Anda di halaman 1dari 10

BAB III

3.1 PEMBAHASAN

Konsep CSR (Corporate Social Responsibilty) sudah ada sejak kerajaan Babilonia di
Yunani hingga dalam sejarah modern semakin dikenal sejak Howard R. Bowen menerbitkan
bukunya berjudul Social Responsibilities of The Businessman pada era 1950-1960 di Amerika
Serikat. Pengakuan publik terhadap prinsip-prinsip tanggung jawab sosial yang beliau
kemukakan membuat dirinya dinobatkan secara aklamasi sebagai Bapak CSR. Bahkan dalam
dekade 1960-an, pemikiran Howard terus dikembangkan oleh berbagai ahli sosiologi bisnis
lainnya seperti Keith Davis yang memperkenalkan konsep Iron Law of Social Responsibility.
Menurut Suhandari M. Putri CSR adalah, ”Komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk
berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan
tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian
terhadap aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan”.
CSR menurut Merrick Dodd menyatakan, bahwa CSR adalah “suatu pengertian terhadap
para buruh, konsumen dan masyarakat pada umumnya dihormati sebagai sikap yang pantas
untuk diadopsi oleh pelaku bisnis….”. Saleem Sheikh menjelaskan bahwa “CSR merupakan
tanggung jawab perusahaan, apakah bersifat sukarela atau berdasarkan undang-undang, dalam
pelaksanaan kewajiban sosial-ekonomi di masyarakat”. Salem Sheikh mengamati bahwa CSR
meliputi 2 (dua) hal yang utama dalam corporate philanthropy(filantropi korporasi), yang
Pertama, perusahaan melakukan peranan jasa sosial, Kedua, melaksanakan trusteeship
principle(prinsip perwalian), dimana direksi bertindak sebagai wali bagi pemegang saham,
kreditur, buruh, konsumen dan komunitas yang lebih luas.
Definisi CSR secara etimologis di Indonesia kerap diterjemahkan sebagai Tanggung
Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Namun setelah tanggal 16 Agustus 2007, CSR di
Indonesia telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas yang menggantikan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
yang selanjutnya disingkat UUPT bahwa CSR yang dikenal dalam undang-undang ini
sebagaimana yang termuat dalam Pasal 1 Ayat 3 yang berbunyi, “Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi
berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi
Perseroang sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.”
Di tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah
harus berperan sebagai koordinator penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social
Responsibilty). Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus,
dengan masukan pihak yang kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan
memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah
juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar
terjadi proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman
satu pihak terhadap yang lain.
Meningkatkan Citra Perusahaan
Dengan melakukan kegiatan CSR, konsumen dapat lebih mengenal perusahaan
sebagai perusahaan yang selalu melakukan kegiatan yang baik bagi masyarakat.
Memperkuat “Brand” Perusahaan
Melalui kegiatan memberikan product knowledge kepada konsumen dengan cara
membagikan produk secara gratis, dapat menimbulkan kesadaran konsumen akan
keberadaan produk perusahaan sehingga dapat meningkatkan posisi brand perusahaan
Mengembangkan Kerja Sama dengan Para Pemangku Kepentingan
Dalam melaksanakan kegiatan CSR, perusahaan tentunya tidak mampu
mengerjakan sendiri, jadi harus dibantu dengan para pemangku kepentingan, seperti
pemerintah daerah, masyarakat, dan universitas lokal. Maka perusahaan dapat membuka
relasi yang baik dengan para pemangku kepentingan tersebut.
