Anda di halaman 1dari 13

FINAL AKHLAK TASAWUF

NAMA : ZAHRATI

NIM : 251324474

DOSEN PEMBIMBING : HASANAH, MA

UNIT : 02

SOAL :

1. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang tasawuf :


a. Pengertian
b. Dasar-dasar tasawuf dalam Islam
c. Sejarah kemunculannya
d. Perbedaan tasawuf dan filsafat

Jawab :

a. Pengertian
Secara etimologi (bahasa) :
Tasawuf berasal dari kata Shafa’ (suci bersih), yaitu sekelompok orang
yang berusaha menyucikan hati dan jiwanya karena Allah. Sufi berarti
orang – orang yang hati dan jiwanya suci bersih dan disinari cahaya
hikmah, tauhid, dan hatinya terus bersatu dengan Allah SWT.
Secara terminologi (istilah) :
Imam Junaidi al-Baghdadi berpendapat : “Tasawuf adalah
membersihkan hati dari yang selain Allah, berjuang memadamkan
semua ajakan yang berasal dari hawa nafsu, mementingkan kehidupan
yang lebih kekal, menyebarkan nasihat kepada umat manusia, dan
mengikuti contoh Rasulullah SAW dalam segala hal.
Dari segi bahasa dan istilah, kita dapat memahami bahwa tasawuf
adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah,
hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan umat manusia dan
selalu bersikap bijak sana. Dengan cara ini akan mudah bagi manusia
menghiasi jiwanya dengan sifat-sifat yang mulia, ber-taqarrub dan ber-
musyahadah dengan Allah SWT.

Sumber : http://www.sarjanaku.com/2011/11/pengertian-tasawuf-
secara-etimologi-dan.html

b. Dasar-dasar tasawuf dalam Islam


1. Landasan Normatif
 Alquran
‫ع ّلي ٌم‬
َ ‫س ٌع‬ ‫ب فَأ َ ْينَ َما ت َُو ُّلواْ فَث َ َّم َوجْ هُ ه‬
‫ّللاّ إّنَّ ه‬
ّ ‫ّللاَ َوا‬ ُ ‫ق َوا ْل َم ْغ ّر‬
ُ ‫َو ّ هلِلّ ا ْل َمش ّْر‬
Artinya: "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka
kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha
Mengetahui." (Q. S. 2. Al-Baqoroh, A. 115).
 Hadits dan Riwayat rasulullah
Pada prinsipnya, banyak hadits yang mengajak manusia
untuk mencintai Allah dengan hati yang bersih.
Diantaranya hadiits yang artinya: “ Barang siapa yang
mengenal dirinya sendiri maka akan mengenal
Tuhannya”.
Hadits tersebut disamping melukiskan kedekatan hubungan
antara Tuhan dan manusia, sekaligus mengisyaratkan arti
bahwa manusia dan Tuhan adalah satu. Oleh sebab itu,
barang siapa yang ingin mengenal Tuhan, cukup mengenal
dan merenungkan perihal dirinya.
 Riwayat Kehidupan Rasulullah
Nabi Muhammas SAW ingin memberi suri teladan untuk
manusia tentang ketangguhan yang tidak mengenal lemah.
Selain itu, agar membuat orang berkepribadian seperti itu
tidak diperbudak kekayaan, kekuasaan, dan lainnya yang
membuat hal-hal selain Allah menjadi berkuasa.
2. Riwayat Kehidupan Para Sahabat
Praktek para sahabat. Dimana ada beberapa sahabat yang
mengikuti praktik tasawuf sebagaimana yang diamalkan oleh
Rasulullah. Seperti Abu Bakar Ash-shiddiq, pernah berkata “ Aku
mendapatkan kemuliaan dalam ketakwaan, dan mendapatkan
keagungan dalam rendah diri”. Sementara Umar Ibn Khattab,
suatu ketika penah berkhutbah dihadapan umat Islam dengan
pakaian yang begitu sederhana. Demikian juga dengan berbagai
praktik tasawuf lainya yang juga dilakukan oleh Usman Ibn Affan,
Ali Ibn Abi Talib, Abu Zar Al-Ghiffari, Hasan Basri, dll.

Sumber : http://www.sarjanaku.com/2011/11/pengertian-tasawuf-
secara-etimologi-dan.html

c. Sejarah kemunculannya
Timbulnya tasawuf dalam islam tidak bisa dipisahkan dengan
kelahiran islam itu sendiri, yaitu semenjak Muhammad diutus menjadi
Rasul untuk segenap umat manusia dan alam semesta. Fakta sejarah
menunjukan bahwa pribadi Muhammad sebelum diangkat menjadi
Rasul telah berulang kali melakukan tahanuts dan khalawat di gua
Hira’ disamping untuk mengasingkan diri dari masyarakat kota
Mekkah yang sedang mabuk memperturutkan hawa nafsu keduniaan.
Di sisi lain Muhammad juga berusaha mencari jalan untuk
membersihkan hati dan mensucikan noda- noda yang menghinggapi
masyarakat pada masa itu. Tahanuts dan khalawat yang dilakukan
Muhammad SAW bertujuan untuk mencari ketenagan jiwa dan
keberhasilan hati dalam menempuh liku- liku probelma kehidupan
yang beraneka ragam , berusaha untuk memperoleh petunjuk dan
hidayah serta mencari hakikat kebenaran , dalam situasi yang
demikianlah Muhammad menerima Wahyu dari Allah SWT, yang
berisi ajaran- ajaran dan peraturan- peraturan sebagai pedoman dalam
mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat.
Dalam sejarah islam sebelum munculnya aliran tasawuf, terlebih
dahulu muncul aliran zuhud pada akhir abad ke I (permulaan abad ke
II). Pada abad I Hijriyah lahirlah Hasan Basri seorang zahid pertama
yang termashur dalam sejarah tasawuf. Beliau lahir di Mekkah tahun
642 M, dan meninggal di Basrah tahun 728M. ajaran Hasan Basri yang
pertama adalah Khauf dan Rajah’ mempertebal takut dan harap kepada
Tuhan, setelah itu muncul guru- guru yang lain, yang dinamakan qari’
, mengadakan gerakan pembaharuan hidup kerohanian di kalangan
umat muslim. Sebenarnya bibit tasawuf sudah ada sejak itu, garis-
garis mengenai tariq atau jalan beribadah sudah kelihatan disusun,
dalam ajaran- ajaran yang dikemukakan disana sini sudah mulai
mengurangi makna (ju’), menjauhkan diri dari keramaian dunia (
zuhud ).

Sumber : http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2011/09/sejarah-
munculnya-tasawuf.html
d. Perbedaan tasawuf dan filsafat
Perbedaan antara kedua ilmu tersebut terletak pada aspek
metodologinya. Ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa
daripada rasio. Ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif, yakni sangat
berkaitan dengan pengalaman seseorang. Sebagian pakar mengatakan
bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi
yang datang dari Tuhan. Kebenaran yang dihasilkan ilmu tasawuf
dikenal dengan istilah kebenaran hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang
objeknya datang dari subjek sendiri.Sedangkan filsafat adalah sebuah
ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Filsafat
menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara
radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal
(mendalam) dan terikat logika.
Dilihat dari aspek aksiologinya, filsafat berperan sebagai ilmu yang
mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk
mengenal Tuhan secara bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan
ekosistemnya langsung. Sedangkan tasawuf lebih berperan sebagai
ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah melepaskan
rasionya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang ingin
dicarinya.

Sumber : http://viaberekspresi.blogspot.com/2011/04/hubungan-ilmu-
kalam-dengan-filsafat-dan.html

2. Dalam tasawuf terdapat tema yang disebut maqam dan ahwal. Jelaskan
dan apa perbedaan keduanya ! Jelaskan pula tingkatannya !
Jawab :
Maqamat (maqam) berarti tempat atau martabat seorang hamba di hadapan
allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya.
Tingkatan maqamat, yaitu :
1. Al-Taubah
Taubat merupakan awal dari semua maqamat yang kedudukannya
laksana pondasi sebuah bangunan. Tanpa pondasi, bangunan tidak
dapat berdiri dan tanpa taubat seseorang tidak akan dapat
mensucikan jiwanya dan tidak akan dapat dekat dengan Allah. Jadi
taubat berarti kembali dari perbuatan tercela menuju perbuatan
yang terpuji.
2. Al-Zuhud
Menurut Al-Ghazali zuhud merupakan ungkapan ketidaktertarikan
kepada persoalan dunia dan lebih tertarik kepada akherat. Jadi pada
intinya adalah ketertarikan hanya kepada Allah.
3. Al-Wara’
Yaitu meninggalkan hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal dan
haramnya) dan sesuatu yang tidak berarti yakni segala hal yang
berlebihan.
4. Al-Faqr
Yaitu ketiadaan apa yang dibutuhkan, sebab mereka hanya butuh
kepada Allah.
5. Al-Shabr
Yaitu menggunakan motivator (al-ba’its) agama yang ada dalam
diri seseorang untuk mengalahkan motivator hawa nafsu.
6. Al-Tawakkal
Tawakal bermakna “ berserah diri “. Tawakal menurut para sufi
bersifat fatalis, menggantungkan segala sesuatu pada takdir dan
kehendak Allah.
7. Al-Ridla
Yaitu menyikapi segala ketentuan dan keputusan Allah dengan
senang hati.

Ahwal adalah jamak dari hal yang berarti keadaan atau situasi kejiwaan
(state). Secara terminologis Ahwal berarti keadaan spiritual yang
menguasai hati .
Menurut Abu Nasr As-Sarraj tingkatannya yaitu :
1. Muroqobah
Yaitu usaha merasakan kedekatan kepada Allah SWT atau merasa
diawasi oleh Allah.
2. Qurb
Yaitu dekat dengan Allah SAW
3. Mahabbah
Yaitu cinta kepada Allah
4. Khawf
Yaitu takut kepada Allah
5. Raja’
Yaitu mengharap kepada Allah
6. Syawq
Yaitu rindu kepada Allah
7. Tuma’ninah
Yaitu merasa tentram dalam ingat kepada Allah
8. Musyahadah
Yaitu menyaksikan dengan hati kepada Allah
9. Yaqin
Yaitu percaya dengan sesungguhnya kepada Allah
10. Uns
Yaitu merasa gembira dalam ingat kepada Allah.

Adapun perbedaan antara ahwal dan maqamat antara lain :

No. Maqamat Ahwal


Sifatnya tetap, sebab untuk mencapai tingkatan Sifatnya sementara, sebab
1. maqam yang lebih tinggi, seseorang masih datangnya hanya sekejap
menguasai tingkat maqam sebelumnya saja
Tidak diusahakan, sebab
Diusahakan melalui perjuangan spiritual yang
2. merupakan anugerah dari
panjang dan melelahkan
Allah
Karunia yang datang
3. Suatu pencapaian seseorang
begitu saja

Sumber : http://amrikhan.wordpress.com/2012/10/29/ahwal-dan-maqamat/

3. Hasan al-Basri adalah salah satu tokoh yang dikenal sebagai orang
pertama mengajarkan zuhud, khauf dan raja’. Jelaskan !
Jawab :
Zuhud (pendiriannya yang paling utama) menurut Hasan al-Basri adalah
zuhud terhadap kehidupan duniawi sehingga ia menolak segala
kesenangan dan kenikmatan duniawi. Hasan Al-Basri mangumpamakna
dunia ini seperti ular, terasa mulus kalau disentuh tangan, tetapi racunnya
dapat mematikan. Oleh sebab itu, dunia ini harus dijauhi dan kemegahan
serta kenikmatan dunia harus ditolak. Karena dunia bisa membuat kita
berpaling dari kebenaran dan membuat kita selalu memikirkannya.
Prinsip kedua Hasan al-Bashri adalah al-khouf dan raja’.
Dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa
dan sering melalakikan perintahNya. Serta menyadari kekurang
sempurnaannya,timbullah rasa was was dan takut, khawatir mendapat
murka dari Allah. Dengan adanya rasa takut itu pula menjadi motivasi
tersendiri bagi seseorang untuk mempertinggi kualitas dan kadar
pengabdian kepada Allah dan sikap raja' ini adalah mengharap akan
ampunan Allah dan karunia-NYA.
Sumber : http://aftanet.wordpress.com/2009/09/05/tasawuf-sunni-
pemikiran-dan-tokoh-tokohnya/

4. Dalam kehidupan masyarakat modern saat ini dengan berbagai persoalan


yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, apakah akhlak tasawuf
dibutuhkan ! Jika iya bagaimana cara menerapkannya ?
Jawab :
Hakikat tasawuf adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui penyucian
diri dan amaliyah-amaliyah Islam. Dan memang ada beberapa ayat yang
memerintahkan untuk menyucikan diri (tazkiyyah al-nafs) di antaranya:
"Sungguh, bahagialah orang yang menyucikan jiwanya" (Q.S. Asy-syam
[911:9); "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-
hamba-Ku, den masuklah ke dalam surga-Ku" (OS. Al Fajr: 28-30). Atau
ayat yang memerintahkan untuk berserah diri kepada Allah, "Katakanlah:
Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku den matku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta slam, tiada sekutu bagi-Nye; den demikian itulah
yang diperintahkan kepadaku den aku adalah orang yang pertama-tema
menyerahkan diri (kepada) Allah" (QS. Al An'am: 162).
Jadi, fungsi tasawuf dalam hidup adalah menjadikan manusia
berkeperibadian yang shalih dan berperilaku baik dan mulia serta
ibadahnya berkualitas.Mereka yang masuk dalam sebuah tharekat atau
aliran tasawuf dalam mengisi kesehariannya diharuskan untuk hidup
sederhana, jujur, istiqamah dan tawadhu.Semua itu bila dilihat pada diri
Rasulullah SAW, yang pada dasamya sudah menjelma dalam kehidupan
sehari-harinya.Apalagi di masa remaja Nabi Muhammad SAW dikenal
sebagai manusia yang digelari al-Amin, Shiddiq, Fathanah, Tabligh,
Sabar, Tawakal, Zuhud, dan termasuk berbuat baik terhadap musuh dan
lawan yang tak berbahaya atau yang bisa diajak kembali pada jalan yang
benar. Perilaku hidup Rasulullah SAW yang ada dalam sejarah
kehidupannya merupakan bentuk praktis dari cara hidup seorang sufi. Jadi,
tujuan terpenting dari tasawuf adalah lahirnya akhlak yang baik dan
menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Dalam kehidupan modern, tasawuf menjadi obat yang mengatasi krisis
kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga
ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan dari hidupnya. Ketidak
jelasan atas makna dan tujuan hidup ini membuat penderitaan batin. Maka
lewat spiritualitas Islam ladang kering jadi tersirami air sejuk dan
memberikan penyegaran serta mengerahkan hidup lebih baik dan jelas
arah tujuannya.
Sumber : Abuddin Nata. akhlak tasawuf. Jakarta : Pt Raja Grafindo
Persada. 2012. (problematika masyarakat modern dan perlunya akhlak
tasawuf, hal : 279-294)
5. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang :
a. Mahabbah
b. Ma’rifah
c. Al-fanaa, Al-baqa, dan Ittihad
d. Al-hulul
e. Wahdat al-wujud
Sebutkan tokoh yang mengembangkan poin-poin di atas serta bagaimana
pandangan dalam Al-Qur’an ?

