Anda di halaman 1dari 11

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

I. Pengantar Prostat  kerjakan y ver…. 


a. Embryology Prostat
b. Anatomy prostate
Prostat merupakan kelenjar yang berbentuk seperti buah kenari
yang merupakan bagian dari sistim reproduksi laki-laki. Kelenjar ini terdiri
dari beberapa regio atau lobus yang ditutupi oleh lapisan luar jaringan
(kapsul). Zona yang berbeda adalah perifer, sentral, stroma fibromuskuler
anterior, dan transisi. Zona transisi di sekitar uretra, membesar seiring
dengan pertambahan usia yang dipengaruhi oleh hormonal. Secara
anatomi prostate berhubungan erat dengan kandung kemih, uretra, kedua
ureter, vas deferens, dan vesikula seminalis. Prostate terletak di atas
diafragma panggul sehingga sehingga uretra yang terfiksasi dalam
diafragma tersebut, dapat terobek bersama diafragma bila terjadi cedera.
Prostate dapat diraba pada pemeriksaan colok dubur.
Selain mengandung jaringan kelenjar, kelenjar prostate
mengandung cukup banyak jaringa fibrosa dan jaringan otot. Kelenjar ini
ditembus oleh uretra dan kedua duktus ejakulatorius, dan dikelilingi oleh
suatu pleksus vena. Kelenjar limf regionalnya ialah kelenjar limf
hipogastrik, sacral, obturator, dan iliakal ekstern.

c. Histologi Prostat
d. Fisiologi Prostat
Prostate memproduksi cairan alkali yang merupakan ± 70% dari
volume seminalis. Prostate merupakan pipa penyalur dari semen dan
mencegah ejakulasi retrograde dengan menutup leher saluran kemih
selama puncak seksual. Semen membantu menetralisir keasaman vagina
dan menyediakan karbohidrat dan nutrisi untuk sperma.

II. Pengantar Benign Prostat Hyperplasia (BPH)


III. Etiology BPH
Penyebab BPH tidak diketahui secara pasti. Di beberapa negara,
banyak terjadi terutama pada laki-laki yang lebih tua dan BPH tidak terjadi
pada laki-laki yang testisnya telah diambil sebelum masa pubertas.
Berdasarkan hal ini, beberapa peneliti percaya bahwa faktor-faktor yang
berhubungan dengan usia dan testis dapat memacu perkembangan BPH.
Laki-laki memproduksi hormone testosterone (hormone penting
pada laki-laki) dan sedikit estrogen (hormone perempuan). Pada laki-laki
yang tua, jumlah testosterone yang aktif dalam darah berkurang, dan
estrogen meningkat. Percobaan yang dilakukan pada hewan telah
memberikan gambaran bahwa BPH terjadi karena jumlah estrogen yang
tinggi yang meningkatkan aktivitas dari substansi yang memacu
pertumbuhan sel.
Teori lain fokus pada dihydrotestosteron (DHT), derivad
testosterone di prostate yang mengontrol pertumbuhan prostate.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa walaupun kadar testosterone
dalam darah menurun, laki-laki tua terus memproduksi dan
mengakumulasi DHT dalam kadar yang tinggi. akumulasi DHT mendorong
pertumbuhan sel. Beberapa peneliti juga mencatat bahwa laki-laki yang
tidak ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Gejala dan tanda
memproduksi DHT juga tidak menghasilkan BPH.

IV. Faktor Resiko BPH


1. Genetic
Insiden BPH tertinggi pada orang kulit hitam dan terendah
pada orang Asia, tapi skor gejala lebih tinggi pada orang
Asia daripada kulit hitam.
2. Diet
Orang dengan diet sayur-sayuran dan kedelai lebih rendah
risikonya dibanding kebiasaan diet orang barat.
3. Usia
Dalam studi di Inggris, 3,5% laki-laki usia <40 tahun
menunjukkan gejala BPH sedangkan 35% terjadi pada
usia 80 tahun, ini disertai dengan LUTS.
4. Kondisi Medis
Orang dengan diabetes, hipertensi, jantung koroner punya
risiko mengalami BPH.

V. Patofisiology dan Gejala BPH


Patofisiologi BPH dapat terlihat secara histology maupun
manifestasi klinis. Pada dasarnya patofisiologi tersebut dibagi atas dua
fase yaitu:
1. Fase pertama asimptomatis, hanya terlihat secara
mikroskopis dimana terjadi hyperplasia prostate di zona
transisional, sementara itu juga terjadi perkembangan
volume prostate rata-rata 1,6% per tahun. Rasio antara
stroma dan epitelium adalah 2,7:1.
2. Fase kedua terlihat secara klinis. Fase kedua ini sinonim
dengan perkembangan LUTS. Rasio antara stroma dan
epitelium adalah 5:1.

