dengan cara inilah kita dapat memandang perluasan Alam Semesta.
Keefektifan tarikan gravitasi tergantung pada jumlah materi yang dikandung
68
Alam Semesta. Yang saya maksud bukan cuma bintang, planet, dan objek
padat lain, melainkan segala zat di Alam Semesta. Ini bisa dalam bentuk debu,
gas, partikel subatom, bahkan energi murni. Jadi, apakah Alam Semesta kini
sedang menyusut atau mengembang, itu tergantung pada seberapa banyak
materi yang dikandungnya dan seberapa lama tarikan gravitasi semua materi
ini telah mengerem perluasan awal. Inilah esensi model alam semesta
Friedmann.
Tak seorang pun, tak pula Einstein, yang bersedia mempercayai temuan
Friedmann, sampai bukti eksperimen ditemukan. Ini terjadi beberapa tahun
kemudian. Sayangnya, Friedmann meninggal pada 1925 dan tidak sempat
melihatnya.

Hubble, menggelembung...
Edwin Hubble hampir menjadi petinju kelas berat profesional. Tapi dia memilih
jalur karir dalam astronomi, dan kini teleskop paling terkenal dunia dinamai
dengan namanya. Apa haknya atas kemahsyuran? Satu hal, dia merupakan
orang pertama yang menyadari bahwa galaksi-galaksi lain eksis di luar Bima
Sakti. Sampai waktu itu, dianggap bahwa corengan cahaya kecil yang dapat
dilihat lewat teleskop adalah awan-awan debu, disebut nebula, di galaksi kita.
Hubble menemukan bahwa mereka terlalu jauh untuk menjadi bagian Bima
Sakti dan karenanya pasti merupakan galaksi tersendiri. Dia juga menemukan
bahwa galaksi-galaksi lain ini terlihat terbang menjauh dari galaksi kita pada
kecepatan yang proporsional dengan seberapa jauh mereka berada. Semakin
jauh sebuah galaksi, semakin cepat ia terlihat mundur dari kita. Yang luar biasa
adalah bahwa ini terjadi ke manapun dia mengarahkan teleskopnya. Dia telah
menunjukkan secara eksperimen bahwa model Alam Semesta mengembang
Friedmann benar. Einstein terpaksa mengakui bahwa memasukkan konstanta
kosmologis ke dalam persamaannya merupakan kekeliruan terbesar dalam
karir ilmiahnya.
Hubble berargumen, secara tepat, bahwa karena Alam Semesta kini
sedang mengembang, maka di masa lampau ia pasti lebih kecil daripada
ukurannya hari ini. Bayangkan perluasan Alam Semesta bisa difilmkan dari titik
menguntungkan ‘di luar’ Alam Semesta—tentu saja ini mustahil sebab seluruh
ruang, menurut definisi, berada di dalam Alam Semesta. Dengan memutar
mundur film, Anda akan melihat Alam Semesta menyusut. Jika Anda cukup
jauh memutar ke masa lampau, Anda akan mencapai sebuah waktu di mana
69
semua galaksi saling meliputi dan segalanya agak sesak. Putar lebih jauh lagi
ke masa lampau dan semua materi akan semakin teremas dan terperas lebih
rapat sampai Anda mencapai momen kelahiran Alam Semesta.12
Hubble membuat penemuannya dengan mengukur sesuatu yang
disebut redshift kosmologis cahaya. Untuk memahami apa maksudnya ini,
pikirkan fenomena yang lebih familiar yang disebut pergeseran Doppler, yakni,
sebagaimana Anda barangkali ketahui, perubahan pitch yang Anda dengar
ketika, misalnya, sebuah ambulans kilat berjalan melewati Anda. Penyebab
efek ini adalah perubahan frekuensi gelombang suara yang menjangkau Anda
dari ambulans saat ia berada dalam dua situasi berbeda: bergerak menuju
Anda dan bergerak menjauhi Anda. Saat ia mendekat, gelombang suara
teremas, menimbulkan frekuensi lebih tinggi (pitch tinggi), tapi saat menjauh,
gelombang tersebut meregang sehingga menimbulkan frekuensi lebih rendah
(pitch rendah).
Hal yang sama terjadi pada cahaya. Ketika sebuah objek sedang
menjauhi kita—misalnya galaksi jauh—gelombang cahaya yang menjangkau
kita darinya meregang dan frekuensi cahaya itu turun. Daripada frekuensi
cahaya, kita lebih sering membicarakan panjang gelombangnya. Anda
barangkali ingat sesuatu tentang panjang gelombang dari fisika semasa Anda
sekolah. Anda tahu, ripple tank, pegas panjang yang meregang menyeberangi
kelas. Alangkah menyenangkan! Ngomong-ngomong, panjang gelombang
adalah jarak antara dua puncak gelombang yang berurutan. Jadi penurunan
frekuensi cahaya sebetulnya diakibatkan oleh peregangan panjang gelombang.
Karena kita yakin bahwa galaksi jauh pasti mengandung bintang yang
serupa dengan bintang di Galaksi kita, dan karena kita tahu berapa panjang
gelombang yang dimiliki cahaya—proses-proses nuklir di bagian dalam semua
bintang menyebabkan mereka bersinar dengan cahaya berpanjang gelombang
spesifik—maka dengan mengukur perubahan panjang gelombang cahaya, kita
dapat menetapkan seberapa cepat galaksi sedang menjauhi kita. Tentu saja,
astronom akan cepat menguraikan bahwa hal tersebut tidak sesederhana ini,
tapi prinsip dasarnya benar. Saya akan kembali membahas beberapa seluk-
beluk pengukuran laju perluasan nanti.
Efek itu disebut redshift (pergeseran merah) sebab panjang gelombang
meregang seraya galaksi menjauh, dan panjang gelombang cahaya tampak
12 Istilah ‘big bang’ belum tercipta sampai tahun 1950-an oleh astrofisikawan dan penulis Fred
Hoyle.
70
yang lebih panjang diasosiasikan dengan warna lebih merah. Istilah ‘redshift’,
meski sebetulnya hanya berlaku pada cahaya tampak, dipakai untuk semua
anggota spektrum elektromagnet.
Kita terlebih dahulu harus mempertimbangkan apakah memerahnya
cahaya dari galaksi jauh yang diobservasi oleh Hubble dapat ditafsirkan dengan
cara lain. Astronom tentu saja sudah mencoba, sebab mereka mulanya tidak
ingin percaya bahwa Alam Semesta betul-betul mengembang. Cara nyata
agar ini bisa terjadi adalah jika cahaya kehilangan energi dalam perjalanannya
dari sumbernya menuju teleskop kita, sebab penurunan energi juga akan
membuat panjang gelombang menjadi lebih panjang. Satu-satunya cara
agar cahaya kehilangan energi adalah jika ia harus mengalahkan jalannya
menerobos debu antarbintang atau gas yang dijumpainya dalam perjalanannya
menembus angkasa. Tapi ada kesulitan fatal dalam penjelasan ini. Cahaya
kehilangan energi dengan melambungkan atom-atom materi di jalurnya. Jadi
ia cenderung bergerak zigzag dan ini akan membuat citra galaksi terlihat blur
(kabur). Karena tidak pernah teramati ada pengaburan citra galaksi, penjelasan
ini harus disingkirkan. Satu-satunya penjelasan lain adalah pergeseran Doppler
diakibatkan oleh alam semesta yang mengembang. Segelintir fisikawan,
termasuk seorang kolega saya yang mengajari saya relativitas saat menjadi
mahasiswa, berargumen bahwa redshift dapat dijelaskan oleh sesuatu yang
dikenal sebagai pergeseran Doppler lintang. Ini adalah pergeseran Doppler
yang teramati pada cahaya dari objek yang sedang bergerak pada kecepatan
tinggi menyeberangi bidang pandang kita dan bukan menjauhi kita. Ini
sungguh benar. Namun, saya akan menunjukkan bahwa redshift bukan satu-
satunya bukti yang kita punya tentang perluasan.

Ruang sedang meregang


Mari kita lihat lebih dekat apa arti penemuan Hubble. Bagaimana bisa
semua galaksi sedang menjauhi galaksi kita? Tentu saja ini berarti kita harus
menempati posisi istimewa di Alam Semesta. Kita harus berdiri tepat di
pusatnya. Jika galaksi-galaksi di semua sisi kita, dan yang berjarak sama dari
kita, sedang bergerak menjauh pada kecepatan sama, maka kita mungkin
menyimpulkan bahwa kita tidak sedang bergerak sama sekali. Seolah-olah
semua materi di Alam Semesta berasal dari pojok kecil kita.
Mungkin kita unik sebagai satu-satunya kehidupan di Alam Semesta,
walaupun ini terasa agak tidak mungkin mengingat besarnya ukuran Alam
71
Semesta. Tapi kebanyakan kita pasti tak punya alasan untuk percaya bahwa
kita menempati lokasi istimewa di Alam Semesta. Nyatanya, sebuah ajaran
penting dalam kosmologi, dikenal sebagai prinsip kosmologi, menyatakan
bahwa tidak ada tempat istimewa di Alam Semesta. Bahwa, pada skala amat
besar, Alam Semesta terlihat sama di setiap tempat. Jadi bagaimana segala
sesuatu terlihat menjauhi kita?

Gambar 3.1. Ruang mengembang model tilam karet. Bayangkan


galaksi-galaksi 2D terpisah merata di atas kisi. Begitu tilam
mengembang, setiap galaksi akan melihat semua galaksi
sekelilingnya bergerak menjauh darinya.

Jawabannya sebetulnya sederhana. Bukan galaksi-galaksi yang


terbang di angkasa menjauhi galaksi kita, melainkan ruang di antara kita dan
mereka yang meregang. Bayangkan tilam karet besar yang di atasnya Anda
menempatkan penanda pada titik-titik kisi persegi sehingga mereka semua
berjarak sama dari satu sama lain (gambar 3.1). Jika tilam itu diregangkan
setara ke semua arah, jarak antara dua penanda akan bertambah. Setiap
penanda akan melihat segala hal di sekeliling mereka sedang menjauhinya
dan tak ada penanda yang lebih istimewa dari yang lain. Tentu saja
saya mengasumsikan tilam tersebut amat besar, kalau tidak, kita harus
mencemaskan penanda-penanda yang bertengger di tepi.
Saat saya memberi kuliah tentang topik ini, saya hampir selalu
memperoleh suatu percikan cerdas dari audiens yang mengajukan pertanyaan
berikut: jika ruang sedang mengembang dan segala sesuatu tersimpan
di ruang maka tentu segala sesuatu itu semestinya sedang mengembang
bersama, termasuk kita dan semua peralatan pengukur milik kita di Bumi.
Jika jarak antara Galaksi kita dan galaksi lain bertambah dua kali lipat selama
periode tertentu maka, tentu, jarak antara semua atom di tubuh kita, pita
pengukur, dan penggaris juga akan bertambah dua kali lipat.
72
Setelah mengajukan pertanyaan ini, mereka cenderung beralih dengan
penuh kemenangan kepada audiens lain seolah ingin berkata, ‘di sana, mari
kita lihat dia keluar dari situ!’
Namun, jawabannya ternyata sederhana. Ingat bahwa gravitasi beraksi
untuk memperlambat perluasan ruang, dan jika gravitasi cukup kuat, ia akan
menang sempurna atas perluasan. Pada level keseluruhan Alam Semesta,
laju perluasannya tinggi dan densitas materi amat rendah. Tapi pada level
Galaksi kita, ruang di dalamnya takkan terpengaruhi sebab gravitasi cukup kuat
pada skala ini untuk mencegah perluasan. Pada level manusia dan perangkat
pengukur kita, materi amat sesak dan kesatuan atom-atom penyusun segala
sesuatu dijaga oleh gaya yang jauh lebih kuat daripada gravitasi sekalipun.
Gaya ini disebut gaya elektromagnet dan merupakan lem yang mengikat
atom-atom. Ruang hampir pasti tidak diperkenankan mengembang pada level
ini sehingga kita, dan segala hal lain di Bumi, tetap berukuran sama.
Saatnya memberikan contoh sehari-hari (silahkan lewatkan paragraf ini
jika sudah yakin dengan contoh sebelumnya). Pikirkan gelembung udara yang
naik dari dasar tangki ikan. Gelembung-gelembung ini berawal kecil sebab
tekanan air di dasar tangki tinggi dan memeras udara di dalam gelembung.
Begitu gelembung naik, tekanan menurun dan gelembung mengembang
akibat dorongan keluar dari molekul udara di dalamnya. Karena jumlah molekul
udara di dalam tiap gelembung tak berubah, mereka harus berpisah saat
gelembung membesar. Namun, dan ini poin krusial, kita tak boleh menyangka
ukuran tiap molekul udara akan tumbuh bersama dengan gelembung.
Poin menarik yang dihasilkan adalah bahwa galaksi terdekat dengan
Galaksi kita, Andromeda (atau M31 menurut nama astronomis yang sangat
imajinatif), sebetulnya sedang bergerak menuju kita! Andromeda berjarak
2 juta tahun-cahaya dan, menurut estimasi laju perluasan Alam Semesta,
semestinya sedang bergerak menjauhi kita dengan kecepatan 55 km/detik.
Tapi justru, ia sedang bergerak menuju kita dengan kecepatan 300 km/detik!
Perluasan Alam Semesta, karenanya, bahkan tak terlihat pada skala Kelompok
Lokal galaksi kita, apalagi di Bumi.
Tunggu, Anda mungkin berpikir, kalau begitu apa Hubble keliru?
Saya pikir dia mengobservasi semua galaksi yang menjauhi galaksi kita?
Jawabannya, galaksi-galaksi tidak terdistribusi seragam dengan jarak setara di
sepanjang Alam Semesta. Dia mengobservasi galaksi-galaksi amat jauh, yang
memang sedang menjauhi kita, dan bukan galaksi-galaksi dekat.
73
Kecepatan gerak Galaksi kita dan Andromeda ekuivalen dengan
menempuh jarak mengelilingi dunia dalam dua menit, atau jarak antara Bumi
dan Matahari dalam seminggu kurang. Tapi sebelum Hollywood memutuskan
mendasarkan film blockbuster berikutnya pada bagaimana segelintir pria dan
wanita pemberani menyelamatkan Bumi dari tubrukan dengan Andromeda yang
sebentar lagi terjadi, saya mesti jelaskan bahwa, dengan laju sekarang, perlu
beberapa miliar tahun bagi kedua galaksi untuk bergabung. Bahkan jika akhirnya
terjadi, sangat tak mungkin segala sesuatu betul-betul akan menghantam Bumi
sebab, seperti telah kita simak, bintang-bintang terpisah sungguh jauh dan
peluang sebuah bintang untuk mengarungi tata surya sangatlah kecil. Fisikawan
mampu membangun simulasi komputer canggih yang menunjukkan secara
dinamis bagaimana dua galaksi berperilaku saat mereka bergabung.
Lalu bagaimana dengan gaya antigravitasi Einstein, konstanta
kosmologis yang muncul dalam persamaannya untuk mencegah Alam Semesta
kolaps akibat bobotnya sendiri? Apakah penemuan Friedman dan Hubble
membuangnya secara permanen ke timbunan sampah ilmiah?
Selagi bidang kosmologi berkembang dan dewasa pada abad 20,
konstanta kosmologis telah terbukti lebih tahan lama dan tabah. Nyatanya,
kemunculan kembalinya lebih sukses daripada Rolling Stones.13 Sejenak,
kosmolog memutuskan bahwa ia tidak akan dan tidak boleh disingkirkan sama
sekali dari persamaan Einstein. Mungkin sebaiknya dibiarkan tapi diberi harga
amat kecil sehingga tidak berbenturan dengan observasi Hubble. Ingat, di sini
saya berbicara tentang model matematis abstrak Alam Semesta yang diprediksi
ketika persamaan Einstein terpecahkan. Dengan mengubah-ubah harga
konstanta kosmologis, kosmolog dapat mempelajari atribut model-model alam
semesta berbeda. Atribut-atribut ini kemudian dapat diperbandingkan dengan
atribut yang teramati di Alam Semesta riil.
Batas atas telah dikomputasi dan ternyata ia begitu kecil sehingga
kebanyakan kosmolog merasa bahwa masuk akal menyingkirkannya
dari persamaan, sebagaimana Einstein lakukan. Alasan-alasan lain untuk
menginginkan konstanta kosmologis telah datang dan pergi. Tapi hari ini, kita
punya alasan bagus untuk percaya bahwa ia tidak nol. Pemikiran mutakhir
mengindikasikan Einstein tak membuat blunder ketika dia memasukkannya
ke dalam persamaan. Pertama, mari kita tinjau lebih dekat bukti Big Bang itu
13 Tentusaja jika Anda cukup tua untuk menjadi penggemar Rolling Stones, Anda akan
berargumen bahwa mereka tak pernah menghilang sehingga tak perlu ada kemunculan kembali.
74
sendiri. Bagaimanapun, jika Alam Semesta membesar, maka ia pasti memiliki
momen penciptaan definitif ketika pertama kali mulai mengembang.

Apakah Big Bang betul-betul terjadi?


Kita sekarang sangat yakin bahwa Alam Semesta kita terlahir sekitar 15
miliar tahun silam dalam kondisi temperatur dan densitas luar biasa tinggi.
Bukti apa yang kita punya tentang ini? Subbidang kosmologi yang dicurahkan
untuk mempelajari kelahiran Alam Semesta dikenal sebagai kosmogoni dan
merupakan salah satu bidang riset fisika paling menggairahkan. Bukti paling
memaksa bahwa Alam Semesta kita tercipta dalam sebuah Big Bang tentu saja
datang dari observasi bahwa ia sedang mengembang. Sebagaimana telah saya
sebutkan sebelumnya, jika Alam Semesta sedang membesar, dengan galaksi-
galaksi terbang memisah, maka pada suatu titik di masa lampau semua materi
di Alam Semesta pasti terperas bersama.
Selain perluasan Alam Semesta, model Big Bang juga didukung oleh
dua observasi krusial lain. Yang pertama adalah keberlimpahan unsur ringan.
Fakta bahwa kira-kira 3/4 dari semua atom di Alam Semesta adalah atom
hidrogen dan seperempat adalah helium, dua unsur teringan dan termudah
untuk dibuat, serta sejumlah kecil unsur lain, mensyaratkan alam semesta yang
mulanya panas dan padat tapi mendingin cepat begitu mengembang. Pada
momen Big Bang, jauh sebelum bintang dan galaksi mempunyai peluang untuk
terbentuk, semua materi di Alam Semesta terperas bersama dan tidak ada
ruang kosong. Tak lama setelah Big Bang (kurang dari sedetik), partikel-partikel
subatom mulai terbentuk dan, seraya Alam Semesta mengembang dan mulai
mendingin, partikel-partikel ini mampu menyatu untuk menghasilkan atom.
Kondisi temperatur dan tekanan harus tepat agar atom-atom ini terbentuk.
Seandainya temperaturnya terlampau tinggi, atom takkan bisa tetap utuh.
Mereka akan pecah berkeping-keping dalam pusaran ribut partikel high-speed
dan radiasi. Di sisi lain, sekali Alam Semesta mengembang sedikit, temperatur
dan tekanan akan menjadi terlalu rendah untuk memungkinkan atom hidrogen
dan helium terperas bersama membentuk unsur lain (yang lebih berat).
Inilah alasannya mengapa utamanya hidrogen dan helium terbentuk di Alam
Semesta awal, sebuah proses yang terjadi di lima menit pertama setelah Big
Bang. Hampir semua unsur lain harus menunggu sampai mereka bisa dimasak
di dalam bintang. Model Big Bang memprediksikan proporsi tepat hidrogen
dan helium yang diobservasi oleh astronom.
75
Kepingan bukti lain yang mendukung Big Bang yang, seperti perluasan
Alam Semesta, diprediksi secara teoritis sebelum dikonfirmasikan secara
eksperimen, dikenal sebagai radiasi kosmik latar. Ini adalah ‘afterglow’14
ledakan Big Bang dan berbentuk radiasi gelombang mikro yang merembesi
seluruh ruang angkasa dan hari ini mempunyai temperatur sekitar tiga
derajat di atas nol absolut (atau minus 270 derajat Celcius). Untuk mengukur
temperatur radiasi ini secara eksperimen, kita tak harus memasang
termometer di angkasa. Justru, kita memakai sesuatu yang terlihat seperti
piring satelit raksasa yang disebut teleskop radiasi dan begitu sensitif sampai-
sampai dapat ‘mendengar’ sinyal lemah radiasi ini dari angkasa luar. Ini
dilakukan untuk pertama kalinya pada 1960-an dan telah dikonfirmasi berkali-
kali sejak saat itu dengan sensitivitas yang terus meningkat. Jika Anda merasa
ini sulit dipercaya, saya terkesan ketika seseorang memberitahu saya baru-baru
ini bahwa kita bahkan mampu mendengar desisan gelombang radio lemah
yang dipancarkan oleh planet Yupiter memakai radio bergelombang panjang.
Hari ini, tidak boleh ada banyak keraguan bahwa Big Bang memang
terjadi. Namun, ada isu lain yang masih harus dipecahkan. Beberapa bahkan
sedang diklarifikasi pada saat penulisan buku ini. Contoh, beberapa tahun lalu
kita tak tahu apakah gravitasi suatu hari nanti akan menghentikan perluasan
Alam Semesta dan menyebabkannya kolaps kembali, berakhir dengan semua
materi berlari bersama dalam malapetaka implosi yang dikenal sebagai Big
Crunch, atau apakah perluasan akan berlangsung terus selamanya, dengan
Alam Semesta terus mendingin dan berakhir dalam apa yang dikenal sebagai
kematian panas atau Big Freeze. Hari ini kita rasa punya jawabannya. Ternyata
nasib Alam Semesta tak hanya tergantung pada seberapa banyak materi yang
dikandungnya, tapi pada peran konstanta kosmologis Einstein. Ini menjadikan
kosmologi sedikit lebih rumit dari yang kita harapkan. Jadi saya akan
mengarungi beberapa isu besar ini secara hati-hati, dimulai dengan bentuk
Alam Semesta.

Tepi ruang angkasa


Pikirkan dua pertanyaan berikut:
1. Jika Alam Semesta sedang mengembang tapi pada waktu bersamaan
mengandung keseluruhan ruang, ia mengembang menuju apa?
2. Apa yang ada di luar tepi Alam Semesta?
14 Pijaran yang tertinggal setelah sumbernya menghilang—penj.
76
Kita merasa seolah-olah pasti ada sesuatu di luar Alam Semesta kita
yang dapat mengakomodasinya seraya ia mengembang. Percaya atau tidak,
pertanyaan-pertanyaan ini bukan bersifat filosofis atau metafisik belaka. Sains
punya jawaban untuk keduanya. Kita cuma tak memikirkannya dengan benar.
Di sinilah semua hal tentang geometri dimensi tinggi dalam Bab 1 memberi
hasil. Secara naif, kita menganggap Big Bang sebagai suatu ledakan yang
terjadi pada suatu titik waktu di lokasi spesifik di ruang tiga-dimensi. Dari titik
ini, semua materi tersembur keluar dan terbang berpisah sejak saat itu. Salah!
Pertama, kita telah belajar bahwa Big Bang tidaklah seperti ledakan
supernova dengan semua materi terbang menjauh dari titik pusat. Perluasan
Alam Semesta adalah peregangan ruang itu sendiri, dengan materi tersimpan
di dalam ruang dan dibawa serta dalam perjalanan itu. Kedua, tidak ada titik di
Alam Semesta di mana penjelajah antariksa dapat datangi, menanam bendera
yang bertuliskan: ‘Big Bang Terjadi Di Sini’. Ingat kembali contoh peregangan
tilam karet. Big Bang terjadi di setiap tempat di atas tilam tersebut secara
serentak, dan peregangan terjadi di sepanjang tilam.
Saya rasa sekarang ini Anda belum merasa gembira dengan penjelasan
ini. Beri saya beberapa halaman lagi. Saya tahu saya belum menjawab kedua
pertanyaan di atas. Mari kita coba pecahkan langsung. Bayangkan Anda
dapat lepas landas dalam sebuah roket dengan kecepatan tinggi dan terus
melaju dalam garis lurus—mari kita asumsikan pula bahwa Anda kekal dan
bahwa roket memiliki pasokan bahan bakar yang tak terbatas. Akankah Anda
mencapai sebuah titik yang selebihnya Anda tidak dapat tempuh? Suatu batas
yang di belakangnya tidak ada apa-apa sama sekali?
Menurut model Alam Semesta Friedmann berbasis teori relativitas
umum Einstein (yang kita percaya menggambarkan fitur-fitur umum Alam
Semesta secara tepat), jawabannya tidak, Alam Semesta tidak mempunyai
tepi. Tidak ada batas fisik yang akan dicapai roket Anda ketika kehabisan ruang
angkasa. Anda takkan pernah pula mencapai suatu titik yang di belakangnya
tidak ada apa-apa. Jika jurang dalam ini bisa ditetapkan sebagai ruang, maka
ia masih merupakan bagian Alam Semesta, entah mengandung materi
ataupun tidak. Jadi barangkali, roket Anda bisa terus melaju, dan Anda takkan
meninggalkan Alam Semesta, hanya memasuki kawasan kosongnya.
Nyatanya Friedmann menemukan dua kemungkinan tipe alam semesta
berbeda. Jika ada cukup materi agar gravitasi suatu hari menghentikan
perluasan dan menyebabkan Alam Semesta kolaps kembali (dapat disamakan
77
dengan bola yang menggelinding turun lereng curam), maka kita mempunyai
apa yang disebut alam semesta tertutup (closed universe). Jika, di sisi lain,
tidak ada cukup materi untuk menghentikan perluasan, maka kita tinggal di
alam semesta terbuka (open universe).15
Di sinilah saya harus hati-hati. Model Friedmann membuat sebuah
asumsi penting: konstanta kosmologis Einstein adalah nol. Berarti tidak ada
gaya antigravitasi yang beraksi saat ini untuk memperumit segala sesuatu,
meskipun mulanya ia bertanggung jawab untuk mengeset perluasan yang
sedang terjadi. Pembahasan berikut, karenanya, disederhanakan16 untuk kasus
tanpa konstanta kosmologis.

Alam semesta tertutup


Untuk memvisualisasikan alam semesta tertutup, kita mesti kembali ke contoh
di Bab 1, penghuni dunia2D yang tinggal di permukaan bundar. Alam semesta
mereka juga tertutup, dan karenanya berukuran terhingga sebab permukaan
memiliki luas tertentu. Bola dikatakan memiliki lengkungan positif, sebab jika
Anda bergerak sepanjang dua jalur di permukaannya yang siku-siku terhadap
satu sama lain, keduanya akan membelok ke arah yang sama. Alam semesta
tertutup semacam itu hampir pasti tidak memiliki tepi sebab penghuni dunia2D
dapat berjalan ke manapun mereka suka di permukaannya tanpa mencapai
tepi. Nyatanya, jika penghuni dunia2D berangkat dengan roket dalam garis
lurus (menurut penglihatannya), dia akhirnya akan kembali ke tempat semula.
Itulah persis yang akan terjadi jika kita tinggal di alam semesta tertutup
melengkung positif; kita akhirnya akan kembali ke tempat semula.
Ingat pula bahwa bagi penghuni dunia2D, bagian dalam bola (dan
bagian luar) bahkan tidak eksis. Itu di luar dua dimensi mereka. Jika Alam
Semesta kita tertutup maka bentuk paling sederhana yang dapat dimilikinya
adalah permukaan bola empat-dimensi yang dikenal sebagai hiperbola. Ini
ekuivalen dengan permukaan bola 3D-nya penghuni dunia2D, hanya saja
memiliki satu dimensi lain dan mustahil bagi kita untuk divisualisasikan.
Karenanya kita mesti menghabiskan sedikit lebih banyak pemikiran mengenai
alam semesta penghuni dunia2D sebab alam semesta kita akan seperti itu jika
kita membuang salah satu dimensi ruang kita.

15 Lebih tepatnya, dia memprediksi tiga tipe alam semesta sebab ada alam semesta ‘flat’ yang
seimbang antara terbuka dan tertutup.
16 Oke, ‘disederhanakan’ maksud saya adalah dibandingkan dengan Alam Semesta riil!
78
Contoh berikut adalah cara standar dalam menjelaskan konsep Big
Bang. Bayangkan alam semesta penghuni dunia2D adalah permukaan balon
yang sedang ditiup. Perluasan alam semesta ini kini persis sama dengan
tilam karet flat yang mengembang yang saya bahas tadi. Setiap titik di
permukaan balon akan menjauh dari satu sama lain. Nah, jadi jelaslah
bahwa Big Bang bukan suatu tempat di permukaan balon. Adalah lebih tepat
untuk menganggapnya sebagai pusat balon itu sendiri, sebab setiap titik di
permukaan bukan hanya sedang saling menjauh, mereka semua juga menjauh
dari pusat balon. Namun, gambaran ini pun belum begitu benar sebab interior
balon bahkan tidak harus eksis. Anda lihat saya memakai analogi balon
yang merupakan objek 3D, sehingga kita dapat membayangkan permukaan
2D-nya. Bagaimanapun juga, Anda akan berpikir bahwa tidak masuk akal
membicarakan sebuah bola tanpa membayangkan ia mengandung volume
interior. Tapi itu cuma untuk memudahkan kita. Alam semesta 2D tertutup
semacam itu dapat eksis tanpa tersimpan di ruang 3D dan kita katakan bahwa
big bang-nya terjadi di setiap tempat di permukaannya secara serentak, dan
karena seluruh permukaannya terperas menjadi suatu titik, kita tidak harus
merinci di mana titik tersebut berada di dalam ruang tiga-dimensi. Ini adalah
cara praktis bagi otak kita untuk memvisualisasikannya.
Sebagai ikhtisar, jika Alam Semesta mengandung cukup materi, suatu
hari ia akan berhenti mengembang dan mulai kolaps. Ia akan menjadi alam
semesta tertutup terhingga yang mempunyai lengkungan positif, dan tidak
akan memiliki tepi, persis sebagaimana bola tidak memiliki tepi. Mungkin
berguna sekali menganggapnya mengembang menuju dimensi lebih tinggi,
tapi sebenarnya ini hanya penolong dan dimensi lebih tinggi tak harus betul-
betul eksis. Perihal di mana Big Bang terjadi, kita bisa katakan bahwa ia terjadi
di setiap tempat secara serentak sebab keseluruhan Alam Semesta tumbuh
dari satu titik dan setiap tempat terkurung di tempat yang sama. Apakah titik
itu mengapung di ruang dimensi lebih tinggi, kita tak tahu.

Alam semesta terbuka


Alam Semesta dikatakan terbuka jika tidak mengandung cukup materi untuk
menghentikannya mengembang.17 Dalam kasus ini, segalanya sedikit lebih sulit

17 Jika
Anda sedikit lebih tahu tentang kosmologi, Anda mungkin sadar bahwa alam semesta
dapat mengembang selamanya dan tetap tertutup. Jika Anda adalah kosmolog, Anda tak perlu
membaca buku ini.
79
untuk divisualisasikan. Sebagai permulaan, karena alam semesta tipe ini tidak
menutupi dirinya sendiri, maka satu-satunya cara agar ia tidak memiliki tepi
adalah ia harus tak terhingga.18 Bentuk paling sederhana yang bisa dimiliki
alam semesta semacam itu adalah flat, analogi tiga-dimensi tilam karet yang
meluas tak terhingga ke semua arah. Tapi Alam Semesta yang tak memiliki
lengkungan sama sekali merupakan kasus istimewa. Ini akan seperti contoh
bola yang menggelinding naik lereng dan berusaha mencapai puncaknya
sambil kehabisan dorongan dan tak punya energi lagi untuk menggelinding di
sepanjang puncak yang flat. Kemungkinan besar, jika tidak menggelinding turun
kembali, ia akan punya energi tersisa untuk terus menggelinding di sepanjang
puncak. Alam semesta yang ekuivalen dengan skenario demikian tak akan flat
tapi melengkung. Namun, kali ini kita katakan ia memiliki lengkungan negatif.

Gambar 3.2. Ruang 2D melengkung (a) positif dan (b) negatif.

Jadi, dengan membuang salah satu dimensi ruang, kita dapat


memahami berbagai tipe lengkungan Alam Semesta. Jika alam semesta
melengkung positif dapat disamakan, di dimensi rendah, dengan permukaan
sebuah bola dan alam semesta flat dapat disamakan dengan tilam flat dua-
dimensi, apa bentuk permukaan dua-dimensi melengkung negatif? Yang ini
tidak begitu mudah. Nama matematis tepat untuk bentuk semacam itu adalah
permukaan right-hyperboloid, atau hiperbolik, dan mustahil divisualisasikan
secara benar. Kasarnya, ia berbentuk pelana (lihat gambar 3.2). Perbedaan
antara lengkungan positif bola dan lengkungan negatif pelana adalah bahwa,
sementara pada bola suatu dua jalur di permukaannya yang saling bersilangan
secara siku-siku akan melengkung ke arah yang sama, dalam kasus pelana
kedua jalur akan melengkung ke arah berlawanan. Dan alasan mengapa
pelana bukanlah gambaran akurat permukaan hiperbolik adalah bahwa, sambil
Anda menjauh dari pusat pelana, permukaannya semakin flat, sedangkan
untuk right-hyperboloid, permukaannya harus memiliki kelengkungan yang
sama di setiap tempat. Mustahil membuat sketsa permukaan semacam itu.
18 Sekali lagi, buku ini tak diperlukan. Nanti saya akan membahas bagaimana alam semesta
terbuka tidak harus berluas tak terhingga.
80
Karena bentuk alam semesta terbuka sangat sulit divisualisasikan,
bahkan di dimensi rendah, mari kita lihat apakah kita bisa berbuat sesuatu
yang lebih baik dalam memahami fitur membingungkan lain. Yakni, jika Alam
Semesta adalah terbuka dan tak terhingga lantas ia mengembang menuju
apa? Tak terhingga yang saya maksud adalah bahwa ruang meluas seterusnya
ke semua arah. Rasanya mustahil ia dapat mengembang sama sekali sebab
seluruh ruang telah terpakai habis dan tercakup di dalam Alam Semesta. Lagi,
kita bisa melihat persoalan secara lebih jelas di ruang dua-dimensi. Untuk
kasus alam semesta tertutup (permukaan balon), kita dapat membayangkan
perluasannya ke arah luar menuju dimensi lebih tinggi, tapi untuk tilam flat
yang mempunyai luas tak terhingga, perluasannya akan selalu berada di
bidang tilam, dan kita tak bisa memanfaatkan dimensi ketiga (lepas dari tilam)
sebagai suatu tempat tujuan perluasan.
Untuk memecahkan persoalan ini saya harus menjelaskan sedikit
matematika. Tak ada seorangpun yang merasa nyaman memikirkan
ketakterhinggaan. Saya ingat saat kecil pernah diberitahu bahwa ketika mati
kita pergi ke Surga dan tinggal di sana selama-lamanya. Pemikiran ini dulu
membuat saya depresi sebab saya tak nyaman memikirkan sesuatu yang
berlangsung terus tanpa akhir betapapun baik maksudnya. Meski kebanyakan
kita kesulitan merenungkan ketakterhinggaan, beberapa matematikawan
mendapat penghidupan dari mempelajarinya. Nyatanya, bahkan ada berbagai
tipe ketakterhinggaan.
Pikirkan urutan bilangan bulat (atau bilangan utuh): 1, 2, 3, 4,...yang
berlanjut seterusnya tanpa akhir. Kita katakan bahwa terdapat bilangan bulat
yang tak terhingga. Tapi bagaimana dengan urutan bilangan genap: 2, 4, 6,
8,...? Tentu urutan ini juga panjang tak terhingga. Dan karena bilangan bulat
secara total dua kali lebih banyak daripada bilangan genap, kita memiliki dua
ketakterhinggaan di mana yang satu lebih besar dua kali daripada yang lain.
Bagaimana dengan seluruh bilangan, bukan cuma bilangan bulat? Misalnya,
mari kita pertimbangkan bilangan:
0, 0,1, 0,2, 0,3,... 0,9, 1,0, 1,1, 1,2, 1,3,...
dan seterusnya sampai tak terhingga. Urutan tak terhingga ini mengandung
sepuluh suku untuk setiap bilangan dalam urutan bilangan bulat. Karenanya,
apakah ketakterhinggaan suku dalam urutan ini sepuluh kali lebih besar
daripada ketakterhinggaan bilangan bulat? Dalam matematika, terdapat subjek
utuh yang dicurahkan untuk studi ketakterhinggaan. Ternyata ketiga urutan di
81
atas termasuk ke dalam golongan ketakterhinggaan yang sama. Tapi ada
yang lainnya. Pikirkan urutan semua bilangan (disebut set bilangan riil) yang
mencakup semua pecahan di antara bilangan-bilangan bulat. Bahkan interval
di antara dua bilangan bulat beurutan seperti 0 dan 1 akan mengandung
ketakterhinggaan bilangan (0,..., 0,00103,..., 0,36252,..., 0,9997,..., 0,999999,...,
1), sebab kita bisa selalu memikirkan pecahan baru untuk disisipkan,
betapapun banyaknya tempat desimal yang dimilikinya. Demikian pula, akan
ada ketakterhinggaan bilangan pecahan di antara 1 dan 2, 2 dan 3, 763 dan
764, dan seterusnya. Dengan demikian, kita mempunyai set yang mengandung
ketakterhinggaan bilangan bulat dan ketakterhinggaan pecahan di antara
bilangan bulat berurutan. Keseluruhan ketakterhinggaan ini jauh ‘lebih kuat’
daripada ketakterhinggaan bilangan bulat, meski kedua-duanya tak pernah
berakhir! Ternyata ada berbagai ketakterhinggaan dalam jumlah tak terhingga!
Ke mana semua ini menuntun kita? Kosmolog Igor Novikov, yang
dianggap banyak orang sebagai jawaban Rusia terhadap Stephen Hawking,
memakai ide berbagai ketakterhinggaan untuk menjelaskan bagaimana alam
semesta berluas tak terhingga masih bisa mengembang. Bayangkan Anda
mendaftar masuk Hotel Infinity, yang memiliki kamar berjumlah tak terhingga—
saya pernah tinggal di segelintir hotel yang kamarnya banyak sekali dan tentu
saja saya tersesat di beberapa hotel itu. Anda diberitahu di meja penerimaan
bahwa mereka amat sibuk malam itu dan bahwa sudah ada tamu dalam
jumlah tak terhingga sehingga semua kamar telah ditempati. Anda mengadu
kepada manajemen bahwa Anda telah memesan kamar dan bersikeras
bahwa mereka punya satu kamar untuk Anda malam itu. “Tak masalah,” kata
manajemen, “di Hotel Infinity selalu ada kamar untuk lebih banyak orang.”
Mereka lalu memindahkan tamu kamar 1 ke kamar 2, tamu kamar 2 ke kamar
3, dan seterusnya, sampai tak terhingga. Anda lalu diberi kamar 1.
Bagaimana jika tamu dalam jumlah tak terhingga datang secara
serentak? Tetap bukan masalah (lupakan sejenak tentang antrian tak
terhingga di meja pendaftaran). Manajemen kini memindahkan tamu kamar
1 ke kamar 2, tamu kamar 2 ke kamar 4, tamu kamar 3 ke kamar 6, tamu
kamar 4 ke kamar 8, dan seterusnya sampai semua tamu dipindahkan. Nah
semua kamar bernomor genap ditempati. Karena ada kamar dalam jumlah
tak terhingga, semua tamu awal ini tertampung. Dengan begitu ini membuat
kamar bernomor ganjil yang tak terhingga menjadi lowong dan tersedia bagi
pendatang baru.
82
Kita bisa mempertalikan contoh tamu hotel ini dengan ruang yang
ditempati oleh alam semesta berluas tak terhingga. Tak masalah jika tamu-
tamu baru datang sepanjang waktu. Hotel, karena memiliki kamar berjumlah
tak terhingga, selalu dapat menampung mereka. Dengan cara yang sama,
ruang tak terhingga selalu bisa mengembang.
Kita sekarang tiba pada fitur alam semesta berluas tak terhingga yang
barangkali paling membingungkan. Jika sesuatu tumbuh dalam hal ukuran,
maka ia, menurut definisi, akan memakan waktu selamanya untuk menjadi
tak terhingga. Dengan demikian, jika Alam Semesta kita berukuran tak
terhingga di masa kini maka ia juga pasti berukuran tak terhingga di masa lalu.
Nyatanya, ia pasti sudah berukuran tak terhingga pada momen Big Bang! Ini
betul-betul bertentangan dengan gagasan lazim Big Bang sebagai peristiwa di
mana seluruh ruang terperas menjadi titik berukuran nol. Ini setidaknya dapat
divisualisasikan untuk kasus alam semesta tertutup dengan membuang sebuah
dimensi dan mempertimbangkan contoh balon. Sedangkan alam semesta
terbuka tak pernah berukuran nol. Satu-satunya cara untuk memikirkan ini
adalah membayangkan bahwa Big Bang terjadi di setiap tempat secara
serentak di alam semesta yang telah berukuran tak terhingga. Tentu saja di
titik manapun di alam semesta tak terhingga semacam itu densitasnya akan
tak terhingga pula.
Cara lain untuk memikirkannya ialah jika big bang alam semesta terbuka
adalah seperti garis yang panjang tak terhingga. Sekalipun ia mempunyai titik
dalam jumlah tak terhingga (karena titik berluas nol), ia masih mempunyai
volume nol secara keseluruhan. Dengan begitu kita bisa membayangkan
bahwa Alam Semesta Tampak kita tumbuh dari satu titik saja (satu big bang)
di garis tersebut. Saya takkan memaksakan analogi ini terlalu keras.
Terakhir, hanya untuk memastikan bahwa Anda kebingungan sama
sekali, apapun bentuk Alam Semesta sekarang, sekalipun hampir betul-betul
flat, ia pasti berbentuk melengkung tak terhingga saat Big Bang!

Kalau begitu apa bentuk Alam Semesta kita?


Nah, setelah memberi Anda ide tentang berbagai kemungkinan bentuk Alam
Semesta kita (dan barangkali Anda sakit kepala sepanjang bahasan tersebut),
saya akan secara singkat meninjau beberapa penemuan dan ide mutakhir
dalam kosmologi dan apa kata mereka tentang Alam Semesta. Bagaimanapun
juga, jika Alam Semesta suatu hari akan kolaps kembali dalam Big Crunch, saya
83
pikir masyarakat berhak untuk tahu. Mungkin terjadinya bukan jutaan tahun
mendatang, tapi beberapa orang akan tidur lebih nyenyak jika diberitahu.
Sebagaimana sudah saya sebutkan, entah Alam Semesta itu
terbuka, tertutup, atau flat, ini tergantung pada berapa banyak materi yang
dikandungnya. Namun, ini sedikit menjadi persoalan jika Alam Semesta
berukuran tak terhingga, sebab dengan demikian ia juga harus mengandung
materi dalam jumlah tak terhingga, betapapun tipisnya mereka tersebar!
Alasannya adalah prinsip kosmologis yang menyatakan bahwa setiap bagian
Alam Semesta mirip dengan setiap bagian lain sehingga densitas materi
kurang-lebih konstan pada skala besar. Ini sedikit mirip dengan berkata bahwa
sekalipun hanya satu dari ribuan kamar Hotel Infinity ditempati, tetap ada tamu
berjumlah tak terhingga. Sehingga fisikawan justru membicarakan densitas
materi. Yaitu jumlah materi per unit volume ruang yang mestinya berupa
bilangan masuk akal sekalipun volume keseluruhan adalah tak terhingga.
Jika Alam Semesta mempunyai densitas materi yang lebih dari besaran
kritis tertentu maka gravitasi gabungan semua materi ini akan mampu
menghentikan perluasan dan menyebabkannya kolaps kembali. Di sisi lain,
jika densitasnya kurang dari besaran kritis ini maka gravitasi hanya bisa
memperlambat perluasan sampai pada suatu laju konstan dan tak pernah
menghentikannya. Alam Semesta akan mengalami perluasan abadi. Yang
cukup aneh, banyak kosmolog mempunyai alasan bagus untuk percaya bahwa
densitas materi persis seimbang pada harga kritis: seimbang tajam di antara
alam semesta yang suatu hari nanti akan kolaps dan alam semesta yang
akan terus mengembang selamanya. Malah, densitas materi akan sedemikian
rupa sehingga gravitasinya akan terus memperlambat laju perluasan sampai
akhirnya berhenti mengembang. Namun memakan waktu selamanya agar ini
terjadi, sehingga takkan ada kekolapsan. Ini ekuivalen dengan alam semesta
flat, tak terbuka ataupun tak tertutup. Bagaimana kosmolog sampai percaya
bahwa skenario tidak mungkin semacam itu bisa terjadi dan mengapa mereka
menginginkan demikian?
Faktanya adalah, sejauh teleskop memandang, Alam Semesta memang
terlihat flat. Ia tidak tampak memiliki kelengkungan positif ataupun negatif.
Ini sungguh menjadi persoalan bagi kosmolog sebab sulit dipercaya bahwa
ada densitas materi yang tepat untuk menjaga ruang tetap flat. Jika betul
demikian, maka gravitasi akan selalu mengerém perluasan, terus-menerus
memperlambatnya. Ini berbeda dari alam semesta terbuka melengkung negatif
84
(dengan densitas kurang dari besaran kritis) sebab dalam kasus tersebut
gravitasi memperlambat perluasan hanya sampai pada suatu laju konstan
selamanya.
Sebagian besar kosmolog percaya bahwa masalah keflatan kini telah
dipecahkan berkat sesuatu yang disebut inflasi. Penjelasan sederhana atas
keflatan ruang yang kita amati adalah jika Alam Semesta jauh lebih besar dari
perkiraan kita. Dengan cara yang sama, kita tidak mengamati kelengkungan
Bumi sebab kita hanya bisa melihat sebagian kecil permukaannya. Persoalan
dalam penjelasan ini adalah bahwa Alam Semesta tidak terlihat cukup tua
untuk mengembang sampai ukuran sedemikian besar. Karenanya terdapat
permikiran bahwa, ketika Alam Semesta baru berumur sepecahan detik, ia
mengalami periode perluasan pesat yang amat singkat di mana ia tumbuh
hingga berukuran setriliun triliun triliun triliun kali daripada sebelumnya.
Angka ini luar biasa besar dan ditulis sebagai angka satu diikuti 48 buah
nol! Dengan demikian, Alam Semesta boleh jadi tergulung sebelum periode
inflasi. Lalu, dalam waktu kurang dari sekedipan mata, ia tumbuh sampai
berukuran sedemikian besar sehingga kita takkan pernah mampu mendeteksi
kelengkungan, seberapa jauhpun kita memandang angkasa. Karenanya
model Alam Semesta berinflasi ini mensyaratkan densitas yang sangat dekat
dengan harga kritis yang menjadikannya flat. Dalam matematika, densitas ini
dilambangkan dengan huruf kapital Yunani, omega (ditulis sebagai Ω). Jika
densitasnya berada pada harga kritis, ekuivalen dengan ruang flat, kita katakan
omega memiliki harga satu. Jika Alam Semesta adalah melengkung positif dan
tertutup maka omega lebih besar dari satu, dan jika melengkung negatif dan
terbuka maka omega kurang dari satu.
Kita tak yakin apakah inflasi pesat Alam Semesta belia ini terjadi
atau tidak. Sebagian besar kosmolog percaya itu terjadi, tapi argumen yang
mendukung dan menentangnya berbeda tipis dan bersandar pada sejumlah
isu berbeda, yang beberapanya belum terpecahkan.
Mungkinkah kita dapat mengukur densitas materi di Alam Semesta
secara langsung? Kosmolog yakin itu memungkinkan. Mereka bersandar pada
prinsip kosmologis yang, jika Anda ingat, menyatakan bahwa Alam Semesta
terlihat sama di setiap tempat. Dengan kata lain, densitas materi di setiap
tempat adalah sama dengan di pojok kecil kita. Tentu saja ‘pojok kecil’ yang
saya maksud adalah bagian Alam Semesta yang bisa kita lihat. Lantas apa
yang sebetulnya mereka lihat? Ternyata densitas materi yang bisa dilihat oleh
85
kita (yakni jumlah galaksi di volume ruang tertentu) adalah sekitar satu
persen dari harga kritis yang dibutuhkan untuk alam semesta flat. Oh, oh, kita
menghadapi masalah! Di mana yang 99 persennya?

Materi tak tampak


Bagian massa Alam Semesta yang hilang ini dipercaya terbuat dari sesuatu
yang secara enigmatik dikenal sebagai dark matter. Diyakini bahwa mungkin
ada sekitar 10 sampai 40 kali lebih banyak materi, atau ‘benda’, di angkasa
luar sana daripada yang sebetulnya bisa kita lihat. Ini bukan karena mereka
begitu jauh atau tersembunyi di belakang objek lain, tapi karena mereka betul-
betul tak terlihat. Anda mungkin berpikir, bagaimana para ilmuwan bisa yakin
tentang sesuatu yang dapat mereka lihat di angkasa luar, apalagi benda yang
tak terlihat! Well, lagi-lagi, jawabannya ternyata sederhana: galaksi-galaksi
berbobot jauh lebih berat daripada total bintang-bintang dan objek tampak
yang dikandungnya dan pasti juga terbuat dari awan material tak tampak yang
membentang melampaui bintang tampak. Kesimpulan aneh ini dicapai dari
dua rute yang sungguh terpisah.
Pertama adalah dengan mempelajari cara bintang-bintang di pinggiran
luar galaksi mengorbit pusatnya. Jika sebagian besar massa sebuah galaksi
terkonsentrasi di pusatnya, yang mana sesuai dengan sangkaan kita sebab
merupakan kawasan yang paling dipadati bintang, maka bintang-bintang luar
tersebut semestinya ber-revolusi jauh lebih lambat daripada kenyataannya.
Satu-satunya jalan untuk menjelaskan cara bintang-bintang ini berperilaku
adalah jika terdapat suatu bentuk materi tak tampak, dijuluki sebagai halo
dark matter, yang mengelilingi, dan membentang luas dari, materi tampak
(bintang-bintang). Halo ini harus mengandung berkali-kali lipat lebih banyak
materi daripada gabungan semua bentuk materi tampak.
Indikasi lain bahwa galaksi-galaksi lebih masif daripada kelihatannya
ditemukan secara langsung dengan mengukur bobot mereka. Ini dilakukan
memakai ide Einstein bahwa gravitasi sebuah objek masif melengkungkan
ruang di sekelilingnya. Ingat dari bab yang lalu bahwa teori relativitas umum
pertama kali diuji secara eksperimen dengan mengobservasi defleksi cahaya
dari bintang-bintang jauh saat melintas cukup dekat dengan medan gravitasi
Matahari. Dengan cara yang sama, sebuah galaksi akan mendefleksikan
cahaya dari galaksi jauh saat berada dalam garis pandang antara galaksi jauh
tersebut dan kita. Besaran penekukan cahaya memberitahu kita berapa banyak
86
massa yang dimiliki galaksi dekat. Lagi, kita menemukan bahwa galaksi-galaksi
mengandung jauh lebih banyak materi daripada sekadar benda tampak.
Sampai belakangan, tak jelas tersusun dari apa dark matter ini. Mulanya
dianggap bahwa boleh jadi ia tersusun seluruhnya dari bintang dingin mati,
black hole, planet, bongkahan batu, plus material non-berkilau lain (dan
karenanya tak terlihat) yang mungkin sedang mengapung di luar sana. Objek
semacam itu dijuluki MACHO (Massive Astronomical Compact Halo Object).
Namun, ternyata terdapat batas pada jumlah jenis materi ini, yang ditentukan
oleh proporsi unsur-unsur yang tersintesiskan persis setelah Big Bang.
Jadi persoalannya masih ada. Kita sekarang yakin bahwa dark matter
bukan cuma eksis, tapi juga bahwa sebagian besarnya pasti tersusun dari zat
jenis baru yang masih harus kita temukan.
Eksperimen yang djalankan di Jepang dan diumumkan pertengahan
1998 mengindikasikan bahwa sebagian dark matter barangkali tersusun dari
partikel unsur yang disebut neutrino. Permasalahan terkait entitas amat kecil
ini, yang diprediksi secara teoritis di awal 1930-an dan ditemukan dalam
eksperimen laboratorium pada 1956, adalah bahwa tak ada seorangpun yang
yakin partikel tersebut betul-betul berbobot sama sekali. Partikel ini sangat
sulit dimengerti sebab berjalan menembus materi padat, termasuk perangkat
pengukur kita, seolah-olah materi padat tersebut tidak ada. Nyatanya, miliaran
neutrino, utamanya yang diproduksi di Matahari, pada saat ini juga sedang
mengalir menembus tubuh Anda tanpa Anda ketahui. Para ilmuwan Jepang
kini telah menemukan bahwa partikel tersebut memang memiliki massa amat
kecil yang cukup untuk menerangkan bagian materi galaksi yang tak tampak,
berkat jumlahnya. Bahkan di angkasa luar diperkirakan terdapat, secara rata-
rata, beberapa ratus teman kecil dengan volume seukuran sarung jari.
Bahkan dengan memperhitungkan semua material normal di galaksi-
galaksi (baik yang terlihat ataupun tidak) plus semua neutrino, kita masih tidak
bisa menerangkan semua massa yang dimiliki galaksi. Neutrino menyusun
apa yang disebut ‘dark matter panas’ sebab mereka menderu pada kecepatan
tinggi. Kita kini yakin bahwa pasti ada lebih banyak lagi, mungkin dalam
bentuk partikel berat berjalan lambat yang menyusun ‘dark matter dingin’.
Saat ini penyelidikan sedang berjalan di sejumlah laboratorium di seantero
dunia untuk menemukan partikel baru semacam itu. Favorit saya adalah WIMP
(weakly interacting massive particles) yang mungkin berkontribusi berkali-kali
lipat lebih banyak terhadap massa Alam Semesta dibanding gabungan semua
87
materi tampak. Partikel semacam itu belum pernah terlihat—well, Anda
takkan melihat mereka jika mereka tak terlihat bukan—tapi ilmuwan dapat
memperhitungkan atribut yang dipertunjukkannya dan merancang eksperimen
untuk mendeteksinya.
Jadi, estimasi mutakhir terbaik untuk semua materi di Alam Semesta
(materi tampak maupun dark matter) hanya menerangkan sekitar sepertiga
dari densitas yang disyaratkan untuk membuat omega setara dengan satu dan
Alam Semesta flat. Kemungkinannya semakin meningkat bahwa tak ada yang
lain lagi di luar sana; bahwa omega memang kurang dari satu. Bagaimana
ini cocok dengan teori inflasi yang mensyaratkan alam semesta flat? Apa kita
harus memodifikasinya, atau bahkan membuangnya sama sekali?

1998: tahun besar dalam kosmologi


Mengukur perluasan Alam Semesta ialah urusan sulit. Itu melibatkan lebih
dari sekedar penetapan kecepatan kemunduran galaksi-galaksi jauh dari kita
dengan mengukur redshift cahaya mereka. Pertama-tama, sulit mengetahui
pasti seberapa jauh mereka persisnya. Dan karena begitu jauh, mereka
cenderung, secara rata-rata, merupakan galaksi muda—ingat, cahaya dari
mereka berangkat jutaan, bahkan miliaran, tahun silam—dan galaksi muda
cenderung lebih biru dan cerlang sebab bintang mereka lebih muda. Di sisi
lain, mereka sangat redup sebab begitu jauh. Di samping semua ini, galaksi
terdapat dalam semua bentuk dan ukuran dan, sementara kita dapat secara
handal menggali rata-rata jika cukup banyak dari mereka dipelajari, pengukuran
redshift seluruh galaksi bukan cara terbaik untuk menyimpulkan laju perluasan.
Ada metode yang lebih handal. Ingat dari Bab 2 bahwa supernova begitu
cerlang, mereka secara singkat bersinar lebih cerlang daripada galaksi mereka.
Terutama, supernova tipe Ia (hasil kehancuran menyeluruh sebuah bintang
dalam sistem biner setelah memperoleh massa kritis dengan mengisap materi
dari rekannya) bersinar dengan kecerlangan, atau keberkilauan, tertentu.
Mereka juga menggolak dan padam dalam waktu tertentu. Ini artinya mereka
dapat digunakan sebagai standar handal untuk mengukur jarak. Belakangan,
supernova tipe Ia telah digunakan untuk menetapkan laju perluasan Alam
Semesta; tentu saja jadi hasil paling menggairahkan dalam astronomi pada 1998.
Mendeteksi ledakan supernova sebuah bintang di galaksi jauh amatlah
sulit sebab mereka luar biasa redup. Bahkan yang lebih menakjubkan soal hasil
mutakhir adalah bahwa supernova yang amat jauh terlihat lebih redup lagi
88
daripada semestinya berdasarkan jarak mereka. Alasan atas hal ini mungkin
karena ruang adalah melengkung negatif (hiperbolik) yang memiliki atribut
aneh yang membuat objek jauh menjadi redup akibat cara cahayanya
menyebar di alam semesta demikian. Tapi ada kemungkinan lain yang lebih
membangkitkan keingintahuan. Mungkin supernova-supernova ini lebih redup
lantaran lebih jauh daripada perkiraan kita. Tapi itu berarti mereka semestinya
mundur lebih cepat daripada yang diindikasikan oleh redshift mereka. Dengan
kata lain, mereka tidak punya redshift yang cukup tinggi untuk jarak mereka.
Karena cahaya yang menjangkau kita dari supernova-supernova ini berangkat
saat Alam Semesta jauh lebih muda, redshift rendah mereka mengindikasikan
laju perluasan lebih lambat di masa lalu! Saya tahu Anda mungkin harus
membaca paragraf ini lagi untuk mengikuti urutan logis argumen, tapi jika
observasi-observasi memang benar maka garis dasarnya adalah bahwa
perluasan Alam Semesta BUKAN sedang melambat, melainkan mencepat!
Satu-satunya jalan yang memungkinkan ini adalah jika sebuah gaya
antigravitasi sedang mendorong perluasan, memisahkan galaksi-galaksi dan
meregangkan ruang. Sementara pengaruh gravitasi semakin lemah dengan
semakin terpisahnya galasi-galaksi, antigravitasi justru semakin kuat seiring
bertambahnya jarak, sehingga akan mendorong perluasan lebih cepat lagi.
Eksistensi gaya aneh ini merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa
konstanta kosmologis tidaklah nol. Tapi dari mana ia berasal?
Jawaban lazim adalah bahwa itu disebabkan oleh suatu bentuk energi
tak tampak yang aneh dan baru yang menyebar di sepanjang ruang. Energi
ini mempunyai efek paradoks mendorong perluasan ruang sambil pada saat
bersamaan berkontribusi menutup Alam Semesta kembali ke dirinya sendiri.
Dengan kata lain, ia membantu menyusun bagian kecil omega yang hilang
untuk menggenapkannya menjadi harga satu, yang lebih disukai oleh banyak
fisikawan teoritis. Nyatanya, omega mungkin bahkan sedikit di atas satu,
menjadikan Alam Semesta tertutup, sekalipun bisa mengembang selamanya.
Ini membuat argumen-argumen sederhana berbasis model alam semesta
Friedmann menjadi keliru. Kita tak bisa lagi mengatakan bahwa alam semesta
terbuka adalah alam semesta yang akan mengembang selamanya, sementara
alam semesta tertutup suatu hari pasti kolaps dalam big crunch. Bentuk Alam
Semesta dan takdirnya tak lagi bersangkut-paut.
Adapun mengenai asal-usul energi ruang hampa ini, fisikawan masih
mengerjakannya. Itu mungkin akan turun menjadi salah satu dari sejumlah
89
jargon ganjil (yang dengannya Anda harap dapat membuat teman-teman Anda
terkesan) seperti ‘fluktuasi quantum’, ‘transisi fase’, ‘cacat topologis’ atau, yang
paling hebat dari semuanya, ‘quintessence’.

Apakah Alam Semesta itu tak terhingga?


Berikut adalah topik ringan lain yang bisa Anda bahas bersama keluarga
dan teman daripada sepak bola.19 Jika ternyata densitas keseluruhan Alam
Semesta, akibat semua materi dan energi tampak dan tak tampak, masih
belum cukup untuk membuatnya tertutup, maka kebijaksanaan konvensional
menyatakan bahwa ia pasti tak terhingga (untuk menghindari adanya tepi
yang bisa membuat Anda terjatuh). Tentu mungkin saja bahwa apa yang
terlihat bagi kita adalah alam semesta flat tak terhingga boleh jadi tertutup
dan terlampau besar untuk terdeteksinya suatu kelengkungan.
Kebanyakan orang, termasuk kosmolog, jauh lebih suka tidak berurusan
dengan alam semesta tak terhingga. Dalam beberapa tahun belakangan
muncul sebuah bidang studi baru yang disebut topologi kosmik, yakni studi
bentuk Alam Semesta. Satu hasil kerja dalam bidang ini yang tidak saya sadari
sampai baru-baru ini adalah bahwa alam semesta terbuka, entah flat ataupun
hiperbolik, masih bisa memiliki ukuran terhingga. Nyatanya, dan inilah bagian
menyenangkannya, sekalipun Alam Semesta adalah flat, mungkin ternyata ia
berbentuk seperti permukaan donat berdimensi lebih tinggi (donat dengan
lubang di tengah). Saya tahu Anda pasti berpikir bahwa permukaan donat
hampir tidak flat. Tapi hal tersebut karena ini cuma penaksiran terhadap bentuk
yang sedang saya bicarakan. Pertama, permukaan donat hanya dua-dimensi.
Kedua, ruang 2D yang saya rujuk pun tidak mungkin eksis tersimpan di ruang
3D kita. Nama tepat untuk bentuk demikian adalah torus Euclidean, dan
beratribut, persis seperti permukaan donat, memiliki lebih dari satu garis yang
menghubungkan dua titik di atasnya.
Tentu saja jika Alam Semesta betul-betul berbentuk donat maka massa
yang hilang kemungkinan besar adalah gula atau kayu manis.

Mengapa malam hari gelap?


