Anda di halaman 1dari 97

REKONSTRUKSI PEKERJAAN PEMBESIAN PADA PROYEK

PEMBANGUNAN GEDUNG PERKANTORAN CHASE


TOWER DI JAKARTA SELATAN MENGGUNAKAN
SOFTWARE TEKLA STRUCTURES V17

MASRUN ADITYA TARUNA MAWANTARA

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Rekonstruksi Pekerjaan


Pembesian pada Proyek Pembangunan Gedung Perkantoran Chase Tower di Jakarta
Selatan Menggunakan Software Tekla Structures v17 adalah benar karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari
karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, Januari 2015

Masrun Aditya T. M.
NIM F44100077
ABSTRAK
MASRUN ADITYA TARUNA MAWANTARA. Rekonstruksi Pekerjaan
Pembesian pada Proyek Pembangunan Gedung Perkantoran Chase Tower di Jakarta
Selatan Menggunakan Software Tekla Structures V17. Dibimbing oleh
MACHMUD ARIFIN RAIMADOYA.

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan peningkatan


pembangunan pada segala sektor, terutama sektor konstruksi. Software Tekla
Structures v17 merupakan sebuah terobosan baru perangkat lunak desain grafis
untuk rancang bangun suatu bangunan pada dunia konstruksi. Tekla Structures
berbasis Building Information Modelling (BIM) dengan model 3D yang mampu
memodelkan, menganalisis, dan memanajemen suatu proyek. Konsep BIM mampu
menampilkan model secara 3D, 4D (penjadwalan), dan 5D (estimasi biaya). Bentuk
konstruksi Chase Tower dimodelkan secara 3D melalui program Tekla Structures
v17. Model struktur mencakup struktur bangunan gedung dan rancangan pembesian
(tulangan) secara keseluruhan. Model 3D pembesian Chase Tower menggunakan
Component Catalog pada menu Detailing. Model pembesian/penulangan 3D
meliputi bored pile, pile cap, kolom, balok, lantai, dan shear wall. Pelaksanaan
membuat model sistem tulangan memerlukan modifikasi agar sesuai dengan
spesifikasi teknis perencanaan. Kelebihan software ini adalah mempercepat
pekerjaan perencanaan, pelaksanaan, manajemen, serta evaluasi komponen struktur
cepat dan koordinasi user lebih baik. Kekurangan Tekla Structures v17 adalah
minimnya ketersediaan untuk diameter 13 mm, 19 mm, dan 29 mm pada katalog
diameter batang tulangan.

Kata Kunci: Building Information Modelling, Chase Tower, Model 3D,


Penulangan, Tekla Structures.

ABSTRACT

MASRUN ADITYA TARUNA MAWANTARA. Reconstruction Reinforcement


Works on Chase Tower Offices Building Project in South Jakarta Using Tekla
Structures V17 Software. Supervised by MACHMUD ARIFIN RAIMADOYA.

Indonesia is a developing country with the increasing development in all


sectors, especially in the construction sector. The software Tekla Structures v17 is
a new breakthrough the graphic design software to design a building in the world
of construction. The base of Tekla Structures is Building Information Modeling
with the 3D model that is able to modelling, analyzing, and managing a project. The
concept of BIM is able to display the model in 3D, 4D (scheduling), and 5D
(estimated costs). The construction of the Chase Tower is modeled in 3D used the
Tekla Structures v17 software.The model of structure includes the overall of the
building structure and design reinforcement. The 3D model of reinforcement at
Chase Tower by using the Componen Catalog on the Detailing menu. The
reinforcement in 3D models include bored pile, pile cap, columns, beams, floors,
and shear wall. Implementation of making models the reinforcement system require
modification to match the technical spesifications of planning. The advantages of
this software are to accelerate the work of planning, implementation, management,
and make the evaluation of structural components faster and better user
coordination. The disadvantages of Tekla Structures v17 is the lack of availability
for diameter 13 mm, 19 mm, and 29 mm in the diameter catalog of reinforcement
rods.

Keywords: 3D Model, Building Information Modelling, Chase Tower,


Reinforcement, Tekla Structures
REKONSTRUKSI PEKERJAAN PEMBESIAN PADA PROYEK
PEMBANGUNAN GEDUNG PERKANTORAN CHASE
TOWER DI JAKARTA SELATAN MENGGUNAKAN
SOFTWARE TEKLA STRUCTURES V17

MASRUN ADITYA TARUNA MAWANTARA


Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik
pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
Judul Skripsi : Rekonstruksi Pekerjaan Pembesian pada Proyek Pembangunan
Gedung Perkantoran Chase Tower di Jakarta Selatan Menggunakan
Software Tekla Structures V17
Nama : Masrun Aditya Taruna Mawantara
NIM : F44100077

Disetujui oleh

Ir. Machmud Arifin Raimadoya, M.Sc.


Pembimbing

Diketahui oleh

Prof. Dr. Ir. Budi Indra Setiawan, M.Agr.


Ketua Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan

Tanggal Lulus:
PRAKATA

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT. atas segala rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tema penelitian
yang dilaksanakan sejak bulan Juni-Desember 2014 ini adalah perencanaan
konstruksi dengan judul Rekonstruksi Pekerjaan Pembesian pada Proyek
Pembangunan Gedung Perkantoran Chase Tower di Jakarta Selatan Menggunakan
Software Tekla Structures V17.
Dengan selesainya tugas akhir ini, penulis ingin memberikan penghargaan
serta ucapan terimakasih kepada:
1. Bapak Ir. Mahmud Arifin Raimadoya, Msc. selaku pembimbing yang telah
memberikan saran, arahan, motivasi dan nasihat kepada penulis selama proses
penelitian hingga penulisan skripsi selesai.
2. Ibu Dr. Ir. Meiske Widiarti, M.Eng. dan Bapak Tri Sudibyo, S.T, M.Sc. yang
telah menjadi dosen penguji untuk skripsi penulis.
3. PEMDA Kabupaten Fakfak yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk dapat menempuh studi di Institut Pertanian Bogor melalui program
Beasiswa Utusan Daerah (BUD).
4. PT. Arkonin sebagai perusahaan yang telah memberikan ilmu, pelajaran dan
bantuannya selama mengumpulkan data-data penelitian.
5. Ayahanda Joko Ichwan Anshori, ibunda Siti Jumaroh, serta Fachri Adriansyah,
Rizki Setiastanto, dan Dinda Cahyaning Ayu selaku adik-adik penulis yang
telah memberikan motivasi, dukungan, semangat, kasih sayang dan doa
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
6. Para sahabat-sahabat serta rekan-rekan mahasiswa Teknik Sipil dan
Lingkungan angkatan 2010 atas segala doa, motivasi, dan kasih sayangnya.

Bogor, Januari 2015

Masrun Aditya Taruna M.


DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
TINJAUAN PUSTAKA 3
Bangunan 3
Beton 3
Pembesian 5
Tekla Structures 5
METODE 7
Waktu dan Tempat 7
Bahan 8
Alat 8
Prosedur Analisis Data 8
HASIL DAN PEMBAHASAN 19
Profil Proyek Chase Tower, Jakarta Selatan 19
Tekla Structures v17 21
Pemodelan Struktur Menggunakan Tekla Structures v17 23
Pengelompokan dan Evaluasi model 28
Rekonstruksi pekerjaan pembesian secara 3D 28
Ekspor Building Information Modeling (BIM) 44
Kelebihan dan Kekurangan Memodelkan pada Tekla Structures v17 47
SIMPULAN DAN SARAN 47
Simpulan 47
Saran 48
DAFTAR PUSTAKA 48
LAMPIRAN 51
RIWAYAT HIDUP 83

DAFTAR TABEL
1. Perbandingan kuat tekan beton pada berbagai umur (PBI-1971) 21
2. Typical confinement ties pada shear wall 40

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Diagram hubungan antar pekerjaan konstruksi (Tekla, 2011) 6
Gambar 2 Lokasi proyek Chase Tower (Google Maps 2014) 7
Gambar 3 Grid Chase Tower 9
Gambar 4 Permodelan kolom Chase Tower 9
Gambar 5 Permodelan balok Chase Tower 10
Gambar 6 Permodelan slab Chase Tower 10
Gambar 7 Permodelan shear wall chase tower 11
Gambar 8 Penggunaan Component Catalog 12
Gambar 9 Tampilan Component Catalog 12
Gambar 10 Tampilan Precast stairs (65) 12
Gambar 11 Hasil penampang tangga beton 13
Gambar 12 Permodelan balok yang terdeteksi oleh CCM 13
Gambar 13 Model organizer pemodelan chase tower 14
Gambar 14 Tampilan Round column reinforcement (82) 15
Gambar 15 Tampilan Pilecap reinforcement (76) 15
Gambar 16 Tampilan Slab bars (18) 16
Gambar 17 Tampilan Rectangular calomn reinforcement (83) 16
Gambar 18 Tampilan Rectangular calomn reinforcement (83) 17
Gambar 19 Tampilan Wall panel (64) 17
Gambar 20 Diagram alir pelaksanaan penelitian 18
Gambar 21 Bagan hubungan fungsi dan tugas manajemen konstruksi
(Dipohusodo 1996) 19
Gambar 22 Pembagian zona pada pembangunan lantai (Arkonin 2013) 20
Gambar 23 Denah kolom berdasarkan tipe kolom (Arkonin, 2012) 24
Gambar 24 Denah balok penopang lantai B03-17 (Arkonin, 2012) 25
Gambar 25 Denah balok pengikat kolom MFB1 (Arkonin, 2012) 26
Gambar 26 Denah balok pengikat shear wall tipe LB1 (Arkonin, 2012) 26
Gambar 27 Hasil pemodelan pembesian/penulangan bore pile 29
Gambar 28 Hasil pemodelan pembesian/penulangan pile cap utama 31
Gambar 29 Hasil pemodelan pembesian/penulangan pile cap tunggal 31
Gambar 30 Typical one-way slab reinforcement slab (Arkonin, 2012) 32
Gambar 31 Hasil pemodelan pembesian/penulangan slab 32
Gambar 32 Detail pembesian lantai khusus pada lubang pipa (Arkonin,
2012) 33
Gambar 33 Hasil pemodelan pembesian lantai khusus pada lubang pipa1 33
Gambar 34 Hasil pemodelan pembesian lantai khusus pada lubang pipa2 33
Gambar 35 Format halaman input data pada Tekla Structures v17 (Tekla,
2014) 34
Gambar 36 Hasil pemodelan pembesian kolom awal pada Tekla Structures
v17 34
Gambar 37 Detail pembesian sambungan kolom b/h ≥ 1/6 (Arkonin, 2012) 35
Gambar 38 Detail pembesian sambungan kolom b/h < 1/6 (Arkonin, 2012) 35
Gambar 39 Hasil memodelkan penulangan pada kolom sambungan syarat
b/h ≥ 1/6 36
Gambar 40 Hasil memodelkan penulangan pada kolom sambungan syarat
b/h < 1/6 37
Gambar 41 Hasil memodelkan lap splices kolom C1 38
Gambar 42 Hasil implementasi kolom di lapangan (Dokumentasi pribadi) 38
Gambar 43 Hasil memodelkan pembesian/penulangan shear wall 40
Gambar 44 Hasil memodelkan pembesian/penulangan GB-01 41
Gambar 45 Hasil memodelkan pembesian/penulangan MFB1 43
Gambar 46 Hasil memodelkan pembesian/penulangan LB1 44
Gambar 47 Skema hubungan BIM pada suatu proyek konstruksi (Dublin
Institute of Technology 2013) 45
Gambar 48 BIM proyek Chase Tower, Jakarta Selatan 46
Gambar 49 BIM pembesian proyek Chase Tower, Jakarta Selatan 46
Gambar 50 Explode component tulangan kolom 78
Gambar 51 Membuat tampilan terhadap sumbu X dan Z 78
Gambar 52 Memilih titik-titik poin acuan terhadap sumbu X 79
Gambar 53 Tampilan kolom terhadap sumbu X dan Z 79
Gambar 54 Ikon Add points any position 79
Gambar 55 Hasil tulangan modifikasi. 80
Gambar 56 Proses memindahkan titik point tulangan. 80
Gambar 57 Hasil Pemodelan seluruh bagian tulangan kolom modifikasi 81

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Umum Proyek (Arkonin, 2013) 51


Lampiran 2 Tabel Acuan Perencanaan Pembesian Struktur Bangunan
(Arkonin 2012) 53
Lampiran 3 Denah Foundation Plan Gedung Chase Tower (Arkonin 2012) 54
Lampiran 4 Denah Level 35-36 Gedung Chase Tower (Arkonin 2012) 55
Lampiran 5 Bored Pile (Arkonin 2012) 56
Lampiran 6 Pile cap (Arkonin 2012) 57
Lampiran 7 Tabel Spesifikasi Lantai (Slab) (Arkonin 2012) 58
Lampiran 8 Tabel Spesifikasi Kolom (Column) (Arkonin 2012) 59
Lampiran 9 Denah Shear Wall (Arkonin 2012) 61
Lampiran 10 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P1 (Arkonin 2012) 61
Lampiran 11 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P4 (Arkonin 2012) 63
Lampiran 12 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P7 (Arkonin 2012) 64
Lampiran 13 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P9 (Arkonin 2012) 65
Lampiran 14 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P12 (Arkonin 2012) 66
Lampiran 15 Tabel Spesifikasi Balok Tipe Grade Beam (Arkonin 2012) 67
Lampiran 16 Tabel Spesifikasi Balok Tipe Moment Frame Beam (Arkonin
2012) 68
Lampiran 17 Tabel Spesifikasi Balok Tipe Link Beam 1 (Arkonin 2012) 70
Lampiran 18 Tabel Spesifikasi Balok Tipe Beam (Arkonin 2012) 71
Lampiran 19 Shop Drawing Lantai (Slab) Level 35. 72
Lampiran 20 Shop Drawing Balok MFB1 Level 35. 73
Lampiran 21 Skema Loading Test (Uji Beban) 74
Lampiran 22 Metode Konversi Diameter Tulangan Baja 76
Lampiran 23 Menghitung Panjang Rebar Tension Lenght 77
Lampiran 24 Tahapan Memodifikasi Tulangan pada Kolom (Column) 78
Lampiran 25 Hasil Memodelkan Seluruh Bagian Konstruksi Gedung
Chase Tower. 82
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang terletak di Asia


Tenggara. Negara sedang berkembang memiliki ciri identik pada proses
pembangunan yang terus meningkat dalam berbagai sektor, sebagai contoh yaitu
pada sektor konstruksi. Pembangunan sektor konstruksi meningkat pesat setiap
hari. Pembangunan konstruksi antara lain gedung bertingkat, rumah, jembatan, dan
jalan. Pembangunan sektor konstruksi meningkat sebagai akibat melonjaknya
kebutuhan sarana dan prasarana yang memadai.
Pembangunan pada sektor konstruksi melibatkan pekerjaan konstruksi.
Pekerjaan konstruksi mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan
pengawasan. Dasar pekerjaan konstruksi yaitu perencanaan. Proses perencanaan
adalah merencanakan setiap rinci pekerjaan mulai dari dasar bangunan hingga
puncak bangunan. Proses perencanaan pun menunjukkan kesesuaian bangunan
terhadap keadaan lingkungan. Pekerjaan pada perencanaan konstruksi
membutuhkan ketelitian, keterampilan, etika, serta pengalaman dalam menghadapi
setiap pekerjaan konstruksi.
Para ahli konstruksi telah menggunakan alat bantu dalam proses perencanaan
sejak lama. Mereka memanfaatkan alat bantu untuk mempermudah dan
mempercepat kinerja perencanaan desain suatu konstruksi. Mereka pun
menggunakan alat bantu untuk menekan tingkat kegagalan desain suatu konstruksi.
Pada awalnya, para ahli konstruksi menggambar rancangan secara manual. Berkat
kemajuan teknologi gambar rancangan dapat tersimulasikan secara komputasi
untuk saat ini. Hasil rancangan komputasi dapat menampilkan seluruh bentuk
bangunan serta rincian setiap pekerjaan konstruksi secara virtual. Para ahli
konstruksi menggunakan alat bantu yang telah banyak berkembang hingga saat ini.
Tekla Structures merupakan salah satu perangkat lunak (software) yang populer
untuk merancang suatu konstruksi.
Tekla Structures merupakan sebuah terobosan terbaru sebagai perangkat
lunak (software) desain grafis untuk rancang bangun suatu bangunan dalam dunia
konstruksi. Tekla Structures memiliki banyak kelebihan, diantaranya memodelkan
elemen-elemen struktur, menggambarkan detail penulangan struktur, dan
menyajikan volume material dari elemen struktur dengan tampilan yang lebih
menarik dan cara yang lebih mudah. Perangkat lunak ini pun mampu terintegrasi
dengan berbagai kegiatan pemodelan, analisis serta desain struktur dengan hasil
gambar yang lebih jelas, estimasi harga pekerjaan konstruksi, urutan/rangkaian
pekerjaan, hingga kegiatan penjadwalan yang terbaru (real time/up to date).
Perangkat lunak ini sangat menghemat biaya, waktu dan sumber daya manusia.
Tekla Structures lebih unggul dalam merencanakan bangunan baja serta
pabrikasi-nya dan beton cetak maupun pra-cetak serta pabrikasi-nya, sebab tekla
mampu mevisualisasikan rancangan (desain) secara tiga dimensi (3D). Tampilan
secara tiga dimensi (3D) mempermudah perbaikan kesalahan pada rancangan,
selain itu bentuk tersebut mampu menampilkan pemodelan setiap bagian kontruksi
secara rinci. Menurut Erlina (2011), Tekla Structures adalah software pemodelan
multi-material dan multi-proses yang dapat menentukan dan menganalisa dalam
2

suatu model 3D, serta dapat memperbaiki secara akurat semua pekerjaan struktur
dan memiliki kemampuan mengoperasikan penjadwalan pekerjaan yang
memberikan hasil manajemen proyek yang efisien.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan pada


objek dari penelitian ini, yaitu:
1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi suatu rancangan (desain)
penulangan beton?
2. Bagaimana perlakuan tulangan/pembesian pada setiap komponen struktur
beton berdasarkan ketentuan (standart) yang digunakan?
3. Apa saja kelebihan dan kekurangan Tekla Structures dalam proses
perancangan tulangan/pembesian beton?

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:


1. Memodelkan seluruh komponen struktur rancangan gedung Chase Tower di
Jakarta Selatan menggunakan Tekla Structures secara tiga dimensi (3D).
2. Mempresentasikan dalam bentuk tiga dimensi (3D) rancangan (desain) dan
rincian komponen penulangan/pembesian beton dalam struktur beton.
3. Mengeksplorasi keunggulan dan kekurangan Building Information Modeling
(BIM) pada software Tekla Structures v17.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mendapatkan


informasi pemodelan pada konstruksi bangunan gedung Chase Tower,
menampilkan bentuk rincian (detail) pembesian/penulangan pada struktur
bangunan gedung dengan memanfaatkan software Tekla Structures, dan bagi
penulis dapat menambah ilmu pengetahuan dalam hal perencanaan khususnya
perancangan pembesian/tulangan beton serta pengorganisasian komponen struktur .

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup atau batasan masalah penelitian ini yaitu:


a. Penelitian ini hanya dilakukan terhadap pemodelan seluruh komponen
struktur beton secara 3D pada proyek pembangunan Chase Tower, Jakarta
Selatan.
b. Pemodelan rancangan pembesian/tulangan beton memanfaatkan component
catalog serta modifikasi bentuknya pada software Tekla Structures v17.
c. Tidak melakukan analisis struktur bangunan gedung Chase Tower, Jakarta
Selatan.
3

TINJAUAN PUSTAKA

Bangunan

Bangunan berasal dari kata dasar “bangun”, yang memiliki arti susunan yang
merupakan suatu wujud. Bangunan berdasarkan kamus Bahasa Indonesia memiliki
definisi sesuatu yang didirikan. Bangunan menjelaskan adanya sesuatu yang
dibangun seperti rumah, gedung bertingkat, menara, dan mencakup sarana dan
prasarana antara lain jalan, jembatan, bendungan, irigasi, dan lain-lain. Bangunan
merupakan bentuk nyata/riil dari rancangan suatu gambar.
Bangunan merupakan suatu lingkungan buatan. Bangunan memiliki fungsi
untuk melindungi dan menjaga penghuninya dari berbagai macam bahaya dan
kondisi (alam) yang tidak menyenangkan (Matondang dan Mulyana 2012).
Manusia secara sengaja membuat suatu lingkungan binaan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari seperti tempat istirahat, berkumpul, rekreasi, maupun tempat
untuk bekerja.
Bangunan berdasarkan komponen penyusun merupakan perpaduan beberapa
bahan dan konstruksi sehingga dapat berfungsi sesuai dengan rencana. Bangunan
memiliki susunan bagian yang kontinu dan kompleks. Susunan elemen penyusun
gedung disebut juga struktur bangunan. Setiap elemen struktur bangunan saling
memberikan dampak terhadap komponen lainnya, jika salah satu komponen
mendapatkan perlakuan (beban). Struktur bangunan merupakan bagian dari
bangunan yang tersusun dari tiap komponen struktur yang dapat bekerja sama satu
kesatuan. Koordinasi tiap komponen struktur bangunan memiliki fungsi menjamin
kekuatan, kekakuan, stabilitas, keselamatan dan kenyamanan gedung terhadap
segala macam beban dan terhadap bahaya lain dari kondisi sekitarnya.
Bangunan secara fisik (umumnya) berbahan dasar beton, baja, maupun
kombinasi antara beton dan baja. Bangunan gedung merupakan wujud fisik hasil
pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian
dan/atau seluruhnya berada di atas maupun di dalam tanah dan/atau air yang
berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau
tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya
maupun kegiatan khusus (UU No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung).

Beton

Beton merupakan komponen utama dalam sebuah konstruksi bangunan pada


umumnya dalam bidang konstruksi di dunia. Persentase pemanfaatan beton sebagai
material utama konstruksi bangunan mencapai 60% di Indonesia. Konstruksi beton
dapat terlihat dalam pembuatan gedung-gedung, rumah, jalan, bendungan, saluran
air, dan lain-lainnya (Mulyono 2005).
Manusia memanfaatkan beton sejak zaman dahulu. Sejarah mencatat bahwa
pemanfaatan beton untuk konstruksi bangunan sejak tahun 3000 SM oleh bangsa
Mesir kuno. Orang-orang Mesir kuno memanfaatkan gips (mengandung kalsium)
dengan penambahan air, pasir, split untuk membuat beton. John Smeaton
menemukan beton dengan campuran semen dan air pada tahun 1756 yang kemudian
4

disebut beton/mortar. Semen tesebut mengandung campuran antara pozzolanic


cement dan batuan kapur.
Beton merupakan bahan campuran antara semen, pasir, agregat (kasar dan
halus), air, serta zat aditif. Campuran bahan-bahan tersebut mengering dan
mengeras, sehingga menjadi benda padat (Gunawan dan Margaret 1987). Beton
adalah campuran semen portland atau semen hidrolis lainnya, agregat halus, agregat
kasar, dan air, dengan atau tanpa bahan campuran tambahan (SNI-287 2013).
Komposisi beton mengandung rongga udara sekitar 1% - 2%, pasta semen
(semen dan air) sekitar 25% - 40%, dan agregat (halus dan kasar) sekitar 60% -
75%. Untuk mendapatkan kekuatan yang baik, sifat dan karakteristik dari masing-
masing bahan penyusun tersebut perlu dipelajari (Mulyono 2005). Beton
mendapatkan bahan campuran tambahan (admixture) pada campurannya
berdasarkan keadaan tertentu atau khusus, misalnya untuk memperlambat atau
mempercepat proses pengeringan maupun akibat adanya pengaruh pH dan suhu
lingkungan sekitarnya.
Keunggulan beton antara lain mudah diaduk, disalurkan, dicor, dipadatkan
dan diselesaikan, tanpa menimbulkan pemisahan bahan sususnan pada adukan dan
mutu beton yang disyaratkan oleh konstruksi tetap dipenuhi (Daryanto 1994).
Keunggulan beton lainnya yaitu kuat tekan tinggi, stabilitas volume yang baik dan
biaya perawatan murah. Beton pun lebih tahan terhadap pengaruh lingkungan, tidak
mudah terbakar, dan lebih tahan terhadap suhu tinggi, sehingga banyak digunakan
sebagai pelindung struktur baja terhadap pengaruh kebakaran pada bangunan
gedung (Hidayat 2009).
Kekurangan material beton sebagai bahan konstruksi bangunan yaitu
memiliki gaya tarik yang rendah. Sifat dan karakteristik beton secara mekanik yaitu
mampu menahan gaya tekan yang tinggi namun lemah terhadap gaya tarik.
Kekuatan beton terhadap gaya tarik hanya 9% - 15% dari kekuatan gaya tekan.
Beton pun lemah untuk menahan gaya tegangan yang tinggi, sebab nilai elastisitas
beton yang rendah.
Fakta kekurangan beton tersebut menyebabkan perlu adanya penambahan
material lainnya untuk menutupi kekurangannya. Material tambahan lainnya yaitu
batang tulangan baja. Batang tulangan baja memiliki fungsi untuk memperkuat dan
menahan gaya tarik, sedangkan beton untuk menahan gaya tekan. Beton
bertulangan baja kemudian lazim disebut beton bertulang (Dipohusodo 1996).
Pemberian perkuatan pada elemen beton bertulang, berupa penambahan tulangan
tekan (compression steel) merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan
kekuatan, kekakuan dan daktilitas beton bertulang (Nur 2009).
Beton bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan
yang tidak kurang dari nilai minimum, yang disyaratkan dengan atau tanpa
prategang, dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua material bekerja
bersama-sama dalam menahan gaya yang bekerja (SNI 03-2847 2002). Beton
bertulang merupakan kombinasi antara campuran beton dan batang tulangan baja
(polos maupun ulir) yang bekerja untuk saling menguatkan terhadap adanya
perlakuan gaya (beban) berupa gaya tekan dan gaya tarik.
5

Pembesian

Pekerjaan struktur bangunan merupakan pekerjaan dasar dan utama pada


pelaksanaan pembangunan suatu bangunan. Struktur bangunan berhubungan
dengan beton bertulang, khususnya untuk bangunan gedung tinggi. Beton bertulang
merupakan kombinasi campuran beton (semen, agregat dan air) dan batang
tulangan baja. Tulangan pada beton tersusun sedemikian rupa membentuk rangka
tulangan dalam beton. Beton bertulang hampir mencakup seluruh bagian pada
konstruksi bangunan, seperti: lantai, balok, kolom, dinding geser (shear wall),
tangga, dan pondasi. Hal ini menyebabkan pembesian sebagai pekerjaan penting
dalam perencaan struktur bangunan.
Pembesian (penulangan) merupakan tahap pekerjaan awal pada beton
bertulang. Pekerjaan pembesian mempunyai peranan sangat penting dari aspek
kualitas pelaksanaan, sebab fungsi tulangan yang penting dalam kekuatan struktur
gedung. Pembesian merupakan faktor terpenting dalam beton bertulang selain mutu
beton itu sendiri. Fungsi tulangan sebagai tendon (urat) dalam beton. Besi baja
sebagai tulangan bertujuan untuk meningkatkan kuat tarik beton yang pada
dasarnya beton sangat lemah untuk menerima gaya tarik namun kuat untuk
menerima gaya tekan.
Pekerjaan ini terbagi menjadi dua berdasarkan lokasi perakitan, yaitu pada
area pabrikasi (workshop) dan area pengecoran (cast in place). Tahapan kerja
perakitan besi tulangan yaitu penyediaan material baja tulangan, pemotongan,
pembengkokan, dan perakitan.

Tekla Structures

Tekla Structures merupakan sebuah terobosan terbaru sebagai perangkat


lunak (software) desain grafis untuk rancang bangun suatu bangunan dalam dunia
konstruksi. Tekla Structures awalnya dikenal sebagai Tekla X-Steel di pertengahan
tahun 1990 (Jiang Xinan 2011). Program ini merupakan aplikasi BIM (Building
Information Modeling). Tekla corporation merupakan perusahaan pengembang
Tekla Structures berbasis BIM. Tekla Corporation mendirikan perusahaan di
Finlandia pada tahun 1966 dan memiliki kantor pusat di Espoo, Finlandia,
sedangkan kantor cabang dari Tekla Corporation berada di Swedia, Denmark,
Jerman dan Amerika Serikat. Perusahaan ini memperkenalkan empat jenis
perangkat lunak (software), antara lain Tekla Structures untuk pekerjaan struktur,
Tekla Xpower untuk bagian elektrikal, Tekla Xpipe untuk perpipaan, dan Tekla
Xcity untuk arsitektur.
NIBS (2008) menjelaskan BIM is a digital representation of physical and
functional characteristics of a facility. As such it serves as a shared knowledge
resource for information about a facility forming a reliable basis for decisions
during its life-cycle from inception onward. Secara implisit, BIM merupakan proses
yang melibatkan generasi dan pengelolaan representasi digital dari karakteristik
fisik dan fungsional fasilitas yang ada. BIM merupakan sebuah pendekatan dalam
mendesain bangunan, konstruksi, serta manajemen saat pelaksanaan. BIM itu
meliputi lebih dari sekedar geometri. BIM mencakup hubungan spasial, analisis
cahaya, informasi geografis, jumlah dan sifat dari komponen bangunan. Selain itu,
BIM berisi informasi-informasi tentang desain bangunan dan konstruksi. Model
6

suatu objek tidak hanya geometris tetapi model tersebut juga berisi informasi
tentang bahan yang digunakan, berat, biaya, waktu dan bagaimana bagian dipasang,
dan lain-lain. (Janni Tjell 2010).
Tekla adalah aplikasi Building Information Modeling yang dikembangkan
oleh Tekla Corporation untuk keperluan menghitung dan merekayasa struktur
termasuk juga fitur-fitur komprehensif yang bisa digunakan bagi para detailer,
fabricator, manufactor dan constructor. Modul untuk keperluan manajemen
konstruksi juga sudah ditambahkan pada software ini. (Khemlani 2008). Tekla
Structures adalah sebuah software pemodelan dengan konsep BIM tiga dimensi
(3D) dengan seluruh obyek struktur terpresentasi lengkap dengan segala
informasinya.

Gambar 1 Diagram hubungan antar pekerjaan konstruksi (Tekla, 2011)

Tekla Structures merupakan program yang dapat membantu penyelesaian


suatu proyek mulai dari proses perencanaan (pemodelan, analisa struktur,
pendetailan), hingga proses pelaksanaan (fabrikasi, dan manajemen kontruksi)
(Erlina 2011). Menurut Hergunsel Mehmet (2011), prinsip dasar dari pemodelan
Tekla Structures adalah dapat menggunakan model bangunan 3D untuk
mendapatkan semua gambar proyek yang diperlukan, termasuk tampak, potongan,
gambar presentasi, gambar detail konstruksi, perhitungan kuantitas, estimasi harga,
dan kinerja waktu.
Keuntungan menggunakan Tekla Structures pada konstruksi adalah kualitas
tinggi dan dokumentasi akurat dari proses konstruksi, perbaikan manajemen
konstruksi, meningkatkan interaksi antara arsitek, insinyur dan kontraktor,
memungkinkan pra-fabrikasi dari berbagai komponen konstruksi untuk
meminimalkan kesalahan (Roginski 2011). Keuntungan lain menggunakan Tekla
adalah dapat menampilkan gambar dalam bentuk sebuah model secara 3D, 4D
(penjadwalan), dan 5D (estimasi biaya) dengan ribuan jenis profil, bentuk dan
sambungan. Perencanaan modeling dalam tekla untuk mengerjakannya dengan
7

sangat mudah dan cepat, menggurangi kesalahan dan mengurangi biaya pada
akhirnya.
Tekla Structures dapat menggabungkan kemampuan pemodelan, analisa, dan
desain struktur lengkap dengan detail dan gambar perencanaannya. Tekla
Structures mampu terintegrasi dengan beberapa software analisis struktur seperti
SAP, STAAD, S-Frame, GTStrudl, Robot. Para perencana dapat merasakan
lingkungan kerja yang tidak terputus antara model, gambar dan analisis sehingga
mengurangi kesalahan dan meningkatkan produktivitas.
Tekla Corporation mengembangkan server multiuser, sehingga dapat
mendukung maksimum 40 pengguna beroperasi secara bersamaan. Format yang
didukung oleh Tekla Structures adalah IFC, DWG, CIS/2, DSTV, SNDF, DGN dan
DXF, sehingga Tekla Structures dapat digabungkan dengan aplikasi-aplikasi yang
sudah ada. Software ini terhubung dengan berbagai jenis sistem melewati Tekla
Open API. IFC, CIS/2, DSTV dan SDNF merupakan contoh format biasa yang
didukung oleh Tekla Structures, sedangkan DWG, DGN dan DXF merupakan
contoh dari format yang sudah jadi hak milik yang didukung oleh Tekla Structures
(Jian Xinan 2011).

METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-September 2014 yang bertempat


di Proyek Pembangunan Chase Tower di Jalan Sudirman Kavling 21 Setiabudi,
Jakarta Selatan, Jakarta. Pengolahan data penelitian dan pelaksanaan pemodelan
dilakukan di sekitar kampus IPB Dramaga.

Gambar 2 Lokasi proyek Chase Tower (Google Maps 2014)


8

Bahan

Bahan penelitian yang digunakan merupakan data sekunder. Data penelitian


yang digunakan berasal dari proyek pembangunan gedung Chase Tower, Jakarta
Selatan oleh PT. Arkonin sebagai Manajemen Konstruksi. Data sekunder yang
diterima berupa softcopy dokumen DED (Detailed Engineering Design) dan shop
drawing.

Alat

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah:


1. Notebook dengan spesifikasi Intel® Core™ i3 3217U Processor 1,8 GHz,
grafis NVIDIA® GeForce® GT 635M dengan 2GB DDR3 VRAM, RAM
4GB DDR3, Operating System Windows 8.1 32-bit.
2. Mouse
3. Kalkulator
4. Program Tekla Structures v17
5. Program BIMSight Tekla Structures

Prosedur Analisis Data

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan, antara lain:


1. Persiapan penelitian
Persiapan penelitian pertama yang dilakukan adalah penentuan lokasi
penelitian dan data-data yang dibutuhkan agar mempermudah dalam
pelaksanaan penelitian. Pada tahap ini juga dilakukan penginstalan Tekla
Structures 17.

2. Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan langkah kedua setelah tahap persiapan
dalam pemodelan gedung chase tower. Dalam pengumpulan data peranan
instansi yang terkait sangat diperlukan sebagai pendukung dalam
memperoleh data-data yang diperlukan.
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yaitu
berupa data Detail Engineering Design (DED) dan shop drawing pada
pembangunan gedung Chase Tower, Jakarta Selatan. Data ini diperoleh dari
PT. Arkonin pada proyek pembangunan Chase Tower. PT. Arkonin bertindak
sebagai Manajemen Konstruksi pada proyek ini.

3. Pemodelan 3D menggunakan Tekla Structures


a. Pembuatan grid
Sebelum dilakukan pemodelan objek kolom, balok, dan objek struktur
lainnya di Tekla Structures, hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah
pembuatan garis grid. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu:
 Pada tab modeling, kemudian dipilih create grid.
 Diklik dua kali pada grid untuk memunculkan kotak dialog properties
yang berfungsi untuk memodifikasi karakteristik grid.
9

 Koordinat X, Y, dan Z didefinisikan sesuai shop drawing dan DED.


