Anda di halaman 1dari 29

TEKNIK PEMESINAN FRAIS

RODA GIGI LURUS DAN RACK

1. Uraian dan Contoh


A. Pembuatan Roda Gigi
Secara teknis proses pembuatan roda gigi dapat dilakukan dengan dengan
berbagai cara, diantaranya:
a . Proses pemotongan
Pembuatan roda gigi dengan cara ini dapat dilakukan melalui proses pemesinan
yaitu:
• Milling (pengefraisan)
• Shaping (penyekrapan)
• Planing (penyerutan)
• Hobbing (pergeseran)
Dari keempat cara diatas yang paling standard dan presisi adalah dengan proses
pemesinan Hobbing.
b. Dicetak
Roda gigi dibuat dengan cara dituang/dicor, kemudian baru difinising dengan
proses pemesinan atau secara manual (sesuai kebutuhan).

c. Diroll.
Pembuatan roda gigi dengan cara diroll dibuat dengan cara semacam proses
kartel (knoerling). Sebagai pengerjaan akhir (finishing) dapat dilakukan dengan:
digerinda, l aping a p a bila dikehendaki.
Pemilihan/penetapan cara pembuatan roda gigi dengan mempertimbangkan
berbagai faktor, diantaranya:
• Jenis mesin yang tersedia
• Kompetensi operator
• Ketelitian yang dikehendaki
• Kekuatan roda gigi yang dikehendaki
• Jumlah roda gigi yang dikehendaki
• Kecepatan produksi yang dikehendaki
• Cost/biaya

B. Ukuran roda gigi


Ada bermacam-macam sistem ukuran roda gigi yaitu, Sistem modul, Sistem
diametral pitch, dan Sistem circural pitch.
a. Sistem modul (m)

SMK KORPRI Majalengka Halaman 1


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
Sistem ini digunakan untuk satuan metris dan untuk satuan modul (mm) biasanya
tidak dicantumkan. Modul adalah perbandingan antara diameter jarak antara dengan
jumlah gigi.
𝐷
Jadi: 𝑚 = 𝑧 𝑚𝑚

b. Diameter pitch (Dp)


Diameteral pitch (Dp) ialah perbandingan antara banyaknya gigi dengan diameter
𝑧
jarak antara (dalam inchi). Jadi: 𝐷𝑝 =→ 𝐷" = 𝐷𝑝

c. Circural pitch (Cp)


Circural pitch (Cp) adalah panjang busur lingkaran jarak antara pada dua buah
𝜋.𝐷"
gigi yang berdekatan (dalam inchi) Jadi: 𝐶𝑝 = 𝑖𝑛𝑐ℎ𝑖
𝑍
𝐷"
Bila = 𝑚"→𝐶𝑝 = π.𝑚 𝑖𝑛𝑐ℎ𝑖
𝑍"

Persamaan diameteral pitch dengan module:


𝜋.𝐷" 𝑧"
𝑐𝑝 sedang; 𝐷" = 𝐷𝑝
𝑧"
𝑧
𝜋. 𝜋 𝜋
𝐷𝑝
𝑐𝑝 = → 𝐶𝑝 = → 𝜋 . 𝑚" =
𝑧" 𝐷𝑝 𝐷𝑝
1 25,4
maka 𝑚" = 𝐷𝑝 atau 𝑚" = 𝐷𝑝

Catatan:
Pembuatan roda gigi yang sistem besarannya tidak sama, hasilnya tidak dapat
dipasangkan.

C. Istilah-istilah pada roda gigi


a. Pitch circle (lingkaran tusuk/lingkaran jarak antara) = merupakan garis lingkaran
bayangan yang harus bertemu/ bersinggungan untuk sepasang roda gigi.
b. Pitch diameter = panjang busur lingkaran jarak antara pada dua gigi yang
berdekatan.
c. Circular pitch = panjang busur lingkaran jarak antara pada dua gigi yang
berdekatan.
d. Addendum (tinggi kepala gigi) = tinggi gigi di luar lingkaran jarak antara.
e. Dedendum (tinggi kaki gigi) = tinggi gigi di dalam lingkaran jarak antara.
f. Clearance = kelonggaran antara tinggi gigi-gigi dengan tinggi kepala gigi yang
saling menangkap.
g. Backlash = perbedaan antara lebar gigi yang saling menangkap pada lingkaran
jarak antara.
h. Sudut tekan = sudut antara garis singgung jarak antara dengan garis tekan.
SMK KORPRI Majalengka Halaman 2
TEKNIK PEMESINAN FRAIS
i. Garis tekan = garis yang dihasilkan dari hubungan titik-titik tekan dan melalui titik
singgung lingkaran jarak antara dan roda gigi.

Gambar 6.1 Istilah pada roda gigi


D. Ukuran Roda Gigi
a. Ukuran utama roda gigi system module
Tabel 6.1 Ukuran utama roda gigi system module

NAMA SIMBOL RUMUS


Jarak sumbu antara roda A 𝐷1 + 𝐷2 𝑚(𝑧1 + 𝑧2 )
gigi =
𝑧 𝑧
Circular pitch Cp
Diameter jarak antara D p. m
Diameter puncak/kepala Da z.m
Diameter alas/kaki Df D+2.m
D – ( 2,2 2,26 ) m
Tinggi gigi seluruhnya h 𝐷𝑎 −𝐷𝑓
=ha + hf
𝑚
Tinggi kepala ha
1.m
gigi/addendum
Tinggi kaki/dedendum hf 1,1÷1,25 m
Banyak gigi z 𝐷
𝑚
Modul m 𝐷
𝑧
Tebal gigi b 6 8 . m (automotive)
8 12 . m (penggerak umum)
Sudut tekan a 20° evolvente
Perbandingan transmisi i 𝑧1
𝑧2

b. Ukuran utama roda gigi system diameteral pitch


SMK KORPRI Majalengka Halaman 3
TEKNIK PEMESINAN FRAIS
Tabel 6.2 Ukuran utama roda gigi system diameteral pitch

NAMA SIMBOL RUMUS


Diameter pitch diukur pada lingkaran Dp 𝜋
𝑝.
tusuk 𝐶𝑝
Addendum ha 1
𝑝
Deddendum hf 1,25
𝑝
Whole depth Wd 2,25
𝑝
Clearence C 0,25
𝑝
Tebal gigi pada lingkaran tusuk t 1,5706
𝑝
Diameter lingkaran tusuk 𝐷 𝑧
𝑝
Diameter lingkaran luar Da 𝑧+2
𝑝
Diameter lingkaran alas 𝐷𝑓 𝑧
𝐷=
𝑝

E. Pisau roda gigi (Gear cutters)


Untuk memperjelas uraian materi sebelumnya tentangpisau roda gigi, di bawah
ini akan dibahas lagi lebih luas tentang materi pisau roda gigi. Sebagaimana alat-alat
potong pada mesin bubut, pisau roda gigi dibuat dari bahan baja carbon (carbon steel)
atau baja kecepatan potong tinggi (High Speed Steel=HSS). Bentuknya dibuat
sedemikian rupa sehingga hasil pemotongannya membentuk profil gigi, yakni garis
lengkung (evolvente).

a. Macam pisau frais roda gigi


1) Tipe plain
Digunakan baik untuk pemotongan pengasaran maupun untuk penyelesaian
(finishing) pada roda gigi dengan profil gigi kecil (modul kecil).

Gambar 6.2 Gear plain cutter (pisau gigi tipe plain)


2) Tipe stocking

SMK KORPRI Majalengka Halaman 4


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
Pada gigi pemotong mempunyai alur yang selang-seling (Gambar 6.3). Beram
(tatal) akan terbuang melalui alur-alur. Karena alurnya berselang–seling, maka pada
benda kerja tidak akan pernah terjadi garis-garis. Cutter tipe ini digunakan untuk
pengefraisan pengasaran pada roda gigi dengan profil besar (modul = 2,5 ÷ 12). Untuk
penyelesaian (finishing) digunakan cutter tipe plain.

Gambar 6.3 Gear stocking cutter (pisau gigi tipe stocking)


b. Ukuran pisau frais roda gigi
Pisau frais roda gigi dibuat untuk setiap ukuran, yakni untuk diameteral pitch
maupun untuk system modul. Untuk setiap ukuran terdiri satu set yang mempunyai 8
buah atau 15 buah. Untuk setiap nomor cutter hanya digunakan untuk memotong roda
gigi dengan jumlah roda gigi tertentu. Hal ini dibuat mengingat bahwa roda gigi dengan
jumlah gigi sedikit profil giginya akan sedikit berbeda dengan profil gigi dari roda gigi
dengan jumlah gigi banyak (lihat table 6.3).

Tabel 6.3 Pemilihan nomor pisau sistem modul

No Nomor pisau Untuk memotong gigi berjumlah


01 1 12÷13
02 2 14÷16
03 3 17÷20
04 4 21÷25
05 5 26÷34
06 6 35÷134
07 7 155÷134
08 8 135 keatas “Gigi rack”

Table 6.4 Satu set cutter modul dengan 15 nomor

No Nomor pisau Untuk memotong gigi berjumlah


01 1 12
02 1,5 13
03 2 14
04 2,5 15÷16
05 3 17÷18
06 3,5 19÷20
07 4 21÷22
08 4,5 23÷25

SMK KORPRI Majalengka Halaman 5


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
09 5 26÷29
10 5,5 30÷34
11 6 35÷41
12 6,5 42÷54
13 7 55÷80
14 7,5 81÷134
15 8 135÷ Tak terhingga “Gigi rack”

Pisau frais yang digunakan untuk pemotongan roda gigi menurut system diameter
pitch, juga mempunyai 8 buah cutter (satu set). Misal roda gigi dengan jumlah 12 gigi,
maka cutter terdiri dari nomor 8.

