Anda di halaman 1dari 16

Characteristic of mathematic

A. Matematika Memiliki Objek Kajian Yang Abstrak.

Di dalam matematika objek dasar yang dipelajari adalah abstrak, sering juga disebut sebagai

objek mental.

Adapun objek-objek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:[1]

1. Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi yang diungkap dengan simbol tertentu.

Contoh simbol bilangan “3” sudah di pahami sebagai bilangan “tiga”. Jika di sajikan angka “3”

maka sudah dipahami bahwa yang dimaksud adalah “tiga”, dan sebalikbya.

2. Konsep (abstrak) adalah ide abstrak dapat digunakan untuk menggolongkan atau

mengklasifikasikan sekumpulan objek. Apakah objek tertentu merupakan suatu konsep atau

bukan. ”segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak, “Bilangan asli” adalah nama suatu

konsep yang lebih komplek, konsep lain dalam matematika yang sifatnya lebih kompleks

misalnya “matriks”, “vektor”, “group” dan ruang metrik”.

3. Operasi (abstrak) adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar dan pengerjaan

matematika yang lain. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”, “perkalian”, “gabungan”,

“irisan”.

4. Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Prinsip dapat berupa

“aksioma”, “teorema”, “sifat” dan sebagainya.[2]

B. Bertumpu Pada Kesepakatan

Dalam matematika kesepakatan merupakan tumpuan yang amat penting. Kesepakatan yang

amat mendasar adalah aksioma dan konsep primitif. Aksioma diperlukan untuk menghindarkan

berputar-putar dalam pembuktian. Sedangkan konsep primitif diperlukan untuk menghindarkan


berputar-putar dalam pendefinisian. Aksioma juga disebut sebagai postulat (sekarang) ataupun

pernyataan pangkal (yang sering dinyatakan tidak perlu dibuktikan). Beberapa aksioma dapat

membentuk suatu sistem aksioma, yang selanjutnya dapat menurunkan berbagai teorema.

C. Berpola Pikir Deduktif

Dalam matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif

secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang berpangkal dari hal yang bersifat umum

diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus”.[3]

Contoh:

Banyak teorema dalam matematika yang “ditemukan” melalui pengamatan-pengamatan khusus,

misalnya Teorema Phytagoras. Bila hasil pengamatan tersebut dimasukkan dalam suatu struktur

matematika tertentu, maka teorema yang ditemukan itu harus dibuktikan secara deduktif antara lain

dengan menggunakan teorema dan definisi terdahulu yang telah diterima dengan benar.[4]

D. Memiliki Simbol Yang Kosong Dari Arti

Dalam matematika jelas terlihat banyak sekali simbol yang digunakan, baik berupa huruf

ataupun bukan huruf. Rangkaian simbol-simbol dalam matematika dapat membentuk suatu model

matematika. Model matematika dapat berupa persamaan, pertidaksamaan, bangun geometri

tertentu, dsb. Huruf-huruf yang digunakan dalam model persamaan, misalnya x + y = z belum tentu

bermakna atau berarti bilangan, demikian juga tanda + belum tentu berarti operasi tamba untuk dua

bilangan. Makna huruf dan tanda itu tergantung dari permasalahan yang mengakibatkan

terbentuknya model itu. Jadi secara umum huruf dan tanda dalam model x + y = z masih kosong dari

arti, terserah kepada yang akan memanfaatkan model itu. Kosongnya arti itu memungkinkan

matematika memasuki medan garapan dari ilmu bahasa (linguistik).[5]

Jadi secara umum, model/simbol matematika sesungguhnya kosong dari arti. Ia akan

bermakna sesuatu bila kita mengaitkannya dengan konteks tertentu.[6]


E. Memperhatikan semesta pembicaraan

Bila lingkup pembicaraanya adalah bilangan, maka simbol-simbol diartikan bilangan. Bila lingkup

pembicaraanya transformasi, maka simbol-simbol itu diartikan suatu transformasi. Lingkup

pembicaraan itulah yang disebut dengan semesta pembicaraan. Benar atau salahnya ataupun ada

tidaknya penyelesaian suatu model matematika sangat ditentukan oleh semesta pembicaraannya.

Contoh:

Dalam semesta pembicaraan bilangan bulat, terdapat model 2x = 5. Adakah penyelesaiannya? Kalau

diselesaikan seperti biasa, tanpa menghiraukan semestanya akan diperoleh hasil x = 2,5. Tetapi kalu

suda ditentukan bahwa semestanya bilangan bulat maka jawab x = 2,5 adalah salah atau bukan

jawaban yang dikehendaki. Jadi jawaban yang sesuai dengan semestanya adalah “tidak ada

jawabannya” atau penyelesaiannya tidak ada. Sering dikatakan bahwa himpunan penyelesaiannya

adalah “himpunan kosong”.

F.Konsisten dalam sistemnya

Matematika memiliki berbagai macam sistem. Sistem dibentuk dari ‟prinsip-prinsip‟

matematika.

Tiap sistem dapat saling berkaitan namun dapat pula dipandang lepas (tidak berkaitan).

Sistem yang dipandang lepas misalnya sistem yang terdapat dalam Aljabar dan sistem yang

terdapat dalam Geometri. Di dalam geometri sendiri terdapat sistem-sistem yang lebih kecil

atau sempit dan antar sistem saling berkaitan.

Dalam suatu sistem matematika berlaku hukum konsistensi atau ketaatazasan, artinya tidak

boleh terjadi kontradiksi di dalamnya. Konsistensi ini mencakup dalam hal makna maupun

nilai kebenarannya. Contoh: Bila kita mendefinisikan konsep trapesium sebagai ‟segiempat

yang tepat sepasang sisinya sejajar‟ maka kita tidak boleh menyatakan bahwa jajaran

genjang termasuk trapesium. Mengapa? Karena jajaran genjang mempunyai dua pasang sisi

sejajar.
BAB III

PENUTUP

Simpulan:

Berdasarkan pembahasan, maka dapat di simpulkan bahwa karakteristik- karakteristik umum

matematika yaitu sebagai berikut:

1. Memiliki Kajian Objek Abstrak.

2. Bertumpu Pada Kesepakatan.

3. Berpola pikir Deduktif

4. Memiliki Simbol yang Kosong dari Arti.

5. Memperhatikan Semesta Pembicaraan.

6. Konsisten Dalam Sistemnya.


DAFTAR PUSTAKA

Budi S, http://bupulenambudi.blogspot.com/2011/12/karakteristik-matematika-dan-hakekat.html

diakses Jum’at, 27 Desember 2013.

http://www.academia.edu/2229723/Implementasi_Pendidikan_Karakter_dalam_Pendidikan_Mate

matik.html diakses Sabtu 28 Desember 2013.

Sumardyono, Karekteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran

Matematika, PPP04_KarMtk.Pdf, h. 39, diakses Kamis, 26 Desember 2013.

Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika,Jakarta: Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi, 2000.

[1] Budi S, http://bupulenambudi.blogspot.com/2011/12/karakteristik-matematika-dan-


hakekat.html diakses Jum’at, 27 Desember 2013, jam 16:39 Wita.
[2] Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika, (Jakarta: Direktoral Jenderal Pendidikan
Tinggi, 2000), h. 57
[3]http://www.academia.edu/2229723/Implementasi_Pendidikan_Karakter_dalam_Pe
ndidikan_Matematik.html diakses Sabtu 28 Desember 2013, jam 07:00 Wita.
[4] Sumardyono, Karekteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran
Matematika, PPP04_KarMtk.Pdf, h. 39, diakses Kamis, 26 Desember 2013.
[5] Budi S, http://bupulenambudi.blogspot.com/2011/12/karakteristik-matematika-dan-
hakekat.htmlop.cit.
[6] Sumardyono, Karekteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran
Matematika, PPP04_KarMtk.Pdf, op.cit.

ENGLISH LANGUAGE

A. Mathematics Has Abstract Objects.

In mathematics the basic objects studied are abstract, often referred to as mental objects..

The objects can be explained as follows: [1]

1. Facts (abstracts) in the form of conventions revealed with certain symbols. An example of a
number symbol "3" has been understood as a number "three". If presented with the number
"3" then it is understood that what is meant is "three", and vice versa.

2. Concept (abstract) is an abstract idea that can be used to classify or classify a set of objects.
Whether a particular object is a concept or not. "Triangle" is the name of an abstract concept,
"Natural Numbers" is the name of a more complex concept, other concepts in mathematics that
are more complex such as "matrix", "vector", "group" and metric space ".

3. Operations (abstracts) are counting work, algebraic work and other mathematical works. For
example, "addition", "multiplication", "combination", "slice".

4. Principle (abstract) is a complex mathematical object. The principle can be "axioms",


"theorems", "traits" and so on. [2]
B. Relying on the Agreement

In mathematics agreement is a very important support. A very basic agreement is axiom and
primitive concepts. Axioms are needed to avoid circling in proof. While the primitive concept is
needed to avoid circling in defining. Axioms are also referred to as postulates (present) or base
statements (which are often stated not to be proven). Some axioms can form a system of axioms,
which can further reduce various theorems.

C. Deductive Thinking Pattern

In mathematics as "science" is only accepted by a deductive mindset. The deductive mindset can
simply be thought of "which originates from things that are generally applied or directed to things
that are specific". [3]

Example:

Many theorems in mathematics are "discovered" through special observations, such as the
Pythagorean Theorem. If the observations are included in a certain mathematical structure, then the
found theorem must be proven deductively, among others, by using theorem and the previous
definitions that have been received correctly. [4]

D. Has a Blank Symbol from Meanings

In mathematics it is clear that there are a lot of symbols used, either letters or non-letters. A series
of symbols in mathematics can form a mathematical model. Mathematical models can be in the
form of equations, inequalities, building certain geometries, etc. The letters used in the equation
model, for example x + y = z are not necessarily meaningful or mean numbers, as well as the + sign
does not necessarily mean tamba operations for two numbers. The meaning of letters and signs
depends on the problems that result in the formation of the model. So in general the letters and
signs in the model x + y = z are still empty of meaning, it is up to those who will use the model. The
blank meaning allows mathematics to enter the field of linguistics. [5]

So in general, the mathematical model / symbol is actually empty of meaning. It will mean
something if we associate it with a particular context. [6]

E. Pay attention to the universe of speech

If the scope of the speaker is a number, then the symbols are interpreted as numbers. If the scope of
the conversation is transformed, then the symbols are defined as a transformation. The scope of the
conversation is called the universe of speech. Right or wrong or the presence or absence of a
mathematical model is determined by the universe of the conversation.

Example:

In the universe of integer talks, there is a 2x model = 5. Is there a solution? If completed as usual,
regardless of the results x = 2.5. But if it is determined that an integer is supposed to be, then
answer x = 2.5 is wrong or not the desired answer. So the correct answer is "no answer" or no
solution. It is often said that the set of solutions is "empty set".
F.Consistent in the system

Mathematics has a variety of systems. The system is formed from 'principles' of mathematics.

Each system can be interrelated, but can also be seen as independent (unrelated). The system that is
seen as loose, for example the system contained in Algebra and the system contained in Geometry.
In geometry itself there are smaller or narrower systems and interrelated systems.

In a mathematical system, the law of consistency or obedience applies, meaning there cannot be
contradictions in it. This consistency includes both the meaning and the truth value. Example: If we
define the concept of trapezoid as 'the right quadrilateral a pair of sides is parallel' then we cannot
state that parallelograms are trapezoidal. Why? Because the parallelogram has two pairs of parallel
sides.

During this view that mathematics is very scary lesson still hasn't changed. This matter

because students experience a lot

difficulty to learn

mathematics which is the object of study

abstract. As is

expressed by Soedjadi (2000:


13) presents characteristics

mathematics, namely:

1. Having a study object

abstract.

2. Rely on agreement.

3. Deductive thinking pattern.

4. Has an empty symbol

of meaning.

5. Pay attention to the universe

talks.

6. Consistent in the system.

Carraher (2008)

states that mathematics has been contributed in important ways to long-standing debates about
mathematical concepts, symbolic representation, and the role of contexts in thinking. Mathematics

with regard to concepts,

symbol representation, and rules

in the context of human thinking.wa

Furthermore Uno (2011: 129)

revealed that

mathematics as a science

is a thought tool and tool

to solve various practical problems in it

requires analysis and logic

think someone.

There are also many difficulties

experienced by students in

solve the problem

with regard to story matters.

Some research about

problem solving story problems

mathematics which is research


done by Putri (2008),

it was revealed that difficulties were

often experienced by students like 1)

Don't understand concepts

simple 2) Don't know

the purpose of the problem, 3) Can not

translate questions into

math sentence, 4) Can't

finish the sentence

mathematics, 5) Not careful

in counting, 6) Error

in writing numbers.

Based on PISA data for the year

2009 in Ariyadi Wijaya (2012:

1-2), obtained results that almost

half Indonesian students (43.5%)

unable to solve the problem

The simplest PISA. Around

one third of Indonesian students are

(33.1%) can only work

questions from contextual questions

given explicitly

all data needed for

working on the questions is given

right. Only 0.1% of Indonesian students

able to develop and

doing modeling

demanding math

thinking skills and

reasoning.

Based on these data


can be concluded that

ability of Indonesian students

in identifying and

understand the role of mathematics in

life is still very low.

Problems in mathematics

have several definitions.