Anda mungkin berpikir bahwa pertanyaan ini agak remeh, bahkan pandir,
untuk ditanyakan. Bagaimanapun juga, anak kecil pun ‘tahu’ bahwa ini akibat
19 Maafsoal ini. Dua topik obrolan favorit saya ialah fisika dan sepakbola, dan tak harus dengan
urutan demikian.
90
Matahari terbenam ke bawah horizon, dan oleh karena tak ada benda lain
di langit dekat yang secerlang Matahari, kita harus memanfaatkan cahaya
pantulan suram dari Bulan dan bahkan cahaya lebih suram lagi dari bintang
jauh. Well, coba tebak? Tidak sesederhana itu!
Kita punya alasan bagus untuk percaya bahwa sekalipun Alam Semesta
tidak berukuran tak terhingga, ia barangkali begitu besar sehingga praktisnya
tak terhingga. Jika demikian, maka kita bertentangan dengan sesuatu yang
dikenal sebagai paradoks Olbers. Secara sederhana, paradoks ini menyatakan
bahwa langit malam tak berhak gelap sama sekali. Bahkan semestinya
lebih terang daripada siang hari. Nyatanya, langit semestinya begitu terang,
sepanjang waktu, sehingga bahkan tak jadi soal apakah Matahari berada di
atas langit atau tidak.
Bayangkan Anda sedang berdiri di tengah-tengah hutan yang sangat
besar. Begitu besarnya sampai-sampai Anda bisa menganggap ia luas
tak terhingga. Nah, cobalah menembakkan anak panah ke arah tertentu
(horizontal) sedemikian rupa agar tidak mengenai batang pohon. Dalam situasi
yang diharapkan ini, anak panah harus dibiarkan terus melesat dalam garis
lurus tanpa pernah jatuh ke tanah. Anda merasa bahwa tentu saja itu mustahil.
Sekalipun anak panah melewati semua pepohonan dekat, pada akhirnya ia
akan selalu mengenai salah satunya. Karena hutan tak terhingga luasnya, akan
selalu ada sebuah pohon di jalur terbang sang panah, seberapa jauh pun pohon
itu. Juga tak peduli seberapa lebat hutan itu. Seandainya Anda menebang 99%
dari seluruh pohon, ini berarti anak panah akan, secara rata-rata, melesat
sepuluh kali lebih jauh sebelum menjumpai sebuah batang pohon.
Nah pikirkan model alam semesta sederhana yang tak terhingga, statis
(tidak mengembang), dan bintang-bintangnya tersebar merata. Cahaya yang
menjangkau kita dari bintang-bintang tersebut adalah seperti anak panah.
Tak peduli ke manapun kita memandang langit, jika Alam Semesta adalah tak
terhingga semestinya kita selalu melihat sebuah bintang di garis pandang kita.
Jadi takkan ada lowong di langit di mana kita tak melihat satu bintang pun dan
semestinya seluruh langit seterang permukaan Matahari, sepanjang waktu!
Alam Semesta riil mungkin juga tak terhingga, tapi dalam hal lain ia tak
sungguh-sungguh seperti model sederhana di atas. Pertama, bintang-bintang
tidak tersebar merata tapi mengelompok di galaksi-galaksi. Ini tak jadi soal. Ini
hanya berarti bahwa langit malam mestinya seterang galaksi rata-rata, yang
tidak sungguh seterang permukaan bintang rata-rata tapi masih menyilaukan.
91
Kedua, Alam Semesta sedang mengembang. Apa ini menghasilkan perbedaan?
Fisikawan telah menjalankan kalkulasi detil yang menunjukkan bahwa ini tidak
memecahkan persoalan, cuma menguranginya. Lantas apa jawabannya?
Dulu dianggap angkasa mungkin dipenuhi debu dan gas antarbintang
yang akan menghalangi cahaya dari galaksi-galaksi jauh. Tapi jika Alam
Semesta sudah ada untuk waktu yang lama, maka material ini pun akan secara
perlahan memanas, akibat cahaya yang diserapnya, dan pada akhirnya akan
bersinar dengan kecerlangan yang sama dengan galaksi yang dikaburkannya.
Jawaban yang benar, yang akhirnya mengubur paradoks Olber, adalah
bahwa Alam Semesta belum eksis untuk waktu yang lama, sehingga cahaya
dari galaksi-galaksi amat jauh belum cukup sempat menjangkau kita. Jika Big
Bang terjadi 15 miliar tahun silam, galaksi-galaksi yang lebih jauh dari 15
miliar tahun-cahaya (ingat satu tahun-cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh
cahaya dalam setahun) tak dapat kita lihat sebab cahaya mereka masih dalam
perjalanan dan harus mencapai kita. Diakui, bahasan ini sedikit rumit akibat
perluasan Alam Semesta, tapi yang bisa kita lihat di langit hanyalah sebagian
kecil dari keseluruhan Alam Semesta. Ini disebut Alam Semesta Tampak dan
kita tak bisa, dengan teleskop tercanggih pun, melihat melampaui horizon
tertentu di angkasa. Dengan demikian, Alam Semesta Tampak (pojok kecil kita)
memang punya tepi sekalipun Alam Semesta secara keseluruhan tidak.
Akhirnya, kita dapat membalik paradoks Olber dan mengatakan bahwa
bukti riil terjadinya Big Bang adalah malam hari gelap!

Sebelum Big Bang?


Salah satu pertanyaan paling populer yang diajukan oleh audiens saat saya
memberi kuliah kosmologi adalah menyangkut ada apa sebelum Big Bang.
Bagaimanapun, jika Big Bang benar-benar terjadi 15 miliar tahun silam, lantas
apa yang menyebabkannya terjadi? Apa yang memicu kelahiran Alam Semesta
kita? Di sini saya akan secara ringkas mengemukakan tiga jawaban standar
terhadap pertanyaan di atas. Saya akan menyampaikannya dalam urutan
terbalik (menurut pilihan pribadi).
Yang pertama hanya berlaku jika Alam Semesta kita mengandung cukup
materi untuk akhirnya menghentikan perluasannya. Dalam kasus ini, pada
suatu hari di masa depan yang sangat jauh ia akan mulai menyusut, berakhir
dalam Big Crunch. Bila ini terjadi, dan kita menganggap kekolapsan ke dalam
Big Crunch tersebut sebagai pembalikan-waktu Big Bang awal, maka kedua
92
peristiwa ini ekuivalen. Karenanya Big Crunch Alam Semesta kita mungkin
bertindak sebagai Big Bang untuk alam semesta baru yang lahir dari abu alam
semesta kita. Dan jika demikian, maka Alam Semesta kita mungkin mengikuti
alam semesta sebelumnya yang juga mengembang lalu kolaps. Mungkin
seperti ini selamanya; alam semesta dalam jumlah tak terhingga, masing-
masing mengembang lalu kolaps bergiliran. Jadi, jawaban terhadap pertanyaan
“ada apa sebelum Big Bang?” adalah bahwa ada alam semesta lain, barangkali
mirip dengan punya kita.
Karena kini kelihatannya perluasan Alam Semesta sedang mencepat,
ia takkan pernah bisa kolaps lagi. Mungkin Big Bang merupakan peristiwa
sekali saja. Dalam kasus ini, kita harus mempertimbangkan jawaban yang
lebih eksotis. Yang sedang mendapat popularitas di antara fisikawan yang
lebih cenderung matematis adalah bahwa Alam Semesta merupakan, sebelum
Big Bang, bagian dari ruang 10 dimensi (atau 11, tergantung dengan siapa
Anda bicara) yang jauh lebih besar. Alam semesta ini digambarkan ‘tak stabil’,
seolah ia tak yakin apa yang harus dilakukan dengan dirinya sendiri. Big Bang
menyelamatkan dengan menyebabkannya ‘melompat quantum’ ke dalam
status yang lebih stabil. Saat ini terjadi, 6 (atau 7) dari dimensi-dimensi itu
tergulung menjadi bola luar biasa kecil dan menyisakan tiga dimensi ruang
dan satu dimensi waktu yang kita punya hari ini. Uraian teoritis yang sulit dan
berbelit ini sebetulnya muncul secara alami dari teori termaju, tapi pada saat
yang sama terkabur, dalam fisika modern, dikenal sebagai teori superstring dan
teori-M. Waktu akan mengatakan apakah keduanya ada di jalur yang benar.
Jawaban terakhir, dan standar, adalah berikut. Jika teori relativitas
umum Einstein benar, dan kita yakin itu benar, maka Big Bang bukan hanya
menandai kelahiran Alam Semesta melainkan juga permulaan waktu sendiri.
Menanyakan apa yang terjadi sebelum Big Bang mengharuskan adanya waktu
untuk menyisipkan kata ‘sebelum’. Karena tak ada waktu sebelum Big Bang,
pertanyaan tersebut tak masuk akal.

Ringkasan
Saya telah membahas banyak landasan dalam bab ini dan mungkin
bermanfaat sekali meninjau ulang secara singkat beberapa ide yang telah saya
diskusikan dan mengemukakan tingkat kepercayaan saya akan akurasinya.
Big Bang: Yup, hampir pasti terjadi. Meski masih ada segelintir fisikawan
yang menentangnya. Mereka berargumen bahwa Alam Semesta tidak memiliki
93
momen penciptaan melainkan sudah ada selamanya. Teori yang mereka anut
dikenal sebagai teori steady state. Menariknya, meski ada begitu banyak bukti
mendukung Big Bang, ide steady state belum terkubur secara memuaskan.
Perluasan Alam Semesta: Seperti halnya Big Bang, tak ada lagi
keraguan nyata soal ini.
Umur Alam Semesta: Estimasi di akhir abad 20 menetapkannya berumur
15 miliar tahun tapi angka ini masih bisa direvisi naik (atau turun saya kira).
Bentuk Alam Semesta: Kemungkinan besarnya terbuka atau flat,
berdasarkan estimasi mutakhir terhadap jumlah materi yang dikandungnya
dan laju perluasan saat ini. Seandainya harus memilih, saya akan mengatakan
bahwa ia barangkali flat (atau hampir flat, kita takkan pernah bisa
menyatakannya).
Ukuran Alam Semesta: Alam Semesta flat atau terbuka masih mungkin
berukuran terhingga, tapi jauh lebih besar daripada bentangan terjauh yang
bisa kita lihat. Teori-teori mutakhir lebih memilih tidak tak terhingga.
Nasib Alam Semesta: Tak peduli apa bentuk atau ukuran Alam Semesta,
hasil-hasil terbaru yang mengukur laju perluasan berdasarkan supernova jauh,
mengindikasikan kuat bahwa Alam Semesta akan mengembang selamanya
dan berakhir dalam Big Freeze. Sedikit banyak, ini lebih mudah ditanggulangi
bagi banyak orang, sebab setidaknya waktu akan berjalan selamanya.
Membicarakan Big Bang sebagai permulaan waktu adalah satu hal, tapi Big
Crunch akan menandai akhir waktu. Bukan hanya tak ada yang akan bertahan
setelahnya, tapi kata ‘setelah’ takkan memiliki makna!
Inflasi: Teori ini terlihat sungguh sehat saat ini, walaupun ada sejumlah
versi berlainan. Kebanyakan mensyaratkan Alam Semesta flat, tapi sebuah
teori baru yang disebut ‘inflasi terbuka’ sekarang sedang dikembangkan.
Ini membuang persyaratan keflatan dan memperkenankan konsep aneh
alam semesta terbuka tak terhingga yang pas di dalam ‘gelembung’ volume
terhingga yang mengapung di suatu ruang eksternal.20
Antigravitasi: Pada saat ini konstanta kosmologis kembali digemari,
mengindikasikan bahwa terdapat gaya tolak antigravitasi yang memisahkan
materi yang mendorong perluasan Alam Semesta. Tapi kita masih belum
memahami asal-usulnya.

20 Jangan salahkan saya, bukan saya yang menemukannya!


94

BAB 4
BLACK HOLE

Black hole adalah lubang tutup ruang.


Beavis and Butthead

Ada hal-hal tersembunyi soal cahaya!

C AHAYA adalah barang aneh memang. Mungkin Anda belum membuang


terlalu banyak waktu untuk bertanya-tanya dari apa cahaya terbuat,
kecuali kalau Anda punya latar belakang ilmiah. Tentu Anda mungkin berpikir,
ia adalah sesuatu yang memancar dari objek-objek seperti Matahari, bohlam
listrik, obor, lilin, api, dan sebagainya, lalu, dari apapun ia terbuat, memasuki
mata kita dan kita dapat ‘melihat’ segala hal. Ketika cahaya memantul dari
sebuah objek, ia mengangkut ke dalam retina kita informasi tentang bentuk
dan warna objek tersebut. Tapi cahaya sendiri terbuat dari apa?
Saya sudah menggambarkan bagaimana cahaya dari sebuah objek
yang sedang menjauhi kita memerah akibat peregangan panjang gelombang
cahaya. Ini mengimplikasikan bahwa ia bukan terbuat dari material fisik
yang bisa kita sentuh. Nyatanya, kita diajari di sekolah bahwa ia hanyalah
gelombang energi periodik yang berosilasi, seperti gelombang suara atau
riakan di permukaan kolam saat batu dilemparkan. Semua eksperimen yang
Anda lakukan di lab sains sekolah mungkin telah mengkonfirmasikan ini.
Gelombang cahaya memantul cermin, terfokus lewat lensa, dan terpecah
menjadi warna-warna pelangi, dikenal sebagai spektrum cahaya tampak (saat
cahaya matahari melewati prisma).
Beberapa eksperimen cahaya ini bisa sangat menyenangkan, dan
saya ingat menikmati pembangunan kamera boks saat kanak-kanak dan
mencoba memahami bagamana sinar cahaya yang melewati lubang peniti
kecil di sisi boks masih dapat menghasilkan citra (terbalik) di bagian belakang.
Untungnya bagi mereka yang memiliki ambang kebosanan lebih rendah
dibanding fisikawan rata-rata, cahaya ternyata hampir tidak semembosankan
dan sesederhana yang diajarkan di sekolah. Nyatanya, ia begitu aneh sampai-
95
sampai semua guru sains menandatangani sebuah dokumen rahasia di mana
mereka bersumpah takkan pernah membocorkan sifat sejati cahaya kepada
anak-anak polos dan tak menaruh curiga. Saat tumbuh dewasa, anak-anak
takkan berminat sama sekali atau langsung saja menolak percaya bahwa
sesuatu yang familiar dalam kehidupan sehari-hari semisal cahaya bisa
menyembunyikan begitu banyak misteri dan begitu fundamental bagi kerja
Alam Semesta.
Oke, saya akui bahwa perjanjian rahasia jahat yang ditandatangani
oleh guru-guru sekolah terdengar seperti sesuatu yang keluar dari kisah Roald
Dahl21. Tentu saja tak ada konspirasi global untuk menyembunyikan sifat sejati
cahaya, tapi saya serius saat berkata bahwa ada hal-hal tersembunyi soal
cahaya!
Suara adalah contoh sederhana gelombang. Sebuah objek dikatakan
menghasilkan suara jika membuat molekul udara di sekelilingnya bervibrasi.
Molekul-molekul ini bertubrukan dengan molekul-molekul lain di dekatnya
yang membuat mereka bergerak sehingga mencapai telinga kita. Molekul
udara di dalam telinga kemudian membuat gendang telinga bervibrasi, lalu
otak kita menerjemahkan vibrasi ini menjadi sesuatu yang kita kenal sebagai
suara. Tapi kita tak bisa mengatakan bahwa suatu ‘zat’ materil telah berjalan
dari objek penghasil suara menuju telinga kita.
Cahaya jauh lebih dari sekadar ini. Di Bab 6 saya akan mengungkap
bagaimana cahaya sangat fundamental bagi sifat dasar ruang dan waktu.
Fisikawan David Bohm menyimpulkan bahwa “saat kita tiba pada persoalan
cahaya, kita tiba pada aktivitas fundamental di mana eksistensi mempunyai
landasannya.” Untuk sekarang, dan untuk tujuan pembahasan black hole, mari
kita selidiki dari apa sebetulnya cahaya tersusun.
Isaac Newton tegas percaya, berlandaskan eksperimen prismanya yang
terkenal, bahwa cahaya tersusun dari searus partikel-partikel kecil yang dia
sebut corpuscle (sel darah). Ini jelas, klaimnya, sebab cahaya hampir pasti
tidak berperilaku seperti gelombang suara. Sinar cahaya selalu berjalan dalam
garis lurus (penekukan cahaya akibat gravitasi belum ditemukan saat itu) dan
membentuk bayangan tajam. Gelombang suara berjalan mengitari rintangan
dan dapat dengan mudah menekuk. Gelombang suara membutuhkan medium
untuk berjalan; zat materil yang tersusun dari atom yang, dengan berosilasi,
mengangkut energi dan frekuensi suara. Inilah alasannya mengapa poster iklan
21 Penulis buku cerita anak—penj.
96
film Alien memuat tulisan, yang sungguh tepat, ‘Di angkasa, tak ada yang
dapat mendengar jeritan Anda’, sebab di angkasa tak ada udara untuk
mengangkut gelombang suara. Cahaya, di sisi lain, sama sekali tak begini dan
jelas tak kesulitan berjalan di ruang hampa.
Atas alasan ini Newton yakin bahwa teori partikel cahayanya benar. Tapi
tidak semua orang merasa yakin, dan perlu lebih dari seabad untuk munculnya
bukti jelas bahwa teori Newton bukanlah keseluruhan cerita. Di awal abad 19,
Thomas Young menemukan bahwa penyebab cahaya tidak terlihat menekuk
adalah karena efeknya begitu kecil. Panjang gelombang cahaya begitu pendek
dibandingkan gelombang suara sehingga besaran penekukan, disebut difraksi,
sulit dideteksi. Namun demikian, Young mencapai ini dengan mengirimkan
cahaya lewat celah amat sempit dan menunjukkan bahwa, saat mengenai
layar di sisi lain, ia membentuk sederet rumbai terang dan gelap sedemikian
rupa sehingga mustahil untuk dijelaskan seandainya cahaya tersusun dari
partikel. Rumbai-rumbai interferensi semacam itu, demikian mereka dikenal
hari ini, dijelaskan dalam setiap buku teks fisika sebagai sesuatu yang
diakibatkan oleh cara puncak dan palung gelombang cahaya dari kedua celah
memperkuat dan menghapuskan. Kita telah mengamati efek ini di sekolah,
dengan tingkat ketertarikan beragam, dalam eksperimen tangki riak.
Jadi apakah Newton keliru? Apakah cahaya merupakan gelombang,
bukan searus partikel kecil? Di akhir abad 19, interpretasi Young bahwa
cahaya adalah gelombang dikonfirmasikan ketika fisikawan Skotlandia, James
Clerk Maxwell, mengembangkan set persamaan yang menunjukkan bahwa
semua cahaya yang kita lihat adalah sebentuk radiasi elektromagnetik, yang
kita ketahui sekarang mencakup bentuk-bentuk lain seperti gelombang
radio, gelombang mikro, sinar X, inframerah, dan radiasi ultraviolet. Ternyata
cahaya tersusun dari kombinasi medan listrik dan magnet, bervibrasi secara
siku-siku terhadap satu sama lain, yang dapat berjalan di ruang hampa. Jadi
bagaimanapun juga cahaya adalah gelombang. Apakah ini akhir cerita?
Masih jauh sekali. Sertakan Albert Einstein, yang memenangkan hadiah
Nobel dalam fisika berkat paper yang dia tulis pada 1905—yang, herannya,
tak ada kaitan sama sekali dengan teori relativitasnya. Paper itu menjelaskan
sesuatu yang disebut efek fotolistrik dan membuktikan bahwa Newton tidak
keliru sama sekali. Cahaya pada level paling fundamentalnya tersusun dari
entitas amat kecil yang disebut photon.
97
Lantas bagaimana dengan rumbai interferensi Young? Dan bagaimana
dengan gelombang elektromagnetik Maxwell? Apa yang sedang terjadi di sini?
Tentu cahaya harus memutuskan dari apa dirinya terbuat: gelombang atau
partikel?
Sudah ada banyak buku yang menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Ternyata cahaya memang menderita schizofrenia. Terkadang ia berperilaku
seperti gelombang periodik dan lain kali seperti searus partikel. Tergantung
tipe eksperimen yang kita lakukan! Jika Anda tak suka ini, sayang sekali.
Saya katakan cahaya memang aneh. Teori yang menggambarkan aturan
perilaku cahaya dikenal sebagai QED, singkatan dari quantum electrodynamics
(elektrodinamika quantum), dan dikembangkan oleh, di antaranya, fisikawan
Amerika Richard Feynman di akhir 1940-an. QED sendiri, sebagaimana tersirat
dari namanya, diperoleh dari teori yang jauh lebih luas dalam fisika modern
yang disebut mekanika quantum, yang tak hanya menggambarkan perilaku
cahaya tapi juga semua materi dan energi pada level paling fundamentalnya
(level atom dan lebih kecil).
Mekanika quantum dikembangkan pertengahan 1920-an oleh sejumlah
fisikawan Eropa, termasuk Einstein. Mekanika quantum menggambarkan
bagaimana sebuah atom dapat berada di dua tempat berbeda pada waktu
yang sama, dan bagaimana partikel-partikel amat kecil dapat secara spontan
muncul entah dari mana kemudian lenyap lagi dengan cepat. Semua fisikawan
top dunia sependapat bahwa jika seseorang tidak gelisah dengan penjelasan
mekanika quantum soal dunia yang kita tinggali maka dia barangkali tidak
betul-betul memahami mekanika quantum. Terlepas dari ini, ia telah menjadi
penemuan ilmiah paling sukses dan penting di abad 20. Mekanika quantum
menopang seluruh ilmu kimia modern dan seluruh elektronika modern.
Tanpanya, kita takkan mampu memahami struktur kristal, atau menemukan
laser atau chip silikon. Tanpa pemahaman aturan mekanika quantum, takkan
ada televisi, komputer, microwave, pemutar CD, jam digital, dan banyak lagi
yang kita anggap biasa di zaman teknologi kita.
Untuk sekarang, kita akan meninggalkan pembahasan cahaya dengan
sebuah kutipan dari Einstein tahun 1951 (empat tahun sebelum ia meninggal):
“Selama lima puluh tahun memikirkan hal ini belum membawa
saya lebih dekat menuju jawaban terhadap pertanyaan ‘Apa
quantum cahaya [photon]?’ Hari ini setiap orang berpikir dirinya
tahu, padahal mereka keliru.”
98
Setelah memberi Anda pengenalan singkat mengenai sifat cahaya, saya
bisa mulai membahas atribut black hole.

Bintang tak tampak


Untuk memulai kisah kita tentang black hole, kita harus mundur dua ratus
tahun ke penghujung abad 18, sebab saat itulah ilmuwan pertama kali
menyadari bahwa black hole mungkin eksis. Ketika itu, black hole dikenal
sebagai bintang tak tampak dan eksistensinya menyusul secara logis dan
beralasan dari kombinasi hukum gravitasi Newton dan teori partikel cahayanya.
Hingga belakangan, dianggap bahwa orang pertama yang memprediksi
eksistensi black hole adalah matematikawan dan astronom terkenal Prancis,
Pierre Laplace, pada 1795. Kini jelas bahwa dia kalah oleh geolog Inggris
bernama John Michell, yang merupakan kepala Gereja Thornhill di Yorkshire.
Michell dianggap sebagai bapak seismologi dan merupakan orang
pertama yang menjelaskan, menyusul gempa Lisbon tahun 1755, bahwa
gempa berawal sebagai hasil tekanan gas dari air mendidih akibat panas
vulkanis. Dia juga menguraikan bahwa gempa bisa dimulai di bawah dasar laut
dan bahwa Lisbon merupakan contohnya. Ide-idenya mengenai pembentukan
black hole di ruang angkasa disampaikan kepada Royal Society of London pada
1783. Michell maupun Laplace mendasarkan argumen serupa mereka pada ide
kecepatan pelarian.
Baru-baru ini saya menonton dokumenter di televisi tentang para
pembuat roket amatir. Orang-orang ini mendalami hobinya secara serius
dan mengadakan kompetisi untuk melihat roket mana yang dapat mencapai
ketinggian tertinggi sebelum gravitasi Bumi menariknya kembali. Persoalannya
adalah, tentu saja, roket perlu mencapai kecepatan pelarian sebelum dapat
lepas dari tarikan Bumi dan mencapai angkasa luar. Yang mengejutkan,
angkasa tidak betul-betul sejauh itu—sekitar dua jam perjalanan mobil jika
kita mampu naik lurus. Hanya saja, berapapun kecepatan sebuah objek saat
berangkat, gravitasi akan segera mulai memperlambatnya, jadi ia harus
berangkat dengan cukup cepat untuk memperhitungkan pelambatan ini.
Ingat, gaya gravitasi menjadi semakin lemah seiring bertambahnya jarak, jadi
roket tak perlu berjalan sangat cepat setelah mencapai ketinggian tertentu.
Prakteknya, roket hanya memasuki orbit secara berangsur-angsur, dengan
menyalakan mesin dalam tahapan berturut-turut.
99
Kecepatan pelarian di permukaan Bumi adalah 11 km/detik (atau
40.000 km/jam). Di bulan, kecepatan pelariannya sedikit di atas 2 km/detik,
ini menjadi alasan mengapa misi Lunar Modules Apollo tidak memerlukan
mesin roket demikian besar untuk meninggalkan bulan dan pulang ke Bumi.
Kecepatan pelarian di Matahari adalah 620 km/detik. Inilah angka yang
dikerjakan Michell, berdasarkan ukuran dan densitas Matahari. Dia juga tahu
angka lain dengan suatu akurasi: kecepatan cahaya, yang telah diukur seabad
sebelumnya, dan yang 500 kali lebih besar daripada kecepatan pelarian
Matahari. Oleh karena itu Michel mengkalkulasi bahwa sebuah bintang
yang 500 kali lebih besar daripada Matahari, tapi berdensitas sama, akan
mempunyai kecepatan pelarian yang setara dengan kecepatan cahaya.22
Michell mengikuti kebijaksanaan konvensional di masa itu;
kebijaksanaan Isaac Newton, dan percaya bahwa cahaya tersusun dari partikel-
partikel. Karenanya teriring pula bahwa cahaya semestinya dipengaruhi oleh
gravitasi seperti halnya objek lain. Tapi bintang yang berdensitas sama dengan
Matahari, namun 500 kali lebih besar, akan memiliki kecepatan pelarian yang
melampaui kecepatan cahaya, sehingga partikel-partikel cahaya takkan cukup
cepat untuk melepaskan diri dari tarikan gravitasinya. Bintang semacam itu,
karenanya, pasti tampak hitam bagi dunia luar. Nyatanya, ia tak tampak!
Michell telah menjelaskan bagian ‘black’-nya tapi kita harus melangkah
cepat ke abad 20 untuk memahami apa arti ‘hole’-nya. Bagaimanapun juga,
sebuah bintang tak tampak, sebagaimana dijelaskan oleh Michell dan Laplace,
betul-betul tidak menarik. Nyatanya, penggunaan ide kecepatan pelarian
untuk menjelaskan black hole sedikit mirip dengan mengatakan bahwa Big
Bang hanyalah ledakan besar materi dan energi, itu saja. Sebagaimana saya
jelaskan di bab sebelumnya, Big Bang tidak terjadi di suatu tempat di ruang
dan di suatu titik di waktu melainkan mencakupi ruang dan waktu di dalamnya
sedemikian rupa sehingga sangat sulit bagi kita untuk diraba. Demikian halnya,
black hole lebih dari sekadar gumpalan besar dan rapat bintang mati yang
gravitasinya terlampau kuat untuk meloloskan cahaya. Nyatanya, black hole,
secara mengherankan, berbeda dari bintang tak tampak milik Michell. Sebagai
permulaan, bintang hitam Michell adalah objek padat dengan suatu ukuran
definitif. Black hole, sebagaimana kita pahami hari ini, terdiri dari ruang yang

22 Perhatikan, saya menggunakan istilah velocity dan speed dalam kalimat yang sama.
Keduanya memiliki arti yang sama di sini dan penggunaan keduanya murni hanya soal
kebiasaan. Ada perbedaan teknis antara keduanya, tapi itu tak perlu kita risaukan.
100
hampir hampa sama sekali! Nyatanya, ia benar-benar lubang di ruang, yang
di dalamnya atribut ruang dan waktu berganti sama sekali. Dan walaupun kita
belum pernah bertatap muka dengan black hole, kita punya ide kasar seperti
apa rasanya jatuh ke dalamnya (sangat tidak menyenangkan). Alasan atas
keyakinan ini adalah kepercayaan kita terhadap teori relativitas umum Einstein.
Sebab jika relativitas umum benar, dan sejauh ini kita tak punya alasan untuk
meragukannya, ia menyiratkan bahwa black hole tak hanya eksis di Alam
Semesta kita tapi juga merupakan konsekuensi tak terelakkan dari gravitasi
versi Einstein. Salah seorang pakar relativitas umum terkemuka di dunia, Kip
Thorne, beranjak jauh dengan menyatakan bahwa “hukum fisika modern
sebenarnya menuntut eksistensi black hole”.
Kita terputus di akhir Bab 2 setelah menggambarkan secara singkat
apa yang terjadi pada bintang yang jauh lebih masif daripada Matahari
ketika kehabisan bahan bakar nuklirnya. Setelah menyelesaikan perjalanan
bergelombang—tapi saya harap menyegarkan—mengarungi beberapa ide
dalam kosmologi di bab yang lalu, sekarang kita siap melihat lebih detil
bagaimana dan mengapa persisnya black hole terbentuk. Ingat, pandangan
gravitasi Einstein berkaitan dengan kelengkungan ruang, dan semakin
kuat medan gravitasi sebuah benda masif, ruang di sekelilingnya semakin
melengkung dan terdistorsi.
Saat sebuah bintang besar meledak sebagai supernova, ia akan sering
menggugurkan sebagian besar massanya ke angkasa dan menyisakan inti
bintang neutron yang tak lagi punya cukup massa untuk kolaps lebih jauh. Di
dalam objek serapat itu, materi terpadatkan begitu ketat sampai-sampai atom-
atom pun tidak dapat memelihara identitas awal mereka. Pada materi normal,
misalnya benda-benda yang ada di sekeliling kita, termasuk diri kita, atom-
atom sendiri hampir merupakan ruang hampa meski begitu kecil. Mereka
tersusun dari inti kecil yang dikenal sebagai nukleus atom yang dikelilingi
oleh elektron-elektron yang ukurannya lebih kecil lagi. Hukum mekanika
quantum mengatur bagaimana elektron-elektron ini berperilaku di dalam
atom dan menjelaskan mengapa mereka menjaga jarak dari nukleus. Di dalam
bintang neutron, gravitasi begitu kuat sehingga atom-atom teremas merapat
dan elektron-elektron terperas menuju nukleus. Hukum mekanika quantum
menyatakan bahwa kini akan ada tekanan keluar yang mencegah bintang
neutron kolaps lebih jauh akibat bobotnya sendiri.
101
Bagaimana jika, setelah sebuah bintang menggugurkan sebagian massa
dalam peristiwa supernova, inti sisanya masih di atas suatu massa kritis (kira-
kira tiga kali massa Matahari)? Nah, objek amat kompak berdensitas bintang
neutron pun tidak cukup ‘padat’. Materinya tidak punya cukup tekanan internal
untuk menahan penyusutan gravitasi lebih jauh. Nyatanya bintang tersebut tak
punya pilihan selain terus kolaps. Bukannya melambat, kekolapsan gravitasi
sebetulnya mencepat. Ini seperti bola yang menggelinding di puncak bukit.
Sekali ia melewati titik tertinggi dan mulai menggelinding turun di sisi lain,
ia hanya akan semakin cepat dan cepat. Pertanyaannya adalah, apa yang
terjadi selanjutnya? Tentu kekolapsan harus berhenti di suatu tempat? Bintang
terperas semakin kecil, seiring semakin terpadatkannya materi di dalamnya.
Kita sekarang tahu bahwa kecepatan pelarian dari permukaan sebuah
bintang tergantung pada massa maupun ukurannya. Jadi kita tak memerlukan
bintang yang memiliki densitas sama dengan Matahari dan yang 500 kali lebih
besar untuk mempunyai kecepatan pelarian melampaui kecepatan cahaya.
Kita bisa mencapai hasil yang sama jika Matahari sendiri dapat diperas hingga
berdiameter beberapa kilometer saja sebab dengan begitu, meski memiliki
massa yang sama (jumlah material awal yang sama) dengan sebelum diperas,
ia kini jauh lebih padat. Densitas demikian akan sangat lebih besar daripada
densitas bintang neutron sekalipun (yang tipikalnya memiliki kecepatan
pelarian sekitar setengah kecepatan cahaya) dan akan terus kolaps lebih jauh
untuk membentuk black hole.
Jadi, argumen Michell dan Laplace bahwa sebuah bintang yang sedang
kolaps pada akhirnya akan lenyap dari pandangan semestinya juga berlaku
untuk bintang yang sedang kolaps yang densitasnya lebih besar daripada harga
kritis untuk bintang neutron. Bagaimanapun juga, kita ingin tahu apa yang bisa
menghentikan kekolapsan gravitasi tak terkendali sebuah objek semacam itu,
sekalipun kita tak bisa lagi ‘melihat’ apa yang sedang terjadi.
Petunjuknya ada dalam fakta bahwa Michell dan Laplace memakai
gravitasi versi Newton bukan versi Einstein. Di Bab 2, perbedaan utama
antara gravitasi Newtonian dan gravitasi Einsteinian adalah sebagaimana
penafsirannya. Newton menggambarkan gravitasi sebagai gaya tarik di
antara dua objek, sedangkan Einstein mengatakan bahwa itu merupakan
pelengkungan ruang di sekeliling objek akibat massanya, yang menyebabkan
objek lain di dekatnya menggelinding menuju lekukan ruang di sekeliling objek
pertama sehingga bergerak mendekatinya. Tapi tentu hasil akhirnya sama
102
bagaimanapun kita memilih menafsirkannya? Ternyata tidak demikian. Sekali
gravitasi menjadi sangat kuat (sebagaimana di sekitar sebuah bintang masif
yang sedang kolaps), gravitasi versi Einstein mulai menyimpang secara radikal
dari gravitasi Newton. Nyatanya, gravitasi Newton dikatakan hanya tepat
secara kira-kira. Ia bekerja dengan baik di medan gravitasi lemah Bumi, tapi
untuk memahami black hole kita harus membuangnya sama sekali.
Segera setelah Einstein menyelesaikan teori relativitas umumnya pada
1915, dia mulai mencoba memecahkan persamaan medannya. Persamaan-
persamaan ini merupakan perwujudan rumit (tapi menawan secara
matematis) idenya mengenai hubungan antara materi, ruang, dan waktu. Tapi
penulisan persamaan-persamaan itu baru separuh pertempuran. Persamaan-
persamaan itu kemudian harus diterapkan pada situasi dan skenario tertentu
yang tak sekadar melibatkan ‘penaruhan’ angka ke dalam rumus, tapi juga
melibatkan halaman demi halaman aljabar yang rumit dan membosankan.
Ini sangat kontras dengan matematika gravitasi Newtonian, yang begitu
sederhana sehingga diajarkan di sekolah.
Solusi tepat pertama atas persamaan relativitas umum Einstein didapat
oleh astronom Jerman bernama Karl Schwarzschild. Dia menyelesaikan
kalkulasinya saat berada di atas ranjang kematiannya, setelah mengidap
penyakit kulit tak tersembuhkan selama Perang Dunia I, dan hanya beberapa
bulan setelah Einstein mempublikasikan karyanya. Solusi Schwarzschild,
sebagaimana sekarang dikenal, menggambarkan atribut ruang dan waktu
akibat medan gravitasi di sekeliling bulatan konsentrasi massa. Baru kemudian
disadari bahwa hasil Schwarzschild mengandung deskripsi black hole di ruang.
Nyatanya, baru pada 1967-lah fisikawan Amerika John Wheeler pertama kali
menciptakan frase ‘black hole’ yang sejak saat itu telah menangkap imajinasi
masyarakat dengan begitu spektakuler.

Di luar horizon
Solusi Schwarzschild atas persamaan Einstein menyatakan bahwa saat sebuah
benda yang cukup masif kolaps akibat bobotnya sendiri, ia akan mencapai
ukuran kritis yang selebih ukuran ini tidak ada yang dapat menghentikannya
dari kekolapsan lebih jauh, tak peduli seberapa teremas ia. Ini adalah ukuran
yang, menurut gravitasi Newtonian dan sebagaimana dikalkulasi oleh Michell,
harus dimiliki bintang agar kecepatan pelarian setara dengan kecepatan
cahaya. Tapi ada perbedaan besar dalam relativitas.
103
Jika kita hanya menggunakan aturan gravitasi Newtonian maka, asalkan
tekanan internal bintang kolaps cukup kuat, tak ada alasan mengapa ia tak bisa
berhenti kolaps pada, atau melebihi, ukuran kritis ini. Itu hanya tergantung pada
tahapan di mana molekul, atom, atau bahkan partikel subatom mengatakan,
“cukup, kami takkan sanggup terhadap pemampatan lebih jauh lagi.”
Gaya gravitasi menurut Newton tumbuh dalam apa yang secara
matematis dikenal sebagai “hubungan kuadrat terbalik dengan jarak”. Ini
artinya jika sebuah bintang kolaps hingga radiusnya separuh harga awalnya
maka gaya gravitasi terhadap permukaannya akan empat kali lebih kuat. Jika ia
kolaps menjadi sepertiga radius awalnya maka gravitasi akan 9 kali lebih kuat,
jika kolaps menjadi seperempat harga awalnya maka gravitasi akan 16 kali
lebih kuat, dan seterusnya. Seiring radius semakin kecil, gaya gravitasi semakin
besar. Seandainya memungkinkan seluruh massa bintang diperas hingga
seukuran persis nol (kini beradius nol), maka gaya gravitasi akan tak terhingga.
Relativitas umum mengatakan sesuatu yang amat berbeda. Seandainya
sebuah bintang kolaps hingga suatu ukuran kritis, sehingga kecepatan
pelariannya setara dengan kecepatan cahaya, maka gaya gravitasi terhadap
permukaannya akan tak terhingga! Maksud saya gaya yang dibutuhkan untuk
menghentikannya kolaps lebih lanjut akan tak terhingga. Radius ukuran kritis
disebut radius Schwarzschild dan menandai batas black hole. Kita sekarang
paham bahwa kekolapsan pasti berlanjut melampaui radius ini. Jika Anda
cenderung matematis23, Anda mungkin penasaran24 bagaimana mungkin gaya
ini tak terhingga pada radius Schwarzschild dan tumbuh lebih kuat lagi setelah
bintang kolaps lebih jauh. Bagaimana sesuatu bisa lebih besar daripada tak
terhingga?! Jawabannya terdapat dalam pembahasan objek jatuh bebas (Bab
2). Ingat, saat Anda jatuh bebas, katakanlah di ujung tali bungy jump (dan
sebelum mencapai tanah), percepatan Anda menghapuskan efek gravitasi
dan Anda tidak merasakan suatu tarikan gravitasi. Demikian halnya, saat
permukaan bintang kolaps melewati radius kritisnya, ia sedang jatuh bebas,
dan permukaannya tidak merasakan tarikan gravitasi interior bintang. Inilah
mengapa bintang tersebut tak bisa berhenti pada radius kritis sebab sekarang
mustahil untuk menghentikannya kolaps lebih jauh.
Dalam radius Schwarzschild, tak ada—bukan cuma cahaya—yang dapat
meloloskan diri. Bayangkan sebuah bola yang memiliki radius setara dengan
23 Jangan khawatir jika tidak.
24 Jangan khawatir jika Anda tidak cenderung matematis dan tidak penasaran!
104
radius Schwarzschild dan melingkungi bintang kolaps. Permukaan spheris
imajiner demikian dikenal sebagai horizon peristiwa dan merupakan batas
artifisial di ruang yang menandai point of no return (titik di mana kita tak dapat
kembali darinya—penj). Di luar horizon, gravitasi sangat kuat tapi terhingga
dan memungkinkan bagi objek untuk lolos dari tarikannya. Tapi sekali berada
dalam horizon, sebuah objek harus berjalan lebih cepat daripada cahaya untuk
meloloskan diri, dan ini tak diperkenankan. Jadi konsep horizon peristiwa agak
tak menyenangkan, dalam arti ia hanya memperkenankan perjalanan searah.
Horizon peristiwa adalah nama yang pantas sebab bisa disamakan
(secara longgar) dengan pengertian lazim ‘horizon’ di Bumi. Horizon adalah
garis artifisial yang menandai jarak terjauh yang bisa kita lihat dan tampak
sebagai tempat di mana tanah bertemu dengan langit. Kita paham bahwa
batas ini diakibatkan oleh kelengkungan Bumi dan, karena cahaya berjalan
kurang-lebih dalam garis lurus dekat permukaan Bumi, kita tak mampu melihat
melampauinya. Demikian halnya, horizon black hole menandai batas yang
melebihinya kita tak bisa melihat ‘peristiwa’ apapun. Tapi tak seperti horizon di
Bumi yang terus-menerus mundur begitu kita mendekatinya, horizon peristiwa
black hole adalah tetap dan kita bisa mendekatinya sedekat mungkin kita suka,
dan bahkan melewatinya jika kita cukup nekad.
Semua benda punya horizon peristiwa potensialnya sendiri dengan
radius Schwarzschild-nya sendiri. Bumi pun bisa dibuat menjadi black hole,
tapi karena tidak memiliki cukup massa untuk kolaps sendiri, ia harus diperas
dari luar. Jangan tanya saya bagaimana, saya cuma bilang bahwa jika ia bisa
diperas cukup keras maka akhirnya ia akan melewati horizon peristiwanya
sendiri, yang begitu itu terjadi kekolapsannya akan terus berlangsung. Radius
Schwarzschild Bumi kurang dari setengah centimeter, artinya suatu black hole
yang memiliki materi sebanyak di planet kita akan seukuran kacang polong.
Sekali bintang kolaps menyusut melewati horizon peristiwanya, tak ada
yang dapat menghentikannya terus kolaps lebih jauh sampai seluruh massanya
tergumal menjadi satu titik. Ini disebut singularitas dan merupakan entitas
yang amat aneh memang. Nyatanya begitu aneh sampai-sampai hukum fisika
yang bekerja—setahu kita—sempurna di area lain (menggambarkan perilaku
partikel subatom terkecil hingga atribut keseluruhan Alam Semesta) mogok
dalam persoalan singularitas black hole. Karenanya sungguh melegakan bagi
Alam Semesta di luarnya bahwa horizon peristiwa memperisai kita dari benda
seganjil itu.
105
Tanpa horizon peristiwa, siapa yang tahu bagaimana singularitas akan
merusak hukum fisika di luar black hole. Nyatanya, horizon tersebut begitu
penting sampai-sampai fisikawan telah menemukan hukum penyensoran
kosmik yang terdengar hebat yang, mereka harap, berlaku di setiap tempat
di alam. Hukum ini bertindak seperti Mary Whitehouses25 kosmologi yang
menjaga Alam Semesta dari chaos, ketakterprediksian, dan ketakterhinggaan
singularitas. Lantas apa bunyi hukum ini? Sungguh sederhana: “Kau tak boleh
memiliki singularitas telanjang.” Anda harus camkan bahwa pernyataan
sindiran ini betul-betul hanya hipotesis dan mungkin ternyata, dalam
setidaknya skenario teoritis tertentu, tidak berlaku. Contoh, diklaim bahwa
black hole yang amat kecil, lebih kecil daripada atom, mungkin pernah tercipta
persis setelah Big Bang dan lambat-laun menguap lewat proses yang dikenal
sebagai radiasi Hawking (yang akan kita simak di bab berikutnya). Beberapa
kalkulasi telah menunjukkan bahwa mungkin yang tersisa di akhir penguapan
ini adalah singularitas telanjang. Namun, ini sama sekali tidak jelas.
Menurut persamaan-persamaan relativitas umum, singularitas adalah
tempat di mana materi memiliki densitas tak terhingga, ruang melengkung tak
terhingga, dan waktu berakhir. Ada miskonsepsi umum bahwa waktu berakhir
di horizon peristiwa. Ini akibat apa yang dilihat oleh pengamat jauh saat
mereka menyaksikan sesuatu jatuh ke dalam black hole. Saya akan mengurus
ini nanti, untuk sekarang saya ingin kembali ke singularitas yang menandai
akhir waktu.
Membangkitkan ingatan? Pasti. Ini persis sama dengan cara saya
menggambarkan Big Bang. Hanya saja Big Bang menandai permulaan waktu,
bukan akhir waktu. Terlepas dari itu, kedua kasus ini luar biasa mirip di mana
Big Bang merupakan induk semua singularitas; singularitas telanjang sebagai
tambahan.
Kembali ke black hole dan interiornya yang, sebagaimana ditetapkan
oleh horizon peristiwa, sama sekali merupakan ruang hampa, terlepas dari
singularitas di pusatnya (dan terlepas dari suatu materi yang telah ditangkap
oleh sang lubang dan jatuh masuk). Alasan mengapa singularitas memiliki
densitas tak terhingga dapat dipahami jika kita memikirkan bagaimana kita
mengkalkulasi densitas sebuah objek. Rasio massa:ukuran. Jadi, jika objek
25 Mary Whitehouse adalah sekretaris kehormatan National Viewers and Listeners Association
di Inggris dan telah berkampanye selama bertahun-tahun untuk ‘membersihkan’ media ini dan
lainnya dengan mengembalikan tayangan seks yang lebih ‘seimbang’ dalam program-program
untuk keluarga.
106
bermassa tertentu memiliki ukuran nol maka untuk memperoleh densitasnya
kita harus membagi sebuah bilangan non-nol dengan nol. Dan ini, percayalah,
adalah sesuatu yang amat tidak menyenangkan untuk dilakukan dalam
matematika. Coba saja sendiri. Bagi suatu bilangan dengan nol memakai
kalkulator saku. Kalkulator saya menghasilkan lambang ‘-E-‘ yang merupakan
singkatan dari ‘error’ sebab kalkulator sederhana tidak sanggup menanggulangi
bilangan tak terhingga. Komputer workstation yang saya pakai untuk riset di
universitas juga tidak sanggup. Jika ia menjumpai pembagian dengan nol,
program yang dijalankannya langsung crash. Setidaknya itu memberi saya
manfaat, yaitu memberitahu saya di mana permasalahan kodenya. Namun,
ternyata singularitas tidak separah ini. Ketika kita menerapkan aturan mekanika
quantum, sebagaimana seharusnya pada level ini, kita menemukan bahwa
singularitas memiliki ukuran amat kecil (jauh lebih kecil daripada atom) tapi
non-nol. Banyak detil fisika masih harus diatasi, sebab penerapan aturan
mekanika quantum secara bersamaan dengan aturan relativitas umum adalah
sesuatu yang belum seorangpun tahu cara melakukannya dengan benar.
Karenanya, black hole sangatlah sederhana dalam hal struktur. Ia
memiliki pusat (singularitas) dan permukaan (horizon peristiwa). Yang lainnya
hanya gravitasi. Tentu saja yang membuat black hole begitu mengagumkan
adalah cara gravitasinya yang dahsyat mempengaruhi ruang (dan waktu26) di
dekatnya.

Sebuah lubang yang tak pernah bisa diisi


Sejauh ini, saya telah menggambarkan pembentukan black hole dari segi
kekolapsan gravitasi. Tapi kita telah belajar bahwa pandangan gravitasi Einstein
adalah dari segi kelengkungan ruang. Black hole bisa juga digambarkan dengan
cara ini. Pikirkan contoh yang saya gunakan di Bab 2, penaruhan sebuah
objek berat di tengah-tengah tilam karet yang menyebabkannya melentur
akibat bobot tersebut. Lobang di tilam ini ekuivalen dengan lengkungan ruang

26 Penggemar teori relativitas dan black hole mungkin saat ini bertanya-tanya mengapa saya
menghindari pembahasan waktu dan bagaimana ia dipengaruhi oleh gravitasi menurut Einstein.
Saya sadar bahwa cara tradisional mengajarkan fisika black hole ada dalam deskripsi terpadu
lengkungan ruang dan waktu. Memang akan sangat sulit bagi saya menggambarkan apa yang
terjadi seandainya kita jatuh ke dalam black hole tanpa membahas bagaimana persepsi waktu
kita berubah. Namun seluruh konsep waktu telah begitu direvolusi oleh karya Einstein sehingga
ia patut diperkenalkan secara lebih seksama dan lemah-lembut bagi non-fisikawan. Karenanya
saya akan, sebisa mungkin, menunda pembahasan sifat waktu, di dalam dan di luar black hole,
sampai saatnya nanti.
107
akibat pengaruh benda masif. Jika benda jauh lebih berat, lobang akan lebih
dalam. Black hole dapat disamakan dengan kasus ketika sebuah objek amat
berat, tapi berukuran titik, menyebabkan karet (ruang) melengkung dan
menciut menjadi lubang yang dalam tak terhingga berbentuk kerucut. (gambar
4.1). Horizon peristiwa di sini dapat disamakan dengan lingkaran di suatu
tempat di dalam pinggiran lubang tak berdasar ini, yang melebihinya kita
takkan bisa melepaskan diri.

Gambar 4.1. Black hole di ruang 2D.

Ada dua observasi menarik yang bisa kita lakukan di sini berdasarkan
gambar sederhana ini. Pertama, black hole tak pernah bisa disumbat atau
diisi dengan materi. Semakin banyak materi yang dituangkan ke dalamnya,
semakin besar black hole jadinya. Ia akan makan dan tumbuh.
Kedua, ukuran black hole, sebagaimana diukur menurut volume di
dalam horizon peristiwanya, sebetulnya hanya ukuran yang dilihat oleh
pengamat luar. Sebagai contoh, black hole yang terbentuk oleh kekolapsan
sebuah bintang yang sepuluh kali massa Matahari akan memiliki radius
Schwarzschild 30 kilometer, menjadikan black hole tersebut kurang-lebih
seukuran kota besar. Tentu saja, seorang pengamat luar bagaimanapun juga
tidak bisa melihat melampaui horizon peristiwa dan karenanya tak bisa
108
mengetahui seperti apa keadaan di dalamnya. Tapi jika ruang di dalam horizon
membentuk lubang yang dalam tak terhingga maka jarak dari horizon ke
singularitas semestinya juga tak terhingga. Kenyataannya, dan sebagaimana
akan saya gambarkan nanti, seandainya Anda jatuh ke dalam black hole maka
Anda hanya perlu waktu amat pendek untuk mencapai singularitas sebab
ruang dan waktu menjadi rusak di dalam horizon dan seseorang tidak dapat
memakai aturan sederhana semisal kecepatan = jarak dibagi waktu.
Dari luar, semua black hole bermassa sama terlihat identik; kita tak
mampu mengetahui apapun tentang objek yang menciptakan black hole,
bahkan tak tahu komposisi awal kimiawinya. Semua informasi itu telah lenyap
dari Alam Semesta kita selama-lamanya. William J. Kaufmann mengemukakan
poin ini secara gamblang dalam bukunya yang hebat, Universe. Dia
mempertimbangkan dua black hole hipotetis—satu dihasilkan oleh kekolapsan
gravitasi besi seukuran 10 massa surya dan satunya lagi oleh mentega kacang
seukuran 10 massa surya. Sekali mereka berdua kolaps melampaui horizon
peristiwa, mereka menjadi identik dan kita tak mampu mengatakan black hole
mana yang terbentuk dari besi atau mentega kacang.
Miskonsepsi umum menyangkut black hole adalah bahwa ia akhirnya
akan melahap habis segala sesuatu di Alam Semesta. Ini tak benar.
Gravitasi berperilaku relativistik di kawasan di mana prediksi versi Einstein
menyimpang radikal dari prediksi gravitasi Newtonian. Contoh, black hole
beradius Schwarzschild 30 kilometer hanya akan menyebabkan medan
gravitasi sekelilingnya berperilaku relativistik sampai jarak seribu kilometer.
Di luar rentang ini, black hole mematuhi hukum gravitasi Newtonian yang
agak membosankan dan berperilaku seperti bintang normal seukuran massa
tersebut dalam hal mempengaruhi gerakan objek-objek jauh.

Black hole berputar


Sejauh ini saya membatasi diri pada pembahasan jenis black hole paling
sederhana: black hole yang digambarkan oleh solusi Schwarzschild atas
persamaan medan Einstein. Sebetulnya ini hanya skenario yang diidealkan.
Black hole riil berputar pula. Kita tahu bahwa bintang berputar pada porosnya
sebagaimana Bumi lakukan. Karenanya saat kolaps mereka akan berputar lebih
cepat lagi. Mari kita periksa secara singkat mengapa demikian.
Sebuah kuantitas penting dalam fisika dikenal sebagai momentum
sudut dan dimiliki oleh semua objek berotasi. Kuantitas ini begitu penting
109
karena merupakan salah satu kuantitas, seperti energi, yang dikatakan kekal,
artinya ia tetap sama asalkan objek yang berotasi tidak terkena gaya eksternal.
Momentum sudut tergantung pada massa objek, laju putaran, dan bentuknya.
Pikirkan seorang ice skater yang berputar, dengan lengannya terulur keluar.
Begitu dia menarik lengannya lebih dekat dengan tubuh dan menyilangkannya
di depan dada, dia akan berputar lebih cepat. Alasannya adalah, momentum
sudutnya tetap konstan—abaikan gesekan bilah skate terhadap es—dan,
dengan menempelkan lengannya, dia telah mengganti bentuk dirinya yang
mana akan mengurangi momentum sudutnya. Namun, dia juga akan berputar
lebih cepat untuk mengkompensasi hal ini dan menjaga momentum sudutnya
tetap sama. Peningkatan laju putarannya bukanlah sesuatu yang dia lakukan
secara sengaja; itu terjadi otomatis. Tidakkah hukum fisika cerdik? Bintang
berputar yang kolaps berperilaku dengan cara sama: penurunan ukurannya
diimbangi dengan berputar lebih cepat demi mempertahankan momentum
sudutnya. Inilah mengapa pulsar (bintang neutron berputar yang kita simak di
Bab 2) berputar begitu cepat.
Menurut gravitasi versi Newton, kita tak bisa mengatakan perbedaan
antara efek gravitasi objek spheris berputar dan objek spheris tak berputar
(sepanjang tidak terhuyung saat berputar). Lagi-lagi, di sini relativitas umum
berbeda. Black hole berputar betul-betul menyeret ruang di sekelilingnya
untuk membentuk pusaran gravitasi, mirip dengan lingkaran air di sekeliling
lubang sumbat. Di kawasan ruang semacam itu, benda yang mengorbit
harus berakselerasi ke arah yang berlawanan dengan putaran black hole
demi bertahan! Hasil aneh ini menyediakan kita alat untuk mengukur laju
putaran black hole yang, bersama dengan massanya (yang darinya kita bisa
menyimpulkan ukurannya), merupakan satu-satunya kuantitas lain yang ada
untuk menggambarkan black hole.27 Untuk mengukur putaran black hole, kita
perlu memasukkan dua satelit ke orbit ke arah berlawanan di sekelilingnya.
Karena satelit yang mengorbit ke arah yang berlawanan dengan putaran black
hole pasti ‘menentang pasang’ ruang yang bergerak, ia takkan perlu waktu
lama lagi untuk menyelesaikan satu orbit penuh sebab dengan menempuh
lebih banyak ruang ia telah berjalan lebih jauh. Perbedaan tempo orbit di
antara satelit-satelit itu memberitahu kita laju putaran.

27 Kita juga bisa mengukur muatan listrik black hole tapi ini akan sangat kecil dan hanya
menarik perhatian secara teoritis. Prakteknya, black hole bermuatan listrik pada akhirnya akan
selalu dinetralkan dengan menghisap partikel-partikel yang bermuatan listrik berlawanan.
110
Kawasan di mana ruang terseret di sekeliling black hole berputar ini
disebut ergosphere. Artinya black hole berputar akan memiliki dua horizon:
horizon spheris dalam, yang merupakan horizon peristiwa asli dan yang darinya
tak ada yang dapat meloloskan diri, dan horizon menonjol luar, yang menandai
permukaan ergosfer (gambar 4.2). Di dalam ergosfer, penyeretan begitu kuat
sehingga tak ada yang mampu bertahan. Namun, sebuah objek yang jatuh ke
dalam ergosfer masih bisa meloloskan diri lagi, sepanjang ia tidak nyasar di
dalam horizon peristiwa.

Jatuh ke dalam black hole


Salah satu hal paling mempesona dari black hole adalah yang terjadi pada
objek/astronot bunuh-diri yang jatuh ke dalamnya, dan bagaimana ini
kelihatannya bagi seorang pengamat yang menyaksikan dari jarak aman. Mari
kita pertama-tama pertimbangkan akan seperti apa jadinya seandainya Anda
cukup sial jatuh ke dalam black hole.

Gambar 4.2. Ergosfer yang mengelilingi horizon peristiwa black


hole berputar.

Satu aspek gravitasi yang belum disebutkan sejauh ini adalah gaya tidal.
Kita tahu bahwa tarikan gravitasi sebuah benda menjadi kian lemah dengan
semakin jauhnya kita darinya. Tentu saja, cukup dengan berdiri di tanah, kaki
Anda pasti merasakan tarikan gravitasi lebih kuat daripada kepala Anda, yang
lebih jauh dari permukaan Bumi. Ini memang benar, tapi perbedaan medan
gravitasi Bumi begitu kecil pada jarak sekecil itu sehingga Anda takkan pernah
merasakannya. Kita bisa, di sisi lain, dengan jelas melihat efek tidal gravitasi
Bulan terhadap Bumi. Ini karena sisi Bumi yang menghadap bulan merasakan
tarikan gravitasi lebih kuat daripada sisi sebaliknya sehingga menimbulkan,
seraya Bumi berputar, pasang laut harian yang darinya gaya tidal mendapatkan
namanya.
111
Adapun black hole, gaya gravitasinya berubah secara jauh lebih dramatis
dan Anda mampu merasakan efek tidal bahkan sepanjang tubuh Anda. Ini
menjadi kuat tak tertahankan dan akhirnya akan mengoyak tubuh Anda jauh
sebelum Anda tergumal di singularitas.
Black hole kecil, berukuran beberapa massa surya, mempunyai gaya
tidal yang begitu ekstrim sehingga astronot yang pergi terlalu dekat akan
tewas jauh sebelum dia melintasi horizon peristiwa sekalipun! Sangat tak
menyenangkan, kan? Anda akan berpikir bahwa setidaknya Anda diberi
kesempatan untuk mendekati horizon tanpa terlalu banyak masalah.
Untungnya kita punya alasan bagus untuk percaya bahwa terdapat black
hole bermassa jutaan kali massa Matahari. Black hole supermasif semacam
itu memiliki gaya tidal lebih lembut dan seseorang dapat mudah melintasi
horizon peristiwanya tanpa merasa gelisah. Seraya Anda terus jatuh bebas
menuju singularitas, intensitas gaya tidal akan secara bertahap bertambah.
Jadi walaupun Anda akhirnya akan terkoyak lalu tergumal menjadi sebuah
titik berdensitas tak terhingga, setidaknya kini Anda bisa sedikit melihat-lihat
sepanjang perjalanan turun Anda.
Sepanjang buku ini Anda mungkin telah merasa28 bahwa saya telah
mencoba menunda pembahasan efek aneh gravitasi terhadap waktu hingga
bagian berikutnya. Bagaimanapun, saya tak bisa berlaku adil terhadap black
hole tanpa sedikit mengendurkan ketetapan hati saya mengenai hal ini.
Di dalam sebuah black hole, ruang dan waktu begitu melengkung sehingga
jarak dari horizon peristiwa ke singularitas bukanlah jarak di ruang dalam
pengertian normal (dalam arti bahwa ia bisa diukur dalam satuan kilometer
atau suatu satuan panjang lain yang sesuai). Malahan, ia menjadi arah waktu.
Pada dasarnya jarak radial ke pusat black hole bertukar dengan sumbu waktu!
Tunggu sebentar, Anda berpikir, kita telah membahas ukuran black hole dari
segi radius Schwarzschild-nya yang diukur paling pasti dalam satuan panjang.
Bedanya, radius Schwarzschild adalah radius sebagaimana dipandang dari luar
black hole. Bayangkan mengamati black hole dengan latar belakang terang
yang jelas-jelas akan menarik perhatian terhadap horizon gelapnya, misalnya
latar belakang gas nebula yang berkilau. Jarak lintas cakram gelap ini adalah
diameternya, atau dua kali radius Schwarzschild. Sekali berada di dalam black
hole, keadaan sangat berbeda.

28 Dari catatan kaki rutin yang menjengkelkan semisal ini.


112
Pertukaran ruang dan waktu ini menjelaskan mengapa objek yang
jatuh ke dalam black hole tak punya pilihan selain bergerak masuk menuju
singularitas. Fisikawan menyamakan ini dengan cara tak terhindarkan untuk
bergerak menuju masa depan. Lebih lanjut, karena Anda tak bisa bergerak
lebih jauh setelah mencapai singularitas, titik ini menandai akhir waktu
itu sendiri! Di sinilah singularitas black hole berbeda dari Big Bang yang
merupakan singularitas yang menandai permulaan waktu. Singularitas black
hole lebih mirip singularitas Big Crunch (yang menandai akhir ruang dan waktu
jika ada cukup materi di Alam Semesta untuk menyebabkannya kolaps pada
dirinya sendiri).
Waktu yang diperlukan untuk mencapai singularitas dari horizon,
sebagaimana diukur oleh seseorang yang jatuh ke dalamnya, adalah
proporsional dengan massa black hole. Jadi untuk black hole bermassa 10
kali massa Matahari diperlukan 1/10.000 detik untuk mencapai singularitas,
sedangkan untuk black hole supermasif diperlukan beberapa menit.
Pertanyaan yang sering ditanyakan adalah apakah astronot yang jatuh
melewati horizon peristiwa sebuah black hole melihat sesuatu yang berbeda
(asumsikan black hole-nya cukup besar bagi astronot untuk bertahan terhadap
gaya tidal). Jawabannya tidak. Satu-satunya cara Anda bisa mencaritahu
apakah Anda telah melintasi horizon (astronot kini diganti jadi Anda? jangan
ambil ini secara pribadi, saya bahkan tak mengenal Anda dan takkan
mengharapkan akhir semacam itu bagi siapapun) adalah jika Anda mencoba
berhenti jatuh dan mendaki keluar kembali dengan menyalakan mesin roket
Anda untuk mendorong diri Anda naik lagi dari pusat black hole. Menurut
astrofisikawan Rusia dan pakar black hole terkemuka, Igor Novikov, aspek
ganjil lain fisika black hole dan konsekuensi pelengkungan waktu adalah
bahwa dengan mencoba melakukan ini (menyalakan roket Anda untuk lari
dari black hole) Anda akan mencapai singularitas lebih cepat lagi daripada jika
Anda membiarkan mesin Anda mati!
Ini tentu sangat kontra-intuitif tapi dia menjelaskannya dengan cara
berikut. Ingat, tanpa menyalakan mesin roket, Anda jatuh bebas dan tidak
merasakan gaya gravitasi (tentu saja terlepas dari adanya gaya tidal). Dengan
memalingkan roket Anda dari singularitas dan menyalakan mesin, Anda akan
merasakan gaya percepatan ke atas dan, berkat prinsip ekuivalensi, ini serupa
dengan merasakan efek medan gravitasi. Namun, lantaran ruang dan waktu
tercampur-baur di dalam black hole, Anda terus jatuh dengan laju yang sama
113
sebagaimana sebelumnya. Hanya saja kini waktu Anda akan melambat. Ini
dikenal sebagai dilasi waktu gravitasi (gravitational time dilation) dan saya
akan membahasnya di Bab 6. Artinya, jatuh dari horizon ke singularitas yang
memakan waktu katakanlah 10 detik kini mungkin terasa seperti 5 detik saja.
Aneh!
Saat menulis bab ini, saya mengatakan kepada isteri saya, Julie, bahwa
saya telah mencapai bagian di mana saya menggambarkan bagaimana
rasanya berada di dalam black hole. “Sangat gelap, kukira,” begitu sahutnya
mendalam tanpa ekspresi. Nyatanya, ia tidak sama sekali gelap sebab cahaya
dari Alam Semesta luar masih masuk. Bedanya, cahaya itu menjadi tertekuk
dan terfokus ke petak kecil yang terang. Seperti pemandangan cahaya mundur
dari pintu terowongan gelap seraya Anda masuk lebih dalam.
Sekarang mari kita pertimbangkan apa yang dilihat pengamat
ketika sebuah objek jatuh ke dalam black hole yang, demi kesederhanaan,
diasumsikan tidak berputar. Nah, bayangkan Anda berada di kapal antariksa,
melayang-layang pada jarak aman di luar horizon peristiwa. Anda menyaksikan
seorang kolega jatuh masuk menuju horizon. Bukannya melihat dia jatuh
semakin cepat hingga tiba-tiba menghilang melewati horizon, laju jatuhnya
tampak semakin melambat begitu dia mendekati horizon hingga akhirnya dia
berhenti, terbeku, persis di luarnya. Pelambatan objek jatuh ini adalah akibat
gravitasi mempengaruhi laju aliran waktu. Nyatanya, waktu benar-benar
melambat di medan gravitasi dan ini paling bisa dilihat di medan kuat di luar
sebuah black hole.
Jika si astronot telah mengkalkulasi bahwa dirinya akan melewati
horizon peristiwa pada jam 12 persis menurut kedua arloji kalian yang telah
disinkronkan sebelumnya, maka Anda bisa, lewat teleskop canggih Anda,
mengamati waktu yang terlihat pada jamnya saat dia jatuh. Anda akan
melihat jarum arlojinya melambat begitu dia mendekati horizon hingga jarum
itu akhirnya berhenti persis pada jam 12. Nyatanya, di horizon, waktu diam.
Terkadang ada pernyataan (keliru) bahwa Anda akan melihat dia terbeku di
luar horizon selama-lamanya. Nyatanya, citra dia akan memudar sangat cepat
dan dia akan lenyap. Ini bukan karena Anda telah ‘melihat’-nya jatuh melewati
horizon, tapi lebih karena cahaya yang mencapai Anda dari dirinya telah ter-
redshift-kan menjadi panjang gelombang demikian panjang sehingga cepat
melampaui spektrum tampak. Redhift tersebut tidak sama dengan redshift
akibat galaksi jauh yang mundur yang cahayanya mengalami pergeseran
114
Doppler. Nah, ada pengaruh tambahan akibat pelambatan waktu dekat
horizon yang membuat cahaya terlihat memiliki frekuensi lebih rendah dan
karenanya panjang gelombangnya lebih panjang dan ter-redshift-kan. Namun,
astronot yang jatuh itu mempunyai konsep laju aliran waktu yang berbeda dan
mengkalkulasi bahwa dirinya akan jatuh menuju black hole semakin cepat.