Table 6.5 Satu set cutter modul sistem diameter pitch

No Nomor pisau Untuk memotong gigi berjumlah


01 1 Gigi rack
02 2 55÷134
03 3 35÷54
04 4 26÷34
05 5 21÷25
06 6 17÷20
07 7 14÷16
08 8 12÷13

c. Perawatan pisau roda gigi


Perawatan pisau roda gigi dimaksudkan untuk memperpanjang umum secara
ekonomi maupun umur secara teknologi dari pada alat potong.
Adapun cara-cara perawatannya adalah sebagai berikut:
1) Memasang cutter dengan cara-cara yang benar, yakni cukup kuat, tidak
oleng/goyang, menggunakan pasak dan sebagainya.
2) Menggunakan putaran dan feeding (pemakanan) sesuai dengan ketentuan.
3) Menggunakan pendinginan yang cukup. Untuk besi tuang tidak perlu ada
pendinginan dengan cairan.
4) Penyimpanan cutter dengan baik, diberi minyak pelumas, sisi-sisi potong jangan
sampai terjadi tabrakan/benturan.

F. Pemasangan benda kerja


Harus diingat bahwa dalam proses pemotongan roda gigi, benda kerja telah
dububut terlebih dahulu sesuai dengan ukuran-ukuran yang dikehendaki, jadi dalam
mesin frais tinggal memotong profil giginya saja. Cara pemasangan benda kerja ini
ada bermacam-macam sesuai dengan besar-kecilnya beban. Gambar 147
menunjukkan contoh pemasangan benda kerja dengan mandril.

SMK KORPRI Majalengka Halaman 6


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

Gambar 6.4 Pemasangan benda kerja dengan mandril

G. Menyetel pisau/cutter
Salah satu cara menyetel agar pisau/cutter benar-benar tepat diatas garis senter
benda kerja adalah dengan menggunakan siku-siku dan micrometer (Gambar 149) .
Adapun langkah-langkahya adalah sebagai berikut:
a. Letakkan siku pada meja dan singgungkan pada benda kerja.
b. Ukur tebal cutter
c. Jarak antara siku dengan bagian cutter yang paling tebal adalah: ½ D (diameter
benda kerja) – ½ tebal cutter. (Siku dapat juga disinggungkan pada mandrel)

Gambar 6.5 Mengukur dengan siku dan micrometer kedalaman

H. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengefrais roda Gigi


a. Meja harus benar-benar sejajar dekat dengan kolum
b. Dividing head dan tailstcok dipasang di tengah-tengah meja, dan garis senter
harus sejajar colum
c. Pasang benda kerja (bahan) dengan mandril diantara dua senter dengan
menggunakan pembawa, periksa kelurusan dan kesikuannya.
d. Setel engkol pembagi dan masukan pen index pada lobang yang dikehendaki,
pemutaran engkol pembagi harus cermat
e. Pemasangan cutter pada arbor harus benar, cutter tidak boleh goyang (oleng),
sebab bila demikian roda gigi yang dipotong hasilnya tidak presisi.
f. Pisau harus tepat pada pertengahan benda kerja atau di atas garis senter

SMK KORPRI Majalengka Halaman 7


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
g. Putaran mesin (cutter) dan keceepatan potong harus sesuai dengan ketentuan.

Catatan:
Untuk mendapatkan hasil pemotongan yang baik, matikan mesin (putaran cutter)
bila akan menarik kembali benda kerja. Hal ini dilakukan agar cutter tidak merusak
permukaan gigi yang baru saja dipotong.

