Anda di halaman 1dari 37

MEDIAN JALAN

Pada arus lalu lintas yang tinggi seringkali dibutuhkan median guna memisahkan arus
lalu lintas yang berlawanan arah.Jadi median adalah jalur yang terletak ditengah jalan
untuk membagi jalan dalam masing – masing arah.

Secara garis besar median berfungsi sebagai:


1. Menyediakan daerah netral yang cukup lebar dimana pengemudi masih dapat
mengontrol kendaraannya pada saat-saat darurat.
2. Menyediakan jarak yang cukup untuk membatasi / mengurangi kesilauan terhadap
lampu besar dari kendaraan yang berlawanan arah.
3. Menambah rasa kelegahan, kenyamanan dan keindahan bagi setiap pengemudi.
4. mengamankan kebebasan samping dari masing-masing arah arus lalu-lintas.

Untuk memenuhi keperluan-kperluan tersebut diatas, maka median serta batas-


batasnya harus nyata oleh setiap mata pengemudi baik pada siang hari maupun pada
malam hari serta segala cuaca dan keadaan.Lebar median berfariasi antara 1,0-12
meter.

Median dengan lebar sampai 5 meter sebaiknya ditinggikan dengan kereb atau
dilengkapi dengan pembatas agar tidak dilanggar kendaraan. Semakin lebar median
semakin baik bagi lalu lintas tetapi semakin mahal biaya yang dibutuhkan.Jadi biaya
yang tersedia dan fungsi jalan sangat menentukan lebar yang dipergunakan.

Jalur tepian median


Disamping median terdapat apa yang dinamakan jalur tepian median, yaitu jalur
yang terletak berdampingan dengan median (pada ketinggian yang sama dengan
perkerasan). Jalur tepian median ini berfungsi untuk mengamankan kebebasan
samping dari arua lalu lintas.

Lebar jalur tepian median dapat bervariasi antara 0.25 – 0,75 meter dan dibatasi
dengan marka berupa garis putih menerus.

Halo gan, selamat datang di thread sederhana ini. Semoga apa yang ane tulis bisa
menambah wawasan agan/sista sekalian.
Introduction

Quote:
Sebuah ide masuk ke kepala saat berkendara selama 2 jam. Melihat garis putus-putus
lalu bersambung sedemikian rapinya di tengah jalan raya. Ya itu adalah sebuah marka
jalan. Marka jalan adalah hal yang wajib ada di setiap jalan raya. Itu karena marka
tersebut berguna sebagai arahan arus lalu lintas dan juga membatasi daerah
kepentingan untuk lalu lintas. Ada banyak macam marka tersebar di jalanan kota kota di
Indonesia. Tetapi bukan marka yang akan dibahas melainkan satu benda kecil yang
terkadang kita sebagai pengguna jalan sering kali menganaktirikannya. Benda yang
tertanam di aspal ini berada di antara atau ditengah garis marka jalan.Namanya adalah
paku jalan atau mata kucing. Paku jalan berguna untuk membantu pengendara untuk
tetap berada di lajur yang benar. Sehingga mereka selamat sampai tujuannya. Benda
ini ditemukan oleh seorang Inggris bernama Percy Shaw sekitar tahun 1934. Ada
banyak versi dari berbagai sumber yang menceritakan awal mula terciptanya ide ini.
Versi yang paling populer adalah disaat beliau sedang mengendarai sepeda motornya
di jalanan yang gelap dan berkabut. Saat itu marka jalan sudah tidak terlihat dan secara
tidak sadar dia berada di tengah badan jalan. Tiba-tiba di pinggir jalan dia melihat
cahaya yang berkedip kedip dan kemudian dia langsung membelokkan kemudi untuk
mengikuti cahaya tadi. Ternyata itu adalah mata kucing dan setelah dia menyadarinya,
tiba-tiba dari arah berlawanan melaju bus yang sangat kencang dan dia selamat dari
tragedi tersebut. Disini ane mau kasih tau tentang bahan, bentuk dan warna dari benda
ini.

Material Pembuatan Paku Jalan

Quote:
Menurut peraturan menteri tahun 2014 tentang marka jalan, pembuatan paku jalan
dibuat dari bahan plastik, kaca, baja tahan karat, dan aluminium campur. Untuk
pembuatan reflektor yang berada di dalam paku jalan tersebut butuh manik-manik
khusus yang memantulkan cahaya, anti pecah, dan tidak akan pudar. Memasuki era
sekarang, paku jalan tidak lagi menggunakan manik-manik melainkan lampu led yang
berkedip-kedip dengan sumber dari baterai maupun tenaga surya
Bentuk Paku Jalan

Quote:
Paku jalan mempunyai bentuk yang bermacam macam. Setidaknya ada tiga macam
bentuk yang ada di Indonesia yaitu bujur sangkar, 4 persegi panjang dan bulat

Bujur sangkar

Bentuk ini memiliki sisi dengan ukuran panjang 100 mm yang dipergunakan pada jalan
dengan kecepatan kurang dari 60km/jam dan panjang 150 mm untuk jalan dengan
kecepatan sama dengan atau diatas 60km/jam

Bentuk 4 persegi panjang

Bentuk ini memiliki panjang 20 mm dan lebar yang paling sedikit 10 mm

Bentuk bulat

Bentuk paku jalan ini mempunyai ukuran diameter lingkaran luar 100 mm dan diameter
cembungan 60 mm serta tebal 19 mm

Warna Reflektor

Quote:
Cahaya reflektor merupakan hal yang paling penting pada paku jalan. Ada tiga warna
yang umumnya digunakan pada paku jalan yaitu putih, kuning, dan merah.

Cahaya putih
Warna putih dalam paku jalan dipasang pada marka yang membujur utuh yang berada
di sisi kanan jalan sesuai dengan arah lalu lintas. Fungsi dari warna putih tersebut
adalah menentukan posisi kendaraan pada lajur yang benar. Sebagai pengendara, kita
bisa mengikuti cahaya ini saat hari mulai malam dan berkabut.

Cahaya kuning

Warna kuning dalam paku jalan ditanam pada marka garis yang hampir sama dengan
paku jalan warna putih yaitu di tengah jalan sebagai pemisah lajur. Akan tetapi hal yang
membedakan adalah warna kuning juga ditanam di marka utuh dan putus-putus
sedangkan warna putih hanya pada marka utuh. Fungsi dari cahaya kuning ini adalah
mengantikan marka yang terkadang tidak terlalu terlihat saat hujan dan kabut datang

Cahaya Merah

Warna merah pada paku jalan digunakan untuk melengkapi marka membujur utuh pada
sisi kiri jalan sesuai arah lalu lintas. Artinya, warna ini berada pada sisi luar jalan raya.
Warna ini mempunyai fungsi yang berbeda dari lainnya. Fungsi dari warna ini adalah
memberi tahu bahwa pengendara dilarang melewati garis tersebut

Terimakasih sudah memberikan perhatian pada thread ane. Mohon maaf kalau ada
salah kata. Jangan lupa komen ya gan. Kalo mau nambahin atau memperbaiki boleh

kok

Sumber :
1
2

Yang bertanda tangan dibawah ini


:N a m a :
DONNYPANGABDI
A l a m a t : J l .
P e r i n t i s K e m e r d e k a a n R T . 6 / I I I N o . 6 3 B a r a b a i
K a b . H S T PerusahaanJ a b a t a n : D i r e k t u r C V .
B I N T A N G G E M I L A N G Memberi kuasa kepada
:N a m a :
CUNDRAGUNAWAN
A l a m a t : J l .
P e r i n t i s K e m e r d e k a a n R T . 6 / I I I N o . 6 3 B a r a b a i
K a b . H S T J a b a t a n : W a k i l D i r e k t u r C V .
B I N T A N G G E M I L A N G Y a n g s e l a n j u t n ya d i s e b u t s e b a g a i
Penerima KuasaPenerima Kuasa mewakili Pemberi Kuasa untuk
:1 . M e n a n d a t a n g a n i S u r a t
P e n a w a r a n 2 . M e n a n d a t a n g a n i
P a k t a I n t e g r i t a s 3 . M e n a n d a t a n g a n i
S u r a t P e r j a n j i a n 4 . M e n a n d a t a n g a n i
S u r a t S a n g g a h a n 5 . M e n a n d a t a n g a n i S u r a t
S a n g g a h a n B a n d i n g 6 . M e n a n d a t a n g a n i
J a m i n a n P e n a w a r a n 7 . M e n a n d a t a n g a n i
D o k u m e n P e n a w a r a n U n t u k P e k e r j a a n :
Pembangunan Jembatan dengan Konstruksi Baja (DAK Reguler SPP)P a k e t :
8 (delapan)Surat Kuasa ini tidak dapat dilimpahkan lagi kepada
o r a n g l a i n . Barabai, 16 September
2016P e n e r i m a
K u a s a P e
m b e r i K u
a s a
C U N D R A G U N
A W A N D O N N Y
P A N G A B D I
W a k i l
D i r e k t
u r D i r e
k t u r
SURATKUASA
Nomor: 050/SK-
PT.BRM/IX/2016 D a l a m h a l i n i b e r t i n d a k d a n a t a s n a m a
p e r u s a h a a n b e r d a s a r k a n A k t e P e r u b a h a n t e r a k h i
r N o . 3 9 . -
T a n g g a l 2 4 J a n u a r i 2 0 1 2 , O l e h N o t a r i s : R I T A N O
V I T A S A R I , S . H . , M . K n . , y a n g s e l a n j u t n y a d i s e b
u t Pemberi Kuasa

L
M
IJK
Y
S
U
G
B
H
O
.C
P
A
R
D
N
E
T
Intan Puspita Ratna Sari April 16, 2016 Tak ada komentar pada MENGUPAS TUNTAS GAMBAR TEKNIK

Dalam dunia teknik, sering kita mendengar istilah gambar teknik. Tapi tahukan anda pengertian
dan fungsi dari gambar teknik itu sendiri? Mengetahui pengertian serta fungsinya akan membuat
anda semakin matang dalam dunia teknik.

Gambar teknik sangatlah penting dalam dunia industri dan rekayasa proyek, baik itu arsitektur, sipil,
mekanikal, elektrikal, piping serta industri lainnya.

Image Source : http://www.livingspace.com.my/

Pengertian Gambar Teknik

Gambar teknik adalah gambar yang terdiri dari simbol, garis, dan tulisan tegak yang bersifat
tegas. Digunakan untuk memberikan penjelasan lengkap tentang suatu benda atau konstruksi,
berdasarkan ketentuan dan standard teknik yang sudah disepakati oleh badan standardisasi, baik
itu nasional maupun internasional. Gambar yang bersifat teknis yang berhubungan dengan teknik
disebut juga gambar teknik.

Di dunia ini badan standard yang sering kita dengar diantaranya JIS kependekan dari Japanese
Industrial Standard merupakan badan standardisasi jepang. ISO kependekan dari International
Organisation for Standardization merupakan badan standardisasi internasional yang bermarkas di
Geneva, Swiss. Standard iso merupakan standard yang paling banyak dipakai diseluruh dunia.
Dan masih banyak lagi badan standardisasi termasuk di indonesia ada SNI yaitu standard
nasional indonesia.

Dari pembuatannya gambar teknik bisa dibuat secara manual atau dengan alat. Gambar teknik
manual dibuat dengan tangan dan tanpa bantuan alat gambar. Alat untuk menggambar teknik
salah satunya meja gambar. Dan yang pasti adalah komputer dengan software AutoCAD.
Meja Gambar

Fungsi Gambar Teknik

Gambar terknik memiliki fungsi sebagai gambar yang memuat segala informasi teknis dari suatu benda.
Fungsinya dalah menerangkan data teknis yang mencakup diantaranya ukuran dan dimensi benda,
visualisasi suatu benda, material yang digunakan, alur proses suatu pekerjaan, dan lain sebagainya, yang
berfungsi memudahkan dalam proses pembuatan suatu benda, proyek, atau suatu konstruksi.

Gambar teknik biasanya ditemui pada gambar mekanikal, gambar elektrikal, arsitektur, gambar
piping dan instrumen, serta masih banyak lagi yang lainnya.

Contoh Gambar Teknik Dengan AutoCAD :


Gambar Struktur Bangunan

Gambar Sipil (Pondasi)


Gambar Mekanikal

Gambar Piping

Cara Membaca Gambar Teknik

Untuk memudahkan pemahaman gambar teknik, agar gambar lebih mudah dipahami biasanya
digunakan simbol, unit pengukuran, perspektif atau proyeksi, skala, serta layout halaman yang
standard.
Piping Instrument & Simbol

Membaca gambar teknik memang butuh keahlian khusus tidak semua orang dapat membaca dan
membayangkan wujud benda aslinya. Tapi membaca gambar teknik tidaklah sulit asalkan terus
berlatih dan mengasah pengetahuan teknik kita. Berikut adalah tips untuk mengasah kemampuan
membaca gambar teknik.

 Biasakan diri anda dengan gambar teknik. Seperti halnya belajar sepeda, anda akan bisa naik
sepeda jika anda sering berlatih dan mencoba. Walaupun tidak secara instant bahkan sering
terjatuh di awal – awalnya. Tapi lama kelamaan anda akan terbiasa. Begitu juga halnya dalam
membaca gambar teknik diperlukan latihan dan latihan. Diawal – awal anda akan merasa
kesulitan namun saat anda terbiasa anda akan mengerti serta mampu membaca gambar teknik.
 Pahamilah fungsi dan kegunaan benda dalam gambar. Gambar teknik selalu mencantumkan
nama dan judul gambarnya. Karena itu pahamilah fungsi dan kegunaan gambar tersebut. Jika
anda tau fungsi dan cara kerjanya akan sangat membantu dalam membaca gambar teknik.
 Pahami simbol dan istilah. Membaca gambar teknik tanpa memahami simbol dan istilah –
istilahnya sangatlah mustahil. Istilah dan simbol merupakan suatu ikatan yang mutlak dipahami
jika anda ingin membaca gambar teknik.
 Bertanyalah jika anda tidak mengerti. Jika anda tidak paham atau kurang mengerti gambar
teknik, alahkah baiknya anda bertanya kepada orang yang lebih pandai dan mengerti gambar
teknik. Hal ini akan mempersingkat waktu dan tepat sasaran. Bayangkan saja jika anda tidak
mengerti namun hanya diam, apa yang akan terjadi? Anda hanya akan berputar – putar pada
masalah yang sama tanpa menemukan jalan keluarnya. Jadi janganlah sunkan untuk bertanya,
karena malu bertanya sesat selamanya.

Dasar – Dasar Gambar Tenik

Untuk menggambar teknik anda perlu mengetahui dasar – dasar pembuatan gambar teknik. Hal ini
wajib karena gambar teknik bukan untuk konsumsi sendiri. Jadi syarat mutklak gambar teknik yaitu
gambar itu harus bisa dibaca oleh orang lain dan sesuai dengan standard.

Dasar gambar teknik yang akan kita bahasa diantaranya :

1. Standard ketebalan garis dan jenis-jenis garis beserta fungsinya


2. Standard ukuran kertas
3. Standard Perspektif atau Proyeksi
4. Standard Potongan gambar teknik
5. Standard Dimensi
6. Peralatan gambar teknik

1. Standard Ketebalan Garis Pada Gambar Teknik


Sebelum mulai menggambar perlu diketahui dan diingat, bahwa ketebalan garis gambar sangat penting
dan wajib diketahui. Disamping ketebalan garis jenis jenis garis yang digunakan di gambar teknik pun
beragam dan wajib diketahui. Fungsi ketebalan garis dan jenis garis pada gambar teknik adalah :

 Untuk memisahkan garis benda dengan garis dimensi


 Menegaskan mana garis benda dan mana garis maya
 Menegaskan garis potongan pada gambar
 Menegaskan scope pekerjaan dari suatu gambar

Pengaturan ketebalan garis serta jenis garis gambar yang sesuai akan membuat gambar anda terlihat
lebih profesional dan mudah dibaca. Untuk mengetahui macam ketebalan garis serta jenis-jenis garis
pada gambar teknik, silahkan lihat gambar dibawah :
Tabel Ketebalan Garis dan Jenis Garis Gambar Teknik

2. Standard Ukuran Kertas Gambar Teknik


Dalam gambar teknik tentunya ada ukuran standard untuk setiap kertas yang kita pakai. Menurut ISO
standard kertas A Series adalah sebagai berikut.
Ukuran Kertas Seri A Menurut Standard ISO

3. Standard Perspektif dan Proyeksi


Penempatan pandangan suatu gambar haruslah tepat. Dan menurut standard proyeksi yang sering
dipakai di gambar teknik adalah proyeksi amerika dan proyeksi eropa.

Coba perhatikan ilustrasi berikut ini :


Pandangan Proyeksi Amerika
Pandangan Proyeksi Eropa

Gambar diatas adalah contoh pandangan dalam proyeksi amerika dan proyeksi eropa. Untuk
pembahasan proyeksi yang lebih jelas, silahkan kunjungi link ini.

4. Standard Potongan Pada Gambar Teknik


Gambar detail serta potongan pada gambar teknik fungsinya untuk memberikan informasi yang lebih
jelas mengenai bentuk, kontur, serta tingkat kerumitan sebuah benda. Macam potongan pada gambar
teknik diantaranya :

a. Potongan Penuh
Potongan penuh atau istilah asingnya full section adalah potongan yang garis potongnya lurus
memotong keseluruhan benda.

Contoh Potongan Penuh

b. Potongan Separuh

Potongan separuh atau half section adalah potongan yang garis potongnya memotong separuh benda.
Dan separuh lainnya adalah gambar tampak luar dari benda itu sendiri.
Contoh Potongan Separuh

c. Potongan Meloncat

Potongan meloncat atau offset section adalah potongan yang dibuat sedemikian rupa dan dipotong
melompat untuk menjelaskan detail lain yang terlewatkan.

Contoh Potongan Meloncat

d. Potongan Sobekan
Potongan sobekan atau istilah asingnya break-out section merupakan potongan yang garis potongnya
menyobek sebagian dari benda.

Contoh Potongan Sobekan

5. Standard Dimensi
Standard dimensi yang digunakan di gambar teknik pada dasarnya tidak terpatok harus memakai huruf
apa. Tetapi kita tidak boleh seenaknya memakai huruf. Tentu huruf yang digunakan untuk dimensi
haruslah huruf yang jelas dan mudah dibaca. Coba lihat ilustrasi dibawah :
Dari 2 gambar diatas, kita bisa lihat dari perbedaan teks yang dipakai. Kalau dilihat dari unsur seni,
memang gambar atas lebih bagus. Tapi kalau ditunjau dari segi teknik gambar bawah lebih disarankan.
Karena fungsi dari gambar teknik ada menjelaskan informasi sedetail mungkin. Penggunaan huruf yang
aneh akan memperbesar kesalahan saat membaca gambar nanti. Saya sarankan untuk Teks di AutoCAD
gunakan huruf Romans, Technic, atau ISOCEPEUR saja agar mudah dibaca.

6. Peralatan Gambar Teknik


Dalam menggambar teknik tentunya dibutuhkan sejumlah alat bantu. Peralatan untuk membuat gambar
teknik diantaranya :

 Meja Gambar
 Penggaris Segitiga Lengkap 45 Derajat, 30×60 Derajat
 Rapido (Ukuran 0.1mm, 0.3mm dan 0.5mm)
 Pensil Mekanik
 Penggaris
 Mall Huruf (Ukuran 0.3mm dan 0.5mm)
 Kertas Gambar
 Karet Penghapus
 Jangka & Busur Derajat
 Kalkulator (Scientific)

Kesimpulan dan Penutup

Setelah membaca dan mencermati setiap poin diatas, diharapkan anda sudah mengerti sedikit tentang
gambar teknik. Tentunya setiap pengetahuan yang kita peroleh akan meminimalisir kesalahan dalam
menggambar.

Pelajarilah dan bertanya kepada orang yang lebih tau agar pengetahuan teknik anda terus meningkat.
Dan biasakan diri anda dengan membaca gambar teknik serta memahami fungsi dari benda itu sendiri,
agar anda bisa dan lancar membaca gambar teknik.

GAMTEK

Post navigation

← PENGUKURAN SITUASI KOORDINAT DASAR –DASAR GAMBAR TEKNIK →

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *
Komentar

Nama *

Surel *

Situs web

Search

CALENDER

Agustus 2018

S S R K J S M

« Mei

1 2 3 4 5

6 7 8 9 10 11 12

13 14 15 16 17 18 19

20 21 22 23 24 25 26

27 28 29 30 31

INPUSRASA

 Masuk log
 RSS Entri
 RSS Komentar
 WordPress.org
PENDAHULUAN
1. Pengertian
Badan Jalan adalah bagian jalan yang meliputi seluruh jalur lalu lintas, median, dan bahu jalan.

Bahu Jalan adalah bagian daerah manfaat jalan yang berdampingan dengan jalur lalu lintas
untuk menampung kendaraan yang berhenti, keperluan darurat, dan untuk pendukung samping
bagi lapis pondasi bawah, lapis pondasi, dan lapis permukaan.

Batas Median Jalan adalah bagian median selain jalur tepian, yang biasanya ditinggikan dengan
batu tepi jalan.

Daerah Manfaat Jalan (Damaja) adalah daerah yang meliputi seluruh badan jalan, saluran tepi
jalan dan ambang pengaman.

Daerah Milik Jalan (Damija) adalah daerah yang meliputi seluruh daerah manfaat jalan dan
daerah yang diperuntukkan bagi pelebaran jalan dan penambahan jalur lalu lintas di kemudian
hari serta kebutuhan ruangan untuk pengaman jalan.

Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) adalah lajur lahan yang berada di bawah pengawasan
penguasa jalan, ditujukan untuk penjagaan terhadap terhalangnya pandangan bebas pengemudi
kendaraan bermotor dan untuk pengamanan konstruksi jalan dalam hal ruang daerah milik jalan
tidak mencukupi.

Daerah Perkotaan adalah daerah kota yang sudah terbangun penuh atau areal pinggiran kota
yang masih jarang pembangunannya yang diperkirakan akan menjadi daerah yang terbangun
penuh dalam jangka waktu kira-kira 10 tahun mendatang

dengan proyek perumahan, industri, komersil, dan berupa pemanfaatan lahan lainnya yang bukan
untuk pertanian.

Ekivalen Mobil Penumpang (emp) adalah faktor dari berbagai kendaraan dibandingkan
terhadap mobil penumpang sehubungan dengan pengaruhnya kepada kecepatan mobil
penumpang dalam arus lalu lintas campuran.
Faktor-K adalah faktor berupa angka yang memperbandingkan volume lalu lintas per jam yang
didasarkan pada jam sibuk ke 30-200 dengan volume lalu lintas harian ratarata tahunan.

Faktor F adalah faktor variasi tingkat lalu lintas per 15 menit dalam satu jam, ditetapkan
berdasarkan perbandingan antara volume lalu lintas dalam satu jam dengan 4 kali tingkat volume
lalu lintas per 15 menit tertinggi.

Jalan Antar Kota adalah jalan jalan yang menghubungkan simpul-simpul jasa distribusi dengan
ciri-ciri tanpa perkembangan yang menerus pada sisi mana pun termasuk desa, rawa, hutan,
meskipun mungkin terdapat perkembangan permanen, misalnya rumah makan, pabrik, atau
perkampungan.

Jarak Pandang (Jr) adalah, jarak di sepanjang tengah-tengah suatu jalur dari mata pengemudi
ke suatu titik di muka pada garis yang sama yang dapat dilihat oleh pengemudi.

Jarak Pandang Mendahului (Jd), adalah jarak pandang yang dibutuhkan untuk dengan aman
melakukan gerakan menyiap dalam keadaan normal.

Jarak Pandang Henti (JP) adalah jarak pandang ke depan untuk berhenti dengan aman bagi
pengemudi yang cukup mahir dan waspada dalam keadaan biasa.
Jarak Pencapaian Kemiringan adalah panjang jalan yang dibutuhkan untuk mencapai
perubahan kemiringan melintang normal sampai dengan kemiringan penuh.

Jalur adalah suatu bagian pada lajur lalu lintas yang ditempuh oleh kendaraan bermotor (beroda
4 atau lebih) dalam satu jurusan.

Jalur Lalu lintas adalah bagian daerah manfaat jalan yang direncanakan khusus untuk lintasan
kendaraan bermotor (beroda 4 atau lebih).

KAJI adakah singkatan dari Kapasitas Jalan Indonesia.

Kapasitas Jalan adalah arus lalu lintas maksimum yang dapat dipertahankan pada suatu bagian
jalan pada kondisi tertentu, dinyatakan dalam satuan mobil penumpang per jam.
Kecepatan Rencana (VR) adalah kecepatan maksimum yang aman dan dapat dipertahankan di
sepanjang bagian tertentu pada jalan raya tersebut jika kondisi yang beragam tersebut
menguntungkan dan terjaga oleh keistimewaan perencanaan jalan.

Lajur adalah bagian pada jalur lalu lintas yang ditempuh oleh satu kendaraan bermotor beroda 4
atau lebih, dalam satu jurusan.

Lajur Pendakian adalah lajur tambahan pada bagian jalan yang mempunyai kelandaian dan
panjang tertentu untuk menampung kendaraan dengan kecepatan rendah terutama kendaraan
berat.

Mobil Penumpang adalah kendaraan beroda 4 jenis sedan atau van yang berfungsi sebagai alat
angkut penumpang dengan kapasitas tempat duduk 4 sampai 6.

Satuan Mobil Penumpang (SMP) adalah jumlah mobil penumpang yang digantikan tempatnya
oleh kendaraan jenis lain dalam kondisi jalan, lalu lintas dan pengawasan yang berlaku.

Strip Tepian adalah bagian datar median, yang perkerasannya dipasang dengan cara yang sama
seperti pada jalur lalu lintas dan diadakan untuk menjamin ruang bebas samping pada jalur.

Tingkat Arus Pelayanan (TAP) adalah kecepatan arus maksimum yang layak diperkirakan bagi
arus kendaraan yang melintasi suatu titik atau ruas yang seragam pada suatu jalur atau daerah
manfaat jalan selama jangka waktu yang ditetapkan dalam kondisi daerah manfaat jalan, lalu
lintas, pengawasan, dan lingkungan yang berlaku dinyatakan dalam banyaknya kendaraan per
jam.

Volume Jam Rencana (VJR) adalah prakiraan volume lalu lintas per jam pada jam sibuk tahun
rencana, dinyatakan dalam satuan SMP/jam, dihitung dari perkalian VLHR dengan faktor K.

Volume Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) adalah volume total yang melintasi suatu titik
atau ruas pada fasilitas jalan untuk kedua jurusan, selama satu tahun dibagi oleh jumlah hari
dalam satu tahun.
Volume Lalu lintas Harian Rencana (VLHR) adalah taksiran atau prakiraan volume lalu lintas
harian untuk masa yang akan datang pada bagian jalan tertentu.

KETENTUAN-KETENTUAN

KLASIFIKASI JALAN
Klasifikasi menurut fungsi jalan
Klasifikasi menurut fungsi jalan terbagi atas:
1) Jalan Arteri
2) Jalan Kolektor
3) Jalan Lokal
Jalan Arteri: Jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan jarak jauh,
kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien,
Jalan Kolektor: Jalan yang melayani angkutan pengumpul/pembagi dengan ciri-ciri perjalanan
jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi,
Jalan Lokal: Jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat,
kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
Klasifikasi menurut kelas jalan
1) Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan jalan untuk menerima beban lalu
lintas, dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST) dalam satuan ton.
2) Klasifikasi menurut kelas jalan dan ketentuannya serta kaitannya dengan kasifikasi menurut
fungsi jalan dapat dilihat dalam Tabel 11.1 (Pasal 11, PP. No.43/1993).

Klasifikasi menurut medan jalan

1) Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar kemiringan medan yang diukur
tegak lurus garis kontur.
2) Klasifikasi menurut medan jalan untuk perencanaan geometrik dapat dilihat dalam.
3) Keseragaman kondisi medan yang diproyeksikan harus mempertimbangkan keseragaman kondisi
medan menurut rencana trase jalan dengan mengabaikan perubahan-perubahan pada bagian kecil
dari segmen rencana jalan tersebut.

Klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan


Klasifikasi jalan menurut wewenang pembinaannya sesuai PP. No.26/1985 adalah jalan
Nasional, Jalan Propinsi, Jalan Kabupaten/Kotamadya, Jalan Desa, dan Jalan Khusus.

KRITERIA PERENCANAAN
Kendaraan Rencana
1) Kendaraan Rencana adalah kendaraan yang dimensi dan radius putarnya dipakai sebagai acuan
dalam perencanaan geometrik.
2) Kendaraan Rencana dikelompokkan ke dalam 3 kategori:
(1) Kendaraan Kecil, diwakili oleh mobil penumpang;
(2) Kendaraan Sedang, diwakili oleh truk 3 as tandem atau oleh bus besar 2 as;

(3) Kendaraan Besar, diwakili oleh truk-semi-trailer.


3) Dimensi dasar untuk masing-masing kategori Kendaraan Rencana ditunjukkan dalam Tabel 11.3.
Gambar 11.1 s.d. Gambar 11.3 menampilkan sketsa dimensi kendaraan rencana tersebut.

Satuan Mobil Penumpang


1) SMP adalah angka satuan kendaraan dalam hal kapasitas jalan, di mana mobil penumpang
ditetapkan memiliki satu SMP.
2) SMP untuk jenis jenis kendaraan dan kondisi medan lainnya dapat dilihat dalam Tabel II.4.
Detail nilai SMP dapat dilihat pada buku Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI)
No.036/TBM/1997.

Volume Lalu Lintas Rencana


1) Volume Lalu Lintas Harian Rencana (VLHR) adalah prakiraan volume lalu lintas harian pada
akhir tahun rencana lalu lintas dinyatakan dalam SMP/hari.
2) Volume Jam Rencana (VJR) adalah prakiraan volume lalu lintas pada jam sibuk tahun rencana
lalu lintas, dinyatakan dalam SMP/jam, dihitung dengan rumus:

VJR = VLRH x F/K.......(1)

di mana K (disebut faktor K), adalah faktor volume lalu lintas jam sibuk, dan F (disebut faktor
F), adalah faktor variasi tingkat lalu lintas perseperempat jam dalam satu jam.
3) VJR digunakan untuk menghitung jumlah lajur jalan dan fasilitas lalu lintas lainnya yang
diperlukan.
4) Tabel II.5 menyajikan faktor-K dan faktor-F yang sesuai dengan VLHR-nya.
Kecepatan Rencana
1) Kecepatan rencana, VR, pada suatu ruas jalan adalah kecepatan yang dipilih sebagaidasar
perencanaan geometrik jalan yang memungkinkan kendaraan-kendaraan bergerakdengan aman
dan nyaman dalam kondisi cuaca yang cerah, lalu lintas yang lengang,dan pengaruh samping
jalan yang tidak berarti.
2) VR untuk masing masing fungsi jalan dapat ditetapkan dari Tabel II.6.
3) Untuk kondisi medan yang sulit, VR suatu segmen jalan dapat diturunkan dengan syarat bahwa
penurunan tersebut tidak lebih dari 20 km/jam.

BAGIAN BAGIAN JALAN

Daerah Manfaat Jalan


Daerah Manfaat Jalan (DAMAJA) dibatasi oleh :
a) lebar antara batas ambang pengaman konstruksi jalan di kedua sisi jalan,
b) tinggi 5 meter di atas permukaan perkerasan pada sumbu jalan, dan
c) kedalaman ruang bebas 1,5 meter di bawah muka jalan.

Daerah Milik Jalan


Ruang Daerah Milik Jalan (Damija) dibatasi oleh lebar yang sama dengan Damaja ditambah
ambang pengaman konstruksi jalan dengan tinggi 5 meter dan kedalaman 1.5 meter.
Daerah Pengawasan Jalan
1) Ruang Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) adalah ruang sepanjang jalan di luar Damaja yang
dibatasi oleh tinggi dan lebar tertentu, diukur dari sumbu jalan sebagai berikut :
(1) jalan Arteri minimum 20 meter,
(2) jalan Kolektor minimum 15 meter,
(3) jalan Lokal minimum 10 meter.
2) Untuk keselamatan pemakai jalan, Dawasja di daerah tikungan ditentukan oleh jarak pandang
bebas.

PENAMPANG MELINTANG
Komposisi Penampang Melintang
Penampang melintang jalan terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut :
1) Jalur lalu lintas;
2) Median dan jalur tepian (kalau ada);
3) Bahu;
4) Jalur pejalan kaki;
5) Selokan; dan
6) Lereng.

Jalur Lalu Lintas


1) Jalur lalu lintas adalah bagian jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas kendaraan yang secara
fisik berupa perkerasan jalan.
Batas jalur lalu lintas dapat berupa:
(1) Median;
(2) Bahu;
(3) Trotoar;
(4) Pulau jalan; dan
(5) Separator.
2) Jalur lalu lintas dapat terdiri atas beberapa lajur.

3) Jalur lalu lintas dapat terdiri atas beberapa tipe (lihat Gambar 11.11 s.d. Gambar 11.13)
(1) 1 jalur-2 lajur-2 arah (2/2 TB)
(2) I jalur-2 lajur-l arah (2/1 TB)
(3) 2 jalur-4 1ajur-2 arah (4/2 B)
(4) 2 jalur-n lajur-2 arah (n12 B), di mana n = jumlah lajur.
Keterangan: TB = tidak terbagi.
B = terbagi
4) Lebar Jalur
(1) Lebar jalur sangat ditentukan oleh jumlah dan lebar lajur peruntukannya. Tabel II.6 menunjukkan
lebar jalur dan bahu jalan sesuai VLHR-nya.
(2) Lebar jalur minimum adalah 4.5 meter, memungkinkan 2 kendaraan kecil saling berpapasan.
Papasan dua kendaraan besar yang terjadi sewaktu-waktu dapat menggunakan bahu jalan.

Lajur
1) Lajur adalah bagian jalur lalu lintas yang memanjang, dibatasi oleh marka lajur jalan, memiliki
lebar yang cukup untuk dilewati suatu kendaraan bermotor sesuai kendaraan rencana.
2) Lebar lajur tergantung pada kecepatan dan kendaraan rencana, yang dalam hal ini dinyatakan
dengan fungsi dan kelas jalan seperti ditetapkan dalam Tabel 11.8.
3) Jumlah lajur ditetapkan dengan mengacu kepada MKJI berdasarkan tingkat kinerja yang
direncanakan, di mana untuk suatu ruas jalan dinyatakan oleh nilai rasio antara volume terhadap
kapasitas yang nilainya tidak lebih dari 0.80.
4) Untuk kelancaran drainase permukaan, lajur lalu lintas pads alinemen lurus memerlukan
kemiringan melintang normal sebagai berikut (lihat Gambar 11.14):
(1) 2-3% untuk perkerasan aspal dan perkerasan beton;
(2) 4-5% untuk perkerasan kerikil

Bahu jalan
1) Bahu Jalan adalah bagian jalan yang terletak di tepi jalur lalu lintas dan harus diperkeras (lihat
Gambar 11.15).
2) Fungsi bahu jalan adalah sebagai berikut:
(1) lajur lalu lintas darurat, tempat berhenti sementara, dan atau tempat parkir darurat;
(2) ruang bebas samping bagi lalu lintas; dan
(3) penyangga sampai untuk kestabilan perkerasan jalur lalu lintas.
3) Kemiringan bahu jalan normal antara 3 - 5%.
4) lebar bahu jalan dapat dilihat dalam Tabel 11.7.
Median
1) Median adalah bagian bangunan jalan yang secara fisik memisahkan dua jalur lalu lintas yang
berlawanan arah.
2) Fungsi median adalah untuk:
(1) memisahkan dua aliran lalu lintas yang berlawanan arah;
(2) uang lapak tunggu penyeberang jalan;
(3) penempatan fasilitas jalan;
(4) tempat prasarana kerja sementara;
(5) penghijauan;
(6) tempat berhenti darurat (jika cukup luas);
(7) cadangan lajur (jika cukup luas); dan
(8) mengurangi silau dari sinar lampu kendaraan dari arah yang berlawanan.
3) Jalan 2 arah dengan 4 lajur atau lebih perlu dilengkapi median.
4) Median dapat dibedakan atas (lihat Gambar 11.16):
(1) Median direndahkan, terdiri atas jalur tepian dan bangunan pemisah jalur yang direndahkan.
(2) Median ditinggikan, terdiri atas jalur tepian dan bangunan pemisah jalur yang ditinggikan.
5) Lebar minimum median terdiri atas jalur tepian selebar 0,25-0,50 meter dan bangunan pemisah
jalur, ditetapkan dapat dilihat dalam Tabel 11.9.
6) Perencanaan median yang lebih rinci mengacu pada Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan
Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga,Maret 1992.

Fasilitas Pejalan Kaki


1) Fasilitas pejalan kaki berfungsi memisahkan pejalan kaki dari jalur lalu lintas kendaraan guna
menjamin keselamatan pejalan kaki dan kelancaran lalu lintas.
2) Jika fasilitas pejalan kaki diperlukan maka perencanaannya mengacu kepada StandarPerencanaan
Geometrik untuk Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Maret 1992.
JARAK PANDANG
Jarak Pandang adalah suatu jarak yang diperlukan oleh seorang pengemudi pada saat mengemudi
sedemikian sehingga jika pengemudi melihat suatu halangan yang membahayakan, pengemudi
dapat melakukan sesuatu untuk menghidari bahaya tersebut dengan aman. Dibedakan dua Jarak
Pandang, yaitu Jarak Pandang Henti (Jh) dan Jarak Pandang Mendahului (Jd).
Jarak Pandang Henti
1) Jh adalah jarak minimum yang diperlukan oleh setiap pengemudi untuk menghentikan
kendaraannya dengan aman begitu melihat adanya halangan di depan. Setiap titik di sepanjang
jalan harus memenuhi Jh.
2) Jh diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudi adalah 105 cm dan tinggi halangan
15 cm diukur dari permukaan jalan.
3) Jh terdiri atas 2 elemen jarak, yaitu:
(1) jarak tanggap (Jht) adalah jarak yang ditempuh oleh kendaraan sejak pengemudi melihat suatu
halangan yang menyebabkan ia harus berhenti sampai saat pengemudi menginjak rem; dan
(2) jarak pengereman (Jh,) adalah jarak yang dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan sejak
pengemudi menginjak rem sampai kendaraan berhenti.
4) Jh’ dalam satuan meter, dapat dihitung dengan rumus:

di mana :
VR = kecepatan rencana (km/jam)
T = waktu tanggap, ditetapkan 2,5 detik
g = percepatan gravitasi, ditetapkan 9,8 m/det2
f = koefisien gesek memanjang perkerasan jalan aspal, ditetapkan 0,35-0,55.
5) Tabel 11.10 berisi Jh minimum yang dihitung berdasarkan persamaan (11.3) dengan pembulatan-
pembulatan untuk berbagai VR.

Jarak Pandang Mendahului


1) Jd adalah jarak yang memungkinkan suatu kendaraan mendahului kendaraan lain di depannya
dengan aman sampai kendaraan tersebut kembali ke lajur semula.
2) Jd diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudi adalah 105 cm dan tinggi halangan
adalah 105 cm.
3) Jd, dalam satuan meter ditentukan sebagai berikut:
Jd=dl+d2+d3+d4 (1L4)
dimana :
d1 = jarak yang ditempuh selama waktu tanggap (m),
d2 = jarak yang ditempuh selama mendahului sampai dengan kembali ke lajursemula (m),
d3 = jarak antara kendaraan yang mendahului dengan kendaraan yang datang dari arah berlawanan
setelah proses mendahului selesai (m),

d4 = jarak yang ditempuh oleh kendaraan yang datang dari arah berlawanan, yang besarnya diambil
sama dengan 213 d2 (m).
4) Jd yang sesuai dengan VR ditetapkan dari Tabel II.11.

Daerah Bebas Samping Di Tikungan

1) Daerah bebas samping di tikungan adalah ruang untuk menjamin kebebasan pandang di tikungan
sehingga Jh dipenuhi.
2) Daerah bebas samping dimaksudkan untuk memberikan kemudahan pandangan di tikungan
dengan membebaskan obyek-obyek penghalang sejauh E (m), diukur dari garis tengah lajur
dalam sampai obyek penghalang pandangan sehingga persyaratan Jh dipenuhi

ALINEMEN HORISONTAL

Umum
1) Alinemen horisontal terdiri atas bagian lurus dan bagian lengkung (disebut juga tikungan).
2) Perencanaan geometri pada bagian lengkung dimaksudkan untuk mengimbangi gaya entrifugal
yang diterima oleh kendaraan yang berjalan pada kecepatan VR.
3) Untuk keselamatan pemakai jalan, jarak pandang dan daerah bebas samping jalan harus
diperhitungkan.

Panjang Bagian Lurus


1) Dengan mempertimbangkan faktor keselamatan pemakai jalan, ditinjau dari segi kelelahan
pengemudi, maka panjang maksimum bagian jalan yang lurus harus ditempuh dalam waktu tidak
lebih dari 2,5 menit (sesuai VR).
2) Panjang bagian lurus dapat ditetapkan dari Tabel 11.15.

Tikungan
1) Bentuk bagian lengkung dapat berupa:
(1) Spiral-Circle-Spiral (SCS);

(2) full Circle (fC); dan


(3) Spiral-Spiral (SS).
2) Superelevasi
(1) Superelevasi adalah suatu kemiringan melintang di tikungan yang berfungsi mengimbangi gaya
sentrifugal yang diterima kendaraan pada saat berjalan melalui tikungan pads kecepatan VR.
(2) Nilai superelevasi maksimum ditetapkan 10%.
3) Jari-Jari Tikungan
(1) Jari - jari tikungan minimum (Rmin) ditetapkan sebagai berikut:

di mana :
Rmin = Jari jari tikungan minimum (m),
VR = Kecepatan Rencana (km/j),
emax = Superelevasi maximum (%),
F = Koefisien gesek, untuk perkerasan aspal f=0,14-0,24

(2) Tabel II. 16. dapat dipakai untuk menetapkan Rmin.

4) Lengkung peralihan
(1) Lengkung peralihan adalah lengkung yang disisipkan di antara bagian lurus jalan dan bagian
lengkung jalan berjari jari tetap R; berfungsi mengantisipasi perubahan alinemen jalan dari
bentuk lurus (R tak terhingga) sampai bagian lengkung jalan berjari jari tetap R sehingga gaya
sentrifugal yang bekerja pada kendaraan saat berjalan di tikungan berubah secara berangsur-
angsur, baik ketika kendaraan mendekati tikungan maupun meninggalkan tikungan.
(2) Bentuk lengkung peralihan dapat berupa parabola atau spiral (clothoid). Dalam tata cara ini
digunakan bentuk spiral.
(3) Panjang lengkung peralihan (L) ditetapkan atas pertimbangan bahwa:
a) lama waktu perjalanan di lengkung peralihan perlu dibatasi untuk menghindarkan kesan
perubahan alinemen yang mendadak, ditetapkan 3 detik (pada kecepatan VR);
b) gaya sentrifugal yang bekerja pada kendaraan dapat diantisipasi berangsur angsur pada lengkung
peralihan dengan aman; dan
c) tingkat perubahan kelandaian melintang jalan (re) dari bentuk kelandaian normal ke kelandaian
superelevasi penuh tidak boleh melampaui re-max yang ditetapkan sebagai berikut:

untuk VR ≤ 70 km/jam, re-max =0.035 m/m/detik,


untuk VR ≥ 80km/jam, re-maz =0.025 m/m/detik.

5) Pencapaian superelevasi
(1) Superelevasi dicapai secara bertahap dari kemiringan melintang normal pada bagian jalan yang
lurus sampai ke kemiringan penuh (superelevasi) pada bagian lengkung.
(2) Pada tikungan SCS, pencapaian superelevasi dilakukan secara linear (lihat Gambar II.21), diawali
dari bentuk normal sampai awal lengkung peralihan (TS) yang berbentuk pada bagian lurus
jalan, 'lalu dilanjutkan sampai superelevasi penuh pada akhir bagian lengkung peralihan (SC).
(3) Pada tikungan fC, pencapaian superelevasi dilakukan secara linear (lihat Gambar 11.22), diawali
dari bagian lurus sepanjang 213 LS sampai dengan bagian lingkaran penuh sepanjang 113 bagian
panjang LS.
(4) Pada tikungan S-S, pencapaian superelevasi seluruhnya dilakukan pada bagian spira

ALINEMEN VERTIKAL

Umum
1) Alinemen vertikal terdiri atas bagian landai vertikal dan bagian lengkung vertikal.
2) Ditinjau dari titik awal perencanaan, bagian landai vertikal dapat berupa landai positif (tanjakan),
atau landai negatif (turunan), atau landai nol (datar)
3) Bagian lengkung vertikal dapat berupa lengkung cekung atau lengkung cembung.
LandaiMaksimum
1) Kelandaian maksimum dimaksudkan untuk memungkinkan kendaraan bergerak terus tanpa
kehilangan kecepatan yang berarti.
2) Kelandaian maksimum didasarkan pada kecepatan truk yang bermuatan penuh yang mampu
bergerak dengan penurunan kecepatan tidak lebih dari separuh kecepatan semula tanpa harus
menggunakan gigi rendah.
3) Kelandaian maksimum untuk berbagai VR ditetapkan dapat dilihat dalam Tabel II.21.
4) Panjang kritis yaitu panjang landai maksimum yang harus disediakan agar kendaraan dapat
mempertahankan kecepatannya sedemikian sehingga penurunan kecepatan tidak lebih dari
separuh VR. Lama perjalanan tersebut ditetapkan tidak lebih dari satu menit.
5) Panjang kritis dapat ditetapkan dari Tabel II.22.

Lengkung Vertikal
1) Lengkung vertikal harus disediakan pada setiap lokasi yang mengalami perubahan kelandaian
dengan tujuan
(1) mengurangi goncangan akibat perubahan kelandaian; dan
(2) menyediakan jarak pandang henti.
2) Lengkung vertikal dalam tata cara ini ditetapkan berbentuk parabola sederhana,
(a) jika jarak pandang henti lebih kecil dari panjang lengkung vertikal cembung, panjangnya
ditetapkan dengan rumus:

(b) jika jarak pandang henti lebih besar dari panjang lengkung vertikal cekung, panjangnya
ditetapkan dengan rumus:
3) Panjang minimum lengkung vertikal ditentukan dengan rumus:

di mana :
L = Panjang lengkung vertikal (m),
A = Perbedaan grade (m),
Jh = Jarak pandangan henti (m),
Y = Faktor penampilan kenyamanan, didasarkan pada tinggi obyek 10 cm dan tinggi mata 120 cm.
4) Y dipengaruhi oleh jarak pandang di malam hari, kenyamanan, dan penampilan. Y ditentukan
sesuai Tabel II.23.

5) Panjang lengkung vertikal bisa ditentukan langsung sesuai Tabel II.24 vang didasarkan pada
penampilan, kenyamanan, dan jarak pandang. Untuk jelasnya lihat Gambar II.27 dan Gambar
II.28.

maaf rumus dan gambar tidak bisa di lampirkan.....