Anda di halaman 1dari 23

Latar Belakang

Radang jaringan pulpa, umumnya disebabkan karena infeksi bakteri pada


karies gigi, fraktur gigi atau kondisi lainnya yang mengakibatkan terbukanya
pulpa gigi karena iritan kimia, faktor termal, perubahan hiperemik dan lain-lain.
Pada saat jaringan pulpa terinfeksi, sangat sulit bagi sistem imun tubuh
untuk menghilangkan infeksi mengingat kurangnya suplai pembuluh darah
kolateral. Pengangkatan sebagian dari jaringan pulpa, yang dikenal sebagai
pulpektomi parsial, telah terbukti tidak efektif mengingat infeksi masih tertinggal
di dalam saluran akar. Oleh karena itu, perawatan ini tidak lagi dilakukan oleh
para praktisi dokter gigi saat ini. Vitalitas pulpa sangat penting bagi kelangsungan
hidup gigi, karena menyediakan nutrisi dan bertindak sebagai biosensor untuk
mendeteksi rangsang patogen. Gigi tanpa jaringan pulpa, akan kekurangan suplai
pembuluh darah dan sistem saraf, sehingga menjadi sangat rentan terhadap cedera.
Masalah yang selama ini dihadapi di bidang konservasi gigi diantaranya
adalah upaya mempertahankan fungsi pulpa dengan menggunakan bahan sintetik.
Bahan-bahan yang digunakan untuk menstimulasi pembentukan dentin reparatif
dikategorikan sebagai material non-biologi dan material biologi. Material non-
biologi seperti kalsium hidroksida, cyanoacrylate, semen zinc-oxide dan fosfat
telah lama dipakai dalam bidang kedokteran gigi. Kalsium hidroksida dalam
perawatan pulpa dengan inflamasi reversible. Walaupun dikatakan kalsium
hidroksida dapat memacu penyembuhan dan perbaikan jaringan, karena dengan
pH tinggi dapat menstimulasi fibroblast, migrasi ke daerah yang terluka. Namun
demikian bahan tersebut tidak dapat menstimulasi dentinogenesis dengan baik.
Sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan material biologi
digunakan dalam perbaikan regenerasi gigi dengan teknologi sel punca khususnya
populasi sel punca mesenkhim memberikan suatu harapan baru dalam melakukan
penyembuhan terhadap suatu penyakit. Dalam bidang kedokteran gigi, sel punca
ini juga perlu digali kembali mengingat keberadaan sel tersebut didalam pulpa
sehat tepat dibagian tengah pulpa dibawah lapisan cell rich zone. (Potensi sel
punca, margono)
Dental stem cell menawarkan terapi yang sangat menjanjikan,
Pendekatan untuk mengembalikan cacat struktural. Konsep ini Dieksplorasi secara
luas oleh beberapa peneliti, yang terbukti dengan literatur yang berkembang pesat
di bidang ini (ana angelova jurnal). Stem cell merupakan sel dari embrio, fetus,
atau sel dewasa yang berkemampuan untuk memperbanyak diri sendiri dalam
jangka waktu yang lama, belum memiliki fungsi spesifik, dan mampu
berdiferensasi menjadi tipe sel tertentu yang membangun sistem jaringan dan
organ dalam tubuh. (Sel Punca sebagai Transformasi Alternatif Terapi)
Pengobatan kedokteran gigi berkembang dengan pesat terutama di bidang
regenerasi jaringan berbasis stem cell (Sel punca). Stem cell dapat diisolasi dari
pulpa gigi sulung manusia yang akan tanggal dan disebut Stem Cells from Human
Exfoliated Deciduous (SHED). Stem Cells from Human Exfoliated Deciduous
(SHED) mempunyai kelebihan apabila dibandingkan dengan stem cell jenis lain
karena berasal dari jaringan yang muda sehingga mampu berdiferensiasi menjadi
jenis sel yang lebih beragam, potensi proliferasi dan regenerasinya lebih besar

Pulpa gigi sulung manusia secara histologis terdiri dari tiga bagian, yaitu
odontoblas, cell free zone, dan cell rich zone. Cell rich zone yang diisolasi dan
dikultur dari pulpa gigi sulung manusia terdiri dari berbagai macam populasi sel.
Beberapa peneliti menemukan komponen sel-sel yang terdapat pada bagian pulpa
tersebut antara lain fibroblast, sel-sel pertahanan, serat-serat kolagen, substansi
dasar, pembuluh darah, limfatik, dan ujung saraf sensorik. Perbandingan jumlah
stem cell dari berbagai macam populasi sel lain yang ada di pulpa gigi sulung
manusia adalah 1 : 1000. Jumlah populasi pulpa gigi sulung yang heterogen
menyebabkan stem cell sulit untuk diisolasi, dikultur dan dikarakterisasi. (Dental
journal)

Semakin berkembangnya prosedur regenerasi gigi yang berbasis stem cell


(sel punca), membuat kita perlu menemukan suatu konsep baru pada perawatan
pulpa vital yang mengalami inflamasi melalui teknik rekayasa jaringan dengan
menggunakan sumber materi serta pendekatan biologis yang dapat meningkatkan
potensi regenerasi jaringan. Salah satunya Stem Cells from Human Exfoliated
Deciduous (SHED).

TUJUAN

Untuk mengetahui dan memahami perkembangan prosedur regenerasi gigi


berbasis sel panca.
TINJAUAN PUSTAKA

Anatomigigi
Gigi adalah struktur yang kompleks yang terdiri dari dua bagian utama:
mahkota gigi dan akar gigi. Mahkota gigi adalah apa yang terlihat di mulut,
dimana akar gigi adalah porsi yang biasanya tidak terlihat di mulut karena
sudah tertanam di dalam tulang. Struktur dari jaringan gigi terdiri dari
dentin, dental pulp, cementum, periodontal ligament, dan alveolar bone.
Pada mahkota gigi dilapisi oleh lapisan yang dimineralisasi dari enamel.

Gambar.I komponen penyusun gigi

Dentin merupakan bagian gigi yang utama. Dentin merupakan jaringan


ikat termineralisasi yang disekresikan oleh odontoblas,yang merupakan
sel khusus yang terletak di pinggiran pulpa gigi. Cementum adalah
jaringan termineralisasi yang menutupi akar gigi dan diproduksi oleh
cementoblast. Peran utama cementum adalah berfungsi sebagai medium
agar periodontal ligament dapat menempel pada gigi dengan stabil.
Periodontal ligament berfungsi untuk menyandarkan gigi ke alveolar bone,
yang mana alveolar bone merupakan tulang yang membungkus gigi.
Dental pulp adalah jaringan ikat gigi yang lembut. Terletak dirongga
tengahnya dan dikelilingi oleh struktur keras enamel, dentin, dan semen.
Perkembangangigi
Perkembangangigisecaratradisionaldianggapserangkaiantahapan yang
mencerminkansuatukunci proses. Langkahpertamaadalahinduksi,
dimanasinyaldariepitelkemesenkimnyauntukmemulai proses
perkembangan mental. Sebagaipoliferasisellokalselepitelgigi, sel-
seldarikuncup di sekitarselmesenkimmenyatu.Diferensiasidanproliferasi
local selepitalialpadabud stage yang mengarahke cap stage.
Padatahapinilahmorfogenesismahkotadiprakarsaiolehpusatpensinyalanepi
tel, simpul enamel yang mengaturlipatanepitelium.Padatahap bell stage,
precursor darisel-selgigikhusus, ameoblasts, mengkoordinasikandeposisi
enamel, odontoblast, yang menghasilkan dentin,
terbentuk.Erupsigigimelibatkankoordinasiresorpsitulangdanperkembangan
akar, danterjadisecara postnatal.
Sepanjangperkembangangigi,
sinyalditukarantaraselepitalialdanmesenkimaluntukmengkoordinasikanseti
ap proses. Proses kuncitadimenginisiasisinyalpadasaatinduksi (epitelium)
dan di bud formation (mesenkim).
Selmesenkimmenerimasinyaldariepitelium,
mesenkimmengirimsinyaltimbalbalikkeepitelium.Strategiuntukpergantiangi
gibertujuanuntukmemanfaatkanpertukaransinyalpertamadenganmengident
ifikasiselepitel yang dapatmenginduksiselmesenkimataumesenkimal yang
dapatmenginduksiepiteliumuntukmerangsangperkembangangigi.
Gambar diagram perkembangangigi

Fungsi Gigi
Gigi memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah :

1. Pengunyahan
Gigi berperan penting untuk menghaluskan makanan agar lebih
mudah ditelan serta meringankan kerja proses pencernaan, karena
tidak mungkin menelan bulat-bulat semua makanan. Tentunya
proses pencernaan akan bekerja lebih berat dan penyerapan
makanan tidak maksimal
2. Berbicara
Gigi sangat diperlukan untuk mengeluarkan bunyi atau pun huruf-
huruf tertentu seperti huruf T,V,F,D dan S. Tanpa gigi, bunyi huruf-
huruf ini tidak akan terdengar dengan sempurna dan pelafalan
berbicara tidak jelas, seperti pada balita dan manula.
3. Estetik
Sebuah senyum tidak akan lengkap tanpa hadirnya sederetan gigi
yang rapi dan bersih. Hampir semua orang mengandalkan
penampilan gigi yang indah dan rela melakukan
perawatan agar gigi tersusun rapih, bersih dan terlihat berwarna
putih yang berkilau.

Patofisiologi

Karies gigi adalah proses kerusakan yang dimulai dari email berlanjut ke
dentin. Karies gigi merupakan penyakit yang berhubungan dengan banyak
faktor yang saling mempengaruhi. Terdapat empat etologi penyebab
karies yaitu host, agent, substrat dan waktu. Semua permukaan gigi yang
terbuka beresiko terserang karies dari gigi erupsi hingga gigi tersebut
tanggal. Pada tahap akhir adalah saat kerusakan gigi sudah mencapai
lapisan email dan dentin kemudian mencapai bagian syaraf ditengah gigi
yaitu pulpa.

Gigi dapat mengalami inflamasi reversibel maupun irreversibel dengan


terbukanya pulpa dapat menyebabkan masuk dan berkembang biaknya
mikroorganisme sehingga mengakibatkan terjadinya peradangan di
jaringan pulpa maupun periradikular.
Pulpitis adalah radang pada jaringan pulpa gigi, yang dapat bersifat
akut, kronik, dan kronik eksaserbasi akut, bergantung pada proses
patogenesis dan etiologinya. Akhir-akhir ini akibat perawatan dan
pemakaian bahan-bahan kedokteran gigi juga merupakan faktor penyebab
yang perlu diteliti lebih jauh di samping penyebab lainnya seperti trauma
dan lain-lain. Letak jaringan pulpa yang terlindung oleh email dan dentin
yang kuat dan keras, merupakan suatu keuntungan bagi jaringan pulpa
dalam mempertahankan diri terhadap rangsang.
Namun jaringan keras tersebut bersifat permeabel sehingga mudah
dipengaruhi oleh faktor-faktor luar, seperti suhu, tekanan, zat kimia, dan
lain-lainnya. Gejala radang jaringan pulpa secara klinis sangat sukar
dibedakan, karena rasa nyeri digunakan sebagai tolok ukur dalam
menentukan diagnosis penyakit. Banyak peneliti mencoba
mengklasifikasikan penyakit pulpa ini dengan menghubungkannya dengan
jenis perawatan endodontik, yaitu apakah jaringan pulpa masih dapat
dipertahankan, dirawat atau dikeluarkan.
Diagnosis tersebut sukar dan sering kurang sesuai dengan
keadaan
penyakit sebenarnya karena letak jaringan pulpa terlindung oleh jaringan
keras gigi, yaitu email dan dentin. Respon jaringan dentin yang diterima
jaringan pulpa juga berbeda pula. Keadaan klinik dan mikroskopik
penyakit pulpa ternyata sering tidak sesuai, karena diagnosis ditegakkan
hanya berdasarkan gejala klinik dan gambar radiografik, sehingga bila
diagnosis tersebut digunakan sebagai pedoman untuk memilih jenis
perawatan, maka akibatnya hal tersebut sering kurang sesuai. Walaupun
tidak akurat, rasa nyeri masih dipakai sebagai indikator dalam
menentukan diagnosis penyakit pulpa.
Di samping rasa nyeri, tolok ukur lain dalam menentukan diagnosis
penyakit pulpa secara klinik ialah faktor penyebab terbukanya jaringan
pulpa, atau penyebab keluhan pulpa. Pulpa dapat terbuka oleh karena
proses karies atau trauma. Keluhan rasa nyeri dapat disebabkan oleh
rangsang termis, elektris, dan kimia. Riwayat rasa nyeri yaitu jenis, letak,
proses terjadinya, frekuensi serta kualitasnya digunakan untuk
menentukan diagnosis penyakit pulpa, namun hasil rekaman tersebut
belum dapat memastikan keadaan jaringan sebenarnya.
Hasil rekaman rasa nyeri, gambaran radiografik serta keadaan
klinik
diharapkan dapat menentukan diagnosis penyakit pulpa yang lebih akurat,
yaitu pulpitis atau nekrosis. Selanjutnya pada proses penyakit dapat dilihat
apakah dalam keadaan dini atau lanjut, sehingga dapat dikelompokkan
dalam stadium I dan II.
Keadaan jaringan pulpa yang sebenarnya hanya dapat dilihat
dengan pemeriksaan mikroskopik. Jaringan pulpa sudah menunjukkan
reaksi sejak lapisan email terbuka oleh cedera, mekanik, termik, kimia
atau bakteri. Reaksi tersebut berupa terdapatnya limfosit di jaringan pulpa,
dan mulai terlihatnya lapisan odontoblas yang cedera.. Bila intensitas
rangsang lebih besar, maka dapat timbul cedera pada jaringan pulpa yang
lebih luas dan dalam. Rangsang tersebut akan mengubah sistem
mikrosirkulasi dalam jaringan pulpa, sehingga terjadi hambatan aliran
darah dan metabolisme dalam jaringan. Mula-mula terjadi vasodilatasi
sistem mikrovaskularisasi yang menyebabkan sirkulasi darah menjadi
statis . Di
dalam arteri terjadi mobilisasi lekosit, sel-sel polimorfonukleus (PMN)
mengadakan marginasi yang dilanjutkan dengan emigrasi ke jaringan
sekitarnya
Oleh karena pulpa terlindung ketat oleh dentin, maka pada proses
radang eksudat yang dihasilkan sukar memperoleh tempat, dan cepat
menyebar ke apikal. Akibatnya terjadi kelainan periapeks seperti abses,
granuloma, dan kista. Hal ini dapat dipergunakan untuk menjelaskan
bahwa apabila prosses karies berlanjut maka terjadi kematian pulpa dan
kelainan periapeks, sehingga reaksi imunologik jaringan kurang
menguntungkan. Sebagai penyebab ialah faktor tertekannya eksudat
dalam ruang pulpa yang ketat dan keras.
Namun reaksi imun dapat terjadi bila kerusakan pulpa terhambat
secara cepat pada karies yang lambat, karies yang berhenti dan pulpitis
khronik. Jaringan gagal menimbulkan reaksi imun dalam pulpa akan tetapi
reaksi imun tersebut dapat terjadi di daerah periapeks yaitu berupa abses
periapikal, granuloma dan kista. Jaringan pulpa dan periapeks mempunyai
komponen selular yang penting untuk menimbulkan reaksi imunologik,
reaksi hipersensitivitas dalam tiga jenis yaitu kompleks imun, cell mediated
serta anaphylactic.
Sel Punca
a. Terapi sel punca
Perkembangan sel punca dimulai dari penelitian pada tahun 1961. Terapi
pengobatan menggunakan sel punca pertama kali berhasil dilakukan
transplantasi sumsum tulang pada tahun 1968. Pada awal tahun 1980
berhasil dibuat sel punca embrio dari tikus di laboratorium, tahun 1988
pertama kali berhasil diisolasi sel punca embrio dari hamster, tahun 1998
berhasil diisolasi dari massa sel embrio dini dan dikembangkan sel punca
embrio serta berhasil diisolasi sel germinal berasal dari sel dalam jaringan
gonad janin dan tahun 2005 ditemukan sumber sel punca pluripoten dan
penelitian sel punca terus dikembangkan untuk berbagai jenis terapi
penyakit khususnya penyakit degeneratif, hingga kini banyak negara di
dunia antara lain Eropa, Amerika, Jepang, Korea. Singapura telah
menggunakan terapi sel punca sebagai pilihan pengobatan bagi penyakit
kelainan hematologi maupun penyakit degeneratif (Fuet al: 2006.
Rosentrauch et al: 2005). Beberapa rumah sakit di Indonesia juga terus
mengembangkan penelitian serta mulai menerapkan terapi sel punca.
Jenis sel punca yaitu sel embrionik dan sel punca dewasa yang
banyak terdapat dalam sumsum tulang, namun pada penelitian lebih lanjut
ditemukan juga bahwa ternyata sel punca dapat pula diisolasi dari darah
tali pusat, darah perifer, hepar, kulit maupun dari pulpa gigi dan bahkan
dari jaringan lemak yang pada umumnya merupakan limbah buangan sisa
operasi liposuction(Hester, 2000), serta dari human embryonik stem cell
(hESC) (Aleckovicand Simon, 2008).
b. Deskripsi Sel Punca
Sel punca merupakan sel yang paling berharga untuk pengobatan
regeneratif. Penelitian tentang sel punca memberikan pengetahuan lanjut
tentang bagaimana suatu organisme berkembang dari satu sel, dan
bagaimana kualitas sel yang menggantikan sel lain yang rusak pada organ
dewasa. Sel punca memiliki kemampuan untuk secara berkesinambungan
membelah baik untuk replikasi dirinya sendiri atau menghasilkan sel-sel
khusus yang dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel atau jaringan
(multilineage differentiation).
Berdasarkan potensi atau kemampuan berdiferensiasi, sel punca
digolongkan menjadi: Totipoten yaitu sel punca yang dapat berdiferensiasi
menjadi organ hidup yang lengkap, termasuk dalam golongan ini adalah
zigot (telur yang telah dibuahi). Pluripoten, yaitu sel punca yang dapat
berdiferensiasi menjadi tiga lapisan germinal: ektoderm, mesoderm, dan
endoderm, tapi tidak dapat menjadi jaringan ekstraembryonik seperti
plasenta dan tali pusat, termasuk golongan ini adalah sel punca
embryonik. Multipoten, yaitu sel punca yang dapat berdiferensiasi menjadi
banyak jenis sel, misalnya: sel punca hematopoietik. Unipoten, yaitu sel
punca yang hanya dapat menghasilkan satu jenis sel, tapi berbeda
dengan non-sel punca, jenis unipoten ini mempunyai sifat dapat
memperbaharui atau meregenerasi diri.
Sedangkan berdasarkan sumber asal sel punca diperoleh di
berbagai jaringan tubuh, sel punca dibagi menjadi: zygote, yaitu pada
tahap sesaat setelah sperma bertemu dengan sel telur, sel punca
embryonik yang diperoleh dari innercell mass dari suatu blastocyst
(embrio yang terdiri dari 50 - 150 sel, kira-kira hari ke-5 pasca
pembuahan). Sel punca embryonik umumnya diperoleh dari sisa embrio
yang tidak dipakai pada IVF (in vitro fertilization). Tapi saat ini telah
dikembangkan teknik pengambilan sel punca embryonik yang tidak
membahayakan embrio tersebut, sehingga dapat bertahan hidup dan
bertumbuh. Untuk masa depan hal ini mungkin dapat mengurangi
kontroversi etik terhadap sel punca embryonik. Sel punca darah tali pusat,
yang diperoleh dari darah plasenta dan tali pusat sesaat setelah bayi lahir.
Sel punca dari darah tali pusat merupakan jenis sel punca hematopoietik,
dan ada yang menggolongkan jenis sel punca ini ke dalam sel punca
dewasa (Adult Stem Cell). Sel punca dewasa diperoleh dari jaringan
dewasa, antara lain dari sumsum tulang. Ada 2 jenis sel punca dari
sumsum tulang yaitu sel punca hematopoetik dan sel punca stromal atau
disebut juga MSCs, dari jaringan lain seperti pada susunan saraf pusat,
jaringan lemak, otot rangka, pankreas.
Sel punca dewasa merupakan sel-sel yang tidak berdiferensiasi
dan ditemukan pada jaringan yang telah mengalami diferensiasi, serta
mampu memperbaharui dirinya sendiri selama seumur hidup
mikroorganisme tersebut. Peran sel punca dewasa adalah lebih untuk
mempertahankan dan memperbaiki jaringan tubuh di tempat sel punca
ditemukan. Secara umum sel punca dewasa dianggap memiliki potensi
terbatas untuk menjadi jenis sel apapun dalam tubuh, dengan kata lain
hanya dapat menghasilkan varietas tipe sel dalam garis keturunan atau
jenisnya sendiri dan dianggap multipotensial. Terdapat dua karakteristik
yang dimiliki oleh sel punca diantaranya adalah dapat menghasilkan sel
yang serupa dengan dirinya dalam periode waktu yang panjang,
kemampuan tersebut dikenal sebagai pembaharuan diri jangka panjang.
Selain itu, sel tersebut dapat menghasilkan jenis sel dewasa yang memiliki
karakteristik morfologi dan fungsi spesifik. Sel punca dewasa mampu
membentuk sel-sel yang berdiferensiasi sempurna dengan fenotip yang
matang, mempunyai integrasi sempurna dengan jaringan dan mampu
menjalankan fungsi khusus sesuai dengan jaringan tersebut. Umumnya
peneliti mengidentifikasikan sel punca dewasa dengan cara
mengandalkan dua karakteristik yaitu morfologi sel dan identifikasi
penanda permukaan.
Beberapa sel punca dewasa memiliki kemampuan untuk
berdiferensiasi menjadi sel jaringan lain selain jaringan asalnya atau
disebut sebagai plastisitas atau transdiferensiasi. Untuk menunjukkan
bahwa sel punca dewasa mempunyai sifat plastisitas, harus
diidentifikasikan terlebih dahulu bahwa pada populasi sel jaringan awal
terdapat sel punca, kemudian dibuktikan bahwa sel punca dewasa mampu
menghasilkan jenis sel normal jaringan lain, dan potensi ini dapat dideteksi
pada lingkungan yang baru. Sel ini harus dapat berintegrasi dengan
lingkungan barunya, bertahan dan berfungsi seperti sel dewasa yang lain
pada jaringan tersebut. Sel punca dewasa merupakan sel multipotensial
karena dapat menghasilkan seluruh jenis sel yang memiliki hubungan
dengan jaringan asalnya.

Kemajuan dalam terapi regenerative dalam gigi

Stem sel memainkan peran penting dalam memperbaiki setiap organ dan
jaringan melalui kapasitas mereka untuk perkembangan diri dan
berdiferensiasi. Fokus penelitian stem sel dalam gigi adalah untuk
regenerasi jaringan yang hilang.
Teknologi stem sel untuk terapi regenerative sudah tersedia seperti sel
batang mesenkim/stroma (MSCs). Namun, kegunaan translasi dari
teknologi berbasis stem sel masih belum pasti karena efektivitas
pendekatan tersebut jika dibandingkan dengan teknik regenerative yang
sudah ada belum dievaluasi dengan benar, terutama bila
mempertimbangkan biaya dan tenaga kerja yang tinggi.
Selain rekonstruksi jaringan yang hilang akibat trauma dan kanker, konsep
regenerativegigi terutama diterapkan dibidang periodontology dan
implantologi karena penyebab umum tulang alveolar dan kehilangan gigi
yang membatasi kemampuan implant gigi untuk mengembalikan anatomi
periodontal atau gigi yang hilang. Bagian tulang ini membahas kemajuan
terapi regenerative yang terkait dengan jaringan periodontal dan tulang
alveolar.
Gambar.III Kemajuan dalam terapi periodontal/tulang regenerative

Terapi periodontal/tulang regenerative secara luas dikategorikan sebagai


terapi berbasis material (pendekatan berbasis genotip berbasis biomaterial
pertama dan pendekatan berbasis faktor pertumbuhan generasi kedua)
dan terapi berbasis stem sel (pendekatan berbasis sel
MSC/osteoprogenitor generasi ketiga, pendekatan berbasis sel induk
generasi keempat, dan pendekatan analog jaringan/ organ pengganti
generasi kelima analog).
Bahan-Bahan yang Digunakan untuk Memicu Jaringan Keras

Bahan-bahan yang digunakan untuk menstimulasi pembentukan dentin reparatif


yang merupakan matriks dentin dapat dikategorikan sebagai material biologi,
berdasarkan sifat dasar bahan-bahan terapeutik tersebut. Material non-biologi dan
material biologi, berdasarkan sifat dasar bahan-bahan terapeutik tersebut. Material
non-biologi seperti kalsium hidroksida, cyanoacrylate, semen zink oksida, dan
fosfat telah lama dipakai dalam bidang kedokteran gigi. Kalsium hidroksida dalam
perawatan pulpa dengan inflamasi reversibel sampai saat ini banyak digunakan di
klinik walau hasil-hasil penelitian telah mengungkapkan keuntungan dan kerugian
pemakaian kalsium hidroksida. Walaupun dikatakan kalsium hidroksida dapat
memacu penyembuhan dan perbaikan jaringan, karena dengan pH tinggi dapat
menstimulasi fibroblast, migrasi ke daerah yang terluka. Namun demikian bahan
tersebut tidak dapat menstimulasi dentinogenesis dengan baik, karena pada
pemakaiannya sebagai bahan kaping pulpa direk, terlihat partikel-partikel kalsium
hidroksida di dalam sel-sel pulpa yang menyebabkan defek tunnel dari jembatan
dentin yang terbentuk dengan jembatan dentin yang porus.

Gambar 1. Straumann Bone Ceramic. Campuran 60/40 dari trikalsium fosfat


(β-TCP) dan hidroksiapatit (HA)

Tabel 1. Contoh beberapa bahan pemicu jaringan keras yang beredar di


pasaran

Jenis Bahan Produk


β-Trikalsium fosfat Cerasorb, KSI-Tricalciumphosphate,
BioResorb, Ossaplast, Ceros, Calc-i-Oss,
Osteon
Hidroksiapatit Nanobone
Β-TCP dan HA Straumann Bone Ceramic
Bioactive Grasses PerioGlas, Biogran
Polymers Bioplant HTR

Dental Stem Cell

Sel punca pada bagian gigi manusia yang dapat diisolasi dan dikarakterisasi
adalah:

A. DPSCs (Dental Pulp Stem Cells)


B. SCAP (Stem Cells from Apical Papilla)
C. PDLSCs (Periodontal Ligament Stem Cells)

D. SHED (Stem Cells from Human Exfoliated Deciduous)

Gambar 2. Tempat sel punca pada struktur gigi

A. DPSCs (Dental Pulp Stem Cells)


Termasuk ke dalam sel punca mesenkimal pada pulpa gigi. DPSCs
mempunyai potensi osteogenik dan kondrogenik secara in vitro dan bisa
berdiferensiasi ke dalam dentin, in vivo dan juga berdiferensiasi menjadi
kompleks dentin-pulpa. Yang terbaru, perkembangan metode ini berdasarkan
pluripotent menggunakan kultur organ pulpa gigi.
Berikut keuntungan DPSCs merupakan kandidat untuk proses
mengembangkan jaringan gigi:
- Mudah untuk proses operasi dan memiliki angka morbiditas sangat rendah
setelah penarikan pulpa gigi
- DPSCs dapat menghasilkan lebih banyak jaringan-jaringan dentin pada
waktu yang singkat
- Bersifat aman
- Memiliki sifat sistem kekebalan (imunitas) dan kemampuan antiinflamasi
untuk percobaan allotransplantation.

B. SCAP (Stem Cells from Apical Papilla)


Dalam metode isolasi ini, menggunakan akar gigi yang belum berkembang
dewasa. Metode ini ditemukan oleh Sonoyama et al pada tahun 2006.
SCAP memiliki kemampuan untuk membentuk sel seperti odontoblast,
memproduksi dentin secara in vivo, dan dapat menjadi sumber (source)
odontoblast primer untuk pembentukan akar dentin. SCAP dapat
mendukung terjadinya apeksogenesis, yang dapat menginfeksi secara
permanen gigi yang belum dewasa dengan menyebabkan periodontitis
periradikular atau abses. SCAP dapat menghasilkan odontoblast primer
yang dapat membantu pembentukan akar-akar gigi.

C. PDLSCs (Periodontal Ligament Stem Cells)


Seo et al (2004) mengambarkan tentang sel punca postnatal multipotent di
dalam ligamen periodontal manusia. Ketika ditransplantasi ke tikus,
PDLSCs mempunyai kapasitas untuk menghasilkan struktur seperti
ligamen periodontal dan berkontribusi dalam memperbaiki jaringan
periodontal. Sel-sel ini dapat diisolasi dari ligament periodontal
cryopreserved dengan mempertahankan karakteristik sel induknya,
termasuk generasi strain koloni tunggal dan regenerasi jaringan ligament
periodontal (cementum).

D. SHED (Stem Cells from Human Exfoliated Deciduous)


Pengobatan kedokteran gigi berkembang dengan pesat terutama di bidang
regenerasi jaringan berbasis SHED. Metode ini mempunyai kelebihan
apabila dibandingkan dengan sel punca jenis lain karena berasal dari
jaringan yang muda sehingga mampu berdiferensiasi menjadi jenis sel
yang lebih beragam, potensi proliferasi dan regenerasinya lebih besar.
Tipe sel punca pada metode SHED adalah
1. Adiposit: dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi ortopedik,
Crohn’s disease, penyakit kardiovaskular dan dapat juga berguna untuk
operasi plastic
2. Kondrosit dan osteoblast: digunakan untuk membantu proses
pertumbuhan gigi di hewan
3. Mesenchymal stem cells (MSCs): dapat memperbaiki cedera saraf
tulang belakang (spinal cord). Selain itu, sel ini dapat digunakan untuk
pengobatan penyakit degenerative saraf seperti Parkinson dan
Alzheimer. MSCs mempunyai kemampuan kuratif yang lebih baik
dibandingkan tipe sel punca dewasa yang lain.

Keuntungan dari metode SHED di antaranya:

- Teknik sederhana tanpa rasa sakit untuk mengisolasi dan transplantasi


autologous
- Tidak meimbulkan reaksi imunitas atau tissue rejection
- Tidak dianjurkan sedang terapai imunosupresif
- Dapat juga digunakan untuk donor kepada anggota keluarga (kakek,
nenek, orang tua atau saudara)
- Lebih ekonomis
Sel punca yang ditumbuhkan di berbagai penelitian dengan berbagai teknik
memiliki dua kesamaan, yaitu tumbuh di kultur sebagai sel yang melekat dengan
lama hidup tertentu dan memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi. Untuk
menilai keberhasilan suatu teknik isolasi dan kultur, dilihat dari kemampuan
berproliferasi secara mikroskopik memiliki bentuk fusiform, fibroblast-like dan
membentuk koloni
pada fase
pertumbuhan in vitro.

Gambar 3. Gambaran
mikroskopik bentuk
fusiform
Gambar 4. Gambaran mikroskopik sel yang mampu berproliferasi

Faktor Keberhasilan Sel Punca

Keberhasilan proliferasi dari sel punca pulpa gigi dipengaruhi oleh 2 faktor:

1. Faktor internal
- Growth factor: berperan dalam memicu terjadinya siklus sel dan
nutrisi di dalam sel
2. Faktor eksternal
- Modifikasi teknik kultur
- Modifikasi teknik isolasi
- Media kultur
Media yang digunakan adalah media standar dengan suplemen untuk
menunjang proliferasi sel.
- Faktor kontaminasi
Antibiotik untuk mengatasi kontaminasi.
- Suhu
Kultur sel in vitro harus mampu meniru kondisi yang terjadi secara in
vivo untuk memastikan validitas semirip mungkin dengan yang tejadi
di dalam tubuh termasuk diantaranya adalah suhu.

Teknik Mendeteksi Keberhasilan Proliferasi

Fluorescent antibody cell sorting

Pulpa yang telah berhasil berproliferasi mengandung berbagai populasi sel yang
bersifat heterogen. SHED merupakan salah satu jenis sel punca mesenkimal yang
dapat dikarakterisasi menggunakan marker CD105 sebagai kontrol positif dan
CD45 sebagai kontrol negatif.

Uji karakterisasi pulpa gigi yang diisolasi dan dikultur dapat diidentifikasi melalui
ekspresi positif kuat marker CD105 yaitu adanya fluoresensi atau pendar cahaya
berwarna hijau dilihat melalui mikroskop dengan pembesaran 200x. Fluoresensi
atau pendar cahaya berwarna hijau

1 2

ini disebabkan karena adanya reaksi antara antibodi 43A4 dan CD105, sebuah 180
kDa glikoprotein pada permukaan sel yang merupakan ikatan disulfida
homodimer dari 90 kDa tipe I transmembran subunit.

Gambar 5. Gambaran mikroskopik fluorosen sampel. 1) sampel positif kuat


terhadap marker CD105 yakni tejadi fluorosensi atau pendar cahaya
berwarna hijau; 2) sampel negatif terhadap marker CD45 yakni tidak terjadi
fluorosensi atau sel terlihat gelap (Pembesaran 200x)

Karakterisasi untuk bukan sel lain ditunjukkan melalui ekspresi negatif marker
CD45 pada saat penelitian in vitro. Setelah sel pulpa gigi diberi perlakuan
terhadap marker antibody CD45 tidak terjadi pembentukan pendar cahaya atau
fluoresensi. Hal ini terjadi karena tidak adanya reaksi antar HI30 antibodi dan
semua isoform CD45, suatu tipe I transmembran glikoprotein yang diekspresikan
pada permukaan sel.

Pada metode SHED, jenis sel punca mesenkimal dapat diuji karakterisasinya
dengan menggunakan marker CD105 sebagai kontrol positif. Marker CD45
merupakan kontrol negatif yang berfungsi untuk menguji bahwa SHED hasil
penelitian bukan berasal dari jenis hematopoetic cells dan sel lain yang bukan
pulpa dalam gigi.