Anda di halaman 1dari 19

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

Analisis OECD di PT. Sumalindo Lestari Global Tbk

Oleh :

I Putu Eka Adiputra (1707612002)

PROGRAM PROFESI AKUNTAN (PPAk)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2018
OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development)

Latar Belakang

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) berupaya untuk memahami
dan membantu pemerintahan-pemerintahan dalam menanggapi perkembangan dan persoalan
baru, seperti tata kelola perusahaan, ekonomi informasi dan tantangan-tantangan dari populasi
yang bartambah tua. OECD menyediakan tempat dimana pemerintah dapat membandingkan
pengalaman yang berkaitan dengan kebijakan, mencari jawaban untuk masalah bersama,
mengidentifikasi praktik yang baik dan berupaya untuk mengkoordinasikan kebijakan dalam
negeri dan internasional.

Misi dan Tujuan OECD

Mempromosikan kebijakan-kebijakan yang akan memperbaiki ekonomi, social, dan


kesejahteraan masyasyarakat diseluruh dunia. OECD Bertujuan untuk membandingkan
pengalaman kebijakan, mencari jawaban untuk masalah umum, mengidentifikasi praktekpraktek
yang baik, dan mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan domestik dan internasional.

Prinsip-prinsip OECD

Terdapat empat prinsip utama Corporate Governance secara umum yaitu:


1. Fairness (Kewajaran)
Kewajaran (fairness) merupakan suatu bentuk perlakuan yang adil dan setara didalam
memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian sertaperaturan
perundangan yang berlaku.
2. Transparency (Keterbukaan Informasi)
Transparansi merupakan keterbukaan informasi, baik dalam proses pengambilankeputusan
maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenaiperusahaan.
3. Accountability (Dapat Dipertanggungjawabkan)
Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertangungjawaban
organperusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.
4. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (patuh) di dalam pengelolaanperusahaan
terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yangberlaku.

Dalam setiap kegiatan operasional perusahaan seringkali menghasilkan eksternalitas (dampak


luar kegiatan perusahaan) negatif yang harus ditanggung oleh masyarakat. Oleh karena itu, ke
empat prinsip tersebut diharapkan dapat membantu untuk mengurangi kesenjangan pendapatan
dan kesempatan kerja pada segmen masyarakat yang belum mendapatkan manfaat dari
mekanisme pasar. Berdasarkan prinsip-prinsip dasar GCG diatas, Terdapat 5 aspek yang
dijabarkan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) adalah:
1) Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan
Hak-hak Pemegang Saham yang dimaksudkan adalah hak untuk (1) menjamin keamanan
metode pendaftaran kepemilikan, (2) mengalihkan atau memindahkan saham yang
dimilikinya, (3) memperoleh informasi yang relevan tentang perusahaan secara berkala dan
teratur, (4) ikut berperan dan memberikan suara dalam rapat umum pemegang saham, dan (5)
memilih anggota Dewan Komisaris dan Direksi, serta (6)memperoleh pembagian keuntungan
perusahaan. Ke 5 hak pemegang saham tersebut harus di lindungi dan difasilitasi.
2) Perlakuan setara terhadap seluruh pemegang saham
Seluruh pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang sahamasing
harus diperlakukan setara. Seluruh pemegang saham harus diberikankesempatan yang sama
untuk mendapatkan perhatian bila hak-haknya dilanggar.
3) Peran stakeholders dalam corporate governance
Hak-hak para pemangku kepentingan (stakeholders) harus diakui sesuai peraturan
perundangan yang berlaku, dan kerjasama aktif antara perusahaan dan para stakeholders
harus dikembangkan dalam upaya bersama menciptakan kekayaan, pekerjaan, dan
keberlanjutan perusahaan.
4) Disklosur dan transparansi
Disklosur atau pengungkapan yang tepat waktu dan akurat mengenai segala aspek material
perusahaan, termasuk situasi keuangan, kinerja, kepemilikan, dan governance perusahaan.
5) Tanggung jawab Pengurus Perusahaan (Corporate Boards)Pengawasan
Komisaris terhadap pengelolaan perusahaan oleh Direksi harus berjalan efektif, disertai
adanya tuntutan strategik terhadap manajemen, serta akuntabilitas dan loyalitas Direksi dan
Komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.

PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk


Profil Perusahaan

PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk adalah sebuah perusahaan kayu yang berbasis di Indonesia.
Perusahaan yang didirikan pada tanggal 14 April 1980 dan memulai kegiatan komersialnya sejak
tahun 1983. Kantor pusat SULI terletak di Menara Bank Danamon, Lantai 19, Jl. Prof. Dr. Satrio
Kav. EIV/6, Mega Kuningan, Jakarta dan kantorpusat operasional dan pabriknya berlokasi di
Kalimantan Timur. PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk, merupakan pabrik kayu terbesar di
Kalimantan Timur dan telah mempekerjakan sebanyak 3700 staf. Kegiatan utama Perusahaan
terdiri dari pengolahan kayu, kegiatan penebangan, operasi hutan tanaman industri, serta
perdagangan ekspor, impor dan lokal. Perusahaan ini memiliki sejumlah konsesi hutan alam dan
konsesi hutan tanaman yang dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari.
Pada tanggal 8 Maret 2013, perusahaan menjual seluruh sahamnya di PT. Sumalindo Alam
Lestari kepada PT. Mentari Pertiwi Makmur. Sebelumnya, saham perusahaan ini tercatat di
Bursa Efek Indonesia namun sejak tanggal 10 Juni 2013, pihak Bursa memutuskan untuk
melakukan penghentian sementara terhadap perdagangan efek perusahaan di seluruh pasar terkait
dengan masalah pemberitaan media Tribun Kaltim yang menyebutkan bahwa Kantor
Operasional PT Sumalindo Lestari Tbk yang berlokasi di Sengkotek Jl. Cipto Mangunkusumo,
kecamatan Loa Janan Ilir terbakar tetapi kemudian permasalahan dapat terselesaikan.

Visi perusahaan

Menjadi industri perkayuan terpadu dan bertanggung jawab sosial, memberikan solusi dengan
menghasilkan produk-produk ramah lingkungan yang menggunakan bahan baku dari hutan yang
dikelola secara lestari, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam lainnya.
Misi perusahaan

1. Mengelola kelompok usaha industri perkayuan terpadu di bidang kayu lapis dan kayu lapis
olahan, MDF serta produk-produk turunan lainnya yang berkaitan dengan industri perkayuan
serta mempunyai tanggung jawab sosial.
2. Menjaga keberlangsungan kebutuhan bahan baku yang dipenuhi dari hutan alam dan hutan
tanaman yang dikelola berdasarkan prinsip pengelolaan hutan lestari.
3. Melakukan proses produksi yang memenuhi standar ramah lingkungan.
4. Memberikan nilai tambah produk melalui peningkatan nilai disetiap prosestahapannya,
pengembangan produk, sumber daya manusia dan jalur distribusi.
5. Mengoptimalisasi pemanfaatan sumber daya alam lainnya Struktur Organisasi

Penerapan GCG pada PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk

Dalam menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Dewan komisaris


perseroan melakukan kontrol melalui fungsi utamanya sebagai pengawas direksi dalam
menjalankan tata kelola perusahaan. Fungsi pengawasan Dewan Komisari tersebut dilaksanakan
melalui mekanisme yang sudah ditentukan antara lain melalui optimalisasi fungsi Komite Audit
sabagai Komite Independen yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dan berperan membantu
Komisaris mendapatkan informasi mengenai kondisi serta aktifitas-aktifitas tertentu yang sedang
atau telah dilaksanakan oleh Perseroan melalui laporan rutinnya.
Sementara itu Direksi Perseroan memastikan bahwa setiap rencana kerja, strategi maupun
kebijakan yang akan diambil dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan sehari-hari selalu
mengikutsertakan peran para karyawannya melalui divisi-divisi yang dibentuk dalam organisasi
sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dengan demikian apa yang diputuskan dan
dilaksanakan tetap berpedoman pada prinsip GCG, dan tentu berpedoman pula pada peraturan
dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal, bidang kehutanan, anggaran dasar Perseroan
serta peraturan dan ketentuan lain yang berlaku.
Dewan Komisaris berkeyakinan, penerapan GCG tersebut merupakan pondasi
yangpenting bagi Perseroan untuk berkembang di masa datang. Pada kesempatan ini Dewan
Komisaris melaporkan bahwa Perseroan telah menerapkan tata kelola perusahaan yang baik atau
Good Corporate Governance (GCG) dengan merujuk pada ketentuan BAPEPAM-LK dan
Pedoman Umum Good CorporateGovernance yang dikeluarkan oleh Komisi Nasional
Kebijakan Governance tahun 2006 dengan menetapkan Pedoman Tindak Komisaris. Lebih
lanjut, Dewan Komisaris juga telah menetapkan Piagam Komite Audit yang mengacu pada
berbagai ketentuan tersebut. Melalui Komite Audit, Dewan Komisaris secara rutin menerima
evaluasi atas kinerja keuangan Perseroan dan laporan tentang efektivitas pengendalian internal
Perseroan.
Dewan Komisaris berkeyakinan, penerapan GCG ini merupakan pondasi yang
pentingbagi Perseroan untuk berkembang di masa datang. OECD (Organisation for Economic
Co-operation and Development) berupaya untuk memahami dan membantu pemerintahan-
pemerintahan dalam menghadapi perkembangan dan persoalan baru, seperti tata kelola
perusahaan, ekonomi informasi, dan tantangan-tantangan yang dihadapi. OECD bertujuan untuk
membandingkan pengalaman yang berkaitan dengan kebijakan, mencari jawaban untuk masalah,
mengidentifikasi praktik yang baik dan berupaya untuk mengkoordinasikan kebijakan dalam
negeri dan internasional. PT Sumalindo sudah memberikan hak-hak yang seharusnya diperoleh
para pemegang saham, misalnya para pemegang saham menerima informasi yang relevan
secara tepat waktu mengenai penerbitan dan penawaran saham yang membutuhkan persetujuan
para pemegang saham, informasi tersebut diperoleh melalui sekretaris perusahaan yang dijadikan
sebagai pusat informasi bagi para pemegang saham dan seluruh stakeholders yang memerlukan
informasi informasi penting yang berkaitan dengan kegiatan maupun perkembangan Perseroan
dan anak perusahaan. Para pemegang saham juga memiliki hak untuk berpartisipasi dalam
RUPS, salah satu contohnya adalah hak untuk memilih dan menghapus anggota dewan. Dalam
pertemuan pemegang saham, proses dan prosedur memilih anggota dewan layaknya dipermudah
agar dapat memberikan suara secara efektif. Untuk pemegang saham minoritas juga harus
dilindungi dari tindakan kepentingan perusahaan yang merugikan. Selain itu, juga harus
memiliki sarana yang efektif. Dalam laporan keuangan menyebutkan juga bahwa para pemegang
saham dapat mentransfer seluruh resiko dan manfaat atas kepemilikan asset. PT Sumalindo
sudah menerapkan OECD point diatas, hal ini tercantum dalam laporan keuangan dan
diimplementasikan dalam semua kegiatannya yang berdasarkan prinsip transparansi,
akuntanbilitas, tanggung jawab, independensi dan kewajaran.
Penerapan Prinsip II dan III OECD pada PT Sumalindo Lestari Jaya Global

A. Penerapan Prinsip II OECD : Perlindungan Terhadap Hak Pemegang Saham


Pemegang saham adalah penyedia modal bagi perusahaan. Tujuan utama dari perusahaan adalah
memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham, sehingga peranan dari tata kelola perusahaan
untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham. hak- Hak dasar
pemegang saham diperlukan untuk mencegah konflik antara pemegang saham dengan
manajemen yang berdampak negatif terhadah kinerja perusahaan. Sehingga, perusahaan harus
memastikan hak pemegang saham dilindungi dan juga memfasilitasi pemegang saham untuk
melaksanakan hak tersebut.
Hak-hak dasar pemegang saham:
1. Hak untuk metode yang aman untuk registrasi kepemilikan
2. Hak untuk transfer saham
3. Hak untuk mendapatkan informasi yang relevan dan material mengenai perusahaan
4. Hak untuk berpartisipasi dan memberikan suara di RUPS
5. Hak untuk memilih dan mengganti anggota dewan
6. Hak untuk memperoleh bagian atas laba perusahaan.

B. Penerapan Prinsip III OECD : Perlakuan Yang Sama Tehadap Pemegang Saham

Pada prinsip ke-3 ini ditekankan perlunya persamaan perlakuan kepada seluruh
pemegang saham termasuk pemegang saham minoritasdan pemegang saham asing. Prinsip ini
menekankan pentingnya kepercayaan investor di pasar modal. Untuk itu industri pasar modal
harus dapat melindungi investor dari perlakuan yang tidak benar yang mungkin dilakukan oleh
manajer, dewan komisaris, dewan direksi ataupemegang saham utama perusahaan.Pada
praktiknya pemegang saham utama perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk
memberikan pengaruhnya dalam kegiatan operasional perusahaan. Dari praktik ini, sering kali
transaksi yang terjadi memberikan manfaat hanya kepada pemegang saham utama atau bahkan
untuk kepentingan direksi dan komisaris. Dari kemungkinan terjadinya usaha-usaha yang dapat
merugikan kepentingan investor, baik lokal maupun asing, maka prinsip ini menyatakan bahwa
untuk melindungi investor, perlu suatu informasi yang jelas mengenai hak dari pemegang saham.
Seperti hak untuk memesan efek terlebih dahulu dan hak pemegang saham utama untuk
memutuskan suatu keputusan tertetu dan hak untuk mendapatkan perlindungan hukum jika suatu
saat terjadi pelanggaran atas hak pemegang saham tersebut. Prinsip ini terbagi atas 3 Sub prinsip
utama.

