Anda di halaman 1dari 3

Periode transisi(1400-1550)

Periode ini sering dinamakan periode transisi karena meliputi suatu jangka waktu antara dua tokoh
besar dalam kesusasteraan Inggris, ialah Chaucer dan Shakespeare, dan mungkin juga karena Inggris
pada waktu itu mengalami masa panca roba yang menandai peralihan antara bahasa Inggris
pertengahan ke bahasa Inggris modern, dari keanekaragaman dialek ke arah bahasa Inggris standar. Ada
juga yang menamakan periode ini imitatif karena banyak sajak yang dihasilkan waktu itu dirasakan
meniru-niru Chauser. Penamaan ini mungkin kurang tepat, tetapi yang pasti ialah bahwa selama jangka
waktu itu tidak ada tokoh kesusasteraan Inggris yang dapat disejajarkan dengan Chauser. Dan harus pula
diakui bahwa tokoh sebesar Chauser itu pasti meninggalkan pengaruh yang kuat.

Puisi

Penyair-penyair periode itu antara lain ialah John Lydgate (1370-1451), Stephen Hawes (meninggal
1523), dan Jhon Skelton (1460-1529). John Lydgate terutama adalah seorang penerjemah sejumlah
besar cerita moral dan keagamaan, dan walaupun dia seorang pengagum Chauser, dalam karya-
karyanya ia lebih condong mengikuti penulis-penulis romance Perancis. Stephen Hawes adalah pencipta
sejumlah alegori. Ia bukan penyair besar, namun sahamnya dalam pembakuan bahasa Inggris cukup
besar. John Skelton terkenal sebagai seorang satiris, yang dengan baris-barisnya yang pendek dan penuh
ejekan melemparkan kritik-kritik pedas kepada orang-orang gereja dan pemerintahan.

Di Scotlandia pun pengaruh Chauser sangat besar, sehingga di negeri itu ada sejumlah penyair yang
lazim disebut “Scottish Chaucerians”. Mereka antara lain ialah Robert Henryson(1430-1506), William
Dunbar (1465-1530), dan Gavin Douglas (1474-1522). Salah satu sajak utama Henryson, yaitu “The
Testament of Cresseide”, mempunyai ciri-ciri yang begitu menyerupai sajak-sajak Chauser sehingga
sampai tahun 1711 orang mengira bahwa sajak itu adalah karya Chauser. Selanjutnya Henryson adalah
penyair pertama dalam dunia sastra Inggris yang menulis sajak pastoral. William Dunbar ialah penulis
sajak-sajak alegoris dan satiris. Dalam sajak-sajak alegorinya ia mengikuti Chauser, tetapi dalam karya-
karya satirenya ia lebih bebas. Gavin Douglas lebih dikenal sebagai penerjemah “Aeneid” yang
merupakan karya klasik pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Suasana baru mulai terasa dalam kesusasteraan inggris dengan munculnya karya-karya ciptaan Sir
Thomas Wyatt (1530 -1542) dan Henry Howard, Earl of Surrey (1517-1547). Kedua-duanya ialah
pencipta sajak-sajak lirik, dan menunjukkan pengaruh-pengaruh kesusasteraan Italia baik dalam bentuk
maupun tema. Wyatt adalah penyair yang memasukkan bentuk sonata Italia dalam kesusasteraan Ingris.
Ia dan Surrey terpengaruh oleh Petrarch (penyair Italia), dan menggunakan sonata untuk sajak-sajak
percintaan yang khas , ialah cinta tak berbalas. Surrey pun memainkan peranan khusus dalam sejarah
kesusasteraan Inggris, karena ia adalah penyair Inggris pertama yang menggunakan “blank verse”, yaitu
bentuk sajak tanpa rima yang mengandung lima suku kata bertekanan keras dalam setiap barisnya.
Surrey menggunakan bentuk baru ini dalam karya “Aeneid”, ialah karya Vergilius yang diterjemahkan
dalam bahasa Latin. “Blank Verse” ini kemudian digunakan oleh pujangga-pujangga ternama dalam
kesusasteraan Inggris seperti Shakespeare dan Milton, untuk menuliskan karya-karya mereka yang
terbesar.
Prosa