Biasanya obstrukasi saluran kemih berarti penderita harus


menunggu pada permulaan miksi, pancaran miksi menjadi lemah, dan
rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensitif otot
detrusor berarti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit
ditahan, dan disuria. Gejala iritasi terjadi karena pengosongam yang tidak
sempurna pada saat miksi atau pembesaran prostate menyebabkan
rangsangan pada kandung kemih, sehingga vesika sering berkontraksi
meskipun belum penuh. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal
berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama
sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala dan tanda ini diberi skor untuk
menentukan berat keluhan klinik.
Apabila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin
sehingga pada akhir miksi ditemukan sisa urin di dalam kandung kemih,
dan timbul rasa tidak tuntas pada akhi miksi. Kaena produksi urin terus
terjadi maka pada suatu saat akan terjdi kemacetan total, sehingga
penderita tidak mampu lagi miksi. Jika keadaan ini terus berlanjut maka
pada suatu saat vesika tidak mampu lagi menampung urin sehingga
tekanan intravesika terus meningkat. Apabila tekanan vesika menjadi
lebih tinggi daripada tekanan sfingter dan obstruksi, akan terjadi
inkonntinensia paradoks. Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko-
ureter, hidroureter, hidronefrosis, dan gagal ginjal. Proses kerusakan
ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi penderita selalu
mengedan sehingga lama kelamaan menyebabkan hernia atau hemoroid.
Karena selalu terdapat sisa urin dapat terbentuk batu endapan di dalam
kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan
menimbulkan hematuria. Batu tersebut juga dapat menyebabkan sistitis
dan bila terjadi refluks dapat terjadi pielonefritis.

VI. Diagnosa BPH


1. Colok dubur
Pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan
keadaan tonus sfingter anus, mukosa rectum, kelainan lain
seperti benjolan di dalam rectum dan prostate. Pada
perabaan melalui colok dubur harus diperhatikan
konsistensi prostate (pada pembesaran prostate jinak
konsisitensinya kenyal), adakah asimetri, adakah nodul
pada prostate, apakah batas atas dapat diraba. Pada
karsinoma prostate, prostate teraba keras atau teraba
benjolan yang konsistensinya lebih keras dari sekitarnya
atau ada prostate asimetri dengan bagian yang lebih
keras. Dengan colok dubur dapat juga diketahui batu
prostate bila teraba krepitasi.
2. Tes prostate Specific Antigen (PSA) darah
Tes PSA menghitung PSA di dalam darah pasien. Tes ini
digunakan untuk mendiagnosa BPH dan ca prostat.
Direkomendasikan untuk laki-laki >50 tahun dan laki-laki
>40 tahun yang punya risiko tinggi.
Dalam sebuah penelitian, kelompok laki-laki dengan PSA
0,2-1,3 ng/mL mengalami perkembangan prostat rata-rata
0,7 mL/ tahun. Sedangkan kelompok laki-laki dengan PSA
3,3-9,9 ng/mL mengalami perkembangan prostat rata0-rata
3,3 mL.
Kombinasi finasteride dan TUR bisa menurunkan PSA
level.

3. Ultrasonografi
Dapat dilakukan secara transabdominal atau transrektal
(transrectal ultrasonograrhy = TRUS). Selain untuk
mengetahui pembesaran prostate, pemeriksaan ini dapat
pula menentukan volume kandung kemih, mengukur sisa
urin, dan keadaan patologi lain seperti divertikel, tumor dan
batu. Dengan ultrasonografi transrektal dapat diukur besar
prostate untuk menentkan jenis terapi yang tepat.
4. Uroflowmetri
Merupakan teknik urodinamik untuk menilai uropati
obstruktif dengan mengukur pancaran urin pada waktu
miksi.
Masukkan table 10 sama gambar 9 dan 10

5. Intravenous Pyelogram (IVP)


Pemeriksaan ini untuk melihat adanya obstruksi pada
traktus urinarius.
• Syarat Lab. :
• - IVP biasa → S. Creatinin < 1,6
• - Infusion Pyelografi → S.Creatinin < 2,7

6. Sistografi
Pemeriksaan sistografi dilakukan bila pada anamnesis
ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urin
ditemukan mikrohematuria.

Ver, masukkan IPSS gambar 8 untuk menilai derajat obstruksi kandung kemih

VII. Diagnosa Banding BPH


Prostatitis akut Ca prostate
-Pada colok - Pada colok dubur
dubur,kelenjar prostate bisa teraba massa
keras, bengkak, panas. yang keras,
- Pasien febris irregular, pada
kelenjar prostate,
sulkus medianus
obscured
- Secara
mikroskopis,
berkembang di
zona luar
peripheral
sedangkan BPH
berkembang di
zona transisional.

VIII. Penatalaksanaan BPH


a. Non Bedah
1. Terapi obat:
- α bloker
obat ini memblok α adrenergic reseptor
mengakibatkan relaksasi otot polos prostate,
meningkatkan aliran urin. Obat ini tidak
mempengaruhi level PSA. Berdasarkan penelitian
juga diduga mekanisme kerja obat ini adalah
terjadinya apoptosis pada sel prostate. Obat ini
dianjurkan sebagai first line.
Contoh obat: tamsulosin, terazosin, doxazosin.
- 5 α reduktase inhibitor
obat ini bekerja menghambat enzim 5 α reduktase
sehingga pembentukan dihidrotestosteron dapat
ditekan. Obat ini tidak seefektif α bloker. Dapt
menurunkan retensi urin akut, dapat mengontrol
hematuria yang berhubungan dengan BPH.
Penggunaannya dapat dikombinasi dengan α bloker.
Contoh obat: finasteride, dutasteride.
Indikasi penggunaan finaseride
• ukuran prostate besar > 40 mL
• urinary flow rendah
• pembesaran prostate distimulasi oleh
hormonal.

2. TUMT (transurethral microwave thermotheraphy)


Sistim ini dikenalkan mulai tahun 1996. alat ini
menggunakan microwave untuk memanaskan (111˚ F) dan
menghancurkan jaringan prostate yang berlebihan.
Microwave itu dialirkan melalui kateter. Untuk melindungi
traktus urinarius, alat menggunakan sistim pendingin.
Prosedur pelaksanaannya memerlukan waktu 1 jam tanpa
general anastesi. Sistim ini tidak mengobati BPH, hanya
menurunkan frekuensi miksi, urgensi miksi, aliran yang
intermitten.

3. TUNA (transurethral needle ablation)


Menggunakan energi radiofrekuensi level rendah melalui 2
jarum yang dipanaskan. Sistim ini meningkatkan aliran urin
dan mengurangi gejala dengan sedikit efek samping jika
dibadingkan dengan TUR. Inkontinensia dan hipotensi
tidak ditemukan.
b. Bedah
1. TURP (transurethral resection of the prostate)
90% kasus BPH ditangani dengan metode ini. Setelah
diberi anastesi spinal, urolog akan memasukkan alat yang
disebut resectoscope (panjang 12 inci, diameter 0,5 inci
terdiri dari valve untuk mengontrol irigasi cairan, electrical
loop yang berfungsi sebagai ‚cutting’ jaringan prostat dan
coagulating pembuluh darah ) melalui uretra. Sistim ini
membutuhkan waktu <60 menit. TURP sedikit
menyebabkan trauma daripada open prostatectomy.
Komplikasi TURP terbagi 2:
o Intra operasi
Perdarahan, perforasi dan TURP
syndrome (gejala TURP syndrome
adalah hiponatremi, hipertensi dan
bradikardi, yang akhirnya ditakutkan
terjadi oedem otak).
o Pasca operasi
Retrograde ejaculation terjadi bila
sfingter terpotong.
Masukkan gambar TURP series
2. Open prostatectomy
Indikasi:
o Kandung kemih rusak
o Adalah masalah serius lain seperti
jaringan skar
Seluruh jaringan prostate diambil hingga kapsul prostate.
3. Laser surgery
Diperkenalkan mulai maret 1996 menggunakan
systoscope. Anestesi yang digunakan adalah anestesi
spinal. Keuntungan metode ini adalah sedikit perdarahan,
masa penyembuhan cepat tetapi tidak efektif untuk prostat
ukuran besar.

IX. Penatalaksanaan pasca operasi


1. penggunaan Foley cateter
2. antibiotic
3. banyak minum air (>8 gelas per hari)
4. hindari mengangkat beban berat (aktivitas yang membuat
kontraksi otot abdomen)
5. diet tinggi serat untuk menghindari konstipasi

X. Fungsi seksual pasca operasi


1. ereksi
tindakan bedah jarang menyebabkan gangguan ereksi.
2. ejakulasi
gangguan ejakulasi dapat terjadi pada pasien dengan
prostatectomy. Hal ini terjadi karena pemotongan otot yang
terlalu luas sampai leher kandung kemih.
3. orgasme
banyak laki-laki tidak merasakan adanya gangguan
orgasme sebelum maupun sesudah pembedahan.
I. Sabiston. Textbook of surgery. The biological basic of modern surgical
practice 17th edition 2004. Courtney M Townsend JR.M.D.
II. Buku ajar ilmu bedah.edisi 2. R sjamsuhidajat n Wim de jong. 2005.
EGC
III. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah edisi 6. schwartz. .EGC

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
karuniaNya, makalah mengenai Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) dapat
terselesaikan.
BPH merupakan kasus yang tersering ditemukan di bidang urologi. Angka
kejadian BPH dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun hal ini pun diiringi
dengan semakin berkembangnya penemuan-penemuan sebagai terapi dari
penyakit ini.
Makalah ini dibuat dengan harapan mahasiswa PSKU UNMUL mampu
meningkatkan pengetahuan mengenai BPH. Tidak hanya sekedar penyakitnya,
tapi juga mengetahui penatalaksanaannya sebagai pengantar di klinik nantinya.
Selain itu juga, makalah ini dibuat sebagai tugas junior clerkship di laboratorium
bedah.
Ucapan terima kasih kami haturkan kepada dosen-dosen ilmu bedah
PSKU UNMUL yang dengan keikhlasan dan kesabaran menuntun mahasiswa
dalam menggali ilmu bedah baik dalam hal teori maupun praktik. Juga kepada
civitas akademika PSKU UNMUL dan pihak RSUD. A.W.Syahranie.
Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan
ilmu kedokteran di Indonesia umumnya dan PSKU UNMUL pada khususnya.
Saran dan kritik yang membangun sangat kamai harapkan.