Membedakan Perusahaan dengan Pesaingnya
Jika CSR dilakukan sendiri oleh perusahaan, perusahaan mempunyai kesempatan
menonjolkan keunggulan komparatifnya sehingga dapat membedakannya dengan pesaing
yang menawarkan produk atau jasa yang sama.
Menghasilkan Inovasi dan Pembelajaran untuk Meningkatkan Pengaruh Perusahaan
Memilih kegiatan CSR yang sesuai dengan kegiatan utama perusahaan memerlukan
kreativitas. Merencanakan CSR secara konsisten dan berkala dapat memicu inovasi
dalam perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan peran dan posisi perusahaan
dalam bisnis global.
Membuka Akses untuk Investasi dan Pembiayaan bagi Perusahaan
Para investor saat ini sudah mempunyai kesadaran akan pentingnya berinvestasi
pada perusahaan yang telah melakukan CSR. Demikian juga penyedia dana, seperti
perbankan, lebih memprioritaskan pemberian bantuan dana pada perusahaan yang
melakukan CSR.
Meningkatkan Harga Saham
Pada akhirnya jika perusahaan rutin melakukan CSR yang sesuai dengan bisnis
utamanya dan melakukannya dengan konsisten dan rutin, masyarakat bisnis (investor,
kreditur,dll), pemerintah, akademisi, maupun konsumen akan makin mengenal
perusahaan. Maka permintaan terhadap saham perusahaan akan naik dan otomatis harga
saham perusahaan juga akan meningkat.
Salah satu perusahaan yang menerapkan program CSR adalah PT Nestle. Nestlé
Indonesia Creating Shared Value Forum 2011 menyediakan suatu kesempatan berwacana bagi
para pemangku kepentingan termasuk pemimpin sektor swasta, pemerintah dan organisasi
nonpemerintah, akademisi dan mahasiswa untuk berbagi pemikiran, pandangan dan gagasan
tentang bagaimana memperkuat kemitraan dalam bidang gizi dan pembangunan pedesaan
berkelanjutan.
Saat ini, Penciptaan Manfaat Bersama dilihat sebagai model yang menantang bagi bisnis
untuk memaksimalkan kegiatan utama dan kemitraan mereka demi kepentingan bersama
masyarakat dan para pemegang saham.
Creating Shared Value/Menciptakan Manfaat Bersama (CSV) merupakan bagian strategi
bisnis Nestlé. Kami yakin bahwa untuk mencapai kesuksesan perusahaan dalam jangka panjang
serta menciptakan manfaat bagi para pemegang sahamnya, perusahaan harus menciptakan
manfaat untuk masyarakat.
Pada 14 Juni 2011 di Jakarta lebih dari 200 perwakilan bisnis, pemerintah, lembaga
swadaya masyarakat dan akademisi menghadiri Forum Creating Shared Value (CSV)
(Menciptakan Manfaat Bersama) Nestlé Indonesia Forum 2011 yang bertemakan "Memperkuat
Kemitraan untuk Gizi dan Pembangunan Pedesaaan Yang Berkelanjutan", dengan tujuan untuk
berbagi pemikiran, pandangan dan gagasan tentang bagaimana memperkuat kemitraan di antara
berbagai pemangku kepentingan di bidang nutrisi dan pembangunan pedesaan yang
berkelanjutan.
Menurut United Nations Partnership for Development Framework (UNPDF) 2011-2015,
sejak 1998 Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam bidang sosial, politik dan
ekonomi. Negara telah mencapai kondisi politik dan makroekonomi yang stabil, membuat
kemajuan penting menuju target Pencapaian Pembangunan Milenium (Millennium Development
Goals/MDG), dan telah mencapai status sebagai negara berpendapatan menengah (Middle
Income Country). Namun, masih banyak tantangan besar yang dihadapi. Kesenjangan ekonomi
dan sosial di daerah terus berlanjut, tingkat kemiskinan tinggi dan gizi buruk meluas di provinsi-
provinsi terpencil. Cepatnya laju urbanisasi akan menyebabkan sekitar 65% penduduk hidup di
daerah perkotaan dalam dekade berikutnya. Hal ini ditambah dengan perkiraan bahwa 65 juta
orang Indonesia akan berumur antara 15 dan 24 pada tahun 2015, menyebabkan pemerintah
menghadapi tantangan besar dalam menyediakan pendidikan, pelayanan kesehatan, jaminan
sosial dan ekonomi serta lapangan pekerjaan untuk masyarakat muda perkotaan.
Nestlé percaya bahwa tantangan-tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh
pemerintah, lembaga swadaya masyarakat atau bisnis secara sendiri-sendiri. Diperlukan upaya-
upaya terarah dan kemitraan di antara para pemangku kepentingan untuk menghadapi tantangan-
tantangan tersebut dan membantu pembangunan di Indonesia.
Forum Menciptakan Manfaat Bersama kedua yang diselenggarakan oleh Nestlé Indonesia
ini, menyediakan suatu kesempatan berwacana untuk berbagi pemikiran, pandangan dan gagasan
tentang bagaimana sektor swasta dan pemerintah dapat menutup kesenjangan di antara
kepentingan bisnis dan tujuan pembangunan. Panel diskusi yang dihadiri oleh perwakilan dari
Nestlé, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah Indonesia membahas peluang-peluang
bagaimana cara memberikan manfaat yang berarti melalui kemitraan yang berkelanjutan dalam
gizi dan pembangunan pedesaan.
Mark R. Kramer , pakar CSR terkemuka dunia dari Kennedy School of Government – Harvard
University, menjelaskan bahwa saat ini, Penciptaan Manfaat Bersama dilihat sebagai model yang
menantang bagi bisnis untuk memaksimalkan kegiatan utama dan kemitraan mereka demi
kepentingan bersama masyarakat dan para pemegang saham. "Setiap perusahaan harus melihat
keputusan dan peluang melalui lensa manfaat bersama. Hal tersebut mendorong adanya
pendekatan baru yang menghasilkan inovasi dan pertumbuhan yang lebih besar bagi perusahaan
serta manfaat yang lebih besar bagi masyarakat," jelas Mark R. Kramer. Lebih lanjut ia berkata,
"Menciptakan Manfaat Bersama merupakan strategi bisnis yang terdepan – membuka
kesempatan bagi bisnis untuk tumbuh dan berkembang guna mengatasi masalah sosial. Hal ini
akan menyatukan bisnis, pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dalam melakukan
pendekatan bersama guna mencapai kemajuan sosial dan ekonomi. Sekarang adalah waktunya
bagi Indonesia untuk memajukan daya saing globalnya dengan menggunakan pendekatan
penciptaan manfaat bersama. Nestlé adalah salah satu perusahaan yang mengerti konsep ini dan
telah menerapkannya secara signifikan sehingga menghasilkan manfaat sosial yang besar."
Para Panelis dalam bidang Nutrisi menekankan pentingnya kemitraan di antara para
pemangku kepentingan untuk memberikan dampak yang signifikan dalam menghadapi
tantangan-tantangan di bidang gizi di Indonesia. Frits van Dijk menjelaskan: "Program global
Nestlé Healthy Kids adalah sebuah contoh bagaimana sebuah perusahaan seperti Nestlé dapat
berkontribusi untuk turut mendidik anak-anak mengenai gizi dan kebersihan pribadi. Di
Indonesia, program ini diluncurkan pada pertengahan 2010. Sampai saat ini, program Nestlé
Healthy Kids telah menjangkau 31 sekolah dasar di 12 kota dengan melibatkan 8.000 siswa dan
400 guru."
Para Panelis dalam bidang Pembangunan Pedesaan Yang Berkelanjutan menyimpulkan
bahwa kemitraan di bidang pertanian yang berkelanjutan dapat membantu masyarakat pedesaan
keluar dari kemiskinan, membantu mereka mendapatkan akses ke pendidikan, layanan
kesehatan, serta perbaikan kualitas hidup mereka. Arshad Chaudhry , Presiden Direktur PT
Nestlé Indonesia, mengatakan: "Nestlé berkomitmen terhadap pembangunan pertanian yang
berkelanjutan, khususnya di bidang persusuan, kopi dan kakao dengan menyediakan bantuan
teknis dan keuangan. Di Indonesia, misalnya, kami bermitra dengan 33.000 peternak sapi perah
dan 31 koperasi di Jawa Timur; dan dengan 10.000 petani kopi di Lampung."
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan, hingga kini belum ada produk Nestle di

Indonesia yang diketahui tercemar daging kuda. "Badan POM sedang meneliti sekarang, apakah

ada (kandungan daging kuda)," kata Nafsiah di kompleks Istana Negara, Jakarta, Selasa, 19

Februari 2013.

Menurut Nafsiah, penemuan jejak DNA kuda dalam produk Nestle merupakan hal baru.

Karena itu, Badan POM melakukan penelitian untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan

daging kuda dalam produk Nestle. "Kalau memang ada, tentu akan ditarik (produknya)," ujar dia.

"Tapi sampai sekarang belum ada."

Nestle, perusahaan makanan terbesar dunia, menarik produk makanannya yang tercemar

daging kuda di Italia dan Spanyol. Langkah ini dilakukan setelah tes menunjukkan jejak DNA

kuda dalam produk itu. Perusahaan berbasis di Swiss ini menghentikan pengiriman produk yang

mengandung daging dari pemasok di Jerman.

Nestle merupakan perusahaan terbaru dalam barisan produsen pangan utama yang

menemukan jejak daging kuda dalam makanan berlabel daging sapi. Skandal daging kuda, yang

semula hanya ditemukan di Inggris, kini menyebar ke banyak negara Eropa. Juru bicara

perusahaan itu mengatakan, tingkat DNA kuda yang ditemukan sangat rendah, tapi di atas 1

persen.
Perusahaan besar yang telah memasuki pasar dunia, diwajibkan memiliki R & D dan

seharusnya melakukan riset-riset bersama ahli gizi untuk mengembangkan produknya. Dalam

industri formula bayi, wajib memiliki izin dari organisasi internasional terutama dalam bidang

kesehatan dan yang menitik beratkan pada kesehatan bayi. Ini dibutuhkan kekuatan R & D dan

departemen Quality Control nya untuk menentukan output dari produknya. Nestle merupakan

salah satu perusahaan besar dan berkelas internasional yang berkantor pusat di Switzerland dan

sudah 100 tahun bergerak dalam industri formula bayi. Beriring dengan berjalannya waktu,

Nestle sering mendapat kecaman dari berbagai pihak seperti ibu-ibu bayi, organisasi kesehatan

lokal, maupun pemerintah lokal yang mengatakan bahwa produknya terkontaminasi dan

malnutrisi yang menyebabkan kematian bayi, dan mengatakan neslte tidak beretika dan

berperilaku tidak normal.

Untuk mengatasi hal ini, Nestle melakukan riset dan lobi dengan pihak internasional

seperti WHO dan UNICEF guna mengambil solusi yang tepat, dan juga sebagai acuan dasar

sebagai penjamin produknya aman. Kesalahan persepsi merupakan salah satu penyebab, Ibu-ibu

menganggap bahwa susu formula membuat bayi tumbuh besar dan bersinar. Tanggapan ini tidak

tepat karena asi teteaplah yang paling utama daripada susu formula.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Nestle memiliki beberapa strategi yaitu melakukan

survei dan observasi lingkungan demografi, budaya, ekonomi negara, perilaku, gaya hidup, serta

politiknya. Edukasi kepada ibu-ibu terhadap pentingnya asi dapat mempengaruhi konsumsi susu

Nestle ini. Petunjuk untuk penggunaan formula bayi ini sebagai contoh mencuci botol susu

dengan air mengalir kemudian direbus hingga mendidih untuk menghilangkan bakteri untuk

menghilangkan kontaminan susu bayi. Karena menurut hasil riset yang dilakukan Nestle, bahwa

kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan.


Kemudian, Nestle mengubah strategi pemasarannya dengan menggaet organisasi lokal

dan internasional untuk menjalin kerja sama. Nestle bekerja sama dengan WHO dengan

menggunakan syarat dan requirement berdasar kode-kode WHO. Dan juga memenuhi standar

UNESCO atas beredarnya produk formula bayi untuk menghasilkan produk yang paling aman.

Nestle juga merubah cara pemasaran dengan rumah rumah sakit bersalin sebagai partner

pemasaran produk dengan tidak meninggalkan etika dan moral. Nestle juga dapat memberikan

produk non formula seperti bedak, sabun, dll sebagai bentuk kepedulian terhadap ibu dan bayi

yang beresiko tinggi kehilangan nyawa. Selain itu, Nestle juga membuat produk lain seperti susu

khusus ibu hamil yang telah direkomendasi oleh organisasi kesehatan sebagai bentuk

kepeduliannya. Tidak hanya itu, Nestle juga memberi kontribusi dengan mendanai program

kesehatan dan imunisasi.

Pada Nestlé, kualitas melampaui produk itu sendiri. Seluruh dunia dan seluruh merek

Nestle, terlibat dalam berbagai inisiatif sosial dan lingkungan yang bersama-sama membuat

perbedaan cukup. Sebenarnya, adalah bagaimana kita selalu melakukan bisnis di Nestlé dan

merupakan bagian dari apa yang kita sebut menciptakan Shared Value. Bagi Nestlé, peduli

tentang kesejahteraan orang lain dan lingkungan merupakan bagian integral dengan janji Nestlé

untuk meningkatkan kualitas hidup melalui makanan dan minuman yang baik di mana-mana.

Komitmen Nestlé untuk rasa, sehat dan dipercaya produk telah, dan akan selalu, terikat

untuk menghormati kita untuk lingkungan dan orang-orang Nestlé bekerja, termasuk dengan para

petani yang memasok bahan baku dan masyarakat dimana Nestlé beroperasi.

Dengan fokus pada Gizi, Air dan Pembangunan Pedesaan, Nestle bekerja untuk sumber,

pembuatan dan paket produk Nestle dengan cara-cara bertanggung jawab dan sosial-lingkungan-
berkelanjutan - konsumen bahkan memberi lebih banyak alasan untuk percaya dan menikmati

produk-produk Nestlé.

Nutrisi: Sebagai yang terkemuka di dunia Gizi, Kesehatan dan Kebugaran Perusahaan,

Nestle percaya bahwa masa depan ada dengan membantu orang makan makanan yang sehat.

Apakah itu menangani kekurangan vitamin dan mineral di salah satu ujung spektrum, atau

obesitas pada yang lain, nestle berkomitmen untuk membantu orang-orang di mana-mana

melalui nutrisi yang baik dan pengertian. Sebagai contoh, pada tahun 2009 Nestlé:

Meningkatan lebih dari 7.000 produk dengan asam baik, mengurangi garam, gula lemak

trans, lemak jenuh pewarna atau buatan, atau meningkatkan gandum, sayuran atau konten

kalsium. Meluncurkan Sehat Nestlé Kids Global Program - membangun nutrisi Nestle dan

program kegiatan fisik mencapai 10 juta anak-anak sekolah - dengan komitmen untuk memiliki

program yang tersedia di semua negara dimana Nestlé beroperasi pada akhir 2011.

PERIODE JENIS KEGIATAN SASARAN HASIL

MENDUKUNG

USAHA

PEMERINTAH

ANAK USIA 7-12 DALAM

NESTLE HEALTHY TAHUN (MURID MENCIPTAKAN


2010
KIDS SEKOLAH GENERASI

DASAR) INDONESIA

YANG LEBIH

SEHAT, CERDAS,

DAM SIAP
MENGHADAPI

TANTANGAN

MASA DEPAN

BERGABUNG

DENGAN IGCN,

PISAgro, APSAI,

KADIN PARA PRODUKTIVITAS

MELAKSANAKAN PETERNAK SAPI DAN KUALITAS


2011
KONSERVASI AIR PERAH DI JAWA SUSU SEGAR

MELALUI TIMUR MENINGKAT.

KETERLIBATAN

PETERNAK SAPI

PERAH

MEMBUAT

BIOPORI BAIK
MENANAM 8.000 MASYARAKAT
2012 DILINGKUNGAN
POHON PROBOLINGGO
KERJA MAUPUN

DILUAR PABRIK

MEMBANTU

POSYANDU: BALITA DI 56 UPAYA

2013 PEDULI, AKTIF, KAB. DAN 14 PEMERINTAH

TANGGAP PROVINSI UNTUK

MASYARAKAT
YANG LEBIH

SEHAT

PENYEDIAKAN

AIR BERSIH

BERUPA 1 SUMUR,

BANGUNAN
PENDUDUK
TANGKI
DESA TELAGA PENYEDIAKAN
PENMPUNGAN
2014 LUHUR, KAB AIR LEBIH
DENGAN
SERANG - MUDAH
KAPASITAS 30.000
BANTEN
LITER AIR

LENGKAP

DENGAN PIPA

PENYALURANNYA

AGAR ORANG

TUA BISA LEBIH

ANAK USIA MENGERTI


GERAKAN HIDUP
2015 SEKOLAH MENGENAI GIZI
SEHAT
DASAR DAN

KEBERSIHAN

ANAK

2016 Belum ada Belum ada Belum ada