Anda di halaman 1dari 3

Masalah utama yang berhubungan dengan penyaluran oksigen dapat dideteksi sebagai

sebuah asidosis laktat pada sampel darah arterial. Bahkan secara lebih spesifik, perfusi dari
organ-organ, contohnya pada ginjal, menentukan ketersediaan oksigen untuk aktifitas
metabolisme pada jaringan dan organ tersebut. Jika ahli bedah melakukan penjepitan aorta di
atas arteri renalis, suatu bunyi dengan nada yang tinggi dan menandakan 100% SpO 2 pada
jari tengah sebelah kanan tidak dapat memberikan kita informasi mengenai oksigenasi pada
nefron. Di samping itu, untuk melakukan pengawasan terhadap saturasi oksihemoglobin, kita
mencari pembuktian bahwa terdapat penyaluran oksigen yang adekuat untuk mengobservasi
organ-organ tahap akhir dengan menggunakan EKG, BIS, Oksimetri serebral, urin output,
bangkitan potensial, dan lain-lain.

PEMBAHASAN FUNGSI PARU


Spirometri
Tes-tes fungsi paru (Pulmoray Fuction Tests/PFTs) jarang dilakukan dalam melakukan
persiapan pembiusan, walaupun tes-tes ini dapat memberikan kita informasi mengenai pasien
yang memiliki penyakit paru yang berat dan telah siap secara optimal untuk dilakukan proses
pembiusan. Penyakit paru restriktif dan obstruktif perlu kita waspadai dalam melakukan
pembiusan. Oleh karena pendeknya waktu pengobatan terhadap infeksi maka kita tidak dapat
berbuat banyak untuk mengatasi penyakit paru restriktif; Di samping itu, penyakit paru
restriktif pada umumnya dapat disertai dengan bronkospasme yang bersifat obstruktif dan
dapat ditangani dengan pemberian bronkodilator. Pada beberapa penelitian tentang fungsi
paru, kita menaruh perhatian pada kapasitas vital paru yang dipaksa (Forced Vital
Capacity/FVC). Jika nilai FVC berada di bawah 15 mL/kg maka hal tersebut menunjukkan
terdapat suatu masalah. Seberapa banyak seorang pasien dapat menghembuskan napas dalam
1 detik disebut sebagai volume ekspirasi yang dipaksa (Forced Expiratory Volume/FEV1),
dan FEV1 ini dapat ditingkatkan dengan pemberian bronkodilator jika terjadi penyakit paru
obstruktif. Secara lebih lanjut. Hasil-hasil PFT dilaporkan dengan menggunakan simbol “%
dari perkiraan”, hal ini tergantung pada populasi penelitian yang ditentukan oleh tinggi
badan, usia, dan jenis kelamin dari pasien. Kita menganggap bahwa nilai normal dari hasil
PFT adalah minimal 80%. Pada penyakit paru obstruktif, pasien mengalami penutupan jalan
napas selama proses ekspirasi, dan ditandai dengan FEV 1 yang rendah (Lihat Tabel 10.1).
Pada penyakit paru obstruktif yang lebih berat disertai adanya udara yang terperangkap dalam
paru, nilai FVC dapat menurun dan nilainya tidak lebih dengan nilai FEV 1; sehingga tanda-
tanda terjadinya penyakit paru obstruktif adalah penurunan rasio FEV 1 dan FVC. Seiring
dengan pertambahan usia, rasio FEV1 dan FVC akan mengalami penurunan (sekitar 0,7), hal
tersebut dapat terlihat kembali pada perkiraan persentasi. Perputaran volume aliran udara
(Lihat Gambar 10.4) juga dapat membantu memberikan informasi yang lebih. Merupakan
suatu hal yang berlebihan jika kita mengatakan bahwa sebuah Tes Fungsi Paru (PFT)
memberikan gambaran sebuah penurunan rasio FEV1/FVC tidak dapat memberikan kita
informasi tanpa menilai respon pasien terhadap pemberian bronkodilator.

Tabel 10.1. Interpretasi Tes Fungsi Paru


FEV1 FVC FEV1/FVC
Normal >80% >80% >0,8
Obstruksi ↓ ↔↓ ↓
Restriksi ↓ ↓ ↔↑
% dari perkiraan; FEV1;forced expiratory volume in 1 s (volume ekspirasi yang dipaksa
dalam 1 detik); FVC;forced vital capacity (kapasitas vital paru yang dipaksa). Pada penyakit
paru obstruktif, FVC dapat menurun disebabkan oleh adanya udara yang terperangkap.

ANALISA GAS DARAH ARTERIAL


Ketika kita berbicara tentang analisa gas darah arterial (Arterial Blood Gases / ABG), kita
sebenarnya berbicara tentang fungsi dari dua organ yaitu paru dan ginjal. ABG memberikan
kita informasi mengenai tekanan parsial oksigen dan karbon dioksida dalam darah arteri,
yang keduanya berhubungan dengan fungsi paru. Selain itu, ABG juga dilengkapi dengan
informasi mengenai pH dan konsentrasi bikarbonat, yang memberikan kita informasi tentang
bagaimana ginjal mengolah asam dan basa non-volatil (yang tidak mudah menguap).
Di laboratorium, nilai ABG ditentukan pada suhu 37oC. Suhu memiliki pengaruh yang
sangat penting terhadap interpretasi dari data-data yang didapatkan. Di samping itu, pH juga
memberikan pengaruh langsung terhadap hasil yang didapatkan, diikuti dengan konstanta
disosiasi dan kelarutan gas-gas dalam darah yang sangat dipengaruhi oleh perubahan suhu.
Sebagai contoh, PaCO2 dengan nilai 40 mmHg pada suhu 37 oC, akan turun menjadi 25
mmHg pada suhu 10oC. Kandungan karbon dioksida total akan tetap sama, namun distribusi
komponen kompleks CO2- asam karbonat-bikarbonat akan mengalami perubahan. Selain itu,
jika tidak dikoreksi dalam laboratorium, penurunan temperatur dari 37oC menjadi 27oC akan
meningkatkan pH dari sampel darah dari 7,4 menjadi sekitar 7,54.

Oksigen
Laboratorium akan melaporkan tekanan parsial oksigen pada darah arteri dengan simbol
PaCO2 dan memiliki satuan mmHG, sedangkan saturasi hemoglobin dan oksigen pada darah
arteri disimbolkan dengan % SaO2. Sebagian besar penganalisa ABG menghitung SaO2
berdasarkan standar kurva disosiasi oksihemoglobin pada orang dewasa. Ketika kita curiga
terdapat kesalahan perhitungan dengan menggunakan metode ini, seperti peningkatan
karboksihemoglobin (pada korban kebakaran, percobaan pembunuhan, atau pada perokok
berat), kita harus melakukan pemeriksaan co-oksimetri (Lihat Bab 7). Metode ini
menganalisa transmisi dari beberapa panjang gelombang cahaya, yang merupakan metode
yang lebih baik untuk membedakan penurunan hemoglobin teroksigenasi dan
karboksihemoglobin. Kita dapat mengobservasi penulisan SaO 2 yang umumnya terdapat pada
hasil perhitungan laboratorium mengenai saturasi hemoglobin pada darah arteri, untuk
menilai nilai SpO2 kita dapat menggunakan pulse oksimeter, dan nilai SaO2 dengan
menggunakan co-oksimetri jika peralatan tersedia. Penilain ini jarang dilakukan, dan jika
dilakukan biasanya dapat memberikan hasil yang dapat diterima dalam bentuk persen.