Dalam bidang prosa yang pertama-tama perlu kita sebut adalah “Morte d’Arthur” (1470) yang ditulis
oleh Sir Thomas Malory. Prosa ini ialah sebuah romance yang berkisar sekitar raja Arthur serta
kesatrianya. Karya ini mempunyai arti sejarah yang penting karena dijadikan sumber inspirasi dan
sumber bahan bagi penyair kenamaan di kemudian hari, seperti Shakespeare dan Tennyson. Prosanya
sederhana serta lincah, dan berhasil mengungkapkan suasana serta jiwa zaman pertengahan secara
lebih baik dibanding penulis-penulis perancis yang awal.

Karya prosa lainnya yang sangat berpengaruh, juga dikalangan rakyat, adalah terjemahan kitab
perjanjian baru (1525) yang dikerjakan oleh William Tyndale (1484-1536). Terjemahan ini memantapkan
bahasa Inggris standar dan menyebarluaskannya tidak saja di kalangan cendekiawan, tetapi juga di
kalangan rakyat jelata, karena digunakan di setiap gereja di seluruh negeri. Karya Tyndale ini merupakan
dasar dari “Authorized Version”, ialah kitab Injil standar dalam bahasa Inggris yang diterbitkan mulai
tahun 1611.

Drama

Sementara itu drama Inggris terus mengalami perkembangan. Kira-kira pada pertengahan abad ke-15
muncul suatu jenis drama baru yang dinamakan “moralities”. Berlainan dengan “Mysteries” dan
“Miracles”. Sebuah “Morality” tidak lagi mempertunjukkan adegan-adegan yang dipetik dari Kitab Injil
atau dari kehidupan orang-orang suci tetapi mengisahkan tokoh-tokoh yang merupakan abstraksi-
abstraksi, seperti misalnya “kebajikan”, “kejahatan”, “umat manusia”, dan sebagainya. Tujuan utama
sebuah “morality” ialah mengajarkan moral. Namun unsur hiburan tidak dilupakan. Seperti halnya
drama-drama keagamaan sebelumnya yang sering menampilkan “setan”sebagai tokoh mentertawakan,
demikian pula “morality” sering memberikan sifat-sifat menggelikan kepada “kejahatan”. Salah satu
“Morality” yang terkenal dan masih sering dimainkan dalam zaman modern ini ialah “Everyman” yang
diciptakan pada akhir abad ke-15 oleh seorang penulis yang tidak dikenal. Salah satu contoh dari moral
yang diajarkan ialah sebagai berikut: pada suatu hari “Death” (ajal) memanggil “Everyman” (setiap
orang) untuk menghadap Tuhan: kawan-kawannya di dunia lama-kelamaan melupakannya, sehingga
tinggal “Good Deeds” (amal) sajalah yang menemaninya untuk menghadap Tuhan.

Selain “Moralities”, tampil pula suatu jenis drama baru dalam periode itu yang disebut “Interludes”.
Sebuah “Interlude” ialah suatu bentuk drama pendek yang tidak bersifat keagamaan, pun tidak bersifat
alegoris, tetapi bertujuan semata-mata menghibur, walaupun kesempatan bermoral bagi penulisnya
tentu masih tetap ada. “Interludes” bukanlah jenis drama bagi rakyat kebanyakan, melainkan drama
yang lazim dipertunjukkan di tempat kediaman kaum atasan. Salah satu “Interlude” yang terkenal ialah
“Fulgens and Lucres” karangan Henry Medwall, yang menceritakan tentang seorang gadis bernama
Lucres yang bimbang karena dipinang dua jejaka, satu dari golongan atasan dan seorang dari golongan
bawahan tetapi akhirnya menjatuhkan pilihannya pada yang kedua.

Mejelang akhir periode ini, pengaruh Renaissance yang akan kita uraikan pada bab berikut,