Jawab :

a. Mahabbah
- Pengertian Mahabbah
Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan artinya
mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang
mendalam.
Jadi, al-mahabbah adalah merupakan hal atau keadaan jiwa yang
mulia yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan) Allah
swt, oleh hamba, selanjutnya yang dicintai itu juga menyatakan
cinta kepada yang di kasih-Nya dan yang seorang hamba mencintai
Allah swt.

- Tokoh yang mengembangkan mahabbah adalah Rabi’ah al-


Adawiyah.

- Mahabbah dalam pandangan Al-qur’an adalah banyak ayat-ayat


dalam Al-qur’an yang menggambarkan bahwa antara manusia
dengan Tuhan dapat saling becinta. Misalnya dalam QS.Ali Imran,
3 : 30, yang artinya :
“jika kamu cinta kepada Allah maka turutlah aku dan Allah akan
mencintai kamu.”

b. Ma’rifah
- Pengertian Ma’rifah
Ma’rifah berasal dari kata arafah, ya’rifu, irfan, ma’rifah yang artinya
pengetahuan atau pengalaman. Menurut istilah ma’rifah berarti
mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat
Tuhan.
- Tokoh yang mengembangkan Ma’rifah adalah Al-Ghazali dan Zun
Al-Nun al-Misri.

- Ma’rifah dalam pandangan Al-qur’an adalah bahwa ma’rifah


berhubungan dengan nur (cahaya Tuhan). Didalam Al-qur’an,
dijumpai tidak kurang dari 43 kali kata nur diulang dan sebagian
besar dihubungkan dengan Tuhan. Misalnya dalam QS, Al-Nur,
24:40, yang artinya :
“Dan barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah
tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.

c. Al-fanaa, Al-baqa, dan Ittihad


- Pengertian Al-fanaa, Al-baqa, dan Ittihad
Al-fanaa artinya hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya
sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Al-
baqa adalah kekalnya sift-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam
diri manusia. Ittihad adalah penyatuan batin atau rohaniah dengan
tuhan.

- Tokoh yang mengembangkannya adalah Abu Yazid Al-Bustami.

- Al-fanaa, Al-baqa, dan Ittihad menurut pandangan Al-qur’an


adalah sebagaimana dalam QS. Ar-Rahman, 55:26-27, yang
artinya:
“semua yang ada ddidunia akan binasa. Yang tetap kekal Dzat
Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
d. Al-hulul
- Pengertian Al-hulul
Al-hulul adalah Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia
tertentu, yaitu manusia yang telah dapat menlenyapkan sifat-sifat
kemanusiaan nya melalui fana.

- Tokoh yang mengembangkan Al-hulul adalah Husein Bin mansur


Al-hallaj.

e. Wahdat al-wujud
- Pengertian Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua
kata yaitu Wahdat al-wujud. Wahdat artinya sendiri atau kesatuan,
sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan kemudian Wahdat al
wujud berarti ketentuan wujud.

- Tokoh yang mengembangkan Wahdat al-wujud adalah Muhyiddin


Ibn Arabi.

- Wahdat al-wujud menurut pandangan Al-qur’an adalah


sebagaimana dalam QS.Al-hadid, 57:3 yang artinya : “Dialah
Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zahir dahir dan Yang Batin, dan
Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Sumber : Abuddin Nata. akhlak tasawuf. Jakarta : Pt Raja Grafindo


Persada. 2012. (hal : 207-252)