Anda di halaman 1dari 7

SAKIATU SAHRAH (A31115050)

Rangkuman Materi Kuliah Seminar Akuntansi Kelas A

STANDAR AKUNTANSI SYARIAH

Standar Akuntansi Syariah (SAS) adalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
Syariah yang ditujukan untuk entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas lembaga syariah
maupun lembaga non syariah. Pengembangan SAS dilakukan dengan mengikuti model SAK umum
namun berbasis syariah dengan mengacu kepada fatwa MUI.

SAS ini terdiri dari PSAK 100 sampai dengan PSAK 106 yang mencakup kerangka
konseptual; penyajian laporan keuangan syariah; akuntansi murabahah; musyarakah; mudharabah;
salam; istishna

SEJARAH KDPPLK SYARIAH

KDPPLK ini pertama kali disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan
Indonesia (DSAK IAI) pada 27 Juni 2007 dan masih berlaku hingga saat ini.

Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-B/DPN/IAI/XI/2013 maka
seluruh produk akuntansi syariah yang sebelumnya dikeluarkan oleh DSAK IAI dialihkan
kewenangannya kepada Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) IAI.

TUJUAN KERANGKA DASAR

Kerangka dasar ini menyajikan konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan
keuangan bagi para penggunanya. Kerangka ini berlaku untuk semua jenis transaksi syariah yang
dilaporkan oleh entitas syariah maupun entitas konvensional baik sector public maupun sector swasta.
Tujuan Kerangka Dasar ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi:

1. Penyusun standar akuntansi syariah, dalam pelaksanaan tugasnya.


2. Penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi syariah yang belum diatur
dalam standar akuntansi keuangan syariah.
3. Auditor, dalam mem berikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusum sesuai dengan
prinsip akuntansi syariah yang berlaku umum.
4. Para pemakai laporan keuangan, Dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan syariah

PEMAKAI LAPORAN KEUANGAN SYARIAH

Pemakai laporan keuangan meliputi:


 Investor sekarang dan investor potensial; hal ini karena mereka harus memutuskan apakah
akan membeli, menahan atau menjual investasi atau penerimaan dividen.
 Pemilik dana qardh; untuk mengetahui apakah dana qardh dapat di bayar pada saat jatuh
tempo
 Pemilik dana syirkah temporer. Untuk memberikan keputusan pada investasi yang
memberikan tingkat pengembalian yang bersaing dan aman
 Pemilik dana titpan, untuk memastikan bahwa titipan dana dapat diambil tiap saat.
 Pembayar dan penerima zakat, infaq, sedekah dan wakaf, untuk informasi tentang sumber
dan penyaluran dana tersebut.
 Pengawas syariah, untuk menilai kepatuhan pengelolaan lembaga syariah terhadap prinsip
syariah.
 Karyawan, untuk nmemperoleh informasi tentang stabilitas dan profitabilitas entitas syariah.
 Pemasok dan mitra usaha lainnya, untuk memmperoleh informasi tenteng kemampuan entitas
membayar utang pada saat jatuh tempo.
 Pelanggan, untuk memperoleh informasi tentang kelangsungan hidup entitas syariah.
 Pemerintah serta lembaga – lembaganya, untuk memperoleh informasi tentang aktivitas
entitas syariah, perpajakan, serta kepentingan nasional lainnya.
 Masyarakat, untuk memperoleh informasi tentang kontribusi entitas terhadap masyarakat dan
Negara.

PARADIGMA TRANSAKSI SYARIAH

Transaksi syariah didasarkan pada paradigm dasar bahwa alam semesta diciptakan oleh tuhan
sebagai amanah dan sarana kebahagiaan hidup bagi seluruh umat manusia untuk mencapai
kesejahteraan hakiki secara material dan spiritual. Substansinya adalah bahwa setiap aktivitas manusia
memiliki akuntabilitas dan nilai ilahiah yang menempatkan perangkat syariah dan akhlak sebagai
parameter baik dan buruk, benar dan salahnya aktivitas usaha. Dengan cara ini akan terbentuk
karakter tata kelolah yang baik (good governance).

KARAKTERISTIK TRANSAKSI SYARIAH

Implementasi transaksi yang sesuai dengan paradigm dan asas transaksi syariah harus memenuhi
karakteristik dan persyaratan antara lain: Transaksi hanya dilakukan dengan prinsip saling paham dan
saling ridha.

1. Prinsip kebebasn bentransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik.


2. Uang hanya sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai , bukan sebagai komoditas.

3. Tidak mengandung unsure riba, kezaliman, gharar, haram.

4. Tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of money).

5. Transaksi yang dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta keuntungan
untuk semua pihak

6. Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan dan rekayasa penawaran.

7. Tidak mengandung unsure kolusi dengan suap – menyuap.

BENTUK LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan entitas syariah terdiri atas:

1. Posisi keuangan entitas syariah disajikan sebagai neraca. Laporan ini menyajikan informasi
tentang sumberdaya yang dikendalikan, stuktur keuangan, likuiditas dan solvabilita serta
kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Laporan ini berguna untuk
memprediksi kemampuan perusahaan dimasa yang akan dating.

2. Informasi kinerja entitas syariah, disajikan dalam laporan laba rugi. Laporan ini diperlukan
untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang munkin dikendalikan di masa
depan.

3. Informasi perubahan posisi keuangan entitas syariah, yang dapat disusun berdasarkan devinisi
dana seperti seluruh sumber daya keuangan, modal kerja, asset likuit atau kas.

4. Informasi lain seperti, laporan penjelasan tentang pemenuhan fungsi social entitas syariah.

5. Catatan dan skedul tambahan, merupakan penampung dari informasi tambahan yang relefan
termasuk pengungkapan tentang resiko dan ketidakpastian yang mempengaruhi entitas.

ASUMSI DASAR LAPORAN AKUNTANSI SYARIAH

1. Dasar akrual. Laporan keuangan disajikan atas dasar actual, maksudnya bahwa pengaruh
transaksi dan peristiwa yang alain diakui pada saat kejadian dan diungkapkan dalam cacatan
akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. Laporan
keuangan yang disusun atas dasar akrual memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya
transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas tetapi juga kewajiban
pembayaran kas dimasa depan serta sumber daya yang merepsesentasikan kas yang akan diterima
di masa depan.Namun dalam penghitungan pendapatan untuk tujuan bagi hasil usaha
menggunakan dasar kas. Hal ini disebabkan bahwa prinsip pembagian hasil usaha berdasarkan
bagi hasil, pendapatan atau hasil yang dimaksud adalah keuntungan bruto.

2. Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha entitas syariah
yang akan melanjutkan usahanya dimasa depan. Oleh karena itu, entitas syariah diasumsikan
tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya.

LAPORAN KEUANGAN ENTITAS SYARIAH (Bank Syariah)

 Neraca;

 Laporan Laba Rugi.

 Laporan Arus Kas;

 Laporan Perubahan Ekuitas;

 Laporan Perubahan Dana Investasi Terkait;

 Laporan Rekonsiliasi Pendaptan Dan Bagi Hasil;

 Laporan Sumber Dan Penggunaan Dan Zakat;

 Laporan Sumber Dan Penggunaan Dan Kebajikan ; Dan

 Catatan Atas Laporan Keuangan.

KOMPONEN KEUANGAN LAPORAN SAK

1) Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini:


a. laporan posisi keuangan pada akhir periode
b. laporan laba rugi komprehensif selama periode
c. laporan perubahan ekuitas selama periode
d. laporan arus kas selama periode
e. catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi
penjelasan lainnya; dan
f. laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas
menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian
kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam
laporan keuangannya. Entitas diperkenankan menggunakan judul laporan selain yang
digunakan dalam Pernyataan ini
2) Karakteristik Umum
a. Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK
Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan
arus kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur
dampak dari transaksi, peristiwa dan kondisi lain sesuai dengan definisi dan kriteria
pengakuan aset, laibilitas, pendapatan dan beban yang diatur dalam Kerangka Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Penerapan SAK, dengan pengungkapan
tambahan jika diperlukan, dianggap menghasilkan penyajian laporan keuangan secara
wajar.
b. Entitas yang laporan keuangannya telah patuh terhadap SAK membuat pernyataan secara
eksplisit dan tanpa kecuali tentang kepatuhan terhadap SAK tersebut dalam catatan atas
laporan keuangan. Entitas tidak boleh menyebutkan bahwa laporan keuangan telah patuh
terhadap SAK kecuali laporan keuangan tersebut telah patuh terhadap semua yang
dipersyaratkan dalam SAK.
3) Dasar Akrual
o Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.
o Ketika akuntansi berbasis akrual digunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai aset,
laibilitas, ekuitas, pendapatan dan beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika pos-pos
tersebut memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsurunsur tersebut
dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.
4) Materialitas dan Agregasi
o Entitas menyajikan secara terpisah kelompok pos sejenis yang material. Entitas
menyajikan secara terpisah pos yang mempunyai sifat atau fungsi berbeda kecuali pos
tersebut tidak material.
o Laporan keuangan merupakan hasil dari pemrosesan sejumlah transaksi atau peristiwa
lain yang diklasifikasikan sesuai sifat atau fungsinya. Tahap akhir dari proses
penggabungan dan pengklasifikasian adalah penyajian dalam laporan keuangan. Jika
suatu klasifikasi pos tidak material, maka dapat digabungkan dengan pos lain yang sejenis
dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan. Suatu pos mungkin
tidak cukup material untuk disajikan terpisah dalam laporan keuangan tetapi cukup
material untuk disajikan terpisah dalam catatan atas laporan keuangan.
5) Saling Hapus
Entitas tidak boleh melakukan saling hapus atas aset dan laibilitas atau pendapatan
dan beban, kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh suatu PSAK
6) Frekuensi Pelaporan
Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi komparatif)
setidaknya secara
7) Tahunan
Jika akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan
untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari periode satu tahun, sebagai tambahan
terhadap periode cakupan laporan keuangan, maka entitas mengungkapkan:
a. alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek; dan
b. fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan
secara keseluruhan
8) Informasi Komparatif
Informasi kuantitatif diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya
untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode berjalan, kecuali
dinyatakan lain oleh SAK. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari
laporan ke uangan periode sebelumnya diungkapkan kembali jika relevan untuk pemahaman
laporan keuangan periode berjalan.
9) Konsistensi Penyajian
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporanvkeuangan antar periode harus konsisten
kecuali:
a. Setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas atau review atas
laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau pengklasifikasian yang lain
akan lebih tepat untuk digunakan dengan mempertimbangkan kriteria untuk penentuan
dan penerapan kebijakan akuntansi dalam PSAK 25; atau
b. perubahan tersebut diperkenankan oleh suatu PSAK
10) Struktur dan Isi
a. Pendahuluan
 Pernyataan ini mensyaratkan pengungkapan khusus dalam laporan posisi keuangan
atau laporan laba rugi komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), atau
laporan perubahan ekuitas dan mensyaratkan pengungkapan dari pos-pos lainnya pada
laporan keuangan tersebut atau catatan atas laporan keuangan. PSAK 2: Laporan Arus
Kas mengatur persyaratan untuk penyajian informasi arus
 Pernyataan ini terkadang menggunakan istilah “pengungkapan” dalam arti luas,
meliputi pos-pos yang disajikan di dalam laporan keuangan. Pengungkapan juga
dipersyaratkan oleh SAK lain. Kecuali dinyatakan lain dalam Pernyataan ini atau SAK
lainnya, pengungkapan tersebut dapat dilakukan dalam laporan keuangan.
b. Identifikasi Laporan Keuangan
 Entitas mengidentifikasikan laporan keuangan secara jelas dan membedakannya dari
informasi lain dalam dokumen publikasi yang sama.
 Entitas mengidentifikasi secara jelas setiap laporan keuangan dan catatan atas laporan
keuangan. Di samping itu, entitas menyajikan informasi berikut ini secara jelas, dan
mengulangnya jika dibutuhkan sehingga dapat dipahami:
- nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain, dan setiap perubahan
informasi dari akhir periode laporan sebelumnya;
- apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas;
- tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan
atau catatan atas laporan keuangan;
- mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52; dan
- pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan.
c. Catatan atas Laporan Keuangan
Struktur Catatan atas laporan keuangan:
- Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi tertentu yang digunakan sesuai dengan paragraf 115 – 122;
- mengungkapkan informasi yang disyaratkan SAK yang tidak disajikan di bagian
manapun dalam laporan keuangan; dan
- memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan
keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan.