Anda di halaman 1dari 5

RESUME BAB 6

ALOKASI INVESTASI ANTARWILAYAH

Alokasi investasi antarwilayah (regional allocation of investment) merupakan salah satu


aspek yang sering di bahas dalam ilmu ekonomi wilayah (regional economics). Alasannya adalah
karena alokasi investasi ini merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi dan
menentukan pertumbuhan dan pemetaan pembangunan ekonomi antar wilayah. Karena itu, aspek
ekonomi antar wilayah banyak menarik perhatian para ahli ekonomi wilayah, perencana
pembangunan daerah dan penganmbil keputusan. Investasi yang dimaksudkan disini dapat
berbentuk investasi swasta, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal
Luar Negeri (PMA), maupun investasi pemerintah yang disalurkan melalui anggaran
pembangunan nasional dan daerah.

Pembahasan tentang alokasi investasi swasta antarwilayah ini mula-mula di formulasi


oleh Anisur Rahman dalam disertasinya pada tahun 1963 dengan mengikuti aliran ilmu ekonomi
Neo-Klasik (neo-classical economics) yang kemudian dikenal dengan Rahman Model. Sakasita
kemudian melanjutkan pembahasan dengan logika yang sama tetapi menekankan analisisnya
pada alokasi investasi pemerintah (goverment investment). Kemudian Thormod Hermansen
melakukan pula formulasi model alokasi investasi swasta antarwilayah dengan menggunakan
aliran Ilmu Ekonomi Keynes (Keynesian Economics) yang kemudian dikenal dengan Hermansen
Model. Sedangkan khusus untuk Indonesia, alokasi alokasi investasi antarwilayah ini juga telah
diformulasikan pula khusus untuk investasi pemerintah yang dewasas ini dikenal sebagai Alokasi
Dana Perimbangan Antarwilayah yang ditetapkan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah
mulai tahun 1999 yang lalu.

A. Rahman Model

Anisur Rahman, seorang warga Negara Pakistan yang belajar Ilmu Ekonomi untuk
tingkat doctoral pada Universitas Harvard di Amerika Serikat, membahas dalam disertasinya
tentang alokasi investasi antara Pakistan Timur (sekaran Pakistan) dan Pakistan Barat (sekarang
Bangladesh) pada awal tahun enam puluhan (Rahman 1963). Dalam hal ini, Pakistan Barat
dianggap sebagai daerah yang relatif maju (developed region) dan Pakistan Timur sebagai daerah
yang relatif terbelakang (under developed region). Sasaran utama dalam analisa ini adalah
Dallam rangka memaksimalkan pertumbuhan ekonomi nasional Pakistan sehingga proses
pembangunan Negara ini dapat ditingkatkan. Ke semuanya menggunakan prinsip-prinsip dari
Teori Ekonomi Neo-Klasik yang sangat popular pada waktu itu. Tulisan Rahman yang mula-
mula muncul diformlasikan dengan menggunakan Dynamic Optimazation Model secara
“descrete”. Kemudian beberapa ahli lain seperti Dorfman (1967), Intriligator (1964), dan
Takayama (1967). Mengembangkannya dengan menggunakan model yang bersifat “continous”.
Bahkan Rahman sendiri mencoba mengembangkan modelnya dengan menggunakan model
“continuous” (Rahman 66). Karena itu, tidak mengherankan kiranya bila model alokasi investasi
regional ini menjadi satu kelompok tersendiri dalam Ilmu Ekonomi Wilayah. Mengikuti Miller
(1979), model Rahman ini dimulai dengan memformulasikan kaitan antara ekonomi regional dan
nasional. Dalam hai ini, perekonomian nasional merupakan penjumlahan dari perekonomian
wilayah. Menggunaka model 2 wilayah hubungan ini dapat ditulis :

Y(t) = Y1(t) + Y2(t)


Dimana Y(t) adalah pendapatan nasional pada tahun t dan Y1(t) dan Y2(t) masing-masingnya
adalah pendapatan regional pada daerah 1 dan 2. Seandainya pendapatan nasional tersebut
direpresentasikan sebagai stok capital pada masing-masing wilayah, maka :

Y(t) = b1 K1 (t) + b2 K2 (t)


dimana K1 dan K2 masing-masingnya adalah jumlah stok capital di wilayah 1 dan 2.

B. Model Hermansen

Model alokasi investasi antarwilayah dari Hermansen pada dasarnya merupakan aplikasi
Teori Ekonomi Keynesian yang diterapkan untuk masalah alokasi investasi antarwilayah. Dalam
hal ini, model Hermansen menekankan analisisnya pada aspek peningkatan produksi dan
pendapatan (production-income generating) serta tabungan (saving) pada dua wilayah. Dalam
hal ini diasumsikan bahwa peningkatan produksi dan pendapatan hanya dihasilkan oleh
peningkatan penggunaan modal dan semua variable terkait adalah dalam nilai riil.

Berdasarkan prinsip ini, maka model alokasi investasi antarwilayah dari Hermansen dapat
diformulasikan dengan menggunakan beberapa persamaan terkait berikut ini :

Yt 1 =Y2t-1 + ∆Y2t-1

Yt 2 = Y2t-1 + ∆Y2 t-1

∆Yt1 = λ1∆K2 t1

∆Yt2 = λ1∆K2 t1
2

∆K t11 =S t11 S t1T

∆K t12 =S t12 S t1T

S t1sfdf =s1Y t12

S t12 =s2Y t12


Yt =Y t11 +Y t12

Dimana :

Yt1: i = 1.2 adalah jumlah produksi atau pendapatan (PDRB) wilayah 1 pada tahun t.

S ti : i = 1.2 adalah tabungan wilayah i pada tahun t.

S tr : adalah tabungan yang disalurkan (net transfer) antara kedua wilayah.

K ti : adalah stok capital di wilayah I pada permulaan periode t.

C. Alokasi Dana Perimbangan di Indonesia

Sebagaimana disinggung terdahuu bahwa penetapan Dana Alokasi Perimbangan


(Equilization Transfer) di Indonesia dilakukan dalam rangka penerapan prinsip Desentralisasi
Fiskal (Fiscal Decentralisation) . System alokasi dana ini ditetapkan dalam Undang-Undang No.
23 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, baik propinsi, kabupaten, dan
kota. Sasaran utama dalam hal ini adalah untuk mewujudkan keseimbangan alokasi adan antara
pemerintah pusat dan penerimaan daerah, sehingga dapat mendukung pelaksanaan otonomi
daerah secara keseluruhan. Penerapan system alokasi dana perimbangan ini secara efektif mulai
diterapkan di Indonesia pada tahun 2001 yang lalu. Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang
dan peraturan pemerintah yang berlaku bahwa Dana Perimbangan yang disediakan oleh
Pemerintah Pusat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) minimum 25%
dapat dialokasi ke wilayah dalam 3 bentuk, yaitu Dana Bagi Hasil (DBH) baik dari pajak
ataupun sumber daya alam, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Ini
berarti bahwa Dana Perimbangan (DB) secara umum dilakukan sebagai berikut :

DB=DBH+DAU+DAK
Alokasi DBH untuk pajak ditetapkan sebesar 20% untuk daerah dan 80% untuk
pemerintah pusat, sedangkan DBH untuk sumber daya alam ditentukan 15% untuk masing-
masing propinsi dan sisanya 85% untuk pusat. Sedangkan alokasi sebesar 15% untuk wilayah
selanjutnya dibagi pula sebesar 6% untuk daerah pengahasil dan sisanya untuk daerah tetangga
yang berdekatan. Sistem alokasi DBH ini sengaja ditetapkan unutk mewujudkan keadilan antara
daerah penghasil yang ternyata juga banyak yang masih teringgal pembangunan dan
kesejahteraannya dibandinga dengan pemerintah pusat dan perekonomian nasional secara
keseluruhan. DAU dialokasikan untuk mengurangi kesenjangan fiscal antardaerah sehingga
kemampuan wilayah untuk mengelola dan membangun daerahnya dapat diusahakan menjadi
relative merata kalau tidak dapat disamakan. Karena itu prinsip yang dipakai disini adalah bahwa
DAU dialokasikann sesuai dengan kesenjangan fiscal (fiscal gap) antarwilayah. Ini berarti bahwa
wilayah dengan kapasitas fiscal besar, karena DBH yang relative seperti Propinsi Kalimantan
Timur dan Propinsi Riau, seharusnyha mendapat DAU lebih kecil. Sedangkan wilayah dengan
kapasitas fiscal kecil, karena DBH kecil, seperti Propinsi Sumatra Barat seharusnya mendapat
DAU lebih besar.
DAK dialokasi sesuai dengan prioritas dan kepentingan pemerintah nasional. Alokasi ini sengaja
dibuat secara khusus untuk mengatasi kemungkinan wilayah mengalokasikan dana perimbangan
yang diperolehnya lebih banyak bedasarkan kepentingan daerah saja dan melupakan kepetingan
nasional. Sedangkan besarnya DAK ditentukan oleh pemerintah pusat sesuai dengan kemampuan
APBN dan kondisi social ekonomi daerah bersangkutan. Disini terlihat bahwa DAK sebenarnya
sangat mirip dengan alokasi dana pemerinta pusat ke wilayah, seperti Dana Dekonsentarsi untuk
propinsi dan Dana Perbantuan untuk kabupaten dan kota pada waktu sebelum dilaksanakannya
otonomi daerah dan desentarlisasi fiscal secara nasional.