Pertama adalah mengenai kesamaan perlakuan antara pemegang saham dalam kelas saham yang
sama. Di dalam prinsip ini terdapat 5 sub prinsip yang didiskusikan.
1. Sub prinsip pertama mengenai kemudahan dari investor untuk mendapatkan informasi
mengenai hak yang melekat pada setiapseri dan kelas saham sebelum mereka membeli
saham suatu perusahaan. Dalam sub prinsip ini investor harus mengetahui hak yang
melekat pada saham yang mereka beli. Seperti jika investor membeli saham preference,
maka investor tersebut akan mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan namun
disisilain biasanya saham itu tidak mempunyai hak voting.
2. Sub prinsip kedua berbicara mengenai perlindungan kepada pemegang saham minoritas
dari tindakan yang merugikan yang dilakukan oleh atau atas nama pemegang saham
utama. Salah satu bentuk perlindungan kepada pemegang saham minoritas sebenarnya
adalah bagaimana direksi menjalankan perusahaan untuk kepentingan perusahaan bukan
untuk kepentingan pemegang saham tertentu sehingga tidak ada perbedaan manfaat yang
diperoleh antara pemegang saham.
3. Sub prinsip selanjutnya adalah mengenai pihak yang boleh mewakili pemegang saham
dalam RUPS. Pada prinsip ini juga menjelaskan bahwa bank kustodian tidak secara
otomatis menjadi wakil pemegang saham di RUPS. Bank kustodian mempunyai tugas
untuk menyediakan informasi mengenai agenda RUPS sehingga pemegang saham dapat
menentukan suara mereka di RUPS termasuk apakah mereka akan melimpahkan hak
suaranya pada seluruh agenda atau mereka akan memberikan hak suara pada suatu
agenda tertentu.
4. Sub prinsip ke empat adalah penghilangan hambatan pemberian suara oleh pemegang
saham yang berdomisili di di luar wilayah kedudukan Emiten atau Perusahaan Publik.
Hambatan akan terjadi karena biasanya pemegang saham asing menyimpan saham
mereka melalui suatu rantai perantara (intermediaries). Saham tersebut dicatat atas nama
nasabah dalam akun perusahaan sekuritas lalu akun perusahaan sekuritas tercatat pada
lembaga penyelesaian dan penyimpanan. Dengan demikian maka nama dari pemegang
saham yang asli tidak langsung dapat diketahui, sehingga begitu perusahaan akan
meminta keputusan dari pemegang saham atas suatu transaksi tersebut, informasi yang
seharusnya sampai sebelum keputusan di ambil, penyampaiannya menjadi tidak tepat
waktu. Dampak dari terlambatnya informasi kepada pemegang saham adalah tidak
cukupnya waktu dari pemegang saham untuk menganalisa dan memberikan masukan
kepada perusahaan atas hal tersebut. Dengan melihat bahwa terdapat kemungkinan
perusahaan tidak dapat memberikan perlakuan yang saham kepada semua pemegang
sahamnya, maka sebaiknya perundang-undangan yang ada harus dapat memberikan
kejelasan mengenai pihak yang dapat diberikan kewenangan oleh pemegang saham asing
sebagai wakilnya sehingga informasi dapat segera diterima oleh pemegang saham. Selain
itu peranturan jika dimungkinkan juga dapat mengatur mengenai penyerderhanaan rantai
perantara.
5. Sub prinsip terakhir dari bagian kesatu prinsip 3 ini adalah mengenai proses dan prosedur
RUPS yang harus memperhatian perlakuan yang sama bagi seluruh pemegang saham,
termasuk prosedur yang sederhana dan tidak mahal bagi pemegang saham untuk
melakukan hak votingnya. Masih ada beberapa perusahaan yang mempunyai prosedur
rumitdan mahal dalam hubungannya dengan hak voting pemegang saham. Misalnya
penetapan fee bagi pelaksanaan hak voting pemegang sahamnya dan persyaratan
kehadiran bagi pemegang saham untuk melakukan voting.
Untuk itu sub prinsip ini mengusulkan kepada perusahaan perusahaan untuk dapat
menghilangkan kesulitan pemegang saham untuk berpartisipasi dalam RUPS dan juga
mengusulkan untuk dapat menggunakan fasilitas elektronik jika pemegang saham tidak
dapat hadir dan juga tidak menujuk wakilnya di RUPS.
Bagian kedua prinsip 3 ini berbicara mengenai larangan transaksi orang dalam (insider
trading) dan perdagangan tutup sendiri yang merugikan pihak lain (abusive self dealing). Banyak
negara OECD sudah mempunyai peraturan perundang-undangan berkenaan dengan larangan dua
transaksi diatas. Yang masih menjadi masalah Bagian kedua prinsip 3 ini berbicara mengenai
larangan transaksi orang dalam (insider trading) dan perdagangan tutup sendiri yang merugikan
pihak lain (abusive self dealing). Banyak negara OECD sudah mempunyai peraturan perundang-
undangan berkenaan dengan larangan dua transaksi diatas. Yang masih menjadi masalah bagian
terakhir dari pinsip 3 adalah kewajiban dari komisaris, direksi dan manajemen kunci untuk
mengungkapkan kepentingannya kepada dewan komisaris jika baik langsung maupun tidak
langsung atau atas nama pihak ketiga mempunyai kepentingan yang material dalam suatu
transaksi atau suatu hal yang mempengaruhi perusahaan. Peungkapan kepentingan para pihak di
atas kepada dewan komisaris juga harus diikuti dengan ketidak-ikut sertaan para pihak di dalam
pengambilan keputusan yang berkaitan dengan transaksi yang memuat kepentingan mereka
tersebut.

Analisis PT Sumalindo Lestari Jaya Global pada tahun 2015

Walaupun kasus hukum masih proses berjalan PT Sumalindo yang telah berganti nama
menjadi PT Sumalindo Lestari Jaya Global dan telah mendapatkan pengesahan dari Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam surat keputusan
Nomor AHU-25591.AH.01.02. Tahun 2013 tertanggal 14 Mei 2013. Dan terkait penerapan
prinsip ketiga OECD mengenai perlakuan setara terhadap pemegang saham pada PT Sumalindo
Lestari Jaya Global dengan melihat annual report pada tahun 2015, berikut analisisnya:
Untuk kasus mengenai sengketa yang terjadi di perusahaan berdasarkan landasan penolakan
Mahkamah Agung terhadap pengajuan kasasi dari pihak perusahaan sebagai berikut:
a. poin 3 a terkait kejanggalan dan keanehan penjualan saham termohon kepada PT
Sumalindo Lestari Jaya Global tidak terbuka dan transparan hal ini melanggar peraturan
Bapepam-LK yang mengharuskan perusahaan memberikan informasi material kepada
pemegang saham, seperti peraturan X.K.6 yang mengharuskan perusahaan untuk
menyediakan laporan tahunan pada saat RUPS.
b. Poin 3 b terkait kejanggalan dan keanehan penerbitan ZCB oleh SLJ tanpa jaminan dan
penjualan ZCB sebelum persetujuan RUPS-LB tanggal 15 oktober 2009. Seharusnya
setiap keputusan perusahaan harus dilaksanakan setelah persetujuan dalam RUPS-LB.
c. Poin 3 c terkait adanya dugaan pelanggaran transaksi yang dilakukan oleh perseroan.
d. Poin 3 d terkait tindakan korporatif direksi yang diduga menyebabkan kerugian terhadap
pemegang saham publik minoritas hal ini menurut saya melanggar Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.04/2014 Tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten
atau Perusahaan Publik pasal 13 (1) setiap anggota direksi bertanggung jawab secara
tanggung renteng atas kerugian emiten atau perusahaan publik yang disebabkan oleh
kesalahan anggota direksi dalam menjalankan tugasnya dan UU Perseroan No 40 Tahun
2007 pasal 97 (3) setiap anggota direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas
kerugian perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya
e. Poin 4 bahwa aset SULI pasa SAL adalah transaksi afiliasi dan tidak pernah disampaikan
oleh SULI kepada pemegang saham minoritas hal ini seharusnya merupakan kewajiban
dari suatu perseroan untuk melaporkan seluruh kegiatannya kepada pemegang sahamnya
yang sudah diatur dalam peraturan Bapepam-LK X.K.6

Analisis prinsip perlindungan terhadap hak pemegang saham PT Sumalindo Lestari Jaya
Global pada tahun 2015

Prinsip CG OECD tentang tata kelola menyebutkan bahwa kerangka tata kelola perusahaan
harus melindungi hak-hak pemegang saham dan memfasilitasi pelaksanaan hak-hak pemegang
saham. Berikut adalah hasil analisis penerapan prinsip kedua OECD pada PT Sumalindo Jaya
Lestari Global.
a. Mengenai hak untuk metode yang aman untuk registrasi kepemilikan. Kami tidak
menemukan informasi mengenai metode yang aman yang dilakukan oleh perusahaan
untuk hal registrasi kepemilikan pada laporan tahunan PT Sumalindo Lestari Jaya Global
2015
b. Mengenai hak transfer saham juga tidak kami temukan informasinya pada laporan annual
report PT Sumalindo Lestari Jaya Global 2015
c. Mengenai hak mendapatkan informasi yang relevan dan material mengenai perusahaan.
Menurut kami perusahaan sudah melakukan hal tersebut yang juga bisa diakses oleh
seluruh pihak yang berkepentingan di website resmi perusahaan. Adapun informasi yang
perusahaan tampilkan mengenai rencana dan prospek usaha, kemudian informasi
mengenai kegiatan perusahaan yang sedang merancang alternatif pengembangan
pembangkit listrik tenaga biomassa, selanjutnya informasi mengenai perpanjangan izin
usaha pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan kayu, pendapatan usaha, kebijakan
dividen, opini akuntan publik terhadap laporan keuangan perseroan tahun 2015 dan juga
informasi mengenai perkara hukum yang sedang dijalani perseroan.
d. Mengenai hak berpartisipasi dan memberikan suara di RUPS. PT Sumalindo telah
melaksanakan dalam RUPS nya terkait informasi peraturan-peraturan termasuk prosedur.
“Pemegang saham memiliki kewenangan penuh dan berhak memperoleh keterangan
mengenai kinerja pengawasan dan pengelolaan Perseroan dan Dewan Komisaris / Direksi
melalui forum RUPS-T. Melalui RUPS-T, pemegang saham mengambil keputusan untuk
menerima atau menolak laporan Dewan Komisaris dan Direksi.
e. Mengenai hak untuk memilih dan mengganti anggota dewan. PT Sumalindo Lestari Jaya
global telah menerapkan. “Anggota Dewan Komisaris diangkat dan diberhentikan
melalui keputusan RUPS setelah melalui proses pencalonan sesuai dg Anggaran Dasar
dan perundang-undangan yg berlaku dg masa jabatan anggota dewan komisaris selama 2
tahun.”
f. Mengenai hak untuk memperoleh bagian atas laba perusahaan. Walaupun perusahaan
mengalami banyak perkembangan pada tahun 2015, tetapi perusahaan masih mengalami
defisit defisiensi modal, sehingga manajemen belum dapat mengeluarkan kebijakan
pembagian deviden. Namun demikian, tetap tanpa mengurangi hak RUPS untuk
menentukan lain sesuai ketentuan anggaran dasar perseroan serta perundangan yang
berlaku, dan memperhatikan ketersediaan kas.

Analisis Perlakuan Setara Terhadap Pemegang Saham PT.Sumalindo Lestari Jaya Global
Pada Tahun 2015

a. Mengenai kemudahan dari investor untuk mendapatkan informasi mengenai hak yang
melekat pada setiap seri dan kelas saham sebelum mereka membeli saham suatu
perusahaan. Analisis kami didalam laporan tahunan 2015 PT Sumalindo Lestari Jaya
Global 2015 tidak dicantumkan mengenai hak yang melekat pada setiap seri saham yang
menjadi informasi penting bagi investor potensial tetapi kami menemukan didalam
rancangan perubahan anggaran dasar perusahaan PT Sumalindo Lestari Jaya Global
dalam rangka penyesuaian dengan ketentuan peraturan otoritas jasa keuangan. Pada pasal
16 ayat 3 (a) – dalam pemungutan suara, suara yang dikeluarkan oleh pemegang saham
berlaku untuk seluruh saham yang dimilikinya yang hadir dalam RUPS dan pemegang
saham tidak berhak memberikan kuasa kepada lebih dari seorang kuasa untuk sebagian
dari jumlah saham yang dimilikinya dengan suara yang berbeda-. Sesuai pula dengan UU
No 40 Perseroan Terbatas Tahun 2007 pasal 85 (3).
b. Mengenai perlindungan kepada saham minoritas dari tindakan yang merugikan yang
dilakukan oleh atau atas nama pemegang saham utama. Menurut kami terkait
memberikan perlindungan kepada pemilik saham minoritas yaitu dengan menjalankan
perusahaan berdasarkan kepentingan bersama atau perusahaan. Jadi direksi harus
menjalankan perusahaannya dengan tidak mementingkan kepentingan pemegang saham
tertentu sehingga tidak ada perbedaan manfaat yang diperoleh antara pemegang saham
sesuai UU No 40 Perseroan Terbatas Tahun 2007 pasal 92 (1) – direksi menjalankan
pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan
perseroan. Dalam praktiknya di PT Sumalindo Lestari Jaya Global tahun 2015 menurut
kami jika dilihat dari perkembangan perusahaan memang menurut data yang kami
peroleh dari tahun 2013 sampai 2015 perusahaan mengalami perkembangan dilihat dari
pendapatan usaha yang meningkat sebesar 44,09% dari tahun 2014 sebesar USD 44.62
juta menjadi USD 64.28 juta dan juga pada tahun 2015 perusahaan memperoleh opini
“wajar tanpa modifikasian” dari kantor akuntan publik independen Purwantono,
Sungkoro dan Surja.
Selanjutnya, meningkatnya kemampuan perseroan untuk membayar utang yang tercermin
pada current ratio tahun 2015 sebesar 0,89% X dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar
0,77% X. Untuk meningkatkan likuiditasnya perseroan terus meningkatkan
kolektibilitasnya piutang, hal ini tercermin dari presentasi piutang yang umurnya lebih
dari 90hari ditahun 2014 sebesar 51% turun menjadi 41% ditahun 2015. Tetapi meskipun
posisi keuangan perseroan membaik, perseroan masih mengalami defisit pada defisiensi
modal, sehingga manajemen belum dapat mengeluarkan kebijakan pembagian deviden.
Namun, demikian tanpa mengurangi hak RUPS untuk menentukan lain sesuai ketentuan
anggaran dasar perseroan serta perundangan yang berlaku dan memperhatikan
ketersediaan kas.
c. Mengenai pihak yang boleh mewakili pemegang saham dalam RUPS. Dalam laporan
tahunan 2015 PT Sumalindo Lestari Jaya Global kami tidak menemukan informasi
tersebut, tetapi dari rancangan perubahan anggaran dasar perusahaan PT Sumalindo
Lestari Jaya Global dalam rangka penyesuaian dengan ketentuan peraturan otoritas jasa
keuangan. Pada pasal 16 ayat 1(c) > pemegang saham dapat diwakili oleh pemegang
saham lain atau orang lain dengan surat kuasa. Surat kuasa harus dibuat dan ditanda
tangani dalam bentuk sebagaimana mestinya sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
d. Penghilangan hambatan pemberian suara oleh pemegang saham yang berdomisili di luar
wilayah kedudukan perusahaan. Dalam hal ini kami belum menemukan upaya dari
perusahaan untuk menghilangkan hambatan-hambatan pemberian suara oleh pemegang
saham yang berdomisili di luar wilayah kedudukan perusahaan. Seharusnya dijaman
teknologi yang sedang canggih seperti sekarang, perusahaan dapat menggunakannya
sebagai alat komunikasi yang memadai untuk saling bertukar informasi antara investor
dan perusahaan. Sehingga investor asing tetap dapat memberikan hak suaranya.
e. Mengenai proses dan prosedur RUPS yang harus memperhatikan perlakuan yang sama
bagi seluruh pemegang saham, termasuk prosedur yang sederhana dan tidak mahal bagi
pemegang saham untuk melakukan hak votingnya. Dalam laporan keuangan tidak
diperoleh informasi mengenai prosedur RUPS pada PT Sumalindo Lestari Jaya Global
tetapi dalam rancangan perubahan anggaran dasar perusahaan PT.Sumalindo Lestari Jaya
Global dalam rangka penyesuaian dengan ketentuan peraturan otoritas jasa keuangan.
Pada pasal 16 ayat 2 (e) > keputusan RUPS sah jika disetujui oleh lebih dari ½ (satu per
dua) bagian dari seluruh saham dengan hak suara yang hadir/diwakili dalam RUPS.
Tetapi rancangan perubahan tersebut masih belum bersifat final dan telah tersedia bagi
pemegang saham di website perseroan sejak tanggal 20 Mei 2015 dan diperbarui pada
tanggal 10 Juni 2015.
f. Mengenai larangan transaksi orang dalam (insider trading) dan perdagangan tutup sendiri
yang merugikan pihak lain. Dalam hal ini kami tidak menemukan pada laporan tahunan
PT Sumalindo Lestari Jaya Global terkait insider trading.
g. Mengenai kewajiban dari komisari, direksi dan manajemen kunci untuk mengungkapkan
kepentingannya kepada dewan komisaris baik langsung maupun tidak langsung atau atas
nama pihak ketiga mempunyai kepentingan yang material dalam suatu transaksi yang
mempengaruhi perusahaan. Pengungkapan kepentingan para pihak diatas kepada dewan
komisaris juga harus diikuti dengan ketidakikutan sertaan para pihak didalam
pengambilan keputusan strategis perusahaan. Dalam laporan tahunan 2015 kami tidak
menemukan informasi terkait hal tersebut. Karena, perusahaan hanya mencantumkan
secara umum tugas didalam struktur tata kelola perusahaan.

Berikut ini adalah Perhitungan Hak Kendali dan Hak Arus Kas Pemegang Saham
Pengendali PT Sumalindo Lestari Jaya Global beserta Kesimpulan terhadap Dampak
Perbedaan Hak Kendali dan Hak Arus Kas Terhadap Insentif Ekspropriasi Pemegang
Saham Pengendali. (sudah edit)

Samko Timber Limited

99,99%

PT Sumber Graha Sejahtera

24,63%

PT Sumalindo Lestari Tbk

PT Sumalindo Lestari Jaya Global dari tahun 2009 sampai dengan 2013 jika dilihat
berdasarkan struktur kepemilikan, hak kendali PT Sumber Graha Sejahtera pada tahun 2013
yang dimana PT Sumber Graha Sejahtera adalah sebagai pemegang saham pengendali PT
Sumalindo Lestari Jaya Global sebesar 24,63%. Sedangkan hak arus kas pemegang saham
pengendali PT Sumalindo Lestari Jaya Global sebesar 99,99% x 24,63% = 24,62%.
Jadi, dapat disimpulkan jika hak kendali semakin besar dibandingkan hak arus kas maka
akan menyebabkan insentif untuk melakukan ekspropriasi atas pemegang saham minoritas.
Berdasarkan hasil perhitungan diatas, hak kendali lebih besar dibandingkan dengan hak arus kas.
Meskipun perbandingannya tidak begitu besar atau dengan kata lain sangat tipis, hal ini tidak
menutup kemungkinan untuk terjadinya ekspropriasi atas pemegang saham minoritas PT
Sumalindo Lestari Jaya Global dikarenakan adanya hubungan keluarga di dalam struktur
kepemilikan pemegang saham pengendali dengan direksi PT Sumalindo Lestari Jaya Global.
Oleh karena itu, seluruh informasi mengenai pemegang saham pengendali perusahaan
merupakan informasi penting bagi pemegang saham perusahaan khususnya pemegang saham
minoritas.

Dugaan Terhadap Pola Abusive Transaction yang mungkin dilakukan oleh Manajemen
dan/atau Pemegang Saham Pengendali Terhadap Pemegang Saham Publik PT Sumalindo
Lestari Jaya Global serta Penyebab Terjadinya Hal Tersebut.
Pola abusive transaction yang dilakukan oleh pemegang saham pengendali terhadap
pemegang saham publik PT Sumalindo Lestari Jaya Global yaitu adanya konspirasi antara dewan
direksi dengan pemegang saham pengendali.

