Anda di halaman 1dari 15

EXCHANGE TRANSFUSION

Dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan


Anak semester II

Disusun oleh :

Kelompok VIII

Asep Supriadi
Marina Purnawaty
Siti Aisah
Susilo

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES AISYIYAH BANDUNG

JL. KH. AHMAD DAHLAN (BANTENG) NO.6

BANDUNG

2018
KATA PENGANTAR

‫بسِبم ٱللب ٱللرحَّۡممٰبن ٱللربحَّيِم‬


ۡ ‫ب‬

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam
semoga tercurah untuk Nabi danteladan kita, Muhammad SAW, juga untuk
seluruh keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka
dengan ihsan sampai hari kiamat.

Alhamdulillah, kami telah menyelesaikan makalah “Exchange


Transfusion”, untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak pada
program pendidikan S1 Keperawatan, semester II.

Karena proses pembuatan dan penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, maka kami membuka diri untuk menerima berbagai masukan dan kritik
demi perbaikan di masa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Bandung, April 2018

Penyusun
DAFTAR ISIBAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang paling
sering ditemukan pada bayi baru lahir. Lebih dari 85% bayi cukup bulan yang
kembali dirawat dalam minggu pertama kehidupan disebabkan oleh keadaan
ini. Hiperbilirubinemia menyebabkan bayi terlihat berwarna kuning, keadaan
ini timbul akibat akumulasi pigmen bilirubin (4Z, 15 Z, bilirubin IX alpha)
yang berwarna ikterus pada sklera dan kulit.
Pada masa transisi setelah lahir, hepar belum berfungsi secara optimal
sehingga proses glukuronidasi bilirubin tidak terjadi secara maksimal.
Keadaan ini akan menyebabkan dominasi bilirubin tak terkonjugasi di dalam
darah. Pada kebanyakan bayi baru lahir, hiperbilirubinemia tidak terkonjugasi
merupakan fenomena transisional yang normal, tetapi pada beberapa bayi
terjadi peningkatan bilirubin secara berlebihan sehingga bilirubin berpotensi
menjadi toksik dan dapat menyebabkan kematian dan bila bayi tersebut dapat
bertahan hidup pada jangka panjang akan menimbulkan sequele neurologis.
Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya kematian bayi yang
diakibatkan oleh hiperbilirubinemia yang non fisiologis, terdapat berbagai
cara pengelolaan bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia tersebut. Strategi
tersebut diantaranya : Pencegahan, penggunaan farmakologi, fototerapi, dan
transfusi tukar (exchange transfusion). Dimana transfusi tukar (exchange
transfusion) merupakan suatu rangkaian tindakan mengeluarkan darah pasien
dan memasukkan darah donor untuk mengurangi kadar serum bilirubin atau
kadar hematokrit yang tinggi atau mengurangi konsentrasi toksin-toksin
dalam aliran darah pasien.
Disamping manfaatnya, terdapat juga komplikasi dari transfusi tukar.
Sehingga dalam penatalaksanaannya seorang perawat harus berhati-hati
dalam membuat perencanaan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui prosedur medis dari transfusi tukar (exchange
transfusion).
1.2.2 Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui indikasi, kontra indikasi dilakukannya
transfusi tukar.
2) Untuk mengetahui persiapan-persiapan apa saja yang harus
dipersiapkan ketika akan melakukan transfusi tukar.
3) Untuk mengetahui perencanaan tindakan keperawatan
sebelum dan sesudah tindakan transfusi tukar.
