Anda di halaman 1dari 13

PERAN MIKROORGANISME DALAM PERTANIAN

ORGANIK

Oleh :
Dra. Ina Darliana, Msi
196102041987032001

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BANDUNG RAYA
BANDUNG
2011
Peran Mikroorganisme Dalam Pertanian Organik

Dra. Ina Darliana, Msi

Abstrak

Pertanian organik merupakan suatu sistem managemen produksi yang dapat


meningkatkan kesehatan tanah, kualitas ekosistem tanah dan meningkatkan
produksi tanaman. Dalam pelaksanaannya pertanian organik menitik beratkan
pada penggunaan pupuk dan pestisida hayati, penggunaan input yang dapat
diperbaharui serta menghindari penggunaan input sintesis maupun produk hasil
rekayasa genetika, gerakan kembali ke alam yang dilandasi oleh kesadaran
pentingnya menjaga kelestarian lingkungan (Andoko, 2002). Departemen
pertanian (2004) menyatakan bahwa pengunaan pupuk dan pestisida anorganik
selama hampir 35 tahun telah menimbulkan kerusakan, baik terhadap struktur
tanah, kejenuhan tanah, terhadap air juga hewan dan manusia. Salah satu usaha
yang ditempuh dalam pertanian organik melalui pengelolaan lingkungan
pertanian yang berkelanjutan dengan meningkatkan keanekaragaman hayati
yaitu dengan meningkatkan daur biologis yang melibatkan mikroorganisme
untuk memelihara kesuburan tanah.

Pendahuluan

Pertanian organik menurut Sulistyowati (1999) adalah pertanian alami

dengan prinsip dasar ; (1) tanpa olah tanah sehingga aktivitas didalam tanah

yang besifat produktif tidak tergangu oleh manusia melalui kegiatan kerja seperti

cangkul dan bajak; (2) tanpa pupuk kimia atau kompos buatan (3) tanpa

menyiangi gulma. Pertanian organik adalah pertanian yang berwawasan

ekologis, dengan prinsip-prinsip keseimbangan lingkungan melalui


pemeliharaan dan pengayaan keanekaragaman hayati serta pelestarian sumber

daya dan teknologi lokal. Pola pertanian yang selaras dengan kaidah-kaidah

hukum alam , dimana alam memiliki kemampuan dan cara sendiri untuk

memenuhi kebutuhannya.

Menurut Sudaryanta (1999), secara teknis pertanian organik mengikuti beberapa

metode dasar, seperti :

1. Peniadaan penggunaan input kimiawi eksternal seperti pupuk buatan

(urea, TSP, dan KCl), penggunaan pestisida dan bahan kimia sintetik

(misal hormon pertumbuhan) dihindarkan karena dapat menyebabkan

dampak negatif bagi lingkungan.

2. Pengolahan tanah secara minimal (Minimum Tillage), artinya tanah

diolah sesedikit mungkin. Pengolahan tanah disesuaikan dengan kondisi

tanah dan sifat tanaman yang akan dibudidayakan.

3. Pergiliran atau rotasi tanaman, adalah pengaturan sistem penanaman

tanaman budidaya secara bergantian pada suatu areal dalam waktu yang

berlainan dan berurutan. Pergiliran tanaman bertujuan untuk menjaga

keseimbangan berbagai unsur hara didalam tanah dan untuk memutus

siklus hidup hama dan penyakit. Dengan adanya pergiliran, kualitas

keseimbangan ekosistim suatu areal pertanian dapat ditingkatkan.

4. Menerapkan sistem Poli/Multikultur (tumpang gilir dan tumpang sari).

Sistem ini bisa diartikan sebagai penanaman beberapa jenis tanaman

yang mempunyai keterkaitan secara fisik, biologi dan kimia pada suatu

areal dengan tujuan untuk mengendalikan hama dan penyakit.


