Anda di halaman 1dari 116

B

MENGAPA PANCASILA MENJADI


IDEOLOGI NEGARA ?

1
BAB IV

MENGAPA PANCASILA MENJADI IDEOLOGI NEGARA ?

1. Bagaimana Konsep,pengertian Karakter tentang ideologi besar dunia,


khususnya tentang ideologi tertutup dan ideologi terbuka.

Konsep Ideologi

1) PENGERTIAN IDEOLOGI
Ideologi berasal dari bahasa Yunani dan merupakan gabungan dari dua kata
yaitu edios yang artinya gagasan atau konsep dan logos yang berarti ilmu.
Pengertian ideology secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan
dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis. Dalam arti luas, ideology
adalah pedoman normative yang dipakai oleh seluruh kelompok sebagai dasar
cita-cita, nila dasar dan keyakinan yang dijunjung tinggi.
Ideologi merupakan cerminan cara berfikir orang atau masyarakat yang
sekaligus membentuk orang atau masyarakat itu menuju cita-cita yang mereka
inginkan. Ideologi merupakan sesuatu yang dihayati dan diresapi menjadi
suatu keyakinan. Ideologi merupakan suatu pilihan yang jelas membawa
komitmen (keterikatan) untuk mewujudkannya. Semakin mendalam kesadaran
ideologis seseorang, maka akan semakin tinggi pula komitmennya untuk
melaksanakannya.
secara etimologis (asal-usul bahasa) ideologi berarti ilmu tentang gagasan-
gagasan atau ilmu yang mempelajari asal-usul ide. Ada pula yang menyatakan
ideologi sebagai seperangkat gagasan dasar tentang kehidupan dan
masyarakat, misalnya pendapat yang bersifat agama ataupun politik.
Istilah ideologi terutama dilekatkan dengan aspek politik pemerintahan atau
gerakan politik suatu negara. Di Indonesia misalnya, Pancasila diakui sebagai
ideologi negara. Pancasila ini terdapat di dalam konstitusi (UUD 1945),

2
tepatnya di dalam Pembukaan UUD 1945. Pancasila, sebab itu, menjadi cara
pandang bangsa Indonesia, baik terhadap diri, lingkungan, negara, maupun
dunia internasional. Sering kali, jika terjadi konflik antarkelompok di dalam
masyarakat, Pancasila dijadikan rujukan untuk memperoleh titik temu.
Sosialisasi Pancasila sebagai ideologi negara secara aktif dilakukan
pemerintah melalui aneka cara.

2) FUNGSI IDEOLOGI
Setelah mengetahui pengertian ideologi, kita juga harus mengetahui fungsi
dari ideologi tersebut. Soerjanto Poespowardojo mengemukakan fungsi
ideologi sebagai berikut:
1.Struktur kognitif, yakni keseluruhan pengetahuan yang dapat merupakan
landasan untuk memahami kejadian dalam keadaan alam sekitarnya.
2.Orientasi dasar, dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta
menunjukkan tujuan dalam kehidupan masyarakat.
3.Norma-norma yang menjadi pedoman dan pegangan bagi seseorang.
4.Bekal dan jalan bagi seseorang untuk menentukan identitasnya.
5.Kemampuan yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang untuk
menjalankan kegiatan dan mencapai tujuan.
6.Pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati,
serta mempolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma
yang terkandung didalamnya.
Kesimpulan yang bisa ditarik adalah sekalipun pengertian ideologi bervariasi,
tetapi jika dicermati sesungguhnya terkandung inti-inti kesamaan. Kesamaan-
kesamaannya, yakni ideologi adalah prinsip, dasar, arah, dan tujuan dalam
kehidupan. Selain mengetahui pengertian ideologi, kita juga harus mengetahui
fungsi ideologi. Ideologi berfungsi mendasari kehidupan masyarakat sehingga
mampu menjadi landasan, pedoman, dan bekal serta jalan bagi suatu
kelompok, masyarakat, bangsa, dan negara.

3
3) MACAM-MACAM IDEOLOGI
Ada beberapa jenis ideologi yang terdapat di dunia saat ini, yaitu:
1. Liberalisme
Ideologi ini mengajarkan kebebasan yang mutlak bagi setiap individu.
Kebebasan ini didasarkan keyakinan bahwa semua manusia pada dasarnya
adalah baik. Schapiro menjelaskan serangkaian prinsip dari Liberalisme yaitu
: (1) keyakinan mengenai pentingnya kemerdekaan untuk mencapai setiap
tujuan yang diharapkan; (2) semua manusia memiliki hak-hak yang sama di
depan hukum yang dimaksudkan bagi kemerdekaan sipil; (3) tujuan utama
dari setiap pemerintahan adalah mempertahankan kebebasan, persamaan, dan
keaman dari semua warga negara; (4) adanya kebebasan berpikir dan
berekspresi; (5) liberalisme yakin akan adanya kebenaran yang obyektif, bisa
ditemukan melalui kegiatan berpikir menurut metode riset, eksperimen, dan
verifikasi; (6) agama merupakan hal yang harus ditoleransi; (7) liberalisme
berpandangan dinamis mengenai dunia, dan; (8) kaum liberal adalah mereka
yang idealis (hendak mencapai tujuan) melalui praktek-praktek yang
dipertimbangkan.
2. Konservatisme
Ideologi ini mengajarkan tentang manusia yang harus memelihara kondisi
yang sudah ada serta menciptakan keadilan.
3. Komunisme
Ideologi ini mnegajarkan bahwa semua manusia adalah sama dan tidak ada
hak pribadi, karena semua faktor ekonomi dan produksi dikuasai negara.
4. Marxisme
Ideologi ini mengajarkan dasar-dasar komunisme.
5. Feminisme
Ideologi ini mengajarkan untuk menciptakan persamaan hak antara pria dan
wanita dengan cara pemerataan dan kesetaraan gender.
6. Sosialisme
Ideologi ini mengajarkan bahwa manusia harus saling membantu, karena

4
manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.
7. Fasisme
Ideologi ini mengajarkan bahwa peran negara adalah mutlak karena negara
diyakini sangat diperlukan dalam upaya menciptakan tatanan kehidupan
dalam masyarakat.
8. Kapitalisme
Ideologi ini mengajarkan bahwa individu berhak untuk mendapatkan hak
dalam bidang perekonomian. Negara tidak boleh terlibat dalam semua
aktivitas perekonomian yang dilakukan individu.
Kapitalisme terdiri atas 3 varian, yaitu Kapitalisme Pedagang, Kapitalisme
Produksi, dan Kapitalisme Finansial. Kapitalisme Pedagang (Merchant
Capitalism) termasuk jenis Kapitalisme yang paling tua. Kapitalis (pelaku
permodalan) menginvestasikan hartanya untuk mencari barang yang langka
dan memiliki keuntungan jika diperdagangkan. Investasi tidak harus berupa
uang, melainkan dapat termasuk kendaraan, barang kebutuhan primer, barang
berharga, dan sejenisnya. Kapitalisme Pedagang menuntut pembukaan pasar
yang nantinya akan dilakukan monopoli atasnya.
Kapitalisme Produksi (Production Capitalism) dilakukan oleh Kapitalis yang
memiliki alat dan cara produksi. Bentuk yang paling dikenal adalah “pabrik.”
Pabrik digunakan untuk memproduksi barang tertentu, untuk kemudian
dipasarkan. Untuk memproduksi barang, pemilik pabrik membutuhkan
pekerja (labor). Labor ini sekaligus juga konsumen dari barang yang mereka
produksi. Barang yang dihasilkan ditukar dengan uang di “pasar” (market).
Keuntungan dari penjualan digunakan Kapitalis untuk diinvestasikan ke
dalam pabriknya, ataupun pada kegiatan lain. Uang, cara produksi, alat
produksi, pasar, profit, dan uang, adalah konsep-konsep kunci untuk
menganalisis Kapitalisme Produksi ini.
Kapitalisme Keuangan (Financial Capitalism) merupakan bentuk terbaru dari
Kapitalisme. Dalam Kapitalisme Keuangan, modal diinvestasikan bukan ke
dalam bentuk barang, tenaga kerja, atau pabrik. Uang diinvestasikan ke dalam

5
sellisih uang. Komoditas produksi Kapitalisme Keuangan adalah saham dan
nilai tukar uang (valuta). Pasar dalam kegiatan Kapitalisme Keuangan adalah
“bursa efek.” Kapitalisme Keuangan inilah yang kerap menciptakan devaluasi
(penurunan) nilai mata uang dunia.
9. Demokrasi
Ideologi ini mnegajarkan bahwa kedaulatan sepenuhnya ada di tangan rakyat.
10. Neoliberalisme
Ideologi ini mengajarkan untuk menciptakan kembali kebebasan individu
yang dikatikan dengan terjadinya pasar bebas di dunia internasional.

Ideologi terbagi menjadi dua, yaitu ideologi terbuka dan ideologi tertutup.
Ciri-ciri ideologi terbuka dan ideologi tertutup adalah :
- Ideologi Terbuka
1. Merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat.
2. Berupa nilai-nilai dan cita-cita yang berasal dari dalam masyarakat sendiri.
3. Hasil musyawarah dan konsensus masyarakat.
4. Bersifat dinamis dan reformis.
5. Ciri khas ideologi terbuka adalah cita-cita dasar yang ingin diwujudkan
masyarakat bukan berasal dar luar masyarakat atau dipaksakan dari elit
penguasa tertentu.
6. Terbuka kepada perubahan-perubahan yang datang dari luar, tetapi
memiliki kebebasan dan integritas untuk menentukan manakah nilai-nilai dari
luar yang mempengaruhi dan mengubah nilai-nilai dasar yang selama ini
sudah ada dan manakah yang tidak boleh berubah.
- Ideologi Tertutup
1. Bukan merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat.
2. Bukan berupa nilai dan cita-cita.
3. Kepercayaan dan kesetiaan ideologis yang kaku.
4. Terdiri atas tuntutan konkret dan operasional yang diajukan secara mutlak.

6
4) KETERKAITAN IDEOLOGI DAN AWK
Ideologi juga konsep yang sentral dalam analisis wacana yang bersifat kritis.
Hal ini karena teks, percakapan , dan lainnya adalah bentuk dari praktik
ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu. Salah satu strategi utamanya
dengan membuat kesadaran kepada khalayak bahwa dominasi itu diterima
secara taken for granted. Wacana dalam pendekatan semacam ini dipandang
sebagai medium melalui mana kelompok yang dominan mempersuasi yang
mengkomunikasikan kepada khalayak produksi kekuasaan dan dominasi yang
mereka miliki,sehingga tampak absah dan benar.
Kedua,ideologi meskipun bersifat sosial ia digunakan secara internal diantara
anggota kelompok atau komunitas.Oleh karena itu,ideologi tidak hanya
menggunakan fungsi kordinatif dan kohesi tetapi juga membentuk identitas
diri kelompok,membedakan dengan kelompok lain. Ideologi ini bersifat
umum,abstrak,dan nilai yang terbagi antara anggota kelompok menyediakan
dasar bagaimana masalah harus dilihat. Dengan pandangan semacam
ini,wacana lalu tidak dipahami sebagai sesuatu yang netral dan berlangsung
secara alamiah,karena dalam setiap wacana selalu terkandung ideologi untuk
mendominasi dan berebut pengaruh. Oleh karena itu,analisis wacana tidak
bisa menempatkan bahasa secara tertutup, tetapi harus melihat konteks
bagaimana,ideologi dari kelompok kelompok yang ada tersebut berperan
dalam memebentuk dalam wacana. Misalnya dalam teks berita dapat
dianalisis apakah teks yang muncul tersebut pencerminan dari idiologi
seseorang, apakah dia feminis,antifeminis,kapitalis,sosialis,dan sebagainya.

Karakteristik Ideologi

Ideologi Terbuka

Ideologi terbuka merupakan salah satu jenis ideologi secara umum yang memiliki
keterbukaan dalam pelaksanaan maupun pemaknaannya. Pelaksanaan ideologi
terbuka dapat dicontohkan dari negara Indonesia yang menerapkan nilai-nilai

7
Pancasila sebagai ideologi terbuka. Dalam pelaksanaan maupun pemaknaannya,
ideologi terbuka mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Berupa Cerminan Kekayaan Budaya Masyarakat

Ciri-ciri ideologi terbuka merupakan cakupan umum dari budaya-budaya yang


berkembang di dalam masyarakat. Budaya ini kemudian diramu dan disarikan hingga
muncul pokok-pokok umum yang mewakili keberagaman budaya yang tersebar di
berbagai wilayah dalam suatu negara. Di Indonesia sendiri, ideologi yang diramukan
dalam Pancasila merupakan intisari dari keberagaman budaya yang ada di Indonesia.
Peramuan budaya dalam ideologi Pancasila merupakan salah cara melestarikan
budaya.

Tidak bisa dipungkiri, ideologi merupakan cerminan dari budaya masyarakat yang
ada di suatu wilayah negara. Ideologi yang berkembang mewakili kehidupan
masyarakat dalam berbudaya dan dipandang sebagai bentuk kekayaaan budaya yang
dimiliki oleh suatu wilayah negara. Sebagai cerminan budaya masyarakat, ideologi
terbuka juga mewakili norma dalam masyarakat secara umum.

2. Berasal Dari Masyakarat

Ideologi yang terbuka merupakan cerminan dari budaya masyarakat. Hal ini berarti
bahwa ideologi terbuka berasal dari masyarakat. Ideologi terbuka dibentuk dari ide-
ide atau gagasan masyarakat sebagai bentuk falsafah atau nilai-nilai luhur yang
mewakili kondisi dan situasi masyarakat pada suatu negara. Tidak bisa dipungkiri,
ide-ide atau gagasan yang muncul dari masyarakat untuk merancangkan, membentuk,
dan membangun sebuah ideologi berasal dari organisasi atau kelompok-kelompok
yang ada di dalam masyarakat. Kelompok-kelompok dalam masyarakat ini
melakukan pertukaran ide pikiran satu sama lain demi tercapainya ideologi yang
mewakili kelompoknya dan nantinya akan mewakili suatu negara. (baca
juga: Manfaat Organisasi)

Ideologi yang berkembang melalui ide-ide atau gagasan masyarakat merupakan


bentuk keterlibatan masyarakat dalam kelangsungan suatu kelompok atau negara.

8
Secara tidak langsung, keterlibatan masyarakat dalam pengembangan ideologi
merupakan perwujudan ciri-ciri masyarakat madani dimana masyarakatnya
menjunjung tinggi nilai-nilai yang berlaku sesuai dengan ideologi yang mereka
kembangkan dan yakini. Oleh karena itu, ideologi yang berlaku dan berasal dari
masyrakat tidak dapat dirubah semena-mena tanpa persetujuan dari masyarakat yang
meyakini dan memaknai ideologi tersebut sebagai falsafah hidup.

3. Memiliki Sifat Yang Dinamis

Dinamis merupakan suatu kata yang berkaitan dengan penyesuaian diri. Dinamis
sendiri rupakan suatu bentuk penyesuaian terhadap suatu keadaan yang terjadi. Dalam
ideologi terbuka, sifat dinamis menjadi salah satu cirinya. Hal ini berarti bahwa
ideologi dapat berkembang dan melakukan penyesuian terhadap perkembangan
zaman. Sifat dinamis dalam ideologi terbuka merupakan bentuk keluwesan ideologi
terhadap timbulnya proses terbentuknya masyarakat berdasarkan pendekatan interaksi
sosial dalam suatu wilayah.

Masyarakat akan terus terbentuk dan berkembang sesuai dengan perubahan zaman.
Ideologi terbuka diharapkan mampu untuk menampung dan memberikan solusi
terhadap dampak perubahan zaman yang terjadi dalam masyarakat khususnya di
era globalisasi. Ideologi yang bersifat dinamis dapat menjadi sebuah penangkal dari
adanya bahaya globalisasi dan modernisasi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Kedinamisan ideologi terbuka ini juga memungkinkan timbulnya suatu tindakan
untuk membangun karakter bangsa sehingga masyarakat tetap memiliki karakter yang
kuat dalam menjunjung dan memaknai ideologi yang berlaku.

4. Memberikan Kebebasan

Ideologi terbuka memberikan kebebasan kepada setiap masyarakat di suatu wilayah


untuk berbicara maupun bertindak sesuai dengan keinginan hatinya. Pemberian
kebebasan pada ideologi terbuka merupakan salah satu dari ciri-ciri negara
demokrasi. Kebebasaan dalam berbicara maupun bertindak adalah kebebasan yang
dilindungi dalam pelaksanaan ideologi terbuka. Namun perlu diketahui, kebebasaan

9
yang diberikan bukanlah kebebasan mutlak yang dapat melanggaran norma atau
peraturan yang berlaku, melainkan kebebasan yang bertanggung jawab.

Kebebasan dalam ideologi terbuka dapat memberikan manfaat kehidupan demokrasi


dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat tidak merasa takut untuk mengutarakan
sesuatu asalkan tidak menyinggung atau melanggar undang-undang yang berlaku di
wilayah yang menerapkan ideologi terbuka tersebut. Melalui kebebasan yang
diberikan kepada masyarakat inilah suatu ideologi dapat berkembang sesuai dengan
kebutuhan masarakat. Nantinya, kebebasan ini dapat digunakan sebagai sarana untuk
menanamkan ideologi secara mendalam di dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Namun, jika kebebasan ini tidak dikontrol dengan baik, keberadaan
ideologi yang berlaku dapat terancam.

5. Mengedepankan Pluralitas

Pluralitas merupakan suatu paham yang mengedepankan dan menunjukkan adanya


kemajemukan dalam suatu sistem kemasyarakatan. Pluralitas mengakui adanya
perbedaan-perbedaan yang ada di lingkungan masyarakat. Sebagai ideologi yang
terbuka, nilai-nilai pluralitas dijunjung tinggi. Keberagaman yang terbentuk dan
bernaung di dalam ideologi yang terbuka tidak dapat dibatasi. Adanya pluralitas
justru menjadi kebanggaan dalam ideologi terbuka karena ideologi ini mampu
menumbuhkan keberagaman yang ada. Keberadaan ideologi terbuka yang
mengedepankan pluralitas yang tumbuh di dalam masyarakat menjadi salah
satu penyebab terciptanya masyarakat yang majemuk dan multikultural.

Dalam ideologi terbuka, pluralitas atau kemajemukan menjadi suatu pendukung


dalam keberlangsungan ideologi terbuka sendiri. Kemajemukan dapat dijadikan
pertimbangan dalam menentukan arah pengembangan ideologi agar tidak terksesan
berpihak pada salah satu kelompok atau golongan tertentu. Pluralitas dalam ideologi
terbuka perlu dijunjung tinggi untuk mengurangi kemungkinan terjadinya konflik
sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu dalam pengembangan ideologi terbuka,

10
pendapat atau masukan-masukan dari berbagai kelompok masyarakat sangat
diperlukan guna menjunjung nilai-nilai kemajemukan yang ada di dalam masyarakat.

6. Merupakan Hasil Musyawarah

Ideologi terbuka merupakan produk yang dihasilkan dari adanya musyawarah oleh
sejumlah masyarakat yang tergabung dalam kelompok atau golongan tertentu.
Musyarawah yang dilakukan untuk merancang dan membentuk suatu ciri-ciri
ideologi terbuka dilakukan oleh masyarakat secara langsung dalam suatu diskusi yang
berlangsung. Ideologi yang terbentuk melalui musyawarah merupakan bentuk
dukungan pemeritahan suatu negara yang menerapkan demokrasi dalam tatanan
negaranya. (baca juga: Ciri Utama Pemerintahan Demokrasi)

Ideologi terbuka yang terbentuk melalui proses musyawarah merupakan suatu bentuk
perwujudan keterlibatan masyarakat dalam pembentukan ideologi. Hasil akhir dari
proses musyawarah merupakan produk akhir ideologi yang mewakili hasil dari
musyarawah tersebut dan merupakan hasil kesepatakan dari anggota masyarakat atau
kelompok yang terlibat dalam musyawarah. Tentunya dalam melakukan musyawarah
untuk menentukan suatu ideologi, harus didasarkan pada prinsip-prinisp
demokrasi yang berlaku agar proses pembentukan dan penetapan ideologi dapat
berlajan dengan baik.

7. Memiliki Sistem Pemerintahan Yang Terbuka

Suatu negara yang menganut ideologi terbuka memiliki sistem pemerintahan yang
terbuka pula. Sistem pemerintahan yang terbuka merupakan suatu sistem
pemerintahan yang memungkinkan masyarakatnya mencari dan mendapatkan
informasi dari sistem pemeritahan yang berjalan. Ideologi terbuka menjunjung
keterbukaan terhadap keterbukaan informasi yang dimiliki oleh pemerintah kecuali
hal-hal yang sifatnya rahasia dalam artian masyarakat umum tidak berhak untuk
mengetahuinya.

Sistem pemerintahan yang terbuka dalam pelaksanaan ideologi terbuka


memungkinkan masyarakat terlibat langsung di dalam pemerintahan. Sistem

11
pemerintahan presidensial yang pernah berlaku di Indonesia memungkinkan
masyarakatknya terlibat dalam pemerintahan melalui adanya otonomi daerah.
Masyarakat dapat terlibat langsung dalam sistem pemerintahan dalam skala kecil
seperti menjabat ketua RT dan sebagainya. Keterbukaan dalam sistem pemerintahan
inilah yang membuat ideologi terbuka mempunyai nilai lebih dalam melibatkan
masyarakat ke dalam sistem pemerintahannya.

8. Menjunjung Tinggi HAM

HAM di wilayah yang menerapkan ideologi terbuka dijunjung tinggi karena dalam
ideologi ini menyadari bahwa setiap manusia mempunyai hak asasi yang tidak bisa
dihilangkan. Pelaksanaan dan penegakan HAM di dalam negara yang memaknai
ideologi terbuka sebagai falsafah berbangsa dan bernegara dilindungi oleh undang-
undang. (baca juga: Dasar Hukum HAM)

9. Mencerminkan Cita-Cita dan Falsafah Hidup Masyarakat

Karena ideologi terbuka berasal dari masyarakat, maka ideologi terbuka


mencerminkan cita-cita dan falsafah hidup masyarakat itu sendiri. Ideologi yang
sudah dimaknai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan ideologi yang
mewakili cita-cita masyarakat dan warga negaranya.

10. Berlakunya Sistem Hukum Yang Memadai

Sistem hukum yang berlaku dalam penerapan ideologi terbuka mempunyai sifat yang
memadai. Hal ini berarti bahwa sistem hukum diberlakukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan difasilitasi oleh pemerintah. Dalam penerapannya, semua
warga negara tidak mempunyai kekebalan di mata hukum. Jika warga negara
melakukan kesalahan, maka warga negara tersebut dapat diproses secara hukum dan
dalam pengadilan sesuai dengan mekanisme yang berlaku. (baca juga: Sistem
Peradilan di Indonesia)

Ideologi Tertutup

12
Ideologi tertutup merupakan ideologi yang berlaku secara penuh dan mutlak untuk
setiap penganutnya. Makna yang terkandung pada ideologi tertutup tidak boleh
dijadikan suatu persoalan karena sudah pasti dan tidak dapat dirubah oleh siapapun
kecuali pencetus ideologi tertutup itu sendiri. Ideologi tertutup harus dipatuhi oleh
siapapun tanpa terkecuali bagi seluruh masyarakat dimana negara atau kelompok
menganut dan memaknai ideologi ini sebagai falsafah hidupnya. Dalam
penerapannya, ideologi tertutup mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Berupa Budaya Yang di Paksakan Dalam Masyarakat

Ideologi tertutup bukan merupakan budaya yang muncul dari masyarakat melainkan
budaya yang muncul dari kelompok atau golongan yang mempunyai kekuasaan.
Budaya yang dikeluarkan oleh kelompok atau golongan yang berkuasa harus dipatuhi
karena setiap anggota masyarakatnya dipaksa untuk melaksanakan dan memaknai
ideologi ini di dalam kehidupannya. Pemaksaaan ideologi yang menjadi budaya
dalam masyarakat cenderung memiliki efek yang cenderung negatif jika ideologi
yang dipaksakan bukan merupakan budaya yang sudah berkembang di masyarakat
sebelum ideologi tertutup itu diberlakukan.

2. Berasal Dari Pemerintah/Sekelompok Masyarakat

Berbeda dengan ideologi terbuka, ideologi tertutup berasal dari pemerintah atau
kelompok yang berkuasa di suatu wilayah tersebut. Hanya pemerintah atau kelompok
yang berkuasa yang dapat menentukan perubahan atau pengembangan ideologi itu
sendiri. Masyarakat hanya bertindak sebagai robot dan pemerintah atau kelompok
yang berkuasalah yang mengendalikannya. Masyarakat sama sekali tidak
diperkenankan untuk ikut campur dalam pembahasan ideologi. Jika ideologi tertutup
dilakukan di Indonesia, maka Pancasila sebagai ideologi nasional tidak dapat berjalan
sebagaimana fungsinya dengan baik.

3. Kaku dan Otoriter

Ideologi tertutup cenderung bersifat kaku dan otoriter. Semua warga negaranya harus
tunduk pada peraturan-peraturan negara yang mengacu pada ideologi tersebut.

13
Penerapan ideologi tertutup yang kaku dan otoriter dapat dicontohkan dalam negara
Indonesia pada era pemerintahan orde baru dimana setiap warga negara harus
mematuhi dan melakukan peraturan yang berlaku tanpa terkecuali dan alasan apapun.
Jika melanggar, maka sanksi yang berat dapat dikenakan pada setiap pelanggarnya.