Contoh Soal :

Diketahui : Roda gigi Lurus dengan


Jumlah Gigi (Z) = 24 buah
Modul (m) = 2
Ratio kepala pembagi (i) 40 :1
Hitung Besaran roda gigi lainnya.
Penyelesaian (Sistem Modul):
Circular Pitch (tusuk) (t) 𝜋×𝑀 =𝜋×2
= 3.14 x 2
= 6.28

Diameter Tusuk (Dt) 𝑍×𝑀 = 24 x 2


= 48

Tinggi kaki gigi (hf) (1.1 s/d 1.3)M = 1.2x 2 = 2.4

Tinggi kepala gigi (hk) M =2

Diameter Kepala (Dk) Dt + 2 hk = 48+ (2x2)


= 52

Diameter Kaki (Dk) Dt – 2hf = 48 – 4.8


= 43.2

Tinggi Gigi (H) Hk+hf atau = 2 + 2.4


𝐷𝑘−𝐷𝑓 = 4.4
H= 2

Putaran Kepala Pembagi 𝑖 40 18


= =1
(Nc) 𝑍 24 27

Jadi Kepala Pembagi harus di putar 1 kali putaran + 18 Jarak Lubang Pada
plat indek berlubang 27

I. Pengefraisan/pemotongan roda gigi

SMK KORPRI Majalengka Halaman 8


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
1. Pengefraisan/pemotongan roda gigi sistem modul
Untuk memotong roda gigi lurus pada mesin frais dapat dilakukan dengan cara
berikut ini:
Pelajari gambar kerja (Gambar 6.6), misalnya diketahui sebuah roda gigi lurus dengan
z = 30 gigi, dan modulnya (m) 1,5.

Gambar 6.6 Roda gigi lurus

a) Menghitung ukuran-ukuran roda gigi:


 Diameter tusuk (Dt) = z.m
= 30.1,5
= 45 mm
 Diameter luar (Dl) = Dt+(2.m)
= 45 mm
 Kedalaman gigi (h) = ha+hf
= (1.1,5)+(1,2.1,5)
= 3,3 mm
 Pisau yang digunakan adalah nomor 5
 Pembagian pada kepala pembagi bila ratio perbandingan pembagiannya 40:1,
Maka:
40
𝑁𝑐 =
𝑧
40 10 6
= =1 =1
30 30 18
Jadi: Engkol kepala pembagi diputar sebesar satu putaran penuh, ditambah
enam lubang pada indek piring pembagi berjumlah 18.
b) Persiapkan peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk pembuatan roda
gigi lurus.
c) Pasang blank roda gigi yang sudah terpasang pada mandril diantara dua senter.

SMK KORPRI Majalengka Halaman 9


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
d) Setting pisau ditengah-tengah benda kerja, dan lanjutkan setting pisau diatas nol
permukaan benda kerja.
e) Atur kedalaman pemakanan sesuai perhitungan.
f) Atur pembagian mengatur piring pembagi dan lengan untuk pembagian 30 gigi,
dalam hal ini dari hasil perhitungan menggunakan piring pembagi berjumlah 18.
g) Setelah yakin benar, bahwa posisi cutter di tengah-tengah benda kerja geserkan
meja longitudinal, naikkan meja setinggi depth of cut (h). Sesuai perhitungan
didapat 3,3 mm.
h) Putarkan engkol pembagi suatu putaran penuh untuk menghilangkan backlash.
i) Hidupkan mesin, dan lakukan pemotongan gigi.
j) Lakukan pemotongan hingga selesai satu gigi, ukurlah tebal gigi dengan gear
tooth vernier bil ternyata ada kekurangan atur kembali defth of cut.
k) Kemudian lakukan kembali pemotongan hingga selesai dengan menggunakan
gerakan meja secara otomatis.
l) Sebagai ilustrasi hasil pemotongan dalam pembuatan roda gigi lurus dapat dilihat
pada (Gambar 6.7)

Gambar 6.7 Pemotongan gigi lurus

2. Pengefraisan/pemotongan batang bergigi/gigi rack (Rack gear)


a) Fungsi gigi rack
Rack adalah suatu batang bergerigi, yang berguna untuk memindahkan gerak
putar menjadi gerak lurus, biasanya pada kecepatan yang lambat atau kecepatan
putaran tangan. Gerak putar dari suatu engkol, menggerakkan roda gigi pinion,
roda gigi pinion menggerakkan batang bergerigi ini terdapat, misalnya pada
mesin bor, press dan sebagainya.
b) Ukuran gigi rack

SMK KORPRI Majalengka Halaman 10


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
Standard ukuran gigi rack sama dengan standard ukuran roda gigi, karena gigi
rack selalu berpasangan dengan roda gigi, atau dapat dikatakan rack adalah
roda gigi dengan radius tak terhingga. Di sini jarak antara pusat dua gigi yang
berdekatan pada garis tusuk aksial = axial pitch = px. Bila tusuk pada roda gigi
pinion (pt= transvese pitch), maka: Px = pt =π .m. Gambar 150 menunjukkan
ukuran-ukuran gigi rack
Contoh: Besarnya axial pitch (Px) bila gigi rack dengan modul (m) = 3 adalah: Px
= pt = π . m = 3,14.3= 9,42 mm

Gambar 6.8 Ukuran gigi rack

c) Mengefrais batang bergerigi yang berukuran pendek.