According to Dewiyani (2008: 2),

the problem in mathematics is

questions or questions that must be

answered or responded. In line

with this opinion, Herman

Hudojo (2005: 69) states

that problem in mathematics

what is presented should be

contextual problems where

the question given is appropriate

with student experience

Based on opinions on

above, the problem is something

question where is the question

this is a challenge for

individual and to answer it

procedures that are not needed

he usually does so

requires reasoning thinking

more profound than what

what he has known.

Look at the description above,

efforts need to be made to

describe errors
students in completing

problem about story. Error

in solving problems

mathematics can be utilized

to detect learning difficulties

mathematics so it can

find alternatives

deep solution

solve the problem of story problems

mathematics.

PENDAHULUAN

Selama ini pandangan

bahwa matematika merupakan

pelajaran yang sangat menakutkan

masih belum berubah. Hal ini

karena siswa banyak mengalami

kesulitan untuk mempelajari

matematika yang objek kajiannya

abstrak. Sebagaimana

diungkapkan oleh Soedjadi (2000:

13) mengemukakan karakteristik

matematika, yakni:

1. Memiliki objek kajian yang

abstrak.

2. Bertumpu pada kesepakatan.

3. Berpola pikir deduktif.

4. Memiliki simbol yang kosong

dari arti.
5. Memperhatikan semesta

pembicaraan.

6. Konsisten dalam sistemnya.

Carraher (2008)

menyatakan bahwa mathematics

has contributed in important ways

to long-standing debates about

mathematical concepts, symbolic

representation, and the role of

contexts in thinking. Matematika

berkenaan dengan konsep,

representasi simbol, dan aturan

dalam konteks berpikir manusia.

Lebih lanjut Uno (2011: 129)

mengungkapkan bahwa

matematika sebagai ilmu yang

merupakan alat pikir dan alat

untuk memecahkan berbagai persoalan praktis yang didalamnya

membutuhkan analisis dan logika

berpikir seseorang.

Kesulitan juga banyak

dialami siswa dalam

menyelesaikan masalah yang

berkenaan dengan soal cerita.

Beberapa penelitian mengenai

masalah menyelesaikan soal cerita

matematika yaitu penelitian yang

dilakukan oleh Putri (2008),

terungkap bahwa kesulitan yang

sering dialami siswa seperti 1)

Tidak paham konsep-konsep


sederhana 2) Tidak mengetahui

maksud soal, 3) Tidak bisa

menerjemahkan soal ke dalam

kalimat matematika, 4) Tidak bisa

menyelesaikan kalimat

matematika, 5) Tidak cermat

dalam menghitung, 6) Kesalahan

dalam menulis angka.

Berdasarkan data PISA tahun

2009 dalam Ariyadi Wijaya (2012:

1-2), diperoleh hasil bahwa hampir

setengah siswa Indonesia (43,5%)

tidak mampu menyelesaikan soal

PISA paling sederhana. Sekitar

sepertiga siswa Indonesia yaitu

(33,1%) hanya bisa mengerjakan

soal dari soal kontekstual

diberikan secara eksplisit serta

semua data yang dibutuhkan untuk

mengerjakan soal diberikan secara

tepat. Hanya 0,1% siswa Indonesia

mampu mengembangkan dan

mengerjakan pemodelan

matematika yang menuntut

keterampilan berpikir dan

penalaran.

Berdasar pada data tersebut

dapat disimpulkan bahwa

kemampuan siswa Indonesia

dalam mengidentifikasi dan me-

mahami peran matematika dalam


kehidupan masih sangat rendah.

Masalah dalam matematika

memiliki beberapa definisi.

Menurut Dewiyani (2008: 2),

masalah dalam matematika adalah

pertanyaan atau soal yang harus

dijawab atau direspon. Sejalan

dengan pendapat tersebut, Herman

Hudojo (2005: 69) menyatakan

bahwa masalah dalam matematika

yang disajikan seharusnya adalah

masalah yang kontekstual dimana

pertanyaan yang diberikan sesuai

dengan pengalaman siswa

Berdasarkan pendapat di

atas, masalah adalah suatu

pertanyaan dimana pertanyaan

tersebut merupakan tantangan bagi

individu dan untuk menjawabnya

diperlukan prosedur yang tidak

biasa dilakukannya sehingga

memerlukan penalaran berpikir

yang lebih mendalam dari apa

yang telah diketahuinya.

Mencermati uraian di atas,

perlu dilakukan upaya untuk men-

deskripsikan kesalahan-kesalahan

siswa dalam menyelesaikan

masalah soal cerita. Kesalahan

dalam menyelesaikan soal

matematika dapat dimanfaatkan


untuk mendeteksi kesulitan belajar

matematika sehingga dapat

menemukan alternatif

pemecahannya dalam

menyelesaikan masalah soal cerita

matematika.