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian
Transfusi tukar adalah suatu rangkaian tindakan mengeluarkan darah pasien
dan memasukkan darah donor untuk mengurangi kadar serum bilirubin atau
kadar hematokrit yang tinggi atau mengurangi konsentrasi toksin-toksin
dalam aliran darah pasien.
2.2 Indikasi
1. Hiperbilirubinemia (indirect bilirubin) karena sebab apapun, jika
kadar bilirubin beresiko untuk menimbulkan gangguan di susunan saraf
pusat (kern ikterik). Transfusi tukar yang dilakukan adalah double
volume exchange selama 50-70 menit. Penurunan bilirubin semakin
efisien jika transfusi tukar dilakukan perlahan, sehingga ada kesempatan
untuk bilirubin ekstra dan intravaskuler mencapai keseimbangan.
2. Hemolytic Disease of The Newborn (HDN). Pada kelainan ini
terjadi pemecahan eritrosit bayi karena antibodi maternal, sehingga bayi
akan mengalami anemia dan hiperbilirubinemia sebagai hasil
metabolisme heme. Transfusi tukar akan membuang sel eritrosit bayi
yang telah tersensitisasi dengan antibodi maternal (antibody coated
RBC), menurunkan kadar bilirubin sekaligus melakukan koreksi terhadap
anemia yang ditimbulkan oleh HDN. Dilakukan transfusi tukar double
volume, kalau perlu diulang, jika terjadi pemecahan eritrosit yang cepat.
3. Sepsis Neonatal. Transfusi tukar akan membantu membuang
bakteri, toksin, produk pemecahan fibrin serta akumulasi asam laktat dari
bayi dan di saat bersamaan memberikan komplemen, faktor-faktor
koagulasi dan imunoglobulin dari darah yang baru.
4. Pembekuan Intravaskular Menyeluruh (PIM). Transfusi tukar
membantu peningkatan faktor-faktor koagulasi dan mengurangi
penyebab KID, walaupun ini masih merupakan kontroversi.
5. Asidosis serta Gangguan Cairan dan Elektrolit Berat, seperti
hiperkalemia, hipernatremia atau kelebihan cairan. Pada kasus seperti ini
dilakukan transfusi tukar parsial isovolumetrik.
6. Pengaturan Kadar Hemoglobin. Pada polisitemia dilakukan
transfusi tukar parsial dengan garam fisiologis atau plasma untuk
menurunkan kadar hemoglobin, sedangkan pada anemia berat yang
potensial menimbulkan gagal janntung, seperti pada hydrops fetalis,
dilakukan transfusi tukar parsial dengan packed red cells (PRC).
2.3 Kontra Indikasi
Transfusi tukar merupakan kontra indikasi jika pemasangan line intravena
lebih berbahaya daripada manfaat transfusi tukar.
Kontra Indikasi tersebut adalah :
1. Kontra indikasi melalui arteri atau vena umbilikalis :
a. Gagal memasang akses arteri atau vena umbilikalis dengan tepat.
b. Omfalitis.
c. Omfalokel/Gastroskisis.
d. Necrotizing Enterocolitis.
2 Kontra indikasi melalui arteri atau vena perifer :
a. Gangguan perdarahan (Bleeding Diathesis).
b. Infeksi pada tempat tusukan.
c. Aliran pembuluh darah kolateral dari arteri ulnaris/ arteri Dorsalis
Pedis kurang baik.
d. Ketidakmampuan memasang akses arteri dan vena perifer.
2.4 Persiapan Alat
Adapun persiapan alat-alat yang akan digunakan dalam transfusi tukar yaitu :
1. Radiant warmer
2. Peralatan dan obat-obatan resusitasi
3. Alat monitor lengkap (pengukur denyut jantung, frekuensi nafas,
suhu, pulse oxymetri, dan tekanan darah)
4. Peralatan untuk pemasangan arteri dan vena umbilikal
5. Orogastric tube, dipasang ke bayi
6. Spuit 10 atau 20 cc
7. Kalsium glukonas
8. NaCl : Heparin 1 UI/cc
9. Tempat pembuangan darah (bisa dibuat dari botol infus) yang telah
dihubungkan dengan set infus makro.