Beberapa perbedaan pertanian organik dan pertanian modern dapat dilihat pada

tabel dibawah ini :

Tabel 1. Perbedaan antara Pertanian Organik dengan Pertanian Modern dari


Beberapa sudut pandang

No Sudut Pandang Pertanian Organik Pertanian Modern

1 Visi Alam adalah guru Teknologi

2 Cara Budidaya Multikultur/Polikultur, Monokultur,


memanfaatkan sumber ketergantungan pada
daya/potensi lokal sarana produksi eksternal
tinggi
3 Landasan Keseimbangan Pengejaran produksi dan
(manusia,hewan,tanaman) keuntungan semata, ada
sebagai subyek yang setara unsur eksploitasi dan
spekulasi
4 Pedoman Penerapannya disesuaikan Penerapannya
dengan keadaan setempat merupakan suatu paket
Yang
baku(teknologi,sarana
produksi,dll)
5 Ekonomi Beorientasi proses Berorientasi hasil
(mencari optimisasi) (mencari hasil maksimal)
6 Hasil Sehat, murah, sederhana, Tercemar, mahal,
beraneka ragam banyak, dan mudah
rusak
7 Dampak Keuntungan bagi manusia Merusak, sulit diatasi,
dan alam ada jalan buntu
Sumber : Sulistyowati,1999

Terlihat teknik yang digunakan pada pertanian organik lebih ekologis, dan

sangat sosiologis. Pendekatan-pendekatan dilakukan melalui pengelolaan

lingkungan pertanian yang berkelanjutan yang mencakup, peningkatan

keanekaragaman hayati, penciptaan keseimbangan ekosistem dan siklus energi

juga mengusahakan konservasi tanah dan air. Menurut Salikin (2003),

pengelolaan sistem pertanian organik yang berkelanjutan harus bernilai


ekonomi, memiliki kesadaran lingkungan dan berwatak sosial atau

kemasyarakatan.

Pembahasan

A. Komponen Pertanian Organik

1. Pupuk Organik

Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan organik, seperti

hijauan yang berasal dari tanaman dan kotoran hewan. Sebelum digunakan

bahan-bahan tersebut difermentasikan terlebih dahulu. Pupuk kandang atau

kompos biasanya dicampur bahan lainnya yang berada di sekitar lahan pertanian

(Andoko, 2002).

Menurut Sudaryanta (1999) saat ini sudah banyak dikembangkan pupuk

organik yang berkualitas hasil inovasi teknologi dengan memanfaatkan limbah

menjadi pupuk organik dengan unsur hara makro dan mikro yang lengkap yang

langsung dapat digunakan oleh tanaman. Penggunaan pupuk organik sangat baik

karena merupakan penyangga biologi yang mempunyai fungsi dalam

memperbaiki sifat fisik , kimia dan biologi tanah, sehinga tanah dapat

menyediakan hara dalam jumlah yang berimbang. Penggunaan efektif

mikroorganisme dalam pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan

mikroorganisme yang dapat melarutkan P yang tidak tersedia menjadi bentuk P

yang tersedia bagi tanaman. Memanfaat mikroorganisme yang dapat mengikat N

dari udara, atau mikroorganisme yang dapat menghasilkan enzim atau metabolit

sebagai senyawa bioaktif untuk pertumbuhan tanaman.


Pupuk organik mampu meningkatkan dan mempertahankan kesuburan

tanah, meningkatkan jumlah dan aktivitas metabolik jasad mikro tanah serta

dapat memperbaiki penampilan tanaman. Pertumbuhan tanaman yang baik

mengakibatkan peningkatan daya tahan tanaman terhadap penyakit dan

meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Karena itu pengunaan

pupuk organik dapat dijadikan alternatif bagi petani untuk memperbaiki

kerusakan tanah, memenuhi unsur hara dalam jumlah cukup dan memadai serta

dapat memperbaiki penampilan tanaman. Disamping itu pupuk organik dapat

dihasilkan oleh industri rumah tangga dalam skala besar.

2. Pestisida Organik.

Pestisida organik atau pestisida hayati secara umum diartikan sebagai

suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan, hewan dan dari

mikroorganisme hidup lainnya. Karena terbuat dari mikroorganisme hidup atau

bahan alami maka jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam,

sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak

peliharaan (Kardinan, 1999).

Pestisida hayati adalah semua mikroorganisme hidup yang mampu

menghasilkan toksin yang mempunyai kemampuan membunuh hama target.

Penggunaan pestisida hayati merupakan jaminan keamanan pangan, sehingga nilai

jual komunitas lebih kompetitif. Pestisida hayati dibuat melalui proses ekstraksi,

atau dibuat menjadi konsentrat dengan tidak mengubah struktur kimianya

(Kardinan, 1999). Penggunaan pestisida hayati merupakan pengendalian yang


cukup aman karena memiliki beberapa keuntungan, diantaranya : selektivitas

tinggi dan tidak menimbulkan hama baru, mikroorganisme yang digunakan sudah

tersedia di alam, hama tidak menjadi resisten, pengendalian berjalan dengan

sendirinya.

3. Peran Mikroorganisme sebagai pupuk organik

Salah satu kriteria yang menjadi syarat pertanian organik adalah tidak

menggunakan pupuk buatan, insektisida, herbisida, fungisida, dan hormon

pertumbuhan (Sharma, 2002). Sebagian besar petani masih menggunakan pupuk

buatan yang diketahui dapat menunjukkan respon yang cepat, tetapi berdampak

negatif terhadap kesuburan tanah, penurunan keanekaragaman hayati

(biodiversity) dan dapat mencemari lingkungan.

Menurut Sharma (2002) dalam upaya mengatasi ketergantungan terhadap

pupuk dan pestisida buatan, dapat dilakukan dengan meningkatkan peran

mikroorganisme tanah yang bermanfaat melalui berbagai aktivitasnya yaitu :

- Meningkatkan kandungan beberapa unsur hara didalam tanah.

- Meningkatkan ketersediaan unsur hara didalam tanah, dan

meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara.

- Menekan mikroorganisme tular tanah patogen melalui interaksi

kompetisi.

- Memproduksi zat pengatur tumbuh yang dapat meningkatkan

perkembangan sistem perakaran tanaman.


- Meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah heterotrof yang

bermanfaat melalui aplikasi bahan organik.

Tanaman menyerap unsur hara melalui akar atau melalui daun. Sebagian besar

unsur hara diserap dari dalam tanah, hanya asebagian kecil yaitu unsur C dan O

diambil tanaman dari udara melalui stomata. Tanaman menyerap unsur hara dari

dalam tanah umumnya dalam bentuk ion (NH4 +, NO3-, H2PO4-, K+, Ca2+, dll).

Unsur hara tersebut dapat tersedia di sekitar akar tanaman melalui aliran massa,

difusi dan intersepsi akar.

Sistem perakaran sangat penting dalam penyerapan unsur hara karena

sistem perakaran yang baik akan memperpendek jarak yang ditempuh unsur hara

untuk mendekati akar tanaman. Bagi tanaman yang sistem perakarannya kurang

berkembang, peran akar dapat ditingkatkan dengan adanya interaksi simbiosis

dengan mikroorganisme contohnya jamur mikoriza (Douds and Millner, 1999).

Selain itu mikroba tanah akan berkumpul didekat perakaran tanaman (rhizosfer)

yang menghasilkan eksudat akar dan serpihan tudung akar sebagai sumber

makanan mikroorganisme tanah. Bila populasi mikroorganisme disekitar rhizosfer

didominasi poleh mikroorganisme yang menguntungkan, maka tanaman akan

memperoleh manfaat yang besar dengan hadirnya mikroorganisme tersebut.

Tujuan tersebut dapat tercapai hanya apabila kita menginokulasikan

mikroorganisme yang bermanfaat sebagai inokulan disekitar perakaran tanaman.

Peran mikroba tanah dalam siklus berbagai unsur hara didalam tanah

sangat penting, sehingga bila salah satu jenis mikroorganisme tersebut tidak
berfungsi maka akan terjadi ketimpangan dalam unsur hara di dalam tanah.

Ketersediaan unsur hara sangat berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme yang

terlibat didalamnya.

 Mikroorganisme Penambat N

Untuk meningkatkan kualitas unsur hara makro terutama N dapat

dilakukan dengan meningkatkan peran mikroba penambat N simbiotik dan

non simbiotik. Mikroba tanah juga menghasilkan metabolit yang

mempunyai efek sebagai zat pengatur tumbuh. Bakteri Azotobacter selain

dapat menambat N juga menghasilkan thiamin, riboflavin, nicotin, indol

acetic acid dan giberellin yang dapat mempercepat perkecambahan bila

diaplikasikan pada benih dan merangsang regenerasi bulu-bulu akar

sehingga penyerapan unsur hara melalui akar menjadi optimal. (Madigan

et al.,2000). Didalam tanah kandungan unsur N relatif kecil (<2%),

sedangkan di udara kandungan N berlimpah. Hampir 80% kandungan gas

di udara adalah gas N2. Sebagian besar tanaman tidak dapat memanfaatkan

N langsung dari udara, hanya sebagian kecil tanaman legum yang

bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium yang dapat memanfaatkan sumber

N yang berlimpah di udara. Tanaman non legum masih dapat

memanfaatkan N dari udara apabila diinokulasi dengan mikroorganisme

penambat N non simbiotik. Tabel dibawah ini merangkum beberapa jenis

mikroorganisme penambat N non simbiotik yang dapat dimanfaatkan

untuk tanaman non legum.


Tabel 2 Jenis Bakteri Penambat N non simbiotik

Kelompok Bakteri Genus

Aerobik Azomonas, Azotobacter, Beijerinckia, Derxia.

Anaerob Fakultatif Bacillus, Enterobacter, Klebsiella, Azospirillum

Anaerob Clostridium, Desulfotomaculum, Desulfovibrio

Fotosintetik Rhodomicrobium. Rhodopseudomonas, Rhodospirillum,


Ungu non sulfur dll.
Ungu sulfur Chromatium, Ectothiorhospira, Chlorobium
Sianobakteria Anabaena, Anabaenopsis, Aulosira, Calothrix, Nostoc,
Cylindrospermum, Oscillatoria
Sumber : Sulistyowati 1999

 Mikroorganisme Pelarut fosfat

Mikroorganisme pelarut fosfat terdiri dari golongan bakteri dan jamur.

Kelompok bakteri pelarut fosfat diantaranya; Pseudomonas, Bacillus,

Escherishia, Brevibacterium dan Seralia, sedangkan dari golongan jamur

adalah ; Aspergillus, Penicillium, Culvuvaria, Humicola dan Phoma

(Madigan et al., 2000).

Mikroorganisme pelarut fosfat bersifat menguntungkan bagi tanaman,

karena mengeluarkan berbagai macam asam organik seperti asam formiat,

asam asetat, asam propionat, laktat, glikolat, fumarat dan suksinat. Asam-

asam organik ini dapat membentuk khelat organik (kompleks stabil)

dengan kation Al, Fe atau Ca yang mengikat P sehingga ion H2PO42-,

menjadi bebas dari ikatannya dan tersedia bagi tanaman untuk diserap

(Madigan et al, 2000).


Beberapa species jamur dari genus Aspergillus mempunyai kemampuan

yang lebih tinggi dalam melarutkan fosfat terikat dibandingkan bakteri.

Hal ini memberi peluang yang baik untuk dikembangkandi daerah tropis

yang tanahnya masam, karena jamur menyukai lingkungan pertumbuhan

yang bersifat masam.

4. Peran Mikroorganisme sebagai Pestisida Organik.

Salah satu cara pengendalian saat ini yang mulai dikembangkan adalah

pengendalian secara biologis atau dikenal sebagai pengendalian hayati. Cara ini

menekankan penekanan patogen dengan memanfaatkan faktor-faktor alami

seperti tanaman inang, patogen, lingkungan fisik dan agen pengendali hayati

(Baker et al., 1982).

Pengendalian hayati adalah pengurangan jumlah inokulum dalam keadaan

aktif maupun dorman atau penurunan aktivitas patogen sebagai parasit oleh satu

atau lebih mikroorganisme yang berlangsung secara alami atau melalui

manipulasi lingkungan, inang tau antagonis atau dengan introduksi secara massal

atau lebih mikroorganisme antagosistik (Baker et al.,1982). Agen pengendali

hayati potensial meliputi : (1) mikroorganisme antagonis (2) metabolit toksik

yang merupakan metabolit sekunder tanaman (3) manipulasi tanaman inang.