Perlu diketahui bahwa koordinat X dan Y bersifat relatif dan Z bersifat
mutlak. Gambar grid chase tower disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3 Grid Chase Tower

b. Pemodelan kolom
Tahap-tahap pemodelan kolom beton yaitu :
 Pada tab modeling, kemudian dipilih create concrete column.
 Ditentukan column pada posisi yang diinginkan.
 Kemudian dirubah karakteristik kolom, klik dua kali pada kolom agar
muncul kotak dialog concrete column properties. Gambar permodelan
kolom beton chase tower disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4 Permodelan kolom Chase Tower

c. Pemodelan balok
Tahap-tahap pemodelan balok beton yaitu:
 Pada tab modeling, kemudian dipilih create concrete beam.
 Pada grid ditentukan titik awal dan titik akhir.
10

 Kemudian dirubah karakteristik balok, klik 2 kali pada balok agar


muncul kotak dialog concrete beam properties. Gambar permodelan
balok beton chase tower disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5 Permodelan balok Chase Tower

d. Pemodelan slab
Tahap-tahap pemodelan balok beton yaitu:
 Pada tab modeling, kemudian dipilih create concrete slab.
 Dilakukan pemilihan titik awal slab.
 Ditentukan titik-titik pojok slab.
 Setelah itu dipilih titik awal lagi, atau diklik tombol tengah mouse
untuk menyelesaikannya.
 Kemudian dirubah karakteristik slab, klik 2 kali pada slab agar
muncul kotak dialog concrete slab properties. Gambar permodelan
slab chase tower disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6 Permodelan slab Chase Tower

e. Pemodelan shear wall


Tahap-tahap pemodelan shear wall yaitu:
 Pada tab modeling, kemudian dipilih create concrete panel.
11

 Pada grid ditentukan titik awal dan titik akhir shear wall.
 Dirubah karakteristik shear wall, klik 2 kali pada shear wall agar
muncul kotak dialog Concrete Panel Properties. Gambar permodelan
shear wall chase tower disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7 Permodelan shear wall chase tower

f. Pemodelan tangga
Tipe tangga yang terdapat dalam pembangunan chase tower adalah
tangga beton sehingga langkah-langkah yang dilakukan dalam
pemodelan yaitu:
 Tangga beton digunakan pada situasi menghubungkan dua slab beton.
Sebelum dimulai, dibuat terlebih dahulu dua slab beton yang agar
dihubungkan oleh tangga dengan elevasi yang telah ditentukan.
 Pada menu bar diklik Detailing, kemudian dipilih Component, dan
diklik kiri pada Component Catalog. Cara lain yaitu pada keyboard
ditekan Ctrl+F.
 Precast Stairs (65) dicari pada pilihan Search – All – Precast Stairs
(65).
 Data dimensi setiap ukuran rancangan tangga dimasukkan dalam
setting tangga tersebut. Contoh dapat dilihat di Gambar 10.
 Ditentukan pemilihan titik awal dan akhir. Titik awal yang
mengindikasikan level dari pijakan terendah dari tangga dan titik akhir
yang mengindikasikan level dari pijakan teratas dari tangga.
 Diklik tombol tengah dari mouse untuk menyelesaikannya. Contoh
gambar tangga beton disajikan pada Gambar 11.
12

Gambar 8 Penggunaan Component Catalog

Gambar 9 Tampilan Component Catalog

Gambar 10 Tampilan Precast stairs (65)


13

Gambar 11 Hasil penampang tangga beton

g. Clash and Check


Untuk menemukan clash and check objek diperlukan beberapa langkah
yaitu:
 Pada tab tools, kemudian dipilih Clash Check Manager (CCM).
 Pada model, dipilih objek-objek yang ingin dicek.
 Atau pilihan lainnya bisa dengan memilih objek-objek dalam model
organizer. Diklik kanan dan pilih dalam model.
 Sebagai peringatan, sebaiknya tidak dilakukan pengecekan untuk
seluruh objek dalam model. Untuk hasil yang maksimal hanya dipilih
objek-objek tertentu.
 Setelah diklik objek, pilih Run dalam CCM.
 Setelah dilakukan running dan jika pada hasilnya ada beberapa objek
yang clash maka untuk melihat objek tersebut pada model, klik nama
objek pada CCM.
 Kemudian dilakukan perbaikan pada model, gambar permodelan
CCM disajikan pada Gambar 12.

Gambar 12 Permodelan balok yang terdeteksi oleh CCM


14

h. Penggunaan model organizer.


Model organizer digunakan agar seluruh komponen yang telah dibuat
dapat digabungkan berdasarkan klasifikasi yang diinginkan.
 Pada tab tools, kemudian dipilih model organizer.
 Kemudian terdapat menu object types dan dipilih new object types.
 Dibuat kategori tiap objek dengan memilih pada object types.
 Dikelompokkan semua objek berdasarkan elevasi atau per lantai
bangunan gedung. Model organizer pada chase tower disajikan pada
Gambar 13.

Gambar 13 Model organizer pemodelan chase tower

4. Pemodelan pembesian pada struktur konstruksi bangunan.


Untuk pembesian dimanfaatkan fitur dalam software Tekla Structures yaitu
component catalog. Component catalog tersimpan berbagai macam jenis
sambungan, bentuk pembesian, kombinasi pembesian, serta banyak lagi fitur
yang dapat dimanfaatkan. Contohnya dapat dilihat pada Gambar 9.

a. Membuka Component catalog.


 Langkah pertama diklik Detailing pada menu
 Kursor mouse diarahkan pada Component,
 Langkah terakhir diklik satu kali Component catalog.

b. Pembesian (penulangan) bore pile


 Dilihat dan diikuti Tahap 4. a.
 Dicari pada Concrete detailing, double klik pada Reinforcement, klik
kiri pada Column, dan double klik pada Round column reinforcement
(82).
 Pada jendela Round column reinforcement (82) data pembesian
dimasukkan dan disesuaikan berdasarkan data DED atau shop
drawing. Dapat dilihat pada gambar 14.
 Data yang telah selesai dimasukkan kemudian diklik Apply dan Ok.
 Lantai yang ingin diberikan pembesian diklik sekali, kemudian
ditekan tombol Esc pada keyboard jika sudah selesai.
15

Gambar 14 Tampilan Round column reinforcement (82)

c. Pembesian (penulangan) pile cap


 Dilihat dan diikuti Tahap 4. a.
 Dicari pada Concrete detailing, double klik pada Reinforcement, klik
kiri pada Foundation, dan double klik pada Pilecap reinforcement
(76).
 Pada jendela Pilecap reinforcement (76) data pembesian dimasukkan
dan disesuaikan berdasarkan data DED atau shop drawing. Dapat
dilihat pada gambar 15.
 Data yang telah selesai dimasukkan kemudian diklik Apply dan Ok.
 Lantai yang ingin diberikan pembesian diklik sekali, kemudian
ditekan tombol Esc pada keyboard jika sudah selesai.

Gambar 15 Tampilan Pilecap reinforcement (76)

d. Pembesian (penulangan) lantai (slab).


 Dilihat dan diikuti Tahap 4. a.
 Dicari pada Concrete detailing, double klik pada Reinforcement, klik
kiri pada Slab, dan double klik pada Slab bars (18).
 Pada jendela Slab bars (18) data pembesian dimasukkan dan
disesuaikan berdasarkan data DED atau shop drawing. Dapat dilihat
pada Gambar 16.
 Data yang telah selesai dimasukkan kemudian diklik Apply dan Ok.
 Lantai yang ingin diberikan pembesian diklik sekali, kemudian
ditekan tombol Esc pada keyboard jika sudah selesai.
16

Gambar 16 Tampilan Slab bars (18)

e. Pembesian (penulangan) kolom (column).


 Dilihat dan diikuti Tahap 4. a.
 Dicari pada Concrete detailing, double klik pada Reinforcement, klik
kiri pada Column, dan double klik pada Rectangular column
reinforcement (83).
 Pada jendela Rectangular column reinforcement (83) data pembesian
dimasukkan dan disesuaikan berdasarkan data DED atau shop
drawing. Dapat dilihat pada Gambar 17.
 Data yang telah selesai dimasukkan kemudian diklik Apply dan Ok.
 Kolom yang ingin diberikan pembesian diklik sekali, kemudian
ditekan tombol Esc pada keyboard jika sudah selesai.

Gambar 17 Tampilan Rectangular calomn reinforcement (83)

f. Pembesian (penulangan) balok (beam).


 Dilihat dan diikuti Tahap 4. a.
 Dicari pada Concrete detailing, double klik pada Reinforcement, klik
kiri pada Column, dan double klik pada Rebar in beam (90).
17

 Pada jendela Rebar in beam (90) data pembesian dimasukkan dan


disesuaikan berdasarkan data DED atau shop drawing. Dapat dilihat
pada Gambar 18.
 Data yang telah selesai dimasukkan kemudian diklik Apply dan Ok.
 Kolom yang ingin diberikan pembesian diklik sekali,
 Titik awal ujung balok diklik sekali dan titik akhir balok diklik sekali
 Kemudian ditekan tombol Esc pada keyboard jika sudah selesai.

Gambar 18 Tampilan Rectangular calomn reinforcement (83)

g. Pembesian (penulangan) dinding (wall/panel).


 Dilihat dan diikuti Tahap 4. a.
 Dicari pada Concrete detailing, double klik pada Reinforcement, klik
kiri pada Panel, dan double klik pada Wall panel (64).
 Pada jendela Wall panel (64) data pembesian dimasukkan dan
disesuaikan berdasarkan data DED atau shop drawing. Dapat dilihat
pada Gambar 19.
 Data yang telah selesai dimasukkan kemudian diklik Apply dan Ok.
 Kolom yang ingin diberikan pembesian diklik sekali, kemudian
ditekan tombol Esc pada keyboard jika sudah selesai.

Gambar 19 Tampilan Wall panel (64)


18

5. Modifikasi bagian desain berdasarkan kesesuaian terhadap DED maupun


shop drawing
Penelitian ini difokuskan pada perlakuan khusus terhadap tahapan bagian
pembesian yang akan dimodifikasi dan disesuaikan berdasarkan ketentuan
gambar detailed engineer drawing (DED) serta shop drawing. Pembesian
pada bagian-bagian khusus tersebut dijabarkan berdasarkan ketentuan dasar
perhitungan struktur bangunan yang digunakan oleh perusahaan perencana.
Selain itu, diberikan penjelasan terhadap kelebihan dan kekurangan selama
proses pemodelan menggunakan Tekla Structures dilaksanakan.

6. Penyusunan laporan akhir


Tahapan terakhir, dilakukan penyusunan laporan akhir yang berisi
keseluruhan proses yang sudah dikerjakan.

Diagram alir tahapan pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada gambar 20.

Gambar 20 Diagram alir pelaksanaan penelitian


19

HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil Proyek Chase Tower, Jakarta Selatan

Gedung Chase Tower merupakan sebuah bangunan gedung bertingkat tinggi


di Jakarta Selatan. Tujuan pembangunan gedung ini sebagai gedung perkantoran.
Pembangunan gedung Chase Tower bertempat di daerah Jl. Sudirman Kavling 21
Setiabudi, Jakarta Selatan, Jakarta. Kawasan ini merupakan jalan protokol/utama
Ibukota Jakarta dengan berdirinya gedung-gedung perkantoran di sepanjang jalan
ini.
Chase Tower memiliki jumlah total lantai sebanyak 50 lantai. Urutan pada
lantai dasar hingga puncak adalah basement, ground level, level 2 hingga level 47,
main roof, mechanical penthouse, dan penthouse. Total ketinggian gedung ini
mencapai 227.05 meter dari lantai basement hingga pucuk bangunan. Luas area
gedung ini mencapai 4823.47 m2 dan luas bangunan gedung ini mencapai 82503.24
m2. Keterangan lebih jelasnya berada di Lampiran 1.
Pembangunan gedung ini melibatkan beberapa perusahaan dalam proses
pelaksanaan. Perusahaan-perusahaan tersebut terbagi menjadi tiga bagian
pekerjaan, yaitu perencana, konsultan dan kontraktor (lihat Lampiran 1). PT.
Arkonin merupakan sebuah perusahaan yang secara khusus berperan sebagai
perusahaan konsultan manajemen konstruksi dalam proyek pembangunan gedung
ini. Perusahaan konsultan manajemen konstruksi memiliki tugas mengelola sumber
daya yang terlibat dalam proyek dapat teraplikasikan secara tepat. Sumber daya
dalam proyek konstruksi dikelompokkan dalam 5M diantaranya: manpower,
material, mechines, money and method. Manajemen konstruksi memiliki fungsi
mampu mengkoordinasikan dan mengkomunikasikan seluruh pihak antara owner,
kontraktor, suplier, dan semua pihak yang terlibat dalam proyek yang dikerjakan
ini sehingga dapat mencapai tujuan dengan tepat waktu dan mutu yang diharapkan.

Gambar 21 Bagan hubungan fungsi dan tugas manajemen konstruksi (Dipohusodo


1996)

Standar acuan merupakan sebuah bagian utama dalam merencanakan suatu


kegiatan terutama pada pekerjaan konstruksi. Standar acuan memiliki fungsi
sebagai dasar hukum dalam melaksanakan maupun merancang suatu rancangan
20

bangunan. Buku spesifikasi konstruksi untuk proyek Chase Tower merujuk pada
standar ACI (American Concrete Institute), ASTM (American Society for Testing
and Material), AWS (American Welding Society) dan CRSI (Concrete Reinforcing
Steel Institute) sebagai acuan untuk merancang struktur beton konstruksi bangunan.
Spesifikasi bagian struktur beton ini mengatur semua pekerjaan beton untuk
menyelesaikan proyek ini, kecuali terdapat persyaratan yang lebih ketat atau perlu
adanya perlakuan khusus. Seluruh pekerjaan beton harus sesuai dengan spesifikasi
agar mendapatkan hasil kekuatan beton yang homogen pada seluruh struktur. ACI
serta CRSI merupakan spesifikasi yang mengatur dasar-dasar perencanaan beton
maupun beton bertulang untuk struktur beton. ASTM untuk mengatur dasar-dasar
tahapan pengujian dan penggunaan bahan material sesuai dengan spesifikasi
standar material. AWS merupakan standar pengembangan ilmu, teknologi, dan
aplikasi pada proses pengelasan baja dalam proses penyambungan maupun
pemotongan baja.
Pelaksanaan pekerjaan konstruksi proyek ini secara teknis terbagi menjadi
empat tahapan pekerjaan konstruksi dan tiga zona pekerjaan pada setiap lantai.
Tahapan pekerjaan konstruksi antara lain membuat cetakan (bekisting),
pembesian/perakitan besi tulangan, pengecoran (menuangkan beton) dalam cetakan
(bekisting), dan perawatan beton bertulang. Tiga zona pekerjaan konstruksi
memotong bagian struktur gedung menjadi tiga bagian. Pembagian tiga zona ini
memiliki tujuan untuk mendapatkan kekuatan struktur beton tertinggi dengan
meminimasi jumlah peralatan penunjang pekerjaan konstruksi.
Pekerjaan struktur konstruksi gedung ini berurutan secara teknis yaitu saat
zona satu telah selesai mengerjakan proses merakit cetakan (bekisting) dan merakit
tulangan, selanjutnya pada zona dua melaksanakan proses persiapan merakit
cetakan. Zona satu melaksanakan proses menuangkan beton, maka zona dua sedang
dalam proses merakit tulangan beton dan zona tiga persiapan merakit cetakan
(bekisting). Zona satu mulai melepaskan cetakan setelah usia beton tujuh hari dan
memasuki proses perawatan beton, maka zona dua telah selesai proses percetakan
dan pembesian serta siap untuk proses pengecoran dan zona tiga dalam tahap
pembesian/perakitan besi tulangan. Proses ini berlanjut hingga proses pada lantai
di atasnya.

Gambar 22 Pembagian zona pada pembangunan lantai (Arkonin 2013)


21

Beton struktur lantai dan balok dapat melepaskan cetakan pada umur tujuh
hari pada tiap zona, namun tidak dapat melepaskan peralatan penunjang struktur
seperti penyangga/perancah (scaffolding) hingga umur beton mencapai 28 hari.
Alasan waktu melepaskan alat penyangga (scaffolding) sebelum umur beton 28 hari
adalah kekuatan beton belum mencapai maksimum dengan nilai koefisien kuat
tekan beton adalah satu (100%) (lihat Tabel 1).
Terdapat dua tipe teknik memasang scaffolding berdasarkan lokasi
pemasangan yang disebut shoring dan reshoring. Shoring merupakan teknik
memasang scaffolding yang berada tepat di bawah lokasi pengecoran namun
memasangnya harus rapat dengan jarak maksimum antar-scaffolding 30 cm.
Reshoring merupakan teknik memasang scaffolding yang berada pada level kedua
dan ketiga di bawah lokasi pengecoran dengan syarat jarak maksimum antar-
scaffolding adalah 2 meter. Reshoring mengijinkan melepaskan beberapa bagian
bekisting selain struktur utama (contoh: balok dan kolom).
Fungsi shoring dan reshoring yaitu membantu menyalurkan beban pada
kolom, balok, shear wall, dan slab (lantai) ke seluruh bagian dengan merata pada
struktur bagian bawah karena kondisi beton belum mencapai kering sempurna dan
mencapai kuat tekan beton maksimum (umumnya usia beton 28 hari). Selain itu
untuk mempercepat waktu pekerjaan konstruksi tanpa menghilangkan kekakuan
struktur.

Tabel 1 Perbandingan kuat tekan beton pada berbagai umur (PBI-1971)

Umur beton 3 7 14 21 28 90 365


Semen Portland biasa 0.40 0.65 0.88 0.95 1.00 1.20 1.35
Semen Portland dengan
kekuatan awal yang tinggi 0.55 0.75 0.90 0.95 1.00 1.15 1.20

Tekla Structures v17

Tekla Structures merupakan sebuah perangkat lunak rancang bangun suatu


bangunan secara virtual. Program (software) ini mampu menggambarkan dan/atau
memodelkan bentuk rancangan suatu bangunan secara rinci (detail), serta mampu
memberikan informasi bangunan dengan jelas. Tekla menggunakan media
komputasi sebagai tahapan pemodelan dalam proses perencanaan. Tekla dapat
menampilkan suatu pemodelan dalam bentuk 3D, 4D (model dan jadwal
pekerjaan), maupun 5D (model, jadwal pekerjaan dan estimasi biaya).
Tekla adalah aplikasi Building Information Model (BIM) yang dikembangkan
oleh Tekla Corporation untuk keperluan perhitungan dan rekayasa struktur
termasuk juga fitur-fitur komprehensif yang bisa digunakan bagi para detailer,
fabricator, manufaktur dan constructor. Tekla Corporation berdiri di kota Espoo,
Finlandia pada tahun 1966. Tekla Structures merupakan program yang dapat
membantu penyelesaian suatu proyek mulai dari proses perencanaan (pemodelan,
analisa struktur, pendetailan), hingga proses pelaksanaan (fabrikasi dan manajemen
kontruksi) (Erlina 2011).
Tekla Structures adalah sebuah software pemodelan dengan konsep BIM tiga
dimensi (3D) dengan seluruh objek struktur terpresentasi lengkap dengan segala
informasinya. Tekla Structures dapat menggabungkan kemampuan pemodelan,
22

analisa, dan desain struktur lengkap dengan detil dan gambar perencanaannya.
Keuntungan menggunakan Tekla Structures pada konstruksi adalah kualitas tinggi
dan dokumentasi akurat dari proses konstruksi, perbaikan manajemen konstruksi,
meningkatkan interaksi antara arsitek, insinyur dan kontraktor, memungkinkan pra-
fabrikasi dari berbagai komponen konstruksi untuk meminimalkan kesalahan
(Roginski 2011). Para perencana (engineer) dapat merasakan kenyamanan serta
kemudahan sebab terjadinya kesatuan antara model, analisis, dan gambar. Hasilnya
yaitu mengurangi persentase kesalahan yang terjadi dan meningkatkan
produktivitas. Tekla Structures dapat merevisi kesalahan saat perencanaan dengan
mudah dan cepat.
Fasilitas Tekla Structures yaitu mampu terintegrasi dengan beberapa software
perancanaan konstruksi lainnya. Software yang mampu terintegrasi bersama Tekla
Structures antara lain SAP, STAAD, S-Frame, GTStrudl, dan Robot. Tekla pun
mampu terkoneksi antar-pengguna hingga 40 pengguna sebab software ini
menggunakan teknologi server multiuser. Software ini terhubung dengan berbagai
jenis sistem melewati Tekla Open API. IFC, CIS/2, DSTV dan SDNF merupakan
contoh format biasa yang didukung oleh Tekla Structures, sedangkan DWG, DGN
dan DXF merupakan contoh dari format yang sudah jadi hak milik yang didukung
oleh Tekla Structures (Jian Xinan 2011).
Proses pelaksanaan penelitian ini terdiri dari dua tahapan pelaksanaan, yaitu
pemodelan struktur bangunan dan rekonstruksi desain pembesian pada konstruksi.
Pelaksanaan kedua tahapan tersebut berdasarkan data detailed engineer drawing
(DED) dan shop drawing untuk seluruh seluruh konstruksi gedung. Data-data
tersebut berupa gambar dua dimensi (2D) beserta detail, seperti dimensi struktur,
titik lokasi struktur, jarak penempatan tulangan, maupun elevasi struktur.
Tekla Structures sebagai perangkat lunak dengan konsep BIM (Building
Information Modelling) membutuhkan perangkat lunak lain yaitu Tekla BIMSight
dari Tekla Corporation, walaupun Tekla berperan utama dalam software
perencanaan dan/atau pemodelan. Keuntungan menggunakan Tekla BIMSight
yaitu mampu menggabungkan dan memeriksa model suatu proyek untuk seluruh
anggota tim proyek, mengelola komunikasi dan perubahan yang terjadi tanpa batas
dalam waktu yang cepat, dan mampu mengidentifikasi masalah perencanaan berupa
bentrokan yang terjadi pada saat tahap perencanaan terlaksana.
Building Information Modelling (BIM) adalah sebuah kumpulan data,
orientasi objek, representasi digital yang cerdas dan membentuk beragam fasilitas
data, dapat memberikan bentuk model dan data yang sesuai dengan kebutuhan
berbagai pengguna sehingga dapat terekstraksi dan teranalisis untuk menghasilkan
informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan dan untuk
meningkatkan proses penyampaian keadaan (AGC 2005). BIM merupakan sebagai
sebuah karakteristik geometri, hubungan spasial, informasi geografis, jumlah dan
sifat elemen bangunan, perkiraan biaya, persediaan bahan (material) serta jadwal
proyek. Pemodelan ini dapat menunjukkan seluruh siklus pekerjaan bangunan
(Bazjanac 2004).
Center for Integrated Facility Engineering (CIFE) milik Stanford University
menyebutkan beberapa manfaat BIM yaitu mampu mengurangi anggaran biaya
hingga 40%, ketepatan biaya estimasi tidak lebih dari 3%, pengurangan waktu pada
perkiraan biaya hingga 80%, menyimpan hingga 10% dari nilai kontrak terhadap
adanya kesalahan, dan mengurangi waktu pekerjaan proyek hingga 7% (CIFE
23

2007). Keuntungan utama dari BIM adalah ketepatan representasi geometri tiap
bagian struktur pada bangunan dengan keadaan sekitarnya (CRC Construction
Innovation 2007). Keuntungan BIM lainnya yaitu proses menjadi lebih cepat dan
efektif, desain yang lebih baik, dapat mengontrol seluruh pembiayaan, perakitan
secara otomatis, melayani pelanggan secara lebih baik, dan data-data yang saling
terhubung antara perencana, pelaksana, pengawas, dan pemilik proyek.

Pemodelan Struktur Menggunakan Tekla Structures v17

Modelisasi struktur bangunan gedung Chase Tower menggunakan software


Tekla Structures v17 dengan data pendukung berupa DED dan shop drawing.
Pemodelan bangunan struktur gedung mencakup seluruh komponen struktur
gedung. Komponen struktur bangunan yang termodelkan yaitu pondasi, lantai
(slab), kolom (column), dinding geser (shear wall), balok (beam), dan tangga beton
(stairs) (lihat Lampiran 3 dan 4). Tahapan terakhir dan menjadi tahapan utama yaitu
membuat desain pembesian/tulangan beton pada komponen struktur bangunan
yang telah menjadi model bangunan 3D.
Tahapan awal yaitu membuat grid sebagai garis pola. Grid dalam kamus
Bahasa Inggris memiliki arti sebagai jaringan atau sebuah pola garis horizontal dan
vertikal dengan jarak yang teratur. Grid merupakan garis bayangan atau pola dasar
untuk memudahkan saat mengerjakan pemodelan. Titik potongan antara dua buah
garis grid memiliki fungsi titik poin acuan dalam membuat model suatu konstruksi
pada software Tekla Structures.
Software Tekla Structures membuat garis grid terhadap sumbu X, Y, dan Z.
Penampakan pada layout kerja dasar Tekla Structures dari atas memperlihatkan
garis horizontal sebagai sumbu X dan garis vertikal sebagai sumbu Y. Sumbu Z
layout menunjukkan elevasi atau ketinggian pada tahapan struktur ke atas (lihat
Gambar 3).
Pondasi merupakan sebuah perangkat dasar pada struktur suatu bangunan.
Pondasi memiliki fungsi untuk menyalurkan beban konstruksi bangunan ke dalam
tanah. Daya dukung tanah mempengaruhi kuat mampu tahan suatu konstruksi
terhadap adanya beban mati, beban hidup, beban angin, beban gempa, dan beban
lainnya untuk dapat berdiri dengan kokoh. Pondasi bangunan adalah struktur bagian
bawah bangunan yang berhubungan langsung dengan tanah atau bagian bawah
bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah yang memiliki fungsi memikul
beban bangunan lainnya di atasnya (Zulkifli dan Rachmat, 2012).
Menurut Zulkifli dan Rachmat (2012) pondasi mempunyai syarat-syarat
teknis yaitu harus kuat untuk mencegah/menghindarkan timbulnya patah dan
bergeser akibat muatan beban tegak, dapat menyesuaikan kemungkinan terjadinya
gerakan-gerakan tanah, dapat menahan gangguan dari unsur-unsur kimiawi
(organik maupun anorganik) dalam tanah, dan menahan gerakan air yang mungkin
terjadi. Kriteria-kriteria tersebut menjadi dasar perlu adanya percobaan/analisa
teknis terhadap daya dukung tanah terutama untuk bangunan bertingkat. Macam-
macam analisa daya dukung tanah pada konstruksi yaitu uji kuat tekan tanah
(sondir), SPT (Standart Penetration Test), loading test, uji CBR (California
Bearing Ratio). Proyek Chase Tower menggunakan teknik load test
(kentledge/kubus beton) dalam uji daya dukung tanah. Skema uji load test dapat
dilihat pada Lampiran 21.
24

Bentuk konstruksi pondasi pada proyek ini yaitu berupa bore pile dan pile
cap. Bore pile (pondasi Caissons) adalah bentuk pondasi dalam di bawah
permukaan tanah. Bore pile umumnya adalah beton bertulang dengan bentuk
silinder. Bore pile menggunakan metode bor untuk membuat lubang pondasi ke
dalam tanah hingga batas maksimum daya dukung tanah. Tahapan selanjutnya
memasukkan rangkaian tulangan ke dalam lubang tanah hasil pengeboran. Tahap
terakhir yaitu menuangkan beton ke dalam lubang.
Pile cap merupakan bagian dari sebuah pondasi. Fungsi dari pile cap sebagai
penerima beban dari kolom-kolom dan menyalurkannya ke pondasi bore pile. Pile
cap pun memiliki fungsi mengikat beberapa bore pile agar penyaluran beban dari
kolom dapat merata ke seluruh bore pile. Bore pile menerima 1/N (N adalah jumlah
kelompok pile) dari beban oleh kolom, dan harus ≤ daya dukung izin (ton).
Pile cap hampir menutupi seluruh bagian utama dasar bangunan pada proyek
Chase Tower, membentuk lantai pengikat seluruh bore pile bagian utama
bangunan. Kedalaman pile cap pondasi antara 2,800-5,600 mm. Kedalaman 2,800
pada segmen/bagian yang bukan berada dalam core (inti) bangunan. Kedalaman
pile cap mencapai 4,300 mm untuk bagian luar akibat adanya penempatan lift, sebab
terjadi penurunan muka pile cap sejauh 1,500 mm. Kedalaman 5,600 untuk bagian
core (inti) sebab bagian ini memiliki fungsi sebagai akses lift bangunan gedung.
Pile cap mengalami penurunan elevasi sejauh 2,800 mm ke dalam tanah.
Kolom (column) merupakan komponen struktur dengan rasio tinggi terhadap
dimensi lateral terkecil melebihi tiga yang digunakan terutama untuk mendukung
beban aksial tekan (ACI 318-11 2011). SNI T-15-1991-03 tentang Tata Cara
Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung mendefinisikan kolom
sebagai komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban
aksial tekan vertikal. Syaratnya adalah dengan bagian tinggi yang tidak ditopang
paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil.

Gambar 23 Denah kolom berdasarkan tipe kolom (Arkonin, 2012)

Ali Asroni (2010) menyatakan kolom memiliki fungsi sebagai pendukung


beban-beban dari balok dan pelat, untuk diteruskan ke tanah dasar melalui pondasi.
Beban balok dan pelat ini berupa beban aksial tekan serta momen lentur (akibat
25

kontinuitas konstruksi). Berdasarkan penjelasan tersebut, kolom memiliki definisi


yaitu suatu struktur yang mendukung beban aksial dengan/tanpa momen lentur.
Kolom termasuk bagian dari struktur bangunan atas dan merupakan komponen
yang paling penting sebab ketika kolom mengalami kegagalan maka dapat
mengakibatkan keruntuhan pada struktur bangunan atas gedung.
Kolom (column) struktur bangunan Chase Tower memiliki dimensi bervariasi
tergantung pada posisi/titik penempatan kolom dan elevasi/ketinggian. Setiap
kolom memiliki kode/tipe untuk setiap bagian, di antaranya yaitu C1, C2, C3, G-
C1, G-C2, G-C3, G-C4, G-C5, G-C6, G-C6A, G-C7, G-C8, G-C9, G-C10, dan G-
C11. Letak atau posisi kolom berdasarkan kode dapat terlihat pada Gambar 23.
Dimensi kolom pada basement untuk C1 adalah 1,400 x 1,400 mm, C2 adalah 1,300
x 1,300 mm, dan C3 adalah 1,300 x 1,300 mm. Perubahan dimensi terjadi pada
lantai/level 3, dimensi pada C1, C2, dan C3 adalah 1,250 x 1,250 mm. Dimensi
kolom pada lantai/level 17 mengalami perubahan pada C1, C2, dan C3 menjadi
1,150 x 1,150 mm. Dimensi kolom pada lantai/level 28 mengalami perubahan pada
C1, C2, dan C3 menjadi 1,050 x 1,050 mm. Dimensi kolom pada lantai/level 33
mengalami perubahan pada C1, C2, dan C3 menjadi 950 x 950 mm. Dimensi kolom
pada lantai/level 38 mengalami perubahan pada C1, C2, dan C3 menjadi 800 x 800
mm. Data perubahan dimensi kolom merujuk pada Lampiran 8. Contoh hasil
pemodelan kolom pada Gambar 4.
Balok merupakan elemen struktur yang menyalurkan beban-beban tambahan
(tributary) dari lantai (slab) ke kolom penyangga yang vertikal (Edward, 1998).
Balok adalah suatu anggota struktur yang berfungsi untuk memikul beban
transversal dan menyalurkannya beban ke kolom, selain itu untuk mengikat struktur
bangunan. Bentuk konstruksi balok (beam) terhubung menjadi satu dengan lantai
(slab) pada proyek Chase Tower, nampak pada desain pembesian/penulangan dan
pengecoran yang dilakukan bersamaan dengan lantai. Analogi penyaluran beban
yaitu lantai mendapatkan/menerima beban, kemudian balok mengumpulkan
dan/atau menyalurkan beban tersebut menuju kolom bangunan.

Gambar 24 Denah balok penopang lantai B03-17 (Arkonin, 2012)


26

Balok pada setiap lantai memiliki kode yang berbeda-beda berdasarkan


letak/posisi maupun fungsinya. Balok dengan perbedaan kode pun memiliki
perbedaan pada dimensi (lebar, tinggi, dan panjang) serta bentuk penulangan. Balok
beton memiliki empat fungsi pada proyek Chase Tower, yaitu balok penopang
lantai, balok pengikat pada setiap kolom (moment frame beam), balok pengikat pile
cap dan balok pengikat pada shear wall (link beam). Salah satu contoh balok
penopang lantai yaitu B03-17 yang terletak pada level 3 (elevasi 22,550 mm),
memiliki jumlah balok empat buah. Panjang balok B03-17 antara grid C-C dan C-
E sebanyak dua buah dan antara grid C-G hingga C-J sebanyak dua buah. Dimensi
balok B03-17 yaitu lebarnya (width) 400 mm dan kedalaman (depth) 600 mm.
Panjang balok B03-17 yaitu 9,500 mm, dan tipe balok B03-17 adalah tipe IV.
Denah lokasi balok B03-17 dapat terlihat pada Gambar 24.
Contoh balok pengikat kolom (moment frame beam) yaitu MFB1. Balok
MFB1 memiliki dimensi berbeda-beda (lihat Lampiran 16) untuk balok pengikat
kolom (moment frame beam). Contoh spesifikasi balok MFB1 untuk level 5 (elevasi
30,550 mm) memiliki dimensi lebar (width) 600 mm dan kedalaman (depth) 800
mm. Perbedaan balok MFB1 terletak pada desain pembesian/penulangan. Lokasi
balok MFB1 dapat terlihat pada Gambar 25.