4. Adanya Pembatasan Kebebasan

Kebebasan dalam ideologi tertutup sangat dibatasi bahkan ada beberapa yang
dilarang. Perkataan dan perbuatan yang dilakukan dalam masyarakat harus benar-
benar lurus sesuai dengan ideologi yang ada. Dalam ideologi tertutup, kebebasan
masyarakat sangat dikekang agar tidak timbul gejolak yang dapat meruntuhkan
ideologi tertutup yang berlaku dalam suatu wilayah tertentu. Pembatasan terhadap
kebebasan masyarakat tentunya bertentangan dengan ideologi terbuka dimana
kebebasan diwujudkan dalam sistem kehidupan bermasyarakat dimana sejarah
demokrasi digunakan sebagai pertimbangan memberikan kebebasan kepada setiap
warga negaranya.

5. Keberagaman Tidak di Biarkan Berkembang

Dalam ideologi tertutup, keberagaman dan kemajukan tidak dibiarkan berkembang


sesuai dengan perkembangan zaman. Istilah keberagaman dan kemajemukan tidak
dikenal dalam ideologi ini. Ideologi tertutup menganggap bahwa keberagaman dan
kemajemukan dapat mengganggu stabilitas pemerintahan atau tatanan yang berlaku
pada suatu wilayah tertentu. Keberagaman dan kemajemukan membuat ideologi
tertutup sulit untuk diterapkan secara penuh sehingga dalam penerapan ideologi ini,
keberagaman dan kemajemukan ditekan bahkan dihilangkan sehingga semuanya
menjadi seragam. Keseragaman yang dibuat dalam ideologi tertutup membuat
dan menjadi sama walaupun masyarakat tersebut berbeda daerah tempat tinggal
namun masih di dalam negara yang sama.

6. Hasil Dari Pikiran Kelompok/Golongan

Ideologi tertutup berasal dari pemikiran kelompok atau golongan yang berkuasa pada
saat itu. Hanya kelompok atau golongan yang berkuasalah yang berhak menentukan

14
kebijakan-kebijakan dalam rangka menerapkan ideologi tertutup untuk
masyarakatnya. Masyarakat umum sama sekali tidak diperbolehkan untuk
menyumbangkan aspirasi atau idenya dalam rangka melakukan pengembangan
ideologi.

7. Memiliki Sistem Pemeritahan yang Tertutup

Negara yang menerapkan ideologi tertutup memiliki sistem pemeritahan yang


tertutup. Masyarakat tidak diperkenankan untuk berpartisipasi dalam sistem
pemeritahan atau mencari informasi tentang pelaksanaan pemerintahaan yang ada.
Sekalipun bisa dilakukan, maka pemerintah akan memberikan kriteria khusus kepada
masyarakat yang ingin mencari informasi dan berpartisipasi dalam pemerintahan.
Akses ini sangat sulit didapatkan oleh masyarakat awam apabila tidak mempunyai
kedudukan atau dipandang orang penting oleh pemerintah.

8. HAM Kurang di Junjung Tinggi

Negara yang menerapkan ideologi tertutup secara penuh, pemenuhan dan


perlindungan hak-hak asasi manusia kurang dijunjung tinggi. Ideologi tertutup
mempunyai anggapan bahwa hak-hak asasi manusia akan terpenuhi jika masyarakat
atau warga negara tunduk kepada pemerintahan yang menjalankan ideologi tertutup.
Namun nyatanya tidak demikian. Masih banyak ditemukan jenis-jenis pelanggaran
HAM di negara-negara yang menggunakan ideologi tertutup bagi kelangsungan
negaranya.

9. Mencerminkan Cita-Cita atau Falsafah Hidup Kelompok/Golongan

Karena ideologi tertutup berasal dari kelompok atau golongan tertentu, maka cita-cita
atau falsafah yang tercemin dalam ideologi tersebut adalah cita-cita dari kelompok
penggagas ideologi bukan cita-cita masyarakat secara menyeluruh. Oleh karena itu
tidak jarang jika dalam menentukan kebijakan tidak mewakili apa yang menjadi
keinginan masyarakatnya. Bagi kelompok atau golongan yang menggagas ideologi
ini, mewujudkan cita-cita kelompoknya adalah hal yang utama.

15
10. Berlakunya Sistem Hukum Yang Keras

Sistem hukum yang berlaku dalam negara yang menganut ideologi tertutup sangat
keras dan tidak memandang siapapun yang melanggar. Sesorang yang dinyatakan
bersalah harus diadili sesuai dengan kesalahannya. Seringkali, pelaksanaan sistem
hukum di negara atau wilayah yang menganut ideologi tertutup bertentangan
dengan sistem hukum internasional.

Demikianlah ciri-ciri dari ideologi terbuka dan tertutp sebagai bentuk gambaran
umum ideologi yang berlaku di berbagai negara. Masing-masing ideologi tentunya
mempunyai kekuatan dan kelemahannya masing-masing tergantung darimana cara
kita memandangnya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

2. Pancasila Sebagai ideologi, termasuk sifat tertutup atau terbuka, berikan


argumen anda.

Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka Dan Tertutup|

Pancasila sebagai Ideologi terbuka.

Pengertian Pancasila sebagai idiologi terbuka.

Pancasila menjadi pedoman dan acuan bangsa Indonesia dalam menjalankan


aktivitas di segala bidang sehingga sifatnya harus terbuka, luwes, fleksibel dan tidak
tertutup.

Ciri khas dari ideologi terbuka adalah nilai-nilai atau cita-citanya tidak
dipaksakan dari pihak luar melainkan digali dan diambil dari harta kekayaan nurani,
moral, dan budaya masyarakat Indonesia sendiri yang berdasarkan hasil musyawarah
dan konsensus dari masyarakat.

Faktor- faktor yang mendorong pemikiran pancasila sebagai ideologi terbuka.

16
Menurut Moerdiono (1999 : 399) beberapa faktor yang mendorong pemikiran
Pancasila sebagai ideologi terbuka, yaitu :

Proses pembangunan berencana, dinamika berkembang cepat sehingga tidak semua


persoalan kehidupan dapat ditemukan jawabannya secara ideologis.

Kenyataan bangkrutnya ideologi seperti marxisme, lenimisme, komunisme.

Pengalaman sejarah politik Indonesia yang dipengaruhi oleh komunis tertutup


sehingga kebijakan pemerintah saat itu bersifat tertutup.

Tekad Indonesia yang ingin menjadikan pancasila sebagai alternatif ideologi dunia.

Nilai-nilai dalam Pancasila sebagai ideologi terbuka

1. Nilai dasar

Nilai dasar merupakan esensi dari sila pancasila yang bersifat universal sehingga
dalam nilai dasar terkandung cita-cita, tujuan, serta nilai-nilai yang baik dan benar.

2. Nilai instrumental

Nilai yang merupakan makana, kebijakan, strategi, sasaran serta lembaga


pelaksanaannya.

3. Nilai praktis

Ideologi selain memiliki aspek yang berupa cita-cita, pemikiran-pemikiran, serta


nilai-nilai yang dianggap baik juga harus memiliki norma yang jelas karena ideologi
harus mampu direalisasikan di dalam kehidupan praktis yang merupakan bukti
konkrit.

17
Pengertian Ideologi Tertutup

Ideologi tertutup merupakan pendukung ideologi merasa cukup untuk menjawab


tantangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Perbedaan

Ideologi Terbuka Ideologi Tertutup

Sistem pemikiran yang terbuka. Sistem pemikiran yang tertutup.

Nilai-nilai dan cita-citanya tidak Cenderung untuk memaksakan


dipaksakan dari luar melankan digali mengambil nilai-nilai ideologi dari luar.
dan diambil dari masyarakat.
Dasar pembentukan berupa cita-cita
Dasar pembentukan ideologi bukan atau keyakinan ideologis sekelompok
keyakinan ideologis sekelompok orang.
orang melainkan hasil musyawarah.
Pada hakekatnya ideologi hanya
Tidak diciptakan oleh negara, dibutuhkan oleh penguasa negara untuk
melainkan oleh masyarakat. kekuasaannya.

Tidak hanya dibenarkan melainkan Pada dasarnya ideologi diciptakan oleh


dibutuhkan oleh seluruh anggota negara dalam hal penguasaan negara
masyarakat. yang mutlak harus diikuti oleh seluruh
warga masyarakat.
Isinya tidak bersifat operasional.
Isinya terdiri dari tuntutan-tuntutan
konkrit dan operasional yang bersifat
keras yang wajib ditaati oleh seluruh
warga masyarakat.

18
Argumen Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Menurut Sastrapratedja, definisi ideologi adalah seperangkat gagasan/pemikiran yang


berorientasi pada tindakan dan diorganisir menjadi suatu sistem yang teratur.
Sementara itu, Mubyarto mendefinisikan ideologi adalah sejumlah doktrin,
kepercayaan dan simbol-simbol sekelompok masyarakat atau suatu bangsa yang
menjadi pegangan dan pedoman kerja (atau perjuangan) untuk mencapai tujuan
masyarakat atau bangsa itu.

Selanjutnya Kaelan berpendapat, tiap ideologi sebagai suatu rangkaian kesatuan cita-
cita yang mendasar dan menyeluruh yang jalin-menjalin menjadi satu sistem
pemikiran (system of thought) yang logis, adalah bersumber kepada filsafat. Dengan
lain kata, ideologi sebagai suatu system of thought mencari nilai, norma dan cita-cita
yang bersumber kepada filsafat, yang bersifat mendasar dan nyata untuk
diaktualisasikan, artinya secara potensi mempunyai kemungkinan pelaksanaan yang
tinggi, sehingga dapat memberi pengaruh positif, karena mampu membangkitkan
dinamika masyarakat tersebut secara nyata ke arah kemajuan.

Ideologi dapat dikatakan pula sebagai konsep operasionalisasi dari suatu pandangan
atau filsafat hidup dan merupakan norma ideal yang melandasi ideologi, karena
norma itu akan dituangkan dalam perilaku, juga dalam kelembagaan sosial, politik,
ekonomi, pertahanan keamanan dan sebagainya. Jadi filsafat sebagai dasar dan
sumber bagi perumusan ideologi yang juga menyangkut strategi dan doktrin, dalam
menghadapi permasalahan yang timbul di dalam kehidupan bangsa dan negara,
termasuk di dalamnya menentukan sudut pandang dan sikap dalam menghadapi
berbagai aliran atau sistem filsafat yang lain.

Menurut Roeslan Abdulgani, “Filsafat sebagai pandangan hidup pada hakikatnya


merupakan sistem nilai yang secara epistemologis kebenarannya telah diyakini
sehingga dijadikan dasar atau pedoman bagi manusia dalam memandang realitas alam
semesta, manusia, masyarakat, bangsa dan negara, tentang makna hidup serta sebagai

19
dasar dan pedoman bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam
hidup dan kehidupan. Filsafat dalam pengertian yang demikian ini telah menjadi
suatu sistem cita-cita atau keyakinan-keyakinan (belief-system) yang telah
menyangkut praksis, karena telah dijadikan landasan bagi cara hidup manusia atau
suatu kelompok masyarakat dalam berbagai bidang kehidupannya. Hal itu berarti
bahwa filsafat telah beralih dan menjelma menjadi ideologi”.

Pada dasarnya istilah “Pancasila” berasal dari bahasa Sansekerta. Menurut


Muhammad Yamin, “Pancasila” memiliki arti seacara leksikal, yaitu : “panca”
artinya “lima” dan “syiila” artinya “peraturan tingkah laku yang baik, yang penting
atau yang senonoh”. Kata-kata tersebut kemudian dalam bahasa Indonesia terutama
bahasa Jawa diartikan “susila” yang memiliki hubungan dengan moralitas. Nilai
berketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah mufakat dan keadilan sosial
diangkat dan dijadikan pedoman berkehidupan berbangsa di Indonesia berasal dari
nilai-nilai adat-istiadat, kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam
pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara, dengan lain
perkataan unsur-unsur yang merupakan materi (bahan) Pancasila tidak lain diangkat
dari pandangan hidup masyarakat Indonesia, sehingga bangsa ini merupakan kausa
materialis (asal bahan) Pancasila sebagaimana pendapat yang disampaikan oleh
Notonagoro.

Argumentasi Pancasila bukan sebuah ideologi dapat dibantah, disamping adalah


benar bahwa Pancasila merupakan sebuah sistem filsafat, karena logika berpikir yang
membentuk pandangan dunia (world view) masyarakat Indonesia dengan telah
melekat kuatnya budaya toleransi antar umat beragama, gotong royong, musyawarah,
solidaritas atau kesetiakawanan sosial dan sebagainya telah menjadi konsensus
bersama secara tidak tertulis dan kemudian dituangkan secara tertulis dalam sebuah
kesepakatan sosial (social agreement) yang disebut dengan Pancasila, lalu oleh
masyarakat Indonesia dijadikan tujuan serta cita-cita untuk diwujudkan,
dipertahankan, dijadikan cara pandang, landasan, keyakinan dan dijadikan pedoman

20
hidup dalam berkehidupan kebangsaan Indonesia yang heterogen atau majemuk,
maka sejalan dengan definisi ideologi yang dinyatakan oleh Sastrapratedja dan
Mubyarto serta pendapat yang dinyatakan oleh Roeslan Abdulgani, Pancasila yang
semula merupakan sistem filsafat kemudian beralih dan masuk kepada wilayah
ideologi. Dengan ini dapat ditegaskan, bahwa Pancasila adalah merupakan sebuah
ideologi.

Sebagai intisari dari nilai budaya masyarakat Indonesia, maka Pancasila merupakan
cita-cita moral bangsa untuk berperilaku luhur dalam kehidupan sehari-hari dalam
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai ideologi memiliki
karakter utama sebagai ideologi nasional. Ia adalah cara pandang dan metode bagi
seluruh bangsa Indonesia untuk mencapai cita-citanya, yaitu masyarakat yang adil
dan makmur.

Pancasila adalah ideologi kebangsaan karena ia digali dan dirumuskan untuk


kepentingan membangun negara bangsa Indonesia. Pancasila yang memberi pedoman
dan pegangan bagi tercapainya persatuan dan kesatuan di kalangan warga bangsa dan
membangun pertalian batin antara warga negara dengan tanah airnya (Ngudi Astuti,
2012).
Franz Magnis Suseno, pada kesempatan ini membagi ideologi menjadi dua tipe
ideologi sebagai ideologi suatu negara yaitu ideologi tertutup dan ideologi terbuka.

Pertama. Ideologi tertutup adalah ajaran atau pandangan dunia atau filsafat yang
menentukan tujuan-tujuan dan norma-norma politik dan sosial, yang ditasbihkan
sebagai kebenaran yang tidak boleh dipersoalkan lagi, melainkan harus diterima
sebagai sesuatu yang sudah jadi dan harus dipatuhi. Kebenaran suatu ideologi tertutup
tidak boleh dipermasalahkan berdasarkan nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral yang
lain. Isinya dogmatis dan apriori sehingga tidak dapat dirubah atau dimodifikasi
berdasarkan pengalaman sosial. Karena itu ideologi ini tidak mentolerir pandangan
dunia atau nilai-nilai lain.

21
Ciri khas ideologi tertutup ini adalah : 1) tidak hanya menentukan kebenaran nilai-
nilai dan prinsip-prinsip dasar saja, tetapi juga menentukan hal-hal yang bersifat
konkret operasional; 2) Tidak mengakui hak masing-masing orang untuk memiliki
keyakinan dan pertimbangannya sendiri; 3) Ideologi tertutup menuntut ketaatan tanpa
reserve; 4) Ideologi tidak bersumber dari masyarakat, melainkan dari pikiran elit yang
harus dipropagandakan kepada masyarakat; dan 5) Baik-buruknya pandangan yang
muncul dan berkembang dalam masyarakat dinilai sesuai tidaknya dengan ideologi
tersebut.

Kedua. Ideologi terbuka hanya berisi orientasi dasar, sedangkan penerjemahannya ke


dalam tujuan-tujuan dan norma-norma sosial-politik selalu dapat dipertanyakan dan
disesuaikan dengan nilai dan prinsip moral yang berkembang di masyarakat.
Operasional cita-cita yang akan dicapai tidak dapat ditentukan secara apriori,
melainkan harus disepakati secara demokratis. Ciri khas ideologi terbuka ini adalah :
1) Nilai-nilai dan cita-cita tidak dapat dipaksakan dari luar melainkan diambil dan
digali dari moral dan budaya masyarakat itu sendiri; 2) Bukan berdasarkan keyakinan
ideologis sekelompok orang, melainkan hasil musyawarah dari konsensus masyarakat
tersebut; dan 3) Nilai-nilai itu bersifat dasar dan hanya secara garis besar sehingga
tidak langsung operasional.

Lalu Murtadha Muthahari seorang filosof muslim kontemporer menyatakan bahwa


ada dua jenis ideologi: Pertama. Ideologi manusiawi yaitu ideologi yang
didedikasikan untuk seluruh umat manusia, bukan untuk kelas, ras atau masyarakat
tertentu saja. Format ideologi seperti ini meliputi seluruh lapisan masyarakat dan
tidak hanya lapisan atau kelompok tertentu saja. Kedua. Ideologi kelas yaitu ideologi
yang didedikasikan untuk kelas, kelompok atau lapisan masyarakat tertentu, dan
tujuannya adalah emansipasi atau supremasi kelompok tertentu. Format yang
dikemukakannya terbatas pada kelompok itu saja, dan pendukung serta pembela
ideologi ini berasal dari kelompok itu saja.

22
Timbul pertanyaan: Pertama. Ideologi Pancasila apakah masuk kepada tipe ideologi
terbuka ataukah tertutup? dan Kedua. Ideologi Pancasila apakah masuk kepada jenis
ideologi manusiawi atau ideologi kelas? Terkait pertanyaan pertama, sangat jelas
bahwa ideologi Pancasila adalah merupakan tipe ideologi terbuka. Ideologi Pancasila
bukan ideologi yang sifatnya dipaksakan.

Ideologi Pancasila lahir melalui proses pengalian dari nilai moral dan budaya
masyarakat Indonesia melalui musyawarah yang kemudian melahirkan konsensus
bersama masyarakat Indonesia, bukan lahir dari keyakinan pemikiran ideologis
seseorang atau sekelompok orang seperti ideologi komunisme, fasisme dan lain-lain
yang lebih bersifat tertutup. Terkait hal ini, Kaelan berpendapat, bahwa unsur-unsur
Pancasila diangkat dan dirumuskan oleh para pendiri negara, sehingga Pancasila
berkedudukan sebagai dasar negara dan ideologi bangsa dan negara Indonesia.

Dengan demikian Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia berakar
pada pandangan hidup dan budaya bangsa, dan bukannya mengangkat atau
mengambil ideologi dari bangsa lain. Selain itu Pancasila juga bukan hanya
merupakan ide-ide atau perenungan dari seseorang saja, yang hanya memperjuangkan
suatu kelompok atau golongan tertentu, melainkan Pancasila berasal dari nilai-nilai
yang dimilki oleh bangsa sehingga Pancasila pada hakikatnya untuk seluruh lapisan
serta unsur-unsur bangsa secara komperhensif.

Oleh karena ciri khas Pancasila itu maka memiliki kesesuaian dengan bangsa
Indonesia. Selanjutnya Ngudi Astuti berpendapat, bahwa Pancasila dilihat dari sifat-
sifat dasarnya, dapat dikatakan sebagai ideologi terbuka. Pancasila sebagai ideologi
terbuka memiliki dimensi-dimensi idealitas, normatif dan realitas. Rumusan-rumusan
Pancasila sebagai ideologi terbuka bersifat umum, universal, sebagaimana tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945.

23
Menjawab pertanyaan kedua, perlu diketahui bahwa Pancasila sebagai sebuah
ideologi telah memuat segala bentuk perlindunan terhadap Hak Asasi Manusia
(HAM) atau memanusiakan manusia. Kultur budaya masyarakat Indonesia yang
majemuk dalam keberagaman terayomi dalam naungan Ideologi Pancasila serta hak-
hak individu maupun kelompok masyarakat tertentu tetap dijaga. Ideologi Pancasila
tidak memandang perbedaan derajat terhadap suku, agama, ras dan antar golongan
(SARA) tertentu.

Ideologi Pancasila sangat memanusiakan manusia. Menjaga toleransi antar umat


beragama dalam berketuhanan, menciptakan dan menjaga peradaban manusia yang
manusiawi, menjaga persatuan dalam keragaman suku, agama dan ras,
mengedepankan musyawarah mufakat dalam mengatasi permasalahan bangsa serta
sebagaimana mungkin untuk menciptakan keadilan didalam masyarakat Indoensia.
Dengan ini dapat dikatakan bahwa ideologi Pancasila masuk kepada jenis ideologi
yang bersifat manusiawi.

Sangat berbeda sekali ideologi yang sifatnya memperjuangan emansipasi kelas seperti
ideologi komunisme pada kelompok proletar atau buruh semata, kapitalisme pada
kelompok pemodal semata, fasisme (basis filsafatnya Friederich Nietzsche) pada
kelompok manusia yang merasa sebagai ras yang paling unggul seperti di Jerman
bahwa ras arya adalah ras paling unggul, dan masih banyak lagi ideologi lainnya yang
lebih bersandar kepada perjuangan kelas tanpa bisa menerima perbedaan yang
sifatnya kodrati.

Maka dengan ini, apabila masih ada orang atau sekelompok orang yang
menghembuskan wacana atau isu bahwa Pancasila bukanlah sebuah ideologi,
mestilah kita waspadai. Mengingat pengalaman yang telah bangsa Indonesia alami
pada tahun 1965, yakni rencana-rencana gagal yang ingin mengubah ideologi negara
Indonesia dengan ideologi tertentu yang berakibat malapetaka bagi bangsa Indonesia.
Dan kita berharap besar agar hal ini tidak terjadi kembali di Indonesia yang kita cintai

24
dan sayangi ini. Agar ibu pertiwi dapat tersenyum kembali dari sekian lamanya ia
menangis.

3. Berbagai Kasus yang terkait dengan Penyalahgunaan Narkoba yang


mengancam eksistensi ideologi Pancasila ?
Ialah

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyalahgunaan narkoba,


yaitu:

a. Faktor lingkungan sosial

Yaitu pengaruh yang ditimbulkan dari lingkungan sosial pelaku, baik lingkungan
sekolah, pergaulan dan lain-lain. Hal tersebut dapat terjadi karena benteng pertahanan
dirinya lemah, sehingga tidak dapat membendung pengaruh negatif dari
lingkungannya. Pada awalnya mungkin sekedar motif ingin tahu dan coba-coba
terhadap hal yang baru, kemudian kesempatan yang memungkinkan serta didukung
adanya sarana dan prasarana. Tapi lama kelamaan dirinya terperangkap pada jerat
penyalahgunaan narkoba.

b. Faktor kepribadian

Rendah diri, emosi tidak stabil, lemah mental. Untuk menutupi itu semua dan agar
merasa eksis maka melakukan penyalahgunaan narkoba.

c. Faktor keluarga

Sejak dini orangtua dengan anak komunikasi kurang efektif dan efisien dengan alasan
kesibukan pekerjaan atau kurang pengarahan terhadap anak hingga acuh tak acuh
mengikuti perkembangan zaman hingga serba boleh.

d. Faktor Pendidikan

Pendidikan akan bahaya penyalahgunaan narkoba di sekolah-sekolah juga merupakan


salah satu bentuk kampanye anti penyalahgunaan narkoba. Kurangnya pengetahuan

25
yang dimiliki oleh siswa-siswi akan bahaya narkoba juga dapat memberikan andil
terhadap meluasnya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.

e. Faktor Masyarakat dan Komunitas Sosial

Faktor yang termasuk dan mempengaruhi kondisi sosial seorang remaja atnara lain
hilangnya nilai-nilai dalam sebuah keluarga dan sebuah hubungan, hilangnya
perhatian dengan komunitas, dan susahnya berdaptasi dengan baik (bisa dikatakan
merasa seperti alien, diasingkan).

f. Faktor Populasi Yang Rentan

Remaja masa kini hidup dalam sebuah lingkaran besar, dimana sebagian remaja
berada dalam lingkungan yang beresiko tinggi terhadap penyalahgunaan narkoba.
Banyak remaja mulai mencoba-coba narkoba, seperti amphetamine-type stimulants (
termasuk didalamnya alkohol, tembakau dan obat-obatan yang diminum tanpa resep
atau petunjuk dari dokter, serta obat psikoaktif ) sehingga menimbulkan berbagai
macam masalah pada akhirnya.

2.3 Pengaturan Narkoba dalam Perundang-undangan.

a. Landasan Hukum

Landasan Hukum adalah Landasan hukum yang berupa peraturan perundang


undangan dan konvensi yang sudah diratifikasi cukup banyak, diantaranya adalah :

Ø Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, menyatakan:

· Pasal 45: Pecandu narkotika wajib menjalani pengobatan dan/atau perawatan.

· Pasal 36 : Orang tua atau wali pecandu yang belum cukup umur bila sengaja
tidak melaporkan diancam kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling
banyak satu juta rupiah.

26
· Pasal 88 : Pecandu narkotika yang telah dewasa sengaja tidak melapor diancam
kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak dua juta rupiah,
sedang bagi keluarganya paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak satu
juta rupiah.

Ø Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, menyatakan :

· Pasal 37 ayat (1) : Pengguna psikotropika yang menderita syndrome


ketergantungan berkewajiban ikut serta dalam pengobatan atau perawatan.

· Pasal 64 ayat (1) : barang siapa menghalang-halangi penderita syndrome


ketergantungan untuk menjalani pengobatan dan/atau perawatan pada fasilitas
rehabilitasi sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 37, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak 20 juta
rupiah.

Ø UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

· PP Nomor 1 Tahun 1980 tentang Ketentuan Penanaman Papaver, Koka, dan


Ganja.

· Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan


Pengendalian Minuman Beralkohol.

· UU No. 8 Tahun 1976 tentang Pengesahan konvensi Tunggal Narkotika


1961.

· Konvensi Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika


1988.

Penyalahgunaan Narkoba termasuk kualifikasi perbuatan pidana (delict) yang diatur


dalam peraturan perundang-undangan sebagaimana disebutkan di atas. Hukum pidana
menganut asas legalitas, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yang
menegaskan : “Tiada suatu perbuatan dapat dipidanakan kecuali atas kekuatan aturan
pidana dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan”.

27
Perkara narkotika termasuk perkara yang didahulukan dari perkara lain untuk
diajukan ke pengadilan guna penyelesaian secepatnya.

Tentang Ketentuan Pidana Narkotika diatur dalam UU No. 22 Tahun 1997, Bab XII,
Pasal 78 s/d 100. Bagi pelaku delik narkotika dapat dikenakan pidana penjara sampai
dengan 20 tahun atau maksimal dengan pidana mati dan denda sampai Rp. 25 Milyar.
Demikian juga bagi pelaku delik psikotropika, dalam UU No. 5 tahun 1997, Bab XIV
tentang Ketentuan Pidana, Pasal 59-72, dapat dikenai hukuman pidana penjara
sampai 20 tahun dan denda sampai Rp. 750 juta. Berat ringannya hukuman
tergantung pada tingkat penyalahgunaan narkoba, apakah sebagai pemakai, pengedar,
penyalur, pengimpor/pengekspor, produsen ilegal, sindikat membuat korporasi dan
sebagainya.

Pengaturan narkotika berdasarkan undang-undang nomor 35 tahun 2009 (UU No.35


tahun 2009), bertujuan untuk menjamin ketersedian guna kepentingan kesehatan dan
ilmu pengetahuan, mencegah penyalahgunaan narkotika, serta pemberantasan
peredaran gelap narkotika.

Untuk lebih mengefektifkan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan


peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, diatur mengenai penguatan
kelembagaan yang sudah ada yaitu Badan Narkotika Nasional (BNN). BNN tersebut
didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2007 tentang Badan Narkotika
Nasional, Badan Narkotika Provinsi, dan Badan Narkotika Kabupaten/Kota. BNN
tersebutmerupakanlembaga non struktural yang berkedudukan di bawah dan
bertanggung jawab langsung kepada Presiden, yang hanya mempunyai tugas dan
fungsi melakukan koordinasi. Dalam Undang-Undang ini, BNN tersebut ditingkatkan
menjadi lembaga pemerintah non kementerian (LPNK) dan diperkuat
kewenangannya untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. BNN berkedudukan
di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden. Selainitu, BNN juga
mempunyai perwakilan di daerah provinsi dan kabupaten/kota sebagai instansi
vertikal, yakni BNN provinsi dan BNN kabupaten/kota.

28
Keterkaitan Narkoba Terhadap Nilai-nilai Pancasila

Pancasila merupakan dasar falsafah Negara Republik Indonesia secara resmi


tercantum di dalam alenia ke-empat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yang
ditetapkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945.Pancasila yang disahkan sebagai dasar
negara yang dipahami sebagai sistem filsafat bangsa yang bersumber dari nilai-nilai
budaya bangsa.Sebagai ideologi, nilai-nilai Pancasila sudah menjadi budaya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi saat ini nilai-nilai
luhur pancasila diindikasikan mulai dilupakan masyarakat Indonesia.Sendi-sendi
kehidupan di masyarakat sudah banyak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur
Pancasila.

Narkoba memiliki hubungan dan keterkaitan dengan nilai-nilai Pancasila, karena


penggunaan penyalahgunaan narkoba adalah perilaku yang menyimpang dari nilai-
nilai Pancasila.

Sehingga dapat disimpulkan Bahwa Hubungan Penggunaan Penyalahgunaan Narkoba


terhadap nilai-nilai Pancasila adalah :

1. Narkoba dapat dan diperbolehkan digunakan dalam bidang kesehatan dan dengan
jumlah yang sedikit dan tidak menyalahi atuaran kemanusiaan sesuai dengan
kandungan nilai Pancasila sila ke dua.

2. Narkoba jika dipakai dan disalahgunakan maka perbuatan si pemakai


menyimpang dari nilai-nilai Pancasila sila Pertama, Kedua ,dan Ketiga. Sila Pertama
yaitu Pemakai tidak percaya terhadap Tuhan yang Maha Esa, karena ia lebih percaya
terhadap Narkoba untuk menenangkan diri dan menghilangkan masalah yang terjadi
pada dirinya. Sila Kedua yaitu Pemakai merusak dan membunuh dirinya sendiri
dengan mengonsumsi narkoba. Sila Ketiga yaitu pemakai tidak menghiraukan
dampak-dampak yang terjadi terhadap orang lain dan masyarakat.

29
Menurut Sholikah dkk, keterkaitan narkoba dengan nilai-nilai pancasila adalah
sebagai berkut:

1. Narkoba jika digunakan dalam bidang medis dan dengan kuantitas yang sedikit
perbolehkan selama tidak menyalahi aturan yang sesuai dengan sila ke II.
Maksudnya setiap manusia memiliki hak untuk hidup dan hak untuk sehat. Hak-hak
tersebut menjadi cerminan dari sila ke II “Kemanusiaan yang adil dan beradap”.

2. Jika narkoba disalahgunakan maka perbuatan tersebut adalah penyimpangan


dari sila I, II dan III. Karena dengan melakukan penyalah gunaan narkoba berarti
para pemakai tidak percaya bahwa Tuhan itu ada dan hanya Dia-Lah dzat Yang Maha
Segalanya, dimana seharusnya tempat untuk mengadu atas masalah-masalah yang
dihadapi adalah Tuhan, bukannya menggunakan narkoba. Narkoba hanyalah
membuat mereka lupa dengan masalah yang mereka hadapi dalam beberapa
saat. Tindakan tersebut tidak mencermikan sila I. Selain itu narkoba akan membuat
mereka menyalami kecanduan dan membuat kesehatan mereka menjadi rusak bahkan
dapat membuat mereka mati. Itu merupakan penyimpangan dari sila ke II. Disisi lain
mereka yang telah menyalami kecanduan narkotika biasanya lebih suka menyendiri
dan lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum atau
bersama, tindakan tersebut bertolak belakang dengan nilai-nilai pancasila sila ke III.

4. Berbagai kasus yang terkait dengan terorisme yang mengancam eksistensi


ideologi Pancasila.
Jawab :

Pancasila sebagai ideologi bangsa, saat ini dihadapakan pada masalah terorisme.
Kurangnya pemahaman nilai-nilai pancasila di tengah masyarakat ini yang
memunculkan terorisme di Indonesia. Tindakan teror yang kian marak dan
mengancam menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi semua orang yang
menghancurkan pilar-pilar peradaban bangsa Indonesia.

30
Aksi terorisme di Indonesia menjadi topik hangat pembicaraan setelah
terjadinya kasus Bom Bali baik yang pertama maupun yang kedua. Dua aksi
terorisme ini menjadi salah satu aksi terbesar yang pernah terjadi di Indonesia,
bahkan di dunia. Aksi terorisme di Indonesia tidak berhenti hanya sampai disitu,
serentetan aksi lain terjadi beberapa kota lain diantaranya Bom JW Marriot, Bom di
Bursa Efek Jakarta, Bom di beberapa gereja,
hingga yang baru-baru ini terjadi di Solo yakni aksi terorisme yang menjadikan polisi
sebagai sasaran utamanya. Sebenarnya, beberapa tokoh atau dalang dari aksi
terorisme di Indonesia sudah ditangkap seperti Amrozi, Ali Imron, Dr. Azhari serta
Ali Gufron, namun kasus-kasus terorisme rupanya justru semakin marak dan
gerakannya semakin sulit untuk ditebak.

Pengertian terorisme menurut wikepedia adalah serangan-serangan terkoordinasi


yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat.
Aksi terorisme mengandung makna bahwa serangan teroris yang dilakukan tidak
berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu pelakunya
(teroris) layak mendapatkan pembalasan yang kejam. Terorisme mempunyai tujuan
untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat
menarik perhatian orang, kelompok atau suatu bangsa. Terorisme digunakan sebagai
senjata psikologis untuk menciptakan suasan panik, tidak menentu serta menciptakan
ketidakpercayaan masyarakat terhadapa kemampuan pemerintah.

Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat tindakan, pelaku,
tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapakan serta dicapai, target-target serta
metode terorisme kini semakin luas dan bervariasi. Sehingga semakin jelas bahwa
teror merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia. Oleh
karena itu, terorisme merupakan kejahatan luar biasa yang sudah semestinya harus
dibasmi dan ditindak secara tegas pelakunya, sebab telah membahayakan stabilitas
negara Indonesia.

Terorisme dapat berkembang disebabkan oleh berbagai faktor. Secara umum,


masalah-masalah yang bisa menyebabkan adanya pertumbuhan aksi terorisme adalah

31
karena kondisi politik, masalah transnasional, ekonomi, sosial, budaya, politik,
bahkan ideologi. Realitasnya, mereka mengatasnamakan terorisme untuk
memperjuangkan ideologi agama. Pada saat seperti sekarang ini, kegiatan-kegiatan
terorisme hampir seluruhnya dikaitkan dengan islam. Islam dipandang sebagai salah
satu agama yang keras dan menggunakan cara-cara seperti aksi terorisme untuk
menjalankan beberapa tujuan misalnya jihad. Ideologi yang dianut pemerintah dan
ideologi yang dianut para teroris yang berbeda memicu terhadap suburnya
pertumbuhan kelompok teroris. Upaya menyampaikan ketidakpuasan mereka
terhadap ideologi yang berlaku ini menimbulkan akibat fatal.

Pancasila adalah ideologi dasar yang menjadi falsafah bagi Indonesia. Pancasila
merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangasa dan bernegara bagi bangsa
Indonesia, tentunya diharapakan mampu menyelesaikan persoalana terorisme di
Indonesia. Pancasila adalah petunjuk hidup manusia untuk bertindak dan berbuat
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Persoalan munculnya terorisme di Indonesia disebabkan pula karena kurangnya


penguatan pemahaman nilai-nilai luhur Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, yang
sesunggahnya mempunyai nilai moral positif sebagai upaya pencegahan terorisme.
Pancasila tidak pernah diamalkan sehingga menumbuhkan pelaku teror. Cara teror
atau kekerasan itulah yang menimbulkan disintegrasi bangsa Indonesia. Apabila
masyarakat mampu memahami nilai-nilai luhur Pancasila, maka tidak mungkin
terciptanya aksi terorisme. Pancasila adalah alat pemersatu bangsa Indonesia, sesuai
semboyan Bhinneka Tunggal Ika yaitu biarpun kita berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Pancasila bukan sebuah wacana saja, tetapi nilai-nilai Pancasila perlu


diamalkan dalam setiap tindakan dan perbuatan manusia. Penanaman dan
pemahaman Pancasila itu harus dilakukan untuk memerangi aksi terorisme yang kian
marak. Pelaku terorisme saat ini telah menyalahi Pancasila sila pertama, Ketuhanan
Yang Maha Esa. Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing, hormat-menghormati dan bekerjasama antar
pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga

32
terbina kerukunan hidup perlu dilakukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan tujuan untuk menghindari praktik aksi terorisme dan kekerasan atas nama
agama dengan tujuan menciptakan kerukunan antar umat manusia.

Dalam sila kedua, Kemanusian yang adil dan beradap. Nilai-nilai yang terkandung
dalam sila kedua tersebut, yaitu mengakui persamaan hak dan persamaan kewajiban
antara sesama manusia, saling mencintai sesama manusia, tidak semena-mena
terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sehingga tidak boleh
berbuat tercela bahkan melakukan teror yang merugikan banyak orang.

Menempatkan kesatuan , persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara


diatas kepentingan pribadi atau golongan, memajukan persatuan dan
kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika sesuai dengan sila ketiga Persatuan
Indonesia, sehingga aksi terotisme dapat diatasi dan dicegah sesuai pemahaman
tersebut.

Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan terorisme di Indonesia, dapat dilakukan
dengan jalan mencegah melalui pilar-pilar kebangsaan yaitu melalui nilai-nilai
Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, serta UUD 1945. Masyarakat harus banyak
mengamalkan dan penghayatan nilai-nilai Pancasila, menumbuhkan rasa kebengsaan
karena Pancasila memuat makna keberagaman dan kebersamaan yang dapat
mencegah aksi terorisme, sehingga akan terciptanya ketentraman dan
kedamaian bagi setiap manusia.

5. Berbagai kasus yang terkait dengan korupsi di Indonesia yang mengancam


eksistensi ideologi Pancasila.
Jawab :

Korupsi memiliki dampak yang begitu luas dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara khususnya di Indonesia. Korupsi sangat merugikan bangsa karena dampak-
dampak yang ditimbulkan korupsi mencakup berbagai aspek yaitu aspek ideologi,
aspek ekonomi, aspek politik dan pemerintahan, aspek penegakan hukum, aspek

33
kehidupan social masyarakat dan lainnya. Berikut ini merupakan penjelasan dampak-
dampak yang ditimbulkan oleh korupsi:

A. Dampak korupsi terhadap ideologi bangsa (Pancasila)

Pancasila adalah ideology bangsa Indonesia oleh karena itu setiap perbuatan bangsa
selayaknya didasari dengan nilai-nilai yang terkandung didalam pancasila, akan tetapi
pada zaman sekarang ini nilai pancasila dirusak oleh suatu tindakan yang tidak
bermoral yaitu korupsi. Korupsi jelas bertentangan dengan sila pancasila. Contohnya
dengan maraknya perilaku korupsi bertentangan dengan sila ketuhanan yang maha
esa karena orang yang korupsi telah melanggar aturan agama atau Tuhan dan
berakibat dosa yang besar dan hasil dari perbuatan korupsi dalam agama hukumnya
haram. Yang kedua sila kemanusiaan yang adil dan beradab, orang melakukan
korupsi akan berakibat menyengsarakan orang lain karena hak-hak yang harusnya
didapat seseorang diambil secara sengaja untuk kebutuhan pribadi oleh karena itu
orang yang melakukan korupsi tidak memiliki rasa keadilan dan adab yang baik.
Yang ketiga sila persatuan Indonesia karena korupsi biasanya dilakukan secara
terorganisir atau kelompok namun apabila salah satu dari mereka tertangkap bisa
berakibat memecah belah antar individu atau kelompok dengan saling menyalahkan
dan korupsi itu dilakukan untuk kepentingan dirinya sendiri atau suatu golongan saja.
Keempat nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, pejabat yang korupsi jelas telah mengkhianati amanat
rakyat dengan mencuri harta kekayaan negara untuk keperluan pribadi dengan
memanfaatkan jabatan yang dimilikinya sehingga membuat kesejahteraan rakyat dan
pembangunan nasional mengalami kemunduran dan hambatan . Lalu yang terakhir
adalah sila keliama yaitu keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia, korupsi
mengakibatkan rasa keadilan dan kesejahteraan yang harusnya milik rakyat, dengan
cara yang licik diambil oleh para pejabat yang tidak bermoral melalui tindakan
korupsi sehingga rasa keadilan social tidak dapat tersalurkan kepada masyarakat luas.
Jadi tindakan korupsi yang masih merajalela di Indonesia mengakibatkan perwujudan

34
sila dan nilai-nilai pancasila didalam berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara di
Indonesia akan terhambat bahkan gagal

B. Dampak korupsi terhadap aspek ekonomi

Perkembangan dan kemajuan ekonomi di Indonesia akan mengalam kemunduran dan


kerusakan apabila roda perekonomian dijalankan dengan penuh tindakan korupsi.
Contohnya akibat korupsi adalah korupsi bisa mengurangi investor yang akan
berinvestasi di Indonesia, hal itu diakibatkan oleh rasa kurang percaya investor untuk
menanamkan modal dan biaya yang tinggi yang harus dikeluarkan investor untuk
menanamkan modal sehingga laju pertumbuhan terhambat karena kurangnya
investor. Contoh yang kedua korupsi dapat mengurangi pendapatan negara dari sector
ekonomi karena keuntungan atau pendapatan yang didapat dari suatu badan usaha
negara akan dikorupsi untuk kepentingan individu maupun kelompok

C. Dampak korupsi terhadap aspek politik dan pemerintahan

Di Indonesia korupsi paling besar terjadi dalam lingkup pemerintahan. Dampak yang
ditimbulkan sangat terasa oleh rakyat yaitu akan terjadi ketidakstabilan iklim politik
di pemerintahan karena penguasa atau pemerintah hanya mementingkan bagaimana
memperkaya diri mereka bukan untuk mensejahterakan rakyat. Selain itu akibat yang
ditimbulkan adalah pemerintahan tidak akan berjalan efektif dan meningkatakan
biaya administrasi dalam pemerintahan. Jika pemerintahan penuh dengan paraktek
korupsi maka prinsip pemerintahan yang efisien, rasional, dan kualifikasi tidak akan
terlaksana. Kualitas layanan pasti akan buruk dan mengecewakan karena hanya
orang-orang memiliki uang saja yang akan dilayani dengan baik sementara itu rakyat
miskin yang seharusnya mendapat perhatian khusus akan merasa lebih sengsara

D. Dampak korupsi terhadap aspek penegakan hukum

35
Penegakan hukum yang seharusnya tidak memandang siapa, apa, jabatannya dan
berapa kekayaannya karena semua orang Indonesia kedudukannya sama didepan
hukum, akan tetapi saat ini karena korupsi dan penyuapan hukum di Indonesia dapat
dimanipulasi sehingga sekarang ada istilah hukum tajam kebawah tumpul keatas.
Sebagai contoh yaitu orang yang mencuri ayam, buah cokelat dan hal-hal lain yang
nilainya kurang dari Rp500.000,00 bisa dihukum bertahun-tahun bahkan ada yang
lebih dari lima tahun, akan tetapi para koruptor yang mencuri uang rakyat dengan
jumlah yang tidak sedikit hanya mendapat hukum yang ringan. Jadi intinya apabila
msih ada praktek korupsi atau suap menyuap di Indonesia penegakan hukum yang
bersih dan jujur akan sulit terlaksana

E. Dampak korupsi terhadap kehidupan social masyarakat

Korupsi yang dilakukan pejabat sangat berdampak terhadapa kehidupan masyarakat


contohnya korupsi membuat kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat menjadi
tidak baik karena dana atau anggaran yang seharusnya adalah digunakan untuk
perbaikan kualitas pendidikan atau kesehatan banyaka yang dikorupsi oleh pejabat-
pejabat yang tidak bermoral. Contoh kedua korupsi membuat kesejahteraan menurun
dan pengeluaran masyarakat sehari-hari menjadi tinggi karena subsidi-subsidi yang
harusnya diberikan kepada masyarakat agar sejahtera juga dikorupsi. Selain itu
dampak korupsi juga membuat masyarakat menjadi tidak percaya lagi dengan
pemerintahan sehingga dapat menimbulkan gejolak nasional dan itu dapat merugikan
pertumbuhan dan kestabilan keamanan bangsa.

6. Berbagai kasus kesadaran pajak warga negara yang mengancam eksistensi


ideologi Pancasila.
Jawab :

Beberapa ahli memberikan pengertian antara pajak antara yang satu dengan yang
lainnya.

36
Diantara beberapa pengertian yang diberikan oleh para ahli adalah sebgai berikut.
a) Menurut Sommerfeld: pajak adalah suatu pengalihan sumber-sumber yang wajib
dilakukan dari sektor swasta kepada sektor pemerintah berdasarkan peraturan tanpa
mendapat suatu imabalan kemabali yang langsung dan seimbang, agar pemerintah
dapat melaksanakan tugas tugasnya dalam pemerintahan
b) Menurut Prof. DR. Rochmat Soemitro: pajak adalah pengalihan kekayaan dari
pihak rakyat kepad negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan ‘surplus’nya
digunakan untuk ‘public saving’ yang merupakan sumber utama untuk membiayai
‘public investment’. Dari pengertian itu dapat disimpulkan unsur-unsur yang terdapat
dalam pajak ialah:
 Pajak dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan pelaksananya;
 Sifatnya dapat dipaksakan, hal ini berarti bahwa pelanggaran atas iuran perpajkan
dapat dikenakan sanksi;
 Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontra[restai secara
langsung oleh pemerintah;
 Pajak dipungut oleh Negara baik pemerintah pusat maupun daerah;
 Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari
pemasukannya masih surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment.

2. Makna sila kemanusiaan yang adil dan beradab ( sila kedua )

Pokok pikiran dari sila kemanusiaan yang adil dan beradap sbb:
• Menempatkan manusia sesuai dengan tempatnya sebagai mahluk tuhan,Maksudnya
itu mempunyai sifat universal.
• Menjunjung tinggi kmerdekaan sebagai hak segala bangsa.ini juga universal,bila di
terpkan di indonesia barang tentu bangsa indonesia menghargai dari setiap warga
negara dalam masyarakat indonesia.sila ini mengandung prinsip menolak atau
menjauhi suatu yang bersumber pada ras.dan mengusahakannn kebahagiaan lahir dan

37
batin.
• Mewujudkan keadilan dan peradapan yang tidak lemah.yang dituju bangsa
indonesia adalah keadilan dan peradapan yang tidak pasif.,yaitu perlu pelurusan dan
penegakan (hukum) yang kuat jika terjadi penyimpangan.keadilan harus
direalisasikan dalam kehidupan masyarakat.
Hak kebebasan dan kemerdekaan dijunjung tinggi.dengan adanya prisip ini jika
dalam masyarakat ada kelompok ras,kita tidak boleh bersifat ekslusif menyendiri satu
sama lain.Di indonesia dasar hidup masyarakat persatuan dan kesatuan yang jika di
hubungkan dengan prinsip kemanusiaan itu,maka rasionalismeharus tidak ada.oleh
karena itudi indonesia diharapkan selalu tumbuh dan berkembang kebahagiaan lahir
dan batin.
Mewujudkan keadilan dan peradapan yang tidak lemah berarti diusahakan
perwujudannya secara positif.jika ada hal yang menyimpang dari norma-norma dan
nilai-nilai yang berlaku,harus dilakukan tindakan yang setimpal.Prinsip manusia
adalah nilai-nilai yara di masyarakat indonesia sudah terpelihara sejak dahulu.nilai itu
di perkuat dengan datangnya agama besar di indonesia dan di anut bangsa
indonesia.suasana demikian itu menumbuhkan suasana keakrapan,walaupun pada
masa dahulu semangat ini mulai kendor,karena fenomena disintregasi yang
menampilkan konflik yang disertai dengan tindakan anarkis kekerasaan,dan tindakan
yang merendahkan martabat manusia.landasan kehidupan masyarakat indonesia
beranjak dari senasib dan sepenanggungan dan kemanusiaan dalam arti
luaspersaudaraan dalam arti luas dan meneruskan kebiasaan setia secara mufakat.

A. Ketentuan Umum

Subjek pajak tidak dapat disamakan dengan wajib pajak, dalam UU No.16 tahun
2000 pasal 1 huruf (a) dikatakan bahwa wajib pajak sebagai orang atau badan yang
menurut ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan, ditentukan melakukan
kewajiban pajak, dan pasal 2 ayat (1) UU PPh menentukan yang menjadi subjek PPh

38
adalah orang pribadi, warisan yang belum terbagi, badan dan bentuk usaha tetap yang
memenuhi syarat – syarat subjektif dan sekaligus menjadi wajib pajak jika memenuhi
syarat – syarat objektif.
Pajak memiliki masa pajak sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang
terutang yang kurang dari satu tahun atau 12 bulan berturut – turut dan khusus orang
luar negeri menurut traktat menyatakan dalam waktu lebih 183 hari berada di
Indonesia dianggap sebagai wajib pajak dalam negeri. Dan untuk mengetahuinya ada
surat pemberitahuan yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan
dan pembayaran pajak yang terutang sesuai peraturan perpajakan. Dan dalam surat
pemberitahuan masa atau SPT untuk memberitahukan pajak yang terutang dalam
suatu masa/ bagian dari satu tahun. Kemudian ada surat pemberitahuan tahunan
mengenai pemberitahuan data yang relevan dan jumlah pajak yang terutang dalam
satu tahun pajak hanya untuk PPh, ada juga surat setoran pajak yang digunakan
melakukan pembayaran pejak yang terutang dikas Negara, dan surat tagihan pajak
(STP) untuk melakukan tagihan pajak dan/ atau untuk menagih sanksi yang berupa
bunga atau denda administrasi, kemudian ada surat ketetapan pajak yang menetapkan
besarnya jumlah pajak yang terutang dan jumlah pajak yang harus dibayar, dan
selanjutnya ada surat ketetapan pajak tambahan (SKPT) yang menambah kumlah
pajak yang telah ditetapkan dalam surat ketetapan pajak, dan ada juga surat keputusan
kelebihan pembayaran pajak (SKKPP) yang menentukan kelebihan pembayaran
pajak yang telah dibayar/ dipotong/ dipungut karena pajak yang telah dibayar,
dipotong/ dipungut lebih besar dari pajak yang terutang. Dan ada surat pemberitaan
dari Direktorat jenderal pajak kepada wajib pajak yang memberitahu bahwa jumlah
pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah pajak yang sudah dibayar. Dan ada
juga pajak yang terutang yang mana harus dibayar pada suatu saat dalam masa tahun
pajak sesuai dengan peraturan pajak.
Ada juga berupa surat paksa yang berbentuk ketetapan/ beschiking untuk membayar
pajak sesuai dengan peraturan pajak yang mengaturnya, dan ada berupa kredit pajak
untuk memperhitungkan jumlah pajak yang telah dibayar sendiri oleh wajib pajak
dengan pajak yang terutang, dan kemudian ada pekerjaan bebas (profesi) yang mana

39
pekerjaan bebas yang dilakukan seseorang yang mempunyai keahlihan khusus dalam
suatu bidang tertentu sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat
dalam suatu hubungan kerja, dan yang terakhir adalah tindakan pemerikasaan yang
dilakukan oleh petugas perpajakan dalam ragka melaksanakan pemeriksaan terhadap
wajib pajak untuk mencari bahan – bahan guna perhitungan jumlah pajak yang
terutang dan jumlah pajak yang harus dibayar.

B. Subjek Pajak dan Wajib Pajak

Dalam hal subjek pajak terbagi atas beberapa bagian yakni subjek pajak dalam negeri,
subjek pajak luar negeri (pasal 2 ayat (4) UU No. 17 tahun 2000 yang bermula dan
berakhirnya subjek pajak tidak ditentukan dalam undang – undang melainkan
ditentukan dalam penjelasan. Warisan yang belum terbagi mulai menjadi subjek pajak
penghasilan pada saat timbulnya warisan, yakni pada saat pewaris meninggal dunia,
dan pada subjek badan usaha milik Negara / daerah, yayasan, koperasi dan bentuk
usaha tetap yang juga merupakan subjek pajak pada saat badan usaha milik Negara/
daerah, yayasan, koperasi dan bentuk usaha tetap tersebut didirikan dan berdomisili di
Indonesia.
Dan kemudian dalam hal wajib pajak hampir sama dengan subjek pajak
dimana terdapat wajib pajak dalam negeri dan wajib pajak luar negeri yang mana
harus memenuhi syarat – syarat objektif.

C. Objek Pajak

Yang dapat dijadikan objek pajak sangatlah banyak baik itu keadaan, perbuatan
maupun peristiwa. Dan objek pajak ada yang objek pajak langsung yang dikenakan
pda objek dapat dipengaruhi keadaan wajib pajak dan objek pajak tidak langsung
tidak dipengarui oleh keadaan wajib pajak tetapi objek pajak saja yang menentukan.

40
Objek pajak haruslah didefenisikan dengan tepat dan jelas sehingga tidak
menimbulkan penafsiran lain diluar peraturan perundang – undangan, dan objek pajak
yang pernah berlaku di Indonesia terdiri dari :
1. Objek pajak pendapatan (Ordonansi PPd 1944, stb 1944 No.17)
2. Objek pajak perseroan (Pasal 1 dan 3 Ordonansi 1925, stb 1925 No. 319)
3. Objek pajak penghasilan ( Undang – Undang No. 7 Tahun 1983, LN 1983 No.
50)
4. Objek pajak kekayaan (Stb. 1932 No.405) – tidak berlaku lagi mulai 01-01-1986
5. Objek pajak penjualan (pajak tidak langsung, Undang – Undang No.19 Drt.
Tahum 1951, LN 1951 No.94) – tidak berlaku lagi
6. Objek pajak pertambahan nilai (Undang – Undang No. 8 tahun 1983)
7. Objek pajak rumah tangga (Stb. 1908 No.13) – tidak berlaku lagi mulai 01-01-
1986
8. Objek pajak kendaraan bermotor (Stb. 1934 No.718)
9. Objek bea balik nama kendaraan bermotor (Perpu No. 27 tahun 1959 No.144)
10. Objek pajak anjing (lembaran kotapraja Jakarta raya No. 24 tahun 1959) pajak
sepeda (lembaran kotapraja Jakarta raya no. 6 tahun 1958)
11. Objek pajak jalanan (lembaran kotapraja Jakarta raya No. 25 tahun 1959) –tidak
berlaku lagi mulai 01-01-1986

D. Lembaga Perpajakan, Unsur Pajak dan Lembaga Administrasi Pajak

Pembuatan undang –undang pajak merupakan lembaga yang berdiri sendiri dan
berkesinambungan sepanjang masa, selalu bekerja dalam membuat pajak baru,
mengadakan perubahan perundang – undangan pajak atau menghapuskan pajak –
pajak yang lama dan dibuat penjelasannya guna mendapat kejelasan dan kepastian
hukum. Dan agar Negara dapat mengenakan pajak dengan tepat diperlukan data –
data dari wajib pajak, baik mengenai objeknya maupun subjeknya disamping undang
– undang yang bersangkutan.

41
Dan untuk mencegah penyeludupan data tersebut Direktorat jenderal pajak
membentuk lembaga pengumpulan data yang pada waktunya dapat digunakan untuk
mengadakan pengecekan kebenaran surat pemberitahuan wajib pajak. Yang mana
surat pemberitahuan pajak (SPT) merupakan alat untuk realisasi kerja sama antara
wajib pajak dan administrasi pajak dan kemudian diolah dan dikeluarkannya surat
ketetapan pajak dan proses ini dilakukan lembaga pemberitahuan pajak, namun tidak
semua hutang pajak mempunyai surat ketetapan pajak (SKP).
Pajak juga mempunyai Lembaga keberatan pajak yang menjadi saran dan saluran
hukum yang member kesempatan kepada wajib pajak untuk mencari keadilan apabila
ia merasa bahwa dirinya diperlakukan tidak sebagaimana mestinya dan tidak
diberlakukan adil oleh pihak administrasi pajak. Selain itu ada juga lembaga
peradilan pajak yang memberikan perlindungan pada wajib pajak.
Hukum pada umumnya memaksa karena hukum tanpa sifat paksa tiada gunanya, dan
dalam hukum pajak yang merupakan hukum public alat paksa tersebut dapat
diterpakan secara langsung tanpa ada proses pesidangan di pengadilan inilah yang
disebut parate executie, yang mana kepala inspeksi pajak dapat mengeluarkan surat
paksaan tentang penagihan hutang pajak. Namun dalam pajak ada juga pengawasan
yang sangat penting dalam manajemen perpajakan. Dan pajak akan terealisasi jika
ada lembaga pelaksananya, dan pada dasarnya disebut dengan administrasi pajak,
yang merupakan bagian dari Departement keuangan yang terdiri dari Direktorat
Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Faktor-faktor yang mengancam keutuhan nasional bangsa Indonesia.

1. Religi

2. Ekonomi/Sumber daya alam

3. Historik

4. Pertahanan dan Keamanan

5. Geografi

42
dari 5 faktor yang di atas sangat erat kaitannya dengan culture(budaya)

akan tetapi, pada kesempatan ini saya hanya akan memfokuskan faktor yang
mempengaruhi keutuhan NKRI dari sisi historik(sejarah).

Awal tahun 1950 merupakan periode krusial bagi Indonesia. Pertentangan dan konflik
untuk menentukan bentuk negara bagi bangsa dan negara Indonesia tengah
berlangsung. Pada satu sisi, secara resmi saat itu Indonesia merupakan negara federal,
sebagaimana hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Akan tetapi, pada saat yang
bersamaan muncul gerakan yang menentang keberadaan negara federal itu. Gerakan
ini eksis bukan saja dari kalangan elit. Tetapi juga dikalangan masyarakat bawah.
Gerakan tersebut menghendaki diubahnya bentuk negara federal menjadi Negara
Kesatuan.

Dengan diratifikasinya hasil-hasil KMB oleh KNIP yang bersidang tanggal 6-15
Desember 1949, terbentuklah Republik Indonesia Serikat (RIS). Negara yang
berbentuk federal ini terdiri dari 16 negara bagian yang masing-masing mempunyai
luas daerah dan jumlah penduduk yang berbeda. Negara bagian yang terpenting,
selain Republik Indonesia yang mempunyai daerah terluas dan penduduk yang
terbanyak, ialah Negara Sumatra Timur, Negara Sumatra Selatan, Negara Pasundan,
Dan Negara Indonesia Timur. Sebagian besar negara bagian yang tergabung dalam
RIS mendukung untuk terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
(poesponogoro, 2008:301).

Bagian terpenting dari keputusan KMB adalah terbentuknya Negara Republik


Indonesia Serikat. Memang hasil KMB diterima oleh pemerintah Republik Indonesia.

43
Namun hanya setengah hati. Hal ini terbukti dengan adanya pertentangan dan
perbedaan antar kelompok bangsa.

Dampak dari terbentuknya negara RIS adalah konstitusi yang digunakan bukan lagi
UUD 1945, melainkan konstitusi RIS tahun 1949. Dalam pemerintahan RIS jabatan
presiden dipegang oleh Ir. Soekarno, dan Drs. Mohammad hatta sebagai perdana
menteri. Berdasarkan pandangan kaum nasionalis pembentukan RIS merupakan
strategi pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah kekuatan bangsa
indonesia sehingga belanda akan mudah mempertahankan kekuasaan dan
pengaruhnya di Republik Indonesia.

Reaksi rakyat atas terbentuknya RIS terjadinya demontrasi-demontrasi ynag


menghendaki pembubaran RIS dan penggabungan beberapa Negara bagian RIS.

Belanda membentuk federal sementara yang akan berfungsi sampai terbentuknya


negara Indonesia Serikat. Dalam hal ini, RI baru akan diizinkan masuk dalam NIS
jika permasalahan dengan Belanda sudah dapat teratasi. Selain itu, Belanda berusaha
melenyapkan RI dengan melaksanakan Agresi Militer II. Belanda berharap jika RI
dilenyapkan, Belanda dapat dengan mudah mengatur negara-negara bonekanya. Akan
tetapi, perhitungan Belanda melesat. Agresi militer belanda II, menyebabkan
Indonesia mendapatkan simpati dari negara Internasional. Akhirnya, Belanda harus
mengakui Kedaulatan Indonesia berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar.

Pada tanggal 27 Desember 1949 diadakan penandatanganan pengakuan kedaulatan.


Dengan diakuinya kedaulatan RI oleh Belanda, Indonesia berubah menjadi Negara
Serikat. Akibatnya terbentuklah Republik Negara Serikat. Meskipun demikian,
bangsa Indonesia bertekad untuk mengubah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Kurang dari delapan bulan masa berlakunya, RIS berhasil dikalahkan oleh
semangat persatuan bangsa Indonesia.

Proses kembalinya ke NKRI

44
1. Beberapa negara bagian membubarkan diri dan bergabung dengan RI, Negara Jawa
Timur, Negara Pasundan,Negara Sumatra Selatan, Negara Kaltim, Kalteng, Dayak,
Bangka, Belitung dan Riau.

2. Negara Padang bergabung dengan Sumatra Barat, Sabang bergabung dengan Aceh.

3. Tanggal 5 April 1950 RIS hanya terdiri dari : Negara Sumatra Timur, Negara
Indonesia Timur, Republik Indonesia.

4. Ketiga negara ini (Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, Negara
Sumatra Timur) kemudian bersama RIS sepakat untuk kembali ke negara kesatuan
dan bukan melabur ke dalam Republik.

5. Pada tanggal 3 April 1950 dilangsungkan konferensi antara RIS- NIS-NST. Kedua
negara bagian tersebut menyerahkan mendatnya kepada perdana Menteri RIS Moh.
Hatta pada tanggal 12 Mei 1950.

6. Pada 19 Mei 1950 diadakan kesepakatan dan persetujuan yang masing-masing


diwakili oleh : RIS oleh Moh. Hatta, RI oleh dr. Abdul Halim.

7. Hasil kesepakatan “ NKRI akan dibentuk di Jogjakarta, dan pembentukan panitia


perancang UUD.

8. Pada 15 Agustus 1950, setelah melalui berbagai proses, dilakukan pengesahan


UUS RIS yang bersifat sementara sehingga dikenal dengan UUD’S 1950. Ini
menunjukkan akan terjadi perubahan. UUD’s ini di sahkan oleh presiden RIS. UUD
RIS terdiri dari campuran UUD 45 dan UUD RIS.

9. Pada 17 Agustus 1950. RIS secara resmi dibubarkan dan Indonesia kembali ke
bentuk negara kesatuan.

Indonesia mengalami perubahan bentuk Negara kesatuan menjadi Negara federal


bukan saja disebabkan oleh faktor dalam negeri, tetapi ada hubungannya dengan

45
kehadiran Belanda. Kuatnya keinginan Belanda sebagai Negara koloni untuk
mempertahankan pengaruh dan kekuasaanya di Indonesia membuat Negara ini
sempat mengalami perubahan bentuk Negara.

Terjadinya perubahan dari Negara federal menjadi Negara kesatuan tidak dapat
disangkal disebabkan dukungan politik dari masyarakat Indonesia terhadap ide
Negara federal sesunguhnya sangat lemah. Ide negara federal muncul dari ambisi
politik orang-orang Belanda yang sepertinya takut negerinya tidak lagi mempunyai
peran di Asia. Oleh karena itulah ketika masalah kemerdekaan Indonesia sudah tidak
dapat ditawar lagi, mereka memperkenalkan ide mengenai pembentukan negara
federal.

Republik Indonesia Serikat yang berbentuk federal itu tidak disenangi oleh sebagian
besar rakyat Indonesia, karena sistem federal digunakan oleh Belanda sebagai
muslimat untuk menghancurkan RI selain itu bentuk negara serikat tidak sesuai
dengan kepribadian bangsa Indonesia dan tidak sesuai dengan cita-cita proklamasi
kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945. Disamping itu, konstitusi
federal dianggap hanya menimbulkan perpecahan. Hal tersebut mendorong keinginan
untuk kembali ke negara kesatuan. Pada dasarnya pembentukan negara-negara bagian
adalah keinginan Belanda, bukan kehendak rakyat karena Belanda ingin menanamkan
pengaruhnya dalam RIS. Rapat-rapat umum diselenggarakan di berbagai daerah, juga
demontrasi-demontrasi yang membentuk pembubaran RIS. Sebagian dari pemimpin
RI termasuk yang ada dalam parlemen, bertekad untuk secepat mungkin menghapus
sistem federal dan membentuk negara kesatuan.

Bagaimana agar keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga? Salah
satu caranya adalah kita sebagai warga negara berpartisipasi dalam upaya menjaga
keutuhan wilayah dan bangsa Indonesia. Berpartisipasi artinya turut serta atau terlibat
dalam kegiatan-kegiatan yang dapat menjaga keutuhan wilayah dan bangsa

46
Indonesia. Untuk turut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
diperlukan sikap-sikap:

1) Cinta Tanah Air

Sebagai warga negara Indonesia kita wajib mempunyai rasa cinta terhadap tanah air.
Cinta tanah air dan bangsa dapat diwujudkan dalam berbagai hal, antara lain:

• Menjaga keamanan wilayah negaranya dari ancaman yang datang dari luar maupun
dari dalam negeri.

• Menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

• Mengolah kekayaan alam dengan menjaga ekosistem guna meningkatkan


kesejahteraan rakyat.

• Rajin belajar guna menguasai ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin untuk
diabdikan kepada negara.

2) Membina Persatuan dan Kesatuan

Pembinaan persatuan dan kesatuan harus dilakukan di manapun kita berada, baik di
lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara. Tindakan yang
menunjukkan usaha membina persatuan dan kesatuan, antara lain:

• Menyelenggarakan kerja sama antar daerah.

• Menjalin persahabatan antarsuku bangsa.

• Memberi bantuan tanpa membedakan suku bangsa atau asal daerah.

• Mempelajari berbagai kesenian dari daerah lain,

• Memperluas pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

47
• Mengerti dan merasakan kesedihan dan penderitaan orang lain, serta tidak mudah
marah atau menyimpan dendam.

• Menerima teman tanpa mempertimbangkan perbedaan suku, agama, maupun bahasa


dan kebudayaan

3) Rela Berkorban

Sikap rela berkorban adalah sikap yang mencerminkan adanya kesediaan dan
keikhlasan memberikan sesuatu yang dimiliki untuk orang lain, walaupun akan
menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri. Partisipasi dalam menjaga keutuhan
NKRI dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut:

• Partisipasi tenaga

• Partisipasi pikiran

4) Pengetahuan Budaya dalam Mempertahankan NKRI

Era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan,


teknologi, komunikasi, dan informasi telah mendorong perubahan dalam aspek
kehidupan manusia, baik pada tingkat individu, tingkat kelompok, maupun tingkat
nasional. Untuk menghadapi era globalisasi agar dapat dimanfaatkan semaksimal
mungkin dan ditangkap secara tepat, kita memerlukan perencanaan yang matang
diantaranya adalah sebagai berikut :

• Kesiapan SDM, terutama kesiapan dengan pengetahuan yang dimiliki dan


kemampuannya.

• Kesiapan sosial budaya untuk terciptanya suasana yang kompetitif dalam berbagai
sektor kehidupan.

48
• Kesiapan keamanan, baik stabilitas politik dalam negeri maupun luar negeri /
regional.

• Kesiapan perekonomian rakyat.

Di bidang Pertahanan Negara, kemajuan tersebut sangat mempengaruhi pola dan


bentuk ancaman. Ancaman terhadap kedaulatan negara yang semula bersifat
konvensional berkembang menjadi multidimensional (fisik dan nonfisik), baik
berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Oleh karena itu kebijakan strategis
penggunaan kekuatan pertahanan diarahkan untuk menghadapi ancaman atau
gangguan terhadap keamanah nasional. Kekuatan pertahanan tidak hanya digunakan
untuk menghadapi ancaman tetapi juga untuk membantu pemerintah dalam upaya
pembangunan nasional dan tugas-tugas internasional.

5) Sikap dan Perilaku Menjaga Kesatuan NKRI

Berikut beberapa sikap dan perilaku mempertahankan NKRI :

• Menjaga wilayah dan kekayaan tanah air Indonesia, artinya menjaga seluruh
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.

• Menciptakan ketahanan nasional, artinya setiap warga negara menjaga keutuhan,


kedaulatan Negara dan mempererat persatuan bangsa.

• Menghormati perbedaan suku, budaya, agama dan warna kulit. Perbedaan yang ada
akan menjadi indah jika terjadi kerukunan, bahkan menjadi sebuah kebanggaan
karena merupakan salah satu kekayaan bangsa.

• Mempertahankan kesamaan dan kebersamaan, yaitu kesamaan memiliki bangsa,


bahasa persatuan, dan tanah air Indonesia, serta memiliki pancasila, Undang-Undang
Dasar 1945, dan Sang saka merah putih. Kebersamaan dapat diwujudkan dalam
bentuk mengamalkan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945.

49
• Memiliki semangat persatuan yang berwawasan nusantara, yaitu semangat
mewujudkan persatuan dan kesatuan di segenap aspek kehidupan sosial, baik alamiah
maupun aspek sosial yang menyangkut kehidupan bermasyarakat. Wawasan
nusantara meliputi kepentingan yang sama, tujuan yang sama, keadilan, solidaritas,
kerja sama, kesetiakawanan terhadap ikrar bersama.

• Menaati peraturan. Salah satu cara menjaga keutuhan Indonesia adalah dengan
menaati peraturan. Peraturan dibuat untuk mengatur kehidupan berbangsa dan
bernegara.Tujuannya agar Indonesia menjadi lebih baik. Melalui peraturan, Indonesia
akan selamat dari kekacauan. Taat kepada undang-undang dan peraturan berlaku bagi
seluruh rakyat Indonesia. Peraturan berlaku baik untuk presiden maupun rakyat biasa,
baik tua maupun muda, baik yang kaya maupun yang miskin, baik laki-laki maupun
perempuan.

Peran ideologi Pancasila sebagai pemersatu bangsa Indonesia.

IDEOLOGI PANCASILA SEBAGAI ALAT PEMERSATU BANGSA Pancasila


adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya telah dijabarkan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai sumber dari
keseluruhan politik hukum nasional Indonesia. Pancasila mengandung nilai dasar
yang bersifat tetap, tetapi juga mampu berkembang secara dinamis. Dengan perkataan
lain, Pancasila menjadi dasar yang statis, tetapi juga menjadi bintang tuntunan
dinamis. Dalam kapasitasnya Pancasila merupakan cita-cita bangsa yang merupakan
ikrar segenap bangsa Indonesia dalam upaya mewujudkan masyarakat adil dan
makmur yang merata materiil maupun spirituil. Sebagai salah satu peranannya yang
merupakan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di
Indonesia, sudah seharusnya Pancasila menjadi tolak ukur untuk menentukan
pembentukan landasan-landasan hukum lain seperti misalnya Undang-Undang.
Tetapi untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik, diperlukan
berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem, asas, tata cara penyiapan dan
pembahasan, teknik, penyusunan maupun pemberlakuannya. Indonesia sebagai
negara yang mendasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

50
Republik Indonesia Tahun 1945, segala aspek kehidupan dalam bidang
kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus
senantiasa berdasarkan atas hukum yang berlaku di Indonesia. Ada faktor
kesinambungan yang sangat mendasar yang kita anggap luhur dan menyatukan kita
sebagai bangsa. Faktor kesinambungan yang mendasar itu ialah Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Intisari dari faktor kesinambungan yang sangat
mendasar inilah yang tidak boleh berubah. Yang kita lakukan adalah melaksanakan
dan mengamalkannya secara kreatif dalam menjawab tantangan-tantangan baru yang
terus menerus muncul dalam perkembangan masyarakat kita dan masyarakat dunia
yang sangat dinamis. Dalam peralihan dari masyarakat terjajah menjadi masyarakat
nasional, Pancasila telah menjalankan fungsinya yang sangat penting. Tanpa
Pancasila, masyarakat nasional kita tidak akan pernah mencapai kekukuhan seperti
yang kita miliki sekarang ini. Hal ini akan lebih kita sadari jika kita mengadakan
perbandingan dengan keadaan masyarakat nasional di banyak negara, yang mencapai
kemerdekaannya hampir bersamaan waktu dengan kita. Pancasila dianggap sebagai
alat pemersatu, karena berisi cita-cita dan gambaran tentang nilai-nilai ideal yang
akan diwujudkan oleh bangsa ini. Bangsa Indonesia yang bersifat majemuk, terdiri
atas berbagai agama, suku bangsa, adat istiadat, bahasa daerah, menempati wilayah
dan kepulauan yang sedemikian luas, maka tidak mungkin berhasil disatukan tanpa
alat pengikat. Tali pengikat itu adalah cita-cita, pandangan hidup yang dianggap ideal
yang dipahami, dipercaya dan bahkan diyakini sebagai sesuatu yang mulia dan luhur.
Pancasila juga sebagai dasar dan ideologi negara, yaitu sumber kaidah hukum yang
mengatur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan meliputi suasana
kebatinan atau cita-cita hukum yang menguasai hukum dasar negara. Pancasila
bukanlah tulisan kuno yang harus ditinggalkan. Implementasi pancasila dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara haruslah dijalankan setiap waktu. Implementasi
pancasila ini haruslah diterapkan sebagaimana mestinya, karena pancasila berbicara
dalam konteks universal. Pluralisme (berbagai kebudayaan yang berbeda-beda
dimasyarakat) yang ada di Indonesia harusnya dijadikan sebagai ujung tombak dalam
menyatukan semua golongan. Prinsip BHINEKA TUNGGAL IKA merupakan alat

51
pemersatu bangsa Indonesia. Bagaimanapun, bangsa Indonesia merupakan bangsa
yang majemuk yang hidup secara berdampingan. Memang setiap agama pasti
memiliki ajaran tentang gambaran kehidupan ideal, yang masing-masing berbeda-
beda. Perbedaan itu tidak akan mungkin dapat dipersamakan. Apalagi, perbedaan itu
sudah melewati dan memiliki sejarah panjang. Akan tetapi, masing-masing pemeluk
agama lewat para tokoh atau pemukanya, sudah berjanji dan berekrar akan
membangun negara kesatuan berdasarkan Pancasila itu. Memang ada sementara
pendapat, bahwa agama akan bisa mempersatukan bangsa. Dengan alasan bahwa
masing-masing agama selalu mengajarkan tentang persatuan, kebersamaan dan tolong
menolong, sebagai dasar hidup bersama. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit
konflik yang terjadi antara penganut agama yang berbeda. Tidak sedikit orang
merasakan bahwa perbedaan selalu menjadi halangan untuk bersatu. Maka Pancasila,
dengan sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, merangkum dan sekaligus
menyatukan pemeluk agama yang berbeda itu. Mereka yang berbeda-beda dari
berbagai aspeknya itu dipersatukan oleh cita-cita dan kesamaan idiologi bangsa ialah
Pancasila. Maka, Pancasila adalah sebagai tali pengikat bangsa yang harus selalu
diperkukuh dan digelorakan pada setiap saat. Bagi bangsa Indonesia melupakan
Pancasila, maka sama artinya dengan melupakan kesepakatan dan bahkan janji
bersama itu. Oleh sebab itu, Pancasila, sejarah dan filsafatnya harus tetap
diperkenalkan dan diajarkan kepada segenap warga bangsa ini, baik lewat pendidikan
formal maupun non formal. Pancasila memang hanya dikenal di Indonesia, dan tidak
dikenal di negara lain. Namun hal itu tidak berarti, bahwa bangsa ini tanpa Pancasila
bisa seperti bangsa lain. Bangsa Indonesia memiliki sejarah, kultur, dan sejarah
politik yang berbeda dengan bangsa lainnya. Keaneka-ragaman bangsa Indonesia
memerlukan alat pemersatu, ialah Pancasila.

52
DAFTAR PUSTAKA

- http://blogkoeblogmu.blogspot.com/2013/04/konsep-idiologi.html

Di akses 3 Juli 2018

- https://guruppkn.com/pancasila-sebagai-ideologi-terbuka

Di akses 3 Juli 2018

- http://www.learniseasy.com/pengertian-pancasila-sebagai-ideologi-terbuka-dan-
tertutup-lengkap.html

Di akses 3 Juli 2018

- http://coretan-berkelas.blogspot.com/2014/10/pancasila-sebagai-ideologi-terbuka-
dan.html

Di akses 3 Juli 2018

- http://tanjungpinangpos.id/memperkuat-argumentasi-pancasila-sebagai-ideologi-
negara/

Di akses 3 Juli 2018

- http://apriliadera.blogspot.com/2012/11/penggunaan-narkoba-terhadap-
pelanggaran.html

Di akses 3 Juli 2018

- http://120910201085.blogspot.com/2014/04/keterkaitan-pancasila-dengan-
terorisme.html

Di akses 3 Juli 2018

- http://cliwo.blogspot.com/2015/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Di akses 3 Juli 2018

53
- http://umar-faruq.blogspot.com/2012/12/hubungan-pancasila-dengan-pajak.html

Di akses 3 Juli 2018

- http://widyarahmi24.blogspot.com/2015/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

Di akses 3 Juli 2018

- https://jemifaisal.wordpress.com/2012/04/30/ideologi-pancasila-sebagai-alat-
pemersatu-bangsa/

Di akses 3 Juli 2018

54
B

MENGAPA PANCASILA
MERUPAKAN SISTEM FILSAFAT ?

55
BAB V

MENGAPA PANCASILA MERUPAKAN SISTEM FILSAFAT ?

1. Berbagai Konsep dan pengertian kearifan lokal dalam kehidupan


masyarakat di indonesia yang terkait dengan sikap insklusif, toleran dan
gotong royong dalam keragaman dan budaya.

Jawab

Kearifan lokal menurut UU No.32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan


lingkungan hidup BAB I Pasal 1 butir 30 adalah adalah “nilai-nilai luhur yang
berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan
mengelola lingkungan hidup secara lestari”.

Selanjutnya Ridwan (2007:2) memaparkan:


Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia
dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap
sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu.

Pengertian tersebut, disusun secara etimologi, di mana wisdom dipahami sebagai


kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau
bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi.

56
Sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai "kearifan/kebijaksanaan".
Local secara spesifik menunjuk pada ruang interaksi terbatas dengan sistem nilai yang
terbatas pula. Sebagai ruang interaksi yang sudah didesain sedemikian rupa yang di
dalamnya melibatkan suatu pola-pola hubungan antara manusia dengan manusia atau
manusia dengan lingkungan fisiknya. Pola interaksi yang sudah terdesain tersebut
disebut setting. Setting adalah sebuah ruang interaksi tempat seseorang dapat
menyusun hubungan-hubungan face to face dalam lingkungannya. Sebuah setting
kehidupan yang sudah terbentuk secara langsung akan memproduksi nilai-nilai. Nilai-
nilai tersebut yang akan menjadi landasan hubungan mereka atau menjadi acuan
tingkah laku mereka.

Adapun menurut Keraf (2010: 369) bahwa kearifan lokal adalah sebagai berikut:
Yang dimaksud dengan kearifan tradisional di sini adalah semua bentuk pengetahuan,
keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun
perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Jadi kearifan lokal
ini bukan hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang
manusia dan bagaimana relasi yang baik di antara manusia, melainkan juga
menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan
bagaimana relasi di antara semua penghuni komunitas ekologis ini harus dibangun.
Seluruh kearifan tradisional ini dihayati, dipraktikkan, diajarkan dan diwariskan dari
satu generasi ke generasi lain yang sekaligus membentuk pola perilaku manusia sehari-
hari, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam dan Yang Gaib.
Hal tersebut menunjukkan bahwa:

Pertama, kearifan tradisional adalah milik komunitas. Demikian pula, yang dikenal
sebagai pengetahuan tentang manusia, alam dan relasi dalam alam juga milik
komunitas. Tidak ada pengetahuan atau kearifan tradisional yang bersifat individual.

Kedua, kearifan tradisional, yang juga berarti pengetahuan tradisional, lebih bersifat
praktis, atau “pengetahuan bagaimana”. Pengetahuan dan kearifan masyarakat adat

57
adalah pengetahuan bagaimana hidup secara baik dalam komunitas ekologis, sehingga
menyangkut bagaimana berhubungan secara baik dengan semua isi alam. Pengetahuan
ini juga mencakup bagaimana memperlakukan setiap bagian kehidupan dalam alam
sedemikian rupa, baik untuk mempertahankan kehidupan masing-masing spesies
maupun untuk mempertahankan seluruh kehidupan di alam itu sendiri. Itu sebabnya,
selalu ada berbagai aturan yang sebagian besar dalam bentuk larangan atau tabu tentang
bagaimana menjalankan aktivitas kehidupan tertentu di alam ini.

Ketiga, kearifan tradisional bersifat holistik, karena menyangkut pengetahuan dan


pemahaman tentang seluruh kehidupan dengan segala relasinya di alam semesta. Alam
adalah jaring kehidupan yang lebih luas dari sekedar jumlah keseluruhan bagian yang
terpisah satu sama lain. Alam adalah rangkaian relasi yang terkait satu sama lain,
sehingga pemahaman dan pengetahuan tentang alam harus merupakan suatu
pengetahuan menyeluruh.

Keempat, berdasarkan kearifan tradisional dengan ciri seperti itu, masyarakat adat juga
memahami semua aktivitasnya sebagai aktivitas moral. Kegiatan bertani, berburu dan
menangkap ikan bukanlah sekedar aktivitas ilmiah berupa penerapan pengetahuan
ilmiah tentang dan sesuai dengan alam, yang dituntun oleh prinsip-prinsip dan
pemahaman ilmiah yang rasional. Aktivitas tersebut adalah aktivitas moral yang
dituntun dan didasarkan pada prinsip atau tabu-tabu moral yang bersumber dari
kearifan tradisional.

Kelima, berbeda dengan ilmu pengetahuan Barat yang mengkalim dirinya sebagai
universal, kearifan tradisional bersifat lokal, karena terkait dengan tempat yang
partikular dan konkret. Kearifan dan pengetahuan tradisional selalu menyangkut
pribadi manusia yang partikular (komunitas masyarakat adat itu sendiri), alam (di
sekitar tempat tinggalnya) dan relasinya dengan alam itu. Tetapi karena manusia dan
alam bersifat universal, kearifan dan pengetahuan tradisional dengan tidak
direkayasapun menjadi universal pada dirinya sendiri. Kendati tidak memiliki rumusan

58
universal sebagaimana dikenal dalam ilmu pengetahuan modern, kearifan tradisional
ternyata ditemukan di semua masyarakat adat atau suku asli di seluruh dunia, dengan
substansi yang sama, baik dalam dimensi teknis maupun dalam dimensi moralnya.

Menurut Teezzi, dkk (dalam Ridwan, 2007:3) mengatakan bahwa "akhir dari
sedimentasi kearifan lokal ini akan mewujud menjadi tradisi atau agama". Dalam
masyarakat kita, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, sasanti,
petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari.
Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang
telah berlangsung lama. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-
nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi
pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak
terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari.

Proses sedimentasi ini membutuhkan waktu yang sangat panjang, dari satu generasi ke
generasi berikut. Teezzi, dkk (dalam Ridwan, 2007:3) mengatakan bahwa
„kemunculan kearifan lokal dalam masyarakat merupakan hasil dari proses trial and
error dari berbagai macam pengetahuan empiris maupun non-empiris atau yang estetik
maupun intuitif‟.

Ardhana (dalam Apriyanto, 2008:4) menjelaskan bahwa: menurut perspektif kultural,


kearifan lokal adalah berbagai nilai yang diciptakan, dikembangkan dan dipertahankan
oleh masyarakat yang menjadi pedoman hidup mereka. Termasuk berbagai mekanisme
dan cara untuk bersikap, bertingkah laku dan bertindak yang dituangkan sebagai suatu
tatanan sosial.

Di dalam pernyataan tersebut terlihat bahwa terdapat lima dimensi kultural tentang
kearifan lokal, yaitu (1) pengetahuan lokal, yaitu informasi dan data tentang karakter
keunikan lokal serta pengetahuan dan pengalaman masyarakat untuk menghadapi
masalah serta solusinya. Pengetahuan lokal penting untuk diketahui sebagai dimensi

59
kearifan lokal sehingga diketahui derajat keunikan pengetahuan yang dikuasai oleh
masyarakat setempat untuk menghasilkan inisiasi lokal; (2) Budaya lokal, yaitu yang
berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan yang telah terpola sebagai tradisi lokal, yang
meliputi sistem nilai, bahasa, tradisi, teknologi; (3) Keterampilan lokal, yaitu keahlian
dan kemampuan masyarakat setempat untuk menerapkan dan memanfaatkan
pengetahuan yang dimiliki; (4) Sumber lokal, yaitu sumber yang dimiliki masyarakat
untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan melaksanakan fungsi-fungsi utamanya; dan
(5) proses sosial lokal, berkaitan dengan bagaimana suatu masyarakat dalam
menjalankan fungsi- fungsinya, sistem tindakan sosial yang dilakukan, tata hubungan
sosial serta kontrol sosial yang ada.

Pengertian Kearifan Lokal

Warigan (2011)

Menurut Warigan, Kearifan Lokal adalah nilai-nilai yang ada kearifan lokal d
Indonesia sudah terbukti turut menentukan kemajuan masyarakatnya.

Sibarani (2012)

Menurut Sibarani, Kearifan Lokal adalah suatu bentuk pengetahuan asli dalam
masyarakat yang berasal dari nilai luhur budaya masyarakat setempat untuk mengatur
tatanan kehidupan masyarakat atau dikatakan bahwa kearifan lokal.

Wikipedia

Menurut Wikipedia, Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat
yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal
biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi melalui
cerita dari mulut ke mulut.

Al Musafiri, Utaya Dan Astina (2016)

60
Menurut Al Musafiri, Utaya Dan Astina, Kearifan lokal adalah peran untuk
mengurangi dampak globalisasi dengan cara menananmkan nilai positif kepada
remaja. Penanaman nilai tersebut didasarkan pada nilai, norma serta adat istiadat yang
dimiliki setiap daerah.

Kamus Inggris-Indonesia

Menurut Kamus Inggris-Indonesia, Kearifan lokal terdiri dari 2 kata yaitu kearifan
(wisdom) dan lokal (local. Local berarti setempat dan wisdom artinya kebijaksanaan.
Dengan kata lain, local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai
pandangan-pandangan setempat yang sifatnya bijaksana, penuh kearifan, nilai baik
yang tertanama dan diikuti oleh anggota masyarakat.

Paulo Freire (1970)

Menurut Paulo Freire, Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pendidikan yang
mengajarkan peserta didik untuk selalu konkret dengan apa yang mereka hadapi.

Sartini (2004)

Menurut Sartini, Kearifan lokal adalah gagasan-gagasan setempat yang bersifat


bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanaman dan diikuti oleh anggota
masyarakatnya.

Haryati Soebadio

Menurut Haryati Soebadio, Kearifan lokal adalah suatu identitas atau kepribadian
budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu untuk menyaring dan
memilikh akan budaya yang masuk kedalam diri dan watak dirinya.

Rahyono (2009)

Menurut Rahyono, Kearifan lokal adalah kecerdasan manusia yang dimiliki oleh
kelompokk etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat. Artinya,
kearifan lokal disini yaitu hasil dari masyarakat tertentu melalui pengalaman mereka
dan belum tentu dialami oleh masyarakat lain.

61
UU No.32/2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Menurut UU No.32/2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,


Kearifan Lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan
masyarakat antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari.

Phongphit dan Nantasuwan

Menurut Phongphit dan Nantasuwan, Kearifan lokal adalah pengetahuan yang


berdasarkan pengalaman masyarkat turun-temurun antargenerasi. Pengetahuan ini
menjadi aturan bagi kegiatan sehari-hari masyarakat ketika berhubungan dengan
keluarga, tetangga, masyarakat lain dan lingkungan sekitar.

S.Swarsi

Menurut S.Swarsi, Kearifan lokal adalah kebijaksanaan manusia yang bersandar pada
filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional.

Sunaryo et al (2003)

Menurut Sunaryo et al, Kearifan lokal bisa terbentuk dari suatu pengetahuan lokal
yang telah demikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma dan budaya, serta
diekspresikan didalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang cukup
lama.

Keraf (2002)

Menurut Keraf (2002), Kearifan lokal mencakup semua bentuk pengetahuan,


keyakinan, pemahaman, wawasan, serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun
perilaku manusia dalam kehidupannya didalam komunitas ekologis.

Tjahjono et al (2000)

Menurut Tjahjono et al, Kearifan lokal adalah suatu sistem nilai dan norma yang
disusun, dianut, dipahami dan diaplikasikan masyarakat lokal berdasarkan
pemahaman dan pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan.

62
I Ketut Gobyah

Menurut I Ketut Gobyah, Kearifan lokal adalah kebenaran yang telah mentradisi atau
ajeg dalam suatu daerah.

H.Quaritch Wales

Menurut H.Quaritch Wales, Kearifan lokal adalah kemampuan budaya setempat


dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan itu
berhubungan.

Apriyanto (2008)

Menurut Apriyanto, Kearifan lokal adalah berbagai nilai yang diciptakan,


dikembangkan dan dipertahankan oleh masyarakat yang menjadi pedoman hidup
mereka.

2. Berbagai Kasus yang terkait dengan pengembangan karakter


pancasilasi, seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun,
ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai dilingkungan anda

Jawab

Jujur

Contoh Kasus

- Seseorang ketika menemukan uang dijalan melaporkan dengan pihak yang


berwajib seperti tempat informasi.

Disiplin

Contoh Kasus

- Ketika di tempat sekolah mematuhi peraturan yang telah ditetapkan, baik


terhadap waktu, perilaku diri, dan aturam.

Peduli

63
Contoh Kasus

- Mengajarkan teman-teman sekelas yang tak mengerti dengam mata


pelajaran tanpa adanya honor satu persenpun.

Santun

Contoh Kasus

- Menghargai pendapat orang lain ketika lagi bermusyawarah atau


sejenisnya.

Gotong Royong

Contoh Kasus

- Kerja Bakti untuk memperbaiki jalan atau material yang harus diperbaiaki
demi untuk kelayanan bersama.

Cinta Damai Dilingkungan sekitar

- Membuang sampah pada tempatnya, lalu melakukan reboisasi untuk


mencintai lingkungan sekitar.
3. Contoh Tentang Keputusan yang diambil berdasar pada prinsip
musyawarah dan mufakat di lingkungan sekitar anda.
Jawab

Keputusan berasal dari kata putusan yang diartikan sebagai hasil dari suatu
pembicaraan yang telah disepakati bersama atau disepakati oleh orang-orang yang
melakukan pembicaraan tesebut (kesimpulan akhir). Keputusan bersama adalah suatu
keputusan yang sudah ditetapkan berdasarkan pertimbangan, pemikiran serta
pembahasan yang matang untuk dijalankan bersama. Keputusan yang telah disepakati
dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan harus mewakili seluruh kepentingan
seluruh anggota. Dalam pengambila keputusan harus berdasarkan pada nilai penting
ynag meliputi:

a. Nilai kebersamaan

64
b. Nilai kebebasan mengemukakan pendapat

c. Nilai menghargai pendapat orang lain

d. Nilai jiwa besar serta lapang dada

e. Nilai persamaan hak.

Berdasarka ketetapan MPR No II/MPRS/1999 Pasal 79 dijelaskan bahwa


pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin dengan
musyawarah untuk mufakat, apabila hal ini tidak mungkin, putusan diambil
berdasarkan suara terbanyak. Sedangkan syarat sahnya keputusan berdasarkan
musyawarah yaitu apabila diambil dalam suatu rapat yang daftar hadirnya telah
ditandatangani leboh dari separo dan jumlah anggota rapat yang mencerminkan setiap
fraksi (sebagaimana telah diatur dalam TAP MPR No II/ MPR/1999 Pasal 83.
Berdasarkan pedoman pelaksanaan tersebut, ahwa prinsip-prinsip yang terkandung
dalam proses musyawarah untuk mufakatdiantaranya adalah:

1. Musyawarah untuk mufakat ini bersumber pada paham kerakyatan yang


dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

2. Setiap putusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan dan tidak bileh
bertentangan dengan Pancasilamdan UUD 1945.

Contoh keputusan berdasarkan musyawarah dan mufakat:

1. Keputusan dalam lingkungan keluarga

a. Pembagian tugas-tugas rumah yang harus dikerjakan oleh anggota keluarga.

b. Kerja bakti bersama keluarga.

c. Pembagian uang saku untuk setiap anggota keluarga.

d. Menentukn atura-aturan yang harus ditaati dalam lingkungan keluarga.

e. Menentukan tempat rekreasi keluarga.

65
f. Menentukan menu makanan.

2. Keputusan dalam lingkungan sekolah

a. Memilih pengurus kelas, seperti pemilihan ketua kelas.

b. Pemilihan pengurus OSIS sekolah.

c. Pembagian jadwal piket.

d. Pembagian jadwal pelajaran.

e. Keputusan mengenai pemakaian seragan sekolah siswa.

f. Keputusan mengenai jadwal kegiatan ekstrakurikuler.

3. Keputusan dalam lingkungan keluarga

a. Kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan.

b. Kegiatan kerja bakti.

c. Kegiatan ronda malam.

d. Iuran bulanan warga.

e. Kegiatan membangun tempat ibadah.

f. Peringatan dan pelaksanaan 17 Agustus

g. Kegiatan perbaikan jalan.

4. Keputusan dalam lingkungan Negara

a. Rapat-rapat DPR/ Komisi.

b. Keputusan tentang undang-undang.

c. Keputusan tentang konstitusi negara.

d. Keputusan tentang ideologi negara

e. Keputusan bersama tentang program pembangunan.

66
f. Keputusan tentang peraturan lalu lintas di jalan raya.

Pelaksanaan musyawarah untuk mufakat dapat terhambat atau sulit dilakukan


apabila:

1. Peserta musyawarah hanya mementigkan diri sendiri.

2. Tidak menggunakan akal yang sehat dan hati nurai yang luhur.

3. Berlaku tidak sopan dan bertutur kata yang tidak baik.

4. Memaksakan kehendak.

5. Tidak mau menghormati orang lain.

Manfaat menyelesaikan maslah dengan musyawarah:

a. Masalah dapat cepat terselesaikan/terpecahkan.

b. Keputusan yang diambil memiliki nilai keadilan.

c. Hasil keputusan menguntungkan semua pihak.

d. Dapat menyatukan pendapat yang berbeda.

e. Adanya kebersamaan.

67
DAFTAR PUSTAKA

- http://novittralala.blogspot.com/2016/05/keputusan-berdasarkan-
musyawarah-dan.html
Diakses 4 Juli
- http://www.pelajaran.co.id/2017/09/pengertian-kearifan-lokal-ciri-
bentuk-ruang-lingkup-dan-contoh-kearifan-lokal-menurut-para-
ahli.html
Diakses 4 Juli
- http://palitopiaman.blogspot.com/2016/01/konsep-kearifan-lokal.html

Diaskes 4 Juli

68
B

BAGAIMANA PANCASILA
MENJADI SISTEM ETIKA?

69
BAB VI

BAGAIMANA PANCASILA MENJADI SISTEM ETIKA?

1. Beberapa kasus yang memeperlihatkan ketrampilan induvidu atau kelompok


dalam merumuskan solusi atas problem moralitas bangsa (misalnya :
kepatuhan membayar pajak, mencegah korupsi) dengan pendekatan Pancasila.
Jawab
Contoh Kasus Narkoba

Korupsi berasal dari kata latin Corrumpere, Corruptio, atau Corruptus. Arti harfiah
dari kata tersebut adalah penyimpangan dari kesucian (Profanity), tindakan
tidak bermoral, kebejatan, kebusukan, kerusakan, ketidakjujuran atau kecurangan.
Dengan demikian korupsi memiliki konotasi adanya tindakan-tindakan hina, fitnah
atau hal-hal buruk lainnya. Bahasa Eropa Barat kemudian mengadopsi kata ini
dengan sedikit modifikasi; Inggris : Corrupt, Corruption; Perancis : Corruption;
Belanda : Korruptie. Dan akhirnya dari bahasa Belanda terdapat penyesuaian ke
istilah Indonesia menjadi : Korupsi.

Kumorotomo (1992 : 175), berpendapat bahwa “korupsi adalah penyelewengan


tanggung jawab kepada masyarakat, dan secara faktual korupsi dapat berbentuk
penggelapan, kecurangan atau manipulasi”. Lebih lanjut Kumorotomo
mengemukakan bahwa korupsi mempunyai karakteristik sebagai kejahatan yang tidak
mengandung kekerasan (non-violence) dengan melibatkan unsur-unsur tipu muslihat
(guile), ketidakjujuran (deceit) dan penyembunyian suatu kenyataan (concealment).

Korupsi berdasarkan pemahaman pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999


yang diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Korupsi
merupakan tindakan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri/orang lain
(perseorangan atau sebuah korporasi) , yang secara langusng maupun tidak langsung
merugikan keuangan atau prekonomian negara, yang dari segi materiil perbuatan itu
dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan
masyarakat.

70
Korupsi= Pencurian + Penggelapan

Untuk pengertian korupsi pada point yang terkahir, Komisi Pemberantasan Korupsi
dalam buku Mengenali Dan Memberantas Korupsi memberikan suatu kiat untuk
memahami korupsi secara mudah; yaitu dengan memahami terlebih dahulu
pengertian pencurian dan penggelapan
1) Pencurian berdasarkan pemahaman pasal 362 KUHP, merupakan suatu perbuatan
melawan hukum mengambil sebagian atau seluruh milik orang lain dengan tujuan
untuk memiliki atau menguasainya. Barang/hak yang berhasil dimiliki bisa diartikan
sebagai keuntungan bagi pelaku

2) Penggelapan berdasarkan pemahaman pasal 372 KUHP, merupakan pencurian


barang/hak yang dipercayakan atau berada dalam kekuasaan pelaku.

2. AKIBAT DARI KORUPSI

K.A Abbas (1975), korupsi berakibat sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, baik
aspek kehidupan sosial, politik, birokrasi, ekonomi, dan individu. Bahaya korupsi
bagi kehidupan diibaratkan bahwa korupsi adalah seperti kanker dalam darah,
sehingga si empunya badan harus selalu melakukan “cuci darah” terus menerus jika
ia menginginkan dapat hidup terus. Secara aksiomatik, akibat korupsi dapat
dijelaskan seperti berikut:

a. Bahaya korupsi terhadap masyarakat dan individu.

Jika korupsi dalam suatu masyarakat telah merajalela dan menjadi makanan
masyarakat setiap hari, maka akibatnya akan menjadikan masyarakat tersebut sebagai
masyarakat yang kacau, tidak ada sistem sosial yang dapat berlaku dengan
baik. Setiap individu dalam masyarakat hanya akan mementingkan diri sendiri (self
interest), bahkan selfishness. Tidak akan ada kerjasama dan persaudaraan yang tulus.

Fakta empirik dari hasil penelitian di banyak negara dan dukungan teoritik oleh para
ilmuwan sosial menunjukkan bahwa korupsi berpengaruh negatif terhadap rasa

71
keadilan sosial dan kesetaraan sosial. Korupsi menyebabkan perbedaan yang tajam di
antara kelompok sosial dan individu baik dalam hal pendapatan,prestise, kekuasaan
dan lain-lain.

Korupsi juga membahayakan terhadap standar moral dan intelektual masyarakat.


Ketika korupsi merajalela, maka tidak ada nilai utama atau kemuliaan dalam
masyarakat.

b. Bahaya korupsi terhadap generasi muda.

Salah satu efek negatif yang paling berbahaya dari korupsi pada jangka panjang
adalah rusaknya generasi muda. Dalam masyarakat yang korupsi telah menjadi
makanan sehari-harinya, anak tumbuh dengan pribadi antisosial, selanjutnya generasi
muda akan menganggap bahwa korupsi sebagai hal biasa (atau bahkan budayanya),
sehingga perkembangan pribadinya menjadi terbiasa dengan sifat tidak jujur dan
tidak bertanggungjawab. Jika generasi muda suatu bangsa keadaannya seperti itu,
bisa dibayangkan betapa suramnya masa depan bangsa tersebut.

c. Bahaya korupsi terhadap politik.

Kekuasaan politik yang dicapai dengan korupsi akan menghasilkan pemerintahan dan
pemimpin masyarakat yang tidak legitimate di mata publik. Jika demikian
keadaannya, maka masyarakat tidak akan percaya terhadap pemerintah dan
pemimipin tersebut, akibatnya mereka tidak akan akan patuh dan tunduk pada otoritas
mereka. Praktik korupsi yang meluas dalam politik seperti pemilu yang curang,
kekerasan dalam pemilu, money politics dan lain-lain juga dapat menyebabkan
rusaknya demokrasi, karena untuk mempertahankan kekuasaan, penguasa korup itu
akan menggunakan kekerasan (otoriter) atau menyebarkan korupsi lebih luas lagi di
masyarakat.

Di samping itu, keadaan yang demikian itu akan memicu terjadinya instabilitas sosial
politik dan integrasi sosial, karena terjadi pertentangan antara penguasa dan rakyat.
Bahkan dalam banyak kasus, hal ini menyebabkan jatuhnya kekuasaan pemerintahan
secara tidak terhormat, seperti yang terjadi di Indonesia.

72
d. Bahaya korupsi terhadap ekonomi

Korupsi merusak perkembangan ekonomi suatu bangsa. Jika suatu projek ekonomi
dijalankan sarat dengan unsur-unsur korupsi (penyuapan untuk kelulusan projek,
nepotisme dalam penunjukan pelaksana projek, penggelepan dalam pelaksanaannya
dan lain-lain bentuk korupsi dalam projek), maka pertumbuhan ekonomi yang
diharapkan dari projek tersebut tidak akan tercapai.

Penelitian empirik oleh Transparency International menunjukkan bahwa korupsi juga


mengakibatkan berkurangnya investasi dari modal dalam negeri maupun luar negeri,
karena para investor akan berfikir dua kali ganda untuk membayar biaya yang lebih
tinggi dari semestinya dalam berinvestasi (seperti untuk penyuapan pejabat agar dapat
izin, biaya keamanan kepada pihak keamaanan agar investasinya aman dan lain-lain
biaya yang tidak perlu). Sejak tahun 1997, investor dari negara-negera maju
(Amerika, Inggris dan lain-lain) cenderung lebih suka menginvestasikan dananya
dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) kepada negara yang tingkat
korupsinya kecil.

e. Bahaya korupsi terhadap birokrasi

Korupsi juga menyebabkan tidak efisiennya birokrasi dan meningkatnya biaya


administrasi dalam birokrasi. Jika birokrasi telah dikungkungi oleh korupsi dengan
berbagai bentuknya, maka prinsip dasar birokrasi yang rasional, efisien, dan
kualifikasi akan tidak pernah terlaksana. Kualitas layanan pasti sangat jelek dan
mengecewakan publik. Hanya orang yang berpunya saja yang akan dapat layanan
baik karena mampu menyuap. Keadaan ini dapat menyebabkan meluasnya keresahan
sosial, ketidaksetaraan sosial dan selanjutnya mungkin kemarahan sosial yang
menyebabkan jatuhnya para birokrat.

3. KORUPSI DALAM PERSPEKTIF PANCASILA

73
Tindakan-tindakan korupsi merupakan bentuk penyelewengan dari butir-butir
Pancasila, dijelaskan sebagai berikut :

a. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Manusia Indonesia percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam hal ini
jelas perilaku tindakan pidana korupsi ini tidak mencerminkann perilaku tersebut
karena perilaku tindak pidana korupsi adalah perilaku yang tidak percaya dan taqwa
kepada Tuhan. Dia menafikan bahwa Tuhan itu Maha Melihat lagi Maha Mendengar.

b. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dalam sila ini perilaku tindak pidana korupsi sangat melanggar bahkan sama sekali
tidak mencerminkan perilaku ini, seperti mengakui persamaan derajat, saling
mencintai, sikap tenggang rasa, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan serta
membela kebenaran dan keadilan.

c. Sila Persatuan Indonesia.

Tindak pidana dan tipikor bila dilihat dalam sila ini, pelakunya itu
hanya mementingkan pribadi, tidak ada rasa rela berkorban untuk bangsa dan
Negara, bahkan bisa dibilang tidak cinta tanah air karena perilakunya cenderung
mementingkan nafsu, kepentingan pribadi atau kasarnya kepentingan perutnya saja.

d. Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam


Permusyarawatan / Perwakilan.

Dalam sila ini perilaku yang mencerminkannya seperti, mengutamakan kepentingan


Negara dan masyarakat, tidak memaksakan kehendak, keputusan yang diambil harus
dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menjunjung tinggi
harkat martabat manusia dan keadilannya. Sangat jelaslah bahwa tindak pidana
korupsi tidak pernah ada rasa dalam sila ini.

e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

74
Rata-rata bahkan sebagian besar pelaku tindak pidana korupsi itu, tidak ada perbuatan
yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana gotong royong, adil, menghormati
hak-hak orang lain, suka memberi pertolongan, menjauhi sikap pemerasan terhadap
orang lain, tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum, serta
tidak ada rasa bersama-sama untuk berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan
keadilan sosial.

Jadi semua perilaku tindak pidana dan tipikor itu semuanya melanggar dan tidak
mencerminkan sama sekali perilaku pancasila yang katanya ideologi bangsa ini.
Selain bersifat mengutamakan kepentingan pribadi, juga tidak adanya rasa
kemanusiaan, keadilan, saling menghormati, saling mencintai sesama manusia, dan
yang paling riskan adalah tidak ada rasa ‘percaya dan taqwa’ kepada Tuhan Yang
Maha Esa.

4. UPAYA YANG DAPAT DITEMPUH DALAMPEMBERANTASAN KORUPSI

Ada beberapa upaya yang dapat ditempuh dalam memberantas tindak korupsi di
Indone-sia, antara lain sebagai berikut :

Upaya pencegahan (preventif).

Upaya penindakan (kuratif).

Upaya edukasi masyarakat/mahasiswa.

Upaya edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Upaya Pencegahan (Preventif)

1. Menanamkan semangat nasional yang positif dengan mengutamakan pengabdian


pada bangsa dan negara melalui pendidikan formal, informal dan agama.

2. Melakukan penerimaan pegawai berdasarkan prinsip keterampilan teknis.

75
3. Para pejabat dihimbau untuk mematuhi pola hidup sederhana dan memiliki
tanggung jawab yang tinggi.

4. Para pegawai selalu diusahakan kesejahteraan yang memadai dan ada jaminan
masa tua.

5. Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan disiplin kerja yang tinggi.

6. Sistem keuangan dikelola oleh para pejabat yang memiliki tanggung jawab etis
tinggi dan dibarengi sistem kontrol yang efisien.

7. Melakukan pencatatan ulang terhadap kekayaan pejabat yang mencolok.

8. Berusaha melakukan reorganisasi dan rasionalisasi organisasi pemerintahan


melalui penyederhanaan jumlah departemen beserta jawatan di bawahnya.

Upaya Penindakan (Kuratif)

Upaya penindakan, yaitu dilakukan kepada mereka yang terbukti melanggar dengan
diberikan peringatan, dilakukan pemecatan tidak terhormat dan dihukum
pidana. Beberapa contoh penindakan yang dilakukan oleh KPK :

Dugaan korupsi dalam pengadaan Helikopter jenis MI-2 Merk Ple Rostov Rusia
milik Pemda NAD (2004).

Menahan Konsul Jenderal RI di Johor Baru, Malaysia, EM. Ia diduga melakukan


pungutan liar dalam pengurusan dokumen keimigrasian.

Dugaan korupsi dalam Proyek Program Pengadaan Busway pada Pemda DKI Jakarta
(2004).

Dugaan penyalahgunaan jabatan dalam pembelian tanah yang merugikan keuangan


negara Rp 10 milyar lebih (2004).

Kasus korupsi dan penyuapan anggota KPU kepada tim audit BPK (2005).

76
Kasus penyuapan panitera Pengadilan Tinggi Jakarta (2005).

Kasus penyuapan Hakim Agung MA dalam perkara Probosutedjo.

Menetapkan seorang Bupati di Kalimantan Timur sebagai tersangka dalam kasus


korupsi Bandara Loa Kolu yang diperkirakan merugikan negara sebesar Rp 15,9
miliar (2004).

Kasus korupsi di KBRI Malaysia (2005).

Upaya Edukasi Masyarakat/Mahasiswa

1. Memiliki tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial
terkait dengan kepentingan publik.

2. Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh.

3. Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa
hingga ke tingkat pusat/nasional.

4. Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang penyelenggaraan


pemerintahan negara dan aspek-aspek hukumnya.

Mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam
setiap pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat luas.

Upaya Edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)

Indonesia Corruption Watch (ICW) adalah organisasi non-pemerintah yang


mengawasi dan melaporkan kepada publik mengenai korupsi di Indonesia dan terdiri
dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen untuk memberantas korupsi melalui
usaha pemberdayaan rakyat untuk terlibat melawan praktik korupsi. ICW lahir
di Jakarta pada tgl 21 Juni 1998 di tengah-tengah gerakan reformasi yang
menghendaki pemerintahan pasca-Soeharto yg bebas korupsi.

77
Transparency International (TI) adalah organisasi internasional yang bertujuan
memerangi korupsi politik dan didirikan di Jerman sebagai organisasi nirlaba
sekarang menjadi organisasi non-pemerintah yang bergerak menuju organisasi yang
demokratik. Publikasi tahunan oleh TI yang terkenal adalah Laporan Korupsi Global.
Survei TI Indonesia yang membentuk Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2004
menyatakan bahwa Jakarta sebagai kota terkorup di Indonesia, disusul Surabaya,
Medan, Semarang dan Batam. Sedangkan survei TI pada 2005, Indonesia berada di
posisi keenam negara terkorup di dunia. IPK Indonesia adalah 2,2 sejajar dengan
Azerbaijan, Kamerun, Etiopia, Irak, Libya dan Usbekistan, serta hanya lebih baik dari
Kongo, Kenya, Pakistan, Paraguay, Somalia, Sudan, Angola, Nigeria, Haiti &
Myanmar. Sedangkan Islandia adalah negara terbebas dari korupsi.

2. Beberapa Contoh Induvidu atau Kelompok di lingkungan anda yang


melaksanakan proyek belajar implementasi Pancasila dalam kehidupan nyata.

1. Penerapan Pancasila: Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari haruslah menjadi sesuatu yang


harus kita lakukan. Hal ini dikarenakan Pancasila merupakan falsafah hidup bangsa
yang harus menjiwai setiap aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih
mengenai perkara ketuhanan, ia menjadi sila pertama dalam Pancasila karena
ketuhanan merupakan dasar dari kehidupan spiritual dari manusia. Sila ini menjamin
kebebasan beragama. Makna kemerdekaan beragama bagi bangsa Indonesiasangatlah
besar. Berikut ini merupakan uraian lebih lanjut mengenai apa saja hal-hal yang
termasuk kategori penerapan Pancasila khususnya sila ketuhanan yang Maha Esa
dalam kehidupan sehari-hari:

Memiliki satu agama dan menjalankan peribadatan dari agama tersebut. Kepemilikan
terhadap agama tersebut harus diikuti dengan ketakwaan pada Tuhan.

Menjalankan agama dengan tetap memperhatikan kondisi di sekitar dan tidak


mengganggu ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat

78
Menjaga toleransi atau saling hormat menghormati di antara umat beragama agar
tercapai kedamaian dan kenyamanan bersama.

Saling bekerja sama antar umat beragama dalam hal yang bersifat untuk memajukan
kepentingan umum, misalnya untuk kerja bakti di desa

Tidak memaksa seseorang untuk masuk ke dalam agama tertentu. Karena sesuai
dengan UUD 1945, setiap orang berhak untuk memilih dan memeluk agama sesuai
dengan apa yang dikehendakinya.

Sila pertama sangat mengutamakan aspek ketuhanan dalam setiap segi kehidupan
kita. Oleh karena itu, menjadi seseorang yang tidak menganut agama merupakan
salah satu bentuk penyimpangan terhadap Pancasila. Karena hal inilah, ideologi
komunis, marxisme, dan leninisme tidaklah mungkin untuk diterapkan di Indonesia
yang teramat kental dengan berbagai corak keagamaannya.

2. Penerapan Pancasila: Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab teramat mewakili keinginan bangsa
Indonesia untuk berada di posisi yang setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.
Ketika negara Indonesia dijajah oleh bangsa lain, seketika itu pula posisi Indonesia
dianggap lebih rendah dari posisi negara lain. Selama lebih dari 350 tahun bangsa
Indonesia dihinakan. Sila kedua dalam Pancasila ini juga menjunjung tinggi
kesetaraan hak dan kewajiban di antara penghuni negeri ini. Di bawah ini merupakan
contoh penerapan Pancasila sila kemanusiaan yang adil dan beradab:

Menghargai perbedaan di tengah masyarakat yang terdiri dari banyak suku, agama,
ras, dan adat istiadat (SARA)

Senantiasa menjaga adab atau kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti kita di
dalam berbagai kondisi.

Tidak melakukan diskriminasi pada siapapun. Diskriminasi yang dimaksud adalah


pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara, entah perbedaan karena tingkat
pendidikan, kondisi ekonomi, dan lain sebagainya.

79
Berani untuk menyampaikan kebenaran dan menegur kesalahan dari seseorang sesuai
dengan adab yang berlaku di tengah masyarakat.

Menjaga keseimbangan dalam hal pelaksanaan hak dan kewajiban. Jangan sampai
hak dan kewajiban kita mencederai hak dan kewajiban orang lain.

3. Penerapan Pancasila: Sila Persatuan Indonesia

Persatuan di antara segenap rakyat Indonesia merupakan suatu kekuatan dasar dalam
mempertahankan keamanan dan pertahanan Indonesia dari ancaman baik yang
berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Maka dari itu, menjadi penting
bagi rakyat Indonesia untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan di tengah
masyarakat. Berdasarkan sejarah, kita mengetahui bahwa dulu perjuangan melawan
penjajahan amat bersifat kedaerahan. Dengan adanya Pancasila, seluruh wilayah di
Indonesia disatukan di bawah bendera merah putih. Di bawah ini merupakan contoh
penerapan Pancasila sila persatuan Indonesia:

Cinta pada tanah air untuk menjaga persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat
karena menyadari bahwa kita bertanah air yang satu, Indonesia.

mencintai dan mengonsumsi produk dalam negeri agar perekonomian di dalam


negara menjadi lebih maju

Mengutamakan segala kepentingan negara yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan


pembangunan nasional Indonesia.

Berusaha untuk menghasilkan prestasi yang dapat membanggakan bangsa Indonesia


baik di tingkat nasional maupun internasional.

Meningkatkan kreativitas dan inovasi dari diri sendiri untuk memajukan bangsa
Indonesia.

Memperluas pergaulan dengan orang-orang baru dari berbagai daerah

4. Penerapan Pancasila: Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh


Hikmat/Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan

80
Sila keempat dari Pancasila ini mewakili semangat demokrasi yang menjadi bentuk
pemerintahan di negara Indonesia. Sistem demokrasi yang dijalankan di Indonesia
pun berbeda dengan yang ada di luar sana. Indonesia menggunakan sistem demokrasi
Pancasila dalam pelaksanaan kedaulatan rakyatnya. Sila ini menginginkan segala
kegiatan pemerintahan diperuntukkan bagi sebesar-besar kepentingan rakyat sehingga
dijadikanlah perwakilan dari rakyat untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Berikut
ini merupakan contoh penerapan sila keempat dari Pancasila:

Mengutamakan pengambilan keputusan dengan musyawarah mufakat untuk


menyelesaikan setiap permasalahan dalam kehidupan kita, apabila hal tersebut
berkenaan dengan kepentingan dua orang atau lebih.

Ikut serta dalam pemilihan umum dengan kita menggunakan hak pilih atau mengajak
orang lain untuk menggunakan hak pilihnya

Mencalonkan diri atau mengajukan seseorang untuk menjabat suatu jabatan tertentu
sebagai salah satu perwujudan demokrasi.

Tidak melakukan paksaan pada orang lain agar orang menyetujui apa yang kita
katakan ataupun lakukan. Begitupun sebaliknya, tidak ada yang dapat memaksakan
kehendaknya pada kita

Menghormati hasil musyawarah sekalipun bertentangan dengan pendapat kita dan


melaksanakannya dengan sepenuh hati.

Mengawasi dan memberikan saran terhadap jalannya penyelenggaraan kedaulatan


rakyat yang dilakukan oleh pemerintah.

5. Penerapan Pancasila: Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Adanya keadilan tentunya menjadi sesuatu yang dicita-citakan oleh semua orang.
Terlebih oleh segenap bangsa Indonesia. dari sejarah kemerdekaan Indonesia kita
mengetahui bahwa pengalaman dijajah selama ratusan tahun membuat keadilan
menjadi sesuatu yang terus diperjuangkan oleh bangsa kita. Maka dari itu, para
pendiri bangsa menjadikan rumusan dari sila terakhir Pancasila seperti yang tertera

81
sebelumnya. Adanya sila ini diharapkan dapat mewujudkan kondisi yang berkeadilan
bagi rakyat maupun di tengah masyarakat. Di bawah ini merupakan contoh penerapan
Pancasila sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia:

Senantiasa berusaha sebaik mungkin untuk membantu orang-orang yang sedang


dilanda kesulitan.

Meningkatkan kepekaan sosial dengan mengadakan kegiatan yang dapat membantu


sesama seperti bakti sosial, donor darah, konser amal, dan lain sebagainya.

Berusaha untuk adil dalam aktivitas apapun yang kita lakukan dan seperti apapun
orang yang kita hadapi, jangan sampai kita memberikan perlakuan yang tidak adil
pada siapapun.

Tidak mengganggu orang lain dengan apapun yang kita lakukan dan menegur
siapapun yang mengganggu ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat.

Menghargai karya atau hasil karsa cipta yang dimiliki orang lain. Hargai pula karya
yang kita hasilkan sendiri.

Berani memperjuangkan keadilan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain
dan membantu orang lain untuk memperjuangkan keadilan.

82
DAFTAR PUSTAKA

- https://guruppkn.com/contoh-penerapan-pancasila-dalam-kehidupan-sehari-
hari
Diakses 4 Juli 2018
- http://nidausanah.blogspot.com/2014/01/pemberantasan-korupsi-dalam-
konsepsi.html
Diakses 4 Juli 2018

83
B

BAGAIMANA PANCASILA
MENJADI DASAR NILAI
PENGEMBANGAN ILMU ?

84
BAB VII

BAGAIMANA PANCASILA MENJADI DASAR NILAI PENGEMBANGAN


ILMU ?

1. Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu yang terbentuk dalam


sikap insklusif, toleran dan gotong royong dalam keragaman agam dan
budaya.
Jawab :

Setiap warganegara hakekatnya dituntut untuk dapat hidup berguna dan bermakna bagi
negara dan bangsanya. Untuk itu diperlukan bekal ilmu pengetahuan, teknologi dan
seni (IPTEKS) yang berlandaskan pada nilai-nilai agama, moral dan budaya bangsa.
Fungsinya adalah sebagai panduan dan pegangan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Dalam konteks Pendidikan Kewarganegaraan nilai budaya
bangsa menjadi pijakan utama, karena tujuan pembelajaran ialah untuk menumbuhkan
wawasan dan kesadaran bernegara, juga sikap dan perilaku cinta tanah air yang
bersendikan budaya bangsa.

Setiap penduduk Indonesia harus memandang bahwa perbedaan tradisi, bahasa, dan
adat-istiadat antara satu etnis dengan etnis lain sebagai, antara satu agama dengan
agama lain, sebagai aset bangsa yang harus dihargai dan dilestarikan. Pandangan
semacam ini akan menumbuhkan rasa saling menghormati, menyuburkan semangat
kerukunan, serta menyuburkan jiwa toleransi dalam diri setiap individu.

Bila setiap warga negara memahami makna Bhinneka Tunggal Ika, meyakini akan
ketepatannya bagi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta mau dan mampu
mengimplementasikan secara tepat dan benar, Negara Indonesia akan tetap kokoh dan
bersatu selamanya.

85
Bhineka Tunggal Ika pada era Glablisasi saat ini, Indonesia pada saat ini banyak
mengalami kemunduran persatuan dan kesatuan. Penyebabnya adalah adanya
ketimpangan sosial, kesenjangan ekonomi, belum stabilnya kondisi politik
pemerintahan di Indonesia menjadikan rakyat tumbuh menjadi rakyat yang apatis
terhadap pemerintah. Dampak buruk globalisasi yang membawa kebudayaan-
kebudayaan baru menjadikan komposisi kebudayaan masyarakat Indonesia menjadi
lebih kompleks atau rumit. Karena banyaknya kebudayaan baru yang datang dan
diterima begitu saja, menyebabkan terjadinya penyimpangan kebudayaan di
masyarakat. Belum lagi masalah klasik yang sepele namun berdampak serius seperti
perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan yang semakin memecah belah kesatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia. Melihat kondisi seperti ini tentu kita semua tidak boleh
pesimis dan patah semangat, Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika yang berarti
berbeda-beda tetapi tetap satu jua, selamanya akan tetap relevan untuk mengiringi
kehidupan bernegara di negeri yang multikultural ini, karena komposisi kehidupan
rakyat Indonesia akan terus beragam sampai kapanpun. Ketimpangan sosial,
kesenjangan ekonomi, perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan di antara kita
janganlah dijadikan pembeda. Perkembangan jaman yang cepat dan masuknya budaya
baru biarkanlah berlalu, karena pada dasarnya kita semua satu, satu bangsa, Bangsa
Indonesia. Satu tanah air, Tanah air Indonesia. Satu bahasa, bahasa Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu jua. Indonesia satu.
Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dewasa ini mencapai kemajuan
pesat sehingga peradaban manusia mengalami perubahan yang luar biasa.
Pengembangan iptek tidak dapat terlepas dari situasi yang melingkupinya, artinya iptek
selalu berkembang dalam suatu ruang budaya. Perkembangan iptek pada gilirannya
bersentuhan dengan nilai-nilai budaya dan agama sehingga di satu pihak dibutuhkan
semangat objektivitas, di pihak lain iptek perlu mempertimbangkan nilai-nilai budaya
dan agama dalam pengembangannya agar tidak merugikan umat manusia.
Kuntowijoyo dalam konteks pengembangan ilmu menengarai bahwa kebanyakan
orang sering mencampuradukkan antara kebenaran dan kemajuan sehingga pandangan
seseorang tentang kebenaran terpengaruh oleh kemajuan yang dilihatnya. Kuntowijoyo

86
menegaskan bahwa kebenaran itu bersifat non-cumulative (tidak bertambah) karena
kebenaran itu tidak makin berkembang dari waktu ke waktu. Adapun kemajuan itu
bersifat cumulative (bertambah), artinya kemajuan itu selalu berkembang dari waktu
ke waktu. Agama, filsafat, dan kesenian termasuk dalam kategori non-cumulative,
sedangkan fisika, teknologi, kedokteran termasuk dalam kategori cumulative
(Kuntowijoyo, 2006: 4). Oleh karena itu, relasi iptek dan budaya merupakan persoalan
yang seringkali mengundang perdebatan. Relasi antara iptek dan nilai budaya, serta
agama dapat ditandai dengan beberapa kemungkinan sebagai berikut. Pertama, iptek
yang gayut dengan nilai budaya dan agama sehingga pengembangan iptek harus
senantiasa didasarkan atas sikap human-religius. Kedua, iptek yang lepas sama sekali
dari norma budaya dan agama sehingga terjadi sekularisasi yang berakibat pada
kemajuan iptek tanpa dikawal dan diwarnai nilai human-religius. Hal ini terjadi karena
sekelompok ilmuwan yang meyakini bahwa iptek memiliki hukum hukum sendiri yang
lepas dan tidak perlu diintervensi nilai-nilai dari luar. Ketiga, iptek yang menempatkan
nilai agama dan budaya sebagai mitra dialog di saat diperlukan. Dalam hal ini, ada
sebagian ilmuwan yang beranggapan bahwa iptek memang memiliki hukum tersendiri
(faktor internal), tetapi di pihak lain diperlukan faktor eksternal (budaya, ideologi, dan
agama) untuk bertukar pikiran, meskipun tidak dalam arti saling bergantung secara
ketat. Relasi yang paling ideal antara iptek dan nilai budaya serta agama tentu terletak
pada fenomena pertama, meskipun hal tersebut belum dapat berlangsung secara
optimal, mengingat keragaman agama dan budaya di Indonesia itu sendiri. Keragaman
tersebut di satu pihak dapat menjadi kekayaan, tetapi di pihak lain dapat memicu
terjadinya konflik. Oleh karena itu, diperlukan sikap inklusif dan toleran di masyarakat
untuk mencegah timbulnya konflik. Untuk itu, komunikasi yang terbuka dan egaliter
diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Fenomena
kedua yang menempatkan pengembangan iptek di luar nilai budaya dan agama, jelas
bercorak positivistis. Kelompok ilmuwan dalam fenomena kedua ini menganggap
intervensi faktor eksternal justru dapat mengganggu objektivitas ilmiah. Fenomena
ketiga yang menempatkan nilai budaya dan agama sebagai mitra dialog merupakan
sintesis yang lebih memadai dan realistis untuk diterapkan dalam pengembangan iptek

87
di Indonesia. Sebab iptek yang berkembang di ruang hampa nilai, justru akan menjadi
boomerang yang membahayakan aspek kemanusiaan. Pancasila sebagai ideologi
negara merupakan kristalisasi nilai-nilai budaya dan agama dari bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia mengakomodir seluruh aktivitas
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, demikian pula halnya dalam
aktivitas ilmiah. Oleh karena itu, perumusan Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi
aktivitas ilmiah di Indonesia merupakan sesuatu yang bersifat niscaya. Sebab,
pengembangan ilmu yang terlepas dari nilai ideologi bangsa, justru dapat
mengakibatkan sekularisme, seperti yang terjadi pada zaman Renaissance di Eropa.
Bangsa Indonesia memiliki akar budaya dan religi yang kuat dan tumbuh sejak lama
dalam kehidupan masyarakat sehingga manakala pengembangan ilmu tidak berakar
pada ideologi bangsa, sama halnya dengan membiarkan ilmu berkembang tanpa arah
dan orientasi yang jelas. Bertitik tolak dari asumsi di atas, maka das Sollen ideologi
Pancasila berperan sebagai leading principle dalam kehidupan ilmiah bangsa
Indonesia. Para Ilmuwan tetap berpeluang untuk mengembangkan profesionalitasnya
tanpa mengabaikan nilai ideologis yang bersumber dari masyarakat Indonesia sendiri.

2. Beberapa kasus yang terkait dengan kedudukan Pancasila sebagai dasar


nilai pengembangan ilmu yang memperlihatkan sikap bertanggung jawab
atas keputusan yang diambil berdasar pada prinsip musyawarah dan
mufakat dalam kehidupan ilmiah.
Jawab
Keputusan bersama adalah suatu keputusan yang sudah ditetapkan berdasarkan
pertimbangan, pemikiran serta pembahasan yang matang. Keputusan bersama
haruslah mewakili kepentingan seluruh anggota atau seluruh peserta rapat,dan
keputusan bersama merupakan keputusan yang harus dilaksanakan dengan rasa penuh
tanggung jawab. Oleh karena itu, sebuah keputusan bersama harus dipatuhi dan
dilaksanakan oleh semua peserta rapat tanpa terkecuali dan membeda - bedakan.
Dalam pengambilan keputusan kita tidak boleh memaksakan kehendak.
Hasil dari keputusan yang diambil juga tidak boleh hanya menguntungkan satu pihak

88
saja, tetapi semua pihak haruslah merasa diuntungkan. Karena keputusan bersama
harus menampilkan rasa keadilan, dan semua peserta rapat mempunyai kedudukan
yang sama. Dalam pengambilan keputusan kita harus mendasarkan beberapa nilai
penting yang harus selalu ada dalam pengambilan keputusan agar semua pihak yang
terlibat merasakan keadilan. Nilai yang mendasar tersebut diantaranya ialah :
Nilai kebersamaan, dimana dalam pengambilan keputusan kita melakukanya secara
bersama – sama duduk dalam suatu tempat dengan tujuan yang sama demi kebaikan
bersama walaupun setiap peserta rapat berasal dari latar belakang yang berbeda dan
harus tetap mendahulukan kepentingan umum dan mengenyampingkan kepentingan
pribadi.
Nilai kebebasan mengemukakan pendapat, bebas disini ialah tidak mendapat paksaan
dari orang lain,semua peserta rapat boleh mengutarakan pendapatnya. Tetapi dalam
mengemukakan pendapat peserta rapat haruslah memberikan pendapatnya secara
logis dan masuk diakal tidak asal mengemukakan pendapat yang hanya akan
menimbulkan perpecahan, sesuai dengan norma, dan tidak menyinggung perasaan
orang lain.
Nilai menghargai pendapat orang lain, setiap peserta rapat haruslah mendengarkan
dan menghargai pendapat orang lain tanpa menyela orang yang sedang
mengemukakan pendapat. Bila tidak setuju dengan pendapat yang dikemukakan,
peserta lain boleh menanggapinya tetapi dengan cara yang sopan dan tidak
mengandung unsur emosi karena hanya kan menimbulkan permasalahan.
Nilai jiwa besar serta lapang dada melaksanakan hasil keputusan dengan rasa penuh
tanggung jawab.
Nilai persamaan hak, ialah seluruh peserta rapat diberi hak yang sama untuk
mengemukakan pendapatnya. Mereka diberikan kebebasan untuk mengungkapkan
ide atau gagasan.

B. Mengenal Bentuk – Bentuk Keputusan Bersama


1.Musyawarah Mufakat

89
Dalam pergaulan hidup antar manusia, sering terjadi perbedaan pendapat namun
perbedaan pendapat diantara kita merupakan suatu yang lumrah dan wajar. Kita harus
sadar bahwa perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dicari
pemecahanya. Dalam memecahkan masalah, kita mengenal cara mengambil
keputusan yaitu musyawarah untuk mufakat. Karena cara tersebut dipandang cocok
dan sesuai dengan nilai budaya bangsa Indonesia yang demokratis yaitu musyawarah
mufakat.
Musyawarah berarti membicarakan dan menyelesaikan bersama suatu persoalan
dengan maksud untuk mencapai mufakat atau kesepakatan. Dengan kata lain,
musyawarah adalah pembahasan bersama suatu masalah guna mencapai keputusan.
Sedangkan, mufakat artinya kesepakatan untuk melaksanakan hasil musyawarah.
Jadi, yang dimaksud musyawarah mufakat adalah perundingan bersama untuk
memecahkan masalah, sehingga tercapai keputusan bulat yang akan dilaksanakan
bersama. Kita mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
kepentigan bersama bukan untuk kepentingan golongan atau pribadi.
Dalam proses musyawarah kita pasti akan mendengar pendapat dari peserta
musyawarah. Pendapat tersebut bisa saja berbeda – beda bahkan saling bertentangan.
Apabila kesepakatan telah diambil, maka kesepakatan itu sudah bukan lagi milik dari
pihak yang mengusulkan namun telah menjadi milik bersama. Keputusan tersebut
harus dipatuhi dan dan dilaksanakan bersama dengan penuh kesadaran dan tanggung
jawab.

Ciri – ciri musyawarah untuk mufakat antara lain :


a.Sesuai dengan kepentingan bersama.
b.Usul atau pendapat yang disampaikan mudah dipahami dan tidak memberatkan.
c.Dalam musyawarah, pertimbangan moral lebih diutamakan dan bersumber dari hati
nurani yang jujur.
d.Pembicaraan harus dapat diterima dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani.

Dalam pelaksanaan musyawarah untuk mencapai mufakat kita harus berpedoman

90
pada prinsip – prinsip dan aturan musyawarah antara lain :
a.Musyawarah dilandasi dengan akal sehat dan hati nurani yang luhur.
b.Musyawarah dilandasi semangat kegotongroyongan dan kekeluargaan.
c.Mengutamakan kepentingan umum.
d.Menghargai pendapat orang lain.
e.Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
f.Melaksanakan keputusan bersama dengan dilandasi itikad baik dan penuh rasa
tanggung jawab.

Tata cara dan persyaratan Musyawarah antara lain :


a.Peserta musyawarah harus hadir sebelum musyawarah dimulai.
b.Musyawarah dimulai jika peserta musyawarah telah mencapai kuorum. Kuorum
adalah penetapan jumlah minimum anggota yang harus hadir pada saat musyawarah.
c.Ada susunan kepanitiaan yang minimal terdiri dari :
ketua,
notulis, dan
peserta musyawarah.
d.Setiap peserta musyawarah berhak menyampaikan pendapat
e.Setiap peserta musyawarah harus menghargai pendapat orang lain.
f.Pendapat yang disampaikan harus dapat diterima akal sehat, tidak untuk
kepentingan pribadi atau golongan, tidak menimbulkan perpecahan, sesuai dengan
norma, dan tidak menyinggung perasaan orang lain.

Cara-cara mengeluarkan pendapat antara lain :


a. Mengacungkan tangan sebagai tanda ijin bicara.
b. Berbicara setelah dipersilahkan.
c. Kalau ada yang berbicara menunggu sampai pembicaraan selesai.
d. Bersikap sopan.
e. Suasana cukup jelas.

91
Sikap dalam musyawarah antara lain :
a. Menghargai/menghormati pendapat orang lain
b. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain
c. Tidak boleh mencela pendapat orang lain
d. Tidak boleh memotong pembicaraan orang lain
Contoh-contoh musyawarah :
1. Dalam Keluarga, yang dibicarakan antara lain :
a. Pembagian tugas dalam keluarga
b. Tentang rencana liburan keluarga
c. Tentang pendidikan keluarga
d. Tentang menu keluarga, dll.
2. Di sekolah, yang dibicarakan antara lain :
a. Pembagian regu piket
b. Pemilihan Ketua Kelas
c. Rekreasi bersama, dll
3. Dalam masyarakat yang dibicarakan antara lain :
a. Keamanan kampung
b. Kebersihan lingkungan
c. Rencana Kerja bakti
d. Pemilihan ketua RT / RW
Musyawarah untuk mufakat merupakan bentuk pengamalan Pancasila terutama sila
keempat yaitu “ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan”. Musyawarah mufakat mengutamakan akal sehat dan
menggunakan azaz kekeluargaan. Musyawarah untuk mufakat merupakan inti dari
Demokrasi Pancasila, dimana tindakan bersama diambil sesudah ada musyawarah
mufakat. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu
negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas
negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang berdasarkan kekeluargaan dan gotong-

92
royong yang ditujukan kepada kesejahteraan rakyat, yang mengandung unsur-unsur
berkesadaran religius, berdasarkan kebenaran, kecintaan dan budi pekerti luhur,dan
berkepribadian Indonesia. Dalam demokrasi Pancasila, sistem pengorganisasian
negara dilakukan oleh rakyat sendiri atau dengan persetujuan rakyat. Dalam
demokrasi Pancasila kebebasan individu tidak bersifat mutlak, tetapi harus
diselaraskan dengan tanggung jawab sosial. Dalam demokrasi Pancasila,
keuniversalan cita-cita demokrasi dipadukan dengan cita-cita hidup bangsa Indonesia
yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan, sehingga tidak ada dominasi mayoritas
atau minoritas.
Prinsip Pokok Demokrasi Pancasila
Prinsip merupakan kebenaran yang pokok/dasar orang berfikir, bertindak dan lain
sebagainya. Dalam menjalankan prinsip-prinsip demokrasi secara umum, terdapat 2
landasan pokok yang menjadi dasar yang merupakan syarat mutlak untuk harus
diketahui oleh setiap orang yang menjadi pemimpin
negara/rakyat/masyarakat/organisasi/partai/keluarga, yaitu:
1.Suatu negara itu adalah milik seluruh rakyatnya, jadi bukan milik perorangan atau
milik suatu keluarga/kelompok/golongan/partai, dan bukan pula milik penguasa
negara.
2.Siapapun yang menjadi pemegang kekuasaan negara, prinsipnya adalah selaku
pengurusan rakyat, yaitu harus bisa bersikap dan bertindak adil terhadap seluruh
rakyatnya, dan sekaligus selaku pelayanan rakyat, yaitu tidak boleh/bisa bertindak
zalim terhadap tuanya, yakni rakyat.

Adapun prinsip pokok demokrasi Pancasila adalah sebagai berikut:


1.Pemerintahan berdasarkan hukum: dalam penjelasan UUD 1945 dikatakan:
a.Indonesia ialah negara berdasarkan hukum (rechtstaat) dan tidak berdasarkan
kekuasaan belaka (machtstaat),
b.Pemerintah berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absolutisme
(kekuasaan tidak terbatas),
c.Kekuasaan yang tertinggi berada di tangan MPR.

93
2.Perlindungan terhadap hak asasi manusia,
3.Pengambilan keputusan atas dasar musyawarah,
4.Peradilan yang merdeka berarti badan peradilan (kehakiman) merupakan badan
yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan kekuasaan
lain contoh Presiden, BPK, DPR, DPA atau lainnya,
5.adanya partai politik dan organisasi sosial politik karena berfungsi Untuk
menyalurkan aspirasi rakyat,
6.Pelaksanaan Pemilihan Umum;
7.Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR (pasal 1
ayat 2 UUD 1945),
8.Keseimbangan antara hak dan kewajiban,
9.Pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan YME,
diri sendiri, masyarakat, dan negara ataupun orang lain,
10.Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita Nasional.

Ciri-ciri Demokrasi Pancasila


1.Kedaulatan ada di tangan rakyat.
2.Selalu berdasarkan kekeluargaan dan gotong-royong.
3.Cara pengambilan keputusan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
4.Tidak kenal adanya partai pemerintahan dan partai oposisi.
5.Diakui adanya keselarasan antara hak dan kewajiban.
6.Menghargai hak asasi manusia.
7.Ketidaksetujuan terhadap kebijaksanaan pemerintah dinyatakan dan disalurkan
melalui wakil-wakil rakyat. Tidak menghendaki adanya demonstrasi dan pemogokan
karena merugikan semua pihak.
8.Tidak menganut sistem monopartai.
9.Pemilu dilaksanakan secara luber.
10.Mendahulukan kepentingan rakyat atau kepentingan umum.

Musyawarah untuk mufakat sebagai pelaksanaan demokrasi Pancasila mempunyai

94
landasan yang kokoh, yaitu :

1.Landasan idiil bangsa Indonesia adalah Pancasila yang menjadi dasar negara
Indonesia khususnya pada sila keempat.

2.Landasan konstitusi adalah Undang – Undang Dasar Tahun 1945, landasan


Konstitusi ini tertuang pada Bab X Pasal 28 yang berbunyi :
“kemerdekaan berserikat berkumpul, mengeluarkan pendapat denngan lisan atau
tulisan dan sebagainya ditetapkan dalam undang – undang”.

Demokrasi Pancasila bukan didasarkan atas kekuasaan mayoritas, sebab tidak ada
satu golongan pun boleh mempertahankan atau memaksakan dirinya. Demokrasi
Pancasila tidak didasarkan perolehan suara terbanyak, namun didasarkan pada
hikmah kebijaksanaan. Hal ini tidak berarti bahwa Demokrasi Pancasila tidak
memperbolehkan pengambilan keputusan melalui suara terbanyak.
Dalam Demokrasi Pancasila terdapat tiga hal yang saling mendukung. Ketiganya
harus selalu ada dalam proses pengambilan keputusan maupun saat melaksanakan
keputusan.
Ketiga hal tersebut ialah :

1.Hak Kebebasan
Hak kebebasan harus dihormati, kebebasan akan memupuk kreativitas, juga akan
menumbuhkan lahirnya kritik yang membangun bagi kebaikan bersama. Adanya
kebebasan tertentu akan melahirkan berbagai pendapat dan pemikiran. Pendapat yang
rasional dan mengutamakan kepentingan umum harus diterima dan didukung semua
peserta musyawarah.
2.Tanggung Jawab
Kebebasan tidak akan memberi manfaat jika tidak disertai dengan rasa tanggung
jawab. Dalam Demokrasi Pancasila antara kebebasan dan tanggung jawab merupakan
satu kesatuan. Kebebasan dan tanggung jawab harus terus dihidupkan, baik dalam

95
lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa maupun negara.
3.Lembaga perwakilan
Hak kedaulatan rakyat dalam demokrasi dapat dilaksanakan secara langsung maupun
melalui lembaga perwakilan. Secara langsung misalnya pada saat pemilihan presiden,
kepala daerah, dan sebagainya. Dalam pelaksanaa pemerintahan, rakyat tidak dapat
menggunakan haknya secara langsung tetapi melalui lembaga perwakilan, lembaga
perwakilan tersebut yaitu :
DPR
MPR
DPD
DPRD
BPD
Musyawarah mufakat sebagai salah satu pilar Demokrasi Pancasila, selain berperan
dalam pengambilan keputusan bersama juga mengandung makna pembelajaran
demokrasi bagi masyarakat.
Mufakat atau kesepakatan bersama merupakan hasil yang diharapkan dari proses
musyawarah. Mufakat yang baik hendaknya memenuhi prinsip – prinsip sebagai
berikut :
a. Mufakat harus sesuai dengan moral keagamaan dan nilai keadilan.
b. Pelaksanaan mufakat menjadi tanggung jawab seluruh peserta musyawarah.
c. Mufakat didasari oleh pengutamaan kepentigan umum.
d.Mufakat berlangsung tanpa paksaan atau tekanan pihak lain.
e.Mufakat membawa hasil yang dapat dinikmati bersama.
Pelaksanaan musyawarah untuk mufakat dapat terhambat dan sulit untuk dilakukan
apabila :
a.Adanya sikap egois
b.Adanya sikap suka memaksakan kehendak,
c.Adanya sikap yang kurang bertanggung jawab,
d.Adanya sikap yang tidak mau menhhargai pendapat orang lain.

96
2. Pemungutan Suara Terbanyak (Voting)
Pengambilan keputusan bersama tidak sama dengan pengambilan keputusan untuk
kepentingan perorangan, sebab dalam prosesnya melibatkan banyak orang baik secara
langsung maupun tidak langsung. Untuk memutuskan kepentingan bersama sejauh
mungkin diusahakan dengan musyawarah mufakat, namun apabila dalam
musyawarah mufakat tidak mencapai kesepakatan bersama, maka keputusan bersama
dapat ditentukan dengan pemungutan suara terbanyak atau voting.
Pengambilan keputusan bersama dengan cara pemungutan suara terbanyak dilakukan
dalam pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah, dan sebagainya. Cara
musyawarah untuk mufakat tidak selalu membuahkan hasil. Apabila hal itu terjadi,
maka pengambilan keputusan dalam musyawarah dapat dilakukan dengan cara
pemungutan suara terbanyak atau voting. Pemungutan suara terbanyak biasanya
disepakati oleh tiap – tiap pendukung pendapat yang berbeda.
Voting merupakan cara kedua jika musyawarah untuk mufakat gagal dilakukan,
sebelum voting dilakukan perlu diperhatikan beberapa hal seperti :
a.Voting ditempuh setelah cara musyawarah untuk mufakat sudah dilaksanakan.
b.Voting dilakukan karena tidak memungkinkan menempuh musyawarah untuk
mufakat.
c.Voting dilakukan karena sempitnya waktu, sementara keputusan harus cepat
diambil.
d.Voting dilakukan setelah semua peserta musyawarah mempelajari setiap pendapat
yang ada.
e.Voting dilakukan jika peserta musyawarah yang hadir mencapai kuorum.
f.Voting dianggap sah sebagai keputusan jika separuh lebih peserta yang hadir
menyetujuinya.

Voting tidak hanya ditempuh pada saat kata mufakat tidak diketemukan. Pemungutan
suara juga dapat dilaksanakan pada pengambilan keputusan yang tidak dapat
dimusyawarahkan.
Pengambilan suara berdasarkan voting dibagi menjadi dua macam, yaitu diantarantya

97
sebagai berikut :
1. Voting Terbuka
Voting terbuka yaitu setiap anggota rapat memberikan suara dengan mengatakan
setuju, menolak, atau abstain ( tidak memberika suara ). Voting secara terbuka
biasanya dilaksanakan secara lisan, caranya dengan mengangkat tangan atau berdiri,
kemudian petugas menghitungnya secara langsung dan saat itu juga dapat diketahui
hasilnya. Voting terbuka dilakukan terhadap masalah keputusan atau kebijakan.
2.Voting tertutup
Voting tertutup yaitu setiap anggota rapat memberikan suara dengan cara menuliskan
nama, atau pilihanya dikertas yang telah disediakan, lalu dikumpulkan dan dihitung.
Keputusan dianggap sah apabila diambil dalam rapat yang dihadiri dua pertiga
anggota (kuorum) yang disetujui dari jumlah peserta musyawarah yang hadir.
Pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah maupun voting memiliki kelebihan
dan kekurangan , yaitu diantaranya :
a.Kelebihan keputusan berdasarkan musyawarah antara lain :
1)Aspirasi semua peserta rapat dapat disalurkan.
2) Sesama peserta rapat saling memahami dan toleransi.
3)Masalah yang dibahas jelas.
4)Tercapainya kata mufakat yang menghasilkan keputusan bulat.
5)Kental dengan suasana kekeluargaan.
b.Kekurangan keputusan berdasarkan musyawarah antara lain :
1) Waktu pembahasan yang cukup lama.
2) Timbul masalah baru yang terkadang keluar dari topik pembahasan.
3) Peserta cenderung pasif.
4) Keputusan sering diabaikan.
c.Kelebihan keputusan berdasarkan voting antara lain :
1) Waktu pembahasan yang lebih singkat.
2) Peserta dapat menghemat pemikiran.
3) Rahasia terjamin.
4) Hasil keputusan merupakan suara terbanyak.

98
d.Kekurangan keputusan berdasarkan voting antara lain :
1) Keputusan bukan hasil mufakat.
2) Keputusan terkadang tidak diterima peserta.
3) Peserta terpaksa menerima keputusan yang telahh diambil.
4) Aspirasi peserta tidak tersalurkan.
3. Akalmasi
Ada kalanya keputusan tidak diambil dengan cara mufakat atau voting, tetapi
menggunakan cara aklamasi. Aklamasi merupakan suatu pernyataan setuju secara
lisan dari seluruh anggota kelompok. Aklamasi terjadi karena pendapat yang
dikehendaki oleh semua anggota kelompok. Keputusan yang diambil dengan cara
aklamasi harus dilaksanakan oleh seluruh anggota.

3. Beberapa contoh tentang perumusan Pancasila sebagai karakter keilmuan


Indonesia.
Jawab
Pancasila sebagai ideologi negara merupakan kristalisasi nilai-nilai budaya dan
agama dari bangsa Indonesia. Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia
mengakomodir seluruh aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara, demikian pula halnya dalam aktivitas ilmiah. Oleh karena itu,
perumusan Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi aktivitas ilmiah di Indonesia
merupakan sesuatu yang bersifat niscaya. Karena pengembangan ilmu yang
terlepas dari nilai ideologi bangsa justru dapat mengakibatkan sekularisme,
seperti yang terjadi pada zaman Renaissance di Eropa. Bangsa Indonesia
memiliki akar budaya dan religi yang kuat dan tumbuh sejak lama dalam
kehidupan masyarakat sehingga manakala pengembangan ilmu tidak berakar
pada ideologi bangsa sama halnya dengan membiarkan ilmu berkembang tanpa
arah dan orientasi yang jelas. Bertitik tolak dari asumsi tersebut, maka das
sollen ideologi Pancasila berperan sebagai leading principle dalam kehidupan
ilmiah bangsa Indonesia. Para ilmuwan tetap berpeluang untuk
mengembangkan profesionalitasnya tanpa mengabaikan nilai ideologis yang

99
bersumber dari masyarakat Indonesia sendiri. Berdasarkan bahasan bab ketujuh
ini, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi: bersikap inklusif, toleran dan
gotong royong dalam keragaman agama dan budaya; bertanggung jawab atas
keputusan yang diambil berdasar pada prinsip musyawarah dan mufakat;
merumuskan Pancasila sebagai karakter keilmuan Indonesia; merumuskan
konsep karakter keilmuan berdasar Pancasila ;Menciptakan model
pemimpinan, warga negara , dan ilmuwan yang pancasilais.
Hakikat Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan iptek dikemukakan
Prof.Wahyudi Sediawan dalam Simposium dan sarasehan Pancasila sebagai
Paradigma Ilmu Pengetahuan dan Pembangunan Bangsa, sebagai berikut: Sila
pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan kesadaran bahwa manusia
hidup di dunia ibarat sedang menempuh ujian dan hasil ujian akan menentukan
kehidupannya yang abadi di akhirat nanti. Salah satu ujiannya adalah manusia
diperintahkan melakukan perbuatan untuk kebaikan, bukan untuk membuat
kerusakan di bumi. Tuntunan sikap pada kode etik ilmiah dan keinsinyuran,
seperti: menjunjung tinggi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan
masyarakat; berperilaku terhormat, bertanggung jawab, etis dan taat aturan
untuk meningkatkan kehormatan, reputasi dan kemanfaatan professional, dan
lain-lain, adalah suatu manifestasi perbuatan untuk kebaikan tersebut. Ilmuwan
yang mengamalkan kompetensi teknik yang dimiliki dengan baik sesuai dengan
tuntunan sikap tersebut berarti menyukuri anugrah Tuhan (Wahyudi, 2006: 61-
-62).
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memberikan arahan, baik
bersifat universal maupun khas terhadap ilmuwan dan ahli teknik di Indonesia.
Asas kemanusiaan atau humanisme menghendaki agar perlakuan terhadap
manusia harus sesuai dengan kodratnya sebagai manusia, yaitu memiliki
keinginan, seperti kecukupan materi, bersosialisasi, eksistensinya dihargai,
mengeluarkan pendapat, berperan nyata dalam lingkungannya, bekerja sesuai
kemampuannya yang tertinggi (Wahyudi, 2006: 65). Hakikat kodrat manusia
yang bersifat mono-pluralis, sebagaimana dikemukakan Notonagoro, yaitu

100
terdiri atas jiwa dan raga (susunan kodrat), makhluk individu dan sosial (sifat
kodrat), dan makhluk Tuhan dan otonom (kedudukan kodrat) memerlukan
keseimbangan agar dapat menyempurnakan kualitas kemanusiaannya.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia memberikan landasan esensial bagi
kelangsungan Negara Kesatauan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itu,
ilmuwan dan ahli teknik Indonesia perlu menjunjung tinggi asas Persatuan
Indonesia ini dalam tugas-tugas profesionalnya. Kerja sama yang sinergis
antarindividu dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing akan
menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi daripada penjumlahan
produktivitas individunya (Wahyudi, 2006: 66). Suatu pekerjaan atau tugas
yang dikerjakan bersama dengan semangat nasionalisme yang tinggi dapat
menghasilkan produktivitas yang lebih optimal.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan memberikan arahan asa kerakyatan, yang
mengandung arti bahwa pembentukan negara republik Indonesia ini adalah oleh
dan untuk semua rakyat Indonesia. Setiap warga negara mempunyai hak dan
kewajiban yang sama terhadap negara. Demikian pula halnya dengan ilmuwan
dan ahli teknik wajib memberikan kontribusi sebasar-besarnya sesuai
kemampuan untuk kemajuan negara. Sila keempat ini juga memberi arahan
dalam manajemen keputusan, baik pada tingkat nasional, regional maupun
lingkup yang lebih sempit (Wahtudi, 2006: 68). Manajemen keputusan yang
dilandasi semangat musyawarah akan mendatangkan hasil yang lebih baik
karena dapat melibatkan semua pihak dengan penuh kerelaan.
Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia memberikan arahan
agar selalu diusahakan tidak terjadinya jurang (gap) kesejahteraan di antara
bangsa Indonesia. Ilmuwan dan ahli teknik yang mengelola industri perlu selalu
mengembangkan sistem yang memajukan perusahaan, sekaligus menjamin
kesejahteraan karyawan (Wahyudi, 2006: 69). Selama ini, pengelolaan industri
lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, dalam arti keuntungan
perusahaan sehingga cenderung mengabaikan kesejahteraan karyawan dan

101
kelestarian lingkungan. Situasi timpang ini disebabkan oleh pola kerja yang
hanya mementingkan kemajuan perusahaan. Pada akhirnya, pola tersebut dapat
menjadi pemicu aksi protes yang justru merugikan pihak perusahaan itu sendiri.
Beberapa contoh tentang perumusan Pancasila sebagai karakter keilmuan
Indonesia yaitu di sisi ilmu itu sendiri, pancasila sudah mencakup dari semua
segi aspek kehidupan , mulai dari sila pertama yang mencakup segi ketuhanan
dalam menuntut ilmu yaitu dalam menuntut ilmu utamakan lah ilmu yang
bermanfaat dan bisa dibagi dan diberikan kepada orang lain, sampai keadilan
sosisal yang mengajarkan kita menuntut ilmu dengan seadil-adilnya dan saya
artikan , dalam menunttut ilmu juga harus adil , yaitu dalam menuntut ilmu ,
jangan hanya satu ilmu yang dipelajari , juga harus menguasai ilmu yang lain ,
dalam penguasaan ilmu, jangan hanya ilmu di dunia, tapi kuasai juga ilmu
sebagai bekal di akhirat.
Di segi penuntut ilmu, sebagai penuntut akan ilmu, dalam pancasila juga
diajarkan harus adanya sifat kemanusia’an yang terdapat pada sila ke dua , yaitu
kemanusiaan yang adil dan beradab , sebagai penuntut kita harus
mengedepankan sisi kemanusiaan dalam mencari ilmu, maksudnya , jangan
memaksakan suatu ilmu hingga mengorbankan orang lain dalam mencapai
tujuan tersebut.
4. Beberapa ilustrasi tentang karakter keilmuan berdasar Pancasila.
Jawab

Melalui teori relativitas Einstein paradigm kebenaran ilmu sekarang sudah berubah
dari paradigm lama yang dibangun oleh fisika Newton yang ingin selalu membangun
teori absolut dalam kebenaran ilmiah. Paradigma sekarang ilmu bukan sesuatu entitas
yang abadi, bahkan ilmu tidak pernah selesai meskipun ilmu itu didasarkan pada
kerangka objektif, rasional, metodologis, sistematis, logis dan empiris. Dalam
perkembangannya ilmu tidak mungkin lepas dari mekanisme keterbukaan terhadap
koreksi. Itulah sebabnya ilmuwan dituntut mencari alternatif-alternatif
pengembangannya melalui kajian, penelitian eksperimen, baik mengenai

102
aspek ontologis epistemologis, maupun ontologis. Karena setiap pengembangan ilmu
paling tidak validitas (validity) dan reliabilitas (reliability) dapat
dipertanggungjawabkan, baik berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan (context of
justification) maupun berdasarkan sistem nilai masyarakat di mana ilmu itu
ditemukan/dikembangkan (context of discovery).

Kekuatan bangunan ilmu terletak pada sejumlah pilar-pilarnya, yaitu pilar ontologi,
epistemologi dan aksiologi. Ketiga pilar tersebut dinamakan pilar-pilar filosofis
keilmuan. Berfungsi sebagai penyangga, penguat, dan bersifat integratif
serta prerequisite/saling mempersyaratkan. Pengembangan ilmu selalu dihadapkan
pada persoalan ontologi, epistemologi dan aksiologi.

1. Pilar ontologi (ontology)

Selalu menyangkut problematika tentang keberadaan (eksistensi).

a) Aspek kuantitas : Apakah yang ada itu tunggal, dual atau plural (monisme,
dualisme, pluralisme )

b) Aspek kualitas (mutu, sifat) : bagaimana batasan, sifat, mutu dari sesuatu
(mekanisme, teleologisme, vitalisme dan organisme).

Pengalaman ontologis dapat memberikan landasan bagi penyusunan asumsi, dasar-


dasar teoritis, dan membantu terciptanya komunikasi interdisipliner dan
multidisipliner. Membantu pemetaan masalah, kenyataan, batas-batas ilmu dan
kemungkinan kombinasi antar ilmu. Misal masalah krisis moneter, tidak dapat hanya
ditangani oleh ilmu ekonomi saja. Ontologi menyadarkan bahwa ada kenyataan lain
yang tidak mampu dijangkau oleh ilmu ekonomi, maka perlu bantuan ilmu lain
seperti politik, sosiologi.

2. Pilar epistemologi (epistemology)

103
Selalu menyangkut problematika teentang sumber pengetahuan, sumber kebenaran,
cara memperoleh kebenaran, kriteria kebenaran, proses, sarana, dasar-dasar
kebenaran, sistem, prosedur, strategi. Pengalaman epistemologis dapat memberikan
sumbangan bagi kita : (a) sarana legitimasi bagi ilmu/menentukan keabsahan disiplin
ilmu tertentu (b) memberi kerangka acuan metodologis pengembangan ilmu (c)
mengembangkan ketrampilan proses (d) mengembangkan daya kreatif dan inovatif.

3. Pilar aksiologi (axiology)

Selalu berkaitan dengan problematika pertimbangan nilai (etis, moral, religius) dalam
setiap penemuan, penerapan atau pengembangan ilmu. Pengalaman aksiologis dapat
memberikan dasar dan arah pengembangan ilmu, mengembangkan etos keilmuan
seorang profesional dan ilmuwan (Iriyanto Widisuseno, 2009). Landasan
pengembangan ilmu secara imperative mengacu ketiga pilar filosofis keilmuan
tersebut yang bersifat integratif dan prerequisite.Berikut ilustrasinya dalam bagan 1.

Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan

1. Prinsip-prinsip berpikir ilmiah

1) Objektif: Cara memandang masalah apa adanya, terlepas dari faktor-faktor


subjektif (misal : perasaan, keinginan, emosi, sistem keyakinan, otorita) .

2) Rasional: Menggunakan akal sehat yang dapat dipahami dan diterima oleh orang
lain. Mencoba melepaskan unsur perasaan, emosi, sistem keyakinan dan otorita.

3) Logis: Berfikir dengan menggunakan azas logika/runtut/ konsisten, implikatif.


Tidak mengandung unsur pemikiran yang kontradiktif. Setiap pemikiran logis selalu
rasional, begitu sebaliknya yang rasional pasti logis.

4) Metodologis: Selalu menggunakan cara dan metode keilmuan yang khas dalam
setiap berfikir dan bertindak (misal: induktif, dekutif, sintesis, hermeneutik, intuitif).

104
5) Sistematis: Setiap cara berfikir dan bertindak menggunakan tahapan langkah
prioritas yang jelas dan saling terkait satu sama lain. Memiliki target dan arah tujuan
yang jelas.

2. Masalah nilai dalam IPTEK

a. Keserbamajemukan ilmu pengetahuan dan persoalannya

Salah satu kesulitan terbesar yang dihadapi manusia dewasa ini adalah
keserbamajemukan ilmu itu sendiri. Ilmu pengetahuan tidak lagi satu, kita tidak bisa
mengatakan inilah satu-satunya ilmu pengetahuan yang dapat mengatasi problem
manusia dewasa ini. Berbeda dengan ilmu pengetahuan masa lalu lebih menunjukkan
keekaannya daripada kebhinekaannya. Seperti pada awal perkembangan ilmu
pengetahuan berada dalam kesatuan filsafat.

Proses perkembangan ini menarik perhatian karena justru bertentangan dengan


inspirasi tempat pengetahuan itu sendiri, yaitu keinginan manusia untuk mengadakan
kesatuan di dalam keserbamajemukan gejala-gejala di dunia kita ini. Karena yakin
akan kemungkinannya maka timbullah ilmu pengetahuan. Secara metodis dan
sistematis manusia mencari azas-azas sebagai dasar untuk memahami hubungan
antara gejala-gejala yang satu dengan yang lain sehingga bisa ditentukan adanya
keanekaan di dalam kebhinekaannya. Namun dalam perkembangannya ilmu
pengetahuan berkembang ke arah keserbamajemukan ilmu.

a) Mengapa timbul spesialisasi?

Mengapa spesialisasi ilmu semakin meluas? Misalnya dalam ilmu kedokteran dan
ilmu alam. Makin meluasnya spesialisasi ilmu dikarenakan ilmu dalam perjalanannya

105
selalu mengembangkan macam metode, objek dan tujuan. Perbedaan metode dan
pengembangannya itu perlu demi

kemajuan tiap-tiap ilmu. Tidak mungkin metode dalam ilmu alam dipakai
memajukan ilmu psikologi. Kalau psikologi mau maju dan berkembang harus
mengembangkan metode, objek dan tujuannya sendiri. Contoh ilmu yang berdekatan,
biokimia dan kimia umum keduanya memakai ”hukum” yang dapat dikatakan sama,
tetapi seorang sarjana biokimia perlu pengetahuan susunan bekerjanya organisme-
organisme yang tidak dituntut oleh seorang ahli kimia organik. Hal ini agar supaya
biokimia semakin maju dan mendalam, meskipun tidak diingkari antara keduanya
masih mempunyai dasar-dasar yang sama.

Spesialisasi ilmu memang harus ada di dalam satu cabang ilmu, namun kesatuan
dasar azas-azas universal harus diingat dalam rangka spesialisasi. Spesialisasi ilmu
membawa persoalan banyak bagi ilmuwan sendiri dan masyarakat. Ada kalanya ilmu
itu diterapkan dapat memberi manfaat bagi manusia, tetapi bisa sebaliknya merugikan
manusia. Spesialisasi di samping tuntutan kemajuan ilmu juga dapat meringankan
beban manusia untuk menguasai ilmu dan mencukupi kebutuhan hidup manusia.
Seseorang tidak mungkin menjadi generalis, yaitu menguasai dan memahami semua
ilmu pengetahuan yang ada (Sutardjo, 1982).

b) Persoalan yang timbul dalam spesialisasi

Spesialisasi mengandung segi-segi positif, namun juga dapat menimbulkan segi


negatif. Segi positif ilmuwan dapat lebih fokus dan intensif dalam melakukan kajian
dan pengembangan ilmunya. Segi negatif, orang yang mempelajari ilmu spesialis
merasa terasing dari pengetahuan lainnya. Kebiasaan cara kerja fokus dan intensif
membawa dampak ilmuwan tidak mau bekerjasama dan menghargai ilmu lain.
Seorang spesialis bisa berada dalam bahaya mencabut ilmu pengetahuannya dari
rumpun keilmuannya atau bahkan dari peta ilmu, kemudian menganggap ilmunya

106
otonom dan paling lengkap. Para spesialis dengan otonomi keilmuannya sehingga
tidak tahu lagi dari mana asal usulnya, sumbangan apa yang harus diberikan bagi
manusia dan ilmu-ilmu lainnya, dan sumbangan apa yang perlu diperoleh dari ilmu-
ilmu lain demi kemajuan dan kesempurnaan ilmu spesialis yang dipelajari atau
dikuasai.

Bila keterasingan yang timbul akibat spesialisasi itu hanya mengenai ilmu
pengetahuan tidak sangat berbahaya. Namun bila hal itu terjadi pada manusianya,
maka akibatnya bisa mengerikan kalau manusia sampai terasing dari sesamanya dan
bahkan dari dirinya karena terbelenggu oleh ilmunya yang sempit. Dalam
praktikpraktik ilmu spesialis kurang memberikan orientasi yang luas terhadap
kenyataan dunia ini, apakah dunia ekonomi, politik, moral, kebudayaan, ekologi dll.

Persoalan tersebut bukan berarti tidak terpecahkan, ada kemungkinan merelativisir


jika ada kerjasama ilmuilmu pengetahuan dan terutama di antara ilmuwannya. Hal ini
tidak akan mengurangi kekhususan tiap-tiap ilmu pengetahuan, tetapi akan
memudahkan penempatan tiaptiap ilmu dalam satu peta ilmu pengetahuan manusia.

Keharusan kerjasama ilmu sesuai dengan sifat social manusia dan segala kegiatannya.
Kerjasama seperti itu akan membuat para ilmuwan memiliki cakrawala pandang yang
luas dalam menganalisis dan melihat sesuatu. Banyak segi akan dipikirkan sebelum
mengambil keputusan akhir apalagi bila keputusan itu menyangkut manusia sendiri.

b. Dimensi moral dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan

Tema ini membawa kita ke arah pemikiran: (a) apakah ada kaitan antara moral atau
etika dengan ilmu pengetahuan, (b) saat mana dalam pengembangan ilmu
memerlukan pertimbangan moral/etik? Akhir-akhir ini banyak disoroti segi etis dari
penerapan ilmu dan wujudnya yang paling nyata pada jaman ini adalah teknologi,
maka pertanyaan yang muncul adalah mengapa kita mau mengaitkan soal etika
dengan ilmu pengetahuan? Mengapa ilmu pengetahuan yang makin diperkembangkan

107
perlu ”sapa menyapa” dengan etika? Apakah ada ketegangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan moral?

Untuk menjelaskan permasalahan tersebut ada tiga tahap yang perlu ditempuh.

Pertama, kita melihat kompleksitas permasalahan ilmu pengetahuan dan teknologi


dalam kaitannya dengan manusia.

Kedua,membicarakan dimensi etis serta kriteria etis yang diambil.

Ketiga, berusaha menyoroti beberapa pertimbangan sebagai semacam usulan jalan


keluar dari permasalahan yang muncul.

a) Permasalahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Kalau perkembangan ilmu pengetahuan sungguhsungguh menepati janji awalnya 200


tahun yang lalu, pasti orang tidak akan begitu mempermasalahkan akibat
perkembangan ilmu pengetahuan. Bila penerapan ilmu benar-benar merupakan sarana
pembebasan manusia dari keterbelakangan yang dialami sekitar 1800-1900-an
dengan menyediakan ketrampilan ”know how” yang memungkinkan manusia dapat
mencari nafkah sendiri tanpa bergantung pada pemilik modal, maka pendapat bahwa
ilmu pengetahuan harus dikembangkan atas dasar patokan-patokan ilmu pengetahuan
itu sendiri (secara murni) tidak akan mendapat kritikan tajam seperti pada abad ini.
Namun dewasa ini menjadi nyata adanya keterbatasan ilmu pengetahuan itu
menghadapi masalahmasalah yang menyangkut hidup serta pribadi manusia.
Misalnya, menghadapi soal transplantasi jantung, pencangkokan genetis, problem
mati hidupnya seseorang, ilmu pengetahuan menghadapi keterbatasannya. Ia butuh
kerangka pertimbangan nilai di luar disiplin ilmunya sendiri. Kompleksitas
permasalahan dalam pengembangan ilmu dan teknologi kini menjadi pemikiran
serius, terutama persoalan keterbatasan ilmu dan teknologi dan akibatakibatnyabagi
manusia. Mengapa orang kemudian berbicara soal etika dalam ilmu pengetahuan dan
teknologi?

b) Akibat teknologi pada perilaku manusia

108
Akibat teknologi pada perilaku manusia muncul dalam fenomen penerapan kontrol
tingkah laku (behavior control). Behaviour control merupakan kemampuan untuk
mengatur orang melaksanakan tindakan seperti yang dikehendaki oleh si pengatur
(the ability to get some one to do one’s bidding). Pengembangan teknologi yang
mengatur perilaku manusia ini mengakibatkan munculnya masalahmasalah etis
seperti berikut.

(1) Penemuan teknologi yang mengatur perilaku ini menyebabkan kemampuan


perilaku seseorang diubah dengan operasi dan manipulasi syaraf otak melalui
”psychosurgery’s infuse” kimiawi, obat bius tertentu. Electrical stimulation mampu
merangsang secara baru bagian-bagian penting, sehingga kelakuan bias diatur dan
disusun. Kalau begitu kebebasan bertindak manusia sebagai suatu nilai diambang
kemusnahan.

(2) Makin dipacunya penyelidikan dan pemahaman mendalam tentang kelakuan


manusia, memungkinkan adanya lubang manipulasi, entah melalui iklan atau media
lain.

(3) Pemahaman “njlimet” tingkah laku manusia demi tujuan ekonomis, rayuan untuk
menghirup kebutuhan baru sehingga bisa mendapat untung lebih banyak,
menyebabkan penggunaan media (radio, TV) untuk mengatur kelakuan manusia.

(4) Behaviour control memunculkan masalah etis bila kelakuan seseorang dikontrol
oleh teknologi dan bukan oleh si subjek itu sendiri. Konflik muncul justru karena si
pengatur memperbudak orang yang dikendalikan, kebebasan bertindak si kontrol dan
diarahkan menurut kehendak si pengontrol.

(5) Akibat teknologi pada eksistensi manusia dilontarkan oleh Schumacher. Bagi
Schumacher eksistensi sejati manusia adalah bahwa manusia menjadi manusia justru
karena ia bekerja. Pekerjaan bernilai tinggi bagi manusia, ia adalah ciri eksistensial
manusia, ciri kodrat kemanusiaannya. Pemakaian teknologi modern condong
mengasingkan manusia dari eksistensinya sebagai pekerja, sebab di sana manusia
tidak mengalami kepuasan dalam bekerja. Pekerjaan tangan dan otak manusia diganti

109
dengan tenaga-tenaga mesin, hilanglah kepuasan dan kreativitas manusia (T. Yacob,
1993).

c. Beberapa pokok nilai yang perlu diperhatikan dalam pengembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi

Ada empat hal pokok agar ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan secara
konkrit, unsur-unsur mana yang tidak boleh dilanggar dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat agar masyarakat itu tetap manusiawi.

a) Rumusan hak azasi merupakan sarana hukum untuk menjamin penghormatan


terhadap manusia. Individu individu perlu dilindungi dari pengaruh penindasan ilmu
pengetahuan.

b) Keadilan dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi sebagai hal yang mutlak.
Perkembangan teknologi sudah membawa akibat konsentrasi kekuatan ekonomi
maupun politik. Jika kita ingin memanusiawikan pengembangan ilmu dan teknologi
berarti bersedia mendesentralisasikan monopoli pengambilan keputusan dalam bidang
politik, ekonomi. Pelaksanaan keadilan harus memberi pada setiap individu
kesempatan yang sama menggunakan hak-haknya.

c) Soal lingkungan hidup. Tidak ada seorang pun berhak menguras/mengeksploitasi


sumber-sumber alam dan manusiawi tanpa memperhatikan akibat-akibatnya pada
seluruh masyarakat. Ekologi mengajar kita bahwa ada kaitan erat antara benda yang
satu dengan benda yang lain di alam ini.

d) Nilai manusia sebagai pribadi. Dalam dunia yang dikuasai teknik, harga manusia
dinilai dari tempatnya sebagai salah satu instrumen sistem administrasi kantor
tertentu. Akibatnya manusia dinilai bukan sebagai pribadi tapi lebih dari sudut

110
kegunaannya atau hanya dilihat sejauh ada manfaat praktisnya bagi suatu sistem.
Nilai sebagai pribadi berdasar hubungan sosialnya, dasar kerohanian dan penghayatan
hidup sebagai manusia dikesampingkan. Bila pengembangan ilmu dan teknologi mau
manusiawi, perhatian pada nilai manusia sebagai pribadi tidak boleh kalah oleh
mesin. Hal ini penting karena sistem teknokrasi cenderung dehumanisasi ( T. Yacob,
1993).

G. Pancasila sebagai Dasar Nilai Dalam Strategi Pengembangan ilmu pengetahuan


dan Teknologi

Karena pengembangan ilmu dan teknologi hasilnya selalu bermuara pada kehidupan
manusia maka perlu mempertimbangan strategi atau cara-cara, taktik yang tepat, baik
dan benar agar pengembangan ilmu dan teknologi memberi manfaat mensejahterakan
dan memartabatkan manusia.

Dalam mempertimbangkan sebuah strategi secara imperatif kita meletakkan Pancasila


sebagai dasar nilai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
Pengertian dasar nilai menggambarkan Pancasila suatu sumber orientasi dan arah
pengembangan ilmu. Dalam konteks Pancasila sebagai dasar nilai mengandung
dimensi ontologis, epistemologis dan aksiologis. Dimensi ontologis berarti ilmu
pengetahuan sebagai upaya manusia untuk mencari kebenaran yang tidak mengenal
titik henti, atau ”an unfinished journey”.

Ilmu tampil dalam fenomenanya sebagai masyarakat, proses dan produk. Dimensi
epistemologis, nilai-nilai Pancasila dijadikan pisau analisis/metode berfikir dan tolok
ukur kebenaran. Dimensi aksiologis, mengandung nilai-nilai imperatif dalam
mengembangkan ilmu adalah sila-sila Pancasila sebagai satu keutuhan. Untuk itu
ilmuwan dituntut memahami Pancasila secara utuh, mendasar, dan kritis, maka
diperlukan suatu situasi kondusif baik struktural maupun kultural. Ilustrasinya dapat
dilihat pada bagan 2 berikut ini.

111
E. Strategi Pengembangan IPTEK Pancasila Sebagai Dasar Nilai

Peran nilai-nilai dalam setiap sila dalam Pancasila adalah sebagai berikut.

1) Sila Ketuhanan Yang Maha Esa: melengkapi ilmu pengetahuan menciptakan


perimbangan antara yang rasional dan irasional, antara rasa dan akal. Sila ini
menempatkan manusia dalam alam sebagai bagiannya dan bukan pusatnya.

2) Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab: memberi arah dan mengendalikan ilmu
pengetahuan. Ilmu dikembalikan pada fungsinya semula, yaitu untuk kemanusiaan,
tidak hanya untuk kelompok, lapisan tertentu.

3) Sila Persatuan Indonesia: mengkomplementasikan universalisme dalam sila-sila


yang lain, sehingga supra sistem tidak mengabaikan sistem dan sub-sistem.
Solidaritas dalam sub-sistem sangat penting untuk kelangsungan keseluruhan
individualitas, tetapi tidak mengganggu integrasi.

4) Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam


permusyawaratan/perwakilan, mengimbangi otodinamika ilmu pengetahuan dan
teknologi berevolusi sendiri dengan leluasa. Eksperimentasi penerapan dan
penyebaran ilmu pengetahuan harus demokratis dapat dimusyawarahkan secara
perwakilan, sejak dari kebijakan, penelitian sampai penerapan massal.

5) Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menekankan ketiga keadilan
Aristoteles: keadilan distributif, keadilan kontributif, dan keadilan komutatif.
Keadilan sosial juga menjaga keseimbangan antara kepentingan individu dan
masyarakat, karena kepentingan individu tidak boleh terinjak oleh kepentingan semu.
Individualitas merupakan landasan yang memungkinkan timbulnya kreativitas dan
inovasi.

Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus senantiasa berorientasi pada


nilai-nilai Pancasila.

112
Sebaliknya Pancasila dituntut terbuka dari kritik, bahkan ia merupakan kesatuan dari
perkembangan ilmu yang menjadi tuntutan peradaban manusia. Peran Pancasila
sebagai paradigma pengembangan ilmu harus sampai pada penyadaran, bahwa
fanatisme kaidah kenetralan keilmuan atau kemandirian ilmu hanyalah akan
menjebak diri seseorang pada masalah-masalah yang tidak dapat diatasi dengan
semata-mata berpegang pada kaidah ilmu sendiri, khususnya mencakup pertimbangan
etis, religius, dan nilai budaya yang bersifat mutlak bagi kehidupan manusia yang
berbudaya.

5. Menggambarkan model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang


Pancasilais di lingkungan sekitar Anda
Jawab
Menurut pengamatan saya seorang pemimpin yang pancasilais
dilingkungan saya adalah sorang ketua RT , khususnya dilingkungan saya
, bagaimana bias saya mengatakan seperti itu? , saya berpendapat bahwa
ketua RT dilingkungan saya memiliki standar pancasilais yang cukup
tinggi, karena , bias dilihat dari prilaku , setiap pekerjaan dan setiap
program yang dikerjakan beliau.
Kelurahan dilingkungan saya menjadi lebih baik dari sebelumnya ,
beliau tak segan turun dan ikut bekerja bergotong royong membantu
penyelesaian mushola , membuat piket ronda setiap malamnya , dan juga
membuat sarana olahraga bagi para pemuda di sekitar , setiap malam
beliau mengontrol piket ronda , sesuai atukah masih banyak yang perlu
diperbaiki, dari peristiwa yang saya alami , beliau memiliki sifat keadilan
sosial yang tinggi, dan ketuhanan yang cukup baik.
Warganegara yang pancasilais dilingkungan saya , saya dapat
menyebutkan satu nama , yaitu , bapak ustad dilingkungan saya ,
meskipun beliau bukan merupakan orang jambi asli , beliau selalu
memberikan yang terbaik untuk membuat jambi lebih baik , membantu
pembangunan nya , salah satunya membangun mushola , serta mendidik

113
anak anak disekitar untuk belajar mengaji, secara geratis , disini saya
menenmukan sifat keadilan social yang adil dan bradab pada sosok ustad
dilingkungan saya.
Dan yang terakhir yaitu ilmuan yang pancasilais , di lingkungan saya
yaitu semua guru yang mengajari saya selama ini, tak mudah memberikan
ilmu kepada orang lain, seseorang harus menabahkan hatinya demi itu,
tetapi guru guru saya , mengajari saya dengan tanpa kenal lelah , dan itu
tercantum dalam kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam
permusyawaratan perwakilan..

114
DAFTAR PUSTAKA

http://anislestarihasim.blogspot.com/2014/01/pancasila-sebagai-dasar-
pengembangan.html

Diakses 4 Juli 2018

http://muhammadsuprio.blogspot.com/

Diakses 4 Juli 2018

http://ulie-pinoppy.blogspot.com/2010/05/keputusan-bersama.html

Diakses 4 Juli 2018

115
116