Anda di halaman 1dari 17

LITERATURE REVIEW

BREATHING EXERCISE DAN INSPIRATORY MUSCLE TRAINING (IMT)


UNTUK PASIEN POSTOPERASI CORONARY ARTERY BYPASS
GRAFT (CABG) DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Stase Keperawatan Gawat Darurat dan
Kritis (KGDK) Program Profesi Ners Angkatan 34

Disusun oleh:
Kelompok 1

Wahyu Hidayat
Nela Apriani Sutima
Atikah Loviani
Muchibbaturrachmah
Tri Maliana
Syifa Maghfirah Chaerunnisa
Dianti Siti Syarah
Ipit Fitria
Novi Irmala

PPN ANKATAN XXXIV FAKULTAS KEPERAWATAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
ABSTRAK

1
ABSTRACT

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Kasih dan Anugerah-
Nya yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam pembuatan literature review ini
sehingga dapat selesai dengan tepat waktu. Literature review ini berjudul “Breathing exercise
dan inspiratory muscle training untuk pasien postoperasi CABG di RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung” yang membahas hasil-hasil penelitian mengenai breathing exercise dan inspiratory
muscle training untuk mencegah komplikasi pulmonal pada pasien.

Literature review ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas di Stase Keperawatan
Gawat Darurat dan Kritis PPN XXXIV Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran. Penulis
menyadari bahwa literature review ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran
dan kritik membangun sangat diharapkan untuk perbaikan dimasa yang akan datang. Penulis
memohon maaf atas segala hal yang kurang berkenan, kekurangan dan kekhilafan selama
berinteraksi. Akhir kata, semoga Allah SWT berkenan meridhoi dan semua ini dijadikan suatu
bentuk amal ibadah.

Bandung, Juni 2018

Penulis

3
DAFTAR ISI

ABSTRAK ................................................................................................................................. 1
ABSTRACT................................................................................................................................. 2
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 3
DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 4
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 5
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 5
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 6
1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................................................... 6
1.4 Manfaat........................................................................................................................ 6
BAB II ANALISIS ARTIKEL ILMIAH ................................................................................... 7
BAB III PEMBAHASAN ........................................................................................................ 10
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ...................................................................................... 14
4.1 Simpulan.................................................................................................................... 14
4.2 Saran .......................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 15

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit jantung koroner (PJK) adalah menyempitnya atau tersumbatnya arteri coroner
sehingga aliran darah ke jantungnya berkurang yang menyebabkan kurangnya pasokan oksigen
ke otot-otot jantung. Tersumbatnya arteri coroner akan menyebabkan kondisi nyeri dada atau
biasa disebut dengan angina sehingga menyebabkan infark miorkard atau yang sering dikenal
dengan serangan jantung (Hospital Authority, 2016). PJK adalah penyebab utama kematian
dinegara maju maupun berkembang sehingga penatalaksanaan PJK sangat penting. Menurut
Anggraeni (2008) penyebab kematian no.1 atau sekitar 26,4% kematian disebabkan oleh PJK.
Penatalaksaan PJK sudah semakin modern. Tujuan penatalaksaan PJK yaitu untuk
memperbaiki perfusi miokard dan memperkecil kerusakan yang terjadi akibat infark miokard.
Untuk memperbaiki perfusi miokard terdapat 3 cara yaitu pemberian obat-obatan,
Percutaneous Coronary Intervention (PCI), dan Coronary Artery Bypass Graft (CABG).
Pemberian obat-obatan digunakan untuk mengurangi beban kerja jantung dan meningkatkan
pasokan darah ke otot-otot jantung. PCI digunakan untuk melebarkan pembuluh darah yang
menyempit untuk meningkatkan fungsi jantung dan mengurangi angina. CABG adalah
membuat bypass dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain untuk
mengalirkan darah melewati pembuluh darah yang tersumbat melalui arteri utama ke otot
jantung yang rusak.
CABG merupakan alternative terakhir untuk pentalaksaan penyakit jantung coroner.
CABG akan menimbulkan beberapa komplikasi bagi pasien diantaranya hipovolemi,
perdarahan, infeksi pneumonia, atelectasis hingga kegagalan proses weaning ventilator. Dari
beberapa komplikasi yang terjadi pada pasien post CABG komplikasi yang paling sering yaitu
komplikasi pulmonal yang menyebabkan pasien harus tinggal lebih lama di RS. Akibat pasien
tinggal lebih lama di rumah sakit biaya akan semakin meningkat dan tingkat kematian juga
meningkat.
Pencegahan terhadap kejadian komplikasi harus dilakukan sedini mungkin agar pasien
terhindar dari masalah baru yang dapat memperlambat penyembuhan. Salah satu pencegahan
untuk komplikasi pulmonal adalah melatih pasien latihan nafas dalam dan melatih otot-otot
pernapasan. Kegiatan ini berfungsi untuk meningkatkan expansi paru dan sekaligus
memperbaiki oksigenasi otot jantung. Latihan nafas dalam adalah untuk mencegah atelectasis
dan dapat mengembalikan kondisi normal paska ekstubasi.
5
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung merupakan rumah sakit rujukan provinsi jawa
barat yang sudah memiliki ruang intensive khusus untuk pasien bedah jantung yaitu Ruang
GICU 1B. Pasien-pasien yang telah dilakukan operasi CABG akan ditempatkan diruang
tersebut dan menjalani perawatan + 2-3 hari. Setiap hari selama perawatan diruang intensif
pasien diajarkan batuk efektif dan relaksasi oleh bagian fisioterapi RSHS. Meskipun begitu
menurut informasi yang telah di dapatkan dari kepala ruangan GICU 1B banyak pasien yang
mengalami ketakutan untuk melakukan batuk efektif dan latihan relaksasi karena merasakan
nyeri. Akibatnya terdapat pasien yang diduga mengalami komplikasi pulmonal sehingga harus
dilakukan reintubasi setelah dilakukan ekstubasi. Oleh karena itu sangat penting pencegahan
dengan cara breathing exercise dan inspiratory muscle training untuk mencegah terjadinya
komplikasi pulmonal.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam literature review ini adalah “Bagaimana cara breathing
exercise dan inspiratory muscle training pada pasien setelah CABG”

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan umum dari literature review ini adalah untuk mengetahui cara breathing exercise
dan inspiratory muscle training pada pasien setelah CABG

1.4 Manfaat
a. Bagi rumah sakit
Hasil literature review ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
pihak Rumah sakit cara breathing exercise dan inspiratory muscle training pada pasien
setelah CABG. Selain itu, data dapat digunakan sebagai dasar pengembangan intervensi
keperawatan dalam pengelolaan pasien post CABG
b. Bagi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi mengenai cara
breathing exercise dan inspiratory muscle training pada pasien setelah CABG untuk
meningkatkan pelayanan pendidikan.

6
BAB II
ANALISIS ARTIKEL ILMIAH

Penyakit jantung coroner disebut juga penyakit arteri coroner (CAD), penyakit jantung
iskemik (IHD), atau penyakit jantung aterosklerotik adalah hasik akhir dari akumulasi plak
ateromatosa dalam dinding-dinding arteri yang memasok darah ke miokardium (Manitoba
Centre for Health Policy, 2013). Penyakit jantung koroner terjadi ketika zat yang disebuk plak
menumpuk di arteri yang memasok darah ke jantung (disebut arteri koroner), penumpukan plak
dapat menyebabkan angina, kondisi ini menyebabkan nyeri dada dan tidak nyaman karena otot
jontong tidak mendapatkan darah yang cukup, seiring dengan waktu penyakit jantung koroner
dapat melemahkan otot jantung, hal ini dapat menyebabkan gagal jantung dan aritmia (Centers
for Disease Control and Prevention, 2009).
Penanganan pasien dengan penyakit jantung koroner harus dilaksanakan secara benar
dan tepat. Penatalaksanaan yang dilakukan terhadap penyakit jantung koroner semakin
berkembang. Tujuan utama dari penatalaksanaan yang akan dilakukan ialah untuk
memperbaiki perfusi ke miokard dan memperkecil kerusakan yang akan di timbulkannya.
Untuk memperbaiki perfusi myokard salah satunya dengan tindakan Coronary Artery Bypass
Graft (CABG) (Chulay&Burns, 2006). Operasi jantung digunakan untuk menangani penyakit
jantung bawaan dan penyakit jantung yang sudah parah. Operasi jantung yang paling banyak
dilakukan pada orang dewasa ialah Coronary Artery Bypass Graft (CABG). Rata-rata usia laki-
laki yang mengalami penyakit jantung koroner diatas 40 tahun dan untuk perempuan diatas 50
tahun.
Pasien yang mendapatkan manfaat dari operasi CABG adalah mereka yang menderita
penyumbatan arteri, khususnya yang menyangkut ketiga arteri koroner yang menyebabkan
kerusakan otot jantung. Sasaran operasi bypass adalah mengurangi gejala penyakit arteri
koroner (termasuk angina), sehingga pasien bisa menjalani kehidupan yang normal dan
mengurangi risiko serangan jantung atau masalah jantung lain (Department of Cardiothoracic
Surgery, National Heart Centre Singapore (NHCS), 2018).
Coronary Artery Bypass Grafting, atau Operasi CABG merupakan metode
revaskularisasi yang umum dilakukan pada pasien yang mengalami aterosklerosis dengan 3
atau lebih penyumbatan pada arteri koroner atau penyumbatan yang lebih signifikan pada Left
Main Artery Coroner (Chulay&Burns, 2006). CABG adalah teknik yang menggunakan
pembuluh darah dari bagian tubuh yang lain untuk memintas (melakukan bypass) arteri yang
menghalangi pemasokan darah ke jantung. Vena kaki atau arteri mamae (payudara) internal

7
bisa digunakan untuk operasi bypass. Operasi ini membantu memulihkan aliran darah yang
normal ke otot jantung yang tersumbat. Pada operasi bypass, pembuluh cangkok baru, yaitu
arteri atau vena sehat yang diambil dari kaki, lengan, atau dada pasien, kemudian diambil lewat
pembedahan dan dijahitkan ke sekeliling bagian yang tersumbat. Pembuluh cangkok ini
memasok darah beroksigen ke bagian jantung yang membutuhkannya, sehingga "mem-bypass"
arteri yang tersumbat dan memulihkan aliran darah ke otot jantung (Department
of Cardiothoracic Surgery, National Heart Centre Singapore (NHCS), 2018). Tindakan CABG
memiliki komplikasi diantaranya: kematian, stroke, hypovolemia, perdarahan, denyut jantung
tidak teratur, serangan jantung, infeksi pneumonia, atelectasis bahkan kegagalam dalam proses
weaning dari ventilator (Department of Cardiothoracic Surgery, Coronary Artery Bypass
Grafting, 2011). Paska CABG, akan dipasang alat bantu pernapasan serta dipasang slang atau
WSD yang digunakan untuk mengeluarkan cairan intratorakal paska operasi (Westerdahl,
2005).
Komplikasi atau efek samping yang akan terjadi paska tindakan CABG dapat diatasi
dengan melakukan upaya-upaya preventif diantaranya: Melatih nafas dalam serta melatih otot
pernafasan untuk meningkatkan ekspansi paru dan dapat memperbaiki oksigenasi ke otot
jantung, serta dapat mencegah atelectasis pada paru (Widiastusi, 2015).
Di seluruh dunia, untuk mencegah atau mengurangi komplikasi pasca operasi
Perawatan fisioterapi sering diresepkan untuk pasien yang menjalani operasi jantung,
perawatan fisioterapi umumnya terdiri dari mobilisasi dini, berbagai latihan gerak selama
tinggal di rumah sakit. Fisioterapi dada dan latihan pernapasan juga diresepkan untuk pasien
yang menjalani operasi jantung untuk mencegah atau mengurangi komplikasi paru pasca
operasi. Dalam literatur berbagai perawatan telah disarankan. Banyak strategi dan terapi
beragam diterapkan pasca operasi dan ini berbeda di dalam dan di antara negara-negara.
Mobilisasi awal dan aktivitas fisik sering menjadi pilihan pertama perawatan (Shamsi dan
Khan, 2014).
Setelah operasi CABG, fisioterapi - terdiri dari latihan pernapasan menekankan
inspirasi, spirometri insentif, teknik untuk membersihkan sekresi bronkus, dan mobilisasi dini
- diberikan dengan tujuan meningkatkan ventilasi paru dan mencegah infeksi dada. Baru-baru
ini, perubahan pada perawatan pasca operasi pasien bedah jantung telah diadvokasi. Pasien
dapat dikelola menggunakan "panduan pemulihan cepat" tanpa mengorbankan hasil pasien
atau tingkat kepuasan. Ekstubasi awal (7-11 jam pasca operasi) setelah operasi jantung
mengakibatkan penurunan durasi perawatan intensif (ICU) dan tidak ada peningkatan
komplikasi pasca operasi yang penting secara klinis.Pengenalan "fasttrack regime"
8
(menggunakan anestesi kerja lebih pendek, pengurangan lebih sedikit dalam suhu inti tubuh
intra-operatif dan tonggak klinis yang ditentukan) untuk pasien yang mengikuti operasi arteri
koroner tidak meningkatkan kejadian komplikasi paru pasca-operasi. Fisioterapi pernafasan
secara rutin digunakan dalam pencegahan dan perawatan pasca-operasi paru setelah komplikasi
operasi jantung. Tujuan dari fisioterapi adalah untuk meningkatkan pencocokan ventilasi-
perfusi, meningkatkan volume paru-paru, meningkatkan pembersihan mukosiliar, dan
mengurangi rasa sakit (Shamsi dan Khan, 2014). Mobilisasi dan latihan pernapasan dalam
digunakan untuk meningkatkan volume paru-paru dan meningkatkan oksigenasi setelah
operasi. Ada juga beberapa alat mekanis yang digunakan untuk meningkatkan fungsi paru-paru
(Westerdahl et al, 2014).
Berbagai latihan pernapasan digunakan untuk mengurangi atelektasis dan untuk
meningkatkan fungsi paru-paru dan pertukaran gas pada periode pasca operasi awal.
Pernapasan dalam dengan tekanan ekspirasi positif (PEP) adalah teknik yang sering digunakan
untuk profilaksis dan pengobatan komplikasi pernapasan pada pasien pascaoperasi di Swedia.
Pasien disarankan untuk melakukan latihan ini setiap jam selama hari-hari awal pasca operasi.
Efek positif dari latihan pernapasan dalam dengan PEP pada atelectasis, volume paru-paru, dan
oksigenasi selama tinggal di rumah sakit setelah pencangkokan bypass arteri koroner. Namun,
instruksi mengenai berapa lama pasien harus melanjutkan latihan setelah debit sangat
bervariasi dalam praktek klinis. Fungsi paru terganggu selama beberapa bulan setelah operasi,
tetapi hanya data terbatas yang telah ditemukan mengenai efek latihan pernapasan di rumah
setelah keluar dari rumah sakit setelah operasi (Westerdahl et al, 2014).

9
BAB III
PEMBAHASAN

Post operasi coronary artery bypass grafting (CABG) memiliki efek positif untuk
perbaikan fungsi jantung. Operasi CABG biasanya dilakukan melalui sternotomy. Sternotomy
ini akan menimbulkan nyeri pada daerah luka dan ketidaknyamanan penggunaan drain setelah
efek anestesi menghilang. Nyeri akibat post sternotomy pada pasien CABG ini dikenal sebagai
gejala selama hari kedua setelah operasi. Nyeri ini dirasakan seperti nyeri yang terus-menerus,
tajam, berdenyut, seperti ditusuk, terbakar, luka berat, dan perih ketika disentuh oleh pasien
CABG, dan mereka juga mengeluh tidak dapat bernapas dan mudah merasa lelah (AbuRuz &
Alaloul, 2013; Puntillo et al., 2001). Insidensi nyeri postoperasi pada pasien CABG 80%
biasanya dalam intensitas ringan, namun terkadang bisa juga berat (11-20%) (Apfelbaum,
Chen, Mehta, & Tong, 2003; Mueller et al., 2000). Intensitas nyeri poststernotomy biasanya
tinggi pada hari pertama setelah operasi dan berkurang dihari ketiga operasi (Mueller et al.,
2000).
Nyeri setelah operasi akan mendorong pada penurunan pergerakan respirasi, kelemahan
otot abdomen dan intercostal, dan inadekuat ekspansi paru sehubungan dengan menurunnya
kapasitas inspirasi dan volume karena tidak efektifnya batuk dan imobilisasi (Aslan, Badir,
Karadag, & Cakmakci, 2010). Perubahan ini dapat berkontribusi untuk terjadinya komplikasi
pulmonal post operasi. Pneumonia dan atelectasis adalah komplikasi yang paling sering terjadi
dan merupakan komplikasi yang serius pada hari ketiga dan keempat setelah operasi jantung
dan merupakan salah satu penyebab yang meningkatkan mortalitas pasien (Kol, Erdogan,
Karslı, & Ms, 2013).
Komplikasi pulmonal dapat berkontribusi untuk menghalangi pertukaran gas
sehubungan dengan penurunan efisiensi ventilasi. Komplikasi pulmonal yang dirasakan oleh
pasien ini dapat terjadi karena insufisiensi pernapasan diafragma atau kelelahan sistem respirasi
yang dialami oleh beberapa pasien selama periode postoperasi. Hal ini dapat menyebabkan
kolaps nya alveoli atau memburuknya proses pengeluaran sputum (Kulkarni, Fletcher, &
McConnell, 2010; Nomori, Kobayashi, & Fuyuno, 1994). Latihan untuk meningkatkan otot
respirasi dapat menjadi potensi untuk mencegah penurunan kekuatan dan ketahanan respirasi
dan mencegah terjadinya komplikasi pulmonal postoperasi CABG (Valkenet, Port, &
Dronkers, 2011). Latihan yang dapat dilakukan oleh pasien untuk mencegah terjadinya
komplikasi pulmonal seperti penurunan volume paru, atelectasis, penurunan oksigenasi dan
pneumonia dapat berupa chest physiotherapy, mobilisasi awal dan perubahan posisi, latihan

10
nafas dalam dan tekhnik batuk. Keuntungan dilakukan latihan bernafas sudah terbukti dan
berbagai alat mekanik untuk ekspirasi nafas resisten sudah digunakan untuk meningkatkan
volume paru (Nomori et al., 1994; Valkenet et al., 2011).
Ruang General Intensif Care Unit 1 Wing B telah melakukan penatalaksanaan rutin
untuk pasien post operasi CABG yang melakukan perawatan setelah operasi. Penatalaksanaan
yang dilakukan adalah mengajarkan tehnik relaksasi dan batuk efektif kepada pasien setiap
pagi hari. Walaupun dengan penatalaksanaan rutin yang dilakukan ruangan, pasien di ruang
GICU masih ada yang harus mengalami re-intubasi selama perawatan pasca operasi. Penyebab
terjadinya re-intubasi ini belum diketahui, namun dapat kita perkirakan adanya komplikasi
pulmonal yang terjadi pada pasien. komplikasi pulmonal ini dikarenakan adanya kolaps alveoli
atau perburukan pengeluaran sputum pasien. Oleh karena itu, tenaga kesehatan harus berusaha
untuk mencegah terjadinya re-intubasi pada pasien post operasi CABG.
Tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam penatalaksanaan pencegahan
terjadinya komplikasi pulmonal pada pasien post operasi CABG. Breathing exercise dan
inspiratory muscle training (IMT) secara signifikan dapat meningkatkan kekuatan otot
inspirasi, ketahanan, meningkatkan kapasitas vital, meningkatkan volume ekspirasi dalam 1
detik, memperpendek waktu rawat di rumah sakit, dan menghilangkan resiko terjadinya
komplikasi pulmonal. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa breathing exercise dan
IMT dapat mencegah terjadinya komplikasi pulmonal yang dapat terjadi pada pasien post
CABG.
1. Breathing exercise
Breathing exercise yang biasa digunakan oleh tenaga kesehatan adalah latihan nafas
dalam. Pemberian intervensi keperawatan latihan nafas dalam secara teratur selama 15
menit pada pasien post operasi jantung pada hari ke 2-4 terbukti efektif meningkatkan
ekspansi dada dan paru yang akhirnya akan memperbaiki sirkulasi pasien (Widiastuti,
2015). Latihan nafas dalam setelah operasi jantung juga dapat berefek positif untuk
meningkatkan kualitas pernapasan pada pasien setelah operasi jantung (Shakouri,
Salekzamani, Taghizadieh, Sabbagh-jadid, & Soleymani, 2015). Oksigenasi meningkat
secara signifikan pada pasien yang melakukan 30 kali napas dalam dua hari pertama pasca
operasi (Urell et al., 2011). Latihan nafas dalam ini bisa juga dikolaborasikan menggunakan
alat seperti botol blow, PEP, dan insertif spirometri. Cara melakukan breathing exercise
adalah sebagai berikut,
a. Posisikan pasien dalam posisi rileks, seperti posisi semi fowler atau fowler.
b. Pasien dianjurkan untuk meletakan tangan di atas dada.
11
c. Nafas dalam dilakukan dengan menarik nafas (dalam hitungan 1-4), kemudian
menahan nafas (dalam hitungan 1-5), lalu menghembuskan nafas perlahan (dalam
hitungan 1-8).
d. Anjurkan pasien melakukan 30 kali nafas dalam selama 1 jam dengan jarak 30-60 detik
setiap 10 kali nafas.
e. Intervensi dimulai 1 hari setelah operasi samapi hari ke 7 setelah operasi.
f. Setelah latihan, dilakukan evaluasi kekuatan otot dan saturasi oksigen pasien pada hari
1, 2 dan hari 7 setelah operasi.
(RENAULT, COSTA-VAL, ROSSETTI, & NETO, 2009; Urell et al., 2011; Westerdahl,
2015; Westerdahl et al., 2014; Widiastuti, 2015)
2. Inspiratory muscle training (IMT)
Inspiratory muscle training dilakukan dengan berbagai macam cara. Latihan
penggunaan otot-otot pernapasan pada pasien juga terbukti meningkatkan ekspansi paru
(Widiastuti, 2015). IMT yang dilakukan yaitu IMT threshold-loading inspirasi. IMT
dilakukan dengan kombinasi antara latihan nafas dalam dengan berbagai latihan lain seperti
purse lip breathing, nafas diafragma, cycle of breathing technique, chest fisioterapi, batuk
efektif, dan flow-IS-based. Penelitian-penelitian telah membuktikan bahwa IMT dapat
meningktkan kekuatan otot inspirasi, derajat arteri-alveolar, saturasi oksigen, dan
memperbaiki kualitas pernapasan pada pasien secara signifikan (Shakouri et al., 2015;
Turky & Afify, 2017; Widiastuti, 2015). Penelitian yang dilakukan Shakouri et al. (2015)
dan Turky & Afify (2017) Inspiratory muscle training (IMT) akan lebih efektif jika
dilakukan praoperasi dan postoperasi CABG. IMT dilakukan dengan cara:
a. Pra operasi
a) Selama 15 hari sebelum melakukan operasi, pasien akan melakukan IMT dengan
menggunakan alat threshold-loading.
b) Pasien diposisikan duduk dan didorong untuk melakukan 3 set 10 kali nafas dengan
maksimal inspirasi lambat 2 kali sehari
c) Jeda antara set 30-60 detik
d) Setelah latihan nafas, pasien dianjurkan untuk melakukan batuk efektif.
b. Post operasi
a) Latihan dimulai 1 jam setelah ekstubasi dan dilanjutkan samai hari ke 8 setelah
operasi.
b) Latihan nafas dengan metode IMT dilakukan sama seperti sebelum operasi.
c) Pada saat jeda pasien dianjurkan untuk batuk untuk memobilisasi sekret.
12
d) Pada hari ke-2 setelah operasi pasien dianjurkan untuk mobilisasi awal dengan cara
berpindah dari kasur ke kursi atau berjalan disekitar koridor rumah sakit.
e) Pada hari ke-3 pasien diperbolehkan secara bebas untuk berjalan di koridor.
f) Sebagai tambahan dapat pula dilakukan chest fisioterapi setelah latihan.

13
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan
Pencegahan komplikasi pulmonal pada pasien postoperasi coronary artery bypass
graft (CABG) dapat dilakukan oleh breathing exercise dan inspiratory muscle training
(IMT) yang dilakukan secara rutin oleh pasien. berdasarkan berbagai penelitian diketahui
bahwa kedua tekhnik yang sebetulnya sudah sering dilakukan ini sangat efektif untuk
memaksimalkan kembali fungsi paru seperti sebelum operasi dan mencegah terjadinya
komplikasi pulmonal seperti atelectasis dan pneumonia pada pasien. Breathing execise
yang paling mudah dan sering dilakukan adalah latihan nafas dalam yang dapat
dikolaborasikan dengan purse lips breathing dan pernafasan diafragma. Melakukan latihan
nafas dalam sebanyak 30 kali dalam 1 jam sudah dipastikan efektif untuk memaksimalkan
kembali ekspansi paru setelah operasi. Selain itu, IMT yang terdiri atas latihan untuk
meningkatkan kekuatan otot pernapasan juga terbukti efektif untuk mengembalikan fungsi
paru seperti sebelum sakit. IMT yang dilakukan dari 15 hari sebelum operasi sampai hari
ke 8 setelah operasi dapat memaksimalkan nilai MIP seperti sebelum operasi, menurunkan
nilai derajat oksigen arteri-alveolar, dan meningkatkan nilai saturasi oksigen. Oleh karena
itu, diharapkan kedua tindakan tersebut dapat dijadikan tindakan rutin untuk dilakukan oleh
pasien baik sebelum dan sesudah operasi selama melakukan perawatan di ruang GICU 1B.
Pasien post operasi juga diharapkan dapat melaksanakan latihan tersebut dengan semangat
untuk mencegaj terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan.

4.2 Saran
Hasil literature review ini diharapkan dpat menjadi data baru untuk menambah
informasi bagi pihak RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Selain itu, dapat menjadi
pengembangan ilmu pengetahuan terkait strategi pencegahan komplikasi bagi pasien post
operasi CABG. Rekomendasi lain bagi tim kesehatan khususnya keperawatan, diharapkan
dapat menambah alternative saat melakukan intervensi keperawatan sehingga dapat
memberikan pelayanan yang maksimal bagi pasien terutama pasien post operasi CABG.
Selain itu, hasil literature ini juga dapat menjadi pacuan intervensi awal untuk menangi
keluhan nyeri dan takut batuk pada pasien post operasi CABG yang akhirnya dapat
menyebabkan komplikasi pulmonal.

14
DAFTAR PUSTAKA

AbuRuz, M. E., & Alaloul, E. A. (2013). Patients’ pin experience after coronary artery bypass
graft surgery. The Journal of American Science, 9(4), 592–595.
Apfelbaum, J. L., Chen, C., Mehta, S. S., & Tong, J. G. (2003). Postoperative pin experience:
Results from a national survey suggest postoperative pain continues to be undermanaged.
Journal of the Saudi Heart Association, 97(2), 534–540.
Aslan, F. E., Badir, A., Karadag, S., & Cakmakci, H. (2010). Patients’ experience of pin after
cardiac surgery. Contempoary Nurse, 34(1), 48–54.
Kol, E., Erdogan, A., Karslı, B., & Ms, N. E. (2013). Evaluation of the Outcomes of Ice
Application for the Control of Pain Associated with Chest Tube Irritation. Pain
Management Nursing, 14(1), 29–35. http://doi.org/10.1016/j.pmn.2010.05.001
Kulkarni, S., Fletcher, E., & McConnell, A. (2010). Pre-opperative inspiratory muscle training
preserves postoperative inspiratory muscle strength following major abdominal surgery -
a randomised pilot study. Ann R Coll Surg Engl, 92, 700–7.
Mueller, X. M., Tinguely, E., Tevacarai, H. T., Ravussin, P., Stumpe, F., & Segesser, L. K.
(2000). Impact of duration of chest tube drainage on pain after cardiac surgery. European
Journal of Cardio-Thoracic Surgery, 18(5), 570–574.
Nomori, H., Kobayashi, R., & Fuyuno, G. (1994). Preoperative respiratory muscle training.
Assessment in thoracic surgery patients with special reference to postoperative pulmonar
complications. Chest, 105, 1782–8.
Puntillo, K. A., White, C., Morris, A. B., Perdue, S. T., Stanik-Hutt, J., Thompson, C. L., &
Wild, L. R. (2001). Patients perceptions and responses to procedural pain: Results from
Thunder Project II. American Journal of Critical Care, 10(4), 238–251.
RENAULT, J. A., COSTA-VAL, R., ROSSETTI, M. B., & NETO, M. H. (2009). Comparison
between deep breathing exercises and incentive spirometry after CABG surgery. Rev Bras
Cir Cardiovasc, 24(2), 165–172.
Shakouri, S. K., Salekzamani, Y., Taghizadieh, A., Sabbagh-jadid, H., & Soleymani, J. (2015).
Effect of Respiratory Rehabilitation Before Open Cardiac Surgery on Respiratory
Function : A Randomized Clinical Trial. Journal Cardiovascular Thorac Respiration,
7(1), 13–17. http://doi.org/10.15171/jcvtr.2014.03
Turky, K., & Afify, A. M. A. (2017). Effect of Preoperative Inspiratory Muscle Training on
Alveolar-Arterial Oxygen Gradients After Coronary Artery Bypass Surgery. Journal of
Cardiopulmonary Rehabilitation and Prevention, 0, 1–6.
http://doi.org/10.1097/HCR.0000000000000234
Urell, C., Emtner, M., Hedenstro, H., Tenling, A., Breidenskog, M., & Westerdahl, E. (2011).
Deep breathing exercises with positive expiratory pressure at a higher rate improve
oxygenation in the early period after cardiac surgery — a randomised controlled trial § ,
§§. European Journal of Cardio-Thoracic Surgery, 40, 162–167.
http://doi.org/10.1016/j.ejcts.2010.10.018
Valkenet, K., Port, I. Van de, & Dronkers, J. (2011). The effects of preoperative exercise
therapy on postoperative outcome: a systematic review. Clinical Rehabilitation, 25, 99–

15
111.
Westerdahl, E. (2015). Optimal technique for deep breathing exercises after cardiac surgery.
Minerva Anestesiologica, 81(6), 678–683.
Westerdahl, E., Urell, C., Jonsson, M., Bryngelsson, I.-L., Hedenström, H., & Emtner, M.
(2014). Deep Breathing Exercises Performed 2 Months Following Cardiac Surgery.
Journal of Cardiopulmonary Rehabilitation and Prevention, 34, 34–42.
http://doi.org/10.1097/HCR.0000000000000020
Widiastuti, A. (2015). Latihan Otot Pernafasan dan Nafas Dalam untuk Meningkatkan
Ekspansi Dada dan Paru pada Pasien Post Op Coronary Artery By Pass Graft (CABG) di
Rumah Sakit Harpan Kita Jakarta. Bina Widya, 26(3), 145–154.

16