Bila batang bergerigi lebih pendek daripada pergeseran meja melintang (cross
slide), maka benda kerja dapat dipasang (dijepit) dengan ragum mesin. Untuk
pembagiannya digunakan sekala pada cross slide dan apabila menghendaki
lebih teliti lagi dapat digunakan jam ukur (dial indicator).
d) Mengefrais batang bergerigi yang panjang
Bila batang bergerigi lebih panjang daripada pergeseran melintang, maka benda
kerja dipasang memanjang sepanjang meja frais dan diklem. Pisau frais dipasang
pada rack milling attachment (perlengkapan frais rack). Di sini pembagiannya
dengan menggunakan pergeseran memanjang (longitudinal slide).

Gambar 6.9. Ragum dan perlengkapan frais batang bergigi


(Rack milling attachment and vice)

e) Perlengkapan pembagi batang bergigi (Rack indexing attachment)

SMK KORPRI Majalengka Halaman 11


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
Disamping kita menggunakan pergeseran meja mesin untuk pembagian batang
bergerigi, pada mesin frais tertentu dilengkapi alat pembagi khusus. Alat ini terdiri
dari satu set roda gigi, pelat pembagi (indexing plate) pen index dan penyokong
(pemegang). Alat ini dipasang pada ujung meja.

Gambar 6.10 Perlengkapan pembagi batang bergigi

f) Prosedur pemotongan
Untuk memotong gigi rack lurus pada mesin frais dapat dilakukan dengan cara
berikut ini:
1) Pelajari gambar kerja (Gambar 6.11), misalnya diketahui Sebuah gigi rack
lurus dengan panjang (L )= 71mm, danmodulnya (m) 1,5.

Gambar 6.11 Roda gigi lurus

Maka ukuran-ukuran yang lain dapat direncanakan sebagai berikut, termasuk


agar supaya sisa gigi sisi kanan dan kiri sama.
 Besarnya aksial pitch px = 𝜋 .m
= 3,14.1,5
= 4,71 mm
 Kedalaman gigi (h) = ha+hf
= (1.1,5)+(1,2.1,5)
= 3,3 mm
 Jumlah gigi sepanjang 71 mm adalah:
𝐿 71
𝑧 = 𝜋.𝑚 = 3,14.1,5 = 15,0743 𝑔𝑖𝑔𝑖

SMK KORPRI Majalengka Halaman 12


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
 Jadi sisa gigi adalah = 0,0743.( .m)
= 0,35 mm
 Untuk mendapatkan sisa gigi yang sama, bila tebal pisaunya adalah 4 mm
maka:
0,35 + 4
𝑋= = 2.175 𝑚𝑚
2
 Pisau yang digunakan adalah nomor 8.
 Persiapan peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk pembuatan
roda gigi lurus.
 Pasang blank gigi rack pada ragum yang telah terpasang sebelumnya.
 Setting pisau pada sisi benda kerja, dan selanjutnya geser pisau sebesar X =
2,175 mm.
 Atur kedalaman pemakanan sebesar 3,3 mm.
 Setelah yakin benar bahwa posisi cutter pada posisi yang benar, lakukan
pemotongan pada gigi pertama.
 Berikutnya lakukan pemotongan gigi kedua dengan menggeser meja sebesar
4,71 mm.
 Ukurlah tebal gigi dengan gear tooth vernier bila ternyata ada kekurangan atur
kembali defth of cut (h).
 Kemudian lakukan kembali pemotongan hingga selesai dengan menggunakan
gerakan meja secara otomatis/manual.

SMK KORPRI Majalengka Halaman 13


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

RODA GIGI HELIX/MIRING


Bagian–bagian utama roda gigi miring
Bagian-bagian utama roda gigi miring dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Keterangan
D : diameter jarak bagi
Df : diameter kaki gigi
Dk : diameter kepala gigi
h : tinggi gigi
hf : tinggi kaki gigi
hk : tinggi kepla gigi
b : sudut kemiringan gigi/penyetelan
ta : jarak antara busur gigi diukur dari alas
tn : jarak antara bhusur gigi normal
b : lebar gigi
bn : lebar gigi normal

Perhitungan ukuran roda gigi miring.

Beberapa ukuran yang harus diketahui sebelum pengefraisan roda gigi


miring atara lain:

1) Diameter pitch
a) diameter pitch dalam sistem metric ditentukan oleh jumlah gigi, modul dan sudut
kemiringan

b) Pada sistem Diametral Pitch diameter pitch ditentukan oleh jumlah gigi, diametral
pitch, dan sudut kemiringan

2) Diameter Luar
Diametr luar merupakan diameter bahan awal yang harus dibubut.

