Anda di halaman 1dari 16

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN AGUSTUS 2018

AUDIT MATERNAL PERINATAL

oleh:
Mutmainnah
C111 13 063

residen pembimbing
dr. Yohanes Iddo Adventa

supervisor pembimbing:
Dr.dr.Hj.A. Mardiah Tahir, Sp.OG(K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

i
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:


Nama : Mutmainnah
NIM : C11113063
Judul referat : Audit Maternal Perinatal

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Departemen


Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Agustus 2018

Pembimbing Supervisor Pembimbing Residen

Dr.dr.Hj.A. Mardiah Tahir, Sp.OG(K) dr. Yohanes Iddo Adventa

Mengetahui,
Koordinator Pendidikan Mahasiswa
Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Dr. dr. Elizabeth C. Jusuf, Sp.OG(K)

ii
SURAT KETERANGAN PEMBACAAN REFERAT

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:


Nama : Mutmainnah
NIM : C11113063

Benar telah membacakan referat dengan judul “Audit Maternal Perinatal” pada:
Hari/tanggal :
Tempat :
Konsulen : Dr.dr.Hj.A. Mardiah Tahir, Sp.OG(K)
Minggu dibacakan :
Nilai :

Dengan ini dibuat untuk digunakan sebaik-baiknya dan digunakan sebagaimana


mestinya.

Makassar, Agustus 2018

Pembimbing Supervisor Pembimbing Residen

Dr.dr.Hj.A. Mardiah Tahir, Sp.OG(K) dr. Yohanes Iddo Adventa

Mengetahui,
Koordinator Pendidikan Mahasiswa
Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Dr. dr. Elizabeth C. Jusuf, Sp.OG(K)

iii
DAFTAR HADIR PEMBACAAN REFERAT

Nama : Mutmainnah
NIM : C11113063
Hari/Tanggal :
Judul Referat : Audit Maternal Perinatal
Tempat :

No. Nama Minggu Tanda Tangan


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Pembimbing Supervisor Pembimbing Residen

Dr.dr.Hj.A. Mardiah Tahir, Sp.OG(K) dr. Yohanes Iddo Adventa

iv
DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Surat Keterangan Pembacaan Referat iii
Daftar Hadir Pembacaan Referat iv
Daftar Isi v
BAB I. Pendahuluan 1
BAB II. Pembahasan 3
2.1 Pengertian AMP 3
2.2 Tujuan AMP 3
2.3 Azas AMP 4
2.4 Mekanisme Kerja AMP 5
2.5 Kebijakan dan Strategi AMP 6
2.6 Kendala dalam Pelaksanaan AMP 8
2.7 Kekurangan AMP 8
BAB III. PENUTUP 10
DAFTAR PUSTAKA 11

v
BAB I
PENDAHULUAN

Setiap tahun, di seluruh dunia, diperkirakan terjadi 358.000 kematian ibu


dan sekitar 99% kematian tersebut terjadi di negara berkembang yang miskin dan
sekitar 67% merupakan sumbangan sebelas negara temasuk Indonesia.1 Kematian
ibu dan kematian bayi merupakan dua diantara masalah kesehatan yang mendesak
diselesaikan, khususnya bagi negara miskin dan berkembang. Angka kematian Ibu
(AKI) yang tinggi di suatu negara berpotensi meningkatkan biaya pemeliharaan
sosial, termasuk pembiayaan langsung berupa biaya perawatan kesehatan maupun
biaya tidak langsung bersumber dari penurunan pendapatan dan produktivitas
keluarga2.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan Angka
Kematian Ibu dan kematian perinatal tinggi yaitu tertinggi ketiga di ASEAN dan
tertinggi kedua di kawasan South East Asian Nation Regional. Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan peningkatan signifikan
AKI di Indonesia sebesar ±57% yaitu dari 228 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH)
pada tahun 2007 menjadi 359 per 100.000 KH. Angka tersebut jauh dari yang
diharapkan dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) tahun 2010-2014 yaitu AKI 118 per 100.000 KH, target MDG’s
(Millenium Development Goals) tahun 2015 yaitu 102 per 100.000 KH.
Sedangkan target SDG’s (Sustainable Development Goals) tahun 2030 yaitu AKI
70/100.000 KH3.
Salah satu upaya percepatan penurunan AKI adalah melalui peningkatan
cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dan
penanganan kegawat daruratan maternal neonatal sesuai standar dan tepat waktu
yang dapat dikaji melalui Audit Maternal Perinatal (AMP).4 Kematian maternal,
perinatal, dan neonatal harus diaudit dan dilakukan terhadap setiap kasus kematian
dan kesakitan ibu masa hamil, persalinan, masa sesudah melahirkan, dan bayi
baru lahir.5
AMP adalah suatu analisis yang sistematis terhadap pelayanan kesehatan

1
pada maternal dan perinatal, termasuk prosedur yang digunakan dalam
menentukan diagnosis dan tindakan yang diberikan berisi serangkaian kegiatan
yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui
kegiatan pembahasan kasus kesakitan, kematian ibu dan perinatal atau bayi.6

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian AMP


AMP merupakan upaya dalam penilaian pelaksanaan serta peningkatan
mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Kegiatan ini dilakukan melalui
pembahasan kasus kematian ibu atau bayi baru lahir sejak di level masyarakat
sampai di level fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu hasil kajian yang didapat
dari AMP adalah kendala yang timbul dalam upaya penyelamatan ibu pada saat
terjadi kegawatdaruratan maternal dan bayi baru lahir. Kajian tersebut juga
menghasilkan rekomendasi intervensi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan
kesehatan ibu dan bayi di masa mendatang7.

2.2 Tujuan AMP8


AMP bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan KIA
melalui upaya penerapan tata kelola klinik yang baik (clinical governance).
Kegiatan ini diharapkan dapat menggali permasalahan yang terkait dengan
kejadian kesakitan (morbiditas) maupun kematian (mortalitas) yang disebabkan
masalah pasien/keluarga, petugas kesehatan, manajemen pelayanan, maupun
kebijakan pelayanan.
Tujuan dilakukannya AMP adalah sebagai berikut :
2.2.1 Menentukan sebab dan faktor terkait dlm kesakitan dan kematian ibu dan
perinatal (3 terlambat & 4 terlalu).
2.2.2 Memastikan dimana dan mengapa berbagai sistem & program gagal
dalam mencegah kematian.
2.2.3 Menerapkan pembahasan analitik mengenai kasus kebidanan dan
perinatal secara teratur dan berkesinambungan, yang dilakukan oleh
dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas, rumah sakit
pemerintah/swasta, rumah bersalin dan bidan praktek.

3
2.2.4 Menentukan intervensi dan pembinaan untuk masing-masing pihak yang
diperlukan dalam hal mengatasi masalah yang ditemukan dalam
pembahasan kasus.
2.2.5 Mengembangkan mekanisme koordinasi antara dinas kesehatan
kabupaten/kota, rumah sakit pemerintah/swasta, rumah bersalin, dan
bidan praktek dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan
evaluasi terhadap intervensi yang disepakati.

2.3 Azas AMP10


Dalam melaksanakan kegiatan AMP Kabupaten/Kota ini, terdapat
beberapa prinsip yang berbeda dengan kegiatan AMP terdahulu. Prinsip atau azas
yang mutlak harus dipenuhi dalam kegiatan AMP ini adalah:
2.3.1 No Name (tidak menyebutkan identitas)
Dalam kegiatan AMP ini, seluruh informasi mengenai identitas kasus
maupun petugas dan institusi kesehatan yang memberikan pelayanan
kepada ibu dan neonatal yang meninggal akan dianonimkan (no name)
pada saat proses penelaahan kasus sehingga kemungkinan untuk
menyudutkan, menyalahkan dan menghakimi seseorang atau institusi
kesehatan dapat dihilangkan atau diminimalkan.
2.3.2 No Shame (tidak mempermalukan)
Seperti yang telah diuraikan diatas, seluruh identitas akan dihilangkan
(anonim) sehingga kemungkinan kegiatan AMP berpotensi
mempermalukan petugas atau institusi kesehatan dapat diminimalkan.
2.3.3 No Blame (tidak menyalahkan)
Sebagai akibat dari tidak adanya identitas pada saat pengkajian kasus
dilakukan, potensi menyalahkan dan menghakimi (blaming) petugas atau
institusi kesehatan dapat dihindari. Penganoniman juga diharapkan dapat
membuat petugas kesehatan yang memberikan pelayanan bersedia untuk
lebih terbuka dan tidak menyembunyikan informasi yang ditakutkan
dapat menyudutkan petugas tersebut. Informasi yang mungkin
disembunyikan tersebut mungkin merupakan informasi penting yang

4
berkaitan dengan faktor yang dapat dihindarkan. Prinsip ini harus
diterapkan saat proses audit sehingga tujuan untuk memperoleh
pembelajaran dan mencegah terjadinya kesalahan di masa datang dapat
tercapai.
2.3.4 No Pro Justisia (tidak untuk keperluan peradilan)
Seluruh informasi yang diperoleh dalam kegiatan AMP ini tidak dapat
digunakan sebagai bahan bukti di persidangan (no pro justisia). Seluruh
informasi adalah bersifat rahasia dan hanya dapat digunakan untuk
keperluan memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan maternal dan
perinatal/neonatal.
2.3.5 Pembelajaran
Salah satu upaya AMP untuk meningkatkan pelayanan kesehatan
maternal dan Perinatal/Neonatal adalah melalui pembelajaran yang dapat
bersifat: individual, kelompok terfokus, maupun massal berdasarkan
rekomendasi yang dihasilkan oleh pengkaji kepada seluruh komunitas
pelayanan KIA.

2.4 Mekanisme Kerja AMP6


Kasus kematian/kesakitan maternal dan perinatal/neonatal dilaporkan
oleh pasien/masyarakat, petugas pemberi pelayanan, dan institusi pemberi
layanan ke Puskesmas setempat. Untuk kematian yang terjadi di masyarakat,
Bidan Koordinator/Bidan Puskesmas yang ditunjuk akan melakukan otopsi
verbal dengan menggunakan formulir yang tersedia. Untuk kematian yang terjadi
di Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya (RB, BPS, Bidan di desa), Bidan
Koordinator/Bidan Puskesmas yang ditunjuk akan melengkapi formulir kematian
di fasilitas dan otopsi verbalnya.
Kasus kematian di RS baik pemerintah maupun swasta dilaporkan ke
Dinas Kesehatan setempat dalam waktu 3 hari. Formulir yang sudah dilengkapi
dikirimkan ke Sekretariat AMP Kabupaten/Kota setempat. Sekretariat mendata,
meneliti kelengkapan data, dan melaporkannya ke Koordinator. Data yang belum
lengkap harus dikembalikan ke Puskesmas pengirim untuk dilengkapi. Data yang

5
terkumpul dan sudah lengkap dibuat anonim. Sekretariat kemudian berkoordinasi
dengan Koordinator untuk mengagendakan pertemuan pengkaji dan menyiapkan
segala sesuatu yang berhubungan dengan pertemuan tersebut.

Kematian

Fasilitas Masyarakat

Registrasi dan Anonimasi oleh Sekretariat AMP Kabupaten/Kota

Pengkajian Kasus

Pengolahan data hasil kajian dan rekomendasi oleh


Penanggung Jawab dan Koordinator AMP

Pemanfaatan hasil kajian dan rekomendasi


Pembelajaran oleh Komunitas pelayanan Perencanaan

Pelaporan

Alur mekanisme kerja AMP6

2.5 Kebijakan dan Strategi AMP6


Undang-undang Nomor 36 tentang Kesehatan tahun 2009 dan UU nomor
44 tentang Rumah Sakit pasal 39 tahun 2009 menyatakan bahwa tenaga
kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban untuk memenuhi standar
profesi dan menghormati hak pasien.
Berdasarkan hal tersebut, kebijakan sehubungan dengan AMP adalah
sebagai berikut:

6
2.5.1 Peningkatan mutu pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dilakukan
secara terus menerus melalui program jaga mutu di puskesmas, di
samping upaya perluasan jangkauan pelayanan. Upaya peningkatan dan
pengendalian mutu antara lain dilakukan melalui kegiatan AMP.
2.5.2 Peningkatan fungsi Kabupaten/Kota sebagai unit efektif yang mampu
memanfaatkan semua potensi dan peluang yang ada untuk meningkatkan
pelayanan KIA di seluruh wilayahnya.
2.5.3 Peningkatan kesinambungan pelayanan KIA di tingkat pelayanan dasar
(puskesmas dan jajarannya) dan di tingkat rujukan (RS Kabupaten/Kota).
2.5.4 Peningkatan kemampuan Kabupaten/Kota dalam perencanaan program
KIA dengan memanfaatkan hasil kegiatan AMP mampu mengatasi
masalah kesehatan setempat.
2.5.5 Peningkatan kemampuan manajerial dan keterampilan teknis dari para
pengelola dan pelaksana program KIA melalui kegiatan analisis
manajemen dan pelatihan klinis.
Strategi yang diambil dalam menerapkan AMP adalah:
2.4.1 Semua Kabupaten/Kota sebagai unit efektif dalam peningkatan program
KIA secara bertahap menerapkan kendali mutu, yang antara lain
dilakukan melalui AMP di wilayahnya atau di Kabupaten/Kota lain (lintas
batas). Mekanisme pelaporan kematian lintas batas dijelaskan di Bab III.
Dinas Kesehatan Provinsi diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan AMP
di Kabupaten/Kota bila terjadi kematian lintas batas.
2.4.2 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berfungsi sebagai penanggung jawab
yang bekerja sama dengan RS Kabupaten/Kota dan melibatkan
puskesmas dan jejaringnya serta unit pelayanan KIA swasta lainnya
dalam upaya kendali mutu di wilayah Kabupaten/Kota.
2.4.3 Di tingkat Kabupaten/Kota dibentuk tim AMP, yang selalu mengadakan
pertemuan rutin untuk mengumpulkan dan menyeleksi kasus,
menganonimkan kasus yang akan dikaji, membahas kasus dan membuat
rekomendasi tindak lanjut berdasarkan temuan dari kegiatan audit.
2.4.4 Perencanaan program KIA salah satunya dibuat dengan memanfaatkan

7
hasil temuan dari kegiatan audit, sehingga diharapkan berorientasi kepada
pemecahan masalah setempat.
2.4.5 Pembelajaran dan pembinaan dilakukan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, bersama dengan RS Kabupaten/Kota (untuk aspek
teknis medis) dan lintas sektor (untuk aspek non-medis) dilaksanakan
sesuai kebutuhan dalam bentuk yang disepakati oleh tim AMP.
Pembelajaran dan pembinaan dari suatu proses kegiatan AMP harus dapat
dimanfaatkan oleh seluruh komunitas pelayanan KIA yang ada di
Kabupaten/Kota (RS pemerintah dan swasta, puskesmas dan jejaringnya,
RS ibu dan anak, Rumah Bersalin, bidan dan dokter praktek swasta).

2.6 Kendala dalam Pelaksanaan AMP9


Kendala dalam pelaksanaan program AMP disebabkan oleh faktor yang
berasal dari variabel input dan proses. Variabel yang menjadi kendala tersebut
adalah banyaknya tugas/jabatan rangkap pada petugas AMP, dana yang belum
mencukupi, formulir yang belum mencukupi di rumah sakit dan beberapa
puskesmas, kerjasama lintas sektor yang belum baik di beberapa puskesmas,
tidak adanya pelatihan AMP terhadap bidan koordinator, dan tidak adanya
pemantauan tindak lanjut/pelaksanaan rekomendasi.
Berdasarkan faktor yang menjadi kendala pelaksanaan program AMP,
upaya tindak lanjut yang harus dilakukan oleh puskesmas dan dinas kesehatan
diantaranya memberikan reward kepada petugas yang rangkap tugas,
mengalokasikan dana khusus untuk pelaksanaan AMP puskesmas, distribusi
formulir AMP, mengadakan pertemuan lintas sektor secara rutin, pelatihan AMP
kepada bidan koordinator dalam hal teknis maupun program, dan pemantauan
tindak lanjut/pelaksanaan rekomendasi.

2.7 Kekurangan AMP6


Audit maternal perinatal dapat berjalan dengan baik jika hal-hal berikut
dapat dilaksanakan :

8
2.7.1 Pengisian rekam medis yang lengkap dengan benar di semua tingkat
pelayanan kesehatan
2.7.2 Pelacakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan cara
otopsi verbal, yaitu wawancara kepada keluarga atau orang lain yang
mengetahui riwayat penyakit atau gejala serta tindakan yang diperoleh
sebelum penderita meninggal sehingga dapat diketahui perkiraan sebab
kematian.
Namun, dalam pelaksanaannya AMP masih memiliki beberapa
kekurangan yang menyebabkan tidak berjalannya AMP dengan baik. Pada suatu
penelitian khusus disebutkan bahwa bahkan pada Negara-negara yang mempunyai
sistem registrasi yang baik pun sekitar 50% kematian maternal tidak dilaporkan
karena tidak terklasifikasikan. Sistem registrasi tergantung pada identifikasi yang
tepat dari penyebab kematian maternal yang terjadi pada fasilitas kesehatan, hal
tersebut diidentifikasi dengan pemeriksaan patologi post-mortem dan dilaporkan
dalam otopsi verbal. Otopsi verbal adalah informasi tentang sebab kematian,
digunakan untuk menentukan prioritas kesehatan masyarakat, pola penyakit, tren
penyakit, dan untuk evaluasi dampak upaya preventif ataupun promotif.
Seringkali ditemukan kematian di masyarakat dan dilaporkan sesudah terjadinya
kematian.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
AMP merupakan kegiatan menelusuri sebab kesakitan, kematian maternal
dan perinatal dengan maksud mencegah kesakitan dan kematian dimasa yang
akan datang. Kegiatan ini memungkinkan tenaga kesehatan dapat menentukan
hubungan antara faktor penyebab kejadian kesakitan dan kematian maternal
perinatal, sehingga dapat menetapkan langkah-langkah intervensi. Kegiatan AMP
lebih cenderung ke arah pemecahan masalah dengan upaya peningkatan kualitas
pelayanan. Ruang lingkup AMP dibatasi, yaitu pada tingkat kabupaten atau kota,
karena wilayah tersebut dinilai efektif dalam memberikan pelayanan obstetrik,
perinatal, serta KIA secara langsung kepada masyarakat. Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota yang berperan sebagai koordinator dan penanggungjawab
kegiatan AMP, yang dilaksanakan minimal empat kali dalam jangka waktu satu
tahun yang bertujuan untuk menjaga mutu pelayanan KIA.

3.2 Saran
3.2.1 Perlu dilakukan evaluasi dan tindakan yang lebih terencana lagi dalam
AMP agar upaya percepatan penurunan AKI dan AKB dapat tercapai.
3.2.2 Perlu adanya kerjasama antar sektoral untuk upaya menurunkan AKI dan
AKB.
3.2.3 Sebaiknya dilakukan upaya peningkatan dan pengembangan standarisasi
mutu pelayanan kesehatan baik di tingkat pelayanan dasar (Puskesmas)
dan Rumah Sakit terutama dalam pelayanan KIA.

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Aeni, N. 2013. Faktor Risiko Kematian Ibu. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Vol. 7, No. 10.
2. Muthoharoh, N.A, dkk. 2016. Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan
Kematian Maternal di Kabupaten Batang. Jurnal Pena Medika, ISSN : 2086-843X
Vol. 6, No. 1.
3. Kemenkes RI 2016. Laporan Tahunan Direktorat Kesehatan Keluarga TA.
Jakarta
4. Riyati, dkk. 2015. Kajian Pelaksanaan Program Audit Maternal Perinatal
(AMP) dalam Menurunkan Kematian Ibu di Kabupaten Jepara. Jurnal
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang Vol.2
No.1
5. Iriani, D. 2017. Perlindungan Maternal, Perinatal, Neonatal Dan Pemberian
Asi Eksklusif Menurut Permen Kesehatan No. 97 Tahun 2014 Dan UU
Kesehatan No. 36 Tahun 2009. Justicia Islamica, Vol. 14 No. 2
6. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, 2010. Pedoman Audit Maternal Perinatal
(AMP). Kementerian Kesehatan Direktur Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat.
7. Kemenkes RI 2015.Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014.Jakarta
8. Suwanti, E dkk. 2013. Pemahaman Bidan Tentang Audit Maternal Perinatal
Kaitannya Dengan Kepatuhan Bidan Dalam Pelaksanaan Managemen Aktif
Kala Iii Di Wilayah Kabupaten Klaten. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan,
volume 2, nomor 2.
9. Fahmi, M.A. 2017. Evaluasi Program Audit Maternal Perinatal (AMP) Di
Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara
Forikes, Volume VIII Nomor 3.
10. Nyamtema, et al. 2014. Panduan Fasilitasi AMP Pemantapan Proses Audit Maternal
dan Perinatal di Kabupaten/Kota. Jakarta

11