2.5 Persiapan Lingkungan


1. Lingkungan sekitar bayi harus bersih, nyaman dan kering.
2. Suhu ruangan 360C-370C.
3. Monitor lengkap dengan pengukuran tekanan darah, nadi, respirasi,
dan suhu.
4. Pencahayaan yang cukup.
2.6 Persiapan Pasien
1) Bayi dipuasakan 3-4 jam sebelumnya dan selang lambung
diaspirasi sebelum transfusi tukar.
2) Bila mungkin 4 jam sebelum transfusi tukar bayi diberi infus
albumin 1g/kgBB.
3) Awasi tanda vital, jika perlu berikan oksigen
4) Tubuh anak jangan sampai kedinginan
5) Bila tali pusat masih segar, potong dan sisakan 3-5 cm di atas
dinding perut. Bila telah kering, potong rata setinggi dinding perut.
Salah satu ujung kateter polietilen dihubungkan dengan semprit 3 cabang
dan ujung yang satu lagi dimasukkan ke vena umbilikalis dengan hati-
hati sampai terasa tahanan lalu tarik lagi sepanjang 1 cm. Dengan cara
tersebut biasanya darah sudah keluar sendiri. Ambilah 20 cc untuk
pemeriksaan laboratorium yang diperlukan.
6) Periksa tekanan vena umbilikalis dengan mencabut kateter dari
semprit dan mengangkat ke atas. Tekanan ini biasanya positif ( darah
akan naik setinggi 6 cm di atas dinding perut ). Bila ada gangguan
pernapasan biasanya terdapat tekanan negatif.
7) Keluarkan lagi sebanyak 20 ml, kemudian baru masukkan 20 ml
darah donor dan seterusnya. Measukkan dan mengeluarkan darah
dilakukan dalam waktu 20 detik. Pada bayi prematuritas cukup dengan
10-15 ml. Jumlah darah yang dikeluarkan adalah 190 ml/kg BB dan yang
dimasukkan adalah 170 ml/kg BB.
2.7 Prosedur Tindakan
a. Teknik Transfusi Tukar
1. Simple double volume (push pull method), untuk keluar
masuk darah hanya diperlukan satu jalur transfusi (biasanya dari
vena besar, seperti vena umbilikal). Teknik ini digunakan untuk
hiperbilirubinemia tanpa komplikasi (seperti anemia, sepsis, dll).
Waktu rata-rata per kali untuk keluar masuk kira-kira 3-5 menit,
sehingga total transfusi akan berlangsung selama 90-120 menit.
2. Isovolumetric double volume. Pada teknik ini dilakukan
pemasangan dua jalur, bisa arteri dan vena (pada umbilikal ataupun
perifer) ataupun vena dan vena, dibutuhkan dua operator untuk
memasukkan dan mengeluarkan darah. Jika dipakai jalur arteri dan
vena, darah dimasukkan dari vena serta dikeluarkan melalui arteri.
Keuntungan dari metode ini adalah proses masuk dan keluar darah
bisa dilakukan pada waktu yang bersamaan sehingga gangguan
hemodinamik minimal, disamping itu waktu pelaksanaan transfusi
tukar juga lebih singkat (45-60 menit). Waktu pelaksanaan bisa
diperpanjang sampai 4 jam untuk memungkinkan ekuilibrasi
bilirubin di darah dan jaringan, hal ini akan meningkatkan kadar
bilirubin yang bisa dihilangkan. Pada kasus hydrops fetalis berat,
teknik ini merupakan pilihan karena fluktuasi volume minimal,
sehingga gangguan miokardium juga minimal.
3. Transfusi tukar parsial. Dilakukan transfusi dengan plasma
atau PRC, sesuai indikasi (polisitemia atau anemia berat).

b. Pelaksanaan
1. Jelaskan tentang prosedur dan minta informed consent
kepada orangtua.
2. Puasakan bayi selama 3-4 jam sebelum transfusi tukar
dimulai. Pasang OGT untuk mengosongkan lambung dan alirkan
(buka tutupnya) selama prosedur. Tindakan ini berguna auantuk
dekompresi, mencegah regurgitasi serta aspirasi cairan lambung.
3. Tidurkan bayi telentang dan tahan posisinya dengan baik
(tahan dengan erat tetapi tidak ketat, dengan bantuan bantal pasir
ataupun plester ke tempat tidur). Jangan lupa memasang urine
collector.
4. Lakukan prosedur seperti untuk tindakan mayor, kemudian
pasang cateter vena umbilikal untuk teknik push and pull, serta arteri
dan vena umbilikal untuk teknik isovolumetrik.
5. Siapkan unit darah. Pastikan bahwa darah tersebut memang
benar untuk pasien, golongan darah cocok, dan temperatur cocok.
Kalau masih dingin, hangatkan ke suhu tubuh (tidak lebih dari 37 0C)
jangan terlalu panas karena bisa menyebabkan hemolisis.
6. Selanjutnya pasang darah ke set infus, pastikan threeway
stopcock berada pada posisi yang tepat sebelum memulai prosedur.
a. Untuk teknik push-pull, pasang set transfusi di jalur vena
(umbilikal atau vena besar lain) dengan bantuan four way
stopcock. Kalau tidak ada bisa diganti dengan dua buah
threeeway stopcock yang dipasang seri. Di outlet stopcock
tersebut, dipasang satu buah spuit 10 atau 20 cc, darah yang
akan ditransfusikan dan set infus untuk tempat darah kotor.
Pasang set transfusi sedemikian rupa sehingga stopcock akan
berotasi searah jarum jam dengan urutan :
1) Tarik darah dari pasien
2) Buang ke tempat darah kotor
3) Ambil darah baru Vena besar untuk menarik darah
sedangkan vena perifer untuk
4) Masukkan dengan perlahan
Jika vena umbilikal tidak bisa digunakan, teknik push-pull boleh
dilakukan di arteri umbilikal dengan syarat ujung kateter berada di
bagian bawah aorta (di bawah lumbal 3).
b. Untuk teknik isovolumetrik, di jalur vena dipasang satu
buah threeway stopcock yang dihubungkan dengan satu buah
spuit 10 atau 20 cc dan darah yang akan ditransfusikan,
sedangkan di jalur arteri, threeway stopcock dihubungkan
dengan satu buah sputi 10 atau 20 cc dan set infus untuk tempat.
c. Darah kotor. Jika jalur arteri tidak bisa ditemukan, alternatif
dari teknik ini adalah dengan penggunaan dua vena.
memasukkan darah. Bilas jalur penarikan darah dengan NaCl-
heparin 1 Ui/cc tiap 10-15 menit sekali untuk mencegah bekuan.
7. Mulailah prosedur transfusi tukar dengan perlahan, volume
keluar masuk darah disesuaikan dengan berat badan bayi, rata-rata 5
ml/kgbb. Volume per kali (aliquots), minimal 5 cc dan maksimal 20
cc.

