Anda di halaman 1dari 20

Farmakokinetika klinik

pada pasien gangguan


hati
Kelompok 6
1. Dwi Astuti 2505026
2. Putri Novia Irsanti 2505027
3. Fitrah Tartila 2505028
4. Endang Trianingsih 2505029
5. Suci Amir 2505030
HATI
Hati merupakan organ yang sangat penting dalam
pengaturan homeostasis tubuh (Depkes, 2007)
Fungsi Hati
• pengaturan metabolisme tubuh
• penyimpanan energi,
• Pembentukan protein dan empedu
• Pengaturan metabolisme kolesterol
• Detosifiasi racun yang ada dalam tubuh

(Depkes, 2007)
Penyebab penyakit hati
• Infeksi virus hepatitis
• Zat-zat toksik
• Genetik atau keturunan
• Gangguan imonologis
• Kanker

(Depkes, 2007)
Klasifikasi penyakit hati
1. Hepatitis
2. Sirosis hati
3. Kanker hati
4. Perlemakan hati
5. Kolestasis dan jaundice
6. Hemochromatosis
7. Abses hati
Perangkat diagnostik
• Evaluasi laboratorium
• Evaluas radiographic
- USG
- CT-Scan
- MRI
- Scintigraphy hati-limpa
- Percutaneous Transhepatic Cholangiography (PTC) dan Endoscopic
Retrogade Cholangio-pancreatography (ERCP)
Perubahan Farmakokinetika
dan Farmakodinamika Obat
• Gangguan sirkulasi darah seperti shock, hipertensi, dan gagal
jantung dapat dikarakterisasikan dari berkurangnya perfusi
vaskuler ke salah satu atau beberapa bagian tubuh.

(Nasution, 2015)
Pertimbangan pendosisan pada
penyakit hepatik
• Karena tidak tersedia ukuran dari fungsi hati yang dapat
diterapkan untukk kmenghitung dosis yang tepat, obat-obat
yang bergantung enzim biasanya diberikakn ekkpada pasien
dengan gagal hati dalam setengah dosis atau kkurang. Respons
atau kakdar plasma selanjutnya harus dipantau.
Pertimbangan dalam pendosisan
pasien pada gangguan hati
Sifat dan beratnya penyakit hati

Eliminasi obat

Rute pemberian obat

Ikatan protein

Aliran darah hepatik

klirens intrinsik obstruksi billier

Perubahan farmakodinamik rentang terapeutik


Penentuan fungsi hati
• Child-Pugh classification (shargel, hal:713, 2012)

1 POINT 2 POINT 3 POINT

Encephalopathi Tidak ada 1 atau 2 3 atau 4


(tingkatan)
Ascites Absen Ringan Sedang

Bilirubin (mg/dL) 1–2 2–3 >3

Albumin (mg/dL) >3.5 2.8 – 3.5 <2.8

Waktu prothrombin 1–4 4 – 10 >10


(detik>kontrol)

*poin total : 5 – 6 = disfungsi ringan; 7 – 9 = disfungsi sedang; >9 = disfungsi berat


Parameter fungsi hati
• Bilirubin
• Waktu Prothrombin (Prothrombin time)
• Serum albumin
• Asites
• Ensefalopati Hepatik
Klasifikasi tingkat keparahan untuk
penyakit hati (shargel, hal:714,
2012)
Klasifikasi child-turcotte
Tingkat A Tingkat B Tingkat C

Bilirubin (mg/dL) <2,0 2,0 – 3,0 >3,0

Albumin (mg/dL) <3,5 3,0 – 3,5 <3,0

Ascites Tidak ada Mudah Sulit dikendalikan


dikendalikan
Gangguan Tidak ada Minimal Lanjut
neurologic
nutrisi Sangat baik baik jelek
Aliran darah hepatik dan
klirens intrinsik
Persamaan untuk memperkirakan klirens hepatik obat setelah
menilai perubahan dalam aliran darah dan klirens intrinsik
(Clint)
Strategi penyesuaian dosis
• penyesuaian dosis tergantung kepada besarnya nilai ER (tinggi,
rendah, ataupun menengah)
• Semakin tinggi nilai ER dari suatu obat, semakin perlu
dipertimbangkan aliran darah dalam penentuan
farmakokinetika obat
Obat dengan ER Tinggi
• Strategi yang dapat dilakukan bila obat diberikan per oral
adalah dengan menurunkan dosis muatan dan dosis
pertahanan. Bila tidak disebut lain, maka bioavailabilitas obat
per oral dianggap 100%. Dosis muatan dan dosis pertahanan,
masing-masing dihitung sebagai berikut:
• Dosis = (Dosis normal x Fnormal)/100
Obat dengan Extraction
Ratio Menengah
• Pendekatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
• Dosis muatan dipilih pada rentang yg rendah. Dosis
pertahanan untuk gangguan hati kategori ringan dan
menengah berturut-turut sebesar 50% dan 25% dari dosis
normal. Untuk gangguan hati kategori berat,
direkomendasikan agar dipilih obat yang metabolismenya
melalui konjugasi, bukan melalui enzim CYP.
Obat dengan Extraction Ratio
dan Ikatan Protein Rendah
• Dosis pertahanan disesuaikan seperti dilakukan untuk obat
dengan extraction ratio menengah yaitu 25% dari dosis
normal. Diutamakan juga agar memilih obat yang
metabolismenya melalui konjugasi, bukan melalui enzim CYP.
Obat dengan Extraction Ratio
dan Ikatan Protein Tinggi
• sebaiknya disertakan dengan pemantauan kadar obat bebas.
• Bila terjadi gangguan perfusi pada saluran pencernaan, agar
diperoleh respons segera, maka sebaiknya obat diberikan
secara intravena. Pengaturan dosis secara individu
direkomendasikan apabila pasien menderita lebih dari satu
jenis penyakit