Sebagai suatu sistim alokasi dana yang relative baru bagi Indonesia, formulasi alokasi DAU
antarwilayah ternyata mengalami perubahan dari apa yang dilakukan sesuai dengan Undang-
Undang No.25 Tahun 1999 yang kemudian disesuaikan dengan Undang-Undang No. 33 Tahun
2004. Penyesuaian ini dilakukan setelah melihat berbagai kelemahan yang terdapat pada alokasi
dana berdasarkan formulasi awal yang telah dilakukan sebelumnya.

Formulasi DAU sesuai dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 sebagaimana digambarkan
oleh Blane D. Lewis (2001) adalah sebagai berikut :

DAUi =BFAi +Fai +LSAi

dimana BFAi adalah jumlah dana penyeimbang (balancing factor amount) untuk daerah
kabupaten atau kota i, FAi adalah jumlah dana yang ditentukan berdasarkan rumus (formula
amount), dan LSAiadalah jumlah alokasi yang diberikan kedaerah secara “lumpsum” (lumpsum
amount).

Jumlah dana penyeimbang dialokasi untuk menjaga agar pelaksanaan otonomi daerah
tidak menyebabkan kemampuan fiscal daerah menurun drastic, sehingga menimbulkan kesulitan
bagi daerah dalam melaksanakan proses pembangunan daerah sesuai dengan tanggung jawabnya
yang baru setelah dilakukan otonomi daearah. Pelaksanaan prinsip ini dilakukan dalam dua
bentuk yaitu :

(a) mengupayakan agar dana yang dialokasikan tidak kurang dari tahun sebelumnya (Holt-
hamrles Principle),

(b) mengupayakan agar dana yang dialokasikan cukup untuk membiayai tambahan aparatur
daerah kaerana adanya pemindahan dari aparatur pusat karena pelaksanaan otonomi daerah.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka jumlah alokasi dana penyeimbang dapat
diformulasikan sebagai berikut :

BFAi =1.3(SDO)i +1,1(INPRES)i

dimana SDOi adalah Subsidi Daerah Otonomi dan INPRESi (Instruksi Presiden) adalah dana
yang dialokasikan dalam jumlah yang sama ke daerah sesuai dengan instruksi Presiden RI. Dari
formula (3.33) terlihat bahwa jumlah dana penyeimbang pada tahap awal pelaksanaan otonomi
daerah ditetapkan berdasarkan jumlah SDO yang dinaikkan 30% dari tahun sebelumnya dan
dana INPRES yang dinaikkan 10% dari alokasi tahun sebelumnya.
D. Evaluasi Alokasi Investasi Antarwilayah
Membandingkan ketiga model alokasi investasi yang telah di uraikan terdahulu terlihat
bahwa baik model Rahman maupun model Hermansen keduanya bertujuan untuk
memaksimalkan pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam rangka mewujudkan hal ini, maka
kesimpulan pertama dari kedua model alokasi investasi antarwilayah yang harus dilakukan
adalah berdasarkan kriteria " Internal Rate of Growth " yang pada dasarnya sama dengan
tingakatpengambilan investasi. Dalam praktik, kedua model ini sulit diterapkan karena
masyarakat umumnya menuntut alokasi investasi yang adil dengan memerhatikan kebutuhan
investasi daerah bersangkutan. Di samping itu, pengalokasian sepenuhnya kepada suatu daerah
adalah tidak mungkin dilakukan karena daerah lainnya juga memerlukan investasi untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi daerahnya, hal yang dapat dilakukan hanyalah memberikan
alokasi yang lebih besar kepada suatu daerah kalau memenuhi kriteria yang telah di tetapkan.

Karena itu, dalam praktik alokasi investasi antarwilayah yang dapat dilakukan dan dapat
pula diterima oleh masyarakat adalah seperti yang dilakukan indonesi dalam alokasi dana
perimbangan untuk masing - masing daerah. Pada model ini alokasi dilakukan tidak seragam
sepenuhnya, tetapi dilakukan dalam tiga bentuk. Pertama, alokasi dana Bagi Hasil Pajak dan
Sumber Daya Alam yang didasarkan pada kemapuan produksi baru daerah bersangkutan. Kedua,
alokasi DAU di lakukan berdasarkan prinsip " celah fiskal" yaitu perbedaan antara kebutuhan
dan kemampuan fiskal masing - masing daéah. Ketiga, alokasi DAK yang dilakukan sesuai
dengan permasalahan khusus yang di hadapi oleh suatu daerah seperti kemiskinan, prasarana
yang rusak berat, adanya penyakit menular dan oermasala lainnya.

Anda mungkin juga menyukai