Anda di halaman 1dari 3

Artikel 8

KEMANA ARAH REVISI UUPA NO.5 TAHUN 1960 ?


Oleh : Angky

Hampir setiap hari, media massa daerah dan nasional ramai mewartakan permasalahan
konflik tanah dan dampak eksploitasi sumber daya alam, kemiskinan, merosotnya modal
dan produktivitas kesejahteraan petani. Seperti: penggusuran paksa dan perampasan hak
atas tanah di semua tempat, kekerasan dan penangkapan paksa, pendudukan lahan dan
reclaiming, kegiatan land cleraing dan perluasan kebun sawit yang merusak ekosistem
hutan di Sumbar, Riau dan di Kalimantan, pengrusakan hutan dan banjir, kekeringan,
krisis pangan, kelaparan, banjir lumpur Lapindo yang tidak punya AMDAL, dan
sebagainya.

Situasi ini bertolak belakang dengan gambaran keadilan, kesejahteraan, kemakmuran,


merdeka dan berdaulat, sebagaimana yang di idam-idamkan dalam kehidupan sosial dan
tertera dalam Undang-undang Pokok Agraria No. 5 tahun 1960 (UUPA 60), nyaris jauh
dari kenyataan.

Di tengah kekisruhan permasalahan dan konflik agraria yang terjadi di tanah air, kembali
menghangat diskursus dan desakkan perubahan ataupun mengamandemen UUPA 60
oleh kalangan elit politik, DPR, pemerintah, akademisi, praktisi hukum dan hingga pihak
pemodal berkepentingan. Badan Legislatif Nasional (Balegnas) dalam Program Legislasi
Nasional (Prolegnas) bahkan sudah menjadwalkan agenda Revisi UUPA 60.

Gagasan ini bukan pertama kali dilakukan, tahun 2000 an, BPN (Badan Pertanahan
Nasional) dan Bappenas, pernah memunculkan draft perubahan UUPA 60. Selanjutnya
pada tahun 2003, dikeluarkan Keppres No. 34 tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di
Bidang Pertanahan, yang dalam pasal 1 (huruf a), BPN diminta untuk melakukan
langkah-langkah percepatan penyusunan Rancangan UU (RUU) Penyempurnaan UUPA
1960 dan RUU Hak atas Tanah, serta peraturan perundang-undangan lainnya di bidang
pertanahan, dengan mempertimbangkan pelaksanaan Tap MPR Nomor IX/MPR/2001
tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Tahun 2004, BPN
mengeluarkan RUU Sumber Daya Agraria.

Desakan perubahan UUPA 60 dan deregulasi berbagai kebijakan sektor pembangunan


lainnya, tidak lepas dari berbagai dinamika politik dan kepentingan pembangunan
ekonomi masa kini, yang melibatkan para pemodal dan lembaga keuangan internasional
yang berpengaruh dan mendominasi arus utama politik agraria di Indonesia.

World Bank dan Australian Aid bersama dengan pemerintah Indonesia (Bappenas),
melakukan serangkaian studi Land Administration Project (LAP) yang biayanya sekitar
Rp. 295 milyar. Studi tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan pengadaan tanah dan
konflik tanah untuk kepentingan berbagai sektor pembangunan, yang tentu berimplikasi
pada proyek-proyek yang dibiayai oleh hutang Bank Dunia, industrialisasi, dan gerakan
pertumbuhan investasi lainnya.

Dengan berbagai dalih dan alasan mempersoalkan UUPA sebagai penghalang pasar tanah
dan penyebab konflik agraria, hingga merekomendasikan dalam jangka panjang UUPA
60 harus diganti dengan Undang-undang Pertanahan baru untuk menciptakan hak-hak
kepemilikan atas tanah yang lebih luas dan mengarah pada pengaturan penciptaan pasar
tanah yang sejalan dengan perkembangan masa kini untuk kepentingan investasi.

Pandangan dasar kelompok pro pasar tanah adalah transaksi jual beli tanah secara
sukarela di pasar merupakan proses alamiah. Pada gilirannya, konsentrasi penguasaan
tanah yang terjadi lewat mekanisme pasar tidak lagi dapat diganggu gugat.

Noer Fauzi (1997), yang melakukan penilaian atas studi LAP, mengungkapkan
kecenderungan ini akan mengintegrasikan hubungan antara penduduk dengan tanahnya
ke dalam sistem kapitalisme -- melalui ekspansi pasar. Pasar tanah dalam perspektif di
atas mengandung konsep tanah adalah komoditi. Padahal, konsep tanah, pola pemilikan
dan pengusaan tanah yang secara nyata berlaku dalam masyarakat, sangat beragam.
Secara umum orientasi pada pasar tanah yang efisien ini tetap akan menguatkan
penguasaan tanah yang timpang.

Bila ditilik secara cermat, metode pelepasan tanah melalui pasar tetap akan
mengakibatkan konsentrasi penguasaan tanah yang berujung pada konsentrasi kekuasaan
atas modal. Pasar tanah yang mengarah pada komersialisasi tanah hanya akan memaksa
penduduk atau pemilik tanah sempit "menyerahkan" tanahnya kepada mereka yang
memiliki uang untuk membeli tanah lewat suatu transaksi jual beli. (Erfan;2002)

Hingga kini, di masa rejim SBY JK yang melanjutkan rejim pro investasi, nuansa dan
kandungan kepentingan kaum pemodal dalam kerangka privatisasi dan liberalisasi tanah
dan sumber daya alam lainnya, masih tercermin dalam arah dan tuntutan perubahan
kebijakan UUPA 60 serta peraturan pertanahan lainnya.

Berbagai naskah peraturan sedang digodok, seperti: revisi UU Sektoral (Perkebunan,


Sumber Daya Air, Kehutanan, dsb), RUU Minerba, RUU Penanaman Modal, dan RUU
Sumberdaya Agraria, Perpres No. 36 tahun 2005 yang kini menjadi Perpres No. 65 tahun
2006 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan
Umum, dan lain-lain.

Dalam RUU Sumberdaya Agraria 2004, pasal 26 yang mengatur pemberian hak pakai
hingga 50 tahun, merupakan salah satu pasal yang mengakomodir keluhan dan desakan
para investor, yang menginginkan perubahan PP No. 40 tahun 1996 tentang Hak Guna
Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai, untuk mengusahakan lahan dalam jangka
panjang. Demikian pula Perpres 36 thn 2005 ataupun Perpres 65 thn 2006, yang tiba-tiba
nongol menyusul rencana program dan kesepakatan pemerintah dalam Infrastruktur
Summit, untuk pembangunan sarana dan prasarana penunjang ekonomi, seperti: jalan tol,
rel kereta, bendungan, jaringan listrik, pipanisasi dan sebagainya, proyek-proyek yang
menggunakan label kepentingan umum, padahal kenyataannya untuk memfasilitasi kaum
pemodal dalam kerangka industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, yang melibatkan
investasi asing.

Paradigma dan kecenderungan arah kebijakan agraria demikian memunculkan


kontroversial dan kekhawatiran, utamanya dari organisasi masyarakat sipil dan kalangan
aktivis sosial, termasuk didalamnya organisasi masyarakat adat. Hal ini dianggap bukan
jawaban untuk menyelesaikan penyimpangan terhadap kebijakan dan praktek-praktek
politik agraria, maupun penyelesaian konflik agraria, penataan struktur penguasaan tanah
yang adil, terjaminnya kesejahteraan petani yang produktif dan mandiri, serta lingkungan
yang lestari.

Proyek-proyek regulasi dan revisi UUPA 60 tidak seharusnya dilakukan dalam situasi
politik ekonomi yang tidak berpihak pada rakyat dan memberikan jaminan bagi rakyat
miskin. Yang diperlukan adalah keseriusan dan kemauan politik pemerintah untuk
merumuskan kebijakan dan menjalankan pembaruan agraria, menata struktur penguasaan
dan pemilikan tanah secara adil, menjamin terpenuhinya hak dan akses rakyat terhadap
tanah, pengakuan hak masyarakat adat atas tanah, melindungi dan memajukan
produktivitas dan kesejahteraan petani, memfasilitasi pengembangan kapasitas,
pengetahuan, alat-alat produksi dan usaha tani, penyelesaian konflik dan sebagainya.

Artikel ini juga dimuat di Gaung AMAN, Edisi Juni 2006


Penulis adalah Aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN)