Anda di halaman 1dari 27

Kegiatan Belajar 2: Toleransi Linier dan Geometrik

Uraian Materi
Membuat suatu komponen mesin dituntut presisi agar didapat jaminan fungsi dan mampu
tukar. Pengalaman menunjukkan bahwa tidak mudah untuk membuat ukuran presisi sesuai
permintaan, hal ini dimungkinkan karena:

(i) ketidakakuratan mesin dan peralatan,


(ii) ketidakakuratan proses pembuatan
(iii) kesalahan dalam pengukuran, dll.

Oleh karena itu, didalam aturan gambar kerja dikenal dimensi yang akan berada di antara
dua batas yang dapat diterima, yaitu ukuran maksimal dan minimal. Sebuah sistem di mana suatu
variasi ukuran diijinkan disebut sistem batas dan penyimpangan yang diizinkan dan disebut
toleransi. Studi tentang batas (limits), toleransi, dan suaian adalah pengetahuan yang harus
dimiliki juru gambar. Pengetahuan tersebut akan mengarahkan pada sistem produksi masal.
Untuk memperkaya khasanah cobalah buka video di https://youtu.be/p2q-lGZJCZ4

31
1. Sistem Batas (Limits System) Toleransi
Setiap benda dibuat dengan memberikan batasan ukuran tertentu dan batasan
penyimpangan yang dijinkannya. Besarnya penyimpangan (ukuran maksimal atau ukuran
minimal) biasanya telah ditentukan. Penyimpangan ukuran didasari pemikiran bahwa seorang
operator mesin tidaklah mungkin menghasilkan produk yang benar-benar tepat tanpa adanya
kesalahan. Kontrol kualitas ukuran menjadi kunci dalam merakit komponen satu dengan lainnya.
Selanjutnya dua ukuran ekstrim yang diizinkan di antara ukuran sebenarnya yang ada disebut
batas. Ukuran maksimum disebut batas atas dan ukuran minimum disebut batas bawah.

Gambar 2.1 Denah tentang pengertian toleransi lubang dan poros

Toleransi dilambangkan dengan dua simbol, simbol huruf dan simbol angka, yang disebut
kelas (Kelas IT). Gambar 3.3 menunjukkan ilustrasi grafis ukuran toleransi atau penyimpangan
mendasar untuk simbol huruf dan Tabel 2.1 daftar toleransi fundamental dari berbagai kelas.
Hal ini dapat dilihat dari Gambar 15.3 bahwa simbol huruf berkisar dari A ke ZC untuk
lubang dan dari a ke zc untuk poros. Huruf I, L, O, Q, W dan i, l, o, q, w belum digunakan. Juga
jelas bahwa simbol-simbol surat ini mewakili tingkat kedekatan zona toleransi (positif atau negatif)
dengan ukuran dasar.
Demikian pula, dapat dilihat dari Tabel 2.1, bahwa ukuran dasar dari l mm hingga 500 mm
telah dibagi menjadi 13 langkah atau rentang. Untuk setiap langkah nominal, ada 18 nilai
toleransi, ditetapkan sebagai IT 01, IT 0 hingga IT 1 hingga IT 16, yang dikenal sebagai “Toleransi
mendasar”.

32
Tabel 2.1 Daftar toleransi fundamental

Gambar 2.2. Ilustrasi daerah toleransi


33
Tabel. 2.2. Tabel Tingkat Toleransi Fundamental untuk ukuran 3 sampai 500 mm

Nilai toleransi fundamental mengacu pada standar ISO/R 286 dan rumus untuk
menghitung nilai toleransi standar IT adalah sebagai berikut:
𝟑
𝐢 = 𝟎, 𝟒𝟓. √𝑫 + 𝟎, 𝟎𝟎𝟏. 𝑫 … (µ𝒎)

Contoh, diameter lubang 100 mm, dengan kwalitas toleransi IT 7, maka nilai toleransi
adalah:

𝐷 = √80 𝑥 120 = 98 mm

Unit toleransi, 𝑖 = 0,45 √98 + 0,001 𝑥 98 = 2,172 µ𝑚

Untuk grade 7 (lihat tabel 2.2) maka didapat nilai toleransi

16i = 16 × 2.172 = 35 µ𝑚

34
Penerapan umum dalam pembacaan toleransi berdasarkan Gambar 2.1, untuk lubang
dan poros dapat diartikan bahwa:

Ukuran maksimum = ukuran dasar + penyimpangan atas


Ukuran minimal = ukuran dasar + penyimpangan bawah
Nilai toleransi = penyimpangan atas – penyimpangan bawah

Contoh penulisan toleransi:


,
50 ,

Artinya:
Ukuran dasar = 50 mm
Batas ukuran terbesar = 50 + 0,3 = 50,3 mm
Batas ukuran terkecil = 50 + 0,2 = 50,2 mm
Penyimpangan atas = 0,3 mm
Penyimpangan bawah = 0,2 mm
Toleransi = +0,3 – 0,2 = 0,1 mm

Gambar 2.3. Contoh Toleransi

Artinya:
Ukuran nominal = 50 mm
Ukuran dasar = 50,000 mm
Allowance maksimal = 0,003 mm

Tabel 2.3 Nilai Toleransi Standar untuk kwalitas 0,1; 0 dan 1

Kwalitas Toleransi IT 01 IT 0 IT 1

Nilai dalam micron, untuk D dalam µm 0,3 + 0,008D 0,5 + 0,012D 0,8 + 0,020D

35
a. Toleransi umum
Pekerjaan yang tidak memerlukan ketelitian khusus berlaku ketentuan toleransi umum,
pada gambar kerja, nilai penyimpangan yang diizinkan (nilai toleransi umum) dicantumkan pada
bagian atas gambar yang menyatakan besarnya penyimpangan secara umum. Besarnya nilai
toleransi umum ini ditentukan oleh jenis pekerjaan dan tingkat ukuran nominal benda kerja. Untuk
lebih jelas perhatikan Tabel 2.4 berikut:

Tabel 2.4 Nilai penyimpangan umum (ISO/R 286)


Ukuran nominal
>0.5-3 >3-6 >6-30 >30-120 >120-315 >315-1000 >1000-2000
…..(mm)
Teliti ±0.05 ±0.05 ±0.1 ±0.15 ±0.2 ±0.3 ±0.5
Penyimpangan
Sedang ±0.1 ±0.1 ±0.2 ±0.3 ±0.5 ±0.8 ±1.2
yang diizinkan
Kasar - ±0.2 ±0.5 ±0.8 ±1.2 ±2 ±3

Tabel 2.5 Variasi yang diizinkan untuk ukuran sudut (ISO/R 286)
Panjang dari sisi
>0.5-3 >3-6 >6-30 >30-120
pendek
Variasi yang derajat dan menit ±1° ±30’ ±20’ ±10’
diijinkan Mm tiap 100 mm ±1.8 ±0.9 ±0.6 ±0.3

b. Pencantuman toleransi pada gambar keja


Pemberian toleransi pada gambar kerja dapat menggunakan angka,huruf atau gabungan
huruf dan angka lihat Gambar 2.4.

36
Gambar 2.4 Penulisan toleransi lubang.

2. Suaian

a. Pengertian suaian (Fit)


Suaian mengacu pada penyimpangan ukuran yang diijinkan pada komponen mekanis
yang berpasangan, penyimpangan bertujuan agar komponen mudah dirakit dan bergerak relatif
satu sama lain selama beroperasi normal.

b. Macam-macam suaian
Berdasarkan kesesuaian ukuran lubang dengan ukuran poros, suaian diklasifikasikan
sebagai Suaian longgar (clereance fit), Suaian pas (transition fit), Suaian sesak (interference fit).

(1) Suaian longgar (clereance fit)


Suaian ini adalah tipe suaian yang memberikan izin adanya kelonggaran antara
dua komponen yang dirakit atau berpasangan (Gambar 2.5)

(2) Suaian transisi (transition fit),


Tipe suaian ini memungkinkan hasil rakitan yang sesak atau longar, tentunya ini
tergantung ukuran faktual pada saat komponen setelah dirakit (Gambar 2.5).

(3) Suaian sesak (interference fit).


Jika perbedaan antara lubang dan ukuran poros negatif sebelum perakitan;
sehingga komponen rakitan pastilah menghasilkan suaian yang sesak.

37
Gambar 2.5 Macam-macam suaian

Kedudukan daerah toleransi terhadap garis nol, yang merupakan suatu fungsi dari ukuran
dasar, dinyatakan oleh sebuah lambang huruf (dalam beberapa hal dengan dua huruf), yaitu huruf
besar untuk lubang, dan huruf kecil untuk poros.

Lambang H mewakili lubang dasar dan lambang h mewakili poros dasar. Sesuai dengan
ini, jika lambang H dipakai untuk lubang, berarti sistim lubang dasar yang dipakai.

Dengan demikian ukuran yang diberi toleransi didefinisikan oleh nilai nominalnya diikuti
oleh sebuah lambang, yang terdiri dari sebuah huruf (kadang-kadang dua huruf) dan sebuah
huruf.

Contoh :

50g7 Berarti : diameter poros 50 mm, suaian longgar dalam sistim lubang
dasar dengan nilai toleransi dari tingkat IT 7.

Gabungan antara lambang-lambang untuk lubang dan poros menentukan jenis


suaiannya.

55 H8/g7: diameter 55 mm, suaian longgar dalam sistim lubang dasar


dengan nilai toleransi lubang tingkat IT 8 dan nilai toleransi poros tingkat IT 7.

60 H8-g7: diameter 60 mm, suaian pas dalam sistim lubang dasar dengan
nilai toleransi lubang tingkat IT 7 dan nilai toleransi poros tingkat IT 6.

38
3. Sistem Basis Suaian
Sistem basis (dasar) suaian adalah suatu acuan dasar yang digunakan dalam
menetapkan jenis basis suaian. Menurut sistem, ISO jenis basis suaian dibedakan dua macam,
yaitu Suaian sistem basis lubang dan Suaian sistem basis poros.

a. Suaian sistem basis lubang


Suaian sistem basis lubang, daerah toleransi lubang berada pada H dengan
penyimpangan bawah dari lubang diambil sama dengan nol. Jika poros dan lubang berpasangan,
poros dengan berbagai penyimpangan harus disesuaikan dengan ukuran lubang dasarnya.

Suaian sistem basis lubang ada 3 macam, yaitu:

(1) Suaian longgar sistem basis lubang


Pada suaian longgar sistem basis lubang, apabila lubang dengan daerah toleransi
H dipasangkan/disesuaiakan terhadap poros dengan daerah toleransi a, b, c, d, e, f dan
g disebut suaian longgar sistem basis lubang.

Contoh: ø 30 H7/f6
ø 60 H8/e6

(2) Suaian paksa sistem basis lubang


Pada suaian paksa sistem basis lubang, apabila lubang dengan daerah
toleransi H dipasangkan terhadap poros dengan daerah toleransi n, p, r, s, t, u, dan x
disebut suaian paksa sistem basis lubang

Contoh: ø 80 H7/p6
ø 100 H7/t6

(3) Suaian pas sistem basis lubang


Pada suaian pas sistem basis lubang, apabila lubang dengan daerah toleransi
H dipasangkan terhadap poros dengan daerah toleransi h, js, k dan m disebut Suaian
pas sistem basis lubang

Contoh: ø 120 H6/h6


ø 140 H7/k6

39
Tabel 2.6 Suaian Sistem Basis Lubang

Lambang kualitas untuk poros


Lubang
Suaian Longgar Suaian Pas Suaian Paksa
dasar
b c d e f g h js k M n p r s T u x
H5 4 4 4 4 4
5 5 5 5 5
H6
6 6 6 6 6 6 6 6
(6) 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6
H7
7 (7) 7 7 (7) (7) (7) (7) (7) (7) (7) (7) (7)
7 7
H8 8 8 8
9
8 8
H9
9 9 9 9
H10 9 9 9

b. Suaian sistem basis poros


Suaian sistem basis poros, daerah toleransi lubang berada pada h dijadikan dasar
menetapkan jenis suaian, sedangkan lubang dengan berbagai penyimpangan menyesuaiakan
dengan ukuran poros dasarnya. Suaian sistem basis poros ada 3 macam, yaitu:

(1) Suaian longgar sistem basis lubang


Pada suaian longgar sistem basis poros, apabila poros dengan daerah toleransi h
dipasangkan pada lubang dengan daerah toleransi B, C, D, E, F dan G hubungan
keduanya disebut suaian longgar sistem basis poros.
Contoh: ø 50 h7/F7
ø 30 h8/E8

(2) Suaian paksa sistem basis poros


Pada suaian paksa sistem basis poros, apabila poros dengan daerah toleransi h
dipasangkan pada lubang dengan daerah toleransi N, P, R, S, T,U dan X hubungan
keduanya disebut suaian paksa sistem basis poros
Contoh: ø 55 h6/P6
ø 100 h6/S7

(3) Suaian pas sistem basis poros


Pada suaian pas sistem basis poros, apabila poros dengan daerah toleransi h
dipasangkan terhadap lubang dengan daerah toleransi H, Js, K, dan M hubungan
keduanya disebut Suaian pas sistem basis poros
Contoh: ø 110 h5/H6
ø 130 h6/K6

40
Tabel 2.7 Suaian Sistem Basis Poros

Lambang kualitas untuk poros


poros
Suaian Longgar Suaian Pas Suaian Paksa
dasar
B C D E F G H JS K M N P R S T U X
h5 4 4 4 4 4
5 5 5 5 5
h6
6 6 6 6 6 6 6 6
(6) 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6
h7
7 (7) 7 7 (7) (7) (7) (7) (7) (7) (7) (7) (7)
7 7
h8 8 8 8
9
8 8
h9
9 9 9 9
h10 9 9 9

4. Penulisan ukuran linear dari sebuah komponen


a. Toleransi suaian dengan lambang ISO
Komponen yang diberi ukuran dengan toleransi dinyatakan dalam gambar teknik, seperti
terlihat pada gambar 2.6.
b. Ukuran dasar
c. Lambang toleransi
d. Jika, di samping lambang-lambang, diperlukan mencantumkan nilai-nilai penyimpangan,
maka ini harus diperlihatkan dalam kurung (Gambar 2.7.), atau tanpa kurung.

Gambar 2.6 Toleransi suaian dinyatakan oleh lambang ISO

Gambar 2.7 Toleransi suaian dan nilai penyimpangan

e. Toleransi dengan angka


Komponen yang diberi ukuran dengan toleransi dinyatakan dalam Gambar 2.8.

Gambar 2.8 Toleransi dinyatakan oleh nilai penyimpangan

41
f. Nilai-nilai penyimpangan
Jika salah satu penyimpangan mempunyai nilai nol, maka ini hanya dinyatakan oleh nilai nol
(Gambar 2.9).

Gambar 2.9 Toleransi dinyatakan oleh nilai penyimpangan.

g. Toleransi simetris
Jika nilai toleransi keatas dan kebawah sama besarnya nilai toleransinya hanya dituliskan
sekali saja lihat gambar 2.10.

Gambar 2.10. Toleransi simetris

h. Penulisan toleransi plus - minus


Cara penulisan dengan toleransi plus- minus ada tiga car, yaitu unilateral, bilateral-equal dan
bilateral-unequel. Contoh dari ketiga system adala di Gambar 2.11.

Unilateral Bilateral-Equal Bilateral-Unequal

Gambar 2.11 Penulisan toleransi

5. Toleransi pada Gambar Susunan


a. Toleransi dengan lambang ISO
Lambang toleransi untuk lubang ditempatkan di depan lambang untuk poros (Gambar
2.12) dan di belakang ukuran nominal, yang hanya ditulis sekali.

Gambar 2.12 Toleransi pada gambar suaian

42
Gambar 2.13 Toleransi pada gambar susunan

6. Toleransi ukuran sudut


Aturan ukuran linier dapat juga diterapkan pada ukuran sudut (Gambar 2.14).

Gambar 2.14. Toleransi pada ukuran sudut

7. Toleransi Geometri dan Lambang-lambangnya


Toleransi linier tidak selalu cukup untuk menyediakan kontrol kualitas yang diperlukan.
Sebagai contoh, pada Gambar 2.15 a poros memiliki ukuran diameter yang sama di semua posisi
tetapi mungkin tidak semua sama di tiap titik lingkar; pada Gambar. 2.15 b, komponen memiliki
ketebalan yang sama di seluruh tetapi tidak datar dan pada Gambar. 2.15 c, komponen berbentuk
silidinris di semua penampang tetapi tidak lurus. Bentuk komponen ini dapat dikontrol dengan
cara toleransi geometrik. Toleransi geometri mencakup toleransi bentuk, posisi, tempat dan
penyimpangan putar, seperti pada Tabel 2.8.

Gambar 2.15. Bentuk kesalahan geometrik

Untuk memperkaya khasanah cobalah buka video-video berikut: https://youtu.be/kiSPOPnIxl0;

43
https://youtu.be/a1QdrTT_1pY; dan https://youtu.be/umtgJNiWyEw

Berikut ini adalah penjelasan mengenai sifat yang diberi toleransi


a. Toleransi kelurusan adalah untuk menentukan daerah toleransi yang didalamnya terdapat
sumbu. Permukaan atau sumbu permukaan juga termasuk sebagai acuan kelurusan.
b. Toleransi kerataan adalah untuk menentukan daerah toleransi yang ditentukan oleh dua
bidang sejajar.
c. Toleransi kebulatan adalah untuk menentukan daerah toleransi yang dibatasi oleh dua
lingkaran yang konsentris (sepusat)
d. Toleransi kesilindrisan adalah untuk menentukan daerah toleransi yang dibatasi oleh dua
silinder yang konsentris.
e. Toleransi profil adalah untuk menentukan suatu batas daerah sepanjang profil dan
didalamnya harus terdapat permukaan.
f. Toleransi ketirusan adalah untuk menentukan daerah toleransi yang ditentukan oleh dua
bidang sejajar pada sudut dasar.
g. Toleransi kesejajaran adalah untuk menentukan daerah toleransi yang ditentukan oleh dua
bidang sejajar atau garis sejajar terhadap bidang atau sumbu banding.
h. Toleransi ketegak lurusan merupakan suatu keadaan permukaan, bidang median atau
sumbu pada 90° terhadap bidang atau sumbu banding

Tabel 2.8 Lambang untuk sifat yang diberi toleransi


Sifat Yang Diberi
Elemen Dan Toleransi Simbol
Toleransi
c, e, g dan h
Kelurusan

Kedataran g
Elemen tunggal
Kebulatan a
Toleransi bentuk f
Kesilindrisan
Elemen tunggal Profil garis c
atau g
yang Profil permukaan
berhubungan
c, e, g dan h
Kesejajaran

Toleransi orientasi Ketegak lurusan c, e, g dan h


Elemen-elemen c, g dan h
Ketirusan
yang
berhubungan a, c, d, e, g dan
Toleransi posisi
h
Toleransi lokasi a dan e
Toleransi lokasi
Kesimetrisan c, g dan h
Toleransi putar Putar tunggal b dan c

44
Kemungkinan daerah toleransi adalah berada dalam sebuah bidang ataupun dua buah
bidang, sebagai acuan dapat digunakan 8 (delapan) pilihan daerah toleransi geometrik berikut:
a. Luas dalam lingkaran.
b. Luas antara dua lingkaran sepusat.
c. Luas antara dua garis berjarak sama, atau dua garis lurus sejajar.
d. Ruang dalam bola.
e. Ruang dalam silinder.
f. Ruang antara dua silinder bersumbu sama.
g. Ruang antara dua permukaan berjarak sama atau dua bidang sejajar.
h. Ruang dalam sebuah kubus.

Gambar 2.16. Daerah toleransi geometric berada di luasan dua garis lingkaran (atau acuan a)

Gambar 2.16 adalah contoh dari aplikasi toleransi geometric dengan mengacu pada aturan a,
yaitu daerah toleransi dari penampang lintang yang dipertimbangkan adalah dibatasi oleh dua
lingkaran konsentris dengan perbedaan jari-jari sebesar t. Pilihan atau aturan lain yang lebih
lengkap ada di Tabel 2.9.

45
8. Penunjukkan Dalam Gambar

a. Kotak Toleransi
Persyaratan toleransi dinyatakan dalam sebuah kotak, yang dibagai dalam satu atau lebih
ruang. Dalam urutan dari kiri ke kanan, ruang-ruang tersebut berisi (lihat Gambar 2.17 sampai
2.19).

(1) Lambang dari sifat yang akan diberi toleransi.


(2) Nilai toleransi dalam satuan yang dipakai untuk ukuran linear. Nilai ini didahului oleh
tanda ϕ bila daerah toleransinya berbentuk bulat, atau silinder, atau oleh “Bola ϕ” bila
daerah toleransinya berupa bola.
(3) Bila perlu, huruf atau huruf-huruf yang menunjukkan elemen dasar, atau elemen-
elemen dasar.
Bila diperlukan untuk memperinci lebih dari suatu sifat toleransi ntuk sebuah elemen,
perincian toleransinya harus diberikan dalam kotak-kotak referensi yang ditumpuk.

Gambar 2.17 Kotak toleransi

Gambar 2.18 Kotak toleransi dengan elemen dasar

Gambar 2.19 Perincian dari dua sifat toleransi

b. Elemen yang Diberi Toleransi


Kotak toleransi dihubungkan pada elemen yang diberi toleransi oleh sebuah garis
penunjuk, yang berakhir dengan sebuah panah, sebagai berikut:
(1) Pada garis gambar dari elemen atau perpanjangannya (tetapi harus dipisahkan
dengan jelas dari garis ukur), bila toleransinya menyangkut garis atau bidang itu
sendiri (Gambar 2.20 dan 2.21).

46
(2) Pada garis ukur, bila toleransinya menyangkut garis sumbu atau bidang meridian,
yang ditentukan oleh elemen yang diberi ukuran demikian (Gambar 2.22 dan 2.23).
(3) Pada sumbu bila toleransinya menyangkut sumbu bidang meridian dari semua elemen
yang sama dengan sumbu atau bidang meridian (Gambar 2.22 s/d 2.26).

Bilamana sebuah toleransi akan diterapkan pada kontur dari elemen silindris atau
simetris, atau pada sumbu atau bidang meridiannya, tergantung dari persyaratan fungsionalnya.

Gambar 2.20 Penunjukan elemen-elemen yang diberi toleransi.

Gambar 2.21 Penunjukan elemen yang diberi toleransi.

Gambar 2.22 Penunjukan elemen yang diberi toleransi (I)

47
Gambar 2.23 Penunjukan elemen yang diberi toleransi (III)

Gambar 2.24 Penunjukan elemen yang diberi toleransi

Gambar 2.25 Penunjukan sumbu bersama yang diberi toleransi.

Gambar 2.26 Penunjukan sumbu bersama yang diberi toleransi


48
c. Permukaan Datum
Permukaan datum adalah referensi yang digunakan untuk mengontrol permukaan lain
dari sebuah komponen. Misalnya, ketika menentukan lokasi lubang, kita dapat menentukan
jaraknya dari permukaan datum pada bagian tersebut. Datum harus merupakan sebuah fitur
geometris pada bagian nyata, seperti titik atau bidang seperti ditunjukkan pada Gambar 2.27.
Centerlines pada gambar tidak digunakan sebagai datum.

Gambar 2.27 Penentuan dan penempatan datum

Gambar 2.28 Penunjukan toleransi

49
d. Keterangan-keterangan Terbatas
Elemen disyaratkan di dalam batas toleransi penunjukkannya harus ditulis dekat kotak
toleransi (Gambar 2.29). Toleransi yang ditentukan pada panjang tertentu atau terbatas, nilai
panjangnya harus ditambahkan di belakang nilai toleransi, dan dipisahkan oleh sebuah garis
miring (Gambar 2.30). Apabila toleransinya ada dua, yang pertama secara umum dan kedua
adalah lebih kecil dan pada panjang tertentu, maka penunjukkan toeleransinya ditulis seperti
contoh di Gambar 2.31. Apabila toleransinya diterapkan pada bagian tertentu dan terbatas dari
sebuah elemen posisi, penunjukkannya harus seperti pada Gambar 2.32.

Gambar 2.29 Penunjukan elemen yang memenuhi syarat

Gambar 2.30 Toleransi yang lebih kecil diterapkan pada panjang terbatas

Gambar 2.31 Toleransi yang lebih kecil diterapkan pada panjang tertentu

Gambar 2.32 Toleransi diterapkan pada sebuah bagian terbatas

e. Ukuran Teoritis Tepat


Ketepatan ukuran teoritis adalah ukuran yang ditentuka perancang untuk menjamin
kepresisian dan kesamaan bentuk sebuah komponen. Pada kasus tertentu ukuran komponen
diberi tanda khusus seperti . Makna dari simbol angka berkotak adalah bahwa ukuran
tersebut tidak mengena toleransi atau secara teori harus tepat. Ketepatan ukuran akan mudah
dipahami jika saudara memahami pula bagaimana proses pengukuran. Cobalah diskusikan video

50
yang ada di situs https://youtu.be/a1QdrTT_1pY. Apa yang dapat saudara terapkan di gambar
teknik?

Gambar 2.33 Ukuran teoritis tepat dengan toleransi posisi

Gambar 2.34 ukuran teoritis tepat dengan toleransi sudut

51
Tabel 2.9 Contoh penunjukan dan arti dari lambang toleransi

Toleransi Kelurusan (Straightnes Tolerance)


Sumbu silinder harus terletak
didalam daerah toleransi yang
berupa silinder dengan
diameter sebesar 0,08 mm.

Setiap bagian garis dengan


panjang 100 mm yang
membuat suatu permukaan
silinder, seperti yang
ditunjukan oleh tanda panah,
haruslah terletak diantara dua
garis lurus sejajar yang
berjarak 0,1 mm.
Sumbu batang harus terletak
pada daerah toleransi yang
berupa paralelepipedum (balok
segiempat) dengan lebar 0,1
mm pada arah vertikal dan 0,2
mm pada arah horisontal.

Toleransi kerataan (Flatness Tolerace)


Permukaan harus terletak
diantara dua bidang sejajar
yang berjarak 0,03 mm

Toleransi kebulatan (Roundness Tolerance)


Keliling piring (di dekat ujung
berdiameter besar) harus
terletak diantara dua lingkaran
yang sebidang dan sepusat
dengan jarak (beda jari-jari)
sebesar 0,03 mm

Keliling tiap penampang konis


harus terletak diantara dua

52
lingkaran yang sebidang dan
sepusat dengan jarak 0,05 mm

Permukaan yang dimaksudkan


harus terletak diantara dua
silinder yang sesumbu dengan
beda radius sebesar 0,1 mm.

Toleransi kesejajaran (Parallelism Tolerance)


Sumbu lubang diatas harus
terletak didalam silinder
dengan diameter 0,03 mm
yang sejajar dengan sumbu
lubang dibawah (sumbu dasar
A)

Sumbu lubang diatas harus


terletak diantara dua garis lurus
yang terletak pada bidang
mendatar dengan jarak 0,1 mm
yang sejajar dengan sumbu
lubang dibawah (elemen
dasar).

Sumbu lubang diatas harus


terletak didalam
paralelepipedum (balok segi
empat) yang mempunyai lebar
sebesar 0,2 mm pada arah
horisontal dan 0,1 mm pada
arah vertikal, yang sejajar
dengan sumbu lubang dibawah
(elemen dasar).

53
Sumbu lubang harus terletak
diantara dua bidang dengan
jarak 0,01 mm, yang sejajar
dengan bidang dasar.

Sumbu silinder yang


ditunjukkan oleh kotak
toleranasi (silinder bagian atas)
harus terletak pada silinder
dengan diameter 0,06 mm
yang tegak lurus terhadap
bidang dasar A.

Sumbu silinder yang


ditunjukkan oleh kotak
toleranasiharus terletak
diantara dua garis lurus
sejajaryang berjarak 0,1 mm,
yang tegak lurus dengan
bidang dasar (bidang bawah).

Sumbu silinder harus terletak


didalam paralelepipedum 0,1
x0,2 mm, yang tegak lurus
dengan bidang dasar.

Sisi/bidang sebelah kanan


komponen harus terletak
diantara dua bidang sejajar
berjarak 0,08 mm, yang tegak
lurus dengan sumbu silinder.

54
Sisi/bidang tegak komponen
harus terletak diantara dua
bidang sejajar berjarak 0,08
mm, yang tegak lurus dengan
sumbu silinder.

Toleransi Kemiringan/Kesudutan (Angularity Tolerance)


Sumbu lubang harus terletak di
antara dua garis lurus sejajar
berjarak 0,08 mm dan yang
membuat sudut sebesar 60 o
dengan sumbu horizontal A
Catatan Apabila garis yang
diaksud dengan garis acuan
terletak dala satu bidang (tidak
saling berpotongan), daerah
toleransinya dianggap pada
bidang yang melalui garis
acuan dan proyeksi garis yang
dimaksud.
Sumbu lubang lurus terletak di
antara dua garis lurus sejajar
berjarak 0,08 mm dan
membuat sudut sebesar 80 o
dengan bidang dasar A

Bidang miring harus terletak di


antara dua bidang sejajar
berjarak 0,1 mm dan yang
membuat sudut sebesar 75 o
dengan sumbu acuan A.

55
Bidang miring harus terletak di
antara dua bidang sejajar
berjarak 0,08 mm dan
membuat sudut sebesar 40 o
dengan bidang dasar A

Toleransi Posisi (Positional Tolerance)


Sumbu lubang harus terletak
dalam silinder dengan
diameter 0,08 mm yang
mempunyai sumbu dengan
posisi yang benar.

Sumbu lubang harus terletak


dalam pararel Epipedum
dengan lebar 0,05 m dalam
arah horizontal dan 0,2 mm
dalam arah vertikal yang
mempunyai sumbu dengan
posisi yang benar.

Toleransi Kesimetrikan dan Kesamaan Sumbu (Concentricity and Coaxiality Tolerance)


Pusat yang ditunjukan oleh
kotak toleransi (lingkaran luar)
harus terletak pada lingkaran
berdiameter 0,01 mm dan titik
pusatnya berhimpit dengan titik
pusat lingkaran acuan A
(lingkaran dalam)

Sumbu silinder yang ditunjukan


oleh kotak toleransi (silinder
tengah) harus terletak dalam
silinder berdiameter 0,08 mm
dengan sumbu berhimpit
dengan sumbu acuan AB.

56
Sumbu lubang harus terletak di
antara dua bidang sejajar
berjarak 0,08 mm dan simetrik
terhadap bidang tengahnya
alur A dan B (elemen dasar) .

Sumber: Taufik Rochim (2001) Spesifikasi, metrologi dan kontrol kualitas geometrik

57