Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lansia (Lanjut Usia)

2.1.1 Definisi Lansia

Undang-undang No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia menyatakan bahwa


lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Dalam mendefinisikan batasan
penduduk lanjut usia, ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek
ekonomi dan aspek sosial.(1) Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang
mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan
fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian.
Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem
organ.

Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari pada sebagai
sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi memberikan
banyak manfaat, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat.

Dari aspek sosial, penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di
negara Barat, penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum muda. Hal ini dilihat
dari keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi, pengaruh terhadap pengambilan
keputusan serta luasnya hubungan sosial yang semakin menurun. Akan tetapi di Indonesia
penduduk lanjut usia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda.

2.1.2 Klasifikasi Lansia


Berdasarkan World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi empat
kriteria berikut : usia pertengahan ( middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun, usia
lanjut (elderly) antara 60-74 tahun, usia tua (old) antara 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) di
atas 90 tahun.(2)
Menurut Departemen Kesehatan RI membagi lansia menjadi kelompok menjelang usia
lanjut (45 -54 tahun) sebagai masa vibrilitas, kelompok usia lanjut (55 -64 tahun) sebagai
presenium, kelompok usia lanjut (≥ 65 tahun) sebagai senium.(3)

2.1.3 Konsep Menua


Menua adalah proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang frail
dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan
terhadap berbagai penyakit dan kematian.(4) Terdapat dua jenis penuaan, antara lain penuaan
primer, merupakan proses kemunduran tubuh gradual tak terhindarkan yang dimulai pada masa
awal kehidupan dan terus berlangsung selama bertahun-tahun, terlepas dari apa yang orang-
orang lakukan untuk menundanya. Sedangkan penuaan sekunder merupakan hasil penyakit,
kesalahan dan penyalahgunaan faktor-faktor yang sebenarnya dapat dihindari dan berada dalam
kontrol seseorang.(5)
Banyak perubahan yang dikaitkan dengan proses menua merupakan akibat dari
kehilangan yang bersifat bertahap (gradual loss). Watson (2003) mengungkapkan bahwa lansia
mengalami perubahan-perubahan fisik diantaranya perubahan sel, sistem persarafan, sistem
pendengaran, sistem penglihatan, sistem kardiovaskuler, sistem pengaturan suhu tubuh, sistem
respirasi, sistem gastrointestinal, sistem genitourinari, sistem endokrin, sistem muskuloskeletal,
disertai juga dengan perubahan-perubahan mental menyangkut perubahan ingatan (memori).
Berdasarkan perbandingan yang diamati secara potong lintang antar kelompok usia yang
berbeda, sebagian besar organ tampaknya mengalami kehilangan fungsi sekitar 1 persen per
tahun, dimulai pada usia sekitar 30 tahun.(6)

2.2 Fungsi Kognitif


2.2.1 Definisi Fungsi Kognitif
Fungsi kognitif merupakan suatu proses pekerjaan pikiran yang dengannya kita menjadi
waspada akan objek pikiran atau persepsi, mencakup semua aspek pengamatan, pemikiran dan
ingatan.(7)
Fungsi kognitif adalah merupakan aktivitas mental secara sadar seperti berpikir,
mengingat, belajar dan menggunakan bahasa. Fungsi kognitif juga merupakan kemampuan
atensi, memori, pertimbangan, pemecahan masalah, serta kemampuan eksekutif seperti
merencanakan, menilai, mengawasi dan melakukan evaluasi.(8)
2.2.2 Aspek-Aspek Fungsi Kognitif
Fungsi kognitif seseorang meliputi berbagai fungsi berikut, antara lain :
1. Orientasi
Orientasi dinilai dengan pengacuan pada personal, tempat dan waktu. Orientasi terhadap
personal (kemampuan menyebutkan namanya sendiri ketika ditanya) menunjukkan informasi
yang ”overlearned”. Kegagalan dalam menyebutkan namanya sendiri sering merefleksikan
negatifism, distraksi, gangguan pendengaran atau gangguan penerimaan bahasa.Orientasi tempat
dinilai dengan menanyakan negara, provinsi, kota, gedung dan lokasi dalam gedung. Sedangkan
orientasi waktu dinilai dengan menanyakan tahun, musim, bulan, hari dan tanggal. Karena
perubahan waktu lebih sering daripada tempat, maka waktu dijadikan indeks yang paling sensitif
untuk disorientasi.