Melihat black hole


Saat ini Anda mungkin berpikir bahwa semua pembicaraan tentang
pelambatan waktu, bergerak dengan kecepatan cahaya, teregang seperti
spageti lalu tergumal menjadi ukuran nol dan densitas tak terhingga
merupakan cerita sains fiksi belaka. Bagaimanapun juga, tak ada yang pernah
berhadap-hadapan dengan black hole riil dan semua kesimpulan ini dicapai
dengan mempelajari atributnya secara teoritis.
Hingga tahun 1960-an, kebanyakan astronom merasa sulit percaya,
terlepas dari prediksi teoritis, bahwa mungkin betul-betul ada black hole di
luar sana. Tapi dengan kemajuan dalam bidang astronomi radio dan sinar X
dan sejumlah penemuan menggairahkan selama tahun 1960-an semisal
radiasi kosmik latar (yang mengkonfirmasi teori Big Bang), quasar, dan pulsar,
tiba-tiba black hole tak lagi terasa menggemparkan. Berdampingan dengan
ini, banyak kemajuan teoritis penting dalam fisika black hole dicapai selama
tahun 1960-an dan 1970-an, dan pada 1980-an saya kira astronom telah yakin
sekitar 90% bahwa black hole memang eksis.
Anda mungkin menganggap level keyakinan 90% tidak begitu cukup,
syukurlah bagi fans black hole seperti saya tahun 1990-an menyaksikan
akumulasi bukti lebih jauh dan kita tak lagi ragu. Saya menaruh level keyakinan
sekarang pada angka 99%. Kalau begitu, apa bukti itu? Bagaimanapun juga,
jika secara definisi black hole adalah hitam, bagaimana ia bisa ditemukan di
kegelapan angkasa? Sekalipun seseorang kebetulan memiliki nebula berkilau
sebagai latar belakangnya, Anda harus ingat bahwa black hole begitu kecil
pada skala astronomis sehingga ia akan terlampau kecil untuk terlihat oleh
teleskop tercanggih sekalipun.
Rahasia pendeteksian black hole (yang, herannya, diuraikan 200 tahun
silam oleh John Michell) terletak pada cara mereka mempengaruhi materi
tampak di dekatnya. Ingat, bintang biner mengorbit satu sama lain atau, lebih
tepatnya, di sekeliling pusat gravitasi gabungan mereka (sebuah titik imajiner
di angkasa yang menjadi titik tengah massa mereka). Jika mereka bermassa
115
sama, maka mereka akan mempunyai radius orbit yang sama sebab pusat
gravitasi mereka akan berada separuh jalan di antara mereka, tapi jika salah
satu bintang jauh lebih berat daripada yang lain maka ia hanya akan terhuyung
sedikit sedangkan yang ringan mengerjakan sebagian besar ‘perjalanan’
mengelilinginya. Ini karena pusat gravitasi kini jauh lebih dekat ke bintang
yang besar.
Jika salah satu bintang cukup besar untuk kolaps menjadi black hole
maka, sekalipun kini ia tak terlihat, efek gravitasinya terhadap partnernya akan
sama. Catat, mereka tak begitu berdekatan untuk tertelannya bintang satunya
lagi oleh black hole tersebut sebab bintang-bintang itu akan saling tertarik jauh
sebelumnya jika mereka sedekat itu (tapi mereka mungkin masih cukup dekat
agar black hole menghisap sebagian gas dari permukaan partnernya).
Secara teori kita semestinya bisa melihat ‘keterhuyungan’ gerakan
bintang tampak yang tersisa dan karenanya menyimpulkan berapa banyak
massa yang diperlukan untuk membuat objek sebesar bintang bergerak-
gerak seperti ini. Bagaimanapun juga, bintang tunggal tidak terhuyung tanpa
alasan dan gerakan semacam itu pasti hasil dari konsentrasi massa dahsyat
di dekatnya. Belakangan ditemukan bahwa keterhuyungan kecil posisi sebuah
bintang mungkin diakibatkan oleh planet-planet di orbit di sekelilingnya
yang tidak bisa dilihat secara langsung. Namun, dari massa bintang dan
besaran keterhuyungan, kita dapat menyimpulkan seberapa masif partner tak
tampak itu. Jika lebih dari katakanlah 10 massa surya (untuk menjaga segala
kemungkinan supaya aman), maka ia pasti merupakan black hole.
Mendeteksi keterhuyungan itu bukan dengan, sebagaimana mungkin
Anda sangka, mengukur gerak menyamping (gerak mondar-mandir bintang
secara siku-siku terhadap garis pandang kita) tapi dari perubahan panjang
gelombang cahaya yang meninggalkan bintang saat orbitnya membawanya
menuju kita dan saat ia mundur dari kita. Lagi-lagi ini merupakan efek Doppler.
Panjang gelombang cahaya termampatkan (ke ujung spektrum biru) saat
bintang bergerak menuju kita dan teregangkan (ke ujung merah panjang
gelombang lebih panjang) saat ia menjauh. Tak peduli ke arah mana pun sistem
biner bergerak sebab perubahan panjang gelombanglah yang kita perlukan.
Dari laju perubahan panjang gelombang ini, plus beberapa keping informasi
lain, kita bisa simpulkan periode orbit dan karenanya massa partner tak tampak.
Semua ini terdengar cerdas secara teori, tapi prakteknya ternyata tidak
begitu sederhana. Ada alasan lain mengapa kita hanya akan melihat salah satu
116
bintang dalam sistem biner. Penjelasan paling sederhana adalah jika bintang
lain terlampau kecil dan redup dan karenanya kalah cerlang dari rekannya
yang lebih besar dan terang. Mungkin partner tak tampak itu adalah white
dwarf atau bahkan bintang neutron. Yang diperlukan adalah bukti bahwa ia
memiliki massa di atas harga kritis untuk sebuah black hole (katakanlah lima
atau sepuluh kali massa Matahari). Namun, ini pun bukan bukti bahwa ia
merupakan black hole. Igor Novikov mengatakan berikut: “’ketidaktampakan’
adalah bukti jelek eksistensi sesuatu”, dan dia mengutip lelucon tua mengenai
judul riset tesis: ‘Ketiadaan tiang dan kabel telegraf di situs-situs penggalian
arkeologis sebagai bukti perkembangan komunikasi radio di peradaban kuno’.
Akhirnya yang mengkonfirmasi keberadaan black hole di antara sistem
bintang biner adalah sesuatu yang sudah kita singgung. Jika kedua rekan itu
(bintang yang masih bersinar dan kandidat black hole yang tak tampak) cukup
berdekatan maka medan gravitasi black hole yang luar biasa akan lambat-
laun menghisap gas dari selubung luar si bintang. Gas ini akan memilin masuk
menuju horizon peristiwa dan memanas sepanjang waktu seraya mencepat
dan membentuk apa yang dikenal sebagai cakram akresi di sekeliling black
hole. Materi di cakram ini begitu panas sehingga, sebelum jatuh masuk, gas
akan mengeluarkan sinyal jelas emisi sinar X yang kuat, yang merupakan
semburan radiasi elektromagnetik high energy. Emisi itu akan berbeda secara
tak kentara dari emisi sinar X yang dihasilkan oleh beberapa pulsar (bintang
neutron berputar) akibat rotasi cepatnya, sebab dalam kasus cakram akresi
black hole pewaktuan semburannya acak. Pulsar sinar X mengeluarkan
sinyalnya dengan interval tetap seraya berputar, sedikit mirip lampu sorot luar
ruangan.
Apakah sistem biner sinar X semacam itu eksis? Jawabannya ya. Contoh
paling sederhana ialah sistem yang akhirnya, dan dengan enggan (lantaran
taruhan yang dia jalani dengan Kip Thorne), diakui oleh Stephen Hawking
bahwa pasti mengandung black hole. Sistem ini disebut Cygnus X-1 dan berjarak
sekitar 6000 tahun-cahaya dari Bumi, tapi berada di Galaksi kita. Bintang rekan
yang tampak ialah bintang raksasa bermassa sekitar 30 kali massa Matahari
(disimpulkan dengan mempelajari cahaya yang dikeluarkannya). Dengan
mempelajari caranya terhuyung (dari pergeseran periodik Doppler-nya), massa
partner tak tampaknya telah ditetapkan sekitar 10 massa surya.29 Potongan
29 Kita
tak yakin soal estimasi ini dan masih ada kesempatan kecil bahwa ia mungkin merupakan
bintang neutron masif jika berada pada batas massa lebih rendah.
117
terakhir dalam jigsaw ini datang dari periode emisi sinar X dengan frekuensi
beberapa ratus kali per detik dari cakram akresi dan memberitahu kita
seberapa cepat gas mengorbit black hole. Karena tak ada yang bisa berjalan
lebih cepat daripada cahaya, periode ini memberi kita ukuran maksimum orbit
dan mengindikasikan bahwa black hole pasti jauh lebih kecil daripada Bumi,
dan pemerasan 10 massa surya menjadi volume sedemikian kecil berarti itu
pasti black hole. Hukum fisika menyatakan bahwa tak mungkin yang lain.
Ada beberapa kandidat lain untuk black hole dalam sistem biner sinar
X di Galaksi kita dan galaksi dekat. Diperkirakan bahwa Galaksi kita sendiri
barangkali mengandung jutaan black hole!
Yang telah saya bahas sejauh ini ialah black hole lumrah yang terbentuk
saat bintang masif kolaps akibat bobotnya sendiri. Ada tipe black hole lain yang,
sedikit-banyak, lebih mengesankan lagi. Penemuan besar lain dalam astronomi
pada 1960-an adalah quasar (singkatan dari quasi-stellar radio source). Yang
dimaksud dengan quasi-stellar adalah bahwa ia dianggap mirip dengan bintang
dalam artian mereka lebih terlihat sebagai objek mirip titik daripada gumpalan
luas cahaya seperti galaksi atau nebula. Ia juga mengeluarkan radiasi kuat
dalam pita frekuensi radio—dan bukan lantaran ia mengandung stasiun radio
sendiri sebagaimana saya sangkakan sebagai anak kecil dahulu saat pertama
kali membaca tentangnya. Hari ini, hanya sebagian kecil dari semua quasar
yang ditemukan merupakan sumber radio, tapi nama itu telah melekat. Yang
lebih penting, ternyata quasar tidak sekecil bintang. Mereka juga merupakan
objek paling jauh di Alam Semesta Tampak dan beberapa berjarak lebih dari
sepuluh miliar tahun cahaya (artinya cahayanya meninggalkan mereka saat
Alam Semesta berusia sangat muda). Objek sedemikian jauh bersinar secerlang
itu berarti mereka pasti luar biasa energetik. Nyatanya quasar kini dianggap
sebagai galaksi muda ‘aktif’ dengan sebagian besar energi (sekitar seribu kali
lebih banyak daripada output energi dari semua bintang di Galaksi kita) berasal
dari inti pusat yang amat kecil. Inti ini mengandung apa yang dikenal sebagai
black hole supermasif. Tipikalnya, black hole semacam itu memiliki massa
jutaan kali lebih besar daripada Matahari.
Sejak penemuan bahwa quasar menyembunyikan black hole raksasa di
dalamnya, ditemukan bahwa banyak galaksi besar barangkali mengalami fase
quasar sebelum menetap. Sekalipun tidak, galaksi-galaksi itu boleh jadi masih
mengandung black hole supermasif di pusatnya. Ini terbentuk dari akumulasi
banyak gas bintang di pusat-pusat galaksi yang padat. Black hole Andromeda
118
kira-kira 30 juta massa surya dengan radius menjulur hingga seukuran tata
surya kita. Black hole Galaksi kita sendiri lebih kecil dengan ukuran estimasi
beberapa juta massa surya saja. Sekali sebuah black hole supermasif
terbentuk, ia lambat-laun akan memakan bintang-bintang sekelilingnya dan
tumbuh membesar.

Bagaimanapun tidak begitu hitam


Dua puluh lima tahun silam Stephen Hawking menemukan bahwa black hole
tak hitam sama sekali, sebagaimana dipandang dari luar. Dia menyadari bahwa
sebuah proses quantum yang dikenal sebagai pair creation (pembentukan
pasangan) dapat menyebabkan black hole membocorkan energinya secara
sangat lambat ke angkasa raya. Seraya melakukan ini, ukurannya akan
berangsur menyusut sampai akhirnya meledak dan tak menyisakan apapun.
Karenanya tak benar jika mengatakan bahwa sesuatu yang jatuh ke dalam
black hole takkan pernah keluar lagi. Pada akhirnya ia akan terpancarkan
keluar sebagai partikel-partikel kecil selama periode yang, praktisnya, bisa
dianggap memakan waktu selama-lamanya!
Proses ini disebut radiasi Hawking dan perlu sedikit dijelaskan.
Di dunia subatom, dua partikel, seperti elektron dan partikel
antimaterinya30 (disebut positron), dapat secara spontan muncul dari kenihilan
sama sekali. Mekanika quantum menyatakan ini diperbolehkan sepanjang
kedua partikel berekombinasi sangat cepat dalam sebuah proses yang disebut
pair annihiliation (pemusnahan pasangan), guna mengembalikan energi yang
mereka perlukan untuk terbentuk. Saya tahu ini tak masuk akal. Nyatanya,
ini tidak boleh masuk akal, tapi banyak hal aneh bisa dan memang terjadi di
dunia mekanika quantum. Anda mungkin bertanya dari mana energi untuk
menciptakan partikel-partikel tersebut berasal. Jawabannya adalah bahwa
energi bisa ‘dipinjam entah dari mana’ dan harus dikembalikan ‘entah ke
mana’ dengan segera sebab alam tidak senang berhutang lama. Hawking
menyadari bahwa ketika sepasang partikel terbentuk sangat dekat dengan

30 Terdapat miskonsepsi umum bahwa antipartikel memiliki massa negatif sehingga


menghapuskan massa positif partikel. Tidak demikian. Antimateri memiliki jenis massa yang
sama, dan dipengaruhi oleh gravitasi dengan cara yang sama, sebagaimana materi normal. Kata
‘anti’ berkaitan dengan partikel-partikel yang memiliki muatan listrik berlawanan (ditambah
beberapa perbedaan lain). Jadi karena elektron bermuatan negatif, positron adalah positif. Selain
dari itu mereka identik dalam segala hal terlepas dari fakta bahwa Alam Semesta kebanyakan
mengandung elektron.
119
horizon peristiwa black hole, boleh jadi partikel atau antipartikelnya jatuh ke
dalam black hole sedangkan yang lainnya mampu meloloskan diri. Karena
tak dapat lagi saling memusnahkan bersama rekannya, ia diperbolehkan,
seperti Pinocchio, menjadi elektron atau positron hidup yang riil. Energi yang
disimpannya dan tak harus dibayar berasal dari black hole itu sendiri.
Radiasi Hawking pasti berlangsung sepanjang waktu persis di luar
horizon black hole, tapi hanya dalam sedikit kasus salah satu partikel akan
lolos. Kebanyakan, keduanya akan jatuh ke dalam black hole. Alasan mengapa
salah satu partikel bisa lolos adalah akibat gaya tidal: partikel yang agak lebih
dekat dengan horizon tertarik secara jauh lebih kuat menujunya.
Untuk black hole berukuran normal, proses ini bisa diabaikan sama
sekali sebab jauh lebih banyak partikel akan terhisap masuk dari angkasa
sekitar horizon ketimbang lepas lewat radiasi Hawking. Efek tersebut hanya
menjadi cukup signifikan ketika black hole telah menyusut hingga ukuran
mikroskopis (setelah waktu yang jauh lebih panjang daripada umur Alam
Semesta) saat kawasan di luar horizonnya memanas dan radiasi menguat.
Penyusutan black hole ini akibat ia mematuhi persamaan terkenal Einstein, E =
mc2, yang menyatakan bahwa massa (m) dan energi (E) dapat dipertukarkan
dan yang satu dapat dikonversi menjadi yang lain. Proses ini terjadi dua kali di
sini. Pertama, partikel yang lolos telah dianugerahi massa (zat tertentu) yang
diubah dari energi murni yang diekstrak dari black hole. Lalu, black hole sendiri,
setelah kehilangan energi ini dengan bertanggungjawab atas pembentukan
sebuah partikel, harus menghasilkan energi dengan menyerahkan sebagian
kecil massanya. Dipandang dari jauh, kita akan mengatakan bahwa black hole
meludahkan sebuah partikel. Horizon peristiwanya terlihat panas akibat radiasi
partikel-partikel ini. Tapi hanya di sekitar black hole yang amat kecil proses ini
tidak dapat diabaikan.
Dinyatakan bahwa black hole mini semacam itu mungkin betul-betul
eksis. Mereka mungkin terbentuk tepat setelah Big Bang dan beberapanya
mungkin masih ada hari ini. Sebagai contoh, jika Gunung Everest bisa diperas
hingga seukuran sebuah atom, ia akan berubah menjadi black hole mini
demikian. Lalu ia akan mengeluarkan radiasi Hawking dengan laju amat tinggi.
Meski begitu, ia sama sekali takkan menguap selama miliaran tahun. Nah,
kebetulan Alam Semesta berumur sekitar 15 miliar tahun, jadi black hole mini
yang terbentuk di Alam Semesta awal dengan massa awal setara Gunung
Everest baru saja menguap sepenuhnya saat ini. Karena mereka mengeluarkan
120
radiasi dengan laju bertambah sambil menyusut ukurannya, mereka mestinya
berakhir dalam ledakan akhir radiasi high energy yang dahsyat. Percaya atau
tidak, astronom sedang mencari-cari semburan radiasi penyingkap rahasia
semacam itu.
Mungkin energi black hole bisa diekstrak secara artifisial juga. Dalam
kasus ini, energi rotasilah yang diperah. Fisikawan matematis asal Inggris, dan
kolaborator lama Hawking, Roger Penrose, telah mengajukan, bahkan sebelum
ide penguapan Hawking, bahwa jika sebuah objek memasuki ergosfer black
hole yang berotasi dan kemudian membelah menjadi dua bagian di mana yang
satu jatuh ke dalam black hole, maka yang satunya lagi bisa terlempar keluar
dengan lebih banyak energi daripada jika masuk. Energi yang diperolehnya itu
berasal dari black hole dan akan sedikit memperlambat rotasi black hole.
Mungkin sebuah peradaban maju yang menemukan black hole dapat
memanfaatkan metode ini untuk mengubahnya menjadi sumber energi.

White hole
Ada solusi tertentu persamaan relativitas umum yang tidak hanya
memperkenankan eksistensi black hole tapi juga objek yang disebut white
hole. Tapi ternyata ini hanya memungkinkan jika Alam Semesta memiliki
atribut tertentu, disebut kondisi awal, pada saat Big Bang. Objek amat
spekulatif ini merupakan kebalikan black hole yang, bukannya menghisap
materi, akan memuntahkan materi dan energi ke Alam Semesta. Singularitas
mereka berbeda pula dan menandai permulaan waktu, bukan akhir waktu.
Tak seperti black hole, belum ada bukti meyakinkan bahwa white hole betul-
betul eksis. Salah satu persoalannya adalah bahwa materi yang meninggalkan
mereka mungkin jatuh masuk kembali dan white hole akan segera diubah
menjadi black hole.
Kini dipercaya bahwa white hole besar tidak eksis di Alam Semesta,
tapi aturan mekanika quantum menyangkut partikel dan antipartikel
mengindikasikan bahwa jika black hole mini eksis pada skala subatom,
maka semestinya demikian pula dengan partner antimaterinya: white hole
mini. Hawking telah menyatakan bahwa, sebagaimana pasangan partikel/
antipartikel dapat muncul selama waktu singkat, semestinya mungkin pula
pasangan black hole/white hole tiba-tiba muncul entah dari mana. Tapi jangan
cemas, mereka akan terlalu kecil untuk berefek terhadap kita.
W A K T U
122

BAB 5
WAKTU BERUBAH

“Waktu merupakan cara alam mencegah segalanya terjadi serentak.”


John A. Wheeler

“Waktu hanyalah barang terkutuk lain.”


Anonim

Seorang warga asing di London: “Tolong, apa itu waktu?”


Warga di jalan: “Itu pertanyaan filsafat. Mengapa tanya saya?”
J.G. Whitrow

Apa itu waktu?

M ARI KITA luruskan satu hal. Apapun yang telah Anda baca atau dengar,
tak ada seorangpun yang paham apa sebetulnya waktu. Sudah ada
begitu banyak yang ditulis mengenai sifat waktu, terutama dalam beberapa
tahun belakangan, sehingga akan sulit dalam buku ini untuk menyumbang
banyak hal orisinil atau belum dibahas di tempat lain. Tapi itu bukan tujuan
saya. Saya tak merasa seolah saya harus menelusuri banyak buku hebat (dan
beberapa kurang hebat) yang mengurusi subjek waktu—walaupun saya telah
membaca dalam jumlah lumayan selama bertahun-tahun—dan kemudian
mencoba menghasilkan suatu ‘sudut pandang’ baru atau argumen cerdas
yang tidak dipakai sebelumnya: teori waktu milik saya. Tentu saja banyak
hal yang telah ditulis tentang waktu adalah omong-kosong sama sekali, tapi
ada banyak yang, meski terdengar seperti omong-kosong saat pertama kali
menjumpainya, betul-betul masuk akal asalkan Anda siap memikirkannya.
Saya menyebutkan di awal buku bahwa subjek waktu telah mempesona
saya saat kecil, dan masih demikian. Saya tak sendirian. Nyatanya barangkali
saya hanyalah salah satu di antara mayoritas orang. Fakta yang menyedihkan
adalah bahwa hari ini saya belum lebih dekat daripada saat berusia 10 tahun
menuju pemahaman tentang apa arti waktu sebetulnya. Saya paham betapa
123
banyak hukum fisika yang memuat waktu secara fundamental, saya telah
mendengar banyak argumen filsafat tentang aliran waktu, arah waktu, apakah
waktu betul-betul ‘ada di luar sana’ atau sekadar ilusi: sebuah konsepsi
imajinasi manusia. Tapi apakah saya lebih tercerahkan, ini bisa diperdebatkan.
Tapi satu hal yang pasti. Seperti banyak teori lain yang telah kita lihat
sejauh ini, teori relativitas Einstein di awal abad ini menggulingkan gagasan
yang lama dan dihargai. Saya akan membahas relativitas waktu di bab
berikutnya. Untuk sekarang saya akan membawa Anda melewati beberapa ide
dalam fisika dan filsafat mengenai sifat waktu, yang sebagian besarnya sudah
ada jauh sebelum Einstein.

Siapa penemu waktu?


Manusia sudah lama menyadari sifat siklus waktu dalam rutinitas malam
mengikuti siang dan berlalunya musim. Kita juga menyadari sifat linier waktu
yang mengalir dari masa lalu menuju masa depan. Peristiwa-peristiwa yang
kini berada di masa lalu kita akan tetap di sana, takkan pernah kembali selain
mundur dan terus mundur.
Di awal sejarah manusia, membagi satu hari ke dalam satuan waktu
yang lebih kecil menjadi kebutuhan. Karena gerakan Matahari di langit—jauh
sebelum diketahui bahwa ini diakibatkan oleh rotasi Bumi—memakan waktu
yang (kurang-lebih) tetap, tidaklah mengherankan salah satu pencatat waktu
terawal ialah jam matahari, ditemukan lebih dari 5000 tahun lalu di Mesir kuno.
Perubahan besar pada jam mekanis terjadi di abad 16 saat Galileo
menemukan bahwa pendulum berpanjang tertentu akan selalu memakan
waktu yang sama untuk menyelesaikan satu ayunan penuh. Tapi baru
pada pertengahan abad 17-lah jam pendulum pertama dibuat. Keakuratan
ini memperkenankan pencatatan waktu yang jauh lebih presisi daripada
sebelumnya, dan jam dibagi ke dalam menit, dan menit ke dalam detik. Hari
ini, pendulum dan pencatat waktu mesin jam lambat-laun digantikan oleh yang
lebih handal lagi. Arloji digital berisi kristal kwarsa kecil yang bervibrasi ribuan
kali per detik ketika listrik dialirkan. Vibrasi ini begitu teratur sehingga Anda
dapat mengeset arloji dengannya. (Maaf!) Dapatkah Anda bayangkan akan
betapa sulitnya hidup kita hari ini dengan segala janji, jadwal, dan tenggat
waktunya seandainya satuan waktu terkecil yang kita miliki adalah jam?
Hari ini, pencatat waktu paling akurat di dunia ialah jam atom yang bisa
mengukur interval waktu dengan presisi luar biasa. Ia bersandar pada fakta
124
bahwa atom-atom tertentu, ketika dipompa dengan energi, memancarkan
cahaya dengan frekuensi presisi yang khas milik tipe atom tersebut. Yang
paling terkenal ialah jam caesium yang kini menetapkan standar waktu dunia.
Walaupun ‘detik’ adalah satuan waktu standar, ia jelas merupakan
temuan manusia. Jika ada makhluk berakal di tempat lain di Alam Semesta,
mereka akan mengukur waktu menggunakan ‘peredaran’ mereka sendiri yang
didapat dari waktu yang dibutuhkan oleh planet mereka untuk menyelesaikan
satu revolusi atau satu orbit mengelilingi matahari mereka. Hingga dewasa ini,
‘detik’ kita ditetapkan 1/60 dari 1/60 dari 1/24 dari waktu yang dihabiskan
Bumi untuk menyelesaikan satu revolusi pada porosnya (yakni satu hari).
Beginilah satu detik ditetapkan, tak lebih. Hari ini, kita begitu terobsesi
dengan waktu sehingga definisi ini tak lagi memadai. Anda paham, ada
persoalan. Ternyata Bumi sedang melambat. Tak cukup kentara, cuma satu
detik setiap beberapa tahun, tapi ini cukup untuk mengandung arti bahwa, di
dunia high tech kita, kita perlu cara lain dalam mengukur waktu. Jadi, karena
semua atom caesium selalu memancarkan cahaya yang memiliki frekuensi
9.192.631.770 putaran per detik, ilmuwan menyimpulkan akan membalik
pernyataan dan mengatakan bahwa satu detik ditetapkan sebagai interval
waktu yang diperlukan oleh cahaya dari atom-atom caesium untuk berosilasi
9.192.631.770 kali. Ini disebut co-ordinated universal time (UTC). Karenanya
durasi satu hari menurut UTC adalah 24 x 60 x 60 x 9.192.631.770 vibrasi atom
caesium. Ini artinya setiap beberapa tahun kita harus menambahkan detik
kabisat untuk memperhitungkan pelambatan putaran Bumi supaya definisi
waktu yang baru tidak menyimpang dari definisi lama.
Bagaimana tentang waktu sebagai konsep, ketimbang cara kita
manusia mengukurnya? Sampai Isaac Newton menyelesaikan karyanya
mengenai hukum gerak, waktu dianggap sebagai domain filsafat ketimbang
sains. Namun, Newton menggambarkan secara matematis bagaimana objek-
objek bergerak akibat pengaruh gaya, dan karena semua pergerakan dan
perubahan memerlukan gagasan waktu untuk membuatnya masuk akal, dia
menggunakan apa yang dikenal sebagai pandangan waktu realis. Pandangan
‘akal sehat’ ini masih bersama kita hari ini, terlepas dari fakta bahwa kita tahu
itu keliru sebagaimana akan kita simak di bab berikutnya.
Waktu Newtonian adalah absolut dan konstan. Dia menggambarkannya
sebagai medium yang eksis sepenuhnya di ruang luarnya sendiri dan bebas
dari semua proses yang terjadi di dalam ruang. Menurut pandangan ini, waktu
125
dikatakan mengalir dengan laju konstan seolah ada jam kosmik imajiner yang
menandai detik, jam, dan tahun tanpa menghiraukan perasaan subjektif kita
mengenai perlaluannya. Menurut Newton, waktu adalah absolut, nyata, dan
matematis. Kita tak punya pengaruh terhadap laju alirannya dan tidak bisa
membuatnya mencepat atau melambat. Kita juga tahu terkadang betapa tak
handalnya kita dalam menilai interval waktu. Bayangkan Anda tertidur dalam
perjalanan kereta yang normalnya memakan waktu satu jam, lalu Anda
terbangun dan merasa bahwa itu hanya berlalu sekitar 10 menit. Saat Anda
mengecek arloji Anda, Anda melihat bahwa sekarang sudah sejam kemudian,
dan ini dikonfirmasikan ketika Anda memandang jendela untuk melihat
bahwa Anda sudah dekat dengan tempat tujuan. Tentu bisa saja arloji Anda
mengalami malfungsi dan kereta melaju sangat cepat selagi Anda tertidur
selama 10 menit saja, tapi ini amat tidak mungkin sebab kita tahu betapa
tak handalnya pencatatan waktu subjektif manusia. Kita semua mempunyai
perasaan mendalam bahwa waktu Newtonian betul-betul ada ‘di luar sana’
dan mengalir dengan laju yang sama di setiap tempat di Alam Semesta.
Semua agama besar dunia mengatakan sesuatu tentang sifat waktu.
Agama-agama monotheis meyakini Tuhan Yang Maha Kuasa Yang menciptakan
Alam Semesta dan Yang eksis di luar ruang dan waktu kita. Dia Maha Tahu,
dalam arti bahwa Dia tak hanya mengetahui masa lalu tapi juga masa depan,
dan Dia Ada Di mana-mana, yakni berada di semua tempat di semua waktu.
Karenanya satu Tuhan Kekal Yang eksis di luar Alam Semesta kita tidak
bertentangan dengan gagasan fisika modern mengenai Alam Semesta (yang
mencakup ruang dan waktu) yang muncul saat Big Bang.
Namun yang menjadi topik utama perdebatan di kalangan ilmuwan,
filsuf, dan teolog, adalah peran Tuhan di alam semesta deterministis mesin jam
ala Newton. Menurut pandangan mekanistis yang diberikan oleh hukum gerak
Newton mengenai Alam Semesta, adalah mungkin, setidaknya secara prinsip,
untuk mengetahui posisi dan kecepatan setiap partikel di Alam Semesta.
Karena setiap partikel akan mengikuti trayektori yang terumuskan dengan baik
dan berada di bawah pengaruh gaya-gaya yang, lagi-lagi secara prinsip, bisa
dirumuskan dengan baik, adalah mungkin untuk mengetahui posisi mereka di
suatu waktu mendatang dan karenanya mengetahui status Alam Semesta di
masa depan. Karenanya masa depan telah dipetakan dan ditetapkan.
Pandangan reduksionis semacam itu mengenai dunia mungkin terlihat
tidak menyisakan ruang bagi kehendak bebas manusia. Karena kita pun terbuat
126
dari atom, kita tunduk pada hukum fisika yang sama sebagaimana objek lain;
kalau begitu apa yang kita anggap sebagai kehendak bebas tidaklah lebih dari
proses-proses mekanis di otak yang mematuhi hukum Newton sebagaimana
hal lainnya.
Prakteknya, tentu saja kita tak mampu mengkalkulasi posisi mendatang
beberapa bola di meja biliar setelah mereka dipencarkan oleh bola kiu, apalagi
posisi mendatang semua partikel di Alam Semesta. Tapi, menurut pandangan
‘deterministis’ ini, mestinya memungkinkan secara prinsip untuk melakukannya,
asalkan kita punya komputer yang cukup canggih. Komputer semacam itu
harus menjalankan sebuah program berkompleksitas sedemikian menakjubkan
sehingga akan memuat jauh lebih banyak variabel tak diketahui daripada
jumlah partikel di Alam Semesta. Ini karena setiap partikel perlu (sekurangnya)
6 bilangan untuk menetapkan statusnya pada waktu tertentu: tiga bilangan
yang memberitahu kita keberadaannya di ruang 3D dan tiga bilangan lain untuk
memberitahu kita seberapa cepat ia bergerak dan ke arah mana.
Menurut penaksiran, kita takkan memerlukan semua informasi ini sebab
sebuah atom di sebuah galaksi jauh tidak akan mempengaruhi sesuatu di
Bumi, tapi sekalipun kita membatasi diri pada atom-atom di Bumi, kita masih
berurusan dengan bilangan yang sangat mengesankan. Bagaimanapun juga,
ada lebih banyak atom dalam satu gelas air daripada jumlah bergelas-gelas air
di seluruh lautan di dunia.
Meski begitu, saya menekankan bahwa, sepanjang jumlah partikel
yang kita hadapi tidak tak terhingga, kita dapat mempertimbangkan sebuah
komputer imajiner yang bisa mengkalkulasi posisi mendatang semua partikel
di Alam Semesta jika si komputer tahu apa yang sedang mereka lakukan
kini. Dan mengetahui masa depan mengimplikasikan mengetahui apa yang
selanjutnya akan dilakukan semua benda. Pengetahuan semacam itu mestinya
mencakup tentang manusia pula sebab kita semua hanya terbuat dari atom.
Hari ini fisikawan tak lagi menganut ide alam semesta deterministis ini.
Cara berpikir tersebut terguling ketika teori mekanika quantum dikembangkan
pada pertengahan 1920-an yang menunjukkan bahwa, pada level paling
fundamentalnya, alam bersifat acak dan tak bisa diprediksi.31 Terlepas dari ini,
31 Saya sadar bahwa penggunaan kata ‘tak bisa diprediksi’ di sini menyesatkan. Mekanika
quantum cuma tak bisa diprediksi sebagaimana lemparan koin tak bisa diprediksi.
Bagaimanapun, jika Anda melempar sebuah koin 100 kali maka kurang-lebih separuh hasilnya
adalah sisi depan dan separuhnya lagi adalah sisi belakang. Jadi ada aturan statistik pasti yang
berlaku untuk percobaan berjumlah banyak. Mekanika quantum bisa dipikirkan dengan cara ini.
127
banyak fisikawan percaya bahwa masa depan memang sudah ada di luar sana,
bukan lantaran gambaran alam semesta mesin jam Newtonian, tapi karena ini
merupakan hasil dari cara teori relativitas menyatukan waktu dengan ruang.
Ide bahwa masa depan telah eksis melampaui pandangan Newtonian, yang
hanya mengklaim bahwa masa depan dapat diprediksi.
Adapun sifat waktu, tidak semua orang merasa senang dengan
pandangan realis Newton tentang waktu absolut eksternal, bahkan sebelum
dua revolusi sains abad 20 dalam fisika modern, yaitu teori relativitas dan
mekanika quantum. Ilmuwan, filsuf, dan teolog sudah lama memperdebatkan
beberapa isu yang akan saya bahas singkat di sini. Isu itu menyangkut tiga
konsep: awal-mula waktu, aliran waktu, dan arah waktu.

Momen pertama
Pertama-tama saya akan secara singkat mengurus pertanyaan awal-mula
waktu. Sebagian besar agama zaman sekarang mengajarkan momen
penciptaan ketika Alam Semesta muncul. Mereka mungkin berbeda satu
sama lain dalam hal ‘bagaimana’, ‘mengapa’, dan ‘kapan’-nya, tapi ide
dasarnya sama. Sebagaimana kita simak di Bab 3, kebanyakan fisikawan
(yang beberapanya sangat taat agama) kini juga percaya Alam Semesta
berawal pada momen tertentu, sekitar 15 miliar tahun silam. Tapi bisakah kita
mengatakan bahwa Big Bang ‘terjadi’ pada suatu momen waktu tertentu?
Persoalannya adalah bahwa waktu sendiri dianggap bermula saat Big
Bang dan merupakan bagian struktur Alam Semesta. Big Bang bahkan tidak
bisa dianggap sebagai ‘peristiwa pertama’ sebab mensyaratkan bahwa ini
terjadi di dalam waktu. Ide ini bukan khas milik sains, dan banyak agama
mengajarkan adanya satu Pencipta Yang eksis di luar waktu, menjadikan-Nya
bebas menciptakan waktu itu sendiri.
Fisikawan kini sedang mencoba memahami mengapa Big Bang terjadi.
Apa yang menyebabkannya? Sayangnya, sebab dan akibat adalah gagasan
yang mensyaratkan waktu, dan karena Big Bang menandai permulaan waktu
kita tak bisa mengatakan bahwa sesuatu ‘sebelum’-nya telah menyebabkannya
terjadi. Itu ‘terjadi’ saja.
Dan seolah ini tak cukup, ingat bahwa untuk memahami dunia amat
kecil kita harus menerapkan ide dan konsep yang timbul dari teori mekanika
quantum, dan Anda tidak bisa jauh lebih kecil daripada singularitas. Karenanya,
singularitas Big Bang harus diperlakukan sebagai ‘peristiwa’ quantum.
128
Fisikawan masih harus menyortir banyak detil tapi beragumen bahwa, di dunia
quantum, segalanya tak jelas dan tak pasti, bahkan urutan peristiwa. Yang
cukup aneh (atau cukup menyenangkan, tergantung sudut pandang Anda),
mekanika quantum membolehkan sesuatu terjadi tanpa sebab, termasuk Big
Bang itu sendiri.
Satu penjelasan yang gemar dipakai fisikawan untuk menggambarkan
bagaimana Alam Semesta muncul adalah bahwa aturan mekanika quantum
telah memperkenankan Big Bang terjadi dengan pemahaman bahwa Alam
Semesta mesti cepat-cepat ‘lenyap’ lagi. Atas alasan yang belum kita pahami
sepenuhnya, yang terjadi selanjutnya adalah Alam Semesta segera mengalami
periode singkat perluasan pesat yang kemudian itu menjadi perlengkapan
permanen, masih mengembang tapi dengan laju lebih tenang.
Lantas jika bukan Big Bang, apa peristiwa pertama di Alam Semesta
yang kini tercipta? Fisikawan dan penulis Paul Davies, yang telah menyelidiki
sifat waktu sedalam orang lain, menjelaskan bahwa bahkan tidak boleh ada
peristiwa pertama. Dia menyamakannya dengan menanyakan apa bilangan
pertama setelah nol. Kita harus mempertimbangkan semua bilangan dan
bukan hanya bilangan bulat, kalau tidak, bilangan pertama setelah ‘nol’ adalah
‘satu’. Tak peduli seberapa kecil bilangan yang kita pilih, kita selalu dapat
membagi dua untuk memperoleh bilangan yang lebih kecil. Demikian halnya,
tak ada peristiwa pertama setelah Big Bang. Seberapa awal pun peristiwa itu,
selalu akan ada waktu lebih awal yang lebih dekat dengan Big Bang untuk
dipertimbangkan.
Namun, segera setelah mekanika quantum dibawa masuk ke dalam
perdebatan, kita menemukan bahwa memang ada ‘waktu terawal’ setelah Big
Bang. Pada skala panjang dan waktu terkecil, segalanya jadi membutir dan tak
jelas, termasuk waktu itu sendiri. Sebagaimana konsep urutan peristiwa yang
tak lagi berlaku pada ekstrim ini, begitu pula dengan ide waktu continuous.
Pada skala ini, sebuah interval yang dikenal sebagai waktu Planck bisa
dianggap sebagai irisan waktu bermakna yang terpendek. Tentu saja kita tidak
menyadari penyimpangan dari aliran lembut waktu semacam itu sebab skala
Planck begitu kecil. Nyatanya, dan sulit dipercaya, ada lebih banyak satuan
waktu Planck dalam satu detik daripada jumlah detik sejak Big Bang. Anyway,
poinnya adalah bahwa jika Anda pergi ke masa lalu menuju satu satuan waktu
Planck setelah Big Bang, tak masuk akal untuk bertanya apa yang terjadi
sebelumnya.
129
Apakah waktu mengalir?
Banyak filsuf berargumen bahwa waktu merupakan sebuah ilusi. Pikirkan ini:
waktu terdiri dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sungguhpun kita
mempunyai rekaman masa lalu dan ingatan tentang peristiwa tertentu yang
telah terjadi, itu tak bisa lagi dianggap eksis. Masa depan, di sisi lain, masih
harus dihamparkan dan karenanya tidak eksis pula. Ini menyisakan masa kini,
yang ditetapkan sebagai garis pemisah antara masa lalu dan masa depan.
Tentu saja ‘di sini dan kini’ eksis. Tapi walaupun kita ‘merasa’ bahwa garis ini
terus menyusuri waktu, melahap masa depan dan mengubahnya menjadi
masa lalu, ia hanyalah garis dan tidak memiliki suatu ketebalan. Karenanya,
masa kini berdurasi nol dan tak bisa memiliki eksistensi riil pula. Dan jika ketiga
komponen waktu tersebut tidak eksis, maka waktu itu sendiri merupakan ilusi!
Anda mungkin, sebagaimana saya, tak menerima sepenuhnya argumen
filsafat secerdas itu. Namun yang jauh lebih sulit dibenarkan adalah gagasan
bahwa waktu ‘mengalir’; bahwa waktu berlalu. Sulit menyangkal perasaan
bahwa inilah yang terjadi, tapi memiliki perasaan ‘mendalam’ mengenai
sesuatu, betapapun kuatnya perasaan itu, tidaklah memadai dalam sains.
Dalam bahasa keseharian kita, kita mengatakan bahwa ‘waktu berlalu’,
‘waktunya akan tiba’, ‘momen itu telah pergi’, dan sebagainya. Tapi jika Anda
memikirkannya, semua gerak dan perubahan harus, secara definisi, dinilai
berdasarkan waktu. Beginilah kita mendefinisikan perubahan. Ketika kita
ingin menggambarkan laju proses tertentu, kita menghitung jumlah peristiwa
dalam satuan waktu, seperti jumlah denyut jantung per menit, atau besaran
perubahan dalam satuan waktu, seperti berapa banyak berat bayi telah
bertambah dalam satu bulan. Tapi menjadi omong-kosong jika mencoba
mengukur laju perubahan waktu sebab kita tidak bisa membandingkannya
dengan dirinya sendiri. Orang-orang sering berkelakar bahwa waktu mengalir
pada laju satu detik per detik. Ini jelas pernyataan tak bermakna sebab kita
memakai waktu untuk mengukur dirinya sendiri. Untuk mengklarifikasi ini,
bagaimana kita tahu seandainya waktu mendadak mencepat? Karena kita eksis
di dalam waktu dan mengukur durasi interval waktu memakai jam yang, seperti
jam internal biologis kita, kiranya pasti mencepat pula, kita takkan pernah
menyadarinya. Satu-satunya cara untuk membicarakan aliran waktu (kita) ialah
menilainya berdasarkan suatu waktu eksternal yang lebih fundamental.
Tapi jika sebuah waktu eksternal untuk mengukur laju aliran waktu kita
memang eksis, kita hanya akan memperparah masalah bukan memecahkannya.
130
Tentu saja jika waktu pada dasarnya mengalir, lalu mengapa waktu eksternal
ini tak boleh mengalir juga? Dalam hal ini kita kembali ke persoalan kebutuhan
akan skala waktu yang lebih fundamental lagi untuk mengukur laju aliran
waktu eksternal tersebut, dan begitu seterusnya dalam hirarki tanpa akhir.
Hanya karena kita tak mampu membicarakan laju aliran waktu bukanlah
berarti waktu tidak mengalir sama sekali. Atau mungkin waktu diam selagi kita
(kesadaran kita) bergerak sepanjangnya (kita bergerak menuju masa depan,
bukan masa depan mendatangi kita). Saat Anda memandang keluar jendela
kereta yang berjalan dan mengamati ladang-ladang yang berlalu cepat,
Anda ‘tahu’ bahwa mereka diam dan keretalah yang bergerak. Demikian
halnya, kita memiliki kesan subjektif kuat bahwa momen masa kini (yang
kita sebut ‘sekarang’) dan sebuah peristiwa di masa depan kita (katakanlah
Natal berikutnya) saling mendekat. Interval waktu yang memisahkan kedua
momen tersebut menyusut. Entah kita mengatakan bahwa Natal berikutnya
mendekati kita ataupun kita mendekati Natal berikutnya, maknanya sama saja:
kita merasa bahwa sesuatu sedang berubah. Lantas bagaimana kebanyakan
fisikawan sampai berargumen bahwa ide ini pun tidak valid?
Mungkin terdengar aneh, hukum fisika tak mengatakan apapun tentang
aliran waktu. Ia memberitahu kita bagaimana segala sesuatu seperti atom,
katrol, pengungkit, jam, roket, dan bintang berperilaku saat terkena gaya
berbeda pada jenak waktu tertentu, dan jika diberi status sebuah sistem pada
momen tertentu, hukum fisika menyediakan kita aturan untuk mengkomputasi
kemungkinan statusnya pada suatu waktu mendatang. Namun, ia sama sekali
tak memuat petunjuk tentang waktu mengalir. Gagasan bahwa waktu berlalu,
atau bergerak dengan suatu cara, sama sekali absen dalam fisika. Kita merasa
bahwa, seperti ruang, waktu eksis saja; ia begitu adanya. Jelas, kata sebagian
besar fisikawan, perasaan yang kita miliki bahwa waktu mengalir cuma itu:
cuma perasaan, betapapun riilnya ia terasa oleh kita.
Yang tak mampu disediakan oleh sains saat ini adalah penjelasan
tentang dari mana perasaan kuat kita mengenai perlaluan waktu dan
perubahan momen kini berasal. Beberapa fisikawan dan filsuf yakin ada
sesuatu yang luput dalam hukum fisika. Saya takkan lebih jauh berkata bahwa
saya menganut pandangan ini, tapi saya sungguh percaya bahwa kita hanya
akan membuat kemajuan bilamana memiliki pemahaman lebih baik tentang
bagaimana kesadaran kita bekerja, dan karenanya mengapa kita merasakan
perlaluan waktu.
131
Saya mesti menyebutkan bahwa tak kurang Einstein sendiri memegang
pandangan bahwa aliran waktu adalah ilusi dan bahkan mengungkapkannya
saat mencoba menghibur janda yang ditinggal mati teman akrabnya,
menyatakan bahwa si janda mesti terhibur oleh pengetahuan bahwa momen
kini tidak lebih istimewa daripada suatu momen lain di masa lalu atau masa
depan; semua waktu eksis bersama-sama.

Sesuatu yang disebut entropi


Sekalipun waktu tak mengalir, kita masih dapat mengatributkan arah padanya,
disebut anak panah waktu. Ini konsep abstrak yang mengandung arti bahwa
kita dapat menetapkan urutan peristiwa. Anak panah waktu menunjuk dari
masa lalu ke masa depan, dari peristiwa terdahulu ke peristiwa terkemudian.
Ini adalah arah waktu kejadian. Di sini penting untuk membedakan antara aliran
waktu dan arah waktu. Bayangkan menatap frame-frame tersendiri pada rol
film. Kita bisa dengan mudah menetapkan anak panah waktu yang menunjuk
ke arah tertentu sepanjang rol berdasarkan frame mana yang lebih dahulu dan
frame mana yang terkemudian. Kita bisa melakukan ini meski faktanya kita
sedang menatap gambar diam peristiwa-peristiwa dan tak ada gerakan dalam
frame-frame tersebut. Masing-masing adalah foto yang terbeku dalam waktu.
Saat tiba pada persoalan arah waktu pun kita harus hati-hati. Kita tak
boleh tertukar antara arah waktu riil (real direction of time) (jika hal semacam
itu eksis) dan perasaan subjektif kita akan arah waktu. Terlebih dahulu izinkan
saya mendefinisikan apa yang barangkali terlihat sebagai arah waktu tampak
(obvious direction of time), dikenal sebagai anak panah psikologis, yakni arah
waktu yang kita persepsikan; fakta bahwa kita mengingat peristiwa di masa
lalu kita dan menatap peristiwa yang masih harus terjadi di masa depan
kita. Seandainya anak panah psikologis waktu Anda tiba-tiba terbalik, akan
terlihat seolah segala sesuatu di sekitar Anda berjalan terbalik. Masa depan
orang lain akan berada di masa lalu Anda dan sebaliknya. Ini jelas begitu
menggelikan sehingga saya takkan membuang waktu lebih banyak lagi untuk
membahasnya dan Anda bisa berhenti berusaha memahaminya. Apakah
memang ada persoalan terkait anak panah waktu? Tentu saja fakta bahwa
kita melihat masa lalu terjadi sebelum masa depan adalah karena masa lalu
memang terjadi sebelum masa depan!
Alasan mengapa saya berhati-hati di sini adalah karena persamaan-
persamaan fisika bahkan tidak menyediakan arah waktu. Waktu dapat mengalir
132
ke belakang dan hukum fisika akan tetap sama. Anda mungkin berargumen
bahwa ini cuma nasib sial untuk fisikawan. Jika arah waktu luput dari
persamaan-persamaan fisika maka mereka tidak bisa memberitahu kita
keseluruhan cerita. Hanya karena mereka tidak bisa melihat arah waktu dari
matematika bukan berarti tak ada satupun arah waktu di dunia riil.
Tapi persoalannya lebih serius dari ini. Di dunia riil pun, pada level atom,
hampir semua proses dapat dibalik dalam waktunya. Jika, dalam sebuah proses
subatom, dua partikel (a dan b) bertemu dan bertubrukan, mereka akan sering
saling melambungkan dan berpisah lagi. Jika Anda menonton rekaman proses
demikian dan kemudian menyaksikannya berjalan terbalik, Anda takkan bisa
memutuskan melalui jalan mana proses tersebut terjadi. Proses pembalikan
waktu masih mematuhi hukum fisika. Saya mesti menguraikan bahwa ini akan
menjadi eksperimen pikiran. Kita betul-betul tak bisa melakukannya sebab tak
ada mikroskop di Bumi yang cukup canggih untuk menganalisa detil hingga
level subatom.
Seringkali terjadi, bukannya partikel a dan b saling melambungkan,
justru dua partikel baru (katakanlah c dan d) dihasilkan dan terbang berpisah.
Lagi, Anda takkan bisa memutuskan urutan peristiwa yang benar jika Anda
menonton rekaman proses ini sebab hukum fisika menyatakan bahwa proses
pembalikan juga mungkin terjadi. Partikel c dan d boleh jadi bertubrukan untuk
menghasilkan partikel a dan b. Karenanya Anda tak dapat mengatributkan
anak panah waktu yang memberitahukan melalui jalan mana proses itu terjadi.
Ini sangat kontras dengan peristiwa yang terjadi di sekeliling kita dalam
kehidupan sehari-hari di mana kita tak punya masalah memutuskan ke arah
mana waktu menunjuk. Contoh, Anda tak pernah melihat asap di atas cerobong
berkumpul di situ dan terhisap rapi ke dalamnya. Demikian halnya, Anda tak
bisa ‘mentidak-aduk’ gula dari secangkir kopi sekali ia telah larut, dan Anda
tak pernah melihat setumpuk abu di perapian ‘batal terbakar’ untuk menjadi
segelondong kayu kembali. Apa yang membedakan peristiwa-peristiwa ini
dari peristiwa subatom? Mengapa sebagian besar fenomena yang kita lihat di
sekitar kita tak pernah bisa terjadi secara terbalik? Tentu segala sesuatu pada
akhirnya terbuat dari atom dan pada level tersebut segalanya bisa dibalik.
Lantas pada tahap apa dalam perubahan dari atom menjadi asap cerobong,
cangkir kopi, dan gelondongan kayu sebuah proses jadi tak bisa dibalik?
Dengan pemeriksaan lebih seksama kita paham bahwa proses-proses di
atas bukannya tak pernah bisa berjalan terbalik, tapi bahwa mereka sangat tak
133
mungkin untuk mengalami itu. Bahwa gula yang telah larut ‘batal larut’ lewat
pengadukan dan menyusun ulang dirinya menjadi sebongkah gula kembali,
itu sepenuhnya sudah ada dalam lingkup hukum fisika. Tapi jika kita melihat
ini terjadi, kita akan mencurigai suatu jenis trik sulap. Dan sudah sepantasnya
demikian, sebab peluang terjadinya begitu kecil sehingga dapat diabaikan.
Mari kita pikirkan contoh yang lebih sederhana menggunakan setumpuk
kartu. Ini lebih sederhana sebab kita berhadapan dengan jumlah komponen
yang jauh lebih sedikit (52 kartu) daripada jumlah molekul gula atau asap atau
kayu dalam contoh-contoh di atas. Dimulai dengan setumpuk kartu yang telah
diurut agar empat rupa kartu dipisahkan dan masing-masing rupa kartu disusun
dalam urutan menaik (dua, tiga, empat,…, joker, ratu, raja, as). Dengan sedikit
mengocok kartu, urutan akan rusak. Sekarang kita bisa bertanya apa yang
terjadi pada urutan kartu dalam pengocokan lebih lanjut? Jawabannya jelas:
kemungkinan besar kartu menjadi lebih kacau lagi untuk kembali ke urutan
awal. Ketidakdapatdibalikkan ini sama dengan kasus bongkahan gula yang larut
sebagian yang dalam pengadukan lebih lanjut selalu meneruskan pelarutan.
Untuk memberi Anda gambaran probabilitas ini, saya beri contoh,
seandainya Anda mengambil tumpukan kartu yang terkocok seluruhnya maka
kemungkinan untuk mendapatkan urutan awal melalui pengocokan lebih lanjut
adalah hampir sama dengan memenangkan jackpot National Lottery Inggris
sembilan kali berturut-turut, bukan cuma satu atau dua kali!
Ini semua sampai pada sebuah hukum penting dalam fisika yang
disebut hukum termodinamika kedua. Subjek termodinamika melibatkan studi
panas/kalor dan hubungannya dengan bentuk-bentuk energi lain. Astronom
Arthur Eddington beranjak lebih jauh dengan mengklaim bahwa hukum kedua
tersebut memegang posisi tertinggi di antara semua hukum alam. Ada tiga
hukum termodinamika lain yang berkaitan dengan bagaimana kalor dan energi
bisa ditransformasikan menjadi satu sama lain, tapi tak ada yang sepenting
hukum kedua. Saya selalu merasa geli, salah satu hukum terpenting dalam
keseluruhan fisika bahkan tidak dapat naik ke nomor satu dalam daftar hukum
termodinamika.
Hukum termodinamika kedua menyatakan bahwa segala sesuatu
mengaus, mendingin, menuju berhenti, menua, dan membusuk. Ia
menjelaskan mengapa gula larut dalam kopi tapi tak pernah ‘batal larut’. Ia
juga menyatakan bahwa sebongkah es dalam segelas air akan meleleh karena
panas selalu pindah dari air yang lebih hangat ke bongkahan es yang lebih
134
dingin dan tak pernah berjalan terbalik. Untuk memahami hukum kedua sedikit
lebih baik, saya harus memperkenalkan kepada Anda sebuah kuantitas yang
disebut entropi. Hukum kedua adalah pernyataan mengenai peningkatan
entropi. Di sebuah sistem terisolasi, entropi akan tetap sama atau meningkat,
tapi tak pernah bisa menurun.
Entropi adalah kuantitas yang sedikit sulit didefinisikan secara tepat
sehingga saya akan melakukan dalam dua cara:
1. Entropi adalah ukuran ketidakteraturan di sebuah sistem; seberapa kacau
keadaannya. Tumpukan kartu terurut yang digambarkan tadi dikatakan
memiliki entropi rendah. Dengan mengocok tumpukan, kita sedang
merusak urutan awal mereka, dan meningkatkan entropi. Saat kartu kacau
seluruhnya, entropi tumpukan dikatakan berada pada level tertingginya dan
pengocokan lebih lanjut tidak bisa mencampur mereka lebih jauh lagi.32
2. Entropi bisa pula dianggap sebagai ukuran kemampuan sesuatu
untuk melakukan kerja (kerja yang saya maksud adalah kemungkinan
mengekstrak energi berguna darinya, bukan kerja dalam makna biasa).
Baterai berisi penuh mempunyai entropi rendah yang meningkat selagi ia
digunakan. Mainan mesin jam, ketika diputar, memiliki entropi rendah yang
meningkat seraya ia menuju berhenti. Setelah ia berhenti sepenuhnya,
kita bisa mengeset ulang entropinya ke harga rendah dengan memutarnya
kembali. Hukum kedua tidak dilanggar di sini sebab sistem (mainan mesin
jam) tak lagi terisolasi dari lingkungannya (kita). Entropi mainan menurun,
tapi kita ‘melakukan kerja’ untuk memutarnya dan entropi kita meningkat.
Secara keseluruhan, entropi mainan + kita meningkat.
Agak sulit menyediakan contoh entropi yang mencakupi kedua definisi di
atas: definisi peningkatan ketidakteraturan dan kemampuan melakukan kerja.
Namun, satu contoh peningkatan entropi yang tak terelakkan adalah kamar
anak-anak saya. Sebelum mereka kembali dari sekolah di sore hari, kamar
mereka rapi dan dikatakan berada dalam status entropi rendah. Sekali mereka
pulang dan bermain di balik pintu kamar tertutup, terdapat kenaikan entropi
amat pesat. Balok lego, mobil-mobilan, boneka, beruang teddy, perlengkapan
teh dari plastik, dan aneka makanan plastik, semuanya dikeluarkan dari kotak
penyimpanan dan ditebarkan sembarangan di seluruh lantai. Satu-satunya
cara untuk mengembalikan kamar ke status entropi rendah awal adalah
32 Tentu
saja pengocokan lebih lanjut akan mengacaukan kartu dengan cara lain, tapi kita takkan
bisa mengatakan bahwa mereka jadi lebih kacau.
135
‘menerapkan kerja eksternal pada sistem’ (biasanya dalam wujud ibu mereka).
Akan bertentangan dengan hukum fisika (atau yang dikenal sebagai hukum
Al-Khalilis kedua) jika anak-anak memasuki kamar berentropi tinggi dan, tanpa
kerja eksternal (misalnya ancaman verbal), menurunkan entropinya.
Contoh lain peningkatan entropi ialah asap rokok di kantin perpustakaan
universitas saya (pengungsian terakhir bagi perokok di kampus). Ketika
sebatang rokok dinyalakan di area merokok, entropi dikatakan rendah
sebab asapnya terbatas pada volume kecil kantin itu. Tapi berkat hukum
termodinamika kedua, kita semua segera berbagi asap. Hukum termodinamika
kedua menyatakan bahwa Anda tak pernah menyaksikan asap yang tersebar
merata di seantero kantin berkumpul kembali di suatu pojok.
Kita terkadang melihat contoh di mana seolah entropi menurun.
Misal, jam tangan merupakan sistem yang amat teratur dan kompleks yang
dihasilkan dari sekumpulan potongan logam. Tentu ini melanggar hukum
kedua. Nyatanya ini hanyalah contoh mainan mesin jam dalam versi lebih
rumit. Si pembuat jam telah mengerahkan sejumlah upaya untuk membuat
jam, sedikit meningkatkan entropinya sendiri. Selain itu, peleburan bijih dan
pengolahan logam yang dibutuhkan telah menghasilkan panas buangan dalam
jumlah tertentu yang lebih dari cukup untuk menutupi penurunan kecil entropi
akibat pembuatan jam.
Jika kita merasa seolah entropi menurun, kita selalu menemukan
bahwa faktanya sistem itu tak terisolasi dari sekitarnya dan bahwa, dengan
memandang gambaran yang lebih luas, entropi akan selalu lebih tinggi
daripada sebelumnya. Kita bisa memandang banyak proses yang terjadi di
Bumi, dari evolusi kehidupan sampai pendirian bangunan amat teratur dan
kompleks, mengurangi entropi di permukaan planet kita. Segala sesuatu mulai
dari mobil, komputer, sampai kubis memiliki entropi lebih rendah daripada
material mentah penyusunnya. Meski begitu, hukum kedua tidak tersingkirkan.
Yang kita luputkan adalah fakta bahwa keseluruhan Bumi pun tidak bisa
dianggap terisolasi dari sekitarnya. Kita tidak boleh lupa bahwa hampir semua
kehidupan di Bumi, dan karenanya semua struktur berentropi rendah, adalah
berkat sinar matahari. Ketika kita mempertimbangkan sistem gabungan Bumi
+ Matahari, kita melihat bahwa keseluruhan entropi meningkat sebab radiasi
yang dicurahkan Matahari ke angkasa (yang sebagiannya diserap oleh Bumi)
mengandung arti bahwa entropi gabungan meningkat secara jauh lebih
banyak daripada besaran penurunan entropi di Bumi.
136
Anak panah waktu
Ke mana semua ini membawa kita? Saya mulai dengan membicarakan arah
aliran waktu. Ingat, ini bukan arah nyata dalam arti Utara atau Selatan, atau
bahkan arah dalam waktu; ini adalah arah waktu dan hanya bisa menunjuk ke
salah satu dari dua arah (berlawanan). Ada dua cara menentukan anak panah
demikian: kita bisa mempertimbangkan dua peristiwa dan bertanya peristiwa
mana yang terjadi pertama kali atau, dengan mempertimbangkan kuantitas
yang berubah, kita bisa menentukan sebuah anak panah waktu menunjuk ke
arah peningkatan atau penurunan kuantitas tersebut.
Sering diklaim bahwa alasan mengapa kita ‘melihat’ waktu mengalir
ke arah yang kita saksikan adalah karena otak kita, seperti sistem fisikal
lainnya, harus mematuhi hukum termodinamika kedua. Jadi anak panah
waktu psikologis harus selalu menunjuk ke arah peningkatan entropi. Ini amat
meragukan. Keliru jika menyatakan bahwa entropi di otak kita meningkat.
Seperti sistem biologis lain, otak kita memanfaatkan energi untuk memelihara
status entropi rendahnya. Menurut penaksiran, entropi di otak kita tetap
konstan selama sebagian besar masa hidup kita.
Hukum termodinamika kedua memberi kita anak panah waktu yang
kelihatannya lebih umum dan kurang subjektif daripada anak panah waktu
psikologis yang kita bangun ke dalam kesadaran kita. Oleh sebab itu kita
menetapkan apa yang disebut anak panah waktu termodinamis, yang selalu
menunjuk ke arah peningkatan entropi. Karena kita selalu melihat entropi di
sekitar kita meningkat, maka dengan sengaja anak panah termodinamis akan
menunjuk ke arah yang sama dengan anak panah psikologis.
Bagaimana jika suatu hari nanti entropi mulai menurun di setiap tempat
di Alam Semesta? Kita akan katakan bahwa anak panah termodinamis telah
terbalik. Lantas apa yang terjadi pada anak panah psikologis? Apa ia menunjuk
ke arah berlawanan? Apa kini kita melihat gula tersusun kembali, tumpukan
kartu mengurut kembali, dan asap rokok berkumpul kembali dari seantero
ruangan dan memusat di, dan lenyap menjadi, ujung rokok yang dinyalakan?
Jawabannya, beberapa orang percaya, adalah tidak. Di sinilah mereka
mengambil gagasan bahwa proses-proses pikiran kita, yang menetapkan anak
panah psikologis, adalah proses kimiawi di otak, dan seperti sistem fisikal
lainnya, mesti tunduk pada hukum kedua. Jika, untuk alasan apapun, entropi
mulai menurun di setiap tempat, maka itu mencakup otak kita (dan proses
pikiran kita) dan anak panah psikologis akan terbalik pula. Saya tak begitu yakin
137
sebab, sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, saya percaya bahwa otak kita
berjuang melawan pasang peningkatan entropi di luar. Menurut saya belum
jelas apa yang akan terjadi di dalam otak kita jika entropi mulai menurun di
setiap tempat.
Ada dua anak panah waktu lebih lanjut yang mesti saya jelaskan
yang mencerminkan tipe proses lain yang tak bisa dibalik dalam fisika. Yang
pertama adalah anak panah pengukuran quantum. Sepanjang sebuah sistem
quantum, seperti atom, dibiarkan sendirian dan kita tak berupaya mengukur
atributnya, ia tetap bisa dibalik sepenuhnya dalam arti bahwa proses-proses
yang berlangsung di dalamnya bisa terjadi ke waktu depan atau ke waktu
belakang. Namun sekali kita berupaya menyelidiki sistem (memakai suatu
peralatan eksperimen semisal detektor untuk mengukur, katakanlah, posisi
sebuah atom), terpilihlah sebuah arah definitif waktu. Atribut-atribut tertentu
diubah secara permanen oleh tindakan pengukuran.
Riset mutakhir makna mekanika quantum mengindikasikan bahwa anak
panah pengukuran quantum sangat mirip pangkalnya dengan anak panah
termodinamis. Cara lain mendefinisikan peningkatan entropi adalah lewat loss
informasi. Dengan menyimpan file di komputer, Anda menciptakan keteraturan
dan menurunkan entropi secara lokal. Hal sebaliknya terjadi manakala Anda
menghapus file. Anda kehilangan informasi dan entropi meningkat. Kini terlihat
bahwa anak panah pengukuran quantum terjadi akibat loss informasi serupa
pada level subatom. Dalam jargon teknis, dikatakan bahwa koherensi quantum
bocor ke lingkungan sekitar sistem quantum saat ia diselidiki, sehingga
meningkatkan entropinya. Loss informasi quantum ini sedikit mirip dengan
bocornya kalor sebuah objek panas ke lingkungannya yang dingin.
Terakhir, saya mesti menyebutkan anak panah waktu yang keempat
mengingat adanya temuan eksperimen mutakhir. Ia disebut anak panah
materi/antimateri. Dalam eksperimen cukup tajam yang dijalankan di
akselerator partikel CERN pada 1998, ditemukan bahwa perubahan antimateri
menjadi materi sedikit lebih mungkin terjadi daripada sebaliknya. Eksperimen
itu, dikenal sebagai CP-LEAR (singkatan dari charge parity experiment in the
low energy antiproton ring), tidak dipangkas dan dikeringkan. Kelompok-
kelompok riset pesaing di seluruh dunia masih harus diyakinkan. Tapi jika
benar, itu mengindikasikan bahwa seandainya Anda memulai dengan jumlah
materi dan antimeteri yang setara, dalam bentuk partikel subatom yang
disebut kaon, maka pada waktu kemudian semestinya terdapat lebih banyak
138
kaon materi daripada kaon antimateri. Ini menyediakan anak panah waktu
pada level partikel-partikel ini, menunjuk ke arah pengurangan antimateri.

Stephen Hawking keliru memahaminya


Tak lama setelah saya memulai PhD saya pada 1987, saya berada di
perpustakaan universitas untuk menjalankan apa yang dikenal sebagai
penelitian kepustakaan. Saya mengerjakan sebuah persoalan dalam fisika
yang melibatkan kalkulasi matematis panjang yang menggambarkan
apa yang terjadi saat dua nukelus atom bertubrukan, dan saya mencari
beberapa referensi dalam jurnal ilmiah yang terkait dengan penelitian saya.
Tidak berhasil menemukan paper tertentu dan menjadi sedikit bosan, saya
memutuskan mencari paper ilmiah mutakhir karangan Stephen Hawking,
tak lain karena saya merasa penelitiannya dalam kosmologi mungkin
menyediakan perubahan menggembirakan dari punya saya. Saya menemukan
sebuah paper-nya yang berasal dari beberapa tahun silam sampai tahun 1985
di mana dia membahas bagaimana arah waktu barangkali terbalik jika Alam
Semesta mulai menyusut. Ini terdengar menjanjikan. Saya memfotokopi artikel
tersebut dan membacanya dalam perjalanan pulang naik kereta.
Saya mengikuti argumen-argumen di beberapa halaman pertama tapi
segera tertambat pada matematikanya. Namun demikian, malam itu saya
memutuskan bahwa dia pasti keliru, tapi karena saya tidak bisa mengikuti detil
matematikanya saya tidak merasa berada di atas pijakan yang cukup aman.
Bagaimanapun juga, dia adalah ilmuwan terkenal dunia dan saya baru memulai
sebagai mahasiswa riset di bidang fisika yang berbeda sama sekali. Walaupun
saya belum tahu saat itu, Hawking sudah menyadari bahwa kesimpulannya
dalam paper tersebut, yang telah menarik banyak perhatian, keliru. Meski
begitu, saya ingin membahas ide-idenya terutama untuk menunjukkan betapa
waktu bisa membingungkan dan ilusif jika seseorang sekaliber Stephen
Hawking bisa keliru memahami. Nyatanya, saya terkagum melihat betapa
begitu banyak ilmuwan mahsyur dan pakar dunia lain yang masih bisa
memegang pandangan berlawanan mengenai sesuatu sefundamental ini.33

33 Kesimpulan asli Stephen Hawking dan pengakuan kekeliruan dirinya terdokumentasikan


dengan baik. Tapi ada fisikawan-fisikawan lain, yang sama-sama terkemuka, yang belum
mengakui kesalahan setelah teori mereka terbantahkan lantaran kurangnya kejujuran dan
integritas seperti yang dimiliki Hawking. Hawking sendiri menyatakan bahwa “harus ada jurnal
pengakuan kesalahan di mana ilmuwan dapat mengakui kekeliruan mereka. Tapi itu mungkin
takkan punya banyak kontributor.”
139
Ini semua sampai pada kebingungan yang dihadapi banyak orang terkait
konsep entropi. Saya pertama-tama akan secara ringkas menggambarkan
mengapa Hawking mencapai kesimpulan kontroversialnya.
Hukum termodinamika kedua semestinya berlaku tanpa diskriminasi
di setiap tempat di Alam Semesta, menyatakan bahwa entropi sistem
terisolasi manapun tak bisa menurun. Jadi mengapa ia mesti tak berlaku pada
keseluruhan Alam Semesta? Bagaimanapun, Alam Semesta secara keseluruhan
menurut definisi merupakan sistem terisolasi sebab tak ada apapun di luarnya.
Nyatanya, entropi Alam Semesta memang meningkat dan mengimplikasikan
bahwa ia pasti lebih teratur di masa lalu. Nyatanya, ia pasti mempunyai entropi
minimum saat Big Bang dan sejak saat itu telah menuju berhenti, atau mati.
Tentu Anda mungkin menganggap pembicaraan mengenai entropi
keseluruhan Alam Semesta agak ambisius, jika bukan sombong, tapi karena
kita sedang mencoba membayangkan ukuran, bentuk, dan umurnya,
mengapa tidak dengan entropinya sekalian? Untuk memulai, saya akan
mempertimbangkan sebuah ‘model’ alam semesta sederhana yang sedikit
berkaitan dengan realitas tapi akan membantu kita memahami peran apa yang
mungkin dimainkan hukum kedua dalam evolusi Alam Semesta. Bayangkan
sebuah boks tersegel yang di dalamnya semua molekul udara terkonsentrasi
di satu pojok. Satu cara untuk mencapai kondisi ini adalah jika udara mulanya
terkurung di dalam sebuah botol di pojok tersebut yang kemudian bisa dibuka
dari jauh. Entropi boks dalam status awal ini rendah sebab kandungannya
berada dalam status amat teratur dengan semua udara termuat secara rapi di
dalam botol.
Seraya waktu berlalu, udara akan keluar dari botol dan menyebar untuk
memenuhi keseluruhan boks yang menyebabkan entropinya meningkat.
Ketika molekul udara tersebar merata ke seantero boks, entropi akan berada
pada level maksimum dan sistem dikatakan setimbang. Ini ekuivalen dengan
tumpukan kartu yang dikocok seluruhnya. Ada probabilitas amat kecil bahwa
pada suatu waktu kemudian kita akan mendapati semua molekul berada di
dalam botol lagi.
Sekarang bayangkan boksnya jauh lebih besar (katakanlah seukuran
galaksi). Dengan begitu banyaknya molekul di dalam boks, massa gabungan
mereka cukup bagi gravitasi untuk memiliki efek. Mungkin saja sekelompok
molekul lebih saling mendekat secara sembarang daripada rata-rata molekul.
Sekali ini terjadi, kita menduga gravitasi mengambil-alih dan menyebabkan
140
mereka tertarik menuju satu sama lain. Semakin banyak molekul yang ikut
menggumpal, semakin efektif tarikan gravitasi gabungan mereka terhadap
molekul sekitar. Penggumpalan gravitasi ini akhirnya akan menyebabkan semua
udara berkerumun dalam timbunan-timbunan berukuran berlainan di seantero
volume boks, dengan lowong kosong di antara mereka. Apa yang terjadi pada
entropi sekarang? Kita memulai dengan molekul tersebar merata di seantero
volume dan entropi berada pada level maksimum dan berakhir dengan status
yang amat teratur, seperti menyapukan dedaunan Musim Gugur menjadi
gundukan rapi. Seolah gravitasi telah menyebabkan hukum kedua dilanggar.
Tidak demikian. Jika Anda menganggap peningkatan entropi sebagai
proses keberhentian, maka materi yang cukup berdekatan untuk merasakan
tarikan gravitasi akan ‘menuju berhenti’ selagi saling menarik. Sebuah bola
di puncak bukit memiliki entropi rendah. Saat ia menggelinding turun bukit
(akibat aksi gravitasi), entropinya meningkat. Kita katakan ia kehilangan
kemampuan untuk melakukan kerja. Kita diajari di sekolah bahwa bola di
puncak bukit mempunyai energi potensial yang berubah menjadi energi
kinetik saat menggelinding turun. Demikian pula, mainan putar (yang tadi saya
gambarkan memiliki entropi rendah) mempunyai energi potensial yang terus
hilang selagi menuju berhenti dan entropinya meningkat.
Jadi gravitasi meningkatkan entropi, tapi masih belum menjelaskan
bagaimana entropi dalam boks bisa meningkat jika ia sudah berada pada level
maksimum. Jawabannya adalah bahwa karena sejak semula molekul terpisah
merata, gravitasi akan berjalan ke semua arah dan menghapuskan, dan entropi
berada pada level maksimum. Jika, secara kebetulan (dan segalanya mungkin
terjadi), molekul-molekul di kawasan tertentu lebih berdekatan daripada rata-
rata molekul maka ini melambangkan penyimpangan temporer dari status
entropi maksium (setimbang). Agar hukum kedua meralat situasi tersebut,
molekul-molekul ini punya dua pilihan: mereka bisa saling berpisah lagi
menuju status setimbang awal mereka, atau mereka bisa saling menarik untuk
membentuk gumpalan. Dengan kedua cara ini entropi meningkat kembali ke
level maksimum. Kedua skenario bisa dipandang sebagai proses kematian
sistem, tapi kini kita punya dua gambaran alternatif mengenai status entropi
maksimum.
Sekarang kita siap menghadapi Alam Semesta riil. Hawking memulai
argumennya dengan menyatakan bahwa Alam Semesta pasti mempunyai
entropi minimum saat Big Bang dan sejak saat itu, karena Alam Semesta harus
141
mematuhi hukum termodinamika kedua, telah menuju berhenti, bergerak
menuju status entropi maksimum. Dia telah mengembangkan teori
Alam Semesta yang mensyaratkannya tertutup dan percaya bahwa ia
mengandung cukup materi untuk suatu hari nanti menghentikan perluasan
dan menyebabkannya kolaps menuju Big Crunch. Ingat dari Bab 3 bahwa ini
merupakan satu kemungkinan skenario nasib Alam Semesta yang tidak dapat
kita kesampingkan. Sisa bab ini akan mengasumsikan bahwa ini akan betul-
betul menjadi nasib Alam Semesta (yang, sebagaimana sudah kita temukan,
kemungkinannya kecil saat ini).
Dalam model Hawking, singularitas Big Bang dan Big Crunch adalah
identik. Bagaimanapun juga, dalam kedua kasus semua materi dan energi di
Alam Semesta akan tergumal menuju densitas tak terhingga dan ukuran nol.
Jadi jika singularitas Big Bang berstatus entropi rendah, maka demikian pula
semestinya dengan singularitas Big Crunch. Karenanya, selagi Alam Semesta
menyusut, entropinya harus menurun lagi dan hukum termodinamika kedua
akan dilanggar selama fase ini. Hawking percaya bahwa status perluasan
maksimum juga melambangkan status entropi maksimum. Jadi fase
penyusutan Alam Semesta merupakan kebalikan fase perluasan.
Dalam hal anak panah waktu, jika entropi mulai menurun selama fase
penyusutan maka anak panah termodinamis pasti terbalik (sebab ia ditetapkan
selalu menunjuk ke arah peningkatan entropi), dan jika anak panah subjektif
(psikologis) kita selalu ke arah yang sama dengan anak panah termodinamis,
waktu kita juga akan berjalan terbalik. Berarti, bukannya menjadi peristiwa di
masa depan kita, Big Crunch akan menjadi peristiwa di masa lalu kita. Tentu
saja saya berasumsi manusia akan berlangsung hidup selama miliaran tahun
yang dibutuhkan untuk menguji ini, tapi jika kita memang berlangsung hidup
selama itu kita takkan betul-betul melihat Alam Semesta menyusut. Karena
waktu kita akan berjalan terbalik, kita akan berpikir Alam Semesta masih
mengembang. Karenanya kita juga takkan melihat pelanggaran hukum
termodinamika kedua. Menurut kita entropi meningkat sebagaimana biasa.
Kesimpulan paling mengagumkan dari situasi aneh ini adalah bahwa Alam
Semesta mungkin nyatanya sedang kolaps saat ini, dan hanya karena kita
mempunyai anak panah waktu yang menunjuk ke arah peningkatan entropi,
kita keliru meyakininya sedang mengembang!
Pada saat itu saya tak menyadarinya, tapi ide pembalikan arah waktu
dalam kekolapsan alam semesta sebetulnya berkat Thomas Gold pada 1960-an.
142
Hawking mencoba menaruh ide tersebut di atas pijakan teoritis yang kokoh
dengan mengambil sifat quantum dua singularitas tersebut. Nyatanya, perilaku
Alam Semesta saat mendekati perluasan maksimum akan sangat aneh dalam
gambaran awal Hawking. Katakanlah seorang manusia bertahan hidup dari
fase perluasan sampai fase penyusutan sambil terlingkungi di dalam sebuah
kapal antariksa. Anak panah waktu dia akan terbalik tiba-tiba dan dia takkan
mengingat waktu perluasan maksimum sebab waktu tersebut kini berada di
masa depannya.
Saya sekarang akan menggambarkan keberatan saya terhadap ide
ini. Pertama-tama, Hawking memakai kata ‘perluasan’ dan ‘penyusutan’
dan ‘bertahan hidup melewati periode perluasan maksimum menuju fase
penyusutan’. Bahasa demikian mengimplikasikan bahwa harus ada anak
panah waktu eksternal yang terpisah yang menunjuk dari Big Bang menuju
Big Crunch. Kalau tidak, tak ada sesuatu untuk membedakan keduanya dan
kita tak bisa mengatakan bahwa yang satu adalah ‘sebelum’ yang lain. Ketika
diklaim bahwa kita mungkin ‘keliru’ menyangka bahwa kita hidup dalam
fase perluasan padahal ‘sebetulnya’ dalam fase kekolapsan, kita memerlukan
waktu eksternal untuk difungsikan sebagai hakim dan memberitahu kita apa
yang sebetulnya sedang dilakukan Alam Semesta. Kita tak tahu ada anak
panah waktu semacam itu dan pernyataan bahwa anak panah waktu tersebut
eksis mengingatkan kita pada pembahasan sebelumnya mengenai waktu
eksternal hipotetis yang dipakai untuk mengukur laju aliran waktu kita. Dan jika
tak ada arah waktu keseluruhan yang istimewa yang melabeli fase perluasan
dan penyusutan maka Big Crunch semestinya betul-betul ekuivalen dengan
Big Bang dan juga menandai permulaan waktu. Karenanya kita akan memiliki
waktu yang mengalir dari kedua singularitas, ke arah berlawanan, menuju
‘akhir waktu’ pada perluasan maksimum.
Saya akan menyoroti persoalan akhir waktu ini dengan
mempertimbangkan nasib manusia yang bertahan hidup di kapal antariksa
tadi mendekati waktu perluasan maksimum. Dia mengkalkulasi bahwa Alam
Semesta akan mencapai perluasan maksimum pada pukul tiga sore itu (kita
sebut ini T-max). Dia sadar bahwa anak panah waktu dirinya segera terbalik.
Pada pukul tiga kurang satu detik segalanya normal dan dia tahu dirinya
punya satu detik untuk dilalui. Apa yang akan terjadi dua detik kemudian?
Kini jam menunjukkan pukul tiga lewat satu detik dan kita berada dalam fase
penyusutan. Jika anak panah waktu dia kini telah terbalik dan semua proses di
143
dalam kapal antariksa berjalan terbalik maka jamnya kini akan menunjukkan
pukul tiga kurang satu detik lagi. Dia masih akan berpikir bahwa Alam Semesta
akan mengalami perluasan selama satu detik lagi.
Bahkan pada pukul tiga kurang sepersejuta detik di sebelah T-max ini
takkan ada yang tak biasa, tapi dua per sejuta detik kemudian dia masih akan
percaya bahwa T-max adalah sepersejuta detik jauhnya dari dia. Kita bisa
sedekat mungkin dengan T-max sesuka kita tapi takkan pernah ada waktu
yang lebih dari itu. Itu betul-betul akan menandai ujung waktu.
Keberatan di atas tidak membuktikan bahwa Hawking salah, melainkan
bahwa bahasa yang dipakai mensyaratkan anak panah waktu tambahan yang
tidak berubah arah pada momen T-max, dan yang tak ada acuan untuknya.
Setelah membahas teorinya bersama kolega, Hawking segera
menyadari bahwa Alam Semesta tidak harus kembali ke status entropi rendah
saat Big Crunch dan karenanya tidak harus ada pembalikan arah anak panah
waktu kita. Entropi Alam Semesta bisa terus meningkat dari fase perluasan
menuju fase penyusutan. Sayangnya Hawking tertular pneumonia dan tak
mampu menulis paper lanjutan untuk menjelaskan kekeliruannya. Saya ingat
dengan gamblang pernah membaca buku best-seller-nya, A Brief History of
Time, saat dalam perjalanan kereta menuju tempat kerja satu atau dua tahun
setelah itu terbit—seorang teman membelikan saya paperback edition di
bandara New Delhi jauh sebelum tersedia di Inggris—dan saya ingat merasa
terkejut dan penuh kagum atas kejujuran Hawking. Di atas semua itu, saya
ingat saat itu merasa malu lantaran seringai bodoh wajah saya menarik
perhatian penumpang lain.
Jadi bagaimana kita bisa memahami perbedaan antara Big Bang yang
berentropi rendah dan Big Crunch yang berentropi tinggi? Satu penjelasan
adalah bahwa ruang di dekat kedua singularitas tersebut memiliki geometri
berbeda. Menurut pemikiran mutakhir adalah bahwa black hole merupakan
gudang entropi. Semakin besar ia, semakin tinggi entropinya. Karena Big
Crunch bisa dianggap sebagai black hole penghabisan yang telah menelan
keseluruhan Alam Semesta, ia pasti memiliki entropi amat tinggi. Big Bang,
kontrasnya, adalah seperti white hole dan memiliki entropi amat rendah.
Tapi ini kurang memuaskan. Bagaimanapun juga, apakah gravitasi
masuk hitungan? Apakah perluasan masuk hitungan? Dan, terutama,
bagaimana Alam Semesta bisa berada dalam status entropi sedemikian rendah
saat Big Bang?
144
Sekilas, Alam Semesta tampaknya berada dalam status entropi rendah
saat ini. Bintang-bintang merupakan titik panas di angkasa yang memancarkan
panas mereka ke sekeliling dan menyebabkan entropi meningkat (ingat, ide
perpindahan panas adalah sebuah cara mendefinisikan entropi). Saat sebuah
bintang berhenti bersinar, ia akan berakhir sama sekali dan akan berada
dalam status entropi tinggi (baik berakhir sebagai black hole ataupun tidak).
Jadi akan ada waktu di masa depan jauh ketika semua bintang telah mati dan
radiasi mereka tersebar merata di angkasa (entropi tinggi). Namun, di sini
ada persoalan serius yang telah coba diatasi oleh fisikawan, dengan tingkat
keberhasilan yang rendah dan tinggi. Sebelum bintang dan galaksi terbentuk
di Alam Semesta awal, bahkan sebelum materi sempat terbentuk dari energi
murni, Alam Semesta telah berada dalam status kesetimbangan termal,
dengan energi tersebar merata sehingga tak ada kawasan ruang yang lebih
panas daripada yang lainnya. Tentu ini merupakan status entropi maksimum!
Lalu apa yang menyebabkan bintang-bintang terbentuk?
Sebuah proposal berbunyi begini: Memang benar Alam Semesta
berawal dalam status entropi maksimum, tapi kala itu ia juga sangat kecil.
Entropi yang dimilikinya maksimum untuk alam semesta seukuran itu. Lalu
Alam Semesta mengalami periode perluasan pesat (inflasi) dan besaran
entropi maksimum yang bisa dimilikinya meningkat dramatis. Namun,
entropi aktualnya cepat-cepat tertinggal oleh harga maksimum potensial ini,
menciptakan ‘gap entropi’.
Dalam bukunya, The Emperor’s New Mind, Roger Penrose mengkritik
pandangan ini dengan mengklaim bahwa situasi pembalikan waktu mestinya
juga berlaku jika dan ketika Alam Semesta akhirnya kolaps menuju Big Crunch.
Selagi ia menyusut, gap entropi akan menurun sampai mencapai kembali
sebuah ukuran di mana entropinya maksimum. Penyusutan lebih lanjut akan
menekan entropi lebih lanjut, melanggar hukum kedua.
Oleh sebab itu bagaimana kita bisa memahami keasimetrian antara
kedua singularitas tersebut? Bisakah gravitasi menyediakannya? Sebuah
perbedaan nyata antara fase perluasan dan penyusutan adalah bahwa dalam
fase penyusutan telah ada beberapa kondisi awal yang menyebabkan Alam
Semesta mengembang. Fase penyusutan, di sisi lain, diakibatkan sepenuhnya
oleh tarikan gravitasi materi di dalam Alam Semesta. Jadi pangkal fisikal
perluasan dan penyusutan berbeda. Tapi akan memuaskan jika kita mampu
menjelaskan evolusi Alam Semesta dari segi entropi.
145
Perbedaan lain yang sering dikutip adalah bahwa alam semesta
tua yang menyusut takkan lagi memiliki bintang yang masih menyala. Ia
hanya akan terdiri dari radiasi latar dingin, bintang mati, dan black hole.
Jelas merupakan pemandangan entropi tinggi. Tapi ini bukan satu-satunya
kemungkinan skenario. Untuk kesederhanaan, mari kita asumsikan bahwa
Alam Semesta yang menyusut hanya mengandung cahaya berenergi rendah
(photon) dan black hole. Hawking telah menunjukkan bahwa black hole
menguap dan karenanya kita bisa membayangkan alam semesta yang begitu
tua—yang punya cukup materi untuk menutupnya, artinya perlu waktu sangat
lama bagi gravitasi untuk menghentikan dan membalik perluasan—sehingga
semua black hole telah menguap. Apakah mereka meninggalkan singularitas
hampa yang telanjang, hal ini belum jelas, tapi jika tidak maka Alam Semesta
akhirnya hanya akan terdiri dari radiasi dingin.

Kemungkinan solusi
Saya masih belum menjelaskan bagaimana bintang dan galaksi bisa terbentuk.
Ini hanya bisa terjadi jika ada ketidakteraturan, atau kerutan, di struktur ruang
yang akan menyebabkan materi di situ lebih padat daripada rata-rata tempat
lain. Selama ruang tidak mengembang terlampau cepat, tak terelakkan lagi
bahwa materi di kawasan tersebut akan saling menggumpal lebih lanjut. Ini
mirip dengan contoh molekul udara dalam boks yang saya bahas tadi. Dalam
kasus tersebut, volume dalam boks tidak mengembang, dan kawasan-kawasan
berdensitas lebih tinggi timbul murni secara kebetulan. Di Alam Semesta awal,
kawasan di mana materi menggumpal bersama tersebut akhirnya memanas
hebat hingga memicu fusi nuklir dan melahirkan bintang. Namun, besaran
pengkerutan harus tepat. Jika terlalu kecil, materi takkan pernah menggumpal
dan galaksi dan bintang (dan karenanya kita) takkan pernah terbentuk. Di sisi
lain, jika ruang terlalu kusut maka densitas tinggi materi di kawasan itu akan
cepat menghasilkan pembentukan black hole besar.
Sekalipun kita tak memahami awal-mula ketidakteraturan ini, setidaknya
kita mesti mencari bukti eksperimen bahwa ia eksis di Alam Semesta awal.
Diprediksi secara teoritis bahwa ia timbul sebagai perbedaan temperatur amat
kecil radiasi gelombang mikro latar yang, sebagaimana saya sebutkan di Bab
3, merupakan afterglow Big Bang. Namun efek ini pasti begitu kecil sehingga
tidak bisa dideteksi dari Bumi. Pada 1992, NASA mengumumkan bahwa satelit
COBE (singkatan dari COsmic Background Explorer) telah mendeteksi perbedaan
146
temperatur radiasi latar dengan magnitudo tepat. Penemuan itu dielu-elukan
sebagai bukti final bahwa model Big Bang benar. Namun, beberapa astronom
berargumen bahwa pernyataan ini terlalu keras dan bahwa temuan COBE
hanya mendukung gagasan kita tentang pembentukan galaksi.
Apa sekarang segalanya cocok? Apa entropi Alam Semesta bermula
dari harga rendah saat Big Bang? Akankah ia terus meningkat sekalipun
Alam Semesta suatu hari nanti kolaps menuju Big Crunch, dan karenanya
menyediakan kita anak panah waktu yang tidak terbalik? Saya percaya
demikian, tentu saja dengan asumsi bahwa Alam Semesta suatu hari nanti
akan kolaps (saya tahu kemungkinannya kecil).
Persis setelah Big Bang, Alam Semesta amat panas dan energetik
dan karenanya berada dalam status entropi rendah. Selagi mengembang, ia
mendingin. Entropinya meningkat pesat, bukan akibat perpindahan panas tapi
lebih karena energinya bisa dianggap terpakai habis guna menyediakan kerja
untuk perluasan.
Seraya Alam Semesta mendingin, sejumlah kecil energinya jadi
terkunci di dalam atom-atom hidrogen. Lalu, berkat kerutan di ruang yang
menyediakan benih untuk pembentukan bintang, gravitasi segera mampu
menyebabkan atom-atom ini menggumpal bersama untuk membentuk galaksi
dan bintang di dalam kerutan ruang tersebut. Itu kemudian menyediakan cara
untuk menyadap energi di dalam atom-atom ini lewat fusi nuklir.
Jika galaksi dan bintang tidak terbentuk, Alam Semesta akan sudah lama
kehilangan panas. Ia sekarang akan berupa tempat yang dingin dan gelap.
Energi yang terkunci di dalam bintang menunda hal tak terhindarkan tersebut.
Sedikit-banyak, kematian panas Alam Semesta sudah terjadi. Galaksi-galaksi
sebetulnya hanyalah kantong terisolasi kecil untuk menahan peningkatan
pesat entropi di sekeliling mereka. Radiasi gelombang mikro latar dengan
temperaturnya 3 derajat di atas nol absolut merupakan bukti bahwa Alam
Semesta telah hampir menuju berhenti sepenuhnya.
Beberapa penulis mengklaim kematian panas Alam Semesta takkan
pernah terjadi sekalipun ia terus mengembang selamanya. Karena ruang yang
tersedia untuk materi di Alam Semesta selalu bertambah, mereka berargumen,
akan selalu ada ruang lebih baginya untuk menyebar. Ini keliru. Sekali materi
dan radiasi tersebar seragam di seantero ruang, maka perluasan lebih lanjut
akan mengurangi densitas (jumlah materi di volume tertentu). Itu takkan
mengubah status kesetimbangan.
147
Jika Alam Semesta ditakdirkan kolaps lagi akibat gravitasinya sendiri,
maka ini melambangkan peningkatan entropi lebih lanjut. Tak peduli jika
yang dikandungnya saat itu hanya radiasi dingin sebab penggumpalan
gravitasi dalam pengertian biasa tidak dibutuhkan. Big Crunch tidaklah seperti
pembentukan galaksi di Alam Semesta awal. Selama kekolapsan, keseluruhan
Alam Semesta menutup dirinya sendiri. Cara terbaik untuk menggambarkan ini
adalah membayangkan Alam Semesta sebagai pegas. Perluasan adalah seperti
peregangan pegas. Jika meregang terlalu keras, ia takkan pernah kembali ke
kondisi tergulungnya semula. Jika peregangannya lebih lembut, maka ia akan
memperkenankan dirinya tertarik begitu jauh sebelum mengatup kembali ke
posisinya. Demikian halnya, Alam Semesta pada perluasan maksimum masih
mempunyai energi gravitasi potensial. Begitu kolaps, entropinya meningkat
lebih lanjut lagi. Entropi maksimum tercapai pada Big Crunch yang menandai
akhir waktu; ujung anak panah waktu termodinamis.
Penjelasan di atas adalah penyederhanaan berlebihan. Saya sudah
sebutkan bahwa belum ada konsensus nyata mengenai anak panah waktu
dalam kosmologi dan argumentasi yang saya sodorkan masih jauh dari
menentukan dalam subjek ini.
Nah, setelah Anda melihat bagaimana waktu bisa membingungkan
sebagai konsep, Anda akhirnya siap menemui teori relativitas khusus Einstein
di mana dia berusaha menyatukan waktu dengan ruang untuk membentuk
ruangwaktu empat-dimensi. Jangan terlalu khawatir. Dibandingkan dengan
lanturan metafisik sureal dalam bab ini, relativitas khusus mestinya menjadi
tiupan udara segar.
Saya mencium skeptisisme.
148

BAB 6
WAKTU EINSTEIN

“Ah! itu menjawab persoalan,” kata Hatter. “Dia takkan tahan


terhadap pukulan. Kalau kau terus berhubungan baik dengannya,
dia akan melakukan hampir apapun yang kau sukai dengan jam
itu…kau bisa membuatnya tetap pada pukul setengah dua selama
kau suka.”
Lewis Caroll, Alice’s Adventures in Wonderland

Apa yang istimewa dari relativitas khusus?

A GAKNYA, bab ini adalah ruang mesin buku ini. Sejauh ini, saya telah
meminta Anda membayangkan dimensi lebih tinggi, berharap Anda
menerima bahwa gravitasi bisa melengkungkan ruang dan waktu dan
menerima perkataan saya tentang bagaimana rasanya jatuh ke dalam black
hole. Namun, saya belum membahasnya cukup dalam untuk membuat
Anda memahami sepenuhnya argumentasi logis yang menuntun pada
semua itu, sebab berada di luar lingkup buku ini. Bab ini berbeda. Saya tak
bisa meremehkan argumentasi yang membawa kita pada pandangan
Einstein tentang ruang dan waktu. Di sinilah Anda akan melihat kejeniusan
sejati Einstein dan, saya harap, memahami kesimpulan tak terhindarkan tapi
mengherankan yang terpaksa dia capai.
Sepuluh tahun sebelum teori relativitas umumnya (dipublikasikan pada
1915), Einstein menunjukkan, melalui keharusan logis, bagaimana waktu
dan ruang terhubung. Di sinilah, sebagaimana akan kita simak, ide waktu
sebagai dimensi keempat masuk hitungan. Ini kemudian dikenal sebagai teori
relativitas khusus, dan baru setelah dia memahami struktur ‘ruangwaktu’ inilah
dia bisa mengalihkan perhatiannya kepada teori relativitas umumnya di mana
dia menunjukkan bagaimana gravitasi dapat melengkungkan ruangwaktu.
Einstein mengumumkan teori relativitas khususnya (kini secara
sederhana dikenal sebagai relativitas khusus) kepada dunia di tahun 1905 saat
dirinya masih dalam usia pertengahan 20-an. Tapi dia telah bergelut dengan
149
konsep-konsep yang menghasilkannya sejak usia pertengahan belasan.
Relativitas khusus merupakan alasan mengapa hari ini Einstein terkenal,
terlepas dari fakta bahwa itu digantikan oleh relativitas umum yang jauh
lebih hebat beberapa tahun kemudian, dan bahwa nyatanya konfirmasi
eksperimen relativitas umumlah yang membuat nama dia dikenal luas.
Paper Einstein mengenai relativitas khusus bahkan tidak dianggap sebagai
karya terpentingnya pada tahun ia diterbitkan. Dampaknya perlu waktu untuk
meresap. Ingat, dia menerima pengakuan komite hadiah Nobel atas karyanya
yang membuktikan bahwa cahaya tersusun dari partikel. Jadi apa yang
membuat teori relativitas khusus begitu istimewa?
Keterangan populer mengenai relativitas khusus sering mencoba
mengelabui Anda dengan penjelasan bahwa itu adalah teori yang memberi
kita persamaan terkenal berikut:
E = mc2
Ini memang benar, dan rumus sederhana inilah yang membawa kita, dengan
suka dan duka, memasuki abad nuklir. Namun, relativitas khusus jauh lebih
dalam dari itu. Ini agak mirip dengan menggambarkan revolusi industri
sebagai pemberi kita mesin uap. Realitanya, revolusi industri jauh lebih dari
sekadar satu penemuan. Tak hanya kekuasaan politik bergeser dari pemilik
tanah kepada kapitalis industri, tapi juga dengan perkembangan terakhir
mesin pembakaran internal dan listrik terjadi perubahan menyeluruh dalam
kehidupan orang-orang biasa. Demikian halnya, relativitas khusus jauh lebih
dari sekadar E = mc2. Ia menggembar-gemborkan revolusi dalam fisika. Ia
menunjukkan bagaimana dan mengapa gagasan lama ruang dan waktu harus
dibuang dan diganti dengan set konsep yang sedemikian baru dan tak lazim
sampai-sampai, hingga hari ini, kita masih belum mampu melepaskan diri
dari ‘gagasan lama’. Ruang dan waktu yang masih dianggap ‘masuk akal’ oleh
sebagian besar orang, ditunjukkan salah oleh Einstein. Sejak saat itu setiap
eksperimen yang direncanakan hanya berfungsi untuk mengkonfirmasikan,
dengan akurasi yang terus meningkat, bahwa dia benar. Kita akan simak dalam
bab ini mengapa begitu sulit bagi banyak orang untuk menerima idenya,
bahkan sampai hampir seratus tahun kemudian.
Newton, sudah sepantasnya demikian, diakui telah memastikan
seluruh mekanika klasik dengan hukum geraknya. Hukum ini menggambarkan
bagaimana objek bergerak dan bagaimana gaya-gaya semisal gravitasi
mempengaruhinya dengan membuatnya mencepat, melambat, atau berubah
150
arah. Yang paling familiar dari hukum ini barangkali adalah hukum ketiga. Anda
mungkin ingat bunyinya, setiap aksi memiliki reaksi setara dan berlawanan.
Namun, hukum kedualah yang paling penting dan fundamental—murni
kebetulan bahwa hukum terpenting di bidang termodinamika juga merupakan
hukum kedua—dan menggambarkan bagaimana sebuah benda akan
berperilaku saat ditekan.
Semua objek bergerak dapat dibagi ke dalam dua kategori: objek yang
tidak merasakan gaya, dan karenanya diam atau meluncur dalam garis lurus
dengan kecepatan konstan, dan objek yang berada di bawah pengaruh suatu
gaya yang menyebabkannya berubah kecepatan atau arah. Contoh kategori
kedua meliputi objek jatuh, mobil berakselerasi atau mengerem, mobil
membelok, bahkan bola menggelinding di sepanjang permukaan flat sebab
hambatan angin dan gesekan adalah gaya yang beraksi untuk memperlambat
bola. Hukum gerak Newton mencakup semua kasus di atas dengan akurasi
yang dalam sebagian besar situasi sehari-hari sangat mengesankan.
Teori relativitas Einstein jauh lebih dalam daripada sekadar menyatakan
hukum gerak. Alasan mengapa dia memerlukan dua teori adalah karena dia
harus membedakan antara dua kategori gerak di atas. Benda yang bergerak
bebas dengan kecepatan konstan dan dalam ketiadaan gravitasi digambarkan
oleh relativitas khusus. Begitu gaya gravitasi dihidupkan, kita harus beralih ke
relativitas umum.
Anda sudah menyimak bagaimana hukum gravitasi Newton hanya
merupakan penaksiran menuju relativitas umum yang lebih tepat, tapi bekerja
sangat baik di medan gravitasi lemah, seperti medan gravitasi Bumi. Demikian
halnya, hukum gerak Newton hanya merupakan penaksiran menuju relativitas
khusus, tapi perbedaannya kini timbul saat objek bergerak dengan kecepatan
amat tinggi. Untuk sebagian besar kegunaan dalam kehidupan sehari-hari,
akurasi mekanika Newtonian memenuhi banyak kebutuhan kita. Bahkan
NASA memakai hukum Newton untuk mengkalkulasi jalur yang mesti diambil
roket untuk mencapai Bulan, dan roket barangkali merupakan objek bergerak
tercepat yang bisa dibayangkan kebanyakan orang. Jelas kecepatan tinggi yang
saya rujuk, yang padanya hukum Newton mogok, jauh lebih tinggi daripada
kecepatan yang dicapai roket sekarang. Nyatanya, hanya untuk benda yang
bergerak pada hampir kecepatan cahayalah (300.000 kilometer per detik)
relativitas khusus diperlukan. Dalam pembahasan berikut saya akan sering
memakai contoh objek yang bergerak pada hampir kecepatan cahaya. Ini hanya
151
untuk menyoroti efek relativitas secara lebih jelas dan Anda tak mesti
menerima contoh-contoh ini secara harfiah.
Ada beberapa cara tradisional untuk menjelaskan relativitas khusus.
Cara lazim adalah dengan mendapatkan set persamaan aljabar yang disebut
persamaan transformasi Lorentz. Jangan cemas, kita takkan mengikuti rute
tersebut di sini. Cara kedua adalah dengan menggunakan grafik khusus yang
disebut diagram ruangwaktu. Banyak penulis buku non-teknis relativitas
menggunakan diagram semacam itu sebab mereka merasa itu lebih
sederhana untuk ditafsirkan daripada persamaan abstrak. Sedikit-banyak,
ini benar. Kebanyakan orang terbiasa melihat suatu jenis grafik. Suratkabar
dan televisi memperlihatkan perubahan peruntungan partai politik dalam
poling pendapat atau fluktuasi harga saham di pasar saham. Kebanyakan
perusahaan menyajikan data laporan tahunan mereka memakai grafik batang,
grafik pastel, dan histogram. Metode grafik demikian memang informatif dan
sederhana untuk ditafsirkan. Tapi diagram ruangwaktu adalah urusan lain. Jika
Anda cenderung matematis, Anda akan mendapatinya sangat berguna. Jika
tidak maka diagram itu hampir sama sukarnya dengan rumus aljabar untuk
dipahami. Oleh sebab itu saya akan mengadopsi rute ketiga untuk menjelaskan
ide-ide Einstein: saya akan membatasi diri pada kata-kata saja.
Jadi semua percekcokan ini tentang apa? Anda mungkin bertanya-tanya
mengapa saya tidak terus saja menjelaskannya daripada mengatakan keriuhan
membosankan ini. Tapi relativitas khusus layak dihormati. Kesimpulannya
menyediakan barang jualan untuk begitu banyak sains fiksi, dan sinonim
dengan nama Einstein. Sebagai contoh, saya akan mengutip dua pertanyaan
yang paling sering diajukan dalam seluruh fisika modern. Keduanya merupakan
hasil langsung relativitas khusus. Yaitu:
• Mengapa tak ada yang bisa berjalan lebih cepat daripada cahaya?
• Mengapa jam berdetak lebih lambat saat dibawa bergerak sangat cepat?
(Ini tak ada kaitannya dengan jam alarm yang dilemparkan melintasi
kamar.)
Ketika mendapat pertanyaan ini, jawaban lazim saya adalah bahwa
penanya betul-betul perlu mengambil mata pelajaran relativitas khusus
jika ingin memahami sampai dasar. Sebab ada sejumlah langkah logis yang
perlu Anda lalui sebelum Anda bisa merasa yakin. Dalam bab ini saya akan
membawa Anda melewati langkah itu. Jika Anda tidak tertarik pada jawaban
pertanyaan ini dan bahagia menerimanya, sebab memang benar tak ada yang
152
bisa berjalan lebih cepat daripada cahaya dan kita betul-betul melihat jam
yang bergerak cepat berdetak melambat, maka Anda boleh melewatkan
beberapa halaman berikut, tapi karena Anda telah mencapai sejauh ini, saya
meyakini kesinambungan ketekunan Anda.

Dua wajah cahaya


Ingat, saya membahas atribut aneh cahaya di awal Bab 4 sebagai pendahuluan
soal black hole. Saya sekarang harus kembali ke subjek cahaya, bukan lantaran
‘berguna’ belaka melainkan karena menopang keseluruhan relativitas khusus.
Pada akhir abad 19, Thomas Young (orang Inggris yang membuktikan
Newton keliru mengenai cahaya tersusun dari partikel) dan James Clerk
Maxwell (orang Skotlandia yang menemukan bahwa cahaya tersusun dari
gelombang elektromagnetik) telah menunjukkan di luar dugaan bahwa cahaya
berperilaku seperti gelombang. Hari ini banyak eksperimen yang secara
jelas dan menawan mengungkap sifat gelombang cahaya. Memang benar
mekanika quantum sejak saat itu telah menunjukkan bahwa cahaya dapat,
di bawah kondisi tertentu, juga berperilaku seperti searus partikel, tapi untuk
pembahasan berikut sifat mirip gelombang-lah yang kita perlukan.
Atribut penting gelombang adalah bahwa ia perlu sesuatu untuk
dilintasi; sebuah medium yang melaluinya vibrasi dapat menjalar. Saat Anda
berbicara dengan seseorang di sebelah Anda, gelombang suara yang berjalan
dari mulut Anda ke telinga dia perlu udara di antara keduanya untuk melintas.
Demikian pula, gelombang air di permukaan laut perlu air, dan ‘jendulan’
yang berjalan sepanjang tali saat salah satu ujungnya dijentikkan perlu tali.
Jelas, tanpa medium untuk mengangkut gelombang takkan ada gelombang.
Inilah alasannya mengapa fisikawan abad 19 yakin bahwa cahaya, setelah
dikonfirmasi sebagai gelombang, juga memerlukan medium. Dan karena
tak ada seorang pun yang pernah melihat medium demikian, mereka harus
memikirkan cara membuktikan eksistensinya.
Ia dikenal sebagai eter luminiferous34—jangan tertukar dengan bahan
kimiawi organik yang dipakai sebagai anastesi—dan perburuan yang dijalani
adalah untuk menemukannya. Jika eksis, ia pasti mempunyai atribut tertentu.
Sebagai permulaan, ia pasti merembesi seluruh ruang agar cahaya bintang
mampu mencapai kita. Ia pasti eksis di mana-mana, bahkan di ruang hampa di
dalam atom. Atribut penting eter adalah bahwa ia tak bisa berinteraksi dengan
34 Artinya mentransmisikan cahaya.
153
objek materil dan karenanya tidak dapat terseret bersama objek saat objek
bergerak. Ini telah dikonfirmasikan pada 1729 silam berkat atribut cahaya yang
dikenal sebagai aberasi.
Tak ada hal lain yang diketahui soal eter. Diharapkan semakin banyak
hal menjadi jelas seiring kemajuan di bidang optik. Namun, tak ada yang siap
atas apa yang akan muncul selanjutnya.
Pada 1907, A.A. Michelson menjadi orang Amerika pertama yang
memenangkan hadiah Nobel fisika atas eksperimen yang dia jalankan pada
1880-an bersama E.W. Morley. Itu barangkali merupakan eksperimen paling
terkenal dalam fisika. Michelson menemukan sebuah perangkat yang dikenal
sebagai interferometer yang mengandalkan sifat gelombang cahaya untuk
mengukur waktu yang diperlukan sorot cahaya untuk menempuh jarak
tertentu. Dengan pemakaian interferometernya secara cerdas untuk mengukur
seberapa cepat cahaya berjalan, dia mampu membuktikan di luar dugaan
bahwa eter tidak mungkin eksis!
Fakta penting dalam fisika adalah bahwa semua gelombang berjalan
dengan kecepatan yang tidak tergantung pada kecepatan sumber gelombang
tersebut. Pikirkan suara mobil yang menghampiri cepat. Gelombang suara akan
mencapai telinga Anda sebelum si mobil tiba sebab gelombang berjalan lebih
cepat, tapi kecepatannya berkaitan dengan seberapa cepat molekul udara yang
bervibrasi bisa mentransmisikannya. Gelombang tidak mencapai Anda lebih
cepat lagi hanya karena ‘terdorong’ oleh mobil yang bergerak. Yang terjadi
justru gelombang teremas ke frekuensi lebih tinggi dan panjang gelombang
lebih pendek di depan mobil (efek Doppler) tapi kecepatan suara sendiri tidak
berubah.35
Gelombang suara melintasi udara dengan kecepatan 1.200 km/jam.
Kecepatan ini tergantung pada seberapa cepat mobil bergerak. Jika mobil
berjalan pada kecepatan 100 km/jam maka sopirnya akan melihat gelombang
suara (asumsikan gelombang suara dapat dilihat) bergerak di depannya pada
kecepatan 1.100 km/jam saja (1.200 dikurangi 100). Semakin cepat mobil
bergerak, semakin lambat kecepatan relatif gelombang suara yang dilihat
sopir. Tapi bagi pengamat diam yang menyaksikan mobil yang menghampiri,
gelombang suara selalu berjalan pada kecepatan 1.200 km/jam tak peduli

35 Kecepatan gelombang diperoleh dengan mengalikan frekuensinya dengan panjang


gelombangnya. Jika satu kuantitas meningkat sedangkan kuantitas lain menurun maka mereka
akan tetap seimbang untuk menghasilkan jawaban yang sama.
154
seberapa cepat pun mobil bergerak. Jika sopir dan pengamat diam memiliki
argumen mengenai kecepatan suara, sopir harus mengakui bahwa kecepatan
gerak gelombang yang diamatinya bukanlah kecepatan sejati sebab dia juga
bergerak relatif terhadap molekul udara.
Michelson dan Morley menerapkan prinsip ini pada gelombang cahaya.
Mereka berasumsi bahwa Bumi bergerak melintasi eter sambil mengorbit
Matahari (pada kecepatan sekitar 100.000 km/jam). Eksperimen mereka
agak rumit untuk digambarkan jadi saya tidak akan mempelajarinya lebih
detil. Cukup katakan bahwa mereka mengukur waktu, dengan akurasi amat
tinggi, yang dihabiskan cahaya di sebuah laboratorium untuk menempuh dua
jalur berjarak setara, satu ke arah gerakan Bumi saat mengorbit Matahari
dan satunya lagi pada sudut siku-siku terhadapnya. Duduk di laboratorum di
Bumi dan mengamati kecepatan cahaya, mereka seperti sopir mobil tadi yang
mengukur gelombang suara yang meninggalkan mobil dengan kecepatan
berbeda-beda tergantung ke arah mana dia memandang. Bagaimanapun juga,
baginya gelombang suara yang berjalan lurus ke atas akan masih bergerak
pada kecepatan 1.200 km/jam.
Jika eter eksis, dan Michelson dan Morley tahu bahwa Bumi
sedang bergerak bebas melintasinya, maka cahaya yang bergerak di jalur
berbeda akan menempuh dua jarak setara tadi dalam waktu berlainan. Ini
mengindikasikan bahwa, relatif terhadap Bumi yang bergerak, cahaya bergerak
dengan kecepatan berlainan ke dua arah tersebut. Walaupun kecepatan cahaya
adalah 300.000 km/detik, yakni 10.000 kali lebih cepat daripada kecepatan
Bumi, interferometer Michelson masih cukup akurat untuk menangkap
selisih waktu antara kedua sorot itu jika memang ada. Namun tak ada yang
ditemukan. Sejak saat itu semakin banyak eksperimen presisi memakai sinar
laser telah mengkonfirmasi temuan Michelson dan Morley.
Eksperimen mereka telah menunjukkan bahwa cahaya tidak seperti
gelombang lain. Ia berjalan pada kecepatan yang sama entah Anda bergerak
menuju sumbernya ataupun menjauhinya. Ia tidak memiliki latar belakang
tetap yang berdasarkannya kita bisa mengukur kecepatannya. Jadi tak ada
kebutuhan akan eter sama sekali.
Sebagian besar fisikawan pada waktu itu menolak mempercayai ini
dan mencoba memodifikasi hukum fisika untuk mengakomodasi temuan baru
tersebut tapi tak ada gunanya. Mereka mencoba berargumen bahwa cahaya
berperilaku sebagai searus partikel (sebab ini juga akan menjelaskan temuan
155
tersebut) tapi eksperimen tersebut diset secara spesifik untuk mendeteksi
sifat gelombang cahaya. Itu mendeteksi pola interferensi antara gelombang-
gelombang dalam cara yang sungguh mirip dengan setup asli Thomas Young
yang mengkonfirmasi sifat gelombang cahaya. Bagaimanapun juga, cahaya
yang berperilaku sebagai partikel juga akan membuang kebutuhan akan eter
sebab tak memerlukan medium untuk melintas.

Eksperimen pikiran dan pengusik akal


Einstein baru anak-anak saat Micelson dan Morley menjalankan
eksperimennya. Pada masa mudanya dia mempertimbangkan atribut aneh
cahaya dengan menemukan eksperimen pikiran (gedanken-nya yang
tersohor). Dia mencoba membayangkan dirinya terbang dengan kecepatan
cahaya sambil memegang cermin di depannya. Apakah dirinya akan melihat
bayangannya sendiri? Bagaimana cahaya dari wajahnya bisa mencapai
cermin jika cermin itu sendiri bergerak pada kecepatan cahaya? Tahun-tahun
perenungannya memuncak dalam dua pernyataan sederhana yang dikenal
sebagai prinsip relativitas. Prinsip itu bisa diuraikan dengan cara berikut:
1. Tak ada eksperimen yang bisa Anda jalankan yang akan memberitahu
Anda apakah Anda sedang berdiri diam atau bergerak dengan kecepatan
konstan. Semua gerak adalah relatif sehingga tak ada yang bisa betul-betul
dikatakan diam.
2. Cahaya berperilaku seperti gelombang dalam arti bahwa kecepatannya
tidak tergantung pada kecepatan sumbernya. Pada waktu yang sama ia
tidak memerlukan medium untuk melintas seperti gelombang lain.
Sejauh ini bagus. Anda akan berpikir bahwa tak ada yang sulit diterima dalam
pernyataan tak berbahaya di atas. Pernyataan ini terlihat terlalu ringan untuk
mampu menjawab dua pertanyaan yang diajukan di awal bab bahwa tak
ada yang bisa berjalan lebih cepat daripada cahaya dan waktu melambat.
Pernyataan ini mungkin terlihat tak berbahaya tapi percayalah, dengan
menerimanya Anda sedang menjual jiwa Anda kepada iblis.
Pertama-tama izinkan saya meyakinkan Anda bahwa kedua pernyataan
di atas sungguh benar dan bisa didemonstrasikan dengan mudah. Postulat
pertama menyatakan bahwa jika Anda menjalankan eksperimen sederhana
seperti menjatuhkan bola saat berada dalam pesawat yang berjalan pada
kecepatan konstan, si bola akan, menurut Anda, jatuh vertikal sebagaimana
jika Anda melakukannya di atas tanah. Oleh sebab itu Anda punya hak setara
156
untuk mengklaim bahwa pesawat adalah diam sedangkan Bumi bergerak di
bawah Anda dengan kecepatan beberapa ratus kilometer per jam ke arah
berlawanan. Contoh lebih jelas adalah dua roket yang berjalan pada kecepatan
konstan menuju satu sama lain di angkasa. Jika kedua mesin roket mati dan
mereka hanya ‘meluncur’, mereka tak pernah bisa memutuskan apakah
sedang bergerak menuju satu sama lain ataukah yang satu diam dan yang lain
menghampiri. Tak ada bagusnya mengambil bintang dekat sebagai titik acuan
sebab siapa yang bilang ia betul-betul diam?
Postulat kedua dikonfirmasikan oleh eksperimen Michelson dan Morley
dan kelihatannya tak berbahaya. Pada saat kedua postulat digabungkanlah
masalah dimulai. Saya tahu saya terdengar agak seperti dokter, tapi saya ingin
Anda berani sebab ini mungkin sedikit menyakitkan.
Kita telah memperlihatkan bahwa cahaya yang mencapai kita
dari sebuah sumber akan berjalan dengan kecepatan yang sama tanpa
menghiraukan seberapa cepat sumbernya bergerak. Tapi karena ia tak
punya medium untuk melintas dan yang berdasarkannya kita bisa mengukur
kecepatannya, maka kita sama-sama dapat mengatakan bahwa bukan sumber
itulah yang bergerak menuju kita melainkan kita yang bergerak menuju
sumber sebab semua gerak adalah relatif. Ini adalah pernyataan bahwa cahaya
mematuhi prinsip relativitas pertama.
Pikirkan lagi dua roket yang menghampiri satu sama lain. Seorang
astronot yang berada di dalam salah satu roket menyorotkan cahaya ke roket
satunya lagi dan mengukur kecepatan cahaya begitu meninggalkan roketnya.
Karena dia secara sah bisa mengklaim dirinya dalam keadaan diam, sedangkan
roket lain melakukan semua pergerakan, dia melihat cahaya menjauh darinya
dengan kecepatan 300.000 km/detik. Pada waktu yang sama, astronot di roket
lain juga bisa secara sah mengklaim dirinya dalam keadaan diam. Dia akan
mengukur kecepatan cahaya yang mencapai dirinya sebesar 300.000 km/detik
dan menyatakan bahwa ini sama sekali tidak mengejutkan sebab kecepatan
sorot tidak tergantung pada seberapa cepat sumbernya mendekat.
Keduanya mengukur cahaya memiliki kecepatan yang sama. Ini
mengagumkan, dan bertentangan dengan akal sehat. Kedua astronot
mengukur sorot cahaya yang sama berjalan pada kecepatan yang sama,
padahal bergerak relatif terhadap satu sama lain!
Sekarang kita dapat menjawab pertanyaan Einstein menyangkut cermin.
Tak peduli seberapa pun dia mendekati kecepatan cahaya—dan saya akan
157
jelaskan nanti mengapa dia tak pernah dapat berjalan pada kecepatan
cahaya—dia akan selalu melihat bayangan dirinya. Ini lantaran, tanpa
menghiraukan kecepatan dirinya, dia masih melihat cahaya berjalan pada
kecepatan yang sama dari wajahnya menuju cermin dan kembali lagi.
Cara lebih baik untuk merumuskan ini adalah membayangkan
menyorotkan obor, lalu Anda berjalan di samping sorot obor pada ¾
kecepatan cahaya menurut seseorang yang memegang obor. Akal sehat Anda
memberitahu bahwa Anda semestinya melihat cahaya masih melampaui Anda
tapi pada kecepatan yang jauh berkurang yaitu seperempat kecepatan aslinya.
Benarkah?
Salah! Anda masih melihatnya bergerak pada kecepatan yang sama
dengan yang diukur pemegang obor.

Waktu melambat
Kita mencapai keadaan aneh di atas dengan mengikuti sejumlah langkah logis
yang dirangkai dengan temuan eksperimen kokoh. Lalu di mana salahnya?
Bagaimanapun juga, sorot cahaya yang sama, gelombang elektromagnetik
yang sama, atau photon yang sama, atau apapun yang menurut Anda
penyusun cahaya, meninggalkan obor. Bagaimana Anda bisa, sambil berjalan
di sampingya pada hampir kecepatan cahaya, masih melihatnya melampaui
Anda pada kecepatan yang sama dengan yang dilihat oleh pemegang obor?
Satu-satunya jalan ini bisa terjadi adalah jika waktu Anda berjalan lebih lambat
daripada pemegang obor. Jika dia bisa melihat stopwatch yang Anda pegang,
dia akan melihatnya berdetik-detik lebih lambat daripada miliknya. Jika dia bisa
secara jarak jauh mengukur denyut jantung Anda, dia akan mendapatinya lebih
lambat. Bukan itu saja; jika Anda lupa tentang sorot cahaya, prinsip relativitas
pertama mengimplikasikan bahwa Anda sama-sama bisa mempertimbangkan
teman Anda yang berdiri di tanah sebagai seseorang yang bergerak pada ¾
kecepatan cahaya, tapi ke arah berlawanan. Anda akan melihat waktu miliknya
berjalan lebih lambat daripada waktu Anda!
Ini bukan suatu teori sinting yang ditemukan untuk memahami gagasan
menggelikan bahwa cahaya berjalan pada kecepatan yang sama untuk setiap
orang. Gagasan mengenai kecepatan cahaya amatlah jauh dari menggelikan
dan dikonfirmasikan dalam eksperimen akselerator partikel sepanjang waktu.
Akselerator ini merupakan laboratorium besar dengan terowongan bawah
tanah sirkuler, sepanjang beberapa mil, yang menembakkan partikel-partikel
158
subatom berkeliling pada hampir kecepatan cahaya, semisal fasilitas CERN
yang terkenal di Swiss. Pelambatan (disebut dilasi) waktu adalah konsekuensi
tak terhindarkan dari perilaku partikel high speed.
Pertama-tama izinkan saya menyebutkan eksperimen-eksperimen
partikel ini. Diketahui bahwa partikel subatom tipe tertentu, disebut pion
(dilafalkan ‘pie-on’), memancarkan photon-photon cahaya. Saat sebuah
pion diam, photon tentu saja akan muncul dengan kecepatan cahaya
(bagaimanapun ia adalah partikel cahaya). Tapi di CERN, pion bisa dibuat
bergerak memutari terowongan bawah tanah sirkuler besar pada hampir
kecepatan cahaya. Namun mereka masih memancarkan photon mereka,
dan photon-photon yang muncul ke arah gerakan pion bisa dideteksi dan
kecepatan mereka bisa diukur. Mereka didapati masih berjalan pada kecepatan
yang sama dengan saat memancar dari pion diam.
Jadi, photon yang muncul dari pion yang bergerak terlihat berjalan
dengan kecepatan cahaya dari sudut pandang kita yang berdiri di laboratorium
dan dari sudut pandang pion itu sendiri.
Adapun pelambatan waktu, kita bisa memahami bagaimana ini
terjadi dengan mempertimbangkan eksperimen pikiran berikut. Gambar 6.1
memperlihatkan sebuah boks yang berisi sumber cahaya dengan detektor
di bagian dasarnya dan cermin di bagian atapnya. Sumber cahaya, yang
menunjuk lurus ke atas, memancarkan sekilas cahaya (disebut light pulse)
yang memantul cermin di atap dan kembali turun menuju detektor yang
kemudian menyalakan sinyal saat menerimanya. Menurut seseorang di dalam
boks, cahaya akan memakan waktu tertentu untuk pergi dari sumber menuju
cermin dan memantul menuju detektor. Nah bayangkan boks itu sendiri
bergerak menyamping pada hampir kecepatan cahaya. Bagi pengamat yang
menyaksikannya menukik (bagian depan boks terbuat dari kaca), light pulse
menyusuri jalur yang lebih panjang daripada jalur naik-turun yang dilihat oleh
orang di dalam boks. Bagi pengamat luar tersebut, pulse menempuh jarak
lebih panjang sebagaimana dalam gambar, tapi dia masih melihat cahaya
berjalan dengan kecepatan yang sama. Namun, karena sekarang menempuh
jarak lebih panjang (garis putus-putus), cahaya akan melewatkan waktu lebih
lama sebelum kembali ke detektor.36 Oleh sebab itu lebih banyak waktu berlalu

36 Waktu tempuh ditentukan oleh jarak tempuh light pulse dibagi dengan kecepatannya. Ini,
semoga saya tak harus mengingatkan Anda, berasal dari hubungan: kecepatan sama dengan
jarak per waktu. Jadi semakin jauh yang harus ditempuh, semakin lama waktu yang diperlukan.
159
menurut jam di tanah daripada menurut jam di dalam boks. Karena kedua
jam mengukur durasi proses yang sama (waktu yang diperlukan cahaya
untuk naik dan turun boks), waktu di dalam boks pasti berjalan lebih lambat
sehingga jamnya mencatat durasi lebih pendek! Penggemar relativitas khusus
akan sadar bahwa penjelasan ini bukan keseluruhan cerita sebab perkataan
bahwa seseorang ‘melihat’ sesuatu mengimplikasikan bahwa cahaya pasti
menjangkau mata orang tersebut dari objek, dan perlu waktu terhingga untuk
menjangkaunya.
Jadi jam bergerak yang berdetak lambat dan contoh di atas
menunjukkan bagaimana itu terjadi. Seringkali, ketika orang-orang menjumpai

Gambar 6.1. (a) Pengamat di dalam boks bergerak melihat light


pulse menempuh jarak yang kira-kira dua kali tinggi boks dalam
perjalanannya ke sana-lalu-kembali. (b) Bagi pengamat di luar,
cahaya menempuh jarak lebih panjang. Ketiga boks merupakan
potret kerangka-kerangka waktu berurutan. Yang kiri adalah posisi
boks saat light pulse dipancarkan, yang tengah adalah saat pulse
menyentuh cermin, dan yang kanan adalah saat pulse menyentuh
detektor. Jika kedua pengamat sependapat soal kecepatan cahaya
(sebagaimana seharusnya) maka satu-satunya cara ia dapat
menempuh jarak berbeda adalah jika keduanya tidak sepakat soal
waktu yang dihabiskan cahaya untuk menyelesaikan perjalanan ke
sana-lalu-kembali.
160
efek ini untuk pertama kalinya, mereka punya kesan bahwa gerakan cepat
mempengaruhi mekanika jam; bahwa jam dengan suatu cara merespon
kecepatan geraknya. Ini sungguh keliru. Nyatanya, karena semua gerak adalah
relatif, orang di dalam boks sepantasnya mengklaim dirinya tidak bergerak
sama sekali dan bahwa pengamat luarlah yang berjalan pada hampir kecepatan
cahaya. Ini dikuatkan oleh fakta bahwa dia memang akan melihat jam di
tanah berjalan lebih lambat daripada jam di dalam boks! Ini sering melahirkan
kontradiksi logika. Bagaimana bisa dua jam berjalan lebih lambat daripada satu
sama lain? Orang-orang yang tidak memahami relativitas menduga bahwa
jam-jam tersebut hanya tampak berjalan lambat menurut satu sama lain sebab
perlu waktu tertentu bagi cahaya untuk berjalan dari jam ke pengamat lain.
Sebagaimana dinyatakan oleh James A. Smith dalam bukunya, Introduction
to Special Relativity, “tak ada hal yang bisa memfitnah teori relativitas secara
tak tanggung-tanggung daripada ini”. Kita akan simak dalam pembahasan
paradoks kembar nanti tentang bagaimana kita dapat memperlambat waktu
secara permanen dengan membuat jam mencepat dan melambat lagi.
Saya yakin Anda pasti berpikir ini bagaimanapun juga cuma teori.
Mungkin baik-baik saja bagi penulis sains fiksi tapi tentu tak punya tempat di
‘dunia riil’. Jika laju detak jam bisa begitu tergantung pada gerak relatifnya,
mengapa kita merasa susah dengan hal-hal semacam pencatat waktu high
precision seperti jam atom? Alasannya, efek tersebut hanya terlihat saat jam
bergerak pada kecepatan amat tinggi relatif terhadap satu sama lain. Semakin
jam bergerak mendekati kecepatan cahaya, semakin lambat ia berdetak.
Seandainya ia bergerak pada kecepatan cahaya secara relatif terhadap kita,
maka kita akan melihat waktunya berhenti sama sekali.
Berikut adalah contoh lain. Pikirkan seorang sprinter yang berlari ratusan
meter dalam 10 detik, menurut pencatat waktu handal dan akurat wasit. Jika
dia membawa sendiri stopwatch akurat bersamanya maka, akibat sedikit
pelambatan waktu baginya selagi dia berlari, jam miliknya akan menunjukkan
waktu 9,999999999999995 detik. Tentu saja ini begitu dekat dengan 10
detik sehingga kita takkan pernah mengetahui selisihnya. Namun, ilmuwan
rutin mengukur waktu dengan akurasi semacam ini. Selisih antara jam pelari
dan jam wasit cuma lima ‘femtodetik’. Alasan mengapa selisih waktunya
sedemikian kecil adalah karena atlet bergerak jauh lebih lambat daripada
cahaya. Roket tercepat pun terlampau lambat untuk memperlihatkan efek
signifikan.
161
Oleh sebab itu bisakah kita melihat dilasi waktu yang nyata sedang
beraksi? Well, ini sesuatu yang dapat saya jamin secara pribadi sebab,
sebagaimana banyak mahasiswa fisika lain, saya pernah melaksanakan
eksperimen laboratorium sewaktu kuliah. Eksperimen itu melibatkan partikel
subatom tipe lain yang disebut muon (‘mew-on’) yang dihasilkan oleh sinar
kosmik. Mereka adalah partikel high-energy dari angkasa yang terus-menerus
membombardir atmosfer Bumi. Di atmosfer atas, banyak tipe partikel baru,
kebanyakan muon, tercipta dengan cara ini, lalu turun ke permukaan Bumi.
Fisikawan telah mempelajari atribut-atribut muon dan mengetahui bahwa
mereka mempunyai masa hidup amat pendek yaitu sepersejuta detik. Masa
hidup ini, tentu saja, hanya bersifat statistik, dalam arti bahwa beberapa muon
mungkin hidup sedikit lebih lama, dan beberapa mungkin hidup kurang dari
itu. Tapi jika seribu muon tercipta sekaligus, maka setelah sepersejuta detik
akan tersisa kira-kira lima ratus.
Muon-muon yang tercipta di atmosfer atas begitu energetik sampai-
sampai mereka berjalan menuju Bumi dengan kecepatan luar biasa, 99%
kecepatan cahaya. Namun, dengan kecepatan ini pun mereka masih harus
menghabiskan sebagian masa hidup mereka untuk menempuh jarak ke
permukaan Bumi (dan, yang lebih penting, menuju detektor muon di
laboratorium). Oleh sebab itu kita semestinya hanya mengamati segelintir
muon bermasa hidup panjang yang mampu menyelesaikan perjalanan. Akan
tetapi hampir semua muon sanggup menyelesaikan perjalanan itu dengan
nyaman. Alasannya adalah, waktu muon (jam internal mereka yang mengukur
masa hidup mereka) berjalan jauh lebih lambat daripada waktu kita. Jadi dari
sudut pandang muon, hanya sebagian kecil masa hidup mereka yang berlalu.
Argumen alternatif bahwa muon yang bergerak cepat, untuk alasan
tertentu, pasti hidup lebih lama daripada muon yang diam tidaklah masuk akal.
Dengan penyelidikan lebih cermat, kita paham bahwa ini tidak benar sebab
melanggar prinsip relativitas pertama: muon yang bergerak hanya ‘bergerak’
relatif terhadap kita.

Jarak menyusut
Tidak puas menggulingkan gagasan lama waktu absolut, Einstein masih
merahasiakan beberapa kejutan lain. Pikirkan bagaimana segala sesuatu akan
terlihat bagi Anda jika Anda sedang duduk di atas sebuah muon selagi ia
berjalan turun ke Bumi. Anda akan sependapat dengan seseorang di permukaan
162
tanah yang menyaksikan Anda bahwa Anda dan dia saling mendekat pada
99% kecepatan cahaya. Bagaimana bisa dia melihat Anda menempuh jarak
satu mil, katakanlah, dalam waktu 5 per sejuta detik (lima masa hidup muon)
menurut jam Buminya, sedangkan Anda mengklaim menempuh jarak yang
sama dalam waktu sepersepuluh saja dari durasi tersebut. Tak ada sorot cahaya
yang terlibat di sini dan Anda akan berpikir bahwa satu-satunya matematika
yang diperlukan adalah relasi: kecepatan sama dengan jarak bagi waktu.
Bagaimana bisa kalian berdua sependapat tentang kecepatan gerak Anda tapi
tak sependapat tentang waktu yang Anda habiskan untuk menempuh jarak
yang itu-itu juga?
Sesuatu yang lain pasti melar, dan itu adalah jarak. Guna meraih
kesamaan harga kecepatan muon dalam kedua kasus (dengan membagi
jarak dengan waktu), jarak yang ditempuh yang terlihat oleh muon harus
pula sepersepuluh harga yang terlihat dari Bumi. Dengan kata lain, muon
akan melihat jaraknya teremas menjadi kurang dari satu mil. Ini menjelaskan
bagaimana ia mampu bertahan dalam perjalanan; ia tidak berpikir dirinya telah
menempuh jarak begitu jauh.
Sifat perjalanan high-speed ini dikenal sebagai kontraksi panjang. Ini
menyatakan bahwa objek yang bergerak cepat terlihat lebih pendek daripada
saat diam. Dalam contoh muon, objek yang dimaksud adalah ketebalan
atmosfer. Seorang Irlandia dan seorang Belanda pertama kali mengemukakan
efek ini tak lama setelah eksperimen Michelson dan Morley, dan beberapa
tahun sebelum relativitas umum. George Fitzgerald dan Hendrik Lorentz
menguraikan bahwa hasil eksperimen eter bisa dijelaskan jika terdapat
kontraksi panjang dengan gerakan high-speed. Ini akan menyelamatkan ide
eter. Lorentz bahkan beranjak begitu jauh dengan mendapatkan set persamaan
yang kini menyandang namanya. Sialnya, dia tidak membuat lompatan intuisi
terakhir yang kelak menjadi postulat relativitas kedua. Oleh sebab itu, dalam
beberapa hal, banyak karya dasar telah dikerjakan sebelum Einstein dan
seringkali dinyatakan bahwa seandainya Einstein tak menemukan relativitas
khusus, orang lain akan menemukannya.
Sebagaimana pelambatan waktu, pemendekan panjang semakin sering
terlihat dengan semakin tipisnya sebuah objek bergerak mendekati kecepatan
cahaya. Jadi efek macam apa yang akan kita amati di dunia riil? Untuk memberi
Anda contoh yang kuat, bayangkan memfoto secara akurat sebuah jet yang
terbang dengan kecepatan dua kali kecepatan suara (yakni 2000 km/jam).
163
Anda akan melihat ia sedikit lebih pendek daripada saat di tanah. Tapi untuk
pesawat tipikal, pemendekan panjang ini akan kurang dari lebar sebuah atom!
Ini tentu saja tak dapat diukur dari foto pesawat. Tapi Anda harus ingat bahwa
walaupun dua kali kecepatan suara terasa cepat bagi kita, itu tak ada apa-
apanya dibandingkan dengan kecepatan cahaya. Jika jet bergerak beberapa
ratus ribu kali lebih cepat, katakanlah ¾ kecepatan cahaya, maka kita akan
melihat bedanya. Jet akan terlihat setengah dari panjang aslinya. Seandainya
bergerak secepat muon sinar kosmik, ia akan terlihat teremas menjadi
sepesepuluh saja dari panjangnya.
Anda pasti berpikir, betapa tak nyaman bagi pilotnya. Kiranya ini
merupakan salah satu bahaya perjalanan secepat itu. Padahal, pilot takkan
merasakan sesuatu yang tak biasa. Baginya dimensi pesawat (dan dirinya)
tidak berubah sama sekali. Nyatanya, berkat prinsip relativitas pertama,
dia melihat dunia di sekelilingnya teremas, mirip dengan yang dilihat muon
(seandainya muon dapat melihat!)

Cahaya—rekor kecepatan dunia


Tak ada yang lebih menggelisahkan orang-orang mengenai relativitas
manakala pertama kali menjumpainya selain klaim bahwa tidak ada yang bisa
berjalan lebih cepat daripada cahaya. Mereka bersedia menerima pelambatan
jam, penyusutan panjang, bahkan perjalanan cahaya pada kecepatan
yang sama bagi semua pengamat, tapi mengapa, ya Tuhan, kita tak bisa
membayangkan sesuatu bergerak pada kecepatan lebih dari 300.000 km/
detik? Diakui, ini adalah kecepatan luar biasa tinggi yang tidak dapat dicapai
oleh apapun yang kita kenal (selain partikel subatom), tapi relativitas khusus
mengatakan bahwa hukum alam melarang apapun bergerak semakin cepat.
Bayangkan membangun roket yang dapat terus melaju semakin cepat. Tentu
saja, mesin semacam itu tidak terjangkau oleh kemampuan teknologi terkini
kita, lalu bagaimana seandainya sebuah peradaban alien membangunnya?
Apa yang akan terjadi begitu ia mendekati kecepatan cahaya? Apakah suatu
landaian kecepatan kosmik menjadi aktif? Apakah roket meledak, jatuh ke
dalam black hole atau memasuki lengkungan waktu? Tidak, tak ada yang
sedramatis itu.
Ada sejumlah cara untuk menjelaskan mengapa kecepatan cahaya
merupakan kecepatan tertinggi di Alam Semesta kita. Salah satu metodenya
adalah menggunakan aljabar. (Oh hebat, Anda pikir, itu betul-betul akan
164
meyakinkan saya.) Namun, saya takkan mendalami detail-detailnya. Cukup
dikatakan bahwa, menurut relativitas khusus, kecepatan bertambah dengan
cara yang sangat aneh. Jika Anda berada dalam kereta yang sedang berjalan
pada kecepatan 100 km/jam dan Anda melemparkan sebuah bola keluar
jendela pada kecepatan 10 km/jam ke arah gerak kereta maka, bagi seseorang
yang berdiri di luar dan menyaksikan Anda lewat, bola itu awalnya akan
bergerak pada kecepatan gabungan 110 km/jam. Ini dikenal sebagai hukum
penjumlahan kecepatan. Bagaimana jika sekarang kita mengemukakan ulang
contoh yang sama tapi dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi? Pikirkan apa
yang dilihat oleh pengamat luar dalam gambar 6.2. Roket bergerak pada ¾
3/4 Kecepatan cahaya

Melihat misil
mendahului pada
1/2 kecepatan cahaya

STASIUN
ANTARIKSA

Gambar 6.2. Menurut aturan normal penjumlahan kecepatan,


pengamat di stasiun antariksa semestinya melihat misil berjalan
pada ¾ + ½ = 1¼ kali kecepatan cahaya. Einstein menunjukkan
bahwa tak ada yang bisa bergerak lebih cepat daripada cahaya
dan cara kita menjumlahkan kecepatan harus diubah.

kecepatan cahaya saat ia menembakkan misil yang meluncur pada ½


kecepatan cahaya sebagaimana dilihat oleh orang dalam roket. Apakah
pengamat melihat misil bergerak pada 1 ¼ kali kecepatan cahaya? Dia akan
melihat demikian jika aturan lazim mengenai penjumlahan kecepatan benar.
165
Tapi seperti kebanyakan fisika yang valid untuk pemakaian sehari-hari, hukum
ini mogok pada kecepatan relativistik. Rumusan yang tepat akan mengatakan
bahwa pengamat melihat misil bergerak pada 9/10 kecepatan cahaya. Tak
peduli seberapa dekat pun roket dan misil bergerak menghampiri kecepatan
cahaya, kecepatan gabungan mereka menurut pengamat diam akan selalu lebih
besar daripada kecepatan masing-masing tapi di bawah kecepatan cahaya.
Cara termudah untuk menjelaskan batas kecepatan cahaya tersebut
juga kebetulan merupakan cara untuk menjelaskan dari mana persamaan
paling terkenal milik Einstein (E = mc2) berasal. Setelah Einstein memahami
bagaimana ruang dan waktu terpengaruh oleh kecepatan cahaya, dia beranjak
memikirkan apa hal lain yang harus diperbaiki. Beberapa hukum terpenting
dan terdasar dalam fisika dikenal sebagai hukum kekekalan, yang menyatakan
bahwa kuantitas tertentu semestinya tetap konstan sekalipun kuantitas lain
berubah. Salah satu dari hukum ini adalah hukum kekekalan momentum.
Ingat, momentum sebuah benda ditetapkan oleh massa kali kecepatannya,
jadi sebuah bola meriam yang secara pelan menggelinding di tanah bisa
dihentikan di jalurnya oleh sebuah peluru yang menghantamnya antar muka.
Ini akan terjadi ketika keduanya memiliki momentum setara tapi berlawanan
yang saling menghapuskan. Bola meriam punya massa besar tapi kecepatan
rendah, sedangkan peluru punya massa kecil tapi kecepatan tinggi. Dalam
kedua kasus, hasil kali massa dan kecepatan bisa memberikan angka yang
sama (momentum). Saat dua objek bertubrukan, kita mengira momentum
gabungan mereka sebelum dan setelah tubrukan ialah sama. Mereka tak harus
saling menghapuskan—dengan kata lain, kasus istimewa—tapi biasanya yang
satu akan mentransfer sebagian momentumnya kepada yang lain. Einstein
menemukan bahwa saat benda-benda bergerak pada hampir kecepatan cahaya,
momentum total tak terkekalkan, sebagaimana seharusnya menurut beberapa
pengamat jika memakai aturan sederhana ‘massa kali kecepatan’. Lagi, lagi,
sesuatu harus melar. Kali ini definisi massa benda yang bergerak cepat.
Ternyata semakin cepat sebuah objek bergerak, semakin berat ia
jadinya, dan semakin sulit untuk membuatnya bergerak lebih cepat lagi.
Semakin ia mendekati kecepatan cahaya, semakin besar momentumnya, tapi
ini berkat massanya yang bertambah, bukan kecepatannya.
Pikirkan apa yang terjadi pada massa sebuah objek saat bergerak sangat
cepat. Salah satu konsekuensi terpenting dari persamaan relativitas khusus ialah
betapa massa dan energi terhubung. Einstein menunjukkan bahwa massa bisa
166
dikonversi menjadi energi, begitu pula sebaliknya. Keduanya terhubung lewat
persamaan E = mc2, yang memberitahu kita betapa banyak energi terkunci
dalam suatu massa tertentu. C ialah kecepatan cahaya, dan karenanya kuantitas
c2 (kecepatan cahaya kali kecepatan cahaya) adalah angka yang memang
sangat besar dan menjelaskan bagaimana kita dapat memperoleh begitu
banyak energi dari massa berjumlah kecil. Persamaan ini mengindikasikan
bahwa kita bisa membayangkan massa sebagai energi terbeku.
Karena objek bergerak juga punya energi berkat gerakannya (disebut
energi kinetik), energi totalnya adalah jumlah energi yang terbeku sebagai
massa saat tak bergerak plus energi kinetiknya. Semakin cepat ia bergerak,
semakin banyak energi yang dimilikinya. Ini berarti massa riil sebuah objek
adalah berkat energi terbekunya plus energi hasil gerakannya. Kebanyakan,
energi terbeku sebuah objek (massanya) jauh lebih besar daripada energi
gerakannya sehingga kita bisa abaikan energi gerakannya dan menganggap
massanya sama dengan ketika ia tak bergerak. Tapi begitu kecepatannya
mendekati kecepatan cahaya, energi kinetik menjadi begitu besar sehingga
melampaui energi terbeku. Jadi, massa sebuah objek yang bergerak cepat jauh
lebih besar daripada massanya saat diam. Tentu saja, sepanjang menyangkut
dirinya, si objek dapat mengklaim berada dalam kondisi diam (sebab semua
gerakan adalah relatif) dan karenanya tak menyadari perubahan massanya.
Anda kini bisa memahami persoalan dalam mencoba mencapai
kecepatan cahaya. Bayangkan sebuah mesin kereta yang berakselerasi
sedang menarik sebuah gerbong. Bagaimana jika, untuk setiap pertambahan
kecepatan 10 km/jam yang ditempuhnya, gerbong lain ditambahkan. Ia pasti
akan bekerja lebih keras untuk sekadar mempertahankan kecepatannya.
Semakin cepat ia berjalan, semakin banyak gerbong yang harus ditariknya, dan
semakin besar tenaga yang diperlukannya. Dengan cara yang sama, semakin
cepat sebuah benda bergerak, relatif terhadap suatu pengamat, semakin berat
terlihatnya, dan semakin sulit untuk membuatnya bergerak lebih cepat lagi.
Untuk mengakselerasinya hingga kecepatan cahaya dibutuhkan energi dalam
jumlah tak terhingga, yang mana adalah mustahil.

Saat waktu berjalan terbalik


Relativitas khusus memberitahu kita bahwa tak ada yang dapat dipercepat
melebihi kecepatan cahaya, tapi itu tak menyingkirkan sesuatu yang bergerak
lebih cepat daripada cahaya sepanjang ia senantiasa tetap berada di sisi lain
167
batas kecepatan cahaya. Anda paham, kecepatan cahaya ialah batasan 2 arah;
tak ada objek yang lebih lambat dari cahaya bisa bergerak lebih cepat daripada
cahaya dan tak ada objek yang sudah lebih cepat dari cahaya bisa melambat
hingga kecepatan di bawah cahaya. Fisikawan bahkan memiliki nama untuk
partikel ‘superluminal’ hipotetis yang bergerak lebih cepat daripada cahaya.
Mereka adalah tachyon dan, jika mereka eksis, memiliki beberapa atribut aneh.
Contoh, karena waktu melambat seiring semakin dekatnya sebuah partikel
dengan kecepatan cahaya, sampai waktu menjadi berhenti pada kecepatan
cahaya, kita bisa memikirkan ini selangkah lebih jauh dan paham bahwa, bagi
tachyon, waktu akan berjalan terbalik. Bagi kita, tachyon akan berjalan terbalik
waktu! Tachyon tidak akan seperti partikel normal yang melambat begitu
kehilangan energi. Malah, mereka mencepat, dan ketika sebuah tachyon
kehilangan seluruh energinya ia akan bergerak pada kecepatan tak terhingga!
Walaupun relativitas khusus memprediksi bahwa partikel semacam itu
eksis, belum ada bukti apapun yang ditemukan dan kebanyakan fisikawan
tak percaya mereka eksis. Anyway, mereka terlalu ganjil untuk direnungkan,
bahkan menurut standar fisika modern.
Tapi ada satu contoh pasti partikel yang bergerak lebih cepat daripada
cahaya. Satu-satunya hal yang belum saya sebutkan adalah bahwa batas
kecepatan maksimum yang saya bahas ini secara spesifik mengacu pada
cahaya yang berjalan di ruang hampa. Ini disebut kecepatan cahaya di ruang
vakum. Ketika cahaya menembus material transparan seperti gelas atau air, ia
berjalan lebih lambat. Inilah yang menghasilkan refraksi/pembiasan (ini alasan
mengapa sendok terlihat bengkok saat ditaruh dalam segelas air dan mengapa
kolam renang terlihat lebih dangkal dari sebenarnya). Berkat hal ini, partikel
dapat bergerak menembus medium semacam itu dengan kecepatan yang
jauh lebih besar daripada kecepatan cahaya menembus medium tersebut.
Ketika elektron bergerak menembus air lebih cepat daripada kecepatan cahaya
dalam air, mereka memancarkan cahaya biru yang indah yang dikenal sebagai
radiasi Cerenkov. Cahaya ini ekuivalen dengan dentuman sonik saat sebuah jet
menerobos batas kecepatan suara.
Terakhir, ada sejumlah contoh di mana seolah-olah batas kecepatan
cahaya dilanggar, tapi pemeriksaan lebih cermat menunjukkan tidak demikian.
Yang paling terkenal dari contoh ini adalah paradoks lampu sorot. Di Bab 2
kita bertemu bintang neutron yang berputar cepat, dikenal sebagai pulsar.
Beberapa bintang ini dapat berputar 100 kali per detik. Seraya berputar, mereka
168
memancarkan sorot intens gelombang radio yang menyusuri Bumi seperti
lampu sorot berfrekuensi sama dengan pulsar berotasi. Tapi karena pulsar
begitu jauh (biasanya ribuan tahun-cahaya), lampu sorot yang dipancarkan
sorot ini ke Bumi harus menyusur dalam [bentuk] lingkaran begitu besar
sehingga ia pasti berjalan pada triliunan kali kecepatan cahaya! Namun,
dengan pemeriksaan lebih cermat, kita bisa melihat bahwa ini tidak demikian.
Gelombang-gelombang radio yang datang dari pulsar adalah berbentuk photon
(sebab mereka cuma radiasi elektromagnetik) dan photon-photon inilah yang
dipancarkan dari pulsar dan mereka selalu berjalan pada kecepatan cahaya.
Kebingungan timbul lantaran kita berpikir ada sesuatu yang berputar-putar,
padahal semua photon berjalan secara radial ke arah luar. Tak ada objek fisik
yang betul-betul berputar-putar sebesar ini sama sekali. Bayangkan saja
photon mirip dengan air yang disemprotkan dari alat penyiram taman.

Makhluk hijau kecil


Dilasi waktu dan kontraksi panjang menyediakan cara untuk menempuh jarak
antargalaksi menyeberangi angkasa (sesuatu yang menggembirakan bagi para
ufolog). Di Bab 3, saya memberi Anda suatu kesan jarak amat besar antara
bintang-bintang. Bahkan tetangga-tetangga terdekat kita begitu jauh sampai-
sampai perlu beberapa tahun bagi cahaya mereka untuk menjangkau kita,
sedangkan kebanyakan bintang ribuan tahun-cahaya jauhnya. Ini tampak
menyingkirkan kemungkinan bahwa kita bisa menjangkau bintang lain, beserta
sistem planeternya, sebelum akhir hidup manusia.
Di sinilah relativitas datang untuk menyelamatkan. Jika kapal antariksa
dapat berjalan pada hampir kecepatan cahaya, maka ia melihat jarak yang
harus ditempuhnya berkontraksi. Perjalanan ke sebuah bintang yang berjarak
1000 tahun-cahaya mungkin hanya memakan waktu beberapa tahun menurut
astronot dalam kapal. Menariknya, gara-gara efek dilasi waktu, perjalanan itu
tetap akan memakan waktu 1000 tahun Bumi. Bagaimanapun juga, bila dilihat
dari Bumi, kapal bergerak di bawah kecepatan cahaya. Di Bumi, kita akan
melihat kapal harus menempuh jarak utuh yang tak berkontraksi, tapi kita juga
akan melihat jam kapal melambat sehingga kita juga akan sependapat dengan
mereka mengenai besaran waktu yang telah dihabiskan perjalanan tersebut
menurut mereka.
Apakah ini berarti perjalanan antariksa menyeberangi Alam Semesta
memungkinkan? Pada prinsipnya ya, Anda bisa bepergian menyeberangi Alam
169
Semesta Tampak dan menempuh miliaran tahun-cahaya dalam sehari tanpa
pernah menjangkau kecepatan cahaya. Ini terlepas dari fakta bahwa cahaya,
yang bergerak lebih cepat daripada Anda, perlu miliaran tahun cahaya untuk
melakukan perjalanan yang sama. Triknya adalah membedakan antara waktu
yang dihabiskan perjalanan menurut jam di roket Anda (yang mencatat satu
hari) dan waktu yang dihabiskan menurut jam di Bumi (miliaran tahun-
cahaya). Konsekuensi yang agak mengherankan dari ini adalah bahwa bagi
cahaya itu sendiri waktu berdiam. Jika Anda bisa menyematkan jam pada sorot
cahaya, jam itu takkan berdetak sama sekali. Kita katakan bahwa bagi photon,
waktu tidak berlalu sama sekali (dilasi waktu maksimum) dan keseluruhan
Alam Semesta memiliki ukuran nol (kontraksi panjang maksimum)!!
Karena memungkinkan untuk menempuh suatu jarak menyeberangi
angkasa dalam waktu singkat dengan berjalan mendekati kecepatan
cahaya, sepertinya saya telah, setidaknya secara teori, membuka pintu bagi
kemungkinan bahwa kita pernah dikunjungi makhluk dari dunia-dunia lain.
Argumennya adalah, setidaknya mungkin saja sebuah pesawat antariksa
alien memiliki sistem propulsi yang ratusan, bahkan ribuan, tahun lebih maju
daripada yang dapat kita bayangkan, dan mampu menghampiri kecepatan
cahaya. Oleh sebab itu mereka mungkin sanggup menempuh jarak amat
besar menyeberangi angkasa dalam waktu beberapa bulan atau tahun saja.
Walau saya benci memadamkan fantasi yang satu ini, amat tidak mungkin
(tapi tentu bukan mustahil) UFO adalah piring terbang sungguhan lantaran
sejumlah alasan. Karena pesawat antariksa alien harus mematuhi hukum fisika
yang sama sebagaimana segala sesuatu di Alam Semesta, ia tak bisa berjalan
lebih cepat daripada cahaya. Sekalipun perjalanan dari planet mereka mungkin
hanya memakan waktu beberapa tahun menurut alien pelancong tersebut,
ribuan atau bahkan jutaan tahun akan telah berlalu di planet mereka. Jadi,
dengan asumsi bahwa rentang hidup mereka sebanding dengan kita, mustahil
bagi mereka untuk pulang dan melaporkan temuan mereka. Rekan sebaya
mereka sudah lama mati. Tentu saja saya tak berhak menilai (a) berapa masa
hidup alien dan (b) apakah mereka bermaksud pulang.

Mencepat ke masa depan


Relativitas khusus telah meninggalkan sejumlah konsep ganjil dan menggugah
keingintahuan, terutamanya di antaranya adalah ide bahwa waktu melambat
bagi objek yang bergerak cepat. Satu aspek penting dari efek aneh ini, yang
170
belum saya sebutkan sampai sekarang, adalah bahwa ini memberi kita cara
untuk ‘bergerak mencepat’ menerobos waktu: pergi menerobos waktu
menuju masa depan! Jadi mari kita memikirkan ini lebih cermat. Selama
bertahun-tahun, teori relativitas telah menjadi sumber perdebatan dan
diskusi yang kaya, dan bukan hanya di kalangan fisikawan. Tapi yang paling
membingungkan, paling diperdebatkan, dan masih paling disalahpahami di
antara semua konsekuensinya, dikenal sebagai paradoks jam, atau paradoks
kembar. Saya akan memberi garis besar singkatnya di sini dan menunjukkan
mengapa sebetulnya tak ada paradoks sama sekali.
Kita berjumpa si kembar Alice dan Bob. Alice adalah seorang petualang
yang senang mengitari Galaksi dengan roket high-speed-nya, sedangkan Bob
lebih suka tinggal di rumah. Suatu hari, Alice mengucapkan selamat tinggal
kepada saudaranya itu dan berangkat dengan roketnya menuju sistem Alpha
Centauri yang berjarak empat tahun-cahaya, berjalan pada 2/3 kecepatan
cahaya. Bob memonitor perjalanannya dan mengkalkulasi bahwa Alice mestinya
mencapai tempat tujuannya dalam waktu 6 tahun. Setelah tiba di sana dia
akan berputar dan langsung kembali. Mempertimbangkan waktu perputaran
balik, Bob menduga perjalanan pulang-pergi itu memakan waktu sedikit di atas
12 tahun. Namun dia frustasi oleh pesan-pesan yang diterimanya dari Alice.
Tak hanya ada peningkatan time delay (keterlambatan waktu) akibat perluasan
jarak antara mereka, tapi juga Doppler bergeser ke arah panjang gelombang
yang lebih panjang. Dari kecepatan roket, dia menentukan seberapa banyak
pergeseran Doppler yang semestinya terjadi dan memasukkannya ke dalam
hitungan. Namun, panjang gelombang itu masih terlalu panjang dan dia cepat-
cepat menyadari bahwa ini diakibatkan oleh efek relativistik dilasi waktu.
Bagi dia, waktu di dalam roket Alice berjalan sedikit lebih lambat daripada
waktu miliknya dan ini termanifestasi dalam panjang gelombang sinyal yang
lebih panjang. Memasukkan pelambatan waktu roket ini ke dalam hitungan,
Bob mengkalkulasi bahwa menurut Alice, perjalanan itu semestinya hanya
memakan waktu 9 tahun, kurang 3 tahun dibanding durasi perjalanan menurut
waktu Bumi. Ini berarti, saat pulang, Alice akan 3 tahun lebih muda daripada
kembarannya! Ini karena dilasi waktu tak mempengaruhi jam yang bergerak
saja, melainkan semua waktu di dalam roket, termasuk jam biologis Alice.
Ini nyatanya bukanlah sumber ‘paradoks’ judul kisah tersebut. Bob
sungguh tepat memakai persamaan relativitas khusus dan mengkomputasi
selisih waktu antara jamnya dan jam kembarannya. Bukan, paradoksnya adalah,
171
atau sekilas seperti paradoks, Alice tidak mempercayai prediksi kembarannya.
Dia berargumen bahwa prinsip pertama relativitas dilanggar di sini. Tentu saja,
karena semua gerak adalah relatif, dia pun punya hak untuk mengklaim bahwa
bukan roketnyalah yang menjauhi Bumi, melainkan Bumilah yang menjauhi
roketnya. Bob-lah yang bergerak pada 2/3 kecepatan cahaya dan jam Bob-lah
yang berjalan lebih lambat. Oleh sebab itu dia mengklaim bahwa, saat pulang,
dia menduga kembarannya lebih muda daripada dirinya. Kesimetrian nyata
ini telah menjadi sumber banyak kebingungan selama bertahun-tahun. Kedua
saudara kembar tidak mungkin benar, bukan?
Ada banyak cara untuk memecahkan persoalan ini dengan tepat. Saya
akan menyebutkan yang paling sederhana di sini. Jawabannya adalah bahwa
Bob benar dan Alice salah. Alice sungguh akan pulang dalam usia lebih muda
daripada kembarannya. Banyak buku relativitas akan menyatakan bahwa ini
lantaran Alice adalah orang yang mengalami percepatan dan perlambatan
dalam roket dan inilah yang merusak kesimetrian antara kedua saudara
kembar. Penjelasan ini memang benar, tapi mengatakan bahwa situasi mereka
tak sama tidaklah menjelaskan apapun. Alasan mengapa usia Alice lebih muda
bisa dijelaskan, bukan oleh dilasi waktu, melainkan oleh kontraksi panjang.
Bagi Alice, jarak ke Alpha Centauri bukan 4 tahun-cahaya tapi hanya 3 tahun-
cahaya, dan berjalan pada 2/3 kecepatan cahaya mengandung arti bahwa
dia bisa mencapai tempat itu dalam waktu 4,5 tahun saja, bukan 6 tahun
seperti estimasi Bob. Perjalanan pulang 4,5 tahun mengandung arti bahwa
seluruh perjalanan itu akan memakan waktu 9 tahun, persis sebagaimana
Bob kalkulasikan dari dilasi waktu jam Alice. Alasan mengapa Alice mendapat
jawaban yang salah dengan menarik fakta bahwa dirinya juga melihat jam
Bob berjalan lebih lambat, adalah bahwa dia tidak memakai persamaan
relativitas khusus secara benar. Persamaan relativitas khusus hanya berlaku
pada pengamat yang tidak berubah kecepatan atau arah. Alice mengalami
perubahan kecepatan dan arah, sedangkan Bob tidak.
Selisih waktu tiga tahun saat kepulangan Alice mungkin tidak terdengar
terlalu mengesankan, jadi mari kita asumsikan dia telah berjalan lebih cepat
lagi, katakanlah pada 99% kecepatan cahaya. Dia kini akan pulang ke Bumi
(jika kita mengabaikan waktu perputaran balik) setelah 8 tahun 1 bulan
waktu Bumi (yakni 1 bulan lebih lama daripada yang diperlukan cahaya untuk
menyelesaikan perjalanan). Tapi menurut Alice, perjalanan itu hanya memakan
waktu setahun. Jika dia memutuskan untuk bepergian lebih jauh dengan
172
kecepatan ini dalam sebuah perjalanan yang, baginya, memakan waktu 10
tahun, maka dia akan mendapati saat pulang bahwa 80 tahun telah berlalu
di Bumi dan bahwa Bob, beserta hampir semua orang yang dia kenal, telah
meninggal dunia. Dia, di sisi lain, hanya akan berusia 10 tahun lebih tua
daripada saat berangkat. Ini merupakan contoh jelas perjalanan waktu ke masa
depan. Jika roketnya bisa didorong lebih dekat ke kecepatan cahaya, dia akan
pulang ribuan, atau bahkan jutaan, tahun ke masa depan. Jadi, lupakan Oil of
Ulay. Naik saja roket berkecepatan tinggi dan kitari tata surya selama beberapa
saat. Teman-teman Anda akan terkagum betapa Anda tetap awet muda.
Terkadang dianggap bahwa kesimetrian antara gerak Alice dan Bob
diperoleh kembali jika kita mempertimbangkan situasi menurut pengamat
ketiga, katakanlah pelancong antariksa yang melintas. Bukankah dia akan
melihat Alice dan Bob terbang memisah lalu berkumpul lagi? Jika dia bergerak
ke arah yang sama dengan Alice tapi pada setengah kecepatan Alice secara
relatif terhadap Bumi, dia akan melihat kedua saudara kembar itu menjauh
darinya ke arah berlawanan dengan kecepatan sama: gambaran asimetris. Tapi
Alice harus pulang. Jika si pelancong antariksa tetap pada kecepatan tersebut
ke arah tadi, dia akan melihat Bob terus menjauh darinya, sedangkan Alice
akhirnya akan berputar balik dan datang mendekatinya. Alice akan berpapasan
dengannya dalam perjalanan pulang. Jadi kesimetrian rusak.
Sudah beberapa tahun ini saya menetapkan paradoks kembar
sebagai tugas kuliah untuk mahasiswa-mahasiswa saya di Surrey. Mereka
diminta menyelidikinya menggunakan berbagai pendekatan. Sejauh ini, cara
terbaik yang saya ketahui adalah memakai pengamat ketiga sebagai hakim.
Matematikanya bekerja dengan sangat baik.
Saya berjumpa banyak orang yang mulanya berpikir bahwa perjalanan
waktu ke masa depan seperti ini mengimplikasikan bahwa masa depan
pasti sudah ada di luar sana, eksis berdampingan dengan masa kini kita.
Tidak demikian. Yang terjadi adalah bahwa masa depan terhampar di Bumi
selama Alice pergi. Hanya saja, karena baginya waktu yang berlalu kurang, dia
bergerak di atas jalur waktu berbeda ke Bumi.

Ruangwaktu—masa depan ada di luar sana


Karena saya telah mengangkat subjek menjengkelkan tentang apakah masa
depan sudah ada di luar sana, kita juga akan menghadapinya dan memahami
apa yang relativitas khusus ajarkan kepada kita.
173
Dua tahun setelah Einstein mempublikasikan papernya mengenai
relativitas khusus, salah seorang dosen lamanya, Herman Minkowski,
menyatakan bahwa semua urusan pelambatan waktu dan peremasan jarak
hanyalah soal perbedaan perspektif pengamat yang bergerak berbeda. Tapi ini
bukan perspektif yang biasa kita alami di ruang 3D, melainkan perspektif di
ruang empat-dimensi. Minkowski menunjukkan bahwa waktu dan ruang tak
bisa lagi diperlakukan sebagai entitas terpisah melainkan tersatukan menjadi
apa yang dikenal sebagai ruangwaktu. Banyak orang, bahkan ilmuwan,
bingung oleh kegunaan gambaran semacam ini, dan penting sekali untuk
memahami mengapa Minkowski sampai pada kesimpulan ini.
Jika Anda menatap sebuah objek padat, semisal kubus, Anda melihat
bahwa dimensi kedalamannya (yakni ke arah garis pandang Anda) terlihat
lebih pendek daripada dua dimensi lain (lebar dan tinggi), menjadikan sisi-
sisi kubus terlihat teremas. Nah pikirkan seseorang yang menatap kubus dari
samping. Baginya, dimensi yang Anda anggap sebagai lebar kubus adalah
kedalaman, dan dia melihat sisi yang menghadap Anda teremas. Kalian
berdua tidak akan berdebat tentang siapa yang memandang kubus dari
sudut yang tepat sebab kalian paham bahwa itu cuma masalah perbedaan
perspektif. Relativitas khusus mengajari kita bahwa pengamat yang sedang
bergerak cepat pasti memandang dunia dalam ruangwaktu 4D, di mana jarak
ruang dan waktu menjadi masalah perspektif saja. Pengamat yang bergerak
dengan kecepatan tinggi secara relatif terhadap pengamat lain akan melihat
ruangwaktu dari sudut berbeda. Menurut pengamat yang satu, dimensi waktu
mungkin tampak lebih pendek atau lebih panjang daripada menurut pengamat
lain, tapi tak ada pengamat yang berhak mengklaim bahwa perspektif
ruangwaktunya lebih tepat daripada perspektif pengamat lain.
Pikirkan dua peristiwa terpisah, misalnya saya yang menulis kalimat
ini dan Anda yang membacanya. Pandangan pra-Einstein (Newtonian) akan
mengatakan bahwa dua peristiwa ini terpisah di ruang dan waktu secara
sendiri-sendiri. Jarak ruang di antara tempat saya menulis dan tempat
Anda membaca (katakanlah 1000 km) maupun jarak waktu di antara
waktu penulisan dan membaca (katakanlah dua tahun) adalah sama bagi
semua pengamat. Relativitas khusus telah menunjukkan bagaimana kedua
kuantitas ini akan berbeda-beda, tergantung pengamat. Yang sederhana dari
ruangwaktu 4D adalah bahwa kita dapat menetapkan di dalamnya ‘jarak’
tunggal di antara dua peristiwa yakni kombinasi ruang dan waktu. ‘Interval’
174
ruangwaktu demikian memiliki harga tetap untuk semua pengamat. Jadi kita
hanya kembali ke jarak absolut objektif saat ruang dan waktu bergabung.
Ruangwaktu 4D Minkowski sering disebut sebagai block universe
model (model alam semesta blok). Sekali waktu diperlakukan seperti dimensi
ruang keempat, kita dapat membayangkan keseluruhan ruang dan waktu
dimodelkan sebagai blok empat-dimensi. Untuk memvisualisasikan ini, saya
merekomendasikan Anda membuang salah satu dimensi ruang (sebagaimana
dibahas sebelumnya dalam buku ini) agar waktu dapat mengisi dimensi ketiga,
dalam gambar 6.3 dilambangkan dengan sumbu yang membentang dari kiri
ke kanan. Pada suatu waktu tertentu, ruang dua-dimensi akan berupa irisan di
dalam blok. Alam Semesta di masa terdahulu direpresentasikan oleh kawasan
sebelah kiri irisan dan masa depan direpresentasikan oleh kawasan sebelah
kanan. Di sini kita memiliki pemandangan keseluruhan eksistensi di mana
seluruh waktu—masa lalu, masa kini, dan masa depan—terhampar beku di
hadapan kita. Banyak fisikawan, termasuk Einstein belakangan dalam hidupnya,
mendorong model ini ke kesimpulan logisnya: di ruangwaktu 4D, tak ada yang
pernah bergerak. Semua peristiwa yang telah terjadi atau akan terjadi eksis
bersama-sama di alam semesta blok dan tak ada perbedaan antara masa lalu

Di sini Di sini dan kini

Gambar 6.3. Alam semesta blok. Satu dimensi telah dibuang


dan ruang direduksi menjadi tilam 2D. Waktu berjalan pada sudut
siku-siku terhadap tilam dari kiri ke kanan. Jika Anda berdiri diam,
Anda akan mengikuti garis horizontal, disebut garis dunia Anda.
Apa yang Anda anggap sebagai ‘sekarang’ adalah berupa sebuah
irisan di dalam blok yang meliputi semua arah di ruang yang
Anda anggap serentak. Tapi jika dua pengamat saling berpapasan,
mereka tidak akan sependapat soal tilam ‘sekarang’ tersebut.
175
dan masa depan. Ini mengimplikasikan bahwa tak ada hal tak terduga yang
akan terjadi. Bukan hanya masa depan telah ditakdirkan, tapi ia juga sudah ada
di luar sana dan sudah tetap dan tak bisa diubah sebagaimana masa lalu.
Apakah gambarannya betul-betul harus begini? Bagaimanapun juga,
kita bisa sama mudahnya membayangkan ruangwaktu Newtonian dimodelkan
sebagai blok 4D. Bedanya adalah bahwa dalam kasus ini ruang dan waktu
terpisah dari satu sama lain, sedangkan dalam relativitas keduanya terhubung.
Salah satu konsekuensi relativitas adalah bahwa dua pengamat takkan bisa
sepakat tentang kapan itu ‘sekarang’. Dengan membuang waktu absolut,
kita juga harus mengakui bahwa gagasan momen kini universal tidaklah
eksis. Bagi satu pengamat, semua peristiwa di Alam Semesta yang tampak
serempak bisa terhubung membentuk irisan representatif tertentu di dalam
ruangwaktu yang disebutnya ‘sekarang’. Tapi pengamat lain, yang bergerak
secara relatif terhadap pengamat pertama, akan memiliki irisan berbeda yang
akan melintasi irisan tadi. Beberapa peristiwa yang terdapat di irisan ‘sekarang’
pengamat pertama akan berada di masa lalu pengamat kedua sedangkan
peristiwa lainnya akan berada di masa depannya. Hasil yang mengejutkan
pikiran ini dikenal sebagai relativitas keserempakan, dan merupakan alasan
mengapa banyak fisikawan berargumen bahwa karena tak ada pembagian
absolut antara masa lalu dan masa depan maka tak ada perlaluan waktu,
sebab kita tidak sepakat tentang di mana semestinya masa kini berada.
Yang lebih buruk dari itu, jika satu pengamat melihat sebuah peristiwa
A terjadi sebelum peristiwa B, maka mungkin pengamat lain menyaksikan
peristiwa B sebelum peristiwa A.37 Jika dua pengamat bahkan tidak bisa
sepakat tentang urutan kejadian peristiwa, bagaimana bisa kita mendefinisikan
perlaluan objektif waktu sebagai urutan peristiwa?
Tidak semua fisikawan siap menerima pandangan demikian. Bahkan
Einstein terpaksa mengakui bahwa meski ruang dan waktu bergabung menjadi
satu kesatuan, kita tak boleh terjebak memperlakukan waktu seperti dimensi
ruang tambahan. Bagaimanapun, kita tahu dari bab lalu bahwa sumbu waktu
memiliki arah tertentu; anak panah waktu. Ketiga sumbu ruang tidak seperti
ini. Mudah sekali pergi ke arah manapun di ruang, jadi waktu dan ruang tetap
37 Ini hanya bisa terjadi jika gap waktu antara kedua peristiwa (dalam kedua kerangka) lebih
pendek daripada yang diperlukan cahaya untuk berangkat dari satu peristiwa ke peristiwa lain.
Kalau demikian halnya, ini menyingkirkan peluang bahwa satu peristiwa merupakan penyebab
peristiwa lain, sebab ini akan mengimplikasikan bahwa seorang pengamat melihat akibat terjadi
sebelum sebab, dan hukum fisika tidak memperkenankan hal demikian.
176
berbeda sifat. Maka saat Minkowski pertama kali menyampaikan idenya,
Einstein sekalipun skeptis. Tapi perlahan dia menyetujuinya, dan itu terbukti
vital untuk perkembangan relativitas umumnya kemudian, di mana
ruangwaktu 4D-lah yang terpengaruh gravitasi. Nyatanya, ruangwaktu bisa
melengkung, meregang, terperas, dan membelit. Kita bahkan akan simak nanti
bahwa relativitas umum memperkenankan ruangwaktu membentuk beberapa
bentuk amat aneh yang dikenal oleh pakar sebagai ‘topologi non-sepele’.
Ke mana semua ini membawa kita? Apakah relativitas meminta
terlalu banyak? Kita tahu harus membuang ide momen kini universal, tapi
apa kita juga terpaksa mengakui bahwa masa depan sudah eksis? Saya akan
mengajukan tiga alasan mengapa saya tidak percaya demikian.
Pertama, ketidaksepakatan dua pengamat atas urutan peristiwa hanya
akan melibatkan peristiwa-peristiwa yang sangat berdekatan waktunya.
Bayangkan dua kilasan cahaya yang menurut saya terpisah 30 centimeter.
Perlu sepermiliar detik bagi cahaya untuk menempuh jarak ini sehingga, agar
cahaya kilasan yang satu memicu kilasan yang lain, saya harus melihat mereka
terpisah waktu sepersemiliar detik. Dengan gap waktu sedemikian, mustahil
pengamat lain melihat kilasan-kilasan cahaya tersebut terjadi secara terbalik,
seberapa cepat pun mereka bergerak relatif terhadap saya. Ini akan melanggar
hukum alam yang sakral yang menyatakan bahwa penyebab sesuatu harus
selalu terjadi sebelum akibatnya. Sudah semestinya peristiwa tak terjadi
sebelum sesuatu menyebabkannya terjadi terlebih dahulu. Dalam contoh ini,
tak peduli apakah kilasan cahaya pertama menyebabkan kilasan kedua atau
tidak, ada cukup waktu untuk kemungkinan terjadinya ini.
Oleh karena itu, pengurutan ulang peristiwa untuk pengamat berlainan
hanya diperkenankan—jika tak melanggar apa yang dikenal sebagai ‘kausalitas’
(atau ‘sebab’ terjadi sebelum ‘akibat’)—jika dua peristiwa begitu berdekatan
waktunya sehingga tak ada sinyal, bahkan cahaya, yang dapat melintas di antara
mereka.38 Jadi percampuran urutan peristiwa ialah sesuatu yang mengganggu
perlaluan objektif waktu hanya pada skala amat kecil, yang membuat momen
kini sedikit ‘kabur’, itu saja.
Alasan kedua adalah, bagaimanapun status relatif gerak Anda, masih
ada ‘sekarang’ definitif dan karenanya masih terdapat pemisahan peristiwa-

38 Tentu saja, peristiwa-peristiwa bisa terpisah setahun penuh sepanjang mereka terpisah jarak
lebih dari setahun-cahaya (sebab perlu setahun bagi cahaya, alat transmisi sinyal tercepat, untuk
berangkat dari satu peristiwa ke peristiwa lain).
177
peristiwa ke dalam masa lalu dan masa depan yang dapat dirasakan secara
sempurna, menurut Anda.
Ketiga, dan soal masa depan ‘sudah ada di luar sana’, jelas bahwa
sebelum itu ‘terjadi’ bagi kita dan sebelum kita mengetahui keseluruhan
ruangwaktu, kita tak dapat mengiris-irisnya bagaimanapun juga. Bagi kita,
masa depan belum terjadi, tak peduli kita dapat, berdasarkan informasi
yang memadai mengenai status kini Alam Semesta (misalnya posisi dan
status gerak semua partikel di Alam Semesta), mengkalkulasi apa yang akan
terjadi di seluruh waktu masa depan. Ini tidak berbeda dengan alam semesta
deterministis (mesin jam) Newton. Perbedaannya adalah bahwa jarak, durasi,
dan urutan peristiwa-peristiwa tertentu akan tergantung pada pengamat.
Untuk memandang seluruh ruangwaktu (Alam Semesta di seluruh
waktu) sebagai satu blok 4D diperlukan titik menguntungkan yakni di luar Alam
Semesta. Ini sama dengan menanyakan seperti apakah Alam Semesta bila
dilihat dari luar. Tak ada di luar. Jadi, pandangan semacam itu cuma hipotesis.
Argumen-argumen ini belum menghentikan banyak fisikawan,
matematikawan, dan filsuf untuk tidak memeluk ide alam semesta blok,
dan waktu statisnya, dengan sepenuh hati. Matematikawan Herman Weyl
menggambarkan alam semesta blok sebagai: “Dunia objektif adalah demikian
adanya, bukan terjadi. Hanya saja kesadaran kita...adalah proses yang berjalan
maju dalam waktu.” Nyatanya, pandangan ini dipegang jauh sebelum relativitas
muncul dan sangat erat dengan argumen-argumen yang diajukan oleh filsuf
Jerman, Immanuel Kant, dalam Critique of Pure Reason-nya tahun 1787.
Saya selalu merasa ada inkonsistensi dalam argumen ini. Weyl ingin
kita percaya bahwa meski tak ada yang pernah berubah di ruangwaktu
4D, kesadaran kita masih dengan suatu cara bergerak di dalamnya, yang
menjadi alasan mengapa kita merasakan momen kini yang terus berubah.
Dia mengklaim bahwa perasaan ini ilusi. Tapi pergerakan, betapapun ilusif,
mengimplikasikan perubahan, dan perubahan mensyaratkan perlaluan
waktu. Jadi jika kesadaran kita mengalami perubahan maka ia harus eksis
di luar ruangwaktu statis. Betapapun kesadaran itu misterius, saya tak mau
mengatributkan status demikian padanya.

Waktu gravitasi
Nah setelah kita menyimak bagaimana waktu digambarkan dalam relativitas
khusus, saya akan bahas singkat bagaimana ia berperilaku dalam relativitas
178
umum. Einstein menunjukkan bahwa gravitasi menyediakan cara alternatif
pelambatan waktu hingga bepergian pada kecepatan amat tinggi. Kita
sudah menyimak bagaimana relativitas umum menggambarkan bagaimana
objek-objek masif menyebabkan ruangwaktu di sekitarnya melengkung
(perhatikan, akhirnya saya bisa membicarakan ruangwaktu, bukan sekadar
ruang). Sebagaimana ruang teregang di dalam medan gravitasi, begitu pula
waktu. Seorang pengamat yang menyaksikan, dari jarak aman, seseorang
yang memegang sebuah jam sambil jatuh ke dalam black hole akan melihat
jam itu berdetak lebih lambat. Inilah alasannya mengapa kita melihat objek-
objek yang jatuh ke dalam black hole seolah-olah terbeku di horizon. Bagi kita,
waktu di horizon diam. Namun, ini sama sekali bukan ilusi optis. Kita telah
menyimak bahwa dilasi waktu dalam relativitas khusus adalah relatif. Dua
pengamat yang bergerak pada kecepatan tinggi secara relatif terhadap satu
sama lain akan melihat jam masing-masing berdetak lebih lambat. Tapi dalam
kasus dua pengamat dekat black hole, pengamat yang jatuh akan melihat jam
milik pengamat jauh, berjalan lebih cepat!
Anda berhak merasa kurang teryakinkan oleh pembahasan ini.
Bagaimanapun, tak ada seorangpun yang pernah berhadap-hadapan dengan
black hole untuk menguji efek demikian. Lantas bagaimana bisa kita yakin
bahwa waktu betul-betul melambat? Jawabannya ialah, kita bisa mengujinya
di sini, di Bumi. Medan gravitasi Bumi sama sekali tak sekuat medan gravitasi
black hole tapi kita masih bisa mengukur efek kecilnya terhadap waktu.
Dilasi waktu akibat gravitasi Bumi dikonfirmasikan dalam sebuah
eksperimen terkenal yang dijalankan oleh dua orang Amerika pada 1960.
Robert Pound dan Glen Rebka memanfaatkan efek Mössbauer yang baru
ditemukan, yang menyatakan bahwa atom tipe tertentu akan memancarkan
cahaya berpanjang gelombang spesifik manakala dipompa energi. Dan karena
panjang gelombang ini kompatibel dengan atom serupa lainnya, mereka akan
dengan mudah menyerap cahaya tersebut. Jika panjang gelombang berubah
sedikit saja, katakanlah sebanyak satu pergeseran Doppler, maka atom-atom
lain itu takkan bisa menyerapnya. Pound dan Rebka menempatkan beberapa
atom besi ‘pemancar cahaya’ di dasar menara setinggi 23 meter dan atom-
atom identik di puncaknya. Mereka menemukan bahwa cahaya yang
dipancarkan oleh atom-atom di dasar menara tidak diserap oleh atom-atom
di puncak menara, dan menunjukkan bahwa penyebabnya adalah panjang
gelombang cahaya ter-redshift-kan. ‘Redshift gravitasi’ ini ialah akibat langsung
179
dari pelambatan waktu di dasar menara. Anda tahu, puncak menara lebih jauh
dari Bumi dan karenanya gravitasi di situ lebih lemah (tidak banyak, tentu saja,
tapi cukup untuk mengubah panjang gelombang cahaya).
Untuk memahami redshift ini sebagai pelambatan waktu, pikirkan
apa sebetulnya panjang gelombang. Anda dapat menganggap atom-atom
besi sebagai ‘jam’, dan masing-masing puncak gelombang cahaya sebagai
‘detakan’. Jika kita melihat panjang gelombang yang lebih panjang, itu karena
lebih banyaknya waktu yang berlalu di antara detakan berurutan, dan kita
katakan jam atom tersebut berjalan lebih lambat. Untuk mengukur seberapa
banyak waktu melambat, Pound dan Rebka melakukan sesuatu yang saya
ingat, saat pertama kali mengetahuinya, merupakan taktik jitu sekali. Mereka
membuat atom-atom di puncak menara bergerak turun dengan kecepatan
spesifik menuju atom-atom di dasar. Atom-atom yang bergerak kini melihat
panjang gelombang cahaya yang naik menuju mereka sedikit teremas akibat
pergeseran Doppler. Pemendekan panjang gelombang ini bisa disesuaikan,
dengan mengendalikan kecepatan atom yang turun, untuk mengembalikan
panjang gelombang cahaya ke harganya yang benar sehingga atom-atom yang
jatuh bisa menyerap cahaya.
Dalam situasi tertentu, dua efek dilasi waktu (akibat relativitas khusus
dan umum) bisa beraksi terhadap satu sama lain. Pikirkan dua jam atom, satu
di permukaan tanah dan satu di satelit di orbit. Mana yang akan berdetak
lebih lambat? Bagi jam di tanah, gerakan cepat jam di orbit semestinya
menjadikannya berdetak lebih lambat, sedangkan fakta bahwa jam itu sedang
mengorbit Bumi dalam gravitasi nol semestinya menjadikannya berdetak
lebih cepat. Efek mana yang menang? Jawabannya, tergantung pada seberapa
tinggi satelit itu berada. Ilmuwan perlu tahu hal semacam ini saat menganalisa
informasi yang dikirimkan oleh satelit-satelit navigasi yang memiliki jam
atomnya masing-masing. Sebagai contoh, jika sebuah satelit sedang mengorbit
pada ketinggian yang lebih dari diameter Bumi, itu akan cukup jauh bagi dilasi
waktu gravitasi untuk menang. Jamnya akan berdetak lebih cepat daripada jam
di Bumi, yang dilambatkan oleh gravitasi Bumi, sebanyak beberapa perjuta
detik setiap hari (ketidakakuratan jam atom yang tak terampuni).
Jadi ingat-ingat, jika arloji Anda berdetak lambat, tahan di atas kepala
Anda! Ia akan mencepat sebab kini merasakan gaya gravitasi yang lebih
lemah. Tentu saja Anda takkan pernah bisa mengukur efek sekecil itu seberapa
lama pun Anda menahan lengan Anda di atas.
180

BAB 7
PARADOKS PERJALANAN WAKTU

K ITA sudah menyimak bagaimana interval waktu bergantung pada


perspektif Anda terhadap relativitas. Waktu akan berlalu sedikit saja bagi
seseorang yang mencepat hingga kecepatan amat tinggi atau menghabiskan
beberapa waktu di medan gravitasi kuat. Saya telah membahas bagaimana ini
menyediakan kita cara untuk pergi ke masa depan. Tentu saja ini tidak bisa
betul-betul dianggap sebagai memanipulasi waktu. Yang kita lakukan hanya
mencapai masa depan secara lebih cepat. Pikirkan itu seperti iklan-iklan cerdik
di TV di mana seseorang pelan-pelan mengunyah sebatang cokelat sementara
seluruh dunia mendengung lewat dengan kecepatan tinggi. Saya telah
menggambarkan bagaimana perjalanan waktu semacam ini sungguh normal
untuk partikel subatom, sebab mereka adalah satu-satunya objek yang mampu
mendekati kecepatan cahaya. Jadi muon-muon yang dihasilkan oleh sinar
kosmik sedang melancong waktu ke masa depan (sebanyak sepecahan detik)
selama perjalanan pendek mereka menerobos atmosfer Bumi.
Persoalan terkait perjalanan waktu semacam ini adalah bahwa itu
merupakan perjalanan searah. Suatu hari nanti kita mungkin mampu pergi
ke masa depan, bahkan mungkin ke masa depan jauh, tapi satu-satunya
cara untuk pulang ke masa kita lagi adalah dengan kembali ke masa lalu.
Ini persoalan yang lebih rumit sama sekali. Ketika ilmuwan membicarakan
perjalanan waktu, mereka cenderung memaksudkannya perjalanan waktu ke
masa lalu. Sepanjang bab ini, setiap disebutkan perjalanan waktu, itu merujuk
pada perjalanan waktu ke masa lalu.
Ada dua cara untuk kembali ke masa lalu. Yang pertama adalah
dengan pergi mundur menerobos waktu, yang mana selama itu jarum arloji
Anda akan berputar terbalik. Tentu saja Anda takkan menyadari ini terjadi. Ini
membutuhkan kecepatan lebih daripada cahaya yang mana tidak bisa kita
capai, jadi ini bukan jenis perjalanan waktu yang hendak saya bahas di sini.
Cara lain adalah dengan pergi maju dalam waktu (waktu lokal Anda berjalan
cepat) tapi dengan bergerak sepanjang jalur melengkung di ruangwaktu yang
181
membawa Anda kembali ke masa lalu Anda (seperti menyimpal/menggelung
jungkir-balik pada roller coaster). Simpal semacam itu dikenal dalam fisika
sebagai ‘kurva miripwaktu tertutup’ dan menjadi subjek riset teoritis intens
selama tahun 1990-an. Yang mungkin mengejutkan Anda adalah, sudah
diketahui selama setengah abad bahwa persamaan relativitas umum Einstein
memperkenankan kurva miripwaktu tertutup tersebut. Matematikawan
Amerika kelahiran Australia, Kurt Gödel, menunjukkan pada 1949 bahwa
perjalanan waktu ke masa lalu semacam itu memungkinkan secara teoritis.
Jadi apa yang dipercekcokkan? Perjalanan waktu ke masa depan
mudah dan perjalanan waktu ke masa lalu, meski sulit, belum disingkirkan
oleh teori. Apa yang kita tunggu? Mengapa kita belum membangun mesin
waktu? Alasannya adalah, menciptakan kurva miripwaktu tertutup di
ruangwaktu tak hanya akan luar biasa sulit, tapi juga kita tak yakin apakah
itu memungkinkan secara teori. Relativitas umum memberitahu bahwa kita
tak bisa menyingkirkan perjalanan waktu, tapi banyak fisikawan berharap
pemahaman lebih baik atas matematikanya akhirnya akan membawa pada
kesimpulan bahwa itu sama sekali dilarang. Dan alasan mengapa fisikawan
merasa demikian adalah bahwa perjalanan waktu menghasilkan sejumlah
paradoks aneh. Di bab ini saya akan menengok beberapa paradoks perjalanan
waktu tersebut dan melihat apakah ada suatu jalan keluar.
Sebagai ilmuwan, saya merasa sulit untuk sekadar duduk dan menonton
film sains fiksi yang melibatkan perjalanan waktu. Bukan menerimanya dengan
skeptis dan cukup menikmati alur cerita yang (biasanya) gila, saya cenderung
mencari-cari celah dalam logikanya. Saya akan bilang sesuatu seperti:
Tunggu, jika dia kembali ke masa lalu dan berbuat ini itu maka pasti dia telah
mencampuri urusan sejarah dan... well, Anda barangkali tahu maksud saya.
Sungguh menyedihkan.
Kebanyakan film-film ini agak pandir dan saya mesti cukup ‘mengikuti
arus’ dan menghargai jutaan dolar yang dihabiskan untuk efek-efek khusus.
Jika Anda pernah menonton Star Trek IV: The Voyage Home Anda akan paham
maksud saya. Dalam film tersebut, yang merupakan karya terbaik di antara
film-film Star Trek awal, Kapten Cirk dan awaknya pergi ke masa lalu menuju
abad 20. Itu memuat beberapa momen lucu, misalnya saat Scotty mencoba
berbicara dengan komputer, dia disuruh menggunakan mouse, jadi dia
mengangkatnya dan berbicara melaluinya! Well itu adalah bagian favorit saya.
182
Paradoks Terminator
Saya ingin menggunakan variasi pada alur cerita dalam film tertentu untuk
mengilustrasikan paradoks perjalanan waktu. Film itu ialah Terminator, di
mana Arnold Schwartznegger adalah android tak terhancurkan yang diutus
ke masa lalu oleh robot-robot yang memerintah dunia di masa depan yang
keras. John Connor adalah nama pemimpin pemberontak yang bertempur
demi manusia melawan robot, dan Arnold diharuskan membunuh ibu John
sebelum melahirkannya. Anda paham, jika John tak dilahirkan maka para
pemberontak akan mudah dikalahkan. Jadi, dengan membunuh ibunya, mereka
menyingkirkan dia juga.
Tentu saja bukan hanya Arnold gagal melaksanakan misinya, melainkan
juga bahwa tokoh pahlawan, yang dikirim ke masa lalu untuk melindungi
ibu John, akhirnya jatuh cinta kepadanya, membuatnya hamil, lalu ibu John
melahirkan...John Connor. Jadi pria ini, yang seusia dengan John di waktu (masa
depan)nya, sebetulnya merupakan ayahnya. Dia dikirim ke masa lalu untuk
memastikan bahwa John dilahirkan, dan akhirnya penyebabnya adalah dia.
Pertanyaannya, apakah memungkinkan bagi Arnold untuk mengubah
jalannya peristiwa agar masa depan berakhir berbeda? Bagaimana jika dia
berhasil membunuh ibu John? Sungguhpun alur ceritanya barangkali terdengar
agak pandir bagi Anda yang bukan penggemar sains fiksi, itu konsisten. Tak
ada paradoks yang timbul sebab Arnold gagal. Memikirkan film tersebut
tidaklah buruk sama sekali dan efek-efek khususnya sangat hebat. (Ya, saya
tahu efek-efek dalam Terminator II lebih bagus lagi.)
Di sini saya ingin menceritakan kisah tersebut dalam rangka menyoroti
paradoks perjalanan waktu yang paling terkenal, dikenal sebagai paradoks
leluhur. Dalam bentuk aslinya, paradoks ini timbul manakala Anda pergi ke
masa lalu dan membunuh kakek Anda sebelum dia berjumpa nenek Anda.
Sehingga ibu Anda tak pernah dilahirkan dan begitu pula Anda. Jika Anda tak
pernah dilahirkan, kakek Anda tidak mungkin dibunuh oleh Anda, sehingga
Anda akan terlahir, sehingga dia bisa dibunuh, dan seterusnya. Ini paradoks.
Argumennya berputar-putar sekitar lingkaran yang kontradiktif sendiri.
Mari kita menulis ulang naskah Terminator. Kita andaikan robot-robot
dari masa depan memutuskan bahwa, bukan mengutus android berotot ke
masa lalu untuk membereskan ibu John, mereka akan menangkap John Connor
sendiri, dan mendesaknya dengan segala cara kotor agar pergi ke masa lalu
dan membunuh ibunya sendiri.
183
Apa yang terjadi jika dia berhasil? Maksud saya, jika ibu John terbunuh
sebelum melahirkan John maka John sendiri tak pernah eksis. Apakah dia
memudar begitu ibunya merosot ke tanah? Dan jika dia tak pernah eksis, lantas
siapa yang membunuh ibunya? Tak mungkin John; dia tak pernah dilahirkan!
Ada beberapa jalan keluar dari hal satu ini. Semuanya sudah
disiarkan dalam banyak kisah sains fiksi dalam berbagai bentuk. Saya akan
mempertimbangkan tiga skenario:
1. Begitu menembak ibunya, John ‘lenyap’. Ini takkan terjadi. Sebuah peluru
tertanam dalam jantung ibunya (tidak mengganggu John) yang pasti telah
ditembakkan dari sebuah pistol. Seseorang menarik pelatuknya. Anda
tidak bisa bilang bahwa John eksis sebelum menembaknya sebab setelah
mengubah sejarah dia tak pernah dilahirkan. Masa lalu akan berkembang
berbeda (tanpa eksistensi John) dan tidak akan ada keharusan bagi robot
untuk mengutus seseorang—terutama seseorang yang tak eksis—ke masa
lalu untuk membunuh ibu John. Penjelasan ini mengimplikasikan bahwa
sekarang ada dua versi sejarah: versi satu di mana John terlahir dan versi
satunya lagi di mana dia tidak terlahir, yang mana tidak mungkin terjadi.
2. John tak bisa membunuh ibunya sebab dia berada di sana untuk mencoba
membunuh. Dengan kata lain, fakta bahwa dia eksis mengandung arti
bahwa setiap upayanya pasti gagal. Ini tentu saja lebih baik daripada opsi
pertama sebab memastikan bahwa hanya ada satu versi sejarah. Namun ini
masih menghasilkan sebuah persoalan, sebagaimana akan kita simak.
3. Saat John pergi ke masa lalu, dia meluncur ke sebuah alam semesta
paralel; alam semesta di mana dia diperkenankan mengubah jalannya
sejarah. Jadi, walaupun dia tidak bisa mengubah masa lalunya sendiri, dia
bisa mengubah masa lalu di sebuah alam semesta tetangga tapi hampir
identik. Jadi saat dia membunuh ibunya, dia takkan pernah terlahir di
alam semesta tersebut tapi ibunya akan terus hidup di alam semesta kita.
Penjelasan jenis ini hanya populer, belakangan ini, di kalangan penulis sains
fiksi. Tapi, percaya atau tidak, ini sekarang diambil serius oleh beberapa
fisikawan yang menyukai eksistensi alam semesta paralel untuk alasan
berbeda. Saya akan kembali membahas ini nanti dan menunjukkan bahwa
ini adalah satu-satunya jalan keluar yang dapat terus bertahan.
Opsi paling sederhana, banyak orang bilang paling masuk akal, di antara
ketiga skenario di atas adalah opsi kedua. Mari kita asumsikan bahwa tak ada
alam semesta paralel (sebab tak ada bukti eksistensinya dan, dengan tiadanya
184
mesin waktu, kita tak bisa memeriksa). Juga mari asumsikan bahwa hanya
ada satu versi sejarah. Kita tak bisa pergi ke masa lalu dan mengubah
perjalanannya sebab kita sudah mengingat peristiwa-peristiwa dari masa lalu
kita. Pada dasarnya, yang telah terjadi telah terjadi.
Ini tidak sama dengan mengatakan bahwa kita tak bisa pergi ke masa
lalu dan mencampuri urusan masa lalu. Ini hanya berarti bahwa jika kita
melakukannya, kita pasti menyebabkan segala sesuatu berakhir sebagaimana
mestinya. Jadi seorang pelancong waktu tak bisa pergi ke masa lalu dan
mencegah JF Kennedy dibunuh, tapi dia sendiri boleh jadi adalah pembunuhnya.
Cara penjelasan ini, tentang bagaimana kita bisa pergi ke dan
berpartisipasi dalam masa lalu kita, dieksploitasi secara mengagumkan dalam
film-film Back to the Future. Dalam film-film tersebut, peristiwa-peristiwa
tertentu yang terjadi tidak dijelaskan seketika itu juga. Baru kemudian kita
sadar bahwa peristiwa itu disebabkan oleh tokoh-tokoh yang pergi dari masa
depan. Jadi kita melihat adegan-adegan tertentu dua kali: pertama dari sudut
pandang tokoh yang hidup di masa mereka sendiri dan kemudian dari sudut
pandang pelancong waktu (biasanya tokoh yang sama dengan usia lebih tua).
Kembali ke Terminator versi saya. John mungkin mencoba menembak
ibunya tapi jelas-jelas sesuatu harus terjadi untuk mencegahnya. Ini mungkin
akibat salah satu dari sejumlah alasan. Mungkin John tersadar tepat pada
waktunya. Mungkin pistolnya tidak bermuatan peluru, atau pelatuknya macet.
Mungkin dia penembak jelek. Sebetulnya tak peduli bagaimana dia gagal,
dia memang pasti gagal. Ibunya harus tetap hidup agar dia ada di sana.
Saya menyebut teka-teki jenis ini sebagai paradoks ‘tiada pilihan’, sebab
mengindikasikan bahwa pelancong waktu tidak punya kebebasan berkehendak
untuk melakukan hal tertentu yang akan mengubah jalannya sejarah
sedemikian rupa yang akan membuat mereka sendiri mustahil dapat pergi ke
masa lalu.
Sekali Anda mulai memikirkan ini, Anda menyadari ada persoalan nyata.
Apakah ini berarti bahwa seandainya John mencoba lagi dan lagi dia akan
selalu gagal? Kita mungkin membayangkan robot-robot itu mengembalikan
John ke masa mereka, memberinya serum ‘bunuh ibumu’ dosis ganda,
pelajaran menembak yang intensif, lalu mengirimnya lagi ke masa lalu beserta
senapan yang berfungsi lancar, bermuatan peluru, dan mudah dipakai. Dia
akan tetap gagal. Hukum fisika tak diperlukan untuk menjelaskan mengapa dia
akan selalu gagal. Yang penting ialah bahwa paradoks-paradoks itu terhindari.
185
Fisikawan teoritis telah menemukan eksperimen pikiran untuk
memahami apa yang akan terjadi dalam situasi nyata jika sesuatu pergi ke
masa lalu dan berjumpa dirinya sendiri. Apa prediksi matematika? Untuk
membuat model ini cukup sederhana, fisikawan membuat mesin waktu
meja biliar. Idenya adalah bahwa sebuah bola memasuki satu kantung meja
biliar dan muncul dari kantung berdekatan di masa lalu. Karenanya ia bisa
bertubrukkan dengan dirinya sendiri sebelum masuk. Dalam model ini, semua
paradoks bisa dengan mudah dihindari jika kita hanya memperkenankan
situasi-situasi yang tidak membawa pada paradoks, disebut ‘solusi konsisten’.
Dengan demikian sebuah bola dapat pergi ke masa lalu, muncul dari
kantung lain, dan membelokkan versi terdahulu dirinya ke dalam lubang,
memungkinkannya pergi ke masa lalu. Tapi situasi di mana bola muncul dari
kantung dan bertubrukan dengan versi terdahulu dirinya sehingga membuatnya
melewatkan kantung yang harus dimasukinya, ini tidak diperkenankan secara
matematis sebab menimbulkan paradoks. Ini semua sangat sederhana dan
mengandung arti bahwa para pendukung perjalanan waktu dapat menepuk
punggung mereka sendiri untuk membuktikan secara matematis bahwa
paradoks-paradoks bisa dihindari jika kita teliti. Persoalan yang mereka anggap
tidak eksis terhindarkan sebab bola biliar tidak mempunyai kehendak bebas.
Mereka belum mengusir paradoks ‘tiada pilihan’.
Oleh karena itu, aturannya adalah bahwa masa lalu telah terjadi dan
kita adalah satu-satunya versi masa lalu yang diperkenankan. Kita boleh
berbuat apapun sesuka kita ketika pergi ke masa lalu asalkan kita ingat bahwa
betapapun kita mencampuri urusan sejarah, kita akan selalu membuatnya
berakhir sebagaimana mestinya. Bahkan dalam alur cerita asli, Arnold tak
pernah berhasil sebab dia datang dari masa depan di mana John masih hidup,
dan karenanya bahkan tidak perlu susah-susah mencoba begitu keras. Tapi saat
itu saya menyangka film ini jauh dari mengasyikkan.

