Anda di halaman 1dari 53

1

LAPORAN PRAKTEK MAGANG

TEKNIK KULTUR Chlorella sp. SKALA SEMI MASSAL DI BALAI


PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERIKANAN BUDIDAYA (BPTPB)
CANGKRINGAN, D.I. YOGYAKARTA

OLEH

REGGI FAHREZZY

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN


UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2018
2

LAPORAN PRAKTEK MAGANG

TEKNIK KULTUR Chlorella sp. SKALA SEMI MASSAL DI BALAI


PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERIKANAN BUDIDAYA (BPTPB)
CANGKRINGAN, D.I. YOGYAKARTA

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana perikanan
di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

OLEH

REGGI FAHREZZY
NIM : 1504110178

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2018
3

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS RIAU
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Kampus Bina Widya Km. 12,5 Simpang Baru-Panam. Pekanbaru


Telp : (0761) 63274, Fax : (0761) 63275
Laman www.unri.ac.id, e-mail :Faperika.unri.ac.id

PENGESAHAN LAPORAN PRAKTEK MAGANG

Judul Praktek : Teknik Kultur Chlorella sp. Skala Semi


Massal di Balai Pengembangan Teknologi
Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan,
D.I. Yogyakarta
Nama Mahasiswa : Reggi Fahrezzy

Nomor Mahasiswa : 1504110178

Jurusan : Manajemen Sumberdaya Perairan

Program Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan

Disetujui Oleh

Ketua Jurusan
Manajemen Sumberdaya Perairan Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Adriman, M.Si Prof.Dr.Ir. Madju Siagian, MS


NIP. 196401011991031009 NIP. 195002201975021001
4

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. Yang Maha Pengasih lagi

Maha Penyayang dengan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktek

magang yang berjudul “Teknik Kultur Chlorella sp. Skala Semi Massal di Balai

Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan, D.I.Yogyakarta”

sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada orangtua yang telah memberikan

dukungan materil, moril maupun spiritual, serta juga motivasi yang tidak pernah berhenti

sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan magang ini. Ucapan terimakasih juga

disampaikan yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Madju Siagian, M.S

yang telah memberikan petunjuk dan bimbingannya dalam menyusun laporan praktek

magang ini, sehingga laporan praktek magang ini dapat disusun dengan baik. Hal yang

juga disampaikan pembimbing lapangan Latifah Sutandi S.Pi atas bimbingan selama

melakukan praktek magang di Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya

(BPTPB) Cangkringan, D.I.Yogyakarta.

Dalam penyusunan laporan praktek magang ini, penulis sangat mengharapkan

kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan laporan praktek

magang ini. Semoga laporan praktek magang ini bermanfaat bagi kita semua.

Pekanbaru, Mei 2018

REGGI FAHREZZY
5

RINGKASAN

REGGI FAHREZZY (1504110178) Teknik Kultur Chlorella sp. Skala Semi Massal
di Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan, D.I.
Yogyakarta (Dibawah Bimbingan Prof.Dr.Ir. Madju Siagian, MS).

Untuk mendapatkan benih ikan yang berkualitas dapat diperoleh dari

induk ikan agar menghasilkan larva – larva berkualitas. Keberhasilan induk untuk

menghasilkan benih sangat erat kaitannya dengan pakan alami, Salah satu pakan

alami yang baik bagi larva, untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik adalah

Chlorella sp. Praktek magang ini bertujuan untuk mengetahui teknik kultur dan

cara mengembangbiakan Chlorella sp. secara semi massal serta perlakuan khusus

dalam penanganannya. Manfaat dari praktek magang adalah menambah

pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam bidang kultur Chlorella sp.

Praktek magang ini dilaksanakan pada tanggal 22 Januari – 9 Februari 2018 di

Balai Pengembangan Tekhnologi Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan, D.I.

Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam praktek magang ini adalah metode Short

Course/mentorial dan praktek langsung. Pada kegiatan Short Course/mentorial,

sekelompok mahasiswa dikumpulkan dalam ruang kelas dan diajar tentang topik

magang.. Pada kegiatan praktek langsung, mahasiswa diajak turun ke lapangan dengan

didampingi atau dibimbing oleh mentor. Mahasiswa diajak langsung menangani objek

magang seperti mengoperasikan alat. Pada praktek langsung, mentor melatih mahasiswa

melakukan kultur Chlorella sp.

Dalam melakukan kultur Chlorella sp. ini ada beberapa langkah yang dikerjakan

yaitu persiapan wadah, persiapan air , persiapan streilisasi, pelaksanaan persiapan pupuk,

penghitungan kepadatan dan pemanen Chlorella sp. Keberhasilan suatu teknik kultur

pada skala semi massal sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Pengukuran kualitas air yang

dilakukan adalah pengukuran salinitas, derajat keasaman (pH), dan suhu.


6

DAFTAR ISI

Isi Halaman

KATA PENGANTAR .............................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................. ii

DAFTAR TABEL .................................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................ iv

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ v

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang……………………………………………….. 1


1.2 . Tujuan dan Manfaat .................................................................. 2

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Chlorella sp. .................................... 3


2.2. Habitat Chlorella sp................................................................... 5
2.3. Kultur Chlorella sp. ................................................................... 6
2.4. Fase Pertumbuhan Mikroalga ................................................... 9
2.5. Peranan Chlorella sp. ................................................................. 11

III. METODE PRAKTEK

3.1. Waktu dan Tempat ..................................................................... 12


3.2. Metode Praktek Magang ............................................................ 12
3.3. Jadwal Rencana Kegiatan Magang. ........................................... 12

IV. HASIL PRAKTEK MAGANG

4.1. Keadaan Umum Lokasi Praktek Magang ................................. 15


4.1.2. Sejarah Berdirinya BPTPB Cangkringan Yogyakarta.... 15
4.2. Unit Kerja Budidaya Air Tawar ................................................ 16
4.3. Profil UK BAT Cangkringan .................................................... 17
4.3.1. Struktur Organisasi UK BAT Cangkringan.................... 17
4.3.2. Tenaga Kerja UK BAT ................................................... 18
4.3.3. Visi dan Misi .................................................................. 19
4.4. Alat dan Bahan .......................................................................... 19
7

4.5. Teknik Kultur Chlorella sp. ...................................................... 21


4.5.1. Persiapan Wadah kultur .................................................. 21
4.5.2. Persiapan Air dan Persiapan Sterilisasi .......................... 22
4.5.3. Pelaksanaan Kultur dan Persiapan Media Pupuk ........... 23
4.5.4. Perhitung Kepadatan Chlorella sp. ................................. 24
4.5.5. Hasil Pengamatan Pertumbuhan Chlorella sp. ............... 25
4.5.6. Pemanenan Chlorella sp. ................................................ 28
4.6. Hasil Pengukuran Kualitas Air ................................................. 28

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan .............................................................................. 31
5.2. Saran ........................................................................................ 31
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
8

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kegiatan Magang…………………………………………….……… 13

2. Tenaga Kerja UK BAT Cangkringan……………………………….. 19

3. Alat yang Digunakan………………………………………………… 19

4. Bahan yang Digunakan………………………………………………. 20

5. Kepadatan Chlorella sp. …………………………………………….. 26

6. Hasil Pengukuran Kualitas Air………………………………………. 29


9

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Morfologi Chlorella sp. ........................................................................ 4