Hal tersebut terjadi karena adanya hubungan kekeluargaan/ hubungan istimewa antara
direksi dengan pemegang saham pengendali. Presdir PT Sumalindo Lestari Jaya Global adalah
Amir Sunarko sedangkan komisaris utamanya adalah Ambran Sunarko. Sedangkan pemegang
saham pengendali PT Sumalindo Lestari Jaya Global adalah PT Sumber Graha Sejahtera dimana
pemegang saham dan direksinya dikendalikan oleh Aris Sunarko. Dari struktur kepemilikan
tersebut sangat dimungkinkan terjadinya abusive transaction terhadap pemegang saham PT
Sumalindo Lestari Jaya Global, dimana keuntungan hanya memihak kepada keluarga Sunarko.
Seharusnya pihak perusahaan mengungkapkan kepada para pemegang saham publik (minoritas)
tentang siapa saja pemilik saham pengendali PT Sumalindo Lestari Jaya Global, dimana hal
tersebut sudah diatur pada UU PT Nomor 40 Tahiun 2007. Sehingga para pemegang saham
publik mendapatkan informasi yang relevan dan transaksi yang berpotensi abusive bagi
pemegang saham publik dapat ditangani.

Penilaian Terhadap Tindakan yang Ditempuh Oleh Deddy Hartawan Jamin tersebut jika
dilihat dari sudut pandang Peraturan Perundang-undangan di Indonesia.
Menurut pendapat saya, apa yang telah dilakukan oleh Dedy Hartawan Jamin yang
mengajukan permohonan pemereksiaan terhadap perseroan sudah benar. Hal tersebut sudah
seharusnya dilakukan karena merupakan hak para pemegang saham minoritas dan dilindungi
oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Peraturan perundang-undangan
yang mengatur hak pemegang saham untuk mengajukan pemerikasaan Perseroan adalah UU PT
Nomor 40 Tahun 2007, dimana dalam pasal 138 berbunyi para pemegang saham (minimum 10%
dari seluruh jumlah saham yang memiliki suara) untuk mengajukan pemeriksaan terhadap
perseroan. Pasal tersebut memungkinkan pemegang saham non pengendali untuk melakukan
pemerikasaan terhadap tindakan manajemen dan pemegang saham pengendali yang dicurigai
merugikan pemegang saham non pengendali.
Kesimpulan

Menurut saya, PT Sumalindo Lestari Jaya Global belum menerapkan seluruh prinsip
kedua maupun ketiga dari OECD mengenai prinsip perlakuan setara terhadap pemegang saham
dan juga dari sengketa yang terjadi antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham
minoritas perlindungan hukum terhadap pemilik saham minoritas masih belum dirasa jelas. Hak-
hak pemegang saham minoritas ditandai dengan lahirnya Undang-Undang No 40 Tahun 2007
memang menjadi harapan para pemegang saham minoritas, akan tetapi hak- hak tersebut belum
merupakan cerminan perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas yang sempurna
karena aturan mengenai perlindungan hukum pemegang saham minoritas sesuai dengan prinsip
good corporate governance masih sulit untuk diterapkan. Karena pemegang saham minoritas
tidak jarang hanya dijadikan pelengkap dalam sebuah perusahaan yang lain.
Berkaitan dengan prinsip-prinsip OECD khususnya prinsip kedua dan ketiga yang
bertujuan memberikan manfaat perlindungan serta perlakuan adil terhadap para pemegang saham
dapat kami berikan kesimpulan bahwa perkembangan perusahaan seharusnya berjalan seiringan
dengan tercapainya penerapan OECD khususnya prinsip kedua dan ketiga. Karena jika prinsip
kedua dan ketiga mampu terpenuhi konflik kepentingan antara saham pengendali dan saham
minoritas dapat dihindari. Hal ini tentunya akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan.

SARAN (REKOMENDASI)
Berdasarkan penilaian praktek OECD CG prinsip 2 dan 3 di PT Sumalindo Lestari Jaya Global
pada tahun 2015 yang telah saya analisis, maka ada saran atau rekomendasi yang dapat saya
berikan, walaupun sesungguhnya praktik GCG di PT Sumalindo Lestari Jaya Global pada tahun
2015 sudah berjalan baik. Namun, ada beberapa rekomdendasi dari saya yakni:
1. PT SUMALINDO masih harus perlu mengupayakan dan memberikan hak pemegang
saham berupa memperoleh bagian atas laba perusahaan misalnya berupa deviden.
2. Mengungkapkan dalam Risalah RUPS maupun ringkasan yang dipublikasikan terkait
dengan alasan penggantian anggota dewan komisaris maupun direksi.
3. Penyampaian dan penyajian anggaran dasar setiap tahun buku kepada publik, agar publik
sebagai calon investor maupun sebagai pemangku kepentingan mengatahui bagaimana
peraturan yang sudah ditetapkan di anggaran dasar.
4. Memperbaiki kinerja yang sudah baik menjadi sempurna. Pada tahun 2015 tidak
melakukan kesalahan dalam penmberian informasi, namun terjadi keterlambatan
pengungkapan. Hal tersebut harus dievaluasi dan perlu diperbaiki agar tidak terulang dan
agar pemberian hak kepada pemegang saham berupa mendapat informasi yang tepat
waktu secara reguler dapat terlaksana dengan baik.
DAFTAR REFERENSI

IAI. 2015. Modul Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat. Jakarta : IAI.

www.sljglobal.com

UU PT Nomer 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas