Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pada perkawinan antara Mirabilis jalapa berbunga merah dengan Mirabilis

jalapa berbunga putih, kita hanya memperhatikan satu sifat beda, yaitu

mengenai warna. Dipandang dari jumlah sifat beda ini, maka F1 sebagai hasil

kawin silang kita sebut suatu monohibrida. Dalam praktek, dua varietas itu

dapat mempunyai sifat beda lebih daripada satu, kecuali mengenai warna,

bunga dapat berbeda dalam bentuknya, demikian pula mengenai daun dan

bijinya. Maka hasil kawin silang antara dua varietas yang mempunyai 2, 3 atau

banyak sifat beda merupakan F1 yang kita sebut dihibrida, trihibrida,

polihibrida (Dwidjoseputro, 1981).

Suatu genotipe dihibrida adalah heterozigot pada dua lokus. Dihibrida

membentuk empat gamet yang secara genetik berbeda dengan frekuensi yang

kira-kira sama karena orientasi acak dari pasangan kromosom nonhomolog

pada piringan metafase meiosis pertama. Uji silang (test cross) adalah

perkawinan genotipe yang tidak diketahui benar dengan genotipe yang

homozigot resesif pada semua lokus yang sedang dibicarakan. Fenotipe-

fenotipe tipe keturunan yang dihasilkan oleh suatu uji silang mengungkapkan

jumlah macam gamet yang dibentuk oleh genotipe parental yang diuji. Bila

semua gamet individu diketahui, maka genotipe individu itu juga akan

diketahui. Suatu uji silang monohibrida menghasilkan ratio fenotipe 1:1,

menunjukkan bahwa ada satu pasang faktor yang memisah. Suatu uji silang

1
dihibrida menghasilkan ratio 1:1:1:1, menunjukkan bahwa ada dua pasang

faktor yang berpisah dan berpilih secara bebas (Stansfield, 1991).

Hukum ini berlaku (Pengelompokan gen secara bebas) ketika

pembentukan gamet, dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing-masing

kutub ketika meiosis. Pembuktian hukum ini dipakai pada dihibrid atau

polihibrid, yakni persilangan dari individu yang memiliki 2 atau lebih karakter

berbeda (Yatim, 1980).

2. Tujuan Eksperimen

Adapun tujuan eksperimen ini adalah :

a. Menjelaskan penerapan Hukum Mendel I dan II pada persilangan dihibrida.

b. Menentukan genetif induk yang akan disilangkan.

c. Menentukan jumlah dan macam gamet.

d. Menentukan rasio genotif dan fenotif pada persilangan dihibrida.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Persilangan dihibrida atau persilangan dengan dua sifat beda, melibatkan dua

pasang gen. Pada saat pembentukan gamet setiap pasangan gen akan memisah,

selanjutnya gen/alel yang telah memisah ini akan mengelompok dengan gen/alel

yang lain secara bebas. Oleh mendel hal ini disebut sebagai prinsip

pengelompokan gen secara bebas (independent assortment).

Dalam hukum mendel II atau dikenal dengan The Law of Independent

assortmen of genes atau Hukum Pengelompokan Gen Secara Bebas dinyatakan

bahwa selama pembentukan gamet, gen-gen sealel akan memisah secara bebas

dan mengelompok dengan gen lain yang bukan alelnya. Pembuktian hukum ini

dipakai pada dihibrid atau polihibrid, yaitu persilangan dari 2 individu yang

memiliki satu atau lebih karakter yang berbeda. Dihibrid adalah hibrid dengan 2

sifat beda. Fenotif adalah penampakan atau perbedaan sifat dari suatu individu

tergantung dari susunan genetiknya yang dinyatakan dengan kata-kata (misalnya

mengenai ukuran, warna, bentuk, rasa, dsb). Genotif adalah susunan atau

konstitusi genetik dari suatu individu yang ada hubungannya dengan fenotif;

biasanya dinyatakan dengan simbol atau tanda pertama dari fenotif. Oleh karena

individu itu bersifat diploid, maka genotif dinyatakan dengan huruf dobel,

misalnya AA, Aa, aa, AABB,dsb. Sebelum melakukan percobaan, harus diketahui

cara pewarisan sifat. Dua pasang yang diawasi oleh pasangan gen yang terletak

pada kromosom yang berlainan. Sebagai contoh Mendel melakukan percobaan

3
dengan menanam kacang ercis yang memiliki dua sifat beda. Mula-mula tanaman

galur murni yang memiliki biji bulat berwarna kuning disilangkan dengan

tanaman galur murni yang memiliki biji keriput berwarna hijau, maka F1

seluruhnya berupa tanaman yang berbiji bulat berwarna kuning. Biji-biji dari

tanaman F1 ini kemudian ditanam lagi dan tanaman yang tumbuh dibiarkan

mengadakan penyerbukan sesamanya untuk memperoleh keturunan F2 dengan 16

kombinasi yang memperlihatkan perbandingan 9/16 tanaman berbiji bulat warna

kuning : 3/16 berbiji bulat warna hijau : 3/16 berbiji keriput berwarna kuning :

1/16 berbiji keriput berwarna hijau atau dikatakan perbandingannya adalah ( 9 : 3

: 3 : 1 ).

Bila semua gamet individu diketahui, maka genotipe individu itu juga akan

diketahui. Suatu uji silang monohibrida menghasilkan ratio fenotipe 1:1,

menunjukkan bahwa ada satu pasang faktor yang memisah. Suatu uji silang

dihibrida menghasilkan ratio 1:1:1:1, menunjukkan bahwa ada dua pasang faktor

yang berpisah dan berpilih secara bebas (johnson, 1983: 98).

Hukum pewarisan ini mengikuti pola yang teratur dan terulang dari generasi

ke generasi. Dengan mempelajari cara pewarisan gen tunggal akan dimengerti

mekanisme pewarisan suatu sifat dan bagaimana suatu sifat tetap ada dalam

populasi. Demikian juga akan dimengerti bagaimana pewarisan dua sifat atau

lebih Banyak sifat pada tanaman, binatang dan mikrobia yang diatur oleh satu

gen. Gen-gen dalam individu diploid berupa pasangan-pasangan alel dan masing-

masing orang tua mewariskan satu alel dari satu pasangan gen tadi kepada

4
keturunannya. Pewarisan sifat yang dapat dikenal dari orang tua kepada

keturunannya secara genetik disebut hereditas (Crowder, 1990).

Mendel melakukan persilangan ini dan memanen 315 ercis bulat-kuning, 101

ercis keriput-kuning, 108 bulat-hijau dan 32 ercis keriput-hijau. Hanyalah 32 ercis

keriput-hijau yang merupakan genotipe tunggal. Hasil-hasil ini membuat Mendel

mendirikan hipotesisnya yang terakhir (hukum Mendel kedua). Distribusi satu

pasang faktor tidak bergantung pada distribusi pasangan yang lain. Hal ini dikenal

sebagai hukum pemilihan bebas . Ciri khas karya Mendel yang cermat ialah

bahwa ia lalu menanam semua ercis ini dan membuktikan adanya genotipe

terpisah di antara setiap ercis dengan kombinasi baru ciri-cirinya (Kimball, 1983).

Hukum Mendel II disebut juga hukum asortasi. Mendel menggunakan kacang

ercis untuk dihibrid, yang pada bijinya terdapat dua sifat beda, yaitu soal bentuk

dan warna biji. Persilangan dihibrid yaitu persilangan dengan dua sifat beda

sangat berhubungan dengan hukum Mendel II yang berbunyi “independent

assortment of genes”. Atau pengelompokan gen secara bebas. Hukum ini berlaku

ketika pembentukan gamet, dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing-

masing kutub ketika meiosis. B untuk biji bulat, b untuk biji kisut, K untuk warna

kuning dan k untuk warna hijau. Jika tanaman ercis biji bulat kuning homozygote

(BBKK) disilangkan dengan biji kisut hijau (bbkk), maka semua tanaman F1

berbiji bulat kuning. Apabila tanaman F1 ini dibiarkan menyerbuk kembali, maka

tanaman ini akan membentuk empat macam gamet baik jantan ataupun betina

masing-masing dengan kombinasi BK, Bk,Bk, bk. Akibatnya turunan F2

dihasilkan 16 kombinasi.yang terdiri dari empat macam fenotip, yaitu 9/16 bulat

5
kuning, 3/16 bulat hijau, 3/16 kisut kuning dan 1/16 kisut hijau. Dua diantara

fenotip itu serupa dengan induknya semula dan dua lainnya merupakan fariasi

baru (Gooddenough,1984).

Hukum Mendel II yaitu pengelompokan gen secara bebas berlaku ketika

pembuatan gamet. Dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing masing kutub

meiosis. Pembuktian hukum ini dipakai pada dihibrid atau polihibrid, yaitu

persilangan dari dua individu yang memiliki dua atau lebih karakter yang berdeba.

Hukum ini juga disebut hukum Asortasi. Hibrid adalah turunan dari suatu

persilangan antara dua individu yang secara genetik berbeda Persilangan dihibrid

yaitu persilangan dengan dua sifat beda sangat berhubungan dengan hukum

Mendel II yang berbunyi “Independent assortment of genes”. Atau

pengelompokan gen secara bebasArti hibrid semacam itu juga dikemukakan oleh

GardnerRatio. Fenotipe klasik yang dihasilkan dari perkawinan dihibrida adalah

9:3:3:1, ratio ini diperoleh oleh alel-alel pada kedua lokus memperlihatkan

hubungan dominan dan resesif. Ratio ini dapat dimodifikasi jika atau kedua lokus

mempunyai alel-alel dominan dan alel lethal (Crowder,1990: 43).

Persilangan dihibrid adalah persilangan antara individu untuk 2 gen yang

berbeda. Eksperimen Mendel dengan bentuk biji dan warna ercis adalah sebuah

contoh dari persilangan dihibrid. Metode Punnett kuadrat menentukan rasio

fenotipe dan genotipenya. Dua sifat beda yang dipelajari Mendel yaitu bentuk dan

warna kapri. Pada penelitian terdahulu diketahui bahwa biji bulat (W) dominan

terhadap biji berkerut (w), dan menghasilkan nisbah 3:1. Pada keturunan F2,

Mendel juga mendapatkan bahwa warna biji kuning (G) dominan terhadap biji

6
hijau (g), dan segregasi dengan nisbah 3:1. Persilangan kapri dihibrida berbiji

kuning bulat dan berbiji hijau berkerut menghasilkan nisbah fenotipe 9:3:3:1.

Nisbah genotipenya dapat diperoleh dengan menjumlahkan genotipe-genotipe

yang sama di antara 16 genotipe yang terlihat dalam segitiga Punnett (Crowder,

1999).

Menurut Goodenough (1984) mendel memperoleh hasil yang tetap sama dan

tidak berubah-ubah pada pengulangan dengan cara penyilangan dengan kombinasi

sifat yang berbeda. Prinsip segregasi berlaku untuk kromosom homolog.

Pasangan-pasangan kromosom homolog yang berbeda mengatur sendiri pada

khatulistiwa metafase I dengan cara bebas dan tetap bebas selama meiosis.

Sebagai akibatnya, gen-gen yang terletak pada kromosom nonhomolog, dengan

kata lain, gen-gen yang tidak terpaut mengalami pemilihan bebas secara meiosis

Pengamatan ini menghasilkan formulasi hukum genetika Mendel kedua, yaitu

hukum pilihan acak, yang menyatakan bahwa gen-gen yang menentukan sifat-

sifat yang berbeda dipindahkan secara bebas satu dengan yang lain, dan sebab itu

akan timbul lagi secara pilihan acak pada keturunannya. Individu-individu

demikian disebut dihibrida atau hibrida dengan 2 sifat beda .

Berdasarkan data F2 dihibrid, Mendel menyusun Hukum Perpaduan Bebas

yang berisi bahwa “Segregasi suatu pasangan gen tidak bergantung kepada

segregasi pasangan gen lainnya, sehingga di dalam gamet-gamet yang terbentuk

akan terjadi pemilihan kombinasi gen-gen secara bebas”.. Dari F1 bergenotipe

AaBb dalam proses pembentukan gamet alel A dapat bebas berpadu dengan B

atau b, juga a bebas memilih B atau b. Akibat perpaduan bebas ini maka setiap

7
jenis gamet yang terbentuk, yaitu AB, Ab, aB, dan ab akan mempunyai frekuensi

yang sama. Dalam kasus dihibrid akan mempunyai frekuensi masing-masing 0,25.

Akibat perpaduan bebas dari alel-alel dalam pembentukan gamet, dan

penggabungan bebas gamet - gamet dalam perkawinan maka dalam kasus alel

dominan-resesif, F2 akan mempunyai fenotipe dengan perbandingan 9:3:3:1.

Untuk membuktikan Hukum Perpaduan Bebas dilakukan uji silang dihibrid

dengan menyilangkan F1 terhadap tetua resesif. Terbukti kebenaran Hukum ini

dengan munculnya turunan uji silang dengan perbandingan 1:1:1:1 untuk fenotipe

yang menggambarkan gamet AB, Ab, aB, dan ab (Campbell, 2002).

8
BAB III

PROSEDUR PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

1. Kotak genetik yang berisi kancing genetika

2. Lembar kerja siswa

B. Langkah Kerja

1. Buatlah ketentuan warna kancing dengan jenis sifat yang dibawakan.

Contoh : Sifat I : Bentuk Bulat = B (Kancing warna merah)

Sifat I : Bentuk Kisut = b (Kancing warna putih)

Sifat II : Rasa Manis = M (Kancing warna hijau)

Sifat II : Rasa Asam = m (Kancing warna kuning)

2. Pasangkanlah kancing-kancing tersebut seperti gamet berikut

Gametnya = Jantan (MB, Mb, mB, mb)

Betina (MB, Mb, mB, mb)

Seperti gambar berikut!

40 BM
40 Bm X 40 BM
40 Bm
40 bM 40 bM
40 bm 40 bm

M M
B B

Genotif = MMBB

9
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

No. Genotif Jumlah ijiran Fenotif

1. MM BB 10 Manis Bulat

2. MM Bb 21 Manis Bulat

3. MM bb 14 Manis Kisut

4. Mm BB 20 Manis Bulat

5. Mm Bb 30 Manis Bulat

6. Mm bb 19 Manis Kisut

7. mm BB 11 Asam Bulat

8. mm Bb 28 Asam Bulat

9. mm bb 7 Asam Kisut

Jumlah 160

B. Pembahasan

Jadi dari praktikum ini mebuktikan bahwa pada persilangan dihibrid juga

terjadi proses pemisahan gen yang sealel dimana yang awalnya induk jantan

asam kisut (mb) disilangkan dengan induk betina asam bulat ( mB) setelah

disilangkan maka terjadi pemisahan gen sealel yang di buktikan dengan F1

yaitu asam bulat dengan genoip ( mmBb).

10
Dari pemisahan gen yang sealel ini mengakibatkan terjadinya pemasangan

secara acak dengan dibuktikan setelah F1 disilangkan dengan sesamanya,

maka akan di peroleh hasil sebagai berikut 81 Manis Bulat (MMBB ), 33

Manis Kisut (MMbb), 39 Asam Bulat (mmBB), 7 Asam Kisut (mmbb).

Sehingga rasio genotipnya (MMBB) : (MMbb) : (mmBB) : (mmbb) = 81 : 33 :

39 : 7, sehingga diperoleh rasio fenotip Manis Bulat : Manis Kisut : Asam

Bulat : Asam Kisut, didapat rasio ideal 9 : 3 : 3 : 1 dan rasio praktikum jika

dperkecil adalah 9 : 3,6 : 4,3 : 0,7. Dari hasil yang didapatkan menunjukan jika

adanya hukum berpasangan secara bebas acak. Walaupun angka rasio fenotip

praktikum tidak sama persis dengan rasio fenotip pada percobaan mendel yaitu

9 : 3 : 3 : 1.

Rasio yang diperoleh dari praktikum ini jika dibandingkan dengan, rasio

idealnya yang fenotip diperoleh rasio fenotip Manis Bulat : Manis Kisut :

Asam Bulat : Asam Kisut, didapat rasio ideal 9:3:3:1 dan rasio praktikum 9 :

3,6 : 4,3 : 0,7 maka sebanarnya cukup mendekati walaupun tidak sama persis

dengan rasio ideal tapi praktikum ini sudah cukup membuktikan jika

perkawinan dihibrid rasio fenotipnya 9:3:3:1.

Dengan adanya praktikum ini maka dapat diketahui bahwa kedua

pasangan alel bersegregasi secara bebas satu sama lain. Dengan kata lain maka

gen-gen dikemas dalam gamet-gamet dalam kombinasi alel yang mungkin,

asalkan setiap gamet memiliki satu alel untuk setiap gen. Dalam contoh

praktikum ini, F1 Akan menghasilkan empat kelas gamet dalam kuantitas

sebanding MB, Mb, mB, mb. Dan jika sperma dari kempat kelas memfertilisasi

11
sel telur dari keempat kelas, maka akan menghasilkan kombinasi alel yang

memiliki probabilitas yang sama pada F2. Dan kombinasi-kombinasi ini

membentuk 4 kategori fenotip yaitu (MMBB) : (MMbb) : (mmBB) : (mmbb),

dengan rasio perbandingan 9 : 3,6 : 4,3 : 0,7 yang hampir mendekati rasio

perbandingan dari Mendel yaitu 9:3:3:1. Maka pada praktikum ini dapat

membutikan adanya hukum pemilihan bebas yang menyatakan bahwa setiap

pasangan alel bersegregasi secara bebas terhadap pasangan alel-alel lain selama

pembentukan gamet.

Dengan demikian hukum ini berlaku pada gen-gen (pasangan alel) yang

terletak pada kromosom yang berbeda. Artinya, pada kromosom yang tidak

homolog. Gen-gen yang terletak dekat satu sama lain pada kromosom yang

sama cenderung diwariskan secara bersama-sama dan memiliki pola pewarisan

sifat yang lebih kompleks daripada yang diprediksikan oleh hukum pemilihan

bebas.

12
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pada hukum pemilihan bebas memiliki rasio perbandingan fenotip 9:3:3:1.

2. Pada persilangan yang dilakukan menghasilkan empat kelas kombinasi alel

yaitu (MMBB), (MMbb), (mmBB), (mmbb)

3. Dari hasil praktikum perbandingan dari keempat kelas yang didapat ialah 9

: 3,6 : 4,3 : 0,7.

4. Hukum II Mendel terbukti bahwa setiap pasangan alel bersegregasi secara

bebas terhadap pasangan alel-alel lain selama pembentukan gamet.

B. Saran

Setiap melakukan praktikum diharapkan untuk dapat memperhatikan

prosedur kerja serta saling bekerja sama antar anggota. Selain itu, diusahakan

untuk memperbanyak referensi guna memudahkan kita baik dalam melakukan

praktikum maupun dalam penyusunan laporan praktikum.

13
LAMPIRAN

14

Anda mungkin juga menyukai