2. Kurva Pertumbuhan Mikroalga. ............................................................ 10

3. Bagan Struktur Organisasi .................................................................... 17

4. Pembersihan Wadah .............................................................................. 21

5. Strelisasi dengan Na-Thiosulfate .......................................................... 22

6. Sterilisasi dengan Alkohol .................................................................... 23

7. Pengkulturan Chlorella sp. ................................................................... 24

8. Cara Penetesan Sampel pada Haemocytometer .................................... 25

9. Grafik Pertumbuhan Chlorella sp. ........................................................ 26

10. Pengkulturan Salinitas, Pengukuran pH, dan Pengukuran Suhu ........ 30


10

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Peta Lokasi BPTPB ............................................................................... 35


2. Denah Lokasi Magang .......................................................................... 36
3. Sarana dan Prasarana Bat Cangkringan ................................................. 37
4. Alat dan Bahan ...................................................................................... 38
5. Dokumentasi Kegiatan .......................................................................... 40
6. Hasil Pengamatan Chlorella sp. ............................................................ 42
7. Sertifikat Magang .................................................................................. 43
1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebutuhan masyarakat akan protein hewani dari tahun ketahun semakin

tinggi. Salah satu sumber protein hewani yaitu ikan. Dalam memenuhi kebutuhan

masyarakat terhadap ikan dapat diperoleh dari hasil budidaya. Keberlanjutan

budidaya ikan membutuhkan benih ikan yang berkualitas dari hasil pembenihan.

Untuk mendapatkan benih ikan yang berkualitas dapat diperoleh dari

induk ikan agar menghasilkan larva – larva berkualitas. Keberhasilan induk untuk

menghasilkan benih sangat erat kaitannya dengan pakan alami, Salah satu pakan

alami yang baik bagi larva, untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik adalah

Chlorella sp.

Ketersedian pakan alami Chlorella sp. ini bagi larva – larva ikan yang

dibudidayakan dapar diperoleh dari hasil kultur. Pengkulturan Chlorella sp. ini

sudah berhasil dilakukan di Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya

(BPTPB) Cangkringan, D.I. Yogyakarta secara laboratorium dan semi massal.

Maka penulis tertarik untuk melakukan praktek magang dengan judul Teknik

Kultur Chlorella sp. Skala Semi Massal Di Balai Pengembangan Teknologi

Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan, D.I.Yogyakarta.

1.2. Tujuan

Praktek magang ini bertujuan untuk mengetahui teknik kultur dan cara

mengembangbiakan Chlorella sp. secara semi massal dengan perlakuan khusus

dalam penanganannya.
2

1.3. Manfaat

Adapun Manfaat dari praktek magang di Balai Pengembangan Teknologi

Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan, D.I. Yogyakarta adalah menambah

pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam bidang kultur Chlorella sp.


3

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Chlorella sp.

Nama Chlorella sp. berasal dari zat berwarna hijau (chlorophyll) yang

berfungsi sebagai katalisator dalam proses fotosintesis (Steenblock, 2000 dalam

Prabowo 2009). Menurut Bold dan Wyne (1985) Chlorella sp. dikategorikan

kedalam kelompok alga hijau yang memiliki jumlah genera sekitar 450 dan

jumlah spesies lebih dari 7500. Nama alga hijau diberikan karena kandungan zat

hijau (Chlorophyll) yang dimilikinya sangat tinggi.

Chlorella sp. hidup di air tawar, hanya sebagian kecil yang hidup di air

payau dan laut. Klasifikasi Chlorella menurut Bold dan Wynne (1985) adalah

sebagai berikut :

Filum : Chlorophyta

Kelas : Chlorophyceae

Ordo : Chlorococcales

Famili : Oocystaceae

Genus : Chlorella

Spesies : Chlorella sp.

Chlorella sp. merupakan tumbuhan bersel tunggal yang memiliki inti

sejati, dan tergolong tumbuhan tingkat rendah. Alga ini dapat hidup di perairan air

tawar dan perairan air laut. Alga ini memiliki tubuh seperti bola, di dalam

tubuhnya terdapat kloroplas berbentuk mangkuk. Perkembangbiakannya terjadi

secara vegetative dengan membelah diri. Setiap selnya mampu membelah diri dan
4

menghasilkan empat sel baru yang tidak mempunyai flagel (Prabowo, 2009).

Moroflogi Chlorella sp. dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Morfologi Chlorella sp.


Sumber: Prabowo, 2009
Bentuk sel Chlorella sp. bulat atau bulat telur, merupakan alga bersel tunggal

tetapi kadang – kadang bergerombol, berwarna hijau karena klorofil merupakan

pigmen yang dominan. Dinding selnya keras terdiri atas selulosa dan pectin. Sel

ini mempunyai pitoplasma berbentuk cawan. Chlorella sp dapat bergerak tetapi

sangat lambat sehingga pada pengamatan seakan – akan tidak bergerak (Djariah,

1995).

Menurut Becker (1994) Chlorella sp mengandung 51 – 58% protein, 12 –

26% karbohidrat, 2 – 22 % lemak, 4 – 5 % nucleic acid. Asam lemak yang

terdapat dalam Chlorella sp terdiri dari linoleate sebanyak 45,068% dan 29,495%

steatrat.
5

2.2. Habitat Chlorella sp.

Chlorella sp. bersifat kosmopolit yang dapat tumbuh dimana – mana,

kecuali pada tempat yang sangat kritis bagi kehidupan. Menurut habitatnya

sebagian besar hidup di air tawar dan hanya sebagian kecil yang hidup di perairan

payau dan air laut. Jenis – jenis Chlorella yang hidup di air laut antara lain jenis –

jenis Chlorella minutissima dan Chlorella virginia (Yurisman dan Sukendi 2004).

Jenis – jenis Chlorella yang hidup di air tawar antara lain Chlorella vulgaris dan

Chlorella pyrenoidosa (Prabowo, 2009). Sebagaimana halnya alga lain, Chlorella

sp memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam melakukan aktifitas

fotosintesis yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ketersediaan nutrient,

suhu, intensitas cahaya dan oksigen (Kabinawa, 2001).

Menurut Djarijah (1995) Chlorella sp berkembang biak secara vegetative

(aseksual) dan generative (seksual). Perkembangan secara vegetative diawali

dengan pembentukan spora, setiap sel induk Chlorella sp akan mengeluarkan

zoospora yang disebut aplanospora sebanyak 8 buah. Selanjutnya aplanospora

berkembang menjadi individu – individu baru dan setiap aplanospora yang telah

dewasa akan mengeluarkan aplanospora baru, dan seterusnya selama kondisi

lingkungan memungkinkan. Perkembangbiakkan sel Chlorella sp belum banyak

diketahui (Djarijah, 1995). Chlorella sp dapat hidup pada suhu 20 – 30˚C, tetapi

kecepatan pertumbuhan yang baik adalah pada suhu 25˚C (Bishop dan Davis,

2000). Kandungan oksigen terlarut yang baik untuk pertumbuhan Chlorella sp

adalah > 2 ppm. (Handayani dan Ariyanti, 2012)


6

2.3. Kultur Chlorella sp.

Kultur murni Chlorella sp. dilakukan agar tidak tercampur oleh jenis

plankton dan tumbuhan air lain. Bahkan cara ini biasa dilakukan untuk produksi

satu jenis (spesies) plankton atau tumbuhan air saja. Pelaksanaan isolasi plankton

dalam kultur ini hanya dapat dilakukan di laboratorium atau tempat khusus, tetapi

untuk pelaksanaanya produksi massal dapat dilakukan di dalam kolam atau

perairan lain (Yurisman dan Sukendi, 2004). Selanjutnya dikemukakan, bahwa

dalam kultur Chlorella sp. dibutuhkan persyaratan yaitu air dan media kultur.

Menurut Bold dan Wynne (1985), pertumbuhan Chlorella sp. dalam kultur

dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: medium, nutrien, cahaya, suhu

salinitas, pH dan aerasi.

- Medium

Medium yang merupakan tempat hidup bagi kultur Chlorella yang

pemilihannya pada jenis Chlorella sp. yang akan dibudidayakan. Bahan dasar

untuk preservasi medium yang dapat digunakan adalah agar-agar.

- Nutrien

Nutrien terdiri atas unsur-unsur hara makro (macronutrients) dan unsur

hara mikro (micronutrients). Contoh unsur hara makro untuk pertumbuhan

Chlorella adalah senyawa organik seperti N, K, Mg, S, P, dan Cl. Unsur hara

mikro adalah Fe, Cu, Zn, Mn, B, dan Mo (Oh-hama dan Miyachi, 1988). Unsur

hara tersebut diperoleh dalam bentuk persenyawaan dengan unsur lain. Tiap unsur

hara memiliki fungsi-fungsi khusus yang tercermin pada pertumbuhan dan

kepadatan yang dicapai oleh organisme yang dikultur tanpa mengesampingkan

pengaruh dari lingkungan.


7

Kebutuhan nutrien untuk tujuan kultur mikroalga harus tetap terpenuhi

melalui penambahan media pemupukan guna menunjang pertumbuhan mikroalga.

Unsur N, P, dan S penting untuk sintesa protein. Unsur K berfungsi dalam

metabolisme karbohidrat. Unsur Cl dimanfaatkan untuk aktivitas kloroplas, unsur

Fe dan Na berperan dalam pembentukan klorofil, sementara Si dan Ca diperlukan

dalam jumlah banyak untuk pembentukan cangkang beberapa jenis fitoplankton

(Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995).

- Cahaya

Cahaya merupakan sumber energi untuk melakukan fotosintesis. Cahaya

matahari yang diperlukan oleh mikroalga dapat digantikan dengan lampu TL atau

tungsten. Intensitas cahaya saturasi untuk Chlorella berada pada intensitas 4000

lux. Hal ini menunjukan bahwa setelah titik intensitas tersebut dicapai, maka

fotosintesis tidak lagi meningkat sehubungan dengan peningkatan intensitas

cahaya (Basmi, 1995).

- Suhu

Secara umum suhu optimal dalam kultur fitoplankton berkisar antara 20-

24oC. Suhu dalam kultur diatur sedemikian rupa bergantung pada medium yang

digunakan. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty, (1995) kisaran temperatur

optimal bagi pertumbuhan Chlorella sp. adalah antara 25-30o C. Namun penelitian

lain menunjukkan bahwa untuk jenis Chlorella sp. dapat beradaptasi pada media

kultur dengan suhu serendah 5o C (Maxwell dalam Rostini, 2007)

- pH

Nilai pH medium kultur merupakan faktor pengontrol yang menentukan

kemampuan biologis mikroalga dalam memanfaatkan unsur hara. Nilai pH yang


8

terlalu tinggi misalnya, akan mengurangi aktifitas fotosintesis mikroalga. Menurut

Oh-hama dan Miyachi (1988), pada umumnya strain Chlorella mampu

bertoleransi terhadap kisaran salinitas dan pH yang cukup lebar.

Chlorella di perairan tawar alami dapat hidup pada pH 4 - 8, sedangkan

Chlorella yang dibudidayakan memerlukan pH sekitar 4,5 - 5,6. Hal ini berkaitan

dengan kontaminan. Bila suasana lingkungan bersifat basis maka kontaminan

dapat hidup dengan baik dan akan merugikan Chlorella tetapi bila suasana asam

pada batas yang tidak menggangu kehidupan Chlorella, maka kontaminan tidak

tahan hidup pada suasana asam tersebut ( Hills dan Nakamura, 1978 ).

- Salinitas

Chlorella sp. memiliki toleransi pada salinitas yang tinggi dan dapat hidup

pada kisaran salinitas 0-35 ppt (dari air tawar sampai air laut). Chlorella air laut

dapat tumbuh baik pada salinitas 15-35 ppt. Salinitas yang paling optimal

bagi pertumbuhan Chlorella air tawar adalah 0 -20 ppt sementara untuk Chlorella

air laut adalah 25-28 ppt (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Salinitas

berhubungan erat dengan tekanan osmotik air. Semakin tinggi salinitas perairan

maka semakin tinggi pula tekanan osmotik air. Tekanan osmotik yang tinggi dapat

menghambat pertumbuhan Chlorella sp. (Sutomo, 2005).

- Aerasi

Aerasi dalam kultur mikroalga digunakan untuk proses pengadukan

medium kultur. Pengadukan sangat penting dilakukan yang bertujuan untuk

mencegah terjadinya pengendapan sel, nutrien dapat tersebar sehingga mikroalga

dalam kultur mendapatkan nutrien yang sama, mencegah stratifikasi suhu, dan

meningkatkan pertukaran gas dari udara ke medium. (Coutteau, 1996).


9

Pertumbuhan fitoplankton dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah

besarnya ukuran sel atau bertambah banyaknya jumlah sel. Kepadatan sel dalam

kultur Chlorella sp digunakan untuk mengetahui pertumbuhan jenis fitoplankton

tersebut. Kecepatan tumbuh dalam kultur ditentukan dari medium yang digunakan

dan dapat dilihat dari hasil pengamatan kepadatan Chlorella sp. yang dilakukan

tiap 24 jam (1 hari) untuk kultur Chlorella sp. (Basmi, 1995).

2.4. Fase Pertumbuhan Mikroalga

Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty, (1995) ada beberapa fase pertumbuhan

pada mikroalga yaitu sebagai berikut :

1. Fase Lag (istirahat)

Dimulai setelah penambahan inokulum ke dalam media kultur

hingga beberapa saat sesudahnya. Pada fase ini peningkatan paling

signifikan terlihat pada ukuran sel karena secara fisiologis mikroalga

menjadi sangat aktif. Proses sintesis protein baru juga terjadi dalam fase

ini. Metabolisme berjalan tetapi pembelahan sel belum terjadi

sehingga kepadatan sel belum meningkat karena mikroalga masih

beradaptasi dengan lingkungan barunya.

2. Fase Logaritmik (log) atau Eksponensial

Fase ini dimulai dengan pembelahan sel dengan laju pertumbuhan

yang meningkat secara intensif. Apabila kondisi kultur optimum maka

laju pertumbuhan pada fase ini dapat mencapai nilai maksimal dan pola

laju pertumbuhan dapat digambarkan dengan kurva logaritmik. Pada fase

ini merupakan fase terbaik untuk memanen mikroalga untuk keperluan

pakan ikan. Fase ini berlangsung dalam waktu 4-6 hari.


10

3. Fase Penurunan Laju pertumbuhan

Pembelahan sel terjadi pada fase ini, namun tidak seintensif pada

fase sebelumnya, sehingga laju pertumbuhan pada fase ini mengalami

penurunan dibandingkan fase sebelumnya.

4. Fase Stasioner

Pada fase ini laju reproduksi dan laju kematian relatif sama.

Penambahan dan pengurangan jumlah mikroalga seimbang sehingga

kepadatannya realtif tetap (stasioner).

5. Fase Kematian

Fase ini ditandai dengan laju kematian yang lebih besar dari pada

laju reproduksi sehingga jumlah sel mengalami penurunan secara

geometrik. Penurunan kepadatan sel fitoplankton ditandai dengan

perubahan kondisi optimuam yang dipengaruhi oleh temperatur, cahaya,

pH medium, ketersediaan nutrien, dan beberapa faktor lain yang saling

berkaitan satu dengan yang lainnya. Secara skematis pola pertumbuhan

mikroalga dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kurva Pertumbuhan Mikroalga


Sumber: (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995)
11

2.5. Peranan Chlorella sp.

Chlorella sp. berperan penting dalam pembuatan green water dan

sekaligus sebagai sistem keseimbangan bagi media pembenihan ikan maupun

udang (Sartika et al., 2014). Selanjutnya dikemukakan bahwa Chlorella sp.

berfungsi sebagai organsime yang menyerap kelebihan ammonia, sebab

kandungan ammonia lebih dari 0,5 ppm dapat membahayakan tambak udang.

Jadi Chlorella sp. dapat digunakan sebagai starter tambak untuk menumbuhkan

Chlorella sp. di tambak yang akan digunakan untuk budidaya. Menurut Sutomo,

(2005), Chlorella sp. berguna bagi larva ikan dimana setiap selnya berfungsi

sebagai stabilisator penghasil O2 dan juga sebagai pakan zooplankton seperti

Rotifera sp dan Daphnia sp.


12

III. METODE PRAKTEK MAGANG

3.1. Waktu dan Tempat

Praktek magang ini dilaksanakan pada tanggal 22 Januari – 9 Februari

2018 di Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB)

Cangkringan, D.I. Yogyakarta.

3.2. Metode Praktek Magang


Metode yang digunakan dalam praktek magang ini adalah metode Short

Course/mentorial dan praktek langsung. Pada kegiatan Short Course/mentorial,

sekelompok mahasiswa dikumpulkan dalam ruang kelas dan diajar tentang topik

magang bersama – sama dan melakukan evaluasi atau test. Ada mentor yang

mengajar mahasiswa. Pada kegiatan praktek langsung, mahasiswa diajak turun

langsung ke lapangan dengan didampingi atau dibimbing oleh mentor. Mahasiswa

diajak langsung menangani objek magang seperti mengoperasikan alat. Pada

praktek langsung, ada mentor yang melatih mahasiswa melakukan kultur

Chlorella sp.

3.3 Kegiatan Magang

Praktek magang ini dilaksanakan di Balai Pengembangan Teknologi

Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan Yogyakarta, dimulai pada tanggal 22

Januari 2018 s/d 9 Februari 2018. Kegiatan selama praktek magang dapat dilihat

pada Tabel 1 :
13

Tabel 1. Kegiatan Magang

No Tanggal Keterangan
1. 22-01-2018 Penyambutan mahasiswa di BPTPB Cangkringan D.I.
Yogyakarta dan pengenalan unit kerja terkait dengan
judul magang.

2. 23-01-2018 Pengenalan Dasar Unit Kerja Budidaya Air Tawar


Cangkringan, sleman, yogyakarta.

3. 24-01-2018 Pembersihan wadah kultur Chlorella sp.


4. 25-01-2018 Sterilisasi air dan Pemupukan serta Penebaran Bibit
Chlorella sp.

5. 26-01-2018 Pemberian pakan pada kolam – kolam dan hatchery.


Sterilisasi alat – alat laboratorium dan penghitungan
Kepadatan Chlorella sp.

6. 27-01-2018 Pemberian pakan pada kolam – kolam dan hatchery.


Penghitungan Kepadatan Chlorella sp.

7. 28-01-2018 Libur.
Penghitungan Kepadatan Chlorella sp.
8. 29-01-2018 Pemberian pakan pada kolam – kolam dan hatchery.
Penghitungan kepadatan Chlorella sp.
Membantu menguras kolam.

9. 30-01-2018 Pemberian pakan pada kolam – kolam dan hatchery.


Penghitungan Kepadatan Chlorella sp.

10. 31-01-0218 Pemberian pakan pada kolam – kolam dan hatchery.


Membantu menguras kolam di hatchery.
Penghitungan Kepadatan Chlorella sp.

11. 01-02-2018 Pemberian pakan pada kolam – kolam dan hatchery.


Membantu membersihkan kolam pembenihan.

12. 02-02-2018 Pemberian pakan pada kolam – kolam dan hatchery.


Membantu menguras kolam.
Penghitungan Kepadatan Chlorella sp.
14

13. 03-02-2018 Pemberian pakan pada kolam – kolam dan hatchery.


Penghitungan Kepadatan Chlorella sp.

14. 04-02-2018 Libur.


Penghitungan Kepadatan Chlorella sp.

15. 05-02-2018 Pemberian pakan pada kolam – kolam dan hatchery.


Pembersihan Wadah kultur.

16. 06-02-2018 Analisis data dan penyusunan laporan sementara.

17. 07-02-2018 Analisis data dan penyusunan laporan sementara.

18. 08-02-2018 Presentasi Hasil Praktek Magang.

19. 09-02-2018 Perpisahan di UKBAT Cangkringan


15

IV. HASIL PRAKTEK MAGANG

4.1. Keadaan Umum Lokasi Praktek Magang

Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Pengembangan Teknologi Perikanan

Budidaya Cangkringan, Yogyakarta berlokasi di desa Argomulyo, Kecamatan

Cangkringan, Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi

ini berada di kaki gunung merapi dan menepati areal seluas 7.516 ha yang terdiri

dari kolam efektif 5.038 ha. Gedung dan rumah jaga 0.180 ha, jalan pematang

saluran dan lingkungan 3.197 ha. Lokasi tersebut berada di ketinggian 330 m di

atas permukaan air laut dengan kemirinngan tanah 5% (setiap 100 meter

mempunyai selisih tinggi 5 m). Jenis tanah vulkanis muda dengan tekstur tanah

pasir berbatu. Suhu air berkisar 19 sampai 28o C. pH air sampai 7-7,5. Air yang

digunakan untuk budidaya berasal dari Sungai Opak yang ditampung di waduk

somologi. Batas-batas wilayahnya adalah bagian Utara berbatasan dengan Lereng

Gunung Merapi, bagian Barat Kecamatan Pakem, bagian Timur Kecamatan

Manisrenggo dan bagian Selatan Kecamatan Ngemplak.

4.1.2. Sejarah Berdirinya BPTPB Cangkringan Yogyakarta

Balai Pengembangan Teknologi Perikanan dan Budidaya (BPTPB) adalah

salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pada Dinas Kelautan dan

Perikanan Daerah Istimewa Yoyakarta (DIY). Sejarah Lembaga Balai Benih Ikan

Cangkringan didirikan pada tahun 1953 dengan luas areal 0,9750 Ha. Kegiatan

saat itu memijahkan ikan jenis nila dengan Teknik Pemijahan secara alami

(Tradisional) dan berlangsung sampai tahun 1967 dengan produksi benih 616.000

ekor per tahun. Kemudian pada tahun 1967 dikembangkan teknik pembenihan
16

dengan sistem kantong dan produksi benih mencapai 2.000.000 ekor per tahun.

Sejalan dengan upaya pengembangan mutu benih dan induk unggul jenis ikan air

tawar, berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan teknik pembenihan.

Tahun 1977 telah ditemukan pemijahan ikan dengan sistem Cangkringan.

(BPTPB DIY, 2016).

Perluasan lahan sampai pada tahun anggaran 1997/1998 dengan luas areal

7,5169 Ha yang terdiri dari kolam efektif 5,0388 Ha, gedung dan rumah jaga

0,1805 Ha dan jalan pematang saluran dan lingkungan 3,1976 Ha. Tahun 2003

BBIS berubah menjadi Unit Kerja Budidaya Air Tawar Cangkringan pada Balai

Perekayasaan Teknologi Perikanan dan Kelautan Provinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta pada tahun 2009 berubah lagi menjadi Unit Kerja Budidaya Air

Tawar pada Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan.

4.2. Unit Kerja Budidaya Air Tawar

Tugas dan fungsi Unit Kerja BAT Cangkringan sebagai salah satu unit

kerja dari seksi Budidaya Air Tawar pada balai pengembangan teknologi Kelautan

dan Perikanan Provinsi DIY Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Daerah

Istimewa Yogyakarta adalah sebagai sarana bimbingan langsung kepada UPR

dalam pengadaan dan pengendalian mutu benih dan mempunyai tugas pokok

melaksanakan peningkatan produksi induk dalam jumlah dan mutu.

Tugas pokok sesuai dengan fungsinya antara lain meliputi:

1. Memproduksi induk ikan bermutu dalam rangka usaha pembenihan rakyat

dan pengendalian mutu benih.

2. Memproduksi benih ikan untuk keperluan mengisi kekurangan benih yang

dihasilkan oleh UPR.


17

3. Melaksanakan perekayasaan dan adaptasi teknologi budidaya air tawar yang

lebih baik dan sekaligus penyebarannya kepada UPR berupa pelayanan

informasi teknologi dan bimbingan tekis pembenihan budidaya air tawar.

4. Sebagai sumber pendapatan Asli Daerah.

4.3. Profil UK BAT Cangkringan

Praktek Magang ini dilakukan di Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UK

BAT) Cangkringan , Yogyakarta. UK BAT Cangkringan merupakan salah satu

unit dari 6 unti kerja yang berpusat pada Balai Pengembangan Teknologi

Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan, Yogyakarta.

4.3.1. Struktur Organisasi UK BAT Cangkringan

Struktur Organisasi yang ada di UK BAT Cangkringan terdiri dari

pimpinan yang memimpin dan mengatur jalannya UK BAT Cangkringan, di Balai

Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan memiliki tugas dan wewenang

yang tercantum pada struktur berikut :

Kepala UK BAT Cangkringan


Sunaryo, SP

Koorinator Induk dan Koordinator


Administrasi
Calon Induk Pembenihan
Tugiyati
Wardhaya Jumana

Gambar 3. Struktur Organisasi UK BAT Cangkringan


Sumber : BPTPB Cangkringan Tahun 2017

Tugas dan wewenang masing-masing bagian adalah sebagai berikut:

a. Kepala Unit UK BAT Cangkringan


18

Kepala Unit mempunyai Tugas dan Wewenang yaitu:

1. Sunaryo memimpin dan merencanakan kegiatan yang akan di lakukan

UKBAT Cangkringan.

2. Mengkoordinasi dan melaporkan segala kegiatan yang dilakukan di

UKBAT Cangkringan kepada UPTD Balai Pengembangan Teknologi

Kelautan dan Perikanan (BPTKP) Cangkringan Sleman Yogyakarta.

b. Koordinator pada UK BAT Cangkringan

1. Bapak Wardaya sebagai koordinator induk dan calon induk

Bertugas mengkooordinasi yang berkaitan dengan pemeliharaan induk

dan calon indukan.

2. Bapak Jumana sebagai koordinator pembenihan

Bertugas mengkoordinasikan yan berkaitan dengan pembenihan dan

pendederan.

c. Staff Administrasi di UK BAT Cangkringan

1. Ibu Tugiyanti sebagai staff administrasi

Bertugas mencatat yan berkaitan dengan keuangan yang ada pada

UKBAT Cangkringan.

4.3.2. Tenaga Kerja Unit Kerja Budidaya Air Tawar

Jumlah tenaga kerja yang ada pada Unit Kerja Budidaya Air Tawar

Cangkringan sebanyak 16 orang dengan status kepegawaian dan tingkat

pendidikan yang dapat dilihat pada data Tabel 2.


19

Tabel 2. Tenaga Kerja Pada Unit Kerja Budidaya Air Tawar Cangkringan

No Pendidikan Status Kepegawaian (orang) Jumlah


PNS PTT
1. S1 1 3 4
2. D3 - - -
3. SLTA 3 1 4
4. SLTP 4 - 4
5. SD 2 2 4
Jumlah 10 6 16
Sumber: UK BAT Cangkringan, 2017

4.3.3. Visi dan Misi

Adapun visi dari BPTPB Cangkringan D.I Yogyakarta yaitu menjadi

pengembang teknologi. budidaya perikanan yang terdepan dan berdaya saing.

Untuk mencapai visi tersebut maka misi dari balai tersebut adalah :

 Mengembangkan teknologi perikanan budidaya yang tepat guna dan

berdaya saing.

 Melaksanakan perbaikan mutu induk dan benih, memfasilitasi penyebaran

induk dan benih unggul ke masyarakat

4.4. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan selama praktek magang dapat dilihat pada

Tabel 2 dan Tabel 3.

Tabel 2. Alat yang Digunakan dalam Praktek Magang

No. Alat Fungsi

1. Bak fiber semi massal Wadah kultur semi massal

2. Selang Untuk memasukkan air ke bak

3. Sikat Membersihkan bak

4. Alumunium Foil Menutup erlenmeyer

5. Filter Bag Menyaring air yang masuk


20

6. Haemocytometer Media pengamatan

7. Cover Glass Menutup sampel yang diamati

8. Lampu Sumber cahaya bagi alga

9. Tissu Membersihkan haemocytometer

10. Aerator Untuk Pengadukan

11. Mikroskop Untuk pengamatan

12. Pipet Tetes Mengambil sampel yang akan diamati

13. Erlenmeyer Wadah sampel

14. Alat Tulis Membuat dokumentasi pengamatan

15. Timbangan Menimbang bahan pembuatan pupuk

16. Thermometer Pengukur suhu

17. Refraktometer Pengukur salinitas

18. Hand counter Penghitung koloni manual

Tabel 4. Bahan yang Digunakan

No. Bahan Fungsi

1. Urea Bahan pupuk kultur Semi massal

2. ZA Bahan pupuk kultur Semi massal

3. Kapur Bahan pupuk kultur Semi massal

4. KCl Bahan pupuk kultur Semi massal

5. Alkohol 70% Sterilisasi alat

6. Chlorine Sterilisasi air

7. Na-Thiosulfat Sterilisasi air

8. Air Bersih Media pertumbuhan alga

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktek magang untuk melakukan kultur

Chlorella sp. skala semi massal dapat dilihat pada Lampiran 4.


21

4.5. Teknik Kultur Chlorella sp.

Kultur Chlorella sp. dalam praktek magang ini dilakukan di dalam

ruangan yang atapnya transparan. Ada beberapa langkah yang dikerjakan dalam

kultur tersebut yaitu persiapan wadah, persiapan air , persiapan streilisasi,

pelaksanaan persiapan pupuk, penghitungan kepadatan dan pemanen Chlorella sp.

Secara rinci langkah – langkah yang dikerjakan dalam praktek magang ini adalah

sebagai berikut :

4.5.1. Persiapan Wadah Kultur

Wadah yang digunakan pada kultur skala semi massal ini ialah bak fiber

berukuran 100 liter. Kebersihan wadah untuk suatu kultur sangat berpengaruh

terhadap perkembangan organisme yang akan dikultur. Semua wadah yang akan

dijadikan sebagai wadah kultur Chlorella sp. dibersihkan dengan menggunakan

sabun atau detergen. Pembersihkan dilakukan dengan cara : sabun atau deterjen

dilarutkan dalam air sampai terbentuk busa, kemudian dengan menggunakan sikat

wadah dibersihkan hingga noda pada wadah tersebut hilang. Setelah noda hilang

wadah dibilas dengan air keran dan dibiarkan hingga kering. Pembersihan wadah

dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Pembersihan wadah


22

4.5.2. Persiapan Air dan Persiapan Sterilisasi

Air yang digunakan untuk kultur skala semi massal ini adalah air tawar

yang berasal dari sumur. Secara umum sterilisasi air untuk kultur Chlorella sp.

skala semi massal menggunakan laurutan klorin, larutan natrium thiosolfat dan

streilisasi alat menggunakan alkohol. Sterilisasi alat meliputi media dan wadah

kultur Chlorella sp. yang terdiri dari bak fiber 100 liter, erlenmenyer, selang,

pipet dan batu aerasi.

Sterilisasi pada hari pertama adalah pada wadah dimulai dengan bak fiber

diisi air sebanyak 100 liter. Kemudian larutan klorin dicampurkan ke dalam bak

fiber. Perbandingan volume larutan klorin yang dicampurkan ke air suling adalah

1 ml : 1 liter. Kemudian didiamkan selama 24 jam. Fungsi pemberian larutan

klorin adalah untuk menghilangkan bakteri pada wadah yang akan digunakan

untuk kultur.

Sterilisasi pada hari kedua menggunakan larutan natrium thiosulfate 100

ml. Waktu sterilisasi dan perbandingan volume larutan yang akan dimasukkan

sama dengan larutan klorin. Fungsi pemberian larutan natrium thiosulfate untuk

menetralkan kembali alat/wadah setelah diberi larutan klorin. Strelisasi dengan

natrium thiosulfats dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Sterilisasi dengan Natrium thiosulfat


23

Sterilisasi pada hari ketiga mengunakan alkohol. Penggunaan alkohol

bertujuan untuk membersihkan alat yaitu dengan cara menyemprotkan alkohol ke

semua alat yang akan digunakan untuk kultur kemudian dilap dengan tissue

sampai kering. Alat - alat yang disterilkan menggunakan alkohol berupa :

erlenmeyer, pipet tetes, haemocytometer, cover glass. Strelisasi alat dapat dilihat

pada Gambar 6.

Gambar 6. Sterilisasi Alat dengan Alkohol

4.5.3. Pelaksanaan dan Persiapan Media Pupuk

Pembuatan media kultur skala semi massal dilakukan dengan menyaring

air sebanyak 100 liter menggunakan filter bag. Kemudian dilarutkan klorin

sebanyak 100 ml dan dibiarkan selama 24 jam dengan bantuan aerasi. Setelah

dibiarkan selama 24 jam kemudian ditambahkan larutan Na-Thiosulfat sebanyak

100 ml lalu dibiarkan. Setelah 4 jam selanjutnya ditambahkan pupuk KCl

sebanyak 20gr, NPK 10 gr, ZA 80 gr, urea 10 gr dan kapur 1gr. Pupuk ditebarkan

secara merata lalu dibiarkan selama 4 jam, setelah itu ditambahkan starter dari

kultur murni sebanyak 10 liter. Selanjutnya dilakukan pengamatan setiap hari

untuk melihat pertumbuhan Chlorella sp. Pengkulturan Chlorella sp. dapat dilihat

pada Gambar 7.
24

Gambar 7. Pengkulturan Chlorella sp.

4.5.4. Perhitungan Kepadatan Chlorella sp.

Penghitungan kepadatan Chlorella sp. dilakukan menggunakan mikroskop

dibantu haemocytometer dan hand counter. Chlorella sp. yang berada pada kotak

– kotak haemocytometer yang berjumlah 16 buah. Selain yang tidak berada di

dalam kotak - kotak ataupun terkena garis kotak tidak dihitung. Penghitungan

kepadatan Chlorella sp. dihitung sejak awal pada hari ke – 1 hingga hari ke – 10,

yang dilakukan setiap 24 jam dan dilakukan 3 kali agar mendapatkan hasil yang

maksimal.

Langkah-langkah menghitung kepadatan sel Chlorella sp. dengan

menggunakan haemocytometer menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995)

adalah sebagai berikut:

1. Haemocytometer dibersihkan menggunakan alkohol dan dikeringkan


dengan tisu.
2. Dipasang gelas penutup (Cover Glass)

3. Diteteskan Chlorella sp. yang ingin dihitung kepadatan selnya

sebanyak 1 ml yang sudah diencerkan terlebih dahulu pada bagian

parit haemocytometer hingga penuh (Gambar 8), dan tidak boleh

terdapat gelembung udara di bawah gelas penutup (Cover Glass).


25

Gambar 8. Cara Penetesan Sampel pada Haemocytometer


Sumber : (Isnansetyo dan Kurniastuty, 2016).

4. Haemocytometer diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x

40, dan dicari bidang kotak-kotak.

5. Dihitung kepadatan sel Chlorella sp. yang terdapat di kotak bujur

sangkar, perhitungan kepadatan sel dilakukan pada beberapa kotak,

yang dianggap dapat mewakili keseluruhan kotak bujur sangkar

Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) rumus menghitung kepadatan sel

Chlorella sp. adalah :

N = n x 16 x 104

Keterangan :

N : Jumlah kepadatan sel fitoplankton


n : Jumlah sel yang didapat
16 : Jumlah kotak yang diamati
104 : Konstanta Haemocytometer dan pengenceran

4.5.5. Hasil Pengamatan Pertumbuhan Chlorella sp.

Hasil pengamatan pertumbuhan Chlorella sp. semakin hari semakin

melimpah sesuai dengan perubahan warna media menjadi lebih hijau pekat dalam

kurun waktu 7 hari dan kepadatan berkurang pada hari ke-10. Kepadatan

Chlorella sp. dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 9.


26

Tabel 5. Kepadatan Chlorella sp. Selama Praktek Magang

No. Hari Ke Kepadatan (Sel/ml x 10 4)


1 1 512

2 2 768

3 3 928

4 4 832

5 5 1.120

6 6 2.080

7 7 2.384

8 8 2.880

9 9 3.344

10 10 2.752

4000
Kepadatan (sel/ml x 104)

3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Waktu Pengamatan ( Hari ke - )

Gambar 9. Gafik Pertumbuhan Chlorella sp.

Berdasarkan grafik pada Gambar 9 dapat diketahui laju pertumbuhan

Chlorella sp. pada hari pertama kepadatan Chlorella sp. masih sedikit karena

masih menyesuaikan diri dengan lingkungannya, fase ini biasa disebut fase

istirahat atau adaptasi. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty, (1995) pada fase ini
27

ukuran sel meningkat, secara fisiologis fitoplankton sangat aktif dan terjadi proses

sintesis protein baru. Chlorella sp. mengalami metabolisme tetapi belum

mengalami pembelahan.

Pada hari ke – 2 dan hari ke – 3 kepadatan Chlorella sp. semakin

meningkat dikarenakan faktor fisika dan kimia dari beberapa nutrient, pH,

salinitas, dan cahaya masih dapat memenuhi kebutuhan fisiologis Chlorella sp.

dimana fase ini disebut fase eksponensial. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Isnansetyo dan Kurniastuty, (1995) pada fase eksponensial dengan kondisi kultur

yang optimum menunjukan laju pertumbuhan.

Pada hari ke – 4 mengalami penurunan kepadatan Chlorella sp.

dikarenakan kekurangan cahaya dan terjadinya penurunan suhu. Menurut

Isnansetyo dan Kurniastuty, (1995) kisaran temperatur optimal bagi pertumbuhan

Chlorella sp. adalah antara 25-30o C.

Pada hari ke-6 hingga hari ke-9 terjadi peningkatan kepadatan Chlorella

sp yang cenderung peningkatannya drastis dimana fase ini adalah merupakan

puncak fase eksponensial. Menurut Rusyani et al., (2007) pada fase ini adalah

fase yang baik untuk pemanen Chlorella sp, karena jumlah populasinya tinggi

dibandingkan pada fase pertumbuhan sebelumnya.

Pada hari ke-10 kepadatan Chlorella sp. terjadinya penurunan fase ini

disebut sebagai fase stasioner. Penurunnya kepadatan Chlorella sp dalam kultur

ini menandakan kurangnya nutrient sehingga tidak mampu untuk mendukung

pertumbuhan sel, selain itu penurunannya dapat disebabkan media kultur

terkontaminansi oleh bakteri. Hal ini terlihat pada saat pengamatan pertumbuhan

pada haemocytometer. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty, (1995) pada fase ini
28

laju produksi hampir sama dengan laju kematian. Dengan demikian penambahan

dan pengurangan jumlah fitoplankton relatif sama atau hampir seimbang.

Penurunan kepadatan biasanya dikarenakan kebutuhan nutrisi yang kurang

sehingga pada hari ke – 10 mengalami penurunan. Menurut Fogg (1987), jumlah

nutrient akan semakin berkurang dengan meningkatnya jumlah populasi.

Richmond (1986) menyatakan bahwa ketersediaan sumber unsur nutrient

mempengaruhi pertumbuhan Chlorella sp.

Untuk pemanenan Chlorella sp. pada saat kultur memiliki pengaruh yang

besar terhadap kepadatan sel fitoplankton itu sendiri. Umur panen yang tepat

untuk skala semi massal yaitu 30 hari dari awal kultivasi. Pada umur tersebut

biasanya Chlorella sp. sudah dapat dipanen untuk dilanjutkan sebagai starter skala

massal, dan biasanya sudah masuk kedalam fase kematian.

4.5.6. Pemanenan Chlorella sp.

Pemanenan Chlorella sp. dilakukan pada saat kultur telah mencapai

populasi. Indikator puncak populasi biasanya ditandai dengan adanya perubahan

warna menjadi hijau pekat pada media kultur dan jumlah populasi berdasarkan

pola pertumbuhan. Menurut Rusyani et al., (2007) pada fase puncak eksponensial

adalah fase yang baik untuk pemanen Chlorella sp, karena jumlah populasinya

tinggi dibandingkan pada fase pertumbuhan lainnya. Kultur yang telah mencapai

puncak populasi dipanen dengan mematikan aerasi kemudian Chlorella sp.

diambil dan siap untuk starter Massal.

4.6. Hasil Pengukuran Kualitas Air Chlorella sp.

Keberhasilan suatu teknik kultur pada skala semi massal sangat

dipengaruhi oleh kualitas air. Pengukuran kualitas air yang dilakukan adalah
29

pengukuran salinitas, derajat keasaman (pH), dan suhu. Kegiatan ini dilakukan

pagi hari setiap jam 10.00 WIB pada hari-hari tertentu.

Pengukuran salinitas menggunakan handrefraktometer, yaitu dengan cara

kalibrasi terlebih dahulu menggunakan akuades dan disterilkan menggunakan

alkohol, dengan cara menyemprotkan ke lensa pembaca dan dibersihkan dengan

tisu, tujuannya yaitu untuk strelisasi. Sampel yang akan diamati diteteskan pada

lensa, kemudian ditutup dan diteropong menghadap ke arah cahaya. Kadar

salinitas dapat dibaca melalui tingkatan skala dan dicatat hasilnya.

Pengukuran pH dapat dilakukan menggunakan kertas pH, dengan cara

mencelupkan kertas pH ke dalam air kemudian dikibaskan perlahan dan ditunggu

beberapa saat. Setelah terjadi perubahan warna pada kertas pH, disesuaikan warna

tersebut dengan kotak standar nilai pH yang tersedia, kemudian dicatat hasilnya.

Pengukuran suhu menggunakan termometer alkohol yang dilakukan

dengan cara mencelupkan termometer ke dalam media kultur dan suhu akan

terbaca, kemudian dicatat hasil tersebut sebagai data sekunder yang dibutuhkan

sebagai data pendukung. Hasil pengukuran kualitas air selama praktek magang

pada media kutur dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Pengukuran Kualitas Air pada Media Kultur

Parameter Waktu Pengukuran (Hari ke-)


Kualitas Air 1 2 4 6 8 10
pH 7 7 8 7 7 7
Salinitas (ppt) 1 1 1 1 1 1
Suhu (°C) 26 26 25 26 26 24

Berdasarkan hasil yang diperoleh nilai pH yang didapat dari bak kultur

Chlorella sp., berkisar 7-8. Menurut Ohama dan Miyachi (1992) Chlorella sp.
30

dapat tumbuh baik pada kisaran pH 6,6-7,3. Jadi nilai pH pada kultur tersebut

dapat memenuhi kebutuhan Chlorella sp.

Berdasarkan Tabel 6 hasil pengukuran salinitas yang diperoleh berkisar 1 ppt.

Apriliyanti (2016) yang menyatakan bahwa, Chlorella sp. dapat tumbuh pada

salinitas 0 – 35 ppt. Apabila nilai salinitas pada media kultur dibandingkan

dengan pendapat tersebut maka salinitas air pada media kultur dapat mendukung

kehidupan Chlorella sp.

Hasil pengukuran suhu pada praktek magang ini berkisar 25 – 26°C. Kisaran

suhu 25 – 30°C merupakan suhu yang optimal untuk pertumbuhan Chlorella sp.

(Isnansetyo & Kurniastuty, 1995 dalam Apriliyanti, 2016). Jika suhu dalam media

kultur Chlorella sp. pada praktek magang ini dibandingkan dengan pendapat

tersebut di atas maka disimpulkan suhu dapat mendukung pertumbuhan Chlorella

sp.

Jadi, dari hasil pengukuran kualitas air dapat disimpulkan bahwa bak fiber

kultur Chlorella sp. di BPTPB Cangkringan masih tergolong baik untuk

pertumbuhan dan perkembangan Chlorella sp. yang optimal. Proses pengukuran

kualitas air dapat dilihat pada Gambar 10.

(a) (b) (c)

Gambar 10. (a) Pengukuran Salinitas; (b)Pengukuran pH; (c) Pengukuran Suhu.
31

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil praktek magang ini disimpulkan bahwa dalam kultur Chlorella

sp. secara semi massal melalui beberapa tahap yaitu persiapan alat dan bahan,

persiapan wadah kultur, persiapan air, sterilisasi alat, persiapan pupuk,

perhitungan kepadatan sel Chlorella sp., dan pemanenan.

Kualitas air yang diukur saat kultur di bak fiber semi massal Chlorella sp.

yaitu derajat keasamaan (pH), salinitas dan suhu dapat mendukung kehidupan

Chlorella sp. selama kultur.

5.2. Saran

Kepada pihak pengelola disarankan memberikan keterampilan mengenai

tahap-tahap kultur fitoplankton skala laboratorium, memurnikan plankton seperti

tahap isolasi, serta tahap menggunakan media agar.


32

DAFTAR PUSTAKA

Apriliyanti, S., dan T. R. Soeprobowati, B. Yulianto. 2016. Hubungan


Kemelimpahan Chlorella sp. Dengan Kualitas Lingkungan Perairan Pada
Skala Semi Masal di BBBPBAP Jepara. Jurnal Ilmu Lingkungan.(Tidak
diterbitkan).
Basmi, 1995. Planktonologi : Organisme Penyusun Plankton, Klasifikasi dan
Terminologi, Hubungan antara Fitoplankton dan Zooplankton, Siklus
Produksi Umumnya di Perairan. Fakultas Perikanan IPB. Bogor. (Tidak
diterbitkan).
Becker, E.W. 1994. Mikroalgae Biotechnology and Microbiology. Cambridge
University Press. New York.

Becker, E.W. 2004. Microalgae in Human and Animal Nutrition. Handbook of


Microalgae Culture. Oxford: Blackwell.
Bishop, J.K.B. and R.E. Davis. 2000. Autonomous Observing Strategies for The
Ocean Carbon Cycle. Lawrence Berkeley National Laboratory. Paper
LBNL46860.

Bold, H.C. and M.J. Wynne. 1985. Introduction to The Algae: Structure and
Reproduction. Prentice-Hall Inc. United States of America.

Coutteau P., 1996, Micro Algae. Dalam Manual on The Production and Use of
Live Food for Aquaculture, Laboratory of Quaculture and Artemia
Reference Center University of Gent, Belgium, FAO.

Djarijah, A,S. 1995. Pakan Alami, Kaniusus. Yokyakarta.

Fogg. B. Thake. 1987. Algal Cultures And Phytoplanton Ecology. 3rd ed., The
University of Wisconsiti Press, Wisconsin.

Handayani, N.A. dan D. Ariyanti. 2012. Potensi Mikroalga Sebagai Sumber


Biomassa dan Pengembangan Produk Turunannya. Jurnal Teknik 33 ;
58-63.
Hills, C., dan Nakamura, 1978. Food from Sunlight. World Hunger Research
Project, University of The Trees Press, Boulder Creek, California 95006.
Isnansetyo, A. Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Jaringan. Kanasius: Yogyakarta.

Isnansetyo, A. Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton & Zooplankton


Pakan Alami Untuk Pembenihan Organisme Laut. Kanisius: Yogyakarta.
33

Kabinawa, I.N.K. 2001. Mikroalga Sebagai Sumber Daya Hayati (SDH) Perairan
dalam Perspektif Bioteknologi. Puslitbang Bioteknologi LIPI.
Bogor.(Tidak diterbitkan).

Kabinawa, I.N.K. 2008. Biodiesel Energi Terbarukan dari Mikroalga. Warta


Pertamina.9 ; 31-35.

Kartamiharja, S. Hartati, dan S. Sumawati. 1987. Kultur Makanan Alami. PT


Penebar Swadaya: Jakarta.

Oh-Hama T. and S. Miyachi. 1988. Microalgal Biotechnology. Cambridge Press.


Cambridge.

Prabowo, D. A. 2009. Optimasi Pengembangan Media untuk Pertumbuhan


Chlorella sp. pada Skala Laboratorium. Skripsi. Program Studi Ilmu dan
Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.
(Tidak diterbitkan).

Richmond, A.1986. CRC Handbook Of Microalgal Mass Culture. CRC Press, Inc.
Florida.

Rostini, I. 2007. Kultur Fitoplankton (Chlorella sp. dan Tetraselmis chuii) pada
Skala Laboratorium. Skripsi.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan:
Universitas Padjajaran. Bandung.(Tidak diterbitkan).

Rusyani, E, Sapta A.I.M. dan Lydia E, 2007. Budidaya Fitoplankton Skala


Laboratorium dalam Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Balai
Budidaya Laut Lampung. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.
Departemen Kelautan dan Perikanan. Lampung.(Tidak Diterbitkan)

Sartika, Murkalina, dan T.R. Setyawati. 2014. Kandungan Klorofil dan Lipid
Nannocloropsis Oculata yang Dikultur dalam Media Limbah Cair Karet.
Jurnal Protobiont 3; 25-30.

Steenblock D. 2000. Chlorella: Makanan Sehat Alami. PT. Gramedia Pustaka


Utama. Jakarta.

Sutomo, 2005. Pengaruh Salinitas dan pH Terhadap Pertumbuhan Chlorella sp.


Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI Jakarta.(Tidak
diterbitkan).
Yurisman dan Sukendi. 2004. Biologi dan Kultur Pakan Alami. Unri Press.
Universitas Riau. Pekanbaru.
34

LAMPIRAN
35

Lampiran 1. Peta Lokasi BPTPB


36

Lampiran 2. Denah Lokasi Magang


37

Lampiran 3. Sarana dan Prasarana BAT Cangkringan

Laboratorium Pakan Ikan Ruang Kerja Lab Pakan Ikan

Laboratorium Kesehatan Ikan Ruang Kerja Lab. Kesehatan Ikan


38

Lampiran 4. Alat dan Bahan yang Digunakan Selama Praktek Magang

Hand Counter Filter Bag pH Indikator

Timbangan Erlenmeyer Thermometer

Refraktometer Mikroskop Motic Aerator

Haemocytometer
39

Alkohol 70% Chlorine Na-Thiosulfat

KCL ZA Kapur

Urea NPK Bibit Chlorellas sp.


40

Lampiran 5. Dokumentasi Kegiatan Magang

Sterilisasi Alat Sterilisasi dengan Na- Mengukur Salinitas


thiosulfat

Pengamatan Chlorella Mengukur Suhu Pembersihan Wadah


sp.

Penebaran Bibit Chlorella sp.


41

Foto Bersama dengan Pembimbing Praktek Magang

Mahasiswa Universitas Riau


42

Lampiran 6. Hasil Pengamatan Chlorella sp.

Chlorella sp.

Chlorella sp.
43

Lampiran 7. Sertifikat Magang