Gambar 25 Denah balok pengikat kolom MFB1 (Arkonin, 2012)

Gambar 26 Denah balok pengikat shear wall tipe LB1 (Arkonin, 2012)
27

Contoh balok pengikat shear wall (link beam) yaitu LB1. Balok link beam
memiliki dimensi berbeda-beda berdasarkan tipe balok (lihat Lampiran 17) untuk
balok pengikat shear wall (link beam). Contoh LB1 pada level 35 (elevasi 150,550
mm) memiliki dimensi lebar (width) 500 mm dan kedalaman (depth) 1,000 mm.
Perbedaan balok link beam terletak pada desain pembesian/penulangan serta
dimensi balok yang berbeda pada setiap level.
Lantai (slab) merupakan bagian struktur bangunan, memiliki fungsi sebagai
tempat melakukan aktifitas terutama pada elevasi di atas tanah. Lantai (slab)
menggunakan lantai beton dengan sistem pembesian/penulangan pada proyek
Chase Tower. Pelaksanaan membuat lantai beton langsung di lokasi pada Chase
Tower, mulai dari perakitan pembesian/penulangan hingga pengecoran/penuangan
beton. Lantai beton memiliki ketebalan bervariasi berdasarkan lokasi lantai, fungsi
dan keadaan khusus. Lantai pada lokasi core (inti) rata-rata memiliki ketebalan 150
mm, sedangkan lantai untuk bagian luar memiliki ketebalan rata-rata 125 mm
dalam setiap level. Fungsi lantai pada bagian terluar sebagai lokasi perkantoran.
Keadaan khusus pada lantai yaitu terdapat perubahan ketebalan, sebab
terdapat adanya lubang (hole) perpipaan, lantai cantilever, serta bagian fungsi
khusus seperti toilet. Lantai cantilever memiliki ketebalan mencapai 200-350 mm
pada bagian luar bangunan. Ketebalan lantai untuk proyek bangunan ini dapat
terlihat pada Tabel Reinforced Concrete One-way Slab Schedule (lihat Lampiran
7).
Shear wall (dinding geser) adalah komponen struktur yang berfungsi untuk
meningkatkan kekakuan struktur dan menahan gaya-gaya lateral (SNI T-15-1991-
03). Menurut Wolfgang Schueller (1977), shear wall (dinding geser) merupakan
elemen kaku vertikal yang dirancang untuk menahan beban/gaya lateral yang
bekerja pada bangunan terhadap adanya angin atau gempa. Definisi lain
menjelaskan shear wall merupakan dinding yang dirancang untuk menahan
beban/gaya geser dan beban/gaya lateral akibat gempa bumi. Pada umumnya
merupakan jenis struktur dinding yang berbentuk beton bertulang yang biasanya
digunakan pada dinding-dinding lift pada gedung-gedung tinggi. Struktur jenis ini
dapat tergunakan pada dinding-dinding yang memerlukan kekakuan dan ketahanan
khusus. Konstruksi pembangunan gedung Chase Tower menggunakan jenis/tipe
core, yaitu lokasi inti bagian struktur berada di bagian tengah bangunan.
Setiap shear wall memiliki tipe/kode pada konstruksi bangunan gedung ini
karena setiap kode menentukan lokasi, spesifikasi pembesian/penulangan, serta
dimensi yang berbeda-beda. Tipe/kode shear wall yaitu P1A, P1B, P2, P3, P4, P5,
P6, P7A, P7B, P8, P9A, P9B, P10, P11, P12, P13, P14A, dan P14B. Contoh hasil
pemodelan terlihat pada Gambar 7. Salah satu contoh shear wall berdasarkan posisi
yaitu P1A yang berada pada level 2 memiliki ketebalan dinding 600 mm, sedangkan
untuk level 16 ketebalannya berkurang menjadi 500 mm. Kebebatan dinding pun
berbeda antara P1A dan P3 pada level 2, yaitu P1A memiliki ketebalan 600 mm
sedangkan P3 memiliki ketebalan 250 mm.
Hasil pemodelan seluruh bangunan struktur gedung dapat terlihat pada
Lampiran 25. Pemodelan gedung berdasarkan data-data konstruksi, yaitu DED dan
shop drawing. Fungsi bagian gedung ini utamanya adalah sebagai gedung
perkantoran pada sisi luar core, sedangkan bagian core berfungsi sebagai
penempatan sarana maupun prasarana gedung antara lain toilet pria dan wanita,
tangga darurat, lift, gudang, electrical, dan perpipaan (plumbing).
28

Pengelompokan dan Evaluasi model

Tekla Structures v17 menyediakan tools untuk mengelompokan bagian


struktur hasil pemodelan yang telah selesai. Fungsi pengelompokan ini yaitu
memudahkan dalam mengelola hasil pemodelan. Pengelompokan menggunakan
fungsi tools model organizer. Model organizer merupakan sebuah tool dalam Tekla
Structures 17 yang berguna dalam mengelola objek yang terdapat pada model
dengan mudah (Richard 2007). Pengelompokan bagian model sesuai dengan
keinginan pengguna software ini. Pengelompokan pada penelitian untuk gedung ini
berdasarkan elevasi/level.
Pengelompokan yang telah selesai kemudian mengalami evaluasi untuk
mengetahui kesalahan dapat model bangunan gedung Chase Tower. Tools evaluasi
model menggunakan clash and check manager. Kesalahan pada model dapat
berupa adanya bentrokan antar bagian struktur, penulangan yang tidak berada
dalam model, maupun model yang tidak berada pada titik lokasinya. Proses evaluasi
model terlihat pada gambar 12. Clash and check manager mampu meningkatkan
efisiensi waktu pengecekan model, efektivitas penggunaan sumber daya manusia
serta menurunkan tingkat kesalahan pekerjaan yang berdampak pada anggaran.

Rekonstruksi pekerjaan pembesian secara 3D

Pembesian/penulangan merupakan pekerjaan dasar dalam membuat struktur


beton bertulang. Hampir seluruh struktur bagian gedung Chase Tower
menggunakan beton bertulang. Beton bertulang merupakan bagian yang melibatkan
beberapa material yaitu beton dan besi tulangan baja. Proses membuat beton
bertulang untuk struktur gedung melalui beberapa tahapan pekerjaan yaitu
pembesian/perakitan besi tulangan, perakitan bekisting (cetakan), dan pengecoran.
Pembesian sebagai tahapan dasar pembuatan beton bertulang sehingga
perencanaan, pelaksanaan, serta pengawas harus teliti. Gambar desain hasil
perencana harus sesuai dengan ketentuan/standar penggunaan.
Rekonstruksi pekerjaan pembesian secara 3D dapat menunjukkan kesesuaian
perencanaan pembesian/penulangan konstruksi dengan keadaan nyata di lapangan.
Hasil pemodelan pembesian/penulangan secara 3D yang tepat dapat memudahkan
pelaksanaan pekerjaan, sebab gambar bentuk 3D mewakili bentuk nyata di
lapangan. Tekla Structures mampu menghasilkan gambar 2D dari gambar 3D hasil
pemodelan. Gambar 2D tersebut dapat menjadi gambar teknik konstruksi bangunan
tanpa harus mengulang kembali untuk membuat gambar 2D, bahkan hasil gambar
2D lebih teliti dengan adanya spesifikasi teknis. Dasar mendesain menggunakan
Tekla Structures v17 yaitu harus mampu membayangkan bentuk suatu benda secara
3D, pola menggambar bergeser dari hanya 2D menjadi 3D.
Pemodelan pembesian/penulangan menggunakan tools pada Tekla Structures
v17 yaitu component catalog. Component catalog menyimpan berbagai macam
bentuk detail suatu model konstruksi baja maupun beton. Isi dalam component
catalog antara lain model sambungan baja, pembesian/penulangan (reinforcement)
beton, bentuk tangga beton dan baja, inbedded (angkur), export and import hasil
gambar, bolts (baut sebagai sambungan), dan lain-lainnya. Component catalog
khusus untuk pembesian/penulangan (reinforcement) terdapat pada concrete
detailing. Component catalog mampu meningkatkan efisiensi waktu pekerjaan
29

perencana dalam mendesain bentuk detail suatu konstruksi.


Pembesian untuk pondasi berdasarkan DED dan shop drawing berawal dari
bagian bore pile. Gambar spesifikasi teknis DED detail rancangan (desain)
pembesian untuk bore pile dapat terlihat pada Lampiran 5. Contoh spesifikasi
teknik bore pile pada bagian inti bangunan antara lain diameter bore pile yaitu 1,000
mm (tipe C). Tahapan pembesian untuk bore pile menggunakan round column
reinforcement (82) berdasarkan Metode 4(b) pada component catalog program
Tekla. Satu buah bore pile harus mengalami lima kali tahapan sebab penulangan
dalam bore pile terbagi menjadi lima bagian (section).

Gambar 27 Hasil pemodelan pembesian/penulangan bore pile

Contoh salah satu bore pile memiliki panjang 43,550 mm, pada bagian
pertama tulangan memiliki panjang total 11,450 mm dengan bagian inti sepanjang
9,000 mm, bagian lap splice antara bagian pertama dan kedua sepanjang 1,300 mm
dan bagian pengikat ke pile cap sepanjang 1,150 mm. Diameter tulangan pada
bagian ini adalah 29 mm dengan jumlah 10 batang. Bagian kedua tersambung pada
kedalaman 9,000 mm dari permukaan pile dengan diameter batang 25 mm dan
jumlah 8 batang. Panjang total batang bagian kedua yaitu 10,150 mm dengan lap
splice antara bagian kedua dan ketiga sepanjang 1,150 mm, panjang inti bagian
kedua adalah 9,000 mm. Tulangan bagian ketiga memiliki diameter tulangan 22
mm dan jumlahnya 7 buah batang. Panjang total bagian ketiga adalah 10,000 mm
30

dengan panjang inti 9,000 mm dan lap splice antara bagian ketiga dan keempat
1,000 mm. Titik awal pemasangan section ketiga pada kedalaman 18,000 mm.
Bagian keempat memiliki diameter batang 22 mm dan jumlahnya 5 buah batang.
Panjang total batang tulangan adalah 10,000 mm, dengan panjang inti tulangan
9,000 mm dan lap splice antara bagian keempat dan kelima 1,000 mm. Titik awal
pemasangan tulangan bagian keempat adalah pada kedalaman 27,000 mm dari
muka pile. Bagian kelima tulangan bore pile memiliki diameter batang tulangan 22
mm dan jumlahnya 5 buah batang. Panjang total batang tulangan bagian kelima
adalah 5,475 mm. Titik awal pemasangan tulangan pada kedalaman 36,000 mm dan
berakhir pada 75 mm dari bagian dasar bore pile.
Sengkang (stirrups) untuk bore pile pada konstruksi bangunan ini
membentuk alur spiral. Sengkang pada konstruksi bagian ini terbagi menjadi enam
bagian berdasarkan jarak (space) dan penggunaan diameter tulangan. Sengkang
pada bagian pertama memiliki jarak 100 mm dengan diameter sengkang 13 mm.
Pemasangan tulangan stirrups bagian pertama pada kedalaman 75-3,000 mm dari
muka bore pile. Stirrups bagian kedua memiliki jarak 150 mm dan diameter stirrups
13 mm. Pemasangan tulangan stirrups bagian kedua pada kedalaman 3,000-9,000
mm. Stirrups bagian ketiga memiliki jarak 200 mm dan diameter stirrups 13 mm.
Pemasangan tulangan stirrups bagian ketiga pada kedalaman 9,000-18,000 mm.
Stirrups bagian keempat memiliki jarak 200 mm dan diameter stirrups 13 mm.
Pemasangan tulangan stirrups bagian keempat pada kedalaman 18,000-27,000 mm.
Stirrups bagian kelima memiliki jarak 200 mm dan diameter stirrups 10 mm.
pemasangan tulangan stirrups bagian kelima pada kedalaman 27,000-36,000 mm.
Stirrups bagian keenam memiliki jarak 300 mm dan diameter stirrups 10 mm.
pemasangan tulangan stirrups bagian keenam pada kedalaman 36,000 mm hingga
75 mm dari dasar bore pile. Pemodelan pembesian bore pile berada di Lampiran 5.
Pile cap termasuk dalam bagian pondasi. Pembesian/penulangan pada pile
cap menggunakan salah satu library pada component catalog, yaitu pile cap
reinforcement (76). Data input untuk pile cap merujuk pada Lampiran 6. Tahapan
membuat model pembesian/penulangan terdapat pada Metode 4(c) yaitu pembesian
untuk pile cap. Pembesian/penulangan pile cap terdiri atas dua lapisan pembesian
dengan sudut hook 90° pada bagian sudut ujung batang baja. Diameter tulangan
baja berukuran 32 mm untuk pile cap utama pada lapisan atas dan bawah. Untuk
diameter tulangan pile cap lainnya adalah 28 mm untuk lapisan bawah dan 25 mm
untuk lapisan bawah. Tulangan diameter 16 mm mengikat tulangan utama lapisan
atas dan bawah pada bagian sisi-sisi pile cap, berlaku untuk semua pile cap. Fungsi
tulangan baja pengikat adalah agar tulangan tidak mengalami pergeseran pada saat
menerima beban termasuk adanya beban gempa. Jarak tulangan batang baja dari
kulit beton adalah untuk lapisan bawah sejauh 175 mm, untuk lapisan atas sejauh
50 mm dan sisi samping adalah 75 mm. Lapisan bawah sangat jauh sebab adanya
panjang permukaan bore pile yang masuk ke dalam pile cap sejauh 100 mm.
Tujuannya agar daya ikat antara bore pile dan pile cap menjadi kuat. Hasil
pemodelan pada penulangan pile cap terlihat pada Gambar 28 dan Gambar 29 di
bawah ini.
31

Gambar 28 Hasil pemodelan pembesian/penulangan pile cap utama

Gambar 29 Hasil pemodelan pembesian/penulangan pile cap tunggal

Slab (lantai) merupakan komponen struktur bangunan sebagai tempat untuk


melakukan aktifitas, utamanya pada gedung bertingkat memiliki banyak lantai.
Pemodelan pembesian/penulangan lantai beton menggunakan tahapan pada Metode
4(d). Pembesian untuk lantai terdiri atas dua lapisan tulangan baja. Setiap lapisan
tulangan baja membentuk sususan secara vertikal maupun horizontal. Perbedaaan
bentuk tulangan terdapat pada lokasi lantai, ukuran lantai, bagian khusus, dan lantai
cantilever. Shop drawing struktur lantai pada level 35 dapat terlihat pada Lampiran
19, sedangkan untuk spesifikasi teknik lantai berdasarkan DED terdapat pada
Lampiran 7. Bentuk tulangan untuk lapisan bawah yaitu menutupi seluruh bagian
lapisan bawah, sedangkan untuk lapisan atas terbagi menjadi dua daerah yaitu
daerah lapang dan tumpuan.
Besi baja tulangan menyusun lapisan, untuk setiap lapisan pada lantai terdiri
dari tulangan atas primer, tulangan bawah primer, tulangan lapisan atas sekunder,
tulangan lapisan bawah sekunder, dan tulangan tambahan. Diameter tulangan
lapisan atas dan bawah primer memiliki diameter 13 mm sedangkan untuk lapisan
atas dan bawah sekunder memiliki diameter 10 mm. Besi tulangan lapisan atas dan
bawah sekunder mengalami tekukan (hook) 90° pada salah satu ujung menempel
pada shear wall. Tulangan lapisan atas primer memiliki bentuk memanjang
memotong balok, dengan panjang syarat yaitu 0.33L dari tepi balok. “L”
32

merupakan panjang atau rentang lantai dari satu tepi balok ke tepi balok lainnya.
Contoh hasil pemodelan untuk level 35 terlihat pada Gambar 31 di bawah ini.

Gambar 30 Typical one-way slab reinforcement slab (Arkonin, 2012)

Gambar 31 Hasil pemodelan pembesian/penulangan slab

Desain lantai khusus contohnya adalah lantai dengan adanya perubahan


ketebalan, fungsinya untuk memperkuat lantai sebagai akibat adanya modifikasi
bentuk lantai. Modifikasi lantai yaitu untuk membentuk lubang pada lantai sehingga
menyebabkan perlu adanya perubahan ketebalan pada lantai. Fungsi lubang
tersebut yaitu untuk tempat perpipaan dan harus memotong lantai sehingga penting
adanya besi tulangan desain khusus untuk memperkuat lantai akibat adanya lubang.
Contoh modifikasi lantai terdapat pada level 35 dengan spesifikasi teknik terdapat
pada Gambar 32. Besi tulangan tersebut membentuk angkur (penguat) yang
menyambung pada bagian lantai utama. Diameter batang tulangan untuk
menguatkan bagian tersebut yaitu 13 mm. Batang tulangan membentuk lapisan,
setiap lapisan memiliki dua buah batang pada lapisan atas dan dua buah batang pada
lapisan bawah. Tulangan batang terletak antara lubang perpipaan tersebut. Total
tulangan 28 buah tulangan baja, dengan 14 buah untuk lapisan atas dan 14 buah
untuk lapisan bawah. Bentuk tulangan modifikasi menyesuaikan perubahan
dimensi ketebalan lantai sesuai spesifikasi teknik terlihat pada Gambar 33 dan
Gambar 34.
33

Gambar 32 Detail pembesian lantai khusus pada lubang pipa (Arkonin, 2012)

Gambar 33 Hasil pemodelan pembesian lantai khusus pada lubang pipa1

Gambar 34 Hasil pemodelan pembesian lantai khusus pada lubang pipa2

Kolom (column) merupakan bagian penting dalam struktur bangunan,


terutama untuk bangunan bertingkat, sebab kolom memiliki fungsi untuk
menyalurkan beban ke pondasi. Bagian struktur kolom untuk memodelkan
pembesian/penulangan pada Tekla Structures berdasarkan tahapan pada Metode
4(e). Spesifikasi teknik model tulangan kolom bervariasi, tergantung pada lokasi,
bentuk kolom, dan tipe kolom. Perbedaan dimensi kolom pun tergantung pada cara
menyambung tulangan beton kolom. Data spesifikasi teknik kolom terlihat pada
Lampiran 8, dengan menyertakan seluruh data, seperti dimensi kolom, tipe
pembesian, jumlah tulangan, diameter sengkang (stirrups), jarak sengkang,
kekuatan beton, maupun panjang tulangan.
34

Gambar 35 Format halaman input data pada Tekla Structures v17 (Tekla, 2014)
Model tulangan untuk tulangan dasar menggunakan library pada Tekla
Structures yaitu starter bars for pillar (86). Tahapannya yaitu memasukkan data-
data spesifikasi teknik dari DED atau shop drawing ke dalam format input dari
starter bars for pillar (86) dan memilih bagian kolom dasar. Data tersebut antara
lain dimensi tulangan, jarak dari kulit beton, jarak antar tulangan, diameter
sengkang (stirrups), panjang permukaan tulangan, jumlah batang tulangan, dan
lain-lainnya. Tampilan format data input terlihat pada Gambar 35. Contoh model
bentuk tulangan untuk kolom awal/dasar dengan posisi di atas pile cap terlihat pada
Gambar 36.

Gambar 36 Hasil pemodelan pembesian kolom awal pada Tekla Structures v17
Metode menyambung batang tulangan baja pada kolom tergantung pada
spesifikasi teknik DED (detailed engineer drawing). Terdapat banyak spesifikasi
teknik untuk bagian kolom, salah satu bagian terpenting adalah metode
menyambungkan dua kolom dengan berbeda dimensi kolom (intersection of
column size). Syarat pertama untuk menyambung kolom yaitu apabila nilai selisih
dimensi kolom (b) dibagi kedalaman balok atau lantai (h) lebih besar dan/atau sama
35

dengan hasil nilai 1/6, maka metode tulangan untuk menyambung kedua balok
tersebut berdasarkan Gambar 37. Contoh kolom untuk spesifikasi ini terdapat pada
perubahan kolom tipe C1 antara level 2 dan level 3. Kolom level 2 memiliki dimensi
1,400 x 1,400 mm, sedangkan kolom level 3 memiliki dimensi 1,250 x 1,250 mm.
Selisih (b) dimensi antara kedua kolom yaitu 150 mm. Kedalaman balok (h) yaitu
800 mm. Nilai hasil pembagian b dan h adalah 0.1875, sedangkan nilai 1/6 (satu
per enam) adalah 0.1667. Kesimpulannya yaitu nilai b per h lebih besar dari 1/6.
Kolom C1 level 2 memiliki diameter tulangan baja 32 mm dengan jumlah tulangan
48 buah batang. Kolom C1 level 3 memiliki diameter tulangan baja 32 mm dengan
jumlah tulangan 44 buah batang. Gambar hasil memodelkan menggunakan Tekla
Structures pada Gambar 39.

Gambar 37 Detail pembesian Gambar 38 Detail pembesian


sambungan kolom sambungan kolom
b/h ≥ 1/6 (Arkonin, b/h < 1/6 (Arkonin,
2012) 2012)

Syarat kedua untuk menyambung kolom yaitu apabila nilai selisih dimensi
kolom (b) dibagi kedalaman balok atau lantai (h) lebih kecil dari hasil 1/6, maka
metode tulangan untuk menyambung kedua balok tersebut berdasarkan Gambar 38.
Contoh kolom untuk spesifikasi ini terdapat pada perubahan kolom tipe C1 antara
level 32 dan level 33. Kolom level 32 memiliki dimensi 1050 x 1050 mm,
sedangkan kolom level 33 memiliki dimensi 950 x 950 mm. Selisih (b) dimensi
antara kedua kolom yaitu 100 mm. Kedalaman balok (h) yaitu 900 mm. Nilai hasil
pembagian b dan h adalah 0.1111 sedangkan nilai 1/6 adalah 0.1667.
Kesimpulannya yaitu nilai b per h lebih kecil dari 1/6. Kolom C1 level 32 memiliki
diameter tulangan baja 25 mm dengan jumlah tulangan 36 buah batang. Kolom C1
36

level 33 memiliki diameter tulangan baja 25 mm dengan jumlah tulangan 28 buah


batang. Gambar hasil memodelkan menggunakan Tekla Structures pada Gambar
40. Metode membuat modifikasi bentuk tulangan kolom secara rinci berada pada
Lampiran 24.

Gambar 39 Hasil memodelkan penulangan pada kolom sambungan syarat b/h ≥ 1/6

Sengkang memiliki fungsi untuk mengikat tulangan baja, anti gempa, menata
bentuk tulangan baja, meningkatkan kekuatan kekakuan dan daktilitas beton
bertulang. SNI T-15-1991-03 tentang Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung mendefinisikan sengkang (stirrups) adalah tulangan yang
digunakan untuk menahan tegangan geser dan torsi dalam suatu komponen struktur,
terbuat dari batang tulangan, kawat baja atau jaring kawat baja las polos atau
deform, berbentuk kaki tunggal atau dibengkokkan dalam bentuk L, U atau persegi
dan dipasang tegak lurus atau membentuk sudut terhadap tulangan longitudinal,
dipakai pada komponen struktur lentur balok.
Konstruksi gedung ini memiliki dua tipe sengkang (stirrups) yaitu closed ties
(sengkang tertutup) dan cross ties (sengkang silang). Menurut ACI 318M-11 Pasal
7.1.3 untuk standar tekukan dan SNI 03-2847-2002 Pasal 9.1 untuk detail
penulangan kait standar, syarat membengkokkan tulangan sengkang harus
memenuhi ketentuan: diameter batang D-16 dan yang lebih kecil, bengkokan 90°
ditambah perpanjangan 6db pada ujung bebas kait, atau batang D-19, D-22, dan D-
25, bengkokan 90° ditambah perpanjangan 12db pada ujung bebas kait, serta batang
D-25 dan yang lebih kecil, bengkokan 135° ditambah perpanjangan 6db pada ujung
bebas kait.
Sengkang (stirrups) untuk kolom memiliki dua jenis, yaitu close ties
(sengkang tertutup) dan cross ties (sengkang silang). Close ties pada kolom C1 level
33 memiliki diameter tulangan baja 13 mm dengan jarak antar sengkang 100 mm.
Hook (tekukan) untuk close ties yaitu 135°, dengan panjang 6d atau minimal 75
mm dari titik pusat diameter batang terikat. Cross ties pada kolom C1 level 33
37

memiliki diameter tulangan 13 mm dengan jarak antar sengkang 100 mm. Hook
(tekukan) untuk cross ties terdiri dari dua jenis hook berdasarkan besar sudut, yaitu
90° dan 135°. Panjang batang setelah menekuk untuk 90° yaitu 12d atau 210 mm,
sedangkan untuk sudut 135° panjang batang adalah 6d atau minimal 75 mm. Nilai
“d” adalah diameter batang stirrups. Panjang besi tulangan berdasarkan besar sudut
tekukan menggunakan ketentuan DED dan Tabel End Hook Dimension Schedule
pada Lampiran 2. Tabel dan ketentuan tersebut berlaku untuk semua bagian
tulangan sengkang (stirrups).

Gambar 40 Hasil memodelkan penulangan pada kolom sambungan syarat b/h < 1/6

Lap splices merupakan panjang bentang ijin batang baja yang saling
menyambung antara dua buah batang tulangan utama. CRSI (Concrete Reinforcing
Steel Institute) mendefinisikan lap splices adalah sebuah panjang lewatan pada dua
bagian tulangan yang saling tumpang tindih untuk saling melengkapi sehingga
mendapatkan hubungan kontinu pada sambungan tulangan. Fungsi lap splices yaitu
menciptakan suatu kesatuan bagian terhadap adanya dua bagian saling
menyambung sehingga dapat mengabaikan adanya sambungan antara kedua bagian
tersebut. Fungsi lainnya yaitu saat menyalurkan beban dari salah satu bagian ke
bagian lainnya menjadi sempurna. Lap splices terjadi sebab adanya keterbatasan
material dari pabrik, seperti panjang material tidak mencukupi untuk kebutuhan di
lapangan serta bentuk rancangan yang sesuai dengan standar acuan pada tahap
perencanaan.
38

Gambar 41 Hasil memodelkan lap splices kolom C1

Gambar 42 Hasil implementasi kolom di lapangan (Dokumentasi pribadi)

Spesifikasi teknik untuk lap splices berada pada Tabel Schedule A untuk
tulangan lapisan bawah balok, tulangan lantai, sambungan tulangan vertikal
dinding, dan kolom vertikal. Tabel Schedule B untuk tulangan lapisan atas balok
dan sambungan tulangan horizontal dinding. Kedua tabel tersebut merupakan dasar
perencanaan panjang lap splices berdasarkan diameter tulangan baja dan spesifikasi
kuat tekan beton pada konstruksi bangunan proyek ini. Tabel Schedule A dan
Schedule B dapat terlihat pada Lampiran 2.
39

Panjang lap splice pada kolom memiliki syarat khusus. Syarat tersebut
merujuk pada gambar perencanaan (DED). Titik pusat (tengah) lap splices berada
pada setengah dari panjang antara lantai/level, dengan panjang lap splice sesuai
dengan Tabel Schedule A. Panjang lap splice awal untuk tulangan atas mulai dari
setengah panjang lap splices ke bawah dari titik pusat sedangkan titik akhir lap
splices tulangan bawah berada pada setengah panjang lap splice ke atas dari titik
pusat. Panjang lap splice membagi dua secara merata di antara titik pusat.
Contoh untuk kolom C1 level 33 memiliki tinggi kolom 4,000 mm dan
diameter tulang baja 25 mm, menggunakan kuat tekan beton 500 kg/cm2. Titik
pusat lap splices pada ketinggian 2,000 mm, panjang lap splice berdasarkan Tabel
Schedule A untuk diameter 25 mm serta kuat tekan beton 500 kg/cm2 adalah 1,245
mm. Titik awal mulai tulangan atas adalah 2,622.5 mm ke bawah dari level 34,
sedangkan titik akhir untuk tulangan bawah adalah 2622.5 mm ke atas dari level
33. Nilai panjang 2,622.5 mm merupakan hasil menjumlahkan panjang titik pusat
lap splices dan setengah dari panjang lap splices. Hasil memodelkan
pembesian/penulangan untuk kolom terlihat pada Gambar 44 serta Gambar 45
untuk bentuk pembesian di lapangan.
Shear wall merupakan bagian inti (core) untuk komponen struktur gedung
ini. Letak shear wall yaitu di bagian tengah konstruksi dengan bentuk dinding
bertulang. Sistem penulangan shear wall terdiri dari bagian tulangan inti secara
vertikal, stirrups (closed ties dan cross ties), dan tulangan horizontal.
Pembesian/penulangan untuk shear wall terbagi menjadi tiga segmen untuk satu
bagian shear wall. Segmen pertama dan ketiga letaknya di bagian sudut dinding,
sedangkan segmen kedua berada di bagian tengah. Lebih jelasnya dapat melihat
pada gambar desain perencanaan tulangan dinding geser (shear wall) (lihat
Lampiran 10-14.
Metode memodelkan tulangan shear wall dengan Tekla Structures
menggunakan Metode 4(g). Data input untuk memodelkan tulangan bagian ini
menggunakan data-data rencana berdasarkan DED. Contoh memodelkan tulangan
bagian shear wall adalah shear wall tipe P1A di level 35. Panjang interval total
shear wall ini yaitu 8250 mm. Jarak tulangan adalah 40 mm dari kulit beton.
Segmen pertama memiliki kode P1A-M, segmen kedua memiliki kode P1A, dan
segmen ketiga memiliki kode P1A-U. P1A-M memiliki jumlah tulangan baja 19
buah batang, diameter batang baja vertikal 22 mm, dengan panjang interval segmen
1,450 mm. P1A-U memiliki jumlah tulangan baja 20 buah batang, diameter batang
baja vertikal 22 mm, dan panjang interval 1,450 mm. P1A memiliki diameter batang
vertikal 16 mm, diameter batang horizontal 16 mm, jarak antar batang vertikal 300
mm, jarak antar batang horizontal 300 mm, lokasi segmen P1A di antara P1A-M
dan P1A-U.
Stirrups (sengkang) tipe closed ties mengikat tulangan batang vertikal pada
segmen P1A-M dan P1A-U dengan diameter batang sengkang 13 mm dan jarak
antar sengkang 120 mm. Pemilihan diameter batang sengkang dan jarak antar
sengkang menggunakan Tabel 2 berdasarkan kualitas kuat tekan beton serta
ketebalan dinding. Contoh memilih diameter dan jarak batang antar sengkang
(stirrups) pada level 35 yaitu kuat tekan beton rencana 500 kg/cm2 dan tebal dinding
500 mm sehingga diameter sengkang adalah 13 mm dan jarak antar sengkang 120
mm. Batang horizontal segmen P1A (segmen tengah) mengikat batang tulangan
vertikal untuk segmen P1A (segmen tengah) dan tidak membutuhkan sengkang.
40

Closed ties mengikat batang horizontal segmen P1A, syaratnya panjang lap splices
batang horizontal adalah 1.5d. Tujuan batang horizontal mengikat closed ties untuk
memperkuat ikatan batang horizontal dan batang vertikal pada segmen P1A.

Tabel 2 Typical confinement ties pada shear wall


f′c (kg/cm2) Wall Thick (mm) Confinement Ties (mm)
600 650; 600 Ø13@100
450; 400 Ø13@100
250 Ø10@100
550 600; 500; 400 Ø13@110
350; 300; 250 Ø10@110
500 500; 400 Ø13@120
350; 300; 250 Ø10@120
450 500; 400 Ø13@130
300 Ø10@130

Diameter cross ties sama dengan diameter closed ties. Bentuk cross ties yaitu
mengikat antara dua buah batang tulangan vertikal saling berhadapan. Ikatan cross
ties membentuk sudut 135° dan 90° pada ujung batang ties. Panjang tekukan untuk
sudut 135° yaitu 75 mm, sedangkan untuk 90° yaitu 160 mm (lihat Tabel End Hook
Dimension Schedule and Details pada Lampiran 2. Jarak antar tiap batang cross ties
secara vertikal maupun horizontal yaitu 600 mm.

Gambar 43 Hasil memodelkan pembesian/penulangan shear wall

Lap splices batang tulangan vertikal shear wall antar level memiliki
kemiripan bentuk dalam teknik menyambung antar-batang seperti pada bagian
kolom. Syaratnya adalah jarak antar level (H) dibagi dua sebagai titik pusat lap
splices. Panjang lap splices batang tulangan menggunakan Tabel Schedule A
berdasarkan diameter tulangan dan kualitas kuat tekan beton rencana. Contoh
panjang lap splices untuk diameter batang tulangan 22 mm adalah 1,090 mm pada
batang tulangan shear wall tipe P1A level 35. Titik sambungan batang shear wall
berada pada level 36, dengan tinggi level 36 adalah 4,000 mm. Titik pusat lap
splices berada pada ketinggian 2,000 mm. Titik akhir batang vertikal yaitu 2,545
mm ke atas dari level 36 dan titik awal batang vertikal adalah 2,545 mm ke bawah
41

dari level 37. Panjang 2,545 merupakan jumlah antara panjang titik pusat lap splices
dan setengah dari panjang lap splices. Hasil memodelkan bentuk
pembesian/penulangan pada shear wall tipe P1A terlihat pada Gambar 46.
Balok beton adalah komponen bagian struktur bangunan gedung dalam
bentuk beton bertulang. Fungsi balok adalah untuk memikul beban transversal dan
menyalurkannya beban ke kolom. Balok memiliki empat fungsi yang berbeda pada
proyek konstruksi ini, yaitu balok penopang lantai (beam), balok pengikat shear
wall (link beam), balok pengikat antar pile cap (tie beam), dan balok pengikat
kolom (moment frame beam). Keempat jenis balok ini memiliki tipe berbeda-beda.
Langkah-langkah memodelkan rangkaian pembesian/penulangan balok
menggunakan Metode 4(f), tetapi terdapat beberapa tipe balok harus mengalami
modifikasi untuk memodelkan pembesian/penulangannya.
Moment frame beam memiliki kode yaitu MFB1, MFB2, MFB3, dan MFB4.
Data spesifikasi teknik untuk moment frame beam berada di Lampiran 16. Link
beam memiliki beberapa kode yaitu LB1, LB2, LB3, LB4, LB5, LB6, LB7, LB8,
LB9, LB10, LB11, LB12, LB13, LB14, LB15, dan LB16. Data spesifikasi teknik
untuk link beam berada pada Lampiran 17. Tie beam (balok pengikat pile cap)
memiliki istilah lain yaitu sloof/grade beam. Grade beam memiliki dua puluh
tipe/jenis balok dengan kode penamaan GB-01 hingga GB-20. Grade beam
memiliki elevasi yang sama dengan pile cap. Data spesifikasi teknik untuk grade
beam berada pada Lampiran 15. Beam (balok penopang lantai) memiliki banyak
tipe/kode, merujuk pada Lampiran 18. Setiap spesifikasi untuk keempat balok beton
tersebut memiliki posisi (letak), data teknik, serta informasi mengenai bentuk
desain pembesian/penulangan yang sangat detail.

Gambar 44 Hasil memodelkan pembesian/penulangan GB-01

Contoh balok bertulang untuk mengikat pile cap yaitu GB-01 pada bagian
foundation plan. GB-01 memiliki dimensi balok 600 x 600 mm. Bentuk tulangan
baja GB-01 yaitu terdiri dari dua lapisan. Lapisan tulangan atas memiliki diameter
batang tulangan baja 25 mm sebanyak enam buah batang baja, sedangkan pada
lapisan bawah memiliki diameter batang 25 mm sebanyak delapan buah batang
42

baja. GB-01 pun memiliki tulangan bagian samping sebanyak dua buah batang baja
(masing-masing sisi satu batang baja) dengan diameter batang 16 mm. Stirrups
(sengkang) GB-01 memiliki dua buah bagian closed ties berbeda ukuran, antara lain
sengkang untuk mengikat seluruh bagian tulangan dan sengkang untuk mengikat
bagian tengah (center) batang tulangan baja. Diameter batang kedua sengkang yaitu
13 mm dengan jarak antar batang adalah 150 mm. Tebal kulit beton (jarak antara
tulangan dan beton terluar) yaitu 50 mm. Hasil memodelkan bentuk tulangan balok
beton grade beam berada di Gambar 47.
Salah satu contoh untuk balok beton bertulang memiliki fungsi mengikat
struktur kolom yaitu MFB1. MFB1 membagi empat segmen dalam satu bentang
untuk mengikat empat buah kolom. Spesifikasi teknik kolom MFB1 memiliki
dimensi berbeda pada beberapa level, (lihat Lampiran 16). Salah satu contoh MFB1
mengikat kolom pada level 35. Dimensi balok MFB1 memiliki lebar balok 800 mm
dan kedalaman 900 mm. Balok beton bertulang MFB1 memiliki empat segmen
dengan bentuk rakitan tulang baja berbeda untuk setiap segmen, walaupun kode
balok sama namun memiliki properties tulangan berbeda.
MFB11 (keterangan: 1 adalah segmen 1) memiliki dua buah lapisan tulangan
yaitu lapisan tulangan bawah dan lapisan tulangan atas. Tulangan lapisan atas
memiliki dua buah layer, layer 1 memiliki enam buah batang. Empat buah batang
tulangan yang sama panjang, sedangkan dua buah batang tulangan memiliki
panjang berbeda dari empat tulangan tersebut. Empat buah tulangan tersebut
memiliki panjang 4938 mm dengan panjang batang masuk ke dalam kolom 850.
Panjang setelah tekukan pada salah satu ujung sepanjang 500 mm. Dua buah
tulangan layer 1 memiliki panjang 2,413 mm dengan jarak masuk ke dalam kolom
850 mm. Panjang setelah tekukan untuk salah satu ujung batang 500 mm. Batang
tulangan layer 1 memiliki diameter batang tulangan 29 mm.
Tulangan layer 2 memiliki jumlah batang dua buah dengan diameter tulangan
29 mm. Panjang batang tersebut adalah 2413 mm dengan panjang batang masuk ke
dalam kolom 800 mm. Panjang tulangan setelah tekukan salah satu ujung adalah
500 mm. Lapisan tulangan bawah memiliki diameter batang 29 mm dan jumlah
batang enam buah batang baja. Panjang batang lapisan bawah adalah 1,0015 mm
dengan panjang batang masuk ke dalam kolom 750 mm. Panjang setelah tekukan
salah satu ujung yaitu 300 mm. Bagian sisi samping beton memiliki dua buah
batang baja dengan diameter batang 13 mm pada kedua sisi balok MFB1. Panjang
batang tulangan sisi yaitu 12,000 mm dengan panjang batang masuk ke dalam
kolom 365 mm.
Stirrups balok MFB1 menggunakan batang dengan diameter 13 mm untuk
mengikat tulangan balok. Stirrups balok MFB1 menggunakan dua buah closed ties
berbeda ukuran. Closed ties pertama memiliki lebar 720 mm dan kedalaman 820
mm. Closed ties kedua memiliki lebar 277 mm dan kedalaman 820 mm. Jarak
antara closed ties memiliki tiga bagian segmen jarak antar close ties. Jarak close
ties membagi panjang satu buah balok di antara dua buah kolom yaitu berdasarkan
tiga ketentuan. Ketentuan pertama yaitu jarak antar stirrups 120 mm dengan
panjang balok 0.25L atau 1,653 mm. Ketentuan kedua yaitu jarak antar stirrups 100
mm dengan panjang 0.50L atau 3125 mm. Ketentuan ketiga yaitu jarak antar
stirrups 120 mm dengan panjang 0.25L atau 1652 mm. “L” adalah panjang bentang
balok dari tepi kolom grid C-9 dan C-8 (L = 6250 mm). Gambar detail shop
drawing tulangan untuk MFB11 hingga MFB14 pada level 35 terdapat pada
43

Lampiran 20. Hasil memodelkan balok MFB11 menggunakan Tekla Structures pada
Gambar 48 di bawah ini.

Gambar 45 Hasil memodelkan pembesian/penulangan MFB1

Balok untuk mengikat shear wall disebut link beam pada proyek konstruksi
ini. Link beam menghubungkan bagian shear wall, fungsinya menopang beban
lantai dan menyalurkan beban shear wall atau membagi beban shear wall secara
merata pada bagian inti (core) konstruksi bangunan. Contoh rangkaian sistem
tulangan balok link beam yaitu LB1 pada level 36, merujuk pada gambar shop
drawing LB1 level 36.
LB1 mengikat dan menghubungkan shear wall tipe P2 dan P6. Panjang balok
ini adalah 3150 mm dengan dimensi balok lebar 500 mm dan kedalaman 1000 mm.
Rangkaian tulangan link beam memiliki keunikan bentuk tulangan, yaitu bagian
tulangan memanjang masuk ke dalam shear wall dan mengalami kelangsingan
tulangan pada bagian tertentu. Tujuannya agar tulangan link beam mengikat pada
susunan tulangan shear wall. Tulangan LB1 memiliki dua lapisan tulangan (atas
dan bawah), dua tipe closed ties berbeda ukuran (different closed ties), sub ties
(sengkang tambahan) dan tulangan bagian sisi samping.
Tulangan lapisan atas tipe LB1 memiliki dua layer tulangan. LB1 memiliki
diameter batang tulangan baja 25 mm untuk layer 1 dan layer 2 pada lapisan atas.
Jumlah tulangan lapisan atas adalah enam buah batang tulangan baja untuk kedua
layer. Panjang total tulangan lapisan atas yaitu 7150 mm, tulangan bagian inti balok
sepanjang 3150 mm dan bagian tulangan rebars tension (panjang tulangan masuk
ke dalam shear wall) kedua sisi balok 2,000 mm. Metode menghitung panjang
rebar tension pada Lampiran 23. Tulangan bagian tepi layer 1 dan layer 2
mengalami kelangsingan bentuk dengan perbandingan 1:12.
Sisi samping kiri dan kanan balok LB1 memiliki diameter batang tulangan
baja 13 mm dengan panjang total 4,150 mm. Panjang tulangan bagian inti 3,150
mm dengan panjang rebars tension 500 mm pada kedua ujung balok. Bagian ujung
tulangan mengalami kelangsingan dengan perbandingan 1:12.
Tulangan lapisan bawah tipe LB1 memiliki dua layer tulangan. LB1 memiliki
diameter batang tulangan baja 25 mm untuk layer 1 dan layer 2 pada lapisan bawah.
Jumlah tulangan lapisan atas adalah enam buah batang tulangan baja untuk kedua
44

layer. Panjang total tulangan lapisan atas yaitu 6,230 mm, tulangan bagian inti balok
sepanjang 3,150 mm dan bagian tulangan rebars tension kedua sisi balok 1,540
mm. Metode menghitung panjang rebar tension pada Lampiran 23. Tulangan
bagian tepi layer 1 dan layer 2 mengalami kelangsingan bentuk dengan
perbandingan 1:12. Hasil memodelkan seluruh rangkaian sistem
pembesian/penulangan terdapat pada Gambar 49.

Gambar 46 Hasil memodelkan pembesian/penulangan LB1

Stirrups untuk balok LB1 menggunakan dua closed ties beda dimensi, dengan
batang baja diameter 13 mm. Tebal kulit beton membungkus tulangan adalah 40
mm setiap sisi dari tepi balok. Closed ties pertama memiliki lebar 420 mm dan
kedalaman 920 mm, sedangkan closed ties kedua memiliki lebar 256 mm dan
kedalaman 920 mm. Hook ujung stirrups membentuk sudut 135° dengan panjang
batang setelah menekuk 100 mm. Jarak antar stirrups adalah 150 mm untuk kedua
tipe closed ties tersebut.
Tipe stirrups lainnya adalah sub ties (sengkang tambahan). Stirrups tipe ini
mengikat layer 2 untuk lapisan atas dan lapisan bawah. Sub ties menggunakan
batang baja diameter 13 mm dengan panjang 420 mm. Bentuk sub ties menyerupai
cross ties pada tulangan. Hook kedua ujung batang membentuk sudut 135° dengan
panjang 100 mm setelah tekukan. Posisi sub ties yaitu dua buah pada layer 2 lapisan
tulangan atas dan dua buah untuk layer 2 lapisan bawah pada salah satu ujung balok.
Total jumlah sub ties yaitu delapan buah untuk kedua ujung balok dengan jarak
antar sub ties 1000 mm.

Ekspor Building Information Modeling (BIM)

Building Information Modelling (BIM) merupakan sebuah pendekatan dalam


mendesain bangunan, konstruksi, serta manajemen saat pelaksanaan. BIM meliputi
lebih dari sekedar geometri. BIM mencakup hubungan spasial, analisis cahaya,
informasi geografis, jumlah dan sifat dari komponen bangunan. BIM mampu
metransformasikan gambar 3D menjadi gambar 4D maupun 5D.
45

Gambar 47 Skema hubungan BIM pada suatu proyek konstruksi (Dublin Institute of
Technology 2013)

BIM mampu meningkatkan kolaborasi pekerjaan proyek dan manajemen di


industri Architecture, Engineering, and Construction (AEC). Building Information
Modeling (BIM) adalah sebuah kegiatan untuk menciptakan model dan seluruh
bagiannya secara elektronik. Tujuannya adalah untuk memvisualisasikan bentuk,
menganalisis teknik, menganalisis konflik, mengkriteria bentuk pemeriksaan,
merekayasa biaya, menghasilkan as-build drawing, menganalisis anggaran, dan
lainnya (Kreider dan Messner, 2013). Definisi BIM adalah sebuah metode
menerapkan Building Information Modelling selama siklus pekerjaan untuk
mencapai satu tujuan spesifik. BIM merupakan kumpulan data untuk desain
bangunan, konstruksi dan informasi pemeliharaan. Kombinasi ketiga bagian
tersebut menghasilkan sebuah model yang efisien untuk seluruh pihak terkait dalam
pekerjaan konstruksi.
Gambar 3D mencakup model suatu rancangan (desain) pada tiga garis sumbu
X, Y dan Z. Gambar 4D mencakup jadwal (rencana/aktual) pekerjaan konstruksi dan
5D mencakup estimasi biaya pada pekerjaan konstruksi. BIM mampu
menghasilkan sebuah model sebuah konstruksi bangunan 2D, 3D, 4D, dan 5D. Hal
ini memudahkan semua user pada bagian perencanaan, pelaksanaan, pengawas,
hingga pemilik untuk mendapatkan data-data kemajuan proyek konstruksi. Model
BIM secara 3D lebih efektif untuk menggambarkan tujuan/hasil akhir suatu
konstruksi sebab mudah bagi para pengguna (users) memahami setiap bagian
konstruksi dan perubahan desain selama pelaksaan proyek.
Hasil menggunakan BIM telah mencatat banyak proyek besar di seluruh
dunia. Beberapa contoh hasil menerapkan BIM dalam konstruksi yaitu Burj
Khalifah (Burj Dubai) di Dubai-Uni Emirat Arab, Marina Bay Sands di Singapura,
Central Park Tower di Colorado-US, Mall of Scandinavia di Scandinavia, dan New
International Terminal di Bali-Indonesia (Tekla, 2014). Bangunan-bangunan
tersebut memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri sehingga memberikan ciri
khusus bagi pengunjung. Hasil pelaksanaan bangunan-bangunan tersebut memiliki
efektivitas waktu, biaya, dan sumber daya saat pelaksanaan pekerjaan karena BIM
46

dapat mempermudah tim proyek untuk mengakses informasi-informasi yang


terkandung dalam proyek konstruksi serta meningkatkan koordinasi antara anggota
tim. Skema hubungan antara tiap tim proyek menggunakan BIM pada Gambar 52.

Gambar 48 BIM proyek Chase Tower, Jakarta Selatan

Hasil memodelkan struktur gedung Chase Tower kemudian memasuki


tahapan selanjutnya yaitu mempresentasikan bentuk model struktur, tulangan baja,
maupun jadwal pekerjaan menggunakan Tekla BIMSight. Tujuannya adalah dapat
meninjau bentuk struktur bangunan dan bentuk rangkaian tulangan. Hasil BIM
bangunan gedung Chase Tower berada pada Gambar 51 dan Gambar 52.

Gambar 49 BIM pembesian proyek Chase Tower, Jakarta Selatan


47

Kelebihan dan Kekurangan Memodelkan pada Tekla Structures v17

Tekla Structures merupakan sebuah perangkat lunak yang mudah dalam


proses mengerjakan sebuah desain model. Tekla Structures memiliki kelebihan
serta kekurangan selama proses melaksanakan pemodelan. Kesulitan selama
mengerjakan model tergantung pada kreativitas, ketelitian, pemahaman dasar-dasar
konstruksi, analisa maupun pola pandang seorang desainer. Pola pandang seorang
desainer harus mampu mentransformasikan sebuah objek gambar 2D menjadi
gambar 3D. Seorang desainer lebih mudah memahami suatu gambar 3D saat pola
pandangnya terbiasa secara 3D.
Kelebihan Tekla Structures v17 untuk memodelkan sebuah bangunan
konstruksi yaitu mampu terintegrasi dengan berbagai jenis software konstruksi
lainnya seperti SAP, STAAD, S-Frame, maupun GTStrudl. Tekla Structures v17
sangat mudah mengoperasikannya, lebih cepat, dan mampu mengoreksi kesalahan
dengan cepat, kontrol manajemen cepat dan mudah, menyimpan data-data
konstruksi pada satu lokasi, mampu menganalisis konstruksi, dan mampu
meningkatkan interaksi seluruh user pada bagian/divisi berbeda. Software ini pun
dapat mengestimasi biaya selama pekerjaan konstruksi berlangsung. Tekla
Structures dapat membuat gambar 2D as-built drawing dengan mudah, cepat dan
secara detail menggunakan gambar model 3D.
Kekurangan selama mengerjakan yaitu Tekla Structures v17 tidak
menyediakan beberapa ukuran dimensi tulangan pada library komponen. Tekla
Structures menyediakan diameter batang tulangan ukuran 4, 5, 6, 8, 10, 12, 14, 16,
18, 20, 22, 25, 28, 32, 36, 40, 45, 50, 55, 60, 65, 70, 75, 80, 85, 90, 95, dan 100 mm.
Tahapan mengerjakan model pembesian perlu mengkonversi diameter batang baja
akibat diameter tulangan baja yang tidak tersedia pada Tekla Structures, contoh
diameter baja ukuran 13, 19, dan 29 mm. Contoh mengkonversi ukuran tulangan
terdapat pada Lampiran 22. Kekurangan lainnya yaitu membutuhkan komputer
dengan performa tinggi, harga software original mahal, licency menggunakan
software mahal, minim pelatihan menggunakan software ini.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Software Tekla Structures v17 mampu memodelkan struktur beton konstruksi


gedung Chase Tower berupa pondasi (bore pile dan pile cap), kolom, balok,
lantai, shear wall, tangga hingga bagian atap gedung dengan baik serta sesuai
dengan standar atau spesifikasi teknik ACI, ASTM, AWS dan CRSI.
2. Tahapan menambahkan desain (rancangan) pembesian/penulangan struktur
beton secara 3D memanfaatkan fasilitas component catalog. Hasil desain
penulangan menggunakan component catalog memerlukan modifikasi
sehingga sesuai dengan standar atau spesifikasi teknis perencanaan.
3. Keuntungan menggunakan Tekla Structures v17 mampu mempercepat proses
pekerjaan perencanaan, manajemen, serta pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
Koordinasi user lebih baik karena saling berhubungan secara langsung dan
mudah mengoperasikan software ini. Kekurangan Tekla Structures v17 adalah
48

ketersediaan diameter tulangan batang yang kurang seperti diameter batang 13


mm, 19 mm, dan 29 mm sehingga membutuhkan konversi sebelum
memanfaatkan diameter tulangan baja ketika mendesain menggunakan Tekla
Structures. Biaya pelatihan software Tekla Structures relatif mahal serta minim
modul atau bahan ajar di Indonesia.

Saran

1. Perlu memahami dasar-dasar pengetahuan pekerjaan konstruksi seperti gambar


DED, shop drawing, standar desain rancangan bangunan, dan konversi ukuran
tulangan sebelum mengerjakan menggunakan Tekla Structures v17
2. Perlu mengadakan pembelajaran lebih mendalam mengenai software Tekla
Structures v17.
3. Tugas pemodelan selanjutnya dapat mengaplikasikan analisis pembebanan
menggunakan software Tekla Structures v17.

DAFTAR PUSTAKA

American Concrete Institute. 2011. Building Code Requirements for Structural


Concrete. ACI 318M-11. American Concrete Institute. Farmington Hills,
Michigan: USA.
Asroni, Ali. 2010. Kolom Fondasi & Balok T Beton Bertulang. Yogyakarta (ID):
Graha Ilmu.
Associated General Contractors of America. 2005. The Contractor’s Guide to BIM,
1st ed. AGC Research Foundation. Las Vegas (US). NV.
Bazjanac V. 2004. Virtual Building Environments (VBE) – Applying Information
Modeling to Buildings. California (USA): eScholarship University of
California. [2013 Desember 28]. Tersedia pada:
http://repositories.cdlib.org/lbnl/LBNL-56072
Concrete Reinforcing Steel Institute (CRSI). Lap Splices. [Internet]. ([diunduh
2013 Juni 20]). Tersedia pada: http://crsi.org/index.cfm/steel/lap
[CIFE ] Centre for Integrated Facility Engineering. 2007. CIFE Technical Reports.
Di dalam: Azhar S, Nadeem A, Mok JYN, Leung BHY, editor. Building
Information Modeling (BIM): A New Paradigm for Visual Interactive
Modeling and Simulation for Construction Projects; 2008 Agustus 4-5;
Karachi, Pakistan. Pakistan. First International Conference on Construction
in Developing Countries (ICCIDC–I).
CRC Construction Innovation. 2007. Adopting BIM for Facilities Management:
Solutions for Managing the Sydney Opera House. Cooperative Research
Center for Construction Innovation Brisbane. Australia.
Daryanto. 1994. Pengetahuan Tekhnik Bangunan. Jakarta (ID): Rineka Cipta.
[DIT] Dublin Institute of Technology. 2013. Dublin School of Architecture Part
time and CPD programmes in Building Information Modelling (BIM) 2013-
2014 [brocure]. Springboard students: DIT Dublin School of Architecture.
Dipohusodo, Istimawan. 2006. Manajemen Proyek dan Konstruksi Jilid 1.
Yogyakarta (ID): Kanisius.
49

Erlina Y. 2011. Aplikasi program bantu tekla stuctures 15 untuk perancangan


gedung graha nusantara menggunakan sistem pracetak [skripsi]. Surabaya:
Program Sarjana, Institut Teknologi Sepuluh November.
Gunawan T, Margaret S. 1987. Konstruksi Beton I. Jilid 1. Jakarta (ID): Delta
Teknik Group.
Gunawan T, Margaret S. 1987. Konstruksi Beton I. Jilid 2. Jakarta (ID): Delta
Teknik Group.
Hergunsel Mehmet. 2011. Benefits of building information modeling for
construction managers and bim based scheduling [tesis]. United States
(USA): Graduate Program, Worcester Polytechnic Institute.
Jiang Xinan. 2011. Development in Cost Estimating and Scheduling in BIM
Technology [tesis]. Boston (USA): Graduate Program, Northeastern
University.
Khemlani L. Tekla Structures 15. AECbytes Product Review. Tersedia pada:
http://www.aecbytes.com/review/2008/TeklaStructures15.html.
Kreider RG, Messner JI. 2013. The Uses of BIM: Classifying and Selecting BIM
Uses. Version 9. USA: The Pennsylvania State University, University Park.
PA.
Matondang Z, Mulyana R. 2012. Konstruksi Bangunan Gedung. Medan (ID):
UNIMED Press.
Mulyono T. 2005. Teknologi Beton. Edisi 2.Yogyakarta (ID): Andi.
[NIBS] National Institute of Building Sciences. 2008. National Building
Information Modeling Standard. United States (USA). [diunduh 2013
Desember 28]. Tersedia pada: http://www.wbdg.org/pdfs/NBIMSv1_p1.pdf
Nawy GE. 1998. Beton Bertulang: Suatu Pendekatan Dasar. Bambang
Suryoatmono, penerjemah; Tjun Surjaman, editor. Bandung (ID): Refika
Aditama. Terjemahan dari: Reinforced Concrete–A Fundamental Approach.
Nur FO. 2009. Analisa Pengaruh Penambahan Tulangan Tekan terhadap Daktilitas
Kurvatur Balok Beton Bertulang. Jurnal Rekayasa Sipil. Volume 5 No. 1,
Februari 2009. Padang (ID): Fakultas Teknik Sipil, Universitas Andalas.
Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI). 1971. Bandung (ID): DPMB Dep.
Pekerjaan Umum RI.
Richard. 2007. Journal of Building Information Modeling Fall 2007: Building
Information Models and Model Views. Washington (USA): Building SMART
Alliance.
Roginski D. 2011. Quantity takeoff process for bidding stage using BIM tools in
Danish Construction Industry [tesis]. Denmark (DEN): Graduate Program,
Technical University.
Schueller WG. 1977. High Rise Building Structures. New York (USA): John Wiley
& Sons.
[SNI] Standardisasi Nasional Indonesia. 2002. Tata Cara Perencanaan Struktur
Beton untuk Bangunan Gedung, SNI 03-2847-2002. Badan Standarisasi
Nasional. Puslitbang pemukiman. Bandung (ID)
[SNI] Standar Nasional Indonesia.1991. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton
untuk Bangunan Gedung. T-15-1991-03. Badan Standarisasi Nasional,
Puslitbang pemukiman. Bandung
Hidayat S. 2009. Semen, Jenis dan Aplikasinya. Jakarta (ID): Pustaka Kawan.
50

Tekla. 2011. Tekla Structure 17 Hardware Recommendation. Tekla Corporation.


Finland.
Tjell Janni. 2010. Building information modeling (BIM) in design detailing with
focus on interior wall systems [tesis]. Department of Civil and Environmental
Engineering at U.C. Berkeley and Dtu Management at the Technical
University of Denmark. Denmark.
[UU] Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung Pasal 1
Ayat 1.
51

LAMPIRAN
Lampiran 1 Data Umum Proyek (Arkonin, 2013)
Nama Proyek : Pembangunan Chase Tower
Lokasi Proyek : Jl. Jendral Sudirman Kav.21 Setia
budi, Jakarta Selatan. Jakarta
Pemilik Proyek : PT. Duta Anggada Reality
Chase Plaza Lt.20 Jl. Jendral
Sudirman Kav.21 Setia budi, Jakarta
Selatan. Jakarta
Konsultan Manajemen Kontruksi : PT.Arkonin
Jl.Bintaro Taman Timur, Bintaro
Jaya, Jakarta Selatan
Perencana Arsitek : PT. Duta Anggara Inti Perkasa
Chase Plaza Lt.20 Jl. Jendral
Sudirman Kav.21 Setia budi, Jakarta
Selatan. Jakarta
Konsultan Biaya : PT. Reynolds Partnership
Jl. Sudirman Kav.29 Wisma
Metropolitan 1 Lt.22 Jakarta
Konsultan M/E : Arnan Pratama Konsultan
Jl. Puri Indah Raya Kembang Selatan
Kembangan Jakarta Barat
Kontraktor Struktur : PT. Murinda Ipon Steel
15 PL Permata Kuningan Mulia
Kav.18 Jakarta
Kontraktor Lift Dan Escalator : PT. Berca Schindler Lifts
Menara Rajawali 2nd Floor Jl. Mega
Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega
Kuningan Jakarta
Kontraktor Plumbing dan Fire Figthing : PT. Jaga Citra Inti
Jl. Tomang Raya No. 40A Jakarta
Kontraktor Elektrikal : PT. Tata Metrika Nusantara
Jl. Haji Newi No. 58 Gendaria
Selatan Kebayoran Baru Jakarta
Selatan
Kontraktor VAC : PT. Wisma Sarana Teknik
Artha Gading Niaga Blok H24-25 Jl.
Boulevard Artha Gading Jakarta

Luas Area : 4823.47 m2


Luas Bangunan : 82503.24 m2
Terdiri dari :
1. Basement : 5026.37 m2
2. Ground floor : 1606.35 m2
3. Lantai 2 : 852.97 m2
4. Lantai 3 : 1556.09 m2
5. Lantai 4 : 1787.29 m2
52

6. Lantai 5 : 1603.72 m2
7. Lantai 6 – 33 :1635.22 m2
8. Lantai 34 – 47 : 1544.28 m2
9. Main Floor : 1572.32 m2
10. Mechanical Penthouse : 766.97 m2
11. Penhouse Roof : 324.96 m2
Lampiran 2 Tabel Acuan Perencanaan Pembesian Struktur Bangunan (Arkonin 2012)
53
54

Lampiran 3 Denah Foundation Plan Gedung Chase Tower (Arkonin 2012)


55

Lampiran 4 Denah Level 35-36 Gedung Chase Tower (Arkonin 2012)


56

Lampiran 5 Bored Pile (Arkonin 2012)


Lampiran 6 Pile cap (Arkonin 2012)
57
58

Lampiran 7 Tabel Spesifikasi Lantai (Slab) (Arkonin 2012)


59

Lampiran 8 Tabel Spesifikasi Kolom (Column) (Arkonin 2012)


60
61

Lampiran 9 Denah Shear Wall (Arkonin 2012)


62

Lampiran 10 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P1 (Arkonin 2012)


63

Lampiran 11 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P4 (Arkonin 2012)


64

Lampiran 12 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P7 (Arkonin 2012)


65

Lampiran 13 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P9 (Arkonin 2012)


66

Lampiran 14 Tabel Spesifikasi Shear Wall Tipe P12 (Arkonin 2012)


Lampiran 15 Tabel Spesifikasi Balok Tipe Grade Beam (Arkonin 2012)
67
68

Lampiran 16 Tabel Spesifikasi Balok Tipe Moment Frame Beam (Arkonin 2012)
69

Lampiran 16 Tabel Spesifikasi Balok Tipe Moment Frame Beam (Arkonin 2012)
Lanjutan..
70

Lampiran 17 Tabel Spesifikasi Balok Tipe Link Beam 1 (Arkonin 2012)


71

Lampiran 18 Tabel Spesifikasi Balok Tipe Beam (Arkonin 2012)


72

Lampiran 19 Shop Drawing Lantai (Slab) Level 35.


Lampiran 20 Shop Drawing Balok MFB1 Level 35.
73
Lampiran 21 Skema Loading Test (Uji Beban)
74
75
76

Lampiran 22 Metode Konversi Diameter Tulangan Baja

Rumus dan contoh menghitung konversi besi baja:

A1 x n = A2 x n .. persamaan 1
¼ π (d1)2 x n1 = ¼ π (d2)2 x n2 .. persamaan 2
(d2)2 x n1 = (d2)2 x n2 .. persamaan 3
Keterangan:
 A1 : Luas besi awal (mm2);
 A2 : Luas besi setelah konversi (mm2);
 d1 : Diameter besi awal (mm);
 d2 : Diameter setelah konversi (mm);
 n1 : Jumlah besi awal;
 n2 : Jumlah besi setelah konversi.

Contoh perhitungan:
Misalnya diketahui penggunaan besi rencana untuk besi pembesian layer 2
menggunakan besi Ø25 sebanyak 3 buah. Namun karena keterbatasan jumlah besi
di lapangan, yang tersedia hanya ukuran Ø22. Berapakah jumlah besi yang harus
digunakan oleh engineer???

Jawaban:
 Awal : Ø besi = 25 ; jumlah = 3
 Konversi : Ø besi = 22

A1 x n = A2 x n .. persamaan 1
¼ π (d1)2 x n1 = ¼ π (d2)2 x n2 .. persamaan 2
(d1)2 x n1 = (d2)2 x n2 .. persamaan 3
(25)2 x 3 = (22)2 x n2
1875 = 484 x n2
n2 = 1875/484
n2 = 4

Sehingga, dapat disimpulkan jumlah ijin minimum penggunaan besi setelah


terkonversi adalah 4 buah, tetapi untuk menambah kekuatan besi baja terhadap
beban biasanya para engineer menambahkan (+) 1 buah baja pada besi baja setelah
terkonversi menjadi 5 buah batang baja.
77

Lampiran 23 Menghitung Panjang Rebar Tension Lenght

Persamaan Rebar Tension Lenght: 1.6 x Ld


Keterangan:
1. “Ld” merujuk pada Tabel Rebar Tension Development Lenght Schedule pada
Lampiran 2.
2. Merujuk pada penggunaan nilai kuat tekan beton.
3. Merujuk pada penggunaan diameter batang baja.
4. Pemilihan panjang Ld sesuai dengan lokasi tulangan. Jika tulangan ntuk lapisan
atas maka menggunakan nilai Ld pada “Top Bars” sedangkan untuk tulangan
lapisan atas maupun tulangan lainnya maka menggunakan “Other Bars”.

a. Tulangan lapisan atas


Tulangan lapisan atas memiliki diameter batang: Ø25 mm.
Kuat tekan beton (f'c): 500 kg/cm2
Panjang rebar tension: 1.6 x Ld ...Persamaan Rebar Tension Lenght
Perhitungan:
1. Ø25 mm.
2. f'c: 500 kg/cm2
3. Ld pada Tabel Rebar Tension Development Lenght Schedule untuk “Top
Bars” berdasarkan penggunaan diameter (Ø) 25 mm dan kuat tekan beton
(f'c): 500 kg/cm2 adalah 1245 mm
4. Nilai rebar tension yang digunakan: 1.6 x Ld
= 1.6 x 1245 mm
= 1992 mm
Dibulatkan menjadi = 2000 mm.

b. Tulangan lapisan bawah


Tulangan lapisan bawah memiliki diameter batang: Ø25 mm.
Kuat tekan beton (f'c): 500 kg/cm2
Panjang rebar tension: 1.6 x Ld ...Persamaan Rebar Tension Lenght
Perhitungan:
5. Ø25 mm.
6. f'c: 500 kg/cm2
7. Ld pada Tabel Rebar Tension Development Lenght Schedule untuk
“Other Bars” berdasarkan penggunaan diameter (Ø) 25 mm dan kuat
tekan beton (f'c): 500 kg/cm2 adalah 960 mm
8. Nilai rebar tension yang digunakan: 1.6 x Ld
= 1.6 x 960 mm
= 1536 mm
Dibulatkan menjadi = 1540 mm.

c. Tulangan sisi samping kiri dan kanan


Tulangan bagian sisi memiliki panjang rebar tension 500 mm, menggunakan
nilai panjang Ld untuk Other Bars pada Tabel Rebar Tension Development
Lenght Schedule.
78

Lampiran 24 Tahapan Memodifikasi Tulangan pada Kolom (Column)

1. Model 3D kolom dibuat dengan Metode 3 (b) sesuai dengan spesifikasi


dimensi kolom dan lokasi kolom.
2. Model tulangan berdasarkan spesifikasi teknik general (umum) dibuat
dengan Metode 4 (e), spesifikasi teknik general berupa ketebalan selimut
beton, diameter batang utama (main bar), diameter batang side bar,
diameter stirrups (sengkang) berbentuk closed ties dan cross ties, jarak antar
sengkang, jarak antar tulangan main bar dan side bar. (window input data
untuk component catalog Tekla terlihat pada Gambar 17).
3. Bentuk tulangan pada kolom kemudian diexplode dengan cara diklik pada
tulangan dan Explode component. (Gambar 53).

Gambar 50 Explode component tulangan kolom


4. Tampilan view sumbu X dan Y dari atas diubah dengan cara tekan “ctrl+P”
pada keyboard.
5. Tampilan view sumbu x dan z dibuat dengan cara

Gambar 51 Membuat tampilan terhadap sumbu X dan Z


6. Titik-titik acuan view dipilih pada titik yang diinginkan.
79

Gambar 52 Memilih titik-titik poin acuan terhadap sumbu X


7. Akan muncul halaman tampilan baru berdasarkan sumbu X dan Z.

Gambar 53 Tampilan kolom terhadap sumbu X dan Z


8. Titik-titik bantu dibuat sepanjang kolom, biasanya pada titik pusat bar agar
lebih mudah dengan cara pilih ikon “add points any position”.

Gambar 54 Ikon Add points any position


80

9. Icon Create reinforcing bar diklik sebanyak dua kali akan muncul halaman
pengaturan untuk bar group. Dimensi bar diatur dan disesuaikan posisi bar
dengan ketentuan yang digunakan dan klik Apply dan Ok.
10. Kursor diarahkan dan diklik sekali pada kolom yang akan diberikan
tulangan, kemudian klik pada titik-titik bantu yang telah dibuat.
11. Setelah selesai tekan tombol scrool (berada di tengah) pada mouse.

Gambar 55 Hasil tulangan modifikasi.


12. Buka View sebelumnya terhadap sumbu X dan Y, tulangan hasil modifikasi
dipindahkan sesuai dengan titik tulangan kolom bagian atas.
13. View digeser sesuai kebutuhan, bagian tulangan tadi kemudian diklik dan
akan muncul titik-titik point tulangan, pilih dua titik poin dari bawah dengan
cara klik titik pertama dan tekan ctrl+klik kiri mouse agar terpilih keduanya.
14. Tekan ctrl+P dan pindahkan dengan tekan ctrl+M serta pilih titik acuan
pusat untuk memindahkan titik point bar yang telah dipilih tadi.
15. Klik pada titik pusat tulangan kolom bawah.

Gambar 56 Proses memindahkan titik point tulangan.


16. Selesai.
81

Proses tahapan di atas adalah untuk membuat 1 modifikasi bar (batang baja
tulangan). Tahapan selanjutnya yaitu untuk seluruh bagian tulangan (bar).
1. Ubah tampilan view dari atas dengan cara tekan ctrl+P
2. Bar modifikasi yang telah dibuat kemudian diklik.
3. Copy tulangan (bar) tersebut dengan tekan ctrl+C.
4. Klik titik acuan untuk pemindahan dan arahkan pada lokasi titik yang akan
di copy, kemudian klik sekali.
5. Setelah meng-copy, view diatur sesuai dengan keinginan.
6. Lakukan seperti pada Tahap 13-15 di tahap sebelumnya.
7. Lakukan tahap ini untuk semua tulangan modifikasi yang telah dicopy.
8. Selesai.

Gambar 57 Hasil Pemodelan seluruh bagian tulangan kolom modifikasi


82

Lampiran 25 Hasil Memodelkan Seluruh Bagian Konstruksi Gedung Chase


Tower.
83

RIWAYAT HIDUP

Masrun Aditya Taruna Mawantara. Lahir di Fakfak,


Papua Barat, pada tanggal 3 Mei 1991. Penulis merupakan anak
pertama dari empat bersaudara dari pasangan Joko Ichwan
Anshori dan Siti Jumaroh. Penulis memulai pendidikan tingkat
dasar di SD Negeri 1 Fakfak, Papua Barat dari tahun 1997
hingga 2002 dan melanjutkan di SD Negeri Krembung 1,
Sidoarjo tahun 2002 dan lulus tahun 2003. Penulis melanjutkan
pendidikan menengah di SMP 2 Krembung, Sidoarjo hingga
tahun 2006. Lulus dari SMP, penulis memasuki jenjang sekolah
tingkat atas di SMA Negeri 1 Fakfak, Papua Barat dan
menyelesaikan pada tahun 2009. Setelah lulus SMA, penulis telah diterima sebagai
mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah
(BUD) Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Sebelum memasuki perkuliahan reguler
TPB, penulis mengikuti program Pra-Universitas Institut Pertanian Bogor dari
tahun 2009-2010. Penulis menempuh studi tingkat S1 di Departemen Teknik Sipil
dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian dan lulus pada tahun 2015.
Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah mengikuti kompetisi di bidang
teknik sipil dan lingkungan, kompetisi debat se-IPB, mengikuti Lomba Karya Tulis
Ilmiah (LKTI) tingkat Nasional dan Internasional, serta beberapa kali mengusulkan
gagasan dalam Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM-GT). Selain itu, penulis juga
terlibat dalam kepengurusan organisasi Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil dan
Lingkungan (HIMATESIL) dan menjadi asisten praktikum mata kuliah Ilmu Ukur
Tanah. Penulis pernah melakukan Praktik Lapangan (PL) pada tahun 2013 di
proyek pembangunan Chase Tower di Jl. Sudirman Kav. 21 Setiabudi, Jakarta
Selatan. Topik Praktikum Lapangan penulis yaitu “Metode Evaluasi Pembesian
Beton Bertulang Berdasarkan Desain Shop Drawing Terhadap Desain Forcon pada
Proyek Chase Tower, Jakarta Selatan”.