SMK KORPRI Majalengka Halaman 14


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

3) Kisar yang harus dipotong

4) Rasio pemindahan gigi

Rasio pemindahan gigi merupakan perbandingan antara kisar benda kerja dengan kisar
mesin. Sudut miring benda kerja merupakan sudut penyetelan juga untuk meja frais.
Selanjutnya untuk mencari roda-roda tukar dapat digunakan rumus:

Uw : Perbandingan roda gigi dari roda-roda tukar


Pl : Kisar benda kerja dalam mm
Pw : Kisar sekerup penghantar dari meja frais
ZPG : hasil jumlah gigi dari roda-roda tukar penggerak (Driver)
ZDG : hasil kali jumlah gigi dari roda-roda tukar yang digerakkan (Driven)

SMK KORPRI Majalengka Halaman 15


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

Sudut miring benda kerja merupakan sudut penyetelan juga untuk meja frais.
Selanjutnya untuk mencari roda-roda tukar dapat digunakan rumus.

Uw : Perbandingan roda gigi dari roda-roda tukar


Pl : Kisar benda kerja dalam mm
Pw : Kisar sekerup penghantar dari meja frais
ZPG : hasil jumlah gigi dari roda-roda tukar penggerak (Driver)
ZDG : hasil kali jumlah gigi dari roda-roda tukar yang digerakkan (Driven)

Contoh:

Sebuah Roda Gigi Helix dengan Modul 4 Mempunyai Jumlah Gigi 15 buah sudut helix
nya 24o kiri.
Buatlah Perhitungan Pokoknya.
Penyelesaian :
a. Diameter Tusuk (Dt):
𝑍 × 𝑀 15 × 4
𝐷𝑡 = = = 65.68 𝑚𝑚
𝐶𝑜𝑠 𝛽 Cos 24°

SMK KORPRI Majalengka Halaman 16


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
b. Diameter Luar (Dl):
𝐷𝑙 = 𝐷𝑡 + 2. 𝑀 = 65.68 + 2.8 = 73.68 𝑚𝑚
c. Kisar Benda Kerja (LW):
𝜋 × 𝐷𝑡 3.142 × 65.68
𝐿𝑊 = = = 463.74 𝑚𝑚
𝑡𝑎𝑛𝛽 tan 24°
d. Kisar Meja Mesin (LM)
Batang ulir meja mesin =6 mm
I=40:1
Ik =1:1
Jadi LM=6x40=240 mm
e. Roda Gigi Pengganti

463.74 46374 7729


= =
240 24000 4000
Gunakan continued fraction
4000 ) 7729 (1
4000
3729 ) 4000(1
3729
271 ) 3729 (13
3523
206 ) 271 (1
206
65 ) 206 (3
195
11 ) 65 (5
55
10 ) 11 (1
10
1 ) 10 (10
10
0
1 1 13 1 3 5 1 10
0 1 1 2 27 29 114 589 713 7729
1 0 1 1 14 15 59 310 369 4000
kita ambil perbandingan
𝑧𝑃𝐺 27 9 × 3
= =
𝑧𝐷𝐺 14 7 × 2
(9.4) × (3.16) 36 × 48
= =
(7.4) × (2.16) 28 × 32
𝑗𝑎𝑑𝑖
𝑧𝑃𝐺1 𝑧𝑃𝐺2 36 × 48
× =
𝑧𝐷𝐺1 𝑧𝐷𝐺2 28 × 32

SMK KORPRI Majalengka Halaman 17


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
27
Bila kita menggunakan roda gigi pengganti dengan ratio maka Pl yang terjadi
14

𝑃𝑙 27
= 14
𝑃𝑤

Pl = 27.240 = 462.86

Terdapat kesalahan = 463.74 - 462.86 = 0.88 mm

Atau kira kira 0.88/463.74 = 0.0019

(batas kesalahan max 0.0020) jadi hal tersebut diperbolehkan.

f. Cutter yang digunakan


𝑧 15 15
𝑍𝑒 = = = = 19.7 ≈ 20 𝑔𝑖𝑔𝑖
cos 𝛽 cos 24 (0.913)3
3

Jadi dipilih cutter dengan seperti membuat 20 gigi lurus (Modul 4, cutter no 3)
g. Kedalaman Pemakanan
= 2.25 x M
=2.25 x 4
=9 mm
h. Putaran engkol Pembagi
Nc = i/Z
=40 / 15
= 2 2/3
= 2 10/15
Engkol diputar 2 putaran ditambah 10 jarak lubang pada plat indek 15.

SMK KORPRI Majalengka Halaman 18


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

RODA GIGI KONIS/ PAYUNG

SMK KORPRI Majalengka Halaman 19


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

SMK KORPRI Majalengka Halaman 20


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

SMK KORPRI Majalengka Halaman 21


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

SMK KORPRI Majalengka Halaman 22


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

Contoh 2 Perhitungan Parameter Roda Gigi Konis Lurus Standar

Dengan keriteria Sudut hubungan poros (Shaft Angle) Σ= 90o, Module 𝑚=2, Sudut tekan

(Pressure Angle) 𝛼 = 20o , jumlah gigi pinion 𝑍1 = 20, dan jumlah gigi gear 𝑍2 = 35, maka

parameter desain (gb. 1) hubungan Roda gigi Pinion dan Gear dapat di hitung sebagai

berikut :

SMK KORPRI Majalengka Halaman 23


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
Gb. 1 Parameter Desain

1. Roda Gigi Pinion (gb. 4)

1.1 Diameter Tusuk (Pitch Diameter)

𝑑1 = 𝑍 1 𝑥 𝑚

= 20 𝑥 2

= 40 mm

1.2 Sudut Tusuk Konis (Pitch Cone Angle)

sin Σ
𝛿1 = 𝑡𝑎𝑛−1 ( 𝑍2 )
+𝑐𝑜𝑠Σ
𝑍1

sin 90o
= 𝑡𝑎𝑛−1 ( )
35 o
20 + 𝑐𝑜𝑠90

= 29.744𝑜

gb.2 Sudut hubungan roda gigi

1.3 Jarak Konis (Cone Distance)

𝑑1
𝑅𝑒 =
2 sin 𝛿1

40
𝑅𝑒 =
2 sin 29.744

𝑅𝑒 = 40.31 𝑚𝑚

1.4 Lebar Muka (Face Width)

𝑅𝑒
𝑏 = 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑡𝑎𝑢 10 𝑚
3
SMK KORPRI Majalengka Halaman 24
TEKNIK PEMESINAN FRAIS
𝑑𝑖𝑝𝑖𝑙𝑖ℎ 𝑏 = 15 𝑚𝑚