Mencoba menyelamatkan dinosaurus


Ingat saya pernah menyebutkan bahwa kita masih bisa ‘mencampuri’ urusan
masa lalu? Izinkan saya mengatakannya dengan cara lain: kita diperkenankan
pergi ke masa lalu dan menyebabkan sesuatu berakhir sebagaimana mestinya
akibat turut campur kita itu. Saya akan mengilustrasikan ini dengan contoh lain.
Ilmuwan sebagian besar kini sependapat bahwa meteorit besar
menghantam Bumi lebih dari 60 juta tahun lampau dan bahwa debu radioaktif
186
dari hantaman itu menyebabkan perubahan iklim dramatis yang menewaskan
dinosaurus. Namun beberapa mamalia bertahan hidup dan beberapa dari
mereka berevolusi menjadi kera lalu menjadi manusia jutaan tahun kemudian.
Nyatanya, kita mungkin bisa mengatakan bahwa, seandainya dinosaurus
tidak tersapu bersih maka mamalia, dan karenanya manusia, tidak akan bisa
berevolusi. Dengan kata lain, berkat meteorit tersebut kita berada di sini.
Asumsikan seorang paleontolog mendapatkan sebuah mesin waktu
dan misil termonuklir (saya tahu itu tidak mungkin, tapi sabar dan ikutilah
pemikiran saya). Dia pergi ke masa 65 juta tahun lampau dengan maksud
menghancurkan meteorit itu sebelum menghantam Bumi. Tapi jika dia
menyelamatkan dinosaurus dari kepunahan maka tak hanya dia yang akan
‘lenyap’ melainkan juga seluruh ras manusia. Ini adalah bentuk paradoks
leluhur yang sangat ekstrim.
Pada poin ini saya mesti mengaku dan mengatakan bahwa jika kita
membangun mesin waktu maka hukum fisika pasti tidak memperkenankan
kita pergi ke masa sebelum mesin tersebut dibangun. Ini lantaran
pembangunan mesin waktu melibatkan penyambungan waktu-waktu
berlainan dalam ruangwaktu. Jadi waktu terawal yang tersambung dengan cara
ini adalah momen pembuatan mesin waktu. Semua waktu sebelum ini akan
hilang selamanya dan tak lagi ‘tersedia’. Ini menyingkirkan kemungkinan untuk
kita pergi ke masa prasejarah—kecuali kalau kita menemukan mesin waktu
kosmik di suatu tempat di angkasa yang sudah ada untuk waktu yang lama.
Sebagai argumen, mari kita katakan bahwa paleontolog gila tersebut
benar-benar berhasil pergi ke masa beberapa jam sebelum hantaman meteorit
terjadi dan mengarahkan misilnya ke meteorit itu. Dia memandang ke atas
dan kaget melihat bahwa itu jauh lebih besar dari sangkaannya. Nyatanya, jika
meteorit tersebut bertubrukan dengan Bumi, itu akan menyapu bersih seluruh
kehidupan, bukan cuma dinosaurus.
“Well,” dia berpikir sendiri, “saya juga akan berbuat sebisa saya.” Dia
menembakkan misil dan langsung kena. Meteorit hancur.
Tapi…rupanya sebuah fragmen kecil tersisa dan masih mengarah ke
Bumi. Tak punya misil lagi, dia tak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan
saat bola api itu menerobos atmosfer, menghantam Bumi dan, tebak apa?
menyebabkan kepunahan dinosaurus!
Jadi Anda paham, bukan hanya tak bisa mengubah sejarah, dia
sebetulnya merupakan penyebabnya. Seandainya dia tidak pergi ke masa lalu
187
dan menghancurkan meteorit, dia takkan pernah eksis. Saya telah
membalikkan argumen ini dan paradoksnya tampaknya telah hilang. Tapi tak
seperti kisah terdahulu di mana John harus menghilang seberapa keras pun dia
mencoba menembak ibunya, kini paleontolog kita ini tidak boleh menghilang,
sebab jika begitu dia takkan pernah eksis. Dia tak boleh memutuskan di menit-
menit akhir untuk tidak menembakkan misil, juga tak ada apapun yang bisa
membelokkan misil dari jalurnya. Mudah sekali menyingkirkan gambaran
paradoks “tiada pilihan” dalam kasus ini dengan mengklaim bahwa, tak seperti
contoh sebelumnya di mana kita mensyaratkan sesuatu untuk menyebabkan
pelakunya gagal, di sini pelancong waktu tidak menyadari besarnya tugas dia
dan kurangnya pilihan dia dalam persoalan ini.

Saudara Mona Lisa


Tahun itu 1504, istana Florence, Italia, Leonardo da Vinci baru saja
menyelesaikan mahakarya terhebatnya, Mona Lisa. Dia memutuskan untuk
beristirahat dari dunia seni dan, sebagai seorang yang berketerampilan
banyak, dia memutuskan untuk mencurahkan sebagian waktu untuk kecintaan
besar lainnya, menciptakan penemuan baru. Setelah berminggu-minggu
merenung, dan malam-malam panjang untuk membuat sketsa yang lebih
detail, dia merampungkan rencana untuk alat anehnya yang paling cerdik:
mesin waktu. Setelah berminggu-minggu dikunci di bengkelnya, dia akhirnya
menyelesaikannya pada suatu larut malam, lalu pergi tidur malam itu dengan
perasaan agak gelisah sambil memikirkan bagaimana cara mengujicobanya.
Keesokan paginya kegelisahannya tetap ada saat dia terheran
menemukan sebuah lukisan di mesin waktunya. Itu adalah gambar seorang
wanita yang sangat mirip dengan Mona Lisa miliknya: kesamaan fitur wajah
dan rambut panjang hitam, tapi tanpa senyuman misterius. Dia segera
mengenali wanita itu sebagai saudara jelek Mona Lisa, Mona Lot, yang
terus merundungi pikiran dia agar melukisnya dan yang dia hindari selama
beberapa waktu. Lukisan ini jelas-jelas adalah karyanya (bahkan terdapat tanda
tangannya) dan, karena dia tahu belum melukisnya, dia menyimpulkan bahwa
itu pasti dikirim dari Leonardo di masa depan. Tentu saja dia tergetar oleh hal
ini. Dia memutuskan untuk tidak memberitahu siapapun selain merahasiakan
lukisan baru itu sambil memikirkan apa yang harus diperbuat.
Begitu hari-hari berlalu, Leonardo menjadi semakin khawatir mengenai
kemungkinan paradoks-paradoks perjalanan waktu. Dia tahu harus mengirimnya
188
kembali sebab dengan begitulah lukisan tersebut menjadi miliknya. Di sisi
lain, jika dan ketika dia melakukannya, dia kehilangannya selamanya. Itu akan
tersangkut di time loop (simpal waktu).
Ada dua paradoks berbeda di sini. Pertama adalah paradoks “tiada
pilihan”, sebab Leonardo tahu dirinya pada suatu waktu harus mengirim Mona
Lot ke masa lalu dengan mesin waktunya. Mari kita asumsikan bahwa beserta
lukisan itu terdapat catatan yang merinci waktu dan tanggal pengirimannya.
Dia tahu, begitu mendekati hari tersebut, bahwa apapun yang dia coba lakukan
untuk menghindari pengiriman itu akan gagal. Bagaimana jika dia mencoba
memanipulasi waktu dengan menghancurkan lukisan? Ini adalah bentuk
paradoks “tiada pilihan” yang sangat parah. Kita tak punya persoalan dengan
ketidakmampuan kita untuk mengubah masa lalu dan menggunakan ungkapan
semisal “nasi sudah menjadi bubur”, dan “yang sudah terjadi sudah terjadi”.
Tapi di sini, masa depan tersambung langsung dengan masa lalu yang tetap
dan karenanya masa depan itu sendiri tetap. Lantas apa yang akan mencegah
Leonardo menghancurkan Mona Lot? Kekuatan tak dikenal apa yang akan
melindunginya dari terbakar, tersayat, atau terbuang ke sungai Arno?
Ada jenis paradoks lain yang bagi banyak orang lebih menggelisahkan
lagi daripada paradoks “tiada pilihan” dan yang akan saya sebut sebagai
paradoks “ada dari tiada”. Itu timbul sekalipun Leonardo mengirim lukisan
ke masa tertentu, dan kemudian menghancurkan mesin waktu sebelum
memberinya kesulitan lain. Kita masih punya teka-teki, yaitu siapa yang
menciptakan Mona Lot? Leonardo mungkin kini merasa bahwa dirinya telah
melewati badai dan bahwa, betapapun anehnya rintangan yang ada untuk
menggagalkan upayanya untuk memaksakan sebuah paradoks, seluruh
episode itu sekarang berada di masa lalunya. Tapi tak bisa menghindari fakta
bahwa, untuk sejenak, ada sebuah mahakarya Leonardo da Vinci yang tidak
pernah dilukis oleh Leonardo da Vinci sama sekali! Dia menemukannya di
mesin waktunya, menyimpannya sebentar sebelum menaruhnya kembali
ke mesin waktu dan mengirimnya kembali ke dirinya. Tapi dari mana itu
mulanya berasal? Rupanya tidak dari manapun. Itu terjebak di simpal waktu
dan Leonardo tak pernah melukisnya! Berapa banyakpun perdebatan tentang
pemastian konsistensi logisnya tak bisa meredakan paradoks “ada dari tiada”.
189
Tak ada jalan keluar?
Anda bisa lihat mengapa begitu banyak fisikawan tidak menerima bahwa
perjalanan waktu ke masa lalu memungkinkan. Masih ada paradoks lain yang
belum saya sebutkan yang ada kaitannya dengan penggunaan mesin waktu
untuk menciptakan banyak salinan diri Anda, sehingga melanggar hukum-
hukum alam yang sakral semisal hukum kekekalan massa dan energi. Contoh,
Anda bisa pergi ke lima menit yang lalu dan menemui diri Anda. Apakah
kemudian kalian berdua dapat memasuki mesin waktu dan pergi ke lima
menit sebelumnya untuk menemui diri Anda yang ketiga dan seterusnya? Ini
sebetulnya hanyalah bentuk lain paradoks “tiada pilihan”. Karena hanya ada
satu versi masa lalu dan Anda tahu sebelum berangkat bahwa tak ada salinan
diri Anda yang datang lima menit lalu dari masa depan, Anda tidak bisa bebas
menemui diri Anda. Anda tidak bisa pergi ke masa lalu untuk menemui diri
Anda sebab Anda tak punya ingatan pernah bertemu diri Anda.
Sepertinya saya telah lebih dari cukup memperpendek umur ide
perjalanan waktu dan Anda mungkin penasaran apakah masih ada manfaatnya
terus membaca sisa buku ini di mana saya menjelaskan bagaimana mesin
waktu kemungkinan dibuat. Tapi jangan putus asa dulu. Sudah jelas bahwa
pasti ada aturan dasar tertentu tentang waktu-waktu mana yang boleh
kita datangi dan apa saja yang boleh kita lakukan agar paradoks-paradoks
tidak timbul. Banyak fans perjalanan waktu yang keras kepala tidak terlalu
cemas soal paradoks “tiada pilihan”. Mereka sependapat bahwa kita
harus mengorbankan kehendak bebas jika perjalanan waktu ke masa lalu
memungkinkan. Bagi mereka, bagaimanapun juga kita tak punya kehendak
bebas, kita cuma berpikir bahwa kita memilikinya. Karena kita hidup di alam
semesta deterministis di mana segala sesuatu telah ditetapkan, kita tak
perlu menarik hal baru apapun. Sepanjang segalanya konsisten logis, tak ada
persoalan. Jadi, Anda bisa pergi ke masa satu jam lalu untuk menemui diri
(agak) muda Anda jika Anda ingat pernah bertemu diri (agak) tua Anda sejam
lalu yang melakukan perjalanan waktu. Jika Anda tidak ingat maka Anda takkan
bisa pergi ke masa lalu. Paradoks “ada dari tiada” pun tidak menghalangi
pendukung sebersemangat itu. “Memangnya kenapa,” kata mereka,
“terjebaknya lukisan Mona Lot di simpal waktu tidak melahirkan inkonsistensi
logis apapun.”
Tapi bagi saya, ini adalah penyingkiran kehendak bebas yang jauh lebih
serius. Setidaknya di alam semesta deterministis, kita punya ilusi bahwa kita
190
sedang membuat pilihan dan keputusan bebas kita sendiri. Dalam ide
perjalanan waktu, kita tak diberi perasaan mewah ini. Kehendak bebas kita
direnggut dari kita dengan cara yang belum jelas.
Jika Anda bertekad memperkenankan kemungkinan perjalanan waktu ke
masa lalu, maka ada harga lain yang harus Anda bayar. Anda harus mengambil
deskripsi ruangwaktu alam semesta blok secara serius. Masa lalu, masa kini,
dan masa depan harus berkoeksis semuanya. Alasannya sederhana: Jika Anda
pergi ke masa lalu (yang dengan enggan kita akui eksis sebab setidaknya
kita tahu itu memang eksis) maka bagi orang-orang yang Anda jumpai saat
pergi ke masa lalu (bahkan diri Anda yang lebih muda) waktu tersebut adalah
‘sekarang’-nya mereka, momen kininya mereka. Anda telah datang dari masa
depan mereka. Kita bahkan tidak bisa mengklaim bahwa masa kini kita adalah
‘sekarang’ yang sesungguhnya dan bahwa mereka hanya berpikir diri mereka
hidup di masa kini, sebab kita sama halnya dapat membayangkan pelancong
waktu dari masa depan kita yang mengunjungi kita di masa kini kita. Jika benar
mereka berkunjung, maka masa depan kita, dan tentu semua masa, pasti eksis
bersamaan.

Alam semesta paralel


Jika Anda tak siap mengelakkan paradoks perjalanan waktu, ada kemungkinan
alternatif di mana paradoks “tiada pilihan” ataupun paradoks “ada dari tiada”
tak perlu muncul. Tapi harga yang harus dibayar mungkin terlalu tinggi bagi
Anda untuk diterima, meski Anda pasti sudah terbiasa terhadap beberapa
keabsurdan yang Anda jumpai dalam buku ini. Yang hendak saya gambarkan
ini akan terdengar lebih gila daripada yang Anda jumpai selama ini, tapi itu
didasarkan pada interpretasi amat terhormat, jika bukan konvensional, atas
temuan aneh mekanika quantum.
Saya sudah secara singkat mengatakan di awal Bab 4, saat
menggambarkan sifat cahaya, bahwa mekanika quantum berkedudukan lebih
tinggi daripada teori relativitas dari segi signifikansinya sebagai penemuan
ilmiah yang telah mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Persoalannya
adalah, tak ada seorangpun yang betul-betul memahami temuannya tentang
dunia amat kecil yang digambarkannya dengan begitu akurat. Ini tentu saja
akan terdengar agak aneh. Bagaimana sebuah teori yang tidak kita pahami
bisa begitu sukses? Jawabannya adalah, ia memprediksikan perilaku blok-blok
dasar penyusun materi—bukan cuma atom, tapi juga partikel yang menyusun
191
atom (elektron, proton, neutron) serta photon cahaya dan semua partikel
subatom lain yang boleh Anda sebutkan (dan jumlahnya banyak)—dengan
akurasi luar biasa. Mekanika quantum telah membawa kita pada pemahaman
mutakhir amat presisi tentang bagaimana partikel-partikel ‘quantum’ ini
berinteraksi dengan satu sama lain dan bersambung untuk membentuk
dunia di sekeliling kita. Tapi, pada waktu bersamaan, mekanika quantum
memaksakan kepada kita pandangan dunia subatom yang bertentangan sama
sekali dengan akal sehat kita. Fisikawan telah menghabiskan tiga perempat
abad untuk mencapai kesepakatan tentang ini dan telah menghasilkan
sejumlah kemungkinan interpretasi atas apa yang sedang berlangsung di
level quantum sana. Tapi masih belum ada konsensus menyeluruh tentang
interpretasi mana yang benar, jika memang hanya ada satu.
Interpretasi yang berpengaruh selama sebagian besar abad 20 dikenal
sebagai interpretasi Kopenhagen (sebab bermula dari institut di Kopenhagen
di mana salah seorang bapak pendiri mekanika quantum, Niels Bohr, bekerja).
Para pendukungnya mengambil pandangan amat pragmatis atas seluruh isu
dengan mengklaim bahwa kita tak boleh cemas mencoba memahami apa
yang sedang terjadi pada skala atom yang begitu jauh dari dunia keseharian
kita. Contoh, kita tak berhak menyangka sebuah photon cahaya berperilaku
sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti oleh kita. Jika cahaya selama
satu menit muncul dengan atribut searus partikel dan selanjutnya beratribut
gelombang, maka biarlah demikian. Yang penting, kata pendukung interpretasi
Kopenhagen, mekanika quantum bekerja. Matematikanya cocok secara
menawan dengan apa yang kita saksikan di sekitar kita di dunia riil, lantas
untuk apa kita susah-susah memikirkan ini?
Pandangan semacam itu telah, sampai sepuluh hingga dua puluh
tahun lalu, menjadi pandangan mayoritas. Kebanyakan praktisi fisika sudah
bahagia (well, mungkin bahagia bukan kata yang tepat) menggunakan alat-
alat mekanika quantum—simbol abstrak dan teknik matematis, ketimbang
perentang dan obeng. Mereka sudah siap menyerahkan pertimbangan dan
perenungan tentang maknanya kepada filsuf.
Perbedaan antara interpretasi-interpretasi itu berkaitan dengan cara kita
menggambarkan apa yang ‘terjadi’ pada sebuah partikel quantum, misalnya
elektron, saat kita membiarkannya berbuat apapun yang suka dilakukannya
manakala dibiarkan sendiri. Jika kita mengukur atribut tertentu sebuah
elektron, misalnya posisi, kecepatan, atau energinya pada momen tertentu,
192
maka mekanika quantum akan memberitahu kita apa yang paling mungkin
kita temukan. Namun ia tidak memberitahu kita tentang apa yang sedang
dilakukan elektron manakala tidak sedang diamati. Ini takkan menjadi
persoalan jika kita bisa percaya elektron (dan semua partikel quantum lain)
berperilaku sepantasnya, tapi elektron tidak berperilaku demikian. Mereka
menghilang dari tempat mereka terakhir terlihat dan spontan muncul kembali
di suatu tempat lain yang semestinya, menurut aturan, tidak bisa diakses
oleh mereka. Mereka eksis di dua tempat sekaligus, mereka menerowongi
rintangan tak tertembus, pergi ke dua arah berbeda sekaligus, dan bahkan
mempunyai beberapa atribut bertentangan secara serentak. Tapi saat Anda
menatap untuk mengetahui apa yang sedang berlangsung, elektron akan
mendadak mulai berperilaku sebagai dirinya lagi dan tak ada yang tampak
aneh. Namun, kesimpulan tak terhindarkan yang harus kita tarik dari hasil
pengamatan kita adalah bahwa elektron amat pasti melakukan sesuatu yang
memang sangat aneh saat kita tidak sedang menatap. Nyatanya semua
partikel quantum berperilaku sedemikian rupa yang mana sungguh mustahil
jika mereka mematuhi aturan yang sama dengan objek-objek keseharian kita.
Karena mekanika quantum hanya memberitahu kita apa yang harus
disangkakan dari hasil pengamatan kita, kita harus memohon bantuan lain
jika kita bersikeras mencoba memahami apa yang sedang berlangsung saat
kita tidak sedang menatap. Inilah yang saya maksud dengan interpretasi-
interpretasi berlainan. Sejauh ini saya baru menyebutkan interpretasi
Kopenhagen, yang bagi banyak orang telah dianggap sebagai interpretasi
standar. Inilah interpretasi yang dipakai oleh hampir semua buku teks
mekanika quantum dan yang diajarkan kepada semua mahasiswa fisika.
Tapi ada konsensus yang tumbuh bahwa umurnya sampai di sini saja. Para
pendukungnya mungkin masih berargumen bahwa interpretasi pilihan kita
adalah murni soal selera filsafat, tapi faktanya semakin banyak fisikawan (tapi
tidak mayoritas) mencari sesuatu yang lebih dalam.
Salah satu penjelasan alternatif untuk pandangan Kopenhagen, yang
terutama menarik bagi fans perjalanan waktu, dikenal sebagai interpretasi
many-worlds. Menurut pandangan ini, segera setelah sebuah partikel quantum,
di manapun di Alam Semesta, dihadapkan dengan dua pilihan atau lebih,
keseluruhan Alam Semesta membelah menjadi sejumlah alam semesta paralel
yang sama dengan jumlah pilihan yang tersedia bagi partikel tersebut. Menurut
pandangan ini ada alam semesta berjumlah tak terhingga yang sedikit-banyak
193
berbeda dari punya kita tergantung sudah berapa lama mereka membelah dari
alam semesta kita, dan tiap-tiap alam semesta sama riilnya dengan punya kita.
Di banyak alam semesta ini eksis salinan diri Anda. Di beberapa alam semesta
ini Anda adalah gembong bisnis miliuner, di alam semesta lainnya Anda hidup
kasar di jalanan. Di banyak alam semesta lainnya Anda hidup mirip dengan
di Alam Semesta kita terlepas dari adanya perbedaan beberapa detil kecil.
Selama bertahun-tahun, hal semacam ini telah menjadi barang fiksi, dan bagi
banyak fisikawan akan tetap begitu. Tak ada bukti eksperimen apapun bahwa
alam semesta-alam semesta paralel eksis sebab kita tak bisa mengadakan
kontak dengan satupun mereka, tapi faktanya itu punya poin bagus sebagai
teori ilmiah dan menjelaskan banyak perilaku aneh dunia quantum. Tapi
berapa harganya? Fisikawan Paul Davies berkata bahwa interpretasi many-
worlds murah dalam hal asumsi (poin yang menguntungkannya) tapi mahal
dalam hal jumlah alam semesta.
Jika Anda baru pertama kali mengetahui ide ini, mungkin merasa bahwa
mustahil ada ruang untuk semua alam semesta lain ini. Bagaimanapun juga,
mungkin saja alam semesta kita sendiri berluas tak terhingga. Lantas di mana
alam semesta lainnya berada? Cara untuk memvisualisasikan ini adalah dengan
membayangkan Alam Semesta kita sebagai tilam flat yang luas tak terhingga
dengan membuang dua dimensinya (ingat kita harus beranjak dari ruangwaktu
empat-dimensi ke tilam dua-dimensi). Nah alam semesta paralel lain dapat
dibayangkan bertumpuk di atas dan di bawah alam semesta kita. Ada cukup
ruang untuk semua alam semesta dengan dimensi memadai.
Terlepas dari borosnya keperluan akan alam semesta berjumlah tak
terhingga, beberapa fisikawan mengklaim bahwa interpretasi many-worlds
juga menyingkirkan kehendak bebas. Begini cara kerjanya: Kapanpun Anda
dihadapkan dengan suatu jenis pilihan, katakanlah menyentuh ujung hidung
Anda atau tidak menyentuh ujung hidung Anda, dan Anda memilih (Anda pikir
dengan kehendak bebas) untuk tidak menyentuhnya, yang akan terjadi adalah
bahwa Alam Semesta membelah dua dan sekarang akan ada sebuah alam
semesta paralel di mana Anda menyentuh hidung Anda. Anda sadar telah
mengambil salah satu dari jalan-jalan yang tersedia, tapi akan ada versi lain
diri Anda di sebuah alam semesta paralel yang sadar telah membuat pilihan
alternatif.
Interpretasi many-worlds mekanika quantum diajukan oleh seorang
fisikawan Amerika bernama Hugh Everett III pada 1950-an dan, meski saat itu
194
tidak populer, belakangan disukai oleh semakin banyak kosmolog yang merasa
ini satu-satunya interpretasi yang dapat bertahan manakala mengaplikasikan
mekanika quantum untuk menggambarkan keseluruhan Alam Semesta.
Pada waktu yang sama, ide alam semesta paralel dieksploitasi oleh
para penulis sains fiksi yang mengakui bahwa itu menyelamatkan mereka dari
paradoks-paradoks perjalanan waktu. Belakangan, fisikawan David Deutsch
mengembangkan versinya sendiri dan menguraikan bahwa jika kita ingin
mengambil kemungkinan perjalanan waktu ke masa lalu secara serius maka
kita terpaksa mengambil interpretasi many-worlds secara serius. Saya harus
menjelaskan bahwa Deutsch adalah pendukung kuat ide many-worlds, yang
dia sebut sebagai interpretasi multiverse (istilah ‘multiverse’ mengimplikasikan
kerumunan semua alam semesta, keseluruhan realitas). Saya tidak yakin
dengan pandangan ini, tapi tak bisa mengesampingkannya. Meski tak dijamin
benar, interpretasi mekanika quantum favorit saya adalah interpretasi fisikawan
David Bohm yang mensyaratkan satu alam semesta saja, terima kasih banyak.
Jadi bagaimana pandangan many-worlds menanggulangi paradoks-
paradoks perjalanan waktu? Sebagaimana saya sebutkan dalam opsi ketiga
saat berupaya menjelaskan kemungkinan alternatif yang tersedia bagi John
Connor dalam paradoks Terminator, seorang pelancong waktu takkan pergi ke
masa lalu alam semestanya sendiri—tak mengherankan mengingat ada masa
lalu berjumlah tak terhingga untuk dipilih—melainkan ke masa lalu sebuah
alam semesta paralel.
Menurut Deutsch, yang benar-benar menerima ide alam semesta
blok dalam bukunya, The Fabric of Reality, Alam Semesta tidak bercabang
menjadi banyak salinan pada saat kita dihadapkan dengan pilihan. Justru,
sudah ada alam semesta paralel dalam jumlah tak terhingga di luar sana. Pada
saat memilih, kita hanya mengikuti satu jalan tertentu, seperti kereta yang
melewati persimpangan ruwet. Artinya masa depan itu terbuka, sebab ada
banyak opsi yang tersedia, begitu pula masa lalu. Ruangwaktu kita hanyalah
salah satu dari masa lalu dan masa depan yang berjumlah tak terhingga.
Bepergian ke masa lalu di multiverse-nya Deutsch tidak berbeda dengan
kepergian kita ke masa depan. Kita cuma mengikuti simpal waktu menuju satu
masa lalu potensial.
Pendekatan Deutsch hanyalah salah satu dari sejumlah versi interpretasi
many-worlds. Saya akan memeriksa kembali paradoks perjalanan waktu
kita dalam versi teori many-worlds yang lebih konvensional—jika Anda mau
195
menyebut ketakterhinggaan alam semesta paralel sebagai sesuatu yang
konvensional. Paradoks “tiada pilihan” tak lagi berlaku sejak kita bebas
mengubah masa lalu semau kita sebab itu bukan masa lalu kita. Peristiwa-
peristiwa di alam semesta paralel yang kita datangi tidak harus berjalan
sebagaimana di alam semesta kita sendiri. John Connor kini bisa membunuh
ibunya dan mencegah dirinya terlahir di alam semesta tersebut sedangkan
ibunya di alam semesta aslinya tetap hidup. Tentu saja jika dia gagal
membunuhnya maka dia akan terlahir. Kini akan ada satu alam semesta (yang
segera berkembangbiak akibat semua pilihan quantum lain yang sedang
berlangsung) di mana John Connor tumbuh besar, melompat ke dalam mesin
waktu, dan lenyap selamanya. Juga akan ada satu alam semesta lain di mana
ada satu atau dua ‘John Connor’, tergantung apakah dia berhasil membunuh
ibunya atau tidak. Jika dia tidak membunuhnya, kedua John akan hidup
berdampingan tetapi berbeda usia sebanyak sejauh mana dia pergi ke masa
lalu. Tapi satu hal harus diingat, peluang John untuk menemukan jalan pulang
ke alam semestanya sendiri, atau bahkan ke alam semesta yang amat mirip
dengan punyanya, sungguh sangat kecil. Sederhananya, ada terlalu banyak
alam semesta untuk dipilih.
Paradoks “ada dari tiada” juga bisa disingkirkan. Lukisan Mona Lot
tentu saja dikirim dari masa depan sebuah alam semesta paralel dan dilukis
oleh Leonardo di alam semesta tersebut. Leonardo bahkan tidak harus
mengirim lukisan itu ke masa tertentu di masa lalu. Dia bisa menyimpannya.
Bagaimanapun juga, sekalipun dia mengirimnya, Leonardo ketigalah yang akan
menemukannya di mesin waktunya.
Dengan begitu persoalan terbentuknya banyak salinan diri kita dengan
berulangkali berputar dalam waktu sudah terpecahkan. Jika akhirnya terdapat
100 salinan diri Anda di satu alam semesta, ini berarti ada 99 alam semesta
lain yang darinya Anda menghilang. Kekekalan massa dan energi tak lagi
berlaku pada masing-masing alam semesta secara terpisah melainkan pada
semua alam semesta secara bersamaan.
Salah satu keuntungan interpretasi many-worlds versi asli, di mana Alam
Semesta membelah hanya ketika Anda dihadapkan dengan pilihan, adalah
bahwa ia memberi kita anak panah waktu yang menunjuk ke arah peningkatan
jumlah alam semesta. Selalu ada lebih banyak alam semesta di masa
depan daripada di masa lalu. Tapi tentu, Anda mungkin berpikir, bukankah
aturan ini dilanggar manakala kita memperkenankan perjalanan waktu ke
196
masa lalu? Jika hari ini saya pergi ke hari kemarin sebuah alam semesta
paralel, saya menyebabkannya mulai membelah sesuai pilihan-pilihan yang
bisa saya buat sewaktu berada di sana. Tapi bagaimana bisa alam semesta
paralel tersebut mulai membelah kemarin sebelum saya membuat keputusan
untuk pergi ke hari kemarin? Inikah bentuk lain paradoks “tiada pilihan”?
Seolah-olah alam semesta paralel yang hendak saya datangi sudah tahu
bahwa saya akan datang dan membuat pilihan tertentu, sehingga memaksa
saya pergi ke alam semesta tersebut, dan membuat pilihan itu.
Lagi-lagi, interpretasi many-worlds menyodorkan jalan keluar
sederhana. Relativitas umum memperkenankan cara menghubungkan
Alam Semesta kita dengan alam semesta paralel yang mungkin tidak harus
melibatkan perjalanan waktu ke masa lalu, sebagaimana akan kita simak
dalam bab berikutnya saat saya memperkenalkan wormhole. Mesin waktu
tentu saja merupakan satu cara untuk membuat koneksi ini. Kekeliruan dalam
paragraf sebelumnya adalah menganggap bahwa koneksi ini terbentuk
saat kita pergi ke masa lalu. Tidak demikian. Itu terbentuk saat mesin waktu
dibuat (atau dinyalakan) yang memperkenankan kemungkinan perjalanan
waktu ke suatu alam semesta yang membelah dari alam semesta kita
sesudah mesin waktu dinyalakan. Pada saat penyalaan, akan ada alam
semesta-alam semesta yang ke situlah versi-versi diri kita mulai tiba. Sebab,
sekalipun kita memutuskan tidak memakai mesin waktu melainkan justru
menghancurkannya, itu sudah terlambat. Setelah dihadapkan dengan pilihan
ini, Alam Semesta membelah dan ada satu alam semesta lain di mana kita
tidak menghancurkan mesin waktu melainkan justru menggunakannya. Di
beberapa alam semesta, kita pergi ke momen terdini (tepat setelah mesin
dinyalakan). Di alam semesta-alam semesta lain, kita pergi ke waktu yang
lebih terkemudian. Bahkan selagi Anda masih mengikat sabuk pengaman
dalam mesin waktu, Alam Semesta membelah, akibat semua pilihan lain yang
dibuatnya di setiap tempat lain di ruang, dan karenanya akan ada jumlah tak
terhingga ‘diri Anda’ yang pergi ke masa lalu! Rasanya saya akan berhenti
mengetik sekarang dan pergi berbaring sejenak.

Di mana semua pelancong waktu tersebut?


Saya harap telah memberi Anda pengertian tentang persoalan yang pasti kita
hadapi jika bersikeras memegang kemungkinan perjalanan waktu ke masa
lalu. Hukum fisika yang kita pahami tidak mengesampingkannya, lalu di mana
197
cacat dalam argumen ini? Anda mungkin merasa bahwa keharusan hidup
bersama paradoks-paradoks perjalanan waktu ataupun menerima gagasan
adanya alam semesta paralel berjumlah tak terhingga terlalu sulit diterima.
Tapi fisikawan pun telah gagal menghasilkan argumen yang lebih meyakinkan
untuk mengesampingkannya. Satu hal yang mungkin Anda temukan adalah
menanyakan dari mana semua pelancong waktu dari masa depan itu berasal?
Jika generasi masa depan berhasil membangun mesin waktu maka pasti
akan ada banyak orang yang ingin mengunjungi abad 20 dan semestinya kita
melihat para pengunjung ini di antara kita hari ini. Oleh sebab itu saya akan
mendaftar 5 kemungkinan alasan mengapa kita tak melihat satupun pelancong
waktu:
1. Perjalanan waktu ke masa lalu dilarang oleh suatu hukum fisika yang belum
ditemukan.
2. Mesin waktu hanya bisa membawa Anda sejauh-jauhnya ke momen saat
ia dinyalakan dan tidak bisa lebih dari itu. Jadi jika kita memahami cara
membangun mesin waktu di abad 23, kita takkan bisa mengunjungi abad
20. Satu-satunya cara yang memungkinkan adalah jika kita menemukan
mesin waktu alami yang sudah ada sejak waktu lama, semisal black hole
atau wormhole. Mungkin tak ada di leher Alam Semesta kita.
3. Mesin waktu alami ditemukan dan orang-orang memakainya untuk pergi
ke abad 20, tapi ternyata teori many-worlds adalah versi realitas yang
benar. Hanya saja Alam Semesta kita bukan salah satu dari beberapa alam
semesta beruntung yang dikunjungi para pengunjung.
4. Mengharapkan melihat pelancong waktu di antara kita mensyaratkan
bahwa mereka, nyatanya, ingin mengunjungi abad ini. Mungkin bagi
mereka ada periode-periode yang jauh lebih menyenangkan dan lebih
aman untuk dikunjungi.
5. Pelancong waktu dari masa depan ada di antara kita tapi tetap bersikap low
profile!
Walaupun ingin sekali menganggap bahwa perjalanan waktu
memungkinkan, rasanya saya menaruh taruhan saya pada poin pertama.
Alasannya sebetulnya sungguh sederhana dan saya sudah mengatakannya
sebelumnya. Agar perjalanan waktu ke masa lalu memungkinkan, masa
depan—masa depan kita—harus sudah ada di luar sana. Saya merasa ini sulit
diterima.
198
Jangan putus asa. Saran saya kepada Anda, jika Anda tak ingin
menyingkirkan perjalanan waktu, terhiburlah dengan fakta bahwa masih ada
celah dalam hukum fisika yang memperkenankannya. Selama perjalanan
waktu tidak dilarang mentah-mentah, kita akan meneruskan perjalanan kita.
M E S I N
W A K T U
200

BAB 8
WORMHOLE

“Dengar, bung,” katanya, “saya bukan pakar Relativitas Umum.


Tapi bukankah kita tidak melihat black hole? Bukankah kita
tidak jatuh ke dalamnya? Bukankah kita tidak muncul darinya?
Bukankah sedikit observasi senilai dengan banyak teori?”

“Saya tahu, saya tahu,” kata Vagay ringan. “Pasti ada yang lain.
Pemahaman fisika kita tak mungkin meleset jauh. Bukan begitu?”

Dia mengalamatkan pertanyaan terakhir ini, dengan agak sayu,


kepada Eda, yang hanya menyahut, “Black hole alami tidak bisa
menjadi terowongan; mereka memiliki singularitas yang tak
dapat dilalui di pusat mereka.”
Carl Sagan, Contact

P ERJALANAN ini telah membawa kita dari permulaan masa hingga tepi
Alam Semesta. Pusaka yang diwariskan kepada kita oleh Albert Einstein
menggambarkan sebuah realitas yang jauh lebih menakjubkan dan misterius
dibanding apapun yang dapat kita bayangkan. Lengkungan waktu, black hole,
alam semesta paralel, masa lalu dan masa depan yang berkoeksis dengan
masa kini, semua ini bukan sains fiksi. Bukan pula hasil spekulasi liar minoritas
gila di lingkaran pinggir penguasa sains. Semua eksotika ini merupakan hasil
bertahun-tahun perkembangan lambat, yang beberapanya kini dianggap
sebagai fakta. Contoh, pelambatan waktu akibat gravitasi bukanlah ‘sekadar
teori yang mungkin keliru di kemudian hari manakala sesuatu yang lebih baik
muncul’, melainkan terbukti benar berdasarkan landasan tetap di laboratorium-
laboratorium ilmiah. Ide-ide lain, meski memungkinkan, mungkin tidak lulus
ujian waktu atau penyelidikan seksama para ilmuwan yang terus-menerus.
Terkadang sebuah teori terbukti jelas-jelas keliru jika prediksinya bertentangan
dengan hasil eksperimen, atau mungkin digantikan dengan teori yang lebih
201
baik yang menjelaskan lebih banyak fenomena dan memberi kita pemahaman
lebih dalam akan alam.
Kita sekarang layak yakin bahwa black hole eksis. Terlepas dari fakta
bahwa kita belum pernah berhadapan muka dengan satu black hole pun. Bukti
eksistensi mereka begitu meyakinkan sehingga kita tidak bisa menemukan
penjelasan alternatif. Bukan hanya bahwa black hole merupakan konsekuensi
tak terelakkan dari teori relativitas umum, tapi juga kita melihat tanda jelas
mereka lewat teleskop-teleskop kita.
Wormhole adalah persoalan yang berbeda sama sekali. Mereka juga
diperkenankan oleh persamaan-persamaan relativitas umum yang memberi
deskripsi mereka sebagai entitas teoritis. Tapi, tak seperti black hole, wormhole
masih merupakan barang aneh teoritis tanpa sedikitpun bukti astronomis
eksistensi mereka di Alam Semesta riil. Saya mohon maaf merusak semua
kesenangan ini dengan menggagalkan objek-objek yang belum saya bahas
sama sekali. Mungkin ini cuma mekanisme pertahanan saya terhadap tuduhan
dari fisikawan lain bahwa saya berlayar mendekati perbatasan antara sains
fakta dan sains fiksi. Jadi dalam rangka menjustifikasi bab ini terhadap orang-
orang sinis yang lebih konservatif dalam pandangannya, saya akan mengutip
sebuah petikan pendek dari bagian permulaan buku Matt Visser, Lorentzian
Wormholes: from Einstein to Hawking, dengan tambahan tanda kurung oleh
saya:
“Sungguhpun fisika wormhole spekulatif, teori-teori fisika
fundamental yang mendasarinya, yakni relativitas umum
dan [mekanika] quantum, teruji dengan baik dan diterima
umum. [Jikapun] kita jatuh ke dalam posisi sulit yang dikelilingi
malapetaka inkonsistensi dan faktor-faktor tak terukur,
harapannya adalah bahwa tipe malapetaka yang dijumpai akan
menarik dan informatif.”
Jadi mungkin wormhole memang tidak eksis, tapi setidaknya studi
tentang mereka membantu kita sedikit lebih baik dalam memahami cara Alam
Semesta kita bekerja. Oh, dan jika Anda bertanya-tanya, mereka tak ada kaitan
apapun dengan cacing.

Jembatan ke dunia lain


Ide wormhole bermula sejak relativitas umum itu sendiri. Ingat dalam Bab 4,
Karl Schwarzchild adalah orang yang pertama kali menyadari bahwa persamaan
202
relativitas umum Einstein memprediksikan eksistensi black hole. Lebih rincinya,
black hole Einstein memuat singularitas di pusatnya; titik berdensitas tak
terhingga di mana waktu sendiri berakhir. Di singularitas tersebut, semua
hukum fisika yang dikenal akan mogok. Ini menyusahkan Einstein. Dia tidak
menyukai lubang-lubang di ruangwaktu ini dan dia tidak merasa puas bahwa
mereka terperisai dari dunia luar oleh horizon peristiwa. Baginya itu bukan
sekadar soal ‘tak terlihat, tak terpikirkan’.
Pada 1935, Einstein mempublikasikan sebuah paper bersama
rekannya, Nathen Rosen, di mana mereka berupaya membuktikan bahwa
singularitas Schwarzschild tidak eksis. Dengan memakai trik matematika
yang dikenal sebagai transformasi koordinat, mereka mampu menulis
ulang solusi matematis Schwarzschild agar tidak mengandung sebuah titik
di mana ruang dan waktu berhenti. Namun, alternatif itu sama anehnya.
Mereka menunjukkan bahwa singularitas tersebut menjadi jembatan yang
menghubungkan Alam Semesta kita dengan…alam semesta paralel! Ini bukan
jenis alam semesta paralel yang membelah dari alam semesta kita sebagai
akibat dari mekanika quantum yang saya jelaskan di bab yang lalu. Sambungan
antara kedua alam semesta ini kemudian dikenal sebagai jembatan Einstein-
Rosen. Bagi Einstein itu merupakan aplikasi teoritis geometri belaka di mana
dua ruangwaktu akan terhubung. Dia tidak percaya bahwa jembatan semacam
itu betul-betul eksis, lebih daripada ketidakpercayaannya akan eksistensi
singularitas. Itu adalah keganjilan matematika relativitas umum.
Jembatan semacam itu di antara dunia-dunia berlainan bukanlah
hal baru, pun pada waktu itu. Para matematikawan abad 19 sangat tertarik
pada ruang melengkung dan dimensi tinggi. Nyatanya, tepat setengah abad
sebelum Einstein mempublikasikan karyanya mengenai relativitas umum,
seorang matematikawan Inggris bernama Charles Dodgson menulis sebuah
buku anak-anak mengenai subjek geometri dimensi tinggi dan alam semesta
paralel. Dengan nama pena Lewis Carroll, dia menulis Alice’s Adventures
in Wonderland pada 1865. Kita semua familiar dengan cerita ketika Alice
mengejar kelinci putih menyusuri jembatan Einstein-Rosen menuju alam
semesta lain. Saya yakin dalam buku tersebut itu disebut sebagai lubang
kelinci, tapi maksudnya tetap sama. Alasan mengapa hal seaneh itu bisa terjadi
di Wonderland adalah karena hukum fisikanya berbeda. Tentu saja Dodgson
tidak tahu mekanisme seperti apa yang bisa menyebabkan terowongan/
tembusan semacam itu menghubungkan dunia kita dengan dunia lain. Ingat,
203
ini terbit sebelum relativitas, mekanika quantum, dan kosmologi modern lahir.
Kisah itu didasarkan semata-mata pada ide-ide geometri tentang bagaimana
ruang boleh jadi melengkung dan bagaimana dua ruang boleh jadi tersambung
di suatu hyperspace berdimensi lebih tinggi. Yang Einstein tunjukkan lima
puluh tahun kemudian adalah bahwa lengkungan ruang semacam itu
terjadi di manapun ada konsentrasi massa (atau energi, sebab ini ekuivalen
dengan massa) yang cukup kuat. Teori gravitasinya (yakni relativitas umum)
menyediakan landasan fisikal untuk terowongan semacam itu ke dunia-dunia
lain sekalipun mereka kemungkinan besar tidak eksis dalam kenyataan.
Dalam salah satu karya terakhir Dodgson, Sylvie and Bruno, yang
diterbitkan pada 1890, kita menemukan bahwa dia (dan karenanya barangkali
matematikawan lain pada waktu itu) juga berpikir tentang jalan pintas di
satu alam semesta yang sama. Dalam kisah tersebut, Fairyland dan Outland
terpisah seribu mil tapi tersambung oleh ‘Royal Road’ yang bisa membawa
Anda dari Fairyland ke Outland atau sebaliknya hampir secara seketika.
Dia juga menggambarkan perjalanan waktu, laju jam yang berubah, dan
pembalikan waktu.
Pada 1930-an silam, alasan mengapa tak ada seorangpun yang tertarik
dengan jembatan Einstein-Rosen adalah bahwa, tak seperti lubang kelinci
dalam Alice’s Adventures in Wonderland, itu tak pernah bisa digunakan
sebagai alat praktis mencapai alam semesta lain. Satu cara untuk memikirkan
bagaimana jembatan Einstein-Rosen bisa terbentuk adalah membayangkan
singularitas di Alam Semesta kita melekatkan dirinya dengan singularitas di
alam semesta paralel. Jadi mungkinkah ini yang akan terjadi jika kita jatuh ke
dalam black hole? Anggap black hole agak seperti akhirat. Tak ada seorangpun
yang betul-betul tahu apa yang menanti kita saat meninggal dan, demikian
pula, kita tak yakin apa yang akan terjadi pada kita ketika jatuh ke dalam black
hole sampai kita sungguh-sungguh mengalaminya. Sekalipun begitu, kita tak
bisa menyampaikan kabar kepada orang-orang yang menunggu di luar horizon
peristiwa. Sebagai seorang ilmuwan, saya suka berpikir bahwa kita tahu sedikit
lebih banyak tentang black hole daripada tentang akhirat sebab setidaknya
black hole mematuhi persamaan matematika!
Lantas apa yang salah dengan jembatan Einstein-Rosen sebagai alat
menyeberang ke alam semesta lain? Well, kita mulai dengan horizon peristiwa.
Sekali Anda melompat ke dalam black hole, Anda tak dapat keluar lagi.
Tentu saja, agar Anda keluar ke sisi lain, black hole yang Anda masuki harus
204
tersambung dengan white hole. Ingat, ini adalah kebalikan black hole yang
darinya materi akan muncul, bukan jatuh masuk. Karenanya white hole harus
dikelilingi oleh kebalikan horizon peristiwa, sesuatu yang dikenal sebagai
antihorizon, yang akan memperkenankan perjalanan keluar searah dan tak
pernah perjalanan masuk. Sayangnya, antihorizon sangat tak stabil dan
berubah menjadi horizon normal dalam hitungan detik setelah terbentuk. Jadi,
setelah melewati horizon peristiwa black hole, Anda akan mendapati bahwa
ada horizon peristiwa kedua yang menghalangi jalan keluar Anda di ujung lain.
Bayangkan seorang tahanan dalam sel terkunci yang menemukan terowongan
di bawah ranjangnya. Itu, di bawah tanah, menggiring beberapa meter saja
untuk keluar ke ujung lain di dalam sebuah sel terkunci sebelahnya.
Persoalan utama jembatan Einstein-Rosen adalah bahwa itu amat tak
stabil. Koneksinya hanya akan bertahan selama sepecahan detik sebelum
terputus. Nyatanya, umur jembatan itu begitu singkat sampai-sampai cahaya
pun tak cukup cepat untuk melewatinya. Jadi seandainya Anda lompat ke dalam
black hole dengan harapan untuk menyeberang, Anda akan selalu terperangkap
dalam singularitas, dan memeras tubuh hingga ukuran yang jauh lebih kecil
daripada atom adalah hal yang sama sekali tak pernah dikehendaki siapapun.
Semua ini dengan asumsi bahwa Anda tidak terobek oleh gaya tidal
gravitasi sebelum Anda menggapai singularitas. Black hole pasti supermasif
bagi Anda untuk bertahan melewati horizonnya. Setelah mempertimbangkan
segalanya, jembatan Einstein-Rosen tak pernah bisa menjadi alat untuk
mengunjungi alam semesta tetangga, dan karenanya terus menjadi barang
aneh teoritis selama bertahun-tahun.

Alice menembus cermin


Ada sejumlah peristiwa menonjol dalam sejarah fisika wormhole. Setelah karya
Einstein dan Rosen pada pertengahan 1930-an, tak banyak yang terjadi sampai
John Wheeler, salah seorang fisikawan terhebat abad 20 (dan orang yang
menciptakan nama black hole), mempublikasikan sebuah paper pada 1955.
Di dalamnya dia menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa terowongan
di ruangwaktu tidak harus menghubungkan Alam Semesta kita dengan
alam semesta paralel, melainkan dapat menekuk untuk menghubungkan
dua kawasan berbeda di Alam Semesta kita (seperti gagang gelas kopi). Itu
adalah terowongan yang timbul dari ruangwaktu normal yang menyediakan
rute alternatif antara dua ‘mulutnya’ lewat dimensi lebih tinggi. Dua tahun
205
kemudian dia memperkenalkan kata ‘wormhole’ ke dalam jargon fisika dalam
sebuah paper menonjol tentang apa yang dia sebut ‘geometrodinamika’
yang berarti studi bagaimana geometri, atau bentuk, ruang berubah dan
berkembang. Tentu saja karyanya masih teoritis belaka. Sasarannya adalah
untuk memahami menjadi bentuk apa ruangwaktu bisa dipilin dan tak ada
kaitannya dengan penggunaan wormhole untuk dilewati manusia. Nyatanya,
wormhole yang membuat Wheeler tertarik adalah wormhole amat kecil.
Dia mempelajari struktur ruangwaktu pada skala terkecil di mana mekanika
quantum memberitahu kita bahwa segala sesuatu menjadi tak jelas dan tak
pasti. Pada level ini, ruangwaktu pun menjadi berbusa dan berbuih dan semua
bentuk dan struktur aneh, termasuk wormhole mini, bisa terbentuk secara
acak. Saya akan menyebutnya sebagai wormhole quantum dan kita akan
membahasnya lagi sedikit nanti.
Peristiwa penting berikutnya adalah pada 1963 saat matematikawan
Selandia Baru, Roy Kerr, menemukan bahwa persamaan-persamaan Einstein
memprediksikan eksistensi jenis black hole yang sama sekali baru: black
hole yang berputar, walaupun dia mulanya tak menyadari ini. Baru kemudian
disadari bahwa solusi Kerr berlaku pada semua bintang yang berputar yang
kolaps menjadi black hole dan bahwa, karena semua bintang berputar pada
porosnya dengan laju beragam, black hole Kerr lebih umum dan lebih realistis
ketimbang black hole non-berputar milik Schwarzschild. Lebih jauh, sebuah
black hole berputar jauh lebih cepat daripada saat berwujud bintang sebab
jauh lebih padat. (Ingat, saya menarik analogi dengan seorang ice skater
berputar saat saya menggambarkan black hole demikian di Bab 4). Yang
begitu menarik dari hasil kalkulasi Kerr adalah sifat singularitas di pusat black
hole semacam itu. Singularitasnya tak lagi berupa titik berukuran nol seperti
di pusat black hole Schwarzschild melainkan justru berbentuk cincin. Keliling
cincin adalah tempat semua materi berada, dan memiliki ketebalan hampir
nol dan karenanya berdensitas hampir tak terhingga. Di tengah-tengah cincin
hanyalah ruang hampa. Singularitas cincin semacam itu dapat, tergantung
massa dan putarannya, memiliki diameter cukup besar bagi manusia dan
bahkan pesawat antariksanya untuk dilewati.39

39 Dengan demikian singularitas lebih umum daripada titik berukuran nol. Singularitas adalah
tempat manapun yang menandai tepi ruangwaktu. Jadi, dalam model tilam karet 2D, setiap
potongan di tilam merupakan singularitas.
206
Astrofisikawan Oxford, John Miller, menguraikan bahwa, meski solusi
Kerr secara unik menunjukkan atribut ruangwaktu di luar suatu black hole
diam yang berotasi, belum ada indikasi bahwa itu menggambarkan dengan
tepat apa yang berlangsung di dalam horizonnya, termasuk segala sesuatu
tentang singularitas cincin. Jadi itu cuma satu kemungkinan gambaran bagian
dalam black hole. Miller menyatakan bahwa deskripsi semacam itu semestinya
disertai peringatan kesehatan dari pemerintah.
Dengan mencamkan ini, saya akan berlanjut dan menggambarkan
seperti apa black hole Kerr. Untuk permulaan, singularitas cincin berbeda
dari singularitas titik Schwarzschild dalam hal-hal lain. Contoh, singularitas
cincin memiliki horizon dalam (atau kedua), disebut horizon Cauchy, yang
mengelilingi singularitas. Tentu saja sekali Anda melewati horizon peristiwa
luar, tak ada jalan kembali untuk Anda. Tapi setidaknya Anda akan mampu
melihat cahaya dari Alam Semesta di luar, sekalipun itu akan tertekuk dan
terfokuskan oleh gravitasi black hole. Horizon Cauchy menandai batas yang di
sebelah dalamnya Anda takkan lagi melihat cahaya dari Alam Semesta luar.
Nah ini mungkin sekilas terdengar cukup masuk akal, tapi jangan terkecoh.
Black hole adalah tempat sedemikian mengerikan sehingga tak ada yang
sederhana. Salah satu prediksi ganjil matematika black hole adalah apa yang
terjadi pada cahaya yang Anda lihat dari Alam Semesta luar selagi Anda jatuh
mendekati horizon Cauchy. Karena waktu Anda berjalan semakin lambat,
waktu di luar mencepat sampai, di horizon Cauchy, berjalan cepat tak terhingga
dan Anda akan betul-betul melihat keseluruhan masa depan Alam Semesta
mengkilas di hadapan Anda saat Anda melewati horizon. Saya merasa ini
sangat jitu; persis saat Anda menyangka melihat keseluruhan masa lalu
mengkilas di depan mata Anda, Anda justru melihat seluruh masa depan.
Untuk meyakinkan bahwa saya tidak menyerang penggemar black
hole, saya mesti menambahkan bahwa, realitanya, Anda takkan betul-
betul mendapat pemandangan masa depan Alam Semesta sebab semua
cahaya yang akan memasuki black hole harus tiba sekaligus dalam sekejap
mata. Cahaya yang mengalir masuk akan teremas ke ujung biru spektrum. Ini
berkebalikan dengan apa yang dilihat oleh pengamat di luar black hole yang
menyaksikan cahaya jatuh masuk. Dalam kasus tersebut, cahaya teregangkan
(ter-redshift-kan). Selagi Anda mendekati horizon Cauchy, Anda melihat
cahaya semakin ter-blueshift-kan ke frekuensi yang semakin tinggi. Ini juga
mengimplikasikan bahwa cahaya menjadi semakin berenergi dan Anda akan
207
tergoreng sampai kering oleh ledakan akhir radiasi berenergi tak terhingga
itu. Saya turut sedih. Tentu saja semua ini dengan asumsi bahwa Anda telah
bertahan hidup terhadap gaya tidal gravitasi yang akan meregangkan Anda
dan mencoba merobek Anda sebelum Anda mencapai horizon Cauchy.
Untuk sejenak mari kita simpan dulu kerisauan sepele soal diubahnya
tubuh kita menjadi spageti dan dimasak dalam radiasi dan mari pikirkan sedikit
lebih seksama mengenai singularitas itu sendiri. Matematika relativitas umum
tampak mengindikasikan bahwa singularitas Kerr adalah jendela menuju
alam semesta lain. Ketimbang menyusuri jembatan Einstein-Rosen menuju
Wonderland, di sini Alice bisa melangkah menembus cermin. Lihat, asalkan
Anda bisa menggapai sejauh singularitas itu sendiri, Anda mungkin bisa
pergi ke pusat cincin (pastikan Anda tidak terlalu dekat dengan sisi-sisi jalan
sebab di situlah ‘bahan’ singularitas berada). Begitu Anda melakukan ini, Anda
meninggalkan ruangwaktu kita untuk selamanya.
Jadi ke mana Anda pergi seandainya Anda melompat melewati cincin
api kosmik ini? Jawabannya, itu tergantung secara krusial dan tak terkendali
pada jalur tepat yang Anda ambil melewati singularitas. Satu kemungkinannya,
Anda akan berakhir di bagian lain alam semesta kita sendiri dan, karena
waktu dan ruang bercampur, Anda hampir pasti akan berakhir di waktu lain
pula. Anda mungkin muncul di masa lalu jauh atau masa depan jauh. [Bagus,
pikir Anda, akhirnya inilah mesin waktu yang nyata] Tapi terlepas dari semua
bahaya melompat ke dalam black hole berotasi, melewati singularitas Kerr
adalah perjalanan searah. Saya bukan bermaksud bahwa Anda tak bisa pulang
lewat cincin tersebut dari sisi lain begitu Anda sudah melompat, tapi Anda
sendiri takkan menemukan kembali di mana dan kapan Anda memulai. Oh,
dan jangan lupa masih ada horizon peristiwa searah yang mencegah keluar.
Jadi izinkan saya meringkas baik buruknya black hole Kerr sebagai
‘gerbang bintang’. Di sisi positif, Anda bisa terhindar tergumal hingga ukuran
nol dengan berhati-hati melayari pusat singularitas. Persoalannya adalah,
dari luar horizon peristiwa, Anda tidak dapat melihat sudut yang mesti
Anda masuki. Jika masuk dari sisi (sepanjang bidang cincin), Anda pasti
bergerak memilin dan mengenai cincin. Perbedaan yang lebih penting antara
singularitas di dalam black hole berotasi (Kerr) dan black hole non-berotasi
(Schwarzschild) adalah bahwa ruang dan waktu terlengkungkan dengan
cara berbeda. Dalam jargon relativitas, singularitas titik disebut singularitas
miripruang sedangkan singularitas cincin disebut singularitas miripwaktu.
208
Singularitas miripruang menandai tepi waktu (baik permulaannya, seperti
singularitas Big Bang, ataupun ujungnya sebagaimana pada black hole)
sedangkan singularitas miripwaktu menandai tepi ruang, dan inilah alasannya
mengapa itu bisa berfungsi sebagai jendela ke luar Alam Semesta kita.
Setelah mempertimbangkan segalanya, dua horizon menyusahkan itu
sebetulnya amat disayangkan. Horizon peristiwa memperkenankan perjalanan
searah saja, dan itu memperisai singularitas dari penglihatan sehingga kita tak
mampu memilih sudut yang tepat untuk dimasuki. Horizon Cauchy, di sisi lain,
adalah tempat di mana Anda dimusnahkan oleh radiasi yang ter-bluseshift-kan
tak terhingga. Oleh sebab itu yang kita inginkan adalah membuang dua horizon
ini, menyisakan apa yang dikenal sebagai singularitas telanjang yang terbuka
ke Alam Semesta di luar. Ada sejumlah cara (mungkin) untuk mendapatkan
singularitas telanjang. Satu cara adalah lewat radiasi Hawking, di mana black
hole berangsur menguap sampai horizonnya menyusut dan lenyap sama
sekali, menyisakan singularitas terbuka. Tapi ini masih sangat kontroversial
dan banyak fisikawan percaya bahwa ketika black hole menguap tak ada yang
akan tersisa sama sekali. Bagaimanapun juga, ini hanya mungkin terjadi pada
black hole amat kecil dan tak ada baiknya menanti menguapnya black hole
berotasi yang supermasif. Namun black hole semacam itu bisa terlucuti dari
horizonnya dengan cara lain. Anda paham, semakin cepat sebuah black hole
berputar, semakin jauh horizon Cauchy-nya akan meluas dan kedua horizon
akan tumpang-tindih, dan, pada saat tersebut, matematika memprediksi
bahwa mereka saling menghapuskan dan keduanya akan lenyap.
Singularitas telanjang mungkin juga terbentuk dari kolapsnya massa
yang amat tak spheris, tapi opsi ini juga spekulatif sebab bentuk semacam
itu kemungkinan besar tidak eksis di Alam Semesta riil. Prediksi bahwa tipe
singularitas telanjang ini bisa terbentuk muncul dari simulasi komputer
kompleks yang dipelajari para astrofisikawan.
Tentu saja saya mesti mengingatkan Anda bahwa sebagian besar yang
sudah saya katakan sejauh ini dalam bab ini didasarkan pada prediksi teoritis
dan spekulasi, bagaimanapun juga. Fisikawan tidak percaya bahwa kita akan
bisa melewati singularitas telanjang Kerr dan pergi ke alam semesta lain
atau bahkan ke sisi lain alam semesta kita. Sebagian alasan skeptisme (dan
kegugupan) mereka adalah bahwa jika bisa demikian kita juga akan bisa
memakainya sebagai mesin waktu dan, sebagaimana kita simak di bab lalu,
itu bukan opsi yang siap dipertimbangkan oleh banyak fisikawan.
209
Tapi ada sejumlah kesukaran praktis yang membuat seluruh ide pergi
melewati singularitas-singularitas semacam itu menjadi semustahil upaya
pergi lewat jembatan Einstein-Rosen. Sebagai permulaan, rasanya tak mungkin
suatu black hole bisa berputar cukup cepat hingga menanggalkan horizon-
horizonnya. Dan riset mutakhir mengindikasikan bahwa horizon Cauchy
begitu tak stabil sehingga segera setelah Anda melewatinya (sekalipun Anda
berada dalam perjalanan melewati pusat singularitas), Anda akan cukup
mengganggunya hingga mengubahnya menjadi apa yang dikenal sebagai
null weak singularity, tapi tetap merupakan singularitas, dan Anda akan
terperangkap di dalam.

Ketika sains fakta bertemu sains fiksi


Pemahaman mutakhir kita akan black hole mengindikasikan bahwa mereka
prakteknya tak pernah bisa digunakan sebagai jendela atau jembatan menuju
alam semesta lain, atau menuju bagian-bagian lain alam semesta kita,
sekalipun kita bisa menggapai salah satunya. Mereka merupakan subjek subur
untuk para penulis sains fiksi yang biasanya tidak terhalangi oleh keberatan
fisikawan atau bahkan bukti eksperimen. Namun, tak semua penulis sains fiksi
mengabaikan temuan mutakhir dan prediksi fisikawan. Banyak pengarang
sains fiksi sendiri merupakan ilmuwan profesional dan ingin kisah yang
mereka kerjakan sekurangnya tidak terang-terangan mencemooh hukum fisika.
Inilah yang terjadi pada 1985 saat astrofisikawan, pengarang, dan tokoh TV
ternama, Carl Sagan, menulis novelnya, Contact. Dalam kisah itu, yang baru-
baru ini dibuat ke dalam sebuah film, manusia mengadakan kontak dengan
peradaban maju alien memakai terowongan menembus hyperspace (sebuah
wormhole40) yang menyambungkan dua wilayah jauh Galaksi yang lewatnya
pahlawan-pahlawan cerita bepergian. Sagan menyadari kemungkinan
jembatan Einstein-Rosen atau singularitas Kerr untuk kegunaan ini tapi ingin
kisahnya serealistis mungkin dan harus sesuai dengan fakta-fakta miliknya.
Bagaimanapun juga, meski kita bebas mengarang ide fiksi sambil lalu, sebagai
seorang ilmuwan terlatih, dia bertekad untuk hanya memasukkan apa yang
dianggap setidaknya mungkin oleh relativitas umum.

40 Catat,sejauh ini saya menghindari penggunaan istilah ‘wormhole’ dalam menggambarkan


sambungan antara dua black hole, baik yang berotasi ataupun tidak. Saya justru terus-menerus
memakai nama jembatan Einstein-Rosen dan singularitas Kerr. Saya berbuat begini untuk alasan
yang sebentar lagi akan menjadi jelas.
210
Oleh sebab itu Sagan mengirim draf awal naskah kepada temannya, Kip
Thorne, di Theoritical Astrophysics Group di California Institute of Technology.
Thorne adalah salah seorang pakar terkemuka dunia dalam relativitas
umum dan Sagan berharap dia bisa setidaknya memajukan satu dua saran
berdasarkan ide-ide ilmiah mutakhir yang akan menambah kepercayaan pada
kisah karangannya. Tak ada seorangpun yang siap dengan apa yang harus
diikuti. Permintaan Sagan menimbulkan keingintahuan Thorne dan, dengan
bantuan mahasiswa PhD-nya, Michael Morris, Thorne memutuskan untuk
menangani persoalan tersebut dari sudut pandang asli. Untuk memahami
pendekatannya, saya mesti menjelaskan seperti apa persamaan relativitas
umum Einstein secara kasar. Di satu sisi persamaan ada informasi mengenai
massa dan energi, sedangkan di sisi lain persamaan menggambarkan
kelengkungan ruangwaktu dengan kehadiran massa dan energi ini—cukup
dikatakan bahwa persamaan ini jauh lebih kaya dan lebih kompleks daripada
persamaan relativitas khusus E = mc2. Biasanya, fisikawan akan memulai
dengan mendefinisikan kandungan massa dan energi kawasan ruangwaktu
tertentu, misalnya bintang, lalu memecahkan persamaan Einstein untuk
menemukan bagaimana ruangwaktu sekeliling terpengaruh dan apa atribut
yang mungkin dimilikinya. Thorne mulai memikirkan apakah wormhole
diperkenankan dalam teori, tapi dia tidak mengikuti pendekatan tradisional.
Bagaimanapun juga, dia menyadari persoalan yang mengganggu solusi-solusi
biasa untuk black hole, misalnya horizon peristiwa, gaya tidal, singularitas
tak stabil, terowongan yang tertutup sebelum Anda bisa menyeberang, dan
sebagainya. Justru, dia memutuskan memulai dengan daftar keinginan.
Dia tahu bahwa untuk tujuan kisah karangan Sagan, wormhole harus stabil,
terus-menerus terbuka, tak memiliki horizon peristiwa di kedua ujung untuk
memperkenankan perjalanan dua arah, tidak memiliki singularitas, dan
tidak memiliki gaya tidal tak menyenangkan yang akan membunuh setiap
pelancong sebelum bisa masuk. Dia lalu mulai, bersama koleganya di Caltech,
merancang (secara matematis) bentuk yang harus dimiliki ruangwaktu agar
memenuhi semua persyaratannya. Secara mengejutkan, dia mendapati bahwa
ini memang memungkinkan.
Thorne sadar dirinya bisa merancang persis jenis wormhole yang dicari
Sagan. Ternyata memungkinkan secara teori untuk memiliki sambungan antara
dua wilayah Alam Semesta yang, secara skematis, persis mirip wormhole
quantum Wheeler tiga puluh tahun sebelumnya. Tapi kali ini terowongannya
211
akan cukup besar bagi manusia untuk dilewati dengan pesawat antariksa
tanpa merasakan ketidaknyamanan. Contoh, pelancong dapat memasuki
satu mulut wormhole dekat Bumi dan dalam waktu singkat dia akan muncul
dari ujung lain di sisi lain Galaksi. Pelancong kemudian bisa pulang lewat
wormhole tersebut dan melapor. Karenanya ‘koneksi’ ini dijuluki sebagai
‘traversable wormhole’ (wormhole yang bisa dilintangi/diseberangi—penj)
untuk membedakannya dari wormhole non-traversable seperti jembatan
Einstein-Rosen. Mulai sekarang, saat saya merujuk struktur demikian saya akan
cukup menyebutnya wormhole, mengimplikasikan jenis wormhole yang dapat
dilintangi.
Wormhole semacam itu diperlihatkan pada gambar 8.1 di mana ruang
dilukiskan sebagai tilam dua-dimensi. Dua jalan masuk menuju wormhole
dikenal sebagai mulutnya, sedangkan leher (atau gagang) di antara mulut-
mulut itu disebut sebagai leher wormhole. Konsep yang sulit dipahami adalah
bahwa, meski jarak di ruang normal di antara kedua mulut wormhole mungkin
panjang (katakanlah seribu tahun-cahaya), panjang terowongan wormhole
itu sendiri mungkin pendek (beberapa kilometer atau bahkan meter). Ini tidak
terlihat dari gambar 8.1 di mana jalur terowongan wormhole tampak lebih
panjang daripada jalur menyeberang lurus. Namun, Anda harus ingat bahwa
wormhole sebetulnya adalah koneksi antara dua kawasan di ruangwaktu
melengkung empat-dimensi yang mana mustahil kita visualisasikan.

Mulut

Leher

Gambar 8.1. Wormhole yang menghubungkan dua kawasan ruang 2D.

Juga penting untuk memahami bahwa wormhole Thorne bukan


terbentuk dari black hole, tidak pula memiliki horizon peristiwa. Jadi kiranya
kita tidak bisa berharap menemukannya di Alam Semesta. Bila demikian,
bagaimana kita akan mengusahakan membangun sendiri sebuah wormhole?
Pertama-tama, dan sebelum Anda terlalu bergairah, membangun wormhole
212
yang dapat dilintangi bukanlah pekerjaan teknologi abad 20 atau bahkan 21.
Barangkali memang tak pernah memungkinkan. Tapi karena bab ini menjual
spekulasi, izinkan saya berspekulasi. Satu cara untuk menciptakan wormhole
adalah memperbesar wormhole quantum. Pada skala panjang terkecil dan
triliunan kali lebih kecil dari atom, ada yang dikenal sebagai skala Planck, di
mana konsep panjang kehilangan maknanya dan ketidakpastian quantum
berlaku. Pada level ini semua hukum fisika yang dikenal akan mogok dan
bahkan ruang dan waktu menjadi konsep samar. Semua kemungkinan
distorsi ruangwaktu akan muncul dan lenyap dalam dansa acak dan chaos
yang berlangsung sepanjang waktu di setiap tempat di Alam Semesta.
Istilah-istilah seperti ‘fluktuasi quantum’ dan ‘buih quantum’ yang digunakan
untuk menggambarkan aktivitas chaos ini tentu saja tidak pantas. Di sinilah
wormhole kecil Wheeler akan eksis secara singkat sebelum menghilang,
dan ruangwaktu dikatakan ‘multiply connected’ sebagaimana pada gambar
8.2. Triknya adalah menangkap salah satu wormhole quantum ini dan
memompanya hingga berkali-kali lipat dari ukuran aslinya sebelum ia sempat
menghilang lagi.

Bayi
alam semesta

Wormhole
quantum
Buih ruangwaktu

Gambar 8.2. Fluktuasi quantum. Pada skala amat kecil yang dapat
dibayangkan, ruangwaktu tak lagi halus. Banyak bentuk berlainan akan
mendidih dan lenyap lagi.

Kita belum paham bagaimana caranya melakukan ini. Tapi mungkin


ada petunjuk ke arah yang benar dari cara Alam Semesta berevolusi dalam
pecahan detik pertama setelah Big Bang. Ingat dari Bab 3 bahwa sebagian
besar kosmolog kini percaya Alam Semesta kita pernah mengalami periode
singkat perluasan amat pesat yang dikenal sebagai ‘inflasi’. Dianggap bahwa
inilah mekanisme yang menyebabkan fluktuasi quantum kecil mengembang
secara dramatis menjadi ketidakteraturan skala besar, atau ‘riakan’, di ruang.
213
Ini pada gilirannya mengadakan perbedaan densitas materi yang dibutuhkan
untuk menghasilkan galaksi-galaksi. Jika model inflasi benar maka ruang
yang memuat keseluruhan Galaksi kita, beserta miliaran bintangnya termasuk
Matahari, dahulu merupakan sebuah fluktuasi quantum yang jauh lebih kecil
dari atom. Jika kita memahami mekanisme yang menyebabkan inflasi, kita
mungkin bisa memanfaatkannya untuk menginflasikan wormhole kita dari
skala Planck menuju skala astronomis.
Jelas bahwa, bagaimanapun caranya inflasi bekerja setelah Big Bang, itu
pasti melawan tarikan masuk gravitasi dengan menyediakan tekanan keluar
(atau antigravitasi) yang menyebabkan ruang meregang dan Alam Semesta
mengembang. Ide ini semestinya terdengar familiar. Ini adalah konstanta
kosmologis Einstein yang dia ajukan untuk menstabilkan Alam Semesta dari
kekolapsan, dan yang didukung dan ditentang di kalangan kosmologis sejak
saat itu. Seandainya kita bisa menerapkan ‘tekanan negatif’ semacam itu pada
sekawasan kecil ruang dan menyebabkan mini inflasi ruang secara terkendali,
kita mungkin menghasilkan, di antara ‘hal’ lainnya, wormhole. Artinya tentu
saja wormhole semacam itu mungkin pernah tercipta secara alami di Alam
Semesta. Meski begitu, sangat tidak mungkin, walaupun tidak mustahil,
beberapa wormhole masih ada hari ini sebab mereka akan telah kolaps
dengan cepat.
Tentu saja jika wormhole alami memang eksis maka, terlepas dari
kesukaran menemukannya (atau setidaknya salah satu mulutnya), kita tak
punya kendali atas tempat ke mana ia mengarah. Kita hanya harus mencoba
dan melihat. Alternatif selain menemukan wormhole yang sudah jadi, entah
itu wormhole kecil yang harus kita inflasikan atau wormhole yang tersisa dari
Big Bang, adalah memulai dari awal dan memanipulasi sendiri ruangwaktu.
Bahkan menurut standar spekulasi pembahasan ini, tampaknya amat tak
mungkin hal ini bisa dilakukan. Tentu saja, para periset dalam ‘fisika wormhole’
sekarang ini tidak mengurus cara membuat wormhole sebab bidang tersebut
masih dalam masa pertumbuhan dan mereka lebih tertarik pada bagaimana
sebetulnya atribut wormhole. Paper ilmiah dalam subjek ini seringkali memulai
dengan ucapan seperti: “Kami mempertimbangkan traversable wormhole yang
menghubungkan dua kawasan ruangwaktu yang flat secara asimtot…”, yang
pada dasarnya berarti “Ambil satu wormhole…”. Lalu mereka mengerjakan
persamaan-persamaan kompleks relativitas umum. Gara-gara sifat fisika
wormhole yang amat teoritis dan spekulatif, paper semacam itu seringkali
214
membicarakan ‘pemotongan dan penempelan’ (cut and paste) dua kawasan
ruangwaktu sebagai cara menciptakan wormhole. Ini menghasilkan gambaran
berupa penggunaan gunting dan plester pada ruangwaktu yang diperlakukan
sebagai sehelai kertas 2D. Fisikawan teoritis yang menulis paper-paper ini pun
seringkali mempunyai gambaran sederhana semacam ini dalam pikirannya.
Adapun Kip Thorne, sekarang ini ketertarikannya pada wormhole tak
lagi seperti pada akhir 1980-an saat paper-papernya memulai seluruh bidang
tersebut. Sejak saat itu, dan sepanjang tahun 1990-an, banyak paper serius
dan amat teknis telah muncul dalam jurnal-jurnal ilmiah terkemuka yang
mengurusi wormhole dari semua bentuk dan ukuran, dan ketertarikan pada
subjek tersebut masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hari ini, boleh
dikatakan bahwa pakar terbaik yang dikenal dalam subjek wormhole adalah
Matt Visser di Universitas Washington di St Louis yang mencurahkan buku teks
pertamanya untuk subjek tersebut.
Visser telah menyusun taksonomi wormhole yang lengkap. Dia telah
menunjukkan bahwa wormhole terdiri dari filum dan spesies berlainan.
Filum yang penting dikenal sebagai wormhole Lorentzian (berdasarkan
cara melengkungnya ruangwaktu untuk melahirkan wormhole). Wormhole
Lorentzian kemudian dibagi menjadi dua spesies: permanen dan sementara—
kita tentu saja tertarik pada yang permanen. Masing-masing spesies ini terdiri
dari dua subspesies tergantung pada apakah wormhole-nya menghubungkan
dua alam semesta berbeda (dikenal sebagai wormhole antar alam semesta)
atau dua kawasan, barangkali jauh, di alam semesta yang sama (wormhole
intra alam semesta). Masing-masing spesies ini kemudian dibagi menjadi
varietas makroskopis dan mikroskopis. ‘Makroskopis’ cenderung memiliki arti
“dapat dilintangi”, sedangkan ‘mikroskopis’ mengimplikasikan tipe wormhole
quantum yang pertama kali dipelajari oleh Wheeler. Secara umum tentu saja
wormhole quantum Wheeler adalah tipe sementara sebab mereka muncul dan
lenyap sesuai aturan mekanika quantum. Tapi, akibat ketidakpastian mekanika
quantum, mungkin wormhole varietas permanen (yang saya maksud adalah
memiliki kelengkungan ruangwaktu yang tepat yang memperkenankan
mereka berlangsung jauh lebih lama dari biasa) kadangkala terbentuk.

Wormhole—menjaga gerbang bintang tetap terbuka


Dari semua atribut wormhole, yang paling banyak dikumandangkan adalah isu
stabilitasnya. Anda mungkin merasa ini mengejutkan mengingat kita bahkan
215
belum yakin bagaimana cara membuatnya, dan sedikit-banyak Anda benar.
Tapi fisika wormhole adalah tentang apa yang mungkin—atau tepatnya yang
tidak mustahil. Sudah cukup bahwa wormhole bertipe yang pertama kali
diajukan Thorne dapat eksis secara teoritis. Bagaimana mereka terbentuk, itu
adalah hal penting kedua. Namun yang belum jelas adalah apakah wormhole
dapat dijaga tetap terbuka cukup lama agar seseorang yang bergerak pada
kecepatan lumayan (sangat kurang dari kecepatan cahaya) dapat lewat.
Salah satu kondisi yang ingin diberlakukan Thorne pada traversable
wormhole-nya adalah bahwa wormhole tersebut tidak akan menjepit cepat-
cepat seperti jembatan Einstein-Rosen atau tertutup begitu kita mencoba
lewat seperti singularitas Kerr. Namun, dia menemukan bahwa ini bukan soal
mudah. Leher wormhole tidak akan terus terbuka dengan sendirinya dan
perlu banyak bantuan. Anda mungkin berpikir bahwa ini bukan persoalan
seberapa sebab kita dapat membayangkan memasang suatu jenis perancah
di dalam wormhole yang akan sedemikian kuat sehingga bisa menahan gaya
gravitasi dahsyat yang mencoba menutupnya. Ini tak pelak lagi berada di luar
kemampuan teknologi kita, tapi tidak mustahil. Sayangnya, ternyata tak ada
materi dikenal di Alam Semesta yang dapat memenuhi persyaratan Thorne. Dia
sadar bahwa satu-satunya cara agar wormhole-nya dapat terus terbuka adalah
jika itu disisipi jenis material amat aneh yang memiliki massa negatif! Apa
artinya ini? Bagaimana bisa sesuatu memiliki massa kurang dari nol? Secara
teknis, itu dikatakan memiliki energi negatif sebab massa dan energi dapat
dipertukarkan, yang mana sama-sama tak masuk akal. Dalam keterangan khas
ilmiah, Thorne menjuluki material ini ‘eksotis’.
Kebingungan umum yang dialami banyak orang manakala mendengar
tentang ini adalah bahwa ini sama dengan antimateri. Jauh dari itu. Antimateri
hanyalah sepotong kue dibandingkan materi eksotis. Antimateri memiliki
massa positif yang bisa diindera dan betul-betul sama dengan materi normal
dalam hal efeknya terhadap ruangwaktu. Perbedaan antara materi dan
antimateri adalah bahwa mereka memiliki atribut-atribut berlawanan yang
lain, misalnya muatan listrik. Jadi, sebagaimana partikel subatom semisal
elektron yang bermuatan negatif, eksis tandingan antimaterinya, positron, yang
identik dengan elektron dalam setiap hal kecuali muatannya yang positif. Jika
segumpal materi disatukan dengan segumpal antimateri, mereka akan saling
memusnahkan dalam sebuah ledakan energi murni. Tapi segumpal antimateri
yang berdiri sendiri (tanpa materi—penj) akan jatuh ke Bumi, mematuhi hukum
216
gravitasi sebagaimana materi normal. Di sisi lain, materi eksotis akan, jika
jatuh, mengalami gaya antigravitasi yang menolaknya dan menjauhkannya
dari permukaan Bumi!
Jadi ke mana Anda harus pergi untuk membeli material eksotis
ini secukupnya guna dipakai dalam wormhole Anda? Well, kita tahu cara
membuat energi negatif dalam jumlah amat kecil. Tidak banyak memang,
tapi itu sebuah awal. Penelitian traversable wormhole telah menghidupkan
kembali ketertarikan pada efek tak dikenal tapi mempesona, dan terbukti
secara eksperimen, yang ditemukan oleh fisikawan Belanda, Hendrik Casimir,
pada 1948. Penelitian itu menyangkut atribut ruang yang kita anggap hampa
sama sekali.
Jika semua udara dipompa keluar bilik maka kita katakan kita
memperoleh kevakuman, artinya tak ada materi di dalam dan karenanya, saya
harap Anda sependapat, berenergi nol. Tapi pada level quantum, kevakuman
hampa pun merupakan tempat yang sibuk. Pada poin ini saya menyarankan
agar Anda membaca kembali bagian di Bab 4 yang berjudul ‘Bagaimanapun
tidak begitu hitam’ di mana saya membahas radiasi Hawking. Di situlah saya
menggambarkan bagaimana partikel dan partner antimaterinya terus-menerus
muncul dari tiada sebelum cepat-cepat menghilang tanpa jejak. Casimir
menunjukkan cara memanfaatkan proses ini untuk menyuling energi dari
kevakuman sekalipun itu tak punya apa-apa untuk diberikan.
Sebagaimana kebanyakan kita ketahui, jika kita meminjam uang dari
bank, kita harus segera melunasinya. Aturan mekanika quantum, sebagaimana
yang diungkapkan dalam prinsip ketidakpastian Heisenberg, beroperasi dengan
cara serupa. Tapi tak seperti pinjaman bank, di mana kita bebas memilih
periode pelunasan, prinsip ketidakpastian agak lebih ketat. Ia menyatakan
bahwa energi bisa dipinjam dari kevakuman asalkan dilunasi cepat-cepat.
Semakin banyak energi yang dipinjam, semakin cepat utang harus dilunasi.
Nah pikirkan apa yang berlangsung di kevakuman jika kita bisa men-zoom
sampai level mikroskopis. Di antara banyak sekali partikel subatom yang
terbentuk dari energi pinjaman ini ada photon (partikel cahaya). Lebih lanjut,
photon-photon dengan energi berlainan tercipta, di mana photon-photon yang
berenergi tinggi, ekuivalen dengan cahaya berpanjang gelombang pendek,
bisa bertahan di tempat dalam waktu yang jauh lebih sebentar dibanding
photon-photon berenergi rendah berpanjang gelombang panjang. Jadi, pada
suatu momen tertentu, kevakuman memuat banyak photon ini (dan partikel
217
lain) dan tetap akan memiliki energi rata-rata yang setara dengan nol sebab
masing-masing partikel hanya meminjam sementara energi yang diperlukan
untuk terciptanya mereka.
Casimir menunjukkan bagaimana kevakuman dapat dipancing agar
melepaskan sejumlah kecil energinya secara permanen. Ini dicapai dengan
mengambil dua pelat logam flat dan menaruh mereka berhimpitan di dalam
kevakuman. Saat jarak di antara pelat tidak setara dengan semua bilangan
panjang gelombang (ekuivalen dengan photon-photon berenergi tertentu),
maka photon-photon itu takkan bisa terbentuk di celah sebab mereka takkan
cocok. Konsep ini agak sulit dipahami, sebab kita harus mempertimbangkan
sifat gelombang cahaya (panjang gelombang) dan sifat partikelnya (photon)
pada waktu yang sama. Namun demikian, jumlah photon yang terbentuk di
kevakuman antara kedua pelat adalah kurang dari jumlah di sisi lain kedua
pelat dan karenanya akan memiliki energi rendah. Tapi karena kevakuman
di luar celah telah memiliki energi nol maka kawasan di antara pelat pasti
memiliki energi kurang dari nol (atau negatif). Ini menyebabkan kedua pelat
saling terdorong merapat dengan gaya amat lemah yang sudah diukur secara
eksperimen.41 Sayangnya, jumlah energi negatif yang bisa dihasilkan dengan
cara ini amat kecil dan sama sekali tak memadai untuk menjaga wormhole
tetap terbuka. Tapi itu sebuah awal.
Dalam menjaga semangat bab ini, saya tidak mengemukakan bahwa
proses Casimir suatu hari nanti akan menghasilkan cukup materi eksotis
untuk memagari leher wormhole, melainkan bahwa material berenergi
negatif semacam itu, walaupun sangat kecil dan disuling dari ruang hampa,
tidak dikesampingkan oleh hukum fisika. Nyatanya, beberapa fisikawan telah
mengajukan bahwa mungkin ada cara memeras kevakuman dan memompa
energi keluar darinya secara lebih sistematis, tapi ini belum jelas sama sekali.
Sebagai gambaran jumlah material eksotis yang dibutuhkan, Matt Viser telah
mengkalkulasi bahwa kita memerlukan materi eksotis yang setara dengan
massa Yupiter hanya untuk menahan wormhole selebar satu meter tetap
terbuka.
Cara lain mendapatkan material eksotis adalah dari sesuatu yang disebut
string kosmik. Ini adalah material yang mungkin tersisa dari Big Bang tapi
eksistensinya amat diperdebatkan. Ini tidak boleh tertukar dengan string dalam
teori superstring yang akan saya bahas lebih lanjut di bab terakhir, tapi ini
41 Verifikasi eksperimental efek Casimir masih sedikit kontroversial.
218
jauh lebih mengesankan. String kosmik kemungkinan berbentuk simpal/
gelungan atau merentang di Alam Semesta (dan karenanya mungkin panjang
tak terhingga jika Alam Semesta luas tak terhingga). Jika kemungkinan
kedua benar, maka string ini tidak memiliki ujung! Diameternya kurang dari
lebar sebuah atom tapi ia begitu padat sampai-sampai yang berukuran
satu milimeter saja akan berbobot satu juta miliar ton. Harapan kita adalah
bahwa jika Alam Semesta pernah mengalami periode inflasi, didorong
oleh antigravitasi akibat konstanta kosmologis non-nol, maka status Alam
Semesta pada periode itu mungkin terbekukan dalam kosmik string. Oleh
karenanya string tersebut akan mengandung materi eskotis, atau apapun,
yang menyebabkan antigravitasi mendorong inflasi selama waktu itu. Jika kita
dapat menemukan string demikian di Alam Semesta, itu tepat untuk menyisipi
wormhole kita.

Mengunjungi alam semesta paralel


Sejauh ini, saya baru membahas wormhole intra alam semesta yang
menghubungkan dua titik jauh di alam semesta kita sendiri. Tapi wormhole
quantum Wheeler mungkin juga menghubungkan kita dengan alam semesta
paralel. Ini disebut oleh Hawking sebagai bayi alam semesta sebab mirip
gelembung yang terbentuk dan tumbuh dari buih quantum di Alam Semesta
kita dan terhubung dengan alam semesta kita via wormhole seperti tali pusar.
Bayi alam semesta semacam itu mungkin kemudian mulai mengembang
di dalam hyperspace dimensi tinggi lalu, jika koneksi wormhole terputus,
terpisah selamanya dari alam semesta kita. Nyatanya, jika ini benar maka
alam semesta kita sendiri mungkin muncul dari buih quantum di alam semesta
sebelumnya lagi.
Jadi, sebagaimana kita mau menginflasikan wormhole intra alam
semesta dari level quantum, kita juga bisa berpikir untuk menginflasikan
wormhole antar alam semesta semacam itu yang menghubungkan kita
dengan alam semesta tetangga. Jika ternyata kita hidup di alam semesta
tertutup, maka kita dapat membayangkan masa depan jauh di mana Alam
Semesta kolaps menuju Big Crunch. Jika manusia masih ada pada waktu
tersebut, mereka akan ingin bisa lari dari singularitas final dengan lompat
lewat wormhole ke alam semesta muda yang memiliki atribut yang sama
dengan punya kita.
219

BAB 9
BAGAIMANA MEMBANGUN MESIN WAKTU

Resep untuk membuat naga rebus: pertama, temukan naga…


Matt Viser, Lorentzian Wormholes

S ETELAH sampai sejauh ini, Anda akhirnya berada dalam posisi untuk
memahami fisika yang harus ada di tempatnya jika kita hendak
membangun mesin waktu. Saya telah membahas dua teori relativitas Einstein,
teori khusus di mana waktu dan ruang disatukan menjadi ruangwaktu empat-
dimensi, dan teori umum di mana ruangwaktu melengkung dan memilin
dengan kehadiran materi dan energi. Kedua teori akan diperlukan di bab ini.
Saya telah membahas sifat waktu dan menengok jenis-jenis persoalan yang
harus kita tangani jika kita bersikukuh memegang kemungkinan perjalanan
waktu ke masa lalu. Kini saatnya menyelesaikan.
Saya akan menahan semua keberatan (valid) terhadap perjalanan waktu
sampai ada penetapan lain dan mengadopsi pandangan pragmatis, dan amat
optimistis, bahwa sepanjang perjalanan waktu tidak dilarang oleh hukum fisika
yang kita pahami hari ini maka ada harapan. Saya akan tunjukkan bagaimana
kita mungkin bisa mengusahakan membangun mesin waktu paling sederhana.
Ini bukan berarti saya telah memihak perjalanan waktu, tapi lebih bahwa saya
condong kepada satu pihak (untuk saat ini).

Simpal waktu
Saya membaca sebuah artikel di suratkabar Sunday baru-baru ini dengan judul
‘Mungkinkah Einstein keliru?’. “Oh tidak,” saya pikir, “ada lagi ide gila lain
yang mencoba menyanggah relativitas khusus.” Bagi saya, membaca bahwa
relativitas khusus keliru sama dengan membaca bahwa Bumi diketemukan
berbentuk datar. Keduanya sungguh gila mengingat kita sudah mengetahui
banyak hal. Padahal relativitas umumlah yang dibahas dalam artikel
tersebut dan, jauh dari terancam, tetap hidup dan sehat. Judulnya saja yang
menyesatkan.
220
Banyak fisikawan mengakui relativitas umum sebagai teori sains
terindah yang pernah ditemukan. Keindahannya terletak pada kesederhanaan,
keeleganan, dan kekayaan persamaan matematikanya. Saya akui bahwa
hanya segelintir dari populasi manusia bisa memahami keindahan ini sebab
mereka telah mendapat bertahun-tahun pelatihan. Bagi sebagian besar orang,
itu cuma sekumpulan simbol Yunani. Tapi saya belum pernah bisa memahami
atau mengerti kubisme sebagai bentuk seni. Bagaimanapun juga, selain
menyenangkan bagi fisikawan teoritis, relativitas umum telah dikonfirmasikan
oleh bukti eksperimen berulangkali. Namun, dalam hampir semua kasus ini,
itu hanya terjadi dalam apa yang disebut ‘batas medan lemah’ (yakni gravitasi
lemah). Relativitas umum masih harus betul-betul membuktikan semangatnya
dalam situasi-situasi di mana ia menyimpang secara radikal dari gravitasi
Newtonian.
Artikel suratkabar yang saya sebut di atas menggambarkan eksperimen
tipe baru yang, sudah disangka, akan mengkonfirmasi prediksi lain relativitas
umum yang dikenal sebagai gelombang gravitasi. Paragraf pertama dalam
artikel itu nyatanya menyebutkan bahwa jika gelombang gravitasi tidak
ditemukan maka relativitas umum akan berada dalam masalah. Namun,
sebegitu besarnya keyakinan fisikawan terhadap teori tersebut sampai-sampai
mereka yang mengerjakan eksperimen-eksperimen baru ini sungguh-sungguh
berharap segera menemukan apa yang mereka cari. Sayangnya, sebuah judul
yang menyatakan ‘Bukti eksperimen lain kebenaran Einstein sudah di ambang
pintu’ sebetulnya tidak patut dijadikan berita.
Gelombang gravitasi adalah disturbansi, atau riakan, di struktur ruang
yang disebabkan oleh gerakan objek masif. Pikirkan ruang bermodel trampolin.
Saat Anda berdiri di tengah-tengahnya, bobot Anda menghasilkan lekukan di
kain. Ini adalah gambaran sederhana bagaimana massa mempengaruhi ruang
sekelilingnya. Jika kemudian Anda melompat ke atas lalu ke bawah, Anda akan
membuat kain bergetar dan, asalkan luasnya sangat besar, getaran ini akan
berjalan ke arah luar dengan cara seperti menyebarnya riakan di permukaan
kolam manakala sebuah batu dilemparkan. Demikian halnya, gerakan objek
masif semisal kolapsnya bintang masif menjadi black hole akan memancarkan
riakan-riakan ruang, bukan di ruang, yang akan mempengaruhi objek lain
di jalurnya. Harapannya adalah bahwa eksperimen di Bumi akan mampu
mendeteksi efek gelombang gravitasi ini terhadap peralatan sensitif yang akan
sedikit teregang dan terperas saat gelombang melintas.
221
Tentu saja gelombang gravitasi tak ada kaitannya dengan mesin waktu.
Saya mengemukakan mereka sebagai contoh prediksi jelas relativitas umum
yang masih harus dikonfirmasi secara eksperimen. Namun, relativitas umum
begitu kaya sampai-sampai ia juga memperkenankan (secara teoritis tentu
saja) eksisnya bentuk-bentuk lain ruangwaktu yang lebih eksotis yang tidak
begitu kita yakini. Salah satu darinya, yang relevan dengan bab ini, disebut
kurva miripwaktu tertutup. Ini adalah jalur, atau rute, sirkuler di ruangwaktu
melengkung di mana waktu sendiri menekuk melingkar. Seandainya Anda
mengikuti jalur semacam itu, Anda akan merasa sedang menempuh ruang
biasa. Seandainya Anda mengecek arloji Anda kapanpun selama perjalanan
pulang-pergi ini, Anda akan melihatnya berjalan maju sebagaimana biasa.
Namun, Anda akan, setelah beberapa waktu berlalu bagi Anda, akhirnya
tiba kembali di tempat dan waktu yang sama dengan saat Anda memulai
berdasarkan jam yang ditinggal di situ. Jalur semacam itu mengharuskan
Anda pergi ke masa lalu untuk sebagian perjalanan Anda. Tentu saja jika Anda
kembali ke waktu lalu, Anda mungkin pula kembali ke tempat di mana Anda
memulai sebelum Anda berangkat, kalau tidak, Anda takkan memperoleh
apapun dari perjalanan tersebut. Pelengkungan lebih jauh pada ruangwaktu
akan menyebabkan simpal waktu membawa Anda kembali ke masa lalu.
Jadi ‘kurva miripwaktu tertutup’ adalah bahasa jargon untuk ‘mesin
waktu’. Saya akan menyebutnya di sini sebagai ‘simpal waktu’ saja. Sudah lama
diketahui bahwa relativitas umum memperkenankan eksistensi simpal waktu,
tapi setiap kali muncul dalam matematikanya, itu biasanya dikesampingkan
dengan alasan bahwa asumsi awal yang dimasukkan ke dalam persamaan
tak masuk akal. Betapa fisikawan adalah perusak suasana. Sayangnya, sikap
ini dibenarkan dan ada banyak contoh lain untuk mengilustrasikan alasannya.
Ambil contoh sederhana berikut. Jika Anda diberitahu bahwa sebuah bujur
sangkar memiliki luas 9 meter2, maka Anda menyimpulkan bahwa sisi-sisinya
berpanjang 3 meter, sebab luas bujur sangkar adalah hasil dari 3 x 3. Namun -3
x -3 juga menghasilkan 9 (ingat, negatif kali negatif sama dengan positif). Tapi,
kita takkan pernah membicarakan sisi bujur sangkar yang memiliki panjang
-3 meter, jadi kita abaikan opsi ini sebab tidak fisikal. Persamaan matematika
yang menggambarkan dunia riil seringkali memberikan, bersamaan dengan
jawaban yang tepat, jawaban yang sedemikian tak fisikal atau tak masuk
akal, yang semestinya diabaikan. Bagi mayoritas fisikawan yang mengerjakan
relativitas umum, simpal waktu masuk ke dalam kategori ini. Ia dianggap tak
222
fisikal gara-gara semua persoalan yang diasosiasikan dengan perjalanan waktu
ke masa lalu.
Namun pada tahun-tahun terakhir, beberapa fisikawan semakin segan
mengabaikan simpal waktu dengan cepat dan ia telah menjadi bidang studi
yang sesuai mode mutakhir. Sebagaimana akan kita simak, ini sebagian berkat
penelitian Kip Thorne mengenai wormhole. Namun, terlepas dari mudahnya
menghasilkan simpal waktu sebagai solusi persamaan Einstein, fisikawan
masih bimbang apakah ia betul-betul dapat eksis di Alam Semesta kita.
Solusi pertama persamaan medan relativitas umum Einstein yang
menggambarkan ruangwaktu yang memuat simpal waktu adalah hasil WJ van
Stockum pada 1937. Namun, hubungan antara solusi matematis aneh ini dan
kemungkinan penggunaannya untuk menggambarkan perjalanan waktu tidak
dipahami hingga beberapa waktu kemudian. Solusi van Stockum mensyaratkan
silinder panjang tak terhingga yang disesaki material dan berputar pesat di
ruang hampa; bukan sesuatu yang kemungkinan besar Anda jumpai secara
kebetulan, kecuali jika Anda berada dalam pesawat Starship Enterprise.
Relativitas umum memprediksi bahwa kawasan ruangwaktu sekeliling silinder
akan memilin dan boleh jadi memuat simpal waktu. Tapi silinder panjang tak
terhingga wajar saja diabaikan sebab terlalu tak masuk akal untuk diambil
serius. Lebih jauh, matematika relativitas umum memprediksi bahwa bahkan
ruangwaktu yang sangat jauh dari silinder akan memiliki atribut aneh,
membuktikan bahwa silinder materi semacam itu mungkin tidak eksis di Alam
Semesta kita atau kalau eksis kita akan bisa melihat efeknya secara lokal
sekalipun ia berada di sisi lain Alam Semesta.
Simpal waktu betul-betul mendobrak headline-headline sains dengan
karya Kurt Gödel pada 1949. Dalam sebuah paper klasik, dia secara matematis
menggambarkan alam semesta abstrak yang memuat simpal waktu. Namun,
alam semesta Gödel berbeda dari alam semesta yang kita tinggali dalam
caranya memelihara stabilitas terhadap tarikan masuk gravitasi materinya.
Bukannya mengembang, sebagaimana alam semesta kita, alam semesta
Gödel berotasi. Jika seorang pelancong antariksa di alam semesta semacam
itu hendak mengikuti jalur sirkuler yang cukup besar maka dia akan kembali ke
titik tolak keberangkatannya. Perjalanan waktu!
Walaupun Einstein, yang bekerja di gedung yang sama dengan Gödel di
Advanced Study Institute di Princeton, mulanya terganggu oleh hasil ini, dia (dan
kebanyakan fisikawan lain) segera mengesampingkannya lantaran dianggap
223
hanya memiliki sedikit relevansi dengan Alam Semesta riil yang kita ketahui
tidak berotasi. Bahkan Gödel sendiri mengabaikan kemungkinan perjalanan
waktu sebab prakteknya itu tidak bisa dicapai, bukan lantaran model alam
semestanya tidak mirip dengan alam semesta riil, melainkan gara-gara
kecepatan tak realistis yang disyaratkan dan jarak yang harus ditempuh oleh
roket dalam rangka menyelesaikan simpal waktu di alam semesta demikian.
Namun fakta mengatakan bahwa Gödel menghasilkan sebuah skenario
(walaupun tak realistis) di mana tak ada pelanggaran hukum fisika dan
konsisten sepenuhnya dengan relativitas umum, tapi memuat simpal waktu
beserta semua paradoks perjalanan waktunya. Sebagian besar fisikawan
percaya, dan masih betul-betul percaya, bahwa celah dalam fisika yang
memperkenankan eksisnya solusi jenis ini akhirnya akan tertutupi lewat
pemahaman yang lebih baik. Sebelum saat itu tiba, alam semesta Gödel
diturunkan ke status barang aneh matematis.

Mesin waktu Tipler


Pada 1960-an dan 1970-an, semakin banyak model teoritis ruangwaktu yang
memuat simpal waktu ditemukan oleh sejumlah fisikawan yang mempelajari
atribut-atribut persamaan relativitas umum. Semua model ini memiliki satu
hal umum. Mereka melibatkan objek masif yang berotasi yang memilin
ruangwaktu di sekelilingnya. Penelitian paling dikenal dalam tema ini adalah
oleh seorang Amerika muda bernama Frank Tipler yang mempublikasikan
sebuah paper pada 1974 yang cukup menimbulkan kegemparan saat itu. Tipler
menganalisa ulang penelitian van Stockum menyangkut silinder berotasi, dan
membawanya selangkah lebih jauh. Pertama-tama dia membuktikan secara
matematis bahwa, yakin akan simpal waktu tertutup di sekeliling silinder,
silinder memang harus panjang tak terhingga, terbuat dari materi amat
padat dan berputar dengan laju ribuan kali per detik. Persoalan terbesarnya
adalah, tentu saja, ‘panjang tak terhingga’, yang mana lebih mudah dikatakan
daripada dikerjakan. Jadi Tipler lalu mengkalkulasi apa yang dibutuhkan untuk
membangun mesin waktu. Dia menyatakan bahwa kita mungkin bisa memulai
dengan mendapatkan silinder sepanjang 100 kilometer dan selebar 10
kilometer saja. Persoalannya, dia tak bisa lagi mengandalkan matematikanya
untuk membuktikan bahwa ini memadai untuk melengkungkan ruangwaktu
secukupnya. Dan sekalipun simpal waktu tertutup bisa dicapai, silinder harus
luar biasa kuat dan kaku agar panjangnya tak teremas akibat tekanan dahsyat
224
gravitasi yang dialaminya. Pada saat yang sama, ia harus cukup kuat untuk
menjaga kesatuan dan bertahan terhadap gaya sentrifugal dahsyat yang
mencoba menghempaskan materinya keluar saat berputar dengan kecepatan
permukaan lebih dari setengah kecepatan cahaya. Namun, dia menguraikan
bahwa semua ini adalah persoalan teknis dan, bagaimanapun juga, siapa tahu
memungkinkan secara teknologi di masa depan.
Untuk menggunakan mesin waktu silinder Tipler, Anda harus
meninggalkan Bumi dengan pesawat antariksa dan pergi ke tempat silinder
sedang berputar di angkasa. Saat Anda cukup dekat dengan permukaan
silinder (di mana ruangwaktu di situ paling melengkung), Anda harus
mengitarinya beberapa kali lalu pulang ke Bumi, tiba di masa lalu. Seberapa
jauh Anda ke masa lalu, itu tergantung jumlah kitaran Anda. Sungguhpun
Anda merasa waktu Anda berjalan maju seperti biasa saat mengitari silinder,
di luar kawasan melengkung, Anda sedang berjalan terus ke masa lalu. Ini
seperti menaiki tangga spiral dan mendapati bahwa setelah memanjat setiap
lingkaran penuh, Anda berada di sebuah lantai di bawah lantai sebelumnya!
Sejumlah periset lain juga menyatakan bahwa kita mungkin tak
memerlukan silinder panjang tak terhingga untuk memperoleh simpal
waktu, dan bahwa perjalanan waktu mungkin bahkan bisa dicapai dengan
mengitari bintang neutron atau black hole yang berputar, asalkan mereka
berputar cukup cepat. Astronom telah menemukan bintang-bintang neutron
(pulsar) yang berputar hampir pada kecepatan yang diperlukan. Mereka
dikenal sebagai pulsar milidetik sebab laju putar mereka adalah sekali setiap
beberapa milidetik (satu milidetik sama dengan seperseribu detik). Beberapa
orang mengklaim bahwa kita perlu menirukan silinder panjang, di mana
kita akan harus menumpuk sejumlah pulsar milidetik, lalu menemukan cara
mencegah mereka teremas menuju satu sama lain dan membentuk black
hole.42 Kalkulasi lain mengimplikasikan bahwa satu black hole yang berputar
pesat yang telah menanggalkan horizonnya, menyisakan singularitas cincin
yang telanjang, sudah cukup untuk menyediakan simpal waktu tertutup
di sekelilingnya. Namun, matematika untuk semua pernyataan liar dan
menakjubkan ini masih jauh dari meyakinkan.

42 Spekulasi teoritis jadi sedikit tak terkendali saat kita mulai membicarakan penumpukan
bintang neutron, tapi itu menyenangkan.
225
Mesin waktu string kosmik
Satu kemungkinan cara agar mesin waktu Tipler bisa direalisasikan adalah
dengan menggunakan string kosmik. Kita telah simak dalam bab sebelumnya
betapa berguna string kosmik dalam menjaga leher wormhole tetap terbuka.
Tapi sekali lagi, mungkin persis inilah jenis material yang sedang kita cari. Ia
panjang tak terhingga dan tentu cukup padat. Yang kita perlu lakukan adalah
membuatnya berputar cukup cepat. Ini tentu saja dengan asumsi bahwa (a)
string kosmik memang eksis, (b) kita mampu menemukan dan mendatanginya,
(c) kita bisa menemukan suatu cara untuk memutarnya cukup cepat, dan (d)
simpal waktu tertutup betul-betul akan terbentuk di sekelilingnya.
Bahkan saat string kosmik tidak sedang berputar, ruangwaktu di
sekelilingnya terdistorsi dengan cara agak aneh (ya, bahkan lebih aneh
daripada ruangwaktu di sekeliling black hole!). Meski string tersebut
berdensitas tinggi, Anda takkan merasakan gaya tarik gravitasi seberapa dekat
pun Anda dengan string, dan ruangwaktu konon flat. Namun, ruang sendiri
akan berbentuk kerucut di sekeliling string. Untuk memahaminya, bayangkan
ruang 2D dan jalur sirkuler ruang ini di sekeliling string. Seolah-olah seiris
ruang dilepas sebagaimana pada gambar 9.1(a) lalu kedua tepi yang tertinggal
direkatkan sebagaimana pada gambar 9.1(b). Ini akan menyebabkan ruang
menjadi tertutup dalam bentuk kerucut di sekeliling string kosmik. Normalnya,
keliling lingkaran ditentukan oleh dua kali jari-jari kali pi. Jadi, jika sepotong dari
String kosmik

Gambar 9.1. Untuk meniru ruang 3D dekat string kosmik (garis


1D), buang satu dimensi dan bayangkan ruang 2D di sekeliling
sebuah titik (0D). Jika seiris ruang dilepas sebagaimana pada
gambar (a) lalu kedua tepi yang tertinggal direkatkan sebagaimana
pada gambar (b) maka ruang akan berbentuk kerucut.
226
lingkaran tersebut hilang, kelilingnya akan kurang namun jari-jarinya sama.
Seandainya Anda mengelilingi lingkaran berjari-jari tertentu di sekeliling
string, Anda akan mendapati bahwa jarak yang Anda tempuh untuk berkeliling
penuh dan kembali ke titik tolak Anda akan lebih pendek daripada jarak yang
Anda tempuh mengelilingi lingkaran berjari-jari sama di ruang normal (jauh
dari string). Catat, string dilukiskan sebagai titik 0D di ruang 2D. Sebetulnya ia
berupa garis 1D di ruang 3D (yang mana tak sanggup saya perlihatkan sebab
saya tak bisa menggambar kerucut 4D!).
Sebuah variasi dalam tema string kosmik ini dikemukakan oleh Richard
Gott pada 1991. Dia menyediakan jalan menghindari persyaratan bahwa string
kosmik harus berputar. Malah dia menunjukkan bagaimana dua string yang
saling berpapasan dengan kecepatan tinggi akan memiliki efek yang sama,
dan simpal waktu akan terbentuk di sekeliling pasangan itu. Persoalannya
di sini adalah, kedua string harus sejajar satu sama lain saat melintas. Jadi
sekalipun string kosmik memang eksis, kita masih harus berharap kedua
string kebetulan saling berjumpa pada sudut 90 derajat. Gott menguraikan
bahwa kita tak perlu menunggu dua string panjang tak terhingga saling
berpapasan. Efek yang sama bisa dicapai jika sebuah string kosmik tertutup,
yang membentuk simpal lonjong ketimbang sirkuler (seperti yang dibentuk
oleh gelang karet yang diregangkan), kolaps sedemikian rupa sehingga
kedua penampang panjangnya meleset saat terbang berpapasan. Gott sendiri
menguraikan bahwa simpal waktu tertutup yang mungkin terbentuk di
sekeliling dua potong string kosmik yang tidak berpanjang tak terhingga akan
membentuk black hole dan terperisai dari luar oleh horizon peristiwa, yang
tentu saja berarti keduanya takkan pernah bisa digunakan.
Sayangnya, cara Gott mencapai simpal waktu lebih gegabah lagi
daripada skema lain di pasaran sebab, dengan semua jika dan tapinya yang
sudah saya sebutkan, mengharuskan sebagian dari massa total string bersifat
‘imajiner’.43

43 Ini lebih buruk lagi daripada memiliki massa negatif, yang mana cukup menggelikan. Kata
‘imajiner’ mengimplikasikan atribut matematis tertentu yang melibatkan akar kuadrat bilangan
negatif. Jika Anda belum pernah menjumpai hal semacam ini, berikut adalah penjelasan singkat.
Anda tahu bahwa kuadrat bilangan positif adalah bilangan positif, dan kuadrat bilangan negatif
adalah bilangan positif juga (sebab – x – = +). Tapi sebuah bilangan yang saat dikalikan dengan
dirinya sendiri masih menghasilkan bilangan negatif dikenal sebagai bilangan imajiner sebab
ia tidak seperti bilangan (riil) biasa dan memiliki set aturannya sendiri. Bilangan semacam itu
berguna dalam banyak bidang fisika dan teknik.
227
Resep untuk mesin waktu wormhole
Sejauh ini pembahasan saya tentang perolehan simpal waktu tertutup
melibatkan pelengkungan ruangwaktu di sekeliling massa berputar. Ada cara
alternatif yang tidak mengharuskan perjalanan mengelilingi objek masif padat,
tapi justru mensyaratkan wormhole. Tak lama setelah Kip Thorne menunjukkan
kepada temannya, Carl Sagan, bagaimana traversable wormhole mungkin
bisa dibangun untuk menghubungkan dua kawasan ruang yang jauh via
terowongan pendek, ditunjukkan oleh kolega-koleganya bahwa tak ada alasan
wormhole tak boleh menghubungkan dua waktu berbeda. Bagaimanapun
juga, di ruangwaktu 4D-lah wormhole tercipta, bukan ruang 3D sendirian.
Cara lemah untuk memvisualisasikan ini adalah dengan menggunakan model
alam semesta blok. Gambar 9.2 menunjukkan sebuah wormhole menembus
ruangwaktu 3D ini yang menghubungkan dua waktu berbeda. Poin penting
untuk dicatat di sini adalah bahwa leher wormhole tidak sungguh-sungguh
tersimpan di dalam blok, melainkan eksis di suatu ruang dimensi tinggi di luar
ketiga dimensi di mana ia tergambar. Sayangnya, saya kehabisan dimensi.
Tapi setidaknya itu memberi Anda ide kasar tentang apa yang dilibatkan. Jika
‘sekarang’-nya Anda berada di WAKTU TERKEMUDIAN maka perjalanan melalui
wormhole akan membawa Anda ke masa lalu. Tapi, sama halnya, seseorang
yang ‘sekarang’-nya berada di WAKTU TERDAHULU akan menggunakan
wormhole untuk pergi ke masa depan.
Cara saya menggambar wormhole di alam semesta blok mengindikasikan
bahwa kedua mulutnya terbuka di irisan tertentu menerobos blok. Ini mungkin
mengimplikasikan bahwa seseorang yang ‘sekarang’-nya berada di irisan
tengah-tengah antara kedua mulut tidak akan melihat mulut wormhole.
Nyatanya, semua irisan yang terdapat setelah irisan WAKTU TERDAHULU
akan juga memuat mulut wormhole-nya, sebab mereka hanyalah irisan di
waktu terkemudian. Dengan demikian semua irisan setelah irisan WAKTU
TERKEMUDIAN akan memuat kedua mulut wormhole. Yang satu merupakan
sambungan ke masa lalu dan yang lainnya sambungan ke masa depan.
Yang membuat model alam semesta blok sungguh sulit dipahami, tapi
diperlukan agar perjalanan waktu memungkinkan, adalah bahwa tak satupun
dari kedua waktu tersebut memiliki hak untuk memanggil dirinya waktu
‘sekarang’ yang sejati. Keduanya sama-sama valid sebab, di alam semesta
blok, waktu tak berjalan. Ini tidak menghentikan perasaan subjektif kita bahwa
waktu berjalan terus. Jadi, bagi kita yang hidup di dalam alam semesta blok,
228
kedua irisan akan bergerak ke atas dengan laju yang sama, sepanjang sumbu
waktu, tapi akan ada orang-orang yang momen kininya ekuivalen dengan
salah satu dari dua waktu tersebut.

Arah waktu

Gambar 9.2. Wormhole di alam semesta blok yang


menghubungkan dua waktu berlainan.

Kip Thorne dan koleganya bahkan mampu menunjukkan bagaimana


wormhole yang bukan mesin waktu—dalam arti bahwa jika Anda pergi
melaluinya, Anda akan muncul di ujung lain di waktu terkemudian di mana
durasi yang Anda lewatkan di dalam wormhole sama dengan yang berlalu di
luar—bisa diubah menjadi mesin waktu. Yang saya maksud dengan wormhole
yang bukan mesin waktu bisa dipahami dari gambar 9.2 jika irisan WAKTU
TERDAHULU dan irisan WAKTU TERKEMUDIAN adalah itu-itu juga. Nah, jika Anda
pergi melalui wormhole, Anda akan muncul di irisan waktu yang sama dengan
jika Anda tidak pergi lewatnya. Trik dalam menciptakan mesin waktu adalah
memanfaatkan efek dalam relativitas khusus yang sudah Anda simak. Itu
melibatkan ide di balik paradoks kembar.
229
Pertama-tama izinkan saya menyusun rencana untuk apa yang
dipandang sebagai cara termudah mengkonstruksi mesin waktu (tentu saja
dengan asumsi bahwa itu memungkinkan):

Bagaimana membangun mesin waktu


1. Buat wormhole (dengan menginflasikan salah satu buih quantum, atau
menciptakan wormhole dari awal dengan melengkungkan ruangwaktu).
2. Stabilkan wormhole (dengan menjaganya tetap terbuka memakai materi
eksotis atau string kosmik).
3. Aliri salah satu mulut wormhole dengan listrik (agar ia bisa digerak-
gerakkan dengan medan listrik) lalu muat ia ke dalam roket.
4. Timbulkan perbedaan waktu antara mulut-mulut wormhole (dengan
terbang pada hampir kecepatan cahaya membawa salah satu mulutnya).
5. Ubah wormhole menjadi mesin waktu (dengan mendekatkan kembali
mulut-mulutnya).

Langkah (1) dan (2) sudah dibahas di bab yang lalu. Tapi ringkasnya,
kita betul-betul tak tahu bagaimana ini bisa dicapai. Inilah mengapa banyak
pengarang yang membahas mesin waktu wormhole biasanya memulai secara
fasih dengan pernyataan: “Ambil satu traversable wormhole”. Karena saya tak
tahu harus menambahkan apa lagi, saya akan berbuat serupa dan berasumsi
bahwa kita sudah punya wormhole stabil yang, untuk kemudahan, memiliki
mulut-mulut cukup besar bagi manusia untuk dilewati. Kedua mulutnya mulanya
bisa berdampingan di laboratorium wormhole kita. Langkah (3) memungkinkan
salah satu mulut diangkut dari laboratorium wormhole ke dalam roket yang
sedang menunggu. Untuk langkah (4) dan (5), kita bisa lupa bahwa mulut
wormhole berada dalam roket. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuat
roket terbang ke sana kemari pada hampir kecepatan cahaya selama beberapa
saat dan efek dilasi waktu relativitas khusus akan mengerjakan sisanya.
Ingat cerita paradoks kembar? Saat Alice berangkat dari Bumi dengan
roket high speed-nya dan pergi selama beberapa saat, ketika pulang ke
Bumi dia akan mendapati waktu di Bumi telah berlalu lebih banyak daripada
yang bisa dia terangkan. Dia akan pulang dalam usia lebih muda daripada
kembarannya, Bob, sebab dia telah berhasil melaju cepat ke masa depan. Kali
ini, Alice akan membawa serta salah satu mulut wormhole dan menyebabkan
pergeseran waktu di antara dua mulut wormhole.
230
Deskripsi hal tersebut berikut mirip dengan yang dibahas oleh Kip
Thorne dalam bukunya, Black Holes and Time Warps, tapi terdapat beberapa
modifikasi. Gambar 9.3(a) memperlihatkan Bob di laboratorium wormhole
sedang memandang lewat salah satu ujung wormhole-nya kepada Alice.
Lewat wormhole tersebut, Alice hanya beberapa meter jauhnya, tapi dia
nyatanya sedang duduk di dalam roketnya yang bisa dilihat berada di luar
jendela di landasan luncur. Gambar 9.3(b) memperlihatkan pemandangan dari
mulut wormhole Alice yang aman di dalam roket.

Gambar 9.3. (a) Bob dapat melihat Alice lewat wormhole yang
menyediakan jalan pintas antara mereka tak peduli seberapa jauh
pun mereka terpisah di ruang 3D. Alice, nyatanya, sedang duduk di
roketnya yang bisa dilihat dari jendela Bob.

Alice dan Bob sepakat bahwa Alice akan terbang dalam sebuah
perjalanan mengitari Tata Surya, bepergian dengan kecepatan jelajah roketnya
sebesar seratus ribu kilometer per detik (atau 1/3 kecepatan cahaya) dan
pulang ke Bumi persis setelah dua minggu. Mari kita asumsikan dia berangkat
pada hari Rabu. Saat dia mencepat menjauhi Bumi, jarak antara dia dan Bob
lewat wormhole tetap sama (lihat gambar 9.4), sungguhpun Bob bisa melihat
roket Alice lewat teleskop menjauhi Bumi pada 1/3 kecepatan cahaya. Bob bisa
231
mengobrol dengannya dan bahkan menyuguhkan bergelas-gelas kopi yang
baru dimasak kepadanya lewat wormhole setiap pagi. Yang lebih penting,
mereka akan bersama-sama menghitung mundur hari-hari. Sepanjang
waktu selama perjalanan itu, arloji mereka akan bersesuaian, sebab mereka
menyinkronkan kedua arloji secara pasti lewat wormhole.

Gambar 9.3. (b) Alice dapat melihat Bob lewat ujung wormholenya.

Dua minggu kemudian, di mana Bob maupun Alice sepakat bahwa


itu hari Rabu, Bob menyaksikan kembarannya lewat wormhole saat dia
mendekati akhir perjalanannya dan mengarahkan roketnya menerobos
atmosfer Bumi sebelum akhirnya mendaratkannya di landasan. Bob pergi
keluar untuk melihatnya mendarat, tapi pemandangan yang menyambutnya
saat melangkah keluar sungguh mengguncangkan. Landasan luncur
kosong, tak ada roket. Dia menguasai diri, berlari ke observatorium dan
membidikkan teleskopnya ke petak langit yang dari situ roket semestinya
datang. Kemampuan resolving teleskop tersebut sedemikian hebat sehingga
Bob mampu menemukan roket Alice baru saja melintasi Neptunus dalam
perjalanan menuju Bumi. Dia mengkalkulasi bahwa dengan kecepatan Alice
yang sekarang, Alice tidak akan mencapai Bumi sampai besok!
232

Gambar 9.4. Dua mulut wormhole bisa terpisah jauh di ruang


normal tapi tetap berdekatan lewat wormhole.

Sebagai ilmuwan—bagaimanapun juga dia bekerja di laboratorium


wormhole—mulai jelas bagi Bob bahwa inilah persis yang dia sangkakan.
Dia bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan memohon bantuan relativitas
khusus. Dia berlari kembali ke laboratorium wormhole untuk memberitahu
kembarannya. Begitu berada di dalam, dia memandang lewat wormhole dan
melihat Alice baru menyelesaikan pemeriksaan akhir kendali roketnya dan
bersiap-siap membuka pintu untuk naik. Bob memanggil lewat wormhole
untuk mengucapkan selamat atas pendaratan sempurna lainnya, lalu
memberitahunya bahwa dia sesungguhnya belum mendarat!
Alice balas melambai kepadanya. “Apa maksudmu aku belum
mendarat? Kau baru saja melihat aku mendarat. Kuharap ada kopi menanti,
ada sesuatu tentang materi eksotis di wormhole yang betul-betul merusak
kopi.”
“Tunggu sebentar,” seru Bob sedikit gelisah sekarang, “Aku bersungguh-
sungguh. Kurasa kau telah pindah ke kerangka waktu yang berbeda dariku. Aku
tahu, lewat wormhole aku melihatmu mendaratkan roket, tapi di luar sana”—
233
dia melambai samar ke arah landasan luncur lewat jendela—“kau masih
berada di tata surya sebelah luar. Roketmu pasti tidak berada di landasan
luncur. Nyatanya, kau takkan kembali sampai besok!” Alice, tak mengherankan,
sama sekali tak yakin. Dia bisa melihat Bob serius, tapi saat itu tidak ada yang
tak logis sejauh dia memandang. Dia mencoba lagi: “Dengar, kita berdua
sepakat bahwa sekarang hari Rabu. Nyatanya kita berdua telah dan sedang
bersama-sama menghitung hari demi hari. Lebih dari itu, arloji kita masih
sinkron. Karenanya kita berdua pasti berada di kerangka waktu yang sama.
Dan, percayalah, aku betul-betul baru saja mendaratkan roket ini.”
Tapi Bob tidak mendengarkan lagi dan khusyuk berpikir. Beberapa
menit sebelumnya dia yakin paham mengapa Alice selalu mengklaim saat
pulang dari perjalanannya bahwa dirinya pergi dalam waktu yang lebih pendek
daripada yang dilalui oleh Bumi. Itu cuma karena bekerjanya relativitas khusus.
Tapi wormhole sialan ini betul-betul terasa mengacaukan segalanya. Sejurus
kemudian, kabut menyingsing dan dia mengerti. Dia mulai mengatakannya
tanpa pikir, sebelum kebingungan lagi.
“Alice, anggap saja kita tak punya wormhole. Aku takkan tahu bahwa
kau telah mendarat. Nyatanya bagiku, dalam waktu Bumi, perjalananmu
sebetulnya akan memakan lima belas hari dan aku takkan melihatmu sampai
besok. Tapi bagimu, waktu roket, perjalanan hanya akan memakan empat
belas hari. Bagimu waktu yang berlalu kurang, lantaran kecepatan tinggimu.
Jadi kau mendarat pada hari Rabu menurut waktu roket, tapi Kamis menurut
waktu Bumi. Kau telah bergerak satu hari ke masa depan.” Dia berhenti
sejenak untuk memastikan bahwa Alice menyimak. “Teruskan,” kata Alice
bergairah.
“Well, tak peduli waktu kita disinkronkan lewat wormhole. Sepanjang
perjalanan, kau terus-menerus menyeret mulut wormhole-mu ke masa depan
waktu Bumi. Aku tahu bagimu sekarang Rabu. Memang, di dalam roket. Tapi
setelah kau mendarat kembali di Bumi, aku khawatir kau harus mematuhi
waktu Bumi.”
“Kau terdengar seperti seorang pramugari,” Alice tertawa. “Terima kasih
telah terbang bersama kami, dan tolong cocokkan arloji Anda dengan waktu
setempat, hari ini Kamis.”
“Yap. Bumi yang kau darati adalah hari esokku.”
“Aku lebih suka berpikir bahwa aku berada di masa kini, bila itu tak apa-
apa bagimu, saudaraku.”
234
“Baiklah. Jika kau bersikeras bahwa dirimu berada di masa kini maka
segala yang kau lihat saat memandang lewat wormhole adalah satu hari di
masa lalumu. Kau sedang melihat sebuah waktu yang terjadi kemarin bagimu,
saat kau masih sedang terbang pulang. Tapi aku sama-sama bisa mengklaim
hidup di masa kini dan sedang memandang apa yang akan terjadi besok lewat
wormhole. Setidaknya aku tahu kau akan mendaratkan roket dengan aman.”
“Lantas sekarang bagaimana?” tanya Alice.
“Well, wormhole sudah diubah menjadi mesin waktu. Kuakui bukan
yang serbaguna tapi akan terus menghubungkan dua waktu yang terpisah
sehari.”
Alice dan Bob kini bisa memakai mesin waktu dua arah ini sesering
mereka sukai. Bob dapat melangkah melaluinya untuk bergabung dengan
kembarannya di hari Kamis, atau Alice bisa bergabung dengan Bob di hari
Rabu. Mereka bisa membeli suratkabar Kamis, mencari hasil Lotere Nasional
periode malam sebelumnya, pulang ke hari Rabu, dan memilih angka yang
menang.
Tentu saja Alice bisa bergabung dengan Bob di hari Rabu dan mereka
bisa menunggu sampai Kamis, lalu keduanya pergi keluar dan menyaksikan
Alice mendaratkan roket! Alice yang berada di dalam roket saat itu akan
sedang mengobrol dengan Bob Rabu dan akhirnya akan memanjat lewat
wormhole untuk bergabung dengan kembarannya dan menjadi Alice yang
menunggu di luar. Jadi untuk sejenak akan ada dua Alice. Seandainya Alice
memandang keluar roket sebelum memanjat lewat wormhole, dia akan telah
melihat dirinya sendiri, dan Bob yang lain.
Saya sengaja menghindari paradoks-paradoks perjalanan waktu dalam
cerita ini. Tapi jika Anda sedang mencari masalah, mereka sangat mudah
ditemukan. Sebagai contoh, apa yang akan terjadi jika Alice dan Bob yang
sedang berdiri di luar untuk menyaksikan roket mendarat pada hari Kamis
memeriksa roket itu dan naik ke dalam (dari luar roker dan bukan lewat
wormhole), dan berupaya mencegah Alice dalam roket pergi lewat wormhole?
Mereka bukan hanya pasti gagal sebab Alice betul-betul pergi lewat situ, tapi
mereka bahkan tak bisa mengadakan kontak dengan Alice Roket sebab Alice
Luar tak punya ingatan tentang perjumpaan semacam itu dengan dirinya
sendiri saat menjadi Alice Roket!
Inilah paradoks “tiada pilihan” yang timbul, dan kita harus meminta
bantuan pada salah satu dari 2 metode penyelesaian yang saya bahas di Bab 7:
235
a) Jika Alice Luar tidak bisa ingat pernah bertemu dirinya sendiri saat dia
berada dalam roket, maka dia jelas akan terlarang (entah bagaimana)
berinteraksi dalam cara apapun dengan Alice Roket. Fisikawan menyebut
skenario semacam itu sebagai solusi inkonsisten.
b) Alam Semesta membelah dua saat wormhole menjadi mesin waktu.

Anda mungkin juga menerima omong-kosong lezat di atas sepenuhnya.


Namun, saya mesti menjelaskan bahwa cerita saya tak hanya melanggar
hukum fisika, tapi juga bahwa terlalu banyak garam sangatlah buruk untuk
Anda, dan merusak rasa. Jadi bagaimana kemungkinannya skenario semacam
itu bisa menjadi kenyataan di masa mendatang?
Sebagaimana saya jelaskan di akhir bab yang lalu, langkah (1) dan (2)
dalam boks ‘Bagaimana membangun mesin waktu’ mungkin takkan pernah
terealisasikan. Tapi jika itu bisa dilakukan dan kita bisa membuat traversable
wormhole, adakah rintangan lain?
Langkah (4), yang melibatkan penimbulan pergeseran waktu antara dua
mulut wormhole dengan menjauhkan mereka dengan kecepatan tinggi, adalah
satu-satunya persoalan jika Anda berpikir takkan pernah mungkin membangun
roket yang mampu berjalan pada hampir kecepatan cahaya. Tentu saja itu
bukan satu-satunya cara menimbulkan pergeseran waktu. Kita dapat, jika
kita punya akses terhadap medan gravitasi yang cukup kuat, menggunakan
efek dilasi waktu relativitas umum untuk memperlambat waktu di satu ujung
wormhole. Ini bisa dicapai dengan membawa satu mulut wormhole dalam
sebuah perjalanan mengelilingi black hole beberapa kali. Tentu saja orbitnya
tak harus mengikuti simpal waktu tertutup sebab kita tidak membutuhkan
mulut wormhole yang mengorbit tersebut untuk pergi ke masa lalu. Yang kita
perlukan hanyalah melambatnya waktu secara relatif terhadap mulut lain yang
jauh sekali dari black hole.

Persoalan yang tak dapat diatasi?


Ada sejumlah keberatan terhadap rencana mesin waktu wormhole. Semuanya
didasarkan pada kalkulasi serius yang menunjukkan bahwa salah satu langkah
tadi merupakan rintangan yang tak pernah bisa kita atasi. Yang paling serius
adalah bahwa, sekalipun traversable wormhole bisa dibangun, dan pergeseran
waktu timbul, langkah terakhir yaitu mendekatkan kedua mulut—yang
mungkin Anda pikir paling mudah—nyatanya akan mengakibatkan wormhole
236
hancur. Diduga bahwa—meski tak ada seorangpun yang yakin—segera setelah
wormhole menjadi mesin waktu, cahaya yang telah berjalan melaluinya akan
mampu kembali, lewat ruang normal, ke mulut yang dimasukinya sebelum
ia masuk. Ia lalu akan bisa masuk bersama dengan versi awalnya, sehingga
menggandakan energinya. Tapi jika dua kali lebih banyak radiasi masuk dan
bisa kembali ke pintu masuk sebelum ia masuk maka semestinya ia empat
kali lebih intens, dan seterusnya. Nyatanya, kalkulasi menunjukkan bahwa
saat kedua mulut (dengan kerangka waktu mereka yang berbeda) didekatkan
agar sedikit cahaya yang meninggalkan mulut-keluar bisa kembali dan
melewati mulut-masuk sebelum ia masuk, cahaya dalam jumlah tak terhingga
akan seketika terhasilkan dengan mengalir lewat wormhole dan akan
mengkolapskan leher wormhole atau menyebabkan kedua mulutnya meledak
dalam sebuah ledakan energi. Cahaya (atau radiasi elektromagnetik) ini akan
selalu menjadi persoalan sebab dihasilkan oleh kevakuman itu sendiri, dan
karenanya disebut sebagai fluktuasi kevakuman.
Seorang pakar wormhole, Tom Roman, telah menunjukkan bagaimana
mesin waktu wormhole bisa dikonstruksi tanpa harus mengikuti langkah (5),
mendekatkan mulut-mulut. Malah, sekali pergeseran waktu timbul antara
kedua mulut dan sementara mereka terpisah jauh, dua mulut wormhole yang
kedua, yang tak harus ditimbulkan pergeseran waktunya, bisa ditempatkan
berdekatan dengan dua mulut wormhole yang pertama, sebagaimana
dalam gambar 9.5. Sekarang Anda bisa pergi lewat wormhole pertama lalu
gunakan wormhole kedua sebagai jalan pintas balik ke titik tolak Anda, pulang
sebelum Anda mula-mula berangkat. Fluktuasi kevakuman yang bertumpuk
dan menghancurkan sebuah wormhole saat mulut-mulutnya didekatkan
kini di bawah kendali. Namun, semua kalkulasi yang sejauh ini dijalankan
menunjukkan bahwa persamaan-persamaan relativitas umum masih
memberi jawaban tak masuk akal segera setelah simpal waktu terbentuk
dari konfigurasi wormhole ‘Romawi’ ini. Matt Viser mengemukakan bahwa
kita bisa menempatkan serangkaian wormhole membentuk cincin. Masing-
masing wormhole memiliki pergeseran waktu sedikit tapi tak cukup untuk
menggunakan satu saja sebagai mesin waktu sebab, sekalipun kita pergi
melaluinya, jarak antara kedua mulutnya di ruang normal akan terlampau jauh
bagi kita untuk dicapai dari mulut-keluar menuju mulut-masuk sebelum kita
masuk. Tapi kombinasi semua wormhole sebagaimana diperlihatkan dalam
gambar 9.6 mungkin bisa bekerja.
237

Waktu
Gambar 9.5. Mesin waktu Romawi yang menggunakan dua
wormhole. Setelah menimbulkan pergeseran waktu di antara
mulut A dan B wormhole (1), Anda tak perlu mengambil resiko
menghancurkannya dengan mendekatkan mereka lagi. Justru,
gunakan wormhole (2) untuk membawa Anda kembali ke titik
tolak Anda. Langkah (i): pergi lewat A. Langkah (ii): keluar dari B
lalu masuk ke C yang berada di sebelahnya. Langkah (iii): keluar
dari D yang berada di sebelah titik masuk awal Anda di A, tapi di
masa lalu.

Stephen Hawking yakin bahwa alam melarang simpal waktu dan


perjalanan waktu. Dia telah mengajukan apa yang dikenal sebagai penaksiran
perlindungan kronologi yang sederhananya menyatakan bahwa perjalanan
waktu ke masa lalu tidak boleh diperkenankan dalam fisika. Ini masih harus
dibuktikan secara matematis tapi sejauh ini sama-sama belum disangkal. Jika
penaksiran perlindungan kronologi ternyata memang merupakan hukum alam
maka perjalanan waktu akan disingkirkan untuk selama-lamanya. Konfigurasi
wormhole Romawi (entah dengan dua atau banyak wormhole) juga tampak
memiliki persoalan, di mana matematikanya tidak memberi jawaban definitif,
atau bahkan masuk akal.
238
‘Di sini‘
dan
‘Kini‘

Waktu

‘Di sini‘
di masa
lalu

Gambar 9.6. Mesin waktu cincin Romawi yang menggunakan


banyak wormhole, yang masing-masingnya memiliki pergeseran
waktu sedikit di antara kedua mulutnya. Pergeseran waktu
bertambah selagi wormhole-wormhole membawa Anda dalam
perjalanan pulang-pergi kembali ke titik tolak Anda, di masa lalu.

Temuan-temuan mutakhir mengindikasikan bahwa batu sandungan


yang lebih mendasar lagi adalah materi eksotis, yang dibutuhkan untuk
menjaga traversable wormhole tetap terbuka dulu. Sejumlah periset
mengklaim bahwa kalkulasi mereka menyingkirkan kemungkinan memperoleh
cukup materi eksotis untuk menjaga terus terbukanya wormhole yang lebih
besar daripada wormhole quantum.
Lantas mana yang harus kita percayai? Bisakah wormhole dibangun?
Bisakah mereka membentuk mesin waktu? Bisakah simpal waktu terbentuk
sama sekali di Alam Semesta? Anda telah mengumpulkan dari segala yang
saya katakan dalam beberapa bab terakhir bahwa majelis hakim masih
mempertimbangkan putusan atas semua pertanyaan ini. Kita betul-betul
belum tahu pasti. Nyatanya, terlepas dari persoalan gamblang tentang
bagaimana menjaga wormhole tetap terbuka dan bagaimana mengangkutnya,
ada batu sandungan teoritis yang lebih mendasar.
Mekanika quantum menggambarkan perilaku dunia amat kecil,
sedangkan kebanyakan fenomena yang digambarkan dalam kerangka
relativitas umum cenderung melibatkan perluasan dahsyat, massa besar,
dan gaya raksasa. Bintang, black hole, galaksi, bahkan keseluruhan Alam
Semesta, semuanya bersandar pada deskripsi gravitasi Einstein dan bagaimana
itu mempengaruhi ruang dan waktu. Mereka jauh dari dunia quantum
mikroskopis. Namun, ada sjeumlah proses, semisal radiasi Hawking dari
239
permukaan black hole, yang hanya bisa dipahami jika mekanika quantum
dimasukkan ke dalam penjelasan. Tapi penggunaan sukses relativitas umum
dan mekanika quantum untuk menjelaskan fenomena yang sama adalah hal
langka. Itu hanya dicapai dengan secara artifisial mengentén aturan quantum
pada relativitas umum secara taksiran. Alasannya, relativitas umum dan
mekanika quantum tidak serasi. Simbiosis antara kedua deskripsi realitas yang
sukses ini hanya akan tercapai jika mereka bisa digabung menjadi satu skema
terpadu; teori gravitasi quantum yang meliputi segalanya.
Sebelum kita menemukan teori semacam itu, kita takkan mampu
menjawab secara definitif pertanyaan apakah penaksiran perlindungan
kronologi Hawking betul-betul merupakan hukum alam atau bukan, sehingga
melarang perjalanan waktu. Saya akan mengakhiri bab ini dengan sebuah
kutipan dari Frank Tipler, fisikawan yang mempublikasikan paper serius
pertama tentang bagaimana membangun mesin waktu. Tiga tahun setelah
karya tersebut, pada 1977, dia mempublikaskan artikel yang lebih panjang
di mana dia memeriksa secara lebih seksama kemungkinan realisasi mesin
waktu silinder berotasi miliknya. Dia mengakhiri artikel itu dengan meminjam
kutipan dari astronom Simon Newcomb yang telah menulis sejumlah paper di
peralihan abad ini yang mempertahankan kemustahilan mesin terbang yang
lebih berat daripada udara. Tipler merasa bahwa itu juga berlaku pada mesin
waktu:
“Demonstrasi bahwa tak ada kombinasi zat dikenal, bentuk
mesin dikenal, dan bentuk gaya dikenal yang bisa disatukan
dalam mesin yang dapat dijalankan yang dengannya manusia
akan [pergi ke masa lalu], bagi penulis terasa sama mungkinnya
dengan demonstrasi fakta fisikal.”
Saya tak perlu mengingatkan Anda bagaimana Orville dan Wilbur Wright
membuktikan Newcomb salah mengenai mesin terbang yang lebih berat
daripada udara hanya beberapa tahun kemudian.
240

BAB 10
APA YANG KITA KETAHUI?

“Saya kini percaya bahwa seandainya saya menanyakan


pertanyaan yang lebih sederhana lagi—misalnya, Apa yang Anda
maksud dengan massa? atau percepatan, yang secara ilmiah
ekuivalen dengan perkataan Bisakah Anda membaca?—tidak
lebih dari satu di antara sepuluh orang berpendidikan tinggi
akan merasa bahwa saya berbicara dengan bahasa yang sama.
Begitulah bangunan besar fisika modern berdiri, dan mayoritas
orang terpandai di dunia barat memiliki pemahaman tentangnya
sebanyak yang dimiliki leluhur neolitik mereka.”
C P Snow, The Two Cultures

“Para penyair bilang sains menjauh dari keindahan bintang-


bintang—sekadar gumpalan atom-atom gas. Tak ada ‘sekadar’.
Saya juga melihat bintang-bintang di gurun pasir malam hari.,
dan merasakan mereka. Tapi apakah saya melihat lebih kurang
atau lebih banyak? Keluasan langit merentangkan imajinasi
saya—terpaku di atas korsel ini, mata kecil saya bisa menangkap
cahaya berumur satu juta tahun; pola luas yang saya merupakan
bagiannya… Apa pola itu, atau maknanya, atau sebabnya? Tak
merusak misteri sama sekali jika kita mengetahui sedikit lebih
banyak tentangnya. Sebab kebenaran jauh lebih menakjubkan
daripada yang dibayangkan seniman masa lampau manapun.
Mengapa penyair masa kini tidak membicarakannya?”
Richard Feynman, The Feynman Lectures on Physics, Volume 1

D I bab terakhir ini saya ingin mencatat apa-apa yang kita yakin ketahui
tentang Alam Semesta kita dan mempertimbangkan bagaimana kita
kemungkinan besar membuat kemajuan.
241
Induk semua teori
Teori gravitasi geometris (relativitas umum) Einstein dan mekanika quantum
adalah dua pencapaian terhebat fisika abad 20, menjulang tinggi di atas segala
yang lain yang sudah kita ketahui tentang dunia fisik kita dan selebihnya,
sebelum maupun sesudah. Di antara semua teori, mereka telah memonopoli
pasar sampai menggambarkan aspek-aspek realitas paling fundamental
sebegitu teliti. Persoalannya adalah, sebagaimana saya sebutkan di bab
yang lalu, mereka tidak serasi dengan satu sama lain. Mereka bersandar
pada tipe matematika berlainan dan memiliki aturan dan prinsip pokok yang
terpisah sama sekali. Relativitas umum mogok di singularitas dan simpal
waktu tertutup, sedangkan mekanika quantum gagal menggambarkan gaya
gravitasi dalam kerangkanya. Lantas seberapa dekat kita menuju teori gravitasi
quantum; sebuah ‘theory of everything’ yang akan menampung aturan dan
prinsip relativitas dan mekanika quantum dalam struktur matematikanya?
Well, saat kita mengakhiri abad 20 dan memulai abad 21, kita mungkin sudah
memiliki teori semacam itu dalam genggaman kita.
Einstein merampungkan teori relativitas umumnya pada 1915, dan
kemudian memainkan peran relatif (saya tak bermaksud bermain kata-kata)
kecil dalam perkembangan teori quantum yang datang yang menyibukkan
sebagian besar fisikawan terkemuka lain di dunia selama lebih dari sepuluh
tahun berikutnya. Tapi setelah ide dan matematika pokoknya dipilah-
pilah, apa lagi yang harus dilakukan? Seseorang sejenius Einstein takkan
puas menerangkan sesuatu sejelas-jelasnya. Jadi selama tiga puluh tahun
terakhir hidupnya, Einstein mencari, tapi tak berhasil, apa yang disebut teori
medan terpadu; sebuah teori yang akan mengkombinasikan relativitas
umum dengan teori cahaya (atau lebih tepatnya elektromagnetisme) bukan
dengan mekanika quantum. Einstein mencoba sejumlah pendekatan tapi tak
pernah memperlihatkannya. Konon paper-paper berisi teori tak rampungnya
ditemukan di mejanya setelah dia wafat.
Yang paling elegan secara matematis, tapi pada saat bersamaan paling
membingungkan, di antara kandidat teori terpadu yang Einstein kerjakan
adalah karya dua matematikawan: Theodor Kaluza asal Polandia dan Oskar
Kelin asal Swedia. Kaluza mengerjakan semua penelitian dasar dan, pada 1919,
mengirim sebuah paper kepada Einstein yang di dalamnya dia mengajukan
cara menjelaskan radiasi elektromagnetik dalam kerangka relativitas umum.
242
Kaluza memperlihatkan bahwa yang dibutuhkan untuk mencapai hal
ini adalah menuliskan persamaannya bukan di ruangwaktu 4D melainkan
ruangwaktu 5D dengan memasukkan sebuah dimensi ruang tambahan.
Walaupun ini terdengar sembarangan dan jauh dari apa yang kita anggap
sebagai realitas, ini relatif mudah dikerjakan secara matematis, di mana kita
bisa menambah dimensi sebanyak yang kita sukai. Tapi apakah dimensi ruang
keempat yang Kaluza ajukan ini riil? Kita tentu tak tahu apakah itu ada di luar
sana. Tapi saat memasukkan dimensi tambahan ini, Kaluza menemukan bahwa
cahaya, bukannya merupakan medan elektromagnet bolak-balik di ruang 3D,
nyatanya adalah vibrasi dimensi kelima ini. Begitulah ceritanya. Tapi jangan
cemas, saya juga tidak betul-betul mengerti apa artinya ini. Yang bisa kita
katakan hanyalah bahwa itu mencoba menjelaskan asal-muasal cahaya pada
level geometris dan lebih fundamental sebagaimana Einstein menggambarkan
gravitasi sebagai kelengkungan ruangwaktu 4D. Tak hanya itu, dimensi
kelima ini tidak membentang dalam garis lurus seperti tiga dimensi ruang
lainnya melainkan ‘menggulung’ ke dirinya sendiri. Cara sederhana untuk
memvisualisasikan ini adalah dengan memikirkan dunia2D. Bayangkan ruang
flat 2D menggulung hingga menghasilkan silinder. Salah satu dimensinya—
dimensi yang menunjuk ke sepanjang panjangnya—tetap tak berubah,
sedangkan dimensi lainnya telah menggelung/mengikal menjadi lingkaran.
Persoalannya tentu saja adalah bahwa, terlepas dari keeleganan
matematika teori Kaluza, tak ada sepotong bukti eksperimen apapun yang
mengindikasikan bahwa dimensi kelima ini betul-betul eksis. Bahkan Einstein,
meski terkesan dengan cara Kaluza menyatukan cahaya dan gravitasi, tak mau
mempercayai kenyataan dimensi kelima. Bagaimanapun juga, dia sudah agak
enggan untuk bahkan menerima ide ruangwaktu empat-dimensi. Setidaknya
keempat dimensi (satu dimensi waktu dan tiga dimensi ruang) itu riil. Alasan
utama skeptisisme Einstein dan yang lainnya adalah karena kita tak pernah
melihat dimensi tambahan ini. Pertanyaan ini terjawab pada 1926 ketika Oskar
Klein mengemukakan bahwa penyebab itu tidak bisa dideteksi adalah lantaran
menggulung menjadi lingkaran begitu kecil yang bahkan miliaran kali lebih
kecil daripada atom. Bayangkan lagi salah satu dimensi dunia2D menggulung
membentuk permukaan silinder. Klein mengatakan bahwa silinder tersebut
akan begitu tipis sehingga terlihat seperti garis. Dengan kata lain, dunia2D
akan tampak satu-dimensi dan kita akan berkata bahwa dimensi keduanya
tersembunyi. Rasanya saya tidak dapat memberi Anda contoh dimensi yang
243
lebih tinggi daripada ini sebab, sebagaimana kita simak di Bab 1, kita
memerlukan dimensi ketiga untuk melengkungkan salah satu dimensi dunia2D
ke dalamnya. Anda kira telah meninggalkan semua hal memusingkan tentang
dimensi itu.
Itu belum seberapa! Baca terus.
Setelah berdekade-dekade di hutan belantara, teori Kaluza-Klein muncul
kembali pada akhir 1970-an. Saat itu teori terpadu yang dicari-cari para
fisikawan teoritis ambisius harus bernyanyi dan menari. Menyatukan gravitasi
dan cahaya tidaklah cukup. Pada waktu itu, sudah ditetapkan tanpa ragu bahwa
semua fenomena di alam bisa, pada level paling fundamental, digambarkan
oleh empat gaya. Gaya gravitasi adalah satu gaya dan gaya elektromagnetik
adalah gaya lainnya. Gaya elektromagnetik adalah gaya tarik di antara muatan-
muatan listrik yang menjaga kesatuan semua atom dengan mempertahankan
elektron bermuatan negatif dalam cengkeraman nukleus atom yang
bermuatan positif. Ia juga merupakan gaya tarik yang dikerahkan oleh magnet
terhadap magnet lain dan terhadap logam tertentu. Saya mesti menguraikan
bahwa, meski gaya listrik dan magnet tampak terpisah, ini sebetulnya cuma
luarnya saja. Micheal Faraday telah menunjukkan di abad 19 bahwa mereka
terhubung erat dan asal-muasal mereka adalah dari gaya elektromagnetik
yang sama. Hampir semua fenomena yang kita saksikan di sekeliling kita
adalah berkat salah satu dari dua gaya ini: gravitasi dan elektromagnetisme.
Kita sekarang tahu bahwa ada, selain dua gaya ini, dua gaya lain yang hanya
beraksi dalam perbatasan kecil nukleus atom, tapi sama pentingnya dengan
dua gaya pertama sepanjang menyangkut hukum fundamental alam.
Jadi teori tertinggi yang sedang dicari pada akhir 1970-an adalah teori
yang tak hanya menyatukan gravitasi dengan elektromagnetisme, seperti
yang dilakukan Kaluza-Klein, melainkan juga yang mencakup dua gaya nuklir.
Teori semacam itu disebut ‘theory of everything’, sebab akan menunjukkan
bagaimana keempat gaya alam merupakan satu ‘supergaya’ saja. Alasan
mengapa teori Kaluza-Klein kembali populer adalah lantaran cara cerdiknya
yang mampu menyatukan gaya-gaya padahal dimensi-dimensi ruang lebih
tinggi dimasukkan ke dalam persamaannya. Tentu saja dengan empat gaya,
bukan cuma dua, yang harus dihadapi, dibutuhkan lebih dari satu dimensi
tambahan. Akhirnya, pada pertengahan 1980-an, sebuah kandidat teori
ditemukan. Ia dijuluki sebagai teori superstring dan segera berkembang
menjadi teori paling maju, elegan, rumit, kuat, dan samar yang pernah
244
ditemukan. Bagaimanapun juga, ia adalah teori sepuluh dimensi. Jika benar,
ia menyatakan bahwa kita hidup di alam semesta sepuluh-dimensi. Tapi
sekarang enam dimensi ruang tambahannya menggulung menjadi bola kecil
dimensi tinggi yang tak pernah bisa kita deteksi, menyisakan empat dimensi
ruangwaktu saja. Teori superstring dinamai demikian sebab ia menyatakan
bahwa segala sesuatu pada akhirnya terbuat dari string-string kecil yang
bervibrasi di sepuluh dimensi. Ini mungkin terdengar gila tapi ia betul-betul
mencapai penyatuan relativitas umum dengan mekanika quantum yang,
bagaimanapun juga, merupakan gelas suci fisika.
Jadi jika teori superstring merupakan teori final gravitasi quantum yang
dicari-cari fisikawan, apakah perburuan selesai? Dan, yang lebih penting untuk
Anda pembaca terhormat, apa persamaannya mengandung jawaban terhadap
pertanyaan apakah perjalanan waktu diperkenankan atau tidak? Rasanya
masih terlalu dini untuk bicara. Banyak fisikawan menggambarkan superstring
sebagai teori abad 21 yang ditemukan terlalu dini: sebelum kita sempat
mengembangkan perangkat matematis canggih yang diperlukan. Sepertinya
ia terlalu sulit bagi siapapun untuk dipahami sepenuhnya. Matematikanya
di luar jangkauan kemampuan terkini sebagian besar, jika tidak semua,
matematikawan. Tak hanya itu, pada awal 1900-an ada lima versi teori
superstring berlainan dan tak ada seorangpun tahu mana versi yang benar,
atau apakah sungguh-sungguh ada versi tunggal.
Lalu pada 1995, seorang ilmuwan yang dijuluki sebagai ‘orang tercerdas
di Bumi’ menemukan jawaban, mungkin MEMANG jawaban. Namanya adalah
Edward Witten dan dia bekerja di Institute for Advanced Study di Princeton,
New Jersey (tempat Einstein menghabiskan tahun-tahun terakhirnya).
Bersama dengan seorang kolega, Paul Townsend dari Universitas Cambridge,
Witten percaya dirinya telah menemukan penyebab ada begitu banyak versi
teori superstring. Harga yang harus dibayar relatif murah di bawah keadaan
itu. Witten meminta cukup satu tambahan dimensi! Dengan sebelas dimensi,
bukannya sepuluh dimensi, banyak persoalan teori superstring lenyap.
Kini string-string kecil digantikan dengan helaian yang dikenal sebagai
membran dan teori baru Witten dan Townsend itu disebut teori membran,
atau singkatnya teori-M. Namun, ‘M’ sering dianggap sebagai singkatan dari
‘Magic’, ‘Mystery’, atau bahkan ‘Mother’, sebab ini betul-betul akan menjadi
induk semua teori.
245
Tapi bisakah kita terus berjalan? Bagaimana seandainya versi-versi
lain teori-M ditemukan? Mungkin penambahan dimensi kedua belas akan
mengobati keadaan. Nyatanya, mengapa tidak memasukkan beberapa dimensi
lagi saja untuk menjaga segala kemungkinan agar aman! Ternyata ini tidak
mungkin. Ada sesuatu yang secara matematis sangat istimewa pada sepuluh
dimensi teori superstring dan sebelas dimensi teori-M.
Fisikawan sudah membuat kemajuan dalam memahami makna
teori-M, walaupun saya mengira perlu beberapa dekade sebelum semua
magic dan mystery-nya terbongkar. Salah satu pertanyaan utama yang harus
dijawab tentu saja adalah mengapa dan bagaimana semua dimensi tambahan
itu menggulung dan terperas hingga menyisakan empat dimensi saja.
Pemikiran mutakhir mengatakan bahwa ini terjadi pada momen Big Bang.
Ini mengimplikasikan bahwa ada sesuatu sebelum Big Bang. Mungkin tiga
dimensi ruang dan satu dimensi waktu kita adalah bagian dari alam semesta
sepuluh atau sebelas-dimensi yang jauh lebih besar di mana semua gaya
alam terpadu menjadi satu. Big Bang lalu menyebabkan sepuluh atau sebelas
dimensi ruang tergumal hingga ukuran yang takkan pernah mampu kita akses.

Akhir fisika teoritis


Anda mungkin berpikir berdasarkan pembahasan di bagian sebelumnya
bahwa akhir fisika teoritis sudah tampak. Mungkin teori-M akan menjawab
semua pertanyaan kita, termasuk pertanyaan yang sampai sekarang dianggap
berada di luar alam sains. Mungkin kita orang tak penting semestinya duduk
di tempat saja selagi Witten dan kolega-koleganya memilah detil-detil teori-M
beberapa tahun ke depan. Lalu semua fisika fundamental akan ketahuan. Saya
di antara orang-orang yang tidak menganut pandangan tersebut. Ini sebagian
disebabkan oleh fakta bahwa saya bukan pakar teori superstring atau teori-M,
dan karenanya tidak bisa memiliki perasaan bergairah yang pasti dirasakan
praktisi bidang-bidang ini. Tapi ada alasan lain yang lebih bisa dibenarkan
atas skeptisisme saya. Sementara banyak fisikawan percaya tegas bahwa kita
sudah memiliki teori gravitasi quantum dalam bentuk superstring atau teori-M
multidimensi, ada orang lain yang tidak begitu yakin. Mereka menyamakan
dengan kondisi fisika di akhir abad lalu ketika dianggap bahwa akhir fisika
sudah tampak dan bahwa semua hukum alam sudah terbongkar dan dipahami.
Saat itu muncullah penemuan sinar X dan keradioaktifan, Max Planck
menyatakan bahwa energi tersusun dari paket-paket tersendiri, atau quantum,
246
dan Einstein menggulingkan pandangan ruang dan waktu Newtonian.
Seratus tahun lalu tak ada ilmuwan dengan impian tergila sekalipun yang
bisa menyangka apa yang akan terjadi seperempat abad berikutnya.
Lantas mengapa kita mesti begitu yakin hari ini? Nyatanya, sejarawan sains
menguraikan bahwa saat itu para ilmuwan barangkali lebih dibenarkan dalam
berpikir bahwa akhir fisika sudah tampak ketimbang kita hari ini. Beberapa
fisikawan terkemuka dunia, semisal Roger Penrose dan David Deutsch, tegas
percaya bahwa sebelum mekanika quantum dan relativitas dapat disatukan
menjadi teori gravitasi quantum, salah satu atau bahkan kedua teori ini
mungkin memerlukan pembedahan besar.
Beberapa ide dalam fisika bertahan terhadap ujian waktu dan
berkembang perlahan seraya bukti eksperimen yang mendukungnya
berakumulasi sedikit demi sedikit. Berangsur-angsur kita semakin
memahaminya dan tumbuh yakin bahwa mereka adalah deskripsi yang benar
tentang Alam Semesta fisik. Ide-ide lain mendadak tampil ke pentas gara-gara
momen hebat tertentu atau hasil eksperimen mengejutkan. Tapi banyak teori
dibuang ke tumpukan sampah ketika gagal melewati ujian penyelidikan yang
lebih cermat.
Beberapa teori sukses telah menimbulkan revolusi dalam cara kita
memandang dunia—dikenal sebagai pergeseran paradigma dalam pandangan
kita. Ini terjadi pada teori relativitas Einstein saat dia menyatakan bahwa
ada kebutuhan akan eter yang melaluinya gelombang cahaya menjalar.
Ini segera membawa pada kesimpulan bahwa sorot cahaya berjalan pada
kecepatan yang sama, baik kita bergerak mendekati sumber cahaya ataupun
menjauhinya. Pada gilirannya, ini menghasilkan fakta tak terelakkan bahwa
waktu berjalan lebih lambat bagi pengamat berbeda.
Tapi tentu mekanika quantum tak mungkin salah, kan? Kemampuan
prediksinya tidak diragukan, ia sudah ada selama 75 tahun dan kini menopang
sebagian besar sains modern. Tentu saja, siapapun yang mempelajari sesuatu
tentang mekanika quantum akan mengakui betapa anehnya ia menunjukkan
dunia mikroskopis, tapi argumen standar berbunyi seperti ini: formalisme
matematikanya benar, makna persamaannyalah yang tidak dipahami secara
benar, dan itu adalah urusan filsafat bukan fisika. Mayoritas fisikawan hari ini
percaya bahwa meski ada sekumpulan interpretasi mekanika quantum yang
berlainan di pasaran, yang semuanya sama-sama valid, kerangka matematis
dasarnya benar dan interpretasi mana yang dianut hanyalah soal selera pribadi.
247
Entah Anda percaya interpretasi Kopenhagen di mana tak ada yang eksis
sampai diamati, ataupun interpretasi many-worlds di mana Alam Semesta
membelah menjadi salinan berjumlah tak terhingga, ataupun interpretasi
Bohmian di mana sinyal berjalan lebih cepat daripada cahaya, atau bahkan,
yang lebih baru, interpretasi transaksional di mana sinyal berjalan terbalik
dalam waktu, itu tak masalah. Belum ditemukan eksperimen yang bisa
membedakan pandangan-pandangan yang bersaing ini. Satu-satunya hal
yang kita yakini adalah bahwa mekanika quantum tidak memiliki penjelasan
sederhana yang masuk akal.
Menurut pendapat saya, perkataan bahwa makna persamaan
matematika yang menggambarkan realitas pada level paling fundamentalnya
tidak penting, dan bahwa yang kita mesti perhatikan adalah bilangan yang
kita peroleh dengan memecahkan persamaan-persamaan ini, merupakan
pengelakan pengecut. Pada sepuluh tahun belakangan atau lebih saya, dan
semakin banyak fisikawan, menjadi yakin bahwa tidak semua interpretasi
mekanika quantum benar. Alam berperilaku dengan cara tertentu dan
fakta bahwa kita masih harus memikirkan apa yang sebetulnya terjadi
adalah sesuatu yang harus ditangani dengan benar. Contoh, apakah Alam
Semesta membelah menjadi banyak salinan atau tidak. Sial kita jika tidak
bisa mencaritahu apakah ini terjadi atau tidak, tapi kita tak boleh berhenti
berusaha. Kita mungkin tak pernah berhasil menemukan apa yang sebetulnya
sedang berlangsung, tapi sesuatu pasti sedang berlangsung. Saya percaya
suatu hari nanti kita akan tahu.
Saat menjadi mahasiswa riset, pahlawan saya adalah almarhum John
Bell, seorang fisikawan teoritis Irlandia dan salah seorang pakar mekanika
quantum terkemuka abad 20. Dia juga, bagi saya bagaimanapun juga, adalah
suara akal saat tiba pada pembahasan interpretasi mekanika quantum. Selama
tahun 1920-an, dua raksasa fisika, Neils Bohr dan Einstein, berdebat lama
tentang makna teori tersebut yang kala itu masih baru. Einstein berargumen
bahwa mekanika quantum tidak bisa menjadi perkataan terakhir dan bahwa
pasti ada sesuatu yang luput, sedangkan Bohr mengklaim bahwa mekanika
quantum memberitahu kita semua hal yang dapat kita ketahui tentang alam.
Bohr yakin bahwa teori-teori fisika tidak menggambarkan realitas secara
langsung melainkan hanya yang dapat kita ketahui tentang realitas. Versi
mekanika quantum miliknya jadi dikenal sebagai pandangan Kopenhagen
sebab di sanalah institutnya bermarkas. Einstein, di sisi lain, merasa bahwa
248
sebuah teori bagus harus bersifat ontologis, dalam arti bahwa itu
menggambarkan bagaimana realitas sebetulnya. Mekanika quantum
semestinya tak berbeda. Umumnya dinyatakan bahwa Bohr memenangkan
perdebatan itu dan sejak saat itu bergenerasi-generasi fisikawan mengikuti
pandangan Kopenhagen.
Saya adalah pengunjung rutin Neils Bohr Institute di Kopenhagen di
mana banyak riset masih berlangsung hari ini. Dari luar, tempat itu terlihat
seperti sekumpulan bangunan kecil agak aneh yang dikerdilkan oleh rumah
sakit besar di dekatnya. Namun di dalam, mudah sekali pengunjung tersesat di
banyak terowongan dan lorong bawah tanah yang menghubungkan bangunan-
bangunan. Bagaimanapun, inspirasi sejati saya timbul dari berjalan-jalan di
taman belakang Institut tersebut di mana Bohr dan raksasa fisika awal abad
20 lainnya menghabiskan begitu banyak waktu untuk mencoba memikirkan
implikasi aneh mekanika quantum baru itu.
John Bell adalah generasi terkemudian. Saya mendengar kuliahnya
dalam sejumlah kesempatan di mana dia selalu berkata dirinya merasa bahwa
orang-orang yang menganut pandangan Kopenhagen adalah seperti burung
unta dengan kepala di pasir, tak berani mempertanyakan makna mekanika
quantum yang lebih dalam, melainkan puas mengikuti secara buta aturan-
aturannya yang bekerja begitu baik. Ini mencemaskan Bell sebab dia merasa
fisika semestinya merupakan usaha memahami makna lebih dalam mengenai
apa yang berlangsung di alam.
Namun, Bell sama sekali bukan golongan pinggiran. Dia merupakan
salah satu figur paling dihormati dalam dunia fisika sejak awal 1960-an
dan telah membuat beberapa penemuan terpenting dalam fisika modern.
Saya berjumpa dengannya untuk terakhir kalinya dalam sebuah pertemuan
American Physical Society di Baltimore pada 1989, setahun sebelum
kematiannya. Saya pernah menghadiri sebuah pertemuan pinggiran mengenai
fondasi mekanika quantum di mana pembicaranya mengajukan suatu
interpretasi baru, dan jelas-jelas meragukan. Saya lihat John Bell juga ada di
antara hadirin. Selanjutnya pagi itu, saya berdua bersama Bell dalam lift untuk
menuju kafetaria di lantai teratas pusat konferensi tersebut. Dalam rangka
memulai perbincangan dengan sosok besar itu, saya bertanya apa menurutnya
tentang pembicaraan terakhir.
“Oh, dia jelas keliru,” senyumnya, “dia jelas tak mengetahui persoalan
helium.”
249
“Jelas tidak,” saya tertawa tak sabar, penasaran apa sebetulnya
persoalan helium itu, tapi berusaha keras memastikan dia menyadari bahwa
saya sependapat penuh dengannya.
Saya ingat pernah bertanya kepada Bell setelah dia memberikan
kuliah di Queen Mary College London. Dia baru berargumen bahwa dirinya
penggemar interpretasi mekanika quantum David Bohm yang menggambarkan
keseluruhan Alam Semesta saling terhubung pada level quantum sehingga
sesuatu yang terjadi pada sebuah atom di Bumi ini mungkin seketika itu
juga mempengaruhi atom lain di galaksi berbeda. Tipe keterhubungan di
antara semua partikel di Alam Semesta ini dikenal sebagai non-lokalitas,
atau “tindakan di kejauhan”, dan mensyaratkan suatu jenis sinyal yang pasti
berjalan lebih cepat daripada cahaya. Tapi tentu saja, tanya saya kepada Bell,
ini melanggar teori relativitas khusus Einstein. Dia menyahut bahwa dirinya
lebih bersedia membuang relarivitas khusus daripada realitas itu sendiri, harga
yang betul-betul harus dibayar jika mempercayai pandangan Kopenhagen.
Anda paham, menurut Bohr tak ada yang eksis di dunia quantum sampai kita
mengukurnya dan mengamatinya, dan karena bagaimanapun juga segala
sesuatu akhirnya tersusun dari objek quantum, maka tak ada (bahkan halaman
berikut buku ini) yang eksis sampai kita menatapnya. Bell bersikeras bahwa
jika tidak demikian, di mana kita akan menarik garis antara dunia mikroskopis
yang mematuhi aturan quantum dan dunia makroskopis kehidupan keseharian?

Astronomi versus astrologi


Cara banyak fisikawan dan filsuf terpecah soal makna mekanika quantum hari
ini lebih seperti perbedaan keyakinan keagamaan. Beberapa mempertahankan
pandangan mereka secara bernafsu dan berargumen bahwa siapapun yang
memegang pandangan lain adalah bodoh dan salah. Yang lainnya bersikap
agnostik dalam arti bahwa mereka tidak bisa memutuskan versi mekanika
quantum mana yang harus ‘diimani’. Karena interpretasi pilihan seseorang
tidak bisa dibuktikan, demikian pula pandangan lawan tak bisa disangkal, ini
menjadi masalah keyakinan. Ini bukan cara sains semestinya bekerja, tidak
pula secara umum. Kutipan berikut adalah dari fisikawan Michio Kaku dalam
bukunya, Hyperspace:
“Beberapa orang menuduh ilmuwan menciptakan teologi baru
berlandaskan matematika; dengan kata lain, kita telah menolak
mitologi agama, hanya demi memeluk agama yang lebih aneh
250
lagi berlandaskan ruangwaktu melengkung, kesimetrian partikel,
dan perluasan kosmik. Sedangkan pendeta menyanyikan mantera
dalam bahasa Latin yang hampir tidak dipahami siapapun,
fisikawan menyanyikan persamaan rahasia yang dipahami oleh
lebih sedikit lagi orang. ‘Iman’ pada Tuhan maha kuasa kini
digantikan dengan ‘iman’ pada mekanika quantum dan relativitas
umum.”
Lantas bagaimana non-ilmuwan bisa yakin akan apapun yang dikatakan
ilmuwan kepadanya?
Jangan pernah berpikir bahwa fisika adalah tentang keterbukaan
terhadap keraguan dan ketidakpastian atau bahwa deskripsi kita tentang
realitas hanyalah soal selera pribadi. Hari ini Kamis, karenanya saya meyakini
adanya alam semesta paralel, besok saya akan mengenakan kaos kaki biru
keberuntungan saya dan dengan demikian saya akan teguh menganut
gagasan bahwa string kosmik eksis dan seterusnya. Sains adalah tentang
penemuan aturan-aturan yang alam turuti, penemuan sebuah teori lalu
mengujinya lagi dan lagi untuk melihat apakah itu merupakan deskripsi realitas
yang tepat. Jika gagal, dibuang. Banyak non-ilmuwan sering menganggap
kami terlalu berpikiran sempit dan berkeras memegang ide dan kemungkinan
baru, terutama saat sampai pada hal-hal semacam fenomena paranormal.
Namun, saat diberitahu bahwa kristal tertentu mempunyai kekuatan magis
menyembuhkan atau bahwa itu bisa merespon suatu jenis energi psikis,
seorang ilmuwan akan ingin tahu bentuk energi apa ini, dan apakah kekuatan
yang diduga dimiliknya bisa dijelaskan oleh hukum alam yang dikenal. Bisakah
itu direplikasi? Bisakah itu diukur? Jika itu energi atau gaya baru, bisakah
atributnya dipahami? Fakta jelas dan sederhananya adalah bahwa, sejauh ini,
dan percayalah pada saya bahwa banyak orang telah mencari-cari selama lebih
dari seratus tahun, belum ada bukti ilmiah apapun tentang fenomena psikis
manapun. Ini bukan karena ingin mencoba atau akibat kurangnya imajinasi
atau cukupnya keterbukaan berpikir pada sebagian ilmuwan melainkan lebih
karena semua klaim semacam itu cepat lenyap di hadapan tuntutan keras
penyelidikan ilmiah.
Ingat bahwa ilmuwan harus berpikiran terbuka atau mereka takkan
pernah menemukan sesuatu yang baru, tapi mereka sangat meyakinkan saat
dihadapkan dengan fenomena baru atau belum terjelaskan. Seorang rekan
fisikawan saya, James Christley, pernah mengutipkan saya ucapan:
251
“Berpikirlah terbuka tapi jangan terlalu banyak sebab otakmu bisa
rontok.”
Ini nasehat sehat. Kita telah melewati jalan panjang sejak zaman
takhayul dan sihir. Ratusan tahun lalu, astrologi mempunyai cengkeraman
kuat atas masyarakat. Hari ini kebanyakan orang tahu bahwa tak masuk akal
mempercayai bahwa sebuah bintang jauh, yang cahaya darinya mungkin telah
berjalan selama ribuan tahun sebelum menjangkau kita, bisa mempunyai
efek nyata terhadap cara kehidupan sehari-hari kita dimainkan. Tapi di abad
16, astronom pun meyakini astrologi. Contoh lain adalah asal-usul kata ‘flu’
yang merupakan singkatan untuk kata Italia ‘influenza’ yang berarti ‘influence’
(pengaruh) planet-planet, sebab dipercaya bahwa mereka mempengaruhi
kesehatan kita. Apa Anda percaya itu sekarang atau apa Anda menerima
bahwa ada virus flu?
Sains membuat kemajuan sepanjang waktu, dan kemajuan itu menuju
kebenaran dan pencerahan. Jalurnya tidak selalu lurus dan terkadang kita
menaiki jalan buntu, tapi secara keseluruhan kita telah memperoleh kemajuan
yang cukup mengesankan. Karena saya bermaksud eksis selama paruh
pertama abad 21, saya berharap selama periode itu kita menemukan bahwa
Alam Semesta masih mempunyai banyak kejutan untuk kita.

Pesona sains
Ketika beberapa kolega saya pertama kali tahu bahwa saya sedang menulis
sebuah buku tentang wormhole dan mesin waktu—ingat, black hole sangat
terhormat—mereka mencemooh proyek tersebut, mengklaim bahwa itu bukan
fisika riil, bahwa saya sedang menjual demi popularisasi vulgar. Ini adalah
barang jenis X-Files dan tak punya tempat dalam sains serius.
Benar, untuk menyampaikan kegairahan fisika abad 20 kita tak perlu
bergulat dengan pertanyaan mendalam seperti bagaimana dan mengapa Alam
Semesta menjadi eksis. Jika kita mau memandang sekitar kita, kita lihat bahwa
seluruh dunia dipenuhi dengan keajaiban. Mengapa saya tidak menuliskan
tentang itu? Mengapa menanyakan tentang apa yang mungkin, atau mungkin
tidak, berlangsung di tengah-tengah sebuah black hole padahal saya bisa
menanyakan pertanyaan sederhana seperti ‘Mengapa langit berwarna biru?’
‘Mengapa tidak hijau atau kuning?’. Sayangnya, yang menyedihkan saya
bukanlah bahwa sebagian besar orang tidak tahu jawaban pertanyaan ini, tapi
lebih bahwa mereka barangkali tidak mau tahu. Bagaimanapun juga, buku ini
252
adalah tentang berbagi keterpesonaan seumur hidup saya terhadap konsep
waktu.
Ilmuwan adalah orang aneh. Bukan, saya bukan bermaksud bahwa kami
adalah orang canggung secara sosial yang eksentrik, tapi lebih bahwa kami
tetap kekanak-kanakan dalam hasrat tak berujung kami untuk mengetahui
‘mengapa’. Saya merasa fantastis bahwa atom yang menyusun tubuh saya
dihasilkan di dalam suatu bintang jauh miliaran tahun lampau; sebuah bintang
yang meledak sebagai supernova, menghujani kosmos dengan abunya.
Sebagian abu ini lalu perlahan berkondensasi dan memanas lagi untuk
membentung bintang baru, Matahari kita, beserta planet-planetnya. Jika Anda
tidak terpesona juga oleh ini maka kita berbeda. Tapi, hey, kita tidak semuanya
bisa dirangsang oleh sains; ada terlalu banyak hal lain berlangsung, dan hidup
itu singkat.
Saya menduga pertanyaan tentang makna waktu, apakah ia mengalir,
apakah masa lalu dan masa depan berkoeksis dengan masa kini, dan apakah
suatu hari nanti kita akan bisa mendatangi keduanya, adalah pertanyaan
yang lebih penting daripada keingintahuan ilmiah. Sedikit-banyak, itu telah
membuat buku ini mudah ditulis sebab saya belum bekerja keras meyakinkan
Anda bahwa materi subjek tersebut menarik.
Bicara soal waktu, barangkali sekarang waktunya saya mengakhiri
buku ini dan menghabiskan waktu berkualitas yang sudah lama dinantikan
bersama keluarga saya. Tapi sudahkah saya mencapai apa yang saya maksud?
Jadi perjalanan waktu ke masa lalu barangkali tak pernah memungkinkan,
wormhole barangkali tak eksis di Alam Semesta kita, dan barangkali tak ada
apa-apa di ‘sisi lain’ sebuah black hole. Tapi saya ingin menjelaskan kepada
non-ilmuwan beberapa konsep paling mendalam tentang ruang dan waktu,
dan jika itu bisa dibuat lebih enak dan menarik dengan berspekulasi tentang
kemungkinan membangun mesin waktu, mengapa tidak?
Saya harap buku ini menghibur dan juga informatif. Saya tak pernah
bermaksud menuliskan mata kuliah pengantar teori relativitas, tapi yang sudah
saya sodorkan kepada Anda, saya harap, adalah pandangan sekilas tentang
fisika modern dan merupakan kesempatan berbagi dengan saya kegairahan
merenungkan beberapa pertanyaan mendalam tentang eksistensi. Saya harap
Anda menikmatinya.

SELESAI
253

BIBLIOGRAFI

(References marked with a * symbol denote a non-technical book or article


that would serve as further reading material.)
* Abbot E 1984 Flatland: A Romance of Many Dimensions (New York: New
American Library)
* Allen B and Simon J 1992 Time travel on a string Nature 357 19–21
* Asimov I 1972 Biographical Encyclopaedia of Science and Technology
(London: Pan)
* Barrow J D and Silk J 1983 The Left Hand of Creation (London: Unwin)
Branch D 1998 Density and destiny Nature 391 23–24
Bucher M A, Goldhaber A S and Turok N 1995 Open universe from inflation
Physical Review D 52 3314–3337. Preprint available at xxx.lanl.gov/abs/
hep-ph/9411206 on the World Wide Web
* Bucher M A and Spergel D N 1999 Inflation in a low density universe
Scientific American January, 43–49
Capek M (ed) 1976 The Concepts of Space and Time (Boston Studies in the
Philosophy of Science) vol XXII (Dordrecht: Reidel)
Clark S 1997 Redshift (Hatfield: University of Hertfordshire Press)
Coles P 1998 The end of the old model universe Nature 393 741–744
* Couper H and Henbest N 1998 To the Ends of the Universe (London: Dorling
Kindersley)
Curry C 1992 The naturalness of the cosmological constant in the general
theory of relativity Studies in the History and Philosophy of Science 23
657–660
Davies P 1974 The Physics of Time-Asymmetry (Surrey University Press–
University of California Press)
Davies P 1983 Inflation and time asymmetry in the Universe Nature 301
398–400
Davies P (ed) 1989 The New Physics (Cambridge: Cambridge University
Press)
Davies P 1995 About Time (London: Penguin)
254
* Deutsch D 1997 The Fabric of Reality (London: Penguin)
* Deutsch D and Lockwood M 1994 The quantum physics of time travel
Scientific American March, 50–56
* Dewdney A K 1984 The Planiverse (London: Picador)
De Witt B S and Graham N (ed) 1973 The Many-Worlds Interpretation of
Quantum Mechanics (Princeton, NJ: Princeton University Press)
Droz S, Israel W and Morsink S M 1996 Black holes: the inside story Physics
World January, 34–37
Flanagan ´E ´E and Wald R M 1996 Does back reaction enforce the averaged
null energy condition in semiclassical gravity? Physical Review D 54
6233–6283
Ford L H and Roman T H 1996 Quantum field theory constrains traversable
wormhole geometries Physical Review D 53 5496–5507
Gold T 1962 The arrow of time American Journal of Physics 30 403–410
Gott J R 1991 Closed timelike curves produced by pairs of moving cosmic
strings: exact solutions Physical Review Letters 66 1126–1129
Guth A H and Steinhardt P 1984 The inflationary universe Scientific
American May, 116–120
* Gribbin J 1986 In Search of the Big Bang (London: Heinemann)
* Gribbin J 1992 In Search of the Edge of Time (London: Penguin; NewYork:
Harmony)
* Gribbin J 1995 Schr¨odinger’s Kittens (London: Weidenfeld and Nicolson)
* Gribbin J 1996 Companion to the Cosmos (London: Pheonix Giant)
* Halliwell J J 1991 Quantum cosmology and the creation of the universe
Scientific American December, 28–35
Halliwell J J, P´erez-Mercader J and ZurekWH(ed) 1994 Physical Origins of
Time Asymmetry (Cambridge: Cambridge University Press)
Hartle J B and Hawking S W 1983 The wave function of the universe
Physical Review D 28 2960–2975
Hawking S W 1985 Arrow of time in cosmology Physical Review D 32 2489–
2495
* Hawking S W 1988 A Brief History of Time (New York: Bantam)
Hawking S W 1992 Chronology protection conjecture Physical Review D 46
603–611
* Hawking S W 1993 Black Holes and Baby Universes (New York: Bantam)
255
Hawking S W and Ellis G F R 1973 The Large Scale Structure of Space-Time
(Cambridge: Cambridge University Press)
* Hay A and Walters P 1997 Einstein’s Mirror (Cambridge: Cambridge
University Press)
Hod S and Piran T 1998 Mass inflation in dynamical gravitational collapse of
a charged scalar field Physical Review Letters 81 1554–1557
* Hogan C J, Kirshner R P and Suntzeff N B 1999 Surveying space-time with
supernovae Scientific American January, 28–33
* Kaku M 1995 Hyperspace (Oxford: Oxford University Press)
* Kaku M 1997 Into the eleventh dimension New Scientist 18 January, 32–36
* Kaku M and Thompson J 1995 Beyond Einstein (London: Penguin)
* Kaufmann W J 1994 Universe (New York: Freeman)
* Krauss L M 1989 The Fifth Essence: The Search for Dark Matter in the
Universe (New York: Basic)
* Krauss L M 1999 Cosmological antigravity Scientific American January, 35–41
Lachi`eze-Rey M and Luminet J-P 1995 Cosmic topology Physics Reports
254 135–214. Preprint available at xxx.lanl.gov/abs/gr-qc/9605010 on
the World Wide Web
* Luminet J-P, Starkman G D and Weeks J R 1999 Is space finite? Scientific
American April, 68–75
Marder L 1971 Time and the Space-Traveller (London: George Allen and
Unwin)
Morris M S and Thorne K S 1987 Wormholes in spacetime and their use for
interstellar travel: a tool for teaching general relativity American Journal
of Physics 56 395–412
Morris M S, Thorne K S and Yurtsever U 1988 Wormholes, time machines,
and the weak energy condition Physical Review Letters 61 1446–1449
* Nahin P J 1993 Time Machines (NewYork: American Institute of Physics)
* Novikov I 1990 Black Holes and the Universe (Cambridge: Cambridge
University Press)
Page D N 1983 Inflation does not explain time assymetry Nature 304 39–41
Pais A 1982 Subtle is the Lord: The Science and the Life of Albert Einstein
(Oxford: Oxford University Press)
Peebles P J E 1993 Principles of Physical Cosmology (Princeton, NJ: Princeton
University Press)
Peebles P J E 1999 Evolution of the cosmological constant Nature 398 25–26
256
* Penrose R 1989 The Emperor’s New Mind (Oxford: Oxford University Press)
Price H 1989 A point on the arrow of time Nature 340 181–182
Ray C 1991 Time, Space and Philosophy (London: Routledge)
* Rees M 1997 Before the Beginning: Our Universe and Others (New York:
Simon and Schuster; London: Touchstone)
Resnick R 1972 Basic Concepts in Relativity and Early Quantum Theory
(New York: Wiley)
Riess A G et al 1998 Observational evidence from supernovae for an
accelerating universe and a cosmological constant Astronomical Journal
116 1009–1038. Preprint available at xxx.lanl.gov/abs/astroph/9805201
on the World Wide Web
Rindler W 1996 Introduction to Special Relativity (Oxford: Oxford University
Press)
* Sagan C 1985 Contact (New York: Simon and Schuster)
Savitt S (ed) 1994 Time’s Arrow Today (Cambridge: Cambridge University
Press)
Simon J Z 1994 The physics of time travel Physics World December, 27–33
Smith J H 1965 Introduction to Special Relativity (New York: Benjamin)
* Smoot G and Davidson K 1994 Wrinkles in Time (New York: Morrow)
Taylor E F and Wheeler J A1992 Spacetime Physics (New York: Freeman)
* Thorne K S 1994 Black Holes and Time Warps (NewYork: Norton; London:
Picador)
Tipler F 1974 Rotating cylinders and the possibility of global causality
violation Physical Review D 9 2203–2206
Tipler F 1977 Singularities and causality violation Annals of Physics (New
York) 108 1–36
Visser M 1993 From wormhole to time machine: remarks on Hawking’s
chronology protection conjecture Physical Review D 47 554–565
Visser M 1994 van Vleck determinants: traversable wormhole spacetimes
Physical Review D 49 3963–3980
Visser M 1996 Lorentzian Wormholes (New York: American Institute of
Physics)
Visser M 1997 Traversable wormholes: the Roman ring Physical Review D
55 5212–5214
Vollick D N 1997 Maintaining a wormhole with a scalar field Physical
Review D 56 4724–4728
257
Wald R M 1984 General Relativity (Chicago: University of Chicago Press)
Weeks J R 1998 Reconstructing the global topology of the Universe from
the cosmic microwave background Classical and Quantum Gravity 15
2599–2604. Preprint available at xxx.lanl.gov/abs/astro-ph/9802012 on
the World Wide Web
* Weinberg S 1983 The First Three Minutes (London: Flamingo)
* Weinberg S 1989 The cosmological constant problem Reviews of Modern
Physics 61 1–23
* Whitrow G J 1972 The Nature of Time (London: Penguin)
* Whitrow G J 1980 The Natural Philosophy of Time (Oxford: Clarendon)
* Will C 1986 Was Einstein Right? (New York: Basic Books)
Wright A and Wright H 1989 At the Edge of the Universe (Chichester: Ellis
Harwood)
Wu K K S, Lahav O and Rees M J 1999 The large-scale smoothness of the
Universe Nature 397 225–230
* York D 1997 In Search of Lost Time (Bristol: Institute of Physics Publishing)
Zlatev I, Wang L and Steinhardt P J 1999 Quintessence, cosmic coincidence,
and the cosmological constant Physical Review Letters 82 896-899
* Zwart P J 1976 About Time (Amsterdam: North-Holland)
258

INDEKS

MAAF

KAMI TIDAK MEMASUKKAN INDEKS


KARENA ALASAN NON-TEKNIS
(MALAS UNTUK MENGINDEKS)
259
SESA NA

Pengaruh ketajaman mata adalah hak. Bila ada sesuatu yang mendahului
takdir itu adalah oleh ketajaman mata. (HR. Muslim) Apakah kamu lebih sulit
penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, | Dia meninggikan
bangunannya lalu menyempurnakannya, | dan Dia menjadikan malamnya
gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. | Dan bumi sesudah
itu dihamparkan-Nya. (QS. An-Naazi’aat [79]: 27-31) Bukankah Kami telah
melapangkan untukmu dadamu? | dan Kami telah menghilangkan daripadamu
bebanmu, | yang memberatkan punggungmu? | Dan Kami tinggikan bagimu
sebutan (nama)mu, | Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan, | sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. | Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-
sungguh (urusan) yang lain, | dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu
berharap. (QS. Alam Nasyrah [94])
Seandainya Einstein masih hidup mungkin eksperimen gedanken-
nya akan berguna untuk menerangkan bahwa ALLAH Yang Haq dan akan
dapat melihat bagaimana Dia Maha Kuasa. ‘Tidak ingin disalahkan’ dan
membela diri adalah hal yang wajar jika dia hidup dan memiliki sifat. ALLAH
bersikeras bahwa Dia tidak menzalimi seorangpun hamba-hamba-Nya. Dan
itu bukan termasuk eksperimen gedanken yang kami maksudkan. Kami lihat
Einstein termasuk orang yang berpandangan tajam. Tentu ia paham apa itu
membaca, melihat, menulis, mendengar, berkata, kalimat, bacaan, dibacakan,
mengetahui, ujian, jalan, hati, peringatan, petunjuk. yakin, putus asa,
menghendaki, cahaya, kegelapan. Inilah yang kami maksud. ‘Hanya’ dengan
Al-Quran!
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’raaf [7]:
204) Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, | bagi
siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. | Dan kamu tidak
dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah,
Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir [81]: 27-29) Maka apakah orang yang
dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia
meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh
syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya
dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya;... (QS. Fathir [35]: 8)
...Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang
tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar
perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan
(oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan
(yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada
seorangpun yang akan memberi petunjuk. (QS. Ar-Ra’d [13]: 33) Dan mereka
berkata: “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak
menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan
sedikitpun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.
| Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al
Quran, lalu mereka berpegang dengan kitab itu? (QS. Az-Zukhruf [43]: 20-21)
Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga
kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, | atau kamu mempunyai
sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah
kebun yang deras alirannya, | atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas
kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-
malaikat berhadapan muka dengan kami. | Atau kamu mempunyai sebuah
rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan
mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab
yang kami baca.”... (QS. Al-Israa’ [17]: 90-93)
Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka
dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang
kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (QS. Al-An’aam [6]:
7)
Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-
orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka
ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu
adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS. Fushshilat [41]:
44) Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan
kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka?
Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran
bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-’Ankabuut [29]: 51)
Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjalankan gedanken
di atas: Apakah anda beriman atau tidak? Apakah pernah 1x membaca AlQuran
atau tidak? Apakah pernah mendengar peringatan agama (dalam bahasa yang
dipahami) atau tidak? Apakah pernah melihat Allah atau tidak? Pernahkah
membaca yang seperti Al Quran?

Mari kita baca petunjuk yang terang:


Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah:
“Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan
kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada
orang-orang yang sampai Al Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu
mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku
tidak mengakui.” Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa
dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan
Allah).” (QS. Al-An’aam [6]: 19)
...Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui. | Apa
yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku
termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (QS. Yaasiin [36]: 27)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, | Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah. | Bacalah, dan Tuhanmulah
Yang Maha Pemurah, | Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
| Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-’Alaq
[96]: 1-5)

Dalam Al Quran ada tempat yang amat gelap, jika kita salah
menempatkan posisi dan Al Quran bagi kita sendiri, tak ada yang lebih baik
selain diam dan menyesal. Mengapa? Karena amat sulit untuk berkata
meminta ampun. Jika tidak bisa diam, tidur. Atau ucapkanlah perkataan yang
baik. Mengapa? Jika saya berbicara seperti ini: “Jika Allah menghendaki, tentu
dia akan memudahkanku memohon ampun.” Bagaimana jika ada saksi yang
mendengarnya. Tentu kalimat akan berjatuhan menimpa saya.
Karena itu, jika anda menemukan penentang dan pendusta agama,
langsung berikan (katakan/dibacakan/diperdengarkan) ayat-ayat AlQuran
kepadanya, tanpa ditambahi dengan ucapan semisal: “Orang seperti anda
bukan yang pertama kali” atau “saya sudah membaca Al Quran ribuan kali”
dan sebagainya.
* Juni 2012—(Dalam mimpi) suatu kaum (di tanah Myanmar) protes pada
kami, seperti ini (kira-kira), “kaummu telah menggarap dan merebut ladang
kami dengan paksa. Berilah keputusan.“ Padahal mereka (telah banyak)
merebut dan merusak ladang kita.

For Rohingya*
Nowaday WE can only remember
Someday WE will be vanquisher
Insya Allah

ikhlas & adil adalah hal sulit


NUHUN KA

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia.


(QS. Al-Buruuj [85]: 21)

Hai anak Adam, kamu tidak adil terhadap-Ku.


Aku mengasihimu dengan kenikmatan-kenikmatan
tetapi kamu membenciKu dengan berbuat maksiat-maksiat.
Kebajikan kuturunkan kepadamu
dan kejahatan-kejahatanmu naik kepada-Ku.
Selamanya malaikat yang mulia datang melapor tentang kamu
tiap siang dan malam dengan amal-amalmu yang buruk.
Tetapi hai anak Adam, jika kamu mendengar perilakumu dari orang lain
dan kamu tidak tahu siapa yang disifatkan
pasti kamu akan cepat membencinya.
(HR. Arrafii dan Arrabii’)
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku
akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.” | Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan
kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala
sesuatu, | maka diapun menempuh suatu jalan. | Hingga apabila dia telah sampai ke tempat
terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia
mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa
atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.” | Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang
aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu
Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya. | Adapun orang-orang yang beriman
dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan
kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” | Kemudian dia menempuh
jalan (yang lain). | Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur)
dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka
sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, | demikianlah, dan sesungguhnya ilmu
Kami meliputi segala apa yang ada padanya. | Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain
lagi). | Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan
kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. | Mereka berkata: “Hai
Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di
muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu
membuat dinding antara kami dan mereka?” | Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan
oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan
(manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, | berilah aku
potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak)
gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi
(merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan
ke atas besi panas itu.” | Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula)
melubanginya. | Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila
sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah
benar.”

Kadang sabar itu memanas seperti api...


Kadang amarah itu mengalir seperti air...

“Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku,


aku akan bisa menguak sepetak langit.
Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru,
aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya .
Dan segala yang kubaca akan membuat dunia
dan diriku menjadi lebih besar dan luas.”
(Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup)