Anda di halaman 1dari 11

PENGAUDITAN II

BAB 13

PENYELESAIAN PENGUJIAN DALAM SIKLUS PENJUALAN DAN

PENGUMPULAN PIUTANG: PIUTANG USAHA

Kelompok 2

1. Made Dita Desi Arista (1607532007)


2. Nyoman Ari Widnyani (1607532011)
3. I Gusti Nyoman Sintya Adnyani (1607532036)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Udayana

2018

METODOLOGI UNTUK PERANCANGAN PENGUJIAN RINCI SALDO


Bukti yang tepat harus diperoleh dari pengujian rinci saldo harus diputuskan atas
dasar tujuam-demi-tujuan. Sebagai contoh auditor harus mengevaluasi potensi terjadinya
penyelewengan dan juga harus mempertimbangkan risiko bawaan, dengan berbagai macam
tujuan,, disamping harus mempertimbangkan hasil pengujian pengendalian dan penetapan
risiko pengendalian yang bersangkutan.

Dalam perancangan pengujian rinci saldo untuk piutang usaha, auditor harus
mendapatkan hasil yang memuaskan atas 8 tujuan auditor saldo diantaranya :

1. Piutang usaha dalam dafar umur piutang cocok dengan jumlah dalam master file yang
bersangkutan, dan penjumlahannya sudah benar dan cocok dengan saldo di buku
besar (kecocokan saldo).
2. Piutang yang tercantum dalam pembukuan sungguh-sungguh ada (keberadaan).
3. Semua piutang yang ada telah dicatat dalam pembukuan (kelengkapan).
4. Piutang usaha telah dicatat dengan akurat (ketelitian).
5. Piutang usaha telah digolongkan dengan benar (penggolongan).
6. Pisah batas piutang usaha ditetapkan dengan benar (pisah-batas).
7. Piutang usaha dinyatakan sebesar nilai yang bias direalisasikan (nilai bias
direalisasikan).
8. Klien memiliki hak terhadap piutang usaha

Berikut merupakan metodologi untuk merancang pengujian rinci saldo- piutang usaha:

Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Berhubungan Dengan Piutang Usaha (Tahap
I)

Pengujian piutang usaha didasarkan pada prosedur penetapan risiko oleh auditor yang
memberi pemahaman tentang bisnis dan bidang usaha klien. Sebagai bagian dari prosedur,
auditor harus mempelajari bidang usaha klien dan lingkungan eksternal dan mengevaluasi
tujuan manajemen serta proses bisnis untuk mengidentifikasi risiko bisnis klien yang
signifikan yang dapat mempengaruhi laporan keuangan, termasuk piutang usaha

Menetapkan Kesalahan Penyajian Bisa Ditoleransi dan Risiko Bawaan

Auditor pertama-tama harus menetapkan pertimbangan materialitas dalam laporang


keuangan kemudian dialokasian ke setiap akun neraca yang signifikan dimana pengalokasian
ini disebut menetapkan kesalahan penyajian bisa ditoleransi. Piutang usaha biasanya
merupakan salah satu akun paling material dalam laporan keuangan pada perusahaan yang
melakukan penjualan secara kredit. Walaupun saldo akhir piutang berjumlah kecil, namun
transaksi dalam siklus penjualan dan pengumpulan piutang yang mempengaruhi saldo
piutang usaha bisa sangat signifikan.

Auditor menetapkan risiko bawaan untuk setiap tujuan audit untuk suatu akun seperti
halnya piutang usaha, dengan mempertimbangkan risiko bisnis klien dan sifat klien serta
bidang usahanya. Auditor umumnya mengidentifikasi suatu risiko kecurangan tertentu untuk
pengakuan pendapatan. Klien sering salah menetapkan pisah batas, baik disebabkan karena
kekeliruan atau kecurangan.
Menetapkan Risiko Pengendalian Untuk Siklus Penjualan dan Pengumpulan Piutang

Auditor biasanya menerapkan 3 aspek pengendalian internal, yaitu :

1. Pengendalian untuk mencegah atau mendeteksi kesalahan dan kecurangan


2. Pengendalian terhadap pisah batas
3. Pengendalian yang berkaitan dengan akun cadangan kerugian piutang

Auditor harus menghubungkan risiko pengendalian untuk transaksi dengan tujuan audit
saldo dalam menetapkan risiko deteksi direncanakan dan bukti yang direncanakan untuk
pengujian detil saldo.

Merancang dan Melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif


Transaksi (Tahap II)

Hasil pengujian pengendalian menentukan apakah penetapan risiko pengendlian untuk


penjualan dan pengumpulan piutang harus direvisi atau tidak. Auditor menggunakan hasil
pengujian subtantif transaksi untuk menentukan seberapa besar risiko deteksi untuk
memenuhi setiap tujuan audit sado piutang usaha.

Merancang dan Melaksanakan Prosedir Analitis (Tahap III)

Auditor melakukan prosedur analitis unuk keseluruhan siklus penjualan dan


pengumpulan piutang, tidak hanya piutang usaha. Hal ini penting karena adanya hubungan
yang erat antara akun-akun laba-rugi dengan akun-akun neraca. Apabila auditor
mengidentifikasi adanya kemungkinan kesalahan penyajian dalam penjualan atau retur
penjualan dengan menggunakan prosedur analitis, kemungkinan kesalahan penyajian piutang
usaha akan terkurangi.

Merancang dan Melaksanakan Pengujian Detil Saldo Piutang Usaha (Tahap III)

Apabila prosedur analitis dalam siklus penjualan dan pengumpulan piutang


mengungkapkan adanya fluktuasi yang tidak biasa, auditor harus mengajukan pertanyaan
tambahan kepada manajemen. Jawaban dari manajemen harus dievaluasi dengan kritis untuk
menentukan apakah jawaban tersebut cukup menjelaskan fluktuasi tidak biasa tersebut dan
apakah disertai dengan bukti pendukung.
Pengujian detil saldo tergantung pada factor-faktor yang tercantum dalam kertas kerja
perencanaan bukti. Tugas untuk memadukan factor-faktor yang menentukan risiko deteksi
direncanakan cukup kompleks karena pengukur setiap factor tidak bisa dipresisi dan bobot
yang diberikan pada setiap factor sangat subyektif. Sebaliknya, hubungan antara setiap factor
dan risiko deteksi direncanakan ditetapkan dengan baik.
B.MERANCANG PENGUJIAN ATAS RINCIAN SALDO
Tujuan 3: Merancang dan melakukan uji rincian saldo akun piutang
Walaupun lebih menekankan akun neraca ketika melakukan pengujian atas rincian
saldo auditor tidak boleh mengabaikan akun –akun laporan laba rugi karena akun-akun itu di
uji sebagai produk smapingan dari pengujian neraca.sebagai contoh jika auditor
mengkorfirmasi saldo piutang usaha dan menemukan lebih saji yang disebabkan oleh
kesalahan dalam menagih pelanggan ,maka baik piutang usaha maupun penjualan akan lebih
saji.
Konfirmasi piutang usaha merupakan pengujian atas rincian saldo piutang usaha yang paling
penting.sebagian besar pengujian piutang usaha dan penyisihan piutang tak tertagih
didasarkan pada aged trial balance.aged trial balance menyajikan daftar saldo –saldo dalam
file induk piutang usaha pada tanggal neraca,termasuk saldo pelanggaran individual yang
beredar dalam rincian saldo pada waktu antara tanggal penjualan dan tanggal neraca.
Piutang usaha yang dicatat memang ada ,Konfirmasi saldo pelanggan merupakan
pengujian atas rincian saldo yang paling penting untuk menentukan keberadaan atau
eksistensi piutang usaha yang dicatat jika pelanggan tidak merespon konfirmasi,auditor juga
memeriksa dokumen pendukung guna menverfikasi pengiriman barang dan bukti
penerimaan kas untuk menentukan apakah piutang tak tertagih.
Piutang usaha yang telah dicantumkan,sulit bagi auditor untuk menguji saldo akun yang
dihilangkan dari aged trial balance,kecuali mengandalkan pada sifat menyeimbangkan sendiri
pada file induk piutang usaha.
Piuang usaha sudah akurat,konfirmasi akun yang sudah dipilih dari neraca saldo
nmerupakan pengujian atas rincian saldo yang paling umum bagi keakuratan
piutang usaha.jika pelanggan tidak merespon permintaan konfirmasi ,auditor akan memeriksa
dokumen pendukung dengan cara yang sama seperti yang diuraikan untuk tujan keberadaan.
Piutang usaha di klasifikasikan dengan benar,biasanya auditor dapat mengevaluasi
klasivikasi piutang usaha relative jauh lebih mudah dengan mereview aged trial balance
untuk piutang yang material dari klasifikasi,dari pejabat ,direktur,atau pihak terkait lainnya.
Salah saji pisah batas(cutoff misstatement),terjadi apabila transaksi periode berjalan
dicatat dalam periode selanjutnya.tujuan dari pengujian pisah batas,tampa memandang jenis
transaksi,adalah untuk menverfikasi apakah transaksi yang mendekati akhir priode akuntansi
telah dicatat pada periode yang tepat.salah saji pisah batas dapat terjadi
untuk penjualan,retur dan pengurangan penjualan,dan penerimaan kas.bagi masing-masing
pos tersebut,auditor memerlukan pendekatan rangkap tiga untuk menentukan kelayakan pisah
batas:
1. Memutuskan kriteria pisah batas yang tepat
2. Mengevaluasi apakah klien memiliki prosedur yang memadai yang ditetapkan untuk
memastikan kelayakan pisah batas
3. Menguji apakah pisah batas sudah benar.

Pisah batas penjualan, sebagian besar klien perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur
mencatat penjualan berdasarkan criteria pengiriman barang akan dapat terjadi sebelum
pengiriman (seperti pada kasus barang yang di buat secara maassal).
Pisah batas retur dan pengurangan penjualan, prinsip –prinsip akuntansi yang diterima
umum mengharuskan bahwa retur dan pengurangan penjualan ditandingkan dengan
penjualan yang terkait jika jumlahnya material,akan tetapi bagi sebagian besar retur dan
pengurangan penjualan dicatat pada periode aqkuntansi dimana hal itu terjadi.
Pisah batas penerimaan kas,untuk sebagian besar audit,pisah batas penerimaan yang benar
kurang begitu penting dibandingkan pisah batas penjualan karena pisah batas kas yang tidak
tepat hanya mempengaruhi saldo kas dan piutang usaha.jauh lebih mudah menguji salah saji
pisah batas penerimaan kas yang (yang sering disebut sebagai penyelenggaraan pembukuan
penerimaan kas terbuka )dengan menelusuri penerimaan kas yang dicatat kesetoran bank
periode selanjutnya pada laporan bank.
Piutang usaha (realizable value of accounts receivable),sama dengan piutang usahakotor
dikurangi penysihan piutang tak tertagih untuk menghitng penjualan mengestimasi total
jumlah piutang usaha yang di perkirakan tidak dapat di tagih.
Beban piutang tak tertagih, setelah auditor puas dengan penyisihan piutang tak tertagih
,akan jauh lebih mudah memverifikasi beban piutang tak tertagih .asumsikan bahwa:
 saldo awal akun penyisihan diverifikasi sebagai bagian dari audit sebelumnya
 penghapusan piutang tak tertagih diverifikasi sebagai bagian dari pengujian subtansif
atas transaksi
 saldo akhir akun penyisihan telah diverifikasi dengan berbagai cara.

Klien memiliki hak atas piutang usaha,pada umumnya hak klien atas piutang
usahatidakmenimbulkan masalah karena biasanya piutang milik klien .akan tetapi dari
beberapa kasus sebagian dar piutang mungkin telah digadaikan sebagai jaminan,dibebankan
kepada orang lain.difaktorkanatau di jual dengan discon.
Penyajian dan pengungkapan piutang usaha, pengujian terhadap empat tujuan audit yang
berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan umumnya dilakukan sebagai bagian dari tahap
penyelesaian audit.akan tetapi beberapa pengujian atas penyajian dan pengungkapan sering
kali dlakukan dengan pengujian untuk memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan saldo.
Konfirmasi Piutang Dagang
Tujuan 4: Memperoleh dan mengevaluasi konfirmasiakun piutang
Persyaratan Standard Auditing
Standard audit mensyaratkan konfirmasi piutang dagang dalam kondisi normal. PSA 07
(SSA 330) menyebutkan tiga pengecualian terhadap persyaratan konfirmasi tersebut, yaitu :
1 Piutang dagang jumlahnya tidak material. Hal ini biasa terjadi pada perusahaan tertentu,
misalnya totko diskon dengan penjualan tunai dan kartu kredit.
2 Auditor mempertimbangkan bahwa konfirmasi merupakan bukti yang tidak efektif karena
tingkat respon yang rendah atau tidak dapat diandalkan. Dalam industry tertentu, seperti
rumah sakit, tingkat respon untuk konfirmasi itu sangat rendah.
3 Kombinasi dari tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian adalah rendah dan bukti
substantive lain dapat diakumulasikan sebagai bukti yang cukup. Jika klien memiliki
pengendalian internal efektif dan risiko bawaan yang cukup rendah terhadap siklus
penjualan dan penagihannya, maka auditor perlu memenuhi persyaratan dengan
melakukan pengujian pengendalian, pengujian substantive atas transaksi, dan prosedur
analitis.

Jenis-jenis Konfirmasi
a Konfirmasi positif Konfirmasi positif adalah konfirmasi yang ditujukan kepada debitur
untk meminta konfirmasi secara langsung apakah saldo yang disebutkan dalam
konfirmasi tersebut benar atau salah.
Formulir konfirmasi kosong adalah jenis konfirmasi positif yang tidak menyebutkan
jumlah yang dikonfirmasi, tetapi mensyaratkan penerima untuk mengisi jumlahnya atau
memasukkan informasi lain. Formulir kosong ini jarang digunakan dalam praktik
karena biasanya tingkat responnya lebih rendah.
Konfirmasi tagihan adalah bentuk lain dari konfirmasi positif yang merupakan
konfirmasi individual, bukan saldo keseluruhan piutang pelanggan. Banyak pelanggan
menggunakan system voucher sehingga mereka bisa mengkonfirmasi tagihan
individual, tetapi bukna informasi saldo keseluruhan. Akibatnya, penggunaan
konfirmasi tagihan ini menaikkan tingkat respon.
b Konfirmasi negative
Konfirmasi negative juga ditujukan kepada debitur, tetapi hanya meminta
respon jika debitur tidak menyetujui jumlah yang dinyatakan dalam konfirmasi.
Konfirmasi positif merupakan bukti yang lebih dapat diandalkan karena
auditor dapat melakukan prosedur lain jika respon tidak diperoleh dari debitur.
Dengan konfirmasi negative, pelanggan bisa saja tidak merespon dan dianggap
menyetujui jumlah yang dikonfirmasi, meskipun mungkin sebenarnya pelanggan
mengabaikan permintaan konfirmasi.
Auditor berhak menentukan jenis konfirmasi yang akan digunakan, dan hal ini
sebaiknya berdasarkan fakta dalam audit. PSA 07 menyatakan bahwa konfirmasi
negative dapat dilakukan hanya jika tiga kondisi berikut dipenuhi.
1 Piutang dagang terdiri dari sejumlah besar akun bersaldo kecil.
2 Kombinasi antara risiko pengendalian dan risiko bawaan adalah
rendah. Kombinasi risiko tidak dapat dikatakan rendah jika
pengendalian internal tidak efektif atau terdapat kemungkinan salah
saji. Jika audit tahun sebelumnya mengindikasikan bahwa piutang
dagang sering tidak akurat, maka konfirmasi negative tidak tepat untuk
dilakukan.
3 Jika diyakini bahwa penerima konfirmasi tidak mengabaikan
konfirmasi yang diminta. Misalnya, jika tingkat respon konfirmasi
positif tahun-tahun sebelumnya sangat tinggi atau jika terdapat tingkat
respon yang tinggi pada klien yang sama.

Biasanya, jika konfirmasi negative dilakukan, maka auditor akan memberikan


penekanan pada efektifitas pengendalian internal, pengujian substantive dan prosedur
analitis sebagai bukti kewajaran piutang dagang, dan mengasumsikan bahwa
mayoritas penerima konfirmasi akan membaca dengan seksama dan merespon
permintaan konfirmasi.
Konfirmasi negative biasanya digunakan untuk audit rumah sakit, toko ritel,
bank, dan industry lain yang piutang dagangnya berhubungan dengan masyarakat
umum. Kombinasi konfirmasi negative dan konfirmasi positif juga biasa dilakukan
dengan mengirimkan konfirmasi positif kepada debitur dengan saldo besar dan
menggunakan konfirmasi negative kepada debitur bersaldo kecil.
Pilihan konfirmasi oleh auditor dipengaruhi oleh materialitas dari total piutang
dagang, jumlah dan ukuran setiap akun, risiko pengendalian, risiko yang tak
terhindarkan, efektifitas dari konfirmasi sebagai bukti audit, dan ketersediaan bukti
audit lain.
Penetepan Waktu
Bukti yang paling dapat diandalkan dari konfirmasi diperoleh saat konfirmasi tersebut
dikirimkan sesegera mungkin setelah penutupan tanggal neraca. Dengan ini auditor dapat
secara langsung menguji saldo piutang dagang dari laporan keuangan tanpa perlu
memperhatikan transaksi yang terjadi antara tanggal konfirmasi dan tanggal neraca. Selain
itu, untuk melakukan audit berbasis ketepatan waktu, biasanya diperlukan konfirmasi akun-
akun selama tanggal intermin.
Jika auditor memutuskan untuk mengkonfirmasi piutang dagang sebelum akhir tahun,
maka auditor tersebut biasanya menyiapkan skedul ke depan untuk merekonsiliasi saldo
piutang dagang pada tanggal neraca.
Keputusan Pengambilan Sampel
Jumlah sampel
Factor utama yang mempengaruhi jumlah sampel dalam melakukan konfirmasi piutang
dagang terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu:
 Salah saji yang dapat diterima.
 Risiko yang tak terhindarkan (ukuran relative dari total piutang dagang, jumlah akun,
hasil pengujian tahun sebelumnya, dan ekspektasi salah saji).
 Risiko pengendalian.
 Risiko deteksi yang diperoleh dari pengujian substantive lainnya (perluasan dan hasil dari
pengujian substantive atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian detail lainnya).
 Tipe konfirmasi (konfirmasi negative biasanya membutuhkan sampel lebih banyak).
Pemilihan Sampel Pengujian
Beberapa tingkatan sampel diperlukan bagi hamper seluruh jenis konfirmasi. Dalam
melakukan pendekatan untuk memilih tingkatan sampel, auditor perlu mempertimbangkan
besaran nominal akun per individu dan jangka waktu peredaran piutang dagang. Dalam
banyak kasus, auditor mengambil sampel seluruh akun diatas jumlah nominal tertentu dan
memilih sampel acak atas sisanya.
Menjalankan Pengendalian
Setelah sampel konfirmasi ditentukan, auditor perlu melakukan pengendalian
konfirmasi hingga dikembalikan dari pelanggan. Jika klien membantu menyiapkan
konfirmasi, seperti memasukkan surat konfirmasi ke dalam amplop tertutup, atau melekatkan
cap pada amplop, auditor harus melakukan pengawasan ketat.
Tindak Lanjut Bila Tidak Ada Tanggapan
Surat konfirmasi yang tidak dikembalikan oleh pelanggan tidak dapat dianggap sebagai
bukti audit. Misalnya, tidak ada tanggapan atas konfirmasi positif bukan berarti merupakan
bukti audit. Sama halnya dengan konfirmasi negative, jika tidak ada respon maka auditor
tidak boleh menyimpulkan bahwa pelanggan menerima permintaan konfirmasi dan
membenarkan permintaan informasi.
Jika menggunakan konfirmasi positif, PS 07 mensyaratkan prosedur tindak lanjut bila
terdapat konfirmasi yang tidak diatnggapi. Biasanya, tindak lanjut dilakukan dengan
mengirimkan permintaan konfirmasi kedua atau bahkan ketiga. Jika pelanggan tetap tidak
mengembalikan surat konfoirmasi, maka perlu dilakukan tindak lanjut dengan prosedur
alternative. Tujuan dari prosedur alternative adalah menentukan, tanpa konfirmasi, apakah
akun yang tidak dijawab memang benar ada, dan disajikan dengan benar pada tanggal
konfirmasi. Untuk setiap konfirmasi positif yang tidak dikembalikan, auditor dapat
memeriksa dokumen untuk menguji keberadaan dan akurasi transaksi penjualan individu
yang tercantum dalam saldo akhir piutang dagang.
Analisis Perbedaan
Ketika permintaan konfirmasi dikembalikan oleh pelanggan, auidtor harus menentukan
alasan jika ditemukan perbedaan. Dalam banyak kasus, perbedaan tersebut disebabkan oleh
beda waktu antara pencatatan klien dan pelanggan. Beda waktu perlu dipisahkan dari
pengecualian (exeption), yang merupakan salah saji atas saldo piutang dagang. Jenis
perbedaan yang biasa terjadi pada hasil konfirmasi meliputi :
Pembayaran yang dilakukan Perbedaanbiasanya terjadi ketika pelanggan sudah melakukan
pembayaran sebelum tanggal konfirmasi, tetapi klien belum menerima pembyaran saat
pencatatan sebelum tanggal konfirmasi. Hal ini perlu diselidiki dengan saksama dengan
seksama untuk mengetahui kemungkinan salah saji akibat pisah batas penerimaan kas,
penggelapan dengan mengguhkan pencatatan penerimaan kas (lapping), atau pencurian kas.
Barang Belum diterima Perbedaan ini biasanya timbul karena klien mencatat penjualan
pada tanggal pengiriman dan pelanggan mencatat pembelian pada saat barang diterima.
Waktu ketika barang dalam masa pengiriman menyebabkan perbedaan pelaporan tanggal
penerimaan barang atau salah saji akibat pisah batas pada catatan pelanggan.
Pengembalian Barang Kesalahan klien dalam mencatat memo kredit dapat terjadi karena
beda waktu atau kesalahan pencatatan retur dan cadangan penjualan. Sama halnya dengan
perbedaan lain, hal ini perlu diselidiki.
Kesalahan Klerikal dan Jumlah yang Dipertentangkan Perbedaan yang terjadi dalam
laporan pencatatan klien biasanya terjadi ketika pelanggan menyatakan terjadinya
kesalahanatas harga barang, kerusakan barang, jumlah barang yang tidak diterima, dan lain-
lain. Perbedaan ini perlu diselidiki untuk menentukan apakah klien melakukan kesalahan dan
berapa jumlah keslahan yang terjadi.
Dalam banyak kasus, auditor akan meminta klien merekonsiliasi perebdaan tersebut,
dan jika perlu, akan mengkomunikasikan dengan pelanggan untuk menyelesaikan perbedaan
tersebut. Auditor perlu berhati-hati dalam melakukan verifikasi kesimpulan klien untuk setiap
perbedaan yang signifikan.
Pengambilan Kesimpulan
Ketika masalah perbedaan sudah diselesaikan, termasuk perbedaan yang ditemukan saat
melakukan prosedur alternatif, auditor harus melakukan evaluasi ualng terhadap
pengendalian internal. Setiap salah saji harus harus dianalisis untuk menentukan apakah hal
ini konsisten atau tidak konsisten dengan tingkat yang ditetapkan dalam resiko pengendalian.
Jika terdapat jumlah salah saji yang signifikan dan tidak konsisten dengan evaluasi resiko
pengendalian, maka perlu dilakukan revisi terhadap evaluasi dan mempertimbangkan dampak
revsisi tersebut terhadap audit. Auditor pada perusahaan publik harus juga
mempertimbangkan implikasi dari audit pengendalian internal atas pelaporan keuangan.
Selain itu, perlu dipastikan bahwa sampel yang diambil dapat mewakili populasi dengan
benar. Meskipun jumlah salah saji dalam sampel tidak signifikan dalam mempengaruhi
laporan keuangan, auditor perlu mempertimbangkan jika salah saji itu menjadi material
dalam populasi. Generalisasi hasil sampel ke populasi dapat dialakukan melalui teknik
pengambilan sampel sacara statistik atau non statistik.
Auditor harus selalu mengevaluasi kondisi kualitatif dan salah saji yang ditemukan
dalam sampel, tampa memperhatikan nominal salah saji populasi yang diestimasi. Bahkan,
jika salah saji yang diestimasi lebih kecil dari salah saji yang dapat diterima untuk piutang
dagang, salah saji yang ditemukan dalam sampel bisa saja merupakan gejala dari masalah
yang lebih serius.
Keputusan akhir tentang piutang dagang dan penjualan adalah mengenai apakah bukti
memadai telah diperoleh melalui pengujian pengendalian dan pengujian subtantif atas
transaksi , prosedur analitis, prosedur pisah batas, konfirmasi, dan pengujian subtantif lain
untuk menguatkan pengambilan keputusan mengenai kebenaran saldo yang disajikan.
Mengembangkan Pengujian Atas Program Audit Perinci
Tujuan 5: Merancang prosedur audit untuk audit piutang usaha, menggunakan perencanaan bukti
lembar kerja sebagai panduan
Untuk lebih mempermudah pemahaman maka dalam membahas subbab ini, maka akan
digunakan contoh kasus pada PT Perkakas Prima guna mengilustrasikan pengembangan
prosedur program audit untuk pengujian perincian dalam siklus penjualan dan penagihan.
Prosedur ini ditentukan atas dasar pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas
transaksi.
Mira Abadi, seorang auditor senior, menyiapkan kertas kerja perencanaan bukti sebagai
panduan dalam memutuskan seberapa luas pengujian perincian saldo tersebut. Informasinya
adalah sebagai berikut:
 Salah saji yang dapat diterima. Ketentuan awal atas materealitas adalah diatas Rp
442.000.000 (sekitar 6% dari laba operasi sebesar Rp 7.370.000.000). Ia mengalokasikan
Rp 265.000.000 ke audit piutang dagang.
 Risiko audit yang bias diterima. Mira menentukan risiko audit yang dapat diterima
adalah tinggi, karena perusahaan dalam kondisi keuangan yang bagus, stabilitas
keuangan yang tinggi, dan pengguna laporan keuangan yang hanya sedikit.
 Risiko bawaan. Mira menentukan bahwa tingkatan risiko yang tak terhindarkan adalah
medium untuk keberadaan dan pisah batas karena hal-hal yang perlu diperhatikan
mengenai pengakuan pendapatan. Mira juga menentukan risiko yang tak terhindarkan
adalah medium untuk nilai realisasi. Pada tahun-tahun sebelumnya, klien membuat
penyesuaian audit atas cadangan piutang tak tertagih karena terbukti kurang saji. Risiko
bawaan untuk tujuan lain ditetapkan rendah.
 Risiko pengendalian. Penentuan risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit sesuai
dengan standar yang ada.
 Pengujian substantive atas hasil transaksi. Penentuan pengujian substantive atas hasil
transaksi untuk setiap tujuan audit sesuai dengan standar yang ada.
 Prosedur analitis.
 Risiko deteksi terencana dan bukti audit terencana. Dua baris ini ditujukan untuk setiap
tujuan berdasarkan kesimpulan dari dua baris lainnya.