2. Bahasa
Fungsi bahasa merupaka kemampuan yang meliputi 4 parameter, yaitu kelancaran, pemahaman,
pengulangan dan naming.
1. Kelancaran
Kelancaran merujuk pada kemampuan untuk menghasilkan kalimat dengan panjang, ritme dan
melodi yang normal. Suatu metode yang dapat membantu menilai kelancaran pasien adalah
dengan meminta pasien menulis atau berbicara secara spontan.
2. Pemahaman
Pemahaman merujuk pada kemampuan untuk memahami suatu perkataan atau perintah,
dibuktikan dengan mampunya seseorang untuk melakukan perintah tersebut.
3. Pengulangan
Kemampuan seseorang untuk mengulangi suatu pernyataan atau kalimat yang diucapkan
seseorang.
4. Naming
Namingmerujuk pada kemampuan seseorang untuk menamai suatu objek beserta bagian-
bagiannya.

3. Atensi
Atensi merujuk pada kemampuan seseorang untuk merespon stimulus spesifik dengan
mengabaikan stimulus yang lain di luar lingkungannya.
1. Mengingat segera
Aspek ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengingat sejumlah kecil informasi
selama <30 detik dan mampu untuk mengeluarkannya kembali
2. Konsentrasi
Aspek ini merujuk pada sejauh mana kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatiannnya
pada satu hal. Fungsi ini dapat dinilai dengan meminta orang tersebut untuk mengurangkan 7
secara berturut-turut dimulai dari angka 100 atau dengan memintanya mengeja kata secara
terbalik.

4. Memori
1. Memori verbal, yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat kembali informasi yang
diperolehnya.
a. Memori baru
Kemampuan seseorang untuk mengingat kembali informasi yang diperolehnya pada beberapa
menit atau hari yang lalu.
b. Memori lama
Kemampuan untuk mengingat informasi yang diperolehnya pada beberapa minggu atau bertahun
-tahun lalu.
2. Memori visual, yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat kembali informasi berupa
gambar.

5. Fungsi konstruksi, mengacu pada kemampuan seseorang untuk membangun


dengan sempurna. Fungsi ini dapat dinilai dengan meminta orang tersebut
untuk menyalin gambar, memanipulasi balok atau membangun kembali suatu
bangunan balok yang telah dirusak sebelumnya.

6. Kalkulasi, yaitu kemampuan seseorang untuk menghitung angka.

7. Penalaran, yaitu kemampuan seseorang untuk membedakan baik buruknya


suatu hal, serta berpikir abstrak.
2.2.3 Faktor risiko Penurunan Fungsi Kognitif
1. Status Kesehatan
Salah satu faktor penyakit penting yang mempengaruhi penurunan kognitif lansia adalah
hipertensi. Peningkatan tekanan darah kronis dapat meningkatkan efek penuaan pada
struktur otak, meliputi reduksi substansia putih dan abu-abu di lobus prefrontal, penurunan
hipokampus, meningkatkan hiperintensitas substansia putih di lobus frontalis. Angina
pektoris, infark miokardium, penyakit jantung koroner dan penyakit vaskular lainnya juga
dikaitkan dengan memburuknya fungsi kognitif.
2. Faktor usia
Suatu penelitian yang mengukur kognitif pada lansia menunjukkan skor di bawah cut off
skrining adalah sebesar 16% pada kelompok umur 65-69, 21% pada 70-74, 30% pada 75-
79, dan 44% pada 80+. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan positif
antara usia dan penurunan fungsi kognitif.
3. Status Pendidikan
Kelompok dengan pendidikan rendah tidak pernah lebih baik dibandingkan kelompok
dengan pendidikan lebih tinggi.
4. Jenis Kelamin
Wanita tampaknya lebih beresiko mengalami penurunan kognitif. Hal ini disebabkan
adanya peranan level hormon seks endogen dalam perubahan fungsi kognitif. Reseptor
estrogen telah ditemukan dalam area otak yang berperan dalam fungsi belajar dan memori,
seperti hipokampus. Rendahnya level estradiol dalam tubuh telah dikaitkan dengan
penurunan fungsi kognitif umum dan memori verbal. Estradiol diperkirakan bersifat
neuroprotektif dan dapat membatasi kerusakan akibat stress oksidatif serta terlihat sebagai
protektor sel saraf dari toksisitas amiloid pada pasien Alzheimer.
5. Faktor psikososial
Faktor resiko terjadinya penurunan fungsi kognitif pada lansia antara lain hilangnya
peranan sosial, penurunan ekonomi, kematian orang terdekat, penurunan kesehatan,
berkurangnya interaksi sosial.(8)
2.2.4 Fungsi Kognitif pada Lansia
Setiati, Harimurti & Roosheroe (2006) menyebutkan adanya perubahan kognitif yang
terjadi pada lansia, meliputi berkurangnya kemampuan meningkatkan fungsi intelektual,
berkurangnya efisiensi tranmisi saraf di otak (menyebabkan proses informasi melambat dan
banyak informasi hilang selama transmisi), berkurangnya kemampuan mengakumulasi informasi
baru dan mengambil informasi dari memori, serta kemampuan mengingat kejadian masa lalu
lebih baik dibandingkan kemampuan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Penurunan menyeluruh pada fungsi sistem saraf pusat dipercaya sebagai kontributor
utama perubahan dalam kemampuan kognitif dan efisiensi dalam pemrosesan informasi
Penurunan terkait, penuaan ditunjukkan dalam kecepatan, memori jangka pendek, memori kerja
dan memori jangka panjang. Perubahan ini telah dihubungkan dengan perubahan pada
struktur dan fungsi otak. Raz dan Rodrigue (dalam Myers, 2008) menyebutkan garis besar dari
berbagai perubahan post mortem pada otak lanjut usia, meliputi volume dan berat otak yang
berkurang, pembesaran ventrikel dan pelebaran sulkus, hilangnya sel-sel saraf di neokorteks,
hipokampus dan serebelum, penciutan saraf dan dismorfologi, pengurangan densitas sinaps,
kerusakan mitokondria dan penurunan kemampuan perbaikan DNA.
Raz dan Rodrigue(2006) juga menambahkan terjadinya hiperintensitas substansia alba,
yang bukan hanya di lobus frontalis, tapi juga dapat menyebar hingga daerah posterior, akibat
perfusi serebral yang berkurang. Buruknya lobus frontalis seiring dengan penuaan telah
memunculkan hipotesis lobus frontalis, dengan asumsi penurunan fungsi kognitif lansia adalah
sama dibandingkan dengan pasien dengan lesi lobus frontalis. Kedua populasi tersebut
memperlihatkan gangguan pada memori kerja, atensi dan fungsi eksekutif.(9)

2.3 Demensia
2.3.1 Definisi demensia
Demensia adalah suatu kondisi konfusi kronik dan kehilangan kemempuan kognitif
secara global dan progresif yang dihubungkan dengan masalah fisik.

Demensia adalah penurunan kemanpuan mental yang biasanya berkembang secara


berlahan, dimana menjadi ganggua n ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuaan untuk
memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian.(10)

2.3.2 Tanda dan Gejala Demensia

a. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, ”lupa” menjadi bagian
keseharian yang tidak bisa lepas.

b. Ganggua n orientasiwaktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun, tempat
penderita demensia berada.

c. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi


kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi,
mangulang kata atau cerita yang sama berkali- kali.
d. Ekspresi yang berlebihan,
misalnya menangis yang berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada
kesalahan kecil yang di lakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita
demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.

e. Adanya perubahan tingkah laku seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah

2.3.3 Tahapan-tahapan pada Demensia

1. Stadium I / awal : Berlangsung 2-4 tahun dan di sebut stadium amnestik dengan gejala
gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun.” Fungsi memori yang terganggu
adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami,” dan tidak menggangu aktivitas rutin dalam
keluarga.

2. tadium II / pertengahan : Berlangsung 2-10 tahun dan di sebut pase demensia. Gejalanya
antara lain, disorientasi, gangguan bahasa (afasia). Penderita mudah bingung, penurunan fungsi
memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, Gangguan
kemampuan merawat diri yang sangat besar, Gangguan siklus tidur ganguan, Mulai terjadi
inkontensia, tidak mengenal anggota keluarganya, tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan
sehingga mengulanginya lagi ” Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah
tersesat di lingkungan.

3. Stadium III / akhir : Berlangsung 6-12 tahun. ” Penderita menjadi vegetatif, tidak bergerak
dangangguan komunikasi yang parah (membisu), ketidakmampuan untuk mengenali keluarga
dan teman-teman, gangguan mobilisasi dengan hilangnya kemampuan untuk berjalan, kaku otot,
gangguan siklus tidur-bangun, dengan peningkatan waktu tidur, tidak bisa mengendalikan
buang air besar/ kecil. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain dan
kematian terjadi akibat infeksi atau trauma.(11)