Mikroorganisme antagonis dalam pengendalian hayati terhadap patogen

tanaman banyak jenisnya termasuk didalamnya bakteri, aktinomycetes jamur,

virus tanaman tingkat tinggi dan predator mikrofauna seperti protozoa, nematoda,

collembola dan tungau (Baker et al., 1982). Agen pengendali hayati yang

terbanyak adalah dari kelompok jamur terutama dari kelompok jamur penghuni
tanah. Jamur penghuni tanah ini ada dua kelompok, yang pertama adalah Soil

Invader yaitu jamur yang sewaktu-waktu berada dalam tanah dan pada waktu

tertentu jamur ini dapat menginfeksi tanaman inangnya yang terdapat diatas

permukaan tanah. Sedangkan kelompok ke dua adalah Soil Inhabitans, jamur ini

keberadaannya selalu didalam tanah atau menyerang tanaman inang pada bagian

tanaman yang berada dibawah permukaan tanah, contohnya Trichoderma spp.

Jamur ini selain sebagai agensia pengendali hayati juga dapat mendorong adanya

fase revitalisasi tanaman yang disebabkan adanya interaksi antara tanaman dan

agensia aktif dalam memacu hormon (Suwahyono dan Wahyudi, 2004).

5. Kesimpulan dan Saran

1. Sistem Pertanian Organik merupakan teknik budidaya pertanian terbaik,

dapat mengurangi penggunaan input yang tidak dapat diperbaharui dan

mengurangi energi yang hilang.

2. Pertanian organik dapat membuat keseimbangan ekologi dalam suatu

lingkungan pertanian, hama, penyakit dan gulma dapat hidup bersama

dalam satu lingkungan pertanian dalam kondisi masing-masing memberi

kontribusi dalam keseimbangan ekologi.

3. Pertanian organik dapat menekan biaya produksi pertanian dengan input

berasal dari lingkungan sendiri.

4. Mikroorganisme yang hidup pada pertanian organik dapat memperbaiki

kondisi lingkungan fisik, kimia dan biologi tanah serta menekan

pertumbuhan hama dan penyakit.


5. Potensi mikroorganisme yang ada di dalam pertanian organik dapat terus

dikembangkan dengan mengembangkan juga metode perbanyakannya

yang sederhana, sehingga petani dpat melakukannya tanpa teknologi yang

rumit.

DAFTAR PUSTAKA

Andoko,A.2002. Budidaya Padi Secara Organik. Penebar Swadaya. Jakarta


Baker,K.F. and R.J.Cook. 1982. Biological Control of Plant Patogens. The
American Society. St. Paul, Minnesota.
Departemen Pertanian. 2004. Pedoman Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian
dalam Era Otonomi Daerah. Badan Pengembangan Sumberdaya
Manusia Pertanian. Departemen Pertanian Jakarta.
Douds, D.D. and Patricia D Millner. 1999. Biodiversity Of Arbuscular
Mycorrhizal Fungi In Agroecosystem. Agriculture Ecosystems and
Environment. Vol 74. Hal 77-93.
Kardinan, A. 1999. Pestisida Nabati. Penebar Swadaya. Jakarta.
Madigan, M.T.,J.M.Martinko and J. Parker. 2000. Biology of Micoorganism.
Eight edition. Prentice Hall. International. Inc.
Salikin,K. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Kanisius. Yogyakarta.
Sharma,A.K. 2002 Organic Farming. Central Acid Zone Research Institute
Jodhpur. Agrobios. India.
Sudaryanta, 1999. Pertanian Organik Demi Keselamatan dan Kesehatan Bumi
Seisinya. Wacana, edisi 17. Jakarta.
Sulistyowati,A. 1999. Pertanian Oreganik dalam Sejarah Peradaban. Wacana
edisi 17. Mei-Juni 1999. Jakarta
Suwahyono Untung dan Wahyudi Pryo, 2004. Penggunaan Biofungisida Pada
Usaha Perkebunan. Infor@iptek.net.id. Diakses 28 Oktober 2011.