Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH

“ Mengkaji dan Mendiskusikan Masalah Keperawatan Pada Pasien


dengan Katarak”
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah KMB II

Dosen : Ns. Siti Nuryanti, S.Kep.,M.Pd

Disusun oleh:

DIMAS ARDIANTO P07220116087

DYAN RAHMATUL AFNI P07220116090

FITRIYANA P07220116096

HANIFAH TRI LESTARI P07220116097

HELDA WURI CANDRA NINGTIAS P07220116098

MARIANI P07220116101

MELITA RAMADHANI P07220116104

NENENG SEPTIANI P07220116107

VERA DWI TAMARA P07220116119

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PRODI D-III KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
2018

0
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang “Mengkaji dan Mendiskusikan Masalah Keperawatan pada Pasien dengan
Katarak ”. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita dan beberapa hal yang bersangkutan dengan materi
tersebut. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.

Balikpapan, 22 Agustus 2018

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................1
DAFTAR ISI.................................................................................................................2
BAB I............................................................................................................................3
PENDAHULUAN........................................................................................................3
A.Latar Belakang......................................................................................................3
B.Rumusan Masalah.................................................................................................3
C.Tujuan Penulisan...................................................................................................4
BAB II..........................................................................................................................5
PEMBAHASAN...........................................................................................................5
A.Pengertian.............................................................................................................5
B.Anatomi dan Fisiologi...........................................................................................5
C.Etiologi..................................................................................................................7
D.Faktor Resiko........................................................................................................7
E.Patofisiologi..........................................................................................................8
F.Patogenesis..........................................................................................................11
G.Klasifikasi...........................................................................................................11
H.Manifestasi Klinik...............................................................................................13
I .Penatalaksanaan...................................................................................................13
K.Komplikasi..........................................................................................................17
L.Pencegahan Katarak............................................................................................18
M.Konsep Dasar Asuhan Keperawatan..................................................................19
N.Asuhan Keperawatan Katarak............................................................................37
BAB III.......................................................................................................................52
PENUTUP..................................................................................................................52
A.Kesimpulan.........................................................................................................52
B.Saran....................................................................................................................52
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................53

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Katarak umumnya didefinisakan sebagai kekeruhan lensa. Katarak


sebagian besar timbul pada usia tua. Terkadang hal ini disebut juga sebagai
katarak terkait usia. Apa bila terjadi pada usia 40 tahun tanpa disertai kelainan
lainnya disebut katarak senilis (Ilyas, 2003) (Miller, 2006)
Sembilan puluh lima persen penduduk yang berusia 65 tahun telah
mengalami berbagai tingkatan kekeruhan pada lensa. Sejumlah kecil
berhubungan dengan penyakit mata atau penyakit sistemik spesifik. Dapat
juga terjadi akibat pajanan kumulatif terhadap pengaruh lingkungan dan
pengaruh lainnya seperti merokok, radiasi UV, dan peningkatan kadar gula
darah. Dinegara-negara maju pembedahan katarak dilakukan ketika gejala
penglihatan mengganggu kualitas hidup. (Pavan Debora-Langston, 2005)
(Miller, 2006)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan dan tema yang diangkat maka masalah dapat
dirumuskan sebagai berikut:

1) Apakah yang dimaksud dengan katarak?


2) Bagaimana anatomi dan fisiologi katarak?
3) Bagaimana etiologi dari katarak?
4) Apa saja faktor resiko dari katarak?
5) Bagaimana patofisiologi dari katarak?
6) Bagaimana patogenesis dari katarak??
7) Bagaimana klasifikasi dari katarak?
8) Bagaimana manifestasi klinik dari katarak?
9) Bagaimana penatalaksanaan dari katarak?
10) Apa saja pemeriksaan penunjang dari katarak?
11) Apa saja komplikasi dari katarak?
12) Bagaimana pencegahan dari katarak?
13) Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari katarak?
14) Bagaimana Asuhan Keperawatan dari katarak?

3
C. Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memahami tentang, bagaimana peran


perawat dalam menghadapi pasien dengan masalah keperawatan pada pasien
dengan katarak

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Katarak merupakan kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah
gambaran yang diproyeksikan pada retina.
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-
duanya (Ilyas, 2010)

4
B. Anatomi dan Fisiologi
Mata adalah organ penglihatan. Saraf optikus atau urat saraf kranial kedua adalah
saraf sensorik untuk penglihatan. Saraf ini timbul dari sel-sel ganglion dalam retina
yang bergabung membentuk saraf optikus. Saraf ini bergerak ke belakang secara
medial dan melintasi kanalis optikus memasuki rongga kranium, lantas menuju
kiasma optikum. Saraf penglihatan memiliki 3 pembungkus yang serupa dengan
meningen otak. Lapisan luarnya kuat dan fibrus serta bergabung dengan skelera.
Lapisan tengah halus seperti araknoid, sementara lapisan dalam adalah vakuler
(mengandung banyak pembuluh darah). Pada saat serabut-serabut itu mencapai
kiasma optikum, separuh serabut-serabut itu akan menuju ke traktus optikus sisi
seberangnya, sementara separuhnya lagi menuju traktus optikus sisi yang sama.
Dengan perantaraan serabut-serabut ini, setiap serabut nervus optikus dihubungkan
dengan kedua sisi otak.
Pusat visual terletak pada korteks lobus oksipitalis otak. Bola mata adalah organ
penglihat. Struktur yang berhubungan dilindungi dan dilingkupi dalam tulang
berongga bulat dianamakan orbita, serta dilindungi sejumla struktur, seperti kelopak
mata,alis, konjungtiva, dan alat-alat lakrimal (aparatu lakrimalis). Bola mata yang
menempati bagian kecil dari orbita, dilindungi dan dialasi oleh lemak yang terletak di
belakang bola mata. Saraf dan pembuluh darah yang mensuplai nutrisi dan
mentransmisikan impuls ke otak juga dalam orbita.
Orbita merupakan rongga berpotensi untuk terkumpulnya cairan, darah, dan
udara karena letak anatominya yang dekat dengan sinus dan pembuluh darah.
Pendesakan komponen lain ke lengkungan orbita dapat menyebabkan pergseran,
penekanan, atau protusi bola mata dan struktur di sekitarnya. Meskipun ada
perbedaan individual pada mata tiap orang, biasanya ukuran dan posisinya mendekati
semetris. Bagian - bagian biji mata mulai dari depan hingga belakang :
1. Kornea, merupakan bagian depan yang transparan dan bersambung dengan skelera
yang putih dan tidak tembus cahaya, kornea terdiri atas berberapa lapisan. Lapisan
tepi adalah epitelium berlapis yang bersambung dengan konjungtiva.
2. Bilik anterior ( kamera okuli anterior),yang terletak antara kornea dan iris.
3. Iris adalah tirai berwarna di depan lensa yang bersambung dengan selaput koroid.
Iris berisi 2 kelopak serabut otot tak sadar atau otot polos-kelompok yang satu
mengecilkan ukuran pupil, sementara kelompok yang lain melebarkan ukuran pupil
itu.
5
4. Pupil, bintik tengah yang berwarna hitam, yang merupakan celah dalam iris,
tempat cahaya yang masuk guna mencapai retina.
5. Bilik posterior( kamera okuli posterior) terletak di antara iris dan lensa. Bilik
kanan. Baik bilik anterior maupun bilik anterior maupun bilik posterior diisi dengan
akueus humor.
6. Akueus humor. Cairan ini berasal dari korpus siliare dan diserap kembali ke dalam
aliran darah pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal
sebagai saluran schlemm.
7. Lensa adalah sebuah benda transparan bikonveks(cembung depan belakang) yang
terdiri atas berberapa lapisan. Lensa terletak peris di belakang iris. Membran yang
dikenal sebagai ligamentum suspesorium terdapat di depan maupun dibelakang lensa
itu, yang berfungsi mengaitkan lensa itu pada korpus siliare. Bila legamentum
suspensorium mengendur, lensa mengerut dan menebal, sebaliknya bila ligamen
mengendurnya lensa dikendalikan kontraksi otot siliare.
8. Vitreus humor. Darah sebelah belakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina,
diisi cairan penuh albumen berwarna keputih-putihan seprti agar-agar yaitu vitreus
humor. Vitreus humor berfungsi memberi bentuk dan kekokohan pada mata, serta
mempertahankan hubungan antara retina dan selaput koroid dan sklerotik.

C. Etiologi
Penyebab utama katarak adalah proses penuaan.anak dapatt menderita katarak
yang biasanya merupakkan penyakit yang diturunkan,peradangan didalam
kehamilan.keadaan ini disebut sebagai katarak kongengital.
Penyebab katarak lainnya adalah:
 Faktor keturunan
 Cacat bawaan sejak lahir

 Masalah kesehatan,missal diabetes

 Penggunaan obat tertentu,khususnya steroid

 Gangguan metabolisme seperti DM

 Gangguan pertumbuhan

 Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam jangka waktu lama
6
 Rokok dan alcohol

 Operasi mata sebelumnya

 Trauma pada mata

 Dan factor factor lain yang belum diketahui

D. Faktor Resiko
Katarak adalah penyakit degeneratif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik
internal maupun eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antara lain adalah umur
dan jenis kelamin sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh adalah pekerjaan dan
pendidikan yang berdampak langsung pada status sosial ekonomi dan status
kesehatan seseorang, serta faktor lingkungan, yang dalam hubungannya dalam
paparan sinat Ultraviolet yang berasal dari sinar matahari (Sirlan F, 2000)

Usia
Proses normal ketuaan mengakibatkan lensa menjadi keras dan keruh. Dengan
meningkatnya umur, maka ukuran lensa akan bertambah dengan timbulnya serat-
serat lensa yang baru. Seiring bertambahnya usia, lensa berkurang kebeningannya,
keadaan ini akan berkembang dengan bertambahnya berat katarak. .Prevalensi
katarak meningkat tiga sampai empat kali pada pasien berusia >65 tahun (Pollreisz
dan Schmidt, 2010).

Jenis Kelamin
Usia harapan hidup wanita lebih lama dibandingkan oleh laki-laki, ini
diindikasikan sebagai faktor resiko katarak dimana perempuan penderita katarak
lebih banyak dibandingkan laki-laki (WHO, 2012)

Riwayat Penyakit
Diabetes Melitus (DM) dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks
refraksi, dan kemampuan akomodasi. Meningkatnya kadar gula darah, juga akan
meningkatkan kadar gula di aqueous humor. Glukosa dari aqueous akan masuk ke
lensa melalui difusi dimana sebagian dari glukosa ini diubah menjadi sorbitol oleh
enzim aldose reduktase melalui jalur poliol, yang tidak dimetabolisme dan tetap
7
tinggal di lensa. Telah terbukti bahwa akumulasi intraselular sorbitol menyebabkan
perubahan osmotic sehingga air masuk ke lensa, yang akan mengakibatkan
pembengkakkan serabut lensa. Penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa
akumulasi poliol intraseluler menyebabkan kolaps dan likuifaksi(pencairan) serabut
lensa, yang akhirnya terjadi pembentukan kekeruhan pada lensa. (Pollreisz dan
Schmidt, 2010)

E. Patofisiologi
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk
memfokuskan cahaya yang datang dari jauh. Otot otot siliaris relaksasi,menegangkan
serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang
terkecil.dalam posisi ini daya refraksi lensa diperkecil shg berkas cahaya pararel
akan terfokus keretina untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat Otot siliaris
berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang.kapsul lensa yang elastic.
Kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya
biasnya kerja sama fisiologik antara korpus sillaris,zonula,dan lensa untuk
memfokuskan benda dekat keretina dissebut sebagai akomodasi,seiring dengan
pertambahan usia,kemampuan dalam refraksi lensa perlahan lahan akan
berkurang,disebabkan karena perubaahan kimia dalam protein lensa shg terjadi
koagulasi yang mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya
keretina.
Lensa mata yang normal maka akan transparan dan mengandung banyak
air,sehingga cahaya dapat menembusnya dengan mudah.tapi setelah mengalami
gangguan maka lensa akan mengalami kekeruhan,distorsi,dislokasi,dan
anomaligeometri.pada orang yang mengalami lensa katarak memiliki cirri berupa
edema lensa,perubahan protein,peningkatan proliferrasi,dan kerusakan kontinuitas
normal serat serat lensa.secara umum edema lensa berfariasi sesuai stadium
perkembangan katarak.
Katarak immature (insipien)hanya sedikit opak. Katarak mature yang keruh
total mengalami sedikit edema. Apabila kandungan air maksimum dan kapsul lensa
terekam katarak disebut mengalami intumesensi (membengkak). Katarak
hipermature,air telah keluar dari lensa dan meninggalkan lensa yang sangat
keruh,relative mengalami dehidrasi dengan kapsul berkeriput. Secara kimiawi
8
pembentukan katarak dapat disebabkan oleh penurunan penyerapan oksigen dan
mula mula terjadi peningkatan kandungan air diikuti oleh dehidrasi.
Kandungan natrium dan kalsium meningkat,kandungan kalium, asam askorbat
dan protein berkurang.pada lensa yang mengalami katarak juga tidak ditemukan
glutation. Peningkatan kandungan air akan mematahkan serabut lensa yang tegang &
menggangu transmisi sinar. Protein yang berkurang dapat merusak dan menggumpal
sehingga membentuk endapan yang menghalangi masuknya cahaya ke retina mata.

9
F. Patogenesis
Katarak senilis adalah penyebab utama gangguan penglihatan pada orang tua.
Patogenesis katarak senilis bersifat multifaktorial dan belum sepenuhnya dimengerti.
Walaupun sel lensa terus bertumbuh sepanjang hidup, tidak ada sel-sel yang dibuang.
Seiring dengan bertambahnya usia, lensa bertambah berat dan tebal sehingga
kemampuan akomodasinya menurun. Saat lapisan baru dari serabut korteks terbentuk
secara konsentris, sel-sel tua menumpuk ke ararh tengah sehingga nukleus lensa
mengalami penekanan dan pengerasan (sklerosis nuklear).
Crystallin (protein lensa) mengalami modifikasi dan agregasi kimia menjadi high-
molecular-weight-protein. Agregasi protein ini menyebabkan fluktuasi mendadak
pada index refraksi lensa, penyebaran sinar cahaya, dan penurunan transparansi.
Perubahan kimia protein lensa nuklear ini juga menghasilkan pigmentasi yang
progresif sehingga seiring berjalannya usia lensa menjadibercorak kuning kecoklatan
sehingga lensa yang seharusnya jernih tidak bisa menghantarkan dan memfokuskan
cahaya ke retina. Selain itu, terjadi penurunan konsentrasi Glutathione dan Kalium
diikuti meningkatnya konsentrasi Glutathione dan Kalium diikuti meningkatnya
konsentrasi Natrium dan Kalsium.

G. Klasifikasi
Ada beberapa jenis klasifikasi yang telah sering digunakan untuk menilai katarak,
misalnya berdasarkan usia timbulnya katarak disebut sebagai: (Skuta,GL. et al.
2010)
1. Katarak kongenital yaitu katarak yang terjadi pada usia dibawah 1 tahun
2. Katarak juvenil yaitu katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
3. Katarak senilis yaitu katarak yang terjadi setelah usia 40 tahun

10
Ada yang membagi berdasarkan kekeruhan lensa yaitu katarak imatur atau matur,
dan pembagian berdasarkan letak kekeruhan lensa yaitu katarak kortikalis, katarak
subkapsularis posterior atau anterior, katarak nuclearis.
Klasifikasi katarak seperti dikemukakan oleh buratto dan kawan-kawan. Buratto
membagi densitas kekerasan lensa menjadi 5 jenis ; dimana grade 1 adalah katarak
yang paling lunak dan grade 5 adalah katarak yang sangat keras.
Klasifikasi katarak menurut burrato adalah sebagai berikut : (Soekardi I. et al. 2005).
· Grade 1 : Nukleus lunak.
Pada katarak grade 1 biasanya visus masih lebih baik dari 6/12, tampak sedikit keruh
dengan warna agak keputihan. Refleks fundus juga masih dengan mudah diperoleh
dan usia penderita juga biasanya kurang dari 50 tahun.
· Grade 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan.
Pada katarak jenis ini tampak nukleus mulai sedikit berwarna kekuningan, visus
biasanya antara 6/12 sampai 6/30. Reflek fundus juga masih mudah diperoleh dan
katarak jenis ini paling sering memberikan gambaran katarak subkapsularis posterior.
· Grade 3 : Nukleus dengan kekerasan medium.
Katarak ini paling sering ditemukan dimana nukleus tampak berwarna kuning
disertai dengan kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. Visus biasanya
antara 3/60 sampai 6/30 dan bergantung juga dari usia pasien. Semakin tua pasien
tersebut maka semakin keras nukleusnya.
· Grade 4 : Nukleus keras.
Pada katarak ini warna nukleus sudah berwarna kuning kecoklatan, dimana usia
penderita biasanya sudah lebih dari 65 tahun. Visus biasanya antara 3/60 sampai
1/60, dimana reflek fundus maupun keadaan fundus sudah sulit dinilai.
· Grade 5 : Nukleus sangat keras.
Pada katarak ini nukleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada yang sampai
berwarna agak kehitaman. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan usia
penderita sudah di atas 65 tahun. Katarak ini sangat keras dan disebut juga
brumescent cataract atau black kataract.

11
H. Manifestasi Klinik
Biasanya gejala berupa keluhan penurunan tajam penglihatan secara progresif
(seperti rabun jauh memburuk secara progresif).penglihatan seakan akan melihat
asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.pada akhirnya apabila katarak
telah matang pupil akan tampak benar benar putih,sehingga reflek cahaya pada mata
menjadi negative (-).
Bla katarak dibiarkan mata akan mengganggu penglihatan dan akan dapat
menimbulkan komplikasi berupa Glaukoma dan Uveitis.
Gejala umum gangguan katarak meliputi:
 Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabutt menghalangi objek
 Peka terhaadap sinar atau cahaya

 Dapat melihat dobel pada satu mata

 Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca

 Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu

 Penglihatan buram atau berkabut,bahkan sampai tidak bisa melihat

 Padaa keadaan terang mata terasa silau

I . Penatalaksanaan
1. Secara Medis
Solusi untuk menyembuhkan penyakit katarak secara medis umumnya dengan
jalan operasi.penilaian bedah didasarkan pada lokasi,ukuran dan kepadatan
katarak.Katarak akan dibedah bila sudah terlalu luas mengenai bagian dari lensa
mata atau katarak total.Lapisan mata diangkat dan diganti lensa buatan(lensa
intraokuler).pembedahan katarak bertujuan untuk mengeluarkan lensa yang
keruh.Lensa dapat dikeluarkan dengan pinset atau batang kecil yang
dibekukan.kadang kadang dilakukan dengan menghancurkan lensa dan mengisap
keluar.Adapun tekhnik yang digunakan pada operasi katarak adalah :
a. Fakoemulsifikasi

12
Merupakan teknologi terkini,hanya dengan melakukan sayatan (3mm) pada
kornea. Getaran ultrasonic pada alat fakoemulsifikasi dipergunakan untuk
mengambil lensa yang mengalami katarak,lalu kemudian diganti dengan lensa tanam
permanent yang dapat dilipat. Luka hasil sayatan pada kornea kadang tidak
memerlukan penjahitan, shg pemulihan penglihatan segera dapat dirasakan. Teknik
fakoemulsifikasi memakan waktu 20-30 menit dan hanya memerlukan pembiusan
topical atau tetes mata selama operasi.
b. Ekstra kapsuler
Dengan teknik ini diperlukan sayatan kornea lebih panjang, agar dapat
mengeluarkan inti lensa sec utuh, kemudian sisa lensa dilakukan aspirasi. Lensa mata
yang telah diambil digantikan dengan lensa tanam permanent. Diakhiri dengan
menutup luka dengan beberapa jahitan.
Ø Ekstra Capsular Catarak Ekstraktie(ECCE)
Korteks dan nucleus diangkat, kapsul posterior ditinggalkan untuk mencegah prolaps
vitreus, melindungi retina dari sinar ultraviolet dan memberikan sokongan untuk
implantasi lensa intra okuler.
Ø Intra Capsular Catarak Ekstraktie(ICCE)
Lensa diangkat seluruhnya
Keuntungannya prosedur mudah dilakukan
Kerugiannya mata berisiko mengalami retinal detachment (lepasnya retina )
2. Terapi
Obat tetes mata dapat digunakan sebagai terapi pengobatan. Ini dapat diberikan
pada pasien dengan katarak yang belum begitu keparahan. Senyawa aktif dalam obat
tetes mata dari keben yang bertanggung jawab terhadap penyembuhan penyakit
katarak adalah saponin. Saponin ini memiliki efek meningkatkan aktifitas
proteasome yaitu protein yang mampu mendegradasi berbagai jenis protein menjadi
polipeptida pendek dan asam amino. Karena aktivitas inilah lapisan protein yang
menutupi lensa mata penderita katarak secara bertahap “diicuci” shg lepas dari lensa
dan keluar dari mata berupa cairan kental berwarna putih kekuningan.

13
Operasi katarak merupakan operasi mata yang sering dilakukan diseluruh dunia,
karena merupakan modalitas utama terapi katarak. Tujuan dilakukan operasi katarak
adalah perbaikan tajam penglihatan sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien
(Purnaningrum, 2014).
Adapun indikasi pembedahan terhadap katarak adalah: (Kanski JJ. 2007)
1. Memperbaiki penglihatan.
Ini merupakan indikasi yang paling umum dilakukannya operasi katarak,
walaupun tingkat kebutuhannya bervariasi pada setiap orang. Operasi merupakan
satu-satunya cara untuk memperbaiki penglihatan jika katarak sudah
menyebabkan gangguan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
2. Indikasi medikal
Dilakukan jika katarak sudah mempengaruhi kesehatan mata, contohnya :
glaukoma fakolitik dan glaukoma fakomorfik. Operasi katarak untuk
memperbaiki kejernihan media okular juga di butuhkan agar dapat mengetahui
keadaan patologis melalui funduscopy, seperti retinopaty diabetic yang
membutuhkan monitoring dan pengobatan.
3. Kosmetik
Kosmetik merupakan indikasi yang jarang. Hal ini ditujukan untuk
mengembalikan warna pupil menjadi hitam.
Teknologi pembedahan katarak telah berkembang dengan cepat, pemilihan
terhadap pembedahan tergantung dari berbagai faktor; ada beberapa jenis
pembedaahan katarak: (Skuta,GL. 2010), (Timothy L.Jackson. 2008)
1. Intra Capsular Catarac Extraction (ICCE)
Merupakan tehnik bedah yang digunakan sebelum adanya bedah katarak
ekstracapsular.Seluruh lensa bersama dengan pembungkus atau kapsulnya
dikeluarkan. Diperluka sayatan yang cukup luas dan jahitan yang banyak (14-15
mm). Prosedur tersebut relatif beresiko tinggi disebabkan oleh insisi yang lebar
dan tekanan pada badan vitreus. Metode ini sekarang sudah ditinggalkan.
Kerugian dari Ekstraksi Katarak Intra capsular (EKIK); Anggka kejadian cystoid
macular edema dan retinal detachmet setelah operasi lebih tinggi, Insisi yang
sangat lebar dan astigmatisma yang tinggi. Resiko kehilangan vitreus selama

14
operasi sangat besar. Lebih sering terjadi kompikasi terhadap iol, khususnya
dalam jangka waktu lama.

2. Ekstra Capsular Catarac Ekstraction (ECCE).


Merupakan tehnik operasi katara dengan melakukan pengangkatan nucleus lensa
dan cortex melalui pembukaan kapsul anterior yang lebar; 9-10mm, dan
meninggalkan kapsul posterior. Tehnik ini mempunyai kelebihan dibanding
EKIK yaitu kapsul posterior akan utuh secara anatomi sehingga baik untuk
fiksasi IOL dan menghambat atau mencegah bakteri masuk ke korpus vitreus dan
mencegah terjadinya endoftalmitis. Kerugian dari Ekstraksi Katarak Ekstra
Kapsular (EKEK) ;Membutuhkan mikroskop dengan penyesuaian, Penebalan
kapsul posterior setelah operasi dapat terjadi, Lebih sering terjadi udem kornea,
uveitis setelah operasi.
3. Small incision catarac surgery (Sics).
Pada Teknik Small Incision Cataract Surgery insisi dilakukan di skleral sekitar
5.5 mm – 7.0 mm. Keuntungan konstruksi irisan pada sklera kedap air sehingga
membuat katup dan isi bola mata tidak prolaps keluar. Dan karena incisi yang
dibuat ukurannya lebih kecil dan lebih posterior, kurvatura kornea hanya sedikit
berubah. (Soekardi I. et al. 2005)
4. Phacoemulsification.
Merupakan salah satu tehnik ekstraksi katarak ekstrakapsuler yang berbeda
dengan ekstraksi katarak katarak ekstrakapsular standar (dengan ekspresi dan
pengangkatan nukleus yang lebar). Sedangkan fakoemulsifikasi menggunakan
insis kecil, fragmentasi nukleus secara ultrasonik dan aspirasi kortek lensa
dengan menggunakan alat fakoemulsifikasi. Secara teori operasi katarak dengan
fakoemulsifikasi mengalami perkembanagn yang cepat dan telah mencapai taraf
bedah refraktif oleh karena mempunyai beberapa kelebihan yaitu rehabilitasi
visus yang cepat, komplikasi setelah operasi yang ringan, astigmat akibat operasi
yang minimal dan penyembuhan luka yang cepat.

J . Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan Fisik

15
Fokus utama pada pemeriksaan mata. Ketika pelebaran pupil, akan dapat
ditemukan gambaran kekeruhan lensa berbentuk berkas putih. Pasien akan
mengeluh adanya diplopia (pandangan berkabut).
 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan visus untuk mengetahui batas penglihatan pasien. Dapat juga
dilakukan pemeriksaan lapang pandang.
 Retinometri
Tes yang dilakukan untuk mengetaahui apakah penglihatan yang turun itu
disebabkan katarak atau tidak.
 Oftalmoskopis
Yaitu dengan melihat refleks merah didalam manik mata atau pupil. Apabila
tidak ada katarak maka akan terlihat reflek merah padda pupil yang
merupakan reflek retina yang terlihat melalui pupil. Bila terdapat katarak atau
kekeruhan padat pada pupil maka refleks merah ini tidak akan terlihat.

K . Komplikasi
Komplikasi pembedahan katarak dapat terjadi pada waktu yang berbeda,
terbagi dari ; pada saat operasi, dan setelah operasi. Oleh karena itu perlu
untuk mengevaluasi pasien post operasi katarak selama 1 hari, 1 minggu, 1
bulan dan 3 bulan. (Soekardi I. et al. 2005)
Komplikasi awal pembedahan adalah setiap kejadian klinis yang terjadi
baik selama operasi maupun 48 jam setelah operasi. Komplikasi lanjut adalah
setiap kejadian klinis yang terjadi dalam 4-6 minggu setelah operasi. (Skuta
GL. et al. 2010).

Ada juga komplikasi lain yang ditimbulkan:


1. Glaukoma, Kelainan yang diakibatkan oleh peningkatan tekanan intra
okuler didalam bola mata, sehingga lapang pandang mengalami gangguan
dan visus mata menurun.
2. Kerusakan retina, Kerusakan retina ini terjadi terjadi setelah pascah
bedah, akibat ada robekan pada retina, cairan masuk ke belakang dan

16
mendorong retina atau terjadi penimbunan eksudat dibawah retina
sehingga terangkat.
3. Infeksi, Ini bisa terjadi setelah pasca bedah karena kurangnya perawatan
yang tidak edekuat (Andra 2013, h. 67).

L. Pencegahan Katarak
a.Mengontrol penyakit yang berhubungan dengan katarak dan menghindari
faktor faktor yang mempercepat terbentuknya katarak.
b.Menggunakan kaca mata hitam ketika berada di luar ruangan pada siang
hari bisa mengurangi jumlah sinar ultraviolet yang masuk ke dalam mata.
c.Berhenti merokok bisa mengurangi resiko terjadinya katarak.
d.Mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vit C, vit A dan vit
E

M. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Anamnesa
Anamnesa yang dapat dilakukan pada klien dengan katarak adalah :
1) Identitas / Data demografi

17
Berisi nama, usia (Katarak bisa terjadi pada semua umur tetapi pada umumnya pada
usia lanjut dan Pada pasien dengan katarak konginetal biasanya sudah terlihat pada
usia di bawah 1 tahun, sedangakan pasien dengan katarak juvenile terjadi pada usia <
40 tahun, pasien dengan katarak presenil terjadi pada usia sesudah 30-40 tahun, dan
pasien dengan katark senilis terjadi pada usia > 40 tahun), jenis kelamin, pekerjaan
yang sering terpapar sinar matahari secara langsung atau Pada pekerjaan
laboratorium atau yang berhubungan dengan bahan kimia atau terpapar
radioaktif/sinar-X, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan
keluarga, dan keterangan lain mengenai identitas pasien.

2) Riwayat penyakit sekarang


Keluhan utama pasien katarak biasanya antara lain :
- Penurunan ketajaman penglihatan secara progresif (gejala utama katarak).
-Mata tidak merasa sakit, gatal atau merah.
- Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film.
- Perubahan daya lihat warna.
- Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat menyilaukan
mata.
- Lampu dan matahari sangat mengganggu.
- Sering meminta ganti resep kaca mata.
- Lihat ganda.
-Baik melihat dekat pada pasien rabun dekat (hipermetropia).
- Gejala lain juga dapat terjadi pada kelainan mata lain.

3) Riwayat penyakit dahulu


Adanya riwayat penyakit sistemik yang dimiliki oleh pasien seperti :
- DM
- Hipertensi
- Pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko
katarak.

4) Aktifitas istirahat
Gejala yang terjadi pada aktifitas istirahat yakni perubahan aktifitas biasanya atau
hobi yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.

5) Neurosensori
Gejala yang terjadi pada neurosensori adalah gangguan penglihatan kabur/tidak jelas,
sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer,
kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat atau merasa di ruang gelap. Penglihatan
berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi di sekitar sinar, perubahan kaca

18
mata, pengobatan tidak memperbaiki penglihatan, fotophobia (glukoma akut). Gejala
tersebut ditandai dengan mata tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil
(katarak), pupil menyempit dan merah atau mata keras dan kornea berawan (glukoma
berat dan peningkatan air mata)

6) Nyeri/kenyamanan
Gejalanya yaitu ketidaknyamanan ringan/atau mata berair. Nyeri tiba-tiba/berat
menetap atau tekanan pada atau sekitar mata, dan sakit kepala.

7) Pembelajaran/pengajaran
Pada pengkajian klien dengan gangguan mata (katarak) kaji riwayat keluarga apakah
ada riwayat diabetes atau gangguan sistem vaskuler, kaji riwayat stress, alergi,
gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena, ketidakseimbangan endokrin
dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid / toksisitas fenotiazin.

b. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Dalam inspeksi, bagian-bagian mata yang perlu di amati adalah dengan
melihat lensa mata melalui senter tangan (penlight), kaca pembesar, slit lamp, dan
oftalmoskop sebaiknya dengan pupil berdilatasi. Dengan penyinaran miring (45
derajat dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar
pinggir iris pada lensa yang keruh (iris shadow). Bila letak bayangan jauh dan besar
berarti kataraknya imatur, sedang bayangan kecil dan dekat dengan pupil terjadi pada
katarak matur.

c. Pemeriksaan Diagnostik
1) Kartu mata Snellen/mesin telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan): mungkin terganggu dengan kerusakan lensa, system saraf atau
penglihatan ke retina ayau jalan optic.
2) Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi
lempeng optic, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisme.
3) Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukkan anemi sistemik/infeksi.

19
4) EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: dilakukan untuk memastikan
aterosklerosis.
5) Tes toleransi glukosa / FBS : menentukan adanya/ control diabetes.

2. Diagnosa Keperawatan
A. Pre Operatif
1)Gangguan sensori-perseptual: penglihatan b/d gangguan penerima sensori/status
organ indera, lingkungan secara terapeutik dibatasi.
2)Resiko cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan-
kehilangan vitreus, pandangan kabur
3)Kecemasan b/d kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan
pembedahan

B. Post Operatif
1) Nyeri akut berhubungan dengan trauma insisi
2) Gangguan persepsi sensori- perceptual penglihatan berhubungan dengan fungsi
mata terpasang bebat
3) Kurang pengetahuan berhubungan dengan prognosis, pengobatan, kurang
terpajan informasi, keterbatasan kognitif.
4) Risiko tinggi terhadap infeksi b/d prosedur invasif (bedah pengangkatan katarak).

20
C. Intervensi
A. Pre-Operatif
No. Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Dx
1 Setelah dilakukan asuhan Mandiri Mandiri
keperawatan selama 3x24jam Kaji ketajaman peng- Kebutuhan tiap individu
diharapkan dapat lihatan, catat apakah dan pilihan intervensi
meningkatkan ketajaman satu atau dua mata bervariasi sebab
penglihatan dalam batas situasi terlibat. kehilangan penglihatan
individu dengan Kriteria Hasil : terjadi lambat dan
 Mengenal gangguan sensori progresif.
dan berkompensasi terhadap Memberikan
perubahan. peningkatan
 Mengidentifikasi/memperbaiki Orientasikan klien
kenyamanan dan
potensial bahaya dalam tehadap lingkungan.
kekeluargaan, menurun-
lingkungan.
kan cemas dan
disorientasi pasca
operasi.

Terbangun dalam
Observasi tanda-tanda
lingkungan yang tidak di
disorientasi.
kenal dan mengalami
keterbatasan
penglihatan dapat
mengakibatkan
kebingungan terhadap
orang tua .

Memberikan rangsang
Pendekatan dari sisi
sensori tepat terhadap
yang tak dioperasi,
isolasi dan menurunkan
bicara dengan
bingung.

21
menyentuh.
Perubahan ketajaman
dan kedalaman persepsi
I Ingatkan klien
dapat menyebabkan
menggunakan
bingung penglihatan
kacamata katarak
dan meningkatkan
yang tujuannya
resiko cedera sampai
memperbesar kurang
pasien belajar untuk
lebih 25 persen,
mengkompensasi.
penglihatan perifer
hilang dan buta titik Memungkinkan pasien
mungkin ada. melihat objek lebih
mudah dan
Letakkan barang yang
memudahkan panggilan
dibutuhkan/posisi bel
untuk pertolongan bila
pemanggil dalam
diperlukan.
jangkauan/posisi yang
tidak dioperasi.

22
2 Setelah dilakukan asuhan Mandiri: Mandiri:
keperawatan selama 3x24jam
1) Diskusikan apa yang Membantu mengurangi
diharapkan tidak terjadi cedera terjadi pada rasa takut dan
dengan criteria hasil: pascaoperasi tentang meningkatkan kerja
 Menyatakan pemahaman faktor
nyeri, pembatasan sama dalam
yang terlibat dalam aktivitas, penampilan, pembatasan yang
kemungkinan cedera. balutan mata. diperlukan.
 Mengubah lingkungan sesuai2)
indikasi untuk meningkatkan Beri pasien posisi
Menurunkan tekanan
keamanan. bersandar, kepala
pada mata yang sakit,
tinggi, atau miring ke
meminimalkan risiko
sisi yang tak sakit
perdarahan atau stress
sesuai keinginan.
pada jahitan/jahitan
terbuka.

3) Batasi aktivitas seperti Menurunkan stress


menggerakkan kepala pada area
tiba-tiba, menggaruk operasi/menurunkan
mata, membongkok. TIO.
4)
5) Ambulasi dengan
bantuan; berikan
Memerlukan sedikit
kamar mandi khusus
regangan daripada
bila sembuh dengan
penggunaan pispot,
anastesi.
6) yang dapat
Anjurkan
meningkatkan TIO.
menggunakan teknik
Meningkatkan relaksasi
manajemen stres
dan koping,
contoh, bimbingan
menurunkan TIO.
imajinasi, visualisasi,
nafas dalam, dan
latihan relaksasi.

Pertahankan

23
perlindungan mata 7) Digunakan untuk
sesuai indikasi. melindungi dari cedera
kecelakaan dan
menurunkan gerakan
mata.
8)
Menunjukkan prolaps
Observasi
iris atau rupture luka
pembekakan luka,
disebabkan oleh
bilik anterior kempis,
kerusakan jahitan atau
pupil berbentuk buah
tekanan mata.
pir.

Kolaborasi:
Mual/muntah dapat
Kolaborasi:
meningkatkan TIO.
Berikan obat sesuai
Memerlukan tindakan
indikasi:
segera untuk mencegah
Antiemetic, contoh
cedera okuler.
proklorperazin
Diberikan untuk
(Compazine),
menurunkan TIO bila
Asetazolamid
terjadi peningkatan.
Membatasi kerja enzim
pada produksi akueus
humor

24
3 Setelah dilakukan asuhan Kaji tingkat Derajat kecemasan akan
keperawatan 2x24 jam kecemasan pasien dipengaruhi bagaimana
diaharapkan kecemasan px dan catat adanya informasi tersebut
berkurang dengan criteria hasil: tanda- tanda verbal diterima oleh individu.
 Pasien mengungkapkan dan
dan nonverbal.
Mengungkapkan rasa
mendiskusikan rasa
takut secara terbuka
cemas/takutnya. Beri kesempatan
 Pasien tampak rileks tidak dimana rasa takut dapat
pasien untuk
tegang dan melaporkan ditujukan.
mengungkapkan isi
kecemasannya berkurang
pikiran dan perasaan
sampai pada tingkat dapat
takutnya. Mengetahui respon
diatasi.
 Pasien dapat mengungkapkan Observasi tanda vital fisiologis yang
pemahaman mengenai ditimbulkan akibat
dan peningkatan
informasi pembedahan yang kecemasan.
respon fisik pasien.
diterima. Meningkatkan
Beri penjelasan pasien
pengetahuan pasien
tentang prosedur
dalam rangka
tindakan operasi,
mengurangi kecemasan
harapan dan
dan kooperatif.
akibatnya.

Mengurangi kecemasan
Beri penjelasan dan dan meningkatkan
suport pada pasien pengetahuan.
pada setiap
melakukan prosedur Mengurangi perasaan
tindakan takut dan cemas.

Lakukan orientasi dan


perkenalan pasien
terhadap ruangan,
petugas, dan
peralatan yang akan
digunakan.

25
B. Post Operatif
No. Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Dx
1 Setelah diberikan asuhan Kaji tngkat nyeri pasien Skala nyeri yang tinggi
keperawatan selama 3 x 24 dengan menggunakan dan disertai
jam diharapkan nyeri pasien skala nyeri dan peningkatan nadi dapat
dapat berkurang / hilang pengukuran TTV menggambarkan tingkat
Kriteria hasil :
nyeri yang di rasakan
klien dapat mengontrol
oleh pasien
nyerinya
Mengurangi edema
Skala nyeri 0 (0-10)
Berikan kompres dingin
akan mengurangi nyeri
sesuai dengan
permintaan untuk
trauma tumpul Cahaya yang kuat
menyebabkan rasa tak
Kurangi tingkat
nyaman
pencahayaan
Pemakaian sesuai
Berikan obat untuk resep akan mengurangi
mengontrol nyeri dan nyeri dan TIO
TIO sesuai dengan
resep

2 Setelah dilakukan asuhan Mandiri Mandiri


keperawatan selama 3x24jam Kaji ketajaman peng- Kebutuhan tiap individu
diharapkan dapat lihatan, catat apakah dan pilihan intervensi
meningkatkan ketajaman satu atau dua mata bervariasi sebab
penglihatan dalam batas situasi terlibat. kehilangan penglihatan
individu dengan Kriteria Hasil : terjadi lambat dan
 Mengenal gangguan sensori Orientasikan klien progresif.
Memberikan
dan berkompensasi terhadap tehadap lingkungan.
peningkatan
perubahan.
 Mengidentifikasi/memperbaiki kenyamanan dan
potensial bahaya dalam kekeluargaan,

26
lingkungan. Observasi tanda-tanda menurun-kan cemas
disorientasi. dan disorientasi pasca
operasi.

Terbangun dalam
lingkungan yang tidak di
kenal dan mengalami
Pendekatan dari sisi keterbatasan
yang tak dioperasi, penglihatan dapat
bicara dengan mengakibatkan
menyentuh. kebingungan terhadap
orang tua .
Ingatkan klien
menggunakan
Memberikan rangsang
kacamata katarak yang
sensori tepat terhadap
tujuannya
isolasi dan menurunkan
memperbesar kurang
bingung.
lebih 25 persen,
penglihatan perifer Perubahan ketajaman
hilang dan buta titik dan kedalaman
mungkin ada. persepsi dapat
menyebabkan bingung
Letakkan barang yang
dibutuhkan/posisi bel penglihatan dan
pemanggil dalam
meningkatkan resiko
jangkauan/posisi yang
tidak dioperasi. cedera sampai pasien
belajar untuk
mengkompensasi.

Memungkinkan pasien
melihat objek lebih
mudah dan
memudahkan panggilan
untuk pertolongan bila
diperlukan.
3 Setelah dilakukan asuhan Mandiri : Mandiri:
Meningkatkan
keperawatan selama 3x24jam Kaji informasi tentang

27
diharapkan pengetahuan px kondisi, prognosis, tipe pemahaman dan
bertambah dengan criteria prosedur/lensa. meningkatkan kerja
hasil: sama dengan program
 Menyatakan pemahaman
pasca operasi.
kondisi/proses penyakit dan Pengawasan periodik
Tekankan pentingnya
pengobatan. menurunkan resiko
evaluasi perawatan
Melakukan dengan prosedur komplikasi serius. Pada
rutin. Beritahu untuk
benar dan menjelaskan alasan beberapa pasien kapsul
melaporkan
tindakan. posterior dapat menebal
penglihatan berawan.
atau menjadi berkabut
dalam dua minggu
sampai beberapa tahun
pasca operaasi,
memerlukan terapi laser
untuk memperbaiki
defisit penglihatan.
Dapat bereaksi
silang/campur dengan
obat yang diberikan.
Informasikan pasien
Penggunaan obat mata
untuk menghindari
topikal, contoh agen
tetes mata yang dijual
simpatomimetik,
bebas.
Diskusikan penyekat beta, dan
kemungkinan efek atau agen anti kolinergik
interaksi antara obat dapat menyebabkan TD
mata dan masalah meningkat pada pasien
medis pasien, contoh hipertensi; pencetus
peningkatan hipertensi, dispnea pada pasien
PPOM, diabetes. PPOM; gejala krisis
Ajarkan metode yang hipoglikemik pada
tepat memasukkan diabetes tergantung
obat tetes untuk pada insulin. Tindakan
meminimalkan efek benar dapat membatasi
sistemik. absorbsi dalam sirkulasi
28
sistemik, meminimalkan
masalah seperti
interaksi obat dan efek
sistemik tak diinginkan.
Aktivitas yang
menyebabkan mata
lelah atau regang,
manufer Valsalva, atau
meningkatkan TIO
dapat mempengaruhi
Anjurkan pasien
hasil bedah dan
menghindari membaca,
mencetuskan
berkedip: mengangkat
pendarahan. Catatan:
berat, mengejan saat
iritasi pernafasan yang
defekasi, membongkok
menyebabkan
pada panggul, meniup
batuk/bersin dapat
hidung; penggunaan
meningkatkan TIO.
sprei, bedak bubuk,
merokok (sendiri/orang
Memberikan masukan
lain).
sensori,
mempertahankan rasa
Dorong aktivitas
normalitas, melalui
pengalih seperti
waktu lebih mudah bila
mendengar radio,
tak mampu
berbincang-bincang,
menggunakan
menonton televisi.
penglihatan secara
penuh. Catatan:
menonton televisi
frekuensi sedang
menuntut sedikit
gerakan mata dan
sedikit menimbulkan
stres dibanding
membaca.
29
Dapat meningkatkan
TIO, menyebabkan
cedera kecelakaan
Anjurkan pasien pada mata.
Mecegah cedera
memeriksa ke dokter
kecelakaan pada mata
tentang aktivitas
dan menurunkan resiko
seksual.
Tekankan kebutuhan peningkatan TIO
untuk menggunakan sehubungan dengan
kaca pelindung selama berkedip atau posisi
hari kepala.
Mencegah cedera
pembedahan/penutup
kecelakaan pada mata.
pada malam.

Anjurkan pasien tidur


terlentang, mengatur
intensitas lampu dan
menggunakan kaca
mata gelap bila
keluar/dalam ruangan
terang, keramas
dengan kepala
kebelakang (bukan
kedepan), batuk
10) Menurunkan
dengan mulut/mata
penglihatan perifer atau
terbuka.
10) Anjurkan mengatur gangguan kedalaman
posisi pintu sehingga persepsi dapat
mereka terbuka atau menyebabkan pasien
tertutup penuh: pindah jalan ke dalam pintu
kan perabot dari lalu yang terbuka sebagian
lalang. atau menabrak perabot.
11) Mempertahankan
konsistensi feses untuk
11) Dorong pemasukan

30
cairan adekuat, makan menghindari mengejan.
berserat atau kasar:
gunakan pelunak feses
yang dijual bebas bila
diindikasikan.
12) Identifikasi
12) Intervensi dini dapat
tanda/gejala
mencegah terjadinya
memerlukan upaya
komplikasi serius,
evaluasi medis, contoh
kemungkinan
nyeri tajam tiba-tiba,
kehilangan penglihatan.
penurunan penglihatan,
kelopak bengkak,
drainase purulen,
kemerahan, mata
berair, fotofobia.

4 Setelah dilakukan asuhan Mandiri Mandiri


keperawatan selama 3x24jam Diskusikan pentingnya Menurunkan jumlah
diharapkan tidak terjadi infeksi mencuci tangan bakteri pada tangan,
dengan criteria hasil : sebelum mencegah kontaminasi
 Meningkatkan penyembuhan
menyentuh/mengobati area operasi.
luka tepat waktu, bebas mata.
Teknik aseptik
drainase purulen, eritema dan Gunakan/tunjukkan
menurunkan risiko
demam teknik yang tepat untuk
 Mengidentifikasi intervensi penyebaran bakteri dan
membersihkan mata
untuk mencegah/menurunkan dari dalam ke luar kontaminasi silang.
risiko infeksi. dengan tisu basah/bola
kapas untuk tiap
usapan, ganti balutan
dan masukan lensa
kontak bila
menggunakan.
Tekankan pentingnya
tidak menyentuh/ Mencegah kontaminasi
menggaruk mata yang dan kerusakan sisi

31
dioperasi. operasi.
Kolaborasi:
Berikan obat sesuai Kolaborasi:
indikasi : Sediaan topical
Antibiotic (topical,
digunakan secara
parenteral,atau profilaksis, dimana
subkonjungtival). terapi lebih agresif
Steroid
diperlukan bila terjadi
infeksi. Catatan:
steroidmungkin
ditambahkan pada
antibiotic topical bila
pasien mengalami
implantasi IOL.

4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan tindakan keperawatan atau implementasi keperawatan terhadap
pasien yang mengalami katarak disesuaikan dengan intervensi yang telah dirancang
atau disusun sebelumnya.

5. Evaluasi Keperawatan
Hasil Asuhan Keperawatan pada klien yang menderita katarak adalah sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan pada intervensi. Evaluasi ini berdasarkan pada
hasil yang di harapkan atau perubahan yang terjadi.

32
N. Asuhan Keperawatan Katarak

PENGKAJIAN
1. Data Demografi
Nama klien :Tn. B
Umur :45 Tahun
Diagnosa Medik :Katarak
Tanggal Masuk :13 – 05 - 2013
Alamat :Kampung rawa
Suku :Sulawesi
Agama :Islam
Pekerjaan :PNS
Status perkawinan :Menikah

2. Riwayat Penyakit
a. Keluhan Utama
Klien mengeluh penglihatan kabur seperti berawan, padahal Tn. B sudah
menggunakan kaca mata plus 1dan minus 2,5 pada obita dextra dan sinistra.
Pemeriksaan fisik dengan Opthalmoscope bagian kornea ada selaput putih. Sudah 2
tahun ini Tn. B dinyatakan menderita diabetes mellitus, dan menjalankan pengobatan
secara teratur. Oleh dokter spesialis mata Tn. B dinyatakan katarak. Tn. B
dipersiapkan untuk dilakukan operasi katarak 2 hari lagi jika kadar gula darahnya
sudah normal. TTV saat ini
a. TD : 140/90 mmhg
b. Nadi : 84 x/menit
c. Suhu : 37,40 C
d. RR : 24x/menit

Data Fokus
33
Data Subjektif Data Objektif
1. Klien mengatakan penglihatan kabur Hasil pemeriksaan fisik dengan
seperti berawan, padahal sudah opthalmoscope bagian kornea ada selaput
menggunakan kaca mata plus 1 dan putih
minus 2.5 pada orbita dextra dan Vital sign :
sinistra. TD : 140/90 mmHg
2. Klien mengatakan sudah 2 tahun ini N: 84x/menit
mempunyai Diabetes Melitus, dan T :37,4 0c
menjalankan pengobatan secara teratur RR: 24x/menit
3. Klien mengatakan tidak mengerti Hasil pemeriksaan : BB : 78 kg dan
kenapa sampai mengalami katarak GDS terakhir 210
4. Kemungkinan klien mengatakan cemas Kemungkinan klien terlihat sulit untuk
memikirkan biaya untuk operasinya. beraktivitas.
5. Kemungkinan klien mengatakan Kemungkinan klien wajahnya tampak
kesulitan untuk beraktivitas gelisah
6. Kemungkinan klien mengatakan Kemungkinan klien terlihat terus bertanya-
penglihatannya tidak jelas tanya dengan pertanyaan yang sama.
7. Kemungkinan klien mengatakan jika Kemungkinan klien terlihat bingung.
terkena sinar/paparan matahari Kemungkinan klien terlihat cemas.
menyilaukan mata 10. Kemungkinan klien terlihat takut
8. Kemungkinan klien mengatakan jika
11. Kemungkinan klien terlihat tegang.
melihat sesuatu berbayang-
12. Kemungkinan klien terlihat memfokuskan
bayang/menjadi dua bayangan. pada dirinya sendiri.
9. Kemungkinan klien mengatakan takut
13. Kemungkinan skla nyeri (6)
akan kondisinya. 14. Kemungkinan klien terlihat menahan rasa
10. Kemungkinan klien mengatakan tidak sakit.
tahu sama sekali tentang penyakitnya. 15. Kemungkinan klien terlihat merintih
11. Kemungkinan klien mengatakan cemas kesakitan ( nyeri )
takut tidak berhasil menjalankan
16. Kemungkinan terlihat pada bagian luka
operasinya. oprasi klien terdapat kemerahan.
12. Kemungkinan klien mengatakan gelisah
17. Kemungkinan terlihat pada bagian luka
13. Kemungkinan klien mengatakan cemas klien mengalami iritasi.
terhadap penyakit yang dideritanya. 18. Kemungkinan klien dan keluarganya
14. apakah sembuh/tidak. tampak masih bingung dengan perawatan
15. Kemungkinan klien mengatakan pada luka post operasi.
bagian mata nyeri.
16. Kemungkinan klien mengatakan tidak

34
tahan terhadap nyerinya.
17. Kemungkinan klien mengatakan
badannya panas sehabis operasi
beberapa hari kemudian.
18. Kemungkinan klien mengatakan tidak
tahu dengan cara perawatan luka post
operasi.
19. Kemungkinan klien mengatakan berasal
dari keluarga kurang mampu.

Analisa Data

N Tanggal Data Fokus Masalah Etiologi Paraf


o. Ditemuka Keperawata
n n
PRE OPERASI
1 DS : Gangguan Gangguan
Klien mengatakan penglihatan persepsi penerimaan
kabur seperti berawan, padahal sensori- sensori/status
Tn.B sudah menggunakan kaca perseptual organ
mata plus 1 dan minus 2.5 pada penglihatan. inderaditandai
orbita dextra dan sinistra denganmenurun
Kemungkinan klien nya ketajaman
mengatakan kesulitan untuk penglihatan.
beraktivitas
Kemungkinan klien
mengatakan penglihatannya
tidak jelas
Kemungkinan klien
mengatakan jika terkena
sinar/paparan matahari
menyilaukan mata
Kemungkinan klien
mengatakan jika melihat sesuatu
berbayang-bayang/menjadi dua
bayangan

35
DO:
Hasil pemeriksaan fisik dengan
opthalmoscope bagian kornea
ada selaput putih
Kemungkinan klien terlihat
sulit untuk beraktivitas.
2 DS Ansietas. Perubahan pada
Klien mengatakan cemas status kesehatan.
memikirkan biaya untuk
operasinya.
Kemungkinan klien
mengatakan cemas takut tidak
berhasil menjalankan operasinya
Kemungkinan klien
mengatakan gelisah
Kemungkinan klien
mengatakan cemas terhadap
penyakit yang dideritanya.

DO
Kemungkinanterlihat wajah klie
ntampak gelisah.
Kemungkinan klien terlihat
tegang.
Kemungkinan klien terlihat
memfokuskan pada diri sendiri.
Kemungkinan klienterlihat
cemas.
Kemungkinan klien terlihat
takut
3 DS : Kurang kurang
Klien mengatakan tidak Pengetahuan. informasi
mengerti kenapa sampai tentang
mengalami katarak penyakit.
Kemungkinan klien
mengatakan takut akan
kondisinya.

36
Kemungkinan klien
mengatakan tidak tahu sama
sekali tentang penyakitnya.
Kemungkinan klien
mengatakan cemas terhadap
penyakit yang dideritanya
apakah sembuh/tidak
DO:
Kemungkinan wajah tampak
gelisah
Kemungkinan klien terlihat
terus bertanya-tanya dengan
pertanyaan yang sama.
Kemungkinan klien terlihat
bingung.
POST OPERASI
4 DS : Nyeri. Luka pasca
Kemungkinan klien operasi.
mengatakan nyeri pada bagian
mata pasca operasi.
Kemungkinan klien
mengatakan tidak tahan
ternhadap nyerinya
DO :
Vital sign :
TD : 140/90 mmHg
N: 84x/menit
T :37,4 0c
RR: 24x/menit
Kemungkinan skla nyeri (6)
Kemungkinan klien terlihat
menahan rasa sakit.
Kemungkinan klien terlihat
merintih kesakitan ( nyeri )
5 DS Resiko tinggi Keterbatasan
Klien mengatakan penglihatan terhadap penglihatan.
kabur seperti berawan, padahal cidera.

37
sudah menggunakan kaca mata
plus 1 dan minus 2.5 pada orbita
dextra dan sinistra
Kemungkinan klien
mengatakan kesulitan untuk
beraktivitas
Kemungkinan klien
mengatakan penglihatannya
tidak jelas
Kemungkinan klien
mengatakan jika melihat sesuatu
berbayang-bayang/menjadi dua
bayangan
6 DS : Risiko Prosedur invasif
Kemungkinan klien infeksi. (operasi
mengatakan badannya panas katarak).
sehabis operasi beberapa hari
kemudian
DO :
Vital sign :
TD : 140/90 mmHg
N: 84x/menit
T :37,4 0c
RR: 24x/menit
7 DS : Resiko kurang
Kemungkinan klien ketidak pengetahuan,
mengatakan tidak tahu dengan efektifan kurang sumber
cara perawatan luka post penatalaksana pendukung.
operasi. an regimen
Kemungkinan klien terapeutik.
mengatakan berasal dari
keluarga kurang mampu.
DO :
Kemungkinan klien dan
keluarganya tampak masih
bingung dengan perawatan luka
post operasi.

38
Diagnosa Keperawatan

No. Diagnosa keperawatan Tanggal Tanggal


ditemukan Teratasi
1. Gangguan persepsi sensori-perseptual12 – 05 / 2013 15 – 05 / 2013
penglihatan b.d Gangguan penerimaan
sensori/status organ indera ditandai
dengan menurunnya ketajaman.
2. Ansietas b.d Perubahan pada status12 – 05 / 2013 15 – 05 / 2013
kesehatan.
3. Kurang pengetahuan b.d Kurang12 – 05 / 2013 12 – 05 / 2013
informasi tentang penyakit
4. Nyeri b.d Luka pasca operasi. 15 – 05 / 2013 18 – 05 / 2013
5. Resiko tinggi terhadap cidera15 – 05 / 2013 18 – 05 / 2013
b.dKeterbatasan penglihatan.
6. Risiko infeksi b.d Prosedur invansif15 – 05 / 2013 18 – 05 / 2013
( operasi katarak )
7. Resiko ketidakefektifan penatalaksanaan 15 – 05 / 2013 18 – 05 / 2013
regimen terapeutik b.d kurang
pengetahuan, kurang sumber pendukung.

Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnos Tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional


. a
Kepera
watan
1. Ganggua Setelah  Mengenal gangguan 1. Kaji ketajaman 1. Kebutuhan tiap
n dilakukan sensori danber penglihatan, catat individu dan pilihan
persepsi tindakan kompensasi terhadap apakah satu atau intervensi bervariasi
sensori- keperawatan dua mata terlibat. sebab
39
perseptu selama 3x24 perubahan. 2. Orientasikan klien kehilanganpenglihat
al jam tehadaplingkungan an terjadi lambatdan
 Mengidentifikasi/memp
penglihat diharapkan . progresif.
erbaiki potensial bahaya
anb.dGa masalah 3. Observasi tanda-2. Memberikan
dalam lingkungan.
ngguan presepsi tandadisorientasi. peningkatankenyama
penerima sensori 4. Pendekatan dari nan dan
an penglihatan sisi yangtak kekeluargaan,
sensori/s teratasi dioperasi, menurunkan cemas
tatus bicaradengan dan disorientasipasca
organ menyentuh. operasi.
inderadit 5. Ingatkan klien 3. Terbangun dalam
andai menggunakan lingkungan yang
denganm kacamata katarak tidak dikenal dan
enurunn yang tujuannya mengalamiketerbatas
ya memperbesar an penglihatandapat
ketajama kurang lebih 25%, mengakibatkankebin
n penglihatan perifer gungan terhadap
penglihat hilang. orang tua.
an. 6. Letakkan barang4. Memberikan
yang rangsangsensori
dibutuhkan/posisi tepat terhadapisolasi
bel pemanggil dan
dalam menurunkanbingung.
jangkauan/posisi5. Perubahan
yang sehat. ketajaman
dankedalaman
persepsi dapat
menyebabkan
bingung penglihatan
dan meningkatkan
resiko cedera sampai
pasien belajar untuk
mengkompensasi.
6. Memungkinkan
pasienmelihat objek
lebih mudah dan
memudahkan
panggilan untuk
40
pertolongan
biladiperlukan.
2. Ansietas Setelah  Pasien mengungkapkan
1. Kaji tingkat 1. Derajat kecemasan
b.dPerub dilakukan dan mendiskusikan rasa kecemasan pasien akan dipengaruhi
ahan tindakan cemas/takutnya. dan catat adanya bagaimana informasi
pada keperawatan tanda- tanda verbaltersebut diterima
 Pasien tampak rileks
status selama 3x24 dan nonverbal. oleh individu.
tidak tegangdan
kesehata jam 2. Beri kesempatan2. Mengungkapkan
melaporkan
n. diharapkan : pasien untuk rasa takut secara
kecemasannya
tidak terjadi mengungkapkan terbuka dimana rasa
berkurang sampai pada
kecemasan isipikiran dan takut dapat
tingkat dapat diatasi.
pada klien perasaan takutnya. ditujukan.
dan tidak 3. Observasi tanda 3. Mengetahui respon
ada vital fisiologis yang
perubahan danpeningkatan ditimbulkan akibat
status respon fisik kecemasan.
kesehatan. pasien. 4. Meningkatkan
4. Beri penjelasan pengetahuan pasien
pasien tentang dalam rangka
prosedur tindakan mengurangi
operasi, kecemasan dan
harapandan kooperatif.
akibatnya. 5. Mengurangi
5. Lakukan orientasi kecemasan dan
danperkenalan meningkatkan
pasienterhadap pengetahuan.
ruangan,petugas,6. Mengurangi
dan peralatanyang perasaan takutdan
akan digunakan. cemas.
6. Beri penjelasan
dansuport pada
pasien padasetiap
melakukan
prosedurtindakan.
3. Kurang Setelah  Klien menyatakan 1. Kaji informasi 1. meningkatkan
pengetah dilakukan pemahaman mengenai tentang kondisi pemahaman dan
uan b.d tindakan kondisi/proses penyakit individu, prgnosis, meningkatkan kerja

41
Kurang keperawatan & pengobatan. tipe sama dengan
informas selama 3x24 prosedur/lensa. perawat.
i tentang jam 2. Informasikan 2. Dapat bereaksi
penyakit. diharapkan : pasien untuk silang/campur
Klien lebih menghindari tetes dengan obat yang
mengerti mata yang dijual diberikan.
akan bebas. 3. pengawasan
penyakitnya 3. Tekankan periodik
pentingnya menurunkan risiko
evaluasi perawatan komplikasi serius.
rutin. Beri tahu 4. aktivitas yang
untuk melaporkan menyebabkan mata
penglihatan lelah/regang,
berawan. manuver Valsalva,
4. Anjurkan pasien atau meningkatkan
menghindari TIO dapat
membaca, mempengaruhi hasil
berkedip; bedah dan
mengangkat berat, mencetuskan
mengejan saat perdarahan.
defekasi,
membongkok pada
panggul, meniup
hidung.

4. Nyeri Setelah  Nyeri berkuran. 1. Dorong pasien 1. Nyeri dirasakan


b.d Luka dilakukan untuk melaporkan dimanifestasikan dan
 Klien terlihat lebih
pasca tindakan tipe, lokasi dan ditoleransi secara
rileks
operasi. keperawatan intensitas nyeri, individual.
selama 3x24 rentang skala. 2. Kecepatan jantung
jam 2. Pantau TTV. biasanya meningkat
diharapkan : 3. Berikan tindakan karena nyeri.
nyeri kenyamanan. 3. meningkatkan
berkurang, 4. Beritahu pasien relaksasi.
hilang dan bahwa wajar saja4., adanya nyeri
terkontrol. meskipun lebih menyebabkan
baik untuk tegangan otot yang

42
meminta analgesik menggangu sirkulasi
segera setelah memperlambat
ketidaknyamanan proses penyembuhan
menjadi dan memperberat
dilaporkan. nyeri.
5. Rasionalisasi :
Kolaborasi : Untuk mengontrol
5. Berikan obat nyeri adekuat dan
sesuai indikasi menurunkan
tegangan.
5. Resiko Setelah  Menyatakan 1. Diskusikan apa 1. Membantu
tinggi dilakukan pemahaman factor yang yang terjadi pada mengurangi rasa
terhadap tindakan terlibat dalam pascaoperasi takut dan
cidera keperawatan kemungkinancedera tentang nyeri, meningkatkan kerja
b.dKeter selama 3x24 pembatasan sama dalam
 Mengubah lingkungan
batasan jam aktivitas, pembatasan yang
sesuai indikasi untuk
penglihat diharapkan : penampilan, diperlukan.
meningkatkan keamanan
an. cedera dapat balutan mata. 2. Istirahat hanya
dicegah 2. Beri pasien posisi beberapa menit
bersandar, kepala sampai beberapa jam
tinggi atau miring pada bedah rawat
ke sisi yang tak jalan atau menginap
sakit sesuai semalam bila terjadi
keinginan. komplikasi.
3. Batasi aktivitas Menurunkan tekanan
seperti pada mata yang
menggerakkan sakit, meminimalkan
kepala tiba-tiba, risiko perdarahan
menggaruk mata, atau stres pada
membongkok. jahitan/jahitan
4. Ambulasi dengan terbuka.
bantuan; berikan3. Menurunkan stres
kamar mandi pada area
khusus bila operasi/menurunkan
sembuh dari TIO.
anastesi. 4. Memerlukan sedikit
regangan daripada

43
penggunaan pispot,
yang dapat
meningkatkan TIO.
6. Risiko Setelah  Tidak ada tanda-tanda1. Diskusikan 1. Menurunkan jumlah
infeksi dilakukan infeksi seperti pentingnya bakteri pada tangan,
b.d efek tindakan kemerahan dan iritasi. mencuci tangan mencegah
samping keperawatan sebelum kontaminasi area
prosedur selama 3x24 menyentuh / operasi.
invasive. jam mengobati mata.2. Tekhnik aseptik
diharapkan : 2. Gunakan / menurunkan resiko
tidak terjadi tunjukkan tekhnik penyebaran bakteri
infeksi. yang tepat untuk dan kontaminasi
membersihkan silang.
bola mata. 3. Mencegah
3. Tekankan kontaminasi dan
pentingnya tidak kerusakan sisi
menyentuh / operasi.
menggaruk mata4. Digunakan untuk
yang dioperasi. menurunkan
4. Berikan obat inflamasi.
sesuai indikasi. 5. Sediaan topikal
digunakan secara
Kolaborasi : profilaksis, dimana
5. Berikan obat terapi lebih
sesuai indikasi. diperlukan bila
terjadi infeksi.
7. Resiko Setelah  Klien mampu 1. Kaji tingkat 1. Sebagai modalitas
ketidakef dilakukan mengidentifikasi pengetahuan dalam pemberian
ektifan tindakan kegiatan keperawatan pasien tentang pendidikan
penatala keperawatan rumah (lanjutan) yang perawatan paska kesehatan tentang
ksanaan selama 3x24 diperlukan hospitalisasi. perawatan di rumah.
regimen jam  Keluarga menyatakan 2. Terangkan cara 2. Klien mungkin
terapeuti diharapkan: siap untuk mendampingi penggunaan obat- mendapatkan obat
k b.d perawatan klien dalam melakukan obatan. tetes atau
kurang rumah perawatan 3. Berikan salep(topical).
pengetah berjalan kesempatan 3. Meningkatkan rasa
uan, efektif. bertanya. percaya, rasa aman,

44
kurang 4. Tanyakan dan mengeksplorasi
sumber kesiapan klien pemahaman serta
penduku paska hal-hal yang
ng. Yang hospitalisasi. mungkin belum
ditandai 5. Identifikasi dipahami.
dengan, kesiapan keluarga
4. Respon verbal untuk
pertanya dalam perawatan meyakinkan
n atau diri klien paska kesiapan klien dalam
peryataa hospitalisasi. perawatan
n salah 6. Terangkan hospitalisasi.
konsepsi, berbagai kondisi5. Kesiapan keluarga
tak yang perlu meliputi orang yang
akurat dikonsultasikan. bertanggung jawab
mengiku dalam perawatan,
ti pembagian peran
instruksi, dan tugas serta
terjadi penghubung klien
komplik dan institusi
asi yang pelayanan kesehatan.
dapat 6. Kondisi yang harus
dicegah segera dilaporkan :
• Nyeri pada dan
disekitar mata, sakit
kepala menetap.
• Setiap nyeri yang
tidak berkurang
dengan obat
pengurang nyeri.
• Nyeri disertai mata
merah, bengkak,
atau keluar cairan :
inflamasi dan cairan
dari mata.
• Nyeri dahi
mendadak.
• Perubahan ketajaman
penglihatan, kabur,
pandangan ganda,
45
selaput pada lapang
penglihatan,

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-

46
duanya. Lima puluh satu persen (51%) kebutaan diakibatkan oleh katarak. Katarak
senilis merupakan jenis katarak yang paling sering ditemukan. Katarak senilis adalah
setiap kekeruhan pada lensa yang terjadi pada usia lanjut, yaitu di atas usia 50 tahun.
Faktor resiko yang menyebabkan katarak yaitu usia, jenis kelamin, dan riwayat
penyakit. Dapat juga terjadi sebagai akibat pajanan kumulatif terhadap pengaruh
lingkungan dan pengaruh lainnya seperti merokok, radiasi UV. Ada beberapa jenis
klasifikasi yang telah sering digunakan untuk menilai katarak, misalnya berdasarkan
usia timbulnya katarak seperti katarak congenital, katarak juvenile, katarak
senilisCAda yang membagi berdasarkan kekeruhan lensa yaitu katarak imatur atau
matur, dan pembagian berdasarkan letak kekeruhan lensa yaitu katarak kortikalis,
katarak subkapsularis posterior atau anterior, katarak nuclearis. Gejala umum pada
katarak yaituyajam penglihatan berkurang, penglihatan berkabut (berasap), rasa silau,
penglihatan ganda, halo (warna disekitar sumber cahaya). Adanya pemeriksaan fisik
yang difokuskan pada mata. Penatalaksanaan dengan pembedahan katarak.

B . Saran
Katarak dapat terjadi dengan bertambahnya usia. Ada baiknya saat melakukan
sesuatu yang dapat membuat mata trauma ada baiknya menggunakan pelindung
mata. Untuk yang memiliki riwayat penyakit seperti Diabetes Melitus disarankan
olahraga yang teratur, banyak mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung
vitamin C, A, dan E.

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidiarta. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga cetakan ke-6. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
Kanski J.J. 2007. Degenerative Miopi , Acquired Macular Disorders and Related
Conditions in Clinical Ophthalmology A Systematic Approach, Sixth Edition. 654-
655
Langston, Deborah Pavan. 2004. Neuro-Ophtalmology. In: Manual of Ocular
Diagnosis and Therapy. Sixth edition. Philadelphia: Lippincott Wiliams and Wilkins.
393-397
47
Miller SJH. 2006. Parsons Disease of The Eye. Churchill Livingstone: Edinburgh.
195, 202-203
Pollreisz dan Schmidt. 2010. Diabetic Cataract-PAtogenesis, Epidemiology and
Treatmen. Vol 2010
Purnamasari, D. 2010. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Buku Ajar
Penyakit Dalam Edisi V, Jilid III. Jakarta Internal Publishing
Sirlan F. 2006. Survei Pengatahuan, Sikap dan Praktek Masyarakat di Jawa Barat
Terhadap Kesehatan Mata, Tahun 2005. Ophthalmologica Indonesiana
Skuta, G.L. dan Weiss, JS. 2010. American Academy of Ophtalmology 2009-2010.
Retina and Vitreous Basic and Clinical. Course section. 12:5:107-108
Tomthy, L. Jackson. 2008. Moorfields Manual of Ophthalmology, Chapter 6 Catarac
Surgery. 222-223
WHO.2012. Global Data On Visual Impairments 2010. WHO Press
(Sumber:http://sehatbersamaperawatindonesia.blogspot.com/2017/05/makalah-
asuhan-keperawatan-katarak.html)

(Sumber:http://ngongoloyhesky.blogspot.com/2017/01/laporan-pendahuluan-katarak-
di-bkmm.html)

48