1.5 Tinggi Kepala (Addendum)

ℎ𝑎 = 1𝑚

ℎ𝑎 = 2 𝑚𝑚

1.6 Tinggi Kaki (Dedendum)

ℎ𝑓 = 1.25𝑚

ℎ𝑓 = 1.25 𝑥 2

ℎ𝑓 = 2.5 𝑚𝑚

1.7 Sudut Kepala (Addendum Angle)

ℎ𝑎
𝜃𝑎 = 𝑡𝑎𝑛−1
𝑅𝑒

2
𝜃𝑎 = 𝑡𝑎𝑛−1
40.31

𝜃𝑎 = 2.840𝑜

1.8 Sudut Kaki (Dedendum Angle)

ℎ𝑓
𝜃𝑓 = 𝑡𝑎𝑛−1
𝑅𝑒

2.5
𝜃𝑓 = 𝑡𝑎𝑛−1
40.31

𝜃𝑓 = 3.548 𝑜

1.9 Sudut Luar konis (Outer Cone Angle)

𝛿𝑎 = 𝛿1 + 𝜃𝑎

𝛿𝑎 = 29.744𝑜 + 2.840𝑜

𝛿𝑎 = 32.58𝑜

1.10 Sudut Kaki konis (Root Cone Angle)

𝛿𝑓 = 𝛿1 − 𝜃𝑓

𝛿𝑓 = 29.744𝑜 − 3.548 𝑜

𝛿𝑓 = 26.204𝑜

1.11 Diameter Luar konis (Outside Diameter)

𝑑𝑎 = 𝑑1 + 2ℎ𝑎 𝑐𝑜𝑠𝛿1

SMK KORPRI Majalengka Halaman 25


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
𝑑𝑎 = 40 + 2.2𝑐𝑜𝑠29.744

𝑑𝑎 = 43.470 𝑚𝑚

gb.3 Dimensi dan sudut roda gigi

1.12 Jarak sisi terhadap puncak konis (Pitch Apex to Crown)

𝑋 = 𝑅𝑒 𝑐𝑜𝑠𝛿1 − ℎ𝑎 𝑠𝑖𝑛𝛿1

𝑋 = 40.31𝑐𝑜𝑠29.744 − 2𝑠𝑖𝑛29.744

𝑋 = 34 𝑚𝑚

1.13 Lebar aksial muka (Axial Face width)

𝑏 𝑐𝑜𝑠 𝛿𝑎
𝑋𝑏 =
cos 𝜃𝑎

15 cos 32.58
𝑋𝑏 =
cos 2.84

𝑋𝑏 = 12.65 𝑚𝑚

1.14 Diameter Luar Konis bagian dalam (Inner Outside Diameter)

2 𝑏 𝑠𝑖𝑛 𝛿𝑎
𝑑𝑖 = 𝑑𝑎 −
𝑐𝑜𝑠𝜃𝑎

2 𝑥 15 𝑠𝑖𝑛 32.58
𝑑𝑖 = 43.470 −
𝑐𝑜𝑠2.84

𝑑𝑖 = 25 𝑚𝑚

SMK KORPRI Majalengka Halaman 26


TEKNIK PEMESINAN FRAIS

Gb. 4 Roda Gigi Pinion


2. Roda Gigi Gear (gb.5)

2.1 Diameter Tusuk (Pitch Diameter)

𝑑2 = 𝑍 2 𝑥 𝑚

= 35 𝑥 2

= 70 mm

2.2 Sudut Tusuk Konis (Pitch Cone Angle)

𝛿2 = Σ − 𝛿1

𝛿2 = 90 − 29.744𝑜

𝛿2 = 60.256𝑜

2.3 Jarak Konis (Cone Distance)

𝑑2
𝑅𝑒 =
2 sin 𝛿2

70
𝑅𝑒 =
2 sin 60.256

𝑅𝑒 = 40.31 𝑚𝑚

2.4 Lebar Muka (Face Width)

𝑅𝑒
𝑏 = 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑡𝑎𝑢 10 𝑚
3

𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑙𝑖ℎ 𝑏 = 15 𝑚𝑚

2.5 Tinggi Kepala (Addendum)

ℎ𝑎 = 1𝑚

ℎ𝑎 = 2 𝑚𝑚

SMK KORPRI Majalengka Halaman 27


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
2.6 Tinggi Kaki (Dedendum)

ℎ𝑓 = 1.25𝑚

ℎ𝑓 = 1.25 𝑥 2

ℎ𝑓 = 2.5 𝑚𝑚

2.7 Sudut Kepala (Addendum Angle)

ℎ𝑎
𝜃𝑎 = 𝑡𝑎𝑛−1
𝑅𝑒

2
𝜃𝑎 = 𝑡𝑎𝑛−1
40.31

𝜃𝑎 = 2.840𝑜

2.8 Sudut Kaki (Dedendum Angle)

ℎ𝑓
𝜃𝑓 = 𝑡𝑎𝑛−1
𝑅𝑒

2.5
𝜃𝑓 = 𝑡𝑎𝑛−1
40.31

𝜃𝑓 = 3.548 𝑜

2.9 Sudut Luar konis (Outer Cone Angle)

𝛿𝑎 = 𝛿2 + 𝜃𝑎

𝛿𝑎 = 60.256𝑜 + 2.840𝑜

𝛿𝑎 = 63.09𝑜

2.10 Sudut Kaki konis (Root Cone Angle)

𝛿𝑓 = 𝛿2 − 𝜃𝑓

𝛿𝑓 = 60.256𝑜 − 3.548 𝑜

𝛿𝑓 = 56.71𝑜

2.11 Diameter Luar konis (Outside Diameter)

𝑑𝑎 = 𝑑2 + 2ℎ𝑎 𝑐𝑜𝑠𝛿2

𝑑𝑎 = 70 + 2.2𝑐𝑜𝑠60.256

𝑑𝑎 = 71.98 𝑚𝑚

2.12 Jarak sisi terhadap puncak konis (Pitch Apex to Crown)

𝑋 = 𝑅𝑒 𝑐𝑜𝑠𝛿2 − ℎ𝑎 𝑠𝑖𝑛𝛿2

SMK KORPRI Majalengka Halaman 28


TEKNIK PEMESINAN FRAIS
𝑋 = 40.31𝑐𝑜𝑠60.256 − 2𝑠𝑖𝑛60.256

𝑋 = 18.26 𝑚𝑚

2.13 Lebar aksial muka (Axial Face width)

𝑏 𝑐𝑜𝑠 𝛿𝑎
𝑋𝑏 =
cos 𝜃𝑎

15 cos 63.09𝑜
𝑋𝑏 =
cos 2.84

𝑋𝑏 = 6.79 𝑚𝑚

2.14 Diameter Luar Konis bagian dalam (Inner Outside Diameter)

2 𝑏 𝑠𝑖𝑛 𝛿𝑎
𝑑𝑖 = 𝑑𝑎 −
𝑐𝑜𝑠𝜃𝑎

2 𝑥 15 𝑠𝑖𝑛 63.09
𝑑𝑖 = 43.470 −
𝑐𝑜𝑠2.84

𝑑𝑖 = 43.92 𝑚𝑚

Gb. 5 Roda Gigi Gear

SMK KORPRI Majalengka Halaman 29

Anda mungkin juga menyukai