Anda di halaman 1dari 8

IJPST Volume 2, Nomor 3, Oktober 2015

Aktivitas Antikanker Pektin Kulit Buah Kakao Terhadap Jumlah Sel


Goblet Kolon
Kinanthi P. Rizki, Wahyu W. Rochmah, Nandan G. Cempaka, Sugi Hartono, Fifteen A.
Fajrin
Laboratorium Biologi Farmasi dan Biomedik, Fakultas Farmasi, Universitas Jember, Jember,
Jawa Timur, Indonesia

Abstrak
Jumlah penderita kanker kolon yang tinggi mendorong penelitian akan pengobatan yang lebih efektif
dan mengurangi efek samping dari pengobatan masa kini, salah satunya adalah dengan pengobatan
secara herbal. Kulit buah kakao (Theobroma cacao) memiliki kandungan pektin yang diketahui dapat
menekan pertumbuhan sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas
antikanker kolon dari pektin kulit buah kakao (Theobroma cacao) pada tikus yang diinduksi dengan
7,12-dimethylbenzen(α)anthrasena (DMBA) dengan dosis 20 mg/kgBB. Tikus dikelompokkan
menjadi empat kelompok yaitu kelompok I kontrol negatif, kelompok II pektin dosis 8 mg/kgBB,
kelompok III pektin dosis12 mg/kgBB, dan kelompok IV pektin dosis 16 mg/kgBB. Hasil penelitian
menunjukkan dosis uji tertinggi, yaitu 16 mg/kgBB memberikan aktivitas terbaik dalam memulihkan
kembali sel goblet yang rusak akibat induksi dari senyawa karsinogen. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa pektin kulit buah kakao (Theobroma cacao) memiliki potensi aktivitas antikanker
kolon pada dosis uji.

Kata kunci: DMBA, kulit buah kakao, pektin, sel goblet

Anticancer Activity of Cacao Pod Husk Pectin toward Amount of Colon


Goblet Cells
Abstract
The high incident of patient with colon cancer, promotes the research for more effective treatments
and reduce side effects of treatment today, one of them is with herbal treatment. Cacao pod husk
(Theobroma cacao) has a pectin which is known to suppress the growth of cancer cells. This study
aims to determine the potential anticancer activity of the extract cocoa pod husk (Theobroma cacao) in
the colon of rat induced by 7,12-dimethylbenzen (α) anthrasena (DMBA) at a dose of 20 mg/kg. The
rat were grouped into four groups: group I as control negative, group II given diet pectin dose of 8
mg/kgBW, group III given diet pectin dose 12 mg/kgBW, and group IV given diet pectin dose 16
mg/kgBW. The results showed the pectin dose 16 mg/kgBW, the highest dose gives the best activity to
recovering goblet cell that damaged by induction of compound carcinogens. Thus it can be
concluded that cacao pod husk (Theobroma cacao) has potential anticancer activity of the colon at that
dose.

Keywords: Cacao pod husk, DMBA, goblet cells, pectin

Korespondensi: Kinanthi P. Rizki


kinanthi.putri295@gmail.co m
75
IJPST Volume 2, Nomor 3, Oktober 2015

Pendahuluan Salah satu bagian tanaman yang


berpotensi sebagai antikanker adalah kulit
Kanker kolon merupakan salah satu buah kakao (Theobroma cacao). Kulit
penyakit neoplasma yang tumbuh di dalam buah kakao adalah limbah dari pengolahan
struktur saluran usus besar. Kanker kolon biji kakao yang tidak dimanfaatkan. Bila
umumnya ditemukan pada usia di atas 40 tidak dimanfaatkan, kulit buah kakao dapat
tahun, namun ternyata dapat menyerang menimbulkan pencemaran lingkungan.
pada pasien dengan komplikasi penyakit Kakao atau pohon coklat merupakan
sindrom Gardner, sindrom Turcot, kolitis komoditas perkebunan yang berperan
ulseratif, kolitis granulomatosa, serta pada tinggi dalam meningkatan perekonomian
poliposis multipel familial.1 Pada tahun nasional seperti penyedia lapangan kerja
20032007 jumlah pasien kanker kolon di dan sumber pendapatan dan devisa negara.
bawah umur 40 tahun di Indonesia rata- Pada tahun 2002, Indonesia merupakan
rata mencapai 28,71%.2 Kanker kolon produsen coklat terbesar kedua setelah
merupakan kanker urutan ketiga yang lebih Pantai Gading (Cote d’Ivoire). Kabupaten
banyak menyerang pria daripada wanita Jember adalah salah satu kota penghasil
dari seluruh penderita kanker di dunia. kakao yang bertempat di Pusat Penelitian
Faktor yang memiliki pengaruh dalam Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka).
perkembangan kanker kolon yaitu interaksi Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian
dari faktor lingkungan serta faktor genetis. RI No.786/Kpts/Org/9/1981 tanggal 20
Kanker kolon terjadi karena abnormalitas Oktober 1981, Pusat Penelitian Kopi dan
sel yang diakibatkan oleh mutasi DNA. Sel Kakao Indonesia di Kabupaten Jember
yang termutasi akan membentuk klon dan adalah lembaga nonprofit yang mendapat
berproliferasi secara tidak normal. Jaringan mandat untuk melakukan penelitian dan
abnormalitas sel pada kanker kolon terlihat pengembangan komoditas kopi dan kakao
dari beberapa ekspresi protein contohnya secara nasional serta sebagai penyedia data
nitrotyrosine dan Nitric Oxide Synthases dan informasi yang berhubungan dengan
(iNOS) yang menunjukkan bahwa terdapat kopi dan kakao. Pada tahun 2010, tercatat
inflamasi pada perkembangan sel kanker produksi buah kakao di Jember rata- rata
kolon.2 sebesar 400 kg/ha/tahun yang mengalami
Salah satu pengobatan yang dilakukan peningkatan sebesar 2 kali lipat dari tahun
pasien kanker kolon adalah kemoterapi. sebelumnya yaitu 120 kg/ha/tahun.4
Beberapa dari obat kemoterapi memiliki Kulit buah kakao merupakan salah satu
mekanisme kerja dengan menginduksi sumber pektin dengan kandungan pektin
sitotoksisitas seperti dengan memengaruhi sekitar 612% pektin tiap berat kering.5
transkripsi replikasi DNA, aktivasi sinyal Pektin adalah senyawa polisakarida yang
reseptor kematian, serta aktivasi jalur larut dalam air dan merupakan asam-asam
mitokondria. Mekanisme tersebut dapat pektinat yang mengandung gugus-gugus
menyebabkan apoptosis sel kanker dan metoksil.6 Banyak penelitian menyatakan
mencegah metastasis. Di samping itu, obat bahwa pemberian pektin dapat mengurangi
kemoterapi mempunyai efek samping salah resiko kanker atau dapat menghentikan
satunya adalah dapat mengganggu kinerja perkembangan kanker.
tubuh seperti toksisitas renal atau supresi Fragmen pektin dapat menginduksi
tulang rawan.3 Upaya untuk mengurangi kematian sel kanker yang ditunjukkan
efek samping tersebut adalah dengan dengan hasil analisis Western Blot pada sel
mengembangkan sediaan obat herbal yang kanker yang diinkubasi dengan fragmen
dapat menggantikan peran obat kemoterapi pektin mengalami apoptosis dan autofagi. 7
sintetis dan relatif lebih efektif dalam Penelitian ini berusaha menelaah aktivitas
meningkatkan daya tahan tubuh pasien antikanker pektin dari kulit buah kakao
kanker. (Theobroma cacao) secara in vivo dengan

76
IJPST Volume 2, Nomor 3, Oktober 2015

menggunakan tikus putih galur Wistar dan pengelompokan hewan uji, penyiapan
yang diinduksi oleh senyawa karsinogenik larutan karsinogen, induksi karsinogen
7,12-dimetilbenz(α)antrasena. pada tikus galur wistar, uji aktivitas
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk antikanker kolon, pengukuran berat badan,
mengukur aktivitas antikanker kolon dari nekropsi tikus, serta analisa data.
pektin kulit buah kakao (Theobroma Ekstraksi pektin diawali dengan
cacao) dengan menghitung jumlah sel persiapan kulit kakao. Buah kakao dicuci
goblet kolon tikus. Penelitian ini juga dengan air untuk menghilangkan tanah,
berusaha untuk membandingkan pengaruh pasir, dan kotoran. Buah kakao dipotong
perbedaan dosis dari pektin kulit buah menjadi dua bagian kemudian biji kakao
kakao (Theobroma cacao) dalam menekan dipisahkan dari kulitnya. Kulit buah kakao
perkembangan kanker. Hasil penelitian dipotong tipis dengan ukuran ±2 mm
diharapkan dapat memberikan informasi menggunakan pisau stainless steel. Kulit
mengenai potensi pektin kulit buah kakao buah kakao kemudian dikeringkan di ruang
(Theobroma cacao) sebagai anti kanker terbuka. Kulit buah kakao yang telah
kolon dan sebagai acuan untuk penelitian kering dihaluskan dan diayak dengan
selanjutnya. ukuran 50 mesh. Setelah itu, ekstraksi
pektin dilakukan dengan menimbang 80 g
Metode serbuk kulit buah kakao dimasukkan ke
dalam gelas kimia. Ekstraksi dilakukan
Hewan uji yang digunakan adalah 24 menggunakan ultrasonik pada suhu 80 o C
ekor tikus putih jantan galur Wistar umur 8 selama 120 menit. Pelarut yang digunakan
minggu yang diperoleh dari Malang. Kulit adalah larutan asam sitrat 1:12 sehingga
buah kakao (Theobroma cacao) yang diperoleh pH<3. Setelah proses ekstraksi
digunakan berasal dari Pusat Penelitian dihentikan, bubur kulit kakao disaring
Kopi dan Kakao hasil pemanenan di dengan menggunakan kain saring dan
Kebun Renteng, Jember. Bahan-bahan diperas sampai filtrat keluar. Sisa endapan
kimia yang digunakan adalah DMBA disaring kembali dengan corong buchner.
(7,12-dimetilbenzen (α)antrasena), alkohol Filtrat pektin yang diperoleh kemudian
96%, formalin (mengandung larutan dapar diendapkan dengan alkohol asam (1:1,5)
fosfat dan berasal dari Laboratorium selama 18 jam. Endapan pektin basah
Farmakologi, Farmasi Universitas Jember), disaring menggunakan corong buchner.
asam sitrat, eter, dan larutan Na CMC Pektin basah kemudian dimurnikan dengan
(sodium carboxymethylcellulose) 1,0%. cara dicuci menggunakan pelarut alkohol
Bahan pendukung dalam penelitian ini 96% sebanyak tiga kali atau sampai pH
meliputi minyak jagung, akuades, label, netral. Pektin basah hasil pencucian lalu
alat-alat bedah, alat tulis, pakan tikus dikeringkan menggunakan oven pada suhu
(berasal dari Laboratorium Farmakologi, 50 o C selama 6 jam.
Farmasi Universitas Jember), bedding Sampel uji disiapkan dengan membuat
hewan uji (sekam), peralatan bedah, dan suspensi pektin kering dari kulit buah
kertas saring. kakao dalam Na CMC 1%. Pembuatan Na
Alat-alat yang digunakan adalah CMC yaitu dengan pemanasan campuran
ultrasonik, hot plate, neraca Ohaus, syringe Na CMC dan akuades disertai pengadukan.
5 mL (Luer LokTM), vortex, stirrer, Selanjutnya campuran Na CMC dan pektin
timbangan untuk hewan, kandang, sonde, kering dihomogenkan dengan vortex.
pengaduk, masker, kacamata, handscoon, Selanjutnya dilakukan pengondisian
pompa vakum, alat-alat gelas, oven, alat dan pengelompokkan hewan uji. Semua
kebersihan, serta botol minuman. tikus mengalami aklimatisasi di dalam
Tahapan penelitian meliputi ekstraksi kandang percobaan selama seminggu.
pektin, penyiapan sampel uji, pengondisian Semua tikus diberikan pakan komersial

77
IJPST Volume 2, Nomor 3, Oktober 2015

dan air secara ad libitum (bebas). Alas mg/kgBB, serta dosis 16 mg/kgBB.
tikus berasal dari sekam padi dan selama Pemberian ekstrak dilakukan setiap hari
induksi karsinogen tidak boleh diganti selama 15 hari.
namun saat uji aktivitas dengan kulit buah Tikus ditimbang saat akan dilakukan
kakao diganti tiap 2 kali dalam seminggu. induksi dan pengobatan. Tikus ditimbang
Tikus jantan galur Wistar sejumlah 24 menggunakan neraca Ohaus sebelum
ekor dibagi acak dalam 4 kandang. Setiap diberi perlakuan. Penimbangan dilakukan
kandang berisi 6 ekor tikus. Tiap kandang dari adaptasi hingga selesai pengobatan.
dibagi dalam 4 kelompok perlakuan antara Nekropsi dilakukan pada hari ke-16
lain kelompok kontrol negatif, dosis 8 diawali pembiusan dengan pemberian eter
mg/kgBB, dosis 12 mg/kgBB, dan dosis 16 dalam wadah tertutup. Setelah pingsan,
mg/kgBB. Tikus kelompok kontrol negatif tikus kemudian didislokasi leher. Tikus
merupakan kelompok perlakuan di mana lalu dibedah dengan hati-hati. Bagian yang
tikus diinduksi DMBA namun tikus tidak diambil adalah kolon tikus. Kolon tikus
diberikan larutan uji. Tikus kelompok diawetkan dalam larutan dapar formalin
dosis 1 merupakan kelompok perlakuan di 10% (yang mengandung larutan penyangga
mana tikus diinduksi DMBA dan diberikan fosfat pH 7,4). Setelah itu hasil dari proses
larutan uji ekstrak kulit buah kakao dengan pengawetan dibuat preparat untuk sampel
dosis 8 mg/kgBB. Tikus kelompok dosis 2 pengamatan histopatologi.
merupakan kelompok perlakuan di mana Perhitungan berat badan tikus dihitung
tikus diinduksi DMBA serta diberikan dengan rata-rata berat badan tikus dan
larutan uji ekstrak kulit buah kakao dengan dibandingkan antar kelompok secara
dosis 12 mg/kgBB. Tikus kelompok dosis deskriptif. Pengamatan histopatologi
3 merupakan kelompok perlakuan dimana dengan pewarnaan Hematoxilin-Eosin
tikus diinduksi DMBA dan diberikan dengan perbesaran 400x yang digunakan
larutan uji ekstrak kulit buah kakao dengan untuk menghitung jumlah sel goblet pada
dosis 16 mg/kgBB. kolon yang diamati secara deskriptif dan
Pembuatan larutan karsinogen yaitu diuji statistik menggunakan One way
dengan melarutkan 1 g serbuk DMBA ke Anova.
dalam 250 mL larutan minyak jagung
sehingga diperoleh dosis 20 mg/kgBB.8 Hasil
Selanjutnya dilakukan proses homogenasi
diaduk dengan pengaduk vortex selama Ekstrak kulit buah Theobroma cacao
lebih kurang 15 menit sampai homogen. dengan pelarut asam sitrat menghasilkan
Induksi karsinogen dilakukan pada rendemen sebanyak 0,33%. Perkembangan
tikus jantan galur Wistar dengan DMBA berat badan tikus dapat dilihat pada
sebagai agen karsinogen. Dosis induksi Gambar 1 dan potongan melintang organ
yang diberikan adalah 20 mg/kgBB.8 kolon tikus galur wistar dengan pewarnaan
Rancangan penelitian dilakukan dengan hematoxilin-eosin dapat dilihat pada
enam kali replikasi untuk masing-masing Gambar 2. Jumlah sel goblet dari tiap
perlakuan. Proses induksi dilakukan secara kelompok uji dapat dilihat pada Gambar 3.
berkelanjutan 2 minggu sekali selama 4,5
minggu. DMBA diberikan secara peroral Pembahasan
dengan sejumlah volume (mL) DMBA
sesuai dosis. Ekstrak kulit buah Theobroma cacao
Uji aktivitas antikanker kolon pada dengan pelarut asam sitrat menghasilkan
tikus galur Wistar yang diinduksi dengan rendemen sebanyak 0,33%. Rendemen
senyawa karsinogen DMBA selama 4,5 yang dihasilkan lebih kecil dari yang
minggu kemudian diberi 4 perlakuan yaitu dihasilkan.9 Berat bersih yang didapat oleh
kontrol negatif, dosis 8 mg/kgBB, dosis 12 Edahwati, dkk (2013) dengan pelarut asam

78
IJPST Volume 2, Nomor 3, Oktober 2015

Gambar 1 Perkembangan Berat Badan Antar Kelompok Perlakuan

sitrat adalah sebesar 16,23%. Laporan penelitian sehingga hasil yang didapatkan
penelitian yang ditulis oleh Edahwati, dkk berbeda dengan penelitian yang digunakan.
(2013) tidak memuat metode ekstraksi Ekstraksi kulit buah kakao (Theobroma
maupun alat yang digunakan sehingga cacao) pada penelitian Akhmalludin dan
tidak dapat diperbandingkan dengan Arie (2009) dilakukan dengan pelarut asam
penelitian ini. Pada laporan Edahwati, dkk klorida. Asam klorida tidak digunakan
(2013) menggunakan perbandingan asam untuk pelarut ekstraksi karena bersifat
sitrat 1:12 namun perbandingan pelarut asam kuat sehingga pada saat penetralan
untuk mengendapkan filtrat pektin tidak akan membutuhkan alkohol yang lebih
dijelaskan sehingga pada penelitian ini banyak. Pemilihan pelarut asam sitrat lebih
digunakan perbandingan alkohol:asam dipilih karena lebih efisien dan efektif
sitrat 1:1,5 dari hasil penelitian Susilowati sehingga tidak membutuhkan banyak
(2013).6,9 alkohol untuk menetralkan pektin asam. 10
Metode ekstraksi yang digunakan pada Uji aktivitas tidak memerlukan banyak
penelitian ini berdasarkan dari beberapa alkohol untuk menetralkan pektin asam. 10

A B

C D
Gambar 2 Potongan Melintang Organ Kolon Tikus Galur Wistar dengan Pewarnaan Hematoxilin-
Eosin dan Perbesaran 400x
Keterangan: A: Kontrol negatif (CMC-Na 1%), B: Pektin kulit Theobroma cacao 8 mg/kgBB, C: Pektin kulit
Theobroma cacao 12 mg/kgBB, D: Pektin kulit Theobroma cacao 16 mg/kgBB

79
IJPST Volume 2, Nomor 3, Oktober 2015

Gambar 3 Jumlah Sel Goblet Antar Kelompok Perlakuan


Keterangan : **: Berbeda signifikan dengan nilai p<0,05

Uji aktivitas antikanker dilakukan dengan Pada pemeriksaan histopatologi sel


induksi DMBA sebanyak 9 kali dengan usus memperlihatkan adanya perbedaan
dosis 20 mg/kgBB tikus. Induksi dilakukan jumlah sel goblet usus. Sel goblet adalah
seminggu 2 kali dimulai pada saat tikus sel yang berfungsi sebagai sekresi mukus
berumur 8 minggu. Pemilihan dari dosis di usus besar dan melindungi usus dari
DMBA sebesar 20 mg/kgBB berdasarkan sekresi asam lambung yang berlebihan.
penelitian Hendris dan Ishwayudi (2013) Secara normal, distribusi sel goblet dalam
di mana pada dosis tersebut menunjukkan epitel kolon tersebar merata dan memiliki
kejadian kanker tercepat.8 bentuk elips dan teratur. Pada Gambar 2A
DMBA adalah senyawa karsinogen terlihat pada penampang melintang kolon
dengan rumus empiris C 20 H16 yang bersifat tikus kelompok kontrol negatif memiliki
toksik bagi tubuh. Dalam tubuh hewan distribusi jumlah sel goblet yang sedikit
pengerat akan bereaksi dengan sitokrom P- dan tidak terlihat. Pada Gambar 2B
450 dengan membentuk ikatan kovalen menunjukkan distribusi jumlah sel goblet
dengan DNA sel yang aktif sehingga lebih banyak dibanding dengan kelompok
menyebabkan DNA adducts. Gejala klinis kontrol negatif. Sedangkan pada Gambar
yang ditimbulkan senyawa DMBA antara 2C dan 2D menunjukkan distribusi jumlah
lain gangguan pada proses pencernaan, sel goblet tersebar merata meskipun pada
gangguan proses pernapasan, serta dapat gambar 2C jumlah granul dari sel goblet
menimbulkan iritasi pada kulit, dan mata.11 tidak merapat.
Pada gambar 1 menunjukkan adanya Berdasarkan analisis secara kuantitatif,
perbedaan signifikan antara peningkatan pengaruh pektin kulit buah kakao terhadap
berat badan tikus antara kelompok yang jumlah sel goblet usus dapat dilihat pada
diberikan ekstrak (dosis 1 3) terhadap Gambar 3 menunjukkan adanya penurunan
kelompok kontrol negatif. Pada Gambar 3 jumlah sel goblet pada kelompok kontrol
menunjukkan ada beberapa hari di mana negatif. Peningkatan jumlah sel goblet
terjadi penurunan rata-rata berat badan dialami oleh kelompok tikus III dan IV.
tikus pada umur tikus 69 hari sampai 72 Berdasarkan hasil analisis dapat dikatakan
hari. Kenyataan ini diduga karena tingkat bahwa pektin dari kulit buah kakao
stres yang dialami tikus yang diinduksi (Theobroma cacao) mempunyai pengaruh
DMBA. Stres menyebabkan penurunan dalam peningkatan jumlah sel goblet di
nafsu makan yang dapat berakibat terhadap usus besar hewan coba. Pektin mampu
penurunan berat badan. Pada kelompok 1 menghambat metastasis kanker sehingga
menjelang akhir masa perlakuan tidak sel kanker tidak dapat menyebar ke seluruh
terdapat data berat badan disebabkan bagian tubuh.11
karena semua tikus pada kelompok Hasil pemeriksaan secara makroskopik
perlakuan tersebut sudah nekropsi atau usus tikus dari 4 kelompok yaitu kelompok
kematian. I kontrol negatif, kelompok II dosis ekstrak

80
IJPST Volume 2, Nomor 3, Oktober 2015

8 mg/kgBB, kelompok III dosis ekstrak 12 cacao) mempunyai potensi aktivitas


mg/kgBB, dan kelompok IV dosis ekstrak antikanker tertinggi pada dosis 16
16 mg/kgBB memperlihatkan bahwa mg/kgBB. Pemberian ekstrak pada dosis
terdapat perbedaan. Pada kelompok I tertinggi dapat meningkatkan recovery
kontrol negatif terlihat ada benjolan pada jumlah sel goblet.
permukaan usus lebih banyak dibanding
dengan benjolan pada kelompok perlakuan Ucapan Terima Kasih
lain. Hal tersebut dikarenakan efek dari
senyawa karsinogen DMBA menyebabkan Ucapan terima kasih sebesar-besarnya
abnormalitas dari usus kelompok I kontrol penulis ucapkan kepada Kementerian
negatif lebih tinggi daripada kelompok Pendidikan dan Kebudayaan yang telah
perlakuan lain. membiayai penelitian ini berdasarkan surat
Gambar 3 menunjukkan bahwa ada nomor 0074/E5.3/KPM/2015.
perbedaan signifikan antara jumlah sel
goblet kelompok yang diberikan ekstrak Daftar Pustaka
(dosis 2 dan dosis 3) terhadap kelompok
perlakuan lain (kontrol negatif dan dosis 1. Sander MA. Profil penderita kanker
1). Pada penelitian ini menunjukkan bahwa kolon dan rektum di RSUP Hasan
adanya peningkatan jumlah sel goblet pada Sadikin Bandung (skripsi). Malang;
pemberian ekstrak dosis 12 mg/kgBB dan Fakultas Kedokteran Universitas
16 mg/kgBB. Berdasarkan penelitian Muhammadiyah; 2009.
Hartati dan Kurniasari (2011), pektin 2. Wicaksono MH, Permana S. Potensi
mempunyai struktur polisakarida rantai fraksi etanol benalu mangga
panjang dan mengandung galektin. 11 (Dendrophthoe pentandra) sebagai
Galektin berada pada permukaan sel yang agen antikanker kolon pada mencit
berfungsi sebagai komunikasi seluler, (Mus musculus Balb/c) setelah induksi
membuat sel dapat mengirim pesan satu dextran sulfat (DSS) dan
dengan lainnya dan membuat mereka azoxymethane (AOM). Jurnal
berikatan. Proses ini umumnya terjadi di Biotropika. 2013;1(2):7579.
sel normal, di mana jumlah galektin relatif 3. Florea A, Busselber D. Cisplatin as an
sedikit. Jumlah galektin pada sel kanker antitumor drug: Cellular mechanism of
tidak proporsional khususnya galektin-3. activity, drug resistance and induced
Untuk mengurangi kemampuan dari sel side effect. Cancer (basel). 2011;3(1):
kanker, maka koneksi antar sel harus 13511371.
diputus sehingga sel tersebut tidak dapat 4. Dinas Perkebunan Jawa Timur.
berkembang. Struktur molekul pektin Statistik dishub [diunduh 21 September
dapat menghambat proses perkembangan 2014]. Tersedia dari: http://www.
kanker dengan mengikat galektin pada disbun, jatimprov.go.id.
permukaan sel kanker sehingga akan dapat 5. Spillane, James JD. Komoditi kakao.
memutus kemampuan komunikasi antar sel Yogyakarta: Kanisius; 1995.
kanker.12 6. Susilowati, Munandar S, Edahwati L,
Harsini L. Ekstraksi pektin dari kulit
Simpulan buah coklat dengan pelarut asam Sitrat
(skripsi). Yogyakarta: Fakultas
Perlakuan pemberian pektin kulit buah Teknologi Industri UPN. 2013;11(1):
kakao (Theobroma cacao) dapat menekan 2730.
pertumbuhan kanker kolon pada tikus 7. Leclere L, Cote F, Pino JCC, Cutsem
putih galur Wistar dan dapat memulihkan PV, Michiel C. Characterization of the
kembali sel goblet pada kolon tikus. cell death pathway induced by
Ekstrak kulit buah kakao (Theobroma hydrolyzed pectin in HepG2 and A549

81
IJPST Volume 2, Nomor 3, Oktober 2015

cells. Belgia: University of Namur ekstraksi (skripsi). Semarang:


FUNDP; 2013. Universitas Diponegoro; 2009.
8. Hendris, Ishwayudi. Induksi kanker 11. Hartati I, Kurniasari L. Enzymatic
pada tikus putih Sprague Dawley extraction of low methoxyl pectin as a
sebagai hewan model dalam penelitian potential anticancer agent from green
radiofarmaka. Prosiding Seminar cincau (Premna Oblongifolia Merr.).
Nasional sains dan Teknologi Nuklir; Prosiding Seminar Nasional Sains dan
2013 Juli 4; Bandung, Indonesia: 319 Teknologi ke-2. Semarang, Indonesia:
326. 2011; 3338.
9. Edahwati L, Susilowati, Harsini, 12. Makker PN, Hogan V, Yuichiro H,
Tutuk. Produksi pektin dari kulit buah Baccarini S, Tait L, Bresalier R, et al..
coklat (Theobroma cacao) (skripsi). Inhibiton of human cancer cell growth
Yogyakarta: Universitas Pembangunan and metastasis in nude by oral intake of
Nasional. 2013;121124. modified citrus pectin. Journal of the
10. Akhmalludin, Arie. Pembuatan pektin National Cancer Institute. 2002;94
dari kulit coklat dengan metode (24):1851862.

82