Tabel 2.1 Volume keluar/ masuk darah per kali (aliquots) pada transfusi
tukar

Berat badan Volume per kali (ml)


>3 kg 20
2-3 kg 15
1-2 kg 10
850 gr-1kg 5
<850 gr 1-3

Sumber: Gomella TL, Cunningham MD, Eyal PG, Zenk KE

8. Selama prosedur berlangsung, operator harus berbicara


dengan jelas tentang volume darah yang keluar masuk (misalnya
“sepuluh masuk”, “sepuluh keluar”), sehingga asisten bisa
mendengar dan mencatat dengan baik.

2.8 Cara Perhitungan Dosis


Jumlah darah yang dibutuhkan :
1.Double volume. Darah yang ditransfusi tukar sebanyak dua kali lipat
volume darah bayi. Bayi cukup bulan mempunyai volume darah 80
ml/kgbb, sedangkan bayi prematur 95 ml/kgbb. Jumlah ini dikali dua,
menjadi jumlah darah yang harus ditransfusi tukar.
2. Transfusi tukar parsial. Pada polisitemia, dilakukan transfusi tukar dengan
NaCl 0,9% atau plasma, sedangkan pada anemia digunakan PRC.
Volume darah yang dibutuhkan pada polisitemia dihitung dengan rumus
:

Volume darah transfusi (ml) = Perkiraan jumlah darah bayi (ml) x BB (kg) x (Ht bayi-Ht target)
Ht bayi

Sedangkan untuk anemia, dihitung dengan rumus :

Volume darah transfusi (ml) = Perkiraan jumlah darah bayi (ml) x BB (kg) x (Hb target-Hbbayi)
(Hb PRC – Hb bayi)

2.9 Diagnosa Keperawatan


1. Resiko kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
perdarahan.
2. Resiko ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan perdarahan GI tract (stres ulcer).
3. Resiko infeksi berhubungan dengan proses transfusi.
2.10 Rencana Tindakan Keperawatan Sebelum dan Sesudah
Tindakan
a. Rencana tindakan keperawatan sebelum tindakan transfusi tukar
adalah :
1. Berikan informed consent kepada orang tua untuk proses
pelaksanaan transfusi tukar.
2. Persiapkan bayi dalam keadaan yang memungkinkan dapat
berlangsungnya proses transfusi tukar.
3. Persiapkan lingkungan yang aman dan nyaman untuk bayi
selama berlangsungnya proses transfusi tukar.
4. Monitor hemodinamik sebelum dilakukannya transfusi
tukar.
b. Rencana tindakan keperawatan sesudah transfusi tukar, yaitu :
1. Pertahankan suhu bayi agar selalu 36,5-37 0C dan observasi
suhu setiap 4-6 jam sekali
2. Periksa kadar bilirubin setiap 8 jam setelah pemberian
terapi 24 jam.
3. Awasi efek samping selama berlangsungnya transfusi tukar.
4. Pemeriksaan laboratorium
Pasien dipuasakan minimal 24 jam untuk memonitor bayi yang
mempunyai kemungkinan ileus sesudah TT
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Alimul, A. Azis Hidayat. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan
Anak. Jakarta: Salemba Medika.

Boxwell, Glenys. 2007. Neonatal Intensive Care Nursing. USA:


Routledge.

Lacy, Tricia Gomella, MD. 2008. Neonatology: Management,


Procedures, On-Call Problems, Diseases, and Drugs. Edisi
V. New York: Medical Publishing Division.

Sholeh, M. Kosim, et all. 2009. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta:


Badan Penerbit IDAI.