Anda di halaman 1dari 6

3a.

Delta, sedimentasi, litho dan sequence stratigrafi

 Delta merupakan garis pantai yang menjorok ke laut, terbentuk oleh adanya sedimentasi
sungaiyang memasuki laut, danau atau laguna dan pasokan sedimen lebih besar daripada
kemampuan pendistribusian kembali oleh proses yang ada pada cekungan pengendapan.
Delta Diartikan sebagai suatu endapan yang terbentuk
oleh proses sedimentasi fluvial yang memasuki tubuh air yang tenang. Delta terbentuk karena
adanya suplai material sedimentasi dari sistem fluvial.
Ketika sungai/sungai pada sistem fluvial tersebut bertemu dengan laut, perubahan arah arus
yang menyebabkan penyebaran air sungai dan akumulasi pengendapan yang tepat terhadap
material sedimen dari sungai mengakibatkan terbentuknya delta.
 Sedimentasi adalah proses pengendapan material yang terbawa oleh air, angin, maupun gletser.
Pengendapan ini bisa terjadi di darat, laut, maupun sungai. Material yang terbawa merupakan
material yang berasal dari pengikisan atau pelapukan. Pelapukan ini bisa berasal dari pelapukan
kimia, fisika, dan mekanik. Pengendapan yang berlangsung lama, akan membentuk batuan
sedimen. Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari proses sedimentasi. Sebagian
besar batu di bumi adalah batuan sedimentasi.

1. Sedimentasi Aquatis

Proses Sedimentasi Aquaris

Sedimentasi Aquatis adalah sedimentasi yang dilakukan oleh air. Sedimentasi oleh air ini, membawa
materi melalui aliran air. Proses ini mengandalkan kekuatan aliran air. Disaat aliran air kuat, maka materi
akan terbawa, disaat aliran air melemah, maka materi akan mengendap didasar.

Hal ini bisa kita umpamakan saat sedang meminum kopi atau teh. Saat kita mengaduk gelas, terjadi
putaran pada air, yang menyebabkan ampas kopi dan teh naik ke atas. Saat kita diamkan, dan pusaran
air mulai melemah, maka ampas kopi dan teh perlahan akan mengendap ke bawah. Hal inilah yang
terjadi pada proses sedimentasi oleh air. Sedimentasi aquatis dibagi menjadi dua, yaitu fluvial dan
marine.

A. Sedimentasi Fluvial

Sedimentasi fluvial adalah proses sedimentasi yang dilakukan olah air sungai dan berlokasi di sungai.
Sedimentasi oleh air sungai, biasanya terjadi di dataran rendah, akibat dari sifat air yang mengalir dari
tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Sedimentasi ini, biasanya juga menghasilkan pendangkalan
di muara sungai. Oleh karena itu, daerah muara sungai lebih berpotensi banjir (Baca: Jenis Jenis Banjir –
Pengertian – Penjelasan dan Penyebabnya).

Sedimentasi fluvial, memiliki peran besar dalam memberi bentuk kepada sungai- sungai. Sedimentasi
fluvial dibagai ke dalam 5 kelompok. Pembagian ini terjadi karena perbedaan lokasi pengendapan. Ke 6
bentuk sedimen ini adalah:

a. Alluvial

Alluvial atau alluvial fan adalah sebuah sungai yang mengalami perubahan kekuatan arus secara cepat.
Akibatnya, materi yang terbawa, terendap secara tiba- tiba di dasar. Endapan ini biasanya berbentuk
kerucut, akibat perubahan arus yang cepat. Alluvial biasanya terjadi di sekitar lereng pegunungan
maupun dasar lembah.

b. Meander

Meander adalah sungai yang berkelok- kelok. Kelokan- kelokan ini terjadi akibat pengendapan yang
terjadi di tikungan- tikungan sungai. Aliran sungai di sekitar tikungan sungai memiliki arus yang lebih
lemah dari pada aliran yang berada di luar tikungan. Akibatnya, pengendapan terjadi di dalam tikungan,
dan erosi terjadi di luar tikungan, sehingga membentuk lekukan- lekukan sungai yang cantik
(Baca: Abrasi dan Erosi – Pengertian – Perbedaan – Jenis dan Macamnya).

c. Dataran Banjir

Dataran banjir atau disebut floodplain adalah dataran yang berada di sebelah kanan dan kiri sungai.
Dataran ini terus mendapat pengendapat materi yang dibawa oleh air secara terus menerus. Akibatnya,
sekitar bagian kanan dan kiri sungan lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Dataran ini disebut dataran
banjir, karena saat volume air sedang tinggi, dataran ini akan mengalami kebanjiran, dengan menyisakan
sedikit sisa dataran yang lebih tinggi. Tapi saat air mulai surut, dataran ini akan muncul kembali. Saat air
surut itulah, materi menjadi terendap di kanan dan kiri sungai (baca: Proses Terjadinya Banjir dengan
Menggunakan Prinsip Geografi).

d. Danau Tapal Kuda

Danau tapal kuda atau oxbow adalah sungai yang terputus, akibat adanya pengendapan terus menerus.
Sungai ini, biasanya berbentuk seperti tapal kuda. Pengendapan ini, menyebabkan salah satu dari
tikungan yang ada di sungai terputus, dan menyebabkan sungai baru yang tersendiri.

e. Delta

Delta adalah tanah luas yang berada disekitar muara. Delta terbentuk dari hasil endapan material yang
berlangsung secara terus menerus. Terjadinya delta, akibat dari terendapnya pasir di dasar sungai,
sedangkan lumpur dan batuan tetap terbawa hingga ke laut. Untuk menjadi delta, dibutuhkan banyak
materi sedimen yang dibawa oleh air, muara memiliki arus yang tidak kencang dan dangkal.

B. Sedimentasi Marine

Sedimentasi marine adalah sedimentasi yang terjadi oleh air laut dan terjadi di laut. Sedimentasi ini,
terjadi akibat dari perubahan arus laut, yang mengendapkan materi kedalam dasar laut. Sedimentasi ini
juga terjadi akibat adanya air pasang dan air surut. Air pasang membawa material, lalu saat surut,
material itu mengendap. Pengendapan yang terus bertumpuk, menyebabkan endapan ini naik ke
permukaan laut. Sehingga membentuk pulau- pulau atau dataran kecil yang indah. Ada 4 bentuk yang
terjadi akibat dari sedimentasi marine.

Spit – Spit adalah dataran panjang yang berada di sekitar pantai. Dataran ini terjadi akibat arus pantai
yang membawa materi endapan ke laut, dan mengendap di dasar laut. Materi ini, berasal dari pasir di
sekitar pesisir pantai. Spit dapat terus semakin panjang, jika terus terjadi arus laut yang membawa
materi endapan ke laut.

Tombolo – Tombolo adalah jembatan alami yang menghubungkan pulau besar dengan pulau kecil di
dekatnya. Proses terjadinya tombolo sama dengan spit. Tombolo biasa dijadikan sebagai jembatan
untuk menuju pulau di tengah laut oleh masyarakat.

Penghalang Pantai – Penghalang pantai adalah, tanggul alami yang terbentuk akibat sedimentasi.
Penghalang pantai, pada dasarnya adalah spit yang terus memanjang, dan mengitari bibir pantai.
Sehingga seperti tanggul.

Gosong – Gosong adalah dataran kecil yang terbentuk di tengah- tengah laut. Gosong terjadi akibat
perubahan arus laut yang terjadi secara tiba- tiba. Berbeda dengan alluvial yang biasanya berbentuk
seperti kerucut, gosong berbentuk datar, rata, dan lebar. Biasanya gosong memiliki bentuk- bentuk yang
unik, dan beberapa kali menjadi lokasi untuk iklan rokok.

Nehrung – Nehrung adalah bukit pasir yang berada di sekitar pantai. Air laut yang menuju pantai,
membawa materi, yang kemudian mengendapkannnya di pantai.

2. Sedimentasi Aeris

Proses Sedimentasi Aeris

Sedimentasi Aeris adalah sedimentasi yang dilakukan oleh angin. Angin membawa materi- materi
endapan, dan menjatuhkannya ke darat saat kekuatan dari angin itu melemah. Materi yang dibawa oleh
angin biasanya adalah tanah pasir. Endapan pasir yang terus bertumpuk, makin lama akan menjadi
gundukan.

Gundukan ini disebut sebagai bukit pasir. Gundukan ini juga bisa disebut sebagai Sand Dune atau gumuk
pasir. Gundukan pasir ini, mudah kita jumpai disekitar gurun maupun disekitar pantai (Baca: Ekosistem
Gurun : Pengertian, Ciri-ciri, Proses dan Komponennya). Dilihat dari tempat, sedimentasi oleh angin ini
termasuk dalam sedimentasi teristris. Sedimentasi teristris adalah sedimentasi yang terjadi di darat.

3. Sedimentasi Gletser
Proses Sedimentasi Glasial

Sedimentasi glasial adalah sedimentasi yang dilakukan oleh es atau gletser. Sedimentasi ini terjadi
karena adanya moraine. Moraineadalah batu kerikil, pasir, dan materi lainnya yang terbawa oleh es, dan
mengendap. Sedimentasi oleh gletser juga mengelir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.

hal ini menyebabkan pengendapan terjadi di ujung gletser, yang menyebabkan perubahan bentuk
gletser dari V menjadi U. Sedimentasi oleh gletser, termasuk dalam sedimentasi glasial. sedimentasi
glasila adalah sedimentasi yang terjadi di gletser. Terdapat 4 bentuk sedimentasi yang dilakukan oleh es,
yaitu:

Oscar : Sedimen yang berbentuk punggung sempit dan panjang

Kame : Sedimen yang berbentuk dataran tinggi.

Drumlin : Sedimen yang berbentuk bukit kecil

Till Plain : Sedimen yang berbentuk dataran.

 Lithostratigrafi merupakan ilmu geologi yang mempelajari dan meneliti susunan lapisan batuan
berdasarkan ciri-ciri litologi.
Ada dua macam cara yang digunakan para geologist dalam menggunakan istilah litologi, yaitu:
a. Litologi, merupakan karakteristik fisik batuan yang dapat dipelajari dan dideskripsi khususnya
pada batuan sampel dan pada singkapan.
b. Litologi, merupakan karakteristik fisik, seperti tipe batuan, warna, komposisi mineral, dan
ukuran butir. Dengan demikian, satuan litologi adalah satuan batuan yang didasarkan
dengan ciri-ciri fisik batuan sedangkan lithostratigrafi adalah ilmu geologi yang mempelajari
hubungan stratigrafi antara lapisan yang dapat didefinisikan berdasarkan litologi.

lithostratigrafi dimaksudkan untuk menggolongkan batuan di bumi secara bersistem menjadi


satuan-satuan bernama yang bersendi pada ciri-ciri litologi. Pada satuan lithostratigrafi
penentuan satuan didasarkan pada ciri-ciri batuan yang dapat di-amati di lapangan, penentuan
batas penyebarannya tidak tergantung atas batas waktu. Karakteristik fisik litologi yang dapat
diamati di lapangan meliputi jenis batuan, kombinasi jenis batuan, keseragaman gejala litologi
batuan dan gejala lain pada tubuh batuan. Apabila ciri-ciri fisik litologi di lapangan tidak dapat
digunakan, maka dengan cara mekanik, geofisika, dan geokimia juga dapat dilakukan. Satuan
lithostratigrafi sesuai dengan hukum superposisi, dan keberadaan komponen fosil dalam batuan
termasuk salah satu komponen batuan.
Sekuen Stratigrafi menyatakan tempat untuk unit-unit strata ini ke dalam susunan
kronostratigrafi yang bisa diprediksi, dengan menunjukkan bagaimana generasi itu berkaitan
dengan lingkungan pengendapan.

SIKUEN STRATIGRAFI secara sederhana dapat diartikan sebagai cabang stratigrafi yang
mempelajari paket-paket sedimen yang dibatasi oleh bidang ketidakselarasan tersebut. Suatu
sikuen diendapkan selama satu siklus perubahan muka laut, yaitu terbentuk pada saat
kecepatan turunnya permukaan laut yang paling besar sampai kecepatan turunnya permukaan
laut yang paling besar berikutnya. Analisis sikuen stratigrafi akan menghasilkan kerangka
kronostratigrafi dari endapan yang dianalisa.

Parasikuen (Parasequence Set)

Parasikuen merupakan beberapa lapisan dan kumpulan lapisan batuan yang relatif selaras,
terbentuk oleh suatu proses pengendapan dan yang dibatasi oleh permukaan genang laut atau
permukaan yang setara (Wagoner, 1990). Parasikuen ini dibatasi di atas dan di bawahnya oleh
bidang permukaan marine flooding yaitu bidang batas yang memisahkan lapisan muda dan tua
yang dihasilkan oleh bertambahnya kedalaman air laut secara tiba-tiba dan pelamparannya ke
arah lateral.

Ada 2 macam mekanisme yang dapat membentuk parasikuen yaitu:

- Pertambahan kedalaman laut secara relatif cepat,


- Kenaikan muka air laut secara cepat

eustacy, subsidence, akomodasi (ruang pasokan), suplai sedimen. Kalau pengertian dari masing-
masing ketiga parasikuen tersebut adalah ;

Progradasi : Suplai sedimen > Akomodasi


Aggradasi : Suplai Sedimen = Akomodasi
Retrogradasi : Suplai Sedimen < Akomodasi

Proses eustacy yang terjadi selama masing-masing parasikuen set berbeda-beda, dilihat dari
sedimen yang diendapkan. Coba kita lihat parasikuen set Progradasi yang dibentuk akibat
penurunan muka air laut, yang bisa dilihat dari kehadiran batupasir, batupasir-shale transisi,
dan shale yang cenderung berarah menuju cekungan. Berlaku pula untuk Retrogradasi set fase
air laut yang terjadi selama pembentukan cenderung transgresi, bisa dilihat dari kehadiran
batupasir telah tererosi. Otomatis pada Retrogradasi set pola yang dibentuk adalah fining
upward atau menghalus ke atas. Berbeda dengan Aggradasi set fase air laut yang